Page 1

newsletter

bitranet Edisi 25 / Mei - Juli 2016

Untuk Kalangan Terbatas

Daftar Isi Tajuk Utama - BUMDesa Sebagai Penggerak Perekonomian Desa 2 - Peran BUMDesa dalam Menghadapi MEA 3 - Tiga Tahapan Mendirikan BUMDesa 3

Advokasi - SID Meningkatkan Pelayanan, Perekonomian & Transparansi Desa 4 - Penyelenggara Pelayanan Publik Wajib Sediakan Sarana Pengaduan 5 Credit Union - Peran Anggota CU dalam Menghadapi MEA 5 Pertanian - Bagaimana Mengembangkan Pertanian Organik 6

Kesehatan Alternatif - Lalapan Sambung Nyawa, Cara Praktis Hilangkan Maag 7 Kabar Dari Kampung - Kenduri Punggahan Tradisi Jelang Ramadhan

7

Profil - Kadung Basah Mandi Sekalian 8

HIV/AIDS Jauhi Penyakitnya, Bukan Orangnya

Edisi 25: Mei - Juli 2016

Sejahterakan Masyarakat Desa Melalui BUMDesa Era perdagangan bebas tidak bisa dielakkan lagi. Di desa-desa, untuk menjawab tantangan era perdagangan bebas ini, masyarakat juga dituntut untuk lebih kreatif dalam menjalankan roda perekonomian desanya, seperti menciptakan produk-produk unggulan yang mampu bersaing di pasar dunia. Pada akhirnya, beberapa komoditi yang ada di desa harus menjadi sumber daya ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Untuk itu, pemerintah desa dan masyarakatnya dapat membentuk sebuah lembaga ekonomi keratif yang nantinya menjadi sumber perekonomian desa, seperti Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). BUMDesa ini bisa berupa Pasar Tradisional Desa, Koperasi, atau badan usaha lainnya yang dikelola pemerintah dan masyarakat desa. Hasil keuntungan BUMDesa ini selanjutnya juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung usaha-usaha ekonomi masyarakat desa. Melalui BUMDesa, desa dapat menjadi mandiri dalam memakmurkan masyarakatnya. Atau setidaknya memberikan solusi bagi permasalahan perekenomian masyarakat desa. Bantuan-bantuan permodalan atau memasarkan produk masyarakat desa, misalnya, dapat menjadi satu produk BUMDesa untuk meningkatkan kreativitas ekonomi masyarakatnya. Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, BUMDesa juga bisa melakukan kerjasama dengan pihak ketiga, baik menyangkut transaksi jual beli atau simpan pinjam. Hal ini dilakukan tentunya dengan aturan yang jelas dan saling menguntungkan. Oleh sebab itu, dalam menyusun rencana usaha BUMDesa, para pengelola BUMDesa harus jelas pedoman kerjanya, tujuan yang bakal dicapai, serta kinerjanya harus lebih terukur. Pada akhirnya, pembentukan BUMDesa memang harus mencerminkan semangat pemerintah desa untuk mensejahterakan masyarakatnya. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 72/2005 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 39/2010 yang menyebutkan bahwa BUMDesa merupakan wadah usaha desa yang memiliki semangat kemandirian, kebersamaan, dan kegotong-royongan. Artinya, antara pemerintah desa dan masyarakat harus terjalin sinergitas dalam mengembangkan aset-aset lokal untuk memberikan pelayanan dan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat dan desa. Dengan demikian, cita-cita untuk mensejahterakan masyarakat desa bisa segera diwujudkan. Semoga. (red)

1


Tajuk Utama

BUMDesa Sebagai Penggerak Perekonomian Desa Melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 72/2005 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 39/2010 disebutkan, BUMDesa merupakan wadah usaha desa yang memiliki semangat kemandirian, kebersamaan, dan kegotong-royongan antara pemerintah desa dan masyarakat untuk mengembangkan aset-aset lokal untuk memberikan pelayanan dan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat dan desa. Sebelum lahirnya kebijakan di atas, inisiatif BUMDesa sudah muncul di sejumlah daerah dengan nama yang berbeda-beda, tapi memiliki prinsip dan tujuan yang sama. Ada yang menjalankan bisnis simpan-pinjam (keuangan mikro), ada juga yang menyelenggarakan pelayanan air minum untuk mengatasi kesulitan akses masyarakat terhadap air bersih. Bedanya BUMDesa dengan lembaga ekonomi masyarakat lainnya sebenarnya tidak ada yang perlu dipertentangkan. Semuanya saling melengkapi untuk menggairahkan ekonomi desa. Namun, BUMDesa merupakan lemba-

Penerbit: Yayasan BITRA Indonesia Medan Pimpinan Umum: Wahyudhi Pimpinan Redaksi: M. Ikhsan Dewan Redaksi: Rusdiana, Iswan Kaputra, Swaldi, Listiani Reporter: Juhendri Chaniago, Aprianta T, Erika Rosmawati, Hawari, Jumarni, Misdi, Rustam. Fotografer: Anto Ungsi Manajemen Pelaksana: Icen Sirkulasi: Berliana, Fira Handayani Redaksi: Jl. Bahagia By Pass No. 11/35 Medan - 20218 Telepon: 061-787 6408 Fax: 061-787 6428 Email: newsletterbitranet@ yahoo.com

Jurnalis BITRANET dalam melaksanakan tugasnya tidak dibenarkan menerima amplop atau imbalan apapun. Bagi masyarakat yang melihat dan dirugikan, silakan menghubungi redaksi dan menggunakan hak jawabnya.

2

ga yang unik dan khas sepadan dengan keunikan desa. Menurut Yunanto, keunikan BUMDesa merupakan sebuah usaha desa milik kolektif yang digerakkan oleh aksi kolektif antara pemerintah desa dan masyarakat. BUMDesa merupakan bentuk kemitraan antara pemerintah desa sebagai sektor publik dengan masyarakat setempat. BUMDesa lebih inklusif dibanding dengan koperasi, usaha pribadi maupun usaha kelompok masyarakat yang bekerja di ranah desa. Prinsip-prinsip pembentukan BUMDes adalah sebagai berikut:sukarela dan terbuka;kontrol dari warga yang demokratis;partisipatif ekonomi warga;otonomi dan independen;perhatian terhadap warga marga masyarakat; dan kerjasama antarBUMDesa. Dibentuknya BUMDesa adalah untuk menumbuhkembangkan kegiatan perekonomian desa,meningkatkan kemampuan keuangan pemerintah desa dalam penyelenggaraan pemerintahan dan meningkatkan pendapatan masyarakat.Jenis-jenis usaha BUMDesa meliputijasa;penyaluran sembilan bahan pokok;perdagangan hasil pertanian;dan/atauindustri kecil dan rumah tang-

ga. Modal BUMDesa berasal daripemerintah desa;tabungan masyarakat;bantuan pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten;pinjaman; dan/ataukerja sama usaha dengan pihak lain. Bagi hasil usaha BUMDes dilakukan berdasarkan keuntungan bersih usaha. dan dipergunakan untuk :cadangan modal usaha;deviden bagi pemilik modal;jasa produksi; dandana sosial. BUMDesa dapat melakukan kerjasama usaha dengan BUMDes lain dan pihak ketiga. Kerjasama usaha dapat dilakukan dalam satu kecamatan atau antarkecamatan dalam satu kabupaten.Kerjasama harus mendapat persetujuan masing-masing pemerintahan desa.Kerjasama usaha dibuat dalam naskah perjanjian kerjasama. Naskah perjanjian kerjasama paling sedikit memuat: subyek kerjasama; obyek kerjasama; jangka waktu; hak dan kewajiban; pendanaan; keadaan memaksa; penyelesaian permasalahan; dan pengalihan. Sumber: www.seminardesa.com

Edisi 25: Mei - Juli 2016


Tajuk Utama

Peran BUMDesa dalam Menghadapi MEA Dewasa ini wacana Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sering menjadi topik hangat, terutama yang menyangkut peningkatan perekonomian masyarakat. Tentu saja ini berkaitan pula dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang ada di desadesa di negara ASEAN, salah satunya di Indonesia. Persaingan global, seperti persaingan produk-produk yang dihasilkan masyarakat desa setidaknya harus meningkatkan kreativitas masyarakat desa. Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) yang merupakan satu kreativitas masyarakat desa juga tak lepas dari wacana ini. Ke depan, peran BUM Desa sebagai pendorong dan penampung seluruh kegiatan ekonomi masyarakat desa menjadi sangat penting. Hal-hal yang berkembang, yang menyangkut produk ekonomi masyarakat desa, seperti hasil pertanian, jasa, promosi

seni budaya, jasa, dan kegiatan ekonomi kreatif lainnya, yang diserahkan pemerintah untuk dikelola oleh masyarakat melalui program atau proyek Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat menjadi produk unggulan desa untuk menghadapi persaingan di pasar global MEA. Dibentuknya BUMDesa diharapkan mampu memaksimalkan potensi masyarakat desa dari aspek ekonomi, sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Secara spesifik, pendirian BUMDesajuga untuk menyerap tenaga kerja desa, meningkatkan kreativitas dan membuka peluang usaha ekonomi produktif mereka yang berpenghasilan rendah. Sasarannya adalah untuk melayani masyarakat desa dalam mengembangkan usaha produktif. Hawari dari Bitra Indonesia mengatakan, upaya liberalisasi ekonomi akan terjadi pada MEA. Untuk

itu, masyarakat desa yang berada di wilayah MEA, mau tidak mau juga harus mampu menjawab tantangan ini. Salah satunya adalah dengan menciptakan produk unggulan yang kompetitif, dengan menggali potensipotensi desa yang ada. Adapun peran BUMDesa adalah menjadi motivator bagi pengembangan produk unggulan tersebut.“BUMDesa harus mampu menggiring masyarakat untuk tidak sekadar menjadi masyarakat konsumtif, tapimenciptakan masyarakat yang produktif. BUMDesa harus mampu mendorong masyarakat desa menjadi subjek (pemain) pasar yang inovatif, sekaligus membangun kekuatan masyarakat desa di tengah-tengah pasar global seperti MEA tadi,� katanya. (jc) Diolah dari berbagai sumber

Tajuk Utama

Tiga Tahapan Mendirikan BUMDesa Untuk mendirikan BUMDesa, ada tahapan-tahapan yang dilakukan oleh perangkat desa, terutama kepala desa yang kelak akan menjadi Komisaris BUMDesa. Pendirian BUMDesa harus dilakukan melalui inisiatif desa yang dirumuskan secara partisipatif oleh seluruh komponen masyarakat desa. Secara umum ada tiga tahapan untuk pembentukan BUMDesa yang ideal, yaitu sebagai berikut: Tahap I: Membangun kesepakatan

Edisi 25: Mei - Juli 2016

antara masyarakat desa dan pemerintah desa untuk pendirian BUMDesa yang dilakukan melalui musyawarah desa. Tujuan dalam pertemuan musyawarah desa untuk merumuskan: 1. Nama, kedudukan, dan wilayah kerja BUMDesaa; 2. Maksud dan tujuan pendirian BUMDesaa; 3. Bentuk badan hukum BUMDesa; 4. Sumber permodalan BUMDesa; 5. Unit-Unit usaha BUMDesa; 6. Struktur organisasi BUMDesa; 7. Pengawasan BUMDesa; 8. Pertanggungjawaban BUMDesa; dan 9. Membentuk Panitia Ad-hoc perumusan Peraturan Desa tentang Pembentukan BUMDesa (jika diperlukan). Tahap II: Pengaturan organisasi BUMDesa yang mengacu kepada rumusan musyawarah desa pada Tahap I oleh Panitia Ad-hoc, dengan menyusun dan pengajuan pengesahan terhadap hal-hal berikut: 1. Peraturan Desa tentang Pembentukan BUMDesa yang mengacu pada Peraturan Daerah dan ketentuan hukum lainnya yang berlaku;

2. Pengesahan Peraturan Desa tentang Pembentukan BUMDesa; 3. Anggaran Dasar BUMDesa; 4. Struktur Organisasi dan aturan kelembagaan BUMDesa; 5. Tugas dan fungsi pengelola BUMDesa; 6. Aturan kerjasama dengan pihak lain; dan 7. Rencana usaha dan pengembangan usaha BUMDesa. Tahap III: Pengembangan dan Pengelolaan BUMDesa dengan aktivitas yang lebih operasional, yaitu: 1. Merumuskan dan menetapkan sistem penggajian dan pengupahan pengelola BUMDesa; 2. Pemilihan pengurus dan pengelola BUMDesa; 3. Menyusun sistem informasi pengelolaan BUMDesa; 4. Menyusun sistem administrasi dan pembukuan BUMDesa; dan 5. Penyusunan rencana kerja BUMDesa. (jc) Dari berbagai sumber

3


Advokasi

SID Meningkatkan Pelayanan, Perekonomian & Transparansi Desa Sistem Informasi Desa (SID) merupakan terobosan baru di Sumatera Utara sebagai unggulan yang harus diterapkan desa. Selain untuk pendataan yang baik, SID juga digunakan untuk pelayanan, khususnya administrasi desa yang efektif.SID yang telah online juga mulai digunakan untuk promosi produk-produk unggulan UKM dan kelompok masyarakat desa untuk meluaskan pasar. “Kami melihat, beberapa desa kini mengalami peningkatan permintaan dan perluasan pasar dari produk-produk unggulan desanya,”papar Wahyudhi, Direktur BITRA Indonesia sebagai pihak yang menginisiasi pembangunan SID di desa-desa bersama masyarakat, kader-kader IT desadan Pemerintahan Kabupaten Serdang Bedagai. Bupati Serdang Bedagai Ir. H. Soekirman juga menyambut baik pembangunan SID ini. “Ke depan, jika memungkinkan, produk-produk desa ini dapat diselenggarakan jual belinya secara online?” tantang Bupati kepada desa-desa pengembang SID dan 200-an Kepala Desa

4

yang hadir di Aula Sultan Serdang, SeiRampah, Serdang Bedagai, dalam kegiatan Forum Inspirasi Desa. Kegiatan yang mengambil thema “Membangun Kemandirian Desa Melalui Sistem Informasi Desa (SID)” ini dihadiri narasumber penginspirasi BahrunWardoyo (Kepala Desa Dlingo, Bantul, Yogyakarta), dengankeynote speaker Ir H. Soekirman. Pada kegiatan tersebut, dari lima desa yang telah menerapkan SID online di SerdangBedagai, tiga kepala desanya memaparkan tentang manfaat SID. Tiga kades terse-

but antara lain: M. Zein (Kades Tanjung Harap, Kec. Serbajadi); Rusdi, ST,(Kades Bingkat, Kec. Pegajahan); dan Fauziati(Kades Pekan Tanjung Beringin, Kec. Tanjung Beringin). Dari ketiga testimoni tersebut disampaikan, Tanjung Harap telah melakukan pendataan kemiskinan mendalam atau yang disebut analisis kemiskinan partisipatif (AKP), Bingkat untuk keterbukaan informasi publik, Pekan Tanjung Beringin untuk pelayanan administrasi desa yang baik dan sangat cepat. (Isw)

Edisi 25: Mei - Juli 2016


Advokasi

Penyelenggara Pelayanan Publik Wajib Sediakan Sarana Pengaduan Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 76 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Pelayanan Publik, setiap penyelenggara pelayanan publik wajib menyediakan sarana pengaduan untuk mengelola pengaduan pelayanan publik. Penanganan pengaduan menjadi salah satu komponen penting dalam agenda reformasi birokrasi karena dengan penanganan pengaduan yang baik akan bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan publik yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat selaku pengguna layanan. Hal ini terungkap dalam kegiatan Sosialisasi Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik Melalui Sistem Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (LAPOR), Mei lalu, di Sei Rampah, Kabupaten Serdang

Bedagai. Kegiatan yang digelar oleh Pemkab Sergai ini bekerjasama dengan Kantor Staf Presiden (KSP), GIZ Transformasi dan Formasi Reformasi Birokrasi (RB), serta dihadiri oleh para asisten Pemkab Sergai, para Staf Ahli, Kepala SKPD, BITRA Indonesia, para Camat serta 24 perwakilan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) yang tergabung dalam Forum Organisasi Masyarakat Sipil (Formasi) RB Sergai. Staf Ahli Kantor Staf Presiden Republik Indonesia (RI) Muhammad Gibran Sesunan, SH menyampaikan, LAPOR adalah sebuah sarana aspirasi dan pengaduan berbasis media sosial yang mudah diakses dan terpadu dengan 81 Kementerian/Lembaga, 5 Pemerintah Daerah, serta 44 BUMN di Indonesia. “Semoga Kabupaten Sergai akan men-

jadi pilot project dalam pelayanan masyarakat dengan melaksanakan program reformasi birokrasi yang partisipatif melalui program LAPOR,� ujar Gibran. Diolah dari suarasumut.com

Credit Union

Peran Anggota CU dalam Menghadapi MEA Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang berlaku sejak tahun 2015 lalu, peran anggota Credit Union (CU)dalam pasar global perlu menjadi perhatian. Sebagai perdagangan bebas yang berlaku di seluruh negara ASEAN, MEAtentu berdampak bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat pemilik usaha, termasukmasyarakat yang tergabung dalam CU. Oleh sebab itu, CU sebagai lembaga keuangan masyarakat yang membantu permodalan usaha anggotanyajuga harus siap bersaing dengan lembaga keuangan lainnya dalam menghadapi MEA. Dalam MEA, masyarakat masingmasing negara ASEAN mempunyai produk tertentu, yangnantinya akan bersaing di pasar global. Faktanya, sekarang ini saja sudah banyak produk luar yang masuk dan mempengaruhi produk yang ada di Indonesia. Berkaitan dengan hal itu, peran CU-lah membantu anggotanya menghasilkan produk-produk unggulan agarmampu bersaing dengan produk yang berbeda dari negara lain tersebut.

Edisi 25: Mei - Juli 2016

Bantuan CU bisa berupa permodalan atau dengan menambah pengetahuan dan keterampilan anggotanya. Jadi, CU hanya sebagai lembaga pemberi modal dan anggotalah yang memegang peranan penting dalam menghadapi MEA. Adapun peran pemerintah diharapkan dapat mengendalikan pasar global. MEA memberikan peluang bagi anggota CU yang produktif untuk meningkatkan atau menciptakan

produk-produk yang dapat bersaing dengan produk di negara ASEAN. Bahkan dari sekian ratus ribu anggota CU,mungkin sudah ada yang menjadi pengusaha dan mampu bersaing di pasar global. Untuk itu, para anggota CU perlu meningkatkan kualitas produk yang dihasilkannya,agar nilainya juga bisa meningkat di masyarakat global. (jc) Diolah dari berbagai sumber

5


Pertanian

Bagaimana Mengembangkan Pertanian Organik Dari beberapa kajian yang ada, setidaknya pengembangan pertanian organik dapat dilakukan cara-cara sebagai berikut: • Perluasan lahan bekerjasama dengan pelanggan tetap untuk menjamin pasokan. Keuntungannya antara lain: pelanggan akan memperoleh jaminan pasokan akan beras organik yang mereka butuhkan dengan jaminan kualitas yang tidak diragukan. • Pemberian insentif atau kompensasi bagi para petani yang melaksanakan pertanian organik untuk pertama kalinya. Insentif atau kompensasi perlu dilakukan untuk membantu para petani menanggung kerugian yang diakibatkan oleh penurunan tingkat produktivitas lahan ketika mengawali budidaya secara organik. • Bekerjasama dengan kelompok tani semi organik untuk me-

6

lakukan budidaya secara organik. Para pelaku pertanian semi organik yang telah siap untuk melaksanakan budidaya pertanian secara organik dapat dibantu dalam hal pemasaran. • Pembuatan demplot (percontohan) pertanian organik, yang menjadi sarana efektif untuk menginformasikan hal-hal baru yang akan dikembangkan atau disosialisasikan kepada para petani. • Mengintegrasikan bidang pertanian dan peternakan. Pembangunan pertanian organik tidak dapat dipisahkan dari pembangunan di bidang peternakan. Misalnya, ternak yang dipelihara petani dapat dimanfaatkan kotorannya sebagai bahan pupuk organik dan sekaligus dapat dimanfaatkan tenaganya untuk mengolah tanah. • Pelatihan peningkatan ketrampilan pengolahan dan pembuatan

pupuk dan pestisida alami memanfaatkan potensi lokal sesuai perkembangan teknologi yang dianjurkan dalam pertanian organik. • Menjaga kepercayaan pasar, yaitu dengan memelihara kualitas dari produk yang dihasilkan. • Dukungan dari pemerintah, yaitu untuk mewujudkan poin-poin di atas.Pemerintah bisa bekerja sama dengan berbagai kelompok, LSM, tokoh perseorangan yang selama ini sudah berkecimpung dalam pengembangan pertanian organik. Memberi dukungan dana APBD atau dari sumber lainnya, supaya kegairahan petani untuk melaksanakan pertanian organik menjadi semakin berkembang, sekaligus untuk mensejahterakan para petani. Diolah dari berbagai sumber

Edisi 25: Mei - Juli 2016


Kesehatan Alternatif

Lalapan Sambung Nyawa, Cara Praktis Hilangkan Maag Dari namanya, banyak orang yang penasaran, kenapa tanaman Gynura procumbens back ini disebut tanaman Sambung Nyawa. Yang jelas, terlepas dari istilah tersebut, manfaat daun Sambung Nyawa ini terbukti ampuh untuk mengobati berbagai penyakit, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, bengkak akibat sengatan serangga, sampai penyakit maag. Berdasarkan hasil penelitian, khasiat ini berasal dari kandungan berbagai zat yang ada di dalam tanaman Sambung Nyawa, seperti saponin, flavonoid, dan alkaloid yang dapat menurunkan tekanan darah di dalam tubuh. Berikut khasiat daun Sambung Nyawa: Meredakan Hipertensi Bagi penderita hipertensi, daun Sambung Nyawa ini dapat

menurunkan tekanan darah. Cara konsumsinya, bisa langsung dilalap, dibuat jus, ditumis, atau dikukus sesuai selera. Namun, jika dikukus, jangan sampai kelamaan karena dikhawatirkan kandungan zat berkhasiatnya akan hilang.

Penawar Rasa Sakit Untuk mengobati rasa sakit akibat gigitan serangga atau lebah(ser-seran), daun Sambung Nyawa ditumbuk halus kemudian tambahkan sedikit air ke dalam tumbukan tersebut. Lalu, balurkan tumbukan pada luka bekas gigitan serangga atau lebah. Dalam waktu singkat, bekas luka dan rasa sakitnya akan menghilang. Meredakan Maag Cuci daun Sambung Nyawa sampai bersih, setelah itu langsung

dimakan (dilalap). Cara instan ini ternyata cukup ampuh dalam hal menanggulangi penyakit maag, tanpa harus menggunakan obat warung. Sumber: www.deherba.com

Kabar Dari Kampung

Kenduri Punggahan Tradisi Jelang Ramadhan Menjelang bulan Ramadhan warga muslim di Desa Tanjung Harap laksanakan tradisi yang disebut dengan “Kenduri Punggahan”. Tradisi ini telah dilakukan secara turun temurun sebagai ungkapan kegembiraan akan hadirnya bulan suci Ramadhan. Acara punggahan tersebut diisi dengan ceramah agama kemudian dilanjutkan dengan kegiatan makan bersama-sama keluarga, sanak saudara, kaum kerabat jiran tetangga, dan biasanya dilakukan di mesjid, mushalla atau di rumah warga. “Terlepas dari mana referensi atau dalil-dalil syara’ yang menganjurkannya, semua rentetan kegiatan punggahan tidak lebih dari ungkapan rasa kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan,” ungkap ustadz Syahran pada ceramah singkatnya, awal Juni, Edisi 25: Mei - Juli 2016

di Mesjid Ar Rahman Desa Tanjung Harap Kecamatan Serba Jadi “Dapat dipastikan, bahwa datangnya bulan Ramadhan merupakan rahmat bagi orang-orang beriman, dan dengan tradisi punggahan itu sendiri dapat menumbuhkan rahmat dan kasih sayang dari dalam diri sesama muslim,” imbuh sang ustad. Ahmad Zain Nasution, Kepala Desa Tanjung Harap dalam arahannya mengatakan, agar semua warga lebih cermat dalam menjaga suasa-

na yang kondusif mengingat seperti yang sudah sudah angka kejahatan kasus pencurian meningkat jelang perayaan lebaran dan tahun baru. Menutup arahannya, kepala desa berpesan kepada pemuda-pemudi desa untuk turut memeriahkan ramadhan dengan kegiatan-kegiatan positif seperti tadarus, itikaf di mesjid dan membangunkan orangorang yang hendak sahur. Penulis: HelmiFachri, Jurnalis Warga dari Desa Tanjung Harap

7


Profil

Kadung Basah Mandi Sekalian Meski cuma tamatan SMP dan susah menghapal, Mariana mengaku semangat belajarnyakini justru bertambah. Tak heran, berbagai pelatihan yang diadakan Bitra Indonesia pun sering diikutinya dengan antusias. Mulai dari pelatihan pertanian organik, beternak sapi terintegrasi, akupresur, gender,

sampai credit union (CU). Menurut perempuan berdarah Jawa kelahiran Lhoksumawe, 3 Maret 1973 ini, berbagai pelatihan yang diikutinya itu sangat memberikan manfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi keluarganya. “Pelatihan menambah pengetahuan, menambah teman dan bisa jalanjalan melihat desa lain. Bahkan dengan akupresur, saya bisa nambah penghasilan untuk bantu-bantu ekonomi keluarga. Dalam sehari, saya bisa kusuk pasien 2 sampai 5 orang. Ya, cukuplah buat membiayai 2 anakku lagi yang masih sekolah: satu di SMK, satu kelas 5 SD,” tuturnya. Mariana belajar akupresur sejak 2012 lalu. Kini, sambil tetap belajar, tiap Rabu, Mariana juga mempraktekkan keterampilannya ini di Klinik Rumah Sehat Bertuah, di Desa Sei Sijenggi, bersama praktisi akupresur lainnya yang tergabung dalam Asosiasi Pengobat Alternatif Sumut (APASU). Beberapa kali dia punpernah mengikuti kegiatan bakti sosial yang diadakan Bitra Indonesia dan APASU di berbagai kabupaten, seperti di Tanah Karo (untuk pengungsi korban erupsi Sinabung), Langkat, Deli Serdang, dan Sergai. Selain itu, di desanya, yaitu Pulau Gambar, dia bergabung pula dalam CU Mekar Sari dan Kelompok Tani Tunas Baru. Begitupun, bukan tidak pernah Mariana patah semangat. Dia pun sempat mau mundur, tidak ingin mengikuti pelatihan

akupresur lagi karena keluarga sempat komplain dan melarang kegiatannya ini. Berbagai tudingan sinis dan ejekan dari orang lain pun kerap didengarnya. “Dulu kecil disuruh sekolah, gak mau sekolah. Sudah tua gilak sekolah. Pergi pagi pulang malam, gak jelas. Nanti malah “kusuk esek-esek”. Begitulah yang saya dengar. Tapi saya ingat nasehat temanteman di Bitra. Mereka bilang, lanjutkan aja. Apa pun ceritanya, sudah kadung basah mandi sekalian,” katanya. Berkisah tentang dirinya, Mariana pernah merasa kalau hidupnya seperti minyak di atas air, mengambang. “Pahit sambiroto, lebih pahit kisah hidup saya,” tuturnya.“Dulu, saya sering disuruh kerja di ladang orang, jadi buruh tani. Tapi untunglah, selama mengenal Bitra, saya banyak belajar dan bersabar. Bahkan sejak belajar akupresur, nggak pernah lagi saya kerja di ladang orang. Dan banyak manfaat yang saya dapat dari akupresur. Saya sudah berani menerapi anak sendiri. Sekarang, melihat perkembangan kegiatan saya, terutama bisa nambah penghasilan, keluarga sudah mendukung.” Selain akupresur, ibu 4 anak dan 1 cucu ini juga senang beternak sapi. Pengalamannya sedari kecil ngangoni ternak orang menjadikannya telaten dalam merawat sapi. Apalagi dengan pelatihan dan bantuan sapi bergulir yang diberikan Bitra Indonesia pada 2014 lalu. Hasilnya, dia sudah memiliki sapi sendiri yang saat ini lagi bunting muda. Kini, dengan kemauan belajar yang masih kuat, Mariana ingin merubah nasib. Ke depan, dia ingin belajar bikin obat herbal. “Aku pengen mampu kayak orang-orang, yang pintar dan hidupnya berkecukupan. Supaya anakku juga bisa tamat sekolah,” katanya.(jc)

Edisi 25: Mei - Juli 2016

Bitranet edisi 25  

Media komunikasi masyarakat dan pemerintahan desa di Sumatera Utara.