Issuu on Google+

THE NEWSMAKER MAGAZINE

April 2009

EDISI KOLEKSI

79 TAHUN Kanjeng Raden Ayu

SITI HARTATI MARDEO

MAESTRO, April 2009

1


IBU Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir - bibir manusia. Dan “Ibuku� merupakan sebutan terindah. Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa. Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita di kala lara, impian kita dalam rengsa, rujukan kita di kala nista. Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan, dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya. Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya. Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian. Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian. Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud. Penuh cinta dan kedamaian.

(Kahlil Gibran)

2

MAESTRO, April 2009


D

ALAM upacara pemberian Oscar akhir tahun lalu, AR Rahman komponis asal India - secara mengejutkan memborong dua piala. Peng hargaan paling prestisius dalam dunia film internasional. Rahman menerima kedua piala tersebut berkat film Slumdog Millionaire yang ia garap. Pada tayangan langsung yang disaksikan tidak kurang dari 36 juta penonton televisi di seluruh dunia itu, sambil mengangkat kedua pialanya, Rahman dengan spontan berteriak, “My mother’is here, her blessings are there with me. Ibuku ada di sini, hanya berkat restunya aku berhasil meraih ini semua.” Langkah sama dilakukan Varun Gandhi, cicit Jawaharlal Nehru. Varun adalah politisi muda paling potensial di negaranya. Sosok yang oleh para pengamat diramalkan segera merebut kursi Perdana Menteri India, yang dulu pernah diduduki kakek buyutnya. Apa kunci suksesmu? Dengan kalimat tegas Varun menjawab, “Karena di belakangku selalu hadir Ibu.” Ibu kandung Varun bernama Maneka Gandhi. Tanpa pernah diketahui orang, Maneka selama ini tampil sebagai penasihat pribadi paling utama Varun selama meniti karier politik. Laporan utama koran International Herald Tribune edisi 4 April 2009 melukiskan fenomena itu dengan sebuah tajuk India’s elite turn to moms for advice.” Semua politisi dan pengusaha sukses di India sekarang ini sedang kembali kepada ibu mereka untuk mendapatkan nasihat, petunjuk, bahkan arahan sekitar bagaimana dan ke mana mereka harus melangkah. Ketika negara tersebut sedang melesat meraih kemajuan untuk menjadi raksasa baru dunia, para tokohnya justru kembali ke akar budayanya sendiri. Mereka sibuk mencari identitasnya sekaligus mengakui bahwa kunci suksesnya selama ini

tidak lain berkat bimbingan sang ibu. Sebuah langkah bijaksana. Konsepsi itu sejak zaman dulu di pegang masyarakat di sana. Sebagaimana juga berlaku di Indonesia sebagai bangsa yang menyebut tanah airnya dengan istilah sama: pertiwi. Edisi Koleksi Majalah MAESTRO kali ini kami persembahkan untuk mewarnai peringatan ulang tahun ke-79 Kanjeng Raden Ayu Siti Hartati, seorang ibu yang oleh putra-putri, menantu, cucu, dan banyak orang akrab disapa Mamie. Sosok Mamie telah menjadi pelabuhan, pelindung, dan obor pemicu semangat mereka yang berada di sekelilingnya. Kedua tangannya selalu siap memeluk. Hatinya selalu sigap menerima keluhan. Senyumnya selalu merekah. Kehadirannya senantiasa menyebarkan semangat yang meneguhkan hati orang lain. Mamie adalah sebuah suh sekaligus pelabuhan harapan bagi banyak orang. Tentu, Edisi Koleksi Majalah MAESTRO ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dan kerja sama banyak rekan. Sekadar menyebut sejumlah nama, mereka antara lain N Bramono S, Yulius P Silalahi, Krus Haryanto, Gesigoran, Kristiadi, Ali Usman, Pak Wes, Pak M Agus, serta banyak lagi rekan yang ikut membantu proses terbitnya Edisi Koleksi MAESTRO ini. Last but not least, ucapan terima kasih yang tulus saya sampaikan kepada putra bungsu Mamie, Sigid Haryo Wibisono. Ia-lah sesungguhnya yang menggagas edisi khusus ini. Tanpa kesempatan dan berbagai dukungannya kepada saya dan tim MAESTRO, edisi koleksi ini tak akan pernah bisa diwujudkan. Salam.

Julius Pour April 2009

MAESTRO, April 2009

3


FOTO: KRUS HARYANTO

4

MAESTRO, April 2009


INDEKS Puisi Ibu

2

Pengantar

3

Indeks

4-5

Kanjeng Raden Ayu Siti Hartati

6

Pulang Sebelum Lampu Menyala

11

Dari Pengantin Revolusi sampai Penumpasan Mbah Suro

14

Istri Sejati Seorang Tentara

21

Pistol di Bawah Bantal

24

Sumber Inspirasi & Kekuatan

26

Berbagi Tanpa Pamrih

30

Bahagia Bikin Senang Orang

34

Mengatur Waktu 24 Jam

38

Dewi Kunthi Mencintai Suami, Membimbing Putra-putrinya

44

RM Said: Tiji Tibeh, Mukti Siji Mukti Kabeh

48

Tatiek Mardeo di Mata Sahabat

54

Mamie di Hati Putra-putrinya

58

Merdeka Grup’s Grand Mother

64

Tim Edisi Koleksi - Penyelia: N Bramono S, Arif Bargot Siregar, Raja P Pane; Penulis: Julius Pour, Yulius P Silalahi; Foto-foto: Krus Haryanto, Peter Johan, dan dokumentasi pribadi; Desain Grafis: Gesigoran, Kristiadi, Ali Usman

MAESTRO, April 2009

5


Kanjeng Raden Ayu

Siti Hartati MARDEO

6

MAESTRO, April 2009


FOTO: KRUS HARYANTO

MAESTRO, April 2009

7


FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

K

Mamie yang selalu rendah hati.

8

MAESTRO, April 2009

anjeng Raden Ayu Siti Hartati dilahirkan pada 24 April 1930 di Matesih, Kabupaten Karangnyar, yang pada masa itu termasuk dalam wilayah kekuasaan Pradja Mangkoenegaran. Siti Hartati sosok seorang perempuan sekaligus ibu, yang oleh semua putra-putri berikut cucu, sampai seluruh sahabat-sahabatnya terdekat, lebih akrab di panggil dengan sebutan akrab, Mamie. Hal tersebut sesungguhnya tidak mengejutkan,oleh karena beliau memang selalu bersikap terbuka,di padukan dengan sikap rendah hati ketika meng hadapi orang lain. Dengan latar belakang sikap semacam itu, maka Mamie memang lantas tumbuh untuk disayang oleh banyak orang. Beliau tidak hanya menjadi suh (tempat kediaman serta melabuhkan diri) bagi putra-putri kandungnya, tetapi juga selalu tampil sebagai suh untuk beragam orang, yang secara kebetulan mengenalnya. Menurut penanggalan Jawa tradisi para leluhurnya, kelahiran Mamie bersamaan dengan datangnya tahun Ehe 1860, sehingga berada dalam naungan Wuku Tolu yang sepanjang kehidupannya akan dijaga oleh Batara Bayu. Dengan demikian, para leluhurnya sejak awal telah bisa menunjukkan, bahwa Mamie dalam menempuh perjalanan hidup serta bermasyarakat, sifatnya selalu ramah tamah, berpandangan luas namun keras hati. Cekatan dalam menerima tugas serta akan bisa tumbuh menjadi seorang ahli dalam bidang pekerjaaannya.� Selain itu, sosoknya sudah bisa terlihat sejak awal, akan kuat dalam begadang sampai fajar menyingsing di langit timur, sekaligus memiliki sifat pemberani. Sebagaimana yang selalu diajarkan oleh Batara Bayu seorang dewa pelindungnya, maka sejak semula sudah nampak bahwa mereka yang dilahirkan dalam Wuku Tolu di masa kecilnya harus banyak menderita, prihatin serta digariskan untuk ngenger kepada orang lain. Namun sesudah tumbuh dewasa hingga memasuki usia sepuh, di pastikan bakal makmur rezekinya, bersifat dermawan dan justru akan banyak sekali membantu kehidupan orang lain. Membantu tidak dalam arti menyediakan dana secara


FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

Sinar matanya yang tajam bisa menyejukkan hati orang lain, dilengkapi dengan hati serta kedua tangan yang selalu sigap memberikan bantuan serta pertolongan.” “Mereka yang dilahirkan dalam rasi bintang Taurus memiliki peng harapan baik kepada semua orang, sehingga senantiasa dapat memperlihatkan senyum dalam meng hadapi segala macam kesulitan, karena dilandasi oleh kepercayaan serta optimisme yang kokoh, bahwa nasibnya pasti akan berubah di kemudian hari…” n

FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

berlimpah-ruah, melainkan yang justru jauh lebih bermakna, dan oleh karena itu banyak sekali diharapkan, mampu menebarkan pencerahan berikut membantu memberi nasihat, arahan serta petunjuk. Sekadar sembur-sembur adas, tetapi dalam kenyataannya banyak sekali terbukti, sanggup menutup luka hati yang diderita oleh orang lain. Tanggal kelahiran Mamie dalam perhitungan penanggalan Cina, bersamaan dengan datangnya tahun Imlek 2481, berada di bawah naungan Shio Be alias Shio Kuda. Mereka yang mempunyai Shio Be, menurut perhitungan Empeh Wong Kam Fu, akan menjadi seorang manusia yang bersifat ksatria. Sepanjang perjalanan hidupnya, terutama setelah menginjak dewasa, akan senantiasa merasakan kebahagiaan, ketentraman, kemuliaan, serta dilimpahi oleh kekayaan, karena rezekinya datang secara melimpah. Semua itu dilengkapi dengan memiliki kepribadian luhur, kesabaran serta berpengaruh kepada masyarakat di sekitarnya. Sehingga akan selalu disenangi oleh semua orang, baik pria dan juga wanita.” Kenyataan tersebut di atas, masih akan dilengkapi dengan kesenangannya kepada hidup mengembara, sehingga akan banyak mempunyai kenalan serta selalu dinaungi kegembiraan. Para perempuan yang dilahirkan di bawah naungan Shio Be, tidak akan dapat mengandalkan bantuan serta pertolongan dari saudara-saudaranya. Akan tetapi, seluruh perjalanan hidupnya justru akan tumbuh menjadi sebuah pelabuhan yang selalu bisa menjadi pelindung berikut tumpuan hati orang lain. Dalam penanggalan Masehi, catatan kelahiran Mamie tanggal 24 April akan berada pada naungan rasi bintang Taurus. Mereka yang dilahirkan dalam rasi Taurus memiliki pembawaan cerdas, feeling-nya kuat serta bersikap konsekuen atas semua langkah-langkah yang telah dia lakukan. Itu semua karena langkahnya selalu dilandasi dengan satu tujuan jelas. Dilengkapi dengan latar belakang, kegemarannya dalam beramal dan mencadangkan seluruh harta miliknya untuk membantu kehidupan orang lain.” “Kesetiaannya terhadap segala sesuatu akan menjadi kekaguman orang, dan setiap kali melakukan segala macam pekerjaan yang mulia, tidak akan pernah meng harapkan datangnya keuntungan untuk dirinya pribadi, oleh karena semuanya dia lakukan dengan tulus.

Mamie selalu berinteraksi dengan cucunya dan banyak orang.

MAESTRO, April 2009

9


FOTO: KRUS HARYANTO

10

MAESTRO, April 2009


Pulang Sebelum Lampu Menyala Sejak kecil hingga remaja, Mamie dididik ekstra ketat. Penuh disiplin. Mamie memetik buahnya setelah menikah.

S

ewaktu kecil, Siti Hartati akrab di panggil Tatiek. Setelah menikah, namanya menjadi Raden Ayu Siti Hartati. Seiring berjalannya waktu dalam perjalanan hidup dan aktivitasnya dalam masyarakat luas, beliau mendapat gelar dari Mangkunegaran menjadi Kanjeng Raden Ayu Siti Hartati. Di kalangan teman-teman dekatnya, biasa di panggil Ibu Tatiek Mardeo. Mereka yang lebih muda memanggilnya Mamie Mardeo. Sewaktu kecil hingga remaja, Mamie dititi pkan kepada ayah angkatnya, orang Belanda yang pro Indonesia. Namanya Carel Nicolas Sittrop. Ia bekerja di perusahaan

listrik, rumahnya di pinggir Jalan Purwosari, jalan besar yang membelah Kota Solo menjadi dua bagian. Kini bernama Jalan Slamet Rijadi, nama seorang Pahlawan Nasional. Istrinya orang Sunda, yang wafat waktu Ibu Tatiek masih kecil. “Setelah saya besar, Papie menikah lagi dengan seorang keturunan Tiong hoa. Merekalah, terutama Papie Sittrop, yang mengasuh serta membesarkan saya,“ kata Mamie, putri tunggal pasangan kerabat Mangkunegaran. Ayahnya, Raden Mas Hendrarso Soerjokoesoemo, keturunan Mangkunegoro V. Ibunya, Kanjeng Raden Ayu Harjatmi, keturunan Mangkunegoro III. “Saya bisa jadi begini karena peran banyak pihak. Jika tidak ada orangtua kandung, saya pasti tidak akan pernah ada. Jika tidak diasuh Papie Sittrop, saya pun pasti tidak akan begini,“ kata Mamie. Mengenang masa kecilnya hingga sekarang menapak usia 79 tahun, selalu lekat dalam ingatannya bahwa ia

MAESTRO, April 2009

11


FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

Mamie di tengah anak, menantu, dan cucunya.

tidak pernah main ke mana-mana. “Alasannya jelas: tidak boleh,“ tukas Mamie kelahiran 24 April 1930 di Pesanggrahan, Mojoretno, Metesih, yang waktu itu menjadi wilayah Praja Mangkoenegaran Solo. “Walau diopeni oleh seorang ayah angkat, saya dididik dengan ketat. Kalau pergi, misalnya ke tempat teman ulang tahun, harus lebih dulu pamit. Papie selalu berpesan memakai bahasa Belanda “Voordat‘t licht aan is moet je al thuis zijn” (sebelum lampu sore menyala, kau sudah harus kembali di rumah). Waktu itu lampu di rumah menyala pukul lima sore. Saya pun selalu manut. Saya taat. Begitu juga bila ada teman berkunjung ke rumah. Sore hari, ia sudah harus buru-buru pulang. Pokoknya sebelum lampu listrik menyala,“ ungkap Mamie.” “Selain itu, sebulan sekali, pembantu di rumah mendapat libur dan tidak boleh kerja. Saya yang menggantikan posisinya. Pembantu yang bertugas ngepel tidak boleh bekerja. Pembantu bagian masak juga tidak boleh masak. Jadi, saya harus belajar sendiri. Waktunya saya masak, harus bisa. Waktunya bisa menjahit, juga

12

MAESTRO, April 2009

harus belajar menjahit. Hasilnya, saya sekarang bisa mencela para pembantu yang salah dalam mengerjakan sesuatu,“ lanjut Mamie.…” Di zaman itu, banyak larangan harus ia patuhi. Anak remaja tidak boleh bikin ribut dan bergaul sembarangan. “Sewaktu mau dapat Mas Mardeo juga begitu. Untuk diajak membeli selop saja saya harus dikawal,“ cetusnya. Mamie bertemu Kapten Mardeo, keturunan warga Mangkunegoro II, sewaktu diajak tantenya bertamu ke rumah saudara sepupunya. Kebetulan, sang tante juga punya menantu seorang tentara. Kapten Mardeo adalah teman menantu sang tante. Mamie menegaskan, karena tidak boleh ke mana-mana, masa kecilnya banyak dihabiskan di rumah. Sekolah pun di sekolah Belanda, Kristelyke Europese Lagere School di Pasar Legi Solo. ”Ketika saya duduk di bangku kelas enam, tentara Jepang masuk Solo. Oleh Opa Sittrop, saya tidak boleh sekolah,“ tutur Mamie.” Hanya ada satu murid yang orang Jawa, yaitu Mamie sendiri dan satu anak Tiong hoa. Selebihnya orang Belanda,


sinyo dan noni-noni. “Saya bisa masuk sekolah Belanda karena eyang saya, Soerjokoesoemo. Istri pertamanya orang Belanda. Jadi, saya memang ada darah Belanda-nya. Setelah nyonya Belanda tersebut meninggal, eyang menikah lagi dengan perempuan ningrat dari Yogya,“ kilah Mamie.” Mamie merasakan saat-saat menyenangkan di masa remaja. Ia mendapat kesempatan bermain di organisasiorganisasi. Paling menyenangkan sewaktu ikut organisasi Pemuda-Pemudi Indonesia (PPI). Sekali pun hanya organisasi sosial, ia dapat bergaul dengan teman-teman sebaya. “Saya ikut terlibat dalam organisasi hingga saya menikah pada usia 18 tahun. Pada 24 April 1948, saya ulang tahun yang ke-18. Bulan berikutnya saya langsung menikah, tepatnya pada 23 Mei 1948.“ Pendidikan etika dan disi plin ketat seperti dirasakan Mamie juga dialami Mardeo, seorang perwira militer yang dikenal idealis. “Sekali pun begitu, ketika kami sudah berkeluarga dan punya anak, kami sama sekali tidak mendidik anak-anak dengan model militer. Mas tahunya semua harus tepat dan bersih. Segala macam tetekbengek harus pada tempatnya,“ kata Mamie.” Menurut Mamie, setelah hidup berkeluarga dan punya anak, nilai-nilai yang di perolehnya semasa kecil hingga remaja ia wariskan kepada seluruh anaknya. “Tetapi, saya tidak dapat memaksa karena anak-anak sekarang berbeda. Tidak mungkin menerapkan larangan jadul (zaman dulu) begitu saja. Misalnya sebelum lampu menyala sudah harus pulang,“ lanjutnya. “Meski demikian, bagi anak-anak perempuan selalu saya tekankan, kalau bangun tidur tidak boleh keduluan suami. Itu mutlak harus bisa dilakukan. Selain itu, meski dalam keadaan jengkel, seorang istri harus tetap tersenyum dalam melepas suami pergi bekerja. Untuk anak laki-laki, saya selalu bilang bahwa seorang istri, tidak hanya membutuhkan materi tetapi juga kasih sayang,“ tegas Mamie. Nasihat sederhana, tapi paten dan abadi. Nasihat yang tidak larut ditelan perubahan zaman. n

Mamie dalam rangkaian masa.

MAESTRO, April 2009 Foto Kembali ke yang sebelumnya

13


Dari Pengantin Revolusi sampai Penumpasan Mbah Suro

P

ernikahan Raden Ajeng Siti Hartati dan Kapten (Inf) Mardeo berlangsung pada 24 Mei 1948 di Solo, Jawa Tengah. Upacaranya sangat meriah meski hanya diselenggarakan di rumah kediaman ayah angkatnya, Carel Nicholas Sittrop,di Ngemplak, Solo bagian utara. Disemarakkan dengan panembromo, paduan suara khusus melagukan tembang-tembang Jawa, persembahan rekan-rekan sekolah Mamie. Sayangnya, karena di tengah revolusi, semua berlangsung tanpa diabadikan dengan sorot kamera.“ “Kami tidak pernah punya satu pun gambar tentang aca­­ra penting tersebut,“ tutur Mamie tentang upacara per­­­ nikahannya 61 tahun silam. Namun, dengan cepat ber­lanjut, “Maklum, waktu itu zaman per­­­juangan. Kota Solo sedang dikepung musuh, apa-apa su­­sah.“

14

MAESTRO, April 2009

Solo adalah kota di pedalaman Pulau Jawa. Salah satu dari dua kota besar di wilayah Republik Indonesia. Sebuah kota kuno sekaligus salah satu kota pusat kebudayaan Jawa, ibukota dari Keraton Kasunanan dengan nama resmi Surakarta Hadiningrat. Pada 1948, ketika upacara pernikahan Mamie berlangsung, wilayah kekuasaan kaum Republik di Pulau Jawa sudah menciut. Selain daerah Banten pada ujung barat Jawa, wilayah Republik Indonesia tinggal tersisa di sekitar segitiga Solo-Yogya-Madiun. Di wilayah yang sedang dikepung pasukan Belanda itu, para Republiken berjubel. Selain penduduk setempat, Solo juga menjadi penampung ribuan pengungsi yang mengarus dari wilayah pendudukan Belanda. Campur aduk antara pegawai pemerintah, rakyat biasa, dan para anggota militer dari beragam kesatuan bersenjata yang terpaksa hijrah dari Jawa Barat untuk memenuhi persetujuan Renville,


adalah kalimat bersayap: siapa kuat, dialah yang akan menang.‌� Setelah didahului huru-hara berdarah di Solo, hanya lima bulan setelah pernikahan Mamie dan Mardeo, meletus Peristiwa Madiun. Kemudian, tiga bulan setelah pemberontakan komunis di Madiun bisa digulung oleh pasukan Republik, Belanda melancarkan agresi kedua. Pada 19 Desember 1943, seiring terbitnya fajar di langit timur, pasukan komando Belanda menyerbu Landasan Udara Maguwo di luar Yogyakarta. Selepas tengah hari, Ibukota Republik ditaklukkan. Bung Karno, Bung Hatta, dan sejumlah menteri ditangkap. Pemerintah Republik praktis bubar. Untunglah, dalam kondisi kalang-kabut dan suasana kelam itu, Panglima Besar Jenderal Soedirman meski sakit parah masih mampu meloloskan diri ke luar kota. Dengan tradisi yang sampai sekarang menjadi legenda, ia menyatakan bahwa Tentara Nasional Indonesia tidak pernah menyerah. Soedirman langsung memimpin perang

FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

mengatur secara de facto wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Bertumpuknya mereka semua di tiga kota pedalaman Pulau Jawa menyeret aneka macam akibat. Yogyakarta pada masa itu di pilih sebagai ibukota dan pusat pemerintahan di mana presiden, wakil presiden, dan para menteri tinggal sehingga kontrol berikut kendali pemerintahan berjalan efektif. Solo, yang hanya terpisahkan dalam jarak 60 km dari Ibukota Republik, benar-benar tumbuh menjadi sebuah daerah Wild West. Miri p suasana di bagian barat Amerika Serikat di zaman cowboy. Hampir semua orang lalu-lalang membawa senjata. Insiden antarkesatuan bersenjata sering meletus. Hukum sama sekali mandul. Yang muncul di Solo

Kenangan indah KRAy Siti Hartati (Mamie) dan RM Mardeo, sang suami (alm).

MAESTRO, April 2009

15


FOTO: KRUS HARYANTO

16

MAESTRO, April 2009


gerilya melawan pasukan Belanda. Dua hari setelah Yogyakarta ditaklukkan, pasukan Belanda melanjutkan agresinya ke Solo. Berbeda dengan pengalaman di Yogyakarta, di mana Belanda hanya meng hadapi sedikit perlawanan dan menemukan kota tetap utuh, di Solo mereka meng hadapi perlawanan sengit dan akhirnya menemukan Surakarta Hadiningrat telah dibumihanguskan oleh pasukan Republik. Kapten Mardeo tidak memboyong istrinya ke Purwodadi, tempat tugasnya memimpin perang gerilya. Saat itu, ia menjabat salah satu Komandan Kompi pada Batalyon Infantri 443 Divisi Di ponegoro. Sedangkan Mamie tetap di Solo, ikut Opa Sittrop. Pada kondisi negara diamuk perang kemerdekaan, lahir anak pertama mereka, Sri Mardijati. Baru setelah suasana mulai tenang, Mamie diboyong ke Purwodadi bersama bayinya yang masih kecil. Ketika anak pertama berusia 10 bulan mendadak sakit, hanya ada seorang dokter di seluruh Kabupaten Purwodadi. Dokter itu sudah angkat tangan dan hanya dapat memberi saran, “Satu-satunya jalan, bawa segera putri Ibu ke Semarang.“ Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, terpisah dalam jarak 100 km dari Purwodadi. Tetapi, untuk mencapai Semarang banyak kendala. Lalu lintas umum belum ada. Hanya ada sebuah ji p, satu-satunya kendaraan dinas dari Batalyon. “Terpaksa Papie meminjam ji p tersebut untuk membawa saya dan bayi kami ke Semarang,“ kata Mamie. …” Ji p perang Batalyon 443 itu meninggalkan Purwodadi, melaju kencang menuju Semarang. “Papie duduk di sebelah supir. Saya di belakang didampingi seorang Bintara, petugas kesehatan Batalyon, sambil mendekap si bayi. Ji p beratapkan kain terpal. Kanan kirinya terbuka. Maklum, kendaraan perang,“ lanjut Mamie. Tanpa diduga, dalam perjalanan menuju Semarang yang belum semuanya beraspal, hujan lebat menyergap. “Yah, bagaimana lagi? Kami semua basah-kuyup karena air hujan menyapu dari samping kanan kiri. Dalam kondisi serba berantakan semacam itu, ji p masuk ke halaman CBZ (kini RS Dr Karjadi). Langsung bayi kami dilarikan ke ruang gawat darurat,“ ungkap Mamie.” Tuhan ternyata menentukan lain. Baru sebentar di ruang gawat darurat, Sri Mardijati di panggil Tuhan. Mamie hanya

KARIER MILITER RM MARDEO 1. Komandan Kompi Batalyon Tjondobirowo Jatingaleh 2. Wadanyon 408 Ambarawa 3. Kepala Seksi 2 Korem Salatiga 4. Komandan Batalion 443 Pati 5. Komandan Kodim Pekalongan 6. Kepala Staf Brigif 6 Solo 7. Asisten 7 Kodam Di ponegoro 8. Komandan Brigif 5 Semarang 9. Asisten 2 Operasi Kodam Di ponegoro 10. Wakil Kepala Staf Kodam Di ponegoro 11. Kepala Staf Kodam 17 Agustus 12. Kepala Staf Kodam Di ponegoro bisa menangis sedih. Sang suami tetap tabah. Tangisnya ia simpan jauh dalam lubuk hatinya. Ia peluk Mamie sambil berbisik pelan, “Ayo, dikubur nyang Solo..“” Jenazah Sri Mardijati sore itu juga dibawa ke Solo. Paginya, diiringi duka teramat dalam dari seluruh keluarga, jenazah putri pertama mereka dimakamkan di Astana Bibis Luhur, Solo bagian utara. Mardeo, perwira TNI bernomor pokok 1115, merintis karier militernya dengan masuk ke pusat pendidikan pa­ su­kan Pembela Tanah Air (PETA) di zaman pendudukan Je­pang. Ketika Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di­ kumandangkan pada 17 Agustus 1945, Mardeo memenuhi panggilan revolusi dan bergabung ke Badan Keamanan Rakyat (BKR). Kesatuan bersenjata yang kemudian tumbuh menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Republik Indonesia (TRI), lestari sampai sekarang dengan sebutan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sebagai perwira militer, karier dan jabatan yang

MAESTRO, April 2009

17


FOTO: KRUS HARYANTO

Mamie dan Sigid Agus Heryanto, di pusara Sri Mardijati.

ia pegang terus menapak ke atas. Komandan Kompi, Komandan Batalyon, Komandan Brigade, Kepala Staf Kodam III/17 Agustus, dan akhirnya Kepala Staf Kodam VII/Di ponegoro. Perjalanan kariernya bergulir dari satu pertempuran ke pertempuran lain. Dimulai dari penumpasan pemberontakan komunis semasa Peristiwa Madiun, kemudian ikut meng hancurkan gerombolan Darul Islam (DI) dalam operasi Gerakan Banteng Nasional (GBN) dan operasi Penumpasan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat, juga dalam Operasi menumpas Kahar Muzzakar di Sulawesi Selatan, Operasi Dwikora di Kalimantan Barat. Di antara sekian banyak pengalaman tempur yang pernah ia jalani, Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kamtib) penumpasan Mbah Suro memiliki makna tersendiri. Mbah Suro adalah bekas sersan dalam pasukan Amat Jadau, yang selanjutnya terlibat dalam Peristiwa Madiun, sehingga dibubarkan. Bekas Bintara tersebut pada 1951 sampai 1955 terpilih sebagai lurah di tanah kelahirannya, Desa Nginggil, Kecamatan Menden, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Pada Pemilu 1955, ia menjadi caleg PKI, tetapi tidak terpilih. Namanya kembali muncul awal 1966,

18

MAESTRO, April 2009

ketika mengangkat dirinya sebagai guru spiritual lalu mengubah namanya menjadi Mbah Suro dan mendirikan Padepokan Mbah Suro di daerah perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Zaman panca roba menyusul gagalnya Gerakan 30 September ternyata justru melambungkan nama Mbah Suro. Para simpatisan G30S dan massa PKI yang sedang kebingungan karena dikejar ABRI, ditampung di Padepokan Mbah Suro. Mbah Suro juga mulai mempersiapkan diri untuk melakukan aksi pembangkangan dengan mendirikan pasukan pengawal Banteng Ulung (laki-laki) dan Banteng Sarinah (perempuan). Pasukan pengawal tersebut tidak hanya dilatih dalam perkelahian tangan kosong, tetapi juga mengembangkan latihan militer plus mempersenjatai diri dengan senjata api curian. Pemerintah tidak tinggal diam melihat perkembangan ini. Padepokan Mbah Suro dinyatakan ditutup. Mbah Suro menolak. Mbah Suro juga menolak ketika di panggil ke Blora. Bahkan, ia mengusir utusan Pemerintah Daerah Jawa Tengah yang ingin meninjau situasi. Akhirnya, Jenderal Soerono, Panglima Kodam VII/Di ponegoro, memutuskan melancarkan Operasi Kamtib untuk menumpas Mbah Suro.


Mardeo, perwira TNI dengan nomor pokok 1115, merintis karier militernya dengan masuk ke pusat pendidikan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) di zaman pendudukan Jepang. ““Lho, kowe apa Panglima, kok wani takon? (Lho, apa kamu Panglima, kok berani bertanya?)“ jawab Mardeo.” Mamie menambahkan, kali ini dengan nada ceria, “Sejak itu, saya tidak lagi pernah berani bertanya. Tugas saya, kalau Papie berangkat operasi, saya harus menata garis belakang supaya ekonomi rumah tangga tidak ikut kocar-kacir.“ n

FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

Letnan Kolonel (Inf) Mardeo di percaya menjadi pimpinan operasi. Laporan wartawan Kompas melukiskan, kabut tebal masih memeluk Bengawan Solo, Minggu pagi 5 Maret 1967. Pagi yang basah di musim peng hujan menjadikan suasana setempat terasa tintrim, mengecutkan hati. Matahari sama sekali belum menampakkan diri. Ini semua menambah kesenyapan Desa Nginggil, di daerah perbukitan hutan jati, tepat pada perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pertempuran segera pecah. Sengit. Selepas tengah hari, Padepokan Mbah Suro ditaklukkan. Sore harinya, Mayor (Inf) Soehirno, Kepala Penerangan Kodam VII/Di ponegoro, mengumumkan, Mbah Suro tertembak mati berikut 89 cantrik (kader) sewaktu mereka berusaha menyerang petugas ABRI yang akan masuk Padepokan. ABRI juga berhasil merampas puluhan senjata api, terdiri atas senjata jenis bren, AK 47, sten gun, pistol, dan lainnya. Sebanyak 1.500 orang pengikut Mbah Suro ditawan.…” Beberapa hari kemudian, Brigjen Sarwo Edhie Wibowo, Komandan RPKAD, menambahkan, gugurnya tiga prajurit RPKAD dalam operasi tersebut tidak sia-sia. Sebab, hancurnya Padepokan Mbah Suro berarti hancur pula petualangan yang bertujuan meng hidupkan kembali PKI dan mempertahankan Orde Lama.” Kolonel Mardeo sebagai komandan Brigade dengan tiga batalyon (Batalyon 409 yang bermarkas di Purwodadi di bawah pimpinan Mayor Untung Sridadi) ditunjuk sebagai pemimpin Operasi Penumpasan Mbah Suro karena dalam posisi terdekat dengan Desa Nginggil, lokasi gerombolan Mbah Suro. Keberhasilan TNI menumpas pembangkangan Mbah Suro, Kolonel Mardeo mendapat kesempatan untuk mengikuti Seskoad. Waktu itu pendidikan Seskoad sangat didambakan para perwira tinggi (Pati). Apakah Mardeo menceritakan semua pengalaman tempurnya? Mamie menjawab serius, “Kula sampun nate nyuwun pirsa, arep tindak perang nyang ngendi, Mas (Saya dulu sudah pernah mencoba bertanya, akan berangkat operasi ke mana, Mas)?“”

Mamie berperan sebagai pilar penyangga kehidupan keluarga.

MAESTRO, April 2009

19


FOTO: KRUS HARYANTO

20

MAESTRO, April 2009


Istri Sejati

Seorang Tentara Raden Mas Mardeo bukan hanya prajurit tulen. Ia juga dikenal idealis, pantang menolak tugas, dan selalu berada di medan perang. Bersama pria yang bikin hatinya dag-digdug inilah KRAy Siti Hartati mengabdikan hidupnya.

S

ANG suami dan ayahanda memang telah tiada. Tapi, kenangan manis bersama Mardeo tidak pernah lenyap dari ingatan Mamie. Demikian pula di benak putraputrinya. Diakui Mamie, banyak cerita mencekam dan suka-duka yang ia lalui sebagai istri seorang tentara. Ia dapat melewatinya dengan mulus karena sudah mendapat bekal hidup sejak kecil hingga remaja atas didikan orangtua kandung dan ayah angkatnya. “Dulu, saya sering ditinggal tugas suami. Ini bikin hati selalu was-was karena setiap saat ada saja berita anak buah yang gugur sehingga takut kalau-kalau ada sesuatu. Seperti kejadian di batalyon Jatingaleh, yang gugur 11 orang. Kalau sudah begitu, saya harus memberitahukan kepada keluarganya, mendampingi mereka, menguatkan hati mereka, dan menasihati mereka,“ kisah Mamie menarik lonceng waktu ke belakang.

MAESTRO, April 2009

21


FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

Foto kenangan Mamie dan Raden Mas Mardeo, suaminya (alm)

Perasaan serupa bukan sekali dua kali dialami Mamie. Pria yang menikahinya pada 23 Mei 1948, serasa mimpi, harus pergi memimpin pasukan dalam Peristiwa Madiun. “Lantaran semua orang sudah ke luar, pergi gerilya karena ada PKI Madiun, pada Desember saya pulang ke Ngemplak. Saya pulang dalam keadaan hamil tua, naik andong. Selebihnya kami saling surat-suratan sampai saya pindah ke Purwodadi,“ cerita Mamie. Masih dalam suasana dicekam Peristiwa Madiun, Mardeo menyempatkan diri pulang ke rumah. Ia menyamar, mengenakan pakaian compang-camping. “Begitu ketemu, kami saling tangis-tangisan, takut ada apa-apa. Itu sebabnya, pintu belakang kami siapkan untuk jalan ke luar seandainya pintu depan tiba-tiba dijebol. Waktu itu, bayi kami baru berusia 40 hari lebih. Tak lama ia pergi lagi. Oleh pengawalnya, saya diminta ke rumah ibunya. Maksudnya, setelah ketemu ibu, saya mau diajak gerilya. Tapi, ibu justru melarang karena bayi kami masih merah. Sewaktu ketemuan menjelang perpisahan lagi, kami bertemu di kandang sapi milik keluarga. Kami ketemuan sampai malam. Setelah itu kami berpisah. Ia kembali ke daerah gerilya, saya juga pulang bawa bayi yang diberi nama Sri

22

MAESTRO, April 2009

Mardijati. Kami kembali main surat-suratan. Ia selalu titi p surat lewat pedagang sayur keliling. Di sampul suratnya tidak ada namanya, tetapi selalu ada tanda titik tiga,” ungkap Mamie.” Segar dalam ingatan Mamie, selagi sang suami menjalankan tugas sebagai komandan kompi, Sri Mardijati pada usia 10 bulan jatuh sakit. Mamie coba membawa putri pertamanya ini ke rumah sakit. Dalam satu kabupaten di Purwodadi, dokternya hanya ada satu orang dan bertugas di RS Umum. Setelah beberapa hari diberi obat, saat-saat terakhir, sang dokter menyarankan agar Mamie membawa Sri Mardijati ke Semarang. Lantaran fasilitas tentara di Purwodadi juga hanya ada satu mobil berupa ji p kanvas, ia segera berangkat ke Semarang naik ji p itu ditemani supir dan seorang pengawal. Di Semarang, nyawa sang bayi tidak tertolong. Di lain waktu, Mardeo yang memiliki NRP 1115, meng hadapi Pemberontakan DI/TII yang dimotori Letkol Abdul Kahar Muzakkar. Pemberontakan dimulai dengan Proklamasi Daud Beureuh di bawah pimpinan Kartosuwirjo pada 20 September 1953 di Aceh. Pada kesempatan lain,


Melihat Mamie datang, mereka sudah nangis duluan.” “Mamie itu istri prajurit tulen,“ tegas Nuniek. Sewaktu Mardeo masuk RS Elisabeth sampai akhirnya meninggal, Mamie pula yang menunggunya. Mamie sama sekali tidak mau pulang ke rumah sekadar untuk istirahat.” “Ia memang luar biasa,“ timpal Wibi. Dengan empat anak laki yang bandel, ada yang suka pulang pagi sampai ketangkap polisi segala, ia tidak pernah menunjukkan amarahnya. Sebagai perempuan Jawa, Mamie luar biasa. ” RM Mardeo bin Hardjo Mardeya mengembuskan napas terakhir pada 18 Desember 1990 di Semarang dengan pangkat Brigjen TNI. Mamie menunjukkan kesetiaannya hingga akhir hayat sang suami. Sebelum meng hadap Sang Khalik, kepada istri dan anak-anaknya, Mardeo berpesan agar tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. “Kalau di TMP, Papie tidak bisa sama-sama dengan Mamie,“ kata Nuniek menguti p pesan sang ayah. Pesan itu diamini Mamie dan putra-putrinya. Ia dimakamkan di Astana Bibis Luhur di Solo Utara. n

Mamie itu istri prajurit tulen. Sewaktu Papie masuk RS Elisabeth sampai meninggal, Papie ditunggui Mamie. Mamie sama sekali tidak mau pulang ke rumah sekadar untuk istirahat.

sang suami ikut membersihkan Pemberontakan Permesta, gerakan yang dideklarasikan oleh pemimpin si pil dan militer Indonesia Timur pada 2 Maret 1957. Pusat pemberontakan berada di Makassar yang waktu itu menjadi ibukota Sulawesi. Dalam sejumlah konflik dan pertempuran, banyak yang gugur. Para jandanya sampai tidak mau diajak pulang. Mereka menangis di atas pusara suaminya. “Pada masa DI/TII, Nunuk lahir,“ ucap Mamie. Berikutnya, Mardeo, pria kelahiran 3 Mei 1925 di Solo, bertugas saat pemberontakan PRRI sepanjang 1958-1961. “Waktu PRRI, anak kelima lahir, tapi ia nggak kirim kabar. Sampai ibu saya bilang, coba cari di sela-sela apa saja, barangkali ia meninggalkan nama untuk anaknya diseli pkan di mana. Itu kata ibu saya karena ia yang memberi nama semua anak, orang lain tidak boleh. Saat bersamaan, dua anak kami, Sigid Agus dan Sigid Edi, jatuh sakit. Dalam situasi seperti ini, justru saya tidak meng hendaki ia pulang. Jangan sampai tugasnya terganggu karena dua anaknya sakit bersamaan dan anak kami yang kelima lahir. Waktu itu saya hanya kirim telegram, minta ia segera kirim nama. Kurang sehari, ia balas mengirim telegram berisi nama. Ia kasih nama Sri Setianingsih,“ imbuh Mamie. Lantaran Mardeo sering pergi tugas dalam waktu cukup lama, ia tidak begitu dekat dengan anak-anak. Ia jarang sekali di rumah. Pernah suatu hari Sigid Agus mengeluh karena Papie tidak pernah ke sekolahnya. Mardeo menjawab, kalau Mamie bisa, kenapa Papie harus turun tangan juga? Mardeo memang tidak pernah mengenal cuti. Tanya saja tanya teman-temannya sewaktu ia jadi Kasdam Bukit Barisan 17 Agustus di Sumatera. Sama anak buahnya malah ia bilang, istri pertamanya adalah senjata. Karena jarang jumpa dengan anak-anak, Nuning sampai memanggil Om! Waktu itu, kepada setiap tentara, Nuning selalu panggil Om. Jadi, sewaktu Papienya pulang ke rumah mengenakan seragam militer, ya di panggil Om.” Selepas menjabat Kasdam Di ponegoro dan kemudian pensiun, si bungsu Sigid Haryo Wibisono menjadi anak yang paling dekat dengan Papienya. “Wibi sering diajak ke manamana dan menemani Papienya,” jelas Mamie. Yang lebih luar biasa adalah waktu Mardeo tugas, Mamie juga ikut sibuk, terutama saat situasi gawat, dan ada yang gugur. Mamie sebagai istri komandan harus memberi tahu kepada istri atau keluarga anak buah suaminya. Mamie pergi ke asrama mereka naik sepeda.

MAESTRO, April 2009

23


FOTO: ISTIMEWA

Sarana transportasi tradisional, salah satu kondisi yang mewarnai perjalanan hidup Mamie.

Pistol

di Bawah Bantal Siapa tidak gentar mendengar kuburan Bapak telah disiapkan orang lain? Pasti ngeri. Pembunuhan psikologis inilah yang dialami Sri Marjati, putri kedua pasangan RM Mardeo-KRAy Siti Hartati. 24

MAESTRO, April 2009


K

“Sampai meninggal, Papie tetap kukuh pendiriannya. Nggak pernah kami difasilitasi.”” Cara mendidik anak yang diterapkan Mamie sama kerasnya dengan Papie. Sejak bayi hingga masing-masing anak sudah berkeluarga, di rumah diusahakan selalu ada pembantu. Tetapi, anak-anaknya tidak boleh bergantung kepada pembantu. “Kami harus dapat mengerjakan sesuatu yang dapat kami kerjakan. Mamie selalu bilang, sekali pun ada pembantu, kami yang berstatus istri harus dapat melayani suami. Jangan sampai para pembantu yang melayani suami.“” Ajaran Mamie dapat dilihat langsung dalam kehidupan sehari-hari rumah tangga pasangan Mamie-Mardeo. Sekali pun di rumah ada pembantu, Papie tidak pernah dilayani pembantu. Selalu Mamie yang turun tangan langsung. “Ini menjadi contoh bagi kami, anak-anak berikut para menantu perempuan, padahal pembantu di rumah bisa banyak, bisa lima sampai delapan orang.” Menurut Nuniek, dalam hal mendidik anak-anak, Papie memiliki ciri khas yang terekam baik dalam benaknya. Cirinya, kalau Mamie sudah bilang oke, Papie pasti ikut oke. Urusan sekolah, misalnya, selalu ditangani Mamie. Kata Papie, kalau Mamie sudah bisa menyelesaikan, ya sudah. Kalau Mamie tidak mampu, baru Papie turun tangan. Selama Mamie masih mampu, Papie tidak akan membantu. n FOTO: ISTIMEWA

etika Peristiwa Madiun meletus pada September 1948, selain dikejar-kejar pasukan Belanda, nama Mardeo termasuk salah seorang yang dicari untuk dilenyapkan. Begitu juga sewaktu Peristiwa Gestapu. Papie termasuk orang yang sudah masuk daftar PKI untuk diculik. Bahkan, PKI sudah menyiapkan kuburannya.” Seingat Nuniek, waktu itu mereka sekeluarga tinggal di Solo. Semasa meletus Peristiwa Gestapu 1965, mereka sekeluarga tanpa kehadiran Papie karena harus mengikuti operasi militer untuk menumpas PKI dan para pengikutnya. Mamie membimbing anak-anaknya mengungsi ke Pura Mangkunegaran. Waktu itu Papie menjabat Asisten VII Kodam VII Di ponegoro. Dan, masih dalam masa gejolak Gestapu/PKI, Papie menjabat sebagai Dan Brigif V Dam VII Di ponegoro.…” Sekali pun peristiwa penculikan dan nama Mardeo tidak sampai masuk ke liang lahat seperti yang sudah di persiapkan PKI, kenangan mencekam itu tetap sulit dilupakan. Apalagi, pengalaman sebelumnya sewaktu Peristiwa Madiun, Nuniek mendapat cerita bahwa Papie sampai harus menyamar untuk dapat menemui istri dan bayinya yang baru lahir, Sri Mardijati. Begitulah Mamie. Selaku istri prajurit, ia selalu gigih membangun pertahanannya sendiri. Karena Mamie sering ditinggal tugas, di bawah bantal tidurnya pasti ada pistol jenis FN 45. Kalau ada orang tak diundang datang, Mamie siap meng hadapinya. Nuniek juga menjelaskan, ia bersama kakak dan adikadiknya senang jika diizinkan mengantar Mamie belajar menembak. “Kami sudah biasa ditinggal Papie dengan beban kehidupan yang keras. Jadi, kami senang melihat Mamie latihan menembak. Mamie mempelajarinya dengan tekun sampai Papie pun menjulukinya jago tembak,” ungkap Nuniek. Sekali pun jarang bertemu Papie, menurut Nuniek, cara mendidik Papie sangat ketat. Anak-anaknya dilarang minta bantuan kepada orang lain. ”Kalau punya masalah di sekolah, harus bisa menyelesaikan sendiri. Saat masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tidak boleh memakai fasilitas siapa-siapa. Kami harus berjuang sendiri. Sewaktu punya motor dan butuh SIM, disuruh tes ikut ujian. Kalau tidak lulus, harus diulang dan mengikuti tes lagi. Sewaktu mencari pekerjaan juga begitu, harus mencari sendiri.

Salah satu sudut Kota Semarang tempo dulu.

MAESTRO, April 2009

25


Sumber Inspirasi Kekuatan & Ibu‌.. Kini aku makin mengerti nilaimu Kamu adalah tugu kehidupanku Kamu adalah api yang menyala Kamu adalah hujan yang kulihat di desa Kamu adalah hutan di sekitar telaga Kamu adalah teratai kedamaian samadhi Kamu adalah kidung rakyat jelata Kamu adalah‌..

Adalah kiblat hati nurani di dalam kelakuanku SES 1982

26

MAESTRO, April 2009


FOTO: KRUS HARYANTO

MAESTRO, April 2009

27


FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

I

Bersama cucunya Syandana Haryo Baswara

28

MAESTRO, April 2009

bu Mardeo yang akrab di panggil Mamie adalah sumber inspirasi dan kekuatan bagi semua anak, menantu hingga cucu-cucunya. Pertama, Mamie adalah inspirasi kemanusiaan. Ia mampu berkomunikasi dengan siapa saja, mulai penjual makanan di pasar sampai ke nyonya jenderal, orang cacat, anak kecil hingga ibu-ibu lanjut usia. Ia juga cepat mengulurkan tangan dalam membantu sesama. “Mamie banyak memberi. Saya melihat itu sekali pun beliau tidak pernah mengatakannya,� ucap salah seorang menantunya. Kedua, Mamie adalah inspirasi bagi generasi muda. Sebagai seorang ibu, apalagi istri tentara yang gajinya tidak berlebihan, ia pandai mengelola keuangan keluarga. Mamie dapat menyiasati segala macam beban kehidupan. Dengan peng hasilan suami yang perwira militer dan menanggung beban tujuh orang anak, pengalaman hidup telah mengajarinya untuk mampu mengelola keuangan keluarga secermat mungkin. Bagaimana Mamie menyiasatinya? Saat mengatur menu makanan, misalnya, ternyata Mamie menyiasatinya dengan memanfaatkan apa saja bahan makanan yang ada. Menu makanannya sederhana. Tahu salah satunya. Mamie bilang tahu itu tinggi proteinnya. Sekali pun hanya tahu, bakal terasa enak kalau dimasak dengan cara tepat, dimasak dengan hati.� Ketiga, Mamie adalah inspirasi kesabaran. Artinya, ia memiliki tujuh orang anak. Sang suami, sebagai seorang perwira militer, sangat jarang pulang ke rumah karena lebih sering bertugas di lapangan. Meski begitu, ia masih bersedia mengambil keponakannya sendiri sebagai anak angkat. Padahal, mengasuh tujuh anak pasti tidak gampang. Tidak semua buah dari satu pohon bisa sama rasanya. Begitu juga karakter anak yang satu dan lain, pasti berbeda-beda. Selanjutnya, ketika putra-putrinya menikah, Mamie dengan hati terbuka bersedia menampung menantu


FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

Kepekaan Mamie senantiasa terjaga apik.

yang berbeda-beda sifatnya dengan perasaan damai. Keempat, Mamie adalah sebuah inspirasi kekuatan. Secara fisik ia memiliki kekuatan dalam arti sebenarnya. Di balik kekuatannya, ia juga dikaruniai kekuatan tak terlihat, tetapi patut dicontoh. “Ia mampu meng hadapi masalah yang bagi saya sebagai generasi lebih muda, tidak sanggup meng hadapinya. Saya melihat dan merasakan bahwa Mamie adalah orang yang tidak pernah menyerah setiap kali dihadapkan pada suatu masalah.“ “Sebagai menantu, saya melihat Mamie adalah perempuan kuat, kokoh, setegar batu karang di lautan. Beliau sangat care terhadap semua anak, menantu, cucu sampai cicitnya. Beliau tahu apa yang disukai

masing-masing anggota keluarganya. Bahkan juga hafal tanggal dan bulan ulang tahun semua anggota keluarganya. Meski usia sudah lanjut, beliau tidak gaptek. Bila cucunya mengirim sms, pasti beliau balas dengan sigap.“ Nuniek, anak kedua yang tinggal serumah di Semarang, menambahkan, Mamie tidak hanya menaruh perhatian kepada cucu-cucunya. Sekali pun semua anaknya sudah berkeluarga, Mamie tetap menaruh perhatian. “Masih memperlakukan kami seperti semasa kanak-kanak atau sewaktu kami masih lajang. Mamie penuh pengertian, tetap bersahaja, dan care. Semisal kami mau bepergian, Mamie tidak lupa menanyakan kembali, masih ada yang ketinggalan nggak?”n

MAESTRO, April 2009

29


Berbagi

Tanpa Pamrih 30

MAESTRO, April 2009


MAESTRO, April 2009

31

FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA


FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

Hidup adalah memberi. Bahkan, bagi KRAy Siti Hartati yang akrab di panggil Mamie, memberi adalah kebutuhan. Ketika memiliki kesempatan berbagi dengan sesama, di dalamnya ia menemukan betapa indahnya hidup ini. Mamie tak pernah lupa bersyukur.

M

EMBERI tanpa pamrih bukan suatu beban, melainkan kebutuhan primer. Demikian Mamie melakoni perjalanan hidupnya. “Saya bahagia dengan apa yang saya miliki, bahagia dengan apa yang sudah ada. Saya bahagia karena mampu menolong sesama. Bahkan, saya senang dan ikhlas saat memiliki kesempatan membantu orang lain,“ kata Mamie.� Tak mudah menjalani hidup adalah memberi. Tapi, justru keyakinan itulah yang membuat Mamie selalu punya rezeki. Artinya, begitu ia mengeluarkan rezeki, itulah yang

32

MAESTRO, April 2009


FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

ia punyai. Ia menyiasatinya dengan apa yang ia punyai sehingga ia dapat memberi makan bagi banyak orang. “Bila kita tidak pernah memberi, kita tidak punya apaapa. Dengan memberi, justru itulah yang kita punyai. Itulah yang membuat rezeki mengalir terus. Jadi, apa yang kita berikan adalah rezeki yang kita miliki. Kalau tidak pernah memberi, habislah kita. Kita tidak punya apa-apa.“ Lantaran memiliki kepribadian seperti itulah Mamie mudah bergaul dengan semua kalangan. Ia berteman dengan siapa saja, mulai tukang becak, tukang sayur, tukang pijat, hingga istri-istri pejabat dan jenderal. Bahkan, dengan orang gila sekali pun ia tidak alergi. “Suatu hari pernah ada orang gila datang memasuki pekarangan rumahnya. Oleh Mamie, orang gila itu didiamkan saja. Tidak diusir. “Biasanya, kalau kedatangan orang gila, si pemilik rumah pasti mengusir karena merasa takut dan tidak aman. Mamie tidak begitu.“ Sewaktu orang gila itu datang dan seisi rumah ribut bercampur resah, Mamie selaku tuan rumah malah berkata, “Tidak apa-apa, biarkan saja. Kasih makan, beri minum. Mungkin ia lapar dan haus.“” Apa yang dikemukakan Ully senada dengan pengakuan Mamie tatkala ia membicarakan anak-anaknya, khususnya si bungsu Sigid Haryo Wibisono yang akrab di panggil Wibi. Setiap Wibi telepon, tidak pernah lupa menanyakan, Mamie mau apa? Mamie kepingin apa? “Tapi, saya selalu bilang tidak ingin apa-apa. Prinsi p saya, apa yang diberikan pasti saya terima dengan senang hati. Saya tidak pernah mau minta dibelikan sesuatu. Kalau bisa jangan sampai. Sebab, saya tahu mereka punya kebutuhan sendiri-sendiri, punya kerepotan sendiri-sendiri. Apalagi, seperti Wibi ini. Saya tahu kebutuhannya banyak. Kebutuhannya buat orang banyak,“ tutur Mamie. n

Mamie menyuapi putra bungsunya, Sigid Haryo Wibisono, dan cucunya.

MAESTRO, April 2009

33


FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

KRAy Siti Hartati:

“Bahagia Bikin Senang Orang” 34

MAESTRO, April 2009


MAESTRO, April 2009

35


“

Seperti bahasa Jawa yang saya sebutkan, ora eneng elekke,ora eneng salahe, gawe seneng wong. Artinya, nggak ada jeleknya, nggak ada salahnya bikin senang orang.

“

N

ggak ada jeleknya, nggak ada salahnya, bikin senang orang. Sebaris kalimat dalam Bahasa Jawa ini dilontarkan Mamie ketika merespon pertanyaan MAESTRO mengenai Merdeka Grup, perusahaan milik Sigid Haryo Wibisono, putra bungsunya. Berikut petikan wawancara dengannya.

resimen sampai bilang, Mbakyu, apakah Bapak perlu ditelegram supaya pulang atau bagaimana?� Saya malah bilang jangan! Soalnya, kalau ia pulang, itu artinya ia harus meninggalkan anak buahnya dan meninggalkan tugasnya. Saya hanya bilang agar ia segera kirim nama untuk bayi kami yang baru lahir karena semua anak-anak ia beri nama sendiri. Orang lain tidak boleh. Jadi, selagi suami tugas, istri jangan sampai mengganggu pekerjaan suami.

Apakah kesuksesan seseorang senantiasa di pengaruhi peran seorang ibu atau kaum perempuan? Menurut saya, yang wajar memang begitu. Misalnya seorang istri. Ia harus dapat mendorong atau mempengaruhi positifnya pekerjaan suami. Seharusnya begitu. Itu yang wajar. Sekarang nggak usah jauh-jauh, seperti saya sendirilah. Sejak nikah sampai punya anak banyak, suami hampir tidak pernah di rumah. Paling lama ia di rumah hanya lima hari, habis itu pergi tugas berbulan-bulan. Sebagai seorang militer, ia selalu berada di antara pasukan. Jadi, cuma tugas, tugas, dan tugas. Lha, untuk itu saya harus rela, harus ikhlas. Kalau anak sakit, misalnya, ya harus coba diatasi sendiri. Sewaktu melahirkan anak kelima, Nuning yang lahir pada masa PRRI, dua anak saya yang lain, Sigid Agus Heryanto dan Sigid Edi Soetomo, jatuh sakit. Sementara suami sedang tugas di Sumatera. Seorang perwira dari

Itu peran istri terhadap suami. Bagaimana dengan anak? Ya, kaum ibu juga punya peran. Soalnya, mau tidak mau, yang ditiru itu yang diketahui dan dijumpai anak setiap saat adalah ibunya. Seorang ibu harus menjaga tindak-tanduknya dan omongannya, meski pun adakalanya seorang bapak ikut memberitahukannya. Anak saya yang nomor enam, Sigid Rudi Gunawan, termasuk nakal dan sering tabrakan. Suatu saat saya minta supaya ia dimarahi ayahnya.

36

MAESTRO, April 2009

Ketika si bungsu Sigid Haryo Wibisono hendak mendirikan Merdeka Grup, nasihat macam apa yang Mamie sampaikan? Sewaktu Wibi bikin Merdeka, sekali pun setiap langkah ada risikonya, saya bilang agar ia memikirkan matangmatang. Kalau mau melangkah harus di pikirkan matangmatang, jangan sampai nanti berhenti di tengah jalan.


FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

Dan, maaf, karena saya tahu ia masih muda, saya bilang emosinya supaya dikurangi. Hehehe... Keunikan Wibi adalah kalau sudah punya kemauan, sulit dihalang-halangi. Sukar sekali. Wibi itu keras. Selain itu, ia gampang marah, tapi juga gampang luluh. Kalau ada sesuatu, ia gampang naik, tapi sesudah itu ya sudah. Kalau ada kesalahan dan minta maaf, selesai. Saya tahu kalau hatinya tidak jelek. Ini bukan saya mau membela anak-anak saya, tapi karena saya tahu watak anak-anak saya. Itu memang ciri khas Wibi. Toh, kalau ia ngomong, saya sering bilang, ya ojo ngono. Dalam nasihat saya, tidak sampai bilang ini boleh dan itu tidak boleh. Saya hanya memberi tahu segala sesuatu harus di pikirkan. Semua harus di pikirkan menuju kebaikan. Selain membuat orang-orang senang, juga jangan sampai merugikan orang lain. Seperti bahasa Jawa yang saya sebutkan, ora eneng elekke, ora eneng salahe, gawe seneng wong. Artinya, nggak ada jeleknya, nggak ada salahnya, bikin senang orang. Perjalanan karier Wibi sekarang baik. Tapi, yang pasti,setiap ia mau rapat atau entah mau apa atau mau berangkat ke Surabaya atau entah ke mana, ia selalu telepon saya, mohon doa restu. Itu selalu. Contohnya waktu bikin Merdeka Grup. Waktu mau ambil Merdeka, ia juga bilang begini-begini. Mohon doa restunya, Mamie. Setiap ia minta doa restu, saya tak lupa mengingatkan supaya hati-hati. Itu nasihat saya. n

Mamie merasa bahagia setiap dapat membantu orang lain.

MAESTRO, April 2009

37


Mengatur Waktu 24 Jam

38

MAESTRO, April 2009


MAESTRO, April 2009

39


Bermain game di komputer, salah satu kegemaran Mamie

Sangat sedikit orang mampu mengatur waktu 24 jam agar bermanfaat bagi orang lain, bukan sekadar untuk diri sendiri. Waktu 24 jam itu sedikit, tetapi yang sedikit ini dapat menjadi banyak buat KRAy Siti Hartati.

40

MAESTRO, April 2009

FOTO: KRUS HARYANTO

S

EWAKTU Brigjen TNI Mardeo masih ada sampai kemudian meng hadap Sang Khalik, Mamie selaku pendamping hidup Kasdam IV/Di ponegoro 1974-1977 ini termasuk seorang istri, ibu, nenek, dan buyut yang terampil memanfaatkan waktu. Ia, misalnya, memiliki waktu rutin untuk bergaul dengan ibu-ibu Woman’s International Club (WIC), teman-temannya di grup les bahasa Inggris, mengelola beberapa kelompok arisan, bahkan masih sempat mengurus makanan harian. Mamie pernah menjadi Presiden WIC Semarang. Ia mulai aktif sejak WIC berdiri di bawah kepemimpinan Ibu Soepardjo Roestam, istri Gubernur Jawa Tengah yang menjabat pada 1975. Tujuan utama WIC membangun persahabatan di antara kaum perempuan dari berbagai bangsa dan negara berdasarkan asas Mutual Understanding. Mamie yang sejak remaja senang berorganisasi, khususnya di organisasi sosial, tentu sangat senang mendapat kesempatan bergabung dengan WIC. Apalagi, WIC merupakan organisasi yang tidak terikat, tidak berbau


FOTO: KRUS HARYANTO

politik, tidak berpihak pada satu agama, dan bergerak dalam lingkup sosial. WIC aktif melakukan pertemuan rutin. Sesama anggota dapat saling bertemu dan beramah-tamah sembari menikmati acara seperti agenda kebudayaan, bazaar, dan hiburan. Juga melakukan berbagai aksi sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Hingga kini, di depan rumah keluarga Tatiek ‘Mamie’ Mardeo di Jalan Letjen S Parman No 60, Semarang, Jawa Tengah, masih terpampang papan Women’s International Club Semarang. Bahkan, dalam situs wicsemarang.com, alamat kontak WIC Semarang belum berubah. Entah bagaimana caranya membagi waktu, pada saat bersamaan, Mamie selama tiga periode dalam kurun 15 tahun duduk sebagai Ketua Persatuan Istri Veteran Indonesia (Piveri). Di Piveri para anggota saling bertukar pikiran dan mengadakan kegiatan bersama seperti arisan, tahlil, bakti sosial, dan meng hadiri undangan legium veteran. “Mungkin karena menjadi ketua selama 15 tahun dan dianggap kelamaan, saya malas mengikuti kepengurusan.“ Sejak ditinggal suami pada 1990, aktivitas sosial Mamie tidak kunjung putus. Ketika MAESTRO menemui Mamie di kediamannya, ia mengatakan, waktu kosongnya hanya Sabtu. Di hari lain, bersama teman-teman, ia sibuk melakoni bermacam kegiatan yang semuanya di pusatkan di rumah. Seperti setiap Selasa, Mamie bermain bridge bersama teman-teman sebagai salah satu olah raga mental. Hari Rabu ada latihan seni karawitan sebagai bentuk kebanggaan terhadap budaya sendiri. Mamie masih aktif mengikuti berbagai arisan. Ada salah satu arisan yang memang setiap bulan dan pada tanggal yang sama diadakan di rumah, yakni Arisan Mitra Abadi. Mamie juga mempunyai grup bahasa Inggris yang sudah berusia 40 tahun. Sampai sekarang tetap berlangsung dan mereka selalu melakukan pertemuan di rumah juga. Hampir setiap hari dari Senin sampai Jumat, Mamie selalu punya kegiatan dan acara, baik di rumah maupun di luar rumah. “Kedudukan saya di sejumlah organisasi dan kegiatan sosial lainnya untuk mengisi waktu luang dan supaya saya tidak cepat pikun. Ini juga resep! Anak-anak saya

Jari-jari terampil Mamie saat menyulam.

MAESTRO, April 2009

41


“ Mamie di tengah keceriaan sejumlah cucunya

42

MAESTRO, April 2009

FOTO: PETER JOHAN

Ini juga resep! Anak-anak saya kalau pulang ke sini dan lihat kalender, di situ mereka menemukan banyak tanggal yang saya beri tanda. Itu acara kegiatan saya. Memang banyak sekali, tapi saya senang karena ketemu banyak teman. Ketika kumpul-kumpul, kami ngobrol tentang hobi, kesenangan bersama, dan nostalgia.

kalau pulang ke sini dan lihat kalender, di situ mereka menemukan banyak tanggal yang saya beri tanda. Itu acara kegiatan saya. Wah, banyak sekali, tapi saya senang karena ketemu banyak teman. Ketika kumpulkumpul, kami ngobrol tentang hobi, kesenangan bersama, dan nostalgia,“ papar Mamie. Dari sekian banyak aktivitasnya, Mamie paling suka melewati hari-harinya di rumah menekuni seni cross stitch (sulaman kristik). Apalagi, sewaktu remaja, ia hobi menjahit. Hobi ini ia kembangkan terus hingga menikah dan punya anak. “Saya jahit sendiri pakaian untuk anak-anak waktu mereka kecil. Belakangan, saya rajin bikin sulaman kristik, bikin taplak-taplak. Pokoknya, di waktu senggang, kalau sudah bosan ini dan itu, saya bikin kristik,“ ucap


FOTO: KRUS HARYANTO

Mamie. Pada zaman penjajahan Belanda, kristik yang berasal dari bahasa Belanda, yaitu kruissteek, sangat populer. Seni kristik menjadi favorit kaum ibu dan remaja putri. Sadar atau tidak, membuat sulaman kristik sebenarnya tak hanya untuk mengisi waktu luang dengan cara produktif dan menyenangkan. Seni membuat gambar dengan bahan kristik yang miri p saringan pasir itu membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Pantas saja Mamie terkenal sabar dan tekun. Bahkan, lantaran membuat kristik lebih dulu harus punya gambar dasar dan dicetak di atas bahan kristik, si pembuat kristik harus konsentrasi penuh saat mengikuti pola yang ada di bahan dengan menggunakan benang DMC atau wol, lantas dijahit dengan pola silang-silang. Dalam kepala seniman kristik, saat menyulam, ia meng hitung kotak-kotak yang harus dijahitnya. Salah hitung atau salah jahit, hasilnya akan meleset. Bila Mamie yang hingga usia 79 tahun masih mampu menekuni hobi kristiknya tanpa kacamata, itu artinya seni kristik telah mengajarinya untuk tidak menjadi pikun. Apalagi, selagi merajut kristik yang membutuhkan konsentrasi mata dan pikiran, telinganya tetap harus peka untuk menangkap suara-suara di sekelilingnya. Satu lagi, meng hasilkan karya seni kristik membutuhkan waktu relatif lama. Terutama bila bentuk gambar yang hendak ditransfer termasuk besar dan rumit. Namun, di balik tingkat kerumitan ini, ia makin sering menggerakkan tangan memilin jarum di antara ibu jari, tengah, dan telunjuk. Jarum di antara jepitan jemari ini perlahan memperlancar peredaran darah dan metabolisme tubuh. n

Membaca Harian Merdeka, aktivitas rutin Mamie di pagi hari

MAESTRO, April 2009

43


Rumah pribadi di Jalan S Parman No.60 Candi Baru, Semarang

Dewi Kunthi Mencintai Suami, Membimbing Putra-putrinya 44

MAESTRO, April 2009


FOTO: KRUS HARYANTO

Membaca Harian Merdeka, aktivitas rutin Mamie di pagi hari

“K

alau saya nanti meninggal, jangan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan,“ pesan Brigjen (Purn) Mardeo, sekitar pertengahan November 1990. Mamie menjawab, ”Lho,

Mas kan berhak di sana?”” “Pokoknya jangan,” jawab Papie, sambil melirik Mamie. Dengan perlahan, Papie kemudian melanjutkan pesannya,“Kalau di sana, kau nanti tidak akan bisa di sebelahku. Sedangkan saya berharap, sampai kapan pun kita harus berdampingan. Sebagaimana selama ini kita telah bersama-sama menempuh seluruh perjalanan kehidupan ...” Mamie melukiskan percakapan antara dirinya dan Papie dengan bergetar. Pandangannya jauh menerawang, seakan-akan ingin kembali ke masa lalu. Matanya yang sejuk indah, nampak basah berkacakaca, menahan lahirnya tangis. Mamie kembali mengingat

Syandana Haryo Baswara bersama ibunya, R Ngt Sri Hapsari

percakapan dalam kamar tidur, di rumah pribadi mereka, di Jalan S Parman No 60 Candi Baru, Semarang. Saat itu, Papie berbaring sambil tiduran, setelah beberapa minggu menderita sakit. Mamie duduk di sampingnya, sambil tangannya memijit-mijit kaki Papie, mencoba menahan derita suaminya. Meski kondisi Papie terus-menerus semakin bertambah parah, beliau tetap menolak untuk dirawat di rumah sakit. Dengan memakai kalimat bahasa Jawa, Papie mengatakan, “Yen akuan ana kana, sing ngrawat banjur sapa? Aku mung pengin sliramu, dudu wong liya. (Kalau nanti saya dibawa ke sana, siapa bakal merawat? Aku hanya menginginkan dirimu, bukan orang lain).” Suatu hari, seorang temannya perwira ABRI, datang menjenguk. Karena baru pulang dari ikut apel Peringatan Hari Pahlawan, dia datang ke rumah sakit memakai pakaian dinas upacara. Sesudah tamunya pulang, Papie berkata, “Pakaian dinas saya yang baru, kapan bisa saya pakai?” Mamie menukas, “Pokoke, mesti diagem. Ora saiki,

MAESTRO, April 2009

45


Ki Manteb Sudarsono dalam acara Ulang Tahun Ibu Kanjeng Raden Ayu Siti Hartati yang ke-78

nanging mesti diagem, ora susah dadi penggalih.” (Pokoknya, pasti akan di pakai. Jangan sekarang, tetapi pasti akan di pakai, tidak usah di pikirkan).” Pukul 09.00, Selasa Kliwon, 18 Desember 1990, Tuhan akhirnya memanggil Papie. “Mas seda di Rumah Sakit Elizabeth, Semarang.” Mamie kemudian melanjutkan, “Almarhum melepas nafas terakhir dalam pelukan kami berdua, saya dan Bibik. Entah mengapa, pagi itu Bibik tiba-tiba tidak mau kuliah. Sejak sebelum subuh dia sudah menyusul ke rumah sakit, membantu saya menjaga Papienya.” “Ketika saya tanya dengan nama panggilan akrabnya, Nang, sing dawuh mrene sapa? (Nang, yang meminta kamu ke mari siapa?), saya tidak akan pernah lupa dengan jawabannya.” Sambil mencium kening Papie-nya, Bibik menjawab, Mboten wonten ingkang dawuh, namung dalem kepengin celak Papie. (Tidak ada yang meminta, hanya saja saat ini saya ingin dekat Papie).” Keesokan harinya, upacara pemakaman secara militer dilaksanakan. Mamie menjelaskan, “Saya memilih memakamkan Mas Mardeo di Astana Bibis Luhur, Solo. Sigid Agus, anak lelaki sulung, saya minta menulis surat pernyataan pemakaman akan dilakukan di Solo. Surat tersebut perlu sebab sejak semula Kodam Di ponegoro meng harapkan almarhum sesuai jasa-jasanya kepada

46

MAESTRO, April 2009

negara, seyogyanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Kecuali itu, sesuai dengan wasiat almarhum, jenazahnya sengaja saya pilihkan pakaian dinas upacara kebesaran militer. Pakaian seragam baru, yang sama sekali belum pernah di pakai almarhum ...” Ketika rangkaian upacara pemakaman akan dimulai, salah seorang paman Mamie menyarankan agar Papie dimakamkan di Astana Giri Bangun, Karanganyar, Solo. Makam yang sekarang ini telah menjadi sangat terkenal, tempat Pak Harto dan Ibu Tien Soeharto dimakamkan. Tawaran tersebut sangat beralasan. Sebab, ayah Mamie kakak-beradik dengan ayah Ny Tien Soeharto. Tawaran untuk dimakamkan di Giri Bangun dengan halus ditolak oleh Mamie. “Terima kasih Om, tetapi saya ingin Mas Mardeo dimakamkan di Bibis Luhur saja. Sehingga, kalau nanti anak-anak ingin nyekar, menengok dan menaburkan bunga ke makam Papie mereka, gampang dilakukan. Tidak usah harus pergi ke Meteseh dan mendaki bukit. Supaya mereka tidak usah ribet ...” *** Banyak pengalaman dialami Mamie selama tinggal di rumah Jalan S Parman. Sejak awal mendampingi Papie, selama masa dinas sampai ketika telah memasuki pensiun dari dinas militer, serta tahun-tahun sesudahnya. Selain itu, juga dilengkapi dengan beragam kenangan,


baik manis dan juga yang pahit, ketika Mamie mengasuh berikut membesarkan seluruh anak-anaknya, sehingga tidak berlebihan jika Mamie secara terus terang mengaku, ““Saya tresna (sayang) sekali dengan rumah di S Parman. Bertahun-tahun saya bersama almarhum dan anak-anak tinggal di rumah ini, menempuh segala macam suka dan dukanya kehidupan...” Sesungguhnya, rumah tersebut hanya sebuah bangunan lama, yang didirikan dalam rancang-bangun Art Deco yang populer di awal abad XX. Sebuah peninggalan rumah dinas militer di zaman kolonial, terletak di pinggir jalan raya, di lereng bukit dengan sebuah halaman rumput luas, dihiasi sebuah pohon karet yang tinggi besar dan berdaun rimbun. Pada zaman kemerdekaan, rumah kuno tersebut di pakai sebagai rumah dinas Panglima Di ponegoro. Peng huni pertama rumah ini, yang masuk sesudah persetujuan Konperensi Meja Bundar (KMB) ditandatangani, tidak lain Kolonel (Inf) Soeharto. Waktu itu, Pak Harto baru saja ditetapkan sebagai Panglima Di ponegoro, naik dari jabatan semula, Komandan Korem Solo. Sesudah Puri Wedari selesai di pugar dan diresmikan sebagai rumah dinas panglima, semua Panglima Di ponegoro selalu tinggal di rumah baru. Rumah di S Parman No 60 itu berubah menjadi tempat tinggal Kepala Staf Kodam Di ponegoro.” Mamie menjelaskan, “sewaktu Mas Mardeo menjabat Kasdam Di ponegoro, kami sekeluarga mulai pindah ke sini. Sesudah beliau tutup usia, saya mengajukan permintaan kepada pemerintah untuk membeli rumah di S Parman. Sesudah menunggu lama, sekarang semuanya telah beres. Saya memutuskan untuk melestarikannya. Sebab, terlampau banyak kenangan pribadi kami tidak bisa dihapuskan dari rumah in.” Biasa atau istimewa, memang selalu terpulang kepada pandangan, berikut kenangan masing-masing pribadi. Begitu juga dengan rumah di Jalan S Parman. Bagi Mamie dan seluruh anggota keluarganya, rumah tersebut benarbenar telah tampil dalam memenuhi makna sebuah kalimat

bersayap populer, home sweet home. *** Sebagai seorang priyayi Jawa, Mamie ternyata memiliki kekaguman kepada tokoh wayang, Dewi Kunthi. “Sosoknya sangat mengesankan, sendirian mengasuh serta membesarkan kelima orang putranya, sehingga mereka semua menjadi Ksatria, setia kepada kebenaran sekaligus selalu bertekad untuk membela yang lemah...” Perjalanan hidup Dewi Kunthi miri p Mamie. Kunthi dilahirkan dengan nama Pritha, seorang gadis yang terkenal tidak hanya karena kecantikannya, terlebihlebih karena kebajikannya. Pritha satu-satunya anak Sura, kakak kandung Sri Kresna. Sejak masih kecil, Pritha telah diserahkan oleh ayahnya kepada Kunthibhoja, saudara sepupunya yang tidak punya anak. Sejak itu, Pritha diubah namanya menjadi Kunthi. Sesudah usianya cukup dewasa, Raja Kunthiboja menyelenggarakan lomba laga dengan hadiah utama, sang pemenang berhak mempersunting Kunthi. Perlombaan tersebut ternyata dimenangkan oleh Pandu. Maka, Pandu dan Kunthi menjadi suami-istri. Mereka mempunyai tiga anak: Yudhistira, Bhima, dan Djanaka. Sesudah kelahiran ketiga putra tersebut, Pandu menikah dengan Madri. Lahirlah sepasang anak kembar, Nakula dan Sadewa. Si anak kembar akhirnya diasuh Kunthi, sebab Madri mendahului tutup usia. Setelah merenung sejenak, Mamie langsung berkata dengan kalimat jernih, “Meski anak saya tujuh orang, dan yang sulung meninggal ketika masih bayi, saya selalu ingin mengasuh mereka, sebagaimana Kunthi mengasuh kelima orang Pendawa. Saya juga punya seorang anak angkat, dari keluarga sepupu saya sendiri.” “Semua anak saya, baik yang lelaki ataupun perempuan, semuanya harus bisa meneladani sikap dan langkah leluhurnya. Harus bisa tumbuh dewasa untuk menjadi seorang Kstaria. Setia kepada kebenaran, dan

MAESTRO, April 2009

47


FOTO: WWW.PANORAMIO.COM

RADEN MAS SAID:

Tiji Tibeh, Mukti Siji Mukti Kabeh 48

MAESTRO, April 2009


MAESTRO, April 2009

49


P

erjanjian Salatiga telah menyelesaikan perang perebutan tahta di Kerajaan Mataram selama 16 tahun terakhir. Sebagai buntut peralihan kekuasaan yang tidak mulus semasa pemerintahan Amangkurat IV, sejumlah Pangeran meninggalkan Kartasura. Pertempuran antarkeluarga Mataram pun meletus. Menurut Perjanjian Salatiga, RM Said ditetapkan sebagai Pangeran Miji, setara Raja tetapi tanpa tahta, tak punya alun-alun, dan tidak boleh menanam pohon beringin.

50

MAESTRO, April 2009

FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

Senin Legi, 17 Maret 1757, Raden Mas Said bersama Raja Surakarta, Susuhunan Paku Buwono III,menandatangani naskah perdamaian di Salatiga. Dua orang ikut tanda tangan sebagai saksi, Gubernur Jenderal Nicholas Harting h dan Patih Danoeredjo, utusan resmi Raja Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono I.

RM Hendrarso Soerjokoesoemoe (Keturunan Mangkunegoro V) - RAy Harjatmi Hendrarso Soerjokoesoemoe (Keturunan Mangkunegoro III), orangtua kandung Kanjeng Raden Ayu Siti Hartati.

Sebagai bekal untuk memulai kehidupannya yang baru, Susuhunan menyerahkan wilayah seluas 4.000 karya yang diambil dari sebagian wilayah Kerajaan Surakarta. Sesudah perjanjian perdamaian ditandatangani, RM Said langsung memerintahkan gencatan senjata, membangun istana yang ia resmikan pada 4 Jimakir tahun Jawa 1683, bersamaan dengan 17 Maret 1756. Sejak itu, ia resmi memakai gelar Kanjeng Goesti Pangeran Aryo Adi pati Hamengkoenagoro. Dengan demikian, tanggal tersebut ditetapkan sebagai tanggal berdirinya Pura Mangkunegaran. Istana yang


FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

FOTO: ISTIMEWA

Raden Mas Said

selama 250 tahun terakhir berdiri megah di sisi utara Jalan Slamet Rijadi, jalan raya yang membelah dua Kota Solo, pusat kebudayaan Jawa bernama resmi Surakarta Hadiningrat. Perdamaian Salatiga menyusul Perjanjian Gianti dua tahun sebelumnya, yang telah membagi dua Kerajaan Mataram. Sebagian disebut Surakarta, di pimpin Sunan Paku Buwono III. Sisanya diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi, yang kelak naik tahta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I. Ketiga tokoh dalam perselisihan di atas sebenarnya masih bersaudara. HB I adalah paman PB III, sedangkan MN I saudara lain ibu dari PB III. Sebagai ongkos untuk menyelesaikan pertikaian tersebut, Kerajaan Mataram terpaksa menyerahkan kepada Kompeni Belanda pantai utara Jawa Tengah, Jawa Timur sampai ke Surabaya, wilayah Pasuruan, dan Pulau Madura. Wilayah Mataram yang telah semakin ciut akhirnya harus dibagi empat. Sebab, nantinya, semasa Inggris berkuasa di Pulau Jawa, wilayah Yogyakarta masih disusutkan untuk mendukung kehadiran Pura Pakualaman. Dari bekas Kerajaan Mataram yang sangat luas akhirnya muncul empat pemerintahan: PB, HB, MN, dan PA.

KRMT Sigid Haryo Wibisono

Perjanjian Gianti melahirkan persekutuan antara kekuatan Sunan, Sultan, dan Kompeni, sekaligus mewajibkan Sultan yang baru saja diangkat untuk membantu upaya meringkus RM Said. Sebelum Sultan naik tahta, Said sebenarnya adalah menantunya. Maka, perdamaian di Gianti pun ia jawab dengan mengembalikan istrinya, Raden Ayu Inten, sekaligus menyerbu masuk dan mengobrak-abrik Sitihinggil Kraton Yogyakarta. Selama lima tahun terakhir, bersama para pengikutnya, RM Said harus melawan tiga kekuatan: tentara Sunan, Sultan, dan Kompeni Belanda. Sebagai pembangkit semangat tempur, ia menci ptakan battle cry, pekik perang, kata bersayap tiji tibeh. Dalam makna mukti siji mukti kabeh. Artinya, kalau nanti ia sudah meraih kemenangan, semua pengikutnya akan ikut mukti. Ikut menikmati. Nantinya terbukti, dalam masa kritis dikejar oleh pasukan gabungan Kompeni, Sunan, dan Sultan, RM Said justru meraih kemenangan. Nicholas Harting h melukiskannya dalam kalimat hij die dood brengt onder zijn vijnden, selalu menyebarkan maut bagi semua musuhnya. Komentar tersebut akhirnya melahirkan sebutan legendaris untuk sosok RM Said, yakni Pangeran Sambernyawa atau Pangeran Pencabut Nyawa.

MAESTRO, April 2009

51


FOTO: WWW.PANORAMIO.COM

Pertunjukan seni karawitan di Pura Mangkunegaran.

Keterampilannya dalam berperang sangat terkenal, semangat tempurnya juga menjadi teladan. Strateginya memicu perasaan kagum dari rekan maupun musuhmusuhnya. Sosok RM Said sesungguhnya tidak memesona. Pujangga Kraton Solo Kanjeng Raden Tumenggung Josodi poero melukiskan, kapiduwung denya sanget cilik, dene seperti lare kewala (raut tubuhnya sangat kecil, tak ubahnya anak-anak).� Di balik itu semua, sebagai yatim piatu (ibunya meninggal ketika melahirkan dan ayahnya dibuang ke Afrika sewaktu Said baru berusia dua tahun), ia memiliki sejumlah kelebihan. Selama 16 tahun perang, Said masih mampu melanjutkan hobinya, merancang beberapa tarian, meniru gerak dan pengalamannya bertempur. Dan, yang membedakan dirinya dengan panglima perang lain, MN I menulis sendiri buku biografinya. Otobiografi itu oleh TH Pigeaud diberi judul Babad Nitik Mangkoenegaran. Ketika sudah disalin ke dalam bahasa Belanda dan disimpan di Universitas Leiden, Belanda, buku tersebut diberi judul Dagboek van KGPAA Mangkoenegoro I. Menurut studi Zainuddin Fananie dalam buku Restrukturisasi Budaya Jawa, istilah nitik berarti pencermatan, scrutiny. Sedangkan sebutan babad sekadar menunjukkan genre penulisan di masa itu. Karya RM Said

52

MAESTRO, April 2009

sesungguhnya miri p biografi zaman sekarang. Pengalaman nyata dan bukan dongengan yang sarat kisah-kisah gaib.‌� Said, Soerjokoesoemo, Sambernyawa atau MN I (1725-1795) memang sangat fenomenal. Ia pemberang. Ia, misalnya, mengembalikan istri kepada mertuanya, lalu memenggal kepala musuh-musuhnya. Tetapi, di sisi lain, ia juga tokoh yang memenuhi 10 syarat untuk bisa disebut sebagai seorang Ksatria Mataram: senang belajar, selalu mendalami isi Alquran, gemar membaca, pandai menulis, tangkas naik kuda, terampil menari, paham makna tembang, mengetahui bahasa Jawa kuno, menguasai ilmu perang, dan santun.� Semangat Ksatria Mataram dan semangat Tiji Tibeh itu ternyata mengilhami Sigid Haryo Wibisono dalam mengayunkan langkah kehidupan dan membangun bisnis. Semangat kearifan dan teladan. Juga janji bahwa dalam berbisnis ia akan tetap bersemangat selaku Ksatria Mataram yang pantang meninggalkan rekan-rekannya. Sebuah landasan dasar yang sangat baik. Teladan yang pada masa sekarang sudah jarang dikemukakan orang. Janji kepada diri sendiri, khususnya dalam melakoni sebuah perjalanan hidup. n


MAESTRO, April 2009

53


Tatiek Mardeo di Mata Sahabat Pemimpin yang Lengkap Ibu Yusuf Cakrayuda (80 Tahun) IBU Mardeo itu baik, keibuan, dan supel kepada siapa saja. Orangnya ramah. Saya kenal dia sudah 40 tahun, sejak dia belum menjabat Ketua Piveri. Bagi saya,selain sebagai ibu,beliau juga pemimpin yang lengkap. Dia tidak sombong. Sekali pun usia saya lebih tua dibanding beliau,saya menganggapnya sebagai seorang ibu yang mengayomi. n

Dijuluki Ibu Jawa Tengah Ibu Soekardojo (76 Tahun) Saya mengenal Ibu Mardeo sejak muda karena memang kami masih ada hubungan saudara sepupu. Saya mengenalnya lebih dalam di organisasi Persatuan Istri Tentara (Persit) Kodam VII. Di situ, Ibu Mardeo sebagai pimpinan karena istri kepala staf. Dia juga menjabat sebagai Ketua Piveri selama tiga periode atau 15 tahun. Sedangkan saya bertugas sebagai pengurus di seksi sosial. Ibu Mardeo itu keibuan. Dia berusaha membimbing seluruh pengurus. Uniknya, Ibu Mardeo selalu memberi kebebasan para anggota untuk mengeluarkan pendapat

54

MAESTRO, April 2009


dan merencanakan segala sesuatu bagi organisasi. Ia terbiasa menekankan mufakat sebagai solusi terbaik. Ini membuat kekompakan dalam organisasi. Kami sering menyebut Ibu Mardeo sebagai Ibu Jawa Tengah. Dia selalu berinteraksi dengan semua pihak dengan rendah hati serta berusaha mengayomi. Ia berusaha memanusiakan mereka dengan memperlakukan secara hormat. Banyak orang kaya atau pejabat di Jawa Tengah, tapi jarang ada karakter seperti Ibu Mardeo yang welas asih. n

Mardeo itu bagaimana. Dia orangnya keibuan, menegur orang dengan keibuan dan sabar. Kesan pertama saya sewaktu ketemu beliau,dia langsung memperlihatkan diri sebagai seorang ibu sejati. Dia selalu tampil dengan senyum sebagai bahasa cinta. Saya berdoa agar beliau selalu sehat dan panjang umur karena dia sangat berarti bagi saya. Hubungan saya dengan beliau melebihi hubungan sebagai saudara dan keluarga. n

Memberi Tanpa Pamrih Seorang Ibu Sejati FX Sarwono (72 Tahun) SAYA kenal dia sekitar tahun 70-an, sewaktu suaminya Kasdam di Padang. Saya sekretarisnya di Piveri, sehingga saya dekat sekali dengan beliau. Saya tahu betul Ibu

Ibu Bambang Soelistyo (66 Tahun) SAYA mengenal beliau melalui suami saya. Dulu, karena anak-anak saya masih kecil-kecil, saya tidak ikut organisasi. Tapi, kalau ada acara beliau selalu mengirim makanan dalam rantang ke rumah. Saya sangat terkesan karena saya belum mengenal beliau tapi sering mengirimi makanan ke rumah. Sewaktu saya duduk sebagai bendahara di Piveri dan beliau menjadi ketuanya, saya menganggap beliau sebagai ibu sendiri. Saya dapat merasakan bahwa dia sangat sayang pada saya. Dia tidak pernah berkata kasar. Kasih sayang dan suka memberi yang beliau lakukan tanpa pamrih. n

Selalu Memberi Contoh Ibu Hj Niniek Hadijanto (53 Tahun) SAYA mulai kenal Ibu Mardeo pada 1976, sewaktu saya di Kotamadya Semarang dan Pak Mardeo jadi Kasdam Di ponegoro. Sejak itu saya mulai dibimbing oleh beliau sampai berkumpul di organisasi Piveri. Saat memberikan bimbingan, Ibu Mardeo tidak menyampaikannya secara langsung, melainkan dengan memberi contoh. Bagi saya, adakalanya Ibu Mardeo sebagai seorang sahabat, di lain waktu jadi ibu, dan pada kesempatan lain saya menjadi putrinya. n

MAESTRO, April 2009

55


Nyonya Jenderal yang Mementingkan Kesatuan Lily Gunawan (79 Tahun) SAYA mengenal beliau sejak saya menjadi guru les bahasa Inggris di Jalan Citarum 70, Semarang, yang kita mulai sejak 1969 hingga kini. Bagi saya, dia seperti saudara. Dia adalah sahabat sejati saat saya mengalami duka atau suka. Saat suami saya tiada, dia adalah orang pertama yang datang. Itu sangat saya hargai sekali. Apalagi dia nyonya seorang jenderal, yang dapat berteman dengan siapa saja tanpa hambatan lantaran kedudukan suaminya. Saya kagum, karena dia sangat meng hargai orang lain dengan penuh kasih. Dia mementingkan kesatuan. Tidak sekadar li ps service. n

Diamnya Memiliki Kharisma Ibu Rudy Juwana (73 Tahun)

Ibu yang Murah Hati Ibu Yap (80 Tahun) IBU Mardeo itu baik. Kalau ada orang kesusahan, dia siap membantu. Bahkan dia selalu menjadi orang nomor satu yang tampil memberi pertolongan. Rumahnya terbuka bagi kita. Sekali pun dia tidak di rumah, kita tetap boleh bertamu dan tinggal di rumahnya. Saya mengenal Ibu Mardeo sekitar 40 tahun lalu, sejak ikut les bahasa Inggris bersama yang diadakan di rumahnya di Jalan Citarum, Semarang. Sepanjang yang saya tahu, dia tidak sombong, murah hati, dan tidak membedakan orang dari suku manapun. n

56

MAESTRO, April 2009

IBU Mardeo orangnya sopan, dekat dengan siapa saja, baik yang muda maupun tua. Saya biasa bertemu dia di WIC sejak Pak Mardeo masih ada. Satu hal, beliau orangnya diam,tidak terlalu banyak omong ini atau itu. Karena sikap diamnya memiliki kharisma tersendiri yang mendorong orang berlaku sopan di hadapannya. n

Menjadi Guru Kehidupan Ibu Budhi (60 Tahun) KAMI punya grup les Inggris yang usianya sudah sekitar 40 tahun. Selama mengenal beliau, dia adalah panutan saya. Artinya, banyak pelajaran yang saya timba dari beliau yang tidak saya dapat di sekolah dan dari keluarga. Dia adalah guru kehidupan saya. Saya memperlakukan beliau sebagai ibu. Bila saya berbuat salah, dia pandai memberi nasihat yang tak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. n


Pengorbanannya Sangat Besar Sartini Djokomoeljanto (72 Tahun) SAYA kenal Ibu Mardeo sudah 25 tahun lebih. Kami makin akrab setelah bergabung dalam Women’s International Club (WIC). Sebagai teman, saya belum pernah berselisih paham dengan beliau. Dia orangnya lemah lembut dan senang tersenyum. Hal yang saya kagumi, yang saya lihat lewat WIC, beliau telah berbuat banyak. Untuk WIC misalnya,beliau menyediakan rumahnya sebagai kantor WIC. Ini adalah salah satu yang kami banggakan mengingat kegiatan sosial WIC banyak sekali. Pengorbanannya terhadap WIC sangat besar. Sebagai pribadi, saya mengaguminya karena selalu saja ada yang dia kerjakan. Beliau tidak pernah tidur siang untuk mengisi waktunya dengan banyak kegiatan. Saya juga kagum melihat temannya yang banyak. Beliau tak pernah membicarakan persoalan dengan emosi, tetapi menyelesaikan semuanya dengan damai. Itu kan bagus. n

Menjadi Ibu Anggota WIC Holz Lopulisa (75 Tahun) SAYA mengenal Ibu Mardeo sekitar 30 tahunan. Saya mengenalnya saat aktif di WIC dan di kelompok bridge. Dia adalah sosok seorang pemimpin dan seorang ibu. Jadi,dia sebagai ibu tidak hanya untuk putra-putrinya, tetapi juga untuk kami yang menjadi anggota WIC. Beliau pernah menjadi Presiden WIC. Kemudian menjadi penasihat. Bila memberikan pendapat atau saran, dengan mudah kami dapat mengikuti jalan pikirannya. Beliau juga orang yang dermawan, seorang ibu, dan seorang pemimpin. Sebagai seorang ibu,pernah waktu Kongres WIC di Jakarta, beliau sudah mendahului rombongan yang mau berangkat ke sana. Sampai di Jakarta, ketika kami latihan,

semua sudah disediakan. Kami tinggal datang dan latihan. Sebagai seorang pemimpin, setelah mendengar laporan kemudian saran, baru beliau mengatakan, apakah sebaiknya tidak begitu atau begini? Dan, hal itu dikembalikan lagi kepada kami untuk mengambil keputusan. Dia tidak pernah mengatakan banyak, hanya senyum. Tetapi, sekali memberikan pendapat, itu pas. Mengena. n

Tempat Mengadu Dwi Harso Wardoyo (63 Tahun) SAYA mengenal beliau sekitar 25 tahun lalu di WIC. Saya lihat beliau adalah seorang yang pekerja keras dan sangat perhatian terhadap sesama. Kedermawanan beliau pun sudah tidak diragukan lagi. Sumbangannya sungguh tak terhitung. Kalau kita, misalnya, perlu sumbangan yang tidak ada dalam anggaran WIC, kita lari ke beliau, pasti aman. Sewaktu menjadi Presiden WIC, cara beliau memanaj sangat bagus dan bertanggungjawab. Kita sangat memerlukan orang seperti beliau. Dia adalah sosok ibu yang kita butuhkan. Kalau ada apa-apa, dia adalah tempat kita mengadu. Saya mengenal beliau sebagai orangtua yang tegas. Kalau tidak suka bilang tidak suka, tetapi dengan bahasa yang halus. Pertama kali bertemu dia, saya langsung jatuh cinta. Padahal, dia tidak banyak bicara. Itu karena sikapnya langsung mengundang respek. Sekali pun beda usia, saya tidak merasa ada gap. n

MAESTRO, April 2009

57


Mamie di Hati Putra-putrinya “Mamie adalah Kamus Kehidupan Saya” FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

Raden Ayu Sri Soerastri

Raden Ayu Sri Soerastri dan suami

58

MAESTRO, April 2009

M

amie seperti sebuah kamus kehidupan. Setiap kali meng hadapi persoalan, beliau selalu bagaikan tempat bertanya. Setiap saya bertanya, Mamie selalu punya jawaban berupa solusi yang sanggup meneduhkan hati.” “Sesuatu yang paling saya kagumi dari beliau adalah sifat sosialnya. Mamie seorang dermawan. Mamie selalu siap memberikan pertolongan kepada siapapun. Ada sebuah pemberian beliau yang sampai sekarang tidak bisa saya lupakan. Saat saya menikah, Mamie memberikan sebuah perhiasan yang sampai sekarang masih saya simpan. Pemberian Mamie itu sangat mengesankan. Apalagi, akhirnya saya tahu, perhiasan itu memiliki kenangan khusus bagi Mamie. Perhiasan itu selalu di pakainya semasa Papie masih hidup. Dalam hal mendidik putra-putrinya, Mamie terkesan memberikan kebebasan, tetapi sebetulnya beliau selalu memantau. Pernah suatu kali, saat saya pulang sekolah, ada sapu menggeletak di lantai. Karena baru pulang, saya biarkan begitu saja. Ternyata, sapu itu sengaja dibiarkan seperti itu. Tidak lama kemudian, Mamie memberi nasihat. “Setiap kali kita melangkah harus waspada. Lihat ke kanan dan ke kiri. Jika ada sesuatu yang meng halangi jalan kita, harus kita singkirkan,” kata Mamie. Menurut Mamie, falsafah itu harus dilakoni biar langkah kita tak terhalang dan sekaligus itu merupakan usaha atau tirakat kita sendiri. Sebagai orangtua, Mamie sangat perhatian. Ketika saya memasuki jenjang pernikahan, beliau memberikan


wejangan berharga yang sampai sekarang tetap saya ingat. Menurut Mamie, menjadi seorang perempuan harus mau ditoto atau diatur. Harus menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Sebagai orangtua, kita jangan hanya pintar membuat anak. Kita juga harus sanggup mendidik agar anak kita tumbuh menjadi orang baik berbudi luhur, dan berguna. n

“Jangan Tidur Sore Hari” Raden Ayu Sri Marjati

Raden Ayu Sri Marjati dan putri

M

FOTO: DOKUMENTASI KELUARGA

amie itu cerdas, cermat, dan pekerja keras. Tiga hal tersebut, menurut saya,paling cocok untuk melukiskan sosok beliau. Meski usianya sudah semakin sepuh, kegiatannya sehari-hari praktis tidak surut. Pukul berapapun beliau berangkat tidur, pagi hari pukul 04.30 bangun. Beliau langsung membuka sendiri semua pintu dan jendela rumah. Setelah itu, Mamie mengambil koran. Itulah sarapan beliau, agenda harian yang selama bertahun-tahun tidak berubah.

Jika sedang ada anak atau cucu datang menginap di Semarang, begitu mereka bangun tidur, Mamie sudah bisa ikut berbincang-bincang atau memberi komentar tentang berbagai peristiwa yang diberitakan koran pagi. Pokoknya, Mamie justru sosok paling well inform dari seluruh peng huni rumah. Tidur siang sebagaimana kebiasaan orang-orang seumurnya sama sekali tidak beliau lakukan. Begitu juga pada malam hari. Sejak dulu Mamie berpesan, ojo seneng turu sore, ben akeh rejekine (Jangan tidur sore hari agar bisa lebih banyak meraih rezeki). Beliau selalu memberi teladan dengan cara tidur tengah malam. Tapi, tidur malam bukan berarti hanya duduk-duduk. Mamie selalu sibuk. Kalau tidak membaca buku, menyulam kristik, pasti main game di komputer. Maka, usianya boleh saja telah sepuh, tetapi Mamie sama sekali tidak gaptek. Beliau memang pernah saya larang, mbok Mamie dawuh kemawon, mboten sisah resik-resik meja (Mamie minta tolong saja, tidak usah ikut membersihkan meja).” Jawaban beliau sangat mengagetkan. “Lha yen aku mung tok kon tenguk-tenguk, apa aku iki wong lara? (Kalau saya hanya kamu minta diam, apa aku ini kamu anggap orang sakit?)”…n

“Selalu Diantar ke Sekolah Naik Sepeda” Raden Mas Sigid Agus Herjanto

P

engalaman yang tidak bisa saya lupakan adalah setiap hari Mamie memboncengkan saya. Mamie mengantarkan saya ke sekolah dengan naik sepeda. Bayangkan saja, kami waktu itu tinggal di rumah dinas besar, di tepi jalan raya, di tengah-tengah Kota Pati, karena kebetulan Papie sedang menjadi Komandan Batalyon 443/Di ponegoro. Anak Dan

MAESTRO, April 2009

59


FOTO: DOKUMENTASI PRIBADI

Yon kok berangkat ke sekolah diantar ibunya bersepeda?” Memang, di rumah ada sebuah ji p dinas. Ketika suatu hari hujan lebat turun, saya merengek-rengek kepada Papie, ingin ikut naik ji p. Papie langsung memberi nasihat. “Kendaraan ini milik negara, hanya Papie yang boleh naik. Kamu memang anak Papie, tetapi sama sekali bukan seorang tentara. Kowe ora pareng numpak ji p iki. Mengkono uga Mamie, yo ora kena (Kamu tidak boleh naik ji p ini, begitu juga Mamie). Karena sekarang sedang hujan, berangkatlah ke sekolah mbonceng Mamie. Jangan lupa bawa payung agar kamu tidak masuk angin,“ tukas Papie…”

Salah satu yang sangat mengagumkan dari Mamie ada­lah kemampuannya mengelola. Beliau praktis harus me­ rangkap sebagai kepala rumah tangga sekaligus pengelola ke­hidupan sehari-hari di rumah dan pengatur kami semua. Pa­pie lebih banyak tugas di lapangan,meng hancurkan PRRI di Sumatera Barat, melawan pasukan Inggris di perbatasan Ka­limantan Barat, sampai menumpas gerombolan Kahar Muz­akkar di Sulawesi Selatan. Yang ada di rumah, ya hanya Mamie sendirian,me­ rang­kap aneka macam tugas. Mulai dari mengasuh anaknya, ma­sak, mencuci, mengantar ke sekolah, sampai membantu me­ngerjakan PR (pekerjaan rumah). Kami semua tujuh ber­sau­dara, kok bisa ya? Semua pekerjaan dirangkap oleh Ma­mie sendirian. n

Saling Berbagi Kebahagiaan Raden Mas Sigid Edi Soetomo

A Raden Mas Sigid Agus Herjanto dan istri

60

MAESTRO, April 2009

ATAS nama keluarga besar putra-putri Ibu Tatiek Mardeo,kami mengucapkan terima kasih kepada bapak-bapak dan ibu-ibu yang turut hadir merayakan ulang tahun Ibu dan Eyang kami. Seperti kita ketahui bersama,pada hari ini Ibu merayakan ulang tahunnya yang ke-74. Pada saat yang indah ini, kami ingin berbagi kebahagiaan dengan bapak-ibu sekalian. Kami juga memohon doa restunya agar Ibu kami selalu sehat walafiat selama bersama putra-putri dan para cucunya. Selain kami ingin berbagi kebahagiaan,kami juga memohon kesediaan bapak-ibu untuk bersama-sama berbagi kebahagiaan dengan kami. Selanjutnya,kepada bapak-ibu, kami perkenalkan putra-putri Ibu bersama menantu dan cucucucunya. Ibu mempunyai tujuh putra-putri dan seorang anak angkat dari kakak kan­dung almarhum ayah kami yang sudah diambil sebagai anak.


Dalam kesempatan ini, kami tak lupa mengucapkan terima ka­sih kepada ibu-ibu yang selama ini menjadi teman ibu, yaitu ibu-ibu dari arisan, ibu-ibu dari Piveri, ibu-ibu dari les grup Ing­gris, ibu-ibu dari WIC, dan tamu rombongan keluarga dari So­lo.­ Terakhir, sekali lagi, dalam kesempatan perayaan ulang tahun ini, Ibu menginginkan kita semua saling berbagi kebahagiaan. n (Dikuti p dari sambutan RM Sigid Edi Soetomo saat re­sep­si ulang tahun ke-74 KRAy Siti Hartati)

Raden Mas Sigid Edi Soetomo, Mamie, istri, dan kedua putrinya

“Mamie Selalu Penuh Kejutan”

M

Raden Ayu Sri Setyaningsih

amie sangat perhatian kepada semua putraputrinya. Sejak saya masih kecil hingga telah jadi dewasa, Mamie tahu dan kenal dengan semua teman-teman saya. Hal tersebut

terjadi karena beliau selalu perhatian. Mamie mengenali semua teman saya, karena mereka sering main ke rumah kami semasa saya masih ikut tinggal di Semarang. Entah ketika kami sama-sama belajar bareng atau ketika mempersiapkan pesta. Secara kebetulan saya termasuk cukup dekat dengan beliau, karena kami punya hobi sama, yakni menjahit dan mem­buat kerajinan kristik. Saya suka menjahit dan juga me­nyulam kristik, justru karena dulu ketularan Mamie sejak ma­sa remaja. Kami malahan sering tukar pikiran mengenai se­liuk-beluk tehnik menyulam kristik yang sedang kami se­le­ sai­kan.…” “Perhatian Mamie juga tercurah kepada semua cucu-cu­ cunya. Mamie dapat bergaul dengan cucunya seperti de­ ngan temannya. Semisal dengan putri saya Della. Mamie dan Della dapat bermain game dan komputer bersama-sa­ma.…” “Tetapi, Mami juga penuh dengan kejutan. Pernah sewaktu merayakan Lebaran, saat seluruh keluarga kumpul, Mamie mendadak mengumpulkan seluruh cucunya dan membuat undian. Sungguh luar biasa, entah kapan beliau mengerjakannya? Saya sendiri tidak dapat membayangkan bagaimana Mamie menyiapkannya, mencari bahan-bahannya, memilih warna, motif sekaligus membuat potonganpotongannya. Mamie ternyata menyiapkan 13 selimut hasil buatan tangannya sendiri, terbuat dari kain perca handmade, kain pilihan. Itu merupakan sebentuk kasih sayangnya kepada ke-12 orang cucunya. Semua cucu mendapat bagian. Oleh karena masing-masing selimut modelnya berbeda beliau pun melakukan undian. Potongan kotak-kotak selimut tadi sangat rapi dan memang luar biasa. Di dalamnya ada perpaduan unsur ketekunan, kesabaran yang dibuat dengan penuh kasih, penuh makna.” Mamie sesungguhnya sumber inspirasi. Semangatnya selalu membuat saya termotivasi. Cara beliau mendidik anak, selain memberikan kepercayaan, juga tidak suka mencampuri urusan rumah tangga putra-putrinya. Self control beliau luar biasa. Walau memiliki

MAESTRO, April 2009

61


FOTO: KRUS HARYANTO

bahkan beberapa kali pada dini hari. Semula saya enak saja, pulang, ketuk pintu, Mamie pasti langsung membukakan pintu. Saya biasanya bertanya sambil lalu, “Dereng sare Mie? (Mamie kok belum tidur?)“ Nada jawaban beliau datar saja, “Durung.“” Lama-lama saya perhatikan, ternyata Mamie terusmenerus berjaga sementara seluruh isi rumah sudah lelap tidur. Bukan karena beliau tidak bisa tidur, melainkan semata-mata menunggu saya pulang setelah begadang keliling Semarang bersama teman-teman. Baru saya sadar, ternyata Mamie menunggu saya pulang tanpa sekali pun beliau marah. Pokoknya diam saja. Dengan teladan semacam itu, akhirnya saya sadar sendiri untuk meninggalkan penyakit keluyuran. n

Raden Ayu Sri Setyaningsih, suami, dan putrinya

kesempatan melakukan intervensi, beliau selalu mampu menahan diri dan perasaan dalam situasi apa pun. Seberat apa pun persoalan meng hadang di depan mata, bagi Mamie, tiba waktunya makan, ya harus makan. Jika waktunya tidur datang, ya harus tidur. Kebanyakan dari kita, kalau persoalan belum selesai, langsung tidak enak makan dan tidak enak tidur. n

“Ditunggu Mamie Sampai Dini Hari”

S

Raden Mas Sigid Rudi Gunawan

ewaktu masih remaja di Semarang, saya sering begadang bersama teman-teman sebaya. Namanya saja anak tentara, anak kolong, jadi sering baru pulang ke rumah tengah malam,

62

MAESTRO, April 2009

Raden Mas Sigid Rudi Gunawan, Mamie, dan istri


“Mamie Sosok Penuh Laku�

M

Kanjeng Raden Mas Tumenggung Sigid Haryo Wibisono

amie, kalau menurut istilah Jawa,mungkin bisa kita sebutkan sebagai sosok yang gede prihatine, jembar wawasane. Maknanya, praktis sepanjang hari, pada segala waktu, dalam setiap saat, beliau selalu menjalani laku. Senantiasa berusaha untuk bisa memahami segala macam peristiwa yang terjadi berikut aneka macam persoalan yang datang kepadanya. Sikap semacam itu memang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang diberi sebuah karunia pengetahan luas serta sanggup menahan hati, untuk tidak hanyut jika meng hadapi persoalan. Memang, dari luar Mamie nampak diam. Tetapi, hal tersebut jangan ditafsirkan bahwa sama sekali beliau tidak tahu dan tidak berbuat apa-apa untuk menyelesaikannya. Sesungguhnya,beliau selalu tahu apa yang terjadi, apa yang kita perbuat serta sedang menimpa diri kita,sebagai orang-orang yang ditadirkan dekat dengan beliau. Oleh karena secara kebetulan memang menjadi putra-putri beliau. Mamie selalu tahu, memprihatinkan, dan secara langsung pasti ikut nyenyuwun karo sing gawe uri p, meminta tolong kepada sang pemberi kehidupan,meminta bantuan agar peristiwa yang menimpa kita, tingkah laku buruk yang telah kita lakukan,sebaiknya bisa diakhiri, minimal bisa segera kita akhiri. Oleh karena itu, diamnya Mamie sama sekali bukan diam karena beliau tidak tahu dan tidak mengerti. Tetapi, diam karena sudah tahu dan justru merasa prihatin, mengapa hal semacam itu sampai terjadi dan ikut menimpa. Dengan demikian, sebagai putra-putrinya seyogyanya kita harus bisa membantu Mamie, dengan tidak ikut membebani beliau lewat berbagai persoalan remeh-temeh yang sebenarnya sudah harus bisa kita atasi sendiri. Misalnya saja, dengan sebentar-sebentar mengadu kepada Mamie, atau setiap kali meng hadapi beban,

langsung merengek-rengek kepada Mamie. Langkah seperti di atas, jelas hanya akan menambah beban kepada diri beliau. Kita yang sudah menjadi bertambah usia dan sudah menjadi dewasa, sesudah diasuh sekian lama diantar, dilindungi, dan dididik sendiri oleh Mamie, seyogyanya sudah paham serta bisa menyelesaikannya sendiri persoalan-persoalan kita. Mengapa masih tega serta malah ikut-ikutan menambah beban Mamie? Kehidupan Mamie selama ini sudah penuh dengan keprihatinan. Sudah sekian lama beliau menanggung beban dan sanggup menahan itu semua tanpa mengeluh. Tetapi justru dengan tersenyum. Mengapa kita masih tega menambahi lagi dengan kesedihan-kesedihan baru, dengan keprihatinan-keprihatinan baru, dengan persoalanpersoalan yang seharusnya bisa kita selesaikan sendiri? Kini, waktunya kita untuk memuliakan Mamie dan bukan malah menambahinya dengan beban-beban baru,beban yang bisa kita selesaikan sendiri. n

KRMT Sigid Haryo Wibisono dan Mamie

MAESTRO, April 2009

63


Merdeka Grup’s Grand Mother Belum tentu semua orang tahu harga cabai hari ini. Tidak demikian dengan ibu sepuh yang satu ini. Di usia 79 tahun, ia tetap intens mengikuti perkembangan pasar. Ia tetap gaul dan rajin membaca. Maklum Mamie adalah Merdeka Grup’s Grand Mother. 64

MAESTRO, April 2009


FOTO: KRUS HARYANTO

MAESTRO, April 2009

65


P

agi hari awal April 2009, melintasi Jalan S Parman, Semarang, sekitar 200 meter dari Hotel Gracia, saat berkunjung ke rumah nomor 60, K R Ay Siti Hartati Mardeo yang akrab di panggil Mamie muncul dengan sikap bersahaja. “Silakan, silakan,“ katanya tatkala menyambut tim MAESTRO. Duduk satu meja bersamanya serasa meneguk air di tengah kehausan. Tutur katanya bernas dan meluncur teratur. Dalam usia 79 tahun, pendengaran dan penglihatannya masih bagus. Giginya tampak putih. Ia pun belum memerlukan bantuan kacamata dalam berkarya sehari-hari. Guratan tanda-tanda kecantikan masa remajanya tetap terpancar saat tertawa lepas. Proses penuaan hanya selintas tampak pada rambutnya yang memutih kapas. “Saya sudah punya 12 cucu dan satu cicit dari anak kandung, ditambah satu cucu dari anak angkat,“ kata Mamie membuka percakapan. Ke-12 orang cucu dan seorang cicit itu buah dari pernikahan ketujuh anak kandungnya. Apa rahasianya dalam menjaga kesehatan? Mamie mengemukakan, ia biasa minum ramuan jamu-jamu Jawa. Satu lagi, “Bagi saya, yang penting adalah berserah diri. Pasrah. Apa yang ada kita syukuri. Jangan menginginkan sesuatu yang melebihi batas ke­mampuan kita. Apa yang ada kita terima dan syukuri. Saat memohon kepada yang di atas, saya hanya minta cukup. Cukup itu artinya luas. Intinya kecukupan. Per­ta­nya­an yang sama juga sering diajukan ibu-ibu teman saya. Resepnya apa? Saya bilang resepnya cuma pasrah.“” Faktor lain yang membuat Mamie lebih bugar

dibandingkan ibu-ibu seusianya, ia selalu bergerak dinamis. Mamie tidak suka diam dan pasif. “Tetapi, kalau anak-anak pulang ke sini, lalu melihat saya beres-beres atau bersihbersih, mereka melarang saya. Anak-anak yang disuruh mengerjakan. Padahal, saya melakukannya dengan ikhlas,“ ucapnya. Mamie mengaku paling suka tinggal di rumah. Pengakuan ini senapas dengan pernak-pernik rumah kediamannya yang tertata apik, penuh kesibukan. Banyak hal yang dapat ia lakukan di lingkungannya dan ia tangani sendiri. Memandang halaman rumah dari luar pagar atau dari teras, yang sebagian ditanami pepohonan rindang dan bermacam bunga. Menuju pintu utama rumah, sebuah kolam ikan dengan air mengalir, menimbulkan bunyi musik alam yang nyaman di telinga. Mengurus tanaman dan ikan jadi sebuah kesibukan yang menggairahkan hidupnya. Masuk ke dalam rumah, selain berbagai kenangan manis bersama suami tercinta, Mamie terbiasa mengisi waktu senggang dengan mendengarkan musik kesukaannya. “Saya paling suka mendengarkan lagu Rangkaian Melati, Bunga Kemuning, dan lagu kesayangan almahrum Papie,Permata Hatiku....“…” Bosan menikmati lagu-lagu kenangan, seperti tidak pernah mau ketinggalan zaman, Mamie sanggup berlamalama di depan komputer untuk menulis surat atau main game. Mamie mengaku paling senang bermain Zuma. “Sejak Harian Merdeka diambil alih Sigid Haryo Wibisono putra bungsunya, kesibukan Mamie bertambah satu. “Setiap pagi saya membaca Merdeka,“ ungkap Mamie. Aktivitas membaca bertambah satu karena Mamie sejak lama berlangganan Penyebar Semangat, mingguan berbahasa Jawa terbitan Surabaya. n

Bagi saya, yang penting adalah berserah, pasrah. Artinya, apa yang ada kita syukuri, jangan menginginkan sesuatu yang melebihi batas dan kemampuan kita. Apa yang ada itu kita terima dan syukuri.

66

MAESTRO, April 2009


FOTO: KRUS HARYANTO

KRMT Sigid Haryo Wibisono, putra bungsu KRAy Siti Hartati Mardeo yang juga pemilik PT Pers Indonesia Merdeka, penerbit Harian MERDEKA, Majalah MAESTRO, Portal merdekanews.com.

MAESTRO, April 2009

67


Nasihat dari KRAy Siti Hartati

Lampu Teplok Untuk Bibik dan Sari

“B

IBIK memang keras hati. Sebagai anak bungsu,ketika dia tumbuh menjadi dewasa, Papienya sudah menjalani masa pensiun. Situasi tersebut membuahkan

KRMT Sigid Haryo Wibisono dan istri

68

MAESTRO, April 2009

keuntungan, dia kemudian malah paling akrab dengan Papienya, karena Mas Mardeo waktu itu sudah tidak lagi harus bertugas di segala penjuru Tanah Air, untuk melakukan berbagai macam operasi militer. Hanya saja ruginya, meski saya tahu Bibik tidak pernah mengeluh, dia tidak bisa ikut menikmati, atau minimal masih terlampau kecil, ketika Papienya mengalami kejayaan.” Ketika Papienya tutup usia, hanya saya dan Bibik yang menunggu di rumah sakit. Sekitar setahun sesudah Mas Mardeo tutup usia, Bibik diwisuda, lulus sebagai sarjana ekonomi dari Universitas Di ponegoro, Semarang, berbarengan dengan Sari, istrinya.…” Kisah percintaan mereka menarik. Setelah lulus SMA, waktu mendaftar di Undi p, Bibik tidak diterima. Maka dia nekat pindah ke Jakarta, ikut kakaknya, masuk di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti. Sementara pendaftaran Sari diterima. Dia menjadi mahasiswa jurusan teknik kimia… Sejak kecil saya sudah tahu, Bibik tidak pernah kenal dengan istilah menyerah setiap meng hadapi kendala. Maka saya juga tidak heran, setahun kemudian dia mengulang mendaftar di Undi p, pada fakultas yang sama, fakutas ekonomi. Kali ini dia diterima. Saya terharu sekali setelah diberi tahu keberhasilan tersebut. Tetapi saya juga kaget, ketika kemudian tahu, pada saat yang sama Sari memutuskan pindah dari teknik kimia ke fakultas ekonomi, agar tetap bisa bersama-sama Bibik. Tadinya saya sebagai orangtua hanya bisa mbatin, kok Bibik karo Sari saben ndina runtang-runtung terus. Wah, ternyata mereka memang satu fakultas.” Mamie mengunci kalimatnya dengan berfalsafah, seluruh anak dan juga semua menantu, saya anggap teplok (lampu minyak dengan nyala api terlindung gelas kaca). Seorang ibu harus terus-menerus rela sekaligus bersedia membersihkan semprongnya, dari langes dan segala macam kotoran, agar kaca lampu tersebut selalu jernih, bening, sehingga nyala apinya sempurna, bisa memberi sinar penerang ke sekitarnya n…”


MAESTRO, April 2009

69


70

MAESTRO, April 2009


maestro pra terbit