Page 1

164 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 165


BAB 5

Zaman Islam-Majapahit

“Sulit menggambarkan tentang apa yang akan terjadi di Indonesia jika Islam tidak datang memutus ikatan spiritual dengan India yang Brahmanis. Kelembutan dan tenggang rasa Islam di Jawa sering dikaitkan dengan karakter penduduk Jawa. Akan tetapi orang-orang Jawa pada dasarnya tidak berbeda dengan orang-orang Indonesia lainnya, orang Batak di Sumatra, orang-orang Dayak di Kalimantan dan orang-orang pegunungan Indocina, yang tidak satu pun dari suku tersebut dikenal dengan kelembutannya. Jadi mungkin kita bisa bertanya pada diri sendiri, apakah aspek-aspek khusus di atas dapat kita asumsikan terbentuk akibat ajaran Islam di Jawa dan bukan karena pengaruh agama-agama (yang berasal dari) India yang telah diamalkan berdasarkan karakter (umum) penduduk di pulau Jawa selama lebih dari sepuluh abad.â€? — G. Coedès, The Indianized States of Southeast Asia, 1968

Dua halaman sebelumnya: Foto Pasar Baru di Solo, Jawa Tengah dari akhir abad XIX yang terlihat sangat mirip dengan sebuah pura Hindu-Bali. Halaman sebelumnya: Menara Kudus, yang merupakan bagian dari mesjid, di luar komplek makam Sunan Kudus (lihat foto tahun 1913 dari obyek yang sama di h. 179, 223). Menara ini menyerupai sebuah bale kulkul di Bali. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah bale kulkul (menara kentongan) juga merupakan ciri zaman Majapahit? Beberapa bentuk serupa tampak pada relief dinding candi zaman Majapahit. Atas: Poster yang menampilkan Sembilan wali (Wali Songo) dibeli pebulis saat berada di Makam Sunan Muria, sunan yang juga seorang seniman dan penguasa.

166 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 167


LANGGAM MAJAPAHIT

ZAMAN Islam-Majapahit

“Jauh sebelum zaman Majapahit ada sekelompok kecil komunitas pedagang Arab yang tinggal di Asia Tenggara. Groeneveldt (1880, 14–5) mengutip sebuah sumber dari Cina yang bertarikh 674 Masehi yang menyebutkan sebuah permukiman Arab yang dipercaya berada di pantai barat Sumatera. Tahun 915 para saudagar Arab telah melintasi Teluk Bengali dan menemukan pusat perdagangan besar di selatan Isthmus Kra. Tetapi pada tahun 1300 Islam sudah mulai muncul di bagian timur India sebagai hasil kekuatan dakwah. Kekuatannya dalam membuat keruntuhan Majapahit dua abad kemudian, dan secara politik merubah wajah Asia Tenggara.” — A.H. Hill, The Coming of Islam to North Sumatra, Journal of Southeast Asian History, 1963

Kanan atas: Bagan silsilah Ratu Kalinyamat memperlihatkan beliau keturunan langsung raja terakhir Majapahit dan ratunya, Putri Cina/Champa. Banyak ahli yang menganggap ini sebagai legenda, tetapi ada fakta yang terbantahkan bahwa Ratu Kalinyamat adalah sosok sejarah yang penting. Papan ini tergantung di beranda bangunan makamnya (cungkup).

Dari sebuah naskah Jawa abad XV yang ditemukan di Bali, Kidung Sundayana, tercatat bahwa sudah berdiri sebuah masjid (disebut sebagai masigit), mungkin dibangun sekitar abad XIV di luar kota Majapahit. Selain itu juga telah berdiri sebuah wihara besar dan biara di ibukota kerajaan. Dua masjid di Cirebon yaitu Masjid Agung Demak dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun tahun 1489. Pada akhir abad XVI, seluruh wilayah Majapahit telah memeluk Islam, kecuali beberapa tempat terpencil yang jauh dari keraton. Islam-Majapahit yang baru berpusat di Demak, pesisir utara Jawa Tengah dengan sultan pertamanya adalah

Kanan: Detil ukiran yang sangat indah pada gerbang Makam Sunan Sendang Duwur yang terkenal. Gerbang berbentuk sayap ini terletak di Pacitan, Jawa Timur (lih. juga foto h.176-77). Motif ini — sayap seperti garuda yang mengacu pada zaman Hindu — sering diartikan sebagai lambang ‘keberangkatan’. Altar ganda yang adalah simbol berulang dalam seni ukir zaman Majapahit. Halaman berikut: Penjaga di dalam serambi Balemangu Majapahit yang terletak dalam komplek makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat. Paviliun dari abad XV ini merupakan hadiah dari raja Majapahit ketika Sunan Gunung Jati menikah dengan Nyi Mas Tepasari, putri dari seorang bangsawan terhormat Majapahit.

168 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 169


LANGGAM MAJAPAHIT

ZAMAN Islam-Majapahit

Raden Patah, putra dari raja Hindu terakhir. Garis keturunan berlanjut, demikian pula langgam-langgam arsitekturnya. Seperti diketahui, kolom-kolom pendopo agung Keraton Majapahit, yang merupakan balai utama keraton zaman Hindu tersebut, digunakan sebagai bagian dari serambi masjid agung pertama zaman Islam-Majapahit yang terletak di Demak. Ada selentingan cerita yang menyatakan bahwa mimbar di masjid itu, yang sudah banyak ditiru, merupakan singgasana atau tandu raja Hindu terakhir. Masjid itu juga memiliki pintu kayu ukir berwarna yang indah dan dikabarkan juga berasal dari Keraton Majapahit (lih. foto h.229).

Kanan atas: Detil ukiran gaya Hindu-Majapahit yang sangat indah pada umpak (bagian dasar kolom) sebuah paviliun di sitinggil Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat (abad XV). Inilah satu-satunya istana yang bertahan dengan utuh dari zaman Majapahit (namun beberapa paviliun dipugar kembali tahun 1936).

170 |

Langgam Majapahit

Masjid Agung Demak – abad XV (berasal dari Keraton Majapahit di abad XIV)

Istana Mangkunegaran (sesudah 1940)

Kolom & umpak di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta (sekitar 2005)

Pada banyak makam Islam abad XVI, guci-guci besar dari zaman Hindu abad XV — mungkin berasal dari Kamboja atau Vietnam — didaur ulang menjadi benda-benda keramat, digunakan untuk menyimpan air dari sumur-sumur yang ada di makam ini. Hingga hari ini guci-guci tersebut diberikan tempat kehormatan di pintu masuk makam. Di sebagian besar makam ini, arsitektur Majapahit telah berhasil bertahan sejak abad XVI secara utuh: mengacu pada kenyataan bahwa makam-makam tersebut populer sebagai tempat ziarah dan kepercayaan bahwa arsitektur aslinya adalah suatu yang sakral. Pada kasus-kasus makam yang direhab besar-besaran — seperti halnya cungkup utama Makam Sunan Giri di Gresik, atau mesjid Mantingan, Jepara — elemen-elemen arsitektur aslinya digabungkan ke dalam struktur yang baru. Di Makam Sunan Giri di Gresik, Jawa Timur, misalnya, menurut cerita bahwa ukiran pada cungkupnya dipahat oleh umat yang berasal dari komunitas Cina di Palembang pada abad XIX, dengan langgam campuran Asia Tengah yang populer dalam dunia arsitektur IslamMajapahit di abad XVI. Cungkup yang lama dipindahkan ke makam cucu sunan yang populer, Sunan Prapen, di puncak bukit tidak jauh dari tempat itu dan masih bisa kita saksikan hingga hari ini. Ada beberapa sejarah yang saling bertentangan tentang beberapa fakta dalam dekade terakhir zaman Hindu, berikut beberapa dekade pertama zaman Islam. Namun semuanya menyebutkan tentang seorang putri Muslim dari Champa (kemungkinan berasal dari sebuah komunitas Muslim Cham di Delta Mekong), dan seorang Cina Muslim sosok ayah mertua dari Aceh, yang kebetulan menjadi arsitek dengan sekelompok pemahat Cina dari Asia Tengah di belakangnya (bentuk medali

Kiri: Gerbang masuk candi bentar menuju sitinggil Keraton Kasepuhan, Cirebon, adalah sebuah contoh klasik arsitektur bata merah dari Majapahit dalam pengaruh Kudus. Bawah: Sebuah prosesi Hindu berlangsung setiap Jumat yang dijalankan oleh kuncen (penjaga makam) dengan meninggalkan Makam Sunan Gunung Jati (pemakaman bangsawan Muslim) untuk mengumpulkan bunga (Jw.: sekar) dalam sebuah kotak khusus. Bunga-bunga ini kemudian ditaburkan (nyekar) di atas makam para penguasa dari masa lalu.

Langgam Majapahit

| 171


LANGGAM MAJAPAHIT

ZAMAN Islam-Majapahit

yang berdekatan jaraknya memiliki sebuah cungkup langgam zaman Majapahit yang dianggap sebagai contoh yang paling nyata dari arsitektur balai zaman IslamMajapahit, sama halnya seperti cungkup Sunan Giri di Gresik, Jawa Timur. Bagi para ahli yang menekuni evolusi arsitektur dan seni dekoratif Bali, makammakam ini sangat berarti. Banyak dari langgam ukiran dan skema warna zaman Islam-Majapahit dapat ditemukan di Bali saat ini dan dapat dimasukkan sebagai ‘Majapahit-Hindu akhir’. Sifat sinkretis dari Islam Syafi’i yang dianut di sepanjang pesisir utara Jawa berarti bahwa arsitektur, tari dan dekorasi pra-Hindu beriringan dengan perkembangan budaya Islam, “yang disaring melalui budaya Indonesia”, mengutip pernyataan Miksic. Bahkan istana zaman Islam-Majapahit yang berada jauh di Kalimantan Timur mengadopsi busana dan gamelan keraton berlanggam Hindu. Terjadi banyak ‘silang budaya’ menarik lainnya. Menurut ahli tentang Jawa Timur, Nigel Bullough, bentuk batu pada altar Hindu dari candi-candi zaman Majapahit klasik akhir, khususnya yang terdapat di Gunung Penanggungan, Jawa Timur, menjadi bentuk batu nisan makam zaman IslamMajapahit, yang paling indah terlihat di Makam Kyai Temenggung Pusponegoro di Gresik (lih. foto h.221,251). Di makam utama Troloyo di Trowulan, batu nisan periode Islam awal milik para bangsawan Hindu yang sudah menjadi mualaf menampilkan ukiran Islam dan Hindu (surya Majapahit, lih. h.250). Mimbar di Masjid Agung Demak, sebuah masjid baru yang kedua di zaman IslamMajapahit, merupakan mahakarya seni Majapahit — sama seperti yang diceritakan tentang pintu Lawang Majapahit di Pati, Jawa Tengah — merupakan bekas singgasana raja Hindu yang dibawa dari keraton asalnya di Trowulan (Majapahit). Mimbar itu sudah banyak ditiru oleh banyak masjid di Indonesia maupun Malaysia. Elemen-elemen Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Cirebon tidak kalah megahnya, khususnya kolom-kolom balai, struktur balok kayunya, bagian teratas kolom (Bali: kincut) dan ukiran-ukiran pada pintu-pintu utamanya. Kanan: Sebuah sketsa karya seorang pejabat zaman kolonial Belanda di akhir abad XIX tentang Makam Sunan Giri di Gresik, Jawa Timur, menegaskan betapa arsitektur makam-makam para wali mengikuti desain pundek berundak ciri khas Hindu-Majapahit. Bawah: Tampak samping cungkup Sunan Giri di Gresik, Jawa Timur.

yang ada di Makam Ratu Kalinyamat di Jepara adalah peninggalan karya mereka). Pengaruh-pengaruh Asia Tengah dan Cina selatan (termasuk Vietnam) tentunya dapat dirasakan dalam ukiran-ukiran pada makam dari abad XVII. Arsitektur yang masih bertahan dari zaman ini merupakan percampuran yang menarik dari Hindu-Jawa, Buddha-Majapahit, langgam Islam Asia Tengah dan Timur Tengah. Makam-makam tertentu, seperti Makam Sunan Kudus di Kudus, Jawa Tengah dari abad XVI, dan Makam Sunan Gunung Jati, memiliki kemiripan dengan candi-candi zaman Hindu, yang terwujud pada candi bentar dan bahkan dalam hal elemen-elemen dekoratifnya: paruh garuda, wajah boma dan bentuk-bentuk altar pemujaannya terpancar dari ukiran ornamen dan dedaunan yang bernuansa Islam; bentuk-bentuk altar pemujaannya menunjukkan bahwa kegiatan pertapaan dan meditasi menjadi sesuatu yang populer saat zaman Islam-Majapahit. Di kota Cirebon, Jawa Barat terdapat dua keraton — Kanoman dan Kasepuhan — yang menampilkan arsitektur khas zaman Majapahit Hindu. Kedua keraton tersebut persis seperti pura atau puri di Bali abad XIX. Makam Sunan Gunung Jati

172 |

Langgam Majapahit

Atas: Lukisan kaca karya seorang seniman Cirebon tentang taman hiburan Sunan Giri yang terkenal di dalam Istana Kasepuhan, tempat tinggal para keluarga kerajaan Cirebon, Jawa Barat. Nuansa Hindu, Islami dan Cina tampak pada lukisan tersebut. Sebagai contohnya, gerbang candi bentar berbahan bata merah dengan corak mega mendung (lambang kekuatan mistis dalam dunia perlambangan Jawa berlandaskan ajaran Vajrayana). Elemen air dan paviliun meditasi beratap tingkat di atas bukit merupakan hal yang sangat penting. Kiri: Detil ukiran pada pintu kayu sebuah gerbang bata merah dalam komplek makam Sunan Kudus, di Kudus, Jawa Tengah, memperlihatkan lambanglambang Buddha (piramida bertingkat) di bagian latar belakang sebagai ‘gema’. Motif Hindu-Jawa juga tampak jelas.

Langgam Majapahit

| 173


Makam Wali Songo – Sembilan Pendakwah Islam “Ketika Islam tiba di Indonesia, tidak terjadi perubahan secara besar-besaran dalam langgam bangunan. Akan tetapi, arsitektur periode transisional (abad XIV–XVI) mencerminkan gagasan-gagasan baru dan pengaruh dari berbagai sumber tetapi dengan tetap mempertahankan hal-hal yang berasal dari zaman-zaman sebelumnya. Seperti halnya gagasan-gagasan India yang telah disaring melalui kacamata orang Indonesia, begitu pula yang terjadi dengan Islam dan bentuk-bentuk arsitekturalnya.” — J. Miksic, Indonesian Heritage Vol. 6: Architecture, 1996 Arsitektur zaman Majapahit Islam (abad XVI hingga XVII) memberi petunjuk seperti apa wujud arsitektur balai di zaman sebelumnya (Hindu). Penulis menemukan banyak ‘bukti’ arsitektur — warisan-warisan leluhur — sepanjang daerah pesisir di pantai-pantai utara Jawa, pada makam-makam suci sembilan pendakwah Islam, Wali Songo. Aksen arsitektur dan dekoratif kompleks makam dalam beberapa hal merupakan cikal bakal arsitektur dewasa ini, khususnya arsitektur pura di pesisir utara Bali.

Halaman sebelumnya: Pintu masuk menuju makam Sunan Kudus di Kudus, Jawa Tengah. Pintu gerbang dan paviliun dalam komplek ini adalah contoh yang sangat baik dan mampu bertahan diantara banyak komplek makam orang Jawa dari zaman Majapahit era Islam. Kemiripan dengan arsitektur pura di Bali pada abad XVII dan XVIII seringkali dapat dilihat. Pintu gerbang yang hampir serupa dengan ini dapat ditemukan di Bali saat ini. Atas: Santri (siswa) dari madrasah setempat beristirahat di bangsal yang terletak di halaman depan komplek makam Sunan Kudus. Halaman berikutnya: Gerbang abad XVI dari batu kapur yang megah menuju makan Sunan Sendang Duwur di Desa Sendang Duwur, Lamongan, Jawa Timur. Motif yang tampak adalah kijang Majapahit, garuda, kepala iblis dan altar berlatar belakang sayap (sebuah simbol ‘keberangkatan’ bagi orang Jawa).

174 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 175


176 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 177


MAKAM WALISONGO

ZAMAN Islam-Majapahit

Kompleks makam Panembahan Senopati dari abad XVI di Kotagede, dekat Yogyakarta sekarang, dibangun di atas keraton Hindu kuno, lengkap dengan permandian raja dan halaman keraton yang saling terhubung. Panembahan Senopati sendiri adalah pendiri Dinasti Mataram Islam dan mungkin merupakan keturunan dari Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Bahkan makam-makam raja Islam di Imogiri, sebelah selatan Yogyakarta dan makam Ki Ageng Pandanarang di Bayat, Jawa Tengah dari abad XVII, jelas merupakan arsitektur dengan cita rasa Hindu. Meskipun banyak kompleks makam di Jawa Tengah memiliki pendopo dengan langgam zaman Jawa-kolonial — dengan kolom-kolom Doric (Yunani klasik), misalnya — beberapa masih mempertahankan balai aslinya yang kekar; Balé Rantai di Makam Sunan Derajat, misalnya, atau Balé Mayed di Makam Sunan Gunung Jati atau balai-balai dengan dua tiang yang mengapit pintu masuk menuju makam Sunan Kudus. Balai kayu dengan atap bertingkat (langgam tradisional masjid Jawa), dengan bagian puncak atap yang megah yang disebut mustaka, juga diwariskan dari arsitektur zaman Hindu dan pra-Hindu.

Halaman sebelumnya: (searah jarum jarum dari kiri atas) Sebuah duplikat paviliun zaman Majapahit halaman depan Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon (paviliun ini hanya diperuntukkan bagi Keraton Kanoman); dinding pekarangan abad XVI yang istimewa mengelilingi area suci di komplek Makam Sunan Drajat tidak jauh dari Lamongan, Jawa Timur; sisa-sisa pintu gerbang menuju Makam Sunan Drajat. Pintu gerbang ini runtuh saat gempa bumi tahun 1920 (foto tersimpan di Belanda); pintu utama menuju ruang suci Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon. Dekorasi porselen Cina mencerminkan awal mula Cirebon sebagai sebuah kota dagang warga Muslim Hanafi (Asia tengah). Halaman berikut: Pintu gerbang menuju Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon. Penulis membayangkan ubin keramik Belanda (Delft) abad XVII, yang terinspirasi porselen biru dan putih zaman Dinasti Ming, ditambahkan oleh warga Muslim local keturunan Cina selang beberapa waktu setelah gerbang yang asli selesai dibangun.

Courtesy of Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute (KIT)

Cungkup Makam Sunan Kudus, Jawa Tengah

1913

2013

Courtesy of Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute (KIT)

Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah

1913

178 |

Langgam Majapahit

2013 Langgam Majapahit

| 179


ZAMAN Islam-Majapahit

MAKAM WALISONGO

Arsitektur dan Ragam Upacara Zaman Majapahit: Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat

“Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya Wali Songo yang bergelar sultan. Beliau memanfaatkan keningratannya — didasari dari garis keturunan Hashimi dari ayahnya dan keturunan ningrat dari ibunya — untuk mengembangkan ajaran Islam di sepanjang pesisir, atau pantai utara Jawa.” — H. Basyari, Sekitar Komplek Makam Sunan Gunung Jati dan Sekilas Riwayatnya, 1989 Cungkup Sunan Gunung Jati berada pada pelataran teratas dari komplek makam tersebut dan dikelilingi oleh makam-makam istrinya, termasuk makam istrinya seorang keturunan Tionghoa, Ong Tien (Nyi Ratu Rara Sumanding), kadang-kadang dicatat sebagai putri dari Kaisar Cina dari Dinasti Ming. Ong Tien ‘dipuja’ di Klenteng Tiao Kak Sie (dekat Klenteng Talang) di Cirebon. Adalah sebuah detail sejarah yang tidak biasa bahwa Klenteng Talang ini dibangun di atas situs masjid Cina Hanafi kuno. Bangunan cungkup adalah mahakarya desain Majapahit. Dinding bata merah, panel ventilasi berukir dan elemen-elemen ukiran berlandaskan standar artistik yang tinggi. Dalam hal tata letak, komplek ini memiliki kesamaan dengan makam Sultan Agung di Imogiri, yang dibangun 100 tahun kemudian, dan juga memiliki kesamaan dengan banyak altar pemujaan paling sakral di berbagai pura di Bali. Kolom-kolom balai cungkup berada di luar pagar. Kedua pintu cungkup memiliki ukiran yang kaya dengan langgam zaman Islam-Majapahit serta mengandung semua motif-motif penting: Surya Majapahit, kepala raksasa, motif rantai, daun teratai dan motif bunga serta motif gunungan (gunung mistis) pada pintu-pintunya. Kompleks makam Sunan Gunung Jati masih berada di bawah kekuasaan Keraton Kanoman, Cirebon, sama halnya seperti puripuri di Bali yang merawat (Bali: ngemong atau ngempon) berbagai pura di Bali. Ketika seorang penguasa keraton Cirebon meninggal, jasadnya akan disemayamkan di Balé Mayed, sebelum dimasukkan ke dalam cungkup di pelataran kedelapan, satu tingkat di bawah cungkup Sunan Gunung Jati. Setiap Jumat, ada ritual mengumpulkan bunga dari rumah penjaga makam utama yang berada di luar kompleks kemudian mengarak bunga-bunga tersebut melintasi alun-alun. Terlihat sembilan orang berjalan beriringan yang dipenuhi payung berlanggam Hindu (identik dengan payung Songsong Gilap Gubeg di Keraton Solo dan Tedung Majapahit yang tersimpan di Puri Ubud di Bali) disertai kotak bunga yang terbungkus kain satin warna kuning (bentuk ritual Cina, Cap Go Meh). Bunga-bunga diletakkan dalam kotak-kotak berukir khusus yang disebut raras, disimpan di Balé Mayed (lihat video yang menyertai tulisan ini), sebelum ditaburkan di atas kuburan-kuburan para sultan terdahulu. Ada dua balai lagi yang kelihatannnya kuno di dalam komplek ini: Balé Prabu Siliwangi, balai langka berpanggung empat yang berada di bagian depan alun-alun (di Bali, penulis menemukan balai seperti ini di sejumlah pura zaman Majapahit akhir di daerah pegunungan, seperti misalnya Pura Desa Songan, sebuah desa Bali Aga dengan sentuhan zaman pasca Majapahit). Beberapa diantaranya yang juga dirawat oleh keraton, berada di halaman pertama komplek (lih. foto h.178). Makam tersebut memiliki sembilan tingkat, sembilan sumur suci dan sembilan penjaga yang melambangkan kesembilan Wali Songo. Sejumlah peziarah melakukan ritual mandi di sumur-sumur tersebut, sebuah kebiasaan zaman Hindu yang disebut melukat. Makemit, istilah yang digunakan untuk kegiatan bermalam di makam, sama dengan istilah yang digunakan orang Bali jika bermalam di sebuah pura.

180 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 181


MAKAM WALISONGO

MAKAM RAJA-RAJA Sunan Kudus adalah seorang pejabat tinggi di keraton Sultan Demak (kesultanan pertama pasca zaman Islam-Majapahit yang didirikan oleh Raden Patah, putra dari raja Hindu Majapahit terakhir). Bukan tidak mungkin bahwa komplek makam ini didirikan di atas bekas rumah bangsawan, seperti komplek-komplek makam raja lainnya dalam sejarah Jawa Tengah, seperti Makam Panembahan Senopati (1602) dan Makam Hastano Kartasura di Jawa Tengah (didirikan tahun 1740 M, akan tetapi yang dibangun di atas sebuah keraton bertarikh 1640 M). Penulis berpendapat bahwa makam-makam awal abad XVI atau awal abad XVII yang tadinya adalah istana dibangun sesuai filsafat arsitektur keraton HinduMajapahit kuno, yang baru beralih ke Islam di pertengahan abad XV. Banyak dari keraton-keraton zaman Hindu yang masih utuh berdiri ketika makam-makam raja Islam didirikan. Keraton-keraton di Solo dan Yogyakarta saat ini bahkan masih mengikuti tata cara Hindu-Jawa seperti halnya puri-puri dan rumah-rumah di Bali. Komplek makam raja-raja yang paling penting di Jawa, ada di Imogiri, sebelah selatan Yogyakarta. Dibangun pada abad XVI oleh Sultan Agung, komplek makam ini sangat mirip dengan pura Hindu-Bali di pegunungan yang memiliki candi bentar bata merah, aling-aling (dinding pengarah setelah pintu masuk) dan halaman dengan balai terbuka maupun tertutup di dalamnya (lih. foto di bawah). Makam-makam ini menjadi sebuah jendela untuk melihat tren arsitektur zaman Islam-Majapahit di abad XVI dan XVII. Namun sangat sedikit tulisan yang membahas mengenai makam-makam tersebut atau pengaruhnya terhadap arsitektur seni dekoratif generasi berikutnya di Jawa dan di Bali.

Bawah: (searah jarum jam dari kiri atas) Jalan masuk berundak pada makam Imogiri dari abad XVI memperlihatkan pertamanan yang cukup luar biasa dan banyak terlihat pohon Nagasari (Palaquium rostratum) dan pohon Tanjung (Mimusops elengi), juga banyak ditemui pada taman-taman pura di Bali saat ini. Aksen dekorasi pada pintu gerbang komplek ini adalah contoh klasik dari arsitektur Jawa zaman Islam-Majapahit. Pintu gerbang yang serupa juga terdapat di makam Sunan Kudus, sekitar 185 kilometer jauhnya. Kemiripan antara kedua pintu ini ada pada desainnya; reruntuhan beteng (dinding benteng dari bata merah) Istana Kartasura di abad XVII memagari makam bangsawan di dua sisinya; pintu gerbang menuju teras paling atas makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, memperlihatkan kombinasi bangunan balai dan pintu gerbang dari bata merah — sebuah langgam yang masih populer digunakan pada istanaistana di Bali hingga abad XX. Gunungan dan vas zaman Ming menjadi aksen taman. Akses dekorasi Cina adalah sebuah pengingat akan kedekatan hubungan antara kesultanan Cirebon dan warga Muslim keturunan Cina (Hanafi) di masa lalu; pintu gerbang yang tidak biasa pada komplek makam di bekas Istana Kartasura dekat Solo, Jawa Tengah. Balok lintel rendah pada lubang pintu dan motif sayap mengingatkan pada gerbang makam Sendang Duwur yang terkenal dari abad XVI.

Makam Raja-Raja Komplek makam Sunan Kudus (awal abad XVI) adalah salah satu komplek dengan langgam Majapahit (bata merah) tertua yang masih bertahan di Jawa, ataupun Bali jika terkait dengan hal tersebut. Lainnya adalah Keraton Kesepuhan, Makam Sunan Gunung Jati (sayangnya, bata merah sekarang dicat merah) dan juga masjid agung di Cirebon, Jawa Barat. ‘Bertahan’ di sini berarti bahwa komplek-komplek ini secara berkala telah dipakai, semenjak berdiri. Komplek-komplek tersebut memiliki banyak persamaan dengan puri-puri di Bali abad XIX. Sebelum itu kita hampir tidak punya catatan apapun. Atas: Bagian dalam dari balai panjang (satu dari sepasang bangunan yang mengapit pintu gerbang) di Makam Panembahan Senopati, Kotagede, Yogyakarta. Foto-foto yang yang dipajang adalah para sultan dari keluarga istana Hamengkubuwono. Kanan: Areal pemandian di komplek makam Panembahan Senopati di Kotagede, Jawa Tengah serupa dengan patirtan yang ditemukan pada istana-istana dan candi-candi zaman Majapahit. Central Java resembles patirtan baths found in Majapahit-era palaces and temples. Menurut legenda komplek makam ini adalah bekas istana raja pertama kerajaan Mataram.

182 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 183


MAKAM WALISONGO

MAKAM RAJA JAWA TIMUR

Makam-Makam Raja Jawa Timur

Halaman berikut: Sebuah stela dan satu dari sekian banyak gerbang dengan atap bertingkat pada komplek Makam Kyai Tumenggung Pusponegoro I (abad XVI) di Gresik, Jawa Timur. Kyai Pusponegoro adalah keturunan penguasa besar zaman Majapahit, Arya Damar (Arya Kenceng, di Bali). Atas: Foto dari akhir abad XIX tentang makam keramat Putri Champa yang legendaris (istri Brawijaya V, Ratu Dwarawati) di Trowulan, memperlihatkan langgam arsitektur HinduMajapahit yang istimewa. Tampak dua buah patung penjaga mengapit pintu masuk (sebuah ciri khas Hindu-Jawa).

Makam bangsawan zaman Islam-Majapahit yang pertama adalah makam Putri Champa, putri Muslim dari Cham, Vietnam Selatan, yang dalam beberapa catatan konon menikah dengan Brawijaya V, raja Hindu terakhir Majapahit, yang mungkin benar atau mungkin juga tidak. Adalah kurang tepat jika menyatakan bahwa sejarah Majapahit pada zamannya diliputi kontroversi. Makamnya sendiri bertarikh 1448 (lih. foto di atas). Banyak mitos yang berasal dari penduduk setempat menyelimuti komplek makam paling awal ini yang dibangun dalam langgam candi Hindu. Sir Stamford Raffles dianggap sebagai orang Eropa pertama yang memublikasikan laporan tentang kramat putri Champa (kramat adalah istilah dalam bahasa Melayu untuk makam Muslim). Ada sejarah lainnya yang beredar tentang peran putri Muslim ini dalam merubah keyakinan keraton, atau sang raja (suaminya) ke agama Islam. Ada legenda yang menyatakan bahwa Raden Patah adalah cucunya, sultan Jawa Muslim yang pertama. Muslim-Champa tentunya memiliki hubungan perdagangan yang kuat dengan keraton Majapahit, begitu juga dengan kaum Muslim dari Yunnan, Gujarat dan Yaman, paling tidak sejak abad VIII; akan tetapi asal muasal makam raja di sekitar Trowulan masih banyak menimbulkan spekulasi. Ahli tentang Jawa Timur Nigel Bullough bahkan ragu bahwa makam-makam di Troloyo adalah makam para bangsawan Hindu yang sudah menjadi mualaf. Dalam

Kanan: Tembok partisi indah dari pahatan batu kapur yang ada di makam kerajaan Air Mata, Bangkalan di Pulau Madura, Jawa Timur, menurut cerita dipahat oleh seniman dari Bali dalam langgam Majapahit yang rumit pada abad XVIII. Pahatan serupa juga terlihat di Pura Agung Intaran, Sanur, Bali selatan dan pada beberapa pura abad XIX di Bali utara (Tejakula dan Kubutambahan, contohya, lihat tiga foto di kanan atas pada h.167, 271). Ukirannya dapat dikategorikan sebagai langgam pesisir, sebuah aliran eksotis yang berkembang di pantai utara Jawa dan Bali (lihat juga foto-foto dari komplek makam yang sama di h. 187).

184 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 185


MAKAM WALISONGO

MAKAM RAJA JAWA TIMUR bukunya tentang candi-candi Majapahit di Gunung Penanggungan, Bullough memperkirakan bahwa banyak dari candi-candi ini sebenarnya merupakan candi perabuan raja yang 200 tahun kemudian populer di Jawa Tengah, khususnya Imogiri. Komplek besar pura leluhur di Besakih, disebut padarman, yang terletak di sebelah timur pura utama adalah contoh paling dekat untuk monumen perabuan yang ada di Bali. Bentuk-bentuk dekoratif Majapahit klasik berwujud manusia yang dilarang oleh aturan-aturan Islam yang ketat seringkali diabaikan. Kramat Putri Champa cukup unik karena merupakan struktur paling awal yang memiliki cungkup batu serupa dengan langgam pada gedong pura Hindu zaman Majapahit. Sebuah langgam yang juga ditemukan pada makam Siti Fatimah binti Maimun dari abad XI (pra-Majapahit), sebelah barat Gresik di Jawa Timur, yang merupakan komplek makam Islam tertua di Jawa. Siti Fatimah adalah putri dari pasangan Persia-Aceh: bangunan makamnya bukan berlanggam Persia maupun Aceh, meskipun cungkupnya berlanggam pesisir awal (serupa dengan cungkup makam Poesponegoro). Gapura-gapura di komplek ini dibangun dengan langgam Majapahit-Jawa pada abad-abad sesudah makam aslinya berdiri. * * * Di sejumlah makam raja, penulis bahkan menemukan jejak langgam arsitektur kayu zaman Hindu. Di cungkup tertua yang ada di makam raja-raja Arta Tinggi (abad XVII) milik Keraton Sumenep di Madura Timur, penulis menemukan sebuah balai yang sangat tua, dipahat dan dicat dengan langgam yang sama dengan balai-balai yang ditemukan di banyak puri dan pura kuno di Bali. Balai berbentuk cungkup memiliki kolom-kolom yang sangat ramping (ciri khas Madura-Bali Utara yang dibahas pada bab berikutnya) dan tampilan cat dekoratif merah, hitam dan keemasan yang eksotis dan dapat disebut ‘Majapahit’. Penulis menemukan skema warna semacam ini pada joglo abad XVIII dan XIX di Jawa Timur dan Tengah. Sunan Gunung Jati adalah juga seorang sultan dan ukiran-ukiran pada pintu ruang makamnya tampak megah, sekalipun warnanya mulai memudar.

Asta Tinggi, Sumenep, East Java

Pura Beji, Sangsit, Buleleng, North Bali

186 |

Langgam Majapahit

Kiri: (searah jarum jam dari halaman sebelumnya) Candi bentar (gerbang apit) bata merah menuju komplek Makam Sunan Giri di Gresik, Jawa Timur. Patung naga Cina raksasa, terbuat juga dari bata merah, mengapit pintu masuk; banyak fitur arsitektur dari komplek Makam Air Mata mencerminkan masa awal Hindu (kolom paduraksa mengingatkan kita pada kolom dinding bergaya Hindu yang berulang melambangkan puncak-puncak gunung yang lebih rendah di wilayah Gunung Penanggunan — gunung suci Majapahit — yang mengelilingi puncak utama. (this paduraksa pilaster top recalls Hindu pilasters that; pintu gerbang berbahan batu kapur di halaman pertama Makam Sendang Duwur, Pacitan, Jawa Tengah; makam dan tembo partisi dekoratif (dalam langgam pasca Majapahit) di Makam Air Mata Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur.

Langgam Majapahit

| 187


188 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 189


Keraton-Keraton Majapahit Zaman Islam “Kehidupan setiap orang Jawa, mulai dari tingkat petani yang paling bawah sampai bangsawan yang paling dihormati, berada di bawah aturan-aturan keraton. Pada saat keraton Yogyakarta dan Surakarta didirikan, rakyat Jawa secara keseluruhan menjadi perluasan dari masyarakat keraton. Arsitektur dan penyesuaian atas keempat keraton didasarkan pada prinsipprinsip filsafat yang berakar dari kosmologi Hindu-Jawa. Gunung suci, sebagai pusat kosmos, disimbolkan dengan pendopo dan halaman tengah. Menyebar dari tengah terdapat serangkaian bangunan dan halaman yang melambangkan daratan dan lautan. Beberapa halaman dipisahkan oleh tembok tinggi dan gapura simbolis yang menegaskan perbedaan tingkat dalam system kosmologi dan sekaligus sebagai pengaman secara fisik maupun spiritual.� — Kementerian Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Republik Indonesia, Kratons of Java, 1991

Dua halaman sebelumnya: Gerbang utama Kori Brojonolo di Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah, merupakan turunan langsung dari arsitektur istana zaman Hindu-Majapahit (kori adalah kata untuk pintu gerbang pura atau puri yang masih digunakan di Bali. Di Jawa, pintu gerbang umumnya disebut gapura sejak masa Hindu-Jawa klasik yang diambil dari bahasa Tamil, gopuram, suatu bangunan bertingkat penuh ornament pada pintu masuk sebuah kuil). Halaman sebelumnya: Upacara di Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah: berbagai dekorasi zaman Hindu, kostum dan ritual masih menjadi bagian yang besar dalam sebuah upacara dalam lingkungan istana-istana di Jawa Tengah. Atas: Foto udara dari Keraton Surakarta memperlihatkan langgam arsitektural bagian dalam istana selepas gerbang Kori Brojonolo.

190 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 191


ZAMAN Islam-Majapahit

KERATON MAJAPAHIT JAMAN ISLAM

Kurun waktu 250 tahun di antara runtuhnya zaman Majapahit-Hindu dan berdirinya keraton di Solo dan Yogyakarta di pertengahan abad XVIII adalah periode yang penuh ‘gemuruh’. Empat keraton ‘sedarah’ — Pakubuwanan dan Mangkunegaran di Solo; Hamengkubuwanan dan Pakualaman di Yogyakarta — adalah empat keraton Jawa-Islam terakhir dari rangkaian panjang keraton Jawa-Islam yang merupakan keturunan langsung keraton Majapahit Hindu-Jawa. Dalam periode Kerajaan Mataram kedua ini, banyak sultan yang naik dan turun tahta, dan banyak terjadi perselisihan saudara dan juga dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), kongsi dagang Hindia-Belanda, yang telah mulai menyusup ke dalam kedaulatan sultan-sultan di Jawa sejak awal abad XVII. Pertempuran menyangkut kedaualatan, yang sebagian besar terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, bahkan melibatkan pasukan dari keraton-keraton pasca-Majapahit di Pulau Madura — terakhir beralih ke Islam. Di akhir kurun waktu 250 tahun tersebut, budaya Jawa Tengah yang muncul — sebagian besar bertahan hingga kini, khususnya di dalam dan di sekitar empat keraton utama Yogyakarta dan Solo — masih kaya dengan prinsip-prinsip kosmologi Hindu-Jawa. Langgam arsitektur keraton-keraton ini dapat dikategorikan sebagai pasca-Majapahit, sama halnya dengan arsitektur bata merah di Bali yang dapat juga dikategorikan pasca-Majapahit. Arkeolog terkenal Belanda Stutterheim menyatakan bahwa kita harus melihat keraton-keraton abad XX di Jawa Tengah sebagai acuan ukuran keraton-keraton Majapahit, akan tetapi jika kita mencari jejak-jejak langgam arsitektur Keraton Majapahit kuno maka di Puri Klungkung adalah jawabannya (pembahasan lebih rinci pada segmen di bab berikutnya). Tentu saja ritual, tata busana, perhiasan dan adat istiadat masih lestari baik di keraton-keraton di Jawa Tengah maupun Bali.

192 |

Langgam Majapahit

Atas kiri: Abdi dalem berdoa di depan sebuah patung dwaraphala di halaman Keraton Surakarta. Menurut legenda patung ini dulunya menjaga pintu masuk sebuah candi Hindu yang ada di tempat ini sebelum istana ini didirikan tahun 1770 (foto dari buku Karaton Surakarta oleh J. Miksic, 2004). Halaman sebelumnya: Pendopo Agung (paviliun beratap tinggi dalam langgam Jawa Tengah) di Keraton Hamengkubuwono, Yogyakarta, Jawa Tengah. Warna zaman Majapahit tampak pada ukiran dan kaligrafi Hindu pada bagian kolom yang terlihat sangat indah (foto dari buku Karaton Surakarta oleh J. Miksic, 2004).

Langgam Majapahit

| 193


KERATON MAJAPAHIT JAMAN ISLAM

ZAMAN Islam-Majapahit

Keraton-Keraton Jawa Barat — Cirebon dan Banten “Meskipun Masjid Agung Demak pada umumnya dianggap masjid tertua di Indonesia, namun tidak dapat disangkal bahwa masjid ini memang memiliki struktur yang paling kuno yang dibuat oleh arsitek Islam di wilayah itu. Julukan tersebut mungkin lebih patut diberikan kepada Kasepuhan, atau ‘Yang Lebih Tua’, yakni keraton di Cirebon, Jawa Barat”. — J. Miksic, Indonesian Heritage Vol. 6: Architecture, 1996 Akhir abad XV, sejalan dengan penyebaran ajaran Islam dari Surabaya ke arah barat hingga pesisir utara — dengan Kesultanan Demak (dipimpin Raden Patah) sebagai pusat kekuasaan — seiring itu pula ‘wilayah-wilayah pendudukan’ mulai terbentuk, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Barat, dengan dukungan spiritual dari sejumlah Wali Songo. Pada dekade-dekade awal zaman Islam-Majapahit, Wali Songo memperkuat pengaruh mereka dengan cara mengambil istri dari sejumlah ‘keraton’ — bahkan dari keraton-keraton Hindu yang paling awal mengalami ‘peralihan’. Pada beberapa kasus, sejumlah keturunan Wali Songo menjadi penguasa. Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Songo, adalah juga seorang sultan, ibunya adalah seorang putri dari Kerajaan Pajajaran lama, putri Prabu Siliwangi yang legendaris. Sunan Gunung Jati, seorang sunan kejawen, diberikan tugas menyebarkan agama Islam hingga ke kerajaan Hindu kuno seperti Pajajaran, Sumedang dan Banten, yang dimulai dari basisnya di Keraton Kasepuhan, Cirebon di pesisir utara. Jika penulis perhatikan dari segi arsitektur dan artefak yang masih ada hingga saat ini, dapat ditemukan perpaduan yang serasi antara langgam Hindu, Cina dan Islam. Keraton Kasepuhan sendiri, dengan tata letak halaman yang mungkin berasal dari zaman Hindu akhir, merupakan perpaduan arsitektur dan dekorasi Hindu, Buddha dan Islam yang menakjubkan. Kendaraan keraton yang terkenal, Kereta Singa Barong, yang berada di Museum Keraton Kasepuhan hari ini dan diarak selama hari raya Islam, dirancang oleh Ki Natagana, yang dikenal juga dengan nama Ki Gede Kaliwulu. Kendaraan ini, terkenal karena sudah menggunakan peredam getaran sejak awal, bentuknya menyerupai singa dengan kepala naga dan taring gajah, memegang sebuah tombak trisula, Atas: (foto atas) Mahkota zaman Islam-Majapahit dari Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat (foto dari http://www.wilwatiktamuseum. wordpress.com); (foto bawah) sebuah gagang keris yang dipercaya berasal dari sebuah istana di Cirebon. Kanan: Silsilah keluarga dari Sunan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat. Halaman berikut: Seorang staf Keraton Kasepuhan di depan masjid istana; (inset) Elang Deri, dari Keraton Kanoman di Cirebon, yang secara turun temurun ‘menjaga’ Makam Sunan Gunung Jati. Dua halaman berikut: Taman Gua Sunyaragi yang luar biasa, taman sari dari Keraton Kasepuhan yang terletak di daerah pinggiran Cirebon. Balai di atas bukit merupakan sebuah tempat meditasi (komplek ini pada awalnya dirancang sebagai tempat tinggal para permaisuri raja).

194 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 195


ZAMAN Islam-Majapahit

196 |

Langgam Majapahit

KERATON MAJAPAHIT JAMAN ISLAM

Langgam Majapahit

| 197


ZAMAN Islam-Majapahit

KERATON MAJAPAHIT JAMAN ISLAM

“Keraton-Keraton Islam mungkin bisa dikelompokkan ke dalam dua kelompok utama: enam keraton Dinasti Mataram, yang menggantikan raja-raja Majapahit abad XVI; dan keraton-keraton Kerajaan Islam awal, Banten dan Cirebon. Di samping itu ada beberapa keraton (dan keratonkeraton kecil) lainnya, termasuk keraton-keraton pemberontak di Kediri dan Pasuruhan serta keraton-keraton di Demak dan Giri. Keraton Islam tertua di Jawa adalah Keraton Kasepuhan (istana sultan tertua), yang dibangun tahun 1529 oleh Dinasti Cirebon.” — H.J. de Graaf, The Origin of the Javanese Mosque, Journal of Southeast Asian History, 1963

sama seperti mahluk fantasi yang terlihat dalam mimpi Pangeran Losari, adik dari raja kedua Cirebon (lihat foto di atas). Foto-foto tahun 1910 menunjukkan bahwa Keraton Kasepuhan dengan banyak halamannya tampak serupa hingga saat ini dan penulis berpendapat bahwa dari segi langgam, sedikit sekali perubahan yang terjadi sejak zaman Majapahit di masa akhir Hindu maupun awal Islam. “Sejarah mengenai bagian-bagian Keraton Kesepuhan yang lebih tua tidak terdokumentasi dengan baik, akan tetapi bentuk unik dari pintu masuk utamanya menuju lingkungan dalam keraton memberi sejumlah petunjuk bahwa tanggal pendiriannya mungkin tidak terpaut jauh dengan sitinggil di pertengahan abad XV. Perwajahan pintu masuk berupa plesteran putih yang mengingatkan pada vajralepa atau ‘plesteran intan’ yang dipakai pada candi-candi Jawa pra-Islam.” — J. Miksic, Indonesian Heritage Vol. 6: Architecture, 1996

Kanan: (atas) Gerbang utama menuju balairung Keraton Kasepuhan memperlihatkan pengaruh dekorasi Cina, kolonial dan Majapahit. Motif awan sering digunakan sebagai lambang kebijaksanaan yang dapat diperoleh melalui penerapan tantra, misalnya dengan meditasi; (tengah) balai berbahan batu bata dalam langgam arsitektur Moorish di dalam Keraton Kanoman; (bawah) bagian dalam balai penyambutan di Keraton Kasepuhan menghadirkan dekorasi yang dipengaruhi arsitektur Hindu, kolonial dan Cina.

198 |

Langgam Majapahit

Atas: Kereta kerajaan Singa Barong milik Keraton Kasepuhan yang luar biasa berasal dari abad XV atau XVI. Kiri: Istana Sitinggil berdiri abad XV di Keraton Kasepuhan memiliki sekelompok balai-balai yang megah dalam langgam yang sering disebut sebagai Sunda-Majapahit. Ukiran pada kolom-kolom pendopo yang dibuat tahun 1940-an sesuai aslinya.

Langgam Majapahit

| 199


KERATON MAJAPAHIT JAMAN ISLAM

ZAMAN Islam-Majapahit

“Sejarah bagian-bagain Keraton Kesepuhan yang lebih tua tidak terdokumentasi dengan baik, akan tetapi langgam unik dari pintu masuk utamanya menuju bagian lingkungan dalam keraton member sejumlah petunjuk bahwa tanggal pendiriannya mungkin tidak lama setelah sitinggil pertengahan abad XV. Bagian muka pintu masuk dilapisi dengan plesteran putih yang mengingatkan pada vajralepa atau ‘plesteran intan’ yang dipakai pada candi-candi Jawa pra-Islam.” — J. Miksic, Indonesian Heritage Vol. 6: Architecture, 1996

Pengaruh Dekoratif Arsitek Zaman Majapahit, Raden Sepat

S

Sunan yang baik dan keturunannya membawa nilai sinkretis ke jenjang lebih lanjut: prasasti abad XIX menyebutkan tentang pagoda Cina besar yang dibangun di atas teras atap istana bagi para selir dan taman hiburan kerajaan, Taman Sari Gua Sunyaragi. Taman tersebut dirancang semirip mungkin dengan taman batu Cina yang indah dari zaman Dinasti Ming, yang populer di rumah-rumah bangsawan di sejumlah wilayah Cina pada abad XV dan XVI. Patung-patung dan air mancur Taman Gua Sunyaragi memberi pengaruh dalam beberapa abad ke depan terhadap pembuatan taman sari kerajaan di Lombok Barat dan Bali — Tirta Gangga yang dibangun awal abad XX di Karangasem adalah salah satunya. Seni dan arsitektur Cirebon adalah beberapa di antara pencapaian besar zaman Islam-Majapahit, sebuah jaman yang dikenal dengan hibridisasi dan eklektisisme. Dari Banten ke arah barat, peninggalan-peninggalan keraton lainnya dari zaman Islam-Majapahit masih bisa dijumpai, seperti Keraton Paibon, sebuah karya arsitektur hibrida yang berdiri di atas sungai Cibanten.

ejarah dan legenda keraton, candi an masjid jaman Majapahit jarang sekali menyebut nama arsitek dan pemahat yang mengerjakannya. Sunan Muria, seniman-wali adalah seorang komposer. Sejumlah musik gamelan diciptakan oleh Sunan Derajat dan Sunan Kalijaga yang masih bisa dinikmati sampai sekarang. Gamelan asli dari keraton Hindu, diangkut ke Demak setelah jatuhnya Keraton Majapahit, yang digunakan untuk menyebarluaskan keyakinan yang baru. Arsitek terkenal Asia Tengah Babah Liem Mo Han dan tim pemahatnya yang membangun Masjid Mantingan yang asli (sekarang sudah tidak ada), dan kira-kira abad XVII, arsitek Belanda Hendrick Lucas Cardeel (Pangeran Wiraguna) ikut merancang Keraton Surosowan di Banten, Jawa Barat, yang juga sudah tidak ada. Seniman-seniman dari masyarakat Kalang Jawa Tengah dikatakan sempat membantu membuat ukiran Candi Sukuh. Satu perkecualian, adalah legenda Raden Sepat, seorang arsitek dari abad XV dari Keraton Majapahit yang ditangkap oleh pasukan Sultan Demak dan sipenjarakan di Banten. Legenda setempat, yang diterbitkan dalam bentuk pamphlet oleh para ahli sejarah setempat dasawarsa 1970 an,menyebutkan bahwa tokoh seni sekaligus pemuka sinkretisme Sunan Gunung Jati, membebaskan Raden Sepat agar bisa membantu merancang dan membangun Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Cirebon — masjid pantai utara Java yang memperlihatkan detail dekoratif Hindu Majapahit. Tahun 2014, saya pergi ke Banten untuk mencari jejak dari hal tersebut di atas dan saya menemukan di atas menara tinggi di depan masjid agung, sebuah ‘replika’ (foto bawah) dari abad XVIII berupa bingkai pintu batu karang ukir dengan langgam India yang merupakan elemen dekoratif utama pada masjid di Cirebon tersebut. Apakah ini pertanda bahwa ada kaitan antara arsitek abad XVIII Raden Sepat dan masjid Cirebon? Pada bagian berikutnya dari bab ini penulis akan menunjukkan bukti bagaimana rancangan dari seniman-seniman itu dan pengerajin-pengerajin ahli yang membangun Masjid Mantingan dipengaruhi oleh elemen-elemen decoratif dari banyak cungkup dari Jepara hingga Gresik, khusunya cungkup Sunan Derajat.

Kanan atas: Sebuah litograf dari abad XIX yang menampilkan reruntuhan Keraton Kaibon yang berdiri pada abad XVI di Banten, Jawa Barat. Kanan: Deretan gerbang candi bentar di Keraton Kaibon, Banten, Jawa Barat, 2014.

200 |

Langgam Majapahit

Pintu menuju mimbar di Masjid Agung Cipta Rasa, Cirebon, Jawa Barat, abad XV

Pintu pada menara Masjid Agung Banten, Serang, Jawa Barat, abad XVII Langgam Majapahit

| 201


Kerajaan Mataram Kedua “Kerajaan besar Jawa terakhir, dikenal dengan Kerajaan Mataram Kedua, didirikan pada tahun 1587 oleh Pangeran Senopati. Pada masa kejayaannya, pengaruh Kerajaan Mataram terbentang melampaui pantai Jawa sampai jauh hingga Malaysia. Keraton Mataram, aslinya terletak di Kota Gede, di luar kota Yogyakarta sekarang, berpindah beberapa kali antara tahun 1587 dan 1680 ketika raja waktu itu, Amangkurat II, membangun keraton di Kartasura, dekat Surakarta (Solo).“ — Kementerian Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Republik Indonesia, Kratons of Java, 1991

Pada abad pertama zaman Islam tercatat banyak dibangun makam bagi Wali Songo, yang mengenalkan Islam ke Jawa. Beberapa dari kompleks makam ini, seperti misalnya makam Sunan Gunung Jati dan juga makam pendiri Kerajaan Mataram kedua, Panembahan Senopati tampaknya dibangun di bekas keraton-keraton lama. Makam-makam lain dibangun di bekas tempat-tempat pemujaan berundak (seperti Makam Sunan Sendang Duwur) atau mungkin di bekas candi-candi Hindu (Makam Sunan Kudus).

Halaman sebelumnya: Sebuah gentong air suci di bagian luar gerbang utama makam Sultan Agung di komplek makam keluarga kerajaan di Imogiri, Jawa Tengah. Tercatat ada empat buah gentong yang seukuran di tempat ini, semuanya dikelilingi pagar kayu warna merah khas Cina. Menurut legenda setempat, mereka didatangkan dari Turki, Champa, Kamboja dan Vietnam. Atas: Candi bentar yang indah sebagai pintu masuk menuju komplek makam raja-raja Imogiri dimana sebagian besar penguasa Kerajaan Mataram II dikebumikan.

202 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 203


KERATON MAJAPAHIT JAMAN ISLAM

ZAMAN Islam-Majapahit

Banyak arsitek Jawa dari periode ini memakai tradisi Majapahit-Hindu dalam berkarya. Arsitektur dari makam-makam ini, mulai dari Gresik, di Jawa Timur hingga Imogiri, di bagian selatan Yogyakarta, memberikan sejumlah petunjuk seperti apa tampaknya arsitektur keraton-keraton Jawa abad XV. Tidak ada keraton-keraton Majapahit-Hindu dari abad XV yang bertahan hingga saat ini. Banyak pura zaman Majapahit di Bali terbuat dari batu karang — di antaranya Pura Luhur Uluwatu dan Pura Dalem Sakenan yang terpenting —mungkin bisa dijadikan contoh yang layak mewakili arsitektur abad XV yang bisa dikategorikan ‘Majapahit’, bersama dengan Candi Penataran di Blitar, Jawa Timur, yang masih cukup utuh dan memperlihatkan hubungan yang kuat dengan arsitektur pura di Bali pada masa itu maupun hari ini. Apa yang penulis temukan selama penelitian adalah kesamaan antara arsitektur makam Islam-Jawa dan arsitektur Hindu-Bali pada zaman yang sama. Yang juga tampak jelas adalah tren dekorasi yang diawali oleh masjid dan makam di Mantingan, Jawa Tengah pada awal abad XVI dan Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Di awal abad XVII, makam Sunan Giri di Gresik, Jawa Timur, tren itu berlanjut ke Bali hingga saat ini, yang mungkin ‘dibawa masuk’ melalui jalur perdagangan sepanjang pesisir utara Bali, tempat kita bisa menemukan ragam hias eksotis khas arsitektur langgam Majapahit (lihat subbab Langgam Bali Utara).

Kemiripan tata letak dalam istana di Karto (awal abad XVII) dan Kartasura (awal abad XVIII) Seluruh gambar di bawah adalah ilustrasi ulang dalam Karaton Surakarta oleh J. Miksic, 2004, h.38

Di tahun 2012, sekelompok pekerja bangunan dari Jawa Timur diberi tugas untuk memperlebar candi bentar (gerbang apit) di sisi sebelah barat Pura Sakenan, sebuah pura abad XVI yang bersebelahan dengan Pura Dalem Sakenan di Pulau Serangan, Bali selatan. Para pekerja yang masih berusia muda bekerja dengan cekatan -- balok-balok batu karang dipasang dengan sedikit mortar -- tetapi hasilnya cukup bagus (lih. foto di bawah) dan menyerupai gerbang makam zaman Islam-Majapahit abad XVI, dan tidak berbeda dengan yang ditemukan pada makam-makam Wali Songo di sepanjang pesisir barat Pulau Jawa. Saat ini, penulis tidak mengatakan bahwa para pekerja ini secara kolektif mengacu pada bentuk dari masa lalu, melainkan sesuatu langgam Bali, yang terwujud melalui sentuhan dan pandangan Jawa, menampilkan sesuatu yang sangat Majapahit -- kekar, maskulin dengan sayap samping yang diperpanjang (lih. foto h.176-77)

A

Denah istana di Karto

B

Denah Istana Kartasura sebelum perluasan

C

Denah Istana Kartasura setelah perluasan

Pura Sakenan, Serangan, Bali Atas: Sebuah pahatan kuno menggambarkan wajah seram (kala atau seringai keagungan/Sk.: kirtimukha) yang tidak lazim ditemukan pada dinding pintu gerbang Makam Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram II, di Kotagede, Yogyakarta. Halaman berikutnya: Sebuah diagram yang membandingkan berbagai denah istana Kerajaan Mataram. Seluruh denah ini didasarkan pada prinsip kosmogoni Hindu-Jawa, sebuah sistem yang menghargai pentingnya poros gununglautan dan aturan perancangan dan tata letak masa Hindu (digambar ulang berdasar Miksic, 2004).

204 |

Langgam Majapahit

Gate of Makam Sunan Gunung Jati

Lokasi berbagai istana Kerajaan Mataram Langgam Majapahit

| 205


KERATON MAJAPAHIT JAMAN ISLAM

ZAMAN Islam-Majapahit

Javanese Kingdoms, 1550-1594

Re-illustrated after Miksic, 2004

Keraton-Keraton Jawa Tengah “Keraton-keraton dari kerajaan-kerajaan Islam berkembang berdasarkan keraton-keraton Jawa pendahulunya meskipun bangunan-bangunan Islam juga menyerap tradisi-tradisi lainnya. Keraton-keraton Jawa memiliki kekhasan ritual dan representasi simbol dari kosmos dengan raja sebagai pusatnya. Tata letaknya yang khas dari komplek-komplek ini mencerminkan simbolisme ini berupa areal tengah yang dikelilingi oleh halaman-halaman yang diatur secara simetris. Rancangan keraton-keraton ini sangat konservatif dan keraton-keraton baru dibangun sebagai tiruan keraton-keraton yang lebih tua dan disebut dengan istilah ‘putra’, anak-anak dari keraton-keraton lama.” — H.J. de Graaf, The Origin of the Javanese Mosque, Journal of Southeast Asian History, 1963

Atas: Peta-peta kerajaan di Jawa selama periode 1550-1594 (digambar ulang berdasar dari Miksic, 2004). Kanan: Payung Songsong Gilap Gubeg di Keraton Surakarta, Solo, diisukan sebagai pusaka abad XV dari Keraton Majapahit di Jawa Timur. Serupa dengan para tetua di Puri Saren Ubud, Bali yang percaya bahwa salah satu pusaka suci mereka, sebuah payung bermotif emas dan coklat muda, juga berasal dari Keraton Majapahit (foto dari buku Karaton Surakarta oleh J. Miksic, 2004).

206 |

Langgam Majapahit

Kapanpun penulis pergi ke Solo dan hanyut dengan kemegahan budaya dan arsitektur keraton di sana, penulis merasa seperti sudah tinggal 40 tahun di Jawa Tengah daripada di Bali. Penulis sekarang, mungkin, menganggap bahwa keanggunan Solo adalah pewaris sejati Majapahit, dan bukan Hindu-Bali yang cenderung lebih ‘berwarna’. Kedua budaya tersebut mendapat pengaruh yang kuat dari Majapahit, tetapi dengan cara yang berbeda. Raja-raja Jawa melacak leluhur mereka melalui keturunan langsung dari rajaraja Majapahit — suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh keluarga puri di Bali — yang oleh banyak ahli dipercaya sebagai sebuah usaha raja-raja baru zaman Kerajaan Mataram kedua yang membutuhkan suatu pengakuan. Di Bali, hampir seluruh penduduknya meneruskan ‘peranan Majapahit’; di Jawa ritual dan prinsip-prinsip perencanaan arsitektur yang diwariskan oleh Majapahit hanya dapat ditemui di keraton-keraton saja dan di sejumlah masyarakat pegunungan Hindu-Jawa.

Atas: (searah jarum jam dari kanan atas) Bunga melati banyak digunakan sebagai dekorasi busana tradisional dan hiasan rambut. Penulis menganggap tren busana yang dapat ditemukan di Jawa dan Bali berasal dari India yang tersaring melalui Majapahit; seorang abdi dalem istana Hamengkubuwono menyiapkan gunungan (sebuah persembahan kuno orang Jawa atau kejawen) sebagai perlambang untuk mendapatkan kesejahteraan dan dipakai pada upacara Sekaten di Yogyakarta. Banyak upacara-upacara zaman Majapahit seperti ini dilakukan kembali saat masa awal Kerajaan Mataram II dan juga dicantumkan sebagai hari penting dalam kalender Muslim; para penari Bedoyo Ketawang menampilkan tarian Kanjeng Ratu Kidul — ratu laut selatan — untuk Sunan di hari peringatan pengangkatannya (lihat juga foto h.22). Terkadang pada penari kesepuluh, sang ratu (Kanjeng Ratu Kidul sendiri) menampakkan diri.

Langgam Majapahit

| 207


KERATON MAJAPAHIT JAMAN ISLAM

ZAMAN Islam-Majapahit

Yang menarik dari tata letak keraton abad XVII dan XVIII adalah kemiripannya dengan puri-puri yang ada di Bali saat ini dalam hal ukuran dan desain, tercermin dalam pagar istana bata merah yang tinggi dan tebal, letak gapura dan balaibalainya, serta keberadaan taman air yang sering dihubungkan sebagai tempat meditasi para raja, di bagian tengahnya. Penghormatan terhadap air dan mata air suci (Jawa: umbul; Bali: beji) adalah bagian dari kepercayaan yang berlangsung terhadap kekuatan air suci (tirta) yang tetap kuat tertanam dalam ajaran Islam-Jawa (air suci dari guci besar di makam-makam raja penting sangat dinanti-nanti), begitu pula halnya di Bali. Di samping keraton utama, penguasa Surakarta memiliki beberapa tempat peristirahatan — mata air Pengging dan Lengen Harjo adalah di antaranya — tempat digelarnya ritual mandi khusus dan ritual meditasi. Di Lengen Harjo bahkan ada sebuah mata air yang khusus untuk Kanjeng Ratu Kidul, Ratu Pantai Selatan dan juga permaisuri gaib semua sunan Surakarta. Upacara-upacara istana di Bali dan Jawa tampak cukup berbeda dalam irama dan suasananya, tetapi secara filosofis Jawa kunonya tetap sama: penghormatan terhadap kekuatan alam, penghormatan terhadap leluhur (terutama leluhur yang disucikan) dan rasa terimakasih kepada Sang Pencipta.

Atas: Prosesi Sekaten Gunungan di alunalun utama depan masjid agung Istana Hamengkubuwono. Persembahan serupa, disebut sarat, bertahan dalam budaya Hindu Bali, yang juga mewakili ‘semesta’ budaya (Hindu) Jawa. Orang kerdil dari lingkungan istana berjalan di depan iring-iringan, mereka dianggap membawa keberuntungan (menurut kepercayaan mistik Jawa).

Buku karangan Joop Ave dan John Miksic Karaton Surakarta, dengan sumbangan tulisan dari banyak ahli keraton, memberikan banyak informasi tentang budaya kejawen yang eksotis dari keraton agung di Solo, dan menjelaskan secara rinci prinsip-prinsip perencanaan Hindu-Jawa dari keraton dewasa ini maupun keraton-keraton sebelumnya, khususnya di Kartasura. Java

Kanan: Berbagai upacara istana di Jawa dan Bali yang menggunakan tandu dan para putri raja masih berlangsung hingga kini. Halaman berikut: (atas) Wadana berbentuk candi dalam bentuk salinan Serat Tajusalatin, sebuah kajian terhadap perilaku dan ketatanegaraan tersimpan di Jayakusuman, Pakualaman, Yogyakarta, 1841 (foto dari Sonobudoyo Museum, Yogyakarta). Dua ular yang saling berkaitan membentuk garis pinggir mengingatkan penulis akan bentala (bagian puncak atap) pura dan pintu gerbang di Bali; (kiri) banyak keraton di Jawa dan beberapa pura di Bali memiliki kerbau air albino yang dipercaya membawa kemakmuran ketika diarak di hari-hari baik di Jawa dan juga saat upacara-upacara penting beberapa pura di Bali.

208 |

Langgam Majapahit

“Kendati kerajaan-kerajaan lama di Jawa tunduk secara politik dan keagamaan, kerajaan-kerajaan di Jawa berlanjut menjadi kerajaankerajaan Islam, termasuk juga arsitekturnya. Gunung sebagai pusat kehidupan budaya Jawa sering dikelilingi oleh lautan. Dalam arsitektur, hal ini dilambangkan dengan bukit buatan yang dikelilingi oleh parit, sebuah fitur yang ditemukan di istana-istana dan masjid-masjid dalam kerajaankerajaan Islam baru.” — H.J. de Graaf, The Origin of Javanese Mosque, 1963

Java

Bali

Bali Langgam Majapahit

| 209


KERATON MAJAPAHIT JAMAN ISLAM

ZAMAN Islam-Majapahit

Makam Datu Luwu, Palopo, Sulawesi Selatan (awal abad XVI)

Zaman Islam-Majapahit di Sulawesi Selatan

Atas dan bawah: Masjid dari akhir abad XVI di Palopo, Sulawesi Selatan, adalah sebuah percampuran yang menarik dari arsitektur Jawa-Hindu dan Jawa-Islam. Ukiran pada pintu dan mimbar (foto bawah) sangat kental aliran Majapahit.

210 |

Langgam Majapahit

Kerajaan Majapahit mendapatkan keuntungan dalam hubungan dagang dengan Sulawesi Selatan dari Goa ke Tanah Luwu, bahkan sampai jauh ke Jepang. Ada dua masjid dari akhir abad XVI (zaman Islam-Majapahit) yang masih ada di Sulawesi Selatan, yaitu Masjid Tolo-Goa di Makassar, sebelah selatan bekas Kerajaan Goa, dan Masjid Tua di Palopo, yang pernah menjadi bagian dari Kerajaan Wulu dan bagian dari wilayah Tana Luwu yang merupakan perluasan dari wilayah Tana Toraja ke arah barat daya. Menurut catatan yang tersimpan di Masjid Palopo, masjid tersebut mulai dibangun tahun 1493 M dan selesai tahun 1604 M. Dari segi arsitektur, masjid ini sangat menarik apalagi jika dikaitkan dengan konteks penyebaran budaya Majapahit pada zaman Hindu Sulawesi Selatan (abad XIII-XV). Sangat sedikit sekali bukti fisik yang tersisa dari zaman ini, seperti beberapa pusaka merah dan emas, sejumlah naskah dan keris, semuanya ada di keraton tua. Ornamen tembok luar bangunan utama masjid Palopo Tua, yang dibuat dari batu kapur lokal memiliki persamaan dengan ornamen pada candi-candi zaman Hindu di Jawa Timur. Bahkan ada motif naga (simbol kesuburan) yang melingkar pada bagian ‘mahkota’ pintu depan. Detail ukiran arsitektur pada ujung atas pintu masuk mimbar semuanya terbuat dari batu, yang menampilkan pengaruh Jawa. Mimbar kayu dipahat serupa dengan langgam Masjid Agung Demak, Jawa Tengah, dengan motif bulan dan matahari pada bagian ‘mahkota’ atas, yang merupakan simbol dalam budaya Austronesia kuno dan Islam. Tidak jauh dari sini terdapat sebuah keraton bernama Istana Bhatara Guru (sekarang Museum Batara Guru), memperlihatkan betapa besarnya pengaruh Hindu-Majapahit terhadap budaya di sini. Nama Hindu Batara Guru (sebutan setempat untuk Siwa) juga ditemukan pada naskah-naskah kuno Bugis, lambang dari Sang Pencipta. Naga di sini juga merupakan simbol Hindu untuk kesuburan. Makam Datu Luwu XVI, raja yang membangun Masjid Palopo, bisa dijumpai di kuburan Islam Palopo. Makamnya ditempatkan dalam sebuah makam batu yang dibangun dalam bentuk piramida Kerajaan Gowa Kingdom di bagian selatan,

Pura Susunan Wadon, Serangan, Bali (abad XV)

akan tetapi dikelilingi oleh pagar dan gapura dalam langgam Hindu-Majapahit. Kuburan tersebut dipagari oleh dinding beton siap pasang dengan langgam yang bisa disebut sebagai Islam-Majapahit modern. Beberapa ukiran pada batu nisan dalam makam batu itu jelas berkarakter Hindu-Jawa (khususnya batu nisan dan ‘peti mayat’ dari abad XVI). Seratus kilometer ke utara tepatnya Malangke, ibukota Tana Luwu lama terdapat makam raja Islam Luwu, Sultan Abdullah Muhiddin dari abad XV. Beliau adalah raja Hindu pertama yang beralih ke agama Islam pada jaman Majapahit akhir. Dahulu, untuk masuk ke makam tersebut harus melalui gapura yang digambarkan sebagai ‘kembang Majapahit’ dalam buku-buku sejarah awal abad XIX. Gapura itu sudah tidak ada sekarang tetapi masih tampak di media online.

Zaman Islam-Majapahit di Kutai, Kalimantan Timur Pada abad XV dan XVI kerajaan-kerajaan HinduJawa dibangun di sejumlah pelabuhan, misalnya Kutai Kartanegara yang berdiri di pelabuhan sungai Tenggarong, Kalimantan Timur. Di sisi lain, budaya keraton yang telah ada saat itu juga mengadopsi sejumlah budaya keraton Hindu-Majapahit, sebelum akhirnya beralih memeluk Islam (Sulawesi Selatan memiliki sejarah panjang tentang budaya keraton sejak zaman pra-Majapahit). Tidak banyak peninggalan tersisa untuk membuktikan apakah Hindu-Majapahit atau Islam-Majapahit yang menjadi kekuatan berpengaruh di Kalimantan Timur, sebagai pertimbangkan adalan sejumlah makam dengan gapura-gapura berlanggam Majapahit dan sejumlah artefak dari istana dan patung-patung di museum keraton lama (di museum keraton Kutai Kartanegara di Tenggarong, misalnya). Dari segi arsitektur, Masjid Palopo dari abad XVI akhir di Sulawesi Selatan adalah satu-satunya mahakarya arsitektur batu zaman Islam-Majapahit yang masih bertahan. Masjid tersebut dikenal sebagai masjid tertua di Sulawesi Selatan dan jika dilihat dari lis dinding dan detailnya (ukiran di bagian atas pintu masuk) terdapat kesamaan dengan arsitektur Jawa di zaman Islam-Majapahit (lih. foto halaman sebelumnya). Masjid-masjid kayu di Kalimantan Timur mirip dengan masjid-masjid kayu tradisional dari zaman Islam-Majapahit di Jawa.

Atas: Pintu masuk menuju makam pendiri masjid Palopo, Sulawesi Selatan di abad XVI yang memperlihatkan banyak ciri khas Jawa — pada detail arsitektur dan pada ukiran batu nisan (foto dalam kotak di kiri atas) Kiri bawah: Mahkota Kutai Kertanegara yang terkenal, sebuah mahkota kerajaan dalam langgam Majapahit-Jawa klasik. Bawah: Elemen seni taman di halaman depan Museum Kutai Kertanegara (Museum Mulawarman) di Tenggarong, Kalimantan Timur, menggambarkan kedatangan bangsawan Majapahit melalui Sungai Mahakam, tidak jauh dari lokasi kota Tenggarong sekarang, di abad XV.

Langgam Majapahit

| 211


Taman Sari Zaman Islam-Majapahit “Salah satu hasil karya yang menakjubkan dari arsitektur Islam di Jawa adalah taman. Sama halnya dengan taman-taman Islami di tempat lain, taman-taman Jawa merupakan perluasan dari taman kerajaan dan mencakup elemen-elemen arsitektur seperti air mancur dan balai di samping juga pepohonan dan ragam bunga. Akan tetapi, simbolisme taman-taman Jawa berbeda dengan taman-taman yang ada di dunia Islam lainnya dan didasarkan pada tema dualisme pegunungan dan pantai yang diturunkan dari zaman pra-Islam. Tema ini dihadirkan dalam bentuk balai-balai yang berada di air dan menara atau bukit buatan yang dibangun tepat di tengah-tengah.� — H.J. de Graaf, The Origin of the Javanese Mosque, Journal of Southeast Asian History, 1963

Halaman sebelumnya: Rancangan taman sari yang disebut Taman Sunyaragi bercirikan arsitektur moghul dan India Selatan yang diadopsi oleh para penguasa di Jawa, kemungkinan sebelum zaman Majapahit. Atas: Pemandian kerajaan Umbul Ngabean di Pengging, Jwa Tengah. Sepanjang abad XX, Pakubuwono X membangun serangakaian kolam pemandian di Pengging, dekat Boyoolali, dimana ritual zaman Hindu masih dilaksanakan hingga hari ini.

212 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 213


TAMAN SARI JAMAN MAJAPAHIT ISLAM

ZAMAN Islam-Majapahit

Taman Sari by James Dumarcay. Figure redraw from Lombard. Garden in Java (J. Miksic, Trans). Ecole fracaise d’Extreme-Orient, 2010, p.35

Atas: Pandangan dari atas Taman Sari yang dibangun Sultan Hamengkubuwono I dari Yogyakarta dengan bantuan seorang arsitek Portugis yang dikenal dengan nama Demang Tegis di pertengahan abad XVIII. Rancangan taman ini mengikuti pedoman pembangunan taman sari Hindu-Jawa — berupa sebuah pulau (melambangan gunung suci Mahameru) yang ada di tengah-tengah danau buatan (melambangkan laut yang abadi). Selama beberapa kurun waktu sultan-sultan penerus tampuk kekuasaan keluar dari istana melalui beberapa terowongan menuju tempat ini (berjarak kurang dari satu kilometer ke utara) untuk memperdalam kekuatan mistis mereka melalui meditasi dan ritual puasa (digambar ulang berdasarkan sketsa J. Dumarçay dalam Lombard, 2010).

214 |

Langgam Majapahit

Kita hanya bisa membayangkan seperti apa tampaknya taman-taman sari zaman Hindu Majapahit. Naskah-naskah Jawa abad XIII hingga XV menyebutkan tentang danau buatan (segaran di Trowulan, misalnya) dan balai meditasi di atas pulau buatan yang dikelilingi air. Motif-motif bunga, terutama teratai, banyak terlihat dalam karya seni rupa (gerabah dan seni ukir). Hampir semua keraton yang masih tersisa dari Mataram kedua (zaman IslamMajapahit) memiliki taman yang luas, khususnya di lokasi mata air suci. Beberapa tempat yang paling terkenal adalah Sunyaragi, milik Keraton Kanoman di Cirebon dari abad XVI, Taman Sari di Keraton Hamengkubuwono di Yogyakarta (abad XVIII) dan berbagai tempat permandian dan peristirahatan di rumah-rumah bangsawan Solo di dan sekitar Solo. Seluruh tempat tersebut berlandaskan kosmogoni Hindu dan masih difungsikan pada hari-hari penting ritual pembersihan sakral atau meditasi. Keraton Surakarta Hadiningrat masih memiliki sebuah balai meditasi di atas air yang disebut jungging dan dibangun oleh Pakubuwono II. Tempat peristirahatan lama, Pesanggrahan Langenharjo, dekat Keraton Pajang

(abad XVII) adalah tempat meditasi yang penting bagi para sultan Solo. Di sana terdapat sebuah mata air diperuntukkan bagi Kanjeng Ratu Kidul, permaisuri alam gaib semua sultan Pakubuwono dan merupakan sosok yang sangat dihormati di Jawa. Candi Tikus dari abad XIV di Trowulan, patirtan dari abad XIII di Candi Penataran di Blitar dan permandian dari abad IX di Jalatunda dan Belahan, adalah contohcontoh patirtan atau pura taman kuno yang memiliki beberapa tempat terpisah untuk mengambil air suci (tirta) dan kadang-kadang juga untuk mandi (Tirta Empul di Tampaksiring adalah contoh yang paling terkenal di Bali; dan Umbul Pengging di Jawa Tengah). Ada sebuah mata air suci di atas Candi Ceto, sebelah timur Solo, yang merupakan candi terakhir yang dibangun pada zaman Majapahit. Tempat itu sekarang telah diubah menjadi sebuah beji (pura mata air suci) bagi para umat Hindu dari Bali yang berduyun-duyun mengunjungi Candi Ceto setiap harinya. Taman dan mata air suci di Bali, yang berasal dari tradisi agung Jawa ini mencapai puncaknya pada zaman Majapahit (akan dibahas dalam Bab 6).

Atas: (searah jarum jam dari kiri atas) Taman air bale kambang dari abad XVIII milik Keraton Surakarta di Bandengan, dekat Solo, Jawa Tengah; bangunan pasca Majapahit yang di satu sisi tampak arsitektur Moorish dan di sisi lain seperti balai dengan langgam arsitektur Cina, Taman Sari di Istana Hamengkubuwono dari abad XVII adalah sebuah contoh yang bagus percampuran langgam arsitektur yang populer dalam perancangan taman di lingkungan keratonkeraton di Jawa; bangunan yang serupa di taman sari Keraton Sumenep dari abad XVIII di Madura, Jawa Timur; bale kambang Rara Denok di Keraton Surosowan, Banten Lama. Hanya inilah yang tersisa dari sebuah taman air dalam langgam Majapahit di abad XVI.

Langgam Majapahit

| 215


Bale (Rumah) Panjang P

ada bab-bab sebelumnya, penulis membahas tentang arti penting balai panjang (Bali: balé lantang) di desa-desa pegunungan masa pra-Hindu dan Hindu Bali, serta di sejumlah candi zaman Hindu-Jawa klasik. Tradisi pertemuan para pemuka desa atau pemimpin klan di balai panjang adalah suatu tradisi yang sama tuanya dengan budaya Austronesia itu sendiri. Penulis menemukan barisan panjang batu penunjang kolom balai (umpak) di beberapa lokasi seperti di dataran tinggi Dieng, dekat Candi Arjuna tepatnya (abad VII, lih. foto h.74 & 78), atau di dekat pos terdepan Majapahit di Bukittinggi, Sumatera Barat dan di Candi Bale Kambang dari abad XIII dekat Blitar. Umpak-umpak tersebut dulunya merupakan bagian dari balai panjang penting. Di Bali, balai panjang masih merupakan bagian pokok dari desa-desa Bali Aga dan Bali Mula. Pada abad XI, ketika Empu Kuturan memperkenalkan prinsip tiga pura utama (Bali: Khayangan Tiga) di sebagian besar desa-desa di Bali, balai panjang dirubah menjadi ‘pura’ dalam bentuk balé agung (balai pertemuan para dewa) dengan menambahkan pondasi tinggi (Bali: batar). Pada makam-makam penting di Jawa, kita sering menemukan balai panjang di halaman luar, yang secara umum, menjadi balai multifungsi. Dalam sejumlah kasus, balai panjang dibangun di atas barisan makam yang berfungsi sebagai naungan (seperti di Makam Poesponegoro di Gresik). Bangsal di keraton-keraton Jawa dan makam-makam zaman Islam hampir identik dengan bangunan Hindu-Bali; termasuk ukiran pada kolom-kolomnya, yang memiliki makna simbolis Hindu-Jawa. Cungkup Sultan Agung di Imogiri adalah contoh terbaik (lih. foto h.237).

Halaman sebelumnya: Aslinya, di awal abad XVI, hanya ada empat buah kolom pada serambi masjid agung di Demak, Jawa Tengah. Menurut cerita, kolom-kolom dan dasar kolomnya berasal dari bangunan tua Keraton Majapahit di Jawa Timur pada awal abad XV. Menurut Soedarmadji Damais dan para penelitian lainnya (serta bukti-bukti yang ada pada relief di dinding candi), balai/paviliun zaman Majapahit cenderung lebih rendah dibanding bangunan yang ada sekarang. Atas: Istana Sitinggil Keraton Kasepuhan dilihat dari alun-alun di depan keraton. Sebuah balai panjang beratap susun yang tidak lazim menyambut orang-orang yang memasuki halaman keraton — sebuah ciri bangunan Majapahit.

216 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 217


BALE PANJANG

ZAMAN Islam-Majapahit

Bawah: Balai bertiang enam, Bale Mayid, di teras tingkat kedua komplek Makam Sunan Gunung Jati; terlihat kotak persembahan sekar (bunga), disebut raras, diletakkan di luar.

218 |

Langgam Majapahit

Sering pula terdapat pendopo kembar yang selalu berbentuk persegi panjang di halaman dalam makam zaman Islam-Majapahit, contohnya Makam Panembahan Senopati, di Kotagede, Jawa Tengah, dan makam-makam lainnya yang dibangun dalam langgam Majapahit, misalnya Makam Sunan Kudus. Di Makam Sunan Gunung Jati dan Sunan Derajat, terdapat balai panjang bertiang enam di pelataran depannya yang digunakan untuk kegiatan upacara. Balé Rantai, yang terdapat di makam Sunan Derajat — sebuah komplek makam abad XVI yang memiliki pelataran bertingkat dengan dinding berlanggam Majapahit dan sebuah gerbang candi bentar (hanya bagian dasarnya saja yang tersisa, namun sebuah foto terkait konon ditemukan dalam arsip-arsip kolonial di Leiden) — adalah balai panjang abad XIX salinan dari bentuk yang telah ada sebelumnya. Menurut penjaga makam, balai ini awalnya merupakan hadiah dari bangsawan Gresik abad XVII, Tumenggung Poesponegoro. Dilihat dari segi bentuknya, balai ini mirip dengan balé piyasan atau paruman yang masih bisa dijumpai di banyak pura di seluruh Bali yang berfungsi sebagai tempat persembahan atau singgasana para dewa. Balé Rantai di Makam Sunan Derajat berbentuk panggung yang membungkus kolom-kolomnya — sangat tidak lazim dalam Jawa modern, tetapi tetap mencerminkan sebuah balai yang banyak tergambar pada relief candi zaman Majapahit.

Balé di Makam Sunan Gunung Jati telah dibahas sebelumnya. Kolom-kolom kayunya diukir dengan motif rantai — motif yang juga terdapat pada kolom berlanggam ukir Majapahit di depan cungkup makam abad XVII milik Sunan Prapen di Gresik, Jawa Timur (lihat foto h.249). Ukiran berbentuk rantai pada kolom balai dan arsitektur pintu melambangkan persatuan. Balai panjang yang paling terkenal, serambi Masjid Agung Demak, menurut legenda, sebenarnya adalah balai yang aslinya berasal dari Keraton Majapahit zaman Hindu. Ahli sejarah Soedarmadji Damais mencatat bahwa sebenarnya serambi tersebut hanya memiliki empat kolom dari keraton Majapahit sedangkan empat kolom lainnya ditambahkan pada saat masjid dirancang ulang di abad XIX (ketika sebagian besar masjid-masjid tradisional Jawa dirubah dari yang awalnya berlisplang atap rendah dan langit-langit rendah, cocok untuk orang duduk-duduk di lantai, menjadi suatu bentuk dengan lisplang atap yang lebih tinggi dan memungkinkan bagi orang-orang untuk duduk di kursi). Balai panjang yang digabungkan ke dalam serambi Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Cirebon masih tampil dengan proporsi yang rendah dan kekar.

Atas: (searah jarum jam dari kiri atas) Komplek makam Sunan Muria, yang dibangun di atas bukit sebelah selatan Kudus, Jawa Tengah. Cungkup makam yang sebenarnya diletakkan di antara balai kayu panjang; Balé Mayid, balai upcara bertiang enam, di teras tingkat kedua Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon; Balé Rantai di makam Sunan Drajat di Lamongan, Jawa Timur (diceritakan sebagai hadiah dari Kyai Tumenggung Poesponegoro); tampak lain dari balai tersebut yang berdiri sendiri di bagian luar. Balai ini serupa dengan balai panjang yang selalu dibuat berpasangan seperti beberapa buah di Bali utara dan daerah pegunungan di Bali atau halaman pura warga Bali Aga; balai panjang yang dihiasi dengan detil yang indah yang menyusun serambi Masjid Cirebon.

Langgam Majapahit

| 219


Gapura G

apura berasal dari bahasa Sansekerta gopuram, yang artinya pintu masuk dengan atap susun. Sejak dimulainya zaman Hindu di Indonesia sudah ada gapura dan candi bentar. Gapura yang menjulang yang dimiliki candi-candi zaman Hindu-Majapahit, seperti Candi Bajang Ratu dan Candi Wringin Lawang di Trowulan adalah dua gapura yang paling diakui sebagai ikon arsitektur zaman Majapahit. Tradisi ornamentasi yang eksotis berlanjut hingga zaman Islam-Majapahit dengan langgam gapura yang serupa dari zaman Hindu untuk kemudian diadopsi sebagai gerbang menuju makam raja-raja dan keraton. Bata merah berlanjut pemakaiannya; batu kapur dan karang lebih populer di daerah pesisir. Banyak gapura dari abad pertama zaman Islam-Majapahit — khususnya gapura-gapura di Makam Sendang Duwur (lih. h.176-177), Makam Ki Ageng Pandanarang, di makam raja-raja Imogiri dan gapura apit di keraton-keraton Cirebon — memperlihatkan kecakapan artistik dan pengaturan proporsi yang luar biasa. Dua tradisi ini terbawa hingga ke Bali saat zaman Hindu modern.

Atas: Foto awal abad XX dari pintu gerbang menuju Keraton Surakarta, Solo, Jawa Tengah (abad XVII). Halaman berikutnya: Gerbang bagian dalam pada komplek Makam abad XVII dari Kanjeng Kyai Tumenggung Poesponegoro di Gresik, awalnya berupa taman sari seorang penguasa beragama Hindu. Di sisi ukuran dan langgam arsitektur makam ini serupa dengan sebuah pura di Bali pasca zaman Majapahit. Pekerjaan batu bata dan ornamen ukir yang menarik menjadi fitur yang menonjol dari seluruh gapura pada Makam Tumenggung Poesponegoro di Gresik, Jawa Timur.

220 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 221


GAPURA

ZAMAN Islam-Majapahit

Dalam beberapa kasus, candi bentar zaman Hindu dibentuk menjadi gapura saat periode Islama (contohnya, Makam Troloyo di Trowulan atau gapura Masjid Agung di Cirebon). Sebuah gapura bata merah yang sangat eksotis bagian dari masjid abad XVI di sebelah Makam Sunan Kudus, sekarang berada di tengahtengah masjid art deco masa kolonial modern awal (lihat kumpulan foto halaman sebelumnya di baris bawah, kedua dari kanan). Dalam banyak kasus, pintu-pintu kayu pada gapura diukir sangat detail dengan motif zaman Islam-Majapahit. Yang paling populer dari motif-motif ini adalah medali berbentuk belah ketupat vertikal, berkembang menjadi bagian penting dalam ukiran pintu Jawa dan Bali hingga hari ini.

Kiri: Beragam gerbang istana dan makam di masa Islam-Majapahit dari abad XVI dan XVII. (baris pertama, dari kiri) Makam Panembahan Senopati, Kotagede Jawa Tengah; ditto; ditto; ditto; Imogiri Royal Tomb; Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah. (baris kedua, dari kiri) Makam Sunan Sendang Duwur, Jawa Tengah; Makam Siti Fatimah binti Maimun; Makam Air Mata, Bangkalan, Madura, Jawa TImur; makam raja-raja di Imogiri; Makam Ki Ageng Pandanaran, Klaten; Makam Sunan Maulana Malik Ibrahim, Gresik.

Gapura Makam Sunan Giri di Gresik (foto tahun 1930, Claire Holt)

(baris ketiga, dari kiri) Keraton Kasepuhan, Cirebon; Makam Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur; Makam Ki Ageng Pandanaran, Klaten, Jawa Tengah; ditto; Makam Tumenggung Poesponegoro, Gresik. (baris keempat, dari kiri) Gerbang menuju makam Ratu Kalinyamat, Mantingan, Jawa Tengah; ditto; Makam Sunan Kudus di komplek Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah; gerbang tua menuju masjid di Makam Sunan Kudus.

Java

222 |

Langgam Majapahit

Gapura utama menuju Makam Sunan Bonang, dekat Tuban, Jawa Timur (foto oleh Muh. Sirojul Munir di Flickr)

Bali Langgam Majapahit

| 223


Masjid atau Bangunan Kayu Beratap Susun

“Masjid-masjid yang paling awal dibangun pada pertengahan abad kelima belas dan seterusnya, meskipun ada acuan yang lebih awal tentang masjid-masjid di ibukota Majapahit abad keempat belas. Sayangnya belum ditemukan masjidmasjid awal di Jawa dan struktur (bangunan) tertua dari abad XVI.” — H.J. de Graaf, The Origin of the Javanese Mosque, Journal of Southeast Asian History, 1963

Halaman sebelumnya: Masjid dari kayu dari abad XX di Makam Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur. Atas: Lukisan di atas kaca dari awal abad XX tentang sebuah masjid Jawa klasik di abad XIX.

224 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 225


MASJID/BANGUNAN KAYU BERATAP SUSUN

ZAMAN Islam-Majapahit

Atas: Gambar rekaan, mungkin dibuat oleh seniman Belanda atau Portugis tentang permukiman warga keturunan Tionghoa di Jepara pada abad XVIII. Tradisi pemakaian atap berciri Cina yang ppuler pada masa Majapahit berlanjut sepanjang zaman Islam. Bawah: (kiri) Masjid Agung Demak, foto tahun 2013; (kanan) Cungkup makam Sunan Kalijaga. Halaman berikutnya: Masjid tua berbahan kayu di Samarinda, Kalimantan Timur, tidak dipungkiri lagi terinspirasi dari pagoda-pagoda di Cina dan masjid-masjid kayu di Jawa.

Contoh terbaik sebuah masjid tradisional Jawa berangka kayu adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang dibangun tahun 1480 (lih. foto h.228). Masjid-masjid lain dapat ditemukan berdampingan dengan makam-makam Wali Songo dan keturunan mereka, terutama di Masjid Sunan Ampel, Masjid Sunan Derajat (foto h.224), Masjid Mantingan (yang juga merupakan lokasi makam Ratu Kalinyamat1) dan masjid tua dekat kompleks makam Sunan Gunung Jati. Penulis berandai-andai jika tradisi membangun sebuah masjid agung berdampingan dengan makam-makam penting memiliki kaitan dengan tradisi zaman Hindu berupa pura beraliran Siwa (prajapati atau pura dalem) dibangun dekat lokasi kremasi. Pertanyaan menarik lainnya adalah, apakah langgam arsitektur semua masjid tradisional Jawa diturunkan dari masigit (masjid) di Majapahit yang disebutkan dalam manuskrip abad XV? Kecenderungannya masjid-masjid tersebut didanai oleh tokoh penting yang berniat untuk dimakamkan di bawah naungan (masjid-masjid) tersebut, seperti Masjid Agung Demak dan Raden Patah, atau dibangun untuk menampung para peziarah yang mengunjungi makam-makam suci, sebagaimana halnya dengan Masjid Sunan Ampel. 1

226 |

Langgam Majapahit

Putri Sultan Trenggana, raja terakhir Demak.

Langgam Majapahit

| 227


ZAMAN Islam-Majapahit

MASJID/BANGUNAN KAYU BERATAP SUSUN Masjid kayu tradisional beratap susun di Jawa mungkin berasal dari bangunan wantilan (balai beratap susun) zaman Hindu. Sejumlah ahli berpendapat bahwa bangunan seperti itu adalah bentuk Austronesia kuno, tetapi tidak cukup bukti yang mendukung hal ini. Tentu saja proporsi masjid-masjid Jawa identik, dan fungsi ritualnya sama seperti balé wantilan di Bali saat ini, khususnya wantilan-wantilan di desa-desa pegunungan — beberapa pura masih memiliki dua atap susun sederhana, serupa dengan cungkup di Jawa. Susunan atap yang lebih banyak tampak pada bangunan-bangunan masjid, biasanya bersusun tiga, serupa dengan sejumlah wantilan di Bali dan beberapa cungkup, misalnya cungkup Sunan Kalijaga di Demak, Jawa Tengah (lih. foto h.226). Susunan atap paling atas pada bangunan masjid tradisional Jawa sering kali ditopang oleh kolom-kolom kayu raksasa, yang salah satunya menjadi kolom utama atau soko guru. Berbagai upacara zaman Hindu atau pra-Hindu digelar di soko guru ini selama pembangunan masjid atau pada peringatan hari jadinya. Ada banyak mitos yang dikaitkan dengan soko guru: sebagian besar dikaitkan dengan kesuburan dan kekuatan. Kadang kolom tersebut dilapisi dengan kain suci. Pondasi tinggi adalah hal lain yang menonjol dari sebagian besar bangunan beratap susun — secara umum lebih mencerminkan ciri arsitektur Austronesia daripada Majapahit khususnya — begitu pula dengan lisplang atap dekoratif dan puncaknya yang disebut mustaka (lihat bagian berikutnya). Sejumlah masjid yang lebih tua di Jawa memiliki ukiran yang mirip dengan jali zaman Moghul India, berbeda dengan arsitektur dan ukiran pada panel-panel dinding cungkup yang lebih berlanggam Hindu-Jawa. Kajian lebih mendalam tentang bangunan-bangunan indah ini, yang dikategorikan sebagai ‘spesies’ yang terancam, sudah tertunda cukup lama.

Kanan atas: Pintu ukir berdaun dua dan dicat yang terdapat di Museum Masjid Agung Demak, Jawa Tengah, disebut-sebut aslinya berasal dari Keraton Majapahit setelah runtuhnya Majapahit di pertengahan abad XV. Kiri: Tradisi dekoratif dalam masjid zaman Islam-Majapahit. (searah jarum jam dari kiri atas) Singgasana berukir yang luar biasa ini, disebut berasal dari Keraton Majapahit di Jawa Timur yang ‘didaur-ulang’ menjadi mimbar dalam Masjid Agung Demak. Ukiran dan bentuknya menjadi inspirasi bagi masjidmasjid di seluruh Asia Tenggara; foto bagian dalam sebuah masjid abad XVII milik suku Sasak di Lombok; detil kolom dan balok bangunan balai di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Cirebon; pintu dari masjid kuno di Mantingan, Jawa Tengah, dipercaya merupakan ukiran hasil karya seniman Cina yang legendaries, Liem Mo Han; ukiran pada balok lintel pintu utama menuju masjid; bagian dalam masjid tua di Cirebon, Jawa Barat. Langgam ukirannya tampak hampir mirip dengan Khmer. Bagian lengkung berukir di atas mimbar dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Cirebon, menampilkan motif utama berupa Surya Majapahit motif

228 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 229


Mustaka P

uncak atap dekoratif sudah menjadi bagian dari atap balai di seluruh Asia selatan sejak Zaman Neolitik, kemungkinan mencapai puncaknya dengan kedatangan bentuk-bentuk meru atau pagoda dari India dan China. Puncak atap atau mustaka yang kaya hiasan dapat dijumpai pada balai kayu beratap susun di Bali dan Jawa saat ini — pada bangunan masjid-masjid tradisional Jawa dan bangunan altar pemujaan di Bali — mungkin berawal dari zaman Islam-Majapahit. Mustaka-mustaka ini diilhami oleh bentuk simpul di puncak candi zaman Hindu-Majapahit, mungkin dengan sejumlah pengaruh dari Asia Tengah. Di Bali kini (2013), ada semacam kerancuan mode dengan menempatkan mustaka (Bali: murda) bermotif warna merah dan emas di atas atap ijuk.

Halaman sebelumnya: Dua bagian atap teratas dari Masjid Agung Banten (mustaka atau bagian puncak atap disebut-sebut sebagai hadiah dari Sunan Gunung Jati dari Cirebon). Atas: Koleksi kuno mustaka dalam museum Keraton Kasepuhan — dari sisi bentuknya tampak jelas ciri khas Cirebon-Majapahit.

230 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 231


MUSTAKA

ZAMAN Islam-Majapahit

Ini bukan bagian dari gerakan kebangkitan Majapahit, melainkan sebuah pengaruh buruk dari pengemong pura dan perajin dengan selera yang buruk. Hiasan yang terlalu ramai akan selalu begitu adanya. Mustaka pada masjid Jawa dan cungkup, khususnya, dibuat dengan halus dan anggun. Mustaka di Cirebon cenderung menampilkan langgam ‘Jawa-rococo’, dan agak mirip dengan ornamen patung terakota Majapahit abad XIV.

Kanan atas: Koleksi mustaka di Museum Jawa Tengah memperlihatkan pengaruh yang jelas dari Asia tengah atau Timur-Tengah (foto dari buku Wali Songo Pilgrimage oleh Sjamsuddin, Bullough dan Mujiyono, 1992) Halaman ini dan sebelumnya: Ornamen atap berupa mustaka pada beberapa cungkup-cungkup makam di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Foto di kiri atas adalah sebuah mustaka dari abad XVII di museum Masjid Agung Demak, Jawa Tengah memperlihatkan pengaruh yang sangat jelas dari Asia tengah atau Timur-Tengah.

Java

Bali

Foto kedua serupa dengan koleksi yang dimiliki Soedarmadji Damais, kemungkinan sebuah peninggalan dari abad XVI seperti yang tergabung dalam gabungan foto di kiri (foto kanan bawah)

232 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 233


Cungkup C

ungkup adalah bangunan yang menyerupai kubah (ruang makam) yang menjadi ‘rumah’ bagi makam-makam (wali songo) penting di Jawa. Berdoa, atau bermeditasi di dalam ruang suci tertutup ini adalah tujuan pokok para peziarah dalam kunjungan ke makam-makam penting itu. Penulis beranggapan bahwa langgam dari sebagian besar cungkup abad XVI — seringkali penuh dengan hiasan, khususnya makam-makam Wali Songo — berangkat dari model arsitektur ‘balai tertutup’ di zaman Hindu. Cungkup berasal dari bahasa Jawa ‘melapisi atau menutup’. Bangunan-bangunan itu pada dasarnya berupa balai kayu tradisional dengan dinding kayu atau bata (seringkali, nonbeban) di atas pondasi dekoratif. Di sejumlah pura Bali kuno (Pura Batur, Kintamani dan Pura Puser Terunyan) dan berbagai pura zaman Majapahit di Bali (Pura Panembahan Badung dan Pura Maospahit di Denpasar dan di Pura Payogan Agung, Ketewel) tokoh-tokoh puri masih berdoa di dalam balai yang menyerupai kubah, disebut gedong, dengan altar khusus tempat arwah-arwah suci, seperti halnya pada kuil-kuil Cina. Sebagian besar cungkup makam Wali Songo memiliki pintu yang diukir dengan sangat detail dalam langgam Majapahit, seringkali dengan motif Asia tengah berbentuk belah ketupat (medali) pada bagian tengah pintu. Bentuk ini bertahan sejak abad XVI hingga kini pada pintu-pintu penting di Jawa dan Bali.

Halaman sebelumnya: Cungkup makam Raden Trenggana, saudara laki-laki sultan pertama Demak, ditemukan dalam pemakaman yang ada di belakang Masjid Agung Demak. Atas: Sesi doa Jumat pagi di cungkup makam Sultan Agung, pendiri dinasti Islam-Mataram di awal abad XVII (gambar oleh Peter Kingston).

234 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 235


CUNGKUP

ZAMAN Islam-Majapahit Kanan: Cungkup makam raja-raja Cirebon di masa lalu pada teras bagian paling atas di Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon Bawah: Empat makam penting zaman IslamMajapahit (searah jarum jam dari kiri atas) Makam penguasa pertama Tana Lawu, Sulawesi Selatan yang ada di Palopo; makam seorang Muslim pertama, Datu dari Palopo yang dibangun dalam langgam Sulawesi Selatan tetapi dengan sentuhan Jawa-Majapahit; tampak samping dari cungkup makam Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur; foto dari awal abad XX tentang cungkup makam Sunan Amangkurat I (wafat 1677) dengan undak-undakan yang unik di Tegalwangi, Jawa Tengah.

Cungkup makam Siti Fatimah dekat Gresik, Jawa Timur, dibangun bukan dalam langgam arsitektur setempat yang sepertinya mempengaruhi dalam pembuatan cungkup makam di Gresik selama bebeapa generais (Abad XI)

Contoh paling tua dari ‘motif Persia’, sebutan yang sering penulis gunakan, adalah Masjid Hadlirin di Mantingan, Jepara, masjid tertua kedua di Jawa. Motif yang tampak pada dinding bagian barat di banyak masjid abad XVI dan XVII di seluruh Asia Tenggara sering berupa keramik berwarna, seperti yang ada di Masjid Agung Demak, atau bahkan dalam bentuk jendela kecil di atas pintu, seperti yang ada di Masjid Tua Palopo dari akhir abad XVI, di Sulawesi Selatan (lih. foto h.210). Di Masjid Mantingan banyak bentuk medali diukir pada batu kapur dari abad XVI — semuanya dengan percampuran bentuk Asia tengah dan Hindu-Jawa. Motif-motif ini masih terjaga pada posisi aslinya di tembok depan masjid, berkat

Cungkup makam Siti Fatimah dekat Gresik, Jawa Timur, dibangun bukan dalam langgam arsitektur setempat yang sepertinya mempengaruhi dalam pembuatan cungkup makam di Gresik selama bebeapa generais (Abad XI)

peran arsitek Belanda yang mengawasi rekonstruksi tahun 1936 (lihat segmen Dekorasi untuk penjelasan yang lebih lengkap). Selama berabad-abad, medalimedali asli tersebut — pertama kali diukir tahun 1557 M di atas batu yang diimpor dari Macau — telah banyak ditiru, dengan contoh yang paling terkenal ada di cungkup Sunan Derajat, Sunan Prapen dan Sunan Giri (Gresik).

Above: Sebuah foto Makam Sunan Derajat dari sebelum tahun 1935 (dari sudut yang agak tertutup) memperlihatkan paduraksa tinggi dengan langgam Hindu. Kiri: Sebuah sudut belakang balai cungkup makam Sultan Agung di Imogiri, Yogyakarta. Kiri jauh: Cungkup makam Sunan Giri di Gresik, Jawa Timur. Ukiran yang ada berasal dari abad XIX.

236 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 237


Dekorasi B

ukti-bukti menunjukkan tren dekoratif Majapahit yang penuh imajinasi dan luar biasa sedikit terpengaruh oleh perubahan agama yang terjadi. Kerajaan runtuh, tetapi seniman dan pekerja seni tetap melanjutkan tren dekoratif Hindu-Jawa klasik — penerapan motif-motif simbolis yang romantis, terutama pada ukirannya — dan bentuk-bentuk arsitektur sebelumnya, sebagaimana para pendeta kerajaan melanjutkan perannya dalam memastikan ritual dan upacara keraton yang lama tetap dilaksanakan. Hasilnya adalah sebuah langgam dekorasi zaman Islam-Majapahit yang baru tetapi mudah dikenali, memanfaatkan motif yang populer pada zaman Hindu, misalnya teratai, medali bermotif piramida berundak, simbol mistis berbentuk gunungan, balai meditasi, sayap garuda, dan boma, walaupun seringkali dalam bentuk yang penuh motif. Medali-medali berukir berupa cakram bundar yang terdapat di Borobudur dan Candi Penataran sekarang muncul sebagai bentuk Asia tengah atau Persia (lihat gambar di bawah) yang seringkali diperindah dengan suasana Hindu-Jawa masa lalu.

Halaman sebelumnya: Balok lintel berukir dan bersusun yang sangat menarik pada gerbang teratas menuju halaman cungkup makam Sunan Gunung Jati. Terlihat diantara detil ukirannya adalah Surya Majapahit (lambang Kerajaan Hindu Majapahit berupa sebuah matahari), kepala kala (kirtimukha/ seringai keagungan) dan disamping itu adalah pinggiran bermotif Cina klasik yang dapat ditemukan di seluruh bagian makam ini. Atas: Elemen dekorasi abad XVI dalam bentuk medali pada dinding masjid agung Mantingan, dekat Jepara, Jawa Tengah, dirancang oleh arsitek besar dari Asia tengah, Babah Liem Mo Han. Material batu didatangkan dari Asia tengah, sebagaimana halnya dengan para pemahatnya. Panel ini penuh dengan corak zaman Hindu seperti: balai meditasi, gapura apit dan hutan suci.

238 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 239


DEKORASI

ZAMAN Islam-Majapahit

Right and below: Various views of the magnificent early 19th century Palembang-style carving on the cungkup of Sunan Gunung Jati at Gresik.

240 |

Langgam Majapahit

Gerbang menuju cungkup Sunan Sendang Duwur di Sendang Duwur, Lamongan, Jawa Timur, adalah salah satu keajaiban seni dekoratif Jawa. Dengan ikonografi yang rumit dan mewakili semua tren dekorasi dalam arsitektur candi HinduJawa selama berabad-abad (lih. foto h.176-177). Bentuk mirip sayap garuda besar mengapit motif boma di atas gerbang yang dibingkai dengan motif kijang Majapahit. Selama abad XIV dan XV, tradisi dekorasi Majapahit yang luar biasa, meskipun dengan bukti yang terbatas, berlanjut pada ukiran-ukiran indah pada cungkup makam-makam Wali Songo. Banyak dari ukiran-ukiran ini — khususnya di Makam Sunan Derajat dan Makam Sunan Giri dari abad XVII di Jawa Timur — meniru ukiran-ukiran dari masjid abad XVI di Mantingan, Jawa Tengah. Banyak cungkup yang penting, khususnya cungkup-cungkup sunan melanjutkan tradisi Hindu dengan menempatkan motif singa Cina yang saling berhadapan pada dinding-dinding kayunya. Kita bisa menjumpainya di Makam Sunan Giri dan cucu laki-lakinya Sunan Prapat, dan di Makam Sunan Derajat. Naga muncul dalam bentuk patung batu di luar candi bentar utama komplek Makam Sunan Giri dan Sunan Sendang Duwur. Motif singa duduk juga populer sebagai figur untuk mengapit sesuatu (lih. foto h.244-245). Semua tren ini berlanjut

hingga hari ini di Jawa, terlihat dari pancuran naga dan patung seorang putri menjunjung wadah air di kepalanya) tetap populer. Di Bali, singa bersayap dan naga hijau dapat dilihat dimana mana. Tradisi dekoratif ini berasal dari zaman pra-Majapahit ketika tradisi dekoratif Khmer dan India selatan juga diserap. Motif lain yang banyak terdapat pada ukiran-ukiran zaman Islam-Majapahit adalah gunung dan hutan, yang melambangkan kepercayaan mistis yang masih sangat populer pada abad XVI dan XVII. Para penganut mistis Hindu yang sudah beralih ke agama Islam masih tetap melanjutkan tradisi menyepi ke tengah hutan di akhir sisa hidup mereka untuk mencapai pencerahan spiritual. Praktek seperti ini berlanjut hingga hari ini di Jawa, dengan semakin populernya kegiatan ziarah ke makam-makam Wali Songo (dalam bentuk ritual Hindu, nyekah, versi Islam-Jawa). Di Bali semua ritual penting penyucian arwah — disebut dengan sradha dalam naskah-naskah zaman Majapahit — tetap dilanjutkan dan disebut dengan nyekah. ‘Motif Persia’ ditafsirkan dalam bentuk cermin oleh ahli Belanda, Van der Hoog (1949: 316). Cermin dalam kepercayaan Sufi melambangkan sebuah benda yang sering dipakai untuk menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan; hubungan antara dunia nyata dan dunia tidak nyata.

Atas: (searah jarum jam dari kiri atas) Ukiranukiran ini — yang sangat terlihat ciri Bali utaranya — disebut-sebut sebagai pengganti ukiran asli abad XVI pada cungkup makam tersebut yang akhirnya dipindahkan ke cungkup makam Sunan Prapen, cucu Sunan Giri yang terletak di bukit tak jauh dari tempat ini. (fotofoto pada halaman berikutnya).

Langgam Majapahit

| 241


DEKORASI

ZAMAN Islam-Majapahit

Aksen Putih dan Krem Arsitektur Zaman Islam Majapahit

b

a

c

d

Enam dari panel di Mantingan memiliki relief pada kedua sisi, yang menunjukkan bagaimana Mantingan dibangun selama masa transisi antara zaman Hindu dan Islam. Yang mengagumkan adalah banyak cungkup dari abad XVI masih lestari dalam bentuk aslinya hingga sekarang, lengkap dengan patung-patungnya. Patung singa — pengaruh yang masih menjadi tanda tanya apakah dari Sri Lanka atau Khmer atau Sriwijaya — dan patung naga sering digunakan sebagai elemen pengapit pintu. Pada banyak cungkup, langgam Majapahit sangat kentara sekali pada ukiran dan bahkan pada arsitektur balai, yang mirip dengan bentuk balai yang tergambar pada ukiran candi abad XIII. Balai-balai tersebut, seringkali dengan atap bersusun, mungkin merupakan salah satu dari beberapa peghubung antara balai kayu zaman Majapahit dan arsitektur balai di Jawa dan Bali kini. Candi Hindu berbahan batu dari abad XIII, dekat Blitar disebut dengan Candi Cungkup. Penulis menganggap ini hanya sebutan populer karena bentuknya memang mirip dengan cungkup Islam. “Kombinasi simbol Cina dan Jawa menunjukkan bahwa keraton adalah tempat mistis yang dihuni oleh seorang raja, yang memperoleh kekuatan spriritual yang luar biasa lewat meditasi dan praktek kebatinan. Motif awan juga memberi petunjuk tentang ‘keraton terbang’ yang ditemukan dalam seni pra-Islam di Jawa Timur. Tidak ada keraton zaman Majapahit yang masih bertahan, meskipun demikian, candi-candi seperti pusat tempat suci di Candi Panataran, melambangkan keraton surgawi yang melayang di udara. Dalam seni pra-Islam hal ini ditunjukkan dengan barisan garuda (burung sakti menyerupai elang), yang mendukung istana Dewa Indra, penguasa kayangan di Gunung Meru. Keraton Kasepuhan memperkuat gagasan ini, namun menuangkannya dalam konfigurasi simbolis baru, dengan memasukkan kaidah Jawa tentang gua, yang mengacu pada tempat tinggal raja yang terkait dengan pencapaian spiritual yang tinggi dan motif awan dari Cina.” — J. Bennett, Crescent Moon, Islamic Art and Civilization in Southeast Asia, 2005

e

j

242 |

Langgam Majapahit

f

k

g

l

h

m

i

n

Kiri: (A) Makam Siti Fatima, Gresik; (B) Istana Sitinggil Keraton Kanoman, Cirebon; (C) Pintu menuju Makam Sunan Gunung Jati; (D) Cungkup di Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon; (E) Dekorasi dinding di Makam Pusponegoro, Gresik; (F) Dekorasi dinding di Makam Pusponegoro, Gresik; (G) Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Cirebon; (H) Masjid istana, Keraton Kanoman, Cirebon; (I) Makam istri Sunan Gunung Jati; (J) Dinding samping di cungkup makam Sunan Derajat, Lamongan, Jawa Timur; (K) Cungkup di Makam Sunan Prapen; (L) Cungkup di Makam Sunan Prapen; (M) Dinding dekorasi di Makam Sunan Gunung Jati; (N) Dinding samping di cungkup makam Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur.

Langgam Majapahit

| 243


DEKORASI

ZAMAN Islam-Majapahit

Ukiran Kayu

Ada beberapa contoh ukiran kayu zaman Majapahit yang masih lestari. Pintu keraton lama di museum Masjid Agung Demak, kolom berukir pada serambi masjid yang sama dan benda-benda berharga di tempat lainnya. Namun kita belum bisa menarik kesimpulan berdasarkan hal-hal ini. Jika kita berasumsi bahwa sebagian besar ukiran kayu zaman Islam-Majapahit awal serupa dengan ukiran zaman Majapahit akhir, seperti tampak pada banyak peninggalan ukiran batu, maka kita memiliki sebuah kesinambungan pola ukiran yang masih ditemukan di Bali dan Jawa saat kini (tentu saja lebih banyak di Bali karena penggunaan unsur-unsur kayu tetap berlanjut di pura dan rumah tinggal). Foto-foto pada halaman berikutnya menunjukkan serangkaian ukiran, yang konon berasal dari abad XVI dan XVII akhir. Banyak di antaranya yang memperlihatkan persamaan dengan aliran dekoratif Bali (baca segmen Dekorasi untuk pembahasan lebih lanjut). Ada kemungkinan bahwa selama masa pelarian orang-orang Hindu Jawa ke Bali, pada dekade-dekade akhir jaman Majapahit, para pemahat membawa tradisi dekoratif ke tempat baru yang mendukung tradisi mereka. Para pekerja seni yang tetap tinggal di Jawa dan berpindah ke agama Islam menikmati periode pemerintahan kesultanan di awal Kerajaan Mataram kedua yang memberikan perlindungan bagi mereka, disusul dengan periode keruntuhannya ketika tradisi Majapahit Jawa Timur diserap ke dalam tradisi dekoratif Jawa Tengah (pasca-Sailendra?) yang mendominasi.

Kanan: Ukiran kayu dalam langgam Majapahit dari zaman Islam (searah jatum jam dari kiri atas) Dua foto pertaman, ukiran di Makam Sunan Prapen; Ukiran naga (abad XVI) pada cungkup makam Sunan Giri yang asli (sekarang ditempatkan di makam cucunya, Sunan Prapen); (dua foto selanjutnya dalam baris di bawah) ukiran naga pada kereta Singa Barong dari Keraton Kanoman; Lawang Majapahit (di daerah Pati, sebenarnya bukan berasal dari zaman Majapahit); ditto; Masjid Agung Banten; Makam Sunan Drajat; ditto; tiga foto terakhir dari Makam Sunan Prapen.

Bali

244 |

Langgam Majapahit

Jawa Langgam Majapahit

| 245


DEKORASI

ZAMAN Islam-Majapahit

Ukiran Batu Dalam suatu periode yang singkat, sebutlah dari 1550 M hingga 1650 M, ukiranukiran batu dan kayu di komplek-komplek makam penting dipenuhi dengan ikonografi Hindu: wakala (sosok seram), sayap garuda (Sendang Duwur), kisah Ramayana (Mantingan), balai meditasi, kala (atau boma, wajah menyeringai), gapura apit dan hiasan dekoratif zaman Majapahit lainnya. Contoh-contoh ukiran batu ini bisa disimpulkan berasal dari zaman pasca Majapahit, terutama ukiran-ukiran batu kapur di pesisir utara Jawa. Ukiran-ukiran kayu, dengan beberapa perkecualian, cenderung sebagai produk ulangan pada abad-abad berikutnya. Ukiran-ukiran batu mewakili ‘petunjuk’ penting terkait langgam-langgam dekoratif dalam tradisi ukiran zaman Majapahit akhir. Pada halaman ini, sebuah koleksi kecil memuat beberapa ukiran-ukiran batu dengan motif-motif Hindu pada gapura dan dinding zaman Islam-Majapahit hasil pilihan penulis.

Kiri: Ukiran batu dalam langgam Majapahit dari masa Islam (searah jarum jam dari kiri atas) Makam Sunan Sendang Duwur; ditto; Makam Ki Ageng Pandanarang; Makam Sunan Prapen; ditto; Masjid Agung Banten; Makam Air Mata, Madura, Jawa Timur; Masjid Agung Sultan Hadlirin, Mantingan, Jawa Tengah; Makam Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur; Makam Sunan Kudus, Jawa Tengah; empat foto berikutnya dari Makam Sunan Sendang Duwur; ukiran batu terakhir berlokasi di komplek makam Kyai Tumenggung Poesponegoro. Kiri Jauh: Museum Masjid Mantingan, Jepara (peninggalan di Makau) memperlihatkan balok bangunan dari bahan batu kapur yang asli dari masjid kedua yang berdiri dengan langgam Islam-Majapahit.

Central Java

246 |

Langgam Majapahit

East Java

Kiri: Pilar banggunan dari masa Majapahit (abad XIV) kemungkinan bagian dari koleksi Maclaine-Pont di daerah Trowulan (foto dari buku The Legacy of Majapahit oleh J. Miksic)

Langgam Majapahit

| 247


DEKORASI

ZAMAN Islam-Majapahit

Motif Dekoratif Penting dalam Arsitektur Zaman Islam-Majapahit Gunungan (MOTIF PEGUNUNGAN)

MOTIF CINA UNTUK LIS

Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat

Makam Sunan Kudus, Jawa Tengah

Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat

Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat

Makam Sunan Prapen, Gresik, Jawa Timur

Makam Ki Ageng Pandarang, Jawa Tengah

Makam Sunan Gunung Jati, Jawa Barat

Makam Sultan Hadlirin, Mantingan, Jawa Tengah

‘Rantai’ PERLAMBANG PERSATUAN

Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Cirebon

248 |

Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat

Langgam Majapahit

Makam Sunan Prapen, Gresik, Jawa Timur

Makam Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur

MOTIF PANEL YANG POPULER

Makam Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur akhir abad XVI

MOTIF PERDU YANG POPULER MELAMBANGKAN ‘PENYEBARAN ILMU’

Kereta Singa Barong, Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat (abad XIII)

Makam Sunan Sendang Duwur, Paciran, Lamongan, Jawa Timur (abad XVI)

Makam Sunan Sendang Duwur, Paciran, Lamongan, Jawa Timur (abad XVI)

Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat abad XVII

TERATAI

Panel batu kapur bermotif teratai di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Cirebon, Jawa Barat

Ukiran kayu bermotif teratai pada dinding cungkup Makam Sunan Gunung Jati Cirebon, Jawa Barat

Panel batu kapur bermotif Ukiran kayu bermotif teratai di Masjid Sultan teratai pada dinding Hadlirin, Mantingan, Jepara, cungkup Makam Sunan Jawa Tengah (Makam Ratu Drajat, Paciran, Kalinyamat) abad XVI Lamongan, Jawa Timur (akhir abad XVI)

Langgam Majapahit

| 249


BATU NISAN

ZAMAN Islam-Majapahit

Batu Nisan Nigel Bullough mengungkapkan teori bahwa batu-batu pada pelinggih (altar pemujaan) di Gunung Penanggungan ‘mengilhami’ desain batu nisan zaman IslamMajapahit, sesuatu yang dianggap masuk akal oleh seorang sejarawan seni. Batu nisan Muslim di Jawa abad XVI menampilkan banyak lekukan dan keindahan zaman Majapahit. Sejumlah makam raja memiliki sentuhan Majapahit, dalam bentuk Surya (matahari) dan juga tulisan Islam di sisi sebaliknya. Menarik untuk dicatat, batu nisan dari abad XVII yang ditemukan pada cungkup raja di Makam Tua Palopo, Sulawesi Selatan, mirip dengan langgam pada batu nisan abad XVI akhir di Jawa Tengah. Hal ini semakin membuktikan kemasyuran langgam Jawa di seluruh nusantara pada masa awal perkembangan Islam. Tentu saja langgam yang muncul pada singgasana Majapahit banyak ditiru pada altaraltar mimbar masjid di Asia Tenggara dan mustaka pada bangunan-bangunan masjid begitu pula halnya dengan ukiran-ukiran pada dinding cungkup dan pada sejumlah masjid, seperti Masjid Hadlirin di Mantingan, yang merupakan masjid tertua kedua di Jawa. Para sejarawan seni akan sangat tertarik untuk mengetahui kesinambungan dalam langgam ukiran pada batu-batu altar pemujaan zaman Majapahit akhir melalui batu nisan dari abad XVI, khususnya, yang tampak pada langgam ukiran komplek makam itu sendiri.

Halaman ini dan berikutnya: Batu nisan dari berbagai pemakaman zaman Islam-Majapahit yang tersebar di Jawa dan Madura.

Batu nisan ini — milik seorang pangeran Muslim pertama dari Majapahit di Makam Troloyo, Trowulan, Jawa Timur — bertuliskan huruf Jawa kuno (Majapahit-Hindu) dan juga Arab. Tulisan Jawa kuno diterjemahkan oleh L.C. Damais di tahun 1936.

250 |

Langgam Majapahit

Langgam Majapahit

| 251


Zaman Islam-Majapahit Keraton Kaibon, Banten

Entrance to minaret, Masjid Agung, Banten

Masjid Agung, Banten

Masjid Menara Kudus

Makam Ratu Kalinyamat, Jepara

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Agung Demak

Makam Sunan Kalijaga, Demak

Makam Sunan Kudus

Makam Sunan Gunung Muria

Makam Sunan Drajat, Lamongan

Makam Sunan Sendang Duwur

Jepara

Sumenep Bangkalan

Kudus Cirebon

Lamongan

Demak

Makam Putri Campa, Trowulan Gresik Trowulan

Klaten

Asta Tinggi, Sumenep

Yogyakarta

Keraton Kasepuhan, Cirebon

252 |

Langgam Majapahit

Keraton Kanoman, Cirebon

Gua Sunyaragi, Cirebon

Komplek Buyut Trusni, Cirebon

Masjid Merah Panjunan, Cirebon

Makam Imogiri, Yogyakarta

Makam Ki Ageng Pandanarang, Klaten

Makam Panembahan Senopati, Yogyakarta

Makam Ki Ageng Pandanarang, Klaten

Makam Aer Mata, Bangkalan

Makam Raja Bangkalam

Makam Agung, Bangkalan

Makam Sunan Prapen, Gresik

Makam Sunan Giri, Gresik

Makam Maulana Malik Ibrahim

Langgam Majapahit

| 253

05 islam majapahit (p164 p253)  
05 islam majapahit (p164 p253)  
Advertisement