Issuu on Google+

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

875

umatnya masing-masing di Hari Kiamat, langsung di hadapan Allah dan para malaikat-Nya. Tentunya para nabi-Nya juga pasti menjadi saksi-saksi bagi para alim-ulama, yang telah mewarisi seluruh ajaran mereka. Apakah para alim-ulama telah benar-benar mengikutinya?. Lihat pula pada Gambar 17, tentang hubungan antara proses Penyaksian (simbolik) di Hari Kiamat, dan syafaat. Para saksi di Hari Kiamat itu pada dasarnya berupa setiap umat manusia yang telah menyampaikan “salah-satu” saja dari seluruh ayatNya, secara benar ataupun secara keliru (sesat), kepada satu ataupun beberapa umat manusia lainnya. Para saksi ini bertingkat-tingkat tanpa batas, dari para malaikat, para nabi-Nya, para tabiin, para alim-ulama, bahkan sampai kepada seorang ayah yang telah menyampaikan suatu ayat-Nya kepada anak-anaknya. Tentunya saksi yang tertinggi dan terakhir justru Allah sendiri, Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu hal, yang telah dilakukan oleh segala zat makhluk-Nya di seluruh alam semesta ini, yang paling sederhana dan kecil sekalipun (sebesar biji ‘zarrah’), yang terungkap ataupun yang tersembunyi. "wajib atasku (Musa, untuk) tidak mengatakan sesuatu tentang Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Rabb-mu. …." - (QS.7:105) "Maka barangsiapa mengada-adakan dusta tentang Allah, setelah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim." - (QS.3:94) "… Maka siapakah yang lebih zalim dari orang-orang yang membuat-buat dusta tentang Allah, untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan`. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." - (QS.6:144) “Katakanlah: `Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu (mengenai urusan kita). Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang percaya kepada yang batil, dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi." - (QS.29:52) "… Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan`." (QS.28:28) “(Mereka tidak mau mengakui al-Qur`an), tetapi Allah mengakui Al-Qur`an yang diturunkan-Nya kepadamu (Muhammad). Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya. Dan malaikat-malaikat-pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya." - (QS.4:166) "… supaya Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu (para pengikut Muhammad), dan supaya kamu semua menjadi saksi

876

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

atau segenap manusia, …" - (QS.22:78) Segala ilmu bersifat netral, nilainya tergantung manusianya Hal yang lebih luasnya lagi, setiap ilmu hasil temuan manusia secara ‘obyektif’ (ilmu agama dan non-agama, lahiriah dan batiniah), hanya semata hasil dari usaha mengungkap ilmu-Nya. Segala macam ilmu pada dasarnya justru bersifat ‘netral’, tergantung bagaimana cara umat manusia ‘memperoleh’ (secara obyektif dan subyektif, benar dan sesat, dsb), dan ‘memakainya’ (bagi tujuan kebaikan dan keburukan).

Jika terkait dengan orang lainnya maka juga tergantung kepada cara bagaimana menyampaikannya (sesuai maksud-tujuan atau tidak, bisa menambah ilmu pada penerimanya atau tidak). Suatu kebenaranNya jika ‘tidak’ disampaikan secara amat arif-bijaksana, selain orang kafir yang menerimanya tetaplah kafir, maka orang beriman sekalipun tetap tidak senang dengan cara penyampaiannya (syukur-syukur, jika masih tetap bisa menerimanya), bahkan justru juga bisa menyesatkan dan menimbulkan berbagai fitnah di kalangan umat Sebaliknya jika disampaikan secara amat arif-bijaksana, dan atas ijin-Nya, maka orang kafir bisa kembali ke jalan-Nya yang lurus, sedang orang beriman justru bisa makin meningkat pengetahuan atau keimanannya. Dan ringkasnya, setiap ilmu hasil temuan manusia hanya suatu bentuk rahmat pemberian-Nya, akibat dari telah diciptakan-Nya ‘akal’ pada setiap umat manusia. Adapun nilai dari setiap ilmu (kemanfaatan ataupun kemudharatan) justru tergantung kepada bagaimana manusia ‘memperoleh’, ‘memakai’ dan ‘menyampaikannya’. Bahkan sama sekali tidak terkait atau tidak tergantung kepada sosok manusia yang menemukan ataupun memakai suatu ilmu. Justru tidak ada dikenal pernyataan, seperti "ilmu-ilmu ini milik umat Islam, jika memakainya mendapat pahala" atau "ilmu-ilmu ini dimiliki atau ditemukan oleh umat non-Muslim, jika memakainya mendapat dosa". Setiap ilmu atau kebenaran yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’, justru hanya semata milik Allah, Yang Maha kuasa dan Maha kekal. Hal ini penting ditekankan kembali, karena ada sebagian umat Islam yang beranggapan seperti "umat Islam tidak boleh mempelajari ilmu-ilmu yang telah ditemukan dan dipakai oleh umat non-Muslim, karena sama halnya dengan berbuat kafir, atau mengikuti keyakinan mereka. Juga karena ilmu-ilmu ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi". Sekali lagi, setiap ilmu yang diperoleh secara ‘amat obyektif’,


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

877

justru bersifat ‘netral’ dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan keyakinan beragama penemu dan pemakainya. Tentu saja pasti tidak seluruh ilmu telah diajarkan oleh Nabi (khususnya ilmu-ilmu lahiriah), karena segala keadaan lahiriah pada jaman Nabi memang relatif amat banyak berbeda dengan pada jaman saat ini, yang telah maju pesat. Termasuk karena belum ada klasifikasi atau pemisahan yang jelas atas segala macam ilmu pada jaman Nabi. Padahal di dalam AlQur’an justru terkandung amat banyak ilmu (misalnya ilmu: psikologi, sosial, fisika, biologi, kimia, astronomi, geografi, matematika, kalam dan tauhid, filsafat, tasawuf, fiqih, dsb). Perbedaan pemahaman dan Ijtihad (penafsiran) Dari uraian-uraian di atas, cukup tampak perbedaan antara tiap hasil pemahaman dan tiap hasil Ijtihad, atas ajaran-ajaran agama-Nya. Karena tiap hasil pemahaman, terutama yang telah berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah), adalah hal yang amat kompleks dan amat luas cakupannya tanpa batas. Sehingga tiap pemahaman alHikmah relatif sulit bisa dijelaskan, ataupun relatif sulit bisa dipahami oleh umat pada umumnya. Khususnya karena tiap pemahaman al-Hikmah justru bersifat ‘universal’ (bisa melewati batas ruang, waktu dan konteks budaya); mengandung hal-hal gaib dan batiniah (hal-hal di alam batiniah ruh), yang tidak cukup untuk diungkap dengan puluhan lembar tulisan dan ribuan kata; saling terkait dengan berbagai al-Hikmah lainnya; dsb. Sedang tiap hasil Ijtihad adalah suatu bentuk penafsiran aktual dan praktis-aplikatif, berdasarkan dari suatu rangkuman atas berbagai pemahaman al-Hikmah (termasuk pada para nabi-Nya), sesuai dengan keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan umat manusia pada tiap jamannya. Sehingga tiap hasil Ijtihad relatif jauh lebih sederhana, ringkas, mudah dijelaskan, dipahami dan diamalkan oleh umat pada umumnya. Tentunya ‘ijtihad’ yang dimaksud di sini dalam pengertian idealnya, karena ada pula hasil-hasil ijtihad yang tidak berdasarkan atas segala pemahaman al-Hikmah. Contoh sederhananya, dari pemahaman yang mendalam pada nabi Muhammad saw, tentang kehidupan alam batiniah ruh manusia, beserta peranan iblis dan syaitan di dalamnya. Maka Nabi telah bisa menyampaikan suatu anjuran (‘ijtihad’) sederhana, "agar pria dewasa banyak menjaga pandangannya, ketika melihat wanita dewasa. Detikdetik pertama ketika memandang tersebut masih dibolehkan, karena

878

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

memang tidak disengaja. Tetapi setelahnya, agar segera memalingkan pandangan". Pada detik-detik pertama itu, syaitan memang belum memiliki kesempatan dan peluang untuk berbuat sesuatu (membisikkan hal-hal yang menyesatkan), dan manusianya memang belum memiliki sesuatu niat, selain ketidak-sengajaan melihatnya. Niat yang timbul setelahnya (termasuk melihatnya kembali), umumnya justru hasil pengaruh dari segala bentuk bisikan-godaan dari syaitan. Lebih lanjut, perbedaan pemahaman dan Ijtihad (penafsiran) Pada uraian-uraian di atas, juga istilah-istilah ‘penafsiran’ dan ‘pemahaman’ atas ajaran-ajaran agama-Nya tampak seolah-olah saling dipertukarkan pemakaiannya, karena kedua hal ini memang dari hasil meneliti, menelaah atau mempelajari ayat-ayat-Nya yang ‘tak-tertulis’ dan yang ‘tertulis’ (teks ajaran-ajaran agama-Nya). Namun ada sedikit perbedaan antara pemakaian ‘penafsiran’ dan ‘pemahaman’, terutama dalam hal pengungkapannya. Istilah ‘penafsiran’ dimaknai sebagai "pengungkapan kembali melalui tulisan, lisan, sikap dan contoh-perbuatan, berdasar berbagai ‘pemahaman’ atas teks ajaran-ajaran agama-Nya, ke dalam wujudnya yang bersifat relatif sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, sesuai segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan umat manisia pada tiap jamannya. Terutama agar relatif amat mudah bisa dipahami dan diamalkan oleh umat.". Pengertian dari ‘penafsiran’ juga sering disebut sebagai “hasil ijtihad”. Sedang istilah ‘pemahaman’ dimaknai sebagai "tiap hasil dari usaha mengamati, mencermati, mempelajari dan menelaah teks ajaranajaran agama-Nya (ayat-ayat-Nya yang tertulis), terutama untuk bisa mencari berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah), di balik teks-teksnya. Hal serupa tentunya atas ayat-ayat-Nya yang taktertulis di seluruh alam semesta ini (atau tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya). Juga biasanya bersifat relatif amat rumit, dan hanya tersimpan di dalam dada-hati-pikiran pemilik pengetahuan.". Secara ringkas dan sederhananya, ‘penafsiran’ adalah sesuatu rangkuman atas segala pengetahuan, yang lalu telah terungkap secara relatif amat sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, sedangkan ‘pemahaman’ adalah pengetahuan yang belum terungkap. Lebih ringkasnya lagi, ‘penafsiran’ adalah ‘pemahaman’ yang telah terungkap (dengan berbagai tingkatan kesempurnaannya). Dengan sendirinya tiap penafsiran hanyalah bisa sama dengan


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

879

pemahamannya, apabila pemahaman itu sendiri memang telah relatif sederhana, hanyalah bersifat lahiriah semata (tanpa mengandung nilainilai batiniah), ataupun tetap aktual pada segala jamannya. Namun tiap ajaran agama-Nya pada dasarnya justru pasti mengandung nilai-nilai batiniah di dalamnya, yang memang relatif amat sulit bisa dijelaskan (termasuk tentunya juga sekaligus mengandung hal-hal gaib). Tiap ‘penafsiran’ pada dasarnya relatif amat jarang yang sama dengan ‘pemahamannya’. Bahkan tiap ibadah ‘wajib’ di dalam ajaran agama Islam (yang tetap aktual dilaksanakan sampai akhir jaman), dan memang relatif amat sederhana pelaksanaannya, justru tiap umat bisa memahaminya secara berbeda-beda (misalnya pada pemahaman atas nilai-makna batiniah dari segala hal yang terkait dengan ibadah shalat, seperti: takbiratul ikhram, ruku’, i’tidal, sujud, khusu’, dsb). Tiap penafsiran hanya bisa sama dengan pemahamannya, jika pemahamannya hanya semata bersifat tekstual-harfiah atas tiap ajaran agama-Nya, sebagai suatu bentuk pemahaman yang paling sederhana, dan bahkan tidak perlu pemahaman sama sekali (langsung dipahami persis sesuai dengan teks-teksnya). Sebaliknya atas berbagai pemahaman yang berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah), yang memang relatif amat rumit, biasanya justru memerlukan suatu penafsiran ketika diungkapkan dan diterapkan ke dalam kehidupan aktual umat sehari-harinya.

880

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

diamalkan oleh umat. Juga relatif hanya sesuai keadaan kehidupan umat manusia pada saat disampaikannya. -

Penempatan

Telah terungkap kepada umat, melalui tulisan, lisan, sikap dan contoh-perbuatan.

Pemahaman -

Pengertian

Tiap hasil dari usaha mencermati, menelaah atau mempelajari teks ajaran-ajaran agama-Nya, terutama untuk bisa mencari pengetahuan berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah), ‘di balik’ teks-teks itu.

-

Pengertian ringkas

Pengetahuan atas berbagai kebenaran-Nya dan belum terungkap.

-

Bentuk

Pengajaran-Nya.

-

Sifat-sifat

Relatif amat rumit, lengkap, luas dan saling terkait. Idealnya juga bersifat ‘universal’ (bisa melewati batas ruang, waktu, konteks budaya, dsb), sehingga bisa dipakai di manapun, kapanpun dan oleh siapapun. .

-

Penempatan

Belum terungkap kepada umat, atau hanya tersimpan saja di dalam dada-hati-pikiran pemilik pengetahuannya.

Secara ringkasnya, perbedaan antara istilah ‘pemahaman’ dan ‘penafsiran’ itu diungkap pada tabel berikut.

Gambaran umum proses pengajaran-Nya sepanjang masa Dari berbagai uraian di atas, bahwa tiap proses pengajaran dan tuntunan-Nya melalui segala bentuk ajaran agama-Nya (seperti: AlQur’an, Sunnah atau Hadits Nabi, Ijtihad para alim-ulama, dsb), pada dasarnya berupa proses yang bersifat relatif amat alamiah, dan serupa dari jaman ke jamannya, yang dirangkum pada tabel berikut.

Perbedaan antara pemahaman dan penafsiran atas ajaran agama-Nya

Berbagai komponen pada proses pengajaran-Nya sepanjang masa

Penafsiran -

Pengertian

Pengungkapan kembali melalui tulisan, lisan, sikap dan contoh-perbuatan kepada umat, berdasar berbagai pemahaman atas teks ajaran-ajaran agama-Nya, dalam wujud yang bersifat amat sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, sesuai segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan umat manusia pada tiap jamannya.

-

Pengertian ringkas

Suatu rangkuman atas segala pengetahuan, yang terungkap secara sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual.

-

Bentuk

Tuntunan-Nya.

-

Sifat-sifat

Relatif amat sederhana, ringkas, terbatas, praktis-aplikatif dan aktual. Sehingga relatif amat mudah bisa dipahami dan langsung

Pengajaran-Nya

Segala bahan pengajaran-Nya yang ‘paling dasar’, adalah segala hal yang ada tersedia di seluruh alam semesta ini (pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian, lahiriah dan batiniah). Memang hanya dari segala hal inilah seluruh umat manusia (termasuk para nabi-Nya), justru bisa mengenal Allah dan sifat-sifat Allah, juga termasuk bisa mengenal agama atau jalan-Nya yang lurus. Wujud ‘tabir-pembatas-hijab’ antara Allah dan tiap zat makhlukNya memang hanya berupa ‘tingkat’ pengetahuan pada makhlukNya itu, atas berbagai kebenaran-Nya di alam semesta ini. Sedangkan segala sesuatu hal di alam semesta ini, yang bersifat


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

881

‘mutlak’ dan ‘kekal’, pasti hasil dari perbuatan Allah. Hal yang selain dari itu, pasti hasil dari perbuatan segala makhluk-Nya. Segala hasil perbuatan Allah (bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’) biasa disebut pula sebagai: tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya; ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis; Al-Qur’an (gaib) yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi ‘Arsy-Nya; kalam atau wahyu-Nya sebenarnya; wajah-Nya; atau segala kebenaran-Nya. Para ‘pengajar’ yang paling utama, yang menjadi perantara bagi segala bentuk penyampaian pengajaran-Nya bagi seluruh umat manusia, adalah para makhluk gaib. Sedang segala bahan pengajaran-Nya yang telah bisa ditangkap, oleh alat-alat indera lahiriah, justru pasti terkirim pula ke indera batiniah tiap manusianya (hati atau kalbu). Padahal para makhluk gaib itu tiap saatnya pasti selalu mengikuti tiap manusia di alam batiniah ruhnya, terutama dalam memberikan segala jenis ilham yang 'positif-baik-benar' (dari para malaikat), dan yang 'negatifburuk-sesat' (dari iblis, syaitan dan jin). Dan ilham atau segala informasi batiniah dari para makhluk gaib, umum disebut pula ‘bisikan’ atau ‘godaan’. Sebagian dari ilham itu memang sesuai dengan tiap informasi batiniah, yang ‘murni’ dari hasil tangkapan alat-alat indera manusia. Namun ilham lebih umumnya diartikan sebagai informasi batiniah ‘tambahan’ atau tidak ‘murni’ (positif dan negatif), dari para makhluk gaib. Sehingga selain bertugas sebagai ‘penyuplai’ informasi batiniah (pemberi ilham), para makhluk gaib justru juga bertugas sebagai ‘penyalur’ segala jenis informasi batiniah, di dalam alam batiniah ruh tiap manusia (alam pikiran atau alam akhiratnya). Hakekatnya, para makhluk gaib justru ikut ‘memperkaya’ segala jenis informasi batiniah, di dalam alam batiniah ruh tiap manusia, sebelum bisa dipilih, diolah, dinilai dan diputuskan oleh akalnya, untuk bisa dianggap sebagai suatu ‘pengetahuan baru’ (lihat pula Gambar 26). Bahkan orang yang sedang malas berpikir sekalipun justru alam pikirannya tetap bisa jalan, akibat pikirannya selalu ‘diperkaya’ oleh para makhluk gaib (pada saat melongo, melamun, mimpi, mengantuk, dsb). Tentunya alat-alat indera lahiriah dan batiniah manusianya itulah

882

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

yang mengamati, mencermati atau merasakan segala sesuatu hal di alam semesta ini (segala bahan pengajaran-Nya). Selanjutnya setelah bisa memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya (melalui perantaraan malaikat Jibril), kemudian para nabi-Nya menyampaikan tiap pengajaran dan tuntunan-Nya, melalui kitabkitab-Nya (tulisan) dan juga sunnah-sunnah para nabi-Nya (lisan, sikap dan contoh-perbuatan), agar seluruh umat manusia lainnya juga bisa memahaminya dengan relatif lebih mudah. Proses yang serupa pula pada dasarnya terjadi pada seluruh umat manusia biasa lainnya, dari generasi ke generasi, dari jaman ke jaman. Walau pada tiap generasi atau jamannya memang hanya para nabi-Nya yang diketahui memiliki pemahaman yang relatif ‘sempurna’ (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan), atas berbagai kebenaran-Nya. •

Penerima pengajaran-Nya

Penerima pengajaran-Nya pada dasarnya seluruh umat manusia di alam semsta ini, karena ajaran agama-Nya yang lurus memang diturunkan-Nya bagi seluruh umat manusia, melalui pengajaranNya yang paling dasar, berupa ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis di alam semesta ini (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya). Tiap umat manusia tiap saatnya pasti menerima berbagai bentuk pengajaran-Nya, tentang berbagai kebenaran-Nya, dari kisahkisah umat terdahulu, para makhluk gaib, para nabi-Nya (lewat kitab-kitab-Nya), para alim-ulama, semua manusia lainnya, alam di sekitar, dan bahkan dari tiap diri manusianya sendiri. Sehingga mustahil ada seorangpun umat manusia yang berjalan di muka Bumi, tanpa bisa memperoleh suatupun pengajaran-Nya, bahkan juga bagi orang yang paling kafir dan ateis sekalipun. Terutama dari memahami tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaanNya, atau segala sesuatu hal yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’ di seluruh alam semesta ini (atau ayat-ayat-Nya tak-tertulis). Juga secara batiniah, melalui segala bentuk ilham-bisikan-godaan dari para makhluk gaib (positif dan negatif), yang tiap saatnya justru pasti selalu mengikuti tiap manusia di alam batiniah ruhnya. •

Pemahaman universal

Pemahaman yang ‘benar’ mestinya bersifat ‘universal’ (melewati


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

883

batas waktu, ruang dan budaya), sehingga bisa dipakai kapanpun, di manapun dan oleh siapapun. Pemahamannyapun mestinya bisa bersifat relatif amat utuh, konsisten dan tidak saling bertentangan secara keseluruhan. Hal ini hanya bisa dicapai pada pemahaman yang berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah). Dan sebaliknya hal ini bukan berupa pemahaman secara tekstualharfiah atas ayat-ayat-Nya yang tertulis, terucap dan terungkap (Al-Qur'an, Sunnah atau Hadits Nabi, Ijtihad para alim-ulama, dsb). Sedang suatu hal yang tertulis, terucap dan terungkap, pasti hanya sesuai keadaan tertentu saat ditulis, diucap dan diungkap. Dan bahasa lisan, tulisan dan bahasa tubuh yang dipakai memang hanya sesuai dengan keadaan tertentu (konteks waktu, ruang dan budaya), pada saat umat menerima ayat-ayat-Nya itu. Suatu pemahaman secara tekstual-harfiah hanya disebut ‘benar’, jika keadaan umat penerimanya masih sesuai keadaan umat saat ayat-ayat-Nya sedang ditulis, diucap atau diungkap (pemahaman tekstual-harfiah hanya bersifat aktual, tidak bersifat universal). Dari segala hasil pengungkapan oleh para umat terdahulu atas tiap kebenaran-Nya (terutama para nabi-Nya), misalnya melalui kitab suci Al-Qur'an, kitab-kitab Hadits (sunnah Nabi) dan segala risalah atau keterangan lainnya, mestinya dipelajari kembali agar bisa mencari makna-makna yang sebenarnya yang terkandung di dalamnya, seperti halnya yang dimaksudkan di dalam dada-hatipikiran para penyampainya. Tentunya hasil pemahaman yang diperoleh justru pasti mustahil bisa persis sama, dengan isi pikiran para penyampai risalahnya, tetapi minimal bisa berusaha dicari pemahaman yang bisa relatif ‘mendekatinya’, sesuai teks risalah yang telah disampaikannya. Bahkan tiap umat manusia pada tiap jamannya justru bisa pula membandingkan antara tiap hasil pemahamannya dari teks-teks tertulis itu, dengan tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini (berupa segala sesuatu hal yang bersifat mutlak, kekal ataupun universal, pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta, lahiriah dan batiniah). Sekali lagi, segala hasil pemahaman yang bersifat universal, bisa disebut sebagai pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah), seperti yang telah dimiliki oleh seluruh para nabi-

884

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

Nya, terutama tentang hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah). •

Solusi persoalan aktual

Berdasar segala pemahaman al-Hikmah yang bersifat ‘universal’, lalu dirangkum atas berbagai hal tertentu bagi usaha penerapan aktualnya, dan diungkap secara amat arif dan bijaksana, melalui: lisan, tulisan, sikap dan contoh-perbuatan. Tentunya sebagai suatu bahan pengajaran dan tuntunan-Nya bagi umat manusia, penyampaiannya juga semestinya bersifat relatif sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, sesuai keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan umat di tiap jamannya. Agar sebagian terbesar umat (khususnya umat yang awam atau kurang berilmu), relatif mudah bisa memahami dan mengamalkannya. Hal ini tentunya berkebalikan dari pemahaman al-Hikmah, yang justru bersifat 'universal' (bisa melewati batas waktu, ruang dan budaya), amat rumit, tidak praktis-aplikatif dan tidak aktual (bisa dipakai kapanpun, di manapun dan oleh siapapun). Tiap hasil pengungkapan pemahaman (sebagai bahan pengajaran dan tuntunan-Nya), justru terkait nasib dan kehidupan beragama seluruh umat, maka mestinya hanya dilahirkan oleh Majelis alimulama, dan sering disebut sebagai hasil ‘Ijtihad’ atau ‘Fatwa’ (di jaman dahulu juga disebut Ijma’, Qiyas, Istihsan, dsb). Hasil pengungkapan oleh para nabi-Nya umumnya disebut AlKitab dan Sunnah-sunnah para nabi-Nya. Kedua hal inipun pada dasarnya sama (hanya berbeda bentuknya saja), dan berupa hasil pengungkapan berdasar segala pemahaman Al-Hikmah pada para nabi-Nya. Al-Kitab biasanya berisi dasar-dasar pokok ajarannya. Al-Kitab dan Sunnah-sunnah para nabi-Nya pada dasarnya suatu bentuk hasil Ijtihad dari para nabi-Nya, untuk bisa menjawab dan mengatasi segala persoalan umatnya, yang mendasar dan hakiki. Baca pula uraian pada topik di bawah. Sebagian pemahaman pada para nabi-Nya, relatif ada pula yang telah diilhami oleh berbagai risalah atau hasil pengungkapan oleh para nabi-Nya terdahulu (sebelumnya). Pada umat manusia biasa lainnya dari jaman ke jaman, juga pada dasarnya melakukan hal yang serupa. Tetapi pemahaman mereka


Sumber ilham batiniah

Persoalan umat Solusi persoalan aktual Pemahaman universal Pengajaran-Nya

Sumber ilham lahiriah

G A I B Tabir/hijab

Penerima pengajaran-Nya

Persoalan umat di tiap jamannya Ijtihad dari Majelis alim ulama di tiap jamannya Umat tiap jamannya (terutama melalui Majelis alim ulama)

Hikmah & hakekat kebenaran-Nya

Proses bertafakur untuk memahami berbagai kebenaran-Nya.

Hikmah & hakekat kebenaran-Nya Para sahabat, tabiin, tabiittabiin, ulama terdahulu, dsb

Penyampaian pemahaman kepada umat secara arif, praktis-aplikatif & aktual. Pada alam batiniah ruh tiap manusia.

S E M E S T A

A L A M

Pengamalan langsung oleh umat atas ajaranajaran agama-Nya.

Persoalan umat di masa awal Islam Ijtihad (Ijma’, Qiyas, Istihsan, dsb) dari para alim-ulama

Tiap amal-ibadah yang tetap aktual & wajib, mesti dipertahankan.

Persoalan umat di jaman Nabi Kitab suci Al-Qur’an & Sunnah-sunnah Nabi (Hadits) Hikmah & hakekat kebenaran-Nya Nabi Muhammad saw, sebagai nabi-Nya yang terakhir

Gabungan segala sumber ilham (lisan / tertulis) dari para nabi dan umat terdahulu. Pelajari segala sumber ilham (lisan / tertulis) dari para nabi dan umat terdahulu. Nabi ‘tidak bisa membaca’ (ummi).

Persoalan umatumat terdahulu Segala kitab & wahyu-Nya, serta kisah para nabi-Nya

P A R A

M A K H L U K

A L L A H

Hal-hal ini bisa ditunjukkan secara sederhana dan umum pada Gambar 40 berikut.

Hikmah & hakekat kebenaran-Nya

Usaha pengamalan atas ajaran-ajaran agama-Nya oleh tiap umat manusia, dalam kehidupannya sehari-harinya, khususnya dalam berusaha menjawab atau mengatasi segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupannya sehari-hari di dunia, yang paling penting, mendasar dan hakiki. Bahkan jika masih ada persoalan umat yang belum terjawab dan tertangani, maka umat bisa pula meminta lagi petunjuk dari para nabi-Nya, sedang pada jaman modern saat ini bisa dari para alimulama secara perseorangan, ataupun dari Majelis alim-ulama. Tentunya untuk tujuan yang sama, Majelis alim-ulama mestinya justru bertindak ‘aktif’, untuk mengumpulkan seluruh persoalan aktual di kalangan umat, dan mencarikan segala solusinya sesuai ajaran-ajaran agama-Nya, sebaliknya tidak berlaku ‘pasif’, hanya menunggu adanya laporan, pengaduan dan permintaan dari umat.

Para nabi-Nya terdahulu (nabi Adam as s/d nabi Isa as)

Persoalan umat

Gambar 40: Diagram umum proses pengajaran-Nya sepanjang masa

Terkandung tanda-tanda kekuasaanNya / ayatayat-Nya yang taktertulis / wajah-Nya / Al-Qur’an gaib

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

Al-Kitab (Al-Hikmah yg terungkap, tulisan, lisan, sikap & perbuatan)

justru jauh lebih banyak diilhami dari segala risalah, yang telah disampaikan oleh para nabi-Nya. Karena pemahaman para nabiNya memang diyakini relatif paling sempurna, dibanding seluruh umat manusia lainnya, terutama pada jamannya masing-masing. Selain itu, ada pula pemahaman umat yang diilhami dari segala risalah yang telah disampaikan oleh para alim-ulama terdahulu. Tetapi ironisnya, segala pengungkapan oleh umat Islam pada saat ini, hampir kebanyakannya justru hanya berupa kutipan-kutipan, atas berbagai risalah dari para nabi-Nya dan dari para alim-ulama terdahulu, sehingga tidak lebih dari suatu kumpulan, rangkuman ataupun penulisan kembali atas risalah-risalah itu. Sedangkan hampir tidak ada sesuatu usaha secara komprehensif, agar bisa memahami secara amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, atas seluruh kandungan isi ‘di balik’ teks risalah-risalah itu, agar umat manusia modern saat ini (khususnya melalui Majelis alim-ulama), bisa membuat berbagai risalah dan buku yang berdasarkan seluruh pemahamannya, yang telah ‘makin baik’, dan bahkan idealnya telah ‘makin mendekati’ pemahaman para nabi-Nya (terutama nabi Muhammad saw).

886

Al-Hikmah (pemahaman dlm dada-hati-pikiran).

885

Pelajari tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta (lahiriah & batiniah).

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

887

Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, bentuk ‘ijtihad’ dari Nabi Hal penting dari Gambar 40 di atas adalah, bahwa kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Hadits) juga pada dasarnya suatu bentuk ‘ijtihad’ dari Nabi, atas hampir semua persoalan yang paling penting, mendasar dan hakiki pada umat kaumnya (bahkan juga seluruh umat manusia) berdasar segala pemahaman al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya) yang telah diperolehnya melalui perantaraan Jibril. Konteks keadaan ‘aktualnya’ (waktu, ruang dan budaya), yang terkait dengan penyampaian ‘ijtihad’ dari Nabi, tentunya berupa “pada jaman Nabi sendiri, di jazirah Arab dan sesuai budaya Arab”.

Namun justru karena amat tinggi dan sempurnanya nilai-nilai kebenaran dari seluruh pemahaman al-Hikmah pada nabi Muhammad saw ataupun para nabi-Nya lainnya (relatif amat lengkap, mendalam, utuh, konsisten dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya), yang membuat tiap pemahaman al-Hikmah di dalam dada-hati-pikiran mereka, bisa disebut sebagai ‘wahyu-Nya’ (al-Hikmah). Di samping itu, berbagai ‘rangkuman’ pemahaman al-Hikmah tentang berbagai hal tertentu, yang telah ditulis, diucap dan diungkap oleh para nabi-Nya, juga disebut ‘wahyu-Nya’ (al-Kitab). Wahyu-Nya jenis terakhir inilah yang dianggap suatu bentuk ‘ijtihad’ dari Nabi di atas, karena memang sengaja disampaikan untuk bisa menjawab atau mengatasi segala persoalan ‘aktual’ di kalangan umat. Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang empat macam jenis atau bentuk wahyu-Nya. Namun Al-Hikmah pada manusia biasa umumnya justru tidak bisa disebut ‘wahyu-Nya’ (tetap hanya bisa disebut ‘al-Hikmah’ saja), karena ‘seluruh’ al-Hikmah yang dimilikinya memang biasanya juga bersifat relatif amat tidak lengkap, tidak mendalam, tidak konsisten, tidak utuh dan saling bertentangan. Sedang umat manusia pada tiap jamannya (khususnya melalui Majelis alim-ulama), semestinya juga melakukan hal-hal yang serupa (melahirkan segala ‘ijtihad’), yang semestinya dengan berdasar atas segala pemahaman Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), terutama diilhami dari kitab suci Al-Qur’an dan kitab Hadits (Sunnah Nabi). Juga bisa diilhami dari berbagai hasil ‘ijtihad’ dari para alimulama terdahulu (Ijma’, Qiyas, Istihsan, dsb). Bahkan bagi para alim-ulama yang berilmu relatif amat tinggi, bisa terilhami dari mempelajari langsung tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta (segala hal lahiriah dan batiniah yang

888

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’, hasil dari segala perbuatan-Nya). Tentunya, proses pemahaman atas tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya itu jauh lebih sempurna, jika mulai terilhami berdasar wahyu-Nya dari para nabi-Nya, yang memang telah relatif sempurna. Hal inipun biasanya dilakukan dengan cara mengungkap kembali tiap ‘rahasia’ di balik teks-teks wahyu-Nya (mengungkap al-Hikmah-nya). Dengan harapan utama, agar seluruh al-Hikmah pada tiap umat relatif bisa mendekati seluruh al-Hikmah dalam dada-hati-pikiran para nabiNya (terutama nabi Muhammad saw), dan agar tiap umat bisa sebenarbenarnya memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama-Nya. Pembentukan pemahaman bersama pada Majelis alim-ulama Bahwa ajaran “agama-Nya yang lurus” telah diwariskan oleh para nabi-Nya kepada seluruh para alim-ulama. Pewarisan inipun pada dasarnya bersifat amat alamiah dan kepada suatu ‘Majelis alim-ulama’ (‘bukan’ kepada seseorang ataupun sekelompok terbatas alim-ulama saja). Karena sejak jaman Nabi, pemahaman tiap umat manusia atas segala persoalan kehidupannya (termasuk tiap alim-ulama itu sendiri), justru secara alamiah makin lama makin terbatas, sedangkan keadaan jamannya makin berkembang pesat dan kompleks. Sehingga Majelis alim-ulama semestinya terdiri dari para alimulama, dari segala bidang keilmuan (ilmu-ilmu agama dan non-agama, lahiriah dan batiniah), untuk makin bisa diperoleh pemahaman yang relatif amat utuh dan lengkap atas ajaran-ajaran agama-Nya. Sedang pada jaman dahulu, pemahaman yang sempurna seperti ini masih bisa dicapai hanya oleh seorang nabi-Nya. Dan justru pada jaman saat ini, hal serupa relatif hanya bisa dilakukan secara kolektif atau bersamasama oleh para alim-ulama dalam sesuatu ‘Majelis alim-ulama’. Hal ini tentunya bisa dilakukan melalui sesuatu penelitian yang amat intensif dan lama, atas seluruh teks ajaran-ajaran agama Islam, tentunya didukung pula oleh segala keterangan dan penjelasan yang terkait dan bisa ditemukan. Hal yang lebih penting lagi, sekaligus pula sambil mengamati, mencermati, meneliti dan mempelajari tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta (ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis, lahiriah dan batiniah). Juga hal ini tentunya relatif lebih mudah, jika dilakukan secara bersama-sama oleh sekelompok besar para alim-ulama dalam Majelis alim-ulama, yang disertai dukungan dari sejumlah kalangan umat yang terkait (para cendikiawan Muslim), agar diharapkan bisa melahirkan pemahaman ‘bersama’ antar para alim-ulama tersebut.


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

889

Baca pula topik "Pengajaran dan tuntunan-Nya", tentang metode untuk pencapaian pemahaman al-Hikmah. Berdasar dari rangkuman seluruh ‘pemahaman bersama��� yang disusun oleh Majelis alim-ulama, yang berbentuk berupa pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah), lalu Majelis alimulama bisa melahirkan segala solusi, ijtihad atau fatwa, dalam bentuk yang bersifat relatif sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, sesuai segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan umat manusia pada tiap jamannya. Jamannya para nabi-Nya itu memang telah berakhir pada nabi Muhammad saw. Tetapi secara alamiah, ‘nabi-nabi’ pada saat ini telah berupa ‘Majelis-majelis alim-ulama’ pada tiap negeri dan jamannya, sebagai pewaris ‘tugas’ dan ‘ajaran’ para nabi-Nya. Agama-Nya yang lurus justru sama-sekali tidaklah tergantung kepada sejarah umat manusia (bahkan bukan sejarah para nabi-Nya), karena agama-Nya yang lurus bersifat ‘universal’, atau telah menyatu dengan perjalanan alam semesta itu sendiri (‘universe’), dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman. Bahkan segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya justru juga berkembang secara alamiah, dari nabi ke nabi, karena perkembangan jamannya ikut pula menyempurnakan segala kemampuan pemahaman umat manusia atas berbagai kebenaran-Nya. Persoalannya tertinggal kepada para alim-ulamanya pada tiap jamannya (terutama melalui Majelis alim-ulama), apakah ingin tetap selalu menyempurnakan segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya, dari hasil memahami ayat-ayat-Nya yang tertulis (segala risalah para nabi-Nya), dan ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta)?. Dan apakah pemahaman manusia modern saat ini atas ajaran agama-Nya yang lurus, telah ‘terputus ataupun berakhir’, hanya cukup sampai pada tingkat kesempurnaan pemahaman pada nabi Muhammad saw saja?. Padahal di lain pihak, tingkat pemahaman manusia modern saat ini juga ‘belum tentu’ telah sesuai dengan pemahaman pada Nabi. Mungkinkah “kitab al-Hikmah” bisa disusun? Pada akhirnya, Majelis alim-ulama barangkali semestinya bisa melahirkan sesuatu “kitab al-Hikmah”, dari keseluruhan pemahaman bersamanya, sebagai referensi ataupun bahan bacaan acuan dasar bagi para alim-ulama itu sendiri, untuk perlu dipelajari sebelum bisa ikut

890

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

melahirkan suatu ‘ijtihad’ ataupun ‘fatwa’, Juga tentunya bagi seluruh umat Islam pada umumnya yang telah cukup berilmu, agar makin bisa meningkatkan keimanannya. Walau harus diakui pula, “kitab al-Hikmah” ini memang relatif amat sulit bisa terwujud, dari adanya berbagai hambatan, seperti:

Berbagai hambatan bagi penerbitan “kitab al-Hikmah” •

Kandungan isinya bersifat relatif amat rumit dan universal, maka relatif kurang sesuai sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya yang bersifat praktis-aplikatif dan aktual, yang justru lebih dibutuhkan oleh umat pada umumnya. Sedang tiap al-Hikmah relatif hanya sesuai dan dibutuhkan oleh umat yang berilmu cukup tinggi saja.

Cukup banyaknya bentuk pemahaman yang berkembang luas di kalangan umat, dengan adanya banyak aliran-mazhab-golongan. Sedang sesuatu al-Hikmah bisa mudah ditolak, jika bertentangan dengan pemahaman pada berbagai aliran dari para alim-ulama di dalam Majelis alim-ulama.

Kandungan isinya bisa relatif berbeda daripada hal-hal diketahui oleh umat pada umumnya dari teks ajaran agama-Nya, walaupun pada tingkat pemahaman hikmah dan hakekatnya pada dasarnya justru tetap sama.

Kitabnya sendiri bisa amat tebal, atau terdiri dari beberapa buku, karena kandungan isinya memang bersifat amat ‘ilmiah’ (banyak mengandung segala dalil-alasan dan penjelasan), juga ‘universal’ (melewati batas waktu, ruang dan budaya).

Penyusunan kitabnya bisa amat lama, karena memerlukan segala riset dan penelitian ilmiah.

Tiap al-Hikmah relatif amat sulit bisa dijelaskan melalui tulisan, lisan, sikap dan contoh-perbuatan, karena memang relatif tidak cukup hanya diungkap melalui beberapa puluh kalimat lisan dan tulisan, dalam menerangkan sesuatu hal saja, terutama bagi halhal yang bersifat gaib dan batiniah.

Dsb.

Tetapi tentunya, “kitab al-Hikmah” itupun justru menimbulkan amat banyak keuntungan bagi para alim-ulama itu sendiri, dan bahkan bagi seluruh umat manusia, seperti misalnya:


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

891

Berbagai keuntungan dari penerbitan “kitab al-Hikmah”

892

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

Para alim-ulama ataupun seluruh umat Islam bisa makin relatif seragam pemahamannya tentang berbagai halnya, demikian pula halnya dalam penyampaiannya. Sedang keseragaman inipun bisa makin berkembang bersamaan dengan makin banyaknya segala pemahaman bersama pada Majelis alim-ulama.

Banyak aliran-mazhab-golongan yang bisa makin saling menyatu atau melebur, karena amat kokoh-kuatnya segala dalil-alasan di dalamnya (sulit dibantah). Jurang perbedaan antar aliranpun bisa relatif makin menipis, termasuk segala polemik dan perselisihan pemahaman antar umat bisa relatif makin berkurang.

Makin bisa menjawab berbagai kekuatiran nabi Muhammad saw atas kelangsungan ajaran agama-Nya yang lurus, karena segala pemahaman dan keinginan dalam dada-hati-pikiran Nabi sendiri, memang telah relatif makin terungkap pula.

Segala kebenaran-Nya di dalam kitab suci Al-Qur'an bisa makin terbukti secara ilmiah dan meyakinkan, sehingga umat juga bisa makin meningkatkan keimanannya, serta makin lurus aqidahnya.

Bisa makin jelas, tentang bagaimana cara Allah berbuat berbagai hal di alam semesta (mengutus para nabi-Nya dan para malaikat, menurunkan wahyu-Nya, menetapkan takdir-Nya, dsb).

Tiap umat tidak butuh waktu yang relatif terlalu lama, untuk bisa memahami ajaran-ajaran agama-Nya secara relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan.

Banyak berkurang pula ketergantungan kepada para alim-ulama terdahulu (termasuk para perawi Hadits), sekaligus umat relatif tidak perlu lagi terlalu tergantung kepada kitab-kitab Hadits.

Tugas para alim-ulama dalam mewarisi seluruh ajaran para nabiNya menjadi relatif makin sempurna, karena segala pemahaman para alim-ulama memang telah makin ‘mendekati’ pemahaman Nabi atas agama-Nya yang lurus, pada seluruh wahyu-Nya yang telah diperolehnya. Bahkan para alim-ulama dalam Majelis alimulama yang melahirkan “kitab al-Hikmah” justru sekaligus pula mewarisinya kembali kepada berbagai generasi umat berikutnya.

Dsb.

Makin berkurang ketergantungan kepada makna-makna tekstualharfiah atas kitab suci Al-Qur'an dan kitab Hadits, yang segala keterangan atau penjelasannya memang relatif amat ringkas dan sederhana. Sedang penafsiran umat atas teks-teks ajaran agamaNya, bahkan justru relatif amat berbeda-beda.

Makin berkurang keresahan pada umat-umat yang berilmu cukup tinggi atas kelangsungan ajaran agama-Nya yang lurus. Padahal amat tidak memadai jika hanya semata dipahami secara tekstualharfiah saja oleh sebagian besar umat, tanpa disertai pemahaman yang cukup mendalam.

Bisa makin menghilangkan segala mistis-tahayul pada kehidupan beragama umat, yang memang tanpa berdasar segala dalil-alasan dan penjelasan.

Bisa makin berkurang segala hal yang bersifat ‘taklid buta’ pada kehidupan beragama umat (pengamalan atas ajaran agama-Nya, sama-sekali tanpa memiliki pemahaman yang cukup memadai).

Jika kandungan isinya benar-benar bersifat universal, maka kitab ini bisa dipakai sampai kapanpun (bahkan sampai akhir jaman). Kalaupun ada berbagai perubahan, kebanyakannya hanya berupa penambahan atas berbagai dalil-alasannya sesuai perkembangan ilmu-pengetahuan. Juga penambahan dari tiap hasil pemahaman bersama yang baru diperoleh pada Majelis alim-ulama.

Akhirnya terpulang kembali kepada para alim-ulama di dalam Majelis alim-ulama, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: •

Apakah para alim-ulama pada saat ini benar-benar telah mewarisi segala tugas dan ajaran dari nabi Muhammad saw dan para nabiNya lainnya, bahkan sekaligus telah bisa mewariskannya kembali kepada berbagai generasi umat berikutnya?. Padahal Nabi sendiri justru telah mewariskan ajaran agama-Nya yang lurus, dalam bentuk kitab suci Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Nabi. Hal yang serupa pula pada para nabi-Nya lainnya, termasuk para alim-ulama terdahulu yang menuliskan kitab-kitab Hadits.

Apakah para alim-ulama pada saat ini tidak ingin berbuat hal yang serupa seperti yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya, terutama yang telah menyampaikan kitab-kitab tauhid?. Walaupun hal ini memang harus dilakukan secara bersama-sama melalui Majelis alim-ulama, misalnya untuk bisa melahirkan suatu


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

893

“kitab al-Hikmah”, sebagai kitab yang memberi penjelasan relatif jauh lebih sempurna (relatif lebih lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan), atas kandungan isi kitab suci Al-Qur'an dan kitab-kitab Hadits, dibanding buku-buku lainnya. •

Apakah para alim-ulama pada saat ini telah merasa cukup, hanya dengan berdakwah kepada umat-umatnya?. Sedang umat-umat itu sendiri yang justru mewariskannya kepada anak-cucunya (hanya jika umat-umat itu sendiri juga telah menjadi alim-ulama), ataupun tetap hanya diwariskan oleh para nabi-Nya.

Apakah selama-lamanya, para alim-ulama pada saat ini hanya bisa berbuat sendiri-sendiri dalam mewariskan ajaran agama-Nya yang lurus (dengan menerbitkan sendiri buku-bukunya)?.

Apakah tingkat pemahaman umat atas ajaran-ajaran agama-Nya yang lurus telah makin berkembang, hanya berjalan di tempat saja, atau makin memburuk, dari segala buku yang ada saat ini?; Dsb. Keadaan bagi penyampaian al-Hikmah Bentuk hasil ‘ijtihad’ yang semestinya disampaikan oleh para alim-ulama kepada umat Islam ‘pada umumnya’ (bukanlah langsung disampaikan berupa al-Hikmah). Sesuatu pemahaman al-Hikmah pada dasarnya relatif hanya cocok disimpan saja, di dalam dada-hati-pikiran para alim-ulama itu sendiri (ataupun umat-umat lain yang telah cukup berilmu). Tentunya pada keadaan dan forum tertentu, al-Hikmah bisa pula disampaikan kepada umat lainnya, yang telah siap menerimanya. Hal inilah maksud dalam ayat Al-Qur’an, yaitu: "… Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat, untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya, melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: `Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb-kami`. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya), melainkan orang-orang yang berakal." - (QS.3:7). Walau umat-umat yang relatif amat berilmu memang telah bisa memperoleh pemahaman yang relatif cukup mendalam, ataupun telah bisa mengungkap segala rahasia di balik teks ajaran-ajaran agama-Nya (memperoleh al-Hikmah), namun ia harus tetap menyatakan "beriman

894

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

kepada ayat-ayat yang mutasyabihat (memiliki banyak arti dan susah ditentukan maksudnya, terutama tentang hal-hal gaib)". Tentunya keimanan atau pengakuan atas teks Al-Qur'an justru tetap diperlukan, walaupun makna tekstual-harfiah dari ayat-ayat yang mutasyabihat itu memang telah dianggap ‘relatif tidak sesuai’, dengan makna sebenarnya yang dipahami oleh umat-umat yang berilmu. Sedang teks ajaran-ajaran agama-Nya justru tetap amat sangat diperlukan bagi sebagian besar umat (terutama umat yang awam, atau kurang mendalam ilmunya). Bahkan teks-teks itu mestinya tetap bisa dipertahankan keotentikannya, karena nilai keotentikan dari tiap teks ajaran-ajaran agama-Nya memang amat sangat tak-ternilai harganya, bagi keyakinan tiap umat beragama. Baca pula topik "Kitab-kitab tuntunan-Nya", tentang otentisitas teks kitab suci yang tak-ternilai harganya. Selanjutnya, tiap al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaranNya) mestinya disampaikan kepada umat secara amat arif-bijaksana. Sekali lagi, bagi umat-umat yang awam atau kebanyakan paling baik disampaikan di dalam bentuk hasil ijtihad-nya (berbentuk sederhana, ringkas, praktis- aplikatif dan aktual). Selain itu tiap pengungkapan alHikmah relatif amat mudah melahirkan berbagai fitnah di kalangan umat, walaupun niat pengungkapannya memang tidak bertujuan untuk menyesatkan umat, seperti yang juga diperingatkan pada ayat di atas Sedang tiap al-Hikmah memang relatif berbeda daripada halhal yang biasa mudah diketahui dan langsung dibaca oleh umat dalam teks ajaran-ajaran agama-Nya. Hal yang ‘paling aman dan ideal’, adalah agar tiap pemahaman al-Hikmah cukup disimpan di dalam dada-hati-pikiran, bagi keyakinan atau keimanan pribadi saja, jika memang belum ada segala keadaan tertentu yang cukup ‘memaksa’, untuk perlu menyampaikannya. Bisa pula disampaikan pada suatu forum terbatas, yang terdiri dari para alim-ulama ataupun umat-umat yang berilmu cukup tinggi, yang memang telah relatif siap menerima tiap al-Hikmah. Walau buku ini relatif lebih sesuai bagi para alim-ulama dan umat-umat yang cukup berilmu (bukan bagi umat-umat yang awam), namun adanya usaha pengungkapan atas segala ‘hikmah dan hakekat’ pada buku ini justru telah dirasakan amat ‘diperlukan’ dan ‘terpaksa’ dilakukan. Terutama karena amat dirasakan keadaan kehidupan beragama umat pada umumnya, termasuk pemahaman dari sebagian besar para


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

895

alim-ulama, yang telah relatif cukup memprihatinkan dan berlebihan, yang dirasakan telah relatif ‘cukup melenceng’ dari berbagai dasar pokok ajaran agama-Nya yang sebenarnya. Berbagai keadaan tertentu yang cukup ‘memaksa’, yang mesti terpenuhi agar bisa disampaikannya al-Hikmah, seperti misalnya: • Amat luas berkembang segala macam tahayul di kalangan umat. • Amat kuat berkembang segala pemahaman, yang hanya semata berdasarkan makna tekstual-harfiah dari ajaran-ajaran agama-Nya (bukan berdasarkan al-Hikmah). • Amat kuat pertentangan dan perselisihan pemahaman di kalangan umat, bahkan umat mudah saling menuduh sesat ataupun kafir. • Amat banyak para alim-ulama yang telah pula melupakan berbagai dasar pokok ajaran agama-Nya. • Amat berkembang segala fanatisme yang tidak pada tempatnya dan berlebihan di kalangan umat. • Amat banyak umat yang berlaku taklid kepada ‘sosok’ para alimulama (bukan ‘kebenaran’ dari hal-hal yang disampaikannya). • Amat lemah pemahaman para alim-ulama tentang bagaimana cara Allah berbuat berbagai hal di alam semesta (mengutus para nabiNya, menurunkan wahyu-Nya, menetapkan takdir-Nya, dsb). dsb. Pemahaman universal untuk atasi isu-isu umat Islam modern Segala pemahaman yang bersifat ideal dan universal seperti itu (pemahaman al-Hikmah) justru amat diperlukan pada saat ini, dalam mengatasi berbagai isu yang amat mendiskreditkan atau merugikan umat Islam oleh kalangan di luar Islam, ataupun tanpa disengaja oleh kalangan umat Islam sendiri, misalnya: isu pendirian negara Islam (dengan sistem pemerintah dan hukumnya); isu hukum syariat yang tidak populer dan aplikatif; isu pengekangan wanita; isu poligami; isu jihad dan terorisme; dsb. Adanya berbagai isu itupun justru secara tidak langsung bisa merusak keyakinan pada kalangan umat Islam yang awam terhadap agamanya, apabila tidak diatasi dengan sebaik-baiknya oleh para alimulama dan para cendikiawan Muslim. Selain itu, isu-isu semacam itu paling sering dipakai oleh kalangan non-Islam ataupun para orientalis barat, untuk menyerang agama ataupun umat Islam secara budaya. Contoh isu-isu umat Islam modern dan solusi sederhananya Berikut inipun dibahas pula sejumlah tawaran solusi sederhana

896

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

atas isu-isu di kalangan umat Islam pada jaman modern saat ini, yaitu: a. b. c. d. e.

Isu hukum syariat yang tidak populer dan aplikatif. Isu pengekangan terhadap wanita. Isu poligami. Isu pendirian negara Islam. Isu jihad dan terorisme. Uraian-uraian selengkapnya, yaitu:

Beberapa isu umat Islam modern, dan solusi sederhananya a. Isu hukum syariat yang tidak populer dan aplikatif. ¾ Isu hukum syariat yang tidak populer dan aplikatif. Pemahaman ‘universal’ atas Al-Qur’an mestinya melewati batas waktu, ruang dan konteks budaya. Maka penerapan atas berbagai hukum syariat tertentu mestinya disesuaikan pula, dengan jaman, tempat dan budaya umat, tanpa harus mengurangi segala hikmah dan hakekat di balik hukum asalnya.

Perbedaannya hanya pada penerapannya, yang mestinya sesuai konteks jamannya. Kalau perlu sebagian dari hukum syariat bisa terus-menerus dirumuskan kembali pada tiap jamannya, agar bisa tetap aktual penerapannya sampai akhir jaman. Pada aspek hukum, hakekat paling utama adalah keadilan, seperti halnya sifat Allah sendiri, Yang Maha Adil. Hal utama lainnya adalah agar perbuatan buruk terkait bisa ikut berkurang (adanya efek jera). Sehingga bukan terfokus pada ‘penghukuman’, yang belum tentu sesuai dengan rasa keadilan, ataupun pada ‘bentuk’ hukumannya semata-mata, yang hanya sesuai dengan budaya tertentu. Kemuliaan kitab suci Al-Qur’an justru sama sekali bukan dijaga dengan cara memelihara tiap hukum yang tercantum dalam teks ayat-ayatnya (kepada bentuk hukumannya), namun dari menjaga hikmah dan hakekat kebenaran-Nya dalam kandungan isinya, ‘di balik’ teks ayat-ayatnya. Bahkan jika ‘hanya’ melihat Al-Qur'an dari aspek hukum syariat saja, maka semua nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad saw bisa dianggap orang "kafir", karena mereka tidak melaksanakan hukum syariat, seperti halnya umat-umat Nabi. Padahal mereka


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

897

898

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

semua, justru sebenarnya termasuk orang-orang yang beriman.

lainnya secara sengaja dan sadis.

Hal ini jelas sesuatu bukti, bahwa hukum syariat pasti mengikuti pula perkembangan jaman. Bahkan di dalam Al-Qur’an disebut pula "bahwa tiap-tiap umat memiliki syariatnya masing-masing" - (QS.22:67). Tentunya hal ini justru tidak bisa diartikan, seperti "syariatnya umat Nabi di tahun 2000, mesti sama dengan umat di tahun 3000" dan "kelompok umat mesti menurut tiap nabi-Nya".

Para pembunuh semacam itu telah tidak memiliki jalan untuk bisa bertaubat, karena keadaan kejiwaan mereka itupun telah ‘gila’, atau keadaan batiniah ruhnya telah rusak amat parah. Di samping telah kehilangan penghargaannya atas nilai-nilai kehidupan itu sendiri, yang jelas tampak dari kezalimannya. Bahkan para pembunuh itu telah terus-menerus merugikan banyak orang-lain, terutama keluarga para korbannya (secara lahiriah ataupun batiniah, langsung ataupun tidak). Hukum pemotongan jari dan tangan. Dari mempelajari konteks sejarah diturunkan-Nya kitab suci Al-Qur'an, serta hakekat dan tujuan adanya hukuman ini, bisa diketahui seperti: kehidupan umat di jaman Nabi relatif amat keras, sederhana dan primitif. Pencurian sesuatu barang yang relatif sederhana sekalipun (bagi ukuran di jaman sekarang), justru amat mungkin mengubah kehidupan korbannya secara amat drastis di jaman dahulu.

Maksud dan tujuan yang sebenarnya dari penerapan suatu hukum syariat, harus dipahami dan diletakkan pada tempat semestinya. Ada hal-hal yang mestinya tetap dipertahankan (wajib), namun ada pula berbagai hal yang mestinya bisa berubah-ubah, sesuai dengan keadaan umat pada tiap jamannya (sunnah). Ada sebagian dari umat Islam yang menyatakan, seperti "Ikuti saja segala hal yang diperintah-Nya, melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits, secara apa adanya sesuai dengan bunyi isi teksnya, karena hal-hal itu adalah hukum dan ketentuan Allah". Sedangkan umat-umat itu sendiri belum memahami, "bagaimana cara Allah memerintah umat manusia melalui para nabi-Nya".

Beberapa hukum syariat yang telah dianggap relatif amat perlu, untuk bisa disesuaikan aplikasi-penerapannya, misalnya: • Hukum gantung atau pemenggalan kepala. Hakekat dan tujuan utamanya adalah menghilangkan nyawa terhukum, yang pada jaman dahulu hanya paling cepat bisa dilakukan, dengan cara digantung atau dipenggal kepalanya. Maka berbagai cara apapun yang bisa memenuhi tujuan itu mestinya bisa dipakai pula, seperti: ditembak mati, di kursi listrik tegangan tinggi, disuntik racun mematikan, dsb. Makin cepat meninggal dan makin berbudaya mestinya makin baik.

Misalnya penderitaan yang berkepanjangan bagi korbannya setelah untanya dicuri (kendaraan utama di padang pasir). Tanpa unta, kehidupan manusia di daerah padang pasir bisa dikatakan mati untuk sementara, karena ia sama sekali tidak bisa mengembangkan kehidupannya, ataupun berbulan-bulan tidak bisa mencari nafkahnya (lama waktu yang diperlukan, untuk melintasi padang pasir, dari suatu kota ke kota lain). Bahkan bisa membawa kematian pada keseluruhan anggota keluarganya, jika tidak cukup persediaan makanannya selama itu (jika ia hidup nomaden di daerah terpencil), seperti pada kehidupan umat di jaman Nabi, dengan amat banyak sukusuku (satu keluarga besar relatif sama dengan satu suku).

Orang-orang yang telah membunuh orang-lain secara sengaja (langsung ataupun tidak); pembunuhan massal (genocide); sadis atau tanpa berperi-kemanusiaan; dsb, termasuk orangorang yang memang telah pantas menerima hukuman mati (seperti: penganut kanibalisme, penjahat perang, psikopat dan pembunuh berantai, pengedar narkoba, dsb). Hak Asasi Manusia (HAM) justru semestinya tidak menolak suatu hukuman mati, dan tidak melindungi hak hidup seorang yang jelas-jelas justru telah menghilangkan hak hidup orang-

Pemotongan jari dan tangan bagi pencuri, adalah hukuman yang memang adil, dan sekaligus bertujuan untuk ‘membuat jera’ para pencuri, hanya menurut ukuran pada jaman Nabi. Namun dalam konteks jaman sekarang, pemotongan jari dan tangan amat tidak sesuai dan berlebihan, sedangkan hakekat hukum yang lain adalah ‘keadilan’. Nilai kehilangan ternak pada saat ini amat jauh ‘lebih kecil’ daripada besar pengaruh dari kehilangan jari dan tangan, sebagai alat utama untuk bisa mencari nafkah sehari-harinya selama hidup tiap manusianya


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

899

(terutama mencari nafkah bagi kehidupan keluarganya). Bentuk hukuman yang bisa menimbulkan efek jera, mestinya sesuai pula dengan nilai kehilangan dari barang yang dicuri (sesuai rasa keadilan), yang bisa berbeda pada tiap jamannya. Serupa pula bagi penerapan prinsip keadilan pada berbagai kejahatan lainnya.

Sekali lagi, Hukum Allah memang ‘harus’ dipakai oleh umat Islam, tetapi bukan pada teks dan bentuk hukumannya, tetapi justru pada hikmah dan hakekatnya (terutama ‘keadilan’ dan ‘efek jera’ di atas). Hukum rajam. Dalam Al-Qur’an tidak ada ayat yang menyebutkan anjuran atas hukuman rajam itu, justru yang ada hanya ayat-ayat yang mengisahkan tentang kaum terdahulu yang telah menerapkan hukuman rajam itu. Maka jika ada negara Islam yang menerapkannya, pasti hal itu berasal dari budaya masyarakat setempat, bukan berasal dari ajaran agama Islam. Minimal hal inipun hanya penafsiran atas penerapan hukum syariat bagi pelaku perzinahan, yang dianggap telah relatif sesuai bagi keadaan dan budaya umat pada jaman dahulu. Prinsip seperti inipun semestinya diketahui, jika ada budaya masyarakat Arab (tempat diturunkan-Nya Al-Qur’an), atau juga masyarakat negara Islam lain, yang tidak ada pengajaran dan tuntunan-Nya di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, agar tidak semestinya dianggap bagian dari ajaran agama Islam. Maka penerapan hukum bagi para pelaku perzinahan pada saat ini perlu disesuaikan dengan perkembangan jaman, dan terutama berdasar pada asas-asas hukum di atas, terutama hukuman yang ‘setimpal’ dengan efek kerusakan yang telah ditimbulkan (lahiriah ataupun batiniah), bagi para pelakunya sendiri maupun lingkungan sekitarnya (umat, keluarga, dsb).

b. Isu pengekangan terhadap wanita. ¾ Isu pengekangan terhadap wanita. Prinsip utamanya semestinya tidak ada sesuatu pemaksaan dalam beragama dan berkeyakinan, termasuk pula semestinya tidak ada

900

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

pemaksaan berbusana muslimah bagi wanita muslimah. Walau berbusana muslimah itu memang diajarkan dalam agama Islam. Juga semestinya tidak ada pemaksaan bagi wanita non-Muslim, walau mereka berada di dalam suatu negara Islam. Namun seperti yang berlaku pada masyarakat manapun di dunia, termasuk di negara-negara Islam, maka para wanita yang tidak berbusana muslimah semestinya tetap menghormati kehidupan masyarakat setempat, dengan berbusana yang relatif cukup wajar dan tidak provokatif. Jauh lebih bermanfaat, jika kepada para wanita muslimah itu sebelumnya diajarkan segala hikmah (nilai-nilai positif), di balik anjuran-Nya agar berbusana muslimah tersebut, agar mereka itu secara pribadi bisa makin menyakininya, dan mengamalkannya. Kewajiban seluruh nabi-Nya justru hanya sebatas memberikan ‘pengajaran’ bagi umatnya (tidak lebih dari itu, tanpa ‘paksaan’). Bahkan di negara-negara Arab, anjuran-Nya itu hanya kebetulan didukung pula oleh budaya masyarakatnya, karena lingkungan alamnya yang amat panas dan berdebu di siang hari, sebaliknya amat dingin di malam hari. Bahkan wanita di sana telah banyak berpakaian jilbab, justru sebelum datangnya agama Islam. Maka hal-hal itupun belum tentu murni berasal dari keyakinan, seperti yang diajarkan dalam agama Islam. Di lain pihak, tuduhan pengekangan itu juga amat tidak relevan, jika diarahkan bagi masyarakatnya yang memang telah memiliki kesadaran, untuk lebih serius melaksanakan ajaran-ajaran agamaNya. Anjuran pemakaian busana muslimah itupun bukan sesuatu bentuk pengekangan, tetapi justru untuk melindungi kehormatan para wanita itu sendiri. c. Isu poligami. ¾ Isu poligami. Isu ini juga hanya muncul, akibat kelemahan pemahaman umat Islam sendiri atas ajaran agamanya, yang biasanya amat berbeda daripada yang diajarkan oleh Nabi. Tujuan utama poligami pada jaman Nabi dahulu, adalah untuk bisa menjaga kehormatan para wanita yang telah kehilangan suaminya, telah kesulitan mencari pasangan hidup, dsb, yang semuanya bukan semata murni karena kebutuhan nafsu-keinginan pribadi si suami.


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

901

Juga semestinya berdasar asas ‘keadilan’ dalam menghadapi atau memperlakukan ke semua istrinya. Jika istri pertama tidak setuju (begitupun istri lainnya), maka asas keadilan itupun telah cacat, karena hati mereka telah terluka. Maka semestinya disertai pula adanya asas ‘keikhlasan’ dari para istri lama. Jika asas melindungi dan keadilan itu telah dianggap relatif bisa dilaksanakan, sedang keikhlasan itu belum tercapai, maka suatu kewajiban bagi si suami untuk bisa menyakinkan para istri lama, sampai timbulnya keikhlasan itu. Jika tetap tidak terpenuhi asas keikhlasan itu, maka tidak ada alasan untuk menikah lagi. Ketiga asas penting itupun justru sering dilupakan pada sebagian dari kalangan umat Islam (melindungi, keadilan dan keikhlasan), terutama pada kalangan umat Islam yang biasa terlalu berlebihan mengartikan "kepemimpinan para suami di dalam berkeluarga". Sehingga si suami terlalu dominan pada saat memutuskan segala sesuatu halnya. Padahal si suami juga mestinya memiliki segala kewajiban untuk dipenuhi (lahiriah dan batiniah), termasuk agar harus berbuat adil. Batasan dan wujud dari hak dan kewajiban itu, yang justru belum dipahami sepenuhnya oleh sebagian umat, khususnya umat yang awam, apalagi belum jelas dirumuskan oleh para alim-ulama. "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil, di antara istri-istri(mu), walaupun kamu amat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada istri yang paling kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan, dan memelihara diri (dari berlaku tidak adil), maka sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." - (QS.4:129) d. Isu pendirian negara Islam. ¾ Isu pendirian negara Islam, dengan sistem-struktur pemerintahan, negara dan hukumnya. Dari segi struktur pemerintahannya, maka sistem ‘republik’ yang umumnya dipakai di dunia modern ini, dengan ‘Trias-politika’nya (eksekutif, legislatif dan yudikatif). justru telah relatif sesuai dengan sistem pemerintahan kekhalifahan setelah jaman Nabi.

Perbedaan paling pentingnya justru hanyalah pada ‘isinya’, yaitu

902

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

bagaimana seluruh pelaksana Trias-politika melaksanakan tugastugasnya. ‘Isi’ inilah yang mesti diperjuangkan oleh umat Islam, dengan cara-cara yang Islami dan demokratis (tanpa pemaksaan), termasuk melindungi kaum minoritas non-Muslim, seperti yang juga dilakukan oleh nabi Muhammad saw pada jamannya dahulu. Dengan sendirinya juga amat perlu diperjuangkan pemimpin dan orang-orang yang dianggap mampu melaksanakan semua amanat kaum Muslim. Akhirnya semuanya itu bermuara pada segala aturan perundangundangan, dalam usaha mewujudkan kehidupan masyarakat yang Islami, yang memang diidam-idamkan. Munculnya isu pendirian negara Islam oleh sebagian kecil dari kalangan umat Islam, biasanya justru lebih terfokus pada bentuk lahiriah (struktur-sistem pemerintahannya), tetapi amat ironisnya, konsep sistem nilai yang mestinya dibawa justru telah dilupakan ataupun masih amat sangat meragukan. Padahal jika hanya langsung mengadopsi sistem hukum syariat dan sistem kenegaraan seperti di jaman Nabi, justru masih amat banyak kekurangan atau kelemahannya jika akan diterapkan di jaman sekarang, seperti diuraikan pada poin-poin di atas. Bahkan sistem perundang-undangan pada negara-negara modern yang memang cenderung bersifat materialistik dan sekuler, justru memerlukan puluhan ataupun ratusan tahun untuk menyusunnya, bahkan belum ada suatu kesepakatan bentuk terbaiknya. Apalagi pengembangannya yang mestinya mengandung nilai-nilai moral dari ajaran agama Islam, yang relatif sulit dirumuskan penerapan aktualnya (seperti, hanya ‘rasul’ yang menyampaikan syariat). Hal ini mudah dilihat dari amat alotnya proses pembuatan dan penerbitan RUU, seperti: pornoaksi dan pornografi, perkawinan, sistem pendidikan, peradilan agama, dsb. Padahal di jaman Nabi, justru kaum non-Muslim yang bahkan secara sukarela mau diterapkannya Hukum Islam bagi mereka. Hal paling penting yang menjadi tugas para alim-ulama dan para cendikiawan Muslim, adalah menyusun RUU yang Islami, maju dan cerdas, tentunya pula agar bisa menaungi dan diterima secara sukarela dan aklamasi oleh seluruh golongan dalam masyarakat. Hal ini bukan hanya sekedar memaksa perubahan struktur-sistem negara, tanpa ada struktur-sistem nilainya yang terencana amat


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

903

904

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

matang (dalam bentuk peraturan perundang-undangan). Contoh-contoh kasus RUU di atas amat jelas telah menunjukkan masih belum adanya kesiapan dari para pemuka agama Islam. Bahkan penerapan sistem kekhalifahan di jaman modern saat ini, justru masih amat meragukan, yang ditunjukkan melalui berbagai pertanyaan atau keraguan, seperti: Pada kekhalifahan negara: • Apakah mungkin bisa menyatukan seluruh aliran-golongan di dalam agama Islam melalui kepemimpinan Sang khalifah?. Padahal manusia justru cenderung selalu saling berselisih dan sebagian besar dari aliran itupun sering mengaku-aku ‘paling benar’, sedang aliran-aliran lainnya dianggapnya sesat. Padahal justru sama sekali tidak ada pemimpin yang mampu menyatukan umat dari berbagai aliran di jaman saat ini. Padahal kepemimpinan umat di negara Iran misalnya, hanya bisa terjadi karena aliran yang dianut oleh mayoritas umatnya memang relatif sama-seragam-homogen. • Bagaimana bisa menjamin dan menilai tingkat keimanan dan keshalehan Sang khalifah?. Padahal hanya hak Allah, Yang mengetahui keimanannya. Padahal hampir tidak ada lagi pribadi saat ini, yang sempurna keimanannya seperti halnya para nabi-Nya. Padahal hal ini akan bisa menimbulkan pengkultusan kepada diri pribadi Sang khalifah, jika ia terlalu dipaksakan dianggap sebagai orang yang 'paling beriman', bahkan akan menjadi beban yang amat besar bagi Sang khalifah itu sendiri. • Bagaimana cara menjamin proses regenerasi kepemimpinan yang berdasar agama atau keimanan ini?. Padahal proses pencapaian tingkat kenabian pada para nabiNya misalnya, memerlukan waktu puluhan tahun. Padahal tidak ada sekolah bagi keimanan. Padahal proses diutus-Nya para nabi-Nya, adalah proses yang amat alamiah atau mengikuti kehendak sejarah; tidak pernah kontinu atau sering terputus; tidak pernah melalui pewarisan dan penunjukan oleh manusia; dsb. • Bagaimana status bagi kaum minoritas non-Muslim di dalam sistem kekhalifahan ini?. Padahal "masyarakat kelas dua" pada era globalisasi saat ini

hampir tidak ada lagi, walaupun mereka memang ‘dijanjikan’ pasti akan bisa dilindungi. Serta hampir tidak ada suatu kelompok masyarakat yang mau tunduk kepada kelompok lainnya, tanpa paksaan. Apakah Sang khalifah sekaligus sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, ‘seperti’ di jaman Nabi?. Padahal negara modern saat ini telah begitu amat kompleks, sehingga suatu pemimpin umat dan pemimpin pemerintahan relatif mustahil bisa digabungkan. Padahal di negara Iran misalnya, pemimpin umatnya justru terpisah dari pemimpin pemerintahannya. Padahal nabi Muhammad saw sendiri adalah pemimpin umat dan pemerintahan sekaligus (jika ingin sesuai sunnah Nabi). Apakah usaha mendirikan sistem kekhalifahan, justru bukan usaha mengubah dari suatu keadaan semu, ke keadaan semu lainnya? (walaupun perubahan keadaan inipun memang bisa diperkirakan dan diidamkan akan 'relatif' makin baik). Padahal segala sesuatu hasil karya ciptaan manusia (termasuk sistem kekhalifahan itu), pada dasarnya pasti bersifat relatif, semu dan tidak ideal-sempurna (pasti ada memiliki berbagai kekurangan dan keterbatasan). Padahal tidak ada lagi umat manusia saat ini, yang memiliki pribadi dan pengetahuan yang bisa relatif sempurna, tentang berbagai kebenaran-Nya, seperti halnya para nabi-Nya, yang lebih pantas untuk memimpin sesuatu kekhalifahan. Apakah di dalam ajaran agama Islam, ada diajarkan cara-cara untuk bisa meraih kesempurnaan hidup di dunia? dan Apakah bukan untuk meraih kesempurnaan hidup di akhirat? Padahal 'tugas utama' tiap umat manusia justru bukan untuk berusaha bisa meraih atau menciptakan kesempurnaan hidup (termasuk bukan pula berusaha membentuk suatu masyarakat Islami yang relatif 'sempurna' melalui kekhalifahan). Tetapi justru agar tiap umat manusia bisa berusaha maksimal menghadapi segala 'ketidak-sempurnaan' hidup di dunia ini (sebagai bentuk ujian-Nya), dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh nabi Muhammad saw, untuk membangun kehidupan akhirat yang makin baik. Padahal dalam sistem pemerintah dan negara manapun umat berada, selama ia bisa menjalankan ajaran-ajaran agama-Nya


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

905

dengan relatif tanpa adanya sesuatu hambatan, halangan dan tanpa dizalimi, justru mestinya telah cukup baginya. Padahal segala hal lainnya, yang berupa usaha pembangunan kehidupan akhirat (kehidupan batiniah ruh), justru hanya bisa dilakukan oleh tiap umat itu sendiri, yang sama sekali tanpa ada campur-tangan dari segala sesuatu hal lainnya, termasuk pula Allah dan para nabi-Nya, apalagi Sang khalifah. Apakah sesuatu kekhalifahan ataupun negara Islam, adalah 'satu-satunya' solusi, dan hal yang ‘paling penting’ untuk bisa dicapai oleh umat Islam? Padahal segala hal pada kehidupan di dunia ini (termasuk kekhalifahan itu), hanya 'alat-sarana' untuk bisa membangun kehidupan yang sebenarnya (hakiki dan kekal), yang berupa kehidupan akhirat pada tiap umat manusia. Bukan hal yang penting atas keharusan adanya sesuatu alatsarana tertentu, karena jumlah alat-sarana untuk bisa dipakai dalam membangun kehidupan akhirat, memang amat sangat banyak macamnya. Namun hal yang paling penting justru pada 'cara-cara’ yang paling tepat dan benar, ketika memanfaatkan tiap alat-sarana itu sesuai dengan keadaan masing-masing umat. Apakah keimanan tiap umat adalah suatu hal yang bisa diatur dan diorganisasikan melalui sistem kekhalifahan? Padahal keimanan hanya urusan pribadi tiap umat, sedangkan seluruh umat lainnya semata-mata hanyalah bisa memberinya pengajaran dan mengingatkannya, bahkan sama sekali bukan mengatur-aturnya, apalagi dengan memaksa-maksanya. Padahal umat-umat yang suka mengatur-atur itu, pasti tidak bisa mengatur-atur, dan juga tidak bisa mengetahui tingkat keimanannya sendiri di mata Allah, Yang Maha Mengetahui. Padahal nabi Muhammad saw juga tidak bisa mengatur-atur keimanan pamannya sendiri, yang berbuat kekafiran. Padahal justru sama sekali bukan kewajiban bagi tiap umat, untuk mengurusi keimanan umat lainnya, serta segala halnya pasti kembali tergantung kepada amal-perbuatannya masingmasing dan kepada amanatnya yang diberikan-Nya. Apakah telah bisa dimiliki gambaran lengkap, tentang segala aspek kehidupan seluruh umat manusia di dunia, berikut tiap solusi persoalannya, terutama sejak saat kekhalifahan telah

906

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

terbentuk sampai akhir jaman? Padahal secara 'tekstual-harfiah', ajaran-ajaran agama Islam (terutama Al-Qur'an dan sunnah Nabi), pada dasarnya hanya lengkap dan sesuai bagi umat-umat pada jaman Nabi. Walau secara ‘hikmah dan hakekatnya’, ajaran-ajarannya memang bersifat universal, dan pasti sesuai bagi seluruh umat manusia sampai akhir jaman. Padahal Majelis alim-ulama saat ini belum bisa memadai dan tuntas mengungkap seluruh al-Hikmah di dalam ajaran-ajaran agama-Nya. Juga sekaligus belum cukup melahirkan ijtihadijtihad, agar makin memperbaiki dan menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan umat pada jaman sekarang ini. Pada kekhalifahan global: • Jika berupa kekhalifahan global, apakah semua negara Islam telah siap menerimanya?. Padahal pada level negara saja, masing-masingnya pasti ada memiliki segala permasalahannya sendiri, dan bahkan hampir semua negara Islam justru masih berupa negara berkembang. • Sang khalifah dipilih dari negara mana?. Bagaimana proses penggiliran kepemimpinannya, agar bisa diterima oleh semua negara Islam?. Padahal relatif amat sulit dijamin kesamaan kualitas khalifah dari semua negara Islam itu. • Pembentukan kekhalifahan global sama halnya dengan usaha membangun suatu kekuatan ‘adi-daya baru’, yang akan bisa berpengaruh global amatlah besar, apakah ada sesuatu negara Islam yang memiliki kemampuan sumber daya seperti itu?. Padahal kemampuan teknologi di kalangan umat Islam, justru masih relatif amat terbatas untuk bisa mengelolanya. • Apakah tiap negara Islam rela, jika sebagian sumber dayanya dipakai secara bersama-sama, untuk menolong negara-negara Islam lain yang berkekurangan?. Padahal pengaturan sumber-daya itu dalam tiap negara saja, justru telah relatif amat sulit. • Apakah kekuatan adi-daya yang ada, mau merelakan hal ini terjadi, atas berbagai kemungkinan kerugian yang akan bisa dihadapinya, apalagi jika memang ada persaingan?. Padahal amatlah tampak kentara persaingan global dalam hal


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

907

ideologi, ekonomi, politik dan kekuasaan, dsb. Selama ini, semua pertanyaan dan keraguan di atas justru relatif belum bisa terjawab secara memadai oleh para penggagas negara Islam, ataupun belum diketahui oleh umat Islam secara umum. Sehingga isu pendirian negara Islam seolah-olah hanya dipakai oleh sebagian kecil dari politikus Muslim, untuk bisa memenuhi berbagai kepentingan kelompoknya semata. e. Isu jihad dan terorisme. ¾ Isu jihad dan terorisme. Jihad adalah segala usaha untuk mewujudkan atau menegakkan kebenaran-Nya. Maka pengertian jihad juga amat luas, termasuk misalnya orang yang rajin menuntut ilmu bagi masa-depannya; seorang suami yang berjuang mencari nafkah bagi anak-istrinya; dsb. Mereka ini justru juga sedang berjihad, bukan hanya orang yang membela agama-Nya di medan perang.

Bahkan hal yang paling penting, justru berjihad melawan segala macam hawa nafsu (sebagai ‘jihad yang terbesar’). Karena jihad inilah yang justru pasti dihadapi oleh tiap manusia tiap saatnya sepanjang hidupnya di dunia, karena hawa nafsunya tiap saatnya pasti selalu dipakai oleh iblis dan syaitan, untuk menggodanya, sebagai suatu bentuk ujian-Nya secara batiniah. Bahkan segala bentuk ujian-Nya secara lahiriah, pada puncaknya pasti akan bermuara kepada segala persoalan batiniah, pada tiap manusia yang mengalaminya. Demikian pula penyelesaian segala bentuk persoalan manusia (lahiriah dan batiniah), pasti bermuara kepada pembentukan berbagai sikap batiniah tertentu, yang juga sering disebut sebagai pembentukan segala akhlak terpuji. Sedang hasil dari perang jihad, hanya untuk bisa menyelesaikan persoalan tertentu umat, pada sesuatu saat tertentu pula. Bahkan perang jihad yang banyak berkembang di jaman sekarang, justru hanya terkait persoalan pada ‘sebagian kecil’ kalangan umat saja. Pada saat ini telah tidak ada perang frontal dengan alasan agama (yang bisa menimbulkan perang dunia, seperti pada perang salib dahulu), ataupun tidak ada sesuatu kezaliman (penganiayaan dan pemusnahan) berdasar keyakinan umat beragama tertentu, secara ‘terang-terangan’. Walaupun terkadang ada penindasan dan genocide (pembunuhan

908

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

massal) terhadap umat suatu agama tertentu, tetapi dengan alasan yang lebih umum (kekuasaan, wilayah, kesukuan, sejarah, dsb), seperti di Palestina, Bosnia, Afganistan, Moro, Thailand, dsb. Namun ironisnya, ada perkembangan konsep perang jihad yang telah keluar dari konteks kezaliman itu sendiri (penganiayaan, penindasan, pemusnahan, dsb). Hal inilah yang telah muncul dari sebagian amat kecil dari kalangan umat Islam, yang amat fanatik. Lebih ironisnya lagi, sebagian besar kalangan umat Islam lainnya justru menentang cara-cara kekerasan, dan tindakan ‘terorisme’ yang mereka lakukan. Mereka yang menyebut dirinya ‘pejuang jihad’ itu juga memakai kekerasan, atas ancaman-ancaman yang berbentuk budaya atau sistem nilai, yang justru amat sulit bisa diterima oleh akal-sehat. Amat ironis jika sesuatu perang budaya atau sistem nilai, harus dihadapi dengan senjata dan bom misalnya. Walau hal itu muncul pada umumnya sebagai ekses dari adanya berbagai bentuk kezaliman, yang misalnya telah ataupun sedang dilakukan oleh negara-negara barat, kepada kaum Muslimin di berbagai belahan dunia. Dan kepada para pejuang jihad itu perlu ditanyakan, misalnya: • Apakah yang pernah diajarkan oleh nabi Muhammad saw di dalam mengatasi suatu "perang budaya"?. Padahal sama sekali bukan tugas dan kewajiban atas seorang nabi-Nya sekalipun, untuk meluruskan seluruh umat manusia dan seluruh sistem nilai di muka Bumi ini. Padahal Nabi juga tidak berkewajiban meluruskan pamannya (seorang musyrik), kecuali sebatas menyampaikan pengajaran dan tuntunan-Nya. Tiap proses berusaha ‘menyampaikan’ pengajaran-Nya jauh lebih penting daripada tiap bentuk ‘hasil’ pengamalan atas pengajaran-Nya, karena tiap umat manusia pasti hanya akan bertanggung-jawab atas amal-perbuatannya sendiri (bukanlah amal-perbuatan dan beban dosa orang lainnya). • Apakah ukurannya sehingga mereka itu beranggapan, bahwa budaya dan sistem nilai tertentu ‘pasti’ bisa mengancam dan menghilangkan keyakinan umat atas ajaran agamanya?. Padahal tiap manusia pasti memiliki kebebasan sepenuhnya, untuk bisa menolak dan menghindari budaya dan sistem nilai yang tidak dikehendakinya, atau tidak sesuai dengan ajaran


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

909

agama-Nya, bahkan termasuk pada saat sama-sekali tidak ada ulama dan umat lainnya yang ikut membantunya. Padahal pasti selalu ada iblis dan syaitan, yang memang telah mendapat ijin-Nya, untuk menguji keyakinan atau keimanan tiap umat manusia tiap saatnya. Apakah mereka sendiri telah melakukan tugasnya, agar bisa memperkuat keyakinan umat atau minimal dalam lingkungan keluarganya sendiri, atas ancaman intervensi budaya itu?. Padahal lebih penting bagi mereka itu untuk berdakwah, agar bisa meningkatkan keyakinan atau keimanan umat, di dalam menghadapi suatu budaya dan sistem nilai yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, daripada berusaha menghapus budaya dan sistem nilai terkait, yang mustahil bisa dilakukan. Sama halnya dengan kemustahilan usaha melenyapkan iblis dan syaitan, agar seluruh manusia bisa beriman. Apakah ‘perang jihad mereka’ itu bukan justru bisa merusak keyakinan umat Islam, karena agama Islam tidak seperti yang diyakininya selama ini (tidak mengajarkan kekerasan)?. Padahal agama Islam adalah rahmat-Nya bagi seluruh alam semesta dan sama sekali bukan untuk menebarkan kebencian, perselisihan dan kekerasan, sebaliknya justru bertujuan untuk menebarkan ketentraman dan kedamaian di muka Bumi. Apakah hasil ‘perang jihad mereka’ itu bukan bisa membuat agama dan umat Islam di seluruh dunia, akan bisa menerima akibat buruknya (mendapat cercaan, dimusuhi, dsb)?. Apakah hal itupun bukan bisa membuat para alim-ulama dan para cendikiawan Muslim di seluruh dunia, tidak bisa tidur nyenyak, untuk meluruskan segala pandangan buruk terhadap agama Islam?. Padahal berhasil ataupun tidak ‘perang jihad mereka’ itu bisa mencapai tujuannya, agama dan seluruh umat Islam lainnya pasti menghadapi segala ekses buruk dari perbuatan mereka, yang tidak dilakukan semestinya atau sebenar-benarnya, akan tetapi hanya berdasar pemahaman subyektif mereka sendiri. Padahal pengaruh yang amat luas dari sesuatu ‘perang jihad’ itulah (menyangkut seluruh umat Islam), yang menyebabkan ‘pernyataan’ perang jihad mestinya dikeluarkan oleh otoritas negara dan umat (kepala negara dan majelis ulama). Bukan hanya sekedar ‘pernyataan’ perang jihad dari beberapa alim-

910

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

ulama pada sebagian kecil kalangan umat Islam. Apakah hasil dari perang jihad mereka (misalnya jumlah jiwa musuh yang terbunuh) bisa sebanding dengan kerugian yang dihadapi oleh seluruh umat Islam?. Bagaimana para pejuang jihad itu bisa menghitung untungrugi, bagi dirinya sendiri dan bagi seluruh umat Islam?. Padahal hanyalah hak Allah Yang Maha Mengetahui dengan pasti untung-ruginya bagi tiap manusianya, bahkan para nabiNya sekalipun tidak bisa mengetahuinya pula, kecuali hanya sekedar gambaran umum atau garis besarnya saja dari nilai keutamaan mengikuti perang jihad. Jika misalnya ada korban bom di pihak umat Islam sendiri (meninggal ataupun cacat), apakah tidak akan membuat para korban dan keluarganya justru bisa menjadi murtad, ataupun keyakinan beragamanya menjadi makin rusak?. Apakah mereka bisa menjawab, kenapa mereka menganggap dirinya mujahid dan pasti akan masuk Surga, sementara itu, merekapun meninggalkan sejumlah besar kemudharatan baru bagi umat Islam dan umat manusia lainnya?. Apakah tanggung-jawab mereka atas hal ini, serta darimana mereka mendapat hak untuk mengatur nasib orang lainnya?. Padahal tiap amal-ibadah yang pada dasarnya bertujuan sucimulia (termasuk pula berjihad), mestinya mustahil berbentuk berupa kezaliman (langsung ataupun tidak), apalagi jika para korbannya justru termasuk umat Islam sendiri, ataupun umat yang tidak berdosa dan tidak tahu-menahu sama sekali. Amat sombong, naif dan kekanakan, apabila hal ini misalnya disebutkan sebagai “hanya ekses saja dari suatu perjuangan”. Justru tidak pernah ada suatu kemuliaanpun yang bisa dicapai dengan menzalimi atau menganiaya manusia lainnya, tanpa dasar alasan yang amat kuat dan jelas. Apakah musuh tidak akan berbuat hal yang sama (membalas tindakan kekerasan mereka, secara terselubung atau terangterangan), kepada kalangan umat Islam di seluruh dunia?. Padahal akibat tindakan kekerasan mereka yang tanpa dasar alasan kuat dan cara yang benar, justru musuh-musuh umat Islam makin mendapatkan alasan pembenaran secara mudah, untuk bisa makin menzalimi dan menganiaya umat Islam.


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

911

Apakah mereka ingin menciptakan suatu perang agama lagi, secara frontal dan luas, seperti halnya yang terjadi di jaman perang salib?. Padahal telah tidak ada lagi perang terbuka dan global antar agama. Bahkan lebih parah lagi, pada sebagian ‘perang jihad’ justru saling berhadapan tidak langsung, antar sebagian kaum Muslim dan sebagian kaum Muslim lainnya. Misalnya bisa terjadi antara kaum pendukung fanatik bagi pendirian negara Islam, dan kaum yang tidak fanatik (kaum moderat). Bahkan paling ironisnya, walaupun tidak dinyatakan secara terang-terangan dan cenderung ditutupi dengan segala dalihalasan (seperti misalnya untuk melawan: musuh umat Islam, thaghut, dsb), sebagian kalangan umat tertentu dalam perang jihadnya, pada dasarnya justru menghalalkan korban ataupun darah dari kalangan umat Islam lainnya, yang memang justru amat diharamkan dalam ajaran agama Islam. Apakah mereka tidak tahu, bahwa musuh dalam perang jihad pada jaman Nabi, justru amat jelas sosoknya, langsung saling berhadapan, dan juga memang ingin menghapus agama Islam ataupun membunuh seluruh kaum Muslim?. Padahal pada jaman Nabi, perang jihad selalu terjadi dalam peperangan terbuka, dan sama sekali tidak ada penganiayaan dan pembunuhan oleh kaum Muslim atas kaum non-Muslim ataupun musuh Islam, yang memaang tidak ‘terkait langsung’ dengan peperangan tersebut. Apalagi jika korbannya orangorang yang tidak berdosa, tidak disengaja atau tidak secara langsung sekalipun. Padahal dalam sejarah, tiap perang jihad pasti selalu disertai oleh perang jihad yang terbuka berikutnya. Misalnya ketika kaum Muslim telah mengalami kekalahan sebelumnya, dan lalu telah berhasil menyusun kembali kekuatannya, ataupun saat diserang oleh musuh. Serta tidak ada perang jihad, tanpa adanya pernyataan perang terbuka, tidak saling berhadapan langsung, ataupun tidak dalam keadaan-situasi perang. Bagaimana mereka bisa amat yakin menghitung, bahwa nilai keutamaan perang jihad mereka itu persis sama dengan yang telah diterima oleh Nabi dan para pengikutnya, dalam perang jihadnya pada awal kelahiran agama Islam?. Padahal dalam perang jihad pada jaman Nabi, kelangsungan

912

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

ajaran agama Islam justru benar-benar sedang dipertaruhkan, bukan hanya sekedar nasib dan kehidupan sebagian dari umat Islam saja yang telah dizalimi. Padahal keadaan pada jaman sekarang, kelangsungan ajaran ‘agama’ Islam relatif tidak terancam sama sekali oleh musuhmusuh Islam. Juga hanya menyangkut nasib dan kehidupan sebagian kecil kalangan umat saja. Solidaritas kaum Muslim memang sesuatu keharusan, namun semestinya benar-benar dipahami konteksnya secara amat obyektif dan proporsional. Bagaimana mereka bisa amat yakin menghitung pula, bahwa perang budaya adalah perang jihad, mereka sebenar-benarnya seorang Mujahid dan termasuk orang yang amat beriman?. Padahal ada orang-orang yang sama sekali tidak mendapat apa-apa, ketika mengikuti perang jihad yang “tidak dilakukan dengan sebenar-benarnya”. Persis seperti penilaian atas suatu bentuk amal-ibadah tertentu, yang nilai amalannya bagi umat pelakunya justru bisa amat berbeda-beda (tidak pasti merata). Padahal hanyalah hak Allah semata Yang Maha Mengetahui nilai amalan dan keimanan tiap manusia. Apakah mereka juga telah berhasil berperang melawan dan menenangkan hawa nafsunya sendiri, yang justru hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang Mukhlis, yang penuh dengan sifat keikhlasannya?. Padahal perang inilah perang yang sesungguhnya, yang pasti dihadapi oleh tiap manusia tiap saatnya sepanjang hidupnya, sebagai suatu bentuk ujian-Nya yang paling mendasar (secara batiniah), untuk menguji keimanan tiap umat manusia. Apakah adanya ketidak-adilan dan hegemoni negara-negara barat, atas sejumlah negara yang warganya beragama Islam, benar-benar suatu alasan yang cukup untuk berperang jihad?. Padahal perang jihad adalah perang atas nama agama, yang amat berbeda dengan berbagai jenis perang lainnya (politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam, dsb). Padahal ada pula pemimpin negara Islam yang berlaku zalim kepada warganya sendiri. Begitu pula adanya banyak ragam faksi perjuangan kaum Muslimin, dengan berbagai motivasi perjuangannya masing-masing yang berbeda-beda. Apakah dalam sejarah di jaman Nabi, ada perang jihad yang


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

913

menggunakan cara-cara teror, ‘pemboman’ bunuh diri, tanpa ataupun dengan sengaja membunuh umat Islam sendiri, dsb?. Padahal dalam perang jihad di jaman Nabi, justru sama sekali tidak menggunakan cara-cara seperti itu. Apakah mereka telah mengkaji dan bisa memahami dengan sebenar-benarnya, atas berbagai risalah tentang jihad?. Dan apakah mereka telah memiliki pemahaman sempurna, serupa halnya yang dimiliki oleh para nabi-Nya?. Padahal mereka biasanya belum bisa menjawab secara tuntas dan memuaskan, atas segala sesuatu hal yang terkait dengan perang jihadnya. Dan juga biasanya hanya berupa semangat dan keyakinan pribadi, yang justru amat subyektif dan penuh asumsi-perkiraan, ataupun sama sekali belum memiliki dalilalasan yang lengkap dan menyakinkan. Serta mereka biasanya hanya sekedar memahami Al-Qur’an dan Hadits Nabi, secara tekstual harfiah, tanpa memahami makna yang sebenarnya ‘di balik’ teks-teksnya (al-Hikmah), secara relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan. Apakah mereka memang benar-benar telah ikut membantu atau menolong perjuangan umat-umat Islam lainnya, yang sedang menjadi korban ‘langsung’ suatu kezaliman?. Korban Beriman Tidak beriman Wafat Atas ijin-Nya, para korban justru Atas ijin-Nya, para korban bi-

Hidup

bisa masuk Neraka, jika ia lebih banyak nilai segala amal-keburukannya, sebaliknya masih bisa masuk Surga. Relatif tidak perlu dibantu lagi oleh umat negara lainnya. Bertambah amat berat beban ujian-Nya bagi para korban. Relatif kurang perlu dibantu oleh umat negara lainnya, jika para korban relatif bisa atasi ujian-Nya. Juga karena tiap nilai amal-kebaikan mereka, bahkan pasti dilipat-gandakan-Nya, selama ujian-Nya itu. Sebaliknya amat perlu dibantu, jika para korban relatif kurang bisa atasi ujian-Nya, yang bisa meng-

sa masuk Neraka.

Relatif tidak perlu dibantu lagi oleh umat negara lainnya. Bertambah amat berat beban ujian-Nya bagi para korban. Bantuan bagi para korban lebih bersifat kemanusiaan dan diharapkan hal ini bisa membawa mereka kembali ke jalan-Nya yang lurus (bisa menganut agama Islam), ataupun untuk bisa meningkatkan keimanan mereka kepada Allah.

914

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

ancam nyawa dan juga keimanan mereka kepada Allah.

Padahal jihad bertujuan menegakkan kebenaran-Nya. Padahal dari tabel di atas, justru hal yang paling utama yang bisa dilakukan oleh ‘para pejuang jihad’, ketika tidak terjun langsung ke medan perang, pada dasarnya hanyalah berusaha ikut meringankan beban penderitaan para korban kezaliman yang masih hidup, agar bisa tetap beriman kepada Allah. Sedang segala usaha dari pihak lainnya di atas, yang berada di luar medan perang, relatif amat serupa dengan perjuangan dari para sukarelawan pada bencana alam tsunami di Aceh, gempa Bumi di Padang, dsb, dalam ikut meringankan beban ujian-Nya bagi para korban. Bukan justru berusaha membuka medan perang baru (lebih tepatnya membuat teror-teror balasan di luar wilayah medan perang yang sebenarnya), yang diragukan bisa efektif untuk ikut mengurangi dan menghilangkan kezaliman itu sendiri. Apakah jihad adalah sesuatu amalan ‘pamungkas’? ataupun apakah ‘mujahid’ adalah gelar seumur hidup?. Padahal nilai tiap umat manusia di hadapan Allah, pasti tetap hanya tergantung kepada jumlah ‘seluruh’ nilai amalannya sepanjang hidupnya di dunia. Padahal berjihad hanya sesuatu amalan, yang bernilai amalan amat tinggi. Atas ijin-Nya, tiap mujahid memang bisa masuk Surga, hanya jika ‘seluruh’ nilai amal-keburukannya justru memang lebih sedikit daripada ‘seluruh’ amal-kebaikannya. Hal inipun hanya hak Allah Yang Maha mengetahuinya.

Tidak ada suatu alasan yang bisa dibenarkan, untuk menghadapi perang budaya dengan kekerasan, serta masih amat banyak cara lainnya yang jauh lebih baik untuk mengatasinya. Perang budaya (kezaliman secara batiniah) relatif amat ringan bebannya ataupun relatif amat mudah untuk bisa dihindari dan ditolak. Walau tentunya perang jihad seperti: di Palestina, Bosnia, Moro, Afganistan, dsb, masih bisa dimaklumi. Namun hal inipun bukan sesuatu alasan untuk melebarkan peperangan ke daerah lainnya, yang relatif ‘tidak ada kaitannya’ sama sekali. Suatu kezaliman juga tidak bisa dilawan dengan kezaliman baru. Kezaliman itu mestinya langsung dibalas, saat sedang dilakukan oleh musuh kaum Muslim atau saat kaum Muslim telah memiliki


Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

915

kemampuan untuk membalasnya (jelas pula sosok wujud musuh dan memang saling berhadapan). Padahal ketika Nabi telah menang perang melawan kaum kafir Quraisy dan menguasai kembali kota Mekah, Nabi justru datang membawa ketentraman bagi masyarakat kota Mekah, yang saat sebelumnya telah menjadi musuh ataupun cuma pendukungnya. Hampir seluruh umat Islam sama-sekali tidak ada yang menolak berjihad. Namun persoalannya, suatu pemahaman atas jihad yang ‘sebenar-benarnya’ justru perlu diketahui betul sebelumnya. "Dan berjihadlah kamu di jalan-Nya, dengan jihad yang sebenarbenarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidaklah menjadikan untuk kamu dalam (ber)agama, sesuatu kesempitan, (yaitu) agama orang tuamu (nenek-moyangmu) Ibrahim. …." (QS.22:78) "Dan sesungguhnya, Kami benar-benar akan menguji kamu, agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad, dan bersabar di antara kamu. Dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." - (QS.47:31) "Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan (dengan) pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah Yang lebih mengetahui, tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah Yang lebih mengetahui, siapa orang-orang yang mendapat petunjuk." - (QS.16:125) Kembali kepada hikmah dan hakekat ajaran agama-Nya Akhirnya, segala persoalan di kalangan umat Islam hanya bisa diatasi oleh umat Islam sendiri (khususnya oleh para alim-ulama, para pemuka agama dan para cendikiawan Muslim), dengan terus-menerus dan seluas-luasnya berusaha mengungkap segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah), pada kandungan isi ajaran-ajaran agama Islam, khususnya kitab suci Al-Qur’an dan Hadits (Sunnah Nabi). Selain itu, ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis (atau tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini), memang mustahil bisa tuntas diungkapkan sampai akhir jaman. Serta baru sebagian amat sedikit dari ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis yang berhasil diungkapkan oleh Nabi (melalui perantaraan malaikat Jibril), terutama atas hal-hal yang paling mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia (hal-

916

Pemahaman atas Agama dan Kitab-Nya di Jaman Modern

hal gaib dan batiniah), yang telah disampaikannya melalui Al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Sehingga pengungkapan segala al-Hikmah menjadi kewajiban tanpa akhir bagi umat Islam sampai akhir jaman nantinya. Sebagian dari ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis yang belum bisa terungkap pada jaman Nabi, misalnya segala bidang ilmu-pengetahuan lahiriah yang telah dikenal umat manusia pada saat ini. Dan tentunya, juga segala bidang ilmu-pengetahuan yang belumlah dikenal nantinya. Ilmu-pengetahuan yang dimaksudkan adalah ilmu-pengetahuan yang diungkapkan secara amat obyektif oleh manusia, sesuai dengan faktakenyataan-kebenaran di alam semesta, yang bersifat mutlak dan kekal. Lalu berdasar segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (alHikmah) yang bersifat ‘universal’, pada tiap perkembangan jamannya bisa disusun berbagai ijtihad oleh Majelis alim-ulama, sesuai dengan keadaan, kebutuhan, tantangan, dan persoalan kehidupan umat Islam khususnya dan seluruh umat manusia pada umumnya, bagi penerapan aplikatif-praktis dan aktual atas ajaran-ajaran agama-Nya. Lihat pula pada Gambar 40 di atas. Hal yang lebih penting lagi, agar segala aspek batiniah yang relatif amat sulit dipahami umat Islam umumnya, yang penafsirannya masih amat luas, memiliki pengaruh amat penting, serta menyangkut hajat sebagian besar umat, agar bisa ditafsirkan ke dalam fatwa, aturan perundang-undangan ataupun bahkan ke dalam peradilan agama, agar penerapannya bisa lebih jelas, baku dan seragam, namun juga harus tetap dilakukan secara amat arif dan bijaksana. Seperti halnya hakekat dari diturunkan-Nya agama Islam, sebagai agama-Nya yang lurus dan terakhir, dan sebagai suatu rahmat-Nya bagi seluruh alam semesta. Seperti misalnya, belum ada pemahaman yang jelas, baku dan seragam di kalangan umat, tentang jihad, penerapan hukum-syariat, negara Islam dan masih banyak lagi lainnya. Walau justru bukan pada keseragaman itu sendiri yang mesti dikejar (sebagai sesuatu kekayaan rahmat-Nya, atas segala pemahaman umat yang berbeda-beda). Tetapi minimal, diharapkan agar seluruh kalangan umat Islam, makin lama juga makin banyak memiliki konsensus-kesepakatan bersama, dengan berbagai dalil-alasan yang makin jelas yang telah berhasil diungkap, tentang tiap aspek tertentu dalam sesuatu halnya. Sehingga kehidupan beragama umat tidak berjalan di tempat atau dibiarkan terus-menerus mengambang tidak jelas (hanya diserahkan kepada pemahaman umat), terutama atas hal-hal yang amat penting dan berpengaruh besar.


PENUTUP

919

"Kami berfirman: `Turunlah kamu (Adam) dari surga itu!. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak perlu ada kekuatiran atas mereka, dan tidak perlu (pula) mereka bersedih-hati`." (QS. AL-BAQARAH:2:38) "(Tidak demikian), dan bahkan barangsiapa yang berserah diri kepada (kehendak) Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya (ada) pahala dari sisi Rabb-nya. Dan tidak perlu ada kekuatiran terhadap mereka, dan tidak perlu (pula) mereka bersedih-hati." (QS. AL-BAQARAH:2:112) "Sesungguhnya, orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala dari sisi Rabb-nya. Tidak perlu ada kekuatiran terhadap mereka dan tidak perlu (pula) mereka bersedih-hati." (QS. AL-BAQARAH:2:277)

VIII.

PENUTUP

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha suci Allah Yang memiliki segala kemuliaan dan keagungan, Yang juga memiliki dan menciptakan segala sesuatu hal di seluruh alam semesta ini. Ya Allah, aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak untuk disembah selain Engkau, dan nabi Muhammad saw adalah utusan-Mu. Berkat segala petunjuk dan karunia-Mu, penulisan buku inipun terselesaikan. Segala puji bagi Allah, Yang dengan segala limpahan hikmah dan hidayah-Nya, maka amal-shaleh ini bisa pula dilakukan dengan cukup sempurna. Sedang kami hamba-Mu telah bisa ikut-serta menegaskan kembali berbagai risalah-Mu dalam kitab suci Al-Qur’an, yang telah Engkau sampaikan melalui hamba-Mu nabi Muhammad saw, sekaligus melalui perantaraan hamba-Mu yang amat mulia, Jibril. Hanya Engkau pemilik segala kebenaran sedangkan hanya aku pemilik segala kekeliruan dan kesalahan pada buku ini. Karena itu aku memohon segala ampunan dan taubat kepada-Mu. Hanya kepada-Mu kami hamba-Mu pasti kembali dan semestinya berserah-diri.

920

PENUTUP

Berbagai pemahaman praktis bagi kehidupan umat Dari sejumlah pemahaman yang telah diperoleh pada buku ini, ada berbagai pemahaman yang bersifat ‘praktis’ bagi tiap umat Islam, di dalam menjalani kehidupannya sehari-hari di dunia fana ini, seperti yang diungkapkan sebagai berikut:

Berbagai pemahaman praktis bagi kehidupan umat a. Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala bentuk kehendak-Nya bagi seluruh alam semesta (bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’), yang pasti mustahil bisa ditolaknya, yang meringankan (rahmat-Nya) ataupun memberatkan (ujian-Nya), secara lahiriah dan batiniah. Segala ujian-Nya sama-sekali tidaklah akan mengurangi ataupun menghalangi kesempatan bagi tiap manusia untuk bisa mendapat tempat tinggal di Surga, namun sebaliknya, segala rahmat-Nya sama-sekali tidaklah akan memudahkannya. Segala kesulitan (ujian-Nya) ataupun segala kemudahan (rahmatNya) itu pada dasarnya sarana dari Allah, agar tiap manusia bisa terus-menerus memperoleh bahan pelajaran yang berlimpah-ruah untuk makin memahami berbagai kehendak-Nya di alam semesta dan makin memperbaiki kehidupannya sesuai kehendak-Nya itu. Tentunya berbagai pemahaman itu telah amat dipermudah pula melalui rahmat-Nya yang lainnya, berupa segala pengajaran dan tuntunan-Nya yang telah disampaikan oleh para nabi-Nya (atau berupa ajaran-ajaran agama-Nya yang lurus). Justru hal terpentingnya adalah ‘proses berusaha’ tiap manusia dalam usaha membangun kehidupan akhiratnya selama di dunia ini (kehidupan batiniah ruhnya, secara sadar ataupun tidak), yang sesuai keredhaan-Nya. Dan kehidupan akhirat inilah yang akan disempurnakan-Nya dan bersifat kekal di Hari Kiamat. Segala perintah ataupun larangan yang diajarkan di dalam ajaranajaran agama-Nya, pada dasarnya bertujuan untuk membangun kehidupan akhirat yang lebih diredhai-Nya tersebut. Dengan sarana akal-pengetahuan dan nafsu-keinginannya, justru tiap manusianya memiliki kebebasan dan kekuasaan sepenuhnya, untuk bisa mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri. Terutama dengan membangun sikap-sikap sabar, ikhlas, tawakal dan syukur yang makin tinggi, agar makin mampu pula memikul


PENUTUP

921

tiap bentuk beban ujian-Nya. b. Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala sesuatu yang ‘bukan’ berasal dari segala hasil pengaruh (secara langsung ataupun tidak), dari segala usaha atau amal-perbuatannya sendiri, walaupun berbagai hal itu memang terasa memberatkan (sebagai sesuatu bentuk ujian-Nya). Tiap manusia sama-sekali tidak akan dianiaya-Nya ataupun tidak akan menanggung segala beban dosa dari orang-lainnya. Serta ia hanya bertanggung-jawab atas tiap amal-perbuatannya sendiri. Allah juga pastilah akan memperhitungkan tingkat keterpaksaan, beban tanggung-jawab dan tingkat kesadarannya dalam berbuat. c. Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala bentuk dan keadaan fisik-lahiriahnya. Segala hal yang bersifat fisik-lahiriah pada kehidupan dunia fana ini hanya sesuatu bentuk ujian-Nya bagi tiap manusia, agar bisa diketahui-Nya keimanannya. Ujian-Nya justru juga demi tercapai keselamatan dan kemuliaannya sendiri yang makin tinggi (bukan demi kepentingan Allah), jika sebaik-baiknya bisa diatasinya. Manusia pada dasarnya hanya dinilai atas kehidupan akhiratnya (kehidupan batiniah ruhnya), dari hasil segala amal-perbuatannya sendiri, bukan dinilai atas segala keadaan kehidupan lahiriahnya. d. Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala bentuk ‘hasil’ usahanya (lahiriah dan batiniah). Demikian pula, manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala keadaan dan kemampuannya (lahiriah ataupun batiniah), ketika berbuat amal-kebaikan. Hal yang paling pentingnya adalah ‘proses’ berusahanya dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan segala tuntunan ajaran agama-Nya (khususnya sesuai dengan hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), dan sesuai pula dengan keadaan dan kemampuan tiap umat. Di mana ‘proses’ berusaha itupun lebih bersifat batiniah (tidak tampak kentara atau gaib), berikut aspek-aspek beban ujian-Nya, niat, tingkat kesadaran dan keterpaksaan di dalamnya, yang pada dasarnya semuanya juga ukuran-ukuran batiniah. Suatu nilai amalan yang diberikan-Nya atas tiap amal-perbuatan manusia justru bersifat absolut, dan ditentukan-Nya berdasarkan kepada proses berusahanya, bukanlah berdasarkan kepada hasil

922

PENUTUP

usaha, keadaan ataupun kemampuannya. Allah Yang Maha mengetahui bentuk balasan-Nya (nikmat atau hukuman-Nya, lahiriah dan batiniah), yang paling baik dan amat setimpal dengan tiap amal-perbuatan manusia. e. Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala bentuk amal-kebaikannya yang sekecil atau sesederhana apapun (sebesar biji zarrah sekalipun). Tiap amal-kebaikan pasti dinilai-Nya, serta juga pasti diberikan balasan pahala-Nya yang dilipat-gandakan-Nya. Dan bahkan tiap amal-perbuatan memiliki sesuatu nilai amalan absolut, yang akan bisa memiliki pengaruh bagi seluruh alam semesta ini, ataupun memiliki pengaruh selama ribuan tahun, seperti pada tiap amalperbuatan nabi Muhammad saw yang amat sederhana sekalipun. f. Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan jumlah nilai amalan dari suatu ataupun seluruh amal-perbuatannya. Jauh lebih penting bagi tiap manusia, untuk terus-menerus makin memperbanyak segala amal-kebaikannya, serta sebaliknya makin mengurangi atau menghindari segala amal-keburukannya selama hidupnya, sesuai keadaan dan kemampuannya. Khususnya untuk menghindari dosa-dosa besar yang paling dilaknat-Nya. Sedangkan hanya hak Allah Yang Maha mengetahui nilai amalan atas tiap amal-perbuatan manusia. Tidak ada seseorangpun yang bisa menilainya secara mutlak, bahkan termasuk para nabi-Nya. Para nabi-Nya hanya bisa menilainya secara relatif, umum atau garis besarnya saja. Bahkan tiap saatnya selama hidupnya di dunia ini, justru terbuka pintu taubat-Nya bagi tiap manusia, atas berbagai perbuatan dosa ‘tertentu’ yang telah dilakukannya. Maka selain tiap perbuatan dosa yang sulit bisa dimaafkan-Nya (atau dilaknat-Nya), selama hidupnya di dunia, tiap manusia juga pasti diberikan-Nya kesempatan agar bisa berusaha memperbaiki keadaan batiniah ruhnya (atau mensucikan ruh), yang justru telah dirusak atau dikotori oleh berbagai perbuatan dosanya. g. Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala dosanya di masa lalunya, yang relatif tidaklah terlalu besar beban dosanya (relatif mudah bisa dimaafkan-Nya). Sedang bukanlah kesempurnaan ataupun tanpa cacat-dosa sama


PENUTUP

923

sekali yang semestinya dicapai. Hal yang lebih penting lagi bagi tiap manusianya, justru bagaimana bisa makin banyak berusaha berbuat lebih baik dan benar daripada di masa-masa sebelumnya. Karena memang relatif amat sangat sedikit umat manusia (seperti para nabi-Nya) yang benar-benar bisa memiliki kepribadian yang relatif sempurna (segala budi-pekerti, akhlak dan kebiasaan amat terpuji; ilmu agama yang amat lengkap dan mendalam; dsb). Bahkan sebagian dari umat Islam yang memang banyak berbuat amal-kebaikan dan banyak beramal-ibadah pada saat ini bisa jadi justru bukanlah dicapainya melalui perjuangan yang relatif amat berat, namun relatif ringan saja. Karena berbagai ujian-Nya yang telah dilewati dan bisa diatasinya, juga relatif ringan. Dan juga ia secara kebetulan telah langsung terlahir sebagai seorang Muslim. Sedang pada uraian poin d di atas diketahui, bahwa nilai dari tiap amal-perbuatan justru amat ditentukan berdasar 'proses berusaha' atau 'proses perjuangannya', di mana berbagai ujian-Nya meliputi proses itu, serta bukan ditentukan berdasar 'hasil usahanya'. Bahkan seseorang yang terlahir sebagai kafir-musyrik, yang lalu telah bertaubat dan memeluk agama Islam, relatif jauh sebelum ia menjelang ajalnya, atas ijin-Nya, justru ia juga tetap bisa hidup kekal di Surga, karena tiap 'proses berusahanya' untuk mengubah keyakinannya memang relatif amat berat, dan ibaratnya ia seperti seorang bayi yang baru terlahir sebagai Muslim. Sedang dalam agama Islam, seorang anak yang telah meninggal dunia sebelum mencapai usia akil-baliqnya, maka atas ijin-Nya, ia bisa langsung hidup di Surga, walau Surga pada tingkat yang relatif paling rendah (tingkat keimanannya relatif paling rendah). Bahkan orang yang telah kafir-musyrik sejak lahirnya, jauh lebih ringan beban dosa-dosanya daripada seorang Muslim yang telah benar-benar berlaku 'murtad', ataupun para penganut 'ateisme'. Bahkan sebagian dari para nabi-Nya pada awalnya justru seorang kafir-musyrik, sebelum bisa menemukan ‘jalan-Nya yang lurus’, beriman, mengabdikan dirinya dan seluruh kehidupannya kepada Allah, Tuhannya alam semesta yang sebenarnya. h. Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala bentuk ‘prestasinya’ di kehidupan dunia ini, yang berdasar segala ukuran lahiriah-fisik-duniawi, yang memang bersifat semu dan fana.

924

PENUTUP

Segala ukuran lahiriah-fisik-duniawi (seperti: tahta-jabatan-karir, harta-kekayaan, dsb), sama sekali tidak terkait dengan keadaan kehidupan batiniah ruh tiap manusia (kehidupan akhirat), yang justru bersifat hakiki dan kekal. Bahkan kehidupan dunia inipun hanya sarana bagi tiap manusia, agar makin banyak membangun kehidupan akhiratnya, sekaligus tempat tinggal sementara dalam rangka pengujian keimanannya (dengan segala bentuk ujian-Nya, lahiriah dan batiniah). Secara lahiriah, tiap manusia memiliki keadaan, nasib atau jalan hidup yang amat berbeda. Sedang wujud ke-Maha Adil-an Allah justru bukan pada aspek lahiriah, tetapi pada aspek batiniah. Di mana tiap manusia memang memiliki kesempatan yang sama, serta kebebasan dan kekuasaan sepenuhnya untuk bisa mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri (kehidupan akhiratnya). i. Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan panjang usia atau lama hidupnya di dunia ini. Demikian pula, manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan kapan waktu kedatangan Hari Kiamat. Asal pada akhir hidupnya, ia telah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman dan iapun telah relatif cukup banyak beramal-shaleh, bisa terhindari dari segala perbuatan dosa yang amat sulit bisa dimaafkan-Nya (paling dilaknat-Nya), dan ia telah banyak bertaubat atas dosa-dosanya, maka atas ijin-Nya, ia juga bisa hidup kekal di Surga (mendapat berbagai kemuliaan). j. Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala hal yang berada ‘di luar’ pengetahuan dan kekuasaannya. Justru sama sekali tidak ada sesuatupun tanggung-jawab baginya, atas hal-hal tersebut. k. Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala sesuatu halnya dalam kehidupan beragamanya. Agama-Nya yang lurus (terakhir agama Islam) tidak diturunkanNya untuk menjadi beban bagi tiap umat manusia, namun justru bertujuan agar ia bisa pula mendapat keselamatan dan kemuliaan dalam kehidupannya di dunia dan di akhirat. Tiap manusia pasti akan dimintai-Nya pertanggung-jawaban atas tiap amal-perbuatannya, dan ia pasti diberikan balasan-Nya yang setimpal (nikmat atau hukuman-Nya), secara langsung (di dunia)


PENUTUP

925

serta secara tertunda atau tertangguhkan (di Hari Kiamat). Karena manusia dan kehidupannya di dunia, memang diciptakanNya dengan tujuan yang pasti, jelas dan benar (haq). l. Manusia tidaklah perlu kuatir sama sekali dengan segala tingkat kemampuan dan pengetahuannya dalam memahami ajaran-ajaran agama-Nya. Dengan segala tingkat pemahamannya, tiap manusia semestinya bisa mengikuti agama-Nya yang lurus. Walaupun bersama dengan berjalannya waktu, iapun semestinya bisa makin lengkap dan mendalam memahami agama-Nya, agar bisa makin meningkat pula keimanan dan kemuliaannya sendiri. Namun agama-Nya yang lurus (terakhir agama Islam) memiliki berbagai pondasi utama bagi kehidupan beragama tiap umatnya, terutama hal-hal yang disebutkan dalam ‘dua kalimat syahadat’, yaitu agar umat tidak menyekutukan Allah, dan juga menyakini nabi besar Muhammad saw adalah utusan Allah. Tentunya pemahamannya juga tidak terlalu menyalahi berbagai pengajaran dan tuntunan-Nya dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Hadits), yang telah diketahuinya dengan cukup jelas dan terang, atas berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalamnya. Fokus di sini justru terkait dengan kandungan isi ajaran agamaNya, yang bisa memiliki banyak macam bentuk penafsiran, yang biasanya disebutkan sebagai masalah-masalah khilafiyah (hal-hal yang tidak begitu prinsipiil dalam kehidupan beragama). Atas ijin-Nya dan sebagai wujud rahmat-Nya, penafsiran yang ‘keliru’ akan mendapat satu pahala-Nya, sedangkan yang ‘benar’ akan mendapat dua pahala-Nya. Hubungan antara pengetahuan Allah dan pengetahuan manusia Dari uraian-uraian pada buku ini bisa pula diungkap berbagai rangkuman Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), di balik teks ayat-ayat Al-Qur’an, tentang hubungan antara pengetahuan-Nya di seluruh alam semesta ini, dan pengetahuan manusia (termasuk para nabi-Nya), yang diuraikan secara ringkas pada tabel berikut. Tabel 20: Hubungan antara pengetahuan Allah dan manusia

Catatan-catatan atas hubungan antara pengetahuan ‘mutlak’ Allah dan pengetahuan ‘relatif’ manusia • 'Zat' Allah Maha Suci dan tersucikan dari segala sesuatu hal.

926

PENUTUP

Termasuk tentunya 'Zat' Allah mustahil bisa 'dilihat' (melalui mata lahiriah) ataupun 'diketahui' (melalui mata batiniah), oleh segala sesuatu zat makhluk-Nya di dunia dan di akhirat. Juga para nabi-Nya, para malaikat dan para makhluk gaib lainnya mustahil bisa melihat ‘Zat’ Allah. Sedangkan ‘penglihatan’ yang disebut dalam Al-Qur’an, hanya contoh-perumpamaan simbolik. Lebih tepatnya misalnya, para nabi-Nya dan para malaikat justru hanya bisa menyaksikan ataupun memahami berbagai ‘kebenaranNya’ di alam semesta ini, dengan relatif amat terang dan jelas. • Hanya hakekat ‘esensi’ Zat Allah Yang Maha Gaib, yang mustahil terjangkau oleh akal zat makhluk-Nya. Segala hal lainnya sedikitbanyak masih bisa dijangkau oleh akalnya (termasuk hal-hal gaib lainnya), seperti halnya pada akal dan pengetahuan para nabi-Nya. Akal zat makhluk-Nya bisa menjangkau segala sesuatu hal, selain tentang hakekat 'esensi' Zat Allah. Bahkan sebagian ‘esensi’ atau 'wujud asli' dari zat ruh para makhluk gaib justru telah diketahui oleh sejumlah amat terbatas manusia, dari jaman dahulu sampai saat ini (termasuk pula sebagian dari para nabi-Nya), yang pernah berinteraksi secara terang-terangan dengan para makhluk gaib. • Nilai kebenaran dari segala sesuatu informasi yang bisa diperoleh dari hasil tangkapan alat-alat indera lahiriah pada tiap manusia, ‘jauh lebih rendah’ nilainya daripada segala informasi dari hasil tangkapan indera batiniahnya, apabila akalnya telah dipakai secara relatif benar, amat teliti dan amat obyektif. • Segala zat makhluk-Nya pasti menghadapi berbagai ‘tabir-hijabpembatas’ terhadap Allah (tepatnya, terhadap “segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta”). Bahkan juga termasuk pasti dihadapi oleh para nabi-Nya dan para malaikat-Nya. Wujud dari tiap ‘tabir’ itupun pada dasarnya berupa tiap ‘tingkat' kebenaran dan kedalaman pengetahuan 'relatif' milik zat makhlukNya, terhadap pengetahuan 'mutlak' milik Allah di alam semesta. • Segala zat makhluk-Nya pasti hanya bisa ‘berhubungan’ dengan Allah dari balik ‘tabir’, atau pasti melalui 'perantaraan' kalam-Nya (kalamullah, kalimat atau wahyu-Nya). Lalu tiap manusia juga pasti melalui 'perantaraan' para makhluk gaib, yang tiap saatnya pasti selalu mengikuti, mengawasi ataupun


PENUTUP

927

menjaganya pada alam pikirannya (alam batiniah ruh atau alam akhiratnya), terutama dalam memberi segala jenis ‘ilham-bisikangodaan’ (positif-benar-baik dan negatif-sesat-buruk). • Wahyu atau kalam-Nya yang ‘sebenarnya’ adalah 'alam semesta'. Lebih khusus lagi juga biasa disebut sebagai "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis di seluruh alam semesta ini"; "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya"; "Al-Qur’an atau kitab-Nya yang berwujud gaib, yang tercatat di Lauh Mahfuzh"; "segala pengetahuan atau kebenaran-Nya"; "wajah-Nya"; dsb. Kesemua sebutan ini hanya berbeda pada konteks pemakaiannya saja, walau pada dasarnya sesuatu hal yang 'sama', berupa segala sesuatu hal yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten), pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadiannya di seluruh alam semesta ini, lahiriah dan batiniah. Maka di alam semesta ini ada tak-terhitung jumlah hal-hal yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', yang memang hanya hasil perbuatan Allah, Tuhannya alam semesta ini. Sedang sifat-sifat 'mutlak' dan 'kekal' memang hanya milik Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Semua hal itu memang sengaja hendak ditunjukkan-Nya, agar tiap zat makhluk-Nya bisa mencari dan mengenal Allah, Tuhan yang sebenarnya telah menciptakannya, dan juga agar bisa menyembah dan mengabdikan dirinya kepada-Nya. • Segala pengetahuan atau kebenaran-Nya di seluruh alam semesta tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi ‘Arsy-Nya (pada alam gaib). Segala pengetahuan-Nya ini juga bersifat kekal sejak dicatatkannya. Dan segala pengetahuan-Nya yang tercatat di Lauh Mahfuzh pada dasarnya terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu: a. Pengetahuan-Nya yang bersifat 'non-kronologis' (tak-terkait waktu). Berupa seluruh ketetapan, ketentuan, hukum atau aturan-Nya (juga termasuk sunatullah, Sunnah Allah atau sifat perbuatan Allah di alam semesta). Pengetahuan-Nya ini sama sekali tidak terkait dengan peranan segala zat makhluk-Nya, dan sama sekali tidak terkait dengan segala keadaan tiap zat ciptaan-Nya tiap saatnya.

928

PENUTUP

Pengetahuan-Nya ini bersifat mutlak (pasti terjadi) dan kekal (pasti konsisten, tidak berubah), sejak awal terciptanya alam semesta, sampai saat berakhirnya (akhir jaman). Juga bersifat universal, amat umum dan luas cakupannya. Pengetahuan-Nya ini pasti bisa diketahui-Nya, saat ‘sebelum’, ‘sedang’ dan ‘setelah’ terjadinya sesuatu hal (bisa diketahuiNya kapan saja), karena memang pasti tidak berubah-ubah dan diciptakan-Nya. b. Pengetahuan-Nya yang bersifat 'kronologis' (terkait waktu). Berupa segala keadaan tiap zat ciptaan-Nya tiap saatnya. Pengetahuan-Nya ini terkait dengan peran segala zat makhlukNya tiap saatnya. Pengetahuan-Nya ini bersifat kekal (tidak berubah), hanyalah sejak ‘setelah’ terjadinya sesuatu hal (setelah zat makhluk-Nya berbuat sesuatu, ataupun setelah sesuatu keadaan zat ciptaanNya berubah). Juga bersifat aktual, amat khusus dan terbatas cakupannya. Pengetahuan-Nya inipun justru diketahui-Nya hanyalah segera ‘setelah’ terjadinya sesuatu hal (bukanlah saat ‘sebelum’ dan ‘sedang’ terjadinya), karena memang tidaklah diciptakan-Nya. Allah hanyalah menciptakan aturan-Nya atau sunatullah, yang mengatur tiap proses perubahan keadaan tiap zat ciptaan-Nya, yang berubah-ubah mengikuti keadaan lingkungan sekitarnya ataupun diubah-ubah oleh segala zat makhluk-Nya. Pengetahuan-Nya ini adalah wujud dari kebebasan yang telah diberikan-Nya kepada zat makhluk-Nya di dalam berkehendak dan berbuat (dengan diciptakan-Nya akal dan nafsunya). • ‘Arsy-Nya yang amat mulia dan agung, merupakan 'simbol' bagi tempat keberadaan segala pengetahuan ataupun kebenaran-Nya di alam semesta. Namun ‘Arsy-Nya bukan ‘kursi-tahta’ atau tempat keberadaan yang sebenarnya bagi ‘Zat’ Allah. Lebih jelasnya, ‘Arsy-Nya berada pada alam batiniah ruh tiap zat makhluk-Nya (dalam dada-hati-pikirannya), dan bersifat gaib. Maka Allah berada dalam dada-hati-pikiran tiap zat makhluk-Nya. Sekali lagi, hal ini tentunya bukan tentang keberadaan 'Zat' Allah, namun hanyalah berupa pemahaman tentang Allah, sifat-sifat-Nya


PENUTUP

929

ataupun tiap kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta. Dengan berbagai keterbatasan ilmu-pengetahuannya, tidak semua zat makhluk-Nya bisa 'mendekati' ‘Arsy-Nya. Hanya orang-orang yang relatif amat keras memanfaatkan 'akal'-nya dalam mencari pemahaman tentang tiap kebenaran-Nya, yang bisa berada amat 'dekat' di sisi ‘Arsy-Nya (terutama para nabi-Nya). • Dengan segala pengetahuan-Nya di alam semesta ini yang Maha Tinggi dan Maha Luas, maka segala pengetahuan-Nya atau ayatNya yang tak-tertulis justru mustahil bisa dipahami dan dituliskan keseluruhannya oleh umat manusia (tidak cukup dituliskan dengan "tinta sebanyak beberapa samudera"). • Segala zat makhluk-Nya hanyalah bisa memahami tentang Allah (tepatnya, tentang kebenaran atau pengetahuan-Nya), dari segala hasil usahanya setelah mengamati, meneliti ataupun mempelajari tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta (atau segala sesuatu hal yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’). Hal seperti itulah yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya, sedang umat manusia lainnya justru telah relatif amat dipermudah dalam memahaminya, setelah diilhami dari segala pemahaman para nabiNya, yang telah terungkap melalui ajaran-ajaran mereka (melalui ayat-ayat-Nya yang tertulis, terucap atau terungkap, al-Kitab). • Hanyalah ‘benar’ (haq) yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', sebagai satu-satunya bukti, bahwa sesuatu halnya bisa disebut berasal dari Allah (ayat, wahyu, tulisan, catatan, keterangan, ucapan, berita, dsb), dimanapun hal itu tertulis, bagaimanapun cara disampaikan serta siapapun yang menyampaikannya, karena sesuatu kebenaran ‘mutlak’ dan ‘kekal’ memang hanya hak-milik Allah semata. Begitu pula halnya dengan berbagai ajaran para nabi-Nya (tulisan, lisan, sikap dan contoh perbuatan), sehingga para pengikut awal mereka misalnya, bisa amat menyakini dan taat mengikutinya. Walaupun para pengikut itu belum bisa memahami secara lengkap dan mendalam, tetapi berdasarkan berbagai pengalaman dan akalsehatnya, mereka justru telah cukup mengakui dan merasakan atas adanya kebenaran dalam kandungan isi ajaran-ajaran tersebut. • Segala sesuatu kebenaran yang bisa dipahami oleh tiap manusia, secara manusiawi pada dasarnya pasti bersifat 'relatif' (tidak pasti, tidak konsisten ataupun subyektif), bahkan termasuk pemahaman

930

PENUTUP

pada para nabi-Nya. Tetapi jika pemahamannya diperoleh dengan relatif amat obyektif dan telah tersusun relatif 'sempurna' (amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhan), maka kebenaran yang dipahaminya bisa relatif ‘amat mendekati’ kebenaran-Nya di alam semesta ini (bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’). Seluruh pemahaman yang telah relatif 'sempurna’, terutama atas hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat kaumnya, dan bahkan bagi kehidupan seluruh umat manusia, justru telah bisa dimiliki oleh para nabi-Nya. Kesempurnaan seluruh pemahaman itulah yang telah menjadikan 'tiap' pemahaman para nabi-Nya (Al-Hikmah) dan juga 'tiap' hasil pengungkapannya (Al-Kitab), justru bisa disebutkan sebagai suatu 'wahyu-Nya'. Sedang pemahaman dan hasil pengungkapan oleh umat manusia umumnya, yang justru relatif amat rendah kesempurnaannya dan banyak diilhami dari pemahaman para nabi-Nya, masing-masing tetap hanya disebutkan sebagai ‘Al-Hikmah’ dan ‘ijtihad’. • Sunatullah (Sunnah Allah atau aturan-Nya), adalah sesuatu bentuk perwujudan dari segala kehendak, perbuatan atau tindakan-Nya di alam semesta (lahiriah dan batiniah). Sunatullah merupakan salahsatu dari ilmu atau pengetahuan-Nya yang paling penting. • Sunatullah itu berupa segala aturan atau rumus proses kejadian di alam semesta, yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal'. Sunatullah pasti berlaku dan pasti mengatur segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta, sesuai segala keadaan tiap zatnya tiap saatnya. Sunatullah adalah salah-satu dari segala ketentuan atau ketetapanNya yang justru telah diciptakan-Nya ‘sebelum’ awal penciptaan alam semesta ini, serta semuanya telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya. • Segala bentuk pengetahuan manusia (juga termasuk pengetahuan tentang Allah dan berbagai kebenaran-Nya), sebagian terbesarnya justru hanya hasil dari pengungkapan atas berbagai rumus proses lahiriah dan batiniah pada sunatullah (sifat-sifat perbuatan-prosesdinamis yang ‘mutlak’ dan ‘kekal’, pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta ini, yang memang hanya hasil dari perbuatan-Nya).


PENUTUP

931

Sebagian amat sedikit lainnya, justru dari hasil pengungkapan atas kekayaan khasanah segala zat ciptaan-Nya di alam semesta (sifatsifat esensi-statis-pembeda pada segala zat ciptaan-Nya, yang juga telah ditetapkan-Nya pada awal penciptaan alam semesta ini). • Pengetahuan yang 'tertinggi' bagi tiap manusia atas tanda-tanda kekuasaan-Nya, pada dasarnya justru berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah, cahaya kebenaran-Nya), yang justru semestinya bersifat 'universal' (bisa melewati batas ruang, waktu dan konteks budaya), dan diperoleh secara ‘amat obyektif’, seperti pada pengetahuan yang telah dimiliki oleh seluruh para nabi-Nya. Tiap pengetahuan al-Hikmah inilah wujud ‘hijab’ terdekat tentang ‘sesuatu hal’, antara Allah dan manusia pemilik pengetahuannya (jarak terdekat antara pengetahuan 'mutlak' Allah dan pengetahuan 'relatif' manusia). • Kenabian adalah 'keseluruhan' pengetahuan yang berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah), yang telah bisa dicapai oleh para nabi-Nya, yang telah tersusun relatif ‘sempurna’ (amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhan), khususnya atas hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia. Kenabian juga mestinya disertai pengamalan yang amat konsisten atas segala pengetahuannya itu (khususnya dalam melayani umat, sebagai wujud dari pengabdian diri kepada-Nya). • Wahyu-Nya yang diterima oleh para nabi-Nya, pada hakekatnya bukanlah berupa ‘ilham-bisikan’ dari para makhluk gaib (terutama malaikat Jibril), akan tetapi justru berupa pengetahuan hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah), setelah ‘akal’ para nabi-Nya bisa mengolah dan menilai dengan amat yakin, pasti dan obyektif, atas segala bentuk ‘ilham-bisikan’ dari para makhluk gaib itu. Karena segala bentuk ilham itu justru tidak jelas, atau pasti selalu bercampur-baur antara ilham-ilham yang mengandung nilai-nilai positif-benar-baik (dari para malaikat, khususnya malaikat Jibril), dan ilham-ilham yang negatif-sesat-buruk (dari syaitan dan iblis). Hanya akal para nabi-Nya yang justru berperan menyusun segala bentuk ilham-bisikan itu (masih berbentuk mentah dan tidak jelas) menjadi tiap wahyu atau petunjuk-Nya yang utuh dan sempurna. • Segala bentuk ilham dari para makhluk gaib pada dasarnya hanya

932

PENUTUP

memancing, mengaduk dan mengikuti kecenderungan arah pikiran tiap manusia, yang selalu mereka ikuti, awasi dan jaga. Namun justru hanya ‘akal’ manusianya yang menyusun keyakinan batiniahnya untuk menilai tiap ilham itu sebagai sesuatu informasi batiniah yang relatif ‘benar’ ataupun yang relatif ‘sesat’. • Segala bentuk ilham itu ibaratnya, kata-kata yang ditawarkan oleh para makhluk gaib, untuk mengisi kata-kata yang masih kosong dalam suatu kalimat yang belum lengkap, yang dimiliki oleh tiap manusia. Juga ibaratnya, data-data yang benar dan sesat bagi suatu pengetahuan yang belum lengkap, dalam pikiran tiap manusia. Sedangkan hanya 'akal' manusianya sendiri yang memilih, menilai dan memutuskan sebagian dari kata-kata atau data-data itu, yang dianggap ‘relatif’ paling benar dan sesuai bagi pengetahuannya. • Nilai tiap zat makhluk-Nya di hadapan Allah terletak pada segala 'amal-perbuatannya', sesuai dengan tugas-amanat yang diberikanNya, bukan pada zat, nama, sosok dan bentuk makhluk-Nya. Manusia ditugaskan atau diamanatkan-Nya sebagai khalifah-Nya di muka Bumi (dunia), sedang para makhluk gaib ditugaskan-Nya untuk memberi pengajaran dan ujian-Nya secara 'batiniah' kepada tiap umat manusia. Sehingga jin, syaitan dan iblis pada dasarnya justru sengaja diciptakan dan ditugaskan-Nya, untuk bisa menguji keimanan tiap umat manusia. Selain karena 'sosok' para makhluk gaib memang berwujud 'gaib' (tidak bisa dilihat dan diraba), nama dan sosok mereka memang bukan sesuatu hal yang cukup penting. Namun paling pentingnya bagi manusia, justru hal-hal yang disampaikannya (segala bentuk ilham yang benar untuk diikuti, dan yang sesat untuk dihindari). Nama sebutan 'Jibril' misalnya, hanya sebutan 'simbolik' bagi tiap makhluk gaib, yang suatu saat sedang menyampaikan hal-hal yang mengandung nilai-nilai kebenaran-Nya (sebagai pengajaran-Nya). Namun makhluk gaib yang sama bisa menyampaikan hal-hal yang mengandung kesesatan pada saat lainnya (sebagai ujian-Nya). Tiap makhluk gaib itu bisa menjadi malaikat, jin, syaitan dan iblis pada saat yang berbeda-beda. Hal ini justru serupa halnya dengan perilaku manusia, yang memang cenderung ‘tidak konsisten’ (bisa berbuat benar dan juga berbuat sesat). Namun berbeda daripada manusia, para makhluk gaib itu justru amat tunduk, patuh dan taat


PENUTUP

933

kepada segala perintah-Nya. Kebenaran dan kesesatan isi ilhambisikan mereka justru hanya menurut penilaian dan sudut pandang relatif manusia, tetapi bukan menurut penilaian mutlak Allah. Hal ini hanya sebagai pengajaran-Nya secara batiniah bagi manusia. Hal ini bisa lebih jelas diketahui, ketika manusia telah berinteraksi secara terang-terangan dengan para makhluk gaib itu. • Hanya ‘akal’ satu-satunya pengendali segala sesuatu hal pada tiap zat ruh makhluk-Nya (termasuk hati-nurani dan perasaannya). Sedang hanya ‘akal’ satu-satunya sarana pada tiap zat makhlukNya, yang bisa memilih, menganalisa, mempelajari, mengiterasi, mengintegrasi, mengolah, memproses, menghitung, menilai serta memutuskan segala bentuk informasi batiniah dalam pikirannya, untuk dipakainya sebagai bahan bagi penyusunan pengetahuannya (termasuk pengetahuan tentang tiap kebenaran-Nya). • Allah pasti hanya memberi petunjuk-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang mau menggunakan ‘akal’-nya, walaupun akalnya itu hanya sekedar menyakini, bahwa 'ada' nilai-nilai kebenaran-Nya dalam ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh para nabi-Nya, ataupun bahkan hanya sekedar menyakini, bahwa para nabi-Nya memiliki sifat-sifat yang amat terpuji. dan juga amat bisa dipercaya (selalu berkata benar). Lalu umat-umat itu mengikuti ajaran-ajaran tersebut, walau belum memahaminya secara utuh, lengkap dan mendalam. Tentunya makin baik, jika makin melengkapi dan mendalaminya secara langsung, agar keyakinan batiniah umat (pemahaman) juga makin meningkat di samping keyakinan lahiriahnya (pengamalan) atas ajaran-ajaran tersebut. • Wahyu-Nya yang ‘disampaikan’ oleh para nabi-Nya kepada umat (al-Kitab), melalui lisan, tulisan, sikap dan contoh-perbuatannya, adalah segala hasil rangkuman atas seluruh pengetahuan mereka, yang berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah). Tiap al-Kitab pada dasarnya justru bersifat relatif amat sederhana, ringkas, tidak saling terkait, terpisah, praktis-aplikatif dan aktual, sesuai dengan keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan umat manusia pada tiap jamannya masing-masing (atau sesuai dengan konteks ruang, waktu dan budaya). Sedang tiap al-Hikmah pada dasarnya bersifat relatif amat rumit,

934

PENUTUP

lengkap, mendalam, saling terkait, utuh, tidak praktis-aplikatif dan tidak aktual, khususnya karena tiap al-Hikmah bersifat 'universal' (bisa melewati batas ruang, waktu dan konteks budaya). Sehingga tiap al-Hikmah tentang ‘sesuatu hal’, relatif ‘sama’ dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman. Misalnya tauhid seluruh para nabi-Nya sama, yaitu "tiada tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa", sebagai suatu hasil pemahaman terakhir dan maksimal, dari segala usaha manusia dalam mencari dan mengenal Allah, Tuhan Yang sebenarnya menciptakannya dan seluruh alam semesta ini. Pemahaman selain tauhid itu (masih mengandung kemusyrikan), pasti bukan hasil usaha pencarian yang terakhir dan maksimal. • Wahyu-Nya (al-Hikmah) yang telah diterima oleh para nabi-Nya dari malaikat Jibril, ‘sedikit-banyak’ juga bisa memiliki perbedaan atas wahyu-Nya (al-Kitab) yang telah mereka sampaikan kepada umat-umatnya, melalui tulisan, lisan, sikap dan contoh perbuatan (seperti wahyu-Nya dalam kitab suci Al-Qur’an, beserta Sunnahsunnah Nabi sebagai contoh pengamalan dan penjelasannya). Sedang tiap pemahaman atau isi pikiran manusia memang 'bisa' relatif berbeda daripada berbagai bentuk hasil pengungkapannya. Khususnya karena tiap pemahaman yang berupa al-Hikmah justru mestinya bersifat ‘universal’, sedang tiap hasil pengungkapannya yang berupa al-Kitab sebaliknya mestinya bersifat ‘aktual’. • Para malaikat-Nya (terutama malaikat Jibril) bisa ikut mengusung dan bisa berada ‘amat dekat’ di sekitar ‘Arsy-Nya, karena mereka itu memang ‘amat sangat cerdas’ akal-nya (berpengetahuan amat tinggi). Sehingga mereka justru juga bisa memberi segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya kepada para nabi-Nya (melalui alam batiniah ruh atau alam pikiran para nabi-Nya). • Nabi Muhammad saw dalam peristiwa "Isra’ Mi’raj", justru telah bisa berada ‘amat dekat’ ke hadapan ‘Arsy-Nya, karena pada saat itulah Nabi memang sedang relatif banyak memperoleh berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah), yang juga ‘amat tinggi’ nilai kemuliaannya. • Tiap zat makhluk-Nya mustahil bisa 'mencapai' ‘Arsy-Nya, tetapi hanya bisa 'mendekatinya' (pasti selalu ada 'hijab' antara Allah dan tiap zat makhluk-Nya). Tingkat kedekatan ini berupa jarak perbedaan antara pengetahuan


PENUTUP

935

‘mutlak’ milik Allah di alam semesta ini dan pengetahuan ‘relatif’ milik tiap zat makhluk-Nya. Di samping itu, tingkat kedekatan ini hanya menyangkut ‘sesuatu’ hal atau aspek saja, sedang tiap 'hijab' justru terdapat pada tiap hal atau aspek dari segala pengetahuan-Nya di alam semesta ini. • Pengetahuan para nabi-Nya atas hikmah dan hakekat kebenaranNya (al-Hikmah), pada dasarnya juga pasti bersifat ‘relatif’. Namun keseluruhan al-Hikmah pada mereka itu justru relatif amat sempurna dan amat tinggi nilainya, jika dibanding dengan segala bentuk pengetahuan pada seluruh umat manusia lainnya, terutama pada jaman masing-masing para nabi-Nya. Juga secara alamiahnya, segala pengetahuan nabi Muhammad saw sebagai nabi-Nya yang ‘terakhir’, yang terungkapkan melalui AlQur’an dan Sunnah-sunnah Nabi, relatif lebih sempurna dan tinggi nilainya, daripada segala pengetahuan para nabi-Nya terdahulu. • Tugas utama umat Islam pada tiap jamannya (khususnya melalui Majelis alim-ulama), justru agar berusaha mengungkap kembali segala al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), ‘di balik’ teks ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi, secara relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan. Lalu agar bisa disampaikan kepada umat pada umumnya, secara amat arif dan bijaksana, khususnya melalui segala bentuk ‘ijtihad’ yang bersifat sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, agar umat justru relatif lebih mudah memahami dan mengamalkannya, sesuai dengan keadaan, kemampuan dan pengetahuannya. Sedang penyampaian al-Hikmah relatif lebih cocok hanya kepada umat-umat yang berilmu-pengetahuan relatif amat tinggi saja. Pengungkapan segala al-Hikmah itu perlu dilakukan, agar ajaranajaran agama Islam yang semestinya bersifat universal, bisa tetap aktual sampai akhir jaman. Hal ini justru mustahil tercapai melalui pemahaman secara tekstual-harfiah semata atas ajaran-ajarannya. Segala tindakan Allah bersifat mutlak, kekal dan amat alamiah Segala tindakan-Nya di alam semesta, yang juga biasa disebut sebagai ‘sunatullah’ (Sunnah Allah), berupa segala aturan atau rumus proses kejadian di alam semesta, yang bersifat ‘mutlak’ (pasti terjadi) dan ‘kekal’ (pasti konsisten), serta amat sangat alamiah, halus, tidak kentara ataupun seolah-olah terjadi begitu saja.

936

PENUTUP

Sesuai dengan sifat-Nya, segala tindakan-Nya di seluruh alam semesta ini disebut pula bersifat ‘Maha Halus’. Apabila dipahami jauh semakin mendalam lagi, maka pada sunatullah itu (atau sifat prosesdinamis-perbuatan ‘Zat’ Allah), terkandung pula hampir semua sifatsifat-Nya pada Asmaul Husna (nama-nama terbaik yang hanya milik Allah), terutama pada sifat-sifat-Nya yang berupa kata ‘kerja’ (Maha memelihara; Maha memberi; Maha menentukan; dsb), ataupun berupa kata ‘sifat pekerjaan’ (Maha kuasa; Maha kokoh; Maha pengampun; Maha suci, Maha mulia, Maha adil, dsb). Amat sedikit sifat-sifat-Nya lainnya yang berupa sifat esensistatis-pembeda ‘Zat’ Allah (seperti: Wujud atau ada, Maha Esa, Maha gaib, Maha awal, Maha akhir dan Maha kekal, dsb), walaupun sifatsifat inipun justru tidak terkait langsung tentang Zat Allah. Ke-Maha Halus-an segala tindakan-Nya itulah yang berusaha diungkapkan semaksimal mungkin, melalui keseluruhan pembahasan pada buku ini. Hal inipun amat diperlukan, karena keadaan kehidupan beragama sebagian kalangan umat Islam telah cukup memprihatinkan, terutama karena banyak berkembangnya hal-hal yang bersifat ‘mististahayul’ pada pemahaman umat, dalam memahami tentang Allah, sifat dan tindakan Allah, Yang Maha Gaib. Persoalan inipun mudah dimengerti bisa muncul, karena segala tindakan Allah di alam semesta ini, memang bersifat ‘Maha Halus’, sehingga relatif amat sulit dipahami oleh sebagian besar umat Islam, terutama bagi umat yang amat awam. Buku ini diharapkan cukup bisa membantu umat Islam, dalam memahami berbagai tindakan Allah di alam semesta ini, termasuk pula memahami berbagai tindakan ataupun kejadian pada zat-zat ruh makhluk-Nya, yang juga bersifat gaib. Sifat ‘mistis’ pada ajaran-ajaran agama-Nya semestinya berupa pengertian atas ‘amat tingginya’ nilai kemuliaan dari tiap kebenaranNya di dalamnya, sehingga sebagian kalangan umat Islam relatif sulit bisa memahami atau menjangkaunya. Tetapi justru semestinya bukan berupa sifat ‘mistis’ yang mengandung berbagai ‘tahayul’. Hal inipun umumnya sebagai efek dari pemaksaan suatu pemahaman, atas hal-hal yang belum diketahui dengan jelas. Bahkan pemahaman seperti inipun amat sulit bisa diterima oleh akal sehat manusia pada umumnya. Perbedaan pemahaman umat, suatu rahmat-Nya Pada dasarnya setiap pemahaman yang bersifat ‘mistis tahayul’ juga bukan persoalan penting, jika tidak dipaksakan diajarkan sebagai kebenaran-Nya. Pemahaman semacam inipun pasti makin menghilang


PENUTUP

937

sejalan dengan bertambahnya pengetahuan umat (telah makin banyak menggunakan akal sehatnya), atau telah makin sempurna pemahaman umat atas ajaran-ajaran agama-Nya (makin meningkat keimanannya). Setiap ‘contoh-perumpamaan’ dalam Al-Qur'an, justru amatlah berbeda daripada suatu ‘tahayul’. Setiap ‘contoh-perumpamaan’ pada dasarnya tetaplah ‘contoh-perumpamaan’, mustahil bisa menjadi suatu kebenaran-Nya yang jelas dan nyata. Lebih jelas lagi, setiap ‘contohperumpamaan’ hanyalah sebagai sarana pengajaran-Nya secara ‘tidak langsung’, agar umat telah cukup bisa merasakan bentuk analogi dari setiap fakta-kenyataan yang sebenarnya di baliknya. Hal ini biasanya terjadi dalam segala pengajaran-Nya atas hal-hal gaib dan batiniah. Setiap umat Islam tidak dipaksakan untuk memahami hikmah dan hakekat kebenaran-Nya tentang hal-hal gaib dan batiniah, secara relatif amat mendalam. Telah cukup bagi setiap umat Islam, apabila ia bisa mengikuti segala hal yang diajarkan atau dicontohkan oleh Nabi. Walau secara perlahan-lahan, umat semestinya bisa memahami secara makin mendalam atas hal-hal yang diajarkan oleh Nabi tersebut. Hanya Allah Yang Maha mengetahui setiap pemahaman yang paling benar, pengamalan yang paling baik, ataupun siapa yang paling beriman. Serta hanya Allah, Yang Maha mengetahui nilai amalan dari setiap amal-perbuatan manusia, yang dilakukannya berdasarkan segala pemahaman yang telah dimilikinya. Jika masih menyakini, "bahwa tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dan juga nabi Muhammad saw adalah utusan Allah", serta masih menggunakan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi sebagai dasar ajarannya, maka semua aliran-golongan-mazhab dengan segala bentuk pemahamannya, pada dasarnya justru masih saling bersaudara seiman dan seaqidah. Namun persoalan yang amat memprihatinkan justru muncul, saat ada aliran-golongan-mazhab di kalangan umat, yang telah terlalu fanatik ataupun berlebihan dalam memaksakan setiap pemahamannya, yang sebenarnya belumlah betul-betul dipahaminya. Apalagi jika telah sampai menimbulkan suatu pertentangan keras dengan aliran lainnya, dan bahkan telah saling mengkafirkan antar umat Islam sendiri. Perbedaan pemahaman atau penafsiran itu justru suatu bentuk kekayaan rahmat-Nya, dan bukanlah suatu dasar bagi timbulnya setiap perselisihan di kalangan umat. Jauh lebih baik bagi setiap aliran, agar selalu terus-menerus berusaha untuk berintrospeksi diri, mengkaji dan memperbaiki penafsirannya sendiri, karena penafsiran itu sendiri pada

938

PENUTUP

dasarnya mengikuti perkembangan jaman, kehidupan dan pengetahuan umat. Setiap umat pada setiap jamannya pasti memiliki penafsirannya masing-masing atas setiap ajaran agama-Nya, sesuai penerapan aktual yang dianggapnya paling tepat bagi kehidupannya sehari-hari. Sedangkan setiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, di balik teks ayat kitab suci Al-Qur’an yang ditafsirkan, pada dasarnya justru mestinya bersifat ‘mutlak’ (pasti terjadi) dan ‘kekal’ (pasti konsisten), serta juga bersifat ‘universal’ (bisa melewati batas ruang, waktu dan konteks budaya). Maka pemahaman hikmah dan hakekat kebenaranNya relatif tidak berubah-ubah terhadap perkembangan segala jaman (pasti berlaku sama bagi umat terdahulu, di masa sekarang dan umat di masa mendatang, bahkan sampai akhir jaman). Cakupan pemahaman atas ayat Al-Qur’an pada buku ini Dari tingkat pemahaman pada buku ini dan juga dari bangunan pemahamannya yang telah bisa terbentuk, yang justru telah meliputi ±2900 ayat Al-Qur’an pada Lampiran E (atau ±46% dari keseluruhan 6236 ayat-ayatnya), syukur Alhamdulillah, bisa dianggap relatif belum ditemukan pemahaman yang saling bertentangan pada buku ini. Di masa mendatang dan atas ijin-Nya, bangunan pemahaman pada buku ini diharapkan makin berkembang dan bahkan bisa meliputi keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an. Termasuk pula pengembangan atas topik-topik pembahasannya yang belum ada ayat-ayat Al-Qur’an yang terkait di Lampiran E itu, walaupun sebagian pembahasannya memang tidak ada keterangannya langsung, tegas dan jelas dalam Al-Qur’an. Bahkan masih terdapat ayat-ayat terkait yang justru diletakkan langsung pada topik-topik pembahasannya (belumlah dipindahkan ke Lampiran E), terutama pada ayat-ayat yang bertanda "(QS.xx:yy)". Catatan umum bagi pemahaman atas ajaran agama-Nya Pada umumnya, catatan-catatan amat penting dari keseluruhan pembahasan pada buku ini, yang justru perlu diperhatikan oleh setiap umat, terutama agar segala sesuatu halnya mestinya tetap ditempatkan sebagaimana semestinya, seperti misalnya:

Catatan-catatan bagi pemahaman atas ajaran-ajaran agama-Nya a. Pemahaman umat Islam atas ajaran agama Islam mestinya utuh, konsisten dan tidak saling bertentangan, secara keseluruhannya, bahkan lebih baik lagi jika makin lengkap dan mendalam. Hal ini tentunya diharapkan, agar makin mendekati seluruh pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya pada nabi Muhammad saw,


PENUTUP

b.

c.

d.

e.

939

walau ukuran-ukuran kedekatan ini memang tetap bersifat relatif. Tanpa ukuran-ukuran ini (khususnya tidak saling bertentangan) sama halnya dengan adanya pemahaman pada umat terkait, yang masih keliru ataupun belum memadai atas ajaran agama-Nya. Segala hal gaib mestinya tetap bersifat gaib, serta mustahil bisa berubah menjadi bersifat nyata-fisik-lahiriah (mustahil akan bisa tampak dan diraba oleh alat-alat lahiriah manusia). Sedangkan segala hal gaib (sifat esensi dan perbuatan dari zat-zat gaib) hanya bisa diketahui atau dipahami melalui mata batiniah ruh pada setiap manusia (akal, hati / kalbu, hati nurani, dsb). Segala contoh-perumpamaan simbolik dalam teks-teks ayat AlQur’an, mestinya justru mustahil dipakai sebagai fakta-kenyataan yang sebenarnya (terutama dalam hal-hal gaib dan batiniah). Hal-hal gaib misalnya, relatif amat sulit bisa dijelaskan dengan bahasa manusia sehari-harinya (hanya bisa dengan bahasa agama ataupun keyakinan) dan juga relatif amat sulit bisa dipahami oleh manusia biasa pada umumnya. Maka bagi hal-hal gaib justru hanya bisa dipakai segala contohperumpamaan simbolik, sebagai suatu analogi-pendekatan, agar umat relatif lebih mudah memahaminya secara tidak langsung. Satu-satunya bukti bahwa sesuatu hal berasal dari Allah (tulisan, catatan, ayat, keterangan, ucapan, berita, dsb), mestinya hanyalah karena hal itu ‘benar’ (haq), di manapun tertulis, bagaimanapun caranya disampaikan dan siapapun yang menyampaikannya. Hal itupun biasanya disebut sebagai fakta, kenyataan, dsb. Sedang suatu hal itu sendiri bisa disebut ‘benar’, karena bersifat ‘mutlak’ (pasti terjadi) dan ‘kekal’ (pasti konsisten), walau juga bersifat Maha Halus (amat tidak kentara dan tersembunyi). Serta segala kebenaran ‘mutlak’ memang hanyalah milik Allah. Tentunya hal inipun berbeda daripada ‘benar’ menurut penilaian ‘relatif’ manusia, dan kebenaran ‘relatif’ manusia bisa mendekati kebenaran ‘mutlak’ Allah, jika diperoleh secara ‘amat obyektif’. Ajaran agama Islam mestinya mustahil bersifat ‘mistis-tahayul’ (sama-sekali tidak bisa dijelaskan dengan melalui intuisi-logikanalar akal-sehat manusia). Justru sebaliknya, ajaran agama Islam mestinya sama sekali tidak akan bertentangan dengan akal-sehat manusia (akal yang dipakai secara amat obyektif).

940

PENUTUP

Segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah) di dalam ajaran-ajaran agama Islam mestinya pasti bisa dijelaskan (mudah ataupun sulit dipahami oleh manusia biasa umumnya). Mustahil ada sesuatu hal yang muncul dengan begitu saja sebagai ‘kebenaran-Nya’ di alam semesta, tanpa sesuatupun dalil-alasan. Walaupun kebenaran-Nya pada awalnya memang hanyalah bisa dipahami oleh sejumlah manusia yang berilmu amat tinggi saja, namun setiap manusia lainnya pada dasarnya mestinya juga bisa memahaminya, jika ia mau berusaha keras belajar. Serta pemahaman atas hal-hal gaib dan batiniah memang relatif amat rumit, ataupun relatif hanya bisa dipahami setelah dimiliki cukup banyak pengalaman batiniah-rohani-spiritual. f. Makna dari ayat-ayat Al-Qur’an secara tektual-harfiah mestinya bisa memiliki suatu ‘jarak’ (jauh ataupun dekat) daripada makna yang sebenarnya ‘di balik’ teks ayat-ayat itu (al-Hikmah, hikmah dan hakekat kebenaran-Nya). Setiap pemahaman atau keyakinan batiniah (terutama berupa alHikmah) relatif bisa berbeda daripada setiap hasil pengungkapan lahiriahnya (tulisan, lisan, sikap dan contoh perbuatan). Makna yang sebenarnya dari setiap ayat Al-Qur’an (al-Hikmah) mestinya bersifat universal, sedangkan makna tektual-harfiahnya justru bersifat aktual, tergantung kepada perkembangan keadaan dan budaya umat, saat teks ayat itu disampaikan kepada umat. g. Dalam segala sesuatu halnya setiap umat Islam mestinya ‘tidak berlebihan’ dalam beragama. Setiap umat Islam mestinya tidak memaksakan suatu pemahaman kepada umat Islam lainnya, karena hanya hak Allah Yang Maha mengetahui pemahaman yang paling benar. Segala hal yang ‘berlebihan’ itulah yang telah melahirkan hampir semua aliran-mazhab-golongan di dalam agama Islam, sekaligus telah pula menimbulkan hampir semua perbedaan, pertentangan dan perselisihan antar kalangan umat Islam sendiri. Mestinya umat Islam bisa saling bekerja-sama, agar bisa semakin mendekati berbagai pemahaman al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), seperti yang telah dimiliki oleh Nabi. Juga agar bisa saling berlomba-lomba berbuat amal-kebaikan dan sekaligus pula bisa menghindari segala amal-keburukan (perbuatan dosa).


PENUTUP

941

h. Sebutan ‘orang kafir’ mestinya hanya bisa dibatasi kepada orangorang yang memang keliru tauhidnya (orang yang kafir-musyrik, yang jelas-jelas tampak menyembah ilah-ilah selain Allah). Maka sebutan 'orang kafir' itu mestinya hanya membatasi antara orang-orang yang telah mengucapkan 'dua kalimat syahadat' dan menyakininya, terhadap orang-orang yang tidak. Selain dari kemusyrikan itu, kekafiran justru bisa pula dilakukan oleh umat Islam sendiri, maka kata ‘kafir’ mestinya lebih tertuju kepada sesuatu ‘perbuatan’ (bersifat relatif temporer-sementara) dan bukan kepada ‘orang’ pelakunya (bersifat relatif permanen). Jika label ‘kafir’ itu amat mudah ditujukan kepada ‘orang’, maka akan bisa memiliki pengaruh amat besar bagi orangnya, dan amat mudah memecah-belah umat Islam sendiri. Padahal hampir tidak ada manusia saat ini, yang pribadinya telah sempurna seperti para nabi-Nya, yang relatif telah terbebas dari kesesatan untuk berbuat kekafiran atau melanggar perintah-Nya, yang sebesar biji zarrah sekalipun (amat kecil atau sederhana). Pada kekafiran dari umat Islam sendiri (berbuat dosa-dosa kecil dan besar, selain dari kemusyrikan), maka umat terkait mestinya tidak dianggap sebagai ‘orang kafir’, tetapi Muslim yang sedang tersesat, khilaf ataupun sedang berkurang keimanannya. i. Pernyataan seperti "kembali ke Al-Qur’an dan Hadits" mestinya tidak mudah dipakai, untuk menyembunyikan kurang dimilikinya pemahaman yang cukup memadai atas ajaran-ajaran di dalam AlQur’an dan Hadits itu sendiri, sehingga menjadi suatu pemaksaan untuk kembali ke makna ‘tekstual-harfiah’ semata. Kitab suci Al-Qur’an sama sekali tidak diturunkan-Nya di dalam bentuk ‘teks’, tetapi justru di dalam bentuk segala ‘pemahaman’ Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya) di dalam dadahati-pikiran nabi Muhammad saw, yang telah bisa diperolehnya sambil dituntun oleh malaikat mulia Jibril. Teks-teks wahyu-Nya dalam Al-Qur'an memiliki segala penjelasannya melalui Sunnahsunnah Nabi, tetapi ada pula yang belum sempat dijelaskan oleh Nabi (terutama bagi hal-hal yang relatif amat rumit). 113) Sehingga pernyataan "kembali ke Al-Qur’an dan Hadits" itupun mestinya menjadi "kembali ke makna-makna yang sebenarnya di balik teks-teks Al-Qur’an dan Hadits (makna-makna yang berupa

942

PENUTUP

hikmah dan hakekat kebenaran-Nya)”. j. Umat Islam mestinya tidak perlu saling berselisih tentang "fitnah khaiqil Qur’an" (perselisihan atas bentuk atau wujud Al-Qur’an), karena Al-Qur’an justru memiliki 4 macam bentuk: 1. Al-Qur’an sebagai Fitrah Allah sendiri (sifat-sifat terpuji dan mulia pada Zat Allah), yang hendak ditunjukkan-Nya. Al-Qur’an ini bersifat Maha kekal dan Maha gaib. 2. Al-Qur’an sebagai ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis yang ada di seluruh alam semesta ini (atau tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya), dan sebagai perwujudan dari Fitrah Allah. Al-Qur’an ini bersifat kekal, gaib dan universal. 3. Al-Qur’an sebagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya yang telah dipahami oleh Nabi, dari segala hasil usahanya di dalam mempelajari tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya. Al-Qur’an ini bersifat fana, gaib dan universal. 4. Al-Qur’an sebagai kitab suci Al-Qur’an, yang biasa dikenal umat Islam pada saat ini, yang telah disampaikan oleh Nabi, dari segala hasil rangkuman atas seluruh pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya yang diperolehnya. Al-Qur’an ini bersifat fana, nyata dan aktual. Namun segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah) atau makna yang sebenarnya ‘di balik’ teks ayat-ayatnya justru bersifat universal (melewati batas ruang, waktu dan budaya). Maka pernyataan seperti "Al-Qur’an bersifat qadim (kekal) dan bukan makhluk" dan "Al-Qur’an adalah diciptakan-Nya (bersifat baru)" adalah dua pernyataan yang relatif ‘benar’, namun hanya berbeda sudut pandangnya saja. k. Kelangsungan dan kemuliaan ajaran agama Islam mestinya justru sama sekali tidak tergantung kepada sejarah umat manusia, juga termasuk sejarah para nabi-Nya, para khalifah, para sahabat, para perawi hadits, para ulama terdahulu, para wali, dsb. Agama-Nya yang lurus (terakhir agama Islam) hasil perwujudan Fitrah Allah dalam penciptaan alam semesta ini, sehingga agama Islam justru menyatu dengan alam semesta itu sendiri. Bahkan seluruh para nabi-Nya justru bisa memiliki tauhid yang ‘sama’, yaitu "tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa", dari hasil pemahaman mereka yang amat mendalam atas tanda-


PENUTUP

943

tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini, yang juga ‘sama’. Mestinya tetap usaha umat Islam sendiri pada setiap jamannya, yang bisa menegakkan dan memuliakan setiap kebenaran-Nya di dalam ajaran-ajaran agama Islam. Nilai atau tingkat ‘kebenaran’ dari hal-hal yang disampaikan justru mestinya relatif jauh lebih penting daripada ‘sosok’ para penyampainya. l. Proses perolehan setiap wahyu-Nya pada para nabi-Nya mestinya ‘serupa’ dengan perolehan setiap hikmah dan hidayah-Nya pada manusia biasa umumnya. Bahkan justru ‘serupa’ pula dengan segala usaha setiap manusia setiap saatnya, dalam mempelajari dan mencari solusi atas segala persoalan kehidupannya sehari-hari, dengan memakai akalnya. Perbedaan antar manusia pada dasarnya justru hanya 'perbuatan' dan 'hasil dari perbuatan' yang telah diusahakan masing-masing, di samping pengaruh keadaan lingkungan (lahiriah dan batiniah). Para nabi-Nya justru manusia biasa pada ‘zatnya’ dan juga Allah tidak pilih-kasih hanya kepada para nabi-Nya. Proses diutus-Nya para nabi-Nya justru proses yang amat alamiah, dari usaha yang amatlah keras dan setimpal dalam memahami dan mengamalkan setiap kebenaran-Nya, sampai mereka bisa pula meraih kenabian, yang amatlah sulit bisa dicapai oleh manusia biasa lainnya. m. Dalam beragama mestinya tidak ada suatu ‘kultus individu’ atas sosok dan pribadi segala zat makhluk-Nya (termasuk para nabiNya, para sahabat, para khalifah, para tabiin, para tabiit tabiin, para perawi hadits, para imam, para malaikat, dsb). Proses diutus-Nya para nabi-Nya misalnya, mestinya tidak perlu dianggap sebagai "umat-umat pilihan" secara terlalu berlebihan (tidak perlu dikhultuskan, ditahayulkan, apalagi dipertuhankan), karena prosesnya justru memang berlangsung amatlah alamiah. Padahal Allah Yang Maha Adil justru ‘tidak pilih kasih’ kepada setiap manusia (bahkan termasuk pula para nabi-Nya). Segalanya justru hanya berdasar usaha masing-masing untuk meningkatkan keimanannya (berusaha bisa makin mendalam memahami setiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, sekaligus makin konsisten mengamalkan pemahamannya itu). Juga proses diutus atau dipilih-Nya para nabi-Nya adalah proses yang amatlah alamiah. Sedang dari segi ‘zat’-nya (segala sarana

944

PENUTUP

lahiriah dan batiniahnya), para nabi-Nya adalah ‘manusia biasa’ (memiliki akal dan nafsu; perlu makan dan tidur; berjalan dengan kaki; pergi ke pasar; dsb). Hal yang berbeda hanyalah pada apa yang telah diusahakan oleh setiap manusia, agar bisa meraih berbagai kemuliaannya sendiri, dan bisa mengajarkan orang lain untuk bisa pula meraihnya. Tentunya penghargaan yang sewajarnya mestinya tetap diberikan bagi para nabi-Nya dan para penyampai kebenaran-Nya lainnya. n. Ajaran-ajaran agama Islam mestinya bersifat ‘universal’, maka hasil pemahaman atas ajarannya mestinya bisa dipakai kapanpun, di manapun dan oleh siapapun, jika telah bisa dipahami berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalamnya (al-Hikmah). Dari berbagai pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, maka umat Islam pada setiap jamannya (melalui Majelis ulama) mestinya terus-menerus berijtihad mencari penerapan aktual bagi setiap aturan syariat, agar sesuai tantangan dan persoalan umat. Hal inipun bukan “syariat mengikuti keinginan manusia”, tetapi justru “syariat dan manusia mengikuti kebenaran-Nya”. o. Agama-Nya yang lurus dan terakhir (Islam) mestinya selaras dan mengikuti irama alam semesta (bukan irama keinginan manusia), karena diciptakan-Nya seluruh alam semesta ini dan diturunkanNya agama-Nya yang lurus adalah perwujudan dari Fitrah Allah. Agama Islam mestinya memang bersifat amat alamiah, dan juga mestinya sesuai dengan "fitrah dasar manusia yang sebenarnya" (murni-suci-mulia), bahkan setiap umat Islam mestinya juga bisa menjaga keseimbangan alam semesta (bisa menjadi “rahmatan lil alamin” atau “rahmat bagi alam semesta”). p. Segala amal-ibadah yang telah disyariatkan dalam ajaran-ajaran agama Islam, mestinya bertujuan utama untuk bisa membentuk berbagai pengalaman rohani-batiniah-spiritual, pada setiap umat Islam yang mengamalkannya. Sehingga secara langsung ataupun perlahan-lahan umat mestinya justru merasakan atau memahami nilai-nilai batiniah di balik segala amal-ibadah itu. Dari pemahaman atas berbagai nilai batiniah itulah mestinya bisa membentuk berbagai macam akhlak dan kebiasaan terpuji, dalam kehidupan sehari-hari setiap umat. Hal inilah yang biasa disebut pula sebagai usaha pembangunan kehidupan akhirat (kehidupan


PENUTUP

945

batiniah ruh), mensucikan atau membersihkan ruh, dsb. Dan kehidupan akhirat yang dibangun oleh setiap umat selama di kehidupan dunia ini pasti akan disempurnakan-Nya, dan atas ijinNya, pasti akan kekal bersama zat ruhnya setelah Hari Kiamat. q. Para alim-ulama sebagai pewaris tugas dan ajaran para nabi-Nya, secara bersama-sama melalui majelis alim-ulama, mestinya bisa mengungkap dan memahami hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah), ‘di balik’ teks ajaran-ajaran agama Islam (al-Kitab), secara relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan. Setelah jaman para nabi-Nya, usaha seperti itu secara manusiawi hampir mustahil bisa dicapai melalui pengetahuan pada seorang ataupun beberapa orang alim-ulama saja, sedangkan jaman terusmenerus makin berkembang, serta amat luasnya cakupan segala bidang ilmu-pengetahuan dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi. Berbagai al-Hikmah yang berupa pemahaman terhadap nilai-nilai batiniah di dalam setiap ketentuan atau hukum syariat, yang juga bentuknya amat jelas sekalipun (seperti shalat, puasa, haji, dsb), justru belum benar-benar dipahami oleh sebagian besar umat. Ketidak-pahaman inilah yang justru membentuk jarak perbedaan antara pelaksanaan setiap amal-ibadah terhadap sikap atau akhlak setiap umat Islam dalam kehidupannya sehari-hari. Tanpa dipahaminya segala al-Hikmah terkait yang pada dasarnya justru bersifat ‘universal’, maka sebagian ajaran-ajaran agamaNya (termasuk hasil ijtihad dari para alim-ulama dalam Majelis ulama), hampir pasti mustahil bisa tetap bersifat praktis-aplikatif dan aktual sampai akhir jaman. Pembukuan al-Hikmah, yang bersifat mendalam, lengkap, rumit dan universal, sebagai bentuk pengajaran bagi umat-umat yang berilmu, mestinya bisa dipisahkan daripada pembukuan al-Kitab (termasuk Hadits dan Ijtihad), yang bersifat sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual, sebagai tuntunan bagi seluruh umat manusia, sesuai keadaan dan perkembangan jamannya. Penulisan setiap hasil ijtihad misalnya, mestinya ada disertai pula dengan catatan riwayat kelahiran atau perubahannya, khususnya waktu, setiap keadaan terkait dan tentunya setiap dalil-alasannya. Sedang penulisan setiap al-Hikmah, cukup hanya disertai dengan

946

PENUTUP

segala dalil-alasannya (dalil naqli dan dalil aqli). r. Kitab suci Al-Qur’an (ataupun kitab-kitab-Nya lainnya) mestinya ditempatkan pada tempat atau konteks yang semestinya, antara lain misalnya: 1. Sebagai dasar paling tinggi ajaran agama Islam, kitab suci alQur'an mestinya dijadikan patokan yang paling utama. Dasar ajaran lainnya, yaitu Sunnah-sunnah Nabi (atau Hadits-hadits Nabi) dan segala hasil Ijtihad para alim-ulama (Ijma’, Qiyas, Istihsan, Fatwa, dsb), mestinya masing-masing secara terurut berada di bawah Al-Qur'an. Jika ada isi hadits Nabi misalnya, yang bertentangan dengan al-Hikmah dalam Al-Qur'an, maka hadits Nabi itu mestinya diragukan kebenarannya, ataupun dinyatakan sebagai ‘hadits palsu’. Penilaian ini amat tidak cukup, hanya dengan menilai sifat atau pribadi para perawi hadits-haditsnya. Apalagi amat mudah menisbatkan ataupun mengatas-namakan suatu hadits kepada seorang perawi, yang sekaligus relatif sulit diperiksa. Begitu pula dasar-dasar ajaran lainnya, yang mestinya selalu mengacu ataupun berpatokan kepada dasar-dasar ajaran, yang lebih tinggi tingkatannya, terutama pada tataran pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah). 2. Usaha memuliakan dan mengamalkan kitab suci Al-Qur'an mestinya tetap dilakukan secara benar, tepat, wajar ataupun proporsional. Segala isi kitab suci Al-Qur'an memang sabda ataupun firman Allah, yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada nabi Muhammad saw, lalu Nabi menyampaikannya kepada seluruh umat manusia. Namun umat (terutama para alim-ulamanya) mestinya makin bisa memahami, misalnya: - Bagaimana cara Allah berkehendak dan berbuat di alam semesta ini?; - Apa bentuk-bentuk dari sabda, firman, kalam atau wahyu Allah (dari bentuk awal yang sebenarnya, sampai bentuk akhirnya yang diterima oleh umat)?; - Apa hakekat dari kebenaran-Nya, pengetahuan-Nya, ayatayat-Nya, ataupun tanda-tanda kekuasaan-Nya?; - Apa hakekat dari malaikat Jibril itu?; - Bagaimana cara dipilih dan diutus-Nya para nabi-Nya?;


PENUTUP

947

- Bagaimana cara wahyu-Nya bisa sampai kepada malaikat Jibril, para nabi-Nya, dan kepada umat para nabi-Nya?; - Apa hakekat dan tujuan diturunkan-Nya agama dan kitabNya?; dsb; Hal-hal di atas perlu dipahami, agar usaha memuliakan dan mengamalkan al-Qur'an makin bisa dilakukan secara benar. Dan semua jawabannya relatif telah cukup memadai dibahas dan diungkap dalam bab-bab pembahasan pada buku ini. 3. Kitab suci al-Qur'an mestinya selalu dijaga keotentikannya, dan dihindari dari usaha dekonstruksi dan desakralisasi. Kitab suci al-Qur'an adalah sumber pengajaran dan tuntunanNya yang paling lengkap, sempurna dan tak-ternilai harganya walaupun umat justru bisa memahaminya dengan cara yang berbeda-beda, sesuai tingkat pemahamannya masing-masing. Perbedaan seperti ini adalah suatu bentuk kekayaan rahmatNya. Hanya hak Allah, Yang Maha mengetahui pemahaman yang paling benar. Namun rahmat-Nya hampir pasti akan amat jauh berkurang, apabila perbedaan umat disebabkan oleh perbedaan kitab suci al-Qur'an yang masing-masing dipakai. Seperti halnya yang telah terjadi pada agama lain yang memiliki beberapa kitab suci, yang sedikit-banyak berbeda-beda isinya, tetapi dengan nama-nama dasar kitab sucinya relatif sama. 4. Kitab suci Al-Qur'an sebagai kitab yang terakhir diturunkanNya, mestinya dipahami dengan tepat posisi keberadaannya di antara kitab-kitab-Nya lainnya (Jabur, Taurat dan Injil). Terutama dengan memahami perbedaan dan kesamaan antara kitab-kitab-Nya itu dan bagaimana cara diturunkan-Nya, juga termasuk dengan memahami perbedaan dan kesamaan antara para nabi-Nya. Hal ini diperlukan agar pemahaman tentang kitab-kitab-Nya dan para nabi-Nya, bisa makin tepat dan proporsional. Bukan hanya berupa pemahaman yang sepihak dari masing-masing penganutnya. Dan pada puncaknya, agar umat Islam sendiri juga bisa makin meyakini kitab suci Al-Qur'an. Pada akhirnya, semuanya terpulang kembali kepada keyakinan batiniah setiap umat, agar bisa memilih pemahaman yang dianggapnya

948

PENUTUP

paling mendekati hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, di dalam setiap ajaran agama Islam, sesuai keadaan, kemampuan dan pengetahuannya masing-masing, sebagai sesuatu bentuk kekayaan rahmat-Nya. Asalkan setiap umat Islam tidaklah berbuat hal-hal yang terlalu berlebihan ataupun melampaui batas dalam beragama, termasuk tetap menempatkan segala sesuatu hal sebagaimana mestinya (seperti yang diungkap di atas). Segala sesuatu yang berlebihan dalam pemahaman atas setiap kebenaran-Nya dalam ajaran-ajaran agama-Nya, justru juga termasuk suatu bentuk kezaliman secara batiniah (menyesatkan umat). "Katakanlah: `Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Rabb-kami dan Rabb-kamu, bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati," - (QS.2:139) "wajib atasku (Musa, untuk) tidak mengatakan sesuatu tentang Allah, kecuali yang hak (benar). ‌." - (QS.7:105) "Sesungguhnya, syaitan itu hanya menyuruh kamu, untuk berbuat jahat dan keji. Dan (menyuruh kamu) mengatakan tentang Allah, apa yang tidak kamu ketahui." - (QS.2:169) Setiap pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (atau al-Hikmah) mestinya disampaikan secara amat arif-bijaksana kepada umat-umat yang awam, karena setiap pemahaman al-Hikmah inipun relatif amat berbeda daripada hal-hal yang umumnya mereka pahami langsung dari ‘teks-teks’ ajaran agama Islam. Sehingga penyampaian al-Hikmah relatif mudah melahirkan berbagai fitnah di kalangan umat. Akan lebih baik lagi apabila setiap pemahaman al-Hikmah itu bisa disampaikan langsung ke dalam bentuk pengajaran dan tuntunanNya yang telah bersifat relatif sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual (ke dalam bentuk hasil ijtihadnya). Adapun penulisan dan penyampaian al-Hikmah pada buku ini justru relatif ‘terpaksa’ pula dilakukan secara langsung, karena adanya berbagai hal yang telah cukup memaksa. Termasuk pula karena setiap penyampaian al-Hikmah (sebagai hasil pembahasan dari ilmu tauhid, ilmu kalam atau ilmu ushuluddin) oleh para alim-ulama dari berbagai aliran-mazhab-golongan pada kalangan umat Islam, hampir tidak ada yang dianggap bisa menjawab segala sesuatu halnya (terutama dasardasar aqidah Islam), secara tuntas dan memuaskan. Bahkan hal-hal ini tetap terus menjadi polemik dan kontroversi, sejak dari jaman dahulu (sejak setelah wafatnya nabi Muhammad saw), sampai saat ini, seperti


PENUTUP

949

diungkap di Lampiran D (perbandingan aliran-aliran teologi Islam). Penyampaian al-Hikmah pada buku inipun sekaligus bertujuan agar semaksimal mungkin bisa menghilangkan segala ‘mistis-tahayul’ (tanpa suatupun dalil-alasan yang bisa diterima oleh akal sehat), yang justru juga telah amat banyak berkembang dalam kehidupan beragama umat Islam. Hal yang penting diketahui, bahwa segala bentuk pemahaman (termasuk pada buku ini), hanyalah sebagian saja dari keimanan yang utuh, karena hanyalah aspek batiniah saja. Sedang keimanan mestinya disertai pula dengan pengamalannya (aspek lahiriah) secara konsisten, melalui berbagai bentuk amal-ibadah, beserta berbagai akhlak, budipekerti dan kebiasaan positif, dalam kehidupan sehari-harinya. Penyempurnaan akhlak umat manusia itulah, hal yang menjadi tujuan utama diutus-Nya nabi besar Muhammad saw, karena segala ‘akhlak terpuji’ adalah puncak terakhir dari segala hasil amal-ibadah yang dilakukan oleh setiap umat Islam, agar bisa mencapai kehidupan akhiratnya yang jauh lebih baik (kehidupan batiniah ruhnya), di dunia fana ini ataupun di Hari Kiamat (kekal dan telah disempurnakan-Nya). Dan akhirnya, seperti halnya do’a Imam Al-Ghazali "kumohon Anda bersedia memohonkan ampunan bagiku, daripada tersesatnya pena dan tergelincirnya kakiku. Karena keberanian untuk mengarungi lautan rahasia-rahasia Ilahi, adalah sesuatu tindakan yang relatif amat berbahaya. Usaha untuk bisa menyingkap cahaya-cahaya di persada tinggi, di balik berbagai ‘hijab’, adalah langkah yang tidaklah mudah. Segala puji bagi Allah Rabbul 'Alamin, dan shalawat untuk Sayyidina Muhammad beserta keluarganya yang baik-baik dan tersucikan.". "Ya Rabb-kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan (Al-Qur`an), dan telah kami ikuti Rasul (Muhammad), karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran segala kandungan isi Al-Qur`an)." - (QS.3:53) "Dan apabila mereka (para ahli kitab) mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (dalam Al-Qur`an), yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri). Seraya berkata: `Ya Rabb-kami, kami telah beriman, maka catatkanlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran segala kandungan isi Al-Qur`an)." - (QS.5:83)


DAFTAR PUSTAKA

951

DAFTAR PUSTAKA Departemen Agama RI, "Al-Qur’an dan terjemahnya", PT K. Grafindo, Semarang, 1994. Harun Nasution, Prof.Dr., "Teologi Islam: Aliran-aliran, sejarah analisa perbandingan", UI-Press, Jakarta, 1986. H. Mahmud Yunus, Prof.Dr., "Tafsir Quran Karim", PT MY. Wadzuryah, Jakarta, 2006. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, "Qadla dan Qadar: Ulasan tuntas masalah takdir", Pustaka Azzam, 2006. Idrus H. Alkaf, "Ihtisar hadits: Shahih Bukhari", CV Karya utama, Surabaya. Imam Al-Ghazali, "Ihya’ Ulumiddin", Jilid 8, CV Asy syifa’, Semarang, 2003. Imam Al-Ghazali, "Misykat cahaya-cahaya", Mizan, Bandung, 1993. Imam Al-Ghazali, "Mutiara Ihya’ Ulumuddin", Mizan, Bandung, 2001. K.H.Q. Shaleh, H.A.A. Dahlan, dkk, "Asbabun Nuzul: Latar-belakang turunnya ayat-ayat Al-Qur’an", Edisi kedua, CV Penerbit Diponegoro, Bandung, 2007. Khan Sahib Khaja Khan, "Cakrawala Tasawuf", Rajawali Press, Jakarta, 1987. Muhammad Faiz Almath, Dr., "1100 hadits terpilih: Sinar ajaran Muhammad", Gema Insani, Jakarta, 1991. Mustofa Muhammad Asy Syak’ah, Dr., "Islam tidak bermazhab", Gema Insani Press, Jakarta, 1994. Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, "Ensiklopedia Islam AL-KAMIL", Darus Sunnah, Jakarta, 2007. Syamsul Rijal Hamid, "Buku pintar agama Islam", Cahaya Salam, Bogor, 2005. Widjiono Wasis, "Almanak jagad raya", Dian Rakyat, Jakarta, 1991.


Lampiran A: Daftar nama terbaik Allah (Asmaul Husna)

953

Lampiran A: Daftar nama terbaik Allah (Asmaul Husna) Daftar nama terbaik Allah (Asmaul Husna) No

Nama

Keterangan

954

Lampiran A: Daftar nama terbaik Allah (Asmaul Husna)

32

Al-Khabiir

Yang Maha Memberi Kabar

33

Al-Haliim

Yang Maha Penyantun

34

Al-'Adhiim

Yang Maha Agung

35

Al-Ghafuur

Yang Maha Pengampun

36

Asy-Syakuur

Yang Maha Menerima Syukur

1

Rabb

Yang Maha Memiliki

37

Al-'Aliyy

Yang Maha Tinggi

2

Ar-Rahmaan

Yang Maha Pengasih dan Pemurah

38

Al-Kabiir

Yang Maha Besar

Al-Hafiidh

Yang Maha Menjaga

3

Ar-Rahiim

Yang Maha Penyayang

39

4

Al-Maalik

Yang Maha Menguasai dan Memiliki

40

Al-Muqiit

Yang Maha Memberi Kekuatan

5

Al-Quddus

Yang Maha Suci

41

Al-Hasiib

Yang Maha Menghisab

6

As-Salam

Yang Maha Memberi Keselamatan dan Kesejahteraan

42

Al-Jaliil

Yang Maha Luhur

7

Al-Mu'min

Yang Maha Memberi Keamanan

43

Al-Kariim

Yang Maha Mulia

8

Al-Muhaimin

Yang Maha Memelihara

44

Ar-Raqiib

Yang Maha Membaca Rahasia

9

Al-'Aziz

Yang Maha Kuasa

45

Al-Mujiib

Yang Maha Memperkenankan Do’a

Al-Waasi'

Yang Maha Memperluas

10

Al-Jabbaar

Yang Maha Perkasa

46

11

Al-Mutakabbir

Yang Maha Memiliki Kebesaran

47

Al-Hakiim

Yang Maha Bijaksana

12

Al-Khaaliq

Yang Maha Pencipta

48

Al-Waduud

Yang Maha Memberi Kesejukan

13

Al-Baari'

Yang Maha Mengadakan

49

Al-Majiid

Yang Maha Mulia

14

Al-Mushawwir

Yang Maha Membentuk rupa

50

Al-Baa'its

Yang Maha Membangkitkan

15

Al-Ghaffaar

Yang Maha Pengampun

51

Asy-Syahiid

Yang Maha Menyaksikan

Al-Haqq

Yang Maha Benar

16

Al-Qahhar

Yang Maha Perkasa

52

17

Al-Wahhaab

Yang Maha Memberi Karunia

53

Al-Wakiil

Yang Maha Mewakili

18

Ar-Razzaq

Yang Maha Memberi Rejeki

54

Al-Qawiy

Yang Maha Kuat

19

Al-Fattaah

Yang Maha Pembuka

55

Al-Matiin

Yang Maha Kokoh

20

Al-'Aliim

Yang Maha Mengetahui

56

Al-Waliy

Yang Maha Melindungi

21

Al-Qaabidl

Yang Maha Menyempitkan

57

Al-Hamiid

Yang Maha Terpuji

22

Al-Baasith

Yang Maha Memperluas

58

Al-Muhshy

Yang Maha Menghitung

Al-Mubdi'

Yang Maha Memulai

23

Al-Khaafidl

Yang Maha Merendahkan

59

24

Ar-Raafi'

Yang Maha Mengangkat derajat

60

Al-Mu'iid

Yang Maha Mengembalikan

25

Al-Mu'izz

Yang Maha Memuliakan

61

Al-Muhyi

Yang Maha Menghidupkan

26

Al-Mudzill

Yang Maha Menghinakan

62

Al-Mumiit

Yang Maha Mematikan

27

As-Saami'

Yang Maha Mendengar

63

Al-Hayy

Yang Maha Hidup

28

Al-Bashir

Yang Maha Melihat

64

Al-Qayyuum

Yang Maha Berdiri Sendiri

Al-Waajid

Yang Maha Menemukan

29

Al-Hakam

Yang Maha Bijaksana

65

30

Al-'Adl

Yang Maha Adil

66

Al-Maajid

Yang Maha Mulia

31

Al-Lathiif

Yang Maha Halus

67

Al-Wahiid

Yang Maha Esa


Lampiran A: Daftar nama terbaik Allah (Asmaul Husna)

68

As-Shamad

Yang Maha Tidak bergantung

69

Al-Ahaad

Yang Maha Esa

70

Al-Qadiir

Yang Maha Menentukan

71

Al-Muqtadir

Yang Maha Kuasa

72

Al-Muqaddim

Yang Maha Mendahulukan

73

Al-Muakhkhir

Yang Maha Mengemudiankan

74

Al-Awwal

Yang Maha Awal

75

Al-Aakhir

Yang Maha Akhir

76

Az-Zhahir

Yang Maha Nyata

77

Al-Baathin

Yang Maha Gaib

78

Al-Waaliy

Yang Maha Melindungi

79

Al-Muta'aaliy

Yang Maha Meninggikan

80

Al-Barr

Yang Maha Dermawan

81

At-Tawwaab

Yang Maha Menerima Taubat

82

Al-Muntaqim

Yang Maha Memberi Balasan

83

Al-'Afuww

Yang Maha Pengampun

84

Ar-Ra'uuf

Yang Maha Melimpahkan Kasih Sayang

85

Maalikul Mulki

Yang Maha Memiliki Kerajaan

86

Dzul Jallali wal Ikram

Yang Maha Memiliki Kemuliaan dan Kemurahan

87

Al-Muqsith

Yang Maha Adil

88

Al-Jaami'

Yang Maha Mengumpulkan

89

Al-Ghaniy

Yang Maha Kaya

90

Al-Mughnii

Yang Maha Memberi Kekayaan

91

Al-Maani'

Yang Maha Menghalangi

92

Adh-Dhaarr

Yang Maha Memberi Hukuman

93

An-Naafi'

Yang Maha Memberi Kemanfaatan

94

An-Nuur

Yang Maha Penerang

95

Al-Haadii

Yang Maha Memberi Hidayah

96

Al-Badii'

Yang Maha Pencipta Keindahan

97

Al-Baaqii

Yang Maha Kekal

98

Al-Waarits

Yang Maha Pewaris

99

Ar-Rasyiid

Yang Maha Pintar

100

Ash-Shabuur

Yang Maha Penyabar

101

Al-Muhiith

Yang Maha Menguasai

102

Adh-Dhahir

Yang Maha Menjelaskan

103

Adz-Dzuntiqaam

Yang Maha Menetapkan Pembalasan

955

956

Lampiran A: Daftar nama terbaik Allah (Asmaul Husna)

Ada sebagian dari umat Islam yang membedakan antara namanama terbaik Allah (Asmaul Husna) pada tabel di atas, terhadap sifatsifat wajib Allah pada tabel di bawah. Namun dalam buku ini, ‘nama’ dan ‘sifat’ Allah dianggap dua hal yang sama. Adapun sifat-sifat Allah yang dimaksud, adalah sebagai berikut:

Sifat-sifat Allah No

Wajib

Mustahil

1

Wujud (ada)

‘Adam (tiada)

2

Qidam (paling awal)

Huduts (ada yang mendahului)

3

Baqa (kekal / abadi)

Fana (berakhir)

4

Mukhalafatu lil hawaditsi (berbeda dengan segala makhluk / sesuatu)

Mumatsalatu lil hawaditsi (ada yang menyamai)

5

Qiyamuhu binafsihi (berdiri sendiri)

Ihtiyaju lighairihi (butuh yang lain)

6

Wahdaniyat (Esa / tunggal)

Ta’adud (terbilang)

7

Qudrat (kuasa)

‘Ajzun (lemah)

8

Iradat (berkehendak)

Karahah (terpaksa)

9

ilmu (Maha mengetahui)

Jahlun (bodoh)

10

Hayat (hidup)

Mautun (mati)

11

Sama’ (Maha mendengar)

Shamamun (tuli)

12

Bashar (Maha melihat)

‘Ama (buta)

13

Kalam (berfirman)

Bakamun (bisu)

14

Qadiran (Zat Yang Maha berkuasa)

Kaunuhu ‘ajihan (zat yang lemah)

15

Muridan (Zat Yang Maha berkehendak)

Kaunuhu kahiran (zat yang terpaksa)

16

‘Aliman (Zat Yang Maha mengetahui)

Kaunuhu jahilan (zat yang bodoh)

17

Hayyan (Zat Yang hidup)

Mayyitan (zat yang mati)

18

Sami’an (Zat Yang Maha mendengar)

Kaunuhu ashamma (zat yang tuli)

19

Bashiran (Zat Yang Maha melihat)

Kaunuhu ‘ama (zat yang buta)

20

Mutakalliman (Zat Yang berfirman)

Kaunuhu abkama (zat yang bisu)


Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

957

Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah (tidak diurut menurut abjad, tetapi menurut keterkaitan isi kandungannya)

Daftar istilah dan keterangannya Zat Allah

"Zat" Allah Yang Maha Gaib mustahil mampu dipahami dan dijangkau oleh manusia (dengan alat-alat indera lahiriah dan batiniahnya). Hal yang relatif serupa juga terjadi atas "zat-zat" ruh makhluk ciptaan-Nya (makhluk nyata dan gaib). Walaupun tentang "zat" ruh para makhluk gaib, ada sebagiannya yang telah bisa diungkap oleh sejumlah para nabi-Nya (telah bisa mengetahui "wujud asli" mereka), walaupun hanya dalam bentuk segala ‘suara bisikan’ mereka pada alam batiniah ruh para nabi-Nya, melalui interaksi terang-terangan, dan bukan melalui interaksi terselubung seperti biasanya terjadi tiap saatnya dengan tiap manusia. Sedang ‘zat’ Allah Yang Maha Suci, tersucikan dari segala sesuatu hal (sama sekali tersucikan dari alat-alat indera lahiriah dan batiniah pada segala zat makhluk-Nya). Hakekat zat-zat gaib itu bahkan tidak akan bisa dijelaskan dengan teori-teori ilmu filsafat buatan manusia, karena ilmu filsafat hanya memakai bahasa dunia intuisinalar-logika manusia semata, atau bahasa sehari-hari dalam kehidupan manusia. Sedang bahasa ilmu filsafat pada dasarnya bahasa untuk alam nyata (atau bersifat materialistik), bukan bahasa untuk hal-hal gaib. Hal-hal gaib hanya bisa sesuai dijelaskan memakai bahasa agama, yang justru memerlukan keimanan atau keyakinan batiniah. Bahkan dalam Al-Qur’an, sifat-sifat-Nya yang terkait secara ‘tidak langsung’ tentang ‘zat’ Allah, ‘hanya’ antara lain: Ada (wujud), Maha Esa, Maha gaib (atau Maha tersembunyi), Maha kekal, Maha awal, Maha akhir dan Maha hidup. ‘Sifat’ sesuatu zat adalah segala sesuatu hal tentang zat itu (‘esensi’ dan ‘tindakan’ zatnya, secara lahiriah dan batiniah), yang telah bisa diketahui, dipahami atau dijelaskan oleh sesuatu selain zat itu sendiri. Sedang sifat ‘wujud’ adalah sifat paling dasar dari sesuatu zat, yang terkait ‘ada’ ataupun ‘tidak adanya’ zat itu sendiri (dari adanya ‘esensi’ ataupun ‘tindakan’-nya). Bahkan sekali lagi, sifat-sifat-Nya di atas yang terkait dengan ‘zat’ Allah, juga sama sekali tidak berkaitan langsung dengan ‘esensi’ dari zat Allah itu sendiri, yang memang berwujud Maha gaib. Hal yang masih bisa dipahami manusia tentang Allah adalah hakekat wujud zat Allah (disebut pula sebagai Fitrah Allah atau sifat-sifat terpuji Allah), dengan cara mempelajari berbagai hasil perwujudan secara lahiriah dan batiniah, dari segala ‘tindakan’ zat Allah di alam semesta ini. Hal ini berupa segala kejadian yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’ pada segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini, yang juga disebut sebagai “tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya”, “ayat-ayat-Nya yang tak-tertu-lis”, “wajah-Nya”, “firman, kalam atau wahyu-Nya yang sebenarnya”, “AlQur'an berwujud gaib yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi ‘ArsyNya” dan “segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta”. Sederhananya, sifat-sifat Zat Allah pasti amat berbeda daripada sifat-sifat segala

958

Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

zat ciptaan-Nya (termasuk segala zat makhluk-Nya, seperti: manusia, para makhluk gaib, dsb). Seperti halnya, mustahil ada robot yang persis sama dengan manusia pembuatnya atau mustahil ada suatu zat ciptaan yang persis sama dengan Penciptanya sendiri. Adanya beberapa sifat-sifat-Nya pada Asmaul Husna, yang ‘menyerupai’ sifat-sifat manusia, karena pada dasarnya berupa gambaran manusia dari hasil pemahaman manusia tentang Allah (dalam hal ini pemahamannya nabi Muhammad saw), yang juga tentunya memang hanya bisa digambarkannya memakai bahasa manusia. Sedang perwujudan yang sebenarnya dari sifat-sifat-Nya justru amat berbeda daripada sifat-sifat manusia. Misalnya sifat-sifat-Nya Maha melihat dan Maha mendengar pada dasarnya juga relatif sama dengan sifat-Nya Maha mengetahui, justru bukan karena Allah memiliki ‘mata’ dan ‘telinga’ seperti pada manusia. Juga Allah memiliki firman-Nya justru bukan karena Allah memiliki ‘mulut’ seperti pada manusia. Wajah-Nya / Tanda-tanda kekuasaan-Nya / Tanda-tanda kebesaran-Nya / Tanda-tanda kemuliaan-Nya

Segala sesuatu hal yang bersifat ‘mutlak’ (pasti terjadi) dan ‘kekal’ (pasti konsisten), pada segala zat ciptaan-Nya dan segala proses kejadian di seluruh alam semesta ini (lahiriah-nyata atau batiniah-gaib, makhluk hidup atau benda mati, dsb). “Tanda-tanda kekuasaan-Nya” ini juga biasa disebut sebagai “ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis”, “segala kebenaran atau pengetahuan-Nya”, “firman, kalam atau wahyuNya yang sebenarnya”, “Al-Qur’an berwujud gaib, yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi ‘Arsy-Nya” dan “wajah-Nya”. Berbagai sebutan ini pada dasarnya suatu hal yang sama, hanya berbeda konteks pemakaian masing-masingnya saja. Maka kemanapun manusia menghadap (secara lahiriah dan batiniah), ia justru semestinya pasti bisa melihat atau menyaksikan “wajah-Nya”. Makna istilah "wajah-Nya" tidak ada hubungan sama-sekali dengan wujud, sosok atau esensi "zat" Allah. Lebih tepatnya berupa tanda-tanda yang diciptakan-Nya, agar manusia bisa mengenal Sang Penciptanya atau memahami sifat-sifat-Nya. Segala tindakan-Nya dalam menciptakan seluruh alam semesta ini dan segala isinya, adalah perwujudan dari Fitrah Allah (sifat-sifat yang terpuji dan mulia pada zat Allah yang tergambar pada Asmaul Husna), seperti yang disebut pada surat ARRUUM ayat 30 (QS.30:30). Fitrah Allah / Sifat Allah / Nama Allah / Wujud zat Allah

Berbagai sifat-Nya yang tergambar pada nama-nama yang terbaik, yang hanya milik Allah (Asmaul Husna), bisa dipahami oleh manusia dengan mempelajari tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini (wajah-Nya). Dalam buku ini, ‘sifat’ Allah dan ‘nama’ Allah dianggap sesuatu hal yang sama.


Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

959

Segala tindakan-Nya dalam menciptakan seluruh alam semesta itu sendiri adalah perwujudan dari Fitrah Allah (pada QS.30:30). Maka manusia hanya bisa mengenal sifat-sifat Allah, Yang telah menciptakannya, dengan memahami "segala tindakanNya" di seluruh alam semesta ini (segala proses kejadian lahiriah dan batiniah, yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’ pada segala zat ciptaan-Nya). Dengan ke-Maha Luas-an segala zat ciptaan-Nya, maka pengungkapan atas sifatsifat-Nya juga bisa dilakukan dengan cara yang relatif amat berragam. Karena itulah relatif amat sedikit buku yang khusus membahas secara mendalam tentang Asmaul Husna, dan biasanya buku-buku itupun hanya memuat daftar Asmaul Husna saja. Juga tentunya pemahaman atas sifat-sifat-Nya adalah pemahaman tertinggi yang bisa dicapai oleh umat manusia (relatif hanya dimiliki oleh para nabi-Nya) Dalam pembahasan buku ini pengungkapan atas sifat-sifat-Nya juga tidak dilakukan secara khusus, tetapi hanya secara kebetulan dan mengalir bersama pembahasan itu sendiri (terutama pada topik "Sunatullah"). Dan istilah "Wujud zat Allah" lebih tepat diterjemahkan sebagai "perwujudan dari segala tindakan zat Allah di alam semesta ini". Jadi bukan "wujud" sebagai "rupa, sosok atau esensi" dari zat Allah, karena zat Allah memang bersifat Maha gaib. Sedang dari pemahaman atas berbagai tindakan-Nya di alam semesta, tentunya lalu bisa diketahui berbagai kehendak-Nya bagi alam semesta, lalu selanjutnya bisa diketahui berbagai sifat-Nya dalam berbuat di alam semesta. ‘Arsy-Nya / Sisi-Nya / Hadirat-Nya / Hadapan-Nya

‘Simbol’ bagi tempat keberadaan Allah pada alam batiniah ruh ‘tiap’ zat makhlukNya (alam akhiratnya), yang amat sangat agung dan mulia, juga sekaligus sebagai ‘simbol’ bagi tempat keberadaan atau tercatatnya segala kebenaran-Nya di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), yang berupa kitab mulia (Lauh Mahfuzh). ‘Arsy-Nya bukan tempat keberadaan ‘zat’ Allah yang sebenarnya. "Zat" Allah Yang Maha Suci tersucikan dari segala sesuatu hal (sama sekali tersucikan dari alat-alat indera lahiriah dan batiniah pada segala zat makhluk-Nya). Ringkasnya, Allah berada di dalam hati-sanubari tiap zat makhluk-Nya (berupa pemahaman tentang Allah, lebih tepatnya lagi tentang berbagai kebenaran-Nya). ‘Arsy-Nya hanya bisa "didekati" oleh hamba-hamba-Nya yang telah diberikan-Nya kemuliaan amat tinggi (seperti para nabi-Nya), namun tiap manusia mustahil bisa "meraih atau mencapainya" (hanya bisa ‘amat dekat’). Jarak paling dekat ke sisi ‘Arsy-Nya (tingkat keimanan tertinggi), yang bisa dicapai oleh umat manusia atas “sesuatu hal tertentu”, di dalam teori ilmu-pengetahuan modern, disebut jarak alpha (α). Hal ini berupa pencapaian pemahaman atas tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah) sebagai suatu tingkat pemahaman tertinggi yang bisa dicapai atas “sesuatu hal tertentu”, secara amat obyektif dan mendalam. Dari jarak alpha ini sampai ke ‘Arsy-Nya, disebut sebagai ‘God Spot’ (kesadaran tentang Tuhan). Tingkat keimanan yang amat tinggi dan utuh, terdiri dari aspek pengetahuan atau pemahaman yang amat mendalam atas berbagai kebenaran-Nya dan aspek peng-

960

Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

amalan yang amat konsisten atas segala pemahamannya itu, yang berupa pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah, cahaya kebenaran-Nya atau petunjuk-Nya), yang telah bisa dicapai oleh umat-umat yang dikehendaki-Nya. Sehingga umat-umat itu telah bisa memahami dengan amat terang, atas berbagai hakekat kejadian di alam semesta ini. Hal inipun menimbulkan suatu kenikmatan yang relatif luar biasa bagi mereka, yang relatif amat sulit pula diungkapkan. Mereka juga justru "amat terlalu silau" terhadap cahaya kebenaran-Nya yang telah dipahaminya, maka terkadang ada sebagian dari mereka yang merasa telah "menyatu dengan Allah" (Wahdat-ul-Wujud), padahal tidak, bahkan mustahil terjadi. Disebut ‘mustahil’, karena tiap umat manusia pada dasarnya hanya bisa memahami ‘fenomena umum’ secara lahiriah dan batiniah, atas berbagai kejadian di alam semesta ini, dan bukan mengetahui proses detail dari kejadian-kejadian itu, termasuk mustahil bisa mengetahui secara detail semua ‘zat’, yang ikut terlibat dalam prosesproses kejadian itu. Juga sesuatu zat ciptaan mustahil bisa sebanding, setara ataupun sama dengan Penciptanya. Paling-paling hanya karena zat ciptaan itu memang sengaja diciptakan sedemikian canggih, sehingga bisa relatif ‘amat mengenal’ Penciptanya. Tentunya ‘mustahil’, karena ‘Arsy-Nya justru tidak terkait sama sekali dengan ‘Zat’ Allah sendiri, seperti yang disebut di atas. Jadi ‘kedekatan’ antara Allah dan tiap makhluk-Nya pada dasarnya hanya berupa tingkat ‘kedalaman’ pengetahuan atau pemahaman makhluk-Nya itu, atas berbagai kebenaran-Nya (lahiriah dan batiniah), dengan menggunakan ‘akal-pikirannya’. Kebenaran-Nya / Cahaya-Nya / Rahasia-Nya

Dari sisi Allah, adalah segala hakekat ‘sebelum’ terciptanya seluruh alam semesta ini, ‘saat’ masih kokohnya alam semesta, dan ‘setelah’ berakhirnya alam semesta (dari "awal" sampai "akhir"). Dari sisi manusia, adalah pengetahuan atau pemahaman tentang berbagai hakekat kebenaran-Nya yang ‘terwujud’ di seluruh alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), seperti: wujud zat Allah (sifat-sifat-Nya); penciptaan alam semesta ini dan segala isinya, dan tujuannya; ketetapan-Nya, kehendak-Nya, aturan-Nya (sunatullah) atau sifat-sifat ciptaan-Nya; dsb. Pengetahuan atau pemahaman hakekat paling tinggi yang bisa dicapai tiap umat manusia, dimiliki oleh para nabi-Nya (khususnya oleh nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir), yang sering disebut sebagai "wahyu-Nya". Secara alamiah, tentunya tingkat pencapaian pengetahuan atau pemahaman umat manusia pasti sesuai pula dengan perkembangan jamannya (atau ajaran nabi Muhammad saw relatif lebih lengkap dan mendalam daripada ajaran para nabi-Nya sebelumnya). Lebih sederhananya lagi, hakekat ‘kebenaran-Nya’ adalah segala sesuatu proses kejadian di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah) yang bersifat ‘mutlak’ (pasti terjadi) dan ‘kekal’ (pasti konsisten), karena hal inilah yang diketahui dan diyakini oleh umat manusia, sebagai hasil perwujudan dari kehendak ataupun perbuatanNya di alam semesta.


Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

961

Hanya Allah Yang memiliki sifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’ tersebut. Dan tidak ada segala sesuatupun selain Allah, yang mampu berkuasa mutlak mengatur dan memaksa segala zat ciptaan-Nya, seperti kehendak atau perbuatan-Nya. Terkadang disebut pula sebagai rahasia-Nya, karena pasti tidak semua kebenaranNya bisa diketahui oleh segala zat makhluk ciptaan-Nya. Ilmu-Nya / Pengetahuan-Nya

Relatif sama dengan Kebenaran-Nya. Namun biasanya terkait dengan aturan-Nya (sunatullah), yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian yang bersifat ‘mutlak’ (pasti terjadi) dan ‘kekal’ (pasti konsisten), yang pasti mengatur segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini. Sebagian amat sangat sedikit saja dari Ilmu-Nya, yang telah bisa diungkap dan diformulasikan menjadi berbagai ilmu-pengetahuan (lahiriah dan batiniah) temuan manusia, yang telah diperoleh secara ‘amat obyektif’ (dengan hanya memakai datafakta-kenyataan-kebenaran secara apa adanya, tanpa ditambah dan dikurangi). Hidayah-Nya

Suatu perolehan pengetahuan atau pemahaman atas berbagai hakekat kebenaranNya (lahiriah dan batiniah) oleh tiap umat manusia, dari hasil memahami berbagai ‘pengajaran dan tuntunan-Nya’ dengan menggunakan akalnya, sambil dituntun oleh malaikat Jibril (tidaklah hanya kepada para nabi-Nya saja). Hidayah-Nya serupa dengan pahala-Nya, namun lebih khususnya pada hasil dari tindakan bertafakur untuk mencari ilmu-pengetahuan, dari mempelajari tanda-tanda kekuasaan-Nya atau ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis di alam semesta. Hikmah-Nya

Serupa dengan hidayah-Nya, namun dari hasil memahami berbagai ‘cobaan atau ujian-Nya’. Khususnya yang berupa godaan secara batiniah dari jin, syaitan dan iblis. Karena segala cobaan atau ujian-Nya secara lahiriah, pada akhirnya juga akan berwujud berupa pengaruh batiniah dari para makhluk gaib tersebut. Petunjuk-Nya

Gabungan antara hikmah-Nya dan hidayah-Nya. Pada tingkatan tertentu, tiap petunjuk-Nya bisa disebut pula sebagai "wahyu-Nya", yaitu pada tingkat di mana seluruh petunjuk-Nya yang telah dimiliki oleh seorang manusia (biasanya disebut nabi-Nya), telah tersusun relatif amat lengkap (sesuai perkembangan jaman), mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, terutama atas hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat kaumnya, dan bahkan bagi kehidupan seluruh umat manusia, sekaligus bisa menjawab segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan umat. Wahyu-Nya

Dari sisi Allah adalah tanda-tanda kekuasaan-Nya atau ayat-ayat-Nya yang taktertulis di seluruh alam semesta ini, atau disebut juga Al-Qur’an (gaib). Sebagai Pengajaran dan Tuntunan-Nya bagi manusia, agar ia bisa mencari dan mengenal Allah, lalu agar bisa mengenal dan mengikuti jalan-Nya yang lurus.

962

Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

Hal inilah bentuk dari wahyu atau kalam-Nya yang sebenarnya, dalam pengertian yang bersifat umum dan luas, namun juga bersifat gaib. Dari sisi manusia adalah pemahaman atas ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis. Hal ini disampaikan-Nya kepada para nabi dan rasul utusan-Nya, melalui perantaraan malaikat Jibril pada alam batiniah ruh mereka (alam pikirannya). Dengan kata lain, para nabi-Nya diberikan-Nya hikmah dan hidayah-Nya (petunjuk-Nya), yang berupa pengetahuan dan pemahaman para nabi-Nya tentang berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (lahiriah dan batiniah). Akhlak dan kebiasaan yang amat terpuji pada para nabi-Nya sepanjang hidupnya (pemahaman disertai dengan pengamalan yang amat utuh dan konsisten), yang membuat hikmah dan hidayah-Nya yang mereka peroleh, jauh lebih sempurna daripada manusia biasa lainnya, sehingga bisa disebut pula sebagai "wahyu-Nya". Bahkan hikmah dan hidayah-Nya pada mereka telah amat utuh dan lengkap untuk menjawab segala persoalan mendasar pada umat kaumnya, bahkan pada seluruh umat manusia. Juga hikmah dan hidayah-Nya pada mereka telah amat mendalam, konsisten dan tidak saling bertentangan. Lalu segala pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya disampaikan oleh sebagian para nabi-Nya ke dalam kitab-kitab-Nya, ataupun dibacakan saja kepada umat secara amat arif-bijaksana (menjadi berupa segala pengajaran dan tuntunanNya secara relatif sederhana, ringkas, praktis-aplikatif dan aktual bagi kehidupan umatnya, khususnya kehidupan beragamanya): Maka dalam Al-Qur’an disebut seperti "Al-Qur’an adalah wahyu yang diwahyukan.", pada ayat-ayat sebagai berikut: - "Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepada umatnya)," dan '"yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat (hujjahnya)," - (QS.53:4-5) - "Katakanlah: `Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku (umat Muhammad), sesuatu …." - (QS.6:145) - "Dan demikianlah, Kami wahyukan kepadamu (hai umat Muhammad) wahyu (Al-Qur`an), dengan perintah Kami. Sebelumnya, …." - (QS.42:52) - "Dan tidak ada bagi seorang manusiapun, bahwa Allah berkata-kata dengan dia, kecuali dengan perantaraan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat Jibril), lalu diwahyukan kepadanya (manusia itu) dengan seijin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi, lagi Maha Bijaksana." - (QS.42:51) Dan dasar utama pemahaman seluruh para nabi-Nya adalah sama, yaitu tauhid "tiada ilah selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa", karena alam semesta yang mereka tempati, pahami dan diciptakan-Nya, memang sama. Penting dicatat pula, bahwa tiap perolehan wahyu-Nya (tiap pengetahuan atau pemahaman atas hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), juga melalui akal-pikiran pada para nabi-Nya. Tentunya keimanan mereka yang amat tinggi, yang membuat akal-pikiran mereka berbeda daripada manusia biasa, karena telah amat tinggi dan amat subyektif. Hal ini yang membuat adanya perbedaan antara dalil-dalil ‘Naqli’ dan dalil-dalil ‘Aqli’. Walau hakekat kedua macam dalil pada dasarnya sama, dengan memakai "akal".


Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

963

Sebagaimana diketahui, hanya akal satu-satunya sarana pada manusia (termasuk para nabi-Nya), yang memiliki "otoritas" dalam memilih dan memutuskan terhadap segala informasi dari hasil tangkapan berbagai indera lahiriah dan batiniah (mata, telinga, hidung, lidah, kulit, hati, dsb), untuk dianggap sebagai pengetahuan yang ‘relatif’ benar (lahiriah dan batiniah). Dan akal juga dipakai tiap saatnya oleh umat yang amat awam sampai yang amat berilmu, di dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, dengan segala persoalannya. Sehingga akal di sini dipandang dari segi hakekat yang sebenarnya, yang bersifat umum. Bukan hanya akal dalam pengertian yang sempit dan sering dikenal, yaitu sebagai alat untuk bisa memahami segala ilmu-pengetahuan temuan manusia (bidang ilmu fisika, kimia, biologi, matematika, filsafat, psikologi, dsb), yang lebih berupa pengetahuan dan pemahaman atas hal-hal yang bersifat lahiriah. Akal pada dasarnya juga dipakai dalam hal-hal yang bersifat batiniah, seperti yang amat banyak terdapat pada berbagai ajaran agama-Nya, yang disampaikan oleh para nabi-Nya. Walaupun hal-hal batiniah itu amat sulit dijelaskan atau dirumuskan, seperti misalnya berbagai teori atau rumus dalam ilmu fisika. Sekali lagi, wahyu-Nya adalah produk akal-pikiran para nabi-Nya. Karena sama sekali tidaklah ada sarana lain pada manusia, untuk bisa mengenal Allah ataupun untuk memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya, selain "akal". Bahkan segala bentuk pengajaran dan ujian-Nya dari para makhluk gaib, termasuk malaikat Jibril (dengan interaksi secara terang-terangan ataupun terselubung), justru hanya bisa dinilai dengan “akal”. Dan tiap ajaran agama pada dasarnya bukan hal yang mistis-tahayul, yang sama sekali tidak memiliki berbagai penjelasan melalui intuisi-nalar-logika akal-sehat manusia. Sebenarnya hanya masalah perbedaan batas kemampuan tiap umat manusia saja, dalam menjelaskannya. Hampir semua para alim-ulama dan cendikiawan Muslim dari berbagai aliran dari jaman dahulu sampai sekarang, mengabaikan (secara sengaja ataupun tidak) atas kenyataan peranan akal-pikiran para nabi-Nya ketika diturunkan-Nya wahyu-Nya (seperti Al-Qur’an). Bahkan mereka cenderung pula mempertentangkannya. Kemuliaan kitab suci Al-Qur'an tidak harus dijaga seperti itu (memisahkan agama dan akal). Karena kemuliaan kitab suci Al-Qur'an justru terletak pada "kebenaran" tiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya pada kandungan isi keseluruhannya, yang tersusun relatif amat lengkap (sesuai jamannya), mendalam, utuh, konsisten dan tidak saling bertentangan. Karena hal ini menjadi dasar utama suatu kenabian, berikut ajaran-ajarannya. Dan segala "kebenaran" mutlak hanyalah milik Allah. Justru kewajiban yang semestinya bisa dilakukan oleh para alim-ulama dan para cendikiawan Muslim adalah mengungkap semaksimal mungkin setiap hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di balik teks ayat-ayat Al-Qur'an. Kitab-Nya

Sekumpulan besar wahyu-Nya yang telah dibukukan oleh para nabi-Nya ataupun para pengikutnya, menjadi kitab-kitab tauhid, yaitu: Zabur (nabi Daud as), Taurat (nabi Musa as), Injil (nabi Isa as) dan terakhir Al-Qur'an (nabi Muhammad saw). Kitab-kitab-Nya disebut juga ayat-ayat-Nya yang tertulis. Dan tentunya sesuai perkembangan alamiah menurut jamannya, Al-Qur'an adalah

964

Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

kitab-Nya yang paling lengkap, mendalam dan paling sempurna. Ayat-Nya

Ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis (tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta) dan ayat-ayat-Nya yang tertulis (tiap wahyu-Nya pada kitab-kitab-Nya). Firman-Nya / Sabda-Nya / Kalam-Nya

Secara umum sama dengan wahyu-Nya. Secara khususnya, berupa wahyu-Nya yang berbentuk ‘ucapan’ dari Allah. Pengajaran-Nya / Tuntunan-Nya / Peringatan-Nya / Larangan-Nya

Secara umum sama dengan petunjuk-Nya, yang bisa dimiliki pula oleh manusia biasa umumnya. Secara khusus sama dengan wahyu-Nya, yang tingkatannya lebih tinggi daripada petunjuk-Nya, dan justru hanya dimiliki oleh para nabi-Nya. Pengajaran-Nya dianggap dalam pembahasan di sini lebih rendah "tingkatannya" daripada tuntunan-Nya. Karena sebagian dari berbagai pengajaran-Nya itu pada dasarnya untuk bisa mencapai perolehan tuntunan-Nya, yang berupa pengetahuan untuk bisa mengenal atau membedakan antara hal-hal yang baik dan buruk. Tuntunan-Nya bersifat jauh lebih sederhana, praktis dan langsung bisa dipakai, daripada pengajaran-Nya yang bersifat lebih rumit dan kompleks. Sedang peringatan atau larangan-Nya ialah tuntunan-Nya atas berbagai ‘perbuatan’ tertentu makhluk-Nya, yang harus diwaspadai, karena tidak sesuai dengan perintah ataupun keredhaan-Nya bagi kemuliaan manusia. Pada hati-nurani dalam zat ruh tiap anak manusia yang baru terlahir, yang masih suci-bersih dan tanpa dosa, juga ditanam-Nya tuntunan-Nya yang paling mendasar atas "sebagian" kecil dari kebenaran-Nya (disebut fitrah-fitrah dasar). Tuntunan-Nya yang paling minimal ini pada dasarnya tidak akan berkurang, hanya kepekaan batiniah manusia saja yang selalu berubah-ubah dalam ‘memahaminya’, terutama setelah ia dewasa atau akil-baliq. Misalnya, tiap bayi manusia pasti takut kepada hal-hal yang tidak diketahuinya atau yang lebih besar darinya; pasti senang dengan kebaikan, keindahan, seni, dsb; pasti tidak menyukai kebatilan, keburukan; dsb. Sejalan dengan perkembangan usia atau kedewasaannya, manusia makin banyak mendapat pula pengajaran dan tuntunan-Nya dari makaikat Jibril (manusia makin banyak memperoleh hikmah dan hidayah-Nya). Sehingga pengetahuan atau pemahamannya atas berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya makin luas pula. Misalnya, manusia makin memahami, bahwa ia hanya boleh takut kepada Yang Maha Besar, Allah, bukanlah kepada segala zat ciptaan-Nya lainnya; manusia jangan terlalu senang kepada keindahan atau kenikmatan duniawi, tetapi kepada keindahan kehidupan batiniahnya; makin bisa memahami berbagai kebaikan dan keburukan; dsb.


Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

965

Laknat-Nya / Kutuk-Nya

Sama dengan Peringatan-Nya dan Larangan-Nya, namun atas berbagai perbuatan tertentu makhluk-Nya (nyata dan gaib), yang amat menyesatkan manusia dan amat sulit membuatnya bisa kembali ke jalan-Nya yang lurus. Sehingga Laknat-Nya bersifat jauh lebih keras daripada Peringatan atau Larangan-Nya. Misalnya: godaan dari iblis yang amat menyesatkan; segala perbuatan manusia yang melampaui batas ataupun yang menyekutukan Allah; dsb. Disebut ‘perbuatan’, karena bukan ‘zat’ makhluk-Nya yang dilaknat-Nya, yang telah diciptakan-Nya sendiri. Namun justru yang berbahaya adalah, pengaruh berbagai perbuatan makhluk-Nya yang justru bisa menyesatkan manusia, untuk keluar dari jalan-Nya yang lurus. Perintah-Nya / Anjuran-Nya

Tuntunan-Nya tentang berbagai "perbuatan" tertentu yang perlu dilakukan oleh tiap manusia, agar ia bisa mendapatkan rahmat, pahala-Nya, dsb. Dan juga agar ia bisa mengikuti jalan-Nya yang lurus, untuk bisa kembali dekat ke hadapan ‘Arsy-Nya. Hal ini hanya semata demi kemuliaan manusia sendiri, sama sekali bukan demi kepentingan Allah, Yang tidak memerlukan segala sesuatu. Maka Perintah atau Anjuran-Nya itu pada dasarnya tidak bersifat memaksa, kecuali pada makhluk-Nya yang pasti tunduk, patuh dan taat kepada-Nya (para malaikat). Redha-Nya

Restu, keredhaan atau kerelaan-Nya atas tiap perbuatan manusia. Tentunya hal ini terjadi segala perbuatan manusia yang mengikuti perintah-Nya. Sebaliknya segala perbuatan lainnya yang disebut pada segala larangan-Nya, justru tidak diredhai-Nya. Nabi-Nya / Rasul-Nya / Utusan-Nya

Para pembawa berita gembira, pengajaran, tuntunan atau peringatan-Nya bagi umat kaumnya ataupun bahkan bagi seluruh umat manusia, setelah mereka bisa memperoleh sejumlah wahyu-Nya, melalui perantaraan malaikat Jibril. Jumlah para nabi-Nya amat banyak, sejak dari nabi pertama nabi Adam as, sampai nabi terakhir nabi Muhammad saw, yang merupakan orang-orang yang berilmupengetahuan amat tinggi (ilmu-ilmu lahiriah dan terutama ilmu-ilmu batiniah) dan amat arif-bijaksana di kalangan kaumnya. Namun hanya sedikit yang telah dikenal atau disebut dalam Al-Qur’an dan Hadits, sebagai contoh suri-teladan bagi umat manusia. Sunatullah (Sunnah Allah) / Aturan-Nya / Hukum-Nya / Tangan-Nya

Sunatullah (Sunnah Allah) adalah sebutan lain dari segala tindakan atau perbuatan-

966

Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

Nya di seluruh alam semesta ini. Hal ini serupa seperti ‘Sunnah Nabi’ untuk segala perkataan dan perbuatan nabi Muhammad saw. Sunatullah berupa segala aturan atau rumus proses kejadian atas segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta. Sunatullah pasti berlaku (mutlak), tidak akan pernah berubah (kekal), jumlahnya tak-terhitung, dan sebagai salah-satu ketetapanNya yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi ‘Arsy-Nya. Segala zat ciptaan-Nya (makhluk hidup atau benda mati, nyata atau gaib) pastilah tunduk pada Sunatullah, secara sadar ataupun tidak. Bahkan bagi orang yang amat kafir dan iblis sekalipun. Disebut "tangan-Nya", karena segala perbuatan Allah di alam semesta ini, pasti melalui atau memakai sunatullah. Sedang pelaksanaan sunatullah dikawal oleh takterhitung jumlah para malaikat, yang pasti tunduk, patuh dan taat kepada-Nya. Makna hukum-Nya di sini berbeda dari hukum syariat, yang diperintahkan-Nya bagi tiap umat nabi-Nya. Hukum syariat disusun oleh manusia (para nabi-Nya, sesuai dengan petunjuk atau wahyu-Nya yang diperolehnya), hanya mengatur umat-umat yang memiliki kesadaran atau beriman (tidak memaksa); relatif bisa berubah-ubah sesuai dengan keadaan tiap umat kaumnya; jumlahnya terbatas; dsb. Sedang hukum, aturan-Nya atau sunatullah justru mengatur seluruh alam semesta Ketetapan-Nya / Ketentuan-Nya

Segala sesuatu hal yang terkait dengan alam semesta ini, yang ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta itu sendiri, misalnya: aturan-Nya (sunatullah); sifat-sifat tiap zat ciptaan-Nya; tujuan penciptaan seluruh alam semesta ini; segala kehendak dan rencana-Nya; segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya; dsb. Segala Ketetapan-Nya itu telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) dan bersifat kekal (atau tidak berubah-ubah) sejak ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta ini, sampai saat berakhirnya (akhir jaman). Sebelum ditetapkan-Nya, segala sesuatu hal justru dipilih atau ditetapkan dengan sekehendak-Nya. Sedang setelahnya, Allah sama sekali tidak berbuat sekehendakNya di alam semesta ini. Tindakan-Nya / Perbuatan-Nya / Kehendak-Nya

Segala tindakan atau perbuatan Allah di alam semesta, bersifat pasti berlaku atau terjadi (mutlak) dan pasti konsisten (kekal). Khususnya segala kehendak dan perbuatan Allah di seluruh alam semesta ini, yang pasti terwujud melalui aturanNya (sunatullah). Sunatullah adalah sesuatu kesatuan dari sejumlah tak-terhitung aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah) yang pasti dan jelas, yang telah ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta ini. Segala tindakan atau perbuatan Allah (yang bisa dipahami manusia melalui segala "rumus proses kejadian" di alam semesta) yang disebut dalam Al-Qur’an, seperti: berbicara, mendengar, melihat, memegang, berkehendak, bertindak, dsb, tentunya amat berbeda daripada perbuatan segala makhluk-Nya. Bahwa segala tindakan-Nya itu selain pasti dan jelas itu, juga tidak pernah berubah,


Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

967

berlaku sama untuk segala ciptaan-Nya (sesuai sifat dan keadaan tiap zat ciptaanNya), amat sangat konsisten, teratur, alamiah, halus dan tidak kentara, dan seolaholah terjadi begitu saja. Namun tindakan-Nya juga "tidak" terjadi begitu saja seperti sulap. Tindakan-Nya terhadap sesuatu hal melalui firman-Nya "Jadilah, maka terjadilah hal itu", justru melalui proses yang pasti dan jelas, seperti ketika Allah menciptakan alam semesta ini selama milyaran tahun; ketika Allah menciptakan bayi manusia selama sekitar 9 bulan, termasuk proses tambahannya selama belasan tahun, untuk pembentukan benih-benih pada tubuh ibu dan bapaknya (sejak bayi sampai dewasa); dsb. Bagaimana hubungan antara sebagian perbuatan-Nya dengan segala perbuatan manusia?. Hubungan itu juga justru amat sangat dekat dan saling terkait. Karena seperti halnya segala proses yang ada di alam semesta, yang terdiri dari masukan (input), aturan (rumus berjalannya proses) dan keluaran (output). Maka tiap perbuatan manusia pada dasarnya hanyalah berusaha memilih berbagai variabel masukan prosesnya, sesuai dengan kemampuannya tiap saatnya. Namun tanpa sadar, dengan usaha itu tiap manusia sebenarnya juga memilih salah-satu dari berbagai rumus proses (sunatullah), yang "sesuai" dengan berbagai variabel atau keadaan awal itu. Akhirnya dengan rumus proses yang terpilih itu, Allah bertindak ("didukung" oleh para malaikat-Nya) untuk melaksanakan berlakunya rumus proses itu. Sehingga diperoleh berbagai nilai variabel atau keadaan baru, sebagai hasil keluaran akhir prosesnya. Hasil akhir inipun merupakan bentuk "takdir-Nya sementara" tiap saatnya. Qadar atau Takdir-Nya yang sering disebut manusia adalah hasil susunan dari sejumlah tak-hitung "takdir-Nya sementara" itu sepanjang hidup manusia. "Takdir-Nya sementara" itulah yang disebut Qadla-Nya. Maka pada tiap perbuatan manusia (lahiriah dan batiniah, baik dan buruk), justru Allah Yang menentukan rumus proses kejadian dan hasil akhirnya, sesuai segala keadaan awal yang terbentuk akibat dari usaha manusia itu sendiri, serta pengaruh lingkungan sekitarnya (sebagai ujian-Nya). Sehingga tiap perbuatan manusia (bahkan tiap detiknya) pasti selalu akan disertai, diikuti atau diliputi oleh perbuatan Allah. Namun bukan berarti Allah telah menganiaya manusianya, jika hasil perbuatan itu membawa keburukan, atau sebaliknya, bukan pula karena Allah telah pilih-kasih kepada hamba-hamba-Nya yang disukai-Nya. Justru semuanya hanya tergantung pada hasil usaha dan pilihan manusia itu sendiri (dengan nafsu dan akalnya, yang diciptakan-Nya). Karena sunatullah (atau tindakan-Nya) tidak pernah berubah dan berlaku sama kepada segala zat ciptaan atau makhluk-Nya, sejak awal penciptaan alam semesta sampai akhir jaman. Seperti inilah yang dimaksudkan dengan, tindakan-Nya dalam menentukan "takdirNya" atas tiap zat ciptaan-Nya. Jadi pada dasarnya, Allah "bukanlah" bertindak menentukan berbagai nasib manusia sepanjang hidupnya, tetapi Allah hanya menentukan segala rumus proses di alam semesta ini (sunatullah). Semua istilah "kehendak-Nya" dalam pembahasan di sini, lebih dimaknai sama

968

Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

dengan tindakan-Nya secara "umum", bukanlah hanya tindakan-Nya secara khusus sebagai wujud kasih-sayang Allah bagi manusia. Karena dalam Al-Qur’an, ada pula kehendak-Nya untuk memberi hukuman dan azab-Nya, kepada manusia yang telah berbuat berbagai keburukan dan kezaliman. Sehingga terlalu sempit jika dibatasi hanya pada kehendak-Nya dalam memberi nikmat, pahala, rahmat dan karunia, hikmah dan hidayah-Nya, dsb. Maka segala definisi tindakan, perbuatan atau kehendak-Nya pada pembahasan di sini lebih bersifat "netral", luas, umum dan berlaku sama untuk segala ciptaan-Nya (sesuai sifat dan keadaan tiap zat ciptaan-Nya), termasuk dalam pemberian nikmat dan hukuman-Nya itu sebagai wujud dari ke-Maha Adil-an Allah. Namun bagaimana ke-Maha Adil-an Allah kepada manusia, akibat ‘dianiaya atau dizalimi’ oleh keadaan, lingkungan atau manusia lainnya, atau segala sesuatu yang terjadi bukan akibat amal-perbuatan manusia itu sendiri?. Hal ini disebut sebagai cobaan atau ujian-Nya kepada manusianya, yang justru amat menentukan "nilai amalan sebenarnya" yang diberikan-Nya atas tiap amalperbuatannya saat ‘sedang’ menghadapi cobaan atau ujian-Nya tersebut. Rencana-Nya

Segala rencana Allah, terutama segala ketetapan atau ketentuan-Nya yang terkait dengan penciptaan alam semesta ini dan segala isinya. Kalimat-Nya / Risalah-Nya

Cukup bervariasi cakupannya, kadang-kadang disebut untuk hal-hal yang serupa dengan ayat-Nya, wahyu-Nya, tindakan-Nya ataupun perintah-Nya. Namun kalimat-Nya di sini dianggap lebih sesuai bagi ayat-ayat-Nya yang taktertulis (tanda-tanda kekuasaan-Nya, atau Al-Qur’an berbentuk gaib), terutama karena lebih umum cakupannya, walau pada dasarnya sama. Dari hal-hal di atas, kalimat-Nya justru bisa dikelompokkan berupa ‘tindakan-Nya langsung’, dan berupa ‘keterangan tentang tindakan-Nya’ di alam semesta. Keputusan-Nya

Tindakan-Nya dalam mengadili atau memutuskan segala sesuatu perkara makhlukNya, ataupun dalam memberikan balasan-Nya. Aturan atau rumus proses pemberian segala keputusan-Nya atau balasan-Nya itu bersifat kekal atau tidak pernah berubah-ubah (melalui sunatullah). Kekuasaan-Nya

Segala sesuatu hal yang pasti berlaku bagi tiap zat ciptaan-Nya, yang tidak ada sesuatupun yang bisa menghalangi (berlaku mutlak), seperti halnya: aturan-Nya (sunatullah) atau tindakan-Nya, balasan-Nya, dsb. Takdir-Nya / Qadar-Nya / Qadla-Nya

Segala hasil akhir setiap saatnya yang telah ditentukan-Nya atas tiap zat ciptaanNya (nyata dan gaib, hidup dan mati) di seluruh alam semesta, melalui berlakunya segala aturan atau rumus proses kejadian yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’ setiap


Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

969

saatnya (atau sunatullah). Hasil akhir setiap saatnya itu adalah ‘takdir-takdir kecil’ sebagai hasil dari takterhitung rangkaian perbuatan setiap makhluk-Nya sepanjang hidupnya (atau jalan hidup), yang pasti pula melalui tak-terhitung rangkaian aturan-Nya (sunatullah) yang telah dijalaninya. Dan sesuatu hal hanyalah bisa disebut takdir-Nya, justru saat "setelah" hal itu terjadinya, bukan "sebelum" terjadinya segala keadaan atas tiap zat ciptaan-Nya. Sehingga justru terdapat sejumlah besar ‘takdir-takdir kecil’, yang menyusun takdir akhir sampai suatu saat tertentu ataupun sampai saat sekarang ini. Qadla-Nya adalah takdir-takdir kecil tersebut, yang merupakan takdir-takdir yang bersifat sementara yang bisa selalu ‘dipilih’ (tepatnya berbeda pada waktu lainnya). Dan tiap masing-masing sunatullah itu telah pasti hasilnya, sesuai dengan segala keadaan awal setiap saatnya (lahiriah dan batiniah), sebagai input-masukan bagi rumus proses pada sunatullah. Namun manusia tetaplah bisa berusaha dan memilih rangkaian sunatullah (jalan hidup) yang diinginkannya (memilih takdir-Nya), yang tersedia tiap saatnya baginya, sesuai dengan keadaan dan kemampuannya. Dengan cara tiap saatnya berusaha dan memilih berbagai keadaan awal (di samping berbagai keadaan awal lainnya dari hasil pengaruh lingkungan, sebagai ujian-Nya), sebelum berlakunya rumus proses pada sunatullah. Sering disebut dalam Al-Qur’an, tentang ‘tindakan-Nya’ dalam menentukan takdirNya bagi tiap zat ciptaan-Nya, terutama bagi tiap manusia (seperti jodoh, rejeki, kematian, dsb), karena segala tindakan-Nya di alam semesta ini, memang pastilah melalui aturan-Nya (sunatullah). Agama-Nya / Agama-Nya yang lurus / Jalan-Nya yang lurus

Dari sisi Allah adalah tanda-tanda kekuasaan-Nya atau ayat-ayat-Nya yang taktertulis di seluruh alam semesta ini, atau disebut juga Al-Qur’an (gaib), sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya bagi manusia, agar ia bisa mencari dan mengenal Allah, lalu agar bisa mengenal dan mengikuti jalan-Nya yang lurus. Dari sisi manusia adalah agama-agama tauhid (Yahudi, Nasrani, dan terakhir Islam) dari hasil pemahaman para nabi-Nya terkait secara relatif ‘sempurna’, atas ayatayat-Nya yang tak-tertulis (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, terutama atas hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia). Hal ini berupa kumpulan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para nabi-Nya terkait, yang berdasar pada petunjuk atau wahyu-Nya, yang perlu diikuti oleh umat manusia, agar ia bisa mendapat pahala-Nya yang paling baik (surga besar) di Hari Kiamat, sekaligus agar bisa mendapat surga-surga kecil di dunia ini, Ringkasnya, agar bisa mendapat keselamatan dan kemuliaan di dunia dan di akhirat. Namun Islam adalah agama tauhid yang terakhir, yang tentunya pasti lebih lengkap dan sempurna pula, dan agama yang paling diredhai-Nya. Sebagian ajaran agama-agama tauhid pada kitab-kitab tauhid selain Al-Qur’an, juga

970

Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

secara alamiah tidak terlindungi dari campur tangan manusia (di luar para nabi-Nya yang menyampaikannya), terutama karena usia ajaran-ajarannya telah ratusan tahun sebelum diturunkan-Nya Al-Qur’an; ajaran-ajarannya kurang lengkap dan kurang sesuai bagi kehidupan umat yang terus berkembang; dokumentasinya relatif lebih sederhana; dsb. Ijin-Nya

Ijin Allah atas setiap perbuatan makhluk-Nya, yang "tidak terlalu melampaui batas" (tidak berbuat zalim, atau tidak berusaha ‘menentang’ aturan-Nya). Jika sebaliknya, maka makhluk-Nya itupun akan tertimpa azab-Nya melalui aturanNya (sunatullah). Karena sesuatu kezaliman bisa menimbulkan kerusakan yang relatif amat parah secara lahiriah dan batiniah, akibat menganiaya berbagai zat ciptaan-Nya (diri sendiri, orang-lain, alam, dsb) secara melampaui batas. Perbuatan yang diijinkan-Nya itu bisa bersifat positif (dengan keredhaan-Nya) ataupun negatif (tanpa keredhaan-Nya), tergantung pada niat dan cara ketika hal itu dilakukan. Siapanpun bisa memperoleh ijin-Nya (orang beriman ataupun orang kafir, malaikat ataupun iblis), hanya kecuali bagi orang-orang yang berbuat zalim. Dari sini bisa dipahami pula, bahwa iblis misalnya pada dasarnya tidak memiliki kekuasaan sama sekali untuk memaksa manusia (sama sekali tidak memiliki unsur penganiayaan atau kezaliman), karena tiap manusia pasti tetap memiliki otoritas sepenuhnya, untuk memilih mengikuti pengaruh iblis ataupun tidak. Sehingga jin, syaitan dan iblis pada dasarnya "hanyalah sekedar" bisa menggoda atau menguji keimanan manusia. Walau "pengaruh perbuatan" mereka itu tetap harus dilaknat, agar manusia selalu mewaspadainya. Karena itulah jin, syaitan dan iblis juga Al-Qur'an disebut telah mendapatkan ijinNya untuk menggoda manusia. Justru perbuatan orang-orang yang berbuat zalim, yang pengaruhnya jauh lebih berbahaya, karena pengaruh iblis telah berwujud langsung secara lahiriah, dan biasanya juga amat mempengaruhi berbagai zat ciptaan-Nya lainnya di sekitarnya. Balasan-Nya

Berbagai ‘hadiah’ (positif & negatif, lahiriah & batiniah, di dunia & di akhirat) yang setimpal dari Allah kepada setiap makhluk-Nya, semata berdasar atas hasil dari tiap amal-perbuatan makhluk-Nya itu sendiri. Misalnya berupa: pahala-Nya, rejeki-Nya, karunia-Nya, rahmat-Nya, hikmah dan hidayah-Nya, azab-Nya, beban dosa, dsb. Termasuk ‘hadiah’ terakhir di Hari Kiamat, berupa Surga (rahmat-Nya atau pahalaNya yang paling baik) dan Neraka (azab-Nya yang paling buruk). Pemberian segala macam "hadiah" ini juga melalui aturan-Nya (sunatullah). Hukuman-Nya / Siksaan-Nya

Balasan-Nya yang bersifat negatif (di dunia & di akhirat), seperti: azab-Nya, beban dosa, dsb, dari hasil berbagai amal-keburukan makhluk-Nya. Hal ini sama sekali bukan karena Allah menganiayanya.


Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

971

Di Hari Kiamat, hukuman atau siksaan-Nya ini biasanya cukup disebutkan sebagai ‘Neraka’ (azab-Nya yang paling buruk). Dan ujian-Nya sama sekali bukan suatu bentuk hukuman atau siksaan-Nya (walau seolah-olah terasa sama-sama memberatkan atau menyiksa), karena ujian-Nya justru sama sekali tidak terkait langsung ataupun tidak, dengan tiap amal-perbuatan makhluk-Nya yang mengalaminya. Nikmat-Nya / Penghargaan-Nya

Balasan-Nya yang bersifat positif ataupun netral (secara lahiriah & batiniah, di dunia & di akhirat), seperti: pahala-Nya, rejeki-Nya, rahmat-Nya, hikmah dan hidayahNya, dsb, dari hasil berbagai amal-perbuatan makhluk-Nya, selain amal-keburukan. Di Hari Kiamat, nikmat atau penghargaan-Nya ini biasanya cukup disebut sebagai ‘Surga’ (rahmat atau pahala-Nya yang paling baik). Rahmat-Nya / Karunia-Nya

Serupa dengan nikmat-Nya, yang bisa memudahkan ataupun meringankan tiap makhluk-Nya dalam menjalani kehidupannya (lahiriah & batiniah, di dunia & di akhirat). Tetapi pemakaian rahmat-Nya ini bisa bersifat positif (dengan keredhaan-Nya) ataupun negatif (tanpa keredhaan-Nya), tergantung kepada niat dan cara berusaha memperolehnya, terutama lagi kepada cara pemakaiannya. Siapanpun justru bisa memperolehnya (orang beriman ataupun orang kafir). Namun karunia-Nya lebih sering dikaitkan dengan rejeki-Nya (rahmat-Nya secara lahiriah). Pahala-Nya

Balasan-Nya yang bersifat batiniah dan positif. Kebalikan dari beban dosa (batiniah dan negatif). Dosa / Beban dosa

Balasan-Nya yang bersifat batiniah dan negatif. Kebalikan dari Pahala-Nya (batiniah dan positif). Namun tidak pernah disebut "Dosa-Nya", karena memang bukan suatu keredhaanNya untuk memberinya kepada makhluk-Nya. Rejeki-Nya

Rahmat-Nya yang bersifat lahiriah, bisa positif atau negatif. Biasanya dikaitkan dengan uang, harta atau kekayaan, tetapi terkadang pula terkait dengan tahta, jabatan atau kekuasaan duniawi. Berkah-Nya

Hasil keuntungan bagi tiap makhluk-Nya (lahiriah dan khususnya batiniah), akibat ‘hasil pengaruh’ dari berbagai amal-kebaikan ataupun pengajaran dari makhluk-Nya lainnya.

972

Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

Berlaku sesuai dengan ijin-Nya, kehendak-Nya ataupun pada puncaknya sesuai dengan aturan-Nya (sunatullah). Ujian-Nya / Cobaan-Nya

Segala kesulitan (lahiriah dan batiniah) yang dihadapi makhluk-Nya, yang diberikan oleh Allah secara tidak langsung (atau bagian dari rencana-Nya), untuk menguji manusia, siapa yang beriman dan yang kafir kepada-Nya. Disebut ‘tidak langsung’, karena ujian-Nya pada dasarnya hanyalah berupa hasil interaksi (langsung ataupun tidak) dari segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini (nyata-lahiriah & gaib-batiniah, makhluk hidup & benda mati). Proses kedatangannya melalui aturan-Nya (sunatullah), yang pasti dialami dan berlaku dan sama untuk tiap manusia (tanpa pilih kasih). Para nabi-Nya pasti selalu pula menghadapi berbagai bentuk cobaan atau ujianNya, namun mereka relatif telah bisa diatasinya (terutama secara batiniah). Azab-Nya

Hukuman-Nya yang amat setimpal bagi makhluk-Nya, atas tiap amal-keburukannya sendiri, yang telah amat melampaui batas (berbuat kezaliman). Azab-Nya disebut juga hukuman-Nya yang paling berat, di dunia ataupun di akhirat. Maka azab-Nya berupa Neraka pada Hari Kiamat, pada dasarnya hanyalah karena umat telah menzalimi dirinya sendiri pada kehidupannya di dunia. Jaminan-Nya / Janji-Nya

Segala sesuatu hal yang bisa diharapkan oleh segala makhluk-Nya dari Allah, yang pasti akan dipenuhi-Nya. Seperti misalnya: segala balasan-Nya yang amat setimpal atas tiap amal-perbuatan makhluk-Nya pasti diberikan oleh Allah (lahiriah & batiniah, di dunia & akhirat); pasti akan datangnya di Hari Kiamat, untuk membuktikan ke-Maha Adil-an Allah, berikut diberikan-Nya Surga dan Neraka; segala hakekat dan kebenaran-Nya, pasti akan dibukakan-Nya pada Hari Kiamat, untuk menyelesaikan segala bentuk perselisihan antar makhluk-Nya; semua aturan-Nya (sunatullah) tetap pasti berlaku; dsb. Khalifah-Nya

Manusia, yang telah diberi tugas atau amanat oleh Allah untuk berkuasa di dunia (menjadi Khalifah-Nya di muka Bumi). Hal ini justru berwujud berupa kekuasaan pada tiap manusia, untuk bisa bebas sepenuhnya memilih dan mengatur keadaan alam batiniah ruhnya sendiri (alam akhiratnya), selama dalam kehidupan dunianya. Hal ini dengan diberikan-Nya nikmat kelebihan berupa ‘akal’ (kebebasan memilih) dan ‘nafsu’ (semangat atau keinginan) kepada tiap manusia. Hanya manusia yang memiliki akal dan nafsu yang ‘sempurna’ secara bersamaan. Sedang kekuasaan atau perbuatan manusia secara lahiriah relatif sangat terbatas (walau pada dasarnya tetap relatif lebih berkuasa atas segala makhluk lainnya). Penunjukan sebagai khalifah-Nya ini, sebenarnya juga sesuatu cobaan atau ujianNya bagi manusia. Apakah tiap manusia memang bisa membuktikan kesempatan


Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

973

974

Lampiran B: Daftar istilah yang terkait dengan Allah

besar yang diberikan-Nya di atas segala makhluk-Nya lainnya, untuk bisa meraih kemuliaannya?.

Tiap zat Makhluk-Nya dan bahkan tiap zat ciptaan-Nya, memiliki tugas-tugasnya masing-masing yang diberikan oleh Allah, sejak awal penciptaan alam semesta.

Maka setelah Hari Kiamat atau setelah kematiannya, kekuasaan dan kenikmatan sebagai khalifah-Nya itu dengan sendirinya telah berakhir, karena manusia telah harus mempertanggung-jawabkan pula tiap amal-perbuatannya di dunia, setelah manusia diberikan-Nya nikmat kelebihan ataupun amanat dari Allah seperti itu, yang tidak dimiliki oleh segala zat makhluk-Nya lainnya. Segala zat makhluk-Nya selain manusia justru relatif hanya bertugas mendukung proses penggodokan manusia secara lahiriah dan batiniah, sekaligus mendukung kehidupan manusia di dunia ini, dan menjadi bahan pengajaran-Nya yang amat melimpah ruah bagi manusia.

Selain manusia, segala zat ciptaan-Nya pasti tunduk dan mengikuti segala perintahNya. Dan mereka mendapat tugas untuk mendukung kehidupan manusia dan mendukung tegak-kokohnya alam semesta ini. Sekaligus bertugas memberi bahan pengajaran dan tuntunan-Nya yang amat melimpah ruah bagi manusia, secara lahiriah dan batiniah, agar bisa mengenal Allah, dan agar bisa mengabdi kepada Allah.

Mereka juga tidak mengalami cobaan atau ujian-Nya seperti pada manusia, karena hanya manusia yang memiliki nafsu, dan tepatnya nafsu mereka amat stabil. Nafsukeinginan mereka hanya semata demi mengabdi kepada Allah. Dan mereka pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah dan amanat-Nya. Ciptaan-Nya / Kepunyaan-Nya / Milik-Nya

Segala sesuatu hal yang diciptakan oleh Allah (nyata-lahiriah dan gaib-batiniah), khususnya yang terkait dengan penciptaan alam semesta ini, seperti: segala sesuatu "zat" yang ada di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah, mati dan hidup, nyata dan gaib); segala aturan-Nya (sunatullah) yang mengatur segala proses di alam semesta ini; segala pengajaran dan tuntunan-Nya; segala kebenaran-Nya; dsb. Maka ciptaan-Nya bisa berupa ‘zat’ dan ‘non-zat’, namun ciptaan-Nya umumnya lebih dikaitkan dengan "zat-zat" nyata ataupun gaib. Makhluk-Nya / Makhluk gaib-Nya / Makhluk hidup-Nya / Malaikat-Nya / Hamba-Nya

Segala "zat" ciptaan-Nya yang memiliki ruh-Nya (dengan atau tanpa tubuh wadah, nyata atau gaib), yaitu: makhluk nyata (manusia, hewan, tumbuhan dan sel) dan makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis). Ruh-Nya

Zat paling dasar pembentuk kehidupan makhluk-Nya, dan bersifat gaib. Terdiri dari berbagai jenis dan sifatnya masing-masing (tergantung kepada jenis dan sifat dari tubuh wadah masing-masing makhluk-Nya). Ada ruh yang bersifat memerlukan tubuh wadah, agar bisa hidup sebagai makhlukNya yang utuh dan lengkap (makhluk nyata), ada pula yang tidak (makhluk gaib), karena relatif tetap berbentuk ruh saja. Amanat-Nya / Tugas dari-Nya

Sedangkan manusia (dengan nikmat kelebihan nafsu dan akal yang sempurnanya) mendapat tugas sebagai khalifah-Nya di muka Bumi (penguasa di dunia), sekaligus ia pasti diuji oleh Allah, apakah ia mau beriman dan mengikuti tiap perintah-Nya ataupun tidak, setelah ia mendapat nikmat kelebihan itu?. Hisab-Nya / Penilaian-Nya / Perhitungan-Nya

Proses penimbangan (penghisaban) atas nilai amal-perbuatan tiap manusia oleh Allah pada Hari Kiamat, untuk menentukan, apakah jumlah nilai amal-kebaikannya lebih banyak daripada nilai amal-keburukannya. Seperti disebut dalam Al-Qur’an, proses penghisaban ini berlangsung amat sangat cepat. Setelah dibukakan-Nya segala kebenaran-Nya, maka sekaligus pula semakin jelas terjawab segala ketidak-tahuan, keraguan dan perselisihan manusia, dan "otomatis" pula, tiap manusia menjadi tahu dengan jelas, nilai amal-kebaikan (pahala) atau keburukan (beban dosa) dari tiap amal-perbuatannya. Hal ini sering disebut dalam Al-Qur'an sebagai disempurnakan-Nya segala pahala dan beban dosa tiap manusia, sebesar biji zarrah sekalipun. Dan hal ini berupa disempurnakan-Nya keadaan batiniah ruh manusia sesuai dengan segala pahala dan beban dosa yang telah diperolehnya selama di dunia. Nilai tiap amal-perbuatan itu ditimbang atau dihisab-Nya jumlahnya dengan sangat adil, tanpa manusia dianiaya-Nya (tanpa menanggung beban-beban dosa manusia lainnya). Dari jumlah nilai amalan hasil timbangan itu, maka jelas bisa diketahui, apakah nilai amal-kebaikannya lebih banyak daripada amal-keburukannya. Jika nilai amal-kebaikannya lebih banyak, maka ia akan mendapat pahala-Nya yang terbaik (Surga), dan jika sebaliknya, ia akan mendapat siksaan-Nya yang terburuk (Neraka). Surga dan Neraka memiliki berbagai tingkatan.

Keterangan tabel: Semua definisi istilah di atas diturunkan berdasarkan dari seluruh pemahaman pada buku ini. Maka pengertian ataupun uraiannya bisa tampak berbeda dari definisi pada sumber-sumber lainnya. Sehingga tiap definisi istilah di atas, sebaiknya agar dicermati lebih mendalam.


Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

975

976

Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

Sejalan dengan tujuan itu, maka nabi Muhammad saw memberikan solusi yang agak berbeda, dibanding para nabi-Nya sebelumnya atas kelangsungan dan aktualitas ajaran agama Islam yang dibawanya, dalam menghadapi persoalan manusia modern sekarang, ataupun di masa mendatang. Padahal diketahui pula, bahwa nabi Muhammad saw dan Al-Qur'an adalah nabi dan kitab tauhid terakhir.

(diurut menurut abjad)

Daftar istilah dan keterangannya Al-Qur'an, Sunnah Nabi (Hadits) dan Ijtihad (Qiyas, Ijma', Istihsan, dsb)

Ijtihad adalah suatu pintu solusi yang telah dianjurkan oleh Nabi bagi aktualisasi ajaran agama Islam. Dengan dasar Ijtihad dari para alim-ulama, maka ajaran agama Islam jauh lebih mungkin dan amat terbuka untuk menjawab semua tantangan dan persoalan umat manusia modern, sampai akhir jaman. Sedangkan Sunnah-sunnah Nabi (atau Hadits) telah tidak berkembang sejak wafatnya nabi Muhammad saw, yang kehidupannya merupakan "tafsiran hidup" atas Al-Qur'an, sehingga secara historis dan budaya, Sunnah Nabi justru masih memiliki keterbatasan.

Dasar-dasar ajaran agama Islam. Al-Qur'an adalah kitab suci agama Islam, dan menjadi dasar paling tinggi ajaran agama Islam. Al-Qur'an merupakan kumpulan wahyu-Nya yang telah diperoleh nabi Muhammad saw, yang telah dibukukan. Sunnah Nabi (Hadits Nabi) adalah berbagai lisan, sikap, perkataan dan perbuatan dari nabi Muhammad saw, sebagai contoh suri-teladan langsung pengamalan atas ajaran-ajaran dalam Al-Qur'an. Sunnah Nabi menjadi dasar paling tinggi kedua ajaran agama Islam, setelah AlQur’an. Hadits adalah catatan atau keterangan tertulis tentang berbagai Sunnah Nabi, dari orang-orang yang amat dekat dengan nabi Muhammad saw (istri, keluarga atau sahabat Nabi), ataupun yang jauh dan amat jauh (hanya pernah bertemu Nabi, atau bahkan hanya mendengar tentang Nabi). Perlu diketahui pula, bahwa tidak ada sesuatupun hadits yang berasal langsung dari nabi Muhammad saw, karena tidak ada satupun Sunnah-sunnah Nabi yang telah dicatat pada saat Nabi masih hidup. Salah-satu faktor terpenting penyebab terjadinya hal ini, yaitu adanya larangan dari nabi Muhammad saw atas pencatatan Sunnah-sunnah Nabi. Hal ini khususnya lebih pada alasan teknis, karena Al-Qur'an itu sendiri belum selesai dicatat dan bahkan belum dibukukan (baru selesai dicatat atau selesai diturunkan-Nya saat menjelang wafatnya Nabi). Sehingga dikuatirkan oleh Nabi bahwa catatan atas ayat-ayat Al-Qur'an amat mungkin akan bisa bercampur-baur dengan catatan atas Sunnah-sunnah Nabi (disebut Hadits). Ijtihad (Qiyas, Ijma', Istihsan, dsb) adalah penafsiran yang sangat hati-hati atas AlQur'an dan Sunnah Nabi (Hadits), dalam konteks kekinian, ataupun penafsiran aktual atas persoalan yang belum ada pada jaman Nabi. Hal ini dihasilkan oleh sekelompok atau majelis alim-ulama ahli ijtihad dan ahli tafsir, yang bisa dipilih oleh umat, setiap jamannya. Selain itu, para ulama terkemuka inipun harus sangat menguasai ilmu agama, juga menguasai berbagai bidang keilmuan lain, sesuai dengan berbagai keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan yang sedang dihadapi umat. Dan seperti telah diketahui, bahwa pada berbagai ajaran agama-Nya sebelum kedatangan nabi Muhammad saw (khususnya dalam Taurat dan Injil), tantangan dan persoalan manusia di masa mendatang, dijawab melalui ramalan-ramalan atas kedatangan nabi berikutnya, demi kelangsungan ajaran agama-Nya itu.

Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

Amar ma'ruf nahi munkar

Saling mengingatkan antar umat Islam tentang berbagai kebaikan (untuk dilakukan) ataupun keburukan (untuk dihindari), tetapi mestinya dilakukan secara amat arifbijaksana, agar tidak melahirkan berbagai kemudaratan atau keburukan baru. Bani

Bani adalah anak keturunan dari seseorang, yang kemudian telah menjadi sesuatu kaum, bangsa, suku, kelompok, dsb. Bani Adam misalnya adalah seluruh anak keturunan nabi Adam as sampai saat sekarang ini (umat manusia secara keseluruhannya). Do'a

Do'a adalah sesuatu cara terapi batiniah yang diajarkan dalam agama-Nya. Dengan berdo'a, setiap manusia melakukan sesuatu usaha secara batiniah (secara sadar ataupun tidak), untuk bisa mengubah berbagai keadaan batiniahnya ‘sendiri’ (amat tidak efektif bagi orang lain), kecuali do’a yang dibacakan di hadapan orang lain, untuk sekedar memberi pengajaran. Walaupun lebih sulit dijelaskan, proses dan hasil dari do’a yang bersifat batiniah ini, juga diatur dalam sunatullah, serupa seperti halnya proses-proses lahiriah. Agar berbagai keadaan batiniah itu betul-betul tercapai, dan juga agar do'a itu lebih memungkinkan bisa dikabulkan-Nya (di-ijabah), maka kandungan isi do'a itu justru semestinya betul-betul dipahami. Penting diketahui, do'a membentuk semangat batin (energi positif) yang sangat diperlukan, untuk mendukung berbagai usaha di dalam mencapai tujuan-tujuan lahiriah ataupun batiniah. Selain semangat batin itu, do'a amat penting pula untuk membentuk sikap-sikap batiniah pada diri manusia, seperti: - Saat sebelum berusaha, bersabar dalam menghadapi segala bentuk keadaan pada diri sendiri dan lingkungan (terutama akibat cobaan atau ujian-Nya). - Saat sedang berusaha, ikhlas menerima secara apa adanya atas segala kehendak-Nya di alam semesta ini.


Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya -

977

978

Saat akhir berusaha, bertawakal (berserah-diri) atas tiap hasil usaha kepadaNya. Saat setelah berusaha, bersyukur menerima segala apapun bentuk dari hasil pemberian-Nya.

Keluar dari agama yang sedang dianutnya sekarang, bisa pindah ke agama lainnya ataupun bisa menjadi ateis (tanpa beragama). • Kezaliman : Menganiaya zat-zat ciptaan-Nya secara melampaui batas, seperti: diri sendiri, orang-lain, alam, dsb. Allah melalui aturan-Nya (sunatullah) pasti akan menimpakan azab-Nya (secara lahiriah ataupun batiniah, di dunia ataupun di akhirat) bagi pelaku tiap perbuatan kezaliman.

Khusus pada tujuan-tujuan lahiriah, setelah berdo'a berbagai usaha yang sesuai tetap harus dilakukan oleh manusia itu sendiri. Proses semacam ini pula yang telah dilakukan oleh orang-orang tertentu yang berilmu tinggi dan yang do'anya mustajab (ampuh). Mereka telah memahami sebagian dari sunatullah tertentu (lahiriah dan batiniah), terutama yang terkait dengan do'anya itu sendiri. Akhirnya, semuanya tetap kembali kepada "usaha", sekeras atau selama apapun usaha itu dilakukan, untuk mewujudkan isi sesuatu do'a. Namun pencapaian segala tujuan batiniahnya (yang positif) jauh lebih penting dan hakiki, daripada pencapaian lahiriahnya yang amat semu dan mudah menyesatkan.

• Kemungkaran : Melakukan berbagai bentuk keburukan. • Kefasikan / Kebohongan / Kedustaan : Berkata tentang hal-hal yang tidak sebenarnya. • Fitnah : Kebohongan yang amat berlebihan, dan berpengaruh amat besar pada nasib orang lain.

Bagaimana peran Allah dalam mengkabulkan do'a-do'a?. Sekali lagi, tiap tindakan dan kehendak-Nya di alam semesta ini pasti melalui sunatullah. Tidak ada seorang manusiapun yang bisa menyatakan, bahwa do'anya ‘pasti’ akan bisa dikabulkanNya (bahkan termasuk para nabi-Nya), karena manusia pasti tidak akan pernah memahami atau menguasai semua sunatullah.

• Kemunafikan : Berpaling dari berbagai kebenaran-Nya, yang justru telah jelas diketahui.

Dosa

• Kesombongan : Merasa lebih baik atau hebat daripada orang-lain.

Dosa adalah segala perbuatan yang melanggar perintah-Nya, atau segala perbuatan yang pasti akan bisa merugikan misalnya: pelakunya sendiri, orang lain, alam, dsb (tepatnya, akan bisa merusak keseimbangan alam batiniah ruh pelakunya sendiri, serta merusak keseimbangan lingkungan di sekitarnya).

• Riya : Senang dipuji oleh orang-lain. • Riba / Makan riba : Mengambil keuntungan (bunga) yang berlebihan (di luar kewajaran), dari uang atau harta yang dipinjamkan.

Beberapa jenis perbuatan dosa, antara lain: • Kemusyrikan / Musyrik : Menyekutukan Allah, atau menyembah Ilah-ilah selain Allah.

Bahwa hal-hal yang melampaui batas yang telah dilakukan oleh setiap manusia, pada dasarnya hampir pasti akan bisa melalaikan dirinya sendiri, keluarganya, tugasnya sebagai khalifah-Nya, juga bahkan bisa melalaikan Allah, Yang telah menciptakannya. Dalam Al-Qur'an juga disebut, kecintaan yang berlebihan pada harta, tahta dan wanita, juga suatu kemusyrikan secara batiniah (karena bisa dianggap pula sebagai Ilah-ilah selain Allah). Sehingga Ilah-ilah selain Allah itu tidak hanya berupa patung berhala, orang atau makhluk-Nya yang dianggap suci, benda keramat, dsb, yang jelas-jelas tampak disembah (secara lahiriah). Namun manusiapun juga bisa menyembah harta, tahta dan wanita (secara batiniah). Hakekat kedua macam penyembahan itupun juga relatif sama, tiap manusia menghabiskan amat banyak waktu, tenaga dan pikirannya kepada Ilah-ilah selain Allah itu. Serta tiap manusia menjadikan ilah-ilah selain Allah itu sebagai penuntun yang mengatur hidupnya, bukannya Allah semata. • Kekafiran : Tidak mengikuti berbagai perintah Allah, ataupun melanggar berbagai larangan Allah, yang terdapat pada berbagai ajaran agama-Nya. • Kemurtadan :

Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

Dunia / Fisik / Lahiriah / Material / Nyata dan Akhirat / Moral / Batiniah / Rohani-Spiritual / Gaib

Dunia / fisik / lahiriah / material / nyata adalah segala sesuatu hal yang terkait materi atau kebendaan yang bisa tampak dengan mata telanjang (atau dengan bantuan mikroskop) ataupun bisa diraba, dari yang amat sangat besar (galaksi) sampai yang amat sangat kecil (atom). Atom adalah unsur penyusun utama atau paling elementer alam dunia-lahiriah (sistem unsur ‘penyusun’ terkecil, yang bisa diketahui atau dikenal oleh manusia), walau Atom juga bukanlah materi-benda yang ‘terkecil’ yang sebenarnya. Akhirat / moral / batiniah / rohani-spiritual / gaib adalah segala sesuatu hal yang menyangkut aktifitas dalam zat ruh makhluk-Nya. Ruh adalah unsur penyusun utama atau paling elementer kehidupan makhluk-Nya (kehidupan akhirat-batiniahnya). Zat ataupun aktifitas ruh ini, tidak tampak (gaib). Fitrah

Fitrah adalah sifat-sifat dasar yang terpuji dan mulia pada sesuatu zat. Gendam

Gendam adalah sesuatu bentuk hipnotis untuk memperdaya korbannya.


Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

979

980

patuh kepada segala perintah-Nya (nafsu-keinginannya hanyalah semata demi mengabdi kepada-Nya).

God Spot

God Spot adalah tingkat kesadaran atau pengetahuan tentang ketuhanan.

Hawa nafsu adalah sarana yang paling sering dipakai oleh jin, syaitan dan iblis, untuk menggoda tiap manusia tiap saatnya, karena hawa nafsu itulah yang selalu mereka goyang-goyang atau aduk-aduk, agar keseimbangan batiniah ruh manusia menjadi goyah pula.

Biasanya kesadaran ini hanyalah bisa dicapai oleh para nabi-Nya, ataupun oleh orang-orang yang memiliki ilmu agama dan tingkat keimanan relatif amat tinggi. Hari Kiamat

Hari Kiamat adalah saat berakhirnya kehidupan manusia di dunia, sebagai tempat manusia mengalami cobaan atau ujian-Nya, untuk mengetahui siapa di antara manusia yang beriman kepada-Nya ataupun yang tidak.

Namun hawa nafsu bukan hal yang harus dihilangkan, karena bisa menjadi sesuatu bentuk rahmat-Nya, jika manusia bisa memanfaatkannya untuk mendukungnya menuju ke arah berbagai kebaikan (sesuai keredhaan-Nya bagi manusia). Sehingga kehidupan dunia ini pada dasarnya adalah ujian-Nya, apakah manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya?.

Sehingga Hari Kiamat juga sekaligus waktu saat terjadinya pembuktian atas segala kebenaran-Nya kepada tiap makhluk-Nya. Ada pula umat Islam yang menganggap Hari Kiamat itu adalah kematian pada manusia itu sendiri (Hari Kiamat ‘kecil’), dengan berbagai alasan seperti: - Tidak semua manusia dibinasakan-Nya pada Hari Kiamat. - Adanya manusia di Neraka, yang ingin kembali ke dunia, untuk berbuat lebih baik daripada saat kehidupannya di dunia sebelumnya, walau hal ini juga tidak diijinkan-Nya. - Manusia datang ke hadapan-Nya di Hari Kiamat, secara berbaris, bergolongan ataupun bertahap, sesuai dengan kematian manusia tiap saatnya. - Kedatangan Hari Kiamat dan kematian manusia yang sama-sama tiba-tiba, dan tidak ada yang tahu selain Allah, juga waktunya ‘amat dekat’. - Orang-orang terdahulu mustahil harus menunggu lebih lama untuk bisa masuk Surga, atau mustahil lebih lama hidup di alam kubur, sampai saat setelah kedatangan kematian pada manusia yang terakhir. - Dan banyak lagi. Hati-nurani

Hijrah

Usaha tiap manusia untuk mengubah kehidupan diri atau kaumnya secara drastis. Hal ini biasanya disebut bagi berbagai perubahan secara sadar ke arah kebaikan. Hukum Kausalitas

Hukum Kausalitas atau hukum sebab-akibat, pada dasarnya adalah hanya sesuatu ungkapan atau sebutan lain daripada sunatullah (berlaku pada aspek lahiriah dan batiniah). Namun hukum Kausalitas itu lebih sering dikaitkan dengan sunatullah pada aspek lahiriah. karena aspek lahiriah memang jauh lebih mudah diukur dan diformulasikan oleh manusia. Ikhlas, Tawakal / berserah-diri, Syukur dan Sabar

Sabar adalah sikap yang amat diperlukan dalam menghadapi cobaan atau ujianNya (secara lahiriah dan khususnya batiniah), yang pasti dialami tiap saatnya oleh tiap manusia, terutama dengan menahan nafsu-keinginan yang berlebihan ataupun yang relatif sulif akan bisa diwujudkan.

Hati-nurani adalah elemen atau sarana yang telah diciptakan-Nya pada ruh tiap manusia, yang mencatat segala tuntunan-Nya yang telah diperolehnya, atau kebenaran-Nya yang telah diketahuinya sepanjang hidupnya. Saat awal kelahirannya, kandungan isi hati-nurani tiap ruh anak manusia semuanya sama (suci-murni dan tanpa dosa), yang berupa tuntunan-Nya (kesaksian) yang paling dasar atas "sebagian kecil" dari kebenaran-Nya. Hati-nurani ini amat terkait dengan keyakinan batiniah setiap manusia, dan sebagai cermin batiniahnya dalam memantulkan cahaya kebenaran-Nya.

Ikhlas adalah sikap menerima apa adanya segala kehendak-Nya di seluruh alam semesta ini, yang tidak pernah berubah sejak awal penciptaan alam semesta sampai akhir jaman. Juga menerima apa adanya segala perintah dan laranganNya dalam ajaran-ajaran agama-Nya, demi pencapaian kemuliaan manusianya sendiri di dunia ataupun di akhirat.

Hawa nafsu

Tawakal adalah sikap berserah-diri kepada-Nya atas segala hasil usaha. Karena hanya Allah Yang Maha mengetahui proses pemberian balasan-Nya atas tiap usaha manusia tiap saatnya (melalui sunatullah).

Hawa nafsu adalah elemen atau sarana yang telah diciptakan-Nya pada ruh tiap manusia, yang mengandung semangat, keinginan atau kecenderungan kepada berbagai hal (keindahan, kenikmatan, kedudukan-kehormatan, kekayaan, pengetahuan, dsb). Hanya manusia dari segala zat makhluk-Nya yang memiliki hawa nafsu relatif sempurna (segala zat makhluk-Nya lainnya memiliki hawa nafsu yang amat stabil), sebagai sesuatu bentuk paling utama atau muara terakhir dari segala cobaan atau ujian-Nya bagi manusia. Sedang segala zat makhluk-Nya selain manusia relatif tidak mengalami berbagai cobaan atau ujian-Nya. Mereka pasti tunduk, taat dan

Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

Syukur adalah sikap menerima apapun bentuk pemberian-Nya. Karena hanya Allah Yang Maha mengetahui, apa balasan-Nya yang setimpal dan terbaik atas tiap usaha manusia. Ilah

Ilah adalah segala sesuatu yang disembah atau yang dijadikan penuntun hidup oleh manusia, secara lahiriah ataupun batiniah.


Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

981

Sehingga tidak hanya berupa penyembahan secara lahiriah (Allah, berhala, benda keramat, makhluk gaib, dsb), yang jelas-jelas tampak melalui berbagai ritual ibadah, tetapi juga berupa penyembahan secara batiniah (uang-harta-kekayaan, tahtajabatan-kedudukan, wanita-hawa nafsu, dsb). Manusia menghabiskan sebagian besar tenaga, waktu dan pikirannya pada "ilah", secara sadar ataupun tidak. Dan "ilah" atau sesembahan inipun amat mewarnai hampir seluruh kehidupan manusianya. Imam Mahdi

Hal yang umumnya diketahui, Imam Mahdi adalah seorang Muslim yang akan diturunkan-Nya ‘beberapa tahun sebelum’ akhir jaman, setelah diturunkan-Nya nabi Isa as, untuk bisa meneruskan ajaran nabi Muhammad saw dan juga untuk bisa membawa kemenangan bagi umat Islam atas umat-umat agama lainnya. Namun dalam pembahasan di sini, ternyata diketahui bahwa pemahaman ini amat lemah atau amat meragukan, dengan alasan-alasan seperti: • Nabi Muhammad saw tidak pernah mengajarkan kultus individu kepada segala makhluk-Nya, bahkan kepada diri Nabi sendiri. Sedang pada pemahaman atas diturunkan-Nya Imam Mahdi pada akhir jaman ini, justru sesuatu bentuk kultus individu yang amat luar biasa kepada seorang manusia, yang bahkan belum ada wujud sosoknya dan juga belum jelas waktu kedatangannya. • Kemenangan bagi tiap umat manusia yang beriman justru telah dijanjikan oleh Allah di Hari Kiamat. • Kemenangan yang hakiki bukan pada aspek lahiriah (duniawi), tetapi justru pada aspek batiniah (akhirat); dsb; Bahkan pemahaman atas turunnya Imam Mahdi di akhir jaman itu sangat kuat diduga, karena dipengaruhi oleh ajaran agama lain, khususnya dipengaruhi oleh adanya kekeliruan pemahaman tentang diturunkan-Nya nabi Isa as di akhir jaman. Padahal kebangkitan nabi Isa as “pada” Hari Kiamat (bukan “pada” akhir jaman dan bukan “sebelum” akhir jaman), pada dasarnya persis sama dengan kebangkitan "hidup kembali" semua manusia lainnya “pada” Hari Kiamat. Lalu seolah-olah harus ada tokoh dari kalangan umat Islam sendiri (Imam Mahdi), untuk bisa ‘menyaingi’ turunnya nabi Isa as, yang lebih dianggap sebagai ‘milik’ umat Nasrani atau Kristiani (atau menyaingi kemenangan umat Nasrani di akhir jaman). Jahiliyah

Jahiliyah adalah berbagai keadaan pada kehidupan masyarakat yang telah penuh dengan penyimpangan, kemungkaran, kebatilan, kezaliman, dsb, terutama yang telah terjadi pada jaman para nabi-Nya dahulu. Ka'bah

Ka'bah adalah pusat atau kiblat ‘simbolik’ bagi umat agama Islam, yang berupa batu biasa berukuran besar, berwarna hitam, berbentuk kubus sederhana, yang berada pada tengah-tengah Masjidil Haram di Kota Mekah-Saudi Arabia. Ka'bah mengandung berbagai simbol bagi umat Islam, terutama sebagai simbol bagi ‘Arsy-Nya, juga sebagai simbol yang penting bagi persatuan di kalangan umat

982

Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

yang berasal dari berbagai bangsa di dunia. Selain sebagai simbol-simbol itu, Ka'bah itu tidak mempunyai arti apa-apa. Dan Ka'bah juga tidak sama dengan berhala, bahkan hal ini tampak jelas dari gambar Ka'bah pada sajadah, yang bisa diinjak-injak dengan kaki. Hati atau Kalbu

Kalbu atau hati adalah elemen atau sarana yang telah diciptakan-Nya pada ruh tiap manusia, yang berfungsi sebagai indera batiniah (menerima segala informasi dari luar diri manusianya, atau dari alat-alat indera lahiriahnya), juga sekaligus mencatat segala informasi batiniah tentang tingkat kesukaan atau perasaan atas segala sesuatu hal. Kalbu atau hati adalah kandungan isi dari zat ruh. Jika zat ruh diibaratkan kotak, maka kalbu atau hati adalah isi kotaknya. Kebatilan

Sama dengan keburukan. Kemudharatan

Kemudharatan adalah segala perbuatan yang membawa kerugian atau keburukan bagi manusia pelakunya (dari yang sangat ringan sampai yang sangat berat, lahiriah dan batiniah). Kenabian

Kenabian adalah suatu tingkat pengetahuan atau pemahaman paling tinggi yang mampu dicapai oleh manusia atas berbagai kebenaran-Nya, sekaligus disertai dengan pengamalannya yang amat konsisten. Segala pengetahuan atau pemahaman pada suatu kenabian telah tersusun dengan relatif ‘sempurna’, yaitu relatif sangat lengkap (sesuai perkembangan jamannya), mendalam (seluruhnya berupa hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan keseluruhannya. Tentunya pemahaman (keimanan batiniah) para nabi-Nya, juga disertai dengan keimanan lahiriahnya yang amat konsisten (pengamalannya melalui pikiran, sikap, perkataan dan perbuatan). Selain agar umat mau mengikuti pemahaman mereka, dan juga agar umat bisa menjadikan mereka sebagai contoh panutan. Dengan berbagai unsur itu (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh, dan tidak saling bertentangan keseluruhan pemahamannya, dan juga amat konsisten pengamalannya), maka integritas keimanan para nabi-Nya relatif jauh lebih tinggi dan utuh (lahiriah dan batiniah), daripada manusia biasa umumnya. Sehingga perolehan pengetahuan atau pemahaman (hikmah dan hidayah-Nya) pada para nabi-Nya atas kebenaran-Nya itu juga "pantas" disebutkan sebagai "wahyu-Nya", atau disebut berasal langsung dari Allah. Sedang pada manusia biasa umumnya ‘tetap’ disebut sebagai hikmah dan hidayahNya saja (atau al-Hikmah). Walau prinsip proses perolehannya pada para nabi-Nya dan pada manusia biasa umumnya, persis sama (juga melalui para makhluk gaib, khususnya malaikat Jibril). Namun untuk menjaga amat tingginya nilai kemuliaan wahyu-wahyu-Nya itu, maka


Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

983

perolehan pada manusia biasa umumnya juga tidak pernah disebutkan berasal dari malaikat Jibril. Dan dari aspek kelengkapan di atas, maka tentunya kedalaman pengetahuan atau pemahaman pada tiap nabi-Nya amat berbeda-beda dalam menjawab persoalan kaum ataupun umatnya masing-masing, karena sesuai dengan perkembangan kehidupan umat kaumnya. Namun kesamaan pemahaman pada para nabi-Nya adalah mereka bisa menjawab persoalan umat kaumnya (ataupun seluruh umat manusia) yang sangat mendasar, khususnya tentang ketuhanan. Sehingga tauhid merekapun sama, yaitu "tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa", dari hasil pemahaman mereka yang amat mendalam atas tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini, yang sama pula. Khasanah

Khasanah adalah kekayaan variasi jenis sesuatu hal. Khilafah / Kekhalifahan

Khilafah / kekhalifahan adalah sistem kemasyarakatan, kenegaraan atau sistem pemerintahan, dan berikut sistem hukumnya, yang berdasarkan agama. Dan pimpinan tertinggi negara dan umat disebut ‘khalifah’. Khilafiyah

984

Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

Jin, Syaitan dan Iblis

Malaikat, jin, syaitan dan iblis adalah nama-nama sebutan untuk berbagai jenis para makhluk gaib-Nya. Dari segi lahiriah, tiap manusia mendapat pengajaran dan ujian-Nya dalam proses penggodokannya di dunia, dari segala hal yang ada (nyata atau terlihat) di seluruh alam semesta ini, termasuk pula semua manusia lainnya. Demi kesempurnaan proses penggodokan itu, maka tiap manusia mestinya pula mendapat pengajaran dan ujian-Nya dari segi batiniahnya. Hal terakhir inilah yang menjadi tugas utama bagi para makhluk gaib-Nya itu. Seperti halnya pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah itu sendiri yang lengkap kepada tiap manusia, maka tugas para makhluk gaib dibagi-bagi, secara ringkas yaitu: • Malaikat : Memberikan pengajaran mengenai kebaikan (sebagai pelajaran), yaitu dalam hal menyampaikan berbagai kebenaran-Nya kepada tiap manusia, terutama lagi menyampaikan wahyu-wahyu-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya; Perbedaan antara perolehan para nabi-Nya daripada manusia biasa adalah keutuhan dan kelengkapan berbagai kebenaran-Nya yang telah diperolehnya, karena adanya integritas keimanan para nabi-Nya, yang amat tinggi.

Khilafiyah adalah berbagai hal dalam ajaran-ajaran agama-Nya yang bisa memiliki banyak bentuk penafsiran.

• Syaitan: Memberikan pengajaran mengenai segala keburukan (sebagai ujian).

Biasanya hal-hal atau masalah-masalah khalifiyah ini bukanlah hal-hal yang terlalu prinsipiil atau penting dalam kehidupan beragama. Dan tiap umat justru masih bisa mengamalkannya sesuai dengan keyakinan atau pemahamannya masing-masing.

• Iblis : Serupa dengan syaitan, namun jauh lebih buruk.

Lauh Mahfuzh

Lauh Mahfuzh adalah kitab mulia yang berada di sisi ‘Arsy-Nya (di alam gaib), yang berbentuk gaib, yang tercatat di dalamnya segala kebenaran-Nya di seluruh alam semesta ini. Lauh Mahfuzh pada dasarnya suatu kitab ‘simbolik’, bukan kitab yang sebenarnya. Malaikat Jibril / Ruhul Kudus

Ruhul Kudus adalah nama sebutan lain untuk malaikat Jibril. Sangat sedikit malaikat Jibril disebutkan dengan Ruhul Kudus. Dalam Al-Qur’an, hal inipun terutama hanya disebut dalam kaitannya dengan kisah-kisah tentang nabi Isa as. Khususnya tentang nabi Isa as yang diperkuat-Nya dengan Ruhul Kudus. Maksud istilah "diperkuat-Nya" ini pada dasarnya adalah, adanya interaksi secara terang-terangan antara nabi Isa as dan Ruhul Kudus dalam proses penyampaian wahyu-Nya. Hal yang sama juga dialami nabi Muhammad saw, beberapa nabi-Nya lainnya, ataupun bahkan sejumlah sangat terbatas manusia sampai sekarang. Malaikat,

• Jin : Memberikan pengajaran mengenai segala hal-hal yang bersifat umum, mengenai berbagai kejadian di alam semesta ini, walaupun terkadang bisa menyesatkan, dengan mengajarkan hal yang bertentangan dengan aturan-Nya (sunatullah). Mirza Ghulam Ahmad

Mirza Ghulam Ahmad adalah nama seseorang yang telah dianggap sebagai nabi oleh penganut aliran Ahmadiah. Mistis / Mistik

Mistis / mistik adalah segala sesuatu hal yang relatif tanpa memiliki penjelasan melalui intuisi-nalar-logika akal-sehat manusia. Dalam agama Islam pada dasarnya tidak dikenal hal-hal yang mistis atau mistik seperti ini, karena ajaran-ajarannya justru "amat jelas dan terang" kebenaran-Nya. Tentunya belum seluruh umat Islam memiliki "penglihatan" (pemahaman) yang amat terang atas berbagai cahaya kebenaran-Nya dalam ajaran-ajaran agama-Nya, seperti halnya kejelasan pemahaman yang dimiliki oleh para nabi-Nya. Bahkan ajaran-ajaran agama Islam pada dasarnya tidak ada yang bertentangan


Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

985

dengan segala ilmu-pengetahuan modern yang diperoleh secara "amat obyektif". Sederhananya, hanya tinggal masalah waktu, kemampuan dan usaha keras tiap umat Islam saja, untuk bisa memiliki pengetahuan atau pemahaman atas berbagai hikmat dan hakekat kebenaran-Nya, seperti yang diperoleh para nabi-Nya. Maka mistisisme ajaran-ajaran agama Islam, mestinya hanya berupa pemahaman atas amat tingginya nilai-nilai kemuliaan kebenaran-Nya di dalamnya, yang relatif sulit dijangkau, tetapi sama sekali bukan karena berada di luar akal sehat manusia. Mujahid dan Jihad

Jihad adalah segala bentuk tindakan perjuangan dalam usaha menegakkan ajaran agama-Nya yang lurus (Islam) dalam berbagai bidang (dalam setiap diri, keluarga, bertetangga, bermasyarakat ataupun bernegara). Serta lebih luasnya perjuangan dalam menegakkan setiap kebenaran-Nya. Jihad paling utama adalah melawan hawa nafsu, sebagai hakekat utama dari kehidupan di dunia ini, yang memang penuh dengan cobaan atau ujian-Nya. Serta jihad dalam melawan segala bentuk kezaliman atas umat dan agama Islam, secara proporsional dan dilakukan dengan sebenar-benarnya. Mujahid adalah orang-orang yang melaksanakan jihad. Mu'jizat

Mu'jizat adalah peristiwa atau kejadian (lahiriah atau batiniah) yang tampak amat luar-biasa, terutama dari sudut pandang umat pada jaman terjadinya, sebagai hasil dari berlakunya sunatullah tertentu pada para nabi-Nya. Dengan pengetahuan yang telah dimiliki umat manusia modern sekarang, sebagian dari mu'jizat para nabi-Nya terdahulu justru tidak tampak luar-biasa lagi, apalagi yang berbentuk lahiriah. Jadi keluar-biasaan itu tergantung pada jamannya. Dan mu'jizat berasal dari pengetahuan dan pengalaman tertentu pada para nabi-Nya. Hal ini menerangkan, tentang tidak adanya mu'jizat dari nabi Muhammad saw, selain mu'jizatnya yang paling luar-biasa, kitab suci Al-Qur'an. Umat pada jaman nabi Muhammad saw telah jauh lebih berkembang daripada umat para nabi-Nya lainnya, maka relatif sulit bisa timbul suatu kejadian yang bisa dianggap luar-biasa oleh umat-umat Nabi. Bahkan pengetahuan tentang hal-hal lahiriah, Nabi juga meminta pendapat para sahabat. Seperti ketika Nabi menyetujui pendapat salah seorang panglima perang Islam, agar membuat parit pertahanan di lokasi yang berbeda daripada yang semula diusulkan oleh Nabi. Keluar-biasaan atau mu'jizat kitab suci Al-Qur'an justru terletak pada kelengkapan, kedalaman, keutuhan, konsistensi dan tidak saling bertentangan seluruh hikmah dan hakekat kebenaran-Nya dalam kandungan isinya. Segala ‘hakekat’ kebenaran-Nya semuanya berada pada alam gaib-batiniah-akhirat pada Kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, bukan pada alam nyata-lahiriahdunia, yang sangat semu dan fana. Sedang hampir semua isi Al-Qur'an terkandung hal-hal bersifat batiniah, dan aspekaspek lahiriahnya (ritual ibadah fisik, syariat, dsb) justru hanya untuk mendukung pencapaian nilai-nilai batiniah di baliknya.

986

Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

Mu'jizat Nabi Muhammad saw bukanlah pula berupa mu'jizat yang bisa tampak, karena ilmu lahiriah jika keliru pemakaiannya, hasilnya bisa tidak dibenarkan-Nya (atau menjadi tidak luar biasa lagi). Seperti mu'jizat pada nabi Musa as yang disebut sebagai "sihir". Mu'jizat seperti ini sebenarnya bukanlah sihir, tetapi hanya ilmu-pengetahuan biasa (seperti pesulap atau ilusionis sekarang), tujuannyapun hanya untuk bisa menunjukkan ketinggian ilmunya, agar umat mengakui berbagai kebenaran-Nya yang dibawanya. Istilah "sihir" bahkan sampai sekarang, juga dipakai untuk hal-hal yang relatif sulit dijelaskan (terutama pada masyarakat yang masih tradisional). "Musa berkata: `Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini`, padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan`." - (QS.10:77) Misalnya mu'jizat beberapa nabi-Nya yang disebut bisa menghidupkan kembali orang mati, pada dasarnya bukanlah benar-benar bisa menghidupkan orang mati. Tetapi para nabi-Nya itu justru mempunyai suatu kemampuan tertentu untuk bisa menyadarkan kembali orang yang sedang pingsan, mati suri, koma atau sekarat (cukup lama tidak bisa berreaksi apa-apa). Bahkan kemampuan para nabi-Nya inipun justru jauh lebih sederhana daripada kemampuan para dokter di jaman modern sekarang. Dan padahal para nabi-Nya itu justru tidak bisa menghidupkan orang mati yang telah lama dikuburkan, ataupun telah hancur di dalam tanah. Hal-hal semacam inilah yang terjadi pada berbagai mu'jizat lahiriah lain dari para nabi-Nya. Bahwa dasar terjadinya setiap mu'jizat adalah, pengetahuan yang cukup baik tentang sunatullah lahiriah tertentu (bisa terjadi berulang) ataupun pengalaman tertentu tanpa sengaja (tak-berulang). Mu'jizat merupakan sesuatu tanda bahwa para nabi-Nya memiliki kelebihan dan keistimewaan dari segi keilmuan (lahiriah), dibanding manusia lain pada jamannya, khususnya agar umat mau mengikuti berbagai ajaran yang dibawanya. Bahwa mu'jizat juga bukanlah hal yang mistis. Kesan mistis itu hanya ada, karena belum bisa dijelaskan, termasuk karena tidak ada penjelasan lengkap tentang ilmu di balik mu'jizat dari para nabi-Nya itu sendiri. Muslim, Mukmin dan Mukhlis

Muslim adalah orang-orang yang menganut agama Islam. Mukmin adalah umat Muslim yang beriman. Mukhlis adalah umat Muslim yang Mukmin, tetapi juga sekaligus memiliki tingkatan keikhlasan yang relatif amat tinggi. Mustajab dan Ijabah

Ijabah adalah do’a-do’a yang dikabulkan-Nya. Mustajab adalah do’a-do’a yang ampuh dari umat-umat Islam tertentu yang tingkat keimanan atau pengetahuannya amat tinggi, sehingga ‘hampir’ pasti dikabulkan-


Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

987

988

Nya.

Reinkarnasi atau penitisan justru tidak dikenal dalam ajaran agama Islam, karena hakekat tiap manusia adalah pada ruhnya. Sehingga segala keadaan yang terkait dengan manusia (kehidupan alam batiniah ruhnya), pasti akan terbawa bersama ruhnya sampai Hari Kiamat.

Mutasyabihat dan Muhkamat

Dua macam pembagian kelompok ayat-ayat Al-Qur’an jika ditinjau dari sudut pandang kejelasan maknanya.

Dan ruh tiap bayi manusia yang baru terlahir, semuanya sama-sama suci-murni dan bersih dari dosa-dosa, sehingga mustahil bisa memiliki berbagai kelebihan ataupun kekurangan dari ‘makhluk lama’-nya (pada reinkarnasi atau penitisan).

Ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang terang dan tegas maknanya. Ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang banyak artinya dan susah ditentukan maknanya, terutama tentang hal-hal gaib, yang "hanya" Allah Yang Maha mengetahuinya. Penting diketahui pula bahwa "jelas" atau "terangnya" suatu ayat mestinya bukan hanya karena jelas makna tekstual-harfiahnya, tetapi justru karena jelas hikmah dan hakekat kebenaran-Nya. Sangat banyak hal-hal yang bersifat simbolik dan perumpamaan di dalam Al-Qur’an, khususnya dalam memberi penjelasan tentang hal-hal yang gaib. Juga teks ayat pada dasarnya pasti diliputi konteks ruang, waktu dan budaya umat, ketika ayat itu disampaikan Sehingga teks mustahil bisa bersifat universal, atau mustahil bisa bebas dari konteks ruang, waktu dan budaya. Maka walau teksnya jelas, tetapi pengertian atau makna yang sebenarnya belum tentu sama seperti bunyi teks tersebut.

Sedang pada reinkarnasi atau penitisan itu, nilai-nilai kemanusiaan dan tanggungjawabnya juga menjadi tidak jelas, serta tiap bayi manusia bisa memiliki berbagai kelebihan ataupun kekurangan dari ‘makhluk lama’. Ruh / Jiwa / Nyawa

Ruh / jiwa / nyawa adalah suatu unsur yang paling elementer pembentuk kehidupan dari segala jenis makhluk-Nya. Pada masing-masing jenis makhluk-Nya, ruhnya memiliki sifat atau jenis yang berbeda-beda (tepatnya tergantung sifat atau jenis tubuh wadahnya). Terdapat berbagai jenis ruh, antara lain: ruh makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis), ruh manusia (pria dan wanita), berragam ruh tumbuhan, berragam ruh hewan (jantan dan betina), berragam ruh sel, dsb.

Perawi

Perawi adalah orang-orang dari jaman dahulu sampai jaman sekarang, yang telah meneruskan berbagai catatan dan keterangan tentang Sunnah-sunnah Nabi, berupa kitab-kitab hadits. Tentu saja termasuk pula orang-orang yang langsung membuat catatan dan keterangan itu sendiri. Biasanya mereka itu memiliki naskah-naskah kuno yang berupa kitab-kitab hadits. Sedang pembuat awal kitab-kitab hadits itu adalah orang-orang yang amat dekat dengan nabi Muhammad saw (istri, keluarga ataupun sahabat Nabi), sampai yang jauh dan amat jauh (hanya pernah bertemu Nabi, atau bahkan hanya mendengar tentang Nabi). Pohon Khuldi

Pohon Khuldi adalah suatu jenis pohon di Surga yang dilarang oleh Allah, untuk dimakan buahnya oleh Adam dan Hawa, pada saat mereka masih berada di Surga. Tentunya pohon Khuldi itu hanyalah suatu contoh-perumpamaan simbolik semata, karena Surga itu sendiri berada pada alam akhirat yang gaib. Persis seperti halnya berbagai perumpamaan tentang Surga, yang berupa taman yang amat indah dengan mata-mata air dan pohon-pohon kurma di dalamnya. Reinkarnasi dan Penitisan

Reinkarnasi adalah pemahaman dalam beberapa agama tertentu (seperti Hindu dan Budha), bahwa ruh-ruh umat manusia yang telah wafat, bisa menyatu (menitis) kembali ke benih dasar tubuh wadah anak manusia yang akan terlahir. Penitisan serupa dengan reinkarnasi, selain dari ruh-ruh manusia terdahulu yang telah wafat, namun juga dari ruh dewa, ruh makhluk gaib, dsb.

Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

Rukun

Rukun adalah urutan atau tahapan sesuatu proses. Biasanya dipakai pada berbagai urutan proses pelaksanaan suatu syariat atau ibadah tertentu, terutama demi kehikmatan dan ketertibannya. Misalnya rukun islam, rukun shalat, rukun wudlu, rukun haji, dsb. Sahabat Nabi, Tabiin dan Tabiit-tabiin

Sahabat Nabi adalah orang-orang yang hidup pada jaman nabi Muhammad saw, yang ikut berjuang bersama-sama Nabi dalam berusaha menggembangkan dan menegakkan ajaran agama Islam, pada awal perkembangannya. Tabiin (sahabat dari sahabat Nabi) adalah orang-orang yang hidup setelah wafatnya Nabi, yang ikut berjuang menegakkan agama-Nya bersama para sahabat Nabi, ataupun yang belajar langsung dari para sahabat. Tabiit-tabiin (sahabat dari sahabat dari sahabat Nabi) adalah orang-orang yang hidup setelah wafatnya para sahabat Nabi, yang ikut berjuang menegakkan agama-Nya bersama para tabiin, ataupun yang belajar langsung dari para tabiin. Sangkakala

Sangkakala adalah sesuatu terompet yang akan ditiup oleh malaikat Israfil pada Hari Kiamat. Tiupan sangkakala itu sebagai simbol tanda kedatangan kebinasaan atau kematian


Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

989

manusia pada Hari Kiamat (tiupan pertama), dan sebagai simbol dibangkitkan-Nya ‘hidup kembali’ manusia dari alam kubur (tiupan kedua). Siratal Mustaqim

Hal yang umumnya diketahui, "Jembatan siratal mustaqim" adalah suatu jembatan pada Hari Kiamat, yang lebarnya hanya seukuran dengan rambut yang dibelah tujuh, sebagai satu-satunya tempat yang harus dilewati untuk menuju ke Surga. Sedang di bawah jembatan itu terdapat Neraka (jurang yang amat sangat dalam, dengan api yang berkobar-kobar di dalamnya). Dan pada orang-orang yang tingkat keimanannya tinggi, ia akan mudah dan cepat bisa melalui jembatan itu, sebaliknya pada orang-orang yang tidak beriman, ia akan mudah terpleset dan jatuh ke dalam jurang itu. Secara sekilas, tampak jelas bahwa pemahaman di atas hanyalah berupa suatu perumpamaan, karena mustahil ada manusia yang bisa melalui jembatan itu. Tetapi dalam pembahasan di sini, keadaan filter pada batin manusia, terhadap berbagai bentuk pengajaran dari para makhluk gaib itu diperumpamakan dengan "jembatan siratal mustaqim" tersebut. Perumpamaan itu hanyalah untuk bisa menggambarkan betapa amat sangat halus, tipis atau tidak kentara perbedaan antara kebenaran (hak) dan kebatilan (atau antara kebaikan dan keburukan). Sehingga suatu kesalahan (dosa) kecil, yang sengaja dan terus-menerus dilakukan, juga bisa menjerumuskan manusia ke api neraka. Dosa kecil semacam itu cenderung akan melahirkan berbagai dosa lainnya (kecil ataupun besar, sengaja ataupun tidak), karena dalam batin pelakunya telah terbentuk pondasi ‘keyakinan baru’, yang relatif membenarkan dosa kecil di atas, sekaligus melupakan pondasi awalnya. Pergeseran keyakinan secara perlahanlahan itu juga bisa berlangsung terus-menerus sepanjang hidup, dan akhirnya tanpa disadari telah bisa menjerumuskan pelakunya ke jalan yang menyesatkan. Tingkat keimanan (kemampuan melewati ‘jembatan siratal mustaqim’) berwujud keyakinan dalam alam batiniah ruh manusia, untuk bisa memfilter (memisahkan) antara hal-hal yang benar (hak) dari yang batil itu. Semakin tinggi tingkat keimanan manusia, maka semakin mudah pula baginya untuk mengenali dan membedakan sesuatu kebatilan, yang bentuknya bisa amat sangat halus, tipis atau tidak kentara bagi mata batin manusia (kalbu). Tentunya wujud keimanan itu bukan hanya sebatas pemahaman atas kebenaranNya (dalam pemikiran), namun yang jauh lebih penting lagi adalah mengamalkan setiap pemahaman itu sesuai keadaan dan kemampuan. Surga dan Neraka

Dua macam bentuk balasan-Nya (nikmat dan hukuman-Nya) melalui alam batiniah ruh manusia (alam akhiratnya), terutama di Hari Kiamat, saat diberikan-Nya bentuk balasan-Nya yang terakhir atas segala amal-perbuatan tiap manusia selama di dunia. Maka Surga di Hari Kiamat sering juga disebut sebagai nikmat, rahmat atau pahalaNya yang paling baik, sedang Neraka disebut sebagai siksaan, azab atau hukuman yang paling buruk.

990

Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

Dan pada dasarnya, dalam kehidupan duniapun telah ada "surga kecil" dan "neraka kecil", juga pada alam batiniah ruh manusia. Namun hal ini lebih sering disebut sebagai pahala-Nya dan beban dosa. Syafaat

Syafaat adalah hasil pengaruh secara batiniah (baik ataupun buruk) kepada tiap manusia, akibat pelajaran dan pengajaran dari makhluk-Nya yang lain (atau ‘sesuatu’, seperti berhala dan Ilah-ilah selain Allah). Syafaat berlaku sesuai dengan ijin-Nya atau aturan-Nya (sunatullah). Dan karena syafaat justru melalui perantara makhluk-Nya atau sesuatu hal, maka jarang pula disebut dengan ‘syafaat-Nya’. Berhala atau segala benda mati lainnya, sebenarnya tidak bisa memberi syafaat, tetapi manusia sendirilah yang membuat, mengada-ada dan mengambil pelajaran darinya. Dalam pengertian "syafa’at baik", pengajaran itu dari para makhluk-Nya yang memiliki kemuliaan tinggi (misalnya: para ulama, nabi dan malaikat). Hal paling utama yaitu syafa’at atau pengajaran tentang tauhid "tiada ilah selain Allah, Yang Maha Esa". Dalam pengertian "syafa’at buruk", pengajaran itu misalnya dari: berhala, syaitan dan iblis, orang kafir, dsb. "Syafaat baik" hanya diperhitungkan-Nya atau hanya memiliki manfaat, jika umat telah mengamalkan kebenaran-Nya dalam tiap pengajaran itu, dalam kehidupannya sehari-hari. Sehingga "syafaat baik" bukanlah berbentuk nilai amalan tambahan, yang otomatis diberikan kepada umat Islam saat penghisaban di Hari Kiamat, yang bisa meringankan acaman hukuman-Nya bagi umat. Tetapi tetap harus telah melekat langsung ke dalam amal-perbuatan setiap umat pada kehidupannya di dunia. Dengan sendirinya, hal yang sebaliknya yang justru terjadi pada "syafaat buruk", atau telah melekat pada berbagai perbuatan dosa umat, yang mustahil bisa diterima-Nya syafaat baginya. Sehingga "syafaat baik" akan tidak diterima-Nya di Hari Kiamat, justru jika belum diamalkan, karena telah selesainya segala amal-perbuatan tiap manusia, sejak kematiannya, bersamaan pula dengan selesainya segala ujian-Nya kepadanya. Akhirnya, syafaat justru bukan terkait dengan ‘orang’ yang menerimanya, tetapi dengan tiap ‘amal-kebaikan’ orang tersebut selama di dunia. Syahadat

Syahadat adalah sesuatu perjanjian manusia terhadap Allah, dengan mengucapkan suatu kalimat tertentu yang harus dilakukan saat seseorang baru mulai menganut agama-Nya, dan harus di hadapan sejumlah saksi tertentu. Bagi bayi anak manusia yang baru lahir, biasanya ucapan perjanjian itu dilakukan oleh orang-tuanya, dan otomatis pula ia menganut agama orang-tuanya. Kalimat syahadat dalam agama Islam, adalah "’Asyhadu Allah ilaha illallah, Wa ‘asyhadu anna Muhammadar rasullullah" (Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi, bahwa Muhammad itu utusan Allah).


Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

991

992

Lampiran C: Daftar istilah keagamaan lainnya

Serta penting pula untuk berbuat amal-kebaikan tertentu yang bisa ‘menutupi’ atau mengurangi beban dosa terkait.

Syariat

Syariat adalah berbagai kegiatan lahiriah yang diperintahkan dalam ajaran agamaNya, sebagai wujud dari pengamalan langsung atas keimanan kepada-Nya, sebaliknya ada pula berbagai kegiatan lahiriah yang justru dilarang untuk dilakukan.

Tauhid

Tauhid adalah landasan utama pemahaman atau keyakinan suatu agama tentang Tuhan yang disembah oleh agama itu, khususnya lagi tentang ke-Esa-an-Nya.

Sehingga syariat cenderung berbentuk berbagai aturan atau hukum. Berbagai hukum syariat biasanya dikelompokkan menjadi hal-hal, seperti: wajib, sunnah, mubah, makruh ataupun haram.

Biasanya tauhid terkandung dalam kalimat Syahadat (suatu kalimat pada perjanjian awal bagi penganut suatu agama). Tauhid dalam agama Islam, misalnya "tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa’, "Allah Maha Kuasa", "Allah Maha Mendengar", "Allah tidak beranak dan tidak diperanakan", dsb.

Tafakur

Tafakur adalah segala usaha tiap manusia untuk bisa membentuk kesadaran atau pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya di seluruh alam semesta ini. Dengan melakukan pemikiran secara mendalam untuk mengingat atau mencari hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah), berdasar segala pengetahuan dan pengalaman yang telah dimilikinya (lahiriah dan batiniah).

Zakat

Zakat adalah ibadah wajib pada saat tertentu bagi umat Islam yang telah mampu, dengan memberi sebagian tertentu dari harta-kekayaannya (harta diam ataupun bergerak) kepada kaum fakir-miskin ataupun orang-orang lainnya yang lebih membutuhkan (amil, musafir, mu’allaf, dsb).

Taklid / Taklik

Taklid / taklik adalah keimanan atas sesuatu hal, tetapi tanpa berdasar berbagai pengetahuan atau pemahaman yang mendalam tentang hal itu. Pada tingkat awal, ketika pengetahuan dan pemahaman umat masih amat rendah, maka keimanan secara taklid atas berbagai ajaran agama memang terkadang cukup diperlukan, terutama dengan mengikuti hasil pengajaran dari orang-orang yang telah diyakininya. lurus atau benar. Tapi ketika pengetahuan dan pemahaman umat telah makin berkembang, maka keimanan secara taklid ini menjadi makin tidak relevan.

Banyak jenis zakat dan berbagai syarat-ketentuannya dalam ajaran Islam. Zarrah / Biji zarrah

Zarrah adalah simbol benda terkecil yang mampu diketahui manusia (pada konteks jaman Nabi). Di dalam Al-Qur’an, biasanya untuk menggambarkan hal-hal yang paling sederhana (pengetahuan, perbuatan, amal-kebaikan dan keburukan, dosa dan pahala, dsb). Pada jaman nabi Muhammad saw, benda terkecil itu berupa biji-bijian dari tanaman pohon "zarrah". Sedangkan di jaman sekarang, benda terkecil itu berupa atom, elektron, proton, neutron, dsb, atau biasanya ‘atom’ saja.

Apalagi jika hal-hal yang telah diimani, bukan berupa pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, tetapi hanya makna tekstual-harfiah dari ajaran-ajaran itu. Setiap umat pada dasarnya bisa langsung berhubungan dengan Allah ataupun bisa ikut memahami berbagai kebenaran-Nya, tanpa perlu perantara sama sekali. Dalam agama Islam, tidak dikenal perantara bagi Allah di dunia. Bahkan para nabi-Nya bukanlah ‘perantara’ manusia dengan Allah, tetapi mereka adalah utusan-Nya ‘penyampai’ pengajaran dan tuntunan-Nya. Tasawuf dan Sufi

Tasawuf adalah sesuatu cara dalam agama untuk bisa memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang makin mendalam tentang berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya, terutama dengan menempuh suatu perjalanan rohani tertentu (suluk), untuk mensucikan keadaan batiniah ruh. Sufi adalah orang-orang yang mempraktekkan Tasawuf. Taubat

Taubat adalah permintaan maaf oleh seorang manusia kepada Tuhannya, atas dosa-dosa yang telah dilakukannya dan berharap bisa dihapuskan-Nya. Setelah permintaan maaf itu yang berupa pernyataan tegas rasa penyesalan melalui pikiran atau perkataan, lalu tidak mengulangi melakukan perbuatan dosa terkait.

Zikir

Zikir adalah segala usaha setiap manusia untuk mengingat-ingat Allah dan segala kebenaran-Nya. Biasanya sambil menyebut-sebut berbagai nama Allah, dengan ataupun tanpa memakai tasbih. Biasanya ada pula penyebutan nama-nama Allah itu dilakukan pada jumlah tertentu. Pada dasarnya, tujuan utama dari tindakan berzikir justru bukanlah hanya sekedar penyebutan lafazh nama-nama Allah itu, namun lebih penting lagi adalah sambil bertafakur untuk bisa memahami berbagai makna di dalam bacaannya.

Keterangan tabel: Semua definisi istilah di atas diturunkan berdasarkan dari seluruh pemahaman pada buku ini. Maka pengertian ataupun uraiannya bisa tampak berbeda dari definisi pada sumber-sumber lainnya. Sehingga tiap definisi istilah di atas, sebaiknya agar dicermati lebih mendalam.


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

993

994

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam Ada perbedaan yang relatif sangat tajam antar berbagai aliran teologi di dalam agama Islam, pada saat memahami atau menafsirkan ajaran-ajaran agama Islam (khususnya Al-Qur’an dan Hadits), bahkan terkadang saling bertentangan. Aliran-aliran teologi yang akan ditinjau dalam hal ini adalah Mu'tazilah, Qadariah, Maturidiah (Samarkand dan Buchara), Asy'ariah dan Jabariah. Aliran Mu'tazilah seperti halnya dengan aliran Qadariah yang menganut paham keinginan bebas (free will), karena menurut mereka, "Manusia memiliki daya yang besar dan bebas, walau tidak bersifat mutlak, karena dibatasi oleh hukum alam". Sebaliknya dengan aliran Asy'ariah yang lebih dekat ke aliran Jabariah, yang berpaham "bahwa manusia adalah makhluk yang amat lemah". Sedang aliran Maturidiah Samarkand dan aliran Maturidiah Buchara berada di tengah, di antara kedua pemahaman itu. Namun aliran Maturidiah Samarkand condong lebih dekat ke aliran Mu'tazilah, karena mereka menganut pula paham free will dan free act di atas (kebebasan manusia dalam berkeinginan dan berbuat). A. Daya, kehendak dan perbuatan manusia Di dalam pembahasan tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia, pada Tabel 21 dan Tabel 22 di bawah ini, diungkapkan suatu kesimpulan dan pernyataan lebih lengkapnya, atas pemahaman dari berbagai aliran tersebut. Sekaligus disertakan pula setiap kesimpulan atas pemahaman pada buku ini, atas topik yang sama, sebagai bahan perbandingan awalnya (pada Tabel 21 poin 6). Tabel 21: Perbuatan manusia, bagi aliran-aliran (kesimpulan)

No

Manusia Kehendak

Daya

Perbuatan

Aliran

1

Manusia

Manusia

Manusia

Mu'tazilah / Qadariah

2

Manusia

Manusia

Manusia

Maturidiah Samarkand

3

Tuhan

Tuhan (efektif) Manusia (amat lemah)

Tuhan (sebenarnya) Manusia (kiasan)

Maturidiah Buchara

Tuhan (efektif) Manusia (tidak efektif)

Tuhan (sebenarnya) Manusia (kiasan)

Asy'ariah

4

Tuhan

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

5

Tuhan

Tuhan

Tuhan

Jabariah

6

Manusia (sebenarnya)

Manusia (sebenarnya)

Manusia (sebenarnya)

-- pada buku ini --

Tetapi diliputi atau dibatasi oleh kehendak Allah (lahir & batin) bagi alam semesta, melalui aturan-Nya (sunatullah).

Tetapi diliputi atau dibatasi oleh cobaan atau ujianNya secara lahir & batin, melalui aturan-Nya (sunatullah).

Tetapi diliputi atau dibatasi oleh perbuatan Allah (lahir & batin) di alam semesta, melalui aturan-Nya (sunatullah).

(poin 1-5 dikutip dari buku "Teologi Islam", Prof.Dr. Harun Nasution, 1986: 116)

Tabel 22: Perbuatan manusia, bagi aliran-aliran (pernyataan)

Rangkuman ringkas pemahaman dari beberapa aliran tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MU’TAZILAH

• Manusia mempunyai daya yang besar lagi bebas (free will). • Manusia berkuasa atas perbuatannya. • Manusialah yang menciptakan segala perbuatannya (baik atau buruk, patuh atau tidak • • • • • • • • • • • • •

kepada Allah), atas kehendaknya sendiri. Daya untuk mewujudkan kehendak telah ada dalam diri manusia, sebelum perbuatan dilakukan. Perbuatan manusia bukanlah diciptakan oleh Allah pada diri manusia, tetapi manusia itu sendirilah yang mewujudkannya. Perbuatan adalah hal yang dihasilkan dari daya yang baru. Manusia adalah makhluk yang bebas memilih. Kehendak untuk berbuat adalah kehendak manusia. Kehendak dan daya manusia itu sendirilah yang mewujudkan perbuatannya, dan tidak turut campur kehendak dan daya Allah. Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah. Allah yang membuat manusia sanggup mewujudkan perbuatannya. Allah yang menciptakan daya pada tiap diri manusia, dan pada daya itulah tergantung wujud perbuatannya. Bukan Allah yang menciptakan perbuatan yang telah dilakukan manusia. Tidak mungkin Allah bisa mewujudkan perbuatan yang telah diwujudkan oleh manusia. Tidak mungkin dua daya bisa memberi efek pada suatu perbuatan yang sama. Pada tiap perbuatan, hanya satu daya yang bisa memberi efek. Daya manusialah dan bukan daya Allah yang mewujudkan perbuatan manusia. Dan daya Allah tidak mempunyai suatu bagian dalam perwujudan perbuatan manusia. Tetapi perbuatan itu diwujudkan semata-mata oleh daya yang diciptakan-Nya dalam diri manusia.


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

995

• Kemauan dan daya untuk mewujudkan perbuatan manusia, adalah kemauan dan daya •

• • • •

• • • • •

• • •

manusia itu sendiri. Dan tidak turut campur dalamnya kemauan dan daya Allah. Manusia mestinya berterima-kasih kepada manusia lain yang berbuat baik kepadanya. Sebaliknya manusia merasa tidak senang kepada manusia lain yang berbuat jahat kepadanya. Jika tiap perbuatan baik atau buruk adalah perbuatan Allah, bukan perbuatan manusia. Maka rasa terima-kasih dan rasa tidak senangpun mestinya ditujukan kepada Allah, bukanlah kepada manusia. Dan kedua hal ini bukan ditujukan kepada Allah. Perbuatan manusia terjadi sesuai kehendak manusianya sendiri. Jika manusia ingin berbuat sesuatu hal, maka perbuatan itu terjadilah. Jika sebaliknya tidak akan terjadi. Jika perbuatan manusia adalah hasil perbuatan Allah, maka perbuatan setiap manusia tidak akan terjadi, walau ia menghendakinya. Atau perbuatan terjadi, walau ia tidak menghendakinya Pada manusia yang berbuat jahat kepada manusia lainnya. Jika perbuatan manusia ialah hasil perbuatan Allah, maka Allah bersifat zalim. Karena "(Allah), Yang membuat segala yang dijadikan-Nya baik" - (QS.32:7). Maknanya bukan "semua perbuatan Allah merupakan kebajikan bagi manusia". Karena di antara perbuatan-perbuatan Allah, ada yang tidaklah merupakan kebajikan, seperti siksaan-Nya yang diberikan kepada manusia. Tetapi maknanya adalah "semua perbuatan Allah adalah baik". Perbuatan manusia bukanlah hasil dari perbuatan Allah. Termasuk karena ada perbuatan jahat dari manusia. Atau karena ada balasan Allah atas perbuatan manusia. Karena "… sebagai upah atas apa yang mereka perbuat" - (QS.32:17). Jika perbuatan manusia adalah perbuatan Allah, bukan perbuatan manusia. Maka pemberian balasan-Nya atas perbuatan manusia, tidak ada artinya. Maka perbuatan manusia haruslah betul-betul perbuatan manusia. Perbuatan manusia bukanlah perbuatan Allah, tetapi perbuatan manusia dalam arti yang sebenarnya (bukan kiasan). Manusia adalah pencipta (khaliq) perbuatannya sendiri. Kebebasan manusia tidaklah mutlak. Karena dibatasi oleh hal-hal yang tidak bisa dilawan oleh manusia itu sendiri, yaitu hukum alam. Manusia tersusun antara lain dari materi. Sedang materi adalah terbatas, maka manusia juga bersifat terbatas. Kehidupan manusia dilingkungi oleh hukum alam, yang diciptakan oleh Allah. Hukum alam tidak dapat berubah-ubah. Manusia harus tunduk kepada hukum alam. Kebebasan dan kekuasaan manusia sebenarnya sangat terbatas, dan terikat pada hukum alam. Kebebasan sebenarnya hanya memilih hukum alam mana, yang akan ditempuh dan diturutinya. Hukum alam pada hakekatnya merupakan kehendak dan kekuasaan dari Allah, yang tidak dapat dilawan dan ditentang oleh manusia.

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN ASY’ARIAH

996

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

• Manusia adalah makhluk lemah, dan banyak tergantung pada kehendak dan kekuasaan • •

• • • • • • •

• • • • • • • • • • • •

Allah, yang mutlak. Dan manusia harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya kepada Allah. Suatu perbuatan manusia timbul melalui daya yang diperolehnya dari Allah, dan daya itu diciptakan oleh Allah. Sesuatu terjadi dengan perantaraan daya yang diciptakan, dengan demikian menjadi perolehan (kasb) bagi orang yang menggunakan daya itu, untuk bisa mewujudkan sesuatu perbuatan. Atau "kasb" ialah sesuatu bisa timbul dari al-muktasib (yang memperoleh daya), dengan perantaraan daya yang diciptakan. Ada kompromi antara kelemahan dan kepasifan manusia (jika dibandingkan dengan kekuasaan mutlak Allah), dengan pertanggung-jawaban manusia atas perbuatanperbuatannya. Manusia bersifat pasif dalam perbuatannya. Karena "Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat" - (QS.37:96). Wa ma ta'malun artinya "perbuat" (bukan buat). Perbuatan manusia diciptakan atau diwujudkan oleh Allah. Tidaklah ada pembuat bagi kasb, kecuali Allah. Maka yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia, sebenarnya adalah Allah sendiri. Penggerak sesuatu perbuatan adalah Allah, dan yang bergerak ialah manusia. Karena Allah tidak memiliki tubuh jasmani. Atau pembuat suatu perbuatan ialah Allah, dan yang memperolehnya ialah manusia. Hal yang bergerak bukanlah Allah, karena gerak menghendaki tempat yang bersifat jasmaniah, sedang Allah mustahil mempunyai bentuk jasmani. Perbuatan Allah terwujud melalui manusia (makhluk bertubuh jasmani). Pembuat sebenarnya dalam al-kasb adalah Allah, sedang yang memperoleh perbuatan adalah manusia. Akan tetapi Allah tidak menjadi yang memperoleh perbuatan. Karena al-kasb hanyalah terjadi dengan daya yang diciptakan. Sedang Allah mustahil mempunyai daya yang diciptakan. Allah yang menjadi pembuat sebenarnya dari segala perbuatan manusia. Manusia sebenarnya merupakan tempat berlakunya perbuatan Allah. Al-kasb tidak bisa terjadi, kecuali melalui daya yang diciptakan di dalam diri manusia. Diperlukan tempat jasmani untuk berlakunya segala perbuatan Allah. Segala perbuatan Allah mengambil tempat dalam diri manusia. Al-kasb merupakan perbuatan paksaan, atau di luar kekuasaan manusia. Manusia mesti (bukan terpaksa) berbuat suatu yang tidak bisa dielakkannya, untuk mewujudkan perbuatan Allah. Manusia terpaksa melakukan sesuatu yang tidak dapat dielakkannya, walau bagaimanapun ia berusaha. Pembuat sebenarnya dari tiap perbuatan manusia adalah Allah. Dan manusia hanyalah merupakan alat untuk berlakunya perbuatan Allah. Manusia terpaksa melakukan apa yang dikehendaki Allah. Perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Allah. Perbuatan manusia ialah hasil perbuatan Allah. Kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan mempunyai wujud.


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

997

• Allah menghendaki segala hal yang mungkin dikehendaki.

• • • • • • • • • • • • • • • • •

Karena "kamu (hai manusia) tidak menghendaki, kecuali Allah yang menghen-daki" (QS.76:30), atau versi lainnya "Dan (hai manusia) kamu tidak mampu (menempuh jalan-Nya itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya …" - (QS.76:30) Manusia tidak bisa menghendaki sesuatupun, kecuali jika Allah menghendaki manusia supaya menghendaki sesuatu itu. Kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Allah. Atau kehendak dalam diri manusia, tidak lain hanyalah kehendak Allah. Daya berbeda dari diri manusia itu sendiri, karena manusia terkadang bisa berkuasa, terkadang bisa pula tidak berkuasa. Daya tidak terwujud sebelum adanya perbuatan. Atau daya ada bersama-sama dengan perbuatannya. Dan daya itupun hanya akan ada untuk perbuatan yang terkait saja. Orang yang dalam dirinya tidak diciptakan-Nya daya, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Daya untuk berbuat bukanlah daya manusia itu sendiri, tetapi daya Allah. Namun manusia tidak kehilangan sifatnya sebagai pembuat. Perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Allah. Perbuatan manusia pada hakekatnya terjadi dengan perantaraan Allah. Allah yang menciptakan perbuatan manusia, dan daya untuk berbuat dalam diri manusia. Perbuatan manusia terjadi dengan daya Allah, bukan dengan daya manusia. Walau daya manusia berhubungan erat dengan perbuatan itu. Maka tidak bisa dikatakan, bahwa manusia yang menciptakan perbuatannya. Perbuatan manusia disebut al-kasb. Perbuatan agar bisa terwujud perlu dua daya (daya Allah dan daya manusia), tetapi daya Allah yang paling dominan. Daya manusia tidaklah efektif kalau tidak disokong oleh daya Allah. Daya manusia turut serta dalam perwujudan perbuatan. Manusia tidaklah sepenuhnya bersifat pasif. Daya yang diciptakan itu tidak bersifat efektif. Kemauan dan daya untuk berbuat, adalah kemauan dan daya dari Allah. Dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Allah, bukan perbuatan manusia.

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND

• Perbuatan manusia diciptakan oleh Allah. • Allah berbuat dengan menciptakan daya di dalam diri manusia, dan pemakaian daya itu • • • •

merupakan perbuatan manusia. Daya diciptakan bersama-sama dengan perbuatan (bukanlah sebelum adanya perbuatan). Karena bukanlah manusia yang menciptakan daya dan perbuatannya. Perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan manusia (bukan perbuatan Allah). Balasan Allah berdasar pemakaian daya yang diciptakan oleh Allah. Kehendak manusialah dalam memakainya untuk kebaikan atau kejahatan. Karena salah ataupun benarnya pilihan dalam memakai daya, maka manusia diberi

998

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

hukuman atau upah.

• Manusia bebas memilih, tetapi ia berada di bawah paksaan pemilik daya yang jauh lebih kuat dari dirinya.

• Kehendak manusia sebenarnya adalah kehendak Allah.

Karena perbuatan manusia ialah wujud dari kehendak Allah, bukan kehendak manusia.

• Manusia melakukan perbuatan baik ataupun buruk, atas kehendak Allah, tetapi tidak

selamanya dengan kerelaan hati Allah. Karena Allah tidak suka manusia yang berbuat jahat. • Kehendak manusia bukanlah kehendak bebas sepenuhnya, karena tidak boleh berbuat sesuatu yang tidak "dikehendaki" oleh Allah. Tetapi kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "disukai" ataupun "tidak disukai" oleh Allah. • Kehendak dan daya manusia adalah kehendak dan daya sebenarnya, tetapi terbatas. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA

• Serupa aliran Maturidiah Samarkand, tentang kehendak manusia dalam berbuat. • Serupa aliran Maturidiah Samarkand, tentang kehendak dan kerelaan hati Allah. • Serupa aliran Maturidiah Samarkand, tentang daya diciptakan bersama-sama dengan • • • • • • • • • • • •

perbuatannya (bukan sebelum adanya perbuatan), karena bukanlah manusia yang menciptakan perbuatannya Perbuatan agar bisa terwujud perlu dua daya (daya Allah dan daya manusia), tetapi daya Allah yang paling dominan. Daya manusia tidak efektif dalam mewujudkan perbuatannya. Perwujudan perbuatan perlu dua daya (daya Allah dan daya manusia). Manusia tidak mempunyai daya untuk menciptakan (perbuatannya). Daya yang ada pada manusia bisa untuk melakukan perbuatan. Hanya Allah yang dapat mencipta, termasuk menciptakan perbuatan manusia. Manusia hanyalah bisa melakukan perbuatan, yang telah diciptakan oleh Allah baginya. Perwujudan perbuatan terkandung dua perbuatan (Allah dan manusia). Perbuatan Allah ini ialah menciptakan perbuatan manusia, bukan menciptakan daya manusia. Perbuatan manusia meskipun diciptakan oleh Allah, tetapi bukanlah perbuatan Allah. Manusia bebas dalam kehendak dan perbuatannya. Manusia adalah pembuat dari perbuatan, dalam arti yang sebenarnya. Tetapi kebebasan manusia kalaupun ada, kecil sekali. (dikutip dari buku "Teologi Islam", Prof.Dr. Harun Nasution, 1986: 102-117)

Walau telah diuraikan secara lengkap di dalam bab-bab buku ini, tetapi agar lebih jelas dan segar di ingatan, maka pada Tabel 23 di bawah ini diuraikan kembali secara ringkas berbagai pemahaman hasil pembahasan pada buku ini (khususnya pada topik "Sunatullah (sifat proses)"), dengan fokus utama, tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia.


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

999

Tabel 23: Perbuatan manusia, bagi pembahasan di sini

Rangkuman ringkas pemahaman pada pembahasan di sini tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI PEMAHAMAN PADA BUKU INI Kehendak Allah dalam penciptaan alam semesta • Dalam kehendak atau rencana-Nya bagi penciptaan alam semesta, Allah justru telah menetapkan segala ketentuan atau ketetapan-Nya sebelum penciptaan alam semesta itu sendiri, seperti: kehendak-Nya, tindakan-Nya, aturan-Nya, pengajaran dan tuntunanNya, perintah dan larangan-Nya, dsb. • Segala ketentuan-Nya itu tidak berubah-ubah sampai akhir jaman, dan telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung.

• Allah memang menghendaki segala hal dengan sekehendak-Nya. Dan tidak ada

sesuatupun yang melawan bisa kehendak-Nya. Tetapi Allah justru berbuat sekehendakNya atas segala hal bagi alam semesta ini, justru hanyalah sebelum penciptaan alam semesta itu sendiri (atau sebelum ditetapkan-Nya, lalu tidak berubah-ubah sampai akhir jaman setelah ditetapkan-Nya).

Aturan-Nya (sunatullah) adalah wujud kehendak Allah di alam semesta • Sunatullah adalah wujud aturan, kehendak, tindakan dan perbuatan Allah (lahiriah & batiniah) di alam semesta ini, yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian pada segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini, yang tidak berubah-ubah.

Proses pada sunatullah itupun juga bersifat pasti terjadi (mutlak), jelas, pasti konsisten (kekal), amat sangat teratur, amat sangat alamiah, amat sangat halus atau tidak kentara (gaib), dan seolah-olah terjadi begitu saja. Sunatullah pasti berlaku kepada segala zat ciptaan-Nya, sesuai segala keadaannya (lahiriah dan batiniah) serta sesuai jenis atau sifatnya masing-masing. Maka sunatullah itu berlaku sama ("netral") kepada tiap jenis zat ciptaan-Nya. Misalnya pastilah berlaku sama kepada seluruh manusia, dari nabi Adam as sampai manusia terakhir di akhir jaman. Dan sama sekali tidak ada perkecualian bagi para nabi-Nya. Segala proses (tak-terhitung proses) pada sunatullah, meliputi: aspek lahiriah ataupun batiniah, dari yang amat sangat sederhana ataupun amat sangat kompleks, pada diri zat ciptaan-Nya ataupun interaksi antar zat ciptaan-Nya, pada makhluk hidup ataupun benda mati, pada makhluk hidup nyata ataupun makhluk hidup gaib, dsb. Wujud dari tiap perbuatan Allah yang melalui sunatullah itu, misalnya proses-proses: penciptaan segala jenis zat-zat ciptaan-Nya; turunnya segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya (ayat atau wahyu-Nya, kitab dan agama-Nya, para nabi-Nya, dsb); agar tetap kokoh dan seimbangnya alam semesta; agar segala jenis makhluk-Nya bisa hidup dan menjalani kehidupannya di dunia dan di akhirat; turunnya berlimpah-ruah rahmat dan karunia-Nya; pemberian segala bentuk balasan-Nya; dsb. Hampir segala halnya di alam semesta ini justru diatur-Nya melalui sunatullah, kecuali kebebasan makhluk-Nya dalam berkehendak dan berbuat. Tiap makhluk-Nya bebas sepenuhnya dalam berkehendak. Tetapi walau tiap makhlukNya juga bebas berbuat (mewujudkan kehendaknya), pada dasarnya ia justru hanya

1000

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

memanfaatkan sunatullah (daya dan perbuatan-Nya), secara sadar ataupun tidak, sesuai pengetahuan dan kemampuannya. Dan sunatullah amat sangat berperan pada daya dan perbuatan manusia, tiap saatnya sepanjang hidupnya.

• Segala jenis zat ciptaan-Nya (nyata dan gaib, makhluk hidup dan benda mati) pasti

tunduk dan mengikuti sunatullah (kehendak atau perbuatan-Nya). Karena sunatullah, kehendak atau perbuatan-Nya bersifat memaksa (mutlak). Sedang perintah, larangan atau anjuran-Nya tidak bersifat memaksa. Tetapi segala benda mati pasti tunduk kepada perintah-Nya, karena memang relatif sama sekali tidak memiliki kebebasan. • Hukum alam adalah sunatullah pada aspek lahiriah saja (pada benda mati). Sedang sunatullah juga pada aspek batiniah (pada ruh makhluk).

Kehendak dan daya manusia, hanya diciptakan-Nya secara umum saja • Kehendak dan daya manusia memang diciptakan-Nya, tetapi "secara umum" saja, dengan diberikan-Nya pada manusia yaitu: ‘akal’ (pengetahuan dan kecerdasan untuk memilih) dan ‘nafsu’ (semangat dan keinginan untuk bergerak). • Selain daya batiniah di atas, manusia juga diciptakan-Nya daya lahiriah pada segala jenis zat ciptaan-Nya yang fisik-lahiriah-nyata di alam semesta ini, yang justru bisa dimanfaatkannya, Juga diciptakan-Nya daya lahiriah pada tubuh manusia itu sendiri.

• Daya batiniah manusia itu juga bisa ditingkatkan dengan sebanyak mungkin mencari pengetahuan dan pengalaman.

• Sedang daya lahiriah bisa diperoleh dengan memanfaatkan segala zat ciptaan-Nya tersebut (mencari karunia atau rejeki-Nya). Juga dengan memaksimalkan daya lahiriah pada tubuhnya sendiri (menjaga kesehatan).

Kehendak dan daya manusia bukanlah kehendak dan daya Allah

• Kehendak dan daya manusia adalah kehendak dan daya manusia sebenarnya, dalam berkehendak dan berbuat.

• Kehendak manusia justru sama sekali tidaklah menyatu dengan kehendak Allah. Dan

kehendak manusia bukanlah kehendak Allah. Tetapi manusia dianjurkan-Nya agar bisa makin bersikap ikhlas dan tawakal (berserah diri) terhadap segala kehendak-Nya di alam semesta ini, karena tiap kehendak-Nya memang bersifat mutlak atau tidak bisa ditolaknya. Sedang kehendak manusia bersifat amat sangat relatif. • Perbuatan manusia adalah wujud dari kehendak manusia, bukanlah kehendak Allah. Tetapi kehendak Allah ‘meliputi’ atau ‘melingkupi’ perbuatan manusia. Karena ada kehendak Allah untuk memberi balasan-Nya yang amat setimpal (lahiriah dan batiniah, nikmat dan hukuman-Nya) atas tiap perbuatan manusia setiap saatnya. Dan ada kehendak Allah untuk meringankan manusia dalam melakukan perbuatannya (baik atau buruk, dengan atau tanpa keredhaan-Nya).

• Kalau Allah mengatur kehendak tiap manusia, maka pastilah seluruh manusia dibuat-

Nya beriman kepada-Nya. Pasti tidak perlu dibuat-Nya berbagai cobaan atau ujian-Nya. Dan pastilah tidak ada tanggung-jawab tiap manusia atas tiap perbuatannya.

Kebebasan manusia dalam berkehendak dan berbuat • Kehendak dan perbuatan tiap manusia adalah kehendak dan perbuatan yang bebas


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1001

1002

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

sepenuhnya, termasuk kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "disukai" ataupun "tidak disukai" oleh Allah (kebaikan ataupun keburukan). Manusia bebas pula untuk tidak melaksanakan sesuatu perbuatan.

Dan hal-hal yang tidak melampaui batas itupun biasanya disebut mendapat ijin-Nya, walaupun hal itu bisa bersifat positif dan negatif (dengan ataupun tanpa keredhaan-Nya bagi manusia).

• Kebebasan manusia memang bagian dari rencana atau kehendak Allah sendiri dengan

Kekuasaan manusia terutama pada alam batiniahnya • Kehendak dan daya manusia "relatif" besar untuk bisa hidup di dunia ini. • Kehendak dan daya manusia secara lahiriah memang amat sangat terbatas, sebaliknya kehendak dan daya secara batiniah amat sangat besar untuk bisa mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

diciptakan-Nya ‘akal’ dan ‘nafsu’ pada tiap manusia, yang memang dikehendaki-Nya untuk diberikan-Nya kepada manusia, sebagai khalifah-Nya (penguasa) di muka Bumi, sekaligus untuk bisa menguji keimanan manusia. Dengan akal dan nafsunya itulah, manusia diuji-Nya agar bisa mencari dan mengenal Allah, Yang Menciptakannya, lalu agar ia bisa kembali atau dekat ke hadapan ‘ArsyNya, dengan berusaha bisa mengikuti jalan-Nya yang lurus, demi kemuliaan manusia sendiri, bukan demi kepentingan Allah. ‘Arsy-Nya adalah simbol tempat tercatatnya segala kebenaran atau pengetahuan-Nya (termasuk segala kemuliaan dan keagungan-Nya), bukan tempat kedudukan ‘zat’ Allah.

Kehendak dan daya manusia "diliputi" oleh kehendak dan daya Allah • Tetapi kehendak dan daya manusia yang bisa terwujud, justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah (lahiriah & batiniah) di alam semesta ini, melalui aturan-Nya (sunatullah), yang tidak berubah-ubah. • Tetapi kehendak dan daya Allah justru terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk bisa bebas mengatur kehidupannya.

Dalam wilayah yang diatur oleh aturan-Nya itu (sunatullah), masih amat sangat luas kebebasan bagi tiap manusia dalam berkehendak, mengatur dan mencapai kehidupan yang lebih diinginkannya. Terutama dalam berusaha membangun kehidupan akhirat (kehidupan batiniah ruh), yang diajarkan agama-Nya. Karena untuk bisa mengatur kehidupannya, manusia tidaklah perlu memiliki kebebasan yang berlebihan, seperti: bisa terbang antar bintang atau planet, bisa lenyap, bisa masuk ke perut Bumi, bisa bergaul bebas dengan para makhluk gaib, bisa selalu menang perang atas orang kafir, bisa mudah kaya dan bahagia, dsb. Tentang perbuatan baik dan buruk manusia, Allah hanya mengatur, misalnya: agar manusia bisa mengenal hal yang baik dan buruk (dengan diciptakan-Nya akal); agar orang-orang beriman (berbuat baik) dan orang-orang kafir (berbuat buruk) tidak leluasa mencapai kemenangan; agar orang-orang yang berbuat baik pasti memperoleh nikmatNya, sedang orang-orang yang berbuat buruk pasti memperoleh hukuman-Nya, di dunia dan di akhirat; dsb. Manusia sangat bebas berkehendak atau berbuat, walau tetap terbatas dalam wilayah aturan-Nya, dan sesuai keadaan dan daya-kemampuannya. Dan mustahil ada manusia (atau segala sesuatupun selain Allah) yang bisa berada di luar batas wilayah aturan-Nya itu. Serta mustahil ada sesuatupun yang bisa melawan kehendak Allah. Tentunya batas wilayah itu hanya bisa dicapai dengan kekuasaan dan oleh Allah sendiri. Bahkan jika tiap manusia mencoba melampaui batas tertentu (berbuat aniaya, zalim atau berbuat amat berlebihan), walau sebenarnya masih sangat jauh di bawah batas tertinggi wilayah aturan-Nya, maka ia akan tertimpa azab-Nya, karena alam cenderung melawannya (melalui aturan-Nya atau sunatullah), untuk menjaga keseimbangan.

Karena daya batiniah ini hanyalah milik manusia itu sendiri, dan dengan akal dan nafsukeinginannya, manusia memiliki otoritas sepenuhnya untuk bisa mengaturnya. Karena itu pulalah, setiap manusia seperti apapun keadaan lahiriahnya, tetap memiliki kesempatan yang luas dan sama untuk bisa mendapat Surga di alam akhiratnya (alam batiniah ruhnya). Contoh sederhananya, fakir-miskin dan konglomerat pasti sama-sama bisa tersenyum atau berbahagia dalam hal-hal tertentu dalam kehidupannya masing-masing. Allah Yang Maha mengetahui keadaan setiap manusia (lahiriah dan batiniah), dan nilai amalan atau balasan-Nya yang setimpal atas tiap perbuatan manusia.

• Maka secara umum mustahil ada manusia dewasa yang "tidak bisa berbuat apa-apa"

(atau tidak memiliki daya sama sekali), khususnya secara batiniah, kecuali orang gila. • Tetapi bagi orang-orang yang "tidak bisa berbuat apa-apa", "tidak berdaya", ataupun tidak bisa diminta pertanggung-jawaban atas segala perbuatannya, seperti: anak yang belum akil-baliq ataupun orang cacat mental (gila) sampai saat wafatnya, maka atas ijin-Nya, mereka pasti mendapat Surga di akhirat.

Tiap perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh daya dan perbuatan Allah • Pada perwujudan setiap perbuatan manusia terkandung dua daya dan dua perbuatan (dari Allah dan manusia). • Daya yang mewujudkan suatu perbuatan manusia adalah daya yang sedang terpakai dalam berbuat. Tetapi daya awalnya bisa terwujud sebelum adanya perbuatan.

• Hanya kehendak manusia sendirilah yang mengawali, menciptakan atau memicu daya

dan perbuatannya (pemakaian daya). Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan tiap perbuatan manusia (perbuatan Allah pasti selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, sekaligus untuk memberi balasan-Nya tiap saatnya. Dengan akal-pikiran dan daya-kemampuannya yang ada, tiap manusia pasti memiliki kesempatan yang relatif amat luas untuk bisa meningkatkan atau menciptakan dayakemampuannya (justru dengan memanfaatkan sunatullah), misalnya: tenaga fisik atau kesehatan; uang atau harta; pengetahuan dan pengalaman; waktu atau kesempatan; semangat batin (psikis); kebebasan; dsb.

• Secara sadar ataupun tidak, melalui perbuatannya tiap manusia pada dasarnya justru

memanfaatkan daya Allah, dengan berusaha memilih berbagai keadaannya (keadaan awal) agar berlaku suatu sunatullah tertentu yang secara otomatis "terpilih" berdasarkan segala keadaan awal itu, yang lalu menentukan keadaan akhirnya (balasan-Nya), yang setimpal dengan pemakaian daya manusia itu sendiri.


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1003

Disebut "sadar", jika manusianya sendiri memahami berbagai keadaan dan sunatullah tertentu yang terkait dengan perbuatannya, melalui pengetahuan dan pengalamannya. Segala keadaan akhir hasil sunatullah itu disebut juga takdir-Nya yang bersifat sesaat atau sementara (qadla-Nya, takdir kecil), yang justru menyusun takdir-Nya yang terakhir (qadar-Nya) pada saat tertentu ataupun pada akhir hidupnya. Sesuai keadaan dan kemampuannya, manusia setiap saatnya bebas berusaha memilih takdir-Nya yang lebih dikehendakinya, dengan terus berusaha mengubah atau memilih berbagai keadaannya. Usaha-usaha memilih takdir-Nya yang lebih baik juga sering disebut "berhijrah". Dan takdir-Nya tentang suatu hal, justru bukan ditentukan ‘sebelum’ terjadinya, karena tiap saatnya manusia justru bisa berusaha memilih-milihnya. Dan perbuatan Allah yang bersifat global dan netral (sunatullah) pasti selalu menyertai tiap perbuatan manusia (ataupun makhluk-Nya lainnya), terutama sekaligus untuk bisa memberi balasan-Nya tiap saatnya. Tiap perbuatan manusia bukanlah perbuatan Allah • Tiap perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah. • Manusia yang justru menciptakan berbagai keadaan awalnya, tetapi Allah yang justru mewujudkan berbagai keadaan akhirnya berdasarkan berbagai keadaan awalnya itu, melalui aturan-Nya (sunatullah). • Manusia yang memulai, lalu Allah yang mengakhiri tiap perbuatan manusia. • Manusia berkuasa atas perbuatannya, tetapi manusia justru tidak berkuasa atas "hasil" perbuatannya, yang memang hanya ditentukan oleh Allah. • Tidak ada sama-sekali peran tiap manusia (pasif) dalam memastikan dan mewujudkan hasil akhir dari perbuatannya. Tetapi dengan pengetahuan dan pengalamannya, justru manusia bisa "memperkirakan" hasil akhir tersebut.

• Tanpa dipicu oleh kehendak dan daya manusia, sesuatu perbuatan manusia tidak bisa terjadi. Sedangkan tanpa disertai oleh kehendak dan daya Allah (melalui sunatullah), sesuatu perbuatan manusia juga tidak ada artinya ataupun tidak ada hasil akhirnya (tidak ada balasan-Nya). • Tiap perbuatan manusia mustahil mewujud tanpa disertai oleh perbuatan Allah (hampir berlangsung bersamaan, tetapi dilakukan tepat di belakang tiap perbuatan manusia).

• Perbuatan manusia bukanlah perbuatan Allah, tetapi perbuatan hanya Allah yang selalu

menyertai untuk mewujudkan perbuatan manusia. Maka pada tiap perbuatan manusia mestinya dipisahkan antara manusia yang mulai melaksanakan, memicu atau ‘menciptakan’ perbuatannya dan Allah Yang ‘mewujudkan’ hasil perbuatannya.

• Sangatlah tidak relevan untuk mencari daya dan perbuatan yang paling dominan dan

efektif, antara daya manusia dan daya Allah, karena keduanya memang bukanlah hal yang bisa dibandingkan. Daya manusia memang amat sangat tidak berarti dibanding dengan daya Allah, namun justru bisa memicu pemanfaatan daya Allah.

Daya manusia dalam mewujudkan perbuatannya sendiri • Daya manusia yang diciptakan manusia dan dipakainya dalam berbuat (daya murni) belumlah tentu sama dengan daya yang mewujudkan tiap perbuatannya dan setimpal

1004

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

dengan besar balasan-Nya (daya aktual). Tetapi daya aktual tetap amat berhubungan erat dengan daya murninya. Karena daya aktual adalah daya murni yang dikoreksi oleh berbagai keadaan lahiriah dan batiniah dalam pemakaian daya murni itu (besar beban ujian-Nya, niat, kesadaran, keimanan, beban tanggung-jawab, keterpaksaan, dsb). Sehingga daya aktual bisa berlipat ganda ataupun lebih kecil daripada daya murninya.

• Hanya para rasul-Nya di antara umat manusia, yang diketahui relatif mendalam bisa merumuskan pemakaian daya itu (lahiriah dan batiniah), seperti halnya pada berbagai hukum syariat dalam ajaran mereka (perintah dan larangan-Nya).

• Daya manusia bersifat aktif, sedang daya Allah bersifat pasif, karena hanya mengikuti

sesuai segala keadaan yang dipilih dan diusahakan oleh manusianya sendiri, ataupun segala keadaan pada segala zat ciptaan-Nya di sekitarnya (lahiriah dan batiniah). • Tetapi manusia justru bersifat pasif dalam menentukan "hasil atau keadaan akhir" dari perbuatannya, karena ditentukan oleh Allah (melalui sunatullah). Sedang manusia justru aktif menentukan "keadaan awal" sebelum berlakunya proses pada sunatullah.

Pengaruh ujian-Nya kepada daya dan perbuatan manusia • Manusia memang seolah-olah tampak "dipaksa", "tidak efektif", "tidak berdaya" atau "tidak berkuasa", karena adanya segala bentuk pengaruh ujian-Nya.

Ujian-Nya pada dasarnya bukanlah "langsung" berasal dari Allah, tetapi dari pengaruh segala zat ciptaan-Nya yang saling berinteraksi di alam semesta ini, yang terkait secara langsung ataupun tiidak, dengan tiap manusianya. Maka ujian-Nya adalah murni pengaruh dari luar diri manusia yang mengalami ujianNya, serta justru sama-sekali tidak berhubungan (langsung ataupun tiidak) dengan hasil segala perbuatan manusianya. Daya, kehendak dan perbuatan Allah jauh lebih besar daripada yang bisa dibayangkan oleh manusia (melalui aturan-Nya atau sunatullah). Bahkan ruang lingkup "daya paksa" dari kehendak dan daya Allah melalui sunatullah, juga jauh lebih besar, umum dan luas sifatnya daripada segala besar beban ujian-Nya bagi manusia. Mustahil ada sesuatupun yang sanggup menghadapi daya Allah, sedangkan manusia justru mestinya sanggup memikul tiap berat beban ujian-Nya. Hal paling pentingnya adalah ujian-Nya secara batiniah dari para makhluk gaib-Nya, karena "beban ujian-Nya" justru pada dasarnya lebih terkait dengan aspek batiniah. Dengan mengatur berbagai keadaan alam batiniah ruhnya, maka tiap manusia pada dasarnya bisa meringankan pula berat beban ujian-Nya yang dirasakannya, terutama dengan membina sikap-sikap, seperti: sabar, ikhlas, tawakal dan syukur.

• Cobaan atau ujian-Nya sama sekali bukanlah pengaruh langsung dari daya Allah. Daya Allah misalnya, justru digunakan dalam penciptaan seluruh alam semesta ini.

Nilai amalan tiap perbuatan manusia • Daya-kemampuan manusia pada akhirnya hanya dipengaruhi oleh keadaan-keadaan dirinya dan lingkungan di sekitarnya (rahmat ataupun ujian-Nya). Dengan sendirinya, daya juga dipengaruhi oleh sunatullah yang saling terkait dan sedang berlaku kepada keduanya (diri dan lingkungannya).

Walau seolah-olah tampak berpengaruh, tetapi lingkungan sekitar justru sama-sekali


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1005

tidak mempengaruhi nilai amalan yang diberikan-Nya atas tiap perbuatan manusia. Nilai amalan itu pada dasarnya justru bersifat mutlak-absolut, yang hanya diketahui dan ditentukan oleh Allah. Setelah diberikan-Nya, nilai amalan itupun sama sekali tidak tergantung oleh keadaan, manusia atau makhluk-Nya lainnya (do'a dan laknatnya), ruang, waktu, ataupun oleh segala sesuatu selain Allah.

• Nilai amalan suatu perbuatan justru bukan dinilai dari "hasil"-nya (lahiriah dan batiniah), melainkan dinilai dari beratnya "proses berusahanya" (batiniah).

Dan hanya kehendak dan daya manusia yang justru berpengaruh terhadap nilai amalan (atau besar balasan-Nya) atas setiap perbuatannya sendiri. Bahkan tidak ada pengaruh secara langsung dari daya, kehendak atau perbuatan Allah. Karena daya, kehendak atau perbuatan Allah yang terkait dengan perbuatan manusia (melalui sunatullah), justru lebih bersifat netral, jauh lebih luas, umum, dan juga berlaku sama untuk seluruh umat manusia.

• Walau ujian-Nya tidak berasal “langsung” dari Allah, tetapi Allah tetap ikut bertanggungjawab atas tiap ujian-Nya, karena merupakan bagian dari rencana-Nya, lebih khususnya karena ujian-Nya adalah sarana Allah untuk bisa menguji keimanan tiap makhluk-Nya. • Pahala-Nya justru makin dilipat-gandakan-Nya atas tiap amal-kebaikan manusia yang dilakukan ketika ia sedang mengalami ujian-Nya yang makin berat, sebaliknya beban dosa makin berkurang atas tiap amal-keburukannya. Maka orang yang sedang mengalami ujian-Nya, sebenarnya mendapat "keuntungan atau keringanan" yang banyak dari Allah. Walaupun dari sudut pandang manusia, ia memang seolah-olah mendapat "siksaan, kerugian atau beban".

• Pada dasarnya hanya daya manusia (lahiriah dan batiniah), yang "aktif" menciptakan,

memicu atau memulai tiap perbuatannya sendiri. Maka manusia pada dasarnya bukan makhluk yang lemah, bahkan telah ditunjuk-Nya sebagai khalifah-Nya (penguasa) di muka Bumi ini. Bahkan orang-orang yang Mukhlis relatif amat mampu mengatasi berbagai bentuk cobaan atau ujian-Nya.

Kemustahilan Allah berbuat zalim atau tidak adil • Dengan tiap perbuatan Allah yang melalui segala aturan atau rumus proses kejadian (aturan-Nya atau sunatullah), yang bersifat kekal (pasti konsisten atau tidak berubah), maka mustahil ada perbuatan Allah dalam memberikan balasan-Nya, yang misalnya: aniaya atau zalim, pilih-kasih, sewenang-wenang, sekehendak, tidak adil, tidak baik, dsb, seperti pada segala perbuatan manusia yang justru relatif amat tidak konsisten.

Juga segala balasan-Nya atas tiap perbuatan manusia, justru pasti setimpal dengan perbuatan itu sendiri (lahiriah dan batiniah). Walau hanya Allah Yang Maha mengetahui besar balasan-Nya yang setimpal tersebut (nikmat atau hukuman-Nya). Bahkan hukuman-Nya adalah peringatan-Nya bagi manusia, agar ia tidak mengulangulang perbuatan buruknya, yang juga demi kebaikan dan kemuliaan manusia itu sendiri. Begitu pula segala yang diciptakan-Nya di alam semesta ini, semuanya demi kebaikan manusia, agar manusia bisa mendapatkan Surga di Hari Kiamat, jika manusia itu sendiri memang menghendakinya. Manusia dalam berterima-kasih kepada Allah dan manusia lainnya

1006

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

• Manusia mestinya berterima-kasih kepada manusia lain yang berbuat baik kepadanya

(secara langsung atau tidak, sadar atau tidak), ataupun sebaliknya atas keburukannya. Karena kebaikan manusia lainnya itu justru telah ikut memperbaiki atau memudahkan berbagai keadaannya (atau manusia lainnya itu telah memberi atau membawa berkah). Begitu pula maksud anjuran-Nya, agar umat banyak bersyalawat bagi para nabi-Nya, karena telah amat berjasa menyampaikan tiap kebenaran-Nya (amat memudahkan umat dalam memahaminya), sekaligus agar umat bisa pula menjaga kemuliaan ajaranajaran para nabi-Nya. Walau begitu nilai amalan atas tiap berkah pengajaran ataupun syafaat itu hanya milik dari orang yang membawanya, justru sama sekali tidak menambah nilai amalan pada orang yang menerimanya, karena tetap tergantung apakah ia mau mengamalkannya menjadi segala amal-kebaikan ataupun tidak, dari adanya pengajaran atau syafaat itu. Seperti diketahui di atas, pada dasarnya perbuatan manusia lainnya itu (baik dan jahat) juga pasti disertai atau diliputi oleh perbuatan Allah. Sedang perbuatan Allah itu berlaku sama untuk setiap manusia, dan bahkan bersifat "netral" jika dikaitkan dengan pemberian nikmat atau hukuman-Nya (murni sesuai hasil perbuatan manusianya sendiri). Maka respon tiap manusia atas perbuatan Allah, juga berbeda daripada responnya atas perbuatan manusia lainnya di atas. Kalaupun manusia harus berterima-kasih kepada Allah, konteksnya amat jauh berbeda dari hal di atas (misalnya Allah telah amat sangat banyak atau selalu memberinya kesempatan untuk bisa memuliakan dirinya sendiri). Amat terlalu sederhana, jika perbuatan Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Adil, disamakan atau disetarakan dengan perbuatan manusia (baik dan jahat).

Perbuatan Allah berbeda dari perbuatan makhluk-Nya • Perbuatan Allah (melalui sunatullah) bukan diwujudkan oleh manusia, ataupun bukan terwujud melalui manusia. Bukan manusia yang amat sangat kecil atau "tidak ada" artinya ini, yang mewujudkan kehendak dan perbuatan Allah, Yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Allah justru samasekali tidak memerlukan bantuan dari segala makhluk-Nya. • Dalam berbuat Allah justru tidak melalui atau tidak memerlukan tubuh jasmani (tangan, kaki, telinga, mata, dsb, pada zat Allah sendiri ataupun pada segala zat ciptaan-Nya), tetapi relatif terjadi begitu saja pada segala zat ciptaan-Nya (pada atom dan ruh).

• Amat tidak relevan untuk membandingkan perbuatan Allah dan perbuatan segala zat

makhluk ciptaan-Nya (termasuk manusia ataupun para makhluk gaib). Perbandingan seperti ini dalam Al-Qur’an semata-mata sebagai perumpamaan bagi umat, agar lebih mudah memahaminya, bukan hakekat sebenarnya. • Zat Allah amat berbeda dalam segala halnya dari segala zat ciptaan-Nya. Manusia hanya bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri • Hanya manusia yang sepenuhnya bertanggung-jawab atas tiap perbuatannya sendiri, walaupun besarnya tanggung-jawab itu juga tergantung kepada aspek-aspek, misalnya: besar beban ujian-Nya, tingkat keterpaksaan, beban tanggung-jawab, niat dan tingkat kesadaran (keimanan) manusianya dalam berbuat.

Tanggung-jawab manusia yang ‘makin rendah’, jika misalnya berada pada:


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1007

1008

atannya, yang ditentukan oleh Allah melalui sunatullah, sehingga manusia justru amat perlu bertawakal atau berserah-diri kepada-Nya. ⇒ Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya, termasuk kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "di-sukai" atau "tidak disukai" oleh Allah, ataupun bahkan untuk tidak berbuat. ⇒ Hanya kehendak manusia yang menciptakan, memicu, mengawali atau memulai perbuatannya.

-

Berat beban ujian-Nya dalam berbuat yang makin tinggi, dan atau Tingkat keterpaksaannya dalam berbuat yang makin tinggi (dari tekanan keadaan atau manusia lain di sekitarnya), dan atau - Tingkat kesadarannya dalam berbuat yang makin rendah. Begitu pula hal-hal lainnya dan juga hal-hal sebaliknya. Tentu saja, hanyalah Allah Yang Maha Mengetahui besar sebenarnya tanggung-jawab manusia atas tiap perbuatannya, juga besar jumlah gabungan dari berbagai aspek itu.

Dari Tabel 21 di atas, hasil pembahasan pada buku ini sekilas seolah tampak sesuai dengan pemahaman dari aliran-aliran Mu'tazilah ataupun Maturidiah Samarkand, tetapi di dalam uraian selengkapnya sebenarnya berbeda (pada Tabel 22 dan Tabel 23). Dengan sendirinya lebih berbeda lagi daripada pemahaman aliran-aliran lainnya, seperti: Maturidiah Buchara, Asy'ariah dan Jabariah, yang memang agak jauh berseberangan daripada pemahaman pada buku ini.

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

PC

Daya untuk mewujudkan kehendak telah ada dalam diri manusia, sebelum perbuatan dilakukan.

PC

Perbuatan manusia bukanlah diciptakan oleh Allah pada diri manusia, tetapi manusia itu sendirilah yang mewujudkannya.

PC

Perbuatan adalah hal yang dihasilkan dari daya yang baru. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Daya ‘aktual’ yang mewujudkan sesuatu perbuatan adalah daya yang sedang terpakai dalam berbuat, dari dalam diri manusia dan dari pengaruh lingkungan. Tetapi daya ‘awal’-nya justru bisa telah terwujud (secara lahiriah dan batiniah), sebelum adanya perbuatan.

Agar lebih jelas dalam perbandingan antara hasil pemahaman pada buku ini terhadap pemahaman tiap aliran itu, maka pada Tabel 24 berikut, dibahas secara ringkas berbagai pernyataan dari tiap aliran (yang disebut pada Tabel 22 di atas), agar lebih terungkap berbagai perbedaan ataupun titik temunya. Pada setiap pernyataan dari suatu aliran, yang sesuai dengan hasil pemahaman pada buku ini diberikan tanda "P" (pro), yang sesuai namun dengan sesuatu catatan tertentu diberikan tanda "PC" (procatatan), sebaliknya jika bertentangan diberikan tanda "K" (kontra). Tabel 24: Perbuatan manusia, bahas pernyataan aliran-aliran

⇒ Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya

dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya. ⇒ Manusia yang menciptakan perbuatannya (mengusahakan berbagai keadaan awalnya), tetapi Allah yang mewujudkan perbuatannya itu (menentukan segala keadaan akhirnya), setimpal sesuai keadaan awal itu. Segala keadaan akhir tiap saatnya ini disebut juga ‘qadla-Nya’ atau takdir kecil, sesaat atau sementara.

(P = pro; PC = pro dengan catatan; K = kontra)

⇒ Daya manusia yang diciptakan manusia (daya awal atau daya murni) belum

Pembahasan atas pernyataan-pernyataan dari aliran-aliran, tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia, dengan memakai pemahaman pada buku ini

tentu sama dengan daya yang setimpal dengan balasan-Nya (daya aktual). Tetapi daya aktual berhubungan erat dengan daya awal. Karena daya aktual adalah daya awal yang dikoreksi oleh beberapa faktor batiniah (beban ujian-Nya, tingkat keterpaksaan, beban tanggung-jawab, niat dan tingkat kesadaran, dsb).

PEMBAHASAN ATAS PERNYATAAN DARI ALIRAN MU’TAZILAH

PC

Manusia adalah makhluk yang bebas memilih.

PC

Manusia mempunyai daya yang besar lagi bebas (free will).

PC

Kehendak untuk berbuat adalah kehendak manusia.

PC

Manusia berkuasa atas perbuatannya.

PC

P

Manusialah yang menciptakan segala perbuatannya (baik atau buruk, patuh atau tidak kepada Allah), atas kehendaknya sendiri.

Kehendak dan daya manusia itu sendirilah yang mewujudkan perbuatannya, dan tidak turut campur kehendak dan daya Allah.

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Kehendak dan daya manusia dalam berbuat memang ‘relatif’ besar. Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri. ⇒ Manusia berkuasa atas perbuatannya, tetapi tidak berkuasa atas "hasil" perbu-

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya, termasuk kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "di-sukai" atau "tidak disukai" oleh Allah, ataupun bahkan untuk tidak berbuat.

⇒ Hanya kehendak dan daya manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu perbuatannya. Sedang hanya kehendak dan daya Allah yang mengatur me-


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1009

1010

wujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya. ⇒ Tanpa dipicu oleh kehendak dan daya manusia, perbuatan manusia tidak terjadi, sedang tanpa disertai oleh kehendak dan daya Allah (melalui sunatullah), perbuatan manusia juga tidak ada artinya, tidak ada hasil wujud ataupun tidak ada hasil akhirnya (balasan-Nya). ⇒ Secara sadar ataupun tidak melalui perbuatannya, manusia justru sebenarnya memanfaatkan daya Allah (melalui sunatullah), dengan terjadinya perubahan berbagai keadaannya (awal) sehingga berlaku sunatullah tertentu, yang menentukan keadaan akhirnya tiap saatnya (balasan-Nya atau qadla-Nya). P

Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah.

PC

Allah yang membuat manusia sanggup mewujudkan perbuatannya.

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Tiap perbuatan manusia perlu dua daya, yaitu daya manusia sebagai pemicu, dan daya Allah yang mewujudkannya, yang setimpal dengan perbuatan manusia itu sendiri (ataupun setimpal dengan pemakaian daya).

⇒ Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya

dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya. ⇒ Daya yang "menciptakan" perbuatan (daya manusia) berbeda dengan daya yang "mewujudkan" perbuatan (daya Allah). ⇒ Tanpa dipicu oleh kehendak dan daya manusia, perbuatan manusia tidak terjadi, sedang tanpa disertai oleh kehendak dan daya Allah (melalui sunatullah), perbuatan manusia juga tidak ada artinya, tidak ada hasil wujud ataupun tidak ada hasil akhirnya (balasan-Nya). ⇒ Secara sadar ataupun tidak melalui perbuatannya, manusia justru sebenarnya memanfaatkan daya Allah (melalui sunatullah), dengan terjadinya perubahan berbagai keadaannya (awal) sehingga berlaku sunatullah tertentu, yang menentukan keadaan akhirnya tiap saatnya (balasan-Nya atau qadla-Nya).

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

⇒ Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu perbuatannya. Sedang hanya Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

PC

Allah yang menciptakan daya pada tiap diri manusia, dan pada daya itulah tergantung wujud perbuatannya.

PC

Bukan Allah yang menciptakan perbuatan yang telah dilakukan manusia.

K

Tidak mungkin Allah bisa mewujudkan perbuatan yang telah diwujudkan oleh manusia.

PC

⇒ Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatan-

K

Tidak mungkin dua daya bisa memberi efek pada suatu perbuatan yang sama. Pada tiap perbuatan, hanya satu daya yang bisa memberi efek.

PC

Daya manusialah dan bukan daya Allah yang mewujudkan perbuatan manusia. Dan daya Allah tidak mempunyai suatu bagian dalam perwujudan perbuatan manusia. Tetapi perbuatan itu diwujudkan semata-mata oleh daya yang diciptakan-Nya dalam diri manusia.

PC

Kemauan dan daya untuk mewujudkan perbuatan manusia, adalah kemauan dan daya manusia itu sendiri, tidak turut campur dalamnya kemauan dan daya Allah.

Manusia mestinya berterima-kasih kepada manusia lain yang berbuat baik kepadanya. Sebaliknya manusia merasa tidak senang kepada manusia lain yang berbuat jahat kepadanya. Jika tiap perbuatan baik atau buruk adalah perbuatan Allah, bukan perbuatan manusia. Maka rasa terima-kasih dan rasa tidak senangpun mestinya ditujukan kepada Allah, bukanlah kepada manusia. Dan kedua hal ini bukan ditujukan kepada Allah. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Manusia mestinya berterima-kasih kepada manusia lain yang berbuat baik kepadanya (secara langsung atau tidak, sadar atau tidak), ataupun sebaliknya. Karena kebaikan manusia lain itu telah ikut memperbaiki keadaannya (manusia lain itu memberi atau membawa berkah). ⇒ Kalaupun manusia harus berterima-kasih kepada Allah, konteksnya sangat jauh berbeda dari hal di atas, karena amat sangat tidak relevan untuk membandingkan antara perbuatan Allah dan perbuatan manusia.

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Daya manusia memang diciptakan-Nya, tetapi "secara umum" saja, dengan diberikan-Nya, ‘akal’ (pengetahuan dan kecerdasan) dan ‘nafsu’ (semangat dan keinginan) kepada tiap manusia. nya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

PC

Perbuatan manusia terjadi sesuai kehendak manusianya sendiri.

PC

Jika manusia ingin berbuat sesuatu hal, maka perbuatan itu terjadilah. Jika sebaliknya tidak akan terjadi.

PC

Jika perbuatan manusia adalah hasil perbuatan Allah, maka perbuatan setiap manusia tidak akan terjadi, walau ia menghendakinya. Atau perbuatan terjadi, walau ia tidak menghendakinya Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1011

⇒ Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya

1012

PC

dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya. ⇒ Tanpa dipicu oleh kehendak dan daya manusia, perbuatan manusia tidak terjadi, sedang tanpa disertai oleh kehendak dan daya Allah (melalui sunatullah), perbuatan manusia juga tidak ada artinya, tidak ada hasil wujud ataupun tidak ada hasil akhirnya (balasan-Nya). PC

PC

Pada manusia yang berbuat jahat kepada manusia lainnya. Jika perbuatan manusia ialah hasil perbuatan Allah, maka Allah bersifat zalim. Karena "(Allah), Yang membuat segala yang dijadikan-Nya baik" - (QS.32:7). Maknanya bukan "semua perbuatan Allah merupakan kebajikan bagi manusia", karena di antara perbuatan-perbuatan Allah, ada yang tidaklah merupakan kebajikan, seperti siksaan-Nya yang diberikan kepada manusia. Tetapi maknanya adalah "semua perbuatan Allah adalah baik".

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Manusia adalah pencipta (khaliq) perbuatannya sendiri. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

⇒ Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya

dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

PC

Kebebasan manusia tidaklah mutlak. Karena dibatasi oleh hal-hal yang tidak bisa dilawan oleh manusia itu sendiri, yaitu hukum alam. Manusia tersusun antara lain dari materi. Sedang materi adalah terbatas, maka manusia juga bersifat terbatas.

PC

Perbuatan manusia bukanlah hasil dari perbuatan Allah. Termasuk karena ada perbuatan jahat dari manusia. Atau karena ada balasan Allah atas perbuatan manusia. Karena "… sebagai upah atas apa yang mereka perbuat" - (QS.32:17).

Kehidupan manusia dilingkungi oleh hukum alam, yang diciptakan oleh Allah. Hukum alam tidak dapat berubah-ubah. Manusia harus tunduk kepada hukum alam.

PC

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

Kebebasan dan kekuasaan manusia sebenarnya sangat terbatas, dan terikat pada hukum alam. Kebebasan sebenarnya hanya memilih hukum alam mana, yang akan ditempuh dan diturutinya.

PC

Hukum alam pada hakekatnya merupakan kehendak dan kekuasaan dari Allah, yang tidak dapat dilawan dan ditentang oleh manusia. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya. Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri. ⇒ Kehendak dan daya manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui aturan-Nya (sunatullah), yang mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Tetapi hal ini terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk mengatur kehidupannya.

⇒ Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu perbuatannya. Sedang hanya Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

⇒ Segala perbuatan Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), terwujud mela-

lui aturan-Nya (sunatullah), yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian di seluruh alam semesta ini, yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’. ⇒ Perbuatan Allah dalam memberikan balasan-Nya juga tidak bisa dikategorikan menjadi "baik dan jahat", seperti halnya perbuatan manusia, karena sunatullah justru telah ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta itu sendiri. ⇒ Amat sangat tidak relevan untuk membandingkan antara perbuatan Allah dan perbuatan manusia.

⇒ Sunatullah adalah wujud dari segala kehendak, tindakan, perbuatan dan kekuasaan Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian di seluruh alam semesta, yang mutlak dan kekal. ⇒ Hukum alam adalah sunatullah pada aspek lahiriah saja. ⇒ Segala zat ciptaan-Nya pasti tunduk dan mengikuti sunatullah.

⇒ Ayat di atas tidak relevan dipakai, karena dimaksudkan untuk membicarakan tentang kesenpurnaan segala "wujud" makhluk ciptaan-Nya. Sedang konteks di sini lebih luas lagi, yaitu tentang "tujuan" penciptaan itu sendiri.

PC

Jika perbuatan manusia adalah perbuatan Allah, bukan perbuatan manusia. Maka pemberian balasan-Nya atas perbuatan manusia, tidak ada artinya. Maka perbuatan manusia haruslah betul-betul perbuatan manusia.

PC

Perbuatan manusia bukanlah perbuatan Allah, tetapi perbuatan manusia dalam arti yang sebenarnya (bukan kiasan).

PEMBAHASAN ATAS PERNYATAAN DARI ALIRAN ASY’ARIAH

PC

Manusia adalah makhluk lemah, dan banyak tergantung pada kehendak dan kekuasaan Allah, yang mutlak. Dan manusia harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya kepada Allah.

K

Suatu perbuatan manusia timbul melalui daya yang diperolehnya dari Allah, dan daya itu diciptakan oleh Allah.


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1013

K

Sesuatu terjadi dengan perantaraan daya yang diciptakan, dengan demikian menjadi perolehan (kasb) bagi orang yang menggunakan daya itu, untuk bisa mewujudkan sesuatu perbuatan. Atau "kasb" ialah sesuatu bisa timbul dari al-muktasib (yang memperoleh daya), dengan perantaraan daya yang diciptakan.

K

Ada kompromi antara kelemahan dan kepasifan manusia (jika dibandingkan dengan kekuasaan mutlak Allah), dengan pertanggung-jawaban manusia atas perbuatanperbuatannya.

1014

K

⇒ Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas se-

⇒ Wa ma ta'malun lebih tepat artinya "buat" (bukan perbuat). K

Hal yang bergerak bukanlah Allah, karena gerak menghendaki tempat yang bersifat jasmaniah, sedang Allah mustahil mempunyai bentuk jasmani.

K

Perbuatan Allah terwujud melalui manusia (makhluk bertubuh jasmani).

K

Pembuat sebenarnya dalam al-kasb adalah Allah, sedang yang memperoleh perbuatan adalah manusia. Akan tetapi Allah tidak menjadi yang memperoleh perbuatan. Karena al-kasb hanyalah terjadi dengan daya yang diciptakan. Sedang Allah mustahil mempunyai daya yang diciptakan.

K

Allah yang menjadi pembuat sebenarnya dari segala perbuatan manusia.

K

Manusia sebenarnya merupakan tempat berlakunya perbuatan Allah.

K

Al-kasb tidak bisa terjadi, kecuali melalui daya yang diciptakan di dalam diri manusia. Diperlukan tempat jasmani untuk berlakunya segala perbuatan Allah.

K

Segala perbuatan Allah mengambil tempat dalam diri manusia.

K

Penggerak sesuatu perbuatan adalah Allah, dan yang bergerak ialah manusia. Karena Allah tidak memiliki tubuh jasmani. Atau pembuat suatu perbuatan ialah Allah, dan yang memperolehnya ialah manusia.

⇒ Daya manusia memang diciptakan-Nya, tetapi "secara umum" saja, dengan di-

berikan-Nya, ‘akal’ (pengetahuan dan kecerdasan) dan ‘nafsu’ (semangat dan keinginan) kepada tiap manusia. ⇒ Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

⇒ Walau ujian-Nya bukan "langsung" berasal dari Allah (tetapi dari pengaruh segala zat ciptaan-Nya yang saling berinteraksi di alam semesta), tetapi Allah tetap merasa ikut bertanggung-jawab atas segala ujian-Nya, sebagai bagian dari rencana-Nya, karena ujian-Nya adalah sarana Allah untuk bisa menguji keimanan hamba-hamba-Nya. ⇒ Pahala-Nya makin berlipat-ganda atas tiap amal-kebaikan, yang dilakukan saat mengalami ujian-Nya yang makin berat. Sebaliknya beban dosa makin berkurang atas tiap amal-keburukannya.

⇒ Manusia bertanggung-jawab sepenuhnya atas tiap perbuatannya. ⇒ Manusia bukanlah makhluk lemah, bahkan telah ditunjuk-Nya sebagai khalifah-

Nya (penguasa) di muka Bumi. Bahkan bagi orang-orang yang Mukhlis mereka bisa melewati berbagai cobaan atau ujian-Nya.

PC

Manusia bersifat pasif dalam perbuatannya. Karena "Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat" - (QS.37:96). Wa ma ta'malun artinya "perbuat" (bukan buat). Atau versi lainnya, "Padahal Allah-lah Yang menciptakan kamu, dan apa yang kamu perbuat itu (patung-patung yang kamu pahat)`." - (QS.37:96)

Perbuatan manusia diciptakan atau diwujudkan oleh Allah. Tidaklah ada pembuat bagi kasb, kecuali Allah. Maka yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia, sebenarnya adalah Allah sendiri. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Hanya manusia yang aktif menciptakan, memulai atau memicu perbuatannya. Sedang hanya perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya. ⇒ Manusia hanya bersifat pasif dalam menentukan ‘hasil atau keadaan akhir’ dari perbuatannya, karena ditentukan oleh Allah. Sedang manusia justru aktif menentukan berbagai ‘keadaan awal’ sebelum berlakunya proses pada sunatullah.

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah. penuhnya. Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri. ⇒ Kehendak dan daya manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui aturan-Nya (sunatullah), yang mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Tetapi hal ini terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk mengatur kehidupannya.

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya. ⇒ Perbuatan Allah bukan diwujudkan oleh manusia, ataupun bukan terwujud melalui manusia.

⇒ Segala perbuatan Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), terwujud melalui aturan-Nya (sunatullah), yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian di seluruh alam semesta ini, yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’. ⇒ Sangat berbeda, bahkan tidak bisa dibandingkan antara perbuatan Allah dan perbuatan segala zat makhluk ciptaan-Nya (termasuk manusia ataupun para makhluk gaib).


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1015

1016

rencana-Nya, karena ujian-Nya adalah sarana Allah untuk bisa menguji keimanan hamba-hamba-Nya. ⇒ Pahala-Nya makin berlipat-ganda atas tiap amal-kebaikan, yang dilakukan saat mengalami ujian-Nya yang makin berat. Sebaliknya beban dosa makin berkurang atas tiap amal-keburukannya.

⇒ Allah berbuat tidak melalui atau tidak memerlukan tubuh jasmani. K

Al-kasb merupakan perbuatan paksaan, atau di luar kekuasaan manusia.

K

Manusia mesti (bukan terpaksa) berbuat suatu yang tidak bisa dielakkannya, untuk mewujudkan perbuatan Allah.

K

Manusia terpaksa melakukan sesuatu yang tidak dapat dielakkannya, walau bagaimanapun ia berusaha.

K

Pembuat sebenarnya dari tiap perbuatan manusia adalah Allah. Dan manusia hanyalah merupakan alat untuk berlakunya perbuatan Allah.

K

Manusia terpaksa melakukan apa yang dikehendaki Allah.

K

Perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Allah.

PC

Perbuatan manusia ialah hasil perbuatan Allah. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

⇒ Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas se-

penuhnya, termasuk kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "di-sukai" atau "tidak disukai" oleh Allah, ataupun bahkan untuk tidak berbuat. Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri. ⇒ Kehendak dan daya manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui aturan-Nya (sunatullah), yang mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Tetapi hal ini terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk mengatur kehidupannya.

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

PC

Kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan mempunyai wujud. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Hanya kehendak dan daya manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu perbuatannya. Sedang hanya kehendak dan daya Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

PC

Allah menghendaki segala hal yang mungkin dikehendaki. Karena "kamu (hai manusia) tidak menghendaki, kecuali Allah yang menghendaki" - (QS.76:30), atau versi lainnya "Dan (hai manusia) kamu tidak mampu (menempuh jalan-Nya itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya …" - (QS.76:30)

PC

Manusia tidak bisa menghendaki sesuatupun, kecuali jika Allah menghendaki manusia supaya menghendaki sesuatu itu.

K

Kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Allah. Atau kehendak dalam diri manusia, tidak lain hanyalah kehendak Allah.

dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Allah memang menghendaki segala hal yang mungkin dikehendaki. Dan tidak ada sesuatupun yang melawan kehendak Allah. Tetapi kehendak Allah dalam penciptaan alam semesta, justru telah ditetapkan-Nya sebelum awal penciptaan alam semesta itu sendiri, dan kekal (tidak berubah) sampai akhir jaman. ⇒ Segala kehendak Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), terwujud melalui aturan-Nya (sunatullah), yang kekal (tidak berubah). ⇒ Kehendak manusia tidak menyatu dengan kehendak Allah. Dan kehendak manusia bukanlah kehendak Allah.

⇒ Segala perbuatan Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), terwujud mela-

⇒ Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas se-

lui aturan-Nya (sunatullah), yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian di seluruh alam semesta ini, yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’. ⇒ Perbuatan Allah bukan diwujudkan oleh manusia, ataupun bukan terwujud melalui manusia. ⇒ Sangat berbeda, bahkan tidak bisa dibandingkan antara perbuatan Allah dan perbuatan segala zat makhluk ciptaan-Nya (termasuk manusia ataupun para makhluk gaib). ⇒ Allah berbuat tidak melalui atau tidak memerlukan tubuh jasmani.

penuhnya, termasuk kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "di-sukai" atau "tidak disukai" oleh Allah, ataupun bahkan untuk tidak berbuat. Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri. ⇒ Kehendak dan daya manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui aturan-Nya (sunatullah), yang mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Tetapi hal ini terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk mengatur kehidupannya.

⇒ Walau ujian-Nya bukan "langsung" berasal dari Allah (tetapi dari pengaruh se-

⇒ Ayat di atas dimaksudkan, bahwa "manusia tidak akan bisa menempuh jalan-

⇒ Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya

gala zat ciptaan-Nya yang saling berinteraksi di alam semesta), tetapi Allah tetap merasa ikut bertanggung-jawab atas segala ujian-Nya, sebagai bagian dari

Nya, jika manusia itu sendiri tidak berusaha mencari hikmah dan hidayah-Nya, lalu mengamalkannya", atau segala sesuatu hanya bisa diperoleh melalui usa-


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1017

1018

ha. Di mana segala proses berusaha itu diatur oleh Allah, melalui aturan-Nya (sunatullah).

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

PC

Daya berbeda dari diri manusia itu sendiri, karena manusia terkadang bisa berkuasa, terkadang bisa pula tidak berkuasa.

PC

Daya tidak terwujud sebelum adanya perbuatan. Atau daya ada bersama-sama dengan perbuatannya. Dan daya itupun hanya akan ada untuk perbuatan yang terkait saja.

K

Orang yang dalam dirinya tidak diciptakan-Nya daya, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

K

Daya untuk berbuat bukanlah daya manusia itu sendiri, tetapi daya Allah. Namun manusia tidak kehilangan sifatnya sebagai pembuat.

PC

Perbuatan agar bisa terwujud perlu dua daya (daya Allah dan daya manusia), tetapi daya Allah yang paling dominan.

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Daya yang mewujudkan perbuatan adalah daya yang sedang terpakai dalam berbuat. Tetapi daya awalnya bisa terwujud sebelum adanya perbuatan.

K

Daya manusia tidaklah efektif kalau tidak disokong oleh daya Allah.

PC

Daya manusia turut serta dalam perwujudan perbuatan.

K

Manusia tidaklah sepenuhnya bersifat pasif.

⇒ Daya manusia memang diciptakan-Nya, tetapi "secara umum" saja, dengan di-

K

Daya yang diciptakan itu tidak bersifat efektif.

K

Kemauan dan daya untuk berbuat, adalah kemauan dan daya dari Allah. Dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Allah, bukan perbuatan manusia.

berikan-Nya, ‘akal’ (pengetahuan dan kecerdasan) dan ‘nafsu’ (semangat dan keinginan) kepada tiap manusia. ⇒ Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

⇒ Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatan-

nya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Perbuatan agar bisa terwujud perlu dua daya (daya Allah dan daya manusia).

⇒ Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya

dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya. ⇒ Tidak relevan untuk mencari yang paling dominan, karena tanpa dipicu oleh kehendak dan daya manusia, perbuatan manusia tidak terjadi, sedang tanpa disertai oleh kehendak dan daya Allah (melalui sunatullah), perbuatan manusia juga tidak ada artinya, tidak ada hasil wujud ataupun tidak ada hasil akhirnya (balasan-Nya). ⇒ Manusia hanya bersifat pasif dalam menentukan ‘hasil atau keadaan akhir’ dari perbuatannya, karena ditentukan oleh Allah. Sedang manusia justru aktif menentukan berbagai ‘keadaan awal’ sebelum berlakunya proses pada sunatullah.

⇒ Manusia seolah-olah tampak "tidak berdaya" atau "tidak berkuasa", karena adanya pengaruh lingkungan sekitarnya (ujian-Nya), bukan dipengaruhi oleh daya Allah. Tetapi nilai amalan suatu perbuatan justru bukan pada "hasil" (lahiriah), melainkan pada "proses berusaha”-nya (batiniah).

⇒ Kehendak dan daya manusia adalah kehendak dan daya sebenarnya. Secara

lahiriah manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri. Maka secara umum mustahil ada orang-orang dewasa yang "tidak bisa berbuat apa-apa". ⇒ Tetapi bagi orang-orang yang "tidak bisa berbuat apa-apa", atau segala perbuatannya tidak bisa diminta pertanggung-jawaban, seperti: anak yang belum akilbaliq atau orang gila, ketika mereka wafat, maka mereka akan mendapat Surga di akhirat nanti.

⇒ Manusia seolah-olah tampak "tidak efektif", "tidak berdaya" atau "tidak berkuasa", karena adanya pengaruh lingkungan sekitarnya (ujian-Nya), bukan dipengaruhi oleh daya Allah. Tetapi nilai amalan suatu perbuatan justru bukan pada "hasil" (lahiriah), melainkan pada "proses berusaha”-nya (batiniah).

K

Perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Allah.

PC

Perbuatan manusia pada hakekatnya terjadi dengan perantaraan Allah.

K

Allah yang menciptakan perbuatan manusia, dan daya untuk berbuat dalam diri manusia.

PC

Perbuatan manusia terjadi dengan daya Allah, bukan dengan daya manusia. Walau daya manusia berhubungan erat dengan perbuatan itu. Maka tidak bisa dikatakan, bahwa manusia yang menciptakan perbuatannya.

K

Perbuatan manusia diciptakan oleh Allah.

PC

Allah berbuat dengan menciptakan daya di dalam diri manusia, dan pemakaian daya itu merupakan perbuatan manusia.

Perbuatan manusia disebut al-kasb.

K

Daya diciptakan bersama-sama dengan perbuatan (bukanlah sebelum adanya per-

K

PEMBAHASAN ATAS PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1019

buatan). Karena bukanlah manusia yang menciptakan daya dan perbuatannya. P

Perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan manusia (justru bukan perbuatan Allah).

PC

Balasan Allah berdasar pemakaian daya yang diciptakan oleh Allah. Kehendak manusialah dalam memakainya untuk kebaikan atau kejahatan.

P

Karena salah ataupun benarnya pilihan dalam memakai daya, maka manusia diberi hukuman atau upah.

PC

Manusia bebas memilih, tetapi ia berada di bawah paksaan pemilik daya yang jauh lebih kuat dari dirinya. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya. Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri. ⇒ Kehendak dan daya manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui aturan-Nya (sunatullah), yang mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Tetapi hal ini terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk mengatur kehidupannya.

1020

K

Kehendak manusia sebenarnya adalah kehendak Allah. Karena perbuatan manusia ialah wujud dari kehendak Allah, bukan kehendak manusia.

K

Manusia melakukan perbuatan baik ataupun buruk, atas kehendak Allah, tetapi tidak selamanya dengan kerelaan hati Allah. Karena Allah tidak suka manusia yang berbuat jahat.

PC

Kehendak manusia bukanlah kehendak bebas sepenuhnya, karena tidak boleh berbuat sesuatu yang tidak "dikehendaki" oleh Allah. Tetapi kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "disukai" ataupun "tidak disukai" oleh Allah.

PC

Kehendak dan daya manusia adalah kehendak dan daya sebenarnya, tetapi terbatas. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Kehendak manusia adalah kehendak manusia sebenarnya, bukan kehendak Allah. Dan perbuatan manusia adalah wujud dari kehendak manusia, bukan kehendak Allah. ⇒ Kebebasan manusia memang bagian dari rencana atau kehendak Allah, dengan diciptakan-Nya akal dan nafsu pada tiap manusia, sekaligus untuk menguji keimanannya. ⇒ Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya, termasuk kebebasan untuk berbuat sesuatu yang "di-sukai" atau "tidak disukai" oleh Allah, ataupun bahkan untuk tidak berbuat. Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri. ⇒ Kehendak dan daya manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui aturan-Nya (sunatullah), yang mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Tetapi hal ini terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk mengatur kehidupannya.

⇒ Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

⇒ Daya manusia memang diciptakan-Nya, tetapi "secara umum" saja, dengan di-

berikan-Nya, ‘akal’ (pengetahuan dan kecerdasan) dan ‘nafsu’ (semangat dan keinginan) kepada tiap manusia. ⇒ Daya diciptakan bersama-sama dengan perbuatan (bukan sebelum adanya perbuatan). Lebih tepatnya, daya yang mewujudkan perbuatan itu adalah daya yang sedang terpakai dalam berbuat. ⇒ Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

⇒ Hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya

dan perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya.

⇒ Balasan Allah berdasarkan pemakaian daya. Dan kehendak manusialah dalam memakainya untuk kebaikan atau kejahatan.

⇒ Hanya para nabi-Nya di antara manusia, yang dikehendaki-Nya (berilmu, ber-

pengetahuan, memakai akal-pikirannya, dsb), yang diketahui paling mampu dalam merumuskan pemakaian daya itu (lahiriah dan batiniah), melalui berbagai hukum syariat dalam ajaran mereka (perintah dan larangan-Nya).

⇒ Namun manusia seolah-olah tampak dipaksa, karena adanya pengaruh lingkungan sekitarnya (ujian-Nya), bukan dipengaruhi oleh daya Allah. Tetapi nilai amalan suatu perbuatan justru bukan pada "hasil" (lahiriah), melainkan pada "proses berusaha"-nya (batiniah).

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

PEMBAHASAN ATAS PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA

---

Serupa aliran Maturidiah Samarkand, tentang kehendak manusia dalam berbuat.

---

Serupa aliran Maturidiah Samarkand, tentang kehendak dan kerelaan hati Allah.

---

Serupa aliran Maturidiah Samarkand, tentang daya diciptakan bersama-sama dengan perbuatannya (bukan sebelum adanya perbuatan), karena bukanlah manusia yang menciptakan perbuatannya Menurut pemahaman pada buku ini: Lihat pada pembahasan bagi aliran Maturidiah di atas.


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1021

PC

Perbuatan agar bisa terwujud perlu dua daya (daya Allah dan daya manusia), tetapi daya Allah yang paling dominan.

K

Daya manusia tidak efektif dalam mewujudkan perbuatannya.

P

Perwujudan perbuatan perlu dua daya (daya Allah dan daya manusia).

K

Manusia tidak mempunyai daya untuk menciptakan (perbuatannya).

P

Daya yang ada pada manusia bisa untuk melakukan perbuatan. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Hanya daya manusia yang aktif dan efektif menciptakan, memulai atau memicu perbuatannya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang aktif dan efektif mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, sekaligus untuk memberi balasan-Nya. ⇒ Tidak relevan untuk mencari yang paling dominan, karena tanpa dipicu oleh daya manusia, perbuatan manusia tidak terjadi, sedang tanpa disertai oleh daya Allah (melalui sunatullah), perbuatan manusia juga tidak ada artinya, tidak ada hasil wujud ataupun tidak ada hasil akhirnya (balasan-Nya). ⇒ Secara sadar ataupun tidak melalui perbuatannya, manusia justru sebenarnya memanfaatkan daya Allah (melalui sunatullah), dengan terjadinya perubahan berbagai keadaannya (awal) sehingga berlaku sunatullah tertentu, yang menentukan keadaan akhirnya tiap saatnya (balasan-Nya atau qadla-Nya). ⇒ Daya manusia bersifat aktif, sedang daya Allah bersifat pasif, hanya mengikuti sesuai segala keadaan manusia yang dipilih dan diusahakan oleh manusia itu sendiri, ataupun segala keadaan (lahiriah dan batiniah) zat ciptaan-Nya.

⇒ Manusia seolah-olah tampak "tidak efektif", karena adanya pengaruh lingkungan sekitarnya (ujian-Nya), bukan dipengaruhi oleh daya Allah. Tetapi nilai amalan suatu perbuatan justru bukan pada "hasil" (lahiriah), melainkan pada "proses berusaha”-nya (batiniah).

K

Hanya Allah yang dapat mencipta, termasuk menciptakan perbuatan manusia.

K

Manusia hanyalah bisa melakukan perbuatan, yang telah diciptakan oleh Allah baginya.

PC

Perwujudan perbuatan terkandung dua perbuatan (Allah dan manusia). Perbuatan Allah ini ialah menciptakan perbuatan manusia, bukan menciptakan daya manusia.

PC

Perbuatan manusia meskipun diciptakan oleh Allah, tetapi bukanlah perbuatan Allah. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia, bukan perbuatan Allah, walau perbuatan manusia pasti selalu disertai oleh perbuatan Allah.

⇒ Perwujudan perbuatan terkandung dua perbuatan (Allah dan manusia). ⇒ Hanya manusia yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan perbuatan-

nya. Sedang hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan per-

1022

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

buatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, untuk sekaligus memberi balasan-Nya. PC

Manusia bebas dalam kehendak dan perbuatannya. Manusia adalah pembuat dari perbuatan, dalam arti yang sebenarnya. Tetapi kebebasan manusia kalaupun ada, kecil sekali. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Kehendak dan perbuatan manusia adalah kehendak dan perbuatan bebas sepenuhnya. Secara lahiriah tiap manusia memang amat terbatas, tetapi justru amat sangat bebas untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri. ⇒ Kehendak dan daya manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan daya Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui aturan-Nya (sunatullah), yang mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Tetapi hal ini terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak terjangkau atau tidak bersinggungan sedikitpun dengan kehendak dan daya manusia untuk mengatur kehidupannya.

Tabel 25: Perbuatan manusia, bagi aliran-aliran (kuantitatif) (P = pro; PC = pro dengan catatan; K = kontra)

Perbandingan kuantitatif antara aliran-aliran dan pembahasan di sini, tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia Aliran Mu'tazilah : 2 K; 24 PC; 2 P PC, PC, P, PC, PC, PC, PC, PC, PC, P, PC, PC, PC, K, K, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC, PC Aliran Asy'ariah : 28 K; 12 PC; 0 P PC, K, K, K, PC, K, K, K, K, K, K, K, K, K, K, K, K, K, K, K, PC, PC, PC, PC, K, PC, PC, K, K, K, PC, K, PC, K, PC, K, PC, K, K, K Aliran Maturidiah Samarkand : 4 K; 5 PC; 2 P K, PC, K, P, PC, P, PC, K, K, PC, PC Aliran Maturidiah Buchara : 4 K; 4 PC; 2 P PC, K, P, K, P, K, K, PC, PC, PC

Dari Tabel 21 s/d Tabel 24 di atas berikut berbagai uraiannya, secara sekilas dan garis besarnya terungkap, bahwa terdapat berbagai perbedaan antara ke semua aliran itu dengan hasil pemahaman pada pembahasan buku ini. Namun apabila ditinjau dari aspek ‘kedekatan’ pemahaman pada buku ini terhadap aliran-aliran itu (khusus tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia), maka secara berurutan, yaitu: aliran Mu'tazilah (atau Qadariah), Maturidiah Samarkand, Maturidiah Buchara dan aliran Asy'ariah (Jabariah).


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1023

Kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah Dalam uraian pembahasan pada poin A di atas, tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia, telah terungkap adanya perbedaan pemahaman yang relatif cukup tajam antar aliran-aliran yang dibahas, walaupun memang relatif lebih banyak ditemui sesuatu ‘kesesuaian’, yang bisa menghubungkan ke semua pemahaman itu. Namun dalam pemahaman tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah, justru perbedaan menjadi lebih tajam lagi. Padahal pemahaman tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah ini, amat mempengaruhi dan mewarnai setiap bentuk pemahaman lainnya. Aliran-aliran yang ditinjau di sini juga serupa dengan pada poin A, yaitu: Mu'tazilah, Maturidiah Samarkand & Buchara dan Asy'ariah.

1024

Tabel 27: Kemutlakan sifat-Nya, bagi aliran-aliran (pernyataan)

B.

Ringkasnya dari perbandingan kuantitatif, antara pemahaman pada aliran-aliran itu, terhadap pemahaman pada buku ini, pada Tabel 25 lebih banyak kesesuaiannya (P=pro dan PC=pro dengan catatan), dan lebih sedikit pertentangannya (K=kontra) daripada pada Tabel 30 Pada Tabel 26 dan Tabel 27 di bawah ini akan diungkap suatu kesimpulan dan pernyataan lebih lengkap atas pemahaman dari aliranaliran itu, tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah. Dan sekaligus disertakan pula hasil kesimpulan pemahaman pada buku ini, sebagai bahan perbandingan awalnya (pada Tabel 26 poin 5). Tabel 26: Kemutlakan sifat-Nya, bagi aliran-aliran (kesimpulan)

No

Kesimpulan dari beberapa aliran, tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah

Aliran

Rangkuman ringkas pemahaman dari beberapa aliran, tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MU’TAZILAH Kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah: Tidak mutlak semutlak-mutlaknya (di bawah aliran lain-lainnya)

• Kekuasaan Allah tidak bersifat mutlak lagi, karena justru telah dibatasi oleh kebebasan, • • • • • •

• • • • • •

1

Tidak mutlak semutlak-mutlaknya (di bawah aliran lain-lainnya)

Mu'tazilah / Qadariah

2

Mutlak (antara aliran Maturidiah Buchara dan Mu'tazilah)

Maturidiah Samarkand

3

Mutlak (tidak semutlak pada aliran Asy'ariah)

Maturidiah Buchara

4

Mutlak semutlak-mutlaknya (di atas aliran lain-lainnya)

Asy'ariah

5

Hakekat : Mutlak semutlak-mutlaknya Perwujudan di alam semesta : Tidak mutlak semutlak-mutlaknya (melalui segala aturan yang pasti berlaku dan tidak berubah-ubah) (paling atas ataupun di tengah aliran lainnya, tergantung dari sudut pandang, atau hakekat dan perwujudan bisa berbeda)

-- pada buku ini --

(poin 1-4 dikutip dari buku "Teologi Islam", Prof.Dr. Harun Nasution, 1986: 118-122)

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

yang justru telah diberikan-Nya kepada tiap manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Kekuasaan mutlak Allah dibatasi pula oleh sifat keadilan Allah. Allah tidak bisa berbuat sekehendak-Nya. Allah telah terikat pada norma-norma keadilan, yang jika dilanggar maka Allah bersifat tidak adil, bahkan zalim. Dan sifat tidak adil itu bukanlah sifat Allah. Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah dibatasi pula oleh kewajiban-kewajiban Allah terhadap manusia. Kekuasaan mutlak Allah-pun dibatasi pula oleh sifat atau hukum alam (Sunnah Allah) yang tidak pernah berubah. Tiap benda mempunyai sifat atau hukum alamnya sendiri (gerak, diam, warna, rasa, panas, dingin, basah, kering, dsb). Sedang efek yang ditimbulkan tiap benda bukanlah perbuatan Allah, tetapi perbuatan Allah hanyalah menciptakan benda-benda yang mempunyai sifat tertentu. Hukum alam (Sunnah Allah) yang mengatur perjalanan kosmos (seluruh alam semesta ini). Segala sesuatu di alam semesta ini berjalan menurut Sunnah Allah. Sunnah Allah dibuat oleh Allah sebegitu rupa sehingga sebab dan musabab di dalamnya memiliki hubungan yang erat. Bagi tiap sesuatu jenis ciptaan-Nya, Allah menciptakan Sunnah tertentu. Ada Sunnah yang tidak berubah-ubah, untuk mencapai kemenangan. Keadaan seseorang (mukmin ataupun kafir), justru tidak memiliki pengaruh terhadap berlakunya Sunnah Allah itu. Sunnah Allah tidak kenal sesuatu pengecualian, termasuk bagi para nabi-Nya. Sunnah Allah tidak berubah-ubah, dan Allah tidak menghendaki agar Sunnah Allah sekali-kali menyalahi sifat ciptaan-Nya. Sunnah Allah tidak mengalami perubahan atas kehendak Allah sendiri, dengan demikian hal inipun merupakan batasan bagi kekuasaan dan kehendak mutlak pada Allah. Allah tidak bersikap absolut dalam menjatuhkan hukuman dengan sekehendak-Nya. Allah ibaratnya Raja Yang konstitusionil, bukan Raja Yang absolut.

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN ASY’ARIAH Kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah: Mutlak semutlak-mutlaknya (di atas aliran lain-lainnya)


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1025

• Allah tidak tunduk kepada siapapun. • Di atas Allah tidak ada sesuatu zat lain yang dapat membuat hukum, dan juga dapat menentukan apa yang boleh atau tidak boleh diperbuat oleh Allah.

• Allah bisa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya di dalam kerajaan-Nya. • Tidak ada sesuatupun yang bisa mencela perbuatan-Nya. Sungguhpun segala perbuatan-Nya itu oleh akal manusia bersifat tidak baik dan tidak adil.

• Boleh saja Allah melarang hal-hal yang telah diperintahkan-Nya, ataupun juga memerintahkan hal yang telah dilarang-Nya. Allah bersikap adil dalam segala perbuatan-Nya. Tidak ada suatu laranganpun bagi Allah. Allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya. Seluruh makhluk milik-Nya. Perintah-Nya di atas segala perintah. Allah memberi hukum menurut kehendak-Nya. Allah dapat menyiksa orang yang berbuat baik, jika hal itu dikehendaki-Nya. Sebaliknya Allah dapat memberi upah kepada orang kafir, jika hal itupun juga dikehendaki-Nya. • Allah dapat meletakkan beban yang tak-terpikul pada diri manusia. • Sekiranya Allah mewahyukan bahwa berdusta adalah baik, maka berdusta itu mestilah baik, bukan buruk. • Allah tidak terikat kepada segala apapun, dan tidak terikat pada janji-janji, pada normanorma keadilan, dsb.

• • • • • • •

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND Kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah: Mutlak (antara aliran Maturidiah Buchara dan Mu'tazilah)

• Kebebasan dalam kehendak dan perbuatan, ada pada manusia. • Allah tidak bersifat sewenang-wenang dalam menjatuhkan segala hukuman-Nya, tetapi berdasar kepada kebebasan pemakaian daya yang diberikan-Nya kepada manusia, untuk berbuat baik atau jahat. • Hukuman-hukuman Allah bersifat pasti terjadinya. • Adanya batasan-batasan pada kehendak dan kekuasaan-Nya, bukan dari zat selain Allah. Karena tidak ada sesuatu zatpun yang berkuasa di atas Allah, dan Allah di atas segala-galanya. Batasan-batasan justru itupun ditentukan oleh dan atas kehendak Allah sendiri.

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA Kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah: Mutlak (tidak semutlak pada aliran Asy'ariah)

• Allah memang berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, dan juga menentukan segalagalanya menurut kehendak-Nya.

• Tidak ada yang dapat menentang atau memaksa Allah. • Tidak ada larangan-larangan kepada Allah. (dikutip dari buku "Teologi Islam", Prof.Dr. Harun Nasution, 1986: 118-122)

1026

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Walau telah diuraikan secara lengkap dalam bab-bab buku ini, tetapi agar lebih jelas dan segar dalam ingatan. Maka pada Tabel 28 di bawah ini diuraikan kembali secara ringkas berbagai pemahaman hasil pembahasan pada buku ini (khususnya pada topik "Sunatullah (sifat proses)"), dengan fokus utamanya, tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah. Tabel 28: Kemutlakan sifat-Nya, bagi pembahasan di sini

Pernyataan-pernyataan ringkas dari pembahasan di sini tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI PEMAHAMAN PADA BUKU INI Kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah: Hakekat : Mutlak semutlak-mutlaknya Perwujudan di alam semesta : Tidak mutlak semutlak-mutlaknya (paling atas atau di tengah aliran lain-lainnya, tergantung sudut pandang)

Kehendak dan kekuasaan mutlak Allah • Tidak ada perubahan dan batasan pada kehendak dan kekuasaan mutlak-Nya. • Kerajaan-Nya di atas atau meliputi segala kerajaan. • Tidak ada sesuatu zatpun yang berkuasa di atas Allah, yang misalnya: a. Dapat menentang atau memaksa Allah. b. Dapat menyela perbuatan-Nya. c. Dapat membuat hukum, dan bisa menentukan apa yang boleh ataupun tidak boleh diperbuat oleh Allah.

• Allah tidak tunduk atau terikat kepada segala sesuatu apapun. • Allah yang menentukan terhadap segala sesuatu. • Tidak ada suatu laranganpun bagi Allah. Kehendak atau rencana Allah bagi alam semesta • Pada penciptaan alam semesta ini, ataupun pada segala yang ada atau terjadi di alam semesta ini, justru hanyalah perwujudan dari rencana, kehendak dan kekuasaan-Nya. • Di dalam kehendak atau rencana Allah yang terkait dengan penciptaan alam semesta, Allah sebelumnya telah pula menentukan dan menetapkan segala sesuatu hal, seperti: kehendak-Nya, tindakan-Nya, aturan-Nya (hukum-Nya, Sunnah Allah atau sunatullah), perintah dan larangan-Nya, pengajaran dan tuntunan-Nya, janji atau balasan-Nya, dsb. • Segala ketentuan, kehendak atau rencana-Nya bagi alam semesta ini tidak pernah berubah, sejak ditetapkan-Nya sampai akhir jaman. Dan hal-hal itupun telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung. Alam semesta diciptakan-Nya dengan maksud atau tujuan, yang sangat pasti dan jelas. Sunatullah (Sunnah Allah, perbuatan, hukum atau aturan-Nya) pada aspek lahiriah dan batiniah di alam semesta • Sunatullah sama-sekali mustahil membatasi kekuasaan dan kehendak mutlak Allah,


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1027

karena sunatullah itu sendiri justru bentuk perwujudan dari kekuasaan dan kehendakNya dalam penciptaan alam semesta ini. • Sunatullah (lahiriah dan batiniah) adalah wujud dari segala tindakan atau perbuatanNya di alam semesta ini. • Sunatullah terkadang disebut sebagai kehendak, ketetapan atau ketentuan-Nya di alam semesta ini, karena melalui sunatullah itu Allah justru mewujudkan segala kehendak, ketetapan atau ketentuan-Nya bagi alam semesta. • Sunatullah (lahiriah dan batiniah) tidak berubah-ubah, sejak ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta sampai akhir jaman, dan tercatat pula pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya.

• Melalui sunatullah itulah Allah menciptakan alam semesta dan segala isinya.

Namun ada perkecualian terjadi pada penciptaan tak-terhitung jumlah dan jenis "Ruh" (hidup dan gaib) dan "Atom" (mati dan nyata, tepatnya materi ‘terkecil’), sebagai zat-zat paling elementer penyusun seluruh alam semesta dan segala isinya ini, yang justru diciptakan-Nya tanpa proses sama-sekali (langsung jadi). Atom untuk 'sementara' bisa dianggap sebagai sistem materi 'penyusun' terkecil, sedang materi 'penyusun' terkecil yang sebenarnya mustahil bisa dijangkau dan diketahui oleh manusia (materi ‘terkecil’).

• Sunatullah itu segala (tak-terhitung jumlah) aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah • •

dan batiniah) atas segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini (makhluk hidup atau benda mati, nyata atau gaib). Sunatullah mengatur segala proses internal pada tiap zat ciptaan-Nya, ataupun proses interaksi antar zat-zat ciptaan-Nya (sejenis ataupun berlainan). Sunatullah pasti berlaku (mutlak), pasti konsisten (kekal) dan juga pasti sesuai dengan keadaan (lahiriah dan batiniah) pada tiap zat ciptaan-Nya tiap saatnya. Dan tentunya keadaan itu sendiri juga termasuk meliputi jenis atau sifat zatnya. Pada tiap jenis zat ciptaan-Nya berlaku sekelompok sunatullah tertentu. Sunatullah (sebagai satu kesatuan dari sejumlah tak-terhitung sunatullah) pasti berlaku sama terhadap "segala" zat ciptaan-Nya, bukan hanya pada zat-zat tertentu saja (sama sekali tidak mengenal pengecualian, bahkan termasuk pada para nabi-Nya). Segala zat ciptaan-Nya pasti tunduk, patuh dan taat kepada sunatullah, secara sadar ataupun tidak, bahkan bagi orang yang paling kafir dan iblis sekalipun.

1028

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

• Ada sunatullah untuk mencapai kemenangan lahiriah (di dunia) dan batiniah (di akhirat).

Ajaran-ajaran agama-Nya adalah berbagai cara untuk mengubah keadaan batiniah tiap umat manusia, agar berlakulah sunatullah yang mengantarkannya kepada kemenangan batiniah yang hakiki (relatif amat sedikit kepada kemenangan lahiriah-fisik-duniawi).

Tidak ada perubahan dan batasan dalam kehendak-Nya di alam semesta

• Allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, tetapi segala kehendak-Nya bagi seluruh alam semesta ini, justru telah ditetapkan-Nya sebelum awal penciptaan alam semesta itu sendiri, dan tidak akan berubah-ubah (kekal) sampai akhir jaman. Maka Allah justru tidak berbuat sekehendak-Nya di alam semesta ini.

• Allah pasti ‘konsisten’ (bukan tunduk atau terikat) kepada kehendak atau rencana Allah

sendiri dalam penciptaan alam semesta ini, yang terkandung pula di dalamnya: segala kebaikan, janji, hukum atau aturan, norma keadilan, dsb. • Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah sama-sekali tidak dibatasi oleh segala sesuatu apapun, karena semuanya justru bagian atau contoh perwujudan dari kekuasaan dan kehendak-Nya, seperti misalnya: Kebebasan manusia, yang telah diberikan-Nya dalam menentukan kehendak dan perbuatannya sendiri (diciptakan-Nya akal dan nafsunya). - Kewajiban-kewajiban atau janji-janji Allah terhadap manusia. - Sifat keadilan Allah. - Sifat atau hukum alam (bagian dari sunatullah), yang tidak pernah berubah.

Kebebasan pada manusia • Kebebasan dalam kehendak dan perbuatan, ada pada tiap manusia, dengan diberi-Nya ‘akal’ (pengetahuan dan kecerdasan) dan ‘nafsu’ (semangat dan keinginan). • Kebebasan manusia adalah bagian penting dari kehendak atau rencana Allah, dalam penunjukan manusia sebagai khalifah-Nya di muka Bumi (dunia). • Kebebasan, kehendak atau perbuatan tiap manusia diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan perbuatan Allah di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), yang melalui aturanNya (sunatullah).

Allah. Maka segala pengaturan atau proses dalam sunatullah, diwarnai oleh sifat-sifat Allah.

Sunatullah mewujudkan ke-Maha Adil-an Allah • Sunatullah adalah "aturan atau rumus" proses kejadian, yang berlaku sama terhadap "segala" zat ciptaan-Nya. Dan Allah bukan menentukan segala "bentuk balasan-Nya", tetapi justru menentukan "rumus proses pemberian balasan-Nya" yang bersifat kekal. Maka "mustahil" ada sesuatupun tindakan-Nya, yang misalnya: aniaya atau zalim, pilihkasih, sewenang-wenang, sekehendak, tidak adil, tidak baik, dsb. • Sunatullah tentang proses pemberian balasan-Nya (nikmat atau hukuman-Nya, secara lahiriah dan batiniah) pasti setimpal dengan setiap amal-perbuatan manusia, juga pasti berlaku sama bagi setiap manusia (orang kafir atau beriman, orang jahat atau baik, fakir miskin atau konglomerat, orang cacat atau normal, dsb) dan bersifat mutlak dan kekal (pasti terjadi dan pasti konsisten).

• Hukum alam (lahiriah) hanya sebagian saja dari sunatullah (lahiriah dan batiniah), yang

• Allah tidaklah sewenang-wenang (tidak bersikap absolut atau sekehendaknya) dalam

• Sifat-sifat zat ciptaan-Nya dibagi menjadi: sifat pembeda-esensi-statis dan sifat proses-

perbuatan-dinamis. Sifat proses juga termasuk proses-proses yang mengubah sifat pembedanya, sesuai keadaan zat ciptaan-Nya setiap saatnya. Maka sifat proses ini (yang mutlak dan kekal) juga termasuk bagian dari sunatullah.

• Penciptaan alam semesta adalah perwujudan dari Fitrah Allah atau sifat-sifat terpuji

mengatur perjalanan kosmos (alam semesta). • Seperti proses pada umumnya, maka sunatullah juga menghubungkan antara sebab dan musabab (lahiriah dan batiniah), secara langsung ataupun tidak.

memberi balasan-Nya (nikmat atau hukuman-Nya), melainkan justru pasti sesuai atau setimpal dengan tiap amal-perbuatan manusia (pasti adil). • Tidak ada sesuatupun perbuatan-Nya itu yang bersifat tidak baik dan tidak adil, karena penilaian tentang baik, adil atau semacamnya, hanyalah untuk sesuatu yang relatif dan


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1029

1030

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

berubah-ubah. Tetapi segala perbuatan-Nya di alam semesta ini (melalui sunatullah), bersifat mutlak dan kekal (pasti terjadi dan pasti konsisten). Penilaian semacam itu sama halnya dengan mempertanyakan berbagai rencana Allah, tentang penciptaan seluruh alam semesta dan segala isinya ini.

oleh seluruh umat manusia tiap saatnya, untuk menguji keimanannya masing-masing. Tetapi Allah pasti menyiksa orang yang berbuat ‘baik’ di kehidupan akhiratnya, terutama pada Hari Kiamat, atas tiap perbuatan dosanya yang belum dimaafkan-Nya (taubatnya atas dosanya itu belum diterima-Nya). Hanya Allah Yang Maha mengetahui ‘baik’ atau ‘buruk’-nya seseorang (atas ‘suatu’ atau ‘seluruh’ amal-perbuatannya selama di dunia).

Balasan-Nya bagi orang kafir dan orang beriman • Keadaan keimanan manusia tiap saatnya (niat atau kesadaran), yang menyertai tiap amal-perbuatannya, justru pasti berpengaruh sangat besar terhadap proses berlakunya sunatullah batiniah. Tetapi justru sebaliknya keadaan keimanan itupun tidak banyak berpengaruh terhadap sunatullah lahiriah, karena keimanan itu relatif hanya bisa mewujud pada salah-satu aspek lahiriah saja, yaitu energi atau daya lahiriah (semangat menegakkan kebenaran). • Orang kafir dan orang beriman sama-sama bisa pula memperoleh karunia, rejeki atau rahmat-Nya secara lahiriah. Tetapi orang kafir justru jauh lebih terbatas dalam memperoleh pahala atau rahmat-Nya secara batiniah. Karena orang kafir bisa berbuat baik (bersifat umum atau muamalah), tetapi pondasi paling utama keadaan batiniahnya mengandung cacat (tauhidnya tidak lurus).

• Segala ujian-Nya justru ”tidak sama” dengan siksaan atau hukuman-Nya, walau seolah-

Perintah-perintah-Nya • ‘Hakekat’ dari tiap perintah-Nya dalam ajaran agama-Nya justru bersifat ‘universal’ (bisa melewati batas waktu, ruang, budaya, dsb), tidak pernah berubah sampai akhir jaman. • Tetapi dalam aplikasi atau penerapan aktualnya, justru penafsiran atas segala perintahNya harus disesuaikan dengan jaman, tempat ataupun budaya umat manusia. Maka perintah-Nya yang disampaikan oleh para nabi-Nya, seolah-olah tampak berubah-ubah atau berbeda-beda, walaupun hikmah dan hakekatnya justru tetap sama atau serupa.

Dari Tabel 28 tersebut, berbagai hasil pembahasan pada buku ini sekilas terlihat tampak ‘hampir’ sesuai, dengan pemahaman pada aliran Mu'tazilah, terutama karena sama-sama terfokus pada peranan sangat penting Sunnah Allah (sunatullah). Namun jika dicermati atau ditinjau pada uraian lengkapnya, justru ternyata amat berbeda.

• "Wahyu adalah wahyu yang dibacakan" (atau wahyu-Nya yang disampaikan oleh para

nabi-Nya kepada umatnya), adalah penafsiran atau pemahaman atas wahyu-Nya yang diterimanya dari malaikat Jibril, sesuai dengan konteks jaman, tempat ataupun budaya umat kaum tiap para nabi-Nya. • Jika penafsiran atau penerapan atas perintah-Nya, telah tidak sesuai dengan "hikmah dan hakekat" yang terkandung pada perintah-Nya itu, maka penafsiran atau penerapan itu sendiri justru mestinya disesuaikan pula.

• Allah mustahil mewahyukan agar berdusta, kecuali demi kebaikan bagi seluruh umat manusia secara obyektif, justru bukan secara subyektif-relatif menurut tiap manusianya.

• Perintah-Nya di atas segala perintah, namun hal ini hanya sesuai dari segi ‘hikmah dan

olah terasa sama-sama menyiksa, menyulitkan, memberatkan atau menyengsarakan. Ujian-Nya justru sama sekali bukan hasil pengaruh dari segala perbuatan manusia yang mengalaminya (secara langsung ataupun tidak), maka iapun justru tidak bertanggungjawab atas ujian-Nya, sebaliknya siksaan-Nya dari hasil perbuatan dosanya.

• Allah mustahil memberi beban ujian-Nya yang tidak mampu dipikul oleh tiap manusia.

Segala beban ujian-Nya pada dasarnya hanyalah ukuran bersifat ‘batiniah’, atau hanya berupa jarak perbedaan antara nafsu-keinginan ‘batiniah’ dan segala keadaan lahiriah yang sedang dihadapi, terwujud atau tercapai. Tiap manusia justru memiliki kebebasan, kekuasaan dan otoritas sepenuhnya untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri (kehidupan akhiratnya). Segala ujian-Nya secara ‘lahiriah’ pastilah akan bermuara atau berakhir menjadi segala ujian-Nya secara ‘batiniah’ pada alam batiniah ruh manusia.

Agar lebih jelasnya bagi perbandingan hasil pemahaman pada buku ini terhadap tiap aliran tersebut, maka pada Tabel 29 berikut ini dibahas secara ringkas pernyataan dari tiap alirannya (yang disebutkan pula pada Tabel 27 di atas), agar lebih bisa terungkapkan berbagai perbedaan ataupun titik temunya. Pada setiap pernyataan dari sesuatu aliran, yang sesuai dengan pemahaman pada buku ini diberi tanda "P" (pro), yang sesuai namun dengan suatu catatan tertentu diberi tanda "PC" (pro-catatan), sedang apabila bertentangan diberi tanda "K" (kontra). Tabel 29: Kemutlakan sifat-Nya, bahas pernyataan aliran-aliran (P = pro; PC = pro dengan catatan; K = kontra)

hakekat’ yang terkandung pada perintah-Nya, dengan tujuan utama demi kebaikan. Bahkan tergantung kepada tiap manusianya sendiri untuk mau mengikuti perintah-Nya ataupun tidak, setelah diberikan-Nya kebebasan (dengan akal dan nafsunya), sebagai suatu bentuk ujian-Nya baginya. Segala perintah-Nya justru tidak bersifat ‘memaksa’, walaupun seolah-olah ‘memaksa’ bagi umat yang memang benar-benar ingin meningkatkan keimanannya.

Beban cobaan atau ujian-Nya • Allah mustahil menyiksa orang yang berbuat baik, yang ada hanyalah berbagai macam beban cobaan atau ujian-Nya (lahiriah dan batiniah), yang justru pastilah selalu dialami

Pembahasan atas pernyataan-pernyataan dari aliran-aliran, tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah, dengan memakai pemahaman pada buku ini PEMBAHASAN ATAS PERNYATAAN ALIRAN MU'TAZILAH

K

Sunnah Allah tidak mengalami perubahan atas kehendak Allah sendiri, maka hal ini merupakan batasan bagi kekuasaan dan kehendak mutlak pada Allah.


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1031

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Sunnah Allah (sunatullah) justru sama-sekali tidak membatasi kekuasaan dan kehendak mutlak Allah. ⇒ Sunatullah adalah salah-satu contoh perwujudan dari kekuasaan dan kehendak mutlak Allah (hanya terkait dengan penciptaan alam semesta ini). ⇒ Sunatullah justru merupakan bagian dari rencana atau kehendak Allah dalam penciptaan alam semesta ini, di samping berbagai ketetapan-Nya lainnya. ⇒ Sunatullah adalah wujud dari tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta ini. PC

Keadaan seseorang (mukmin ataupun kafir), justru tidak memiliki pengaruh terhadap berlakunya Sunnah Allah itu. Sunnah Allah tidak kenal sesuatu pengecualian, termasuk bagi para nabi-Nya. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Keadaan batiniah manusia (seperti: mukmin atau kafir) justru berpengaruh besar terhadap berlakunya sunatullah secara batiniah, namun memang relatif tidak berpengaruh terhadap sunatullah secara lahiriah. ⇒ Sunatullah sebagai satu kesatuan dari sejumlah tak-terhitung sunatullah, yang berlaku sama terhadap "segala" zat ciptaan-Nya, bukan pada zat-zat tertentu saja (tidak mengenal pengecualian, termasuk para nabi-Nya).

P

Sunnah Allah dibuat oleh Allah sebegitu rupa sehingga sebab dan musabab di dalamnya memiliki hubungan yang erat. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Sunatullah itu memang dibuat oleh Allah sebegitu rupa sehingga sebab dan musabab (lahiriah dan batiniah) di dalamnya memiliki hubungan yang erat (secara langsung ataupun tidak). ⇒ Sunatullah adalah segala aturan atau rumus proses kejadian atas segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini. Proses pada sunatullah mengubah berbagai keadaan awal manusia menjadi berbagai keadaan akhir tiap saatnya, yang setimpal dengan segala usaha manusianya sendiri.

K

Kekuasaan Allah tidak bersifat mutlak lagi, karena justru telah dibatasi oleh kebebasan, yang justru telah diberikan-Nya kepada tiap manusia dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah sama-sekali tidak dibatasi oleh kebebasan manusia, yang memang sengaja telah diberikan-Nya dalam menentukan kehendak dan perbuatannya (diciptakan-Nya akal dan nafsu).

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

⇒ Kebebasan manusia adalah bagian dari kehendak atau rencana Allah dalam penunjukan manusia sebagai khalifah-Nya di muka Bumi (dunia).

K

Kekuasaan mutlak Allah dibatasi pula oleh sifat atau hukum alam (Sunnah Allah) yang tidak pernah berubah. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah justru sama-sekali tidak dibatasi oleh sifat atau hukum alam (sebagian dari sunatullah), yang tidak pernah berubah. ⇒ Sifat atau hukum alam justru salah-satu contoh perwujudan dari kekuasaan dan kehendak mutlak Allah (hanya terkait dengan penciptaan alam semesta ini).

Allah tidak bisa berbuat sekehendak-Nya. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Allah tidak berbuat sekehendak-Nya di alam semesta, karena alam semesta ini justru diciptakan-Nya dengan maksud atau tujuan yang ‘pasti’ dan ‘jelas’. ⇒ Segala kehendak-Nya dalam penciptaan alam semesta justru telah ditetapkanNya sebelum penciptaan itu sendiri, serta tidak berubah sampai akhir jaman.

K

1032

K

Kekuasaan mutlak Allah dibatasi pula oleh sifat keadilan Allah. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah justru sama-sekali tidak dibatasi oleh sifat keadilan Allah. ⇒ Sifat keadilan Allah adalah kemutlakan sifat Allah lainnya, yaitu Maha Adil. ⇒ Kemutlakan semua sifat Allah tidak semestinya saling dipertentangkan, apalagi tidak semestinya membandingkan dengan sifat dan perbuatan manusia.

K

Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah dibatasi pula oleh kewajiban-kewajiban Allah terhadap manusia. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Kekuasaan dan kehendak mutlak Allah justru sama-sekali tidak dibatasi oleh kewajiban-kewajiban Allah terhadap manusia. ⇒ Kewajiban-kewajiban Allah terhadap manusia adalah kemutlakan sifat Allah lainnya, antara lain yaitu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. ⇒ Kemutlakan semua sifat Allah tidak semestinya saling dipertentangkan, apalagi tidak semestinya membandingkan dengan sifat dan perbuatan manusia.

PC

Sunnah Allah tidak berubah-ubah, dan Allah tidak menghendaki agar Sunnah Allah sekali-kali menyalahi sifat ciptaan-Nya. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Sunatullah (lahiriah dan batiniah) memang tidak berubah-ubah sejak ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta sampai akhir jaman. ⇒ Tetapi sunatullah justru diciptakan-Nya melekat sebagai sifat proses-dinamisperbuatan yang ‘mutlak’ dan ‘kekal’ pada segala zat ciptaan-Nya, sekaligus untuk mengaturnya. Sifat ini bukanlah hasil perbuatan segala zat makhluk-Nya, tetapi hasil perbuatan Allah.

P

Segala sesuatu di alam semesta ini berjalan menurut Sunnah Allah. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Segala sesuatu proses atau kejadian di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah) pasti berjalan menurut atau mengikuti sunatullah.

K

Hukum alam (Sunnah Allah) yang mengatur perjalanan kosmos (seluruh alam semesta ini).


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1033

1034

⇒ Allah tidak menjatuhkan hukuman dengan sekehendak-Nya di alam semesta. ⇒ Sunatullah sebagai wujud tindakan-Nya di alam semesta, justru bersifat ‘mutlak’

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Hukum alam (lahiriah) hanyalah sebagian dari sunatullah (lahiriah dan batiniah), yang mengatur perjalanan kosmos (alam semesta). P

Bagi tiap sesuatu jenis ciptaan-Nya, Allah menciptakan Sunnah tertentu.

K

Tiap benda mempunyai sifat atau hukum alamnya sendiri (gerak, diam, warna, rasa, panas, dingin, basah, kering, dsb). Sedang efek yang ditimbulkan tiap benda bukanlah perbuatan Allah, tetapi perbuatan Allah hanyalah menciptakan benda-benda yang mempunyai sifat tertentu. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Bagi tiap jenis zat ciptaan-Nya, Allah memang menciptakan sekelompok aturan atau rumus proses kejadian tertentu pada sunatullah (sekelompok sunatullah yang amat kecil atau sederhana, yang menyusun sunatullah sebagai sesuatu kesatuan segala aturan atau rumus proses kejadian di seluruh alam semesta). Lebih tepatnya, sunatullah pasti berlaku sesuai segala keadaan pada tiap zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta (lahiriah dan batiniah). Sedang ‘jenis’ zat itu sendiri justru termasuk bagian dari ‘keadaan’-nya tersebut. ⇒ Sunatullah (lahiriah) juga pasti mengatur misalnya: gerak, diam, warna, rasa, panas, dingin, basah, kering, dsb, beserta segala efek-efeknya. ⇒ Sunatullah adalah wujud tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta ini. Sunatullah disebut pula sifat proses-dinamis-perbuatan Allah di alam semesta. ⇒ Tetapi sunatullah justru diciptakan-Nya melekat sebagai sifat proses-dinamisperbuatan yang ‘mutlak’ dan ‘kekal’ pada segala zat ciptaan-Nya, sekaligus untuk mengaturnya. Sifat ini bukanlah hasil perbuatan segala zat makhluk-Nya, tetapi hasil perbuatan Allah. Sedang sifat proses-dinamis-perbuatan pada zat-zat ciptaan-Nya yang berasal dari hasil perbuatan segala zat makhluk-Nya justru bersifat ‘relatif’ dan ‘fana’, yang pada dasarnya hanya memanfaatkan perbuatan Allah.

PC

Allah telah terikat pada norma-norma keadilan, yang kalau dilanggar Allah bersifat tidak adil, bahkan zalim. Dan sifat tidak adil itu bukan sifat Allah. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Allah menciptakan alam semesta ini berdasarkan Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji dan termulia Allah), yang tergambar pada Asmaul Husna, termasuk Maha adil. Dan tidak ada perubahan atas Fitrah Allah itu. ⇒ Sunatullah sebagai wujud tindakan-Nya di alam semesta, berupa segala aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah), yang berlaku sama atas segala zat ciptaan-Nya. Sunatullah juga mengandung norma-norma keadilan. Allah bukanlah menentukan "bentuk" balasan-Nya, tetapi menentukan "rumus proses pemberian" balasan-Nya yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’ (sunatullah). Maka mustahil ada tindakan-Nya yang misalnya: aniaya atau zalim, pilih-kasih, sewenang-wenang, sekehendaknya, tidak adil, tidak baik, dsb.

PC

Allah tidak bersikap absolut dalam menjatuhkan hukuman dengan sekehendak-Nya. Allah ibaratnya Raja Yang konstitusionil, bukan Raja Yang absolut. Menurut pemahaman pada buku ini:

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

dan ‘kekal’, berupa segala aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah), yang berlaku sama atas segala zat ciptaan-Nya. Dan tidak ada perubahan atas sunatullah itu (tidak ada perubahan segala kehendak-Nya). Allah bukanlah menentukan "bentuk" balasan-Nya, tetapi menentukan "rumus proses pemberian" balasan-Nya (sunatullah) yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’. Maka segala balasan atau hukuman-Nya mustahil bisa dibandingkan dengan segala bentuk hukuman manusia, yang justru bersifat ‘relatif’ dan ‘fana’. ⇒ Sifat absolut mutlak (pasti terjadi) pada Allah yang sekaligus kekal (pasti konsisten, atau tidak berubah) mustahil bisa dibandingkan dengan sifat absolut relatif dan fana (tidak kekal) pada segala makhluk. P

Ada Sunnah yang tidak berubah-ubah, untuk mencapai kemenangan. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Ada sunatullah yang tidak berubah-ubah untuk mencapai kemenangan. ⇒ Ajaran-ajaran agama-Nya adalah cara-cara untuk mengubah keadaan batiniah manusia, agar berlaku sunatullah yang mengantarkannya kepada kemenangan batiniah yang hakiki (amat sedikit kepada kemenangan lahiriah-fisik-duniawi).

PEMBAHASAN ATAS PERNYATAAN ALIRAN ASY'ARIAH

PC

Allah tidak tunduk kepada siapapun. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Allah tidak tunduk kepada segala sesuatupun. Allah hanya tunduk (konsisten) kepada kehendak atau rencana Allah sendiri dalam penciptaan alam semesta, sebagai perwujudan dari Fitrah Allah sendiri pula (sifat-sifat terpuji Allah). Dan tidak ada perubahan atas Fitrah Allah itu.

PC

Tidak ada suatu laranganpun bagi Allah. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Tidak ada suatu laranganpun bagi Allah. ⇒ Namun dalam kehendak atau rencana Allah bagi penciptaan alam semesta ini, Allah telah pula menentukan atau menetapkan banyak hal sebelum penciptaan itu sendiri (kehendak dan tindakan-Nya, hukum dan aturan-Nya, pengajaran dan tuntunan-Nya, dsb). Segala ketentuan-Nya itu justru bersifat mutlak dan kekal sampai akhir jaman, dan telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi 'Arsy-Nya.

PC

Di atas Allah tidak ada sesuatu zat lain yang dapat membuat hukum, dan juga dapat menentukan apa yang boleh atau tidak boleh diperbuat oleh Allah. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Di atas Allah tidak ada segala sesuatu hal lain yang dapat membuat hukum, dan dapat menentukan apa yang boleh atau tidak boleh diperbuat oleh Allah. ⇒ Hanya Allah sendiri yang menentukan segala sesuatu hal bagi alam semesta ini (termasuk hukum-Nya dan perbuatan-Nya). Segala ketentuan-Nya itu justru


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1035

1036

bersifat mutlak dan kekal, sejak ditetapkan-Nya sampai akhir jaman PC

K

PC

Allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.

PC

Allah memberi hukum menurut kehendak-Nya. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Allah berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, termasuk dalam memberi segala bentuk hukuman-Nya. ⇒ Namun segala kehendak, hukum ataupun aturan-Nya (sunatullah) justru kekal (tidak berubah), sejak sebelum penciptaan alam semesta sampai akhir jaman. Alam semesta diciptakan-Nya dengan maksud-tujuan yang ‘pasti’ dan ‘jelas’.

K

Allah tidak terikat kepada segala apapun, dan tidak terikat pada janji-janji, pada norma-norma keadilan, dsb.

Allah dapat menyiksa orang yang berbuat baik, jika hal itu dikehendaki-Nya. Sebaliknya Allah dapat memberi upah kepada orang kafir, jika hal itupun juga dikehendaki-Nya. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Allah mustahil menyiksa orang yang berbuat baik, yang ada hanya segala bentuk cobaan atau ujian-Nya (lahiriah dan batiniah), yang justru pasti selalu dialami oleh tiap manusia tiap saatnya, untuk menguji keimanannya. ⇒ Sunatullah tentang proses pemberian balasan-Nya (upah lahiriah dan batiniah) pasti setimpal atas tiap amal-perbuatan manusia, juga pasti berlaku sama bagi tiap manusia (orang kafir atau beriman, orang jahat atau baik, fakir miskin atau konglomerat, orang cacat atau normal, dsb), ⇒ Perbedaan antara orang kafir dan orang beriman, adalah keadaan batiniah (niat atau kesadaran) yang menyertai tiap amal-perbuatannya. Orang kafir juga pasti bisa memperoleh karunia, rejeki atau rahmat-Nya secara lahiriah, tetapi orang kafir pasti tidak memperoleh pahala atau rahmat-Nya secara batiniah.

P

Seluruh makhluk milik-Nya. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Segala makhluk (nyata dan gaib) dan benda mati di seluruh alam semesta ini hanyalah ciptaan dan milik-Nya, dan berada di bawah kekuasaan-Nya.

Perintah-Nya di atas segala perintah. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ 'Hakekat' dari tiap perintah-Nya dalam ajaran agama-Nya justru bersifat 'universal' (bisa melewati batas waktu, ruang, budaya, dsb) dan ‘kekal’ (tidak berubah sampai akhir jaman), walau dalam penerapan aktualnya, justru segala perintahNya harus disesuaikan dengan jaman, tempat dan budaya umat.

PC

Allah bisa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya di dalam kerajaan-Nya.

Sekiranya Allah mewahyukan bahwa berdusta adalah baik, maka berdusta itu mestilah baik, bukan buruk. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Allah mustahil mewahyukan agar berdusta, kecuali demi kebaikan bagi seluruh manusia secara obyektif, bukan secara subyektif-relatif menurut tiap manusia.

PC

PC

Boleh saja Allah melarang hal-hal yang telah diperintahkan-Nya, ataupun juga memerintahkan hal yang telah dilarang-Nya. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ 'Hakekat' dari tiap perintah-Nya dalam ajaran agama-Nya justru bersifat 'universal' (bisa melewati batas waktu, ruang, budaya, dsb) dan ‘kekal’ (tidak berubah sampai akhir jaman). Tetapi dalam aplikasi atau penerapan aktualnya, justru penafsiran atas segala perintah-Nya harus disesuaikan dengan jaman, tempat dan budaya manusia. Maka perintah-Nya melalui para nabi-Nya seolah-olah tampak berubah-ubah atau berbeda-beda, walau hikmah dan hakekatnya justru tetap sama. ⇒ Jika penafsiran atas perintah-Nya telah tidak sesuai "hikmah dan hakekat" yang terkandung di dalamnya, maka penafsiran itu sendiri justru mestinya diperbaiki. ⇒ "Wahyu adalah wahyu yang dibacakan" (atau wahyu-Nya yang disampaikan oleh para nabi-Nya kepada umatnya), adalah penafsiran atau pemahaman atas wahyu-Nya yang diterimanya dari malaikat Jibril, sesuai dengan konteks jaman, tempat dan budaya umat kaum tiap para nabi-Nya.

K

Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Allah tidak terikat kepada segala sesuatu apapun. Tetapi Allah hanya terikat kepada janji-janji, norma-norma keadilan, dan hal-hal lainnya, yang justru telah ditetapkan oleh Allah sendiri sebelum penciptaan alam semesta, sebagai bagian dari kehendak atau rencana-Nya bagi alam semesta, serta sebagai perwujudan dari Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji Allah).

Tidak ada sesuatupun yang bisa mencela perbuatan-Nya. Sungguhpun segala perbuatan-Nya itu oleh akal manusia bersifat tidak baik dan tidak adil. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Tidak ada sesuatupun yang bisa mencela perbuatan-Nya. Dan tidak ada sesuatupun perbuatan-Nya yang bersifat tidak baik dan tidak adil. ⇒ Sunatullah sebagai wujud tindakan-Nya di alam semesta, justru bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’, berupa segala aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah), yang berlaku sama atas segala zat ciptaan-Nya. Dan tidak ada perubahan atas sunatullah itu. Maka mustahil ada tindakan-Nya, yang misalnya: aniaya atau zalim, pilih-kasih, sewenang-wenang, sekehendaknya, tidak adil, tidak baik, dsb, seperti tindakan manusia yang justru bersifat ‘relatif’ dan ‘fana’.

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

K

Allah dapat meletakkan beban yang tak-terpikul pada diri manusia. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Allah mustahil memberi beban ujian-Nya yang tidak mampu dipikul oleh tiap manusia. ⇒ Makna "beban" itu pada dasarnya lebih terkait dengan aspek batiniah. Dengan kebebasan, kekuasaan dan otoritas sepenuhnya untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri, maka tiap manusia justru mestinya bisa pula mengatur be-


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1037

1038

rat beban ujian-Nya yang dirasakannya. PEMBAHASAN ATAS PERNYATAAN ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND

PC

Kebebasan dalam kehendak dan perbuatan, ada pada manusia. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Kebebasan dalam berkehendak dan berbuat ada pada manusia, dengan telah diberikan-Nya ‘akal’ dan ‘nafsu’. Namun kebebasan, kehendak dan perbuatan manusia juga diliputi atau dibatasi oleh segala kehendak dan perbuatan Allah di seluruh alam semesta ini (lahiriah dan batiniah, melalui sunatullah atau aturan-Nya).

PC

Allah tidak bersifat sewenang-wenang dalam menjatuhkan segala hukuman-Nya, tetapi berdasar kepada kebebasan pemakaian daya yang diberikan-Nya kepada manusia, untuk berbuat baik atau jahat.

P

Hukuman-hukuman Allah bersifat pasti terjadinya. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Allah tidak sewenang-wenang dalam memberikan segala balasan-Nya (nikmat atau hukuman-Nya), tetapi pasti setimpal dengan tiap amal-perbuatan manusia. Rumus pemberian balasan-Nya (sunatullah) justru bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’.

P

Allah bersikap adil dalam segala perbuatan-Nya. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Allah bersikap adil dalam segala perbuatan-Nya. ⇒ Sunatullah sebagai wujud tindakan-Nya di alam semesta, justru bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’, berupa segala aturan atau rumus proses kejadian (lahiriah dan batiniah), yang berlaku sama atas segala zat ciptaan-Nya. Dan tidak ada perubahan atas sunatullah itu. Maka mustahil ada tindakan-Nya, yang misalnya: aniaya atau zalim, pilih-kasih, sewenang-wenang, sekehendaknya, tidak adil, tidak baik, dsb, seperti tindakan manusia yang justru bersifat ‘relatif’ dan ‘fana’.

PC

Adanya batasan-batasan pada kehendak dan kekuasaan-Nya, bukan dari zat selain Allah. Karena tidak ada sesuatu zatpun yang berkuasa di atas Allah, dan Allah di atas segala-galanya. Batasan-batasan justru itupun ditentukan oleh dan atas kehendak Allah sendiri. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Tidak ada sesuatu halpun yang berkuasa di atas Allah, tetapi tidak ada batasan-batasan pada kehendak dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini. ⇒ Segala sesuatu yang ada atau terjadi di seluruh alam semesta ini justru hanya perwujudan dari kehendak dan kekuasaan Allah sendiri (Fitrah Allah), yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’.

PEMBAHASAN ATAS PERNYATAAN ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA

P

Tidak ada yang dapat menentang atau memaksa Allah. Menurut pemahaman pada buku ini:

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

⇒ Tidak ada sesuatu halpun yang dapat menentang atau memaksa Allah. Juga tidak ada sesuatu halpun yang berkuasa di atas Allah.

P

Tidak ada larangan-larangan kepada Allah. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Tidak ada larangan-larangan terhadap Allah.

PC

Allah memang berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, dan juga menentukan segala-galanya menurut kehendak-Nya. Menurut pemahaman pada buku ini: ⇒ Allah memang berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya dan menentukan segala sesuatu halnya menurut kehendak-Nya. Tetapi hal ini justru hanya terjadi ‘sebelum’ penciptaan alam semesta, saat Allah menetapkan segala sesuatu halnya. Setelah ditetapkan-Nya, segala kehendak atau perbuatan-Nya di alam semesta (melalui sunatullah), justru kekal (tidak berubah) sampai akhir jaman. ⇒ Terkait dengan perbedaan antar kitab-kitab-Nya dari beberapa para nabi-Nya, pada dasarnya terkait dengan sunatullah (salah-satu dari ketetapan-Nya), yang justru pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan lahiriah dan batiniah tiap saatnya pada segala zat ciptaan-Nya. Maka perbedaan antar kitab-kitab-Nya justru bersifat sangat alamiah mengikuti perkembangan kehidupan umat yang menerima ajaran-ajarannya (waktu, ruang dan budaya). Di samping tentunya juga perkembangan pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya, dari nabi ke nabi, dari jaman ke jaman.

Tabel 30: Kemutlakan sifat-Nya, bagi aliran-aliran (kuantitatif) (P = pro; PC = pro dengan catatan; K = kontra)

Perbandingan kuantitatif antara aliran-aliran dan pembahasan di sini, tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah Aliran Mu'tazilah : 8 K; 4 PC; 4 P K, PC, K, P, K, K, K, K, PC, P, K, P, K, PC, PC, P Aliran Asy'ariah : 4 K; 6 PC; 4 P PC, PC, PC, PC, K, K, PC, PC, PC, PC, PC, K, P, K Aliran Maturidiah Samarkand : 0 K; 3 PC; 2 P PC, PC, P, P, PC Aliran Maturidiah Buchara : 0 K; 1 PC; 2 P P, P, PC

Dari uraian pada Tabel 26 s/d Tabel 29 di atas, kedekatan secara garis besar atas pemahaman pada buku ini dan aliran-aliran itu, secara berurutan, yaitu: Maturidiah samarkand, Maturidiah buchara, Asy'ariah dan Mu'tazilah. Hal ini ternyata berbeda dengan urutan pada poin A (tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia), terutama ada pergeseran yang makin menjauh antara pemahaman pada buku ini dan pada aliran Mu'tazilah, padahal pada poin A telah relatif amat dekat.


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1039

1040

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Berbagai topik lainnya Pada bagian ini akan dibahas perbandingan mengenai berbagai pemahaman atas topik-topik lainnya dari aliran-aliran terhadap hasil pemahaman pada buku ini. Aliran-aliran yang ditinjau di sini serupa pula dengan pada poin A ataupun B di atas, yaitu: aliran Mu'tazilah, Maturidiah (Samarkand dan Buchara) dan aliran Asy'ariah. Dan pada Tabel 31 berikut ini, diungkapkan pernyataan-pernyataan ringkas, atas pemahaman aliran-aliran mengenai berbagai topik, seperti: - Keadilan Allah - Kewajiban-kewajiban Allah - Berbuat baik dan terbaik - Beban di luar kemampuan manusia - Pengiriman rasul-rasul - Janji dan ancaman-Nya - Sifat Allah pada umumnya - Anthropomorphisme (sifat jasmani semu) - Melihat Allah - Sabda Allah (atau kalam Allah) - Konsep iman Sementara hasil pemahaman pada pembahasan buku ini, yang terkait dengan topik-topik yang sama, telah diuraikan pula pada Tabel 32 di bawah. Tabel 31: Berbagai topik, bagi aliran-aliran (pernyataan)

• Allah Maha adil artinya bahwa segala perbuatan-Nya adalah baik. • Bahwa Allah tidak dapat berbuat buruk. • Bahwa Allah tidak dapat mengabaikan kewajiban-kewajiban-Nya terhadap tiap umat

Rangkuman ringkas pemahaman dari beberapa aliran tentang berbagai topik lainnya

• Keadilan Allah adalah keadilan raja konstitusionil, yang kekuasaannya dibatasi oleh hu-

C.

Topik: Keadilan Allah

• • • • • • • • •

manusia. Allah tidak dapat berbuat zalim dalam memberikan hukuman. Allah tidak bisa menghukum anak-anak orang musyrik atas dosa orang-tuanya. Allah tidak dapat meletakkan beban, yang tidak dapat dipikul oleh manusia. Allah mestinya memberi upah kepada orang yang patuh kepada perintah-Nya, dan memberi hukuman kepada orang yang menentang perintah-Nya. Keadilan juga artinya bahwa Allah berbuat semestinya, serta sesuai dengan kepentingan manusia. Dan Allah memberi upah atau hukuman kepada setiap manusia, yang setimpal dengan tiap perbuatannya. Tidaklah dapat dikatakan, bahwa Allah berdaya untuk berbuat zalim, berdusta, dan untuk tidak berbuat hal-hal yang terbaik bagi manusia. Keadilan mengandung arti bahwa adanya kewajiban-kewajiban tertentu yang harus dihormati oleh Allah. Keadilan bukan hanya berarti bahwa Allah memberi upah kepada orang yang berbuat baik, dan memberi hukuman kepada orang yang berbuat salah.

• Paham "Allah berkewajiban berbuat yang terbaik bagi manusia" mengandung arti yang

luas sekali, seperti: tidak memberi beban yang terlalu berat bagi tiap manusia; pengiriman para nabi dan rasul-Nya; memberi daya kepada manusia, untuk bisa melaksanakan kewajiban-kewajibannya; dsb, yang juga merupakan kewajiban-kewajiban Allah bagi manusia. • Keadilan menghendaki Allah, untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban itu. kum, walau hukum itu adalah buatan Allah sendiri.

• Allah mengeluarkan hukuman sesuai dengan hukum (atau bukanlah dengan sewenangwenang).

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MU’TAZILAH

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN ASY’ARIAH

Keadilan Allah • Semua makhluk lainnya diciptakan-Nya untuk kepentingan manusia. • Manusia berakal sempurna, maka kalau ia berbuat sesuatu hal semestinya mempunyai tujuan. Manusia berbuat sesuatu hal untuk kepentingannya sendiri ataupun untuk kepentingan orang lain. • Allah mempunyai tujuan dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Tetapi karena Allah, Yang Maha Suci dari sifat berbuat untuk kepentingan diri sendiri, maka justru perbuatan-perbuatan-Nya adalah untuk kepentingan maujud lain, selain Allah, yaitu manusia, sebagai makhluk-Nya yang tertinggi.

Keadilan Allah • Perbuatan-perbuatan-Nya tidak mempunyai tujuan, terutama dalam arti, tidak ada yang mendorong Allah untuk berbuat sesuatu. • Perbuatan-perbuatan-Nya memang menimbulkan kebaikan dan keuntungan bagi manusia, tetapi kebaikan dan keuntungan itu tidaklah menjadi pendorong bagi Allah untuk berbuat. • Allah berbuat semata-mata hanya karena kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya, bukan karena kepentingan manusia ataupun karena tujuan lain.

• Keadilan erat hubungannya dengan hak, atau keadilan itu diartikan memberi seseorang

nyai kekuasaan mutlak terhadap harta yang dimiliki, serta memakainya sesuai dengan kehendak dan pengetahuan pemilik".

akan haknya.

• Keadilan artinya, "menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya, yaitu mempu-


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1041

• Keadilan mengandung arti bahwa Allah mempunyai sesuatu kekuasaan mutlak terha• • • •

• • •

• • • •

dap makhluk-Nya, dan bisa berbuat sekehendak-Nya di kerajaan-Nya. Ketidak-adilan sebaliknya berarti "menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya yang sebenarnya, yaitu berkuasa mutlak terhadap hak-milik orang lain". Allah bisa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, meskipun bisa tidak adil menurut pandangan manusia. Allah tidaklah berbuat salah, jika Allah memasukkan seluruh manusia ke dalam Surga, dan tidaklah bersifat zalim, jika Allah memasukkan seluruh manusia ke dalam Neraka. Perbuatan salah dan tidak adil adalah perbuatan yang melanggar hukum. Dan karena di atas Allah tidak ada undang-undang atau hukum, maka perbuatan Allah tidak pernah bertentangan dengan hukum. Dengan demikian Allah tidak bisa dikatakan bersifat tidak adil. Ketidak-adilan bisa timbul hanya jika seseorang melanggar hak orang lain, dan jika seseorang mestinya berbuat sesuai dengan perintah, namun ia melanggar perintah itu. Perbuatan yang demikian tidak mungkin ada pada Allah. Allah sebagai pemilik yang berkuasa mutlak, Allah bisa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap makhluk-Nya. Allah bisa saja menyakiti anak-anak kecil pada Hari Kiamat, bisa menjatuhkan hukuman bagi orang mukmin, dan bisa memasukkan orang kafir ke dalam Surga. Sekiranya hal ini dilakukan Allah, maka Allah tidaklah berbuat salah, atau Allah tetap masih berbuat adil. Upah yang diberi-Nya hanyalah merupakan rahmat, sedang hukuman tetap merupakan keadilan-Nya. Allah tidak berkewajiban memberikan pahala. Allah bisa memberi upah kepada manusia, jika itu dikehendaki-Nya dan bisa memberi hukuman, jika itu pula dikehendaki-Nya. Bahkan bisa menghancurkan manusia, jika itu dikehendaki-Nya. Meskipun demikian Allah tetap bersifat adil. Keadilan Allah adalah keadilan raja absolut, yang memberi hukuman menurut kehendak mutlak-Nya. Dan Allah tidak terikat pada sesuatu kekuasaan, kecuali kekuasaan-Nya sendiri.

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND Keadilan Allah • Karena menganut paham free will (kebebasan berkeinginan), free act (kebebasan berbuat) serta adanya batasan bagi kekuasaan mutlak pada Allah, maka aliran Maturidiah samarkand lebih dekat ke aliran Mu’tazilah daripada ke Asy’ariah. Walau tendensi aliran Maturidiah samarkand tentang kepentingan manusia, lebih kecil daripada tendensi aliran Mu’tazilah. Karena kekuatan yang diberikan aliran Maturidiah samarkand kepada akal, serta batasan kekuasaan mutlak pada Allah, lebih kecil daripada aliran Mu’tazilah.

1042

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

dan redha.

• Tidak ada tujuan yang mendorong Allah untuk menciptakan kosmos ini. • Allah bisa berbuat sekehendak hati-Nya. • Keadaan Allah Yang Maha bijaksana tidaklah berarti bahwa di balik perbuatan-perbuatan-Nya terdapat hikmat-hikmat. • Alam semesta tidak diciptakan-Nya untuk kepentingan manusia.

• Meskipun manusia bisa berbuat buruk atas kehendak-Nya, tetapi perbuatan itu tidak diredhai-Nya. • Karena menentang keredhaan-Nya, tidak bisa dikatakan bahwa Allah bersifat tidak adil, kalau Allah memberi hukuman kepada orang yang berbuat buruk.

Topik: Kewajiban-kewajiban Allah PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MU’TAZILAH Kewajiban-kewajiban Allah • Allah mempunyai kewajiban-kewajiban kepada manusia, yaitu kewajiban untuk berbuat baik dan terbaik bagi manusia. • Allah berkewajiban: menepati janji-janji-Nya, mengirim para utusan-Nya untuk memberi petunjuk kepada manusia, memberi rejeki kepada manusia, dsb. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN ASY’ARIAH Kewajiban-kewajiban Allah • Allah sama sekali tidak mempunyai kewajiban-kewajiban kepada tiap manusia, ataupun kepada segala sesuatu. • Segala perbuatan-Nya tidak bersifat wajib (ja’iz) dan tidak satupun daripadanya yang bersifat wajib. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND Kewajiban-kewajiban Allah • Ada kewajiban-kewajiban bagi Allah, sekurang-kurangnya kewajiban untuk bisa menepati janji-janji-Nya, tentang pemberian upah dan pemberian hukuman. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA Kewajiban-kewajiban Allah • Aliran Maturidiah buchara sepaham dengan sikap dari aliran Asy’ariah, tentang tidak adanya kewajiban-kewajiban bagi Allah.

Topik: Berbuat baik dan terbaik

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MU’TAZILAH

Keadilan Allah • Aliran Maturidiah buchara lebih dekat dengan sikap aliran Asy’ariah, namun ada berbagai perbedaan, termasuk karena aliran Maturidiah buchara menganut paham masyi’ah

Berbuat baik dan terbaik • Kewajiban Allah untuk berbuat baik, bahkan yang terbaik bagi manusia. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN ASY’ARIAH


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1043

Berbuat baik dan terbaik • Allah tidak berkewajiban untuk berbuat baik, bahkan apalagi yang terbaik bagi manusia. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND Berbuat baik dan terbaik • Aliran Maturidiah samarkand tidak sepaham dengan sikap aliran Mu’tazilah. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA Berbuat baik dan terbaik • Aliran Maturidiah buchara tidak sepaham dengan sikap aliran Mu’tazilah.

Topik: Beban di luar kemampuan manusia PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MU’TAZILAH Beban di luar kemampuan manusia • Allah mustahil memberi beban yang tidak dapat dipikul oleh manusia. • Allah akan dianggap bersifat tidak adil, jika memberi beban yang terlalu berat kepada manusia. • Perbuatan manusia terwujud dengan daya manusia yang terbatas, dan bukan dengan daya Allah yang tak-terbatas. Maka kalau Allah memberi beban yang tak-terpikul kepada manusia, maka perbuatan manusia itu akan sia-sia belaka.

1044

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Topik: Pengiriman rasul-rasul PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MU’TAZILAH Pengiriman rasul-rasul • Akal bisa mengetahui tentang alam gaib. Maka pengiriman para nabi-Nya tidak begitu penting. • Fungsi wahyu lebih banyak bersifat memperkuat dan menyempurnakan hal-hal yang telah diketahui manusia melalui akalnya.

• Pengiriman para nabi dan rasul-Nya tidak bersifat wajib, tetapi menjadi salah-satu ke-

wajiban Allah, untuk berbuat baik dan terbaik bagi manusia. • Karena akal tidak bisa mengetahui segala sesuatu hal yang harus diketahui oleh manusia, tentang Allah dan alam gaib. • Tanpa pengiriman para nabi-Nya (tidak bersifat wajib), manusia tidak akan bisa memperoleh hidup baik dan terbaik di dunia maupun di akhirat nanti. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN ASY’ARIAH Pengiriman rasul-rasul • Pengiriman para nabi-Nya mempunyai arti yang besar. Karena umat manusia banyak bergantung pada wahyu-Nya untuk mengetahui Allah dan alam gaib. Bahkan juga untuk mengetahui hal-hal yang bersangkutan dengan kehidupan duniawi manusia.

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN ASY’ARIAH

• Meskipun penting, tetapi pengiriman para nabi-Nya tidak bersifat wajib. Karena Allah ti-

Beban di luar kemampuan manusia • Allah bisa memberi beban yang di luar kemampuan manusia, atau Allah dapat meletakkan pada manusia, suatu beban yang tidak dapat dipikulnya. • Tetapi manusia masih akan dapat melaksanakan beban yang tak-terpikul itu, karena yang mewujudkan tiap perbuatan manusia, sebenarnya bukanlah daya manusia yang terbatas, tetapi daya Allah yang tak terbatas.

��� Akibat tidak baik, tidak menjadi persoalan, jika Allah tidak mengutus para nabi-Nya ke-

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND

dak mempunyai kewajiban-kewajiban apa-apa terhadap manusia.

pada umat manusia, kehidupan mereka mengalami kekacauan (karena tanpa wahyuNya manusia tidak akan bisa membedakan perbuatan baik dan buruk). Karena Allah bisa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya, dan tiap perbuatan manusia adalah perbuatan Allah. • Tidak ada masalah, jika Allah menghendaki manusia hidup dalam kekacauan. Karena Allah tidak berbuat untuk kepentingan manusia.

Beban di luar kemampuan manusia • Aliran Maturidiah samarkand lebih dekat dengan sikap aliran Mu’tazilah, dan tidak setuju dengan sikap aliran Asy’ariah.

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND

• Allah tidak membebani manusia dengan kewajiban-kewajiban yang tidak dapat dipikul-

• Pengiriman para nabi-Nya bersifat wajib. Karena Allah mempunyai kewajiban-kewajiban

nya, seperti disebut dalam Al-Qur’an. Dan manusialah sebenarnya yang mewujudkan segala perbuatannya, dan bukan Allah.

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA

Pengiriman rasul-rasul • Aliran Maturidiah samarkand banyak sepaham dengan sikap aliran Mu’tazilah.

terhadap manusia.

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA

Beban di luar kemampuan manusia • Aliran Maturidiah buchara hampir serupa dengan sikap aliran Asy’ariah.

Pengiriman rasul-rasul • Dengan paham tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Allah, maka aliran Maturidiah buchara serupa dengan sikap aliran Asy’ariah.

• Tidaklah mustahil bahwa Allah bisa meletakkan pada tiap manusia, kewajiban-kewajib-

• Pengiriman para nabi-Nya tidak bersifat wajib, dan bersifat mungkin. Karena Allah tidak

an yang tidak bisa dipikulnya. Dan daya Allah yang tak-terbatas, yang sebenarnya mewujudkan perbuatan manusia.

mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap manusia.


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1045

Topik: Janji dan ancaman-Nya PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MU’TAZILAH Janji dan ancaman-Nya • Dalam perbuatan-perbuatan-Nya, terdapat perbuatan untuk menepati janji-Nya dan menjalankan ancaman-Nya, yang sesuai dengan dasar keadilan. • Allah bersifat tidak adil, jika tidak menjalankan ancaman-Nya untuk memberi hukuman kepada orang yang berbuat jahat. Karena hal ini akan membuat Allah mempunyai sifat berdusta. • Tidak menepati janji-Nya dan tidak menjalankan ancaman-Nya adalah keadaan yang bertentangan dengan kemaslahatan atau kepentingan manusia. • Karena itulah, menepati janji-Nya dan menjalankan ancaman-Nya adalah wajib bagi Allah. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN ASY’ARIAH Janji dan ancaman-Nya • Allah tidak mempunyai kewajiban-kewajiban. Karena itu Allah tidak mempunyai kewajiban untuk menepati janji-Nya dan menjalankan ancaman-Nya. Seperti janji dan ancaman-Nya yang disebut dalam Al-Qur’an dan Hadits, yaitu "siapa yang berbuat baik akan masuk surga, dan siapa yang berbuat jahat akan masuk neraka". • Bagi aliran Asy’ariah, kata "siapa" di atas memiliki arti "sebagian", bukanlah "semua orang". • Misalnya pada ayat tentang "barang siapa yang menelan harta anak yatim piatu dengan cara tidak adil, maka ia sebenarnya menelan api masuk ke dalam perutnya", mengandung arti bahwa bukan "semua", tetapi ancaman-Nya bagi hanya "sebagian" orang yang menelan harta anak yatim piatu. Sedang yang sebagian lainnya bisa terlepas dari ancaman-Nya, atas dasar kekuasaan dan kehendak mutlak Allah.

• Allah boleh saja melanggar janji-janji-Nya. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND Janji dan ancaman-Nya • Aliran Maturidiah samarkand sepaham dengan sikap aliran Mu’tazilah.

• Upah dan hukuman Allah tidak boleh tidak mesti terjadi kelak. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA Janji dan ancaman-Nya • Aliran Maturidiah buchara tidak seluruhnya serupa dengan sikap pada aliran Asy’ariah. Karena kekuasaan dan kehendak Allah tidaklah betul-betul mutlak seperti menurut aliran Asy’ariah, tetapi ada kompromi dengan keadilan Allah. Khususnya karena adanya beberapa kewajiban Allah.

• Tidak mungkin Allah melanggar janji-Nya untuk memberi upah kepada orang yang berbuat baik, tetapi sebaliknya bukan tidak mungkin Allah membatalkan ancaman-Nya untuk memberi hukuman kepada orang yang berbuat jahat.

1046

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

• Nasib orang yang berdosa besar ditentukan oleh kehendak mutlak Allah. Jika Allah ber-

kehendak untuk memberi ampun kepada orang yang berdosa, Allah akan memasukkannya ke dalam Surga, bukan ke dalam Neraka. Dan jika Allah berkehendak untuk memberi hukuman baginya, Allah akan memasukkannya ke dalam Neraka, buat sementara atau buat selama-lamanya. • Bukanlah tidak mungkin Allah memberi ampun kepada seseorang, tetapi di lain pihak tidak memberi ampun kepada orang lain, yang berbuat dosa yang sama. • Allah wajib menepati janji-Nya untuk bisa memberi upah kepada orang yang berbuat baik, atau tidak mungkin Allah melanggar janji-Nya.

Topik: Sifat Allah pada umumnya PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MU’TAZILAH Sifat Allah pada umumnya • Paham tentang sifat-sifat-Nya yang kekal, sama artinya dengan kemusyrikan atau politheisme, maka Allah tidak mempunyai sifat. • Tidak berarti Allah tidak mengetahui, tidak berkuasa, tidak hidup, dsb. • Allah tetap mengetahui, berkuasa, hidup, dsb, tetapi bukanlah sifat dalam arti yang sebenarnya. • ‘Allah mengetahui’ artinya Allah mengetahui dengan perantaraan pengetahuan, dan pengetahuan itu adalah Allah sendiri. • Pengetahuan Allah adalah Allah sendiri, yaitu zat dan esensi Allah. • Allah mengetahui dengan melalui esensinya. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN ASY’ARIAH Sifat Allah pada umumnya • Allah mempunyai sifat-sifat. • Tidak teringkari bahwa Allah mempunyai sifat, karena tampak dari perbuatan-perbuatan-Nya. • Allah mengetahui, menghendaki, berkuasa, dsb. • Allah mempunyai pengetahuan, kemauan dan daya. • Pengetahuan, hayat, kemauan, pendengaran, penglihatan dan sabda dari Allah adalah kekal. • Sifat-sifat-Nya tidak sama (berlainan) dengan esensi Allah, tetapi berwujud dalam esensi itu sendiri. • Sifat-sifat-Nya bukanlah Allah, tetapi tidak berbeda pula dari Allah. • Sifat-sifat-Nya tidak berbeda (terpisah) dari Allah, maka adanya sifat-sifat-Nya tidak membawa kepada paham banyak yang kekal. • "Sifat" mengandung arti tetap, kekal dan kuat, sedang "keadaan" mengandung arti berubah-ubah dan lemah. • Allah mesti mempunyai sifat-sifat yang kekal. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1047

Sifat Allah pada umumnya • Aliran Maturidiah samarkand tidak sepaham dengan sikap aliran Mu’tazilah.

• Sifat-sifat-Nya bukanlah Allah, tetapi tidak berbeda pula dari Allah. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA Sifat Allah pada umumnya • Allah mempunyai sifat-sifat. • Sifat-sifat-Nya kekal melalui kekekalan yang terdapat di dalam esensi Allah, bukan melalui kekekalan sifat-sifat itu sendiri. • Allah bersama-sama sifat-sifat-Nya kekal, tetapi sifat-sifat itu sendiri tidaklah kekal.

Topik: Anthropomorphisme (sifat jasmani semu) PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MU’TAZILAH Anthropomorphisme (sifat jasmani semu) • Allah bersifat immateri, maka Allah tidak memiliki sifat-sifat jasmani. Atau Allah tidak bisa memiliki badan materi, karena itu Allah tidak memiliki sifat-sifat jasmani. • Tiap gambaran dalam Al-Qur’an bahwa Allah memiliki sifat-sifat jasmani, harus diberikan interpretasi lain, seperti: ‘tahta kerajaan’ artinya ‘kekuasaan’, ‘mata’ artinya ‘pengetahuan’, ‘muka’ artinya ‘esensi’, ‘tangan’ artinya ‘kekuasaan’. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN ASY’ARIAH Anthropomorphisme (sifat jasmani semu) • Tidak setuju dengan adanya anthropomorphisme (sifat jasmani semu), karena Allah memiliki sifat-sifat jasmani yang sama dengan sifat-sifat jasmani manusia. • Allah memiliki mata, muka, tangan dsb, tetapi tidaklah sama dengan yang ada pada manusia. • Berbagai gambaran dalam Al-Qur’an tentang mata, muka atau tangan Allah tidak boleh diberikan interpretasi lain. Seperti Allah memiliki dua tangan, tidak boleh diartikan rahmat atau kekuasaan-Nya. • Allah hidup dengan hayat, tetapi hayat yang tidak sama dengan hayat pada manusia. Allah memiliki dua tangan, tetapi tangan yang tidak sama dengan tangan manusia. • Allah memiliki mata dan tangan, yang tidak bisa diberi gambaran atau definisi, Atau tidak diketahui bagaimana bentuknya. Karena manusia adalah lemah, dan akal manusia tidak sanggup memberi interpretasi lebih jauh tentang sifat-sifat jasmani Allah, yang disebut dalam Al-Qur’an. • Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa Allah memiliki tangan, dan manusia harus menerima hal itu. Manusia tidaklah bisa mengetahuinya, adalah karena Allah Maha Kuasa. • Allah bisa memiliki, bahkan juga menciptakan hal-hal yang tidak bisa dipahami akal manusia yang lemah. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND Anthropomorphisme (sifat jasmani semu)

1048

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

• Aliran Maturidiah samarkand sepaham dengan sikap aliran Mu’tazilah. • Tangan, muka, mata dan kaki Allah adalah kekuasaan Allah. • Allah tidaklah memiliki badan, sungguhpun tidak sama dengan badan jasmani. Karena

badan tersusun dari substansi dan kejadian (accident). • Manusia berhajat pada anggota badan, karena tanpa anggota badan manusia menjadi lemah. Adapun Allah tetap Maha kuasa, walau tanpa anggota badan. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA Anthropomorphisme (sifat jasmani semu) • Aliran Maturidiah buchara tidak sepaham dengan sikap aliran Asy’ariah.

• Tangan Allah adalah sifat, dan bukanlah anggota badan Allah, yaitu sifat yang sama dengan sifat-sifat lain seperti: pengetahuan, daya dan kemauan.

Topik: Melihat Allah PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MU’TAZILAH Melihat Allah • Allah bersifat immateri, maka Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala. • Allah tidak mengambil tempat, maka tidak bisa dilihat. • Juga kalau Allah memang bisa dilihat dengan mata kepala, maka Allah akan bisa dilihat sekarang juga dalam alam ini. Dan tidak ada orang yang melihat Allah di alam ini.

• Dalam Al-Qur’an "Wajah-wajah yang pada ketika itu berseri-seri memandang kepada Tuhan-nya." - (QS.75:22,23). Kata "nazar" tidak berarti "ru’yah", tetapi "nazara" berarti memandang atau menunggu. • Dalam Al-Qur’an "Tuhanku, perlihatkanlah diri-Mu kepadaku. Sabda Tuhan: ‘Engkau tidak akan bisa melihat diri-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap tinggal di tempatnya, niscaya engkau akan melihat diri-Ku’. Ketika Tuhan-nya tampak bagi gunung itu, maka iapun hancur, dan Musa jatuh pingsan." - (QS.7:143). Permintaan untuk melihat Allah sebenarnya bukan datang dari nabi Musa as, tetapi dari para pengikutnya yang belum juga mau percaya. Dan permintaan itu diajukan nabi Musa as, untuk mematahkan pertengkaran dan kekerasan kepala mereka. Allah dalam ayat ini telah menegaskan "lan tarani", yaitu "sekali-kali engkau tidak akan bisa melihat Saya". Dengan kata lain Allah tidak akan bisa dilihat. • Sebutan "istaqarra makanah" atau tetap di tempatnya pada ayat di atas, dimaksudkan bahwa tidak bergerak sewaktu bukit itu digoncang oleh Allah. Dengan kata lain nabi Musa as akan bisa melihat Allah, jika bukit Sinai tetap diam atau tidak bergerak. Diam dan bergerak ialah dua hal yang bertentangan dan tidak bisa berkumpul pada satu masa di satu tempat. Dan bukit bukit Sinai memang tergoncang, karena ditimbulkan oleh manifestasi kekuasaan Allah pada gunung itu. Dengan demikian ayat di atas, sebenarnya menjelaskan bahwa Allah tidak bisa dilihat.


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1049

• Menurut hadits, "manusia akan melihat Allah di hari Kiamat sebagaimana mereka me-

1050

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

rat.

lihat bulan purnama" ditolak karena Allah tidak bundar, tidak mengambil tempat dan tidak menyinarkan cahaya, karena itu tidak bisa dilihat sebagaimana bulan bisa dilihat. Juga karena hadits ini tidak bisa diterima (perawinya sangat lemah). • Dalam Al-Qur’an "Penglihatan tidak bisa menangkap-Nya, tetapi Dia bisa menangkap penglihatan. Dia adalah Maha Halus dan Maha Tahu." - (QS.6:103). Allah tidak bisa ditangkap penglihatan. Atau Allah tidak akan bisa dilihat. • Menurut hadits, "bukankah Tuhan itu cahaya, bagaimana aku bisa melihat-Nya".

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN ASY’ARIAH

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA

Melihat Allah • Allah akan bisa dilihat oleh manusia dengan mata kepalanya di akhirat nanti. • Allah berkuasa mutlak dan pasti bisa mengadakan apa saja. Sebaliknya akal manusia lemah dan pasti tidak selamanya sanggup memahami perbuatan dan ciptaan-Nya. • Atau meskipun sesuatu hal bisa bertentangan dengan pendapat akal manusia, maka hal itu bisa dibuat dan diciptakan-Nya. • Maka melihat Allah yang bersifat immateri, tidaklah mustahil. Dan tiap manusia akan bisa melihat Allah (di akhirat). • Hal yang tidak bisa dilihat hanyalah yang tidak mempunyai wujud, dan yang mempunyai wujud mesti bisa dilihat. Allah berwujud dan karena itu bisa dilihat. • Manusia bisa melihat kejadian (accident), karena manusia bisa membedakan antara putih dan hitam, dan antara bersatu dengan bercerai. Maut juga bisa dilihat, dengan melihat orang mati. Maka kalau kejadian bisa dilihat, Allah bisa pula dilihat.

Melihat Allah • Aliran Maturidiah buchara sepaham dengan sikap aliran Asy’ariah. Dan sama pula dengan aliran Maturidiah samarkand.

• Dalam Al-Qur’an "Wajah-wajah yang pada ketika itu berseri-seri memandang kepada

Tuhan-nya." - (QS.75:22,23). Kata "nazirah" dalam ayat ini tidak bisa diartikan memikirkan, karena akhirat bukanlah tempat berpikir. Juga tidak bisa berarti menunggu, karena "wujuh" yaitu muka atau wajah tidak bisa menunggu, dan yang menunggu ialah manusia. Maka kata "nazirah" mesti berarti melihat dengan mata. • Dalam Al-Qur’an "Tuhanku, perlihatkanlah diri-Mu kepadaku. Sabda Tuhan: ‘Engkau tidak akan bisa melihat diri-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap tinggal di tempatnya, niscaya engkau akan melihat diri-Ku’. Ketika Tuhan-nya tampak bagi gunung itu, maka iapun hancur, dan Musa jatuh pingsan." - (QS.7:143). Kalau Allah tidak bisa dilihat, maka nabi Musa as tidak akan meminta supaya Allah memperlihatkan diri-Nya. Dan nabi Musa as akan melihat Allah, kalau bukit Sinai tetap pada tempatnya. Membuat bukit Sinai tetap di tempatnya termasuk dalam kekuasaan Allah, dan oleh karena itu Allah bisa dilihat. • Menurut hadits, "manusia akan melihat Allah di hari Kiamat sebagaimana mereka melihat bulan purnama". • Dalam Al-Qur’an "Penglihatan tidak bisa menangkap-Nya, tetapi Dia bisa me-nangkap penglihatan. Dia adalah Maha Halus dan Maha Tahu." - (QS.6:103). Atau menurut hadits, "bukankah Tuhan itu cahaya, bagaimana aku bisa meli-hat-Nya". Maksud ayat dan hadits di atas, ialah Allah tidak bisa dilihat di dunia, dan bukan di akhi-

Melihat Allah • Aliran Maturidiah samarkand sepaham dengan sikap aliran Asy’ariah. Dan sama pula dengan aliran Maturidiah buchara.

• Allah bisa dilihat, karena Allah mempunyai wujud. Dan sungguhpun Allah tidak mempunyai bentuk, tidak mengambil tempat dan tidak terbatas.

• Allah bisa dilihat, karena Allah mempunyai wujud. Dan sungguhpun Allah tidak mempunyai bentuk, tidak mengambil tempat dan tidak terbatas.

Topik: Sabda Allah (atau kalam Allah) PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MU’TAZILAH Sabda Allah (atau kalam Allah) • Kalau sabda, kalam atau Al-Qur’an merupakan sifat, sabda mesti kekal. Tetapi sebaliknya sabda adalah tersusun, oleh karena itu mesti diciptakan dan tidak bisa kekal. Maka sabda bukanlah sifat, tetapi perbuatan Allah. • Al-Qur’an bukan bersifat kekal, tetapi bersifat baru dan diciptakan oleh Allah. Karena AlQur’an tersusun dari bagian-bagian berupa ayat dan surat, ayat yang satu mendahului yang lain, dan surat yang satu mendahului yang lain. • Jika pada sesuatu ada sifat terdahulu dan sifat yang datang kemudian, maka membuat sesuatu itu tidak bisa bersifat qadim (kekal) atau tidak bermula. Karena sesuatu yang tidak bermula, tidak didahului oleh apapun. • Dalam Al-Qur’an "Kitab yang ayat-ayatnya dibuat sempurna dan terperinci." - (QS.11:1). Menurut ayat ini, ayat-ayat Al-Qur’an dibuat sempurna dan kemudian dibagi-bagi. Maka Al-Qur’an yang tersusun tidak bisa bersifat qadim (kekal). • Dalam Al-Qur’an "bukankah menciptakan dan memerintahkan segala ciptaan-Nya di alam semesta hanyalah kepunyaan-Nya (hak Allah)." - (QS.7:54). Dan dalam Al-Qur’an "Jika Kami menghendaki sesuatu, maka Kami bersabda ‘terjadilah’." - (QS.16:40). Keadaan dipisahnya "perintah" (amr) dan "ciptaan" (khalq), tidak menunjukkan keduanya berlainan jenis. Kata-kata "perintah" (amr) dan "ciptaan" (khalq) adalah sejenis, dan oleh karena itu amr atau sabda Allah adalah diciptakan dan tidak kekal. Sedang kalau yang dimaksud dengan kata "kun", ialah kata yang tersusun dari hurufhuruf, maka mestinya bersifat baru. Kalau yang dimaksud arti yang dikandungnya, maka tidak ada keterangan dalam ayat tersebut, bahwa itulah yang dimaksud. Lebih lanjut lagi, kata "kun" tidak mempunyai efek, karena kalau mempunyai efek, hal


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1051

itu haruslah menimbulkan efek, baik bagi Allah ataupun bagi manusia yang mengucapkannya. Jadi bukanlah kata "kun" yang menciptakan sesuatu, sehingga tidak perlu timbul tak berkesudahan itu. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN ASY’ARIAH Sabda Allah (atau kalam Allah) • Sabda adalah sifat, dan sebagai sifat Allah mestinya kekal. • Sabda adalah arti atau makna abstrak dan tidak tersusun. Sabda bukanlah hal yang tersusun dari huruf dan suara. Sabda yang tersusun disebut sabda hanya dalam arti kiasan. Sabda yang sebenarnya ialah apa yang terletak di balik yang tersusun itu. Sabda yang tersusun dari huruf dan suara bukanlah sabda Allah. • Sabda dalam arti abstrak inilah yang bisa bersifat kekal, dan bisa menjadi sabda Allah. • Al-Qur’an bukanlah suatu hal yang tersusun dari huruf, suara, ayat dan surat, maksudnya dalam arti atau makna abstrak itu. • Al-Qur’an adalah sabda Allah dan bersifat kekal. Sedang dalam arti huruf, suara, ayat dan surat yang ditulis dan dibaca, adalah Al-Qur’an yang bersifat baru serta diciptakan, dan bukanlah sabda Allah. • Dalam Al-Qur’an "Di antara tanda-tanda-Nya ialah terjadinya langit dan bumi atas perintah-Nya." - (QS.30:25). Perintah Allah mempunyai wujud dalam bentuk sabda Allah. Atau Perintah Allah adalah sabda Allah. • Dalam Al-Qur’an "bukankah menciptakan dan memerintahkan segala ciptaan-Nya di alam semesta hanyalah kepunyaan-Nya (hak Allah)." - (QS.7:54). Menurut ayat ini, perintah dan ciptaan dipisahkan. Atau perintah bukan ciptaan. • Perintah atau sabda Allah bukanlah diciptakan, tetapi bersifat kekal. • Dalam Al-Qur’an "Jika Kami menghendaki sesuatu, maka Kami bersabda ‘terjadilah’." (QS.16:40). Menurut ayat ini, ciptaan terjadi dengan kata atau sabda Allah "kun". Kalau sabda Allah tidak bersifat kekal, maka kata "kun" mestilah bersifat baru. Kata "kun" ini tidak akan berwujud, jika tidak didahului kata "kun" yang lain. Dan kata "kun" yang lain ini, didahului oleh kata "kun" yang lain pula. Sehingga terjadi rentetan kata-kata "kun" yang tidak mempunyai kesudahan. Hal ini adalah mustahil, oleh karena itu kata "kun" atau sabda Allah mestilah bersifat kekal. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND Sabda Allah (atau kalam Allah) • Aliran Maturidiah samarkand sepaham dengan sikap aliran Asy’ariah. Dan sama pula dengan aliran Maturidiah buchara.

• Sabda Allah atau Al-Qur’an adalah kekal. Al-Qur’an adalah sifat kekal dari Allah, satu,

tidak terbagi, tidak bahasa Arab ataupun Syriak. Tetapi diucapkan oleh manusia dalam ekspresi berlainan. • Hal yang tersusun dan disebut Al-Qur’an bukanlah sabda Allah, tetapi lebih merupakan

1052

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

tanda dari sabda Allah. Dan hal itu disebut sabda Allah dalam arti kiasan. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA Sabda Allah (atau kalam Allah) • Aliran Maturidiah buchara sepaham dengan sikap aliran Asy’ariah. Dan sama pula dengan aliran Maturidiah samarkand.

• Sabda Allah atau Al-Qur’an adalah kekal. Al-Qur’an adalah sifat kekal dari Allah, satu,

tidak terbagi, tidak bahasa Arab ataupun Syriak. Tetapi diucapkan oleh manusia dalam ekspresi berlainan. • Hal yang tersusun dan disebut Al-Qur’an bukanlah sabda Allah, tetapi lebih merupakan tanda dari sabda Allah. Dan hal itu disebut sabda Allah dalam arti kiasan.

Topik: Konsep iman PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MU’TAZILAH Konsep iman. • Iman bukanlah tasdiq (menerima apa yang dikatakan atau disampaikan orang sebagai benar), tetapi sesuatu hal yang lebih tinggi dari itu. • Iman dalam arti mengetahuipun belumlah cukup. • Orang yang mengetahui tentang Allah, tetapi melawan kepada-Nya, bukanlah orang yang mukmin. • Iman bukanlah tasdiq, bukan pula ma’rifah, tetapi ‘amal yang timbul sebagai akibat dari mengetahui tentang Allah. • Iman adalah pelaksanaan perintah-perintah-Nya, bukan hanya yang wajib saja, tetapi juga yang sunnat. • Iman juga adalah menjauhi dosa-dosa besar. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN ASY’ARIAH Konsep iman. • Akal manusia tidak bisa sampai kepada kewajiban mengetahui tentang Allah, maka iman tidak bisa merupakan ma’rifah atau ‘amal. • Manusia hanya mengetahui kewajiban itu hanya melalui wahyu. • Wahyulah yang mengatakan dan menerangkan kepada manusia, bahwa ia berkewajiban untuk mengetahui tentang Allah, dan manusia harus menerima kebenaran berita itu. • Iman adalah tasdiq. • Batasan iman adalah menerima sebagai benar khabar tentang adanya Allah, termasuk tasdiq tentang rasul-rasul dan berita yang mereka bawa. • Tasdiq tidak sempurna jika tidak disertai dengan pengetahuan. • Iman hanyalah tasdiq, dan pengetahuan tidak timbul, kecuali setelah datang khabar yang dibawa oleh wahyu yang bersangkutan. PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH SAMARKAND


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1053

Konsep iman. • Aliran Maturidiah samarkand lebih dekat dengan sikap aliran Mu’tazilah.

• Iman mestilah lebih dari tasdiq, yaitu ma’rifah atau ‘amal. Karena akal manusia bisa sampai kepada kewajiban mengetahui tentang Allah.

• Islam adalah mengetahui Allah dengan tidak bertanya bagaimana bentuk-Nya. Iman adalah mengetahui tentang Allah dalam ke-Tuhan-an-Nya. Ma’rifah adalah mengetahui tentang Allah dengan segala sifat-Nya. Dan tauhid adalah mengenal tentang Allah dalam ke-Esa-an-Nya.

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI ALIRAN MATURIDIAH BUCHARA Konsep iman. • Aliran Maturidiah buchara sepaham dengan sikap aliran Asy’ariah.

• Akal manusia tidak bisa sampai kepada kewajiban mengetahui tentang adanya Allah, maka iman tidak bisa mengambil bentuk ma’rifah atau ‘amal, tetapi justru haruslah merupakan tasdiq. • Batasan iman ialah menerima dalam hati dengan lidah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa tidak ada yang serupa dengan Allah. (dikutip dari buku "Teologi Islam", Prof.Dr. Harun Nasution, 1986: 123-149)

Tabel 32: Berbagai topik, bagi pembahasan di sini

Rangkuman ringkas pemahaman pada pembahasan di sini tentang berbagai topik lainnya Topik: Keadilan Allah PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI PEMAHAMAN PADA BUKU INI Keadilan Allah • Allah justru mempunyai tujuan yang pasti dan jelas dalam menciptakan seluruh alam semesta dan segala isinya ini, terutama untuk bisa menunjukkan segala kemuliaan dan kekuasaan-Nya kepada umat manusia, sebagai khalifah-Nya (penguasa) di muka Bumi (di dunia). Hal itu agar manusia bisa mencari dan mengenal Allah, lalu agar manusia bisa kembali ke dekat sisi ‘Arsy-Nya yang sangat mulia dan agung, dengan mengenal dan sekaligus mengikuti jalan-Nya yang lurus (Islam), sebagai keredhaan-Nya bagi umat manusia.

"Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, dan agar dibalasi tiap-tiap diri, terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan." (QS.45:22) "Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, me-lainkan dengan (tujuan) yang benar dan ada waktu yang ditentukan. Dan …." - (QS.30:8) "Kami tiada menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan (tujuan) yang benar, dan dalam waktu yang ditentukan. Dan …." -

1054

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

(QS.46:3) "Dia menciptakan langit dan bumi, dengan (tujuan) yang benar (haq). Dia …." (QS.39:5)

• Segala jenis zat makhluk-Nya lainnya (bahkan segala zat ciptaan-Nya) diciptakan-Nya untuk kepentingan umat manusia, seperti: sebagai sarana bagi manusia untuk bisa menjalani dan mencapai kehidupan yang diinginkannya di dunia dan di akhirat; sebagai bahan pelajaran yang amat berlimpah ruah untuk bisa mengenal dan meraih keredhaan Allah; sebagai sarana Allah untuk menguji keimanan manusia; dsb.

"Dia-lah Allah, Yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk (kepentingan) kamu. Dan …." - (QS.2:29) "Tidakkah kamu perhatikan, sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu, apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan …." - (QS.31:20) "Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut, (untuk) membawa apa yang berguna bagi manusia. Dan …." - (QS.2:164) "Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an), untuk manusia, dengan membawa kebenaran. Siapa …." - (QS.39:41)

• Manusia berbuat untuk kepentingannya sendiri, ataupun untuk kepentingan orang lain.

Tetapi dari segala perbuatannya itu (baik ataupun buruk) hanyalah ia sendiri yang memperoleh balasan-Nya (nikmat atau hukuman-Nya). Dan makin banyak orang terpengaruh (baik ataupun buruk) atas perbuatannya, maka makin besar pula balasan-Nya itu (dilipat-gandakan-Nya). "Katakanlah: `…, bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan …," (QS.2:139) "Barangsiapa yang kafir, maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu. Dan barangsiapa yang beramal shaleh, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (kehidupan akhiratnya)," - (QS.30:44) "Dan sesungguhnya, mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain, dari pengaruh perbuatannya pada orang lain) disamping beban-beban mereka sendiri, dan …." - (QS.29:13) "Barangsiapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) darinya. Dan barangsiapa yang memberikan syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) darinya. …." - (QS.4:85)

• ‘Akal’ adalah satu-satunya sarana pada manusia, yang memiliki otoritas untuk memilih

atau menentukan segala sesuatu hal sebagai pengetahuan, dari segala hasil tangkapan alat-alat indera lahiriah dan batiniah manusianya.

Walau pengetahuan manusia pada dasarnya bersifat subyektif menurut tiap manusia itu sendiri. Namun jika diperoleh secara amat cermat dan mendalam, dari mempelajari dan memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya (atau ayat-ayat-Nya yang tak tertulis) yang ada di seluruh alam semesta, maka pengetahuan manusia itupun bisa menjadi bersifat amat


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1055

obyektif (relatif amat sesuai dengan berbagai kebenaran-Nya yang bersifat universal). Pengetahuan yang bersifat amat obyektif inilah yang biasa disebut “hikmah dan hidayah kebenaran-Nya” (al-Hikmah). Amat banyak keutamaan yang disebut dalam Al-Qur’an, tentang orang yang berilmu-pengetahuan, berpikir atau memakai akalnya, dsb. Dan pengetahuan atau pemahaman ini hanyalah menjadi utuh, jika disertai dengan pengamalannya melalui sikap, perkataan dan perbuatan. • Akal (pengetahuan dan kecerdasan untuk memilih) dan nafsu (semangat dan keinginan untuk berkembang) adalah modal utama bagi setiap manusia, untuk menjadi khalifahNya (penguasa) di muka Bumi. Justru hanya manusia yang diciptakan-Nya diciptakan-Nya akal dan nafsu yang relatif sempurna secara bersamaan, sehingga manusia bisa bebas dalam berkehendak dan berbuat. Sedangkan segala zat makhluk-Nya lainnya (nyata dan gaib) tidak memiliki nafsu (lebih tepatnya, nafsunya amat stabil), sehingga mereka justru pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah-Nya. Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang ketundukan para makhluk gaib (termasuk iblis) kepada Allah, untuk memberi pengajaran dan ujian-Nya bagi manusia, tiap saat sepanjang hidupnya.

• Tidak ada yang mendorong Allah untuk berbuat sesuatu. Dan "dorongan" dari dan oleh Allah sendiri justru hanya terjadi ketika Allah merencanakan penciptaan alam semesta, dengan Maha sempurna menetapkan atau sekehendak-Nya mengatur segala sesuatu hal yang menyangkut alam semesta.

Setelah penciptaan alam semesta dimulai, justru tidak ada perubahan pada segala kehendak atau perbuatan-Nya di alam semesta ini, atau Allah justru tidak berbuat sekehendak-Nya di alam semesta ini. Bahkan segala kehendak dan perbuatan-Nya di alam semesta ini telah ditentukan atau ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta itu sendiri, dan kekal (tidak berubah) sampai akhir jaman. Juga tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi ‘Arsy-Nya "Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu se-belum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah." (QS.33:62) "Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku, sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu." - (QS.48:23) "…. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang …." - (QS.10:64)

• Segala kehendak dan perbuatan-Nya (lahiriah dan batiniah) di alam semesta bersifat

pasti dan jelas, yang hanya melalui segala aturan-Nya atau sunatullah, yang berupa segala aturan atau rumus proses kejadian atas segala zat-zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta. • Sunatullah (Sunnah Allah, hukum, aturan-Nya) adalah perwujudan ataupun ‘sebutan’ lain dari segala kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta. • Proses pada sunatullah bersifat mutlak (pasti terjadi) dan kekal (pasti konsisten atau tidak berubah), juga berlaku setiap saat, amat sangat jelas, teratur, alamiah, halus atau tidak kentara (gaib), dan seolah-olah terjadi begitu saja.

1056

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

• Proses pada sunatullah berlaku setiap saat dan pasti sesuai dengan keadaan (internal dan eksternal, lahiriah dan batiniah) dan tiap zat ciptaan-Nya.

Keadaan internal adalah keadaan yang melekat pada zat ciptaan-Nya. Pada manusia keadaan internalnya pada saat berbuat, meliputi: niat, tingkat kesadaran, tingkat keimanan, tingkat keterpaksaan, beban tanggung-jawab, dsb. Keadaan eksternal adalah keadaan lingkungan sekitar, yang ikut berpengaruh (secara langsung ataupun tidak) kepada zat ciptaan-Nya. Keadaan eksternal ini sering dikenal sebagai cobaan atau ujian-Nya (lahiriah dan batiniah). Tiap manusia dengan pengetahuan dan kemampuannya, tiap saatnya bisa pula memilih atau berusaha mengubah berbagai keadaannya (lahiriah dan batiniah), atau bisa berusaha memilih nasib atau takdir-Nya baginya. "…. Sesungguhnya Allah tidaklah mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka telah mengubah keadaan, yang ada pada diri mereka sendiri. Dan …." - (QS.13:11)

• Keadilan Allah adalah keadilan Maha raja konstitusionil, yang kekuasaannya mengikuti (bukan dibatasi) hukum-Nya, aturan-Nya atau sunatullah. Walau hukum itu diciptakanNya sendiri.

"(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya. Niscaya …." - (QS.4:13) "…. Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Rabb-mu. Dan …." - (QS.2:149) "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya, dan melanggar ketentuanketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, sedang ia kekal (tinggal) di dalamnya. Dan baginya siksaan-Nya yang menghinakan." - (QS.4:14)

• Tiada kemuliaan bagi segala sesuatu hal yang berlaku tidak konsisten atau cenderung

melanggar segala ketetapan (hukum, aturan) yang telah dibuatnya sendiri. Sedangkan Allah Yang Maha suci justru penuh dengan segala keagungan dan kemuliaan.

"Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu, Yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (QS.55:27) "Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang ditetapkan." - (QS.15:4)

• Keadilan pada dasarnya hanyalah relevan diperdebatkan, pada peristiwa hukum yang bersifat temporer dan sesaat, dan pada otoritas hukum yang tidak kekal.

• Sedangkan segala perbuatan-Nya di alam semesta ini justru bersifat mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah), Dan Allah memang bersifat Maha Kekal. Maka keadilan Allah menjadi sangat tidak relevan untuk diperdebatkan, karena keadilan Allah telah menjadi bagian dari kehendak atau rencana Allah sebelum penciptaan alam semesta. Mempertanyakan sifat Allah Yang Maha Adil, justru sama artinya dengan meragukan kesempurnaan rencana Allah dalam menciptakan alam semesta itu sendiri. • Keadilan Allah telah terkandung di dalam sunatullah, tentang proses pemberian segala


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1057

bentuk balasan-Nya (nikmat atau hukuman-Nya), secara lahiriah dan batiniah, yang pasti setimpal dengan tiap perbuatan manusia. "Di hari (Kiamat) itu, Allah akan memberi mereka balasan, yang setimpal menurut semestinya, dan …." - (QS.24:25) "Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta tentang Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya. Orang-orang itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). …." - (QS.7:37) "Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian, dari apa yang mereka usahakan. Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya." - (QS.2:202)

• Begitu pula amat tidak relevan untuk memperdebatkan perbuatan-Nya, yang misalnya

adil, tidak zalim, tidak aniaya atau tidak sewenang-wenang terhadap manusia; perbuatan-Nya baik bagi manusia; pelaksanaan janji, ancaman dan kewajiban-Nya terhadap manusia pasti terjadi atau pasti tidak dilupakan-Nya; Allah berbuat semestinya, serta sesuai dengan kepentingan manusia; dsb. Karena semua itu memang pasti terjadi dan tidak berubah, bukanlah sebaliknya. "…. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna, terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (tidak akan menanggung beban-beban dosa orang lain)." - (QS.2:281) "…. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji-Nya." - (QS.3:9)

• Daya, kehendak dan perbuatan manusia bukanlah daya, kehendak dan perbuatan

Allah, tetapi daya, kehendak dan perbuatan Allah pasti selalu menyertai ‘di belakang’ tiap perbuatan manusia, untuk sekaligus memberi balasan-Nya setimpal tiap saatnya. • Manusia berbuat baik atau buruk atas kehendak manusia itu sendiri. • Tiap manusia benar-benar harus dan hanya bertanggung-jawab atas hasil dari tiap perbuatannya sendiri. • Manusia sama sekali tidak dianiaya-Nya, ataupun sama sekali tidak menanggung dosadosa manusia lainnya (yang sama sekali tidak terkait dengan perbuatannya).

• Balasan-Nya (lahiriah dan batiniah) atas tiap perbuatan manusia, pasti setimpal dengan perbuatan itu sendiri. Namun hanya hak Allah Yang Maha mengetahui besarnya balasan-Nya yang setimpal tersebut, termasuk setimpal sesuai dengan beratnya beban ujian-Nya. Bentuk balasan-Nya yang paling hakiki adalah balasan-Nya yang berbentuk batiniah, karena langsung terkait dengan kehidupan akhirat manusia (kehidupan batiniah ruh).

"…. Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan, tentang apa yang ia kerjakan dengan setimpal, sedang mereka tidak dianiaya." - (QS.3:161) "Di hari (Kiamat) itu, Allah akan memberi mereka balasan, yang setimpal menurut semestinya, dan …." - (QS.24:25) "Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (nikmat dan kemuliaan) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." - (QS.32:17)

1058

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

"…. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi-Nya sebagai balasan yang paling baik, dan yang paling besar pahalanya. Dan …." - (QS.73:20)

• Allah mustahil menghukum anak orang musyrik (yang belum akil-baliq), akibat dosa-

dosa orang-tuanya. Dan Allah mustahil dapat menyakiti anak-anak kecil (yang belum akil-baliq) di Hari Kiamat. Pada anak-anak yang belum akil-baliq itu, tidak ada sesuatu alasanpun untuk meminta pertanggung-jawaban atas tiap perbuatannya, karena mereka justru sama-sekali tidak memiliki kesadaran dalam berbuat (belum bisa membedakan baik dan buruk). Bahkan setiap ruh anak manusia terlahir secara sangat suci-murni dan sangat bersih dari dosa. Sehingga tiap manusia pastilah masuk ke dalam Surga, jika meninggal dalam keadaan belum akil-baliq (belum dewasa). "Itu adalah umat yang lalu, baginya apa yang telah diusahakannya, dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak dimintai pertanggung-jawaban, atas apa yang telah mereka kerjakan." - (QS.2:134) "… . Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang …." - (QS.6:52)

• Allah mustahil bisa memasukkan seluruh manusia ke dalam Surga, dan Allah mustahil

memasukkan seluruh manusia ke dalam Neraka. Karena tujuan diciptakan-Nya alam semesta sangat jelas, yaitu untuk menguji keimanan tiap umat manusia. Sedang secara manusiawi, mustahil manusia diciptakan-Nya hanya beriman ataupun hanya kafir "seluruhnya". "…. Akan tetapi mereka (cenderung selalu) berselisih. Maka ada di antara mereka yang beriman, dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. …." - (QS.2:253)

• Allah pasti memberi upah kepada orang yang patuh kepada perintah-Nya, dan Allah juga pasti memberi hukuman kepada orang yang menentang perintah-Nya.

Upah atau hukuman-Nya secara lahiriah pastilah sama antara hasil dari tiap perbuatan lahiriah yang sama dari orang beriman dan dari orang kafir (segala keadaan lainnya persis sama, yang berbeda hanya pelakunya). Hal yang berbeda justru upah atau hukuman-Nya secara batiniah. Karena landasan batiniah pada orang kafir dalam berbuat mengandung cacat (terutama kecacatan tauhidnya, yang mendasari seluruh kehidupan tiap manusia). "…. Dan Allah memberi rejeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, tanpa batas (kepada orang yang kafir ataupun yang beriman)." - (QS.2:212) "…. Dan Engkau beri rejeki, kepada siapa yang Engkau kehendaki, tanpa dihisab (tanpa dibatasi, ditunda-tunda dan sesuai dengan usahanya)`." - (QS.3:27)

• Ke-Maha Adil-an Allah yang terkait dengan keimanan ataupun kekafiran tiap manusia, sesungguhnya justru bukanlah berada pada aspek lahiriah, tetapi pada aspek batiniah,


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1059

yang memang cenderung relatif jauh lebih sulit dipahami oleh manusia umumnya. Balasan-Nya pada aspek lahiriah, justru tidak terlalu terkait dengan keimanan manusia. Sederhananya, secara lahiriah penampilan orang beriman dan orang kafir, tidak tampak berbeda, demikian pula hasil usaha lahiriahnya. "Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertaqwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi-Nya adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui." - (QS.2:103) "…. Dan apa-apa yang kamu usahakan untuk kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya dari sisi-Nya. Sesungguhnya, Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan." - (QS.2:110)

• Hanya hak Allah atau hanya Allah Yang Maha mengetahui siapa sebenarnya di antara manusia yang beriman ataupun yang kafir. Penilaian Allah ini belum tentu sesuai dengan penilaian relatif-subyektif manusia.

Keimanan atau kekafiran memiliki berbagai tingkatan yang amat sangat luas. Dan relatif tidak ada seorangpun manusia dewasa yang bersih dari dosa-dosa, termasuk dosa-dosa kecil. Sebaliknya relatif tidak ada yang tidak pernah melakukan kebaikan sebesar biji zarrah sekalipun. Walau dalam Al-Qur’an terdapat gambaran atau ukuran secara umum tentang keimanan atau kekafiran, dan juga ada batasan-batasan tertentu. Tetapi keimanan atau kekafiran bukanlah penilaian sesaat dan mudah tampak, juga meliputi seluruh kehidupan tiap manusia sejak akil-baliq sampai wafatnya, termasuk adanya taubat dan tingkat kesadaran atau tanggung-jawab manusia dalam berbuat, yang juga tidak tampak (bersifat gaib). Maka bukanlah hal yang penting untuk mengurus keimanan ataupun kekafiran orang lain, kecuali untuk tujuan "ber-amar ma’ruf nahi munkar". Bahkan pada akhirnya (di Hari Kiamat), tiap manusia sesungguhnya justru hanya mengurus atau mempertanggung-jawabkan tiap amal-perbuatannya sendiri. "Dan sesungguhnya, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya, Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta." - (QS.29:3) "Katakanlah: `Tiap-tiap orang berbuat, menurut keadaannya masing-masing`. Maka Rabb-mu lebih mengetahui, siapa yang lebih benar jalannya." - (QS.17:84) "Katakanlah: `Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi; dan perbuatan dosa, (yang) melanggar hak manusia (dengan) tanpa alasan yang benar; mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu; dan mengada-adakan tentang Allah, (dengan) apa saja yang tidak kamu ketahui`." - (QS.7:33) "Dan jikalau Rabb-mu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia, supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya." - (QS.10:99)

• Allah tidak dapat meletakkan beban ujian-Nya, yang tidak dapat dipikul oleh manusia.

1060

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Karena kekuasaan tiap manusia (sebagai khalifah-Nya) sesungguhnya berada pada aspek batiniah, di mana manusia berkuasa dan bebas sepenuhnya untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri. Dan kata "beban" pada dasarnya hanyalah menyangkut aspek batiniah. Sedang pada aspek lahiriah, kekuasaan manusia memang amat terbatas. Baca pula uraian topik "Beban di luar kemampuan manusia" di bawah. "…. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekedar ke-sanggupannya. Dan …," - (QS.6:152)

Topik: Kewajiban-kewajiban Allah PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI PEMAHAMAN PADA BUKU INI Kewajiban-kewajiban Allah • Segala perbuatan-Nya di seluruh alam semesta ini (melalui sunatullah, lahiriah dan batiniah) bersifat mutlak (pasti terjadi) dan kekal (pasti konsisten atau tidak berubah), juga berlaku setiap saat, amat sangat jelas, teratur, alamiah, halus atau tidak kentara (gaib), dan seolah-olah terjadi begitu saja. • Pelaksanaan sunatullah dikawal oleh tak-terhitung jumlah para malaikat.

"dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan(-Nya di dunia)," - (QS.79:5) "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril, dengan ijin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan(-Nya di dunia)." - (QS.97:4)

• Pada segala kehendak atau rencana Allah dalam penciptaan alam semesta, memang

terkandung pula segala kewajiban-Nya kepada manusia, yaitu kewajiban untuk berbuat baik dan terbaik bagi manusia, yang dipilih-Nya sebagai khalifah-Nya.

"Allah berfirman: `Ini adalah jalan yang lurus. Kewajiban Aku-lah (untuk menjaganya)." (QS.15:41) "Sesungguhnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk," - (QS.92:12) "Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman." (QS.10:103) "…. Dan Kami selalu berkewajiban (untuk) menolong orang-orang yang beriman." (QS.30:47) "kemudian sesungguhnya, kewajiban Kami-lah (untuk) menghisab mereka." (QS.88:26) Segala perbuatan Allah dalam melaksanakan segala kewajiban-Nya itu, juga telah terkandung pada sunatullah (segala aturan atau rumus proses kejadian di alam semesta). Maka petunjuk atau pertolongan-Nya itu tidaklah datang begitu saja, bahkan hanyalah bisa terjadi, melalui segala hasil usaha tiap manusianya sendiri.

• Tetapi segala perbuatan Allah di alam semesta inipun (melalui sunatullah) juga kurang tepat jika dinilai sebagai bersifat ‘wajib’ ataupun ‘tidak wajib’. Karena sunatullah justru


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1061

bersifat mutlak (pasti terjadi) dan kekal (tidak berubah). Juga manusia hanyalah hak Alah, dan hanyalah zat ciptaan-Nya. Sedang kata "kewajiban" yang dikenal oleh manusia, justru bersifat sesaat dan seolaholah memaksa sesuatu, agar pada saatnya, ia mesti memberi kepada sesuatu yang lainnya yang berhak, sesuatu hak yang terhutang darinya. Ringkasnya, istilah ‘wajib’ ataupun ‘tidak wajib’ hanya sesuai diterapkan kepada hal-hal yang bersifat tidak mutlak (tidak pasti terjadi) dan tidak kekal (berubah-ubah), seperti halnya segala perbuatan makhluk.

• Segala kewajiban-Nya juga terlalu amat sangat ringan (tidaklah ada artinya) bagi Allah untuk bisa melaksanakannya, melalui aturan-Nya (sunatullah), yang bahkan ditetapkanNya sebelum penciptaan alam semesta itu sendiri. Dan kemudian pelaksanaan sunatullah itu dikawal oleh tak-terhitung jumlah ruh para malaikat.

"Allah, tidak ada ilah melainkan Dia, Yang Hidup kekal, lagi terus-menerus mengurus (segara zat ciptaan-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya (segala) apa yang di langit dan di bumi. …. Kursi Allah (tempat keberadaan Allah) meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi, lagi Maha Besar." - (QS.2:255) "Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah), melainkan Dia. Yang hidup kekal, lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya." – (QS.3:2) "Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan-Nya) …" – (QS.35:1) "dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan(-Nya di dunia)," – (QS.51:4) "dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan(-Nya di dunia)," – (QS.79:5) "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril, dengan ijin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan(-Nya di dunia)." – (QS.97:4)

• Dan pada kewajiban-kewajiban-Nya lainnya, seperti: menepati janji-janji-Nya, mengutus para nabi dan rasul-Nya untuk memberi petunjuk kepada manusia, memberi rejeki kepada manusia, dsb, juga telah diatur dalam sunatullah yang bersifat amat sangat alamiah tersebut. Baca pula topik "Para nabi dan rasul utusan-Nya", tentang mengirim para nabi dan rasul-Nya. Dan baca pula topik "Sunatullah (sifat proses)", tentang pemberian janjiNya (balasan-Nya berupa upah dan hukuman) ataupun rejeki-Nya kepada manusia.

• Segala kewajiban-Nya kepada umat manusia justru sama sekali bukanlah hal yang bertentangan ataupun mengurangi kehendak dan kekuasaan mutlak-Nya.

Kalau Allah terang-terangan menampak kekuasaan-Nya sesungguhnya, maka manusia tidak akan sempat melihatnya, karena seluruh alam semesta ini telah hancur terlebih dahulu, ataupun seluruh manusia pasti akan beriman kepada-Nya. Bahkan tidak ada sesuatupun zat ciptaan-Nya yang bisa mengetahui berbagai kesempurnaan dan kemuliaan-Nya, jika Allah berbuat "sekehendak-Nya". Allah hanyalah berbuat sekehendak-Nya, ketika merencanakan segala sesuatu halnya, ‘sebelum’ penciptaan alam semesta ini.

1062

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Dan justru Allah berkehenadak menyembunyikan secara samar-samar segala kekuasaan-Nya dari manusia, agar bisa menguji keimanannya, agar ia bisa mencari dan mengenal Tuhan Yang menciptakannya, dan agar ia bisa kembali dekat di sisi ‘Arsy-Nya. "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh, yang mencatat segala kehendak dan ketetapan-Nya itu)." - (QS.13:39) "Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi, dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh), sebelum Kami menciptakannya. …." - (QS.57:22)

• Setelah awal penciptaan alam semesta itu justru Allah hanyalah duduk di ‘Arsy-Nya, sedang segala proses kejadian atas segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta, hanyalah berjalan “otomatis” dengan diatur-Nya melalui sunatullah, yang pelaksanaannya dikawal oleh tak terhitung jumlah para malaikat.

"Sesungguhnya Rabb-kamu adalah Allah Yang menciptakan langit dan bumi (dan apa yang ada di antara keduanya) dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. …." - (QS.10:3) dan (QS.13:2, QS.25:59, QS.32:4, QS.57:4) Berbagai proses yang seolah-olah tampak "tidak otomatis" (tidak mutlak dan tidak kekal) hanyalah segala hasil dari perbuatan makhluk-Nya, terutama manusia yang telah diberikan-Nya kebebasan dalam berkehendak dan berbuat. Tetapi di luar segala kebebasan makhluk-Nya (yang tetap dibatasi oleh sunatullah), segala proses lainnya (lahiriah dan batiniah) pada tiap manusia sebenarnya tetap berjalan "otomatis", dengan atau tanpa disadari oleh manusia itu sendiri. Contoh sederhananya: makanan pada saat dicerna oleh alat-alat pencernaan manusia; kuku saat tumbuh; air mata keluar, saat sedang sedih; manusia bebas melempar bola ke segala arah, tetapi jauhnya lemparan diatur-Nya; dsb. "dan bahwasanya Dialah yang (telah) menjadikan orang tertawa dan menangis," (QS.53:43) "Dialah yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orangorang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan …." - (QS.10:22) "Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha." - (QS.25:47) "Dialah yang meniupkan angin, (sebagai) pembawa khabar gembira, dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (air hujan); dan Kami turunkan dari langit, air yang amat bersih," (QS.25:48) "Allah-lah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai, dan sebagiannya untuk kamu makan." - (QS.40:79)


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1063

Topik: Berbuat baik dan terbaik PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI PEMAHAMAN PADA BUKU INI Berbuat baik dan terbaik • Kewajiban Allah untuk berbuat baik, bahkan yang terbaik bagi manusia.

Tetapi hal ini kurang tepat atau kurang relevan disebutkan sebagai "kewajiban". Dan lebih tepatnya, hal ini sebagian dari kehendak atau rencana Allah dalam penciptaan alam semesta ini, sebagai perwujudan dari Fitrah Allah (sifat-sifat terpuji Allah). Baca pula topik "Keadilan Allah" di atas.

• Bahkan siksaan, hukuman atau azab-Nya (lahiriah dan batiniah) bagi seorang manusia

selama di dunia ini, justru juga demi kebaikan manusia itu sendiri, ataupun sebagai bahan pelajaran bagi segala manusia lainnya. Terutama agar tiap manusia bisa memahami hal-hal yang merugikan, membinasakan, merusak, menghinakan atau mengurangi kemuliaannya sendiri, agar kemudian ia tidak mengulanginya lagi dan bahkan makin memperbaikinya, di lain waktu. "Kecuali mereka yang telah bertaubat, dan mengadakan perbaikan dan menyatakannya (secara tegas rasa penyesalannya). Maka terhadap mereka itulah, Aku menerima taubatnya. Dan Akulah Yang Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang." - (QS.2:160) "Maka barangsiapa bertaubat. setelah melakukan kejahatan itu. dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya, Allah (telah) menerima taubatnya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." - (QS.5:39) "…. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orangorang yang mensucikan diri." - (QS.2:222)

• Cobaan atau ujian-Nya (lahiriah dan batiniah) sesungguhnya bukanlah bentuk siksaan atau hukuman-Nya, walau seolah-olah sama-sama terasa "menyiksa" manusia.

Baca pula topik "Beban di luar kemampuan manusia", tentang ujian-Nya. "Tiap-tiap yang berjiwa (ruh pada tubuh makhluk hidup nyata pasti) akan merasakan mati. Kami (pasti) akan menguji kamu, dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." - (QS.21:35) "Dan (ingatlah), ketika Kami selamatkan kamu (Bani Israil) dari (Fir'aun) dan pengikutpengikutnya. Mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki, dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Rabb-mu." - (QS.2:49) "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu (hai manusia), dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar," - (QS.2:155)

1064

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

• Allah tidak akan meletakkan beban ujian-Nya, yang tidak dapat dipikul oleh manusia.

Padahal tiap manusia telah ditunjuk-Nya atau mendapat amanat-Nya sebagai khalifahNya (penguasa) di muka Bumi (di dunia). "…. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekedar kesanggupannya. Dan …," - (QS.6:152) "…. Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang, melainkan sekedar kesanggupannya. …." - (QS.7:42) "…. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan (sebatas) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan, setelah kesempitan." - (QS.65:7)

• Kekuasaan manusia sebagai khalifah-Nya, sesungguhnya berada pada aspek batiniah,

di mana tiap manusia bebas berkehendak dan berkuasa sepenuhnya untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri. Sedang pada aspek lahiriah, kekuasaan manusia memang amat terbatas. Dan makna ‘beban’ ujian-Nya itupun pada dasarnya lebih terkait dengan aspek batiniah. Sedang pada alam batiniah ruh tiap manusia inilah jin, syaitan dan iblis, tiap saatnya selalu menggoda keimanan tiap manusia, terutama dengan mempermainkan nafsu manusia. Beban ujian-Nya adalah hawa nafsu-keinginan yang terhambat atau tidak terpenuhi. Dengan mengatur alam batiniah ruhnya sendiri, maka tiap manusia justru bisa meringankan pula berat beban ujian-Nya yang dirasakannya, terutama dengan membina sikap-sikap, seperti: sabar, ikhlas, tawakal dan syukur. Bahkan orang-orang yang Mukhlis, yang telah memiliki tingkat keikhlasan amat tinggi, mereka bisa mengatasi berbagai cobaan atau ujian-Nya (godaan iblis). "Dan bersabarlah kamu, bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari, dengan mengharap keredhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka, (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang, yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." - (QS.18:28)

• Cobaan atau ujian-Nya pada dasarnya bukanlah pengaruh yang berasal langsung dari

Allah, melainkan hasil pengaruh dari saling berinteraksinya segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta (nyata dan gaib, makhluk hidup dan benda mati), secara langsung ataupun tidak.

Kalaupun mau disebut berasal dari Allah, adalah ujian-Nya yang timbul pada manusia sejak lahirnya (diciptakan-Nya), yang berupa berbagai bentuk cacat bawaan. Hal inipun pada dasarnya hanyalah karena pasangan sel benih dari kedua induknya yang memang mengandung cacat.

PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI PEMAHAMAN PADA BUKU INI

Pasti mustahil ada sesuatupun yang sanggup menghadapi pengaruh langsung dari daya Allah. Sedang manusia mestinya masih sanggup memikul beratnya beban ujian-Nya, dengan menerima secara apa adanya atas segala kehendak-Nya atau segala kejadian di alam semesta, yang mustahil bisa ditolaknya (berikhlas diri).

Beban di luar kemampuan manusia

Walau tidak berasal langsung dari Allah, tetapi Allah tetap merasa ikut bertanggung-

Topik: Beban di luar kemampuan manusia


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1065

jawab atas beratnya beban ujian-Nya bagi manusia, karena hal ini termasuk bagian dari rencana Allah dalam menguji keimanan manusia. Maka Allah menyesuaikan pemberian nilai amalan ataupun balasan-Nya atas tiap amalperbuatan manusia (baik atau buruk), yang telah dilakukan ketika ia sedang mengalami berbagai beban ujian-Nya. Lebih jelasnya, pada sunatullah tentang rumus proses pemberian balasan-Nya, juga telah diperhitungkan pengaruh dari segala keadaan yang menyangkut ujian-Nya. Sederhananya, jika semakin berat beban ujian-Nya, maka pahala-Nya semakin berlipat ganda atas tiap amal-kebaikan. Sebaliknya justru beban dosa agak berkurang atas tiap amal-keburukan. Seperti pada berbagai dosa tertentu yang masih bisa ditolerir, ketika dikerjakan sedang dalam keadaan amat sangat terpaksa (ada ujian-Nya). "Sesungguhnya, Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya), sedang ia tidak menginginkannya, dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." - (QS.2:173)

• Dan nilai amalan suatu perbuatan justrulah bukan dinilai dari "hasil"-nya (lahiriah dan batiniah), melainkan dinilai dari beratnya "proses berusaha"-nya (batiniah).

Bahkan nilai amalan ini bersifat pasti dan absolut (kekal), sama sekali tidak tergantung pada waktu dan ruang, juga tidak tergantung pada laknat ataupun do’a manusia. Jumlah nilai amalan absolut inilah yang dijumlah (dihisab-Nya) dengan amat cepat di Hari Kiamat. "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal, lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu, serta lebih baik untuk menjadi harapan (untuk masuk surga)." - (QS.18:46)

• Maka pada dasarnya manusia sama sekali tidak perlu kuatir, dengan segala hal yang tidak terkait sama sekali dengan hasil perbuatannya sendiri (langsung ataupun tidak). Serta ia sama sekali tidak perlu kuatir, dengan segala macam bentuk ujian-Nya.

Juga manusia sama sekali tidak perlu kuatir, dengan segala bentuk hasil dari segala perbuatannya. Hal yang jauh lebih penting adalah ia selalu berusaha berbuat yang terbaik, sesuai dengan keadaan dan kemampuannya selama kehidupannya, sesuai dengan keredhaan-Nya bagi manusia. Sebaliknya, ia juga selalu berusaha memperbaiki segala kesalahannya. Sederhananya, atas ijin-Nya, seorang fakir-miskin yang hidup tinggal di kolong jembatan di Jakarta, bisa lebih mulia di mata Allah, daripada seorang konglomerat Arab yang tiap hari shalat di Masjidil Haram. Namun bisa juga sebaliknya. Tiap manusia bagaimanapun keadaannya, pasti memiliki kesempatan yang sama untuk bisa masuk Surga ataupun untuk bisa berada dekat di sisi ‘Arsy-Nya. Asalkan manusia tidak berbuat melampaui batas-batas tertentu, yang diajarkan dalam ajaran-ajaran agama-Nya, terutama tidak menyekutukan Allah.

1066

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

"Katakanlah: `Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing`. Maka Rabb-mu lebih mengetahui, siapa yang lebih benar jalannya." - (QS.17:84) "Katakanlah: `Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui," - (QS.39:39) "Katakanlah: `Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan." - (QS.6:135)

• Bagaimana orang yang menjadi gila, setelah ia dewasa?, yang bukan akibat dari kece-

lakaan yang merusak sistem syaraf otaknya, karena orang ini pada dasarnya telah dianggap gagal memikul segala beban ujian-Nya kepadanya.

Bagi orang yang sejak lahir ataupun setelah dewasa, terkena cacat mental ("gila" atau kerusakan sistem syaraf otaknya), maka atas ijin-Nya, mereka akan langsung masuk Surga. Karena hal ini justru sama sekali tidak terkait dengan hasil perbuatannya sendiri. Dan ia bukanlah termasuk orang yang bisa dianggap telah gagal dalam menjalani kehidupannya di dunia. Sedang bagi orang yang gila, tetapi secara fisik otaknya tidak cacat sama sekali (otaknya bekerja relatif normal, tetapi ia kehilangan orientasi kehidupannya atau kehilangan keimanannya), maka atas ijin-Nya, mereka itu akan langsung masuk Neraka. Orang ini tertimpa azab-Nya secara batiniah di dunia, akibat dari hasil segala perbuatannya sendiri, yang justru telah amat melemahkan keimanannya sendiri. Dengan jenis orang gila yang terakhir ini yang relatif sangat sedikit jumlahnya, maka hal inipun juga merupakan bukti nyata, bahwa pada dasarnya manusia masih sanggup memikul segala beban ujian-Nya. Maka tidaklah ada sesuatu alasanpun bagi manusia untuk perlu berputus-asa, karena sesungguhnya Allah justru telah relatif amat sangat banyak memberi segala keringanan ataupun kesempatan, untuk selalu bisa memperbaiki kehidupannya (secara lahiriah dan terutama secara batiniah), termasuk amat terbuka lebar pintu taubat-Nya, bagi orang yang benar-benar yang mau bertaubat. "…. Sesungguhnya tiada berputus-asa dari rahmat-Nya, melainkan kaum yang kafir`." (QS.12:87) "Ibrahim berkata: `Tidak ada orang yang berputus-asa dari rahmat Rabb-nya, kecuali orang-orang yang sesat`." - (QS.15:56) "Mereka menjawab: `Kami menyampaikan berita gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus-asa`." - (QS.15:55) "Katakanlah: `Hai hamba-hamba-Ku, yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (terlalu memperturutkan hawa nafsu berlebihan). Janganlah kamu terputus-asa dari rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." - (QS.39:53)

• Justru hanya kehendak manusialah yang menciptakan, memulai atau memicu daya dan

perbuatannya (pemakaian daya). Sedangkan hanya daya dan perbuatan Allah yang


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1067

justru mengatur mewujudkan tiap perbuatan manusia itu (selalu menyertai "di belakang" tiap perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, sekaligus untuk memberi balasan-Nya tap saatnya. Perbuatan manusia bukanlah perbuatan Allah, tetapi perbuatan Allah justru pasti selalu menyertai tiap perbuatan manusia, untuk mewujudkannya atau memberi balasan-Nya. "…. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat." - (QS.2:85) "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan (dari hasil pengaruh) syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu, agar kamu mendapat keberuntungan." - (QS.5:90) "…. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. …." - (QS.6:70) "Dan sekali-kali, mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat aniaya (terutama karena menghinakan dirinya sendiri)." - (QS.2:95)

Topik: Pengiriman rasul-rasul PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI PEMAHAMAN PADA BUKU INI Pengiriman rasul-rasul • Akal manuisa mestinya dapat mengetahui tentang segala bentuk alam gaib, yaitu yang berupa gaib "tindakan" (segala tindakan dari zat-zat gaib). Tetapi mustahil akal sanggup menjangkau gaib "zat" (zat Allah dan zat ruh-ruh makhluk-Nya).

Karena pada dasarnya, gaib "tindakan" itu bersifat amat sangat teratur, jelas terjadinya dan mengikuti aturan tertentu (aturan-Nya atau sunatullah). Walau juga bersifat amat sangat halus dan tidak kentara (gaib). Begitu pula, akibat para pelakunya tidak tampak (gaib), sehingga ada berbagai kejadian di alam semesta ini, seolah-olah terjadi begitu saja. Segala gaib "tindakan" itu mestinya memang bisa dipahami oleh akal manusia, karena Allah dan para makhluk gaib-Nya memang berkehendak agar manusia bisa mencari dan mengenal Allah Yang menciptakannya, melalui segala tindakan tersebut. Tetapi Allah juga tidak terang-terangan menampak segala kekuasaan-Nya, ataupun tidak "menunjukkan" diri-Nya (bukan "menampakkan"), justru bertujuan untuk bisa menguji keimanan tiap manusia. Baca pula topik "Kewajiban-kewajiban Allah" di atas, tentang tujuan dari Allah untuk sengaja menyembunyikan kekuasaan-Nya.

• Mustahil manusia bisa melihat "zat" Allah, di dunia ataupun di akhirat, dengan mata lahiriah (mata fisik) ataupun mata batiniah (akal), karena memang tidak akan sanggup. Bahkan manusia pasti mustahil bisa sanggup ‘melihat’ (dengan indera-indera lahiriahnya) ataupun ‘memahami’ (dengan indera-indera batiniahnya) atas segala zat ciptaanNya di seluruh alam semesta ini.

Bukanlah hal yang penting bagi manusia, untuk bisa ‘melihat’ "zat" Allah.

1068

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Hal yang jauh lebih penting untuk dilakukan oleh tiap manusia (ataupun untuk diperdebatkan), adalah agar ia bisa makin jelas "merasakan" kehadiran-Nya dalam kehidupannya tiap saatnya (pada tiap tarikan napasnya, pada tiap detak jantungnya, pada tiap pandangan mata lahiriah dan batiniahnya, dsb). Juga ia agar bisa makin jelas mengenal Allah Yang telah menciptakannya (memahami sifat-sifat-Nya). Karena hal ini merupakan salah-satu hal penting, yang menunjukkan bahwa manusia telah makin berhasil sebagai makhluk ciptaan-Nya. Dan atas ijin-Nya, hal ini akan bisa amat mewarnai setiap usahanya selanjutnya, untuk semakin mengabdikan dirinya kepada Allah, sampai akhir hidupnya.

• Pengiriman para nabi dan rasul-Nya justru amat sangat penting. Wahyu-Nya dari para nabi-Nya justru amat sangat penting, bukanlah karena diperbandingkan dengan kemampuan akal manusia biasa pada umumnya. Bahkan wahyu-Nya juga merupakan pemahaman para nabi-Nya atas tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), dengan menggunakan "akal" mereka (terutama dalam hal-hal batiniah), setelah sambil dituntun oleh malaikat Jibril. "Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masingmasing beredar, hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (ciptaan-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan-Nya), supaya kamu menyakini pertemuan(mu) dengan Rabb-mu." - (QS.13:2) "Dan Dia-lah Rabb Yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupi malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kaum yang memikirkan." - (QS.13:3) Bahkan setiap wahyu-Nya pada dasarnya serupa dengan setiap hikmah dan hidayahNya yang bisa dicapai oleh tiap manusia, juga dengan menggunakan akalnya. Tetapi tiap wahyu-Nya justru amat sangat penting (ataupun amat berbeda), karena tiap wahyu-Nya justru bagian dari suatu kesatuan seluruh wahyu-Nya pada seorang nabiNya, yang berupa bangunan pemahaman al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaranNya) yang telah tersusun relatif ‘sempurna’ (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangannya), yang diperoleh seorang nabi-Nya melalui perantaraan malaikat Jibril, terutama atas hal-hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia. Tiap wahyu-Nya justru tidak berdiri sendiri atau tidak terpisah dari seluruh wahyu-Nya pada seorang nabi-Nya. Kedalaman dan kelengkapan pengetahuan atau pemahaman pada para nabi-Nya itupun termasuk: tentang Allah dan hal-hal gaib; tujuan diciptakan-Nya alam semesta ini dan kehidupan manusia di dalamnya; seluruh aspek dan persoalan kehidupan umat pada jamannya masing-masing; dsb. Selain itu juga amat konsisten antara pemahaman (keyakinan batiniah) dan pengamalannya (keyakinan lahiriah) pada para nabi-Nya, melalui sikap, akhlak, perkataan dan perbuatannya sehari-hari, juga sambil mengabdikan hampir seluruh kehidupannya bagi


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1069

umat, terutama dalam memberi pengajaran dan tuntunan-Nya. Keimanan atau keyakinan yang lengkap dan utuh (lahiriah dan batiniah) dan amat tinggi ini, amat sulit dicapai oleh manusia biasa pada umumnya. Berbagai faktor di atas yang membuat tiap hikmah dan hidayah-Nya pada para nabiNya, pantas disebut sebagai sesuatu "wahyu-Nya", atau yang membuat kemuliaan atau keistimewaan wahyu-Nya mereka menjadi bernilai amat tinggi. Serta mengantarkan mereka kepada kenabiannya, dan sebagai panutan bagi umat. Demi menjaga kemuliaan wahyu-Nya inilah, maka manusia biasa tidak disebut dituntun pula oleh malaikat Jibril. Padahal proses perolehan wahyu-Nya persis sama dengan proses perolehan hikmah dan hidayah-Nya bagi manusia biasa umumnya. Wahyu-Nya (secara keseluruhan) justru amat sangat penting sebagai tuntunan yang lengkap bagi kehidupan seluruh umat manusia, terutama untuk membangun kehidupan batiniahnya (kehidupan akhiratnya), yang jauh lebih hakiki daripada kehidupan duniawi. Kehidupan dunia fana ini semata-mata hanyalah sarana untuk membangun kehidupan batiniah ruhnya tiap manusia, yang justru tetap kekal, bahkan setelah Hari Kiamat (setelah disempurnakan-Nya nikmat dan hukuman-Nya).

• Wahyu-Nya memang mengilhami, memperkuat dan menyempurnakan hal-hal yang bisa

diketahui atau dipahami oleh manusia melalui akalnya. Bahkan wahyu-Nya dan akal mustahil bisa saling bertentangan, jika pengetahuan atau pemahaman melalui akalnya tersebut, benar-benar diperoleh secara amat obyektif, dari memahami secara mendalam atas tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta. Dan perbandingan antara wahyu-Nya dan akal ini mestilah pada tataran pemahaman hikmah dan hakekat dalam kandungan isi wahyu-Nya (ayat-ayat Al-Qur’an), bukan pada tataran makna tekstual-harfiahnya. Mustahil "hikmah dan hakekat" wahyu-Nya bisa bertentangan dengan akal-sehat manusia, kecuali jika akal manusia memang belum mampu memahaminya. Hal paling baik adalah wahyu-Nya diikuti, sambil perlahan-lahan juga bisa dipahami makna yang sebenarnya di dalamnya. Tingkat kesadaran atau pemahaman dalam berbuat suatu amal-kebaikan, justru amat mempengaruhi nilai amalannya. "… . Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu berpikir," - (QS.2:219) "Allah berfirman: `Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua (Musa dan Harun), sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekalikali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui`." - (QS.10:89) "Dan janganlah kamu mengikuti, apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya; sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya." - (QS.17:36) "Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti, kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak(lah) sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." - (QS.10:36) "Apabila dikatakan kepada mereka: `Marilah mengikuti apa yang diturunkan-Nya dan mengikuti Rasul`. Mereka menjawab: `Cukuplah untuk kami apa yang kamu dapati bapak-bapak kami mengerjakannya`. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek mo-

1070

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

yang mereka, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa, dan tidak (pula) mendapat petunjuk." - (QS.5:104) dan (QS.2:170)

• Juga peran wahyu-Nya justru makin lama makin penting, karena persoalan umat manusia jauh makin kompleks setelah jaman nabi Muhammad saw, yang justru mustahil mampu diatasi semuanya hanya oleh seorang manusia saja dengan menggunakan akal dan kemampuannya. Hal inilah dasar dari disebutnya nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir. Bahkan sejak itu, peran tiap nabi-Nya mestilah atau hanyalah bisa dilanjutkan oleh sesuatu ‘Majelis’ para alim-ulama pada tiap jamannya yang berkewajiban mewarisi segala ajaran para nabi-Nya, dengan melahirkan berbagai Ijtihad sesuai dengan perkembangan umat dan jamannya masing-masing.

• Dan peran wahyu-Nya juga tetaplah amat sangat penting, karena agama-Nya bukanlah hanya milik para alim-ulama ataupun orang-orang yang berilmu saja, tetapi milik seluruh umat manusia (termasuk umat yang sangat awam).

Tidak pada semestinya, jika sekelompok ahli ilmu agama (teolog) menyatakan, bahwa wahyu-Nya atau pengiriman para nabi-Nya itu tidaklah begitu penting, hanyalah karena mereka bisa memahami beberapa hikmah dan hidayah-Nya, yang lebih terang daripada manusia biasa lainnya. Atau hanyalah karena pengiriman para nabi-Nya justru terjadi secara amat sangat alamiah, sebagaimana suatu kehendak jaman ataupun kodrat alam semata. Padahal agama-Nya bukanlah hanya milik mereka saja. Padahal wahyu-Nya adalah dasar utama dari agama-Nya, yang telah mereka anut pula. Padahal pengetahuan atau pemahaman mereka, justru banyak diilhami oleh wahyuwahyu-Nya dari para nabi-Nya. "Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama (untuk) kamu semua (hai manusia), agama yang satu. Dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertaqwalah kepada-Ku." (QS.23:52) "(Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk, serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa." - (QS.3:138) "Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira, dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui." - (QS.34:28)

• Pengiriman para nabi dan rasul-Nya memang demi kebaikan umat manusia.

Tetapi pengiriman para nabi-Nya kuranglah tepat disebut bersifat wajib, atau disebut sebagai salah-satu kewajiban Allah. Karena diturunkan-Nya agama-Nya yang lurus, yang disampaikan oleh para nabi-Nya, justru merupakan perwujudan dari Fitrah Allah dan rencana Allah, untuk memberikan segala bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya bagi tiap umat manusia, sebagai khalifahNya. Hal ini agar manusia tidaklah berjalan di muka Bumi, tanpa arah tujuan, atau tidaklah hanya dengan bermodalkan daya dan akalnya semata, tanpa dituntun-Nya sama sekali. Dan dengan Fitrah Allah ini pula (sifat-sifat terpuji Allah), Allah menciptakan manusia


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1071

dan seluruh alam semesta ini. Sifat-sifat Allah itu (pada Asmaul Husna) tergambar melalui segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta, yang disebut sebagai: “tanda-tanda kekuasaan-Nya”, “ayat-ayat-Nya yang tak tertulis”, ataupun “Al-Qur’an berbentuk gaib, yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi ‘Arsy-Nya”. Juga disebut sebagai “wajah-Nya”, karena hanya segala hal yang ada di alam semesta itulah, satu-satunya yang bisa dikenal atau dipahami oleh manusia tentang Allah, dengan memakai alat-alat indera lahiriah dan batiniahnya, setelah dinilai oleh akalnya.

• Bahkan penyampaian wahyu-Nya kepada para nabi-Nya oleh malaikat Jibril, bukanlah

seperti, "Hai Rasul-Nya, Allah telah berfirman kepadamu …", "Saya Jibril, Allah telah berfirman kepadamu …" atau semacamnya.

Namun justru pemahaman atau keyakinan kuat yang telah dimiliki sebelumnya oleh para nabi-Nya, yang membuat mereka bisa menilai (dengan akalnya), berbagai pengajaran yang baru diperolehnya dari para makhluk gaib (termasuk malaikat Jibril), apakah berasal dari Allah (mengandung nilai-nilai kebenaran-Nya), ataupun bukan. Bahkan manusia sama sekali tidak bisa mengetahui, siapa yang ‘membisikkan’ sesuatu hal dengan amat halus, ke dalam pikirannya (berupa ilham-ilham positif atau negatif), karena para makhluk gaib itu memang tidak tampak. Justru "nilai" dari hal-hal yang dibisikkan itulah, yang bisa membedakan antara malaikat, jin, syaitan dan iblis. Jika hal yang dibisikkan mengandung nilai-nilai kebenaran-Nya, maka pembisik atau penyampainya disebut malaikat Jibril. Dan hal inipun makin memperkuat pemahaman atau keyakinan yang ada sebelumnya, sampai akhirnya telah bisa mengantarkan para nabiNya kepada kenabiannya. "dia (Al-Qur’an) dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)," - (QS.26:193) "ke dalam hatimu (Muhammad), agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan," - (QS.26:194) "Katakanlah: "Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkan (AlQur'an) ke dalam hatimu, dengan seijin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya, dan menjadi petunjuk, serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman"." - (QS.2:97) "Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Rabb-mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk, serta khabar gembira, bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)"." (QS.16:102)

• Hanya akal, satu-satunya alat pada tiap manusia, untuk menilai tingkat “kebenaran” dari segala informasi lahiriah dan batiniah, yang ditangkap oleh berbagai alat inderanya itu, termasuk untuk menilai atau memahami: tanda-tanda kekuasaan-Nya, wahyu-Nya, AlQur’an, Hadits, ucapan orang lain, bisikan para makhluk gaib, dsb.

Berbagai manusia tertentu (juga termasuk para makhluk gaib) justru bisa dengan amat mudah mengaku-aku, bahwa sesuatu keterangan adalah kebenaran-Nya, wahyu-Nya, Sunnah Nabi (hadits), dsb. Maka mestilah telap dipakai akal-sehat dan pemahaman atau keyakinan yang telah ada

1072

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

sebelumnya, untuk bisa menilai kebenaran keterangan tersebut. "Sebenarnya, Al-Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata, di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami, kecuali orang-orang yang zalim." - (QS.29:49) "Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah adalah orang-orang yang pekak dan tuli (atas kebenaran-Nya), yang tidak mengerti apa-apapun." - (QS.8:22)

Topik: Janji dan ancaman-Nya PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI PEMAHAMAN PADA BUKU INI Janji dan ancaman-Nya • Dalam segala perbuatan-Nya di alam semesta ini (melalui aturan-Nya atau sunatullah), juga terkandung ke-Maha Adil-an Allah, dalam menepati janji-Nya (untuk memberi berbagai nikmat-Nya), dan menjalankan ancaman-Nya (untuk memberi berbagai hukumanNya), di dunia dan di akhirat. • Segala perbuatan-Nya sama sekali tidaklah relevan, jika dibandingkan dengan sifat adil atau tidak konsistennya manusia. Karena segala "rumus proses" pemberian balasan-Nya (nikmat dan hukuman-Nya) dalam sunatullah, justru bersifat pasti berlaku (mutlak) dan tidak berubah-ubah (kekal), sejak ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta sampai akhir jaman.

• Maka amat tidak relevan, jika segala perbuatan-Nya bisa dinilai bersifat: tidak baik, tidak

adil, tidak konsisten, bisa berdusta, zalim atau aniaya, sewenang-wenang, sekehendaknya, melanggar janji-janji-Nya, dsb.

Penilaian semacam ini hanyalah relevan untuk hal-hal yang relatif, tidak pasti terjadinya (tidak mutlak) ataupun bisa berubah-ubah (tidak kekal), seperti yang biasanya terjadi pada manusia. Bahkan hal-hal seperti itupun mustahil terjadi, karena justru bisa mengurangi atau menghilangkan segala kemuliaan dan kesempurnaan-Nya. Segala kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya ataupun sifat-sifat mutlak-Nya lainnya, bukanlah pasti ‘tampak nyata’ bagi manusia, tetapi justru pasti ‘tampak gaib’ dalam segala halnya (amat sangat halus dan tidak kentara). Dan sama-sekali tidak ada pertentangan antar semua sifat-Nya (pada Asmaul Husna), bahkan semua sifat-Nya merupakan satu kesatuan yang utuh, yang justru amat keliru atau amat berbahaya, jika hanya diperhatikan sebagian saja darinya. Sifat-sifat adalah gambaran tentang sesuatu zat, menurut sesuatu di luar zat itu sendiri. Jika salah-satu saja dari sifat-sifat zat itu telah diabaikan atau tidak diperhatikan, maka tindakan ini sama saja dengan mengada-adakan sesuatu, yang berbeda dari zat itu sendiri. Dalam hal ini sama saja dengan mengada-adakan "Tuhan lain", yang berbeda dari yang diketahui oleh nabi Muhammad saw (Allah Yang Maha sempurna). Hal seperti itulah sumber utama dari timbulnya berbagai bentuk kemusyrikan (politheisme). Dan biasanya kesempurnaan sifat-sifat Tuhan, dikurangi untuk memenuhi berba-


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1073

gai kepentingan manusia (terutama berbagai kepentingannya yang bersifat duniawi, pada pembawa ataupun umat penganut kemusyrikan). Justru manusia yang harus menilai kembali kebenaran penafsirannya atas segala perbuatan-Nya yang memang Maha Halus. Juga bukannya justru memaksakan penilaian amat subyektifnya, dalam menilai tentang Allah. "Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau. Sesungguhnya, Allah Maha Halus, lagi Maha Mengetahui." - (QS.22:63) "Di antara manusia, ada yang membantah tentang Allah, tanpa ilmu pengetahuan, dan …" - (QS.22:3)

• Dalam Al-Qur'an dan Hadits, yaitu "siapa yang berbuat baik akan masuk surga, dan

siapa yang berbuat jahat akan masuk neraka" dan "barang siapa yang menelan harta anak yatim piatu dengan cara tidak adil, maka ia sebenarnya menelan api masuk ke dalam perutnya". Betul, sesuai pemahaman aliran Asy'ariah, bahwa kata "siapa" di atas memiliki arti "sebagian orang", bukan "semua orang". Tetapi penilaian akhir tentang siapa yang berbuat baik atau jahat itu bukanlah ukuran atau konteks yang bersifat "sesaat" pada tiap kebaikan atau keburukan, melainkan justru diukur pada "sepanjang hidup" tiap manusia sampai wafatnya, untuk memperoleh balasan-Nya yang terakhir pula (Surga dan Neraka). Ada pintu taubat yang bisa dilalui oleh tiap manusia sepanjang hidupnya, walau ada pula taubat yang tidak akan diterima-Nya (bagi dosa-dosa besar tertentu). Konteks tentang "Surga atau Neraka" adalah hasil seluruh kehidupan manusia, sedangkan konteks tentang "sesuatu perbuatan" hanyalah sesaat tertentu saja dalam kehidupan manusia. Maka ayat Al-Qur'an dan Hadits di atas juga amat sangat tidak relevan, untuk menilai bahwa Allah bisa berbuat sekehendak-Nya, atau bisa melanggar janji-janji-Nya (dalam memberi nikmat atau hukuman-Nya).

• Bagi tiap perbuatan manusia memang pasti terdapat balasan-Nya yang setimpal. Tetapi

balasan-Nya secara lahiriah justru tidak berbeda kepada orang yang berbuat baik ataupun orang yang berbuat jahat, dari sesuatu perbuatan yang sama (segala keadaannya sama pula, kecuali pelakunya yang berbeda). Justru balasan-Nya secara batiniah yang berbeda bagi orang-orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat jahat (atau bagi orang beriman dan orang kafir). Hanya hak Allah atau hanya Allah Yang Maha mengetahui besar balasan-Nya yang setimpal itu (lahiriah dan batiniah). Bahkan para nabi-Nya tidak memiliki pengetahuan dengan amat jelas tentang hal ini. Pengetahuan para nabi-Nya hanyalah bersifat umum dan relatif (seperti: pahalanya xx kali pahala daripada …). Sesungguhnya nilai amalan atas setiap perbuatan manusia bersifat pasti dan absolut, sama sekali tidak tergantung waktu, ruang ataupun tidak tergantung laknat ataupun do’a manusia. Jumlah nilai amalan absolut inilah yang dijumlah (dihisab-Nya) dengan amat cepat di Hari Kiamat. Seperti halnya segala bentuk balasan-Nya lainnya, balasan-Nya secara batiniah pasti

1074

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

mengubah keadaan-keadaan batiniah ruh pelakunya, tiap saatnya saat sesuatu amalperbuatan sedang dilakukan (baik dan buruk). Keadaan-keadaan batiniah ruh inilah yang bisa diusahakan untuk diperbaiki (disucikan) sepanjang hidup tiap manusia, melalui usaha bertaubat di atas. Dan hasil dari diterima-Nya taubat inilah yang bisa membatalkan ancaman-Nya, untuk memberi hukuman kepada orang yang berbuat jahat. "…. Dan Allah memberi rejeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, tanpa batas (kepada orang yang kafir ataupun yang beriman)." - (QS.2:212) "…. Dan Engkau beri rejeki, kepada siapa yang Engkau kehendaki, tanpa dihisab (tanpa dibatasi, ditunda-tunda dan sesuai dengan usahanya)`." - (QS.3:27)

• Keadaan-keadaan batiniah pada orang yang telah berbuat dosa-dosa besar, ada yang

masih bisa diperbaiki, tetapi ada pula yang amat sulit diperbaiki (sulit untuk kembali ke jalan-Nya yang lurus, seperti pada kemusyrikan berat). Hal ini sering disebut sebagai dijadikan-Nya buta, bisu, tuli atau pekak mata batiniah manusianya atas tiap kebenaran-Nya. Tetapi kemusyrikan misalnya, amat luas cakupan dan tingkatannya, bukanlah hanya yang jelas-jelas tampak "menyembah" Ilah-ilah selain Allah, karena Ilah-ilah ini justru ada banyak bentuknya, seperti: berhala atau patung, orang suci, benda keramat, benda langit, nafsu (harta, tahta, wanita), anak atau keluarga, dsb. Maka kemusyrikan juga ada yang paling berat sampai yang paling ringan. Bentuk kemusyrikan berat adalah manusia jelas hanya menyembah kepada Ilah-ilah selain Allah (seperti: berhala atau patung, orang suci, benda keramat, benda langit, dsb). Bentuk kemusyrikan menengah adalah manusia jelas menyembah kepada Allah, tetapi juga jelas masih menyembah kepada Ilah-ilah selain Allah (seperti: orang suci, bendabenda keramat, dsb). Bentuk kemusyrikan ringan adalah manusia jelas hanya menyembah kepada Allah, tetapi tanpa sadar juga "menyembah" ilah-ilah batiniah (seperti: harta, tahta, wanita, anak atau keluarga, dsb). Dan pada ketiga bentuk kemusyrikan itu, juga terdapat banyak variasinya. Uraian berbagai kemusyrikan di atas, sekilas menggambarkan, tentang amat luasnya cakupan dan tingkatan sesuatu dosa tertentu. Namun dalam berbagai ajaran agama Islam, juga terdapat berbagai penjelasan tentang batasan pada dosa-dosa yang amat sulit diperbaiki. "maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati, yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga, yang dengan itu mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." - (QS.22:46) "Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat-Rabb-mereka, mereka tidaklah menghadapinya (kecuali) sebagai orang-orang yang tuli dan buta." (QS.25:73) "Mereka tuli, bisu, dan buta (terhadap kebenaran-Nya), maka tidaklah mereka akan dapat kembali (ke jalan yang benar)," - (QS.2:18)


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1075

• Surga dan Neraka memiliki banyak sekali tingkatan. Beberapa tingkatan yang disebut dalam Al-Qur’an, hanyalah pengelompokkan secara umum, sebagai contoh gambaran.

"Dan bagi orang yang takut (pada) saat menghadap Rabb-nya, ada dua surga." (QS.55:46) "Dan selain daripada (dua) surga itu, ada dua surga lagi." - (QS.55:62)

• Sekali lagi Surga dan Neraka justru memiliki banyak sekali tingkatan, bahkan jauh lebih

banyak dari yang disebut dalam Al-Qur’an, yang hanya sebagai contoh pengelompokkan secara umum dan perumpamaan simbolik. Sehingga tidak perlu untuk disebut, bahwa Allah akan memasukkannya ke dalam Surga atau Neraka, buat sementara atau buat selama-lamanya, karena semuanya pasti buat selama-lamanya (kekal). Adanya keterangan tentang tinggal "sementara" di Surga ataupun di Neraka, diduga karena: a. Konteks Surga dan Neraka di sini adalah keadaan batiniah tiap ruh manusia selama di dunia (atau kehidupan akhiratnya selama di dunia). Tinggal sementara di Surga adalah orang itu awalnya beriman, lalu murtad dan meninggal dunia dalam keadaan kafir. Dalam arti yang lainnya, ia terlalu menikmati Surga duniawi, tetapi melupakan kehidupan akhiratnya. Tinggal sementara di Neraka adalah ia awalnya kafir-musyrik, lalu masuk Islam dan meninggal dunia dalam keadaan beriman. Dalam arti yang lainnya, ia telah bersusah payah membangun kehidupan akhiratnya di dunia, dan juga tidak melampaui batas dalam kehidupan dunia fananya. Konsep "tinggal sementara" di sini cukup mudah diterima oleh akal-sehat, dan cukup sering disebut dalam Al-Qur’an. b. Konteks Surga dan Neraka di sini adalah adanya berbagai ayat dalam Al-Qur’an, tentang janji dan ancaman-Nya untuk memberi Surga atau Neraka, pada sesuatu amal-perbuatan tertentu. Maka konsep "tinggal sementara" itu adalah hasil kompromi dari adanya ayat-ayat tersebut. Tetapi konsep "tinggal sementara" di sini cukup sulit bisa diterima oleh akal-sehat, karena sepanjang hidupnya tiap manusia umumnya jarang yang sama sekali bersih dari dosa, sebaliknya juga jarang yang tidak pernah melakukan kebaikan. Sehingga ia bisa pula pernah "beberapa kali" dijanjikan-Nya dengan Surga, sebaliknya juga pernah "beberapa kali" diancaman-Nya dengan Neraka. Akhirnya, konsep "tinggal sementara" di sini bisa menimbulkan beberapa pertanyaan ataupun keraguan, seperti: - Apakah penghisaban "masih ada artinya", karena tidak langsung selesai menimbang sekaligus "seluruh" amal-perbuatan tiap manusianya?; - Di manakah tempat tinggal pertama kali ataupun terakhir kalinya?; Juga apakah lolos lebih dahulu saat melewati Sirath?; - Apakah ada pindah tempat tinggal secara besar-besaran jutaan manusia dari Surga ke Neraka, ataupun sebaliknya (bisa beberapa kali pula)?;

1076

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

- Berapa lama masing-masing "tinggal sementara" di Surga dan di Neraka, sementara tempat tinggal terakhirnya mestinya bersifat kekal?; dsb

Hal yang lebih masuk akal adalah, "segala nilai amalan" yang dikumpulkan oleh tiap manusia sepanjang hidupnya, dijumlah-Nya (dihisab-Nya) di Hari Kiamat. Lalu dari jumlah nilai amalan itulah ditentukan-Nya langsung bentuk janji atau ancaman-Nya yang sesungguhnya (Surga ataupun Neraka), atau ditentukan-Nya langsung tempat tinggalnya yang terakhir, untuk selama-lamanya (tidak perlu ada lagi "tinggal sementara" semacam ini). "Itu hanyalah kesenangan (duniawi yang) sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahanam. Dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya." - (QS.3:197) "…. Katakanlah: `Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu (di dunia). Sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka`." - (QS.39:8)

• Allah bisa memberi ampunan kepada seseorang, tetapi di lain pihak tidak bisa memberi ampunan kepada orang lain, yang telah berbuat dosa yang sama.

Tetapi "ampunan" sama-sekali tidak ada kaitannya dengan pemberian balasan-Nya, yang diberikan-Nya tepat pada saat perbuatan dosa itu selesai dilakukan (kedua orang ini pasti tetap mendapat balasan-Nya yang sama). "Ampunan" justru hanya terkait dengan berbagai balasan-Nya atas perbuatan lainnya, sebagai usaha bertaubat manusia atas dosa-dosanya sebelumnya. "Sama saja bagi mereka, kamu mintakan atau tidak kamu minta (ampunan) bagi mereka, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." - (QS.63:6) "Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabb-nya, Yang tidak tampak oleh mereka (karena Maha gaib), mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar." - (QS.67:12) "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa," (QS.3:133)

Topik: Sifat Allah pada umumnya PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI PEMAHAMAN PADA BUKU INI Sifat Allah pada umumnya • Allah justru sangat jelas mempunyai sifat-sifat, yang disebutkan pada berbagai namanama terbaik yang hanya milik Allah (Asmaul Husna). Bahkan ribuan kali disebut dalam Al-Qur’an (seperti "Yang Maha …").

• Sifat pasti melekat pada suatu zat (esensi), atau mustahil ada sifat tanpa ada zatnya. Mustahil ada zat tanpa memiliki sifat, kecuali zat itu memang tidak ada. Karena itu sifat suatu zat yang paling dasar dan minimal adalah "ada" atau "wujud".

Tetapi ‘sifat’ pasti tetap berbeda dengan ‘zat’ atau ‘esensi’. Karena sifat hanyalah hasil penilaian atau pemahaman atas esensi dan segala tindakan


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1077

sesuatu zat, oleh segala sesuatu di luar zat itu sendiri. Maka paham tentang banyak sifat-sifat-Nya yang kekal, sama sekali bukanlah suatu kemusyrikan atau politheisme, jika sifat-sifat itu hanyalah milik "satu" zat saja, yaitu Zat Allah, Yang Maha kekal dan Maha Sempurna. Tetapi kemusyrikan justru bisa timbul, jika manusia hanyalah mengakui atau menyakini sebagian dari sifat-sifat Zat Allah, karena manusia itu sama saja dengan menyembah sesuatu yang "bukan" atau "lain dari" Zat Allah sendiri. Hakekat sesuatu zat akan berkurang (berbeda dari zat yang sesungguhnya), jika hanya salah-satu saja dari sifat-sifatnya telah diabaikan (tidak diperhatikan). Zat Tuhan atau Allah sesungguhnya mesti disembah karena memiliki "segala" kesempurnaan dan kemuliaan-Nya, bukan secara sebagian-sebagian. Contoh yang amat dikenal adalah kisah ketika nabi Ibrahim as sedang mencari Tuhannya, Yang Maha sempurna. Dan agama Islam amat mengharamkan kemusyrikan itu (dilaknat-Nya), karena segala Ilah selain Allah pasti banyak memiliki kekurangan, yang akhirnya pasti akan mengantarkan penyembahnya kepada kebinasaan ataupun kehinaan.

• Semua sifat-Nya pada Asmaul Husna adalah dalam arti yang sebenarnya. Persoalannya adalah semua sifat-Nya itu ‘tampak gaib’ (amat sangat halus dan tidak kentara) ‘tergambar’ dalam segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di seluruh alam semesta, yang bersifat mutlak dan kekal (tanda-tanda kekuasaan-Nya), sebagai hasil perwujudan dari segala perbuatan-Nya di alam semesta. Maka sifat-sifat-Nya yang sesungguhnya amat nyata dan jelas terjadinya itu hanyalah bisa dirasakan secara batiniah, atau hanyalah bisa dinalar dengan logika-intuisi akal pikiran manusia secara batiniah pula (ditangkap dengan mata batiniah manusia, kalbu dan akal).

• Semua sifat-Nya pada hakekatnya bersifat kekal, dan disebut juga sebagai Fitrah Allah. Tetapi "perwujudan" dari sifat-sifat Allah, yang bisa diketahui oleh manusia di alam semesta (khususnya yang diketahui oleh nabi Muhammad saw, dan disebut dalam Asmaul Husna), tidaklah bersifat kekal, jika dikehendaki-Nya alam semesta ini justru dihancurkan-Nya di akhir jaman (atau saat manusia terakhir wafat). "Perwujudan" dari sifat-sifat-Nya itu diciptakan-Nya, sehingga bisa hancur-binasa (tidak kekal). Dan konteks kekekalannya (tidak berubah-ubah) hanya sejak awal penciptaan alam semesta, sampai akhir jaman (hanya sebatas usia alam semesta). Setelah kedatangan Hari Kiamat (berakhirnya kehidupan dunia fana ini), ataupun setelah dibukakan-Nya segala hakekat kebenaran-Nya, maka manusia relatif “bisa” benarbenar "memahami" sifat-sifat-Nya yang sesungguhnya dan kekal itu.

• "Allah Maha mengetahui", karena segala zat ciptaan-Nya (nyata & gaib, benda mati & makhluk hidup) dari yang paling kecil sampai yang paling besar, pasti berada dalam kekuasaan-Nya. Maka segala zat ciptaan-Nya itu pasti pula berada dalam pengetahuan-Nya. Mustahil sesuatu bisa dikuasai, tanpa diketahui. Pengetahuan adalah bagian yang amat penting dari kekuasaan.

Pertanyaannya hanyalah, apakah Allah ‘selalu’ (tiap saat) menguasai setiap zat ciptaan-

1078

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Nya, ataukah hanya pada saat-saat tertentu saja (bisa ada sesaat saja, tanpa dikuasaiNya)?. Allah Yang Maha Pencipta, pastilah "selalu" (tiap saat) menguasai tiap zat ciptaan-Nya, termasuk pada manusia yang diberikan-Nya berbagai kebebasan. Bahkan tiap atom dan tiap ruh pada tubuh manusia, berada di bawah kekuasaan-Nya (pasti tunduk kepada segala perintah-Nya). Juga kebebasan atau kekuasaan manusia sama sekali tidak ada artinya dibandingkan dengan kekuasaan-Nya. Maka hal ini mustahil bisa mengurangi kekuasaan-Nya, apalagi kebebasan atau kekuasaan manusia memang sengaja diberikan-Nya. Maka Allah Yang Maha mengetahui segala hal atas setiap zat ciptaan-Nya. "Dia-lah Allah, Yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. Dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh tingkat langit!. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." - (QS.2:29) "Sesungguhnya bagi Allah, tidak ada suatupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit." - (QS.3:5) "…. Tidak luput dari pengetahuan Rabb-mu, biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." - (QS.10:61)

• Terkait pengetahuan-Nya tentang tiap zat ciptaan-Nya di atas, bahkan berbagai iblis,

syaitan, jin dan malaikat, yang justru pasti selalu mengikuti tiap manusia, tiap saatnya sepanjang hidupnya, tentunya pasti mengetahui pula segala keadaan atau pengalaman pada manusia yang diikutinya. Bahkan para makhluk gaib itu sangat cerdas untuk mengolah segala keadaan manusia untuk bisa menggodanya (memberi ujian-Nya) ataupun sebaliknya untuk bisa memberi pengajaran-Nya, yang berupa segal bentuk ilham-bisikan-godaan (negatif-sesat-buruk ataupun positif-benar-baik), ke dalam pikiran tiap manusianya. Termasuk adanya para malaikat Rakid dan 'Atid yang mencatat tiap amal-perbuatan baik dan buruk pada tiap manusianya. Padahal di lain pihak, para makhluk gaib justru sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas alam batiniah ruh manusia (alam pikiran), karena manusia (dengan akalnya) tetap memiliki otoritas sepenuhnya, untuk mengatur alam batiniah ruhnya sendiri. Maka para makhluk gaib itu pada dasrnya hanya bisa "mengganggu" dan "mengetahui" segala keadaan pada alam batiniah ruh manusia, tetapi tidak bisa menguasainya. Pada orang yang kesurupan misalnya, pada dasarnya bukanlah karena "dikuasai" oleh para makhluk gaib, tetapi hanyalah karena akal manusia itu sendiri yang tidak dipakai semestinya untuk mengendalikan dirinya (kehilangan kesadarannya). "Bagi manusia ada malaikat-malaikat, yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka …." - (QS.13:11) "Sesungguhnya, syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabb-nya." - (QS.16:99) "Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir, untuk menghasud mereka membuat maksiat dengan sungguh-sung-


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1079

guh," - (QS.19:83) "agar Dia menjadikan apa yang dimaksudkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, dan (orang-orang) yang kasar hatinya. Dan …," - (QS.22:53)

• Keadaan adalah segala keterangan terukur tentang sifat zat (seperti: berat dan warna adalah sifat, sedang 5 kg, 2 ons, biru dan merah adalah keadaan). Maka "keadaan" dan "sifat" bukanlah dua hal yang bisa diperbandingkan.

Secara umum, sifat adalah ciri khas yang membedakan sesuatu zat dari zat lainnya, pada sesuatu saat tertentu. Serta sifat adalah gambaran atau definisi tentang sesuatu zat, yang dibuat oleh segala sesuatu di luar zat itu sendiri. Dan sifat tergantung kepada:zatnya, hal-hal apa yang ingin ditunjukkan oleh zat itu sendiri kepada segala sesuatu di luar zat itu sendiri, dan tentunya juga pada hal-hal apa yang bisa diamati atau diketahui oleh segala sesuatu tentang zat itu. Sifat terdiri dari dua jenis, yaitu: - Sifat statis : (atau sifat esensi-pembeda) Sifat ini bisa diketahui ketika zat tidak melakukan apa-apa (diam, tidak melakukan sesuatu proses apapun atau segala keadaannya tidak berubah-ubah). Sifat ini amat jelas melekat pada zatnya, berupa gambaran langsung tentang wujud atau sosok zatnya. Tentang Zat Allah, amat sedikit sifat jenis ini yang diketahui, karena memang Allah Maha gaib atau Maha tersembunyi. Bahkan mustahil bisa diketahui hal-hal yang terkait langsung dengan Zat Allah (hanya bisa diketahui hal-hal yang tidak langsung terkait). - Sifat dinamis : (atau sifat perbuatan-proses) Sifat ini bisa diketahui ketika zat melakukan sesuatu hal (bergerak, melakukan satu atau banyak proses atau berbagai keadaannya berubah-ubah).

Tentang Zat Allah, sifat jenis ini meliputi hampir semua sifat-Nya pada Asmaul Husna. Khusus tentang sifat-Nya Yang Maha gaib atau Maha tersembunyi, di sini bukanlah langsung tentang Zat Allah, tetapi tentang segala perbuatan-Nya yang memang tersembunyi, amat halus, alamiah dan seolah-olah terjadi begitu saja. Dan pada dasarnya, semua sifat-Nya pada Asmaul Husna adalah gambaran yang dipahami nabi Muhammad saw dari segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di alam semesta ini, yang bersifat mutlak dan kekal (tanda-tanda kekuasaan-Nya). Ringkasnya, semua sifat-Nya itu adalah gambaran atas hasil dari segala perbuatanNya di alam semesta ini, yang bisa dijangkau oleh manusia (nabi Muhammad saw). Maka dari sisi manusia, semua sifat-Nya pada Asmaul Husna bisa disebut kekal, jika perbuatan-Nya di alam semesta ini tidaklah berubah-ubah, sejak manusia yang pertama lahir sampai manusia yang terakhir wafat (ataupun selama alam semesta masih tegakkokoh). Tetapi umat Islam menyakini bahwa Allah bersifat Maha Kekal, dan penciptaan alam semesta adalah perwujudan dari Fitrah Allah. Sedang fitrah itu sendiri, adalah sifat-sifat yang tidak berubah-ubah tentang sesuatu zat. Maka Fitrah Allah adalah kesatuan dari semua sifat-Nya pada Asmaul Husna. Dengan

1080

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

sendirinya, semua sifat-Nya itu juga tidak berubah-ubah (kekal). "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama-Nya (sebagai perwujudan dari) Fitrah Allah, Yang telah menciptakan manusia (dan seluruh alam semesta ini) menurut Fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada Fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya," - (QS.30:30)

Topik: Anthropomorphisme (sifat jasmani semu) PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI PEMAHAMAN PADA BUKU INI Anthropomorphisme (sifat jasmani semu) • Zat Allah bersifat immateri atau gaib, dan Allah mustahil mempunyai sifat-sifat lahiriah ataupun tubuh jasmani lahiriah-fisik-nyata. Segala hal gaib pastilah tetap bersifat gaib, seperti: ruh, para makhluk gaib, alam kubur, alam akhirat (termasuk surga dan neraka), dsb.

Tidak ada sesuatu kemuliaan dan kesempurnaan-pun pada segala sesuatu hal yang memiliki sifat-sifat lahiriah ataupun tubuh jasmani lahiriah. Bahkan manusiapun terlahir dari benih jasmani yang hina (air mani). Dan kekuasaan sesuatu zat sama sekali tidak ada hubungannya dengan wujud zatnya, apalagi dengan tolak ukur keberadaan tubuh jasmani lahiriah. Segala hal lahiriah justru pasti memiliki segala keterbatasan, kekurangan dan bahkan kehinaan. Manusia justru juga diuji-Nya di kehidupan dunia, yang penuh dengan segala ketidaksempurnaan dan kehinaan, justru agar ia bisa berusaha meraih kemuliaan di kehidupan akhiratnya (kehidupan batiniah ruhnya, yang gaib). Hanya manusia yang diuji-Nya semacam ini, dengan diberikan-Nya akal dan nafsu yang sempurna, untuk bisa memiliki kebebasan dalam berkehendak dan berbuat. Sedang segala makhluk ciptaan-Nya lainnya, justru pasti tunduk, patuh dan taat kepada Allah, bahkan termasuk iblis. Baca pula topik "Makhluk hidup gaib", tentang tugas-tugas yang diberikan-Nya kepada para makhluk gaib, untuk memberi pengajaran dan ujian-Nya kepada manusia secara batiniah. Namun jika manusia bisa benar-benar berhasil menjalani kehidupan dunianya, sesuai dengan keredhaan-Nya bagi manusia, maka manusia justru bisa jauh lebih mulia daripada segala makhluk ciptaan-Nya lainnya, bahkan termasuk di atas para malaikat yang paling mulia sekalipun. Bahkan para malaikat juga ‘bersujud’ (tunduk) kepada manusia. Walau begitu perbandingan inipun tidaklah penting atau tidaklah berguna pada kehidupan di akhirat, karena manusia sendiri amat berragam dari yang berhati setengah iblis, sampai yang berhati setengah malaikat.

• Berbagai gambaran di dalam Al-Qur'an bahwa Allah terkait sifat-sifat jasmani, pastilah memiliki interpretasi lain, seperti: "tahta kerajaan" artinya "kekuasaan", "mata" artinya "pengetahuan", "muka" artinya "tanda-tanda kekuasaan-Nya", "tangan" artinya "sunatullah", "dua tangan" artinya "sunatullah lahiriah dan batiniah", "kursi atau ‘Arsy-Nya" artinya "amat tingginya kedudukan kemuliaan dan kebenaran-Nya", dsb.

Bahwa segala gambaran atau penjelasan dalam Al-Qur'an tentang hal-hal yang gaib,


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1081

seperti di atas, pada dasarnya hanyalah berupa contoh-perumpamaan, agar umat jauh lebih mudah untuk memahami atau membayangkannya secara tidak langsung. Segala contoh-perumpamaan simbolik mustahil bisa dianggap sebagai fakta-kenyataankebenaran yang sebenarnya. "Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia. Dan tiada yang memahaminya, kecuali orang yang berilmu." - (QS.29:43) "…. Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia, supaya mereka berpikir." - (QS.59:21) "Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia, dalam Al-Qur'an, setiap macam perumpamaan, supaya mereka dapat pelajaran." - (QS.39:27) "…. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia, supaya mereka selalu ingat." - (QS.14:25) "Dan sesungguhnya, telah kami buat dalam Al-Qur'an ini, segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan …." - (QS.30:58) "Dan sesungguhnya, Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur-'an ini, bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah." - (QS.17:89; QS.18:54) "Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa, ialah (seperti taman yang) mengalir sungai-sungai di dalamnya, (pohon-pohon yang) buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah …." - (QS.13:35)

• Bahwa Zat ataupun sifat Allah amat sangat berbeda daripada zat ataupun sifat segala

zat ciptaan-Nya. Bahkan Zat ataupun sifat Allah amat sangat berbeda daripada zat ataupun sifat para makhluk gaib-Nya, yang juga sama-sama gaib. Karena ada manusia yang pernah mengetahui (‘melihat’ dengan mata batiniah) berbagai penampakan "wujud asli" para makhluk gaib itu, seperti yang telah dialami oleh beberapa nabi-Nya, ataupun sejumlah amat terbatas manusia pada berbagai jaman sampai sekarang. Sebaliknya mustahil ada manusia yang bisa mengetahui "wujud asli" Zat Allah, di dunia ataupun di akhirat, karena memang mustahil akan sanggup. Bahkan manusiapun misalnya: mustahil sanggup mengetahui segala benda mati ciptaan-Nya (nyata-fisik-lahiriah) yang ada di seluruh alam semesta ini, mustahil mengetahui bagaimana ujung langit lahiriah; mustahil mengetahui apa materi-partikel terkecil yang sebenarnya yang ada di dalam atom; dsb.

• Zat Allah juga mustahil mampu dijangkau oleh nalar-intuisi-logika akal pikiran manusia (lahiriah dan batiniah), bahkan termasuk para nabi-Nya.

Walau jangkauannya amat sangat luas, tetapi akal pikiran tiap manusia (juga termasuk para nabi-Nya) hanyalah bisa menjangkau segala hasil ‘tindakan’ Zat Allah di alam semesta ini (tanda-tanda kekuasaan-Nya). Dan dari tanda-tanda kekuasaan-Nya itulah manusia bisa memahami berbagai sifat Allah pada Asmaul Husna (bisa mengenal Allah). Dari berbagai tindakan sesuatu zat, maka bisa dipahami berbagai kehendak zat itu, lalu selanjutnya juga bisa dipahami berbagai sifat zat itu

1082

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

"Dan sesungguhnya, Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (kebenaran-Nya) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan-Nya), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat-Nya). Mereka itu sebagai binatang ternak (amat bodoh), bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS.7:179)

Topik: Melihat Allah PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI PEMAHAMAN PADA BUKU INI Melihat Allah • Zat Allah bersifat immateri atau gaib, dan Allah mustahil bisa dilihat dengan mata (mata lahiriah) ataupun mustahil bisa diketahui dengan akal (mata batiniah) manusia, di dunia ataupun di akhirat.

"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata (dari segala zat ciptaan-Nya), sedang Dia dapat melihat segala penglihatan (zat ciptaan-Nya) itu dan Dia-lah Yang Maha Halus, lagi Maha Mengetahui." - (QS.6:103) Tetapi "keberadaan" Zat Allah ataupun segala hal yang gaib lainnya (seperti: ruh; para makhluk gaib; alam kubur; alam akhirat, termasuk surga dan neraka; dsb), justru bisa dirasakan atau dipahami dengan mata batiniah manusia (intuisi-nalar-logika akal-pikiran batiniah) selama di kehidupan dunianya. Sedang kehidupan akhirat yang kekal di Hari Kiamat, pada dasarnya hanyalah kelanjutan dari kehidupan akhirat yang telah dibangun (secara sadar ataupun tidak) oleh manusia selama di dunia (kehidupan batiniah ruh manusia). Lebih tepatnya kehidupan akhirat di Hari Kiamat, terbentuk setelah dibukakan-Nya segala hakekat cahaya kebenaran-Nya, setelah dihisab-Nya segala amal-perbuatan tiap manusia, dan setelah disempurnakan-Nya segala nikmat dan hukuman-Nya bagi tiap manusia. Kehidupan di Hari Kiamat, bukanlah berbentuk kehidupan duniawi-jasmaniah-fisik-lahiriah "kedua" setelah kehidupan dunia saat ini, tetapi berbentuk berupa kehidupan batiniah pada tiap ruh manusia (seperti kehidupan para malaikat di Surga saat ini). Maka tidak ada lagi mata lahiriah, ataupun segala hal jasmaniah-fisik-lahiriah lainnya di Hari Kiamat. Penglihatan manusia kepada Allah di dunia dan di akhirat, adalah penglihatan batiniah. Juga tetaplah bukan berupa penglihatan kepada "Zat" Allah.

• Dalam Al-Qur’an, "Dan tidak ada bagi seorang manusiapun, bahwa Allah berkata-kata

dengan dia, kecuali dengan perantaraan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat Jibril), lalu diwahyukan kepadanya (manusia itu) dengan seijin-Nya, apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi, lagi Maha Bijaksana." - (QS.42:51)

Jelas pada ayat ini, bahwa untuk "berbicara" dengan Allah sekalipun, manusia hanya bi-


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1083

sa melakukannya secara tidak langsung ataupun hanya bisa melalui perantara, maka le-bih mustahil bagi manusia, untuk bisa "melihat" langsung Zat Allah sesungguhnya.

• Dalam Al-Qur'an "Tuhanku, perlihatkanlah diri-Mu kepadaku (Musa). Sabda Tuhan: 'Engkau tidak akan dapat melihat diri-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap tinggal di tempatnya, niscaya engkau akan melihat diri-Ku'. Ketika Tuhannya tampak bagi gunung itu, maka iapun hancur, dan Musa jatuh pingsan." - (QS.7:143).

Nabi Musa as tidak berhasil melihat Allah, karena puncak gunung Sinai justru memang hancur lebur. Bahkan nabi Musa as dan sejumlah pengikutnya terjatuh pingsan, karena letusan gunung Sinai itu (bukan pingsan karena telah melihat Allah).

• Dalam Al-Qur'an "Wajah-wajah yang pada ketika itu (di hari Kiamat) berseri-seri memandang kepada Tuhan-nya." - (QS.75:22,23). Atau dalam Al-Qur'an "Penglihatan tidak dapat menangkap-Nya, tetapi Dia dapat menangkap segala penglihatan. Dia adalah Maha Halus dan Maha Tahu." - (QS.6:103). Atau menurut hadits, "manusia akan melihat Allah di hari Kiamat sebagaimana mereka melihat bulan purnama". Atau menurut hadits, "bukankah Tuhan itu cahaya, bagaimana aku dapat melihat-Nya".

Berbagai kata "melihat" di atas bukanlah berarti memandang atau melihat, tetapi berarti memahami segala kebesaran dan kemuliaan-Nya (atau segala cahaya kebenaran-Nya, yang amat sangat terang), setelah dibukakan-Nya segala hakekat kebenaran-Nya pada Hari Kiamat. Tetapi hal ini tidaklah membutakan "mata batiniah" (seperti melihat bulan purnama), sebagaimana halnya mata lahiriah manusia yang bisa menjadi buta, ketika melihat langsung cahaya matahari. Dan hal ini berkebalikan dari keadaan "mata batiniah" orang-orang kafir yang telah dibuat-Nya buta, bisu, tuli atau pekak terhadap cahaya kebenaran-Nya, pada kehidupan di dunia ataupun di akhirat. Penglihatan batiniah yang amat sangat terang di atas, justru menimbulkan kebahagiaan yang sempurna bagi orang-orang yang beriman, yang amat jauh lebih tinggi (tidak sebanding) daripada segala kebahagiaan yang dialami oleh manusia selama di dunia.

• Pada dasarnya, tidak ada hambatan sama-sekali bagi akal-pikiran manusia untuk bisa memahami segala perbuatan-Nya dan segala perbuatan dari zat ciptaan-Nya di alam semesta. Dan amat banyak keutamaan bagi orang yang berilmu, yang disebut-sebut dalam Al-Qur’an. Bahkan pada dasarnya, hanya hakekat "zat" gaib (zat Allah dan zat ruh-ruh makhlukNya) yang mustahil mampu dijangkau oleh akal-pikiran manusia.

Bahkan nabi Muhammad saw bisa memahami alam akhirat di Surga dan di Neraka, atau berada dekat di sisi ‘Arsy-Nya, ketika Nabi mengalami perjalanan batiniah-rohanispiritual yang luar biasa ('Isra Mi'raj). Persoalannya hanyalah karena berbagai keterbatasan jasmaniah-fisik-lahiriah manusia, termasuk: waktu atau umur, ruang, kesibukan atau perkembangan jaman yang makin meningkat, kapasitas tampung otak atau akal, dsb. Padahal wahyu-wahyu-Nya pada nabi Muhammad saw, juga perolehan yang maksimal bagi seorang manusia (diperoleh hampir sepanjang hidup Nabi).

1084

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Berbagai batasan seperti itulah yang berakibat adanya disebut dalam Al-Qur'an, bahwa nabi Muhammad saw adalah "nabi terakhir" bagi seluruh umat manusia. Sederhananya, umat di jaman modern sekarang (ataupun setelah jaman Nabi), kemungkinan besar hanyalah bisa mencapai "sebagian kecil" saja, dari yang telah diperoleh Nabi. Makin lama makin sulit untuk menyamai kelengkapan dan keutuhan perolehan Nabi. Sederhananya lagi, berapa umat di jaman sekarang, yang benar-benar secara mendalam mengenal Allah? (benar-benar memahami tiap sifat-sifat-Nya pada Asmaul Husna, bukan hanya menyakini, tetapi bisa menjelaskan bukti-buktinya). Akal-pikiran Nabi tentang hal-hal batiniah, amat sulit bisa dicapai oleh manusia biasa pada umumnya, karena mesti didukung oleh pengetahuan dan keimanan yang amat tinggi.

• Segala perbuatan Allah di alam semesta ini, termasuk penciptaan segala zat ciptaan-

Nya pasti tidak bertentangan dengan aturan-Nya (sunatullah). Bahkan sunatullah (Sunnah Allah) justru sebutan lain dari segala perbuatan Allah tersebut. Jika ada sesuatu hal yang dibuat atau diciptakan-Nya dianggap bertentangan dengan akal-sehat manusia, maka pastilah manusia itu sendiri yang belum bisa mencapainya (belum memahami bagaimana Allah berbuat melalui sunatullah).

• Sifat wujud Allah maksudnya adalah "Allah itu ada". Dan sifat "wujud" ini sama sekali tidak berhubungan atau tidak menunjukkan adanya ‘bentuk-sosok’ lahiriah dari zat Allah.

Segala sesuatu hal yang tidak berwujud, maka hal itu bukanlah sesuatu zat. Zat itu ‘ada’ atau ‘berwujud’, jika ada sifat ‘esensi’ dan sifat ‘perbuatan’ zatnya. Satu-satunya sifat Allah (pada Asmaul Husna) yang terkait dengan bentuk Zat Allah, hanyalah Maha gaib atau Maha tersembunyi (tidak ada sifat-sifat yang lain). Zat Allah sama sekali tidak dapat dilihat di dunia ataupun di akhirat. Tetapi "keberadaan" Zat Allah hanya dapat "dirasakan", melalui mata batiniah manusia (nalar-intuisilogika akal pikiran batiniah), dengan berusaha memahami berbagai hasil perbuatan Allah di alam semesta ini (tanda-tanda kekuasaan-Nya). "…. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami, silih berganti, agar mereka memahami(nya)." - (QS.6:65) "Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang berakal," (QS.3:190)

• Manusia memang bisa melihat atau memahami kejadian (accident), sebagai hasil perbuatan (lahiriah dan batiniah) dari sesuatu zat. Tetapi tidak dengan sendirinya manusia pasti bisa pula melihat zatnya, karena zat ada yang berbentuk gaib (tak tampak) dan nyata (tampak).

Padahal tidak bisa terlihat, ketika Allah menggiring awan atau menurunkan air hujan. Padahal sebaliknya manusia jelas bisa melihat langsung dengan matanya, ketika awan berarakan atau turunnya air hujan itu. Allah sama sekali berbeda dari segala makhluk ciptaan-Nya (nyata atau gaib), termasuk


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1085

berbeda dari segi zat, tindakan ataupun sifatnya.

Topik: Sabda Allah (atau kalam Allah) PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI PEMAHAMAN PADA BUKU INI Sabda Allah (atau kalam Allah) • Pada dasarnya, segala sesuatu hal yang bisa dilihat ataupun dipahami oleh manusia (de-ngan mata lahiriah dan mata batiniahnya), untuk bisa mencari atau mengenal Allah, justru ‘hanya’ melalui segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian di seluruh alam semesta ini, khususnya yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’.

Segala hal yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’ itu disebut pula sebagai: “wajah-Nya”, “tanda-tanda kekuasaan-Nya”, “ayat-ayat-Nya yang tak tertulis”, “segala pengetahuan atau kebenaran-Nya” ataupun “Al-Qur’an berbentuk gaib, yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi ‘Arsy-Nya”. "Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan), dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi, setelah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tandatanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)." (QS.16:65) "Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang Mukmin." - (QS.29:44) "Dan sesungguhnya, Al-Qur'an itu dalam induk Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya), dan amat banyak mengandung hikmah." (QS.43:4) "Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi. Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). …." - (QS.22:70) "Tiada sesuatupun yang gaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." - (QS.27:75) "Dan kepunyaan-Nya-lah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah (ada) wajah-Nya. Sesungguhnya, Allah Maha Luas (tanda-tanda kekuasaan-Nya), lagi Maha Mengetahui." - (QS.2:115)

• Berbagai hal tentang sesuatu zat, antara lain: esensi zat itu sendiri, perbuatannya, hasil perbuatannya dan sifatnya (penilaian tentang zat itu oleh segala suatu selain zat itu sendiri, dengan memahami ‘esensi’ wujudnya dan hasil ‘perbuatan’-nya).

Maka sabda-Nya, kalam-Nya, risalah-Nya, kalimat-Nya, ayat-Nya, wahyu-Nya atau AlQur'an (gaib, tak tertulis) pada dasarnya adalah hasil perbuatan Allah, dan bukanlah sifat Allah. Tetapi semua itu memang juga gambaran perwujudan dari sifat-sifat terpuji Allah (Fitrah Allah).

• Dalam Al-Qur’an, "Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepada umatnya)," (pada QS.53:4, QS.6:145, QS.42:52 dan QS.42:51)

Maka pada dasarnya ada empat macam bentuk wahyu-Nya, yaitu: - Wahyu-Nya sebagai Fitrah Allah sendiri (sifat-sifat-Nya yang terpuji, gaib), yang hendak ditunjukkan kepada segala zat ciptaan-Nya.

1086

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

- Wahyu-Nya sebagai tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya di seluruh alam se-

mesta ini (ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis), yang justru suatu bentuk wahyu, kalam, sabda atau kalimat-Nya sebenarnya (gaib dan universal). - Wahyu-Nya sebagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah, gaib). - Wahyu-Nya sebagai ayat-ayat kitab-Nya (Al-Kitab, nyata, lisan atau tertulis). Dan disebut "wahyu yang diwahyukan" (pada QS.6:145, QS.42:52 dan QS.53:4).

• Sesuatu sabda-Nya atau wahyu-Nya adalah hasil pemahaman para nabi-Nya (setelah

dituntun oleh malaikat Jibril), setelah mengamati dengan cermat atas adanya berbagai keteraturan pada tanda-tanda kekuasaan-Nya itu (lahiriah dan batiniah), yang memang hendak ditunjukkan oleh Allah kepada manusia. Hal ini terutama agar manusia bisa mengenal Allah, Yang telah menciptakannya. Persis seperti pada para ilmuwan modern, ketika berhasil menemukan teori atau rumus ilmiah tertentu, melalui pengalaman empirik lahiriah tertentu pula. Sedang para nabi-Nya justru menemukan berbagai "rumus" batiniah, melalui berbagai pengalaman moral-spiritual-rohani-batiniah yang relatif lengkap, mendalam dan luas. Khususnya tentang ketuhanan, ruh, para makhluk gaib, alam gaib atau alam akhirat, rumus-rumus kehidupan seluruh umat manusia (lahiriah dan terutama batiniah), dsb. "Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benarbenar Maha Kuat, lagi Maha Perkasa." - (QS.22:74) "…. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami), supaya kamu memikirkannya." - (QS.57:17) dan (QS.10:24) "…. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orangorang yang mengetahui (atau kepada kaum yang yakin)." - (QS.2:118) dan (QS.6:97,98, QS.10:5) "…. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (para Ahli Kitab) tandatanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikannya)." - (QS.5:75)

• Karena sabda-Nya merupakan hasil pemahaman para nabi-Nya atas segala hasil perbuatan Allah di alam semesta, maka sabda-Nya pada dasarnya tidak bersifat kekal mutlak, seperti halnya Zat Allah (hanya sebetas umur atau kekekalan alam semesta ini).

Tetapi jika dikaitkan lebih jauh bahwa agama-Nya yang lurus (yang diajarkan dalam AlQur’an) dan penciptaan alam semesta ini, adalah perwujudan dari Fitrah Allah (sifatsifat terpuji Allah). Maka sabda-Nya, agama-Nya yang lurus atau Al-Qur’an (gaib, tak tertulis) itu bersifat Maha kekal, sesuai dengan Fitrah Allah atau sifat-sifat terpuji Allah yang bersifat mutlak dan kekal. Ringkasnya, Al-Qur’an memiliki 4 macam bentuk, yaitu: - Al-Qur’an sebagai Fitrah Allah (Maha gaib, Maha kekal, tak tertulis, universal). - Al-Qur’an sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta (gaib, kekal sementara, tak tertulis, universal, tercatat di Lauh Mahfuzh). - Al-Qur’an sebagai segala hikmah dan hakekat kebenaran-Nya yang telah dipahami nabi Muhammad saw (gaib, tidak kekal, tak tertulis, universal, tercatat di hati-dada-


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1087

pikiran Nabi).

- Al-Qur’an sebagai kitab suci Al-Qur’an yang telah disampaikan oleh nabi Muham-

mad saw (nyata, tidak kekal, kitab tertulis, tidak universal atau sebagiannya tergantung konteks waktu, ruang dan budaya). Tetapi pada tataran pemahaman hikmah dan hakekatnya (bukan tekstual-harfiah), justru bersifat universal (tidak tergantung konteks waktu, ruang dan budaya).

Maka segala ajaran dalam Al-Qur’an, pada dasarnya manusia bisa mencari dan mengenal Allah, Yang menciptakannya, dan akhirnya agar bisa kembali dekat ke sisi ‘ArsyNya, yang sangat mulia dan agung, dengan mengikuti agama-Nya yang lurus, sebagai keredhaan-Nya bagi manusia, demi kepentingan, keselamatan dan kemuliaan manusianya sendiri yang makin tinggi (sama sekali bukan demi kepentingan Allah). "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama-Nya (sebagai perwujudan dari) Fitrah Allah, Yang telah menciptakan manusia (dan alam semesta) menurut Fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada Fitrah Allah. (Itulah) agama-Nya yang lurus. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya," - (QS.30:30) "Dan sesungguhnya, Al-Qur'an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta pertanggungan-jawaban." - (QS.43:44) "Sesungguhnya telah kami turunkan kepadamu sebuah kitab (Al-Qur'an), yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya." - (QS.21:10) "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an), pada malam kemuliaan (lailatul qadar)." - (QS.97:1)

• Pada dasarnya sabda, kalam ataupun ayat-ayat Al-Qur'an (gaib, tak tertulis) justru tidak tersusun, tetapi tergantung kepada perolehan pemahaman pada para nabi-Nya.

Kalaupun Al-Qur'an (nyata, kitab tertulis) tampak tersusun, hal ini hanya karena nabi Muhammad saw memang telah menyusunnya, dengan berbagai tujuan-alasan tertentu. Susunan Al-Qur'an justru sama sekali tidak ada hubungannya dengan sifat kekekalan Al-Qur'an.

• Dalam Al-Qur'an, "Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik

dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya, kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya, adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui." (QS.12:3) Dan dalam Al-Qur'an, "Kitab (Al-Qur'an) yang ayat-ayatnya dibuat sempurna dan terperinci." - (QS.11:1). Ayat-ayat ini pada dasarnya hanya menjelaskan tahapan proses perolehan wahyu-Nya pada nabi Muhammad saw, yang memang diperoleh hampir sepanjang hidupnya (sehingga juga bisa sempurna dan terperinci). Tetapi ayat-ayat ini juga sama sekali tidaklah ada hubungannya dengan sifat kekekalan Al-Qur'an.

• Sabda-Nya pada Al-Qur'an (gaib, tak tertulis) di sisi ‘Arsy-Nya dan sabda-Nya yang terkait pada kitab suci Al-Qur'an (nyata, kitab tertulis) justru hanya sama kandungannya, jika pemahamannya pada tataran hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah). Seperti halnya pemahaman yang diperoleh nabi Muhammad saw, atas tuntunan dari

1088

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

malaikat Jibril, yang justru bukan pemahaman pada tataran tekstual-harfiah. Kitab suci Al-Qur'an memang diturunkan-Nya bukan berupa teks-teks tertulis, tetapi justru berupa segala pemahaman atas berbagai kebenaran-Nya di dalam hati-dada-pikiran Nabi. Sabda yang tersusun ataupun tertulis, yang berupa pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalamnya (al-Hikmah), juga merupakan sabda-Nya. "Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah," - (QS.36:2) "Pada malam (diturunkan-Nya Al-Qur’an) itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah," - (QS.44:4) "Demikianlah (kisah 'Isa), Kami membacakannya kepadamu sebagian dari bukti-bukti (kekuasaan-Kami) dan (membacakan) Al-Qur'an yang penuh hikmah." - (QS.3:58)

• Sabda-Nya ada yang telah tersusun (nyata, kitab tertulis), ada pula yang tidak tersusun

(gaib, tak tertulis). • Sabda-Nya tidak hanya berbentuk perintah-Nya, tetapi segala perintah-Nya pasti merupakan sabda-Nya.

• Dalam Al-Qur'an "bukankah menciptakan dan memerintahkan segala ciptaan-Nya di alam semesta hanyalah kepunyaan-Nya (hak Allah)." - (QS.7:54).

Segala hal yang terkait dengan alam semesta ini (atau segala hal yang diciptakan-Nya), pada dasarnya pasti tidak bersifat kekal (pasti berawal dan berakhir). Tetapi segala sesuatu hal dari Allah (aturan atau sunatullah, ketentuan, sabda, perintah, kehendak, tindakan, perbuatan, anjuran, peringatan, pengajaran dan tuntunan, dsb) justru juga ‘kekal’ (tidak berubah-ubah) selama alam semesta ini masih ada (sejak ditetapkan-Nya sebelum penciptaan alam semesta, sampai akhir jaman). Maka dari sudut pandang manusia, segala hal itu juga bisa dianggap bersifat ‘kekal’ (tidak berubah-ubah), karena umur kehidupan umat manusia memang jauh lebih singkat daripada umur alam semesta.

Topik: Konsep iman PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI PEMAHAMAN PADA BUKU INI Konsep iman. • Keimanan tertinggi adalah amat konsisten menyatu atau sesuainya keyakinan batiniah tertinggi (pemahaman) dan keyakinan lahiriah tertinggi (pengamalan melalui sikap, perkataan dan perbuatan).

Keyakinan batiniah tertinggi adalah suatu pemahaman, pengetahuan, kesadaran atau pemikiran yang amat mendalam pada tingkat hikmah dan hakekat kebenaran-Nya atas ajaran-ajaran agama-Nya (terutama Al-Qur’an dan Hadits), secara konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan keseluruhannya. Keyakinan lahiriah tertinggi adalah suatu pengamalan berdasar pemahaman itu melalui sikap, perkataan dan perbuatan (akhlak atau kebiasaan positif) secara amat konsisten dalam kehidupan sehari-harinya, termasuk memberikan berkah atau pengajaran dan peringatan-Nya bagi umat di lingkungan sekitar. Dalam pengertian yang umumnya dikenal, keyakinan batiniah disebut sebagai "ilmu", sedang keyakinan lahiriah disebut sebagai "amal". Sedang “iman” adalah gabungan an-


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1089

tara “ilmu” dan “amal”. Di antara umat manusia pada setiap jamannya, para nabi-Nya adalah orang-orang yang diketahui memiliki tingkat keimanan yang paling tinggi. "Dan barangsiapa datang kepada Rabb-nya (di Hari Kiamat), dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal shaleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia)," - (QS.20:75) "…. Tetapi orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal-amal shaleh, merekalah itu yang memperoleh balasan yang berlipat-ganda, disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (kemuliaannya di dalam surga)." - (QS.34:37) "Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka, pada tempat-tempat yang tinggi (kemuliaannya) di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal (tinggal) di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal," - (QS.29:58)

• Keimanan paling dasar adalah pemahaman atas tauhid, "tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa".

• Keimanan paling rendah adalah pemahaman tanpa pengamalan. Maka pemahaman atau pengetahuan semata belumlah cukup. Tetapi pengamalan tanpa pemahaman, juga amat tidak kokoh dan mudah bisa tersesatkan ataupun tergoyahkan.

• Keimanan paling tinggi bukanlah tasdiq semata (menerima apa yang dikatakan atau di-

sampaikan orang sebagai benar), bahkan termasuk disampaikan oleh para nabi-Nya. Tasdiq hanyalah diperlukan bagi umat-umat yang masih awam atas ajaran-ajaran agama-Nya. Pemahaman dan pengamalan secara sekaligus (tasdiq, ma'rifah dan sekaligus disertai amal), tetaplah yang terbaik.

• Sebutan-sebutan Muslim, Mukmin, Mukhlis, dsb, semestinya bukan sebutan dari sese-

orang atau sesuatu kelompok kepada orang atau kelompok lainnya, apalagi sebutan diri ataupun kelompok sendiri. Tetapi sebutan itu semestinya hanya sebagai klasifikasi, untuk keperluan pengajaran atas ajaran-ajaran agama-Nya. Sebutan-sebutan itu hanyalah hak Allah untuk memakainya kepada manusia, karena hanyalah hak Allah, untuk menentukan keimanan seseorang. • Orang yang mengetahui tentang Allah ataupun tentang berbagai kebenaran-Nya, tetapi justru melawan atau melanggar perintah-Nya, bisa tetap Mukmin atau bisa juga bukan. Hal yang paling tepat, adalah tiap pelanggaran perintah-Nya itu pasti akan mengurangi tingkat keimanan umat, jika ia belum melakukan kemusyrikan. Semua penilaian itu justru serba relatif, karena perintah-Nya juga relatif (dari pemahaman tekstual-harfiah sampai pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya). Keimanan juga cakupannya amat luas (dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi). Dan hal-hal ini hanyalah hak Allah Yang Maha mengetahui, untuk menilainya. Sama sekali bukanlah hak dan kewajiban manusia untuk menghakimi keimanan seseorang. Tugas manusia hanyalah saling mengingatkan antar sesama, demi kebaikan. Hukum pada dasarnya hanyalah untuk bisa mengatur interaksi antara dua orang, atau-

1090

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

pun lebih, termasuk interaksi antara tiap individu dengan masyarakatnya. Dan sama sekali tidak ada hukuman bagi keyakinan atau keimanan seseorang. "…. karena sesungguhnya, tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka." - (QS.13:40) "Bukanlah kewajibanmu, (untuk) menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah, Yang memberi petunjuk (memberi taufik-hidayah, kepada) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan …." - (QS.2:272) "…. Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat-Nya). Dan …." - (QS.3:20)

• Iman adalah berusaha melaksanakan segala perintah-Nya dan menghindari segala la-

rangan-Nya (wajib dan sunnat). Tetapi keimanan cakupannya amat luas (dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi), maka definisi iman di atas hanyalah anjuran, agar manusia bisa mencapai keimanan yang makin tinggi. Karena kalau benar-benar dipakai sebagai definisi, maka hampir "tidak ada" manusia yang benar-benar beriman (sama sekali tidak memiliki dosa sebesar biji zarrah sekalipun). Larangan paling utama yang tidak dimaafkan-Nya adalah kemusyrikan.

• Hanyalah akal satu-satunya sarana pada tiap manusia (termasuk para nabi-Nya), untuk

mengetahui tentang Allah, sifat-sifat-Nya dan berbagai kebenaran-Nya, dengan berusaha memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini.

Persoalannya adalah, kemampuan akal tiap umat justru sangat berbeda. Maka peranan wahyu-Nya justru sangat penting sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya bagi tiap umat manusia, agar mempermudah umat untuk mengenal Allah dan jalan-Nya yang lurus, serta agar umat bisa kembali dekat di sisi ‘Arsy-Nya. Dan tiap umat semestinya benar-benar bisa memahami berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di dalam ajaran-ajaran agama-Nya, lalu mengamalkannya, jika ingin makin mendekati berbagai kemuliaan yang diperoleh para nabi-Nya.

• Tasdiq, ma'rifah dan amal hanyalah berbagai proses pencapaian keimanan yang makin tinggi, ‘bukanlah’ hal-hal yang perlu dipertentangkan dengan iman, juga ‘bukanlah’ definisi dari iman itu sendiri.

• Mustahil ada wahyu-Nya yang melarang manusia, untuk mengetahui tentang Allah. Jus-

tru seluruh alam semesta ini diciptakan-Nya, hanyalah agar manusia bisa mencari dan mengenal Allah Yang menciptakannya (beserta segala kemuliaan dan kekuasaan-Nya).

Bahkan hampir tiap ayat dalam Al-Qur’an, ada disebut tentang sifat-sifat Allah (Yang Maha …), yang keseluruhannya tergambar pada Asmaul Husna. Maka justru sangatlah aneh, jika ada sesuatu anjuran untuk tidak memahami sifat-sifat Allah (untuk tidak mengenal Allah).

• Para nabi-Nya adalah manusia-manusia biasa yang melihat "wajah-Nya" atau “tanda-

tanda kekuasaan-Nya di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah) ”, yang justru persis sama halnya, seperti yang bisa dilihat pula oleh seluruh umat manusia lainnya. Perbedaannya adalah para nabi-Nya itu memiliki kemauan dan usaha yang amat keras


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1091

sepanjang hidupnya (jauh melebihi manusia lain pada jamannya masing-masing), untuk bisa memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya (segala kebenaran-Nya di alam semesta). "Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun (hai Muhammad), dan tidak (mengutus pula) seorang nabi, melainkan apabila ia (rasul atau nabi itu) mempunyai sesuatu keinginan (yang kuat guna mengetahui kebenaran-Nya). Syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginannya. (Namun) Allah menghilangkan apa yang dimaksud oleh syaitan itu (untuk melindunginya), dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana," - (QS.22:52) Sehingga seluruh hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah) yang diperoleh para nabi-Nya, justru relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan. Disebut "lengkap", selain karena bisa menjawab ‘seluruh’ persoalan mendasar umat kaumnya pada jamannya, juga karena mereka amat konsisten mengamalkannya dalam kehidupannya sehari-hari, melalui sikap, perkataan dan perbuatan. Kelengkapan dan keutuhan itulah yang membuat tiap hikmah dan hakekat kebenaranNya (al-Hikmah) pada para nabi-Nya, pantas disebut sebagai "wahyu-Nya". Dan membuat mereka disebut sebagai nabi atau rasul-Nya, yang menjadi panutan bagi umat manusia pada tiap jamannya masing-masing. "Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengannya) dan sebagiannya (lagi) Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan …." - (QS.2:253)

• Wahyu-Nya adalah pengetahuan atau pemahaman para nabi-Nya atas tanda-tanda kekuasaan-Nya, maka tidak penting apakah pengetahuan umat diperoleh ‘sebelum’ ataupun ‘setelah’ umat membaca wahyu-Nya yang terkait.

Persoalannya bukanlah pada urutan perolehannya, tetapi wahyu-Nya adalah acuan dasar yang paling mudah, aman dan benar bagi umat, untuk menilai kebenaran pengetahuan yang diperolehnya sendiri (‘sebelum’), ataupun sebagai acuan awal untuk memahami hikmah dan hakekat kebenaran-Nya di balik teks-teks wahyu-Nya (‘setelah’).

Dari uraian pada Tabel 31 dan Tabel 32 di atas, secara garis besar, keseluruhan pemahaman pada buku ini semakin sulit bisa dicari kedekatannya terhadap pemahaman pada beberapa aliran yang telah ditinjau, yaitu: Mu'tazilah, Maturidiah (Samarkand dan Buchara) dan Asy'ariah. Sangatlah banyak perbedaan yang telah ditemukan, antara pemahaman pada buku ini dibandingkan dengan ke semua aliran itu. Begitu pula sangatlah banyaknya perbedaan pemahaman antar aliranaliran itu sendiri. Hal ini relatif bisa mudah dipahami, karena berbagai landasan pemahaman pada masing-masing aliran telah berbeda sejak awalnya, seperti yang telah dibahas pada poin A (tentang daya, kehendak dan perbuatan manusia) dan poin B (tentang kemutlakan kehendak dan kekuasaan Allah), dalam Lampiran D ini pula di atas.

1092

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

D. Berbagai hakekat tambahan (dari pembahasan di sini)

Rangkuman secara ringkas atas keseluruhan pemahaman pada pembahasan buku ini, sebagian telah diungkap pada poin-poin A s/d C di atas, yaitu: pada Tabel 23 (tentang daya dan perbuatan manusia), pada Tabel 28 (tentang kemutlakan sifat-sifat-Nya), dan juga pada Tabel 32 (tentang berbagai topik lain). Kandungan isi dari tabel-tabel tersebut terkait dengan hal-hal yang dibandingkan secara langsung, dengan hasil pemahaman dari aliran-aliran yang dibahas. Agar lebih lengkap dan sebagai tambahan, maka pada Tabel 33 berikut diungkap berbagai pemahaman lainnya pada pembahasan buku ini, yang tidaklah terkait langsung dengan perbandingan pemahaman antar aliran-aliran di atas. Tabel 33: Berbagai hakekat tambahan dari pembahasan di sini

Rangkuman ringkas pemahaman pada pembahasan di sini tentang berbagai rangkuman hakekat tambahan PERNYATAAN-PERNYATAAN DARI PEMAHAMAN PADA BUKU INI

Berbagai rangkuman ringkas hakekat tambahan dari hasil pemahaman pada pembahasan buku ini, meliputi: - Hakekat penciptaan alam semesta dan tujuannya - Hakekat khalifah-Nya - Hakekat zat dan sifat Allah - Hakekat kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya - Hakekat takdir-Nya - Hakekat mu'jizat - Hakekat perbuatan manusia - Hakekat penciptaan makhluk nyata - Hakekat makhluk-Nya (zat, nilai dan kemuliaan) - Hakekat tugas para makhluk gaib - Hakekat ketundukkan (sujudnya) para makhluk gaib kepada manusia - Hakekat ujian-Nya - Hakekat hubungan akal dan wahyu-Nya - Hakekat nabi, kitab dan agama-Nya - Hakekat Isra' mi'raj dan "kembali" ke hadapan 'Arsy-Nya - Hakekat Hari Kiamat - Hakekat kebangkitan nabi Isa as di Hari Kiamat - Hakekat kehidupan akhirat (termasuk Surga dan Neraka) Dengan uraian-uraian selengkapnya, sebagai berikut: Hakekat penciptaan alam semesta dan tujuannya • Hakekat penciptaan alam semesta (termasuk kehidupan manusia di dalamnya) adalah


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1093

1094

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

perwujudan dari Fitrah Allah. Dengan Fitrah Allah ini, maka diturunkan-Nya pula agamaNya yang lurus (agama-agama tauhid).

Akal dan nafsu pada berbagai zat ruh makhluk-Nya selain manusia, salah-satu atau keduanya relatif kurang sempurna.

Maka pada seluruh alam semesta inipun (segala zat ciptaan-Nya dan segala proses kejadian lahiriah dan batiniah atas zat-zat itu), terkandung pula segala hal yang ingin ditunjukkan oleh dan tentang Allah kepada segala zat makhluk ciptaan-Nya (terutama manusia sebagai khalifah-Nya), khususnya hal-hal yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’. Segala hal itu berupa tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya, sebagai cerminan dari Fitrah Allah itu sendiri (seluruh sifat-Nya pada Asmaul Husna).

Kebebasan seperti itu relatif tidak dimiliki oleh segala zat ciptaan-Nya lainnya. Mereka pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah-Nya. Amat berbeda dari manusia yang justru memiliki berbagai kecenderungan untuk bisa pula melanggar perintah-Nya (sebagai suatu bentuk ujian-Nya).

• Hakekat tujuan penciptaan alam semesta adalah pengenalan segala kemuliaan dan kekuasaan-Nya kepada tiap manusia (khalifah-Nya), pengujian keimanan tiap manusia di dunia, agar manusia bisa kembali dekat ke hadapan ‘Arsy-Nya, dengan mengikuti jalan-Nya yang lurus, sebagai keredhaan-Nya bagi manusia. Sekaligus agar manusia bisa meraih kemuliaan yang tinggi di kehidupan akhiratnya.

• Hakekat segala zat ciptaan-Nya selain manusia adalah bertujuan mendukung pengujian dan kehidupan manusia di dunia, sekaligus mendukung berjalannya alam semesta ini.

• Hakekat segala zat ciptaan-Nya (termasuk diri manusia itu sendiri dan manusia lainnya)

adalah bertujuan sebagai bahan pelajaran (lahiriah dan batiniah) yang amat sangat melimpah ruah (agar bisa mengenal Allah, memahami tujuan dari penciptaan alam semesta ini, mengenal jalan-Nya yang lurus dan juga bisa mengikuti Jalan-Nya yang lurus itu), sekaligus sebagai ujian-Nya (secara lahiriah dan batiniah) bagi manusia.

• Hakekat unsur elementer penyusun alam semesta ini (atau segala zat ciptaan-Nya)

adalah hanya ‘Atom’ (mati dan nyata) dan ‘Ruh’ (hidup dan gaib), dengan segala jenis atau sifatnya yang amat sangat kaya.

Benda mati nyata yang terkecil sebenarnya bukanlah Atom, dan bukanlah pula elektron, proton, foton dan neutron dalam Atom (segala partikel sub-atomik). Diyakini, bahwa benda-materi terkecil yang sebenarnya itu adalah suatu bentuk "langit" lain, yang mustahil bisa diketahui atau dicapai oleh manusia. Secara teoretis, benda-materi terkecil itu minimal mestinya menjadi "unsur penyusun" dari elektron, proton, foton, neutron, ataupun semua elemen Atom yang telah diketahui lainnya. Namun sementara ini pula Atom tetaplah dianggap sebagai benda terkecil, karena hanya Atom benda terkecil yang diketahui memiliki sifat yang mandiri, serta hanya Atom itulah benda terkecil yang telah diketahui dengan jelas oleh manusia, sebagai unsur penyusun segala benda mati nyata. Sedang elektron, proton, foton dan neutron di atas misalnya, selalu tergantung dan dalam lingkup pengaruh Atom. Selain karena tidak bersifat sebagai "unsur penyusun". Hakekat khalifah-Nya • Hakekat manusia sebagai khalifah-Nya di dunia (di muka bumi) adalah karena hanya manusia yang diberikan-Nya kebebasan dan kekuasaan yang relatif paling sempurna dalam berkehendak dan berbuat selama di kehidupan dunianya, dibandingkan segala zat makhluk-Nya lainnya, dengan diberikan-Nya kombinasi ‘akal’ (pengetahuan dan kecerdasan untuk memilih) dan ‘nafsu’ (semangat dan keinginan untuk berkembang) yang relatif paling sempurna pula.

Kalaupun seolah-olah tampak mereka (segala makhluk-Nya selain manusia), bisa pula memiliki kebebasan, hal itu hanya karena banyaknya hal-hal yang diperintahkan atau ditugaskan-Nya kepada mereka. Mereka hanyalah mengikuti semacam sesuatu “naluri" saja, karena nafsu-keinginan mereka yang relatif amat stabil, sehingga terkadang juga disebutkan "tidak memiliki nafsu". Kemampuan dan keinginan mereka justru semata-mata hanyalah untuk bisa mengabdi kepada-Nya. Karena itu pula segala perbuatan mereka sebenarnya bersifat relatif amat sangat teratur dan konsisten. Sehingga berbagai hewan yang buas dan liar sekalipun misalnya, relatif masih bisa dikendalikan oleh manusia.

• Hakekat wujud dari kekuasaan khalifah-Nya yang sebenarnya adalah pada kehidupan batiniah ruh (kehidupan akhiratnya), di mana tiap manusia bisa memiliki kebebasan dan otoritas sepenuhnya untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri (dengan akalpengetahuan-kecerdasan dan nafsu-keinginan-kemauannya).

Bahkan Allah sama sekali tidak ikut campur untuk mengatur kehidupan batiniah ruh tiap manusia (dari adanya orang yang beriman atau kafir, orang yang baik atau jahat, dsb). Juga pada dasarnya sama sekali tidak ada kekuasaan segala zat ciptaan-Nya lainnya, yang bisa memaksakan segala macam pengaruhnya kepada kehidupan batiniah ruh tiap manusia, termasuk pula para makhluk gaib yang memang ditugaskan-Nya untuk mengganggu alam batiniah ruh manusia (sebagai bentuk ujian-Nya secara batiniah). Semuanya tergantung keyakinan atau keimanan tiap manusia itu sendiri, untuk mau mengikuti berbagai pengaruh dari para makhluk gaib itu, ataupun tidak. Kalaupun ada berbagai pemaksaan pengaruh secara lahiriah (dari tuan ke budaknya, dari atasan ke bawahan, dari penjajah ke orang yang terjajah, dsb), namun secara batiniah justru sebenarnya tetap tidak terpengaruh sama sekali. Terutama jika dilihat dari sisi Allah, ketika diberikan-Nya nilai amalan atas tiap amalperbuatan manusia, yang dilakukan saat sedang berada dalam keadaan keterpaksaan. Allah Yang Maha mengetahui segala perbuatan tiap manusia yang diusahakan ataupun diinginkannya sendiri, dan yang bukan dari keinginannya (dipaksa oleh orang lain). Sedang pada kehidupan lahiriahnya, tiap manusia memang relatif amat sangat terbatas kemampuan dan kekuasaannya untuk bisa mengaturnya. Hakekat zat dan sifat Allah • Hakekat tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah segala sesuatu hal yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’ pada segala zat ciptaan-Nya dan segala kejadian (lahiriah dan batiniah) di seluruh alam semesta ini, yang bisa dilihat, diraba dan diketahui oleh manusia (dengan mata lahiriah dan batiniah, atau segala alat indera lahiriah dan batiniah).

Tanda-tanda kekuasaan-Nya ini terkadang disebut juga sebagai “wajah-Nya”, “ayatayat-Nya yang tak-tertulis”, “Al-Qur'an (gaib) yang tercatat di kitab mulia (Lauh Mahfuzh)


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1095

di sisi ‘Arsy-Nya”, “segala kebenaran atau pengetahuan-Nya di alam semesta” ataupun “wahyu atau kalam-Nya yang sebenarnya”. Karena penciptaan alam semesta itu sendiri adalah perwujudan dari Fitrah Allah (sifatsifat terpuji Allah), maka dari tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta itu manusia bisa mengetahui atau memahami pula sifat-sifat-Nya (terutama pada Asmaul Husna).

1096

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

sifat-Nya itu bisa dipahami secara "tersebar" pada segala hal di alam semesta ini. Dan tidak ada sesuatu kemuliaan pada segala sesuatu yang bertindak berlebihan atau melampaui batas (bahkan termasuk Allah sendiri).

hasil pemahaman nabi Muhammad saw atas berbagai hasil perbuatan-Nya di seluruh alam semesta, melalui sunatullah (tanda-tanda kekuasaan-Nya, lahiriah dan batiniah), melalui usaha Nabi yang relatif amat sangat keras dengan akalnya dalam mencari, mencermati, mempelajari dan memahami berbagai kebenaran-Nya.

Maka tindakan umat yang terlalu memaksakan penafsirannya tentang sesuatu sifatNya, juga bisa termasuk tindakan yang berlebihan. Dan hal ini dalam Al-Qur’an disebut sebagai "membantah tentang Allah tanpa dasar pengetahuan". Padahal semua sifat-Nya juga bersifat gaib, sehingga hanya hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya yang bisa memahaminya (mau berusaha amat keras mempelajarinya). Maka kemutlakan sesuatu sifat-Nya justru "tidaklah tampak jelas" dalam sesuatu hal, walaupun "ada" di dalamnya.

• Hakekat kekuasaan-Nya (juga bahkan semua sifat-Nya lainnya pada Asmaul Husna)

• Hakekat wujud zat Allah adalah amat sangat berbeda dari segala zat ciptaan-Nya, dari

adalah ‘mutlak semutlaknya’. Tidak ada segala sesuatupun sekutu bagi Allah, yang bisa memiliki sifat yang serupa, mendekati, apalagi melebihi salah-satu saja dari sifat-sifatNya itu.

segi ‘esensi’ maupun segala hasil perwujudan ‘perbuatan’-Nya (yang bisa diketahui oleh manusia), bahkan termasuk amat sangat berbeda pula dari zat para makhluk gaib-Nya (hanya berbentuk ruh), yang juga sama-sama gaib.

Bahkan semua sifat-Nya pada Asmaul Husna itu hanya sifat yang ditunjukkan-Nya dan berhasil dipahami umat manusia (khususnya yang dipahami oleh nabi Muhammad saw) melalui segala zat ciptaan-Nya di alam semesta sebagai perwujudan dari Fitrah Allah (tanda-tanda kekuasaan-Nya).

Karena manusia masih bisa "mengetahui" (bukan "melihat") langsung "wujud asli" dari para makhluk gaib itu melalui interaksi "terang-terangan", seperti yang diketahui pernah dialami oleh beberapa nabi-Nya, ataupun oleh sejumlah amat terbatas manusia sampai sekarang.

Padahal seperti halnya pada manusia, "fitrah" zat cenderung berbeda dari sifat yang sebenarnya (fitrah biasanya berupa "sifat tengah" atau "sifat yang paling mulia-terpuji"). Padahal rentang sifat manusia amat luas, misalnya: amat penakut s/d amat pemberani, amat baik s/d amat buruk, amat halus s/d amat kasar, dsb, sehingga sifat seseorang ataupun fitrah manusia relatif berada di antara rentang itu.

Interaksi "terselubung" dengan para makhluk gaib-Nya pasti dialami oleh tiap manusia tiap saat sepanjang hidupnya, berupa segala bentuk bisikan-ilham-godaan (positif dan negatif) yang amat sangat halus dalam pikiran manusia, sehingga segala ilham itupun bahkan seolah-olah hanyalah berasal dari hasil pikiran manusianya sendiri. Pada interaksi “terang-terangan”, suara bisikan dalam pikiran manusia itu telah menjadi lebih "jelas", seperti suara manusia dari berbagai usia, jenis kelamin, bahasa, bangsa, dsb, sehingga manusia bisa berkomunikasi langsung dua arah dengan para makhluk gaib-Nya itu.

• Hakekat Fitrah atau sifat-sifat terpuji Allah yang tergambar pada Asmaul Husna adalah

Padahal sifat sesuatu zat adalah segala sesuatu hal tentang zat itu yang bisa diketahui, dipahami dan digambarkan oleh sesuatu selain zat itu sendiri. Padahal kebebasan dan kekuasaan yang diberikan-Nya kepada tiap manusia misalnya, justru sama sekali tidak ada artinya dibandingkan dengan kekuasaan-Nya, apalagi bisa menguranginya. Bahkan manusia justru mustahil bisa berkuasa menciptakan semut, ataupun mustahil bisa berkuasa mengatur segala hal tentang dirinya sendiri (kekuasaan manusia relatif amat sangat terbatas). Maka suatu sifat-Nya yang mampu dipahami atau dijangkau oleh tiap manusia (dengan segala keterbatasannya), hanya ‘sebagian’ dari sifat-Nya terkait yang sebenar-benarnya yang ‘mutlak semutlaknya’. Hal yang amat penting pula untuk bisa diketahui, bahwa semua sifat-Nya pada Asmaul Husna itu haruslah dipahami sebagai satu kesatuan utuh, karena seperti itulah sifat-sifat Allah yang diyakini oleh nabi Muhammad saw. Jika ada salah-satu saja dari sifat-sifat-Nya itu yang telah diabaikan ataupun tidak diperhatikan, maka tindakan ini sama saja dengan mengada-adakan sesuatu hal yang berbeda dari Allah sendiri, yang bisa mengarah kepada sesuatu kemusyrikan. Juga kekuasaan-Nya misalnya memang mutlak semutlaknya, tetapi ‘tidak’ dalam segala hal, karena hal ini justru bisa mengurangi ataupun menghilangkan berbagai sifat-Nya lainnya (seperti: Maha adil, Maha memberi, Maha pengasih, dsb). Justru dalam segala hal di alam semesta ini terkandung ‘semua’ sifat-Nya pada Asmaul Husna, atau semua

Sedangkan manusia mustahil bisa berbicara, dan apalagi melihat Allah di dunia ataupun di akhirat. Bahkan manusia mustahil bisa melihat ataupun memahami segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini. Allah hanya bisa "dipahami" oleh manusia secara batiniah (melalui pikiran), hal inipun hanya sebagian amat sangat sedikit tentang ‘perbuatan’ Zat Allah di alam semesta ini, dan justru sama sekali bukan tentang ‘esensi’ Zat Allah. Dan segala sesuatu zat atau hal yang gaib, pastilah tetap bersifat gaib (mustahil bisa memiliki wujud nyata-fisik-lahiriah yang bisa dilihat ataupun diraba). Bahkan sifat-sifat yang diketahui oleh nabi Muhammad saw tentang Zat Allah, hanyalah "ada" (wujud) dan "Maha gaib atau Maha tersembunyi". Makna sifat "wujud" dalam Al-Qur’an adalah "ada", bukan keberadaan "wujud lahiriah". Segala gambaran lahiriah tentang hal-hal yang gaib di dalam Al-Qur’an, justru hanya berupa "contoh-perumpamaan", untuk bisa lebih memudahkan dalam menjelaskannya, seperti: Allah (tangan, mata, telinga, kursi, rumah, dsb), para makhluk gaib (pemuda, orang-tua, wanita, dsb), alam kubur, alam akhirat (Surga dan Neraka), dsb. Pemakaian istilah hakekat "wujud zat Allah" pada buku ini sama dengan “Fitrah Allah” (sifat-sifat terpuji Allah), sama sekali bukanlah dipakai dalam konteks ‘esensi’ zat-Nya, tetapi hasil perwujudan berbagai ‘perbuatan’ zat-Nya, yang menunjukkan Fitrah Allah.


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1097

Hakekat kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya • Hakekat kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta ini adalah terwujud melalui aturan-Nya (sunatullah), berupa segala aturan atau rumus proses kejadian atas segala zat ciptaan-Nya, yang bersifat ‘mutlak’ (pasti terjadi) dan ‘kekal’ (pasti konsisten) serta amat sangat jelas, teratur, alamiah, halus, tidak kentara dan seolah-olah terjadi begitu saja.

Sunatullah telah ditetapkan-Nya sebelum awal penciptaan alam semesta ini, dan telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi ‘Arsy-Nya. Juga sama sekali tidak ada perubahan pada segala kehendak, tindakan atau perbuatan-Nya di seluruh alam semesta ini (melalui sunatullah).

• Hakekat berlakunya aturan-Nya (sunatullah) adalah pastilah sesuai (setimpal) dengan segala keadaan (lahiriah dan batiniah) tiap zat ciptaan-Nya (nyata dan gaib, hidup dan mati). Keadaan itu tentunya termasuk pula ‘jenis’ zat ciptaan-Nya (sesuatu ‘jenis’ zat ciptaan-Nya tentunya juga diatur oleh sesuatu ‘kumpulan’ sunatullah tertentu).

Hakekat takdir-Nya • Hakekat takdir-Nya adalah segala hasil akhir tiap saatnya yang ditentukan-Nya atas tiap zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini (nyata dan gaib, hidup dan mati), melalui berlakunya segala aturan atau rumus proses kejadian yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’ (atau sunatullah).

Sunatullah pasti berlaku sesuai dengan segala keadaan ‘awal’ tiap saatnya (lahiriah dan batiniah), dari hasil usaha oleh tiap zat makhluk-Nya sendiri ataupun dari hasil pengaruh segala zat ciptaan-Nya lainnya di sekitarnya. Sedang benda mati tidak bisa berbuat sesuatu untuk mengubah keadaannya (pasif). Hanya ‘sesaat’ saja saat tiap usaha itu sedang dilakukan (belum tentu telah ‘selesai’ dilakukan), maka sunatullah justru langsung menentukan keadaan ‘akhir’ setiap saatnya sebagai balasan-Nya. Tiap keadaan ‘akhir’ setiap saatnya itu disebut pula sebagai takdir ‘kecil’ (qadla-Nya). Maka takdir-Nya atau qadar-Nya tentang sesuatu hal pada sesuatu saat tertentu (atas manusia misalnya), adalah rangkaian tak-terhitung jumlah takdir-takdir kecil yang terjadi sejak manusia terlahir sampai pada saat tertentu tersebut. Sedangkan tiap zat ruh manusia justru terlahir sama, yaitu sangat suci-murni dan tanpa dosa (keadaan awalnya sama). Penyebutan takdir-Nya atas sesuatu hal, hanya benar atau tepat justru ‘setelah’ hal itu terjadi, bukan ‘sebelumnya’. Allah tidaklah menentukan takdir-Nya bagi suatu makhluk, ‘sebelumnya’ terjadinya, tetapi justru hanya saat ‘sedang’ ataupun ‘setelah’ terjadinya.

• Hakekat rejeki, jodoh dan kematian sebagai takdir-Nya (yang ditentukan-Nya) adalah hasil pertemuan "jalan hidup" seseorang dengan "jalan hidup" berbagai hal yang terkait.

Bahwa tiap zat ciptaan-Nya (bukan hanya makhluk-Nya, nyata dan gaib) bisa memiliki "jalan hidup"-nya masing-masing sepanjang usianya (rangkaian besar sunatullah yang dijalani). Tentunya "jalan hidup" dari berbagai ciptaan-Nya yang berlalu lalang di seluruh alam semesta ini, pada suatu saat ada yang bisa saling bertemu dan bersesuaian. Hal semacam inilah makna dari takdir-Nya tentang jodoh, rejeki dan kematian. Padahal

1098

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

dengan sunatullah itulah ditentukan-Nya takdir-Nya bagi setiap zat ciptaan-Nya. Pada pengertian jodoh secara umum, bahwa "jalan hidup" dua orang ataupun lebih yang saling bertemu, bersesuaian ataupun berjodoh (misalnya: sahabat, teman, dsb). Begitu pula halnya jodoh dalam arti pasangan hidup (suami-istri). Pada takdir-Nya mengenai rejeki, "jalan hidup" seseorang dan hartanya yang saling bertemu atau bersesuaian. Sebaliknya pada takdir-Nya mengenai kematian makhluk nyata, justru "jalan hidup" ruh dan tubuh wadahnya yang telah tidak bisa bertemu atau tidak bisa bersesuaian lagi (diangkat atau dicabut-Nya zat ruhnya, atau dimatikan-Nya). Hal inipun terjadi karena ada penyusutan internal pada tubuh secara alamiah (proses penuaan). Juga bisa terjadi karena ada pengaruh eksternal yang membinasakan tubuh (penyakit, kecelakaan, pembunuhan, dsb). Hal ini berkebalikan dengan proses pada awal kehidupan makhluk nyata (ditiupkan-Nya zat ruhnya, atau dihidupkan-Nya). Hakekat mu’jizat • Hakekat mu’jizat adalah hasil dari sesuatu ilmu-pengetahuan tertentu yang dimiliki oleh para nabi-Nya (lahiriah dan batiniah, secara sadar ataupun tidak), yang tampak relatif luar-biasa, terutama dari sudut pandang umat pada jaman terjadinya. Maka mu’jizat pada dasarnya hasil dari berlakunya berbagai sunatullah yang mereka pahami secara sadar (pengetahuan) ataupun tidak (pengalaman kebetulan).

Dengan ilmu-pengetahuan yang dimiliki oleh umat manusia modern sekarang, sebagian dari mu'jizat yang bersifat lahiriah pada para nabi-Nya terdahulu, justru tidak tampak luar-biasa lagi. Jadi keluar-biasaan itu amat tergantung pada jamannya, selain dari kandungan hakekat mu'jizat (kebenaran-Nya secara lahiriah atau batiniah) Sedang mu'jizat dari nabi Muhammad saw hanya kitab suci Al-Qur'an, yang merupakan mu'jizat yang paling besar di antara mu'jizat-mu'jizat para nabi-Nya. Dan hampir semua kandungan isi Al-Qur'an lebih bersifat batiniah. Bahkan hal-hal lahiriah yang disebut dalamnya (seperti: amalan, ritual ibadah, syariat, dsb), pada dasarnya hanyalah untuk mencapai tujuan-tujuan batiniah di baliknya. Umat pada jaman nabi Muhammad saw telah jauh berkembang daripada umat para nabi lainnya, maka makin sulit bisa timbul kejadian-kejadian yang dianggap luar-biasa secara lahiriah oleh umat-umat Nabi. Dan keluar-biasaan dari Al-Qur'an justru terletak pada keutuhan, kelengkapan, tidak saling bertentangan hikmah dan hakekat kebenaran-Nya pada seluruh isinya. Karena segala "hakekat" kebenaran-Nya justru berada pada alam batiniah (alam akhirat, yang hakiki dan kekal), bukan pada alam lahiriah (alam dunia, yang sangat semu dan fana). Mu'jizat merupakan suatu tanda bahwa para nabi-Nya memiliki berbagai kelebihan dan keistimewaan dari segi keilmuan (lahiriah dan batiniah) dibandingkan umat manusia lain pada jamannya. Terutama mereka itu menunjukkan mujizatnya, agar umatnya mau pula mengikuti berbagai ajaran yang disampaikannya. Mu'jizat juga sebenarnya bukanlah hal yang mistis-tahayul (sama sekali tidak memiliki penjelasan melalui intuisi-nalar-logika manusia). Kesan mistis-tahayul justru hanya ada, karena relatif belum bisa atau sulit dijelaskan


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1099

oleh tiap umat, termasuk karena tidak ada penjelasan selengkapnya dari para nabi-Nya itu sendiri, tentang "ilmu" atau "hakekat" di balik mu'jizat mereka. Hakekat perbuatan manusia • Hakekat perbuatan manusia adalah perbuatan manusia yang sebenarnya, dan sama sekali bukanlah perbuatan Allah.

Hanya kehendak manusia sendirilah yang memulai, menciptakan atau memicu daya dan perbuatannya (pemakaian daya). Tetapi hanya daya dan perbuatan Allah yang mengatur mewujudkan perbuatan manusia itu (Allah pasti selalu menyertai ‘di belakang’ tiap perbuatan manusia), yang setimpal dengan daya dan perbuatan manusia itu sendiri, sekaligus untuk memberi balasan-Nya. Daya dan perbuatan Allah itu (melalui sunatullah) juga agar makin memudahkan tiap umat manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia (sebagai suatu rahmat-Nya). Setiap perbuatan manusia pada dasarnya merupakan proses berusaha dan memilih (secara sadar atau tidak) berbagai keadaannya, agar berlalu berbagai sunatulah yang terpilih (secara sadar ataupun tidak) sesuai dengan keadaan yang telah diusahakannya itu, yang bisa mengantarkannya untuk memperoleh berbagai keadaan akhir yang lebih diinginkannya (sebagai balasan-Nya). Setiap perbuatan manusia itu secara umum pada dasarnya semacam sesuatu hijrah (jika ke arah kebaikan), untuk bisa memilih nasibnya, atau memilih takdir-Nya baginya, daripada nasibnya atau takdir-Nya jika ia tidak melakukan usaha-usaha baru apapun.

1100

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

benih dasar tubuh makhluk nyata tertentu pula. Dan pada tiap benih dasar tertentu ini ditiupkan-Nya jenis ruh tertentu pula, sehingga membentuk benih janin sel, dan tumbuh menjadi sel yang utuh, jika tetap mendapatkan makanan (zat-zat organik). Tiap sel berkembang-biak dengan cara membelah diri. Maka jika sel itu terus tumbuh, ia akan membelah menjadi dua sel kembar. Proses pembentukan sel baru inipun pada dasarnya tetap serupa dengan pembentukan sel semula (gabungan komposisi zat-zat organik yang ditiupkan-Nya ruh)

• Hakekat penciptaan Adam, pada dasarnya relatif serupa dengan penciptaan nabi Isa as, ataupun penciptaan semua manusia lainnya.

Hal yang berbeda hanyalah pada "tempat" dan "bagaimana" proses terjadinya sel janin tubuh mereka, dari hasil bercampurnya pasangan sel generatif (sel sperma dan sel indung telur). Pada Adam, sel sperma dan sel indung telur itu justru terbentuk dan bercampur pada permukaan Bumi. Pada nabi Isa as, sel indung telur terbentuk di dalam tubuh Maryam, sedangkan tidak diketahui asal sel spermanya, dan sel sperma dan sel indung telur itupun kebetulan bercampur dalam tubuh Maryam. Pada manusia umumnya, sel sperma dan sel indung telur terbentuk di dalam tubuh masing-masing orang-tuanya, dan bercampur dalam tubuh ibunya.

Dan tiap perbuatan manusia setiap saatnya yang sekecil atau sesederhana apapun (sebesar biji zarrah), pada dasarnya pastilah mempengaruhi nasibnya setiap saat pula, ataupun pada akhir hidupnya. Bahkan tiap perbuatan manusia juga bisa mempengaruhi alam semesta. Seperti setiap amal-perbuatan nabi Muhammad saw, yang telah menjadi contoh suri-teladan bagi umat manusia, selama berabad-abad ataupun bahkan sampai akhir jaman nanti.

Hakekat makhluk-Nya (zat, nilai dan kemuliaan) • Hakekat segala makhluk adalah pada ruhnya. Sedangkan tubuh lahiriahnya (pada tiap makhluk nyata) pada dasarnya hanya mengikuti segala perintah ruhnya (atau sesuai keadaan batiniah ruhnya). Apalagi pada makhluk gaib yang relatif tidak memerlukan tubuh lahiriah, untuk hidup sebagai makhluk utuh (relatif hanya ada ruh).

Hakekat penciptaan makhluk nyata • Hakekat unsur-unsur elementer penyusun segala zat makhluk nyata (manusia, hewan, tumbuhan, sel, dsb) adalah sama, pada dasarnya hanya dari Atom-materi-benda (nyata dan mati) dan Ruh (gaib dan hidup). Elemen-elemen lebih lengkapnya lagi, yaitu: tanah, udara, air, energi dan ruh (semuanya juga hanya tersusun dari materi dan ruh).

dan hasil batiniahnya, bukanlah hasil lahiriahnya). Karena tiap perkataan dan perbuatan lahiriahnya pada dasarnya hanya perwujudan keadaan batiniah ruhnya (pengetahuan, pemahaman, keyakinan, keimanan, dsb) yang telah bisa diwujudkan atau diamalkan.

Dan tanah adalah sumber utama berbagai unsur (atau atom) pembentuk tubuh wadah fisik-nyata-lahiriah bagi tiap makhluk hidup nyata.

• Hakekat siklus proses penciptaan segala zat makhluk hidup nyata (manusia, hewan,

tumbuhan, sel, dsb) adalah sama, yaitu dari tanah, hidup (ditiupkan-Nya ruh), tumbuh, mati (diangkat-Nya ruh) dan sampai kembali ke tanah.

• Hakekat sel adalah makhluk hidup nyata terkecil, yang hidup berdiri-sendiri (bersel satu), ataupun sebagai penyusun makhluk nyata yang lebih kompleks (bersel banyak, seperti manusia) .

Benih tubuh sel berasal dari atom-atom, yang berturut-turut bereaksi (dengan dukungan udara, air, energi) membentuk zat-zat unorganik, membentuk zat-zat organik (zat-zat makanan), lalu suatu gabungan komposisi zat-zat organik tertentu bereaksi membentuk

• Hakekat nilai makhluk adalah pada segala amal-perbuatannya (pada proses berusaha

Dari segala zat makhluk ciptaan-Nya, relatif hanya manusia yang mengalami ujian-Nya setiap saat sepanjang hidupnya. Dan relatif hanya manusia yang tiap perbuatannya berdasarkan pada kehendaknya sendiri, dari kebebasannya yang telah diberikan-Nya (diciptakan-Nya akal dan nafsunya yang sempurna). Selain manusia, tiap perbuatannya relatif hanya mengikuti perintah-Nya dan tidak mengalami ujian-Nya, sehingga amat tidak relevan untuk dinilai, karena nilai mereka di mata Allah, relatif bersifat konstan (mereka amat tunduk, patuh dan taat kepada-Nya). Sedangkan nilai manusia di mata Allah, tergantung kepada perolehan kemuliaan yang diusahakannya sendiri.

• Hakekat kemuliaan tiap manusia adalah hanya dapat diraihnya melalui segala amal-

ibadahnya sepanjang hidupnya selama di dunia fana ini (segala amal-ibadah setelah kematiannya, tidak diterima-Nya lagi). Dimulai dari keadaan ruhnya yang sangat suci-murni dan bersih dari dosa, sejak lahir sampai mencapai usia akil-baliq (telah memiliki dosa pertamanya). Dan sejak lahir itulah manusia ditempatkan-Nya pada kehidupan dunia-lahiriah-fana yang penuh kehinaan


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1101

(dari air mani yang hina, dan memiliki nafsu yang bisa menghinakannya sendiri). Jika tiap manusia bisa menjaga atau bahkan meningkatkan kemuliaannya sampai akhir hayatnya, di tengah-tengah terpaan berbagai bentuk ujian-Nya tiap saatnya sepanjang hidupnya, maka manusia bisa memiliki kemuliaan, yang lebih tinggi dari segala ciptaanNya lainnya. Dan sebaliknya juga bisa lebih hina, karena tidak bisa memanfaatkan segala nikmat-kelebihan yang diberikan-Nya dengan sebaik-baiknya.

• Hakekat kemuliaan makhluk selain manusia adalah langsung diberikan-Nya sejak zat

ruhnya diciptakan-Nya (sangat suci-murni dan bersih dari dosa). Dan mereka itu selalu tinggal di Surga (bahkan juga iblis dan syaitan). Mereka pasti tunduk, patuh dan taat melaksanakan segala perintah-Nya atau tugas yang diberikanNya. Iblis dan syaitan justru ditugaskan-Nya untuk bisa menguji keimanan manusia.

Hakekat tugas para makhluk gaib • Hakekat tugas utama para makhluk gaib adalah memberikan pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah tiap saatnya kepada tiap manusia (berupa berbagai bisikan atau ilham dalam pikiran manusia, positif dan negatif). Di samping itu juga mendukung terciptanya alam semesta ini dan mendukung kehidupan manusia di dalamnya.

Bahkan iblis dan syaitan itu justru ditugaskan-Nya untuk menguji keimanan manusia, sebaliknya para malaikat untuk menambah keimanan manusia. Segala persoalan kehidupan tiap manusia yang bersifat lahiriah dalam kehidupan dunia ini, pada dasarnya semuanya hanya akan berujung atau bermuara kepada hal-hal yang bersifat batiniah pada ruhnya sendiri. Maka agama-Nya yang lurus sebagai pengajaran dan tuntunan-Nya dalam mengatasi segala persoalan kehidupan manusia, justru hampir semua mengandung hal-hal yang bersifat batiniah. Bahkan kekuasaan tiap manusia sebagai khalifah-Nya di dunia, justru berada pada alam batiniah ruhnya sendiri, di mana tiap manusia memiliki kebebasan dan otoritas sepenuhnya untuk bisa mengatur alam batiniah ruhnya (dengan akal dan nafsunya). Maka pemahaman tentang para makhluk gaib justru menjadi sangat penting, karena di alam batiniah ruh tiap manusialah sebagian dari mereka bertugas. Sebagian bertugas merusaknya (jin, syaitan dan iblis) sebagai bentuk ujian-Nya, dan juga sebagiannya lagi bertugas memperbaikinya (para malaikat) sebagai bentuk pengajaran dan tuntunan-Nya bagi tiap manusia. Dengan kekuasaannya dalam mengatur alam batiniah ruhnya sendiri (membersihkan, mensucikan atau melayani ruhnya), maka manusia semestinya bisa mengatasi segala gangguan syaitan dan iblis. Maka manusia mestinya bisa mengatasi atau memikul pula segala beban ujian-Nya, ataupun bisa mengatasi segala persoalan kehidupannya. Persoalannya, hal yang ideal itu relatif sangat sulit bisa dicapai oleh tiap manusia, tiap saatnya, karena tingkat keimanan manusia justru cenderung berubah-ubah. Tetapi para nabi-Nya termasuk sebagian dari manusia yang bisa mencapainya (memiliki keimanan yang amat tinggi), dengan melalui usaha yang relatif amat sangat keras pula (dalam mencapai berbagai pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya yang amat mendalam, sekaligus pengamalannya yang amat konsisten). Hakekat ketundukkan (sujudnya) para makhluk gaib kepada manusia

1102

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

• Hakekat mau bersujudnya para malaikat kepada Adam (manusia) adalah suatu simbol

pengajaran dan tuntunan-Nya yang disampaikannya, yang justru bisa menguntungkan manusia (khalifah-Nya). Tinggal usaha dan pilihan tiap manusia sendiri sepenuhnya, agar mau memahami dan mengamalkannya (memperoleh hidayah-Nya). Selain dari hal-hal di atas, para malaikat juga ditugaskan-Nya untuk mendukung tegakkokohnya alam semesta ini, yang semuanya pada akhirnya juga agar bisa mendukung kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Tanpa mereka, manusia pastilah tersesat kehilangan arah dalam menghadapi segala ujian-Nya, karena manusia mustahil bisa memahami tiap kebenaran-Nya, jika tanpa segala bisikan-ilham yang mengandung nilai-nilai kebaikan atau kebenaran (positif), dari mereka.

• Hakekat tidak mau bersujudnya iblis kepada Adam (manusia) adalah simbol kesesatan yang dibawanya, yang justru bisa sangat merugikan tiap manusia (atau membinasakan, merusak, menghinakan atau mengurangi kemuliaannya, dsb). Tetapi tinggal usaha dan pilihan tiap manusia sendiri sepenuhnya, untuk menolak atau menghindarinya (memperoleh hikmah-Nya).

Bahkan tanpa iblis dan syaitan itu segala ujian-Nya bagi manusia pasti tidak akan bisa berjalan, karena mereka adalah aktor utama pemberian ujian-Nya (secara batiniah ataupun lahiriah). Segala ujian-Nya secara lahiriah itu, pada akhirnya pasti semuanya bermuara pada persoalan batiniah dalam ruh manusianya sendiri. Tanpa mereka pula, manusia mustahil bisa memahami berbagai peringatan-Nya (atau berbagai keburukan yang perlu diwaspadai dan dihindari), dari hasil pengaruh segala bisikan-ilham mereka yang mengandung nilai-nilai keburukan atau kesesatan (negatif). Hakekat ujian-Nya • Hakekat ujian-Nya adalah segala hasil pengaruh dari hasil interaksi segala zat-zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini (langsung ataupun tidak, lahiriah dan batiniah).

Ujian-Nya justru bukanlah berasal dari hasil pengaruh langsung daya dan perbuatanNya, karena manusia mustahil mampu menghadapinya. Sedang beban ujian-Nya itu mestinya mampu dipikul oleh tiap umat manusia, karena segala beban ujian-Nya (lahiriah atau batiniah) pada dasarnya berada pada aspek batiniah pada tiap ruh manusianya sendiri. Padahal tiap manusia memiliki kekuasaan dan otoritas sepenuhnya untuk bisa mengatur alam batiniah ruhnya sendiri. Walaupun bukan langsung dari Allah, balasan-Nya (beban dosa dan pahala-Nya) atas tiap amal-perbuatan manusia, yang dilakukan dalam keadaan sedang mengalami ujianNya, beban ujian-Nya itu justru pasti dipertimbangkan-Nya dalam menentukan nilai amalannya, sebagai perwujudan dari sifat-Nya, Yang Maha adil dan Maha penyayang. Karena ujian-Nya itu adalah bagian dari kehendak atau rencana-Nya dalam penciptaan alam semesta, untuk bisa menguji keimanan manusia. Nilai amalan itu juga bersifat absolut dan batiniah, yang hanya hak Allah Yang Maha mengetahuinya, bahkan para nabi-Nya hanya bisa memahami secara ‘relatif’ saja.

• Hakekat ujian-Nya adalah relatif hanya dialami oleh manusia, sedangkan segala zat

ciptaan-Nya lainnya pasti tunduk, patuh dan taat kepada segala perintah atau anjuran-


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1103

Nya (dan selalu tinggal di Surga). Nafsu mereka relatif sangat stabil, atau sama sekali tidak ada keinginan mereka untuk menentang satupun perintah-Nya. Dan keinginan mereka itupun hanyalah dipakai untuk mengabdi dan melaksanakan segala perintah-Nya. Padahal segala pengaruh ujian-Nya hanya bisa memiliki efek kepada zat makhluk-Nya yang memiliki nafsu yang tidak stabil (seperti pada manusia). Maka ringkasnya, segala ciptaan-Nya selain manusia pasti tidak mengalami ujian-Nya. Contoh sederhananya, tiap umat manusia tiap saatnya sepanjang hidupnya pasti memperoleh ilham-ilham positif dan negatif secara amat seimbang. Dengan kata lain, para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis) pasti selalu melaksanakan tugasnya untuk memberikan pengajaran dan ujian-Nya kepada manusia secara batiniah. Padahal mereka juga selalu melaksanakan segala urusan Allah di alam semesta. Sebaliknya hal itu hanya kadang-kadang saja terjadi, jika nafsu-keinginan pada para makhluk gaib itu justru tidak stabil, serta pengajaran dan ujian-Nya itu mustahil bisa berjalan efektif. Hampir semua jenis hewan bisa dikendalikan atau ditundukkan oleh manusia (terutama pawang hewan), karena tingkah laku hewan cukup mudah dipahami (nafsunya stabil, atau hanya mengikuti nalurinya saja). Singa juga tidak bernafsu lagi memangsa korbannya, jika perutnya telah kenyang.

• Hakekat "Allah mustahil akan memberi beban ujian-Nya yang tidak mungkin dipikul oleh

manusia" adalah karena kekuasaan manusia sebagai khalifah-Nya, sesungguhnya justru berada pada aspek batiniah, di mana manusia berkuasa dan bebas berkehendak sepenuhnya untuk mengatur kehidupan batiniah ruhnya sendiri.

Walau jin, syaitan dan iblis, memang tiap saatnya justru selalu menggoda keimanan manusia, terutama dengan mempermainkan nafsunya. Sedang pada aspek lahiriah, kekuasaan manusia memang amat terbatas. Padahal makna "beban" itu pada dasarnya lebih terkait dengan aspek batiniah, yaitu tingkat terhambat atau tidak terpenuhinya hawa nafsu-keinginan duniawi. Dengan mengatur alam batiniah ruhnya sendiri, tiap manusia justru mestinya bisa meringankan beratnya beban ujian-Nya yang dirasakannya, terutama dengan membina sikap-sikap, seperti: sabar, ikhlas, tawakal dan syukur. Sehingga nafsu-keinginan duniawinya bisa menjadi lebih tenang atau lebih stabil, dan terutama semestinya tidak berlebihan atau tidak melampaui batas (tidak melakukan kezaliman kepada diri sendiri ataupun orang lain), agar tidak tertimpa azab-Nya. Hakekat hubungan akal dan wahyu-Nya • Hakekat akal adalah satu-satunya alat pada manusia (termasuk para nabi-Nya) untuk mengolah dan menilai segala sesuatu hal (data, informasi, keterangan, ucapan, fakta atau kenyataan, dsb) yang telah bisa ditangkap oleh semua alat indera lahiriah dan batiniahnya (mata, telinga, lidah, hidung, kulit, kalbu, dsb). Akal termasuk pula untuk menilai pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah dari para makhluk gaib (segala bentuk ilham-bisikan positif-benar-baik dan negatif-sesat-buruk).

Hasil pemahaman manusia atas pengajaran-Nya dari para malaikat (terutama malaikat Jibril), disebut "hidayah-Nya". Sedangkan pemahaman yang berupa pelajaran potitif atas ujian-Nya dari syaitan dan iblis, disebut "hikmah-Nya".

1104

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

• Hakekat wahyu-Nya adalah serupa dengan hikmah dan hidayah-Nya yang juga bisa diperoleh manusia umumnya, sebagai hasil pemahaman atas tanda-tanda kekuasaanNya di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), dengan menggunakan akalnya.

Tetapi tiap hikmah dan hidayah-Nya justru hanya bisa disebut dengan wahyu-Nya, jika seluruh hikmah dan hidayah-Nya yang telah diperoleh seseorang (terutama para nabiNya), telah tersusun dengan relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan atas keseluruhan pemahaman di dalamnya. Disebut konsisten, karena tiap pemahamannya tidak terus bergoyang atau tidak terus berubah-ubah, terutama karena segala dalil-alasannya telah relatif kokoh-kuat. Juga tiap pemahamannya sesuai dengan keadaan alam nyata, sehingga bisa diamalkan. Disebut lengkap, karena meliputi berbagai pengajaran dan tuntunan-Nya untuk bisa mengatasi segala persoalan kehidupan umat ataupun seluruh umat manusia, terutama atas hal-hal yang mendasar dan hakiki (seperti: ketuhanan, tujuan kehidupan dunia, jalan-Nya yang lurus yang mestinya diikuti sebagai keredhaan-Nya bagi manusia, dsb). Disebut utuh dan tidak saling bertentangan, karena tidak satupun pemahaman itu yang tidak mengandung kebenaran-Nya dan saling terkait, sekaligus tiap pemahamannya saling bersesuaian dengan berbagai pemahaman lainnya, secara keseluruhan.

• Hakekat akal dan wahyu-Nya adalah pada dasarnya tidak akan saling bertentangan,

jika akal tiap manusia (di luar para nabi-Nya) dipakai secara amat obyektif (berdasarkan fakta-kenyataan yang sebenarnya, yang digunakan secara apa adanya, tidak ditambah atau dikurangi).

• Hakekat nabi-Nya dan kenabiannya adalah orang-orang yang berilmu sangat tinggi

(ilmu lahiriah dan terutama ilmu batiniah) dan sangat arif-bijaksana yang terlahir atau muncul secara alamiah di antara kalangan kaumnya sendiri.

Dengan usaha yang amat sangat keras dan dengan akalnya, mereka bisa memahami amat banyak ataupun lengkap hikmah dan hakekat tentang penciptaan alam semesta (memperoleh hikmah dan hidayah-Nya). Seluruh perolehan mereka (kenabian) bersifat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan, yang amat sulit dicapai oleh manusia biasa umumnya. Dan tiap hikmah dan hidayah-Nya mereka disebut sebagai wahyu-Nya. Hakekat nabi, kitab dan agama-Nya • Hakekat pembenaran dalam agama Islam atas semua nabi, kitab dan agama-Nya adalah kesamaan dasar semua ajaran para nabi-Nya.

Setiap manusia (termasuk para nabi-Nya) justru hanya melihat alam semesta (tandatanda kekuasaan-Nya) yang sama. Dengan sendirinya pada tiap tataran ‘hikmah dan hakekat’-nya ajaran-ajaran mereka pada dasarnya sama pula, dari hasil pemahaman mereka yang amat mendalam atas tanda-tanda kekuasaan-Nya itu. Pada dasarnya para nabi-Nya adalah orang-orang yang amat berilmu tinggi dan amat arif-bijaksana pada jamannya, yang terlahir dan muncul secara alamiah di antara kalangan kaumnya sendiri. Dengan akalnya, mereka telah berusaha amat sangat keras, untuk memahami secara amat mendalam tentang penciptaan alam semesta dan tujuannya. Lalu mereka menyampaikan berbagai hasil pemahamannya itu kepada umat kaumnya


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1105

(menyampaikan pengajaran dan tuntunan-Nya), untuk bisa mengatasi segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan umat, terutama yang paling mendasar dan hakiki. Secara alamiah pula, perbedaan antar para nabi-Nya hanya pada kelengkapan dan kedalaman pemahamannya, sesuai dengan keadaan perkembangan jamannya. Dengan keyakinan umat Islam, bahwa nabi Muhammad saw, Al-Qur’an dan Islam adalah nabi, kitab dan agama-Nya yang terakhir, dengan sendirinya ajaran-ajaran dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi juga merupakan pengajaran dan tuntunan-Nya yang paling lengkap, sempurna, lurus dan benar. Dan tiap proses diturunkan-Nya semua nabi, kitab dan agama-Nya itu adalah proses yang sangat alamiah. Serupa seperti proses kemunculan para ilmuwan modern, ketika menyampaikan rumus atau teori baru hasil temuannya (biasanya dalam ilmu-ilmu lahiriah). Sedangkan para nabi-Nya itu justru menemukan rumus-rumus batiniah secara lengkap, tentang hakekat kehidupan umat manusia (rumus kehidupan), dengan segala aspeknya yang sangat luas (seperti disebut dalam Al-Qur’an). Hakekat Isra' mi'raj dan "kembali" ke hadapan 'Arsy-Nya • Hakekat ‘kembali’ dekat ke hadapan ‘Arsy-Nya adalah kembalinya tiap ruh manusia ("keadaan batiniah" ruh dan "zat" ruh) ke hadirat Allah Yang menciptakan ruh.

Ada dua macam "kembali", yaitu: "keadaan batiniah" ruh dan "zat" ruh, yang menuju ke hadapan ‘Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung. Telah dijanjikan-Nya, bahwa di Hari Kiamat tiap manusiapun dikumpulkan-Nya langsung atau kembali ke hadapan 'Arsy-Nya, untuk dimintai-Nya pertanggung-jawaban dan diberikan-Nya keputusan akhir atas segala amal-perbuatan masing-masing selama di kehidupan dunianya. Sehingga ‘kembali’ di sini bersifat memaksa dan bertujuan sebagai pembuktian akhir atas segala kebenaran-Nya, sekaligus pemberian hasil akhir atas proses penggodokan manusia di dunia. Dan di sini, "zat" ruh yang kembali, yang berkebalikan dari proses diturunkan-Nya ruh (ditiupkan-Nya ruh atau dihidupkan-Nya manusia). "Kembali" di Hari Kiamat itu berbeda dari "kembali" pada saat manusia masih hidup di dunia. Di mana "kembali" yang terakhir ini memiliki pengertian tentang kesadaran manusia untuk bisa lebih mengenal-Nya dan lebih dekat kepada-Nya, dengan berusaha mengikuti berbagai ajaran agama-Nya yang lurus. Di sini, "keadaan batiniah" tiap ruh yang kembali, karena memang sengaja dipersiapkan untuk bisa menghadapi "kembali" di Hari Kiamat di atas.

• Hakekat Isra’ mi’raj adalah puncak perjalanan batiniah-moral-sprituil yang amat luar biasa, yang pernah dilakukan oleh nabi Muhammad saw.

Pada dasarnya perjalanan Isra’ mi’raj itu merupakan contoh bentuk kembalinya ruh ("keadaan batiniah" ruh, bukan "zat" ruh) dekat ke hadapan ‘Arsy-Nya, yang sangat mulia dan agung. Zat ruh "kembali" hanya terjadi pada Hari Kiamat kecil (kematian). Keadaan batiniah Nabi pada saat peristiwa Isra’ mi’raj itu adalah keadaan yang telah mencapai tingkat pemahaman yang amat sangat tinggi tentang berbagai kebenaran-

1106

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Nya. Nabi bisa memahami dengan amat jelas, misalnya: keadaan kehidupan akhirat di Surga dan di Neraka, ketaqwaan dan ibadah para nabi-Nya lainnya, syariat shalat, dsb. Bahkan Nabi bisa berada sangat dekat ke 'Arsy-Nya (atau bisa memahami dengan sangat jelas berbagai hakekat atau cahaya kebenaran-Nya), sehingga Nabi diliputi oleh "cahaya-Nya yang amat sangat terang". Hal itu tercapai karena berbagai pondasi akhlak dan budi-pekerti Nabi yang sangat terpuji dan lengkap, yang terbentuk sepanjang hidupnya. Sehingga keadaan batiniah ruhnya ("cermin batinnya"), menjadi sangat bersih dan bisa memantulkan dengan sangat jelas berbagai cahaya kebenaran-Nya. Sehingga dari seringnya Nabi bertafakur (terutama di gua Hira), Nabi makin banyak dan mendalam memahami berbagai kebenaran-Nya, dan puncak perolehan pemahaman Nabi dari segala usaha bertafakurnya adalah peristiwa Isra’ mi’raj tersebut. Hakekat Hari Kiamat • Hakekatnya Hari Kiamat ada dua macam, yaitu Hari Kiamat "kecil" (kematian pada tiap manusia) dan Hari Kiamat "besar" (akhir jaman atau kehancuran seluruh kehidupan di dunia atau di Bumi).

Semua proses pada Hari Kiamat "kecil" dan Hari Kiamat "besar" itu yang disebut dalam Al-Qur’an, pada dasarnya sama. Hal yang justru berbeda hanya pada tingkat kegoncangannya yang terjadi dan juga jumlah manusia yang meninggal. Kegoncangan pada Hari Kiamat "besar" lebih besar, selain karena ada kegoncangan seperti pada Hari Kiamat "kecil", berupa kegoncangan pada ruh secara batiniah (walau relatif tidak terasa bagi orang-orang yang beriman). Juga pada Hari Kiamat "besar" terdapat kegoncangan secara lahiriah, yaitu berakhirnya seluruh kehidupan manusia di dunia. Hakekat kebangkitan nabi Isa as di Hari Kiamat • Hakekat dibangkitkan-Nya hidup kembali nabi Isa as di Hari Kiamat (bukan "sebelum" atau "mendekati" akhir jaman) adalah persis sama dengan proses kebangkitan semua manusia lainnya.

Kebangkitan nabi Isa as itu secara khusus disebut dalam Al-Qur’an, selain karena ia bertindak sebagai saksi atas umat-umatnya di Hari Kiamat, seperti halnya semua nabiNya lainnya. Lebih khususnya lagi, karena ada sebagian dari umatnya yang telah menyekutukannya dengan Allah. Padahal selain Allah, tidak ada sesuatupun yang mengetahui waktu kedatangan Hari Kiamat ataupun akhir jaman (bahkan termasuk para nabi-Nya sekalipun). Padahal umur alam semesta ini diperkirakan telah milyaran tahun, dan umur kehidupan manusia telah ribuan tahun. Dengan sendirinya, kehancuran dunia (akhir jaman) barangkali masih ratusan ribu tahun lagi atau bahkan lebih. Sedang usia rata-rata manusia sekarang hanya sekitar 0 s/d 100 tahun. Maka kedatangan Hari Kiamat ataupun akhir jaman itupun amat tidak relevan (bahkan mustahil) untuk "ditunggu-tunggu", karena waktunya saja memang tidak jelas, ataupun masih amat sangat lama (pada akhir jaman). Padahal kebangkitan nabi Isa as "pada saat" Hari Kiamat, yang disebut dalam Al-


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1107

Qur’an, bukan saat "sebelum" atau "mendekati" akhir jaman. Maka kebangkitan nabi Isa as itu memang bukanlah hal yang istimewa dan apalagi perlu "ditunggu-tunggu".Bahkan Hari Kiamat itu pada dasarnya suatu Hari Kiamat ‘kecil’ pada nabi Isa as sendiri.

• Hakekat Imam Mahdi adalah tidak ada.

1108

Kesimpulan perbandingan antar aliran-aliran Pemahaman pada aliran Mu'tazilah vs pada buku ini Ada hal-hal cukup menarik, khususnya pada aliran Mu'tazilah dan aliran Qadariah, jika dibandingkan dengan hasil pemahaman pada pembahasan buku ini, seperti yang diungkap pada tabel berikut. E.

Pemahaman tentang Imam Mahdi pada dasarnya hanya karena kekeliruan pemahaman atas kebangkitan hidup kembali nabi Isa as pada saat Hari Kiamat (bukan "sebelum" atau "mendekati" akhir jaman) yang disebut dalam Al-Qur’an. Sehingga seolah-olah harus ada tokoh dari kalangan umat Islam sendiri (Imam Mahdi itu), untuk dapat "menyaingi" kebangkitan nabi Isa as tersebut (yang lebih dianggap sebagai "milik" umat Nasrani atau Kristiani). Juga untuk bisa menyaingi kemenangan umat Nasrani di akhir jaman. Hakekat kehidupan akhirat (termasuk Surga dan Neraka) • Hakekat tujuan akhir kehidupan tiap manusia adalah pada kehidupan akhirat di Surga atau Neraka setelah Hari Kiamat, yang bersifat gaib-batiniah dan kekal (kehidupan batiniah ruh manusia), bukan pada kehidupan dunia, yang nyata-lahiriah dan fana.

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Beberapa perbedaan antara pemahaman pada aliran Mu'tazilah, dan pemahaman pada buku ini No

Aliran Mu'tazilah

Pembahasan buku ini

1

Hukum alam / Sunnah Allah (sunatullah) diciptakan oleh Allah.

Sunnah Allah (sunatullah atau aturan-Nya) diciptakan atau ditetapkan oleh Allah, sejak sebelum awal penciptaan alam semesta. Sunatullah juga salah-satu dari ketetapan-Nya, yang telah tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi ‘Arsy-Nya.

2

Hukum alam “sama dengan” Sunnah Allah (sunatullah).

Hukum alam hanya "sebagian" dari wujud Sunnah Allah (sunatullah). Karena hukum alam hanya meliputi aspek lahiriah saja, sementara sunatullah meliputi aspek lahiriah dan batiniah.

3

Hukum alam / Sunnah Allah (sunatullah) hanya meliputi aspek “lahiriah”.

Hukum alam memang hanya meliputi aspek “lahiriah” saja, sementara Sunnah Allah (sunatullah) meliputi aspek “lahiriah dan batiniah”.

4

Hukum alam tidak bisa berubah-ubah.

Hukum alam ataupun Sunnah Allah (sunatullah) tidak berubah-ubah (kekal), sejak awal penciptaan alam semesta ini sampai akhir jaman.

5

Kebebasan dan kekuasaan manusia dibatasi oleh hukum alam

Kebebasan dan kekuasaan manusia (lahiriah dan batiniah), dibatasi atau diliputi oleh sunatullah.

Hukum alam pada hakekatnya adalah kehendak dan kekuasaan Allah, yang tidak bisa dilawan dan ditentang oleh manusia.

Sunatullah pada hakekatnya adalah perwujudan dari segala kehendak dan kekuasaan Allah di alam semesta ini, yang tidak bisa dilawan dan ditentang oleh manusia.

• Hakekat Surga dan Neraka adalah keadaan-keadaan pada alam batiniah ruh makhluk-

Nya (atau alam akhirat yang gaib), yaitu keadaan yang bersih dari dosa (atau dosadosa telah dimaafkan dan dihapuskan-Nya), dan keadaan yang mengandung dosa (atau ada dosa yang sulit dimaafkan dan dihapuskan-Nya, terutama dosa-dosa besar).

Maka "sarana-prasarana" Surga dan Neraka telah ada bersama adanya ruh. Kehidupan di Surga dan Neraka bagi tiap makhluk-Nya, akan kekal jika ruh itu sendiri tetap kekal sejak diciptakan-Nya pada awal penciptaan alam semesta. Sedang janji-Nya sendiri dalam Al-Qur’an, bahwa kehidupan di Surga dan Neraka itu tetap kekal setelah Hari Kiamat kecil, ataupun setelah akhir jaman (Hari Kiamat besar). Kesempurnaan hukuman-Nya di Neraka dan terutama nikmat-Nya di Surga, amat sulit dibayangkan atau amat tidak sesuai, jika kehidupan di Surga dan Neraka itu serupa dengan kehidupan dunia-nyata-lahiriah seperti saat sekarang. Padahal kehidupan di dunia ini penuh dengan segala kehinaan, kekurangan dan keterbatasan. Padahal hakekat makhluk ada pada ruhnya. Padahal kesempurnaan di atas lebih masuk akal, jika makhluk berada dalam bentuknya yang paling sederhananya (ruh, yang gaib), termasuk kehidupan batiniah ruh yang amat tak-terbatas dalam segala aspeknya. Bahwa sejak diciptakan-Nya, keadaan setiap ruh masih sangat suci-murni dan bersih dari dosa. Maka Adam dan Iblis langsung tinggal di Surga, pada awal penciptaan alam semesta. Dan mereka "otomatis" terusir dari Surga, ketika mereka telah melakukan dosa pertamanya masing-masing (melanggar perintah-Nya untuk tidak memakan buah pohon khuldi, ataupun membangkang perintah-Nya untuk bersujud kepada Adam). Maka makna "Adam terusir dari Surga", bukanlah "Sosok tubuh Adam pindah dari Surga ke dunia (Bumi)". Tepatnya nilai kemuliaan Adam yang telah menurun. Dosa pertama Adam itu terjadi pada saat ia telah mencapai usia akil-baliqnya (seperti halnya semua manusia lainnya), serta saat itu "tubuh" Adam telah mulai dewasa dan justru telah berada di dunia.

6

Hukum alam / Sunnah Allah (sunatullah) bersifat ‘mutlak’

Kehendak (kebebasan dan kekuasaan) manusia dibatasi atau diliputi oleh kehendak Allah di alam semesta (lahiriah dan batiniah), melalui sunatullah, yang tidak berubah-ubah (kekal). Namun kehendak Allah terlalu jauh lebih luas dan tinggi, bahkan tidak bersinggungan sedikitpun dengan kebebasan manusia dalam mengatur kehidupannya (bebas tetapi terbatas).

Segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini pasti tunduk kepada sunatullah (aturan-Nya). Sunatullah (aturan-Nya) bersifat ‘mutlak’ (pasti


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1109

(pasti terjadi).

terjadi).

7

Proses pada hukum alam / Sunnah Allah (sunatullah) “bukan” hasil perbuatan-Nya.

Segala proses pada sunatullah adalah “bentuk perwujudan” dari segala kehendak, aturan, tindakan atau perbuatan-Nya di alam semesta.

8

Perbuatan, kehendak atau kekuasaan-Nya di alam semesta, “dibatasi” oleh sunatullah.

Sunatullah memang “bentuk perwujudan” dari kehendak dan kekuasaan-Nya di alam semesta. Kehendak dan kekuasaan-Nya “tidak bertentangan dan tidak dibatasi” oleh sunatullah.

9

Kehendak dan kekuasaan Allah bersifat ‘tidak mutlak semutlak-mutlaknya’ (dibatasi oleh sunatullah).

Kehendak dan kekuasaan Allah bersifat ‘mutlak semutlak-mutlaknya’ (sama sekali tidak dibatasi oleh sunatullah). Kehendak dan kekuasaan Allah memang ‘melalui atau mengikuti’ sunatullah.

10

Akal manusia mempunyai daya yang besar, serta manusia bebas dan berkuasa atas tiap kehendak dan perbuatannya.

Wilayah kebebasan manusia dalam berkehendak dan berbuat memang ’bukan’ hal yang diatur melalui sunatullah, walau dibatasi atau diliputinya. Kebebasan itu justru sengaja diberikan-Nya kepada tiap manusia dengan diciptakan-Nya ‘akal’ dan ‘nafsu’, agar ia bisa mencari dan mengenal Allah, Yang telah menciptakannya, lalu agar bisa mengikuti jalan-Nya yang lurus untuk bisa kembali ke hadapan-Nya, dengan mendapat kemuliaan.

Dari tabel di atas, cukup jelas adanya pemahaman pada aliran Mu'tazilah itu sendiri yang saling bertentangan, misalnya pernyataan "Hukum alam pada hakekatnya adalah kehendak dan kekuasaan Allah, yang tidak bisa dilawan dan ditentang oleh manusia.", "kehendak dan kekuasaan-Nya tidak mutlak semutlak-mutlaknya", ataupun "manusia berkuasa atas kehendak dan perbuatannya sendiri". Padahal bagaimanapun besarnya kekuasaan manusia, ia tetap dibatasi oleh hukum alam, sedangkan hukum alam itu sendiri adalah kehendak dan kekuasaan-Nya. Maka kebebasan atau kekuasaan pada manusia di dalam berbuat, pada dasarnya tidak mengurangi sedikitpun kemutlakan kehendak dan kekuasaan-Nya (melalui hukum alam). Sehingga kemutlakan kehendak dan kekuasaan-Nya itu tidak berarti bahwa tidak boleh ada sesuatu hal selain Allah, yang memiliki kebebasan ataupun kekuasaan (seperti pada manusia, dengan akalnya). Justru kemutlakan kehendak dan kekuasaan-Nya itu tidak berkurang sedikitpun, karena kebebasan ataupun kekuasaan yang memiliki oleh sesuatu hal selain Allah, justru pasti diliputi dan pasti tunduk di bawah pengaruh kehendak dan kekuasaan-Nya (melalui sunatullah). Ringkasnya, segala zat makhluk-Nya pada dasarnya hanyalah ‘bebas memilih-milih’ berlakunya berbagai sunatullah tertentu, yang

1110

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

hasilnya lebih diharapkannya. Melalui segala perbuatannya, segala zat makhluk-Nya justru hanya ‘berpindah-pindah’ dari suatu sunatullah ke sunatullah lainnya. Dan segala kekuasaan pada zat makhluk-Nya pada dasarnya semata-mata hanya ‘memanfaatkan’ kekuasaan-Nya (melalui sunatullah lahiriah dan batiniah). Segala kebebasan dan kekuasaan yang memiliki oleh sesuatu hal selain Allah, justru pasti hanya bersifat ‘relatif’ (tidak ‘mutlak’). Kebebasan dan kekuasaan pada tiap manusia dalam berkehendak dan berbuat, memang telah sengaja diberikan-Nya (dengan diciptakan-Nya akal dan nafsu, pada zat ruh tiap manusia). Hal ini bahkan diperkuat pula oleh pernyataan, bahwa “hukum alam ataupun Sunnah Allah (sunatullah) tidak berubah-ubah (kekal)”. Tentunya persinggungan antara kebebasan dan kekuasaan manusia itu dengan kekuasaan-Nya justru mustahil bisa terjadi, bahkan mustahil bisa dibandingkan dan dihubungkan. Kentara sekali, aliran Mu'tazilah justru tidak mencermati adanya perbedaan antara ‘mutlak yang kekal’ dan ‘mutlak yang tak-kekal’, seperti yang diuraikan di bawah. Sifat mutlak yang ‘kekal’ dan yang ‘tak-kekal’ Ada hal penting yang justru telah dilupakan oleh ke semua aliran di atas, yang telah amat menimbulkan kerancuan, yaitu tentang kata sifat "mutlak" (absolut, berdaya paksa, pasti berlaku atau terjadi, dsb). Serupa halnya dari kerancuan pemahaman atas kemutlakan sifatsifat-Nya, yang justru telah dipaksakan dan disalah-terapkan (terutama dianggap ‘mutlak semutlaknya’ pada segala hal dan segala aspeknya), tanpa dipisahkan antara peran Allah dan peran segala makhluk-Nya. Sesuai konteksnya dalam hal ini, sifat "mutlak" dibagi menjadi dua macam, yaitu:

Perbedaan antara sifat mutlak yang ‘kekal’ dan ‘tak-kekal’ •

Mutlak, yang bisa berubah-ubah tiap saatnya (tak-kekal). Sifat mutlak semacam ini dimiliki oleh para raja, kepala negara atau pemimpin, yang berlaku diktator kepada rakyatnya ataupun orang-orang yang dipimpinnya.

Secara manusiawi, kediktatoran ini selain hanya bisa terjadi dalam berbagai hal dan waktu tertentu saja, terutama ketika perasaan sang raja sedang tidak senang terhadap sesuatu hal. Juga hanya bisa terjadi ketika sesuatu hal yang tidak disenangi oleh sang raja itu, justru berada dalam pengetahuan sang raja (secara langsung ataupun tidak). Sedangkan di luar pengetahuan sang raja, rakyatnya dengan relatif bebas bisa berbuat apa saja, tanpa mendapat hukuman dari sang raja.

Mutlak, yang tidak berubah-ubah (kekal).


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1111

Sifat mutlak semacam ini hanya dimiliki oleh Allah, Tuhannya semesta alam Yang Maha Esa dan Maha kekal. Alam semesta ini memang sengaja diciptakan oleh Allah, atas kehendak Allah sendiri, sehingga segala sesuatu hal yang akan terjadi di alam semesta ini justru mustahil bisa berada di luar perkiraan Allah, Yang Maha merencanakan segala sesuatu halnya dan Maha Sempurna. Termasuk Allah pasti telah memperkirakan, kemungkinan adanya manusia yang tidak beriman ataupun yang kafir, dengan telah diciptakan-Nya akal dan nafsu pada tiap manusia. Maka kekafiran manusia itupun justru bukan hal yang penting bagi Allah (sama sekali tidak sedikitpun mempengaruhi Allah). Bahkan jika seluruh manusiapun berbuat kafir, Allah pasti tetap berada dalam segala kemuliaan dan keagungan-Nya. Tentunya manusia yang berbuat kafir, pasti dihukum-Nya di dunia dan di akhirat. Sehingga istilah ‘disukai ataupun tidak disukai’ (diredhai ataupun tidak diredhai) oleh Allah atas amal-perbuatan manusia dalam Al-Qur’an, sama-sekali tidak relevan bagi Allah, tetapi hanya relevan bagi manusia. Lebih jelasnya, kesukaan atau keredhaanNya itu justru sama sekali bukan demi kepentingan Allah sendiri, Yang Maha tidak memerlukan segala sesuatu halnya, tetapi justru demi kepentingan dan kemuliaan manusia itu sendiri, serta sama sekali tidak berpengaruh kepada Allah. Hal itu sekedar agar manusia juga ikut menyukai segala hal yang disukai oleh Allah, sekali lagi demi kepentingan dan kemuliaan manusianya sendiri. Juga Allah Yang Maha mengetahui segala keadaan ataupun kejadian pada segala zat ciptaan-Nya di alam semesta ini (sebesar biji zarrah sekalipun). Mustahil ada sesuatu hal yang berada di luar pengetahuan dan pengawasan-Nya. Maka tiap manusia juga pasti mendapat balasan-Nya atas tiap amal-perbuatannya.

Dari hal-hal di atas telah bisa disimpulkan, tidak ada sesuatu alasan yang bisa membuktikan, bahwa Allah adalah Maha raja yang bersifat diktator. Tidak ada sesuatu kesamaan sifat antara Allah dan seorang raja yang bersifat diktator. Di samping tentunya, mustahil bisa membandingkan antara kekuasaan Allah dan segala zat ciptaan-Nya. Kalaupun Allah ada berlaku ‘diktator’, justru hanya pada saat sebelum diciptakan-Nya alam semesta (termasuk belum ada manusia). Di mana Allah menetapkan segala sesuatu halnya, dalam rencana-Nya bagi penciptaan seluruh alam semesta. Dengan sekehendak-Nya, Allah menetapkan atau memutuskan segala sesuatu hal yang dikehendakiNya, dan menghapus segala sesuatu hal yang tidak dikehendaki-Nya. Misalnya pada saat Allah menetapkan: apa saja jenis, sifat, bentuk, hal yang bisa dilakukan dan tugas bagi tiap zat ciptaan-Nya; siapa yang akan ditunjuk sebagai khalifah-Nya di dunia; siapa yang akan menguji khalifah-Nya; ruh mana yang akan diberi-Nya akal saja, nafsu saja atau kedua-duanya (tentang kesempurnaan akal dan nafsu); ruh-ruh mana yang akan diberi-Nya tubuh wadah dan yang tidak; dsb.

1112

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Padahal jika Allah telah menetapkan sesuatu hal, atas sesuatu zat ciptaan-Nya di alam semesta ini, justru ketetapan-Nya itu langsung bersifat ‘kekal’ (tidak berubah-ubah), sampai akhir jaman. Sekaligus langsung tercacat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) di sisi ‘Arsy-Nya. Allah Yang Maha Suci dan Maha Mulia justru mustahil mengubahubah ketetapan-Nya, karena bisa mengurangi segala kemuliaan-Nya. Serta relatif tidak ada suatu kemuliaan, bagi sesuatu hal yang berlaku tidak konsisten, tidak tetap, tidak pasti, berubah-ubah, plin-plan, dsb. Berbagai pertanyaan tentang perubahan kehendak-Nya Bahkan dalam Al-Qur’an disebut tentang kehendak-Nya itu, bahwa para malaikat dan iblis telah menyatakan sesuatu keraguan dan protes kepada Allah, ketika akan dipilih-Nya Adam sebagai khalifahNya di muka Bumi. Di mana para malaikat menguatirkan atas adanya nafsu pada Adam (manusia), sehingga manusia bisa berbuat kerusakan di muka Bumi, dan manusia bisa menghinakan dirinya sendiri. Sedang iblis memprotes atas tubuh-wadah Adam (manusia), yang terbuat dari tanah lumpur berwarna hitam atau dari air mani yang hina, yang jauh daripada kesempurnaan iblis sendiri yang terbuat dari api yang panas. Selain kejadian pada awal penciptaan alam semesta tersebut, tidak ada sesuatupun disebut lagi dalam Al-Qur’an, tentang ‘keraguan’ dan ‘protes’ atas segala kehendak-Nya bagi alam semesta ini. Hal inipun secara tidak langsung merupakan salah-satu bukti, bahwa tidak ada suatupun perubahan pada segala kehendak-Nya bagi alam semesta ini. Kalaupun ada perubahan, maka efeknya juga pasti amat sangat luar biasa bagi segala makhluk-Nya (termasuk manusia). Bahkan alam semesta inipun bisa hancur dengan amat sangat mudah. Semua aliran yang dibahas di atas, biasanya selalu berasumsi bahwa segala kehendak-Nya di alam semesta ini bisa ‘berubah-ubah’. Maka sebaiknya bagi aliran-aliran itu, untuk menilai kembali secara amat cermat, untuk bisa membuktikan, apakah benar-benar ada suatu perubahan pada tiap kehendak-Nya?, atau apakah Allah ada berbuat sekehendak dan semaunya di alam semesta ini?. Dan apakah ada suatu kejadian di alam semesta ini (selain hasil perbuatan zat makhluk-Nya), yang tidak berlangsung amat sangat alamiah, pasti konsisten dan pasti terjadi, seperti yang telah terjadi selama berabad-abad?. Hal-hal yang dikehendaki-Nya Dalam Al-Qur’an amat banyak disebut tentang "hal-hal yang dikehendaki-Nya", "suatu hal pasti mengikuti kehendak-Nya", "sesuai


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1113

kehendak-Nya", "bagi siapa yang dikehendaki-Nya", dsb. Dari hal-hal ini secara sekilas ‘seolah-olah’ tampak ada ‘kesibukan yang bersifat sesaat’ dari Allah dalam mengurus segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini. Serta ‘seolah-olah’ tampak ada berbagai kehendakNya yang muncul secara ‘tiba-tiba’, atau turun begitu saja dari langit. Namun justru jika benar-benar dipahami, segala kejadian atau peristiwa dalam kandungan isi dari ayat-ayat Al-Qur’an yang terkait, maka selain segala kejadian itu bersifat ‘mutlak’ (pasti berlaku), justru hal yang lebih pentingnya lagi, segala kejadian akibat perbuatan Allah itu pasti mengikuti sesuatu aturan yang bersifat ‘kekal’ (tidak berubahubah), bahkan amat sangat alamiah proses kejadiannya. Sehingga segala kehendak dan perbuatan-Nya di alam semesta ini bukan muncul dan terjadi secara ‘tiba-tiba’, namun sebenarnya selalu melalui berbagai proses yang pasti dan jelas. Bahkan prosesnya bisa memakan waktu jutaan atau milyaran tahun, ataupun hanya seper sekian detik saja. Dan tiap prosesnya juga tetap sama sejak dari jaman dahulu sampai akhir jaman nanti. Pemahaman pada buku ini, segala proses kejadian (lahiriah dan batiniah) atas segala zat ciptaan-Nya di seluruh alam semesta ini, pasti mengikuti aturan-Nya (sunatullah), yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’ (pasti berlaku, tidak pernah berubah, dan berlaku amat sangat alamiah, halus, tidak kentara, dsb). Sedang sebaliknya, segala hasil perbuatan makhluk-Nya justru bersifat ‘tidak mutlak’ dan ‘tidak kekal’ (tidak pasti berlaku, relatif, berubah-ubah, tidak konsisten, dsb). Berbagai contoh ayat-ayat Al-Qur’an yang telah bisa diketahui yang membahas tentang berbagai kehendak-Nya, yang telah diringkas dan diambil intisarinya, berikut uraian prosesnya, seperti:

Berbagai rangkuman ringkas tentang kehendak-Nya, dalam Al-Qur’an a.

Kehendak-Nya untuk mengirimkan angin, menggerakkan atau membentangkan awan, dan menurunkan air hujan. Lalu air hujan itu diturunkan-Nya mengenai hamba-hambaNya yang dikehendaki-Nya. (QS.30:48) Proses ini dikenal secara umum sebagai hukum alam, yang berlaku amat alamiah dan tidak berubah-ubah, dalam hal-hal lahiriah di alam semesta (khususnya di Bumi). Tentunya hamba-hamba-Nya itupun hanyalah orang-orang yang tinggal pada daerahdaerah yang pada waktu-waktu tertentu memungkinkan terjadinya hujan (misalnya di musim hujan). Baca pula topik "Benda mati nyata", tentang proses penciptaan air dan lautan.

b.

Kehendak-Nya untuk menimpakan hujan es bagi siapa yang dikehendaki-Nya, tetapi tidak bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS.24:43)

1114

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Proses ini serupa dengan poin a di atas, tetapi hanyalah dikehendaki-Nya bagi orangorang, yang tinggal di daerah-daerah dengan musim dingin dan musim semi. Sedang tidak dikehendaki-Nya bagi sebagian besar orang-orang yang tinggal di daerah tropis. c.

Kehendak-Nya untuk memberi rejeki-Nya, kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS.24:38) Proses ini hanyalah melalui usaha yang keras dalam mencari rejeki-Nya, seperti pada para konglomerat atau orang-orang terkaya di dunia misalnya. Sedang orang yang tidak mau berusaha keras, pasti bukan termasuk orang yang dikehendaki-Nya. Baca pula topik "Sunatullah (sifat proses)", tentang diturunkan-Nya rejeki-Nya.

d.

Kehendak-Nya untuk mengutus seorang yang memberi peringatan (rasul) pada tiaptiap negeri. (QS.25:51) Proses ini biasanya hanya terjadi pada negeri-negeri yang kaumnya relatif banyak melakukan keburukan, kezaliman, kekafiran, dsb. Sehingga secara alamiah muncul dari kalangan kaum itu sendiri, orang-orang yang amat arif-bijaksana dan berilmupengetahuan tinggi, yang bersedia berusaha keras memperbaiki keadaan kaumnya. Baca pula topik "Para nabi dan rasul utusan-Nya".

e.

Kehendak-Nya untuk membimbing kepada petunjuk atau cahaya-Nya, siapa yang dikehendaki-Nya. (QS.24:35) Proses ini pasti hanya terjadi pada orang-orang yang berusaha memahami berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (petunjuk-Nya). Lalu mengamalkan hasil pemahamannya itu, ke dalam bentuk akhlak dan amal-perbuatannya sehari-hari. Baca pula topik "Pemahaman agama dan kitab tuntunan-Nya di jaman modern" atau topik-topik lainnya.

f.

Kehendak-Nya untuk menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan-Nya yang lurus. (QS.24:46) Proses ini serupa dengan poin e di atas.

Kemutlakan semua sifat-Nya, kesatuan yang utuh Hal penting lainnya, yang justru telah dilupakan pula oleh ke semua aliran-aliran itu, adalah Fitrah Allah (sifat-sifat yang terpuji Allah), yang tergambarkan pada nama-nama yang terbaik yang hanya milik Allah (Asmaul Husna), agar masing-masing sifat-sifat-Nya tidak dipahami secara terpisah-pisah, namun semestinya dipahami sebagai sesuatu kesatuan yang utuh. Pemahaman secara terpisah-pisah inilah sumber utama dari tiap bentuk kemusyrikan. Padahal sesuatu Zat disebut Allah (Tuhan ataupun Ilah), pada hakekatnya adalah karena Zat itupun semestinya pasti memiliki segala kesempurnaan dan kemuliaan, yang tanpa ada cacat sama-sekali. Baca pula topik "Sifat-sifat ciptaan-Nya", tentang proses pemahaman atas sifat-sifat-Nya, berikut permasalahan pemahamannya.

Contoh sederhananya, tiap sifat Allah (Maha berkehendak atau


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1115

Maha berkuasa) tidak semestinya dipertentangkan dengan sifat-sifatNya lainnya: Maha memelihara, Maha melindungi, Maha pengampun, Maha penyayang, Maha bijaksana dan adil, dsb. Karena semua sifatNya justru merupakan sesuatu kesatuan yang utuh, yang membentuk segala kesempurnaan dan kemuliaan-Nya. Jika Allah berlaku atau berbuat sekehendak-Nya, maka dengan sendirinya sifat-sifat-Nya lainnya bisa berkurang ataupun bahkan bisa hilang. Jika Allah "terlalu" penyayang, maka sifat Maha adil-Nya akan bisa hilang. Demikian pula sifat-sifat-Nya lainnya. Semua penafsiran yang serba "terlalu" berlebihan atau tidak proporsional atas sifat-sifat Allah, justru pada akhirnya bisa mengurangi segala kesempurnaan dan kemuliaan-Nya. Hindari menganalogikan sifat-Nya, dengan sifat makhluk-Nya Segala penafsiran atas sifat dan perbuatan-Nya mestinya tidak disetarakan, tidak dibandingkan atau tidak dianalogikan, dengan sifat dan perbuatan manusia (atau segala zat makhluk-Nya lainnya). karena segala sesuatu hal tentang Allah memang justru amat berbeda daripada segala zat ciptaan dan makhluk-Nya. Jikalau suatu analogi diperlukan sebagai suatu ‘perumpamaan’, maka hal ini mestinya dilakukan secara amat hati-hati, serta tidak mudah dijadikan sebagai alasan pembenaran atau mestinya tetap diletakkan semata sebagai perumpamaan, karena hal ini juga relatif amat mudah terarah kepada suatu kemusyrikan. Contoh sederhananya: sifat Maha luas-Nya misalnya pada takterbatasnya luas alam semesta ini; sifat Maha tinggi-Nya, pada takterbatasnya tinggi langit; sifat Maha Esa dan Maha memelihara-Nya, pada segala proses kejadian di alam semesta ini yang berjalan amat teratur (tidak ada Ilah selain Allah, yang bisa mengganggunya); dsb. Walau bagaimanapun, segala zat ciptaan-Nya justru mustahil memiliki segala kesempurnaan dan kemuliaan, seperti yang dimiliki oleh Allah, Yang Maha Sempurna dan Maha Mulia. Bahkan sesuatu perumpamaan yang berupa analogi seperti itu justru tidak ditemukan dalam Al-Qur’an. Secara simbolik, analogi seperti itu telah digantikan oleh istilah ‘Maha’ atas setiap sifat-sifat-Nya (sebagai suatu hal yang berada di luar jangkauan akal manusia, ataupun amat berbeda daripada segala zat makhluk-Nya). Segala analogi atau perumpamaan justru hanya bisa ditemukan dalam Al-Qur’an, pada saat dipakai untuk bisa menggambarkan halhal yang gaib lainnya, ‘selain’ Zat Allah (seperti: kehidupan atau alam akhirat, para makhluk gaib, dsb).

1116

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

Sedang dalam contoh di atas misalnya, pada zat-zat ciptaanNya hanya bisa menggambarkan ‘salah-satu atau beberapa’ saja dari semua sifat-Nya pada Asmaul Husna. Walau sebaliknya, justru semua sifat-Nya memang hanya bisa dipahami, melalui segala zat ciptaanNya dan segala kejadian di alam semesta ini. Sekali lagi, bahwa pada dasarnya mustahil ada sesuatu zat di alam semesta ini, yang tidak bisa ‘dilihat’ (dengan mata lahiriah) dan tidak bisa ‘diketahui’ (dengan mata batiniah) oleh manusia, seperti halnya Zat Allah, Yang Maha Gaib, karena ‘esensi’ dari Zat Allah memang mustahil bisa terjangkau oleh manusia. Zat para malaikatpun bahkan masih bisa, karena sebagian manusia telah mengetahui ‘wujud asli’ mereka. Akan tetapi manusia hanya bisa melihat atau mengetahui berbagai hasil perwujudan dari ‘perbuatan’ Zat Allah di alam semesta ini, melalui mata lahiriah dan terutama lagi melalui mata batiniahnya. Hindari berfilsafat tentang sifat-sifat-Nya Juga diperlukan tingkat kehati-hatian yang amat tinggi, bahkan sebaiknya dihindari dalam ‘berfilsafat’ tentang Allah, karena bahasa dalam ilmu filsafat, adalah bahasa yang biasanya dikenal dan dipakai dalam kehidupan nyata manusia sehari-harinya (kehidupan makhlukNya), yang pasti amat terbatas untuk bisa menjelaskan segala hakekat tentang zat dan sifat Allah, Yang Maha gaib. Juga segala teori ilmu filsafat pada akhirnya menganalogikan sifat-sifat-Nya dengan sifat-sifat manusia, seperti yang justru biasanya dilakukan oleh para umat Nasrani (Kristiani) dan umat agama-agama lainnya, yang telah berbuat musyrik (menyekutukan Allah dengan zatzat ciptaan-Nya). Maka sebaiknya bagi umat Islam, agar tidak berfilsafat ketika berusaha memahami berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (alHikmah) dalam ajaran-ajaran agamanya. Namun semestinya diungkap dengan menggunakan berbagai fakta, kenyataan dan kebenaran yang bisa ditemukan di seluruh alam semesta ini, yang sering disebutkan sebagai "tanda-tanda kemuliaan dan kekuasaan-Nya". Lebih utamanya lagi, dengan mengacu kepada ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri, yang telah disampaikan oleh nabi Muhammad saw sebagai suatu pengajaran dan tuntunan-Nya bagi seluruh umat manusia. Sebaliknya pada ilmu filsafat, berbagai fakta, kenyataan atau kebenaran itu biasanya tidak dipakai secara apa adanya. Tetapi justru ilmu filsafat biasanya memakai beberapa fakta yang sederhana, untuk bisa mengambil teori-teori yang bersifat lebih umum dan luas. Adanya


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1117

pengembangan dan pengurangan atas fakta inilah, yang semestinya dicermati dengan amat hati-hati, selain ilmu filsafat memang memakai "bahasa dan analogi manusia" di atas. Baca pula topik "Pemahaman agama dan kitab tuntunanNya di jaman modern", tentang metode-metode pemahaman hikmah dan hakekat atas ajaran-ajaran agama-Nya. Hampir ke semua aliran yang dibahas, khususnya yang cukup lengkap pembahasannya, yaitu aliran-aliran: Mu'tazilah, Asy'ariah, Maturidiah Samarkand dan Maturidiah Buchara, justru terjebak amat mendalam kepada dasar-dasar pemahaman yang bersumber dari teoriteori mereka dalam berfilsafat. Maka tidak heran apabila sebagian dari pemahaman mereka, terkadang bisa bertentangan dengan pemahaman mereka sendiri yang lainnya. Kemudian pada akhirnya, mereka sendiri melakukan berbagai usaha untuk "berkompromi" yang seolah-olah dipaksakan, agar setiap pemahaman mereka tetap tampak "benar". Hal-hal seperti ini biasanya akan terus berkembang, dan bahkan berbagai bentuk pemahamannya yang dilahirkan justru akan tampak "aneh" bagi orang yang berilmu sekalipun Wallahu a'lam bishawwab. Kebebasan dan keterbatasan manusia Akal, kebebasan, kehendak ataupun kekuasaan manusia tetap merupakan hal-hal yang selalu diliputi atau dibatasi oleh aturan-Nya (sunatullah). Kehendak dan kekuasaan manusiapun amat mustahil bisa dibandingkan dan disetarakan dengan kehendak dan kekuasaan Allah, termasuk pula pasti mustahil bisa mengurangi kekuasaan Allah. Dan bahkan kehendak dan kekuasaan manusia justru diliputi atau dibatasi oleh kehendak dan kekuasaan Allah. Lebih tepatnya, kehendak dan kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia, adalah bagian dari kehendak ataupun rencana Allah di dalam penciptaan seluruh alam semesta ini. Kehendak dan kekuasaan manusia sama-sekali tidak menjangkau dan bersinggungan dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Seperti misalnya, akal masih mungkin bisa mengungkap halhal ‘gaib’ (tepatnya ‘perbuatan’ dari zat-zat gaib), seperti kemampuan yang dimiliki oleh para nabi-Nya, namun akal mustahil akan mampu menjelaskan ‘esensi atau hakekat’ dari zat-zat gaib (zat Allah dan zat ruh-ruh makhluk-Nya). Sekali lagi, hal-hal gaib yang masih mungkin dicapai melalui nalar-intuisi-logika akal-pikiran manusia justru hanya

1118

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

berupa hasil perwujudan dari berbagai ‘perbuatan’ zat-zat gaib itu di alam semesta ini. Melalui segala hasil perbuatannya di alam semesta ini, zat-zat gaib itu justru memang hendak menunjukkan segala kemuliaan dan kekuasaan-Nya kepada umat manusia, agar bisa mengenal Allah Yang telah menciptakannya. Bahkan amat banyak pula berbagai ‘langit’ lain yang justru mustahil mampu dijangkau oleh manusia, secara lahiriah dan batiniah. Perbedaan penafsiran atas perbuatan Allah Yang Maha Halus Perbedaan pemahaman antara pembahasan pada buku ini dan pada aliran-aliran, ataupun antar aliran itu sendiri, pada dasarnya lebih utamanya terjadi akibat perbedaan pemahaman yang relatif tajam atas perwujudan kehendak dan perbuatan Allah di seluruh alam semesta ini, yang memang Maha Halus, sedang hal ini berkaitan amat sangat erat dengan daya, kehendak dan perbuatan manusia. Dalam segala halnya, zat Allah amat sangat berbeda daripada segala zat ciptaan-Nya ataupun zat makhluk-Nya, termasuk dalam hal berkehendak, bertindak atau berbuat, maka amat sulit bisa dipahami. Sementara itu, manusia hanya bisa mengenal Allah dari memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya di seluruh alam semesta ini, seperti yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya. Kemudian para nabi-Nya itupun menyampaikan hasil pengetahuan atau pemahamannya kepada umat manusia lainnya, melalui berbagai ajaran agama-Nya, agar bisa makin mudah dipahami pula oleh seluruh umat manusia. Di pihak lain, pemahaman atas kehendak dan perbuatan Allah justru mestinya dimiliki oleh setiap manusia, secara langsung ataupun tidak (melalui ajaran-ajaran para nabi-Nya), agar saat setiap manusia menjalani kehidupannya, semaksimal mungkin bisa pula memperoleh keredhaan Allah (sesuai kehendak Allah), Tuhan alam semesta ini dan tempat segala sesuatu hal bergantung. Sebaliknya, agar setiap manusia menjalani kehidupannya tidak terlalu jauh dari jalan-Nya yang lurus, demi keselamatan dan kemuliaan atas manusia itu sendiri. Padahal kemanapun mata lahiriah dan mata batiniah manusia memandang, juga semestinya bisa mengetahui segala hasil perbuatanNya (melalui sunatullah, lahiriah dan batiniah). Sedang pelaksanaan sunatullah itu dikawal oleh tak-terhitung jumlah para malaikat. Contoh sederhananya, pada saat Allah ‘menggiring’ awan, lalu diturunkan-Nya air hujan; saat seseorang marah, jika badannya telah dipukul oleh orang lainnya; saat seseorang sedih, setelah orang-tuanya


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1119

menunggal dunia; dan segala hal lainnya yang terjadi di alam semesta. Pada umumnya, segala kejadian itu hanya dikelompokkan oleh manusia menjadi dua, yaitu: "terjadi begitu saja" dan segala hasil dari perbuatan setiap makhluk-Nya itu sendiri. Atas hal-hal yang "terjadi begitu saja" di alam semesta, umumnya manusia menyebutnya sebagai "hukum alam", sebagian lainnya menyebutnya sebagai "sunatullah". Apabila dikaitkan dengan kejadian diturunkan-Nya air hujan di atas, maka justru bisa disimpulkan pula, "Allah menurunkan air hujan melalui hukum alam" atau "Allah bertindak melalui segala hukum dan aturan-Nya, yang diciptakan-Nya bagi alam semesta". Serta segala hal yang "terjadi begitu saja" di atas (yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’), adalah hasil dari perbuatan-Nya. Segala perbuatan-Nya bukan hanya semata-mata menciptakan zat-zat ciptaan ataupun makhluk-Nya, tetapi justru termasuk pula segala proses kejadian setiap saatnya di seluruh alam semesta ini, yang bersifat ‘mutlak’ dan ‘kekal’. Sunatullah tentang hal-hal batiniah Bagaimana penjelasan bagi segala proses yang justru bersifat ‘batiniah’ di atas?. Berbagai buku, catatan atau pernyataan yang telah diketahui dari para alim-ulama dan para cendikiawan Muslim, relatif amat jarang yang berbicara tentang "hukum batiniah". Hampir semua hanya mengaitkan sunatullah dengan hal-hal lahiriah semata. Padahal dalam Al-Qur’an justru relatif amat banyak disebut tentang pemberian pahala-Nya, yang memang bersifat batiniah, termasuk pula berbagai kadar pahala-Nya bagi setiap amal-kebaikan manusia. Maka dari pemahaman pada buku ini, justru aturan-Nya atau sunatullah meliputi pula aturan-aturan yang bersifat ‘batiniah’. Walau hal ini memang relatif amat sulit untuk dipahami oleh manusia biasa pada umumnya, karena juga relatif amat sulit untuk dijelaskan. Halhal batiniah dan gaib ini memang hanya hak milik Allah Yang Maha mengetahui segala rahasianya. Diketahui hanya para nabi-Nya (tepatnya lagi para rasul-Nya), yang memiliki pemahaman yang relatif amat mendalam, atas aturanaturan batiniah itu. Sehingga mereka juga mampu menyusun hukumhukum syariat dalam agama, berdasar berbagai pengalaman batiniah (rohani-moral-spiritual) yang pernah dijalaninya, secara lengkap dan mendalam. Seperti saat nabi Muhammad saw telah selesai menjalani perjalanan batiniahnya yang amat luar-biasa "'Isra Mi'raj", kemudian Nabi mensyariatkan adanya shalat wajib lima waktu sehari semalam. Hal lebih pentingnya lagi, bahwa mustahil para nabi-Nya bisa

1120

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

menyampaikan ajaran-ajaran agama-Nya, jika berbagai aspek batiniah tersebut sama-sekali tidak memiliki aturan-aturan yang pasti dan jelas. Ajaran-ajaran agama-Nya pada dasarnya juga pasti memiliki berbagai tujuan batiniah di dalamnya, dan menjadi tuntunan bagi seluruh umat manusia, untuk bisa mengatur kehidupan batiniah ruhnya (kehidupan akhiratnya), ketika sambil menjalani kehidupan lahiriah-duniawinya. Persoalannya justru pada amat sedikitnya jumlah manusia yang bisa memahami aturan atau hukum dalam hal-hal batiniah itu, seperti: para nabi-Nya, para sahabat Nabi, para wali, dsb. Mereka telah bisa memiliki tingkat keimanan yang amat tinggi, sehingga pengetahuan mereka tentang hal-hal batiniah itu juga lebih tinggi daripada manusia biasa umumnya. Lebih jelasnya, kepekaan mata batiniah mereka (hatikalbu) telah amat tajam, karena cermin batiniah ruh mereka telah amat bersih, sehingga hati-kalbu merekapun bisa amat terang memantulkan berbagai cahaya kebenaran-Nya yang terkait hal-hal gaib dan batiniah. Selain itu, berbagai pemahaman yang bisa mengaitkan antara sunatullah dan berbagai proses batiniahnya dianggap amat diperlukan, karena dengan kemutlakan setiap sifat-sifat-Nya mustahil Allah hanya menciptakan sesuatu hal yang amat terbatas (hanya sunatullah bersifat lahiriah saja, atau ‘hukum alam’). Apalagi sunatullah adalah sebutan lain bagi segala perbuatan Allah di alam semesta ini (Sunnah Allah). Padahal diketahui bahwa segala aspek batiniah pada manusia justru mempengaruhi pula berbagai aspek lahiriahnya. Demikian pula sebaliknya, bahwa segala aspek lahiriah bisa mempengaruhi berbagai aspek batiniahnya. Contoh sederhananya seperti: orang cenderung mudah marah, saat tubuhnya sedang capek (kehabisan energi fisik); air mata keluar, saat sedang sedih; keluar keringat dingin, saat sedang ketakutan; tubuh sulit digerakkan, saat sedang tidak bersemangat; dsb. Hasil perbandingan antar aliran-aliran Akhirnya, hasil perbandingan kualitatif dan kuantitatif di atas tidak menunjukkan apa-apa, kecuali hanya letak relatif "posisi" hasil pemahaman pada buku ini, terhadap pemahaman dari berbagai aliran yang dibahas, untuk bahan perbandingan bagi setiap umat Islam. Pada dasarnya tidak ada sesuatupun dari aliran-aliran teologi tersebut, yang pemahamannya betul-betul sesuai dengan pemahaman pada buku ini. Juga berbagai hasil perbandingan di atas bukan menunjukkan bentuk pemahaman yang paling benar, karena hal ini memang semata hanya hak milik Allah, Yang Maha mengetahui segala sesuatu hal.


Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

1121

Mininal dari berbagai uraian di atas diharapkan bisa semakin memperluas sudut pandang atau wawasan setiap umat Islam, di dalam memahami ajaran-ajaran agamanya. Sekaligus agar setiap umat Islam bisa lebih mengetahui berbagai aliran-mazhab-golongan teologi dalam agamanya sendiri, berikut setiap pemahamannya masing-masing. Agar setiap umat Islam makin terbuka, jernih dan proporsional, saat menilai kebenaran-Nya dalam ajaran-ajaran agama Islam, seperti: Al-Qur’an, Sunnah Nabi (Hadits), Ijtihad (Qiyas, Ijma', Istihsan, dsb), dsb. Juga agar diharapkan bisa ikut mengurangi, dan bahkan bisa menghilangkan segala bentuk tahayul, taklid dan dogma, yang tidak berdasarkan suatu pengetahuan, sehingga dengan sendirinya semakin meningkatkan keyakinan atau keimanan batiniah umat (pemahaman). Di samping amat penting pula, untuk bisa meningkatkan keyakinan atau keimanan lahiriahnya (pengamalan), secara amat konsisten. Padahal ‘hijab-tabir-pembatas’ antara Allah dan setiap umat manusia hanya berupa ‘pengetahuan’ umat itu atas setiap kebenaranNya di alam semesta ini. Sedangkan ‘hijab yang terdekatnya’ berupa pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah), seperti halnya yang telah dimiliki oleh seluruh para nabi-Nya, yang memiliki al-Kitab ataupun tidak. Ilmu-ilmu teologi bagi pemahaman keagamaan, seperti yang dipakai oleh aliran-aliran itu, biasanya disebutkan sebagai ilmu tauhid, ilmu ushuluddin, ilmu kalam, ilmu filsafat, dsb. Walau ilmu-ilmu ini sedikit-banyak memiliki perbedaan pada definisinya masing-masing, yang dipengaruhi oleh fokus dan metode-cara perolehan ilmunya. Namun demikian ilmu-ilmu inipun memiliki suatu kesamaan, terutama karena tujuannya membentuk dasar-dasar pokok dan pondasi pemahaman umat Islam atas ajaran-ajaran agamanya. Selain itu karena ilmu-ilmu inipun mendalami tentang Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatanNya, wahyu-Nya, para utusan-Nya (para malaikat-Nya dan para nabiNya), tujuan diciptakan-Nya kehidupan di dunia dan di akhirat, zat dan alam ruh-ruh makhluk-Nya, dsb. Namun pada akhirnya, ilmu-ilmu teologi itu semestinya tidak jauh menyimpang dari berbagai hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (al-Hikmah) pada ajaran-ajaran agama Islam, terutama ayat-ayat kitab suci Al-Qur’an sebagai dasar tertinggi ajaran agama Islam. Hal itu terutama dengan membentuk ‘bangunan pemahaman’ atas ajaran-ajaran agama Islam secara relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan. Aspek-aspek ini telah

1122

Lampiran D: Perbandingan aliran-aliran teologi Islam

dipahami pada buku ini, sebagai suatu ukuran bagi pemahaman setiap umat Islam yang telah amat mendekati pemahaman nabi Muhammad saw, atas agama-Nya yang lurus dan terakhir diturunkan-Nya (Islam). Wallahu a'lam bishawwab. "Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur`an (hai Muhammad), dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya), dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dengan meninggalkan kebenaran, yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja). Tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada-Nya-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu, apa yang telah kamu perselisihkan itu," (QS.5:48)


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an

1123

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an 1

> Perselisihan pemahaman atas ajaran agama-Nya - Mengenai banyak golongan pemahaman keagamaan, disebutkan: (lihat catatan 93: "Agama dan kitab tauhid", mengenai banyak golongan pemahaman atau perpecahan pada agama-agama tauhid)

- Mengenai adanya perselisihan umat manusia dalam memahami agama-Nya, disebutkan: Manusia yang cenderung berselisih "Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Rabb-mu dahulu (untuk menguji keimanan manusia), pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu." <QS.10:19>

"…. Akan tetapi mereka (cenderung selalu) berselisih. Maka ada di antara mereka yang beriman, dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka saling berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat, apa yang dikehendaki-Nya (untuk menguji keimanan manusia)." <QS.2:253> "… . Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu, terhadap pemberian-Nya kepadamu (segala nikmat-Nya sebagai khalifah-Nya), maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada-Nya-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukanNya kepadamu, apa yang telah kamu perselisihkan itu," <QS.5:48> "Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya, dan memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya (untuk menguji keimanan manusia). Dan sesungguhnya kamu akan ditanya, tentang apa yang telah kamu kerjakan." <QS.16:93> "Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir, pada waktu (mereka) menyaksikan hari yang besar (Kiamat)." <QS.19:37> "Tentang sesuatu apapun kamu (cenderung) berselisih, maka putusannya (pasti tetap tergantung) kepada Allah. (Yang mempunyai kekuasaan demikian) itulah Allah Rabb-ku. Kepada-Nya-lah aku bertawakal dan kembali." <QS.42:10> "Jikalau Rabb-mu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat," <QS.11:118> "kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabb-mu (keputusan-Nya) telah ditetapkan (untuk menguji keimanan manusia). …" <QS.11:119> Berselisih tentang kebenaran-Nya dalam Al-Kitab "Yang demikian (terjadinya perselisihan) itu, adalah karena telah diturunkan-Nya

1124

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an

Al-Kitab, dengan membawa kebenaran. Dan sesungguhnya, orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al-Kitab itu, benar-benar (berada) dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran itu)." <QS.2:176> "Sesungguhnya, agama (yang lebih diredhai) di sisi-Nya hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberikan Al-Kitab (kaum Yahudi dan Nasrani), kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka (kepada agama-Nya yang terakhir, Islam). Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat-Nya, sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya." <QS.3:19> "… . Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (kebenaran yang disebut dalam Taurat). Sesungguhnya Rabb-kamu akan memutuskan antara mereka di Hari Kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan itu." <QS.10:93> "Dan sesungguhnya, Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, lalu diperselisihkan tentang Kitab itu. Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Rabb-mu (untuk menguji keimanan manusia), niscaya telah ditetapkan hukuman di antara mereka. …" <QS.11:110> "Dan Kami berikan kepada mereka, keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (mereka). Maka mereka tidak berselisih, melainkan setelah datang kepada mereka pengetahuan (atas kebenaran-Nya pada Al-Qur'an), karena kedengkian di antara mereka. Sesungguhnya Rabb-mu akan memutuskan antara mereka pada Hari Kiamat, terhadap apa yang mereka selalu berselisih mengenainya." <QS.45:17> "Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab (kaum Nasrani dan Yahudi), melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: `Kami telah beriman kepada (kitab-kitab-Nya) yang diturunkan kepada kami, dan kepadamu. Ilah kami dan Ilahmu (sesungguhnya) adalah satu. Dan kami hanya kepada-Nya berserah diri`." <QS.29:46> "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb, mereka kembali, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan." <QS.6:108> Perbedaan dan perselisihan pemahaman "Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih, setelah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksaan-Nya yang berat," <QS.3:105>

"Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur`an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka, apa yang mereka perselisihkan itu, dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." <QS.16:64> "(hamba-hamba-Ku) yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk, dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal." <QS.39:18>


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an

1125

"Dan janganlah kamu mengikuti, apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan (pemahaman) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya." <QS.17:36> "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya, kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi, dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung." <QS.17:37> "Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk." <QS.6:116> "Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah Yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk." <QS.6:117> "… . Dan sesungguhnya, kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah Yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas." <QS.6:119> "… . Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta tentang Allah, untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan`. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang (berbuat) zalim." <QS.6:144> Pengujian tiap amal-perbuatan manusia "Dan Dia-lah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah `Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. …." <QS.11:7>

"(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun." <QS.67:2> "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi, sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." <QS.18:7> "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: `hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." <QS.17:53> "Siapakah yang lebih baik perkataannya, daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh, dan berkata: `Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri`." <QS.41:33> "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia (dulunya) ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." <QS.41:34> "Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan, melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan, melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." <QS.41:35>

1126

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an Perselisihan tidak mesti habis tuntas di dunia "Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya, sampai suatu waktu (Hari Kiamat)." <QS.23:54>

"Allah akan (bertindak membalas) olok-olokkan mereka, dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatannya." <QS.2:15> "Dan barangsiapa yang menentang Rasul, setelah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali." <QS.4:115> "… . Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang berbuat baik." <QS.5:13> "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur`an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan yang sangat." <QS.6:110> "Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." <QS.7:186> Tidak ada tanggung-jawab tiap umat atas perbuatan umat lainnya, kecuali hanya mengingatkan saja "Sesungguhnya, Kami telah mengutus (Muhammad) dengan kebenaran Kami, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggung-jawaban oleh Allah), tentang penghuni-penghuni neraka." <QS.2:119>

"Itu adalah (kisah) umat yang telah lalu. Baginya apa yang diusahakannya, dan bagimu apa yang kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban, atas apa yang telah mereka kerjakan." <QS.2:141> dan <QS.2:134> "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi hari dan petang hari, sedang mereka menghendaki keredhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim." <QS.6:52> "Dan tidak ada pertanggungan-jawab sedikitpun atas orang-orang yang bertaqwa terhadap dosa mereka. Akan tetapi (kewajiban kepada mereka hanyalah) mengingatkan, agar mereka bertaqwa." <QS.6:69> "Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian (di Hari Kiamat) Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat." <QS.6:159> "Katakanlah: `Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kita perbuat, dan kami tidak akan ditanya (pula), tentang apa yang kamu perbuat`." <QS.34:25>


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an

1127

"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur`an), untuk manusia dengan membawa kebenaran. Siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat, maka sesungguhnya, dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali, bukanlah orang yang bertanggung-jawab terhadap mereka." <QS.39:41> "Dan ingatlah, ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: `Sesungguhnya aku tidak bertanggung-jawab, terhadap apa yang kamu sembah," <QS.43:26> "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," <QS.74:38> "dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orangorang yang beriman." <QS.26:215> "Jika mereka mendurhakaimu, maka katakanlah: `Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab, terhadap apa yang kamu kerjakan`." <QS.26:216> Diputuskan-Nya perselisihan di Hari Kiamat "… . Kemudian kepada Rabb-mulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan`." <QS.6:164>

"agar Allah menjelaskan kepada mereka (di Hari Kiamat tentang) apa yang mereka perselisihkan itu, dan agar orang-orang kafir itu mengetahui, bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta." <QS.16:39> "… . Sesungguhnya, Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya, di Hari Kiamat, akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu." <QS.16:92> "… . Dan sesungguhnya, Rabb-mu benar-benar akan memberi keputusan di antara mereka di Hari Kiamat, terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu`." <QS.16:124> "Allah akan mengadili di antara kamu pada Hari Kiamat, tentang apa yang kamu dahulu selalu berselisih mengenainya." <QS.22:69> "Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah Yang memberikan keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat, tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya." <QS.32:25> "…. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka (di Hari Kiamat), tentang apa yang mereka berselisih mengenainya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki (memberi petunjuk kepada) orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar." <QS.39:3>

1128

2

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an

> Keutamaan orang-orang yang berilmu-pengetahuan (para alim-ulama) - Mengenai keutamaan orang-orang yang berilmu-pengetahuan (atau menggunakan akal-pikirannya), disebutkan: Dinyatakan dengan anjuran untuk mencari ilmu "…, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." <QS.58:11>

"Kami tiada mengutus rasul-rasul, sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki, yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah (kisah-kisah mereka) olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." <QS.21:7> "Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu (Karun), pahala Allah adalah lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar"." <QS.28:80> "Dan berkata(lah) orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan, (kepada orang-orang yang kafir): "Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu, akan tetapi kamu selalu tidak menyakini(nya)." <QS.30:56> "Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat, bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabb-mu, itulah yang benar, dan menunjuki (manusia) kepada jalan Rabb Yang Maha Perkasa, lagi Maha Terpuji." <QS.34:6> Dinyatakan dengan anjuran untuk mempergunakan akal "Allah memberikan hikmah, kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali orang-orang yang berakal." <QS.2:269>

"Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikan buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal." <QS.5:58> "Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu itu, benar sama dengan orang yang buta?. Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran," <QS.13:19>

"Katakanlah: `Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui barang gaib dan yang nyata, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu, tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya`." <QS.39:46>

"Musa berkata: "Rabb yang menguasai timur dan barat, dan apa yang ada di antara keduanya, (Itulah Rabb-mu), jika kamu mempergunakan akal"." <QS.26:28>

"Maka berselisihlah golongan-golongan (umat) di antara mereka. Lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim, yakni siksaan hari yang pedih (Hari Kiamat)." <QS.43:65> "Mereka tidak menunggu, kecuali kedatangan Hari Kiamat kepada mereka, dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya." <QS.43:66>

"…. Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui, dengan orangorang yang tidak mengetahui". Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran." <QS.39:9> "yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk, dan mereka itulah


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1129

1130

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

orang-orang yang mempunyai akal." <QS.39:18>

<QS.7:176>

"Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu, tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering, lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal." <QS.39:21>

"Katakanlah: "Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak akan membacakannya kepadamu (wahyu-Nya) dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu". Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?." <QS.10:16>

Dinyatakan dengan anjuran untuk mempergunakan pikiran "Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian?, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat). Maka tidakkah kamu berpikir." <QS.2:44>

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Rabb-kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." <QS.3:191> "Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu, bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti, kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku". Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat". Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)." <QS.6:50> "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu, apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, supaya kamu berpikir," <QS.2:219> "Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu, sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah, Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu, supaya kamu memikirkannya." <QS.2:266> "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan, melainkan setelah Ibrahim (segala hal-ihwal Ibrahim mestinya telah cukup jelas). Apakah kamu tidak berpikir." <QS.3:65> "Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang (telah) kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." <QS.3:66> "â&#x20AC;Ś. Demikian itulah, perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu, agar mereka berpikir."

"Hai kaumku, aku (Huud) tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah, yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?"." <QS.11:51> "Berkata Nuh: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Rabb-ku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa(kah) akan kami paksakan kamu (untuk) menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya"." <QS.11:28> "Shaleh berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabb-ku, dan diberi-Nya aku rahmat dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah, jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain dari kerugian." <QS.11:63> "Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabb-ku, dan dianugerahi-Nya aku dari-Nya rejeki yang baik. Dan aku tidak berkehendak mengerjakan, apa yang aku larang kamu darinya. Aku tidak bermaksud, kecuali (untuk membawa) perbaikan, selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku, melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali." <QS.11:88> "Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki (para rasul-Nya) yang kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul-Nya), dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya." <QS.12:109> "Dan tidakkah manusia itu memikirkan, bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang (sebelumnya) ia tidak ada sama sekali." <QS.19:67> "Barangsiapa yang menyangka, bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya; kemudian hendaklah ia pikirkan, apakah tipu-dayanya itu dapat melenyapkan, apa yang menyakitkan hatinya." <QS.22:15> "Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya, kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabb-nya." <QS.30:8>


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1131

"Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Rabb-kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh, berlainan dengan yang telah kami kerjakan (dulu di dunia)". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu, dalam masa yang cukup untuk berpikir, bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan, maka rasakanlah (azab Kami), dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun." <QS.35:37> "Sesungguhnya, syaitan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan?." <QS.36:62> "Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan mereka kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?." <QS.36:68> "Dan sesungguhnya, kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas kebinasaan) mereka (dalam perjalananmu) di waktu pagi," <QS.37:137> "dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?." <QS.37:138> "Dan Kami anugerahi dia (Ayyub, dengan mengumpulkan kembali) keluarganya, dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula, sebagai rahmat dari Kami, dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran." <QS.38:43> "Dan sesungguhnya, telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil," <QS.40:53> "untuk menjadi petunjuk dan peringatan, bagi orang-orang yang berpikir." <QS.40:54> "Kalau sekiranya kami menurunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah, disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia, supaya mereka berpikir." <QS.59:21> "Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyalanyala"." <QS.67:10> "Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)"." <QS.68:28> Dinyatakan dengan anjuran untuk memahami kebenaran-Nya "Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya), supaya kamu memahaminya." <QS.2:242>

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain daripada main-main dan senda-gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya!." <QS.6:32> "Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi, lagi kokoh, dan jika memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana, mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu

1132

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

(Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik), hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun." <QS.4:78> "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (orang kafir, karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai, apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya." <QS.3:118> "Ibrahim berkata: "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun, dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu." <QS.21:66> "Ah (celakalah) kamu, dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?"." <QS.21:67> "maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati, yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga, yang dengan itu mereka dapat mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." <QS.22:46> "Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?." <QS.23:80> "â&#x20AC;Ś. Maka apabila kamu memasuki rumah-rumah, hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberkahi lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(-Nya) bagimu, agar kamu memahaminya." <QS.24:61> "Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang disisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal (kehidupan akhirat). Maka apakah kamu tidak memahaminya?." <QS.28:60> "Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, setelah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup), supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan, sebelum itu. (Kami perbuat demikian), supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan, dan supaya kamu memahami(nya)." <QS.40:67> Dinyatakan dengan anjuran untuk mempelajari (atau mendengarkan, menerima, dsb) kebenaran-Nya "Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka, beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." <QS.9:122>

"Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman: zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1133

1134

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

demikian itu, benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." <QS.16:11> "Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan, untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya)." <QS.16:12> "dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini, dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benarbenar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran." <QS.16:13> "Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya (lautan itu), dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur." <QS.16:14> "Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi, supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan, agar kamu mendapat petunjuk," <QS.16:15> "dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk." <QS.16:16> "Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu, sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran." <QS.16:17>

"Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Yakub, yang mempunyai perbuatan-perbuatan (karya-karya) yang besar, dan ilmu-ilmu yang tinggi." <QS.38:45>

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah Dia menciptakan untukmu istriistri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." <QS.30:21> "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui." <QS.30:22> "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari, dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar, terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan." <QS.30:23> "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu, setelah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya." <QS.30:24> "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi (dengan sangkakala), seketika itu (juga) kamu ke luar (dari kubur)." <QS.30:25>

"Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba (Khidhr), di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." <QS.18:65> "Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu, supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar, di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu"." <QS.18:66>

- Mengenai para nabi-Nya yang berilmu-pengetahuan tinggi, disebutkan:

"Dan tatkala dia (Yusuf) cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." <QS.12:22> "dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, lagi fasik," <QS.21:74> "Lalu aku (Musa) lari meningggalkan kamu (kaum Fir'aun), ketika aku takut kepadamu, kemudian Rabb-ku memberikan kepadaku ilmu, serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul." <QS.26:21> "Dan sesungguhnya, Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami, dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman"." <QS.27:15> "maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman, tentang hukum (yang lebih tepat): dan kepada masing-masing mereka (Daud dan Sulaiman), telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih (kepada-Nya) bersama Daud. Dan Kami-lah yang melakukannya." <QS.21:79>

"Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku (Ibrahim), sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus." <QS.19:43> "Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu, Rasul di antara kamu, yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu, apa yang belum kamu ketahui." <QS.2:151>

- Mengenai Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an yang sesuai dengan ilmu-pengetahuan, disebutkan: "Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menerangkan." <QS.43:2> "Sesungguhnya, Kami menjadikan Al-Qur'an dalam bahasa Arab, supaya kamu memahami(nya)." <QS.43:3> "keterangan-keterangan (mu'jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia, apa yang telah diturunkan kepada mereka, supaya mereka memikirkan," <QS.16:44> "Ini (Al-Qur'an) adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya, dan supaya


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an

1135

mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran." <QS.38:29> "Alif laam raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al-Qur'an) yang nyata (jelas menerangkan)." <QS.12:1> "Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya." <QS.12:2> "Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan AlQur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya, kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya, adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui." <QS.12:3> "Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu (manusia) sebuah kitab (AlQur’an), yang di dalamnya terdapat sebab-sebab (yang dapat membawa) kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya." <QS.21:10> "Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orangorang yang mempunyai akal. Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." <QS.12:111> "(Al-Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Ilah Yang Maha Esa, dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran." <QS.14:52> "Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur'an) atau tidak usah beriman, (sama saja bagi Allah)". Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tersungkur atas muka mereka sambil bersujud," <QS.17:107> "Dan perumpamaan-perumpamaan (dalam Al-Qur’an) ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya, kecuali orang yang berilmu." <QS.29:43> "Sebenarnya, Al-Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata, di dalam dada orangorang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami, kecuali orang-orang yang zalim." <QS.29:49> "dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, menyakini bahwasanya Al-Qur'an itulah yang hak dari Rabb-mu, lalu mereka beriman, dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya, Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman, kepada jalan yang lurus." <QS.22:54> "Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an, dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun …. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya), melainkan orang-orang yang berakal." <QS.3:7>

- Mengenai tanda-tanda kekuasaan-Nya yang harus dipahami dengan ilmupengetahuan, disebutkan: "Katakanlah: "Dia yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongangolongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada (sebagian) kamu

1136

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an

kepada keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami, silih berganti, agar mereka memahami(nya)." <QS.6:65> "Dan sesungguhnya, Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (kebenaran-Nya) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan-Nya), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayatNya). Mereka itu sebagai binatang ternak (amat bodoh), bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." <QS.7:179> "Dan Dialah Rabb yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupi malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." <QS.13:3> "Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." <QS.13:4> "Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan." <QS.16:67> "kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan, dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu lebah). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan." <QS.16:69> "Allah memegang jiwa (orang), ketika matinya, dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Ia tahanlah jiwa, (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya, dan Dia melepaskan jiwa, yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah, bagi kaum yang berpikir." <QS.39:42> "Dan Dia menundukkan untukmu, apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." <QS.45:13> "Ketahuilah olehmu, bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi, setelah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami), supaya kamu memikirkannya." <QS.57:17> "Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut, membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu, Dia


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1137

hidupkan bumi, setelah mati (kering)-nya, dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." <QS.2:164> "Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal," <QS.3:190> "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Rabb-kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." <QS.3:191> "Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatang (ternak)mu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah, bagi orang-orang yang berakal." <QS.20:54> "Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin), berapa banyaknya Kami membinasakan, umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu?. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal." <QS.20:128> "Sesungguhnya, Kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota ini, karena mereka berbuat fasik." <QS.29:34> "Dan sesungguhnya, Kami tinggalkan darinya satu tanda yang nyata, bagi orangorang yang berakal." <QS.29:35> "dan pada pergantian malam dan siang, dan hujan yang diturunkan Allah dari langit, lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu, bumi, setelah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah), bagi kaum yang berakal." <QS.45:5> "Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu â&#x20AC;Ś. Demikianlah Kami menjelaskan tandatanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir." <QS.10:24>

- Mengenai berilmu-pengetahuan perlu untuk meningkatkan keimanan, tetapi harus juga didukung oleh ketaqwaan, disebutkan: "â&#x20AC;Ś. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya, sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." <QS.2:197>

1138

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

membinasakan umat-umat sebelumnya, yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta?. Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka." <QS.28:78> "Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu (Muhammad) disebabkan nikmat Rabb-mu, bukanlah seorang tukang tenung, dan bukan pula seorang gila." <QS.52:29> "Bahkan mereka (orang kafir) mengatakan: "Dia adalah seorang penyair, yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya"." <QS.52:30> "Katakanlah: "Tunggulah, maka sesungguhnya akupun termasuk orang yang menunggu (pula), bersama kamu"." <QS.52:31> "Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka, untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini?, ataukah mereka kaum yang melampaui batas?." <QS.52:32> "Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak," <QS.74:12> "dan anak-anak yang selalu bersama dia," <QS.74:13> "dan Ku-lapangkan baginya (rejeki dan kekuasaan), dengan selapanglapangnya," <QS.74:14> "kemudian dia ingin sekali, supaya Aku menambahnya." <QS.74:15> "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayatayat Kami (Al-Qur'an)." <QS.74:16> "Aku akan membebaninya (untuk) mendaki pendakian yang memayahkan." <QS.74:17> "Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan, (apa yang ditetapkannya)," <QS.74:18> "maka celakalah dia!. Bagaimanakah dia menetapkan," <QS.74:19> "kemudian celakalah dia!. Bagaimanakah dia menetapkan," <QS.74:20> "kemudian dia memikirkan," <QS.74:21> "setelah itu dia bermasam muka dan merengut," <QS.74:22> "kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," <QS.74:23> "lalu dia berkata: "(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu)," <QS.74:24> "ini tidak lain hanyalah perkataan manusia"." <QS.74:25> "Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar." <QS.74:26>

- Mengenai orang-orang yang berilmu-pengetahuan yang salah menerapkan pengetahuannya dan menyesatkan, disebutkan:

"Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan"." <QS.5:100>

"Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?." <QS.2:75>

"Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu." <QS.65:10>

"Dan sesungguhnya, Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (diturunkan-Nya Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an). Sesungguhnya Rabb-kamu akan memutuskan antara mereka di hari kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan itu." <QS.10:93>

- Mengenai orang-orang yang berilmu-pengetahuan yang terlalu takabur dan terburu-buru dalam menetapkan sesuatu, disebutkan: "Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah

"Sesungguhnya, syaitan itu hanya menyuruh kamu, berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada (tentang) Allah, apa yang tidak kamu ketahui." <QS.2:169>


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1139

1140

di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya." <QS.18:57>

- Mengenai berbagai perbuatan yang tanpa berdasarkan ilmu-pengetahuan, disebutkan: "Di antara manusia, ada yang membantah tentang Allah, tanpa ilmu pengetahuan, dan mengikuti setiap syaitan yang jahat," <QS.22:3>

"Kami tiada membebani seseorang, melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran (Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an), dan mereka tidak dianiaya (tidak dibebani melebihi batas kesanggupannya)." <QS.23:62> "Tetapi hati orang-orang kafir itu dalam kesesatan dari (memahami kebenaran) ini, dan mereka banyak mengerjakan perbuatan-perbuatan (buruk) selain daripada (kebenaran) itu, (dan) mereka tetap mengerjakannya." <QS.23:63>

"Dan di antara manusia, ada orang-orang yang membantah tentang Allah, tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya," <QS.22:8> "Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah?. Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun." <QS.30:29> "Tidakkah kamu perhatikan, sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu, apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia, ada yang membantah tentang (keesaan) Allah, tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan"." <QS.31:20>

"Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah", dan mereka (orang kafir) tidak mengetahui, bila mereka akan dibangkitkan." <QS.27:65> "Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (ke sana), malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta darinya (tidak dapat memahaminya)." <QS.27:66>

"Dan mereka (orang-orang Musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohongi (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasarkan) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan." <QS.6:100>

"Dan sesungguhnya, jika kamu (Muhammad) menanyakan kepada mereka (kafir Quraisy): "Siapakah yang menurunkan air dari langit, lalu menghidupkan dengan air itu, bumi setelah matinya?". Tentu mereka akan menjawab: "Allah", Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (jawabannya itu)." <QS.29:63> "Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda-gurau dan main-main. Dan sesungguhnya, akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." <QS.29:64>

"Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia, akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis), yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?". Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat; Dia memberi petunjuk, kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus"." <QS.2:142>

"Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): "Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah, supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)". Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami." <QS.63:7> "Mereka berkata: "Sesungguhnya, jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya". Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang Mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." <QS.63:8>

- Mengenai orang-orang yang telah tertutup pengetahuan dan pemahamannya atas kebenaran-Nya, disebutkan: "Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak memahami." <QS.30:59> "dan Kami hadirkan penutup di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut (kata) Rabb-mu saja dalam Al-Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang, karena bencinya." <QS.17:46> "Terangkanlah kepada-Ku, tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?," <QS.25:43> "atau apakah kamu (Muhammad) mengira, bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami (perkataanmu). Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak (yang tidak mengerti perkataan manusia), bahkan mereka lebih sesat jalannya." <QS.25:44> "Dan siapakah yang lebih zalim, daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Rabb-nya, lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang dikerjakan oleh kedua tangannya. Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

3

> Banyaknya golongan dalam agama-agama tauhid maupun Islam - Mengenai banyak golongan pemahaman keagamaan, disebutkan: (lihat catatan 93: "Agama dan kitab tauhid", mengenai banyak golongan pemahaman atau perpecahan pada agama-agama tauhid)

4

> Asmaul Husna (nama-nama baik Allah), sebagai cerminan dari sifat-sifat atau wajah Allah atau Fitrah Allah - Mengenai Asmaul Husna, disebutkan: "Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1141

menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." <QS.7:180> "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu, suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pertemuan dengan) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut (nama) Allah." <QS.33:21> "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu, adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya), dan kepada Rabb-lah mereka bertawakal," <QS.8:2> "(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar, terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat, dan orang-orang yang menafkahkan, sebagian dari apa yang telah Kami rejekikan kepada mereka." <QS.22:35> "dan Kami hadirkan penutup di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut (nama) Rabb-mu saja dalam Al-Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang, karena bencinya." <QS.17:46> "Dan apabila nama Allah saja yang disebut, kesal-lah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang-hati." <QS.39:45> "â&#x20AC;Ś yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka, ampunan dan pahala yang besar." <QS.33:35> "Dan apabila nama Allah saja yang disebut, kesal-lah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang-hati." <QS.39:45> "Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami (menyebut nama Allah), kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata: "Sesungguhnya, aku diberi nikmat itu, hanyalah karena kepintaranku". Sebenarnya (kenikmatan) itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui." <QS.39:49> "Sungguh orang-orang yang sebelum mereka, (juga) telah mengatakan itu pula, maka tiadalah berguna bagi mereka, apa yang dahulu mereka usahakan." <QS.39:50>

- Mengenai Fitrah Allah, disebutkan: "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (sebagai perwujudan dari) fitrah Allah (sifat-sifat Allah). (Allah) Yang telah menciptakan manusia, menurut fitrah itu (pula). Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, (yang berupa) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" <QS.30:30>

- Mengenai wajah Allah (tanda-tanda kebenaran, kebesaran atau kekuasaan

1142

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

Allah), disebutkan: "Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah (tanda-tanda kebesaran Allah). Sesungguhnya, Allah Maha Luas (rahmat-Nya), lagi Maha Mengetahui." <QS.2:115> "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya), agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." <QS.6:75> "Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal," <QS.3:190> "Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan, serta menutupi hatimu, siapakah ilah selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu". Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga)." <QS.6:46> "Tanyakanlah kepada Bani Israil: "Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka". Dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya, Allah sangat keras siksa-Nya." <QS.2:211>

- Mengenai sifat-sifat Allah, disebutkan: "Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana." <QS.16:60> "Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu." <QS.6:101> "Demikian itu ialah (sifat) Allah Rabb-kamu; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu." <QS.6:102> "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus, lagi Maha Mengetahui." <QS.6:103> "Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. Itulah (sifat) Allah Rabb-ku. Kepada-Nya-lah aku bertawakal dan kepadaNya-lah aku kembali." <QS.42:10> "(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang-biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat." <QS.42:11> "Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rejeki, bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." <QS.42:12>

- Mengenai tidak ada sesuatu yang serupa dengan sifat-sifat Allah,


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1143

disebutkan: "(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang-biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat." <QS.42:11> "Maka apakah Rabb yang menjaga setiap diri, terhadap apa yang diperbuatnya. Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: "Sebutkanlah sifatsifat mereka itu (kalau ada)". Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada (tentang) Allah apa yang tidak diketahuinya di bumi, atau â&#x20AC;Ś." <QS.13:33> "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka serulah berhala-berhala itu, lalu biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar." <QS.7:194> "Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri"." <QS.7:197> "Katakanlah: "Siapakah Rabb langit dan bumi". Jawabnya: "Allah". Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan, dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang-benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah, yang dapat menciptakan seperti ciptaanNya, sehingga kedua ciptaan itu serupa, menurut pandangan mereka". Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Rabb Yang Maha Esa, lagi Maha Perkasa"." <QS.13:16>

- Mengenai beberapa contoh Asmaul Husna lainnya, disebutkan: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang." <QS.1:1> "Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam," <QS.1:2> "Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang." <QS.1:3> "Yang menguasai hari pembalasan." <QS.1:4> "Katakanlah: "Aku berlindung kepada Rabb manusia"." <QS.114:1> "Raja manusia." <QS.114:2> "Sembahan manusia," <QS.114:3> "Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa"." <QS.112:1> "Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya, segala urusan." <QS.112:2> "Dia tidak beranak, dan tiada pula diperanakkan," <QS.112:3> "dan tidak ada seorang (sesuatu)pun, yang setara dengan Dia." <QS.112:4> "Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." <QS.57:2> "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." <QS.57:3> "Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, dan

1144

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

apa yang ke luar darinya, dan apa yang turun dari langit, dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat, apa yang kamu kerjakan." <QS.57:4> "Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan." <QS.57:5> "Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang, dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." <QS.57:6>

- Mengenai anjuran untuk sering menyebut nama-nama Allah (Asmaul Husna), mengingat Allah, berzikir atau bertasbih, disebutkan: "Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya." <QS.33:41> "Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang." <QS.33:42> "supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan (agama)-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang." <QS.48:9> "Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang Maha Besar." <QS.56:74> "Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang Maha Besar." <QS.56:96> "Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana." <QS.57:1> "Bertasbih kepada Allah, di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan, dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang;" <QS.24:36> "Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang." <QS.76:25> "Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari." <QS.76:26> "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu, dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya, agar kamu beruntung." <QS.8:45> "Dan sebutlah (nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." <QS.7:205> "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak pekerjaan)." <QS.73:7> "Sebutlah nama Rabb-mu (ketika memulai suatu pekerjaan), dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." <QS.73:8> "Berkata Zakaria: "Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)". Allah berfirman: "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Rabb-mu sebanyak-banyaknya, serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari"." <QS.3:41>


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1145

"Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu, apa yang belum kau ketahui." <QS.2:239> "kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan banyak menyebut (nama) Allah, dan mendapat kemenangan, setelah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu, kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali." <QS.26:227> "Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo'a: "Ya Rabb-kami, berilah kami kebaikan di dunia", dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat." <QS.2:200>

- Mengenai penyebutan nama-nama Allah (Asmaul Husna), disebutkan: "Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman (kepada Balqis), dan sesungguhnya, (isi)nya: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang." <QS.27:30> "Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya, dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya". Sesungguhnya Rabb-ku benar-benar Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." <QS.11:41> "Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah, ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya." <QS.6:118> "Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah, ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali â&#x20AC;Ś." <QS.6:119> "Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah, ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya â&#x20AC;Ś." <QS.6:121> "Sesungguhnya, orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah, kecuali sedikit sekali." <QS.4:142> "Dan siapakah yang lebih (ter)aniaya, daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya?. Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan, dan di akhirat mendapat siksa yang berat." <QS.2:114> 5

> Hakekat dan tujuan penciptaan alam semesta - Mengenai penciptaan alam semesta sebagai perwujudan fitrah-fitrah Allah, disebutkan:

1146

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

"Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah (tanda-tanda kebesaran Allah). Sesungguhnya, Allah Maha Luas (rahmat-Nya), lagi Maha Mengetahui." <QS.2:115> "Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia." <QS.2:117> "Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu jadilah", dan di tanganNya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang tampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui." <QS.6:73> "Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, dan apa yang ke luar darinya, dan apa yang turun dari langit, dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat, apa yang kamu kerjakan." <QS.57:4> "Dan sesungguhnya, telah Kami ciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan." <QS.50:38> "Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun, dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?." <QS.32:4> "Sesungguhnya Rabb-kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (kedudukan) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafaat, kecuali setelah ada keijinan-Nya. Yang demikian itulah Allah, Rabb-kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran." <QS.10:3> "Yang menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia." <QS.25:59> "Sesungguhnya Rabb-kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupi malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. Dan matahari, bulan dan bintangbintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam." <QS.7:54> "Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya, Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." <QS.65:12>

- Mengenai penciptaan alam semesta dan seisinya, sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya, disebutkan:


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1147

"Dan di antara ayat-ayat-Nya (tanda-tanda kekuasaan-Nya), ialah menciptakan langit dan bumi, dan makhluk-makhluk yang melata, yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya, apabila dikehendakiNya." <QS.42:29> "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui." <QS.30:22> "Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertaqwa." <QS.10:6> "Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut, membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu, Dia hidupkan bumi, setelah mati (kering)-nya, dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." <QS.2:164> "Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rejeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu, supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai." <QS.14:32> "dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terusmenerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang"." <QS.14:33> "Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran)." <QS.27:60> "Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gununggunung (mengokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut?. Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui." <QS.27:61> "(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang-biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat." <QS.42:11> "Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rejeki, bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." <QS.42:12>

1148

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

"Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu dapat melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi, supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang-biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya, segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik." <QS.31:10> "Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang Mukmin." <QS.29:44>

- Mengenai penciptaan alam semesta dan seisinya oleh Allah, tanpa peran ilah-ilah selain Allah ataupun makhluk-Nya, disebutkan: "Atau siapakah yang menciptakan (makhluk), kemudian mengulanginya (berkembang-biak, menghidupkan dan mematikan), dan siapa (pula) yang memberikan rejeki kepadamu dari langit dan bumi; Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu orangorang yang benar"." <QS.27:64> "Katakanlah: "Serulah mereka, yang kamu anggap (sebagai ilah) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah-pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun, dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka, yang menjadi pembantu bagi-Nya"." <QS.34:22> "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, yang menciptakan mereka (terjadi begitu saja)?, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?." <QS.52:35> "Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak menyakini (apa yang mereka katakan)." <QS.52:36> "Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabb-mu?, atau merekakah yang berkuasa?." <QS.52:37> "Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah, sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka (ilah-ilah selain Allah) bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah, dan amat lemah (pulalah) yang disembah." <QS.22:73> "Kemudian mereka (orang kafir) mengambil ilah-ilah selain Dia (yang disembah itu) yang tidak menciptakan sesuatu apapun, bahkan mereka sendiripun diciptakan (oleh Allah), dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya, dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan, dan tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan." <QS.25:3> "Inilah (bumi dan seisinya) ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku, apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah. Sebenarnya, orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata." <QS.31:11>

- Mengenai tujuan umum penciptaan alam semesta dan seisinya, disebutkan: "Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1149

keduanya, dengan bermain-main." <QS.44:38> "Kami tidak menciptakan keduanya, melainkan dengan hak, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." <QS.44:39> "Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi, dan segala yang ada di antara keduanya, dengan bermain-main." <QS.21:16> "Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka." <QS.38:27> "Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal," <QS.3:190> "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Rabb-kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan siasia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." <QS.3:191> "Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya, kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabb-nya." <QS.30:8> "Dia menciptakan langit dan bumi, dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang, dan menutupkan siang atas malam, dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan, menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun." <QS.39:5> "Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nya-lah kembali(mu)." <QS.64:3>

- Mengenai terpilihnya manusia menjadi khalifah-Nya (penguasa) di dunia, sebagai bagian dari penciptaan alam semesta, disebutkan: "Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi, lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman." <QS.40:57> "Ingatlah, ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih, dengan memuji Engkau, dan mensucikan Engkau". Rabb berfirman: "Sesungguhnya, Aku mengetahui, apa yang tidak kamu ketahui"." <QS.2:30> "Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya akan menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu, tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Rabb-nya dan, kekafiran orang-orang yang kafir itu, tidak lain hanyalah akan menambah kerugian bagi diri mereka belaka." <QS.35:39> "Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka

1150

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah, akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." <QS.38:26> "Isa tidak lain hanyalah seorang hamba, yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian), dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil." <QS.43:59> "Dan kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi (sebagai khalifah), dengan malaikat-malaikat yang turun temurun." <QS.43:60> "Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan, apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?. Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Amat sedikitlah kamu mengingat-ingat(-Nya)." <QS.27:62> "Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu, tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Rabb-mu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya, Dia Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." <QS.6:165>

- Mengenai adanya proses penggodokan manusia dalam penciptaan alam semesta, disebutkan: "Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah 'Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): "Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan, setelah mati", niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata"." <QS.11:7> "Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, dan agar dibalasi tiap-tiap diri, terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan." <QS.45:22> "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi, sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." <QS.18:7> "Kami tiada menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan (tujuan) yang benar, dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling, dari apa yang diperingatkan kepada mereka." <QS.46:3> "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun." <QS.67:2> "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat." <QS.76:2>


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1151

1152

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir." <QS.76:3>

mereka (di Hari Kiamat), dan hanya kepada-Ku-lah kembalinya (segala sesuatu urusan)." <QS.22:48>

"Dan sesungguhnya, Kami benar-benar akan menguji kamu, agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad, dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." <QS.47:31>

"Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka, dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan." <QS.22:76>

"Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?." <QS.29:2> "Dan sesungguhnya, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya, Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." <QS.29:3>

"Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, Dan kepada-Nya-lah dikembalikan segala urusan." <QS.57:5>

- Mengenai kebangkitan atau penciptaan kedua oleh Allah pada Hari Kiamat, disebutkan:

"Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, namun Aku merahasiakan (waktunya), agar supaya tiap-tiap diri (manusia) itu, dibalas dengan apa yang ia usahakan." <QS.20:15>

"(Yaitu) pada hari Kami menggulung langit sebagai (seperti) menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama (kehidupan dunia), begitulah Kami akan mengulanginya (penciptaan kehidupan akhirat). Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya." <QS.21:104>

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira, kepada orang-orang yang sabar," <QS.2:155>

"Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama (kehidupan dunia). Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru (kehidupan akhirat)." <QS.50:15>

"Apakah kamu mengira, bahwa kamu akan masuk surga?, padahal belum datang kepadamu (cobaan), sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." <QS.2:214>

"Dan sesungguhnya, kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama (kehidupan dunia), maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua, kehidupan akhirat)." <QS.56:62>

- Mengenai pemutusan hasil proses penggodokan manusia di Hari Kiamat, disebutkan: "(Yaitu) jalan Allah, yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit, dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan." <QS.42:53> "Tiada yang mereka nanti-nantikan, melainkan datangnya (waktu pertemuan mereka dengan) Allah (pada Hari Kiamat), dalam naungan awan dan malaikat, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah, dikembalikan segala urusan." <QS.2:210> "Kepunyaan Allah-lah, segala yang ada di langit dan di bumi. Dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan." <QS.3:109> "Dan kepunyaan-Nya-lah apa yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai, dari apa yang kamu kerjakan." <QS.11:123> "(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. Dan kepada-Nya-lah kembali segala urusan." <QS.22:41> "Dan berapalah banyaknya kota yang Aku beri penangguhan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim, (sampai) kemudian Aku azab

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan Dia tidak merasa payah, karena menciptakannya, kuasa menghidupkan (membangkitkan) orang-orang mati. Ya (bahkan) sesungguhnya, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu"." <QS.46:33> "Kemudian, setelah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati." <QS.23:15> "Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat." <QS.23:16> "kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," <QS.80:21> "kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali." <QS.80:22> "dan sesungguhnya, hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur." <QS.22:7>

- Mengenai Hari Kiamat sebagai akhir dari penciptaan alam semesta, yang pasti datangnya, disebutkan: "Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Rabb-mereka." <QS.6:1> "Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, setelah itu ditentukan ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu)." <QS.6:2> "Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an

1153

keduanya, melainkan dengan benar-benar. Dan sesungguhnya, saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik." <QS.15:85> "Berkata rasul-rasul mereka: "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan". Mereka …"." <QS.14:10> "Sesungguhnya, hari kiamat pasti akan datang, tiada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman." <QS.40:59> "Tiada yang mereka nanti-nantikan (pada hari Kiamat), melainkan datangnya (siksa) Allah, dalam naungan awan dan malaikat, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan." <QS.2:210> "Sungguh telah rugilah orang-orang yang telah mendustakan pertemuan mereka dengan Allah; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu." <QS.6:31>

- Mengenai Hari Kiamat dan kejadian di sekitarnya, disebutkan: (lihat catatan 47: "Hari Kiamat dan berbagai peristiwa di dalamnya") 6

> Semua ciptaan-Nya lainnya untuk mendukung kehidupan manusia di dunia - Mengenai penciptaan semua ciptaan-Nya lainnya untuk kepentingan manusia, disebutkan: Mendukung pelaksanaan penggodokan manusia "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi, sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." <QS.18:7>

"Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan adalah 'Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Mekah): "Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan, setelah mati", niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata"." <QS.11:7> "Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya, yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." <QS.3:186> "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan, yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu, supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barangsiapa yang melanggar batas. setelah itu, maka baginya azab

1154

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an

yang pedih." <QS.5:94> "Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang yang miskin), supaya (orang-orang yang kaya) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka", (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)"." <QS.6:53> "Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu, tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Rabb-mu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya, Dia Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." <QS.6:165> "Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu (karena kagum/iri), kepada apa (nikmat) yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka (kaum musyrikin), sebagai bunga kehidupan di dunia, untuk Kami cobai (uji) mereka dengannya. Dan karunia Rabb-mu adalah lebih baik dan lebih kekal." <QS.20:131> "Tiap-tiap yang berjiwa (ruh pada tubuh makhluk hidup nyata) akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu, dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan." <QS.21:35> "…. Demikianlah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka." <QS.47:4> (lihat catatan 43: " Ujian-Nya bagi orang beriman", mengenai iman adalah mampu melewati berbagai ujian-Nya) Bahan pelajaran dan petunjuk bagi manusia, melalui ayat-ayat-Nya yang taktertulis "Sesungguhnya, Allah tiada segan membuat perumpamaan, berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin, bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb-mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah, kecuali orang-orang yang fasik," <QS.2:26>

"…. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia, supaya mereka mengambil pelajaran." <QS.2:221> "Allah memberikan hikmah, kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali orang-orang yang berakal." <QS.2:269> "Dan inilah jalan Rabb-mu; (jalan) yang lurus (Islam). Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran."


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1155

<QS.6:126> "Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira, sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab angin itu, pelbagai macam buahbuahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudahmudahan kamu mengambil pelajaran." <QS.7:57> "Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan, bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?." <QS.9:126> "Sesungguhnya Rabb-kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafaat, kecuali setelah ada keijinan-Nya. Yang demikian itulah Allah, Rabb-kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran." <QS.10:3> Bahan pelajaran dan petunjuk bagi manusia, melalui berbagai kitab dan nabi-Nya "Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat), dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kau mendapat petunjuk." <QS.2:53>

"Kemudian Kami telah memberikan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Rabb-mereka." <QS.6:154> "Dan sesungguhnya, Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur'an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; (untuk) menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." <QS.7:52> "Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil, sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk, serta pengajaran untuk orang-orang yang bertaqwa." <QS.5:46> "Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi khabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu, melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keteranganketerangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran, tentang hal yang mereka perselisihkan itu, dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya, kepada jalan yang lurus." <QS.2:213> "â&#x20AC;Ś. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu

1156

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

(pelajaran), yang tidak sesuai dengan keinginanmu, lalu kamu menyombong?; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan, dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh." <QS.2:87> "â&#x20AC;Ś. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb-kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya), melainkan orang-orang yang berakal." <QS.3:7> "(Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk, serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa." <QS.3:138> "Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman." <QS.7:2> "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya)." <QS.7:3> Mendukung jalannya kehidupan manusia di dunia "Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu, dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." <QS.2:29>

"Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi, keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk, yang kamu sekali-kali bukan pemberi rejeki kepadanya." <QS.15:20> "Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan, dan menjadikan untukmu kapal, dan binatang ternak yang kamu tunggangi." <QS.43:12> "Dan Dia menundukkan untukmu, apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." <QS.45:13> "Tidakkah kamu perhatikan, sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu, apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia, ada yang membantah tentang (keesaan) Allah, tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan"." <QS.31:20> "Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu, segala buah-buahan sebagai rejeki untukmu; karena itu janganlah kamu (manusia) mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." <QS.2:22> "Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan," <QS.71:19> "supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas (jauh) di bumi itu"." <QS.71:20> "Allah-lah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai, dan sebagiannya untuk kamu makan." <QS.40:79> "Dan (ada lagi) manfaat-manfaat yang lain pada binatang ternak itu untuk kamu,


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1157

1158

dan supaya kamu mencapai keperluan, yang tersimpan dalam hati, dengan mengendarainya. Dan kamu dapat diangkut dengan mengendarai binatangbinatang itu, dan dengan mengendarai bahtera." <QS.40:80>

penggembalaan." <QS.16:6> "Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri, yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang." <QS.16:7> "dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan, apa yang kamu tidak ketahuinya." <QS.16:8> "Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar)." <QS.16:9> "Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyuburkan tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu." <QS.16:10> "Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman: zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." <QS.16:11> "Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan, untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya)." <QS.16:12> "dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini, dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benarbenar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran." <QS.16:13> "Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya (lautan itu), dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur." <QS.16:14> "Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi, supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan, agar kamu mendapat petunjuk," <QS.16:15> "dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk." <QS.16:16> "Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu, sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran." <QS.16:17> "Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." <QS.16:18>

"Yang menjadikan bumi untuk kamu, sebagai tempat menetap, dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu, supaya kamu mendapat petunjuk." <QS.43:10> "Dan Yang menurunkan air dari langit, menurut kadar (yang diperlukan), lalu Kami hidupkan dengan air itu, negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur)." <QS.43:11> "Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan, dan menjadikan untukmu kapal, dan binatang ternak yang kamu tunggangi." <QS.43:12> "Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit). dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami)." <QS.23:17> "Dan kami turunkan air dari langit, menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya, Kami benar-benar berkuasa menghilangkan." <QS.23:18> "Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur; di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak, dan sebagian dari buah-buahan itu kamu makan," <QS.23:19> "dan pohon kayu (pada daerah saat) ke luar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan pemakan makanan bagi orang-orang yang (me)makan(nya)." <QS.23:20> "Dan sesungguhnya, pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu, dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian darinya kamu makan," <QS.23:21> "dan di atas punggung binatang-binatang ternak itu dan (juga) di atas perahuperahu kamu diangkut." <QS.23:22> "Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rejeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu, supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai." <QS.14:32> "dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terusmenerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang"." <QS.14:33> "Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." <QS.14:34> "Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan." <QS.16:5> "Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang, dan ketika kamu melepaskannya ke tempat

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

7

> Sunatullah (Sunnah Allah) - Mengenai Sunatullah (Sunnah Allah / hukum / aturan / ketentuan -Nya) yang ditetapkan sebelum penciptaan alam semesta, disebutkan: "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1159

kehendaki), dan disisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh)." <QS.13:39> "Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." <QS.57:22> "(Kami jelaskan yang demikian itu), supaya kamu jangan berduka-cita, terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira, terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong, lagi membanggakan diri." <QS.57:23>

- Mengenai segala suatu proses yang terjadi di alam semesta ini telah diatur dalam sunatullah yang tercatat pada kitab mulia (Lauh Mahfuzh) sebelum penciptaan alam semesta, disebutkan: "Dan pada sisi Allah-lah, kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya, kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." <QS.6:59> "Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rejekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu, dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." <QS.11:6>

- Mengenai Sunatullah (Sunnah Allah / hukum / aturan / ketentuan -Nya), disebutkan: "Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah." <QS.33:62> "Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." <QS.6:96> "dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." <QS.36:38> "Telah pasti datangnya ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta-minta agar disegerakan (datang)nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan." <QS.16:1> "Dan memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." <QS.65:3> 8

> Penciptaan alam semesta dengan sunatullah

1160

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

- Mengenai penciptaan alam semesta yang mengikuti sunatullah (Sunnah Allah / aturan-Nya / ketentuan-Nya / ketetapan-Nya / kehendak-Nya), disebutkan: "Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia." <QS.2:117> "â&#x20AC;Ś. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan, apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia." <QS.3:47> "â&#x20AC;Ś. Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi, dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." <QS.5:17> "Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru," <QS.14:19> "Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rejeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu, supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai." <QS.14:32> "Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi, adalah (ber)kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka, yang tidak ada keraguan padanya. Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki, kecuali kekafiran." <QS.17:99> "Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang melata di atas perutnya, dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki: Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." <QS.24:45> "Dan Rabb-mu menciptakan, apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi, dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)." <QS.28:68> "Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu), setelah keadaan lemah itu, menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) itu setelah kuat itu, lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui, lagi Maha Kuasa." <QS.30:54> "Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya,


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1161

Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." <QS.35:1> "Dan di antara ayat-ayat-Nya (tanda-tanda kekuasaan-Nya), ialah menciptakan langit dan bumi, dan makhluk-makhluk yang melata, yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya, apabila dikehendakiNya." <QS.42:29> "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan, kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak-anak lelaki, kepada siapa yang Dia kehendaki," <QS.42:49> "Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka." <QS.76:28> "Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu, dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." <QS.2:29> "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya, sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa." <QS.9:36> 9

> Awal penciptaan alam semesta secara lahiriah - Mengenai bercampur-baurnya langit dan bumi pada awal penciptaan alam semesta, disebutkan: "Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui, bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya (masing-masing dibentuk-Nya). Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?." <QS.21:30> "Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh, supaya bumi ini (tidak) goncang bersama mereka (gunung-gunung itu), dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka (mudah) mendapat petunjuk (ke berbagai negeri)." <QS.21:31> "Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah), yang terdapat padanya." <QS.21:32> "Dan Dia menciptakan di bumi itu, gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya, dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (bagi penghuninya), dalam empat masa. (Penjelasan ini sebagai jawaban) bagi orangorang yang bertanya." <QS.41:10> "Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap (kabut), lalu Dia berkata kepadanya (langit) dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku (masing-masing dihadirkan atau dibentuk-Nya), dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati"."

1162

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

<QS.41:11> "Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa, dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintangbintang yang cemerlang, dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa, lagi Maha Mengetahui." <QS.41:12> 10 > Matahari sebagai sumber energi kehidupan di bumi

- Mengenai Matahari atau bintang bintang yang memancarkan energi panas (sinar atau cahaya), disebutkan: "Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya, dan menjadikan matahari sebagai pelita." <QS.71:16> "Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkanNya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu, melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui." <QS.10:5> "Maha Suci Allah, yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang, dan Dia menjadikan juga padanya, matahari dan bulan yang bercahaya." <QS.25:61> "Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti, bagi orang yang ingin mengambil pelajaran, atau orang yang ingin bersyukur." <QS.25:62> "dan Kami bangun di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh," <QS.78:12> "dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)," <QS.78:13> "dan Kami turunkan dari awan, air yang banyak tercurah," <QS.78:14> "supaya Kami tumbuhkan dengan air itu, biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan," <QS.78:15> "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari," <QS.91:1> "Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa, dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang yang cemerlang, dan Kami memeliharanya dengan sebaikbaiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa, lagi Maha Mengetahui." <QS.41:12> "di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari, dan tidak pula dingin yang bersengatan." <QS.76:13> "Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur), dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat, yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu," <QS.18:90> "dan sesungguhnya, kamu tidak akan merasa dahaga, dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya"." <QS.20:119>

- Mengenai siklus peredaran Matahari, disebutkan: "dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terusmenerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang"." <QS.14:33>


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1163

"Matahari dan bulan (beredar), menurut perhitungan." <QS.55:5> "Rabb yang memelihara kedua tempat terbit matahari, dan Rabb yang memelihara kedua tempat terbenamnya." <QS.55:17> "Maka Aku bersumpah, dengan Rabb Yang Mengatur, tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang; sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa." <QS.70:40> "Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan, untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya)." <QS.16:12> "Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang, dan memasukkan siang ke dalam malam, dan Dia tundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." <QS.31:29> "Dia memasukkan malam ke dalam siang, dan memasukkan siang ke dalam malam, dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan, menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabb-mu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan (langit). Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah, tiada mempunyai apa-apa, walaupun setipis kulit ari." <QS.35:13> "dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa, lagi Maha Mengetahui." <QS.36:38> "Dan telah Kami tetapkan bagi bulan, manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia (bulan) sebagai bentuk tandan yang tua." <QS.36:39> "Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya." <QS.36:40> "Dia menciptakan langit dan bumi, dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang, dan menutupkan siang atas malam, dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan, menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun." <QS.39:5> "(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas." <QS.106:2>

- Mengenai siklus peredaran bintang bintang, disebutkan: "dan bertasbihlah pada-Nya pada beberapa saat, di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar)." <QS.52:49> "Demi bintang, ketika terbenam," <QS.53:1> "Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang." <QS.56:75> "Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang," <QS.81:15> "yang beredar dan terbenam," <QS.81:16>

- Mengenai penghidupan di bumi dan segala perbendaharaannya, disebutkan:

1164

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

"Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami hadirkan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur." <QS.7:10> "Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu, kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya, kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan." <QS.8:24> "Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gununggunung, dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu, menurut ukuran." <QS.15:19> "Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi, keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk, yang kamu sekali-kali bukan pemberi rejeki kepadanya." <QS.15:20> "Dan tidak ada sesuatupun, melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya, melainkan dengan ukuran tertentu." <QS.15:21> "Dan Allah, Dialah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka kami halau awan itu, ke suatu negeri yang mati (kekeringan), lalu kami hidupkan bumi, setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu." <QS.35:9> "Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka, adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu, dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan." <QS.36:33> "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabb-mu. Kami telah menentukan antara mereka, penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka, atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik, dari apa yang mereka kumpulkan." <QS.43:32> 11 > Ciptaan-Nya yang gaib dan yang nyata

- Mengenai ciptaan-Nya yang gaib dan yang nyata, disebutkan: "Katakanlah: "ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui barang gaib dan yang nyata, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu, tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya"." <QS.39:46> "Tiada sesuatupun yang gaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." <QS.27:75> "Yang demikian itu ialah Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa, lagi Maha Penyayang," <QS.32:6> "Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya (sempurna), dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah." <QS.32:7> "Kemudian Dia menjadikan keturunannya (keturunan manusia), dari saripati air yang hina (air mani)." <QS.32:8> 12 > Unsur atau elemen paling dasar pembentuk alam semesta


Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

1165

- Mengenai ruh sebagai elemen dasar makhluk hidup dan bersifat gaib, disebutkan: "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya (Adam) telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduk kamu (para malaikat) kepadanya dengan bersujud." <QS.15:29>

1166

Lampiran E: Kumpulan terjemahan ayat-ayat Al-Qurâ&#x20AC;&#x2122;an

nafsu atau energi, disebutkan: "Demi kuda perang yang berlari kencang, dengan terengah-engah," <QS.100:1> "dan kuda yang mencetuskan api, dengan pukulan (kuku kakinya)," <QS.100:2> "dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi," <QS.100:3> "maka ia menerbangkan debu," <QS.100:4>

"Kemudian Dia menjadikan keturunannya (keturunan manusia), dari saripati air yang hina (air mani)." <QS.32:8> "Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya, ruh (ciptaan)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." <QS.32:9>

"dan laut yang di dalam tanahnya ada api (magma dalam perut bumi)," <QS.52:6>

"dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya, sebagian dari ruh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat Rabb-nya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat." <QS.66:12>

"â&#x20AC;Ś dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah: "Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas(nya)", jikalau mereka mengetahui." <QS.9:81>

"dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril, ruh yang dapat dipercaya)," <QS.26:193>

- Mengenai atom sebagai elemen dasar benda mati dan bersifat nyata, disebutkan: (lihat "Tabel 1: Susunan berkala unsur-unsur kimia (atom-atom) ") 13 > Atom atau biji zarrah sebagai benda terkecil

- Mengenai biji zarrah sebagai benda terkecil yang dikenal pada jaman Nabi, disebutkan: "Kamu tidak berada dalam suatu keadaan, dan tidak membaca suatu ayat dari AlQur'an, dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu, di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Rabbmu, biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." <QS.10:61> "Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami". Katakanlah: "Pasti datang, demi Rabb-ku yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi dari-Nya seberat zarrah-pun, yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)"," <QS.34:3> "Katakanlah: "Serulah mereka, yang kamu anggap (sebagai ilah) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah-pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun, dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka, yang menjadi pembantu bagi-Nya"." <QS.34:22> 14 > Penciptaan ruh dari energi

- Mengenai pemakaian istilah "api", juga sebagai tenaga, panas, semangat,

"dan menghilangkan panas hati orang-orang Mukmin. Dan Allah menerima taubat orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana." <QS.9:15>

- Mengenai pemakaian istilah "cahaya", juga sebagai sinar atau petunjuk, disebutkan: "Maka sesungguhnya, Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja," <QS.84:16> "(yaitu) bintang yang cahayan