Issuu on Google+

NOVALYANI WINARNO

HADITS KEPEDULIAN SOSIAL NOVALYANI WIN ARNO


A.PENDAHULUAN Hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an. Penerimaan hadis sebagai sumber ajaran dan hukum Islam adalah merupakan realisasi dari iman kepada Rasulullah SAW dan dua kalimat syahadat yang diikrarkan oleh setiap muslim, selain karena dari fungsi hadis itu sendiri yaitu sebagai penjelas dan penafsir terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum : Penjabaran dan petunjuk pelaksanaan dari ayat-ayat Al-Qur’an, terutama yang menyangkut tata cara pelaksanaan berbagai ibadah yang disyari’atkan di dalam Islam; dan sebagai sumber hukum dalam penetapan dan perumusan hukum, khususnya terhadap masalah-masalah yang dibicarakan global oleh Al-Qur’an, atau permasalahan yang tidak dibicarakan sama sekali hukumnya oleh Al-Qur’an. Ketika menghadapi suatu permasalahan cara penyelesaian seseorang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnnya. Masalah yang di anggap besar oleh masyarakat miskin adalah misalnya makan, hal ini berbeda dengan masalah koruptor yang harus berhadapan dengan hukum, karena hartanya hasil dari yang tidak baik. Dua masalah di atas berbeda secara kasus namun mempunyai inti yang sama yaitu kesulitan yang di hadapi. Berangkat dari Hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, maka penulis akan membahas mengenai kepedulian sosial antara sesama muslim, di mana seorang muslim harus menolong dan memberikan kemudahan kepada orang lain. Untuk lebih jelasnya mengenai anjuran mengenai meringankan beban pendritaan orang lain ini, maka akan dipaparkan lebih jelas lagi dalam bab pembahasan selanjutnya.


A.

PEMBAHASAN KEPEDULIAN SOSIAL Manusia adalah makhluk ciptaan Allah swt. yang diciptakan sebagai makhluk yang bersosial, yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Oleh karna itu selain kita disuruh berubudiyah kepada Allah, juga disuruh untuk menjaga hubungan dan hak antar sesama muslim. 1)

MEMPERHATIKAN KESULITAN ORANG LAIN (BM:1493) a. Hadits

‫س َع سْن ُمْس سلٍِم‬ َ ‫صّلا ى اُ َعلَْيِه َوَسلَّم َمْن نَفَ س‬ َ ِ‫ َقلاَل َرُسْوُل ا‬:‫ضَي اُ َعْنهُ َقلاَل‬ ِ ‫َعْن أَبِْي هَُرْيَرةَ َر‬ ‫ب يَْوِم اْلقَِيلاَمِة َوَمْن يَّسَر َعَلا ى ُمْعِسٍر يَّسَر اُس‬ َ ّ‫ب الّدْنَي نَف‬ ِ ‫س اُ َعْن ُكْربَةً ِمْن ُكَر‬ ِ ‫ُكْربَةً ِمْن ُكَر‬ ‫َعلَْيِه ِفا ى الّدْنَيلا َوْاآلِخَرِة َوَمْن َستََر ُمْسلًِملا َستََرهُ اُ فِسسا ى السّدْنَيلا َوْاآلِخسَرِة َواُس فِسسا ى َعسْوِن اْلَعْب سِد‬ ‫ )أخرجه مسلم‬.‫)َملاَكلاَن اْلَعْبُد ِفا ى َعْوِن أَِخْيِه‬ b. Terjemahan

“Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa melepasakan dari seorang muslim satu kesusahan dari sebagian kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepasakan kesusahannya dari sebagian kesusahan hari kiamat; dan barangsiapa memberi kelonggaran dari orang yang susah, niscaya Allah akan memberi kelonggaran baginya di dunia dan akhirat; dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aib dia dunia dan akhirat; Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selam hamba tersebut menolong saudaranya.” (Dikeluarkan oleh Imam Muslim). c. Penjelasan Hadis


Hadis

di

atas

mengajarkan

kepada

kita

untuk

selalu

memperhatikan sesama muslim dan memberikan pertolongan jika seseorang mendapatkan kesulitan 1)

Melepaskan berbagai kesusahan orang mukmin Melepaskan kesusahan orang lain sangat luas maknanya, bergantung pada kesusahan yang sedang diderita oleh saudaranya seiman tersebut. Jika saudaranya termasuk orang miskin, sedangkan dia termasuk orang yang berkecukupan atau kaya, ia harus berusaha menolongnya dengan cara memberikan pekerjaan atau memberikan bantuan sesuai kemampuannya, jika saudaranya sakit, ia berusaha menolongnya, antara lain dengan membantu memanggilkan dokter atau memberikan bantuan uang alakadarnya guna meringankan biaya pengobatannya, jika saudaranya dililit hutang, ia berusaha untuk mencarikan jalan keluar, baik dengan memberikan bantuan agar hutangnya cepat dilunasi, maupun sekedar memberikan arahan-arahan yang akan membantu saudaranya dalam mengatasi utangnya tersebut dan lain-lain. Orang muslim yang membantu meringankan atau melonggarkan kesusahan saudarannya seiman berarti telah menolong hamba Allah SWT. Yang sangat disukai oleh-Nya dan Alla SWT Pun akan memberikan pertolongan-Nya serta menyelamatkannya dari berbagai kesusahan, baik di dunia maupun diakhirat. Sebagaimana firmanNya : (7 : ‫ )مسحمد‬.... ‫صْرُكْم‬ ُ ‫صُرْوا اَ يَْن‬ ُ ‫إِْن تَْن‬ “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah pun akan menolong kamu semua…” (Q.S. Muhammad : 7) Begitu pula orang yang membantu kaum muslimin agar terlepas dari berbagai cobaan dan bahaya, ia akan mendapat pahala yang lebih besar dari Allah SWT. Dan Allah SWT pun akan melepaskannya dari


berbagai kesusahan yang akan dihadapinya, baik di dunia maupun kelak diakhirat, pada hari ketika harta benda, anak, maupun bendabenda yang selama ini di banggakan di dunia tidak lagi bermanfaat. Pada

waktu

itu hanya

pertolongan Alaah saja

yang

akan

menyelamatkan manusia. Berbahagialah bagi mereka yang bersedia untuk melepaskan penderitaan sesama orang mukmin karena pada hari kiamat nanti, Allah akan menyelamatkannya. 2) Melonggarkan kesusahan orang lain

Adakalanya suatu masalah sangat sulit untuk diatasi atau hanya dapat diselesaikan oleh yang bersangkutan. Terhadap masalah seperti itu, seorang mukmin ikut melonggarkannya atau memberikan pandangan atau jalan keluar, meskipun ia sendiri tidak terlibat secara langsung. Bahkan, dengan hanya mendengarkan keluhannya saja sudah cukup untuk mengurangi beban yang di hadapi olehnya. Dengan demikian, melonggarkan kesusahan orang lain haruslah sesuai dengan kemampuan saja dan bergantung kepada kesusahan apa yang sedang dialami oleh saudaranya seiman tersebut. Jika mampu meringankan kesusahannya dengan memberikan materi, berilah materi kepadanya. Dengan demikian, kesusahannya dapat berkurang, bahkan dapat teratasi. Namun jika tidak memiliki materi, berilah saran atau jalan keluar agar masalah yang dihadapinya cepat selesai. Bahkan jika tidak mempunyai ide atau saran, doakanlah agar kesusahannya dapat diatasi dengan pertolongan Allah SWT. Termasuk doa paling baik jika mendoakan orang lain dan orang yang didoakan tidak mengetahuinya. Orang yang berusaha sekuat tenaga untuk melonggarkan penderitaan saudaranya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya,


ia akan mendapat pertolongan dari Allah SWT, yaitu Alla SWT akan melonggarkan berbagai kesusahannya, baik di dunia maupun diakhirat. 3) Menutupi aib seorang mukmin serta menjaga orang lain dari

berbuat dosa Orang mukmin pun harus berusaha menutupi aib saudaranya. Ia berusaha menjaga rahasia saudaranya. Apalagi jika ia tahu bahwa orang yang bersangkutan tidak akan senang kalau aib atau rahasianya diketahui oleh orang lain. Namun demikian, jika aib tersebut berhubungan dengan kejahatan yang telah dilakukannya, ia tidak bole menutupinya. Jika hal itu dilakukan, berarti ia telah menolong orang lain dalam hal kejahatn sehingga orang tersebut terhindar dari hukuman. Perbuatan seperti itu sangat dicela dan tidak dibenarkan dalam Islam. Sebagaimana firman-Nya : (2 : ‫ )السملائدة‬...‫ َولَ تََعلاَونُْوا َعَلا ى ْاِلْثِم َواْلُعْدَواِن‬... “… Janganlah kamu saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan…” (Q.S. Al-Maidah : 2) Dengan demikian, jika melihat seseorang akan melakukan kejahatn atau dosa, setiap mukmin harus berusaha untuk mencegahnya dan menasehatinya. Jika orang tersebut sudah terlanjur melakukan perbuatan dosa, suruhlah untuk bertobat karena Allah SWT, Maha Pengampun dan Maha Penerima tobat. Tindakan itu termasuk pertolongan juga karena berusaha menyelamatkan seseorang dari azab Allah SWT. Itulah makna lain dari menutupi aib kaum muslimin, yakni menutupi agar saudaranya tidak terjerumus ke dalam kesesatan dan dosa. Orang yang berusaha untuk menutupi aib saudaranya, maka Allah pun akan menutupinya agar tidak melakukan perbuatan yang


dilarang oleh Allah di dunia, sehingga ia tidak mendapatkan siksa diakhirat. 4) Allah SWT. Senatiasa akan menolong hamba-Nya, selagi hamba

menolong saudaranya. Jika di telaah secara seksama, pertolongan yang di berikan seorang mukmin kepada saudaranya, pada hakikatnya adalah menolong dirinya sendiri. Hal ini karena Allah SWT pun akan menolongnya, baik di dunia

maupun

diakhirat

selama

hamba-Nya

mau

menolong

saudaranya. Dengan kata lain, ia telah menyelamatkan dirinya sendiri dari berbagai kesusahan dunia dan akhirat. Maka orang yang suka menolong orang lain, misalnya dengan memberikan bantuan materi hendaknya tidak merasa khawatir bahwa ia akan jatuh miskin atau di timpa kesusahan. Sebaliknya, ia harus berpikir bahwa segala sesuatu yang ia miliki adalah milik Allah SWT. Jika Dia bermaksud mengambilnya maka harta itu habis. Begitu juga jika ia bermaksud menambahnya, maka seketika akan bertambah banyak. Mereka yang suka menolong orang lain dijanjikan akan mendapat penggantinya sesuai perbuatannya, baik dunia maupun diakhirat. Tentu saja dalam memberikan pertolongan kepada orang lain jangan berlebihan. Yang paling penting dalam melakukan perbuatan yang dianjurkan syara’, seperi menolong atau melonngarkan kesusahan orang lain, adalah tidak mengharapkan pamrih tertentu dari orang yang ditolong, melainkan ikhlas adalah semata-mata didasari rasa iman dan ingin mendapatkan rida-Nya. Sebenarnya, inti dari hadis diata adalah agar umat Islam memiliki kepedulian dan kepekaan sosial atas saudara-saudaranya seiman.


Dalaam Islam berlaku egois atau hanya mementingkan diri sendiri tidak dibenarkan. Beberapa

syariat

Islam,

seperti

zakat

fitrah,

antara

lain

dimaksudkan untuk memupuk jiwa kepedulian terhadap sesama mukmin yang berada dalam kemiskinan. Orang yang memiliki kedudukan atau harta yang melebihi orang lain, hendaknya tidak menjadikannya sombong atau tinggi hati serta tidak mau menolong orang yang sangat membutuhkan pertolongannya. Pada hakikatnya, Alla SWT menjadikan adanya perbedaan seseorang dengan yang lainnya adalah untuk saling melengkapi, saling membantu, dan saling menolong satu sama lain. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya : ‫ق‬ َ ‫ضهُْم فَْو‬ َ ّ‫أَهُْم يَْقِسُمْوَن َرْحَمةَ َرب‬ َ ‫ نَْحُن قََسْمَنلا بَْينَهُْم ّمِعْيَشتَهُْم ِفا ى اْلَحَيلاِة الّدْنَيلا َوَرفَْعَنلا بَْع‬، ‫ك‬ (32 : ‫ )الزخرف‬... ‫ضلا ُسْخِرًّيلا‬ ُ ‫ت لّيَتِّخَذ بَْع‬ ً ‫ضهُْم بَْع‬ ٍ ‫ض َدَرَجلا‬ ٍ ‫بَْع‬ Artinya:’. . . Kami telah menentukan diantara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Dan kami telah meninggalkan sebagian mereka atas sebagian lainnya berapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain . . .’( Q.S. AzZukhruf:32) Di dunia ini dengan adanya orang yang senang dengan kekayaan atau kedukannya, dan ada pula orang-orang yang susah karena kemiskinannya, hal ini merupakan kehendak Allah swt. untuk keseimbangan kehidupan di dunia. Dapat dibayangkan jika semua orang kaya, siapa yang akan menjadi petani atau mengerjakan pekerjaan kasar yang biasa dikerjakan oleh orang-orang kecil. Begitu pun sebaliknya, jika semuanya miskin, kehidupan di dunia akan kacau. Dengan demikian, pada hakikatnya hidup di dunia adalah saling membantu dan mengisis, ketentraman pun hanya akan dapat diciptakan jika masing-masing golongan saling memperhatikan dan menolong


satu sama lain, sehingga kesejahteraan tidak hanya berada pada satu golongan saja. Ketentraman pun hanya akan dapat diciptakan jika masing-masing golongan saling memperhatikan dan menolong satu sama lain sehingga kesejahteraan tidak hanya berada pada satu golongan saja. Perintah agar kaum muslimin peka dan peduli terhadap orang lain juga dicerminkan melalui syariat penyembelihan hewan kurban. Hal itu antara lain bahwa daging hewan kurban diperuntukan untuk semua pengikut agama Muhammad, tanpa mengenal golongan, ras, suku bangsa, partai, dan lain-lain. Bahkan kepada orang yang sudah kaya, semuanya berhak menikmati dan merasakan kesejahteraan. Rasa

sejahteralah

yang

merupakan

benteng

utama

untuk

menghindari perpecahan dan berbagai penyakit sosial yang ada di masyarakat. dalam hal ini, kepekaan para pemimpin, para wakil rakyat dan semua umat islam yang mampu sangat dibutuhkan untuk menyejahterakan kaum yang lemah. Memperbaiki kesejahteraan merupakan salah satu diantara tiga cara dalam memperbaiki keadaan masyarakat, sebgaimana diungkapkan ole Abu Hasan dalam “ Kitab Adab Ad-Dunya wa Ad-Din “ yakni menjadikan manusia taat, menyatukan rasa dalam hal kesenangan dan penderitaan, dan menjaga dari hal-hal yang akan mengganggu stabilitas kehidupan. Semua itu tercapai jika semua komponen dala masyarakat peduli terhadap komponen lainnya, tidak egois dalam mementingkan keakuan semata yang sangat ditentang Islam. Kiranya dapat dipahami, mengapa tokoh Qarun-seorang kaya raya pada masa Musa a.s yang tidak mau merasakan derita orang laindikecam AL-Quran ketika menonjolkan keakuannya dengan berkata, “ sesungguhnya aku hanyalah diberi harta itu, karena ilmu yang ada


padaku, “ (Q.S.28:78) padahal salah satu ciri agama Islam adalah kebersamaan yang harus mewarnai selutuh aktivitas setiap muslim “. masih banyak lagi syari’at Islam yang intinya mengharuskan umat Islam agar peduli terhadap sesamanya. semua itu memerlukan penghayatan dan keinginan kuat dalam merealisasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagaimana dibahas diatas, peduli terhadap sesame tidak hanya dalam masalah materi saja, tetapi dalam berbagai hal yang menyebabkan orang lain susah. Jika mampu, setiap muslim harus berusaha menolong sesamanya. 5) Fiqih Al-Hadis:

Orang yang melepaskan kesusahan orang mukmin dari berbagai kesusahan dunia akan mendapat pertolongan Allah, yaitu Allah SWT. akan melepaskan orang tersebut dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat; orang yang memberi kelonggaran kepada orang yang sedang ditimpa kesusahan, niscahya Allah akan memberi kelonggaran bagi orang tersebut di dunia dan akhirat; dan orang yang menutupi seseorang mukmin dari aib dan perbuatan dosa, niscahya Allah akan menutupi orang tersebut dari aib dan azab dunia dan akhirat. Ketiga ungkapan tersebut, pada intinya adalah anjuran kepada setiap orang beriman agar mau memperhatikan dan saling menolong, dan Allah akan membalasnya dengan lebih baik, di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah SWT. akan selalu menolong hamba-Nya, selama hamba-Nya mau menolong dan membantu sesame saudaranya.

2. MERINGANKAN PENDERITAAN DAN BEBAN ORANG LAIN

(AN: 23)


a. Hadits

‫شْيبَةَ َوُمَحّمُد ْبُن لاْلَعَلِء لاْلَهْمَدلانِّي َولاللّْفظُ لِيَْحَي ى َقلاَل‬ َ ‫َحّدثََنلا يَْحَي ى ْبُن يَْحَي ى لالتِّميِمّي َوأَُب و بَْكِر ْبُن أَِبي‬ : ‫ح َعْن أَِبي ُهَرْيَرةَ َقلاَل‬ َ ‫ش َعْن أَِبي‬ ِ ‫يَْحَي ى أَْخبََرَنلا و َقلاَل لاْلَخَرلاِن َحّدثََنلا أَُب و ُمَعلاِويَةَ َعْن لاْلَْعَم‬ ٍ ِ‫صلال‬ ّ ‫س‬ ّ ‫صّل ى‬ ّ ‫س وُل‬ ‫اُ َعْنهُ ُكْربَةً ِمْن‬ ُ ‫َقلاَل َر‬ َ ّ‫ب لالّدْنَيلا نَف‬ َ ّ‫سلَّم َمْن نَف‬ َ ‫اُ َعلَْيِه َو‬ َ ِ‫ا‬ ِ ‫س َعْن ُمْؤِمٍن ُكْربَةً ِمْن ُكَر‬ ّ ُ‫ستََره‬ ّ ‫سَر‬ ْ ‫ستََر ُم‬ ّ َ‫سٍر ي‬ ّ َ‫ب يَْ وِم لاْلقَِيلاَمِة َوَمْن ي‬ َ ‫سلًِملا‬ َ ‫اُ َعلَْيِه ِفي لالّدْنَيلا َولاْلِخَرِة َوَمْن‬ ِ ‫سَر َعَل ى ُمْع‬ ِ ‫ُكَر‬ ُ‫ا‬ ّ ‫ِفي لالّدْنَيلا َولاْلِخَرِة َو‬. . . . ‫اُ ِفي َعْ وِن لاْلَعْبِد َملا َكلاَن لاْلَعْبُد ِفي َعْ وِن أَِخيِه‬ b. Terjemahan Hadis

“ Abdullah Ibn Umar r.a berkata pada Rasulullah SAW. bersabda, “ seorang muslim (yang lain), dia tidak menganiaya dan menyerahkan saudaranya. Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah memenuhi kebutuhan-Nya. Barang siapa melepaskan diri seorang muslim satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia niscahya Allah akan melepaskan dia dari kesusahan hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aibseorang muslim niscaya Allah menutup aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah selamanya menolong hamba-Nya, selama hambanya menolong saudaranya.”

3. MEMBUANG DURI DI JALAN a. Hadits

ْ ِ‫ضٌع ّوَسْبُعْوَن أَْو ب‬ ْ ِ‫ اِلْيَملاُن ب‬:‫صّلا ى اُ َعلَْيِه َوَسلَّم َقلاَل‬ ‫ض ٌُع‬ َ ‫ َعِن النّبِّي‬، ‫ضَي اُ َعْنُه‬ ِ ‫َعْن أَبِْي هَُرْيَرةَ َر‬ ‫ َواْلَحَيلاُء ُشْعبَةٌ ّمَن‬، ‫ق‬ َ ‫ّوِستّْوَن َشْعبَةً فَأ َْف‬ ِ ‫ضلَُهلا قَْوُل آلِإلسهَ إِلّ اُ َوأَْدَنلاَهلا إَِملاطَةُ ْالََذ ى َعِن الطِّرْي‬ ‫ )متفق عليه( )محي الدين أبي زكرّيلا يحيا ى بن شرف النواوي " ريلاض الصلالحين" فا ى‬.‫ْاِلْيَملا ِن‬ (78-77 ، ‫ ص‬، ‫بلاب "كثرة طروق الخير‬ b. Terjemahan

Dari Abi Hurairah ra., dari Nabi saw. Beliau bersabda, ”Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih; yang paling utama adalah ucapan “lâ ilâha illallâhu” dan yang paling rendah


adalah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan, sedangkan rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman.” c. Penjelasan Hadits

Dalam hadits di atas, dijelaskan bahwa cabang yang paling utama adalah tauhid, yang wajib bagi setiap orang, yang mana tidak satu pun cabang iman itu menjadi sah kecuali sesudah sahnya tauhid tersebut. Adapun cabang iman yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu kaum muslimin, di antaranya dengan menyingkirkan duri atau batu dari jalan mereka. Hadits di atas menunjukkan bahwa dalam Islam, sekecil apapun perbuatan baik akan mendapat balasan dan memiliki kedudukan sebagai salah satu pendukung akan kesempurnaan keimanan seseorang. Duri dalam konotasi secara sekilas menunjukkan pada sebuah benda yang hina. Akan tetapi, jika dipahami lebih luas, yang dimaksud dengan duri di sini adalah segala sesuatu yang dapat membahayakan pejalan kaki, baik besar maupun kecil. Hal ini semacam ini mendapat perhatian serius dari Nabi saw. sehingga dikategorikan sebagai salah satu cabang daripada iman, karena sikap semacam ini mengandung nilai kepedulian sosial, sedang dalam Islam ibadah itu tidak hanya terbatas kepada ibadah ritual saja, bahkan setiap ibadah ritual, pasti di dalamnya mengandung nilai-nilai sosial. Di samping hal tersebut di atas, menghilangkan duri dari jalan mengandung pengertian bahwa setiap muslim hendangkan jangan mencari kemudlaratan, membuat atau membiarkan kemudlaratan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul saw. yang dijadikan sebuah kaidah dalam Ushul Fiqh: ‫ضَراَر‬ َ َ‫ل‬ ِ َ‫ضَراَر َول‬ Janganlah mencari kemudlaratan dan jangan pula membuat kemudlaratan.


Membiarkan duri dijalan atau sejenisnya berarti membiarkan kemudlaratan atau membuat kemudlaratan baru, jika adanya duri tersebut awalnya sengaja disimpan oleh orang lain.

4. LARANGAN MENGANIAYA BINATANG a. Hadits

ْ َ‫ت اْمَرأَةٌ ِفا ى ِهّرٍة َحبََسْتَهلا َحّتا ى َملات‬ ‫ت‬ َ ِ‫َعِن اْبِن ُعَمَر أَّن َرُسْوَل ا‬ ِ َ‫ ُعّذب‬: ‫صّلا ى اُ َعلَْيِه َوَسلَّم َقلاَل‬ ‫ت الّنلاَر‬ ِ َ‫ُجوًعلافََدَخل‬ Dari Ibnu Umar ra bahwa rasulullah saw bersabda,”Seorang wanita dimasukkan ke dalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberikan makan bahkan tidak diperkenankan makan binatangbinatang kecil yang ada dilantai.” (HR. Bukhari) b. Penjelasan Hadits

Riwayat

tersebut

tidak

menunjukkan

bahwa

Rasulullah

menynyayangi binatang kucing, tetapi akibat menyia-nyiakan binatang piaraan seperti kucing pun akan mendapatkan adzab di akhirat. Sebenarnya bukan hanya kucing, menyia-nyiakan semua binatang peliharaan seperti burung, ikan dan lain-lain juga bisa menyebabkan datangnya adzab Allah. Demikian juga hadis lain yang menunjukkan bahwa jilatan kucing tidak najis; ْ ‫صّلا ى اُ َعلَْيِه َوَسلَّم َقلاَل إِنَّهلا لَْيَس‬ ‫س إِنَّهلا ِمَن الطّّواِفينََعلَْيُكْم‬ َ ِ‫َعْن أَِبي قََتلاَدةَ ََقلاَل إِّن َرُسوَل ا‬ ٍ ‫ت بِنََج‬ ‫ت‬ ِ ‫َوالطّّواَفلا‬ Dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang kucing,”Sesungguhnya (kucing itu) tidaklah najis karena dia termasuk yang berkeliling di antara kamu. (HR. An-Nasa’i, Abu Daud) Bahkan diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah berwudhu dari air yang telah diminum oleh kucing.


ْ ‫صّلا ى اُ َعلَْيِه َوَسلَّم َقلاَل إِنَّهلا لَْيَس‬ ْ َ‫َعْن َعلائَِشةَ ََقلال‬ ‫س إِنَّملا ِهَي ِمْنلالطّّواِفيَن‬ َ ِ‫ت إِّن َرُسْوَل ا‬ ٍ ‫ت بِنََج‬ ّ ‫ت َرُسول‬ ُ ‫َعلَْيُكْم َوقَْد َرأَْي‬ ْ َ‫ضأ ُ بِف‬ ‫ضلَِهلا‬ ّ ‫صّلا ى اللّهَُعلَْيِه َوَسلَّم يَتََو‬ َ ِ‫ا‬ Dari Aisyah ra sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda,’(Kucing) itu tidaklah najis, dia termasuk binatang yang berkeliling di antara kalian”. Dan aku (Aisyah) melihat Rasulullah SAW berwudhu dengan air bekas jilatan kucing’. (HR. Abu Daud). Hadis-hadis di atas juga tidak mengindikasikan Rasulullah menyayangi kucing. Rasulullah hanya menyebutkan bahwa kucing adalah binatang jinak yang banyak bergaul (berkeliling) di antara manusia. Tetapi seandainya ada riwayat yang shahih tentang hal ini, kita perlu ingat bahwa Rasulullah manusia biasa yang diberi wahyu. Sebagai manusia biasa beliau memiliki sifat-sifat kemanusiaan, seperti menyukai sesuatu. Dalam hal yang bukan brada di dalam wilayah syari’ah hal ini bisa ditiru dan bisa pula tidak. Tetapi dalam masalah syari’at, apa yang dialakukan, dikatakan dan ditetapkan oleh Rasulullah harus diikuti. Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Islam tidak saja memberikan aturan kerja (manual) bagi hubungan manusia dengan Penciptanya, atau dengan sesama manusia, namun juga dengan binatang dan tumbuhan. Dalam banyak ayat didalam Al Quran, Allah telah banyak memberikan peringatan kepada manusia agar senantiasa menjaga alam, menyayangi binatang dan merawat tumbuhan, serta melarang untuk berbuat kerusakan dimuka bumi. Ayat keempat puluh satu surat Ar Ruum, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan pada mereka sebagian akibat perbuatannya, agar mereka kembali”, memperingatkan para pemegang HPH yang semena-mena merusak hutan, pengusaha pertambangan yang rakus, ataupun eksploitator laut yang melampaui batas.


Allah memerintahkan manusia untuk sayang pada hewan-hewan. Banyak nama-nama surat dalam Al Quran yang mengambil tamsil dan pelajaran dari perilaku binatang, mulai dari yang baik hingga yang berbuat kerusakan. Ada al Baqarah (sapi betina), al An’aam (binatang ternak), an Nahl (lebah), an Naml (semut), al Ankabuut (laba-laba), al ‘Aadiyaat (kuda perang) dan juga al Fiil (gajah). Binatang diciptakan oleh Allah untuk dimanfaatkan oleh manusia sebagai makanan, pembanu pekerjaan atau perjalanan manusia. Namun demikian, bukan berarti manusia bebas memperlakukan mereka. Diriwayatkan dari Hasan al-Bashri, bahwa pada suatu pagi Rasulullah berjalan

melewati

seekor

unta

yang

diikat.

Setelah

beliau

menyelesaikan urusannya dan kembali lewat jalan itu, beliau melihat unta itu masih diikat. Kemudian beliau bertanya kepada pemilik unta itu, “Apakah kamu tidak melepas dan tidak memberi makan unta itu sepanjang hari?” Pemilik unta itu menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda kepadanya, “Ingatlah, nanti pada hari kiamat unta itu akan mempersalahkan ini kepada Allah”. Lebih jauh lagi Rasulullah memberikan teguran keras pada penyiksa binatang. Said bin Jubair mengatakan bahwa ia pernah melihat bersama Ibnu Umar sekelompok pemuda yang memasang ayam betina untuk dijadikan sasaran latihan memanah. Demi melihat Ibnu Umar mereka bubar dan Ibnu Umar berkata, “Siapakah yang berbuat ini? Sesungguhnya Nabi Saw. mengutuk orang yang berbuat begini”. Sementara itu Abu Hurairah (bapaknya kucing kecil), julukan Rasulullah bagi seorang sahabat perawi hadits yang menyayangi dan senantiasa membawa kucing kecil kemanapun ia pergi, berkata bahwa Nabi Saw. bersabda, ”Ada seorang perempuan masuk neraka lantaran kucing yang ia ikat di dalam rumah, dimana ia tidak memberinya makan dan minum dan tidak melepaskannya agar kucing itu bisa makan dari sampah (yang ada diatas) bumi, sehingga kucing itu mati”.


5. MENYANTUNI ANJING a. Hadits

‫ بَْينََملا َرُجٌل يَْمِشْي ِفا ى‬:‫صّلا ى اُ َعلَْيِه َوَسلَّم َقلاَل‬ َ ِ‫ضَي اُ َعْنهُ أَّن َرُسْوَل ا‬ ِ ‫َعْن أَبِْي هَُرْيَرةَ َر‬ ْ ‫ث الثَّر ى ِمَن اْلَع‬ ْ ‫ق اْشتَّد َعلَْيِه اْلَع‬ ُ َ‫ب يَْله‬ ‫ش‬ ٌ ‫ب ثُّم َخَرَج فَإ َِذا َكْل‬ ُ ‫ط‬ َ ‫ فَنََزَل فِْيَهلا فََشِر‬، ‫ش فََوَجَد بِْئًرا‬ ِ ‫ط‬ ِ ‫الطِّرْي‬ ْ ‫ب ِمَن اْلَع‬ ْ ‫ش ِمْثَل الِّذ‬ ‫ فَنََزَل اْلبِْئَر فََملَ ُخفّهُ َملاًء ثُّم‬، ‫ي َكلاَن قَْد بَلََغ ِمنّْي‬ ُ ‫ لَقَْد بَلََغ هَذا اْلَكْل‬:‫فََقلاَل الّرُجُل‬ ِ ‫ط‬ ‫ َقلالُْوا َيلاَرُسْوَل اِ َوإِّن لََنلا ِفا ى اْلبََهلائِِم أَْجًرا؟‬.‫ب فََشَكَر اُ لَهُ فََغفََر لَُه‬ َ ‫أَْمَسَكهُ بِفِْيِه َحّتا ى َرقَِي فََسَقا ى اْلَكْل‬ ْ ‫ ِفا ى ُكّل َكبٍِد َر‬:‫فََقلاَل‬ ‫ متفق عليه )محي الدين أبي زكرّيلا يحيا ى بن شرف النواوي " ريلاض‬.‫طبٍَة أَْج ًرا‬ (78 ، ‫ ص‬، ‫الصلالحين" فا ى بلاب "كثرة طروق الخير‬ Dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasullah saw. Telah bersada, ”pada suatu saat seorang pejalan kaki yang lagi kehausan menemukan sebuah sumur, yang kemudian ia turun ke dalamnya untuk mengambil air dan meminumnya, kemudian ia naik lagi. Ketika itu, dia menemukan seekor anjing yang kehausan sedang menjilati rerumputan kering saking hausnya. Orang tersebut berkata, ”anjing ini kehausan sebagaimana yang dirasakan olehku”. Kemudian orang tersebut turun lagi ke dalam sumur dan memenuhi sepatunya (dengan air), kemudian dibawanya dengan gigit, lalu ia memberi minum kepada anjing tersebut. Maka Allah menerima perbuatan orang tersebut dan memberikan ampunan kepadanya. Para sahabat berkata, ”Apakah bagi kami dalam (mengasihi) binatang ada pahala?” Beliau menjawab, ”Dalam setiap hewan yang memiliki jantung basah (hidup) terdapat pahala.” (Sepakat ulama hadits). b. Penjelasan Hadits

Dalam QS. Al-Anbiya, Allah swt. berfirman: (107:‫ك إِلّ َرْحَمةً لّْلَعلالَِمْيَن )النبيلاء‬ َ ‫َوَم آ أَْرَسْلَنلا‬ “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam“ (Q.S. al-Anbiyaa’ 21:107) Ayat ini menjadi salah satu dasar ajaran bagaimana seharusnya seorang muslim berperilaku dalam kehidupan sosialnya di masyarakat.


Tak hanya memberikan manfaat yang baik bagi sesama manusia (hablumminannaas), tetapi juga flora dan fauna di alam semesta ini. Salah satu media untuk melatih sifat rahmatan lil’alamin bagi muslim adalah dengan menyayangi hewan. Hal ini bisa terlihat dari beberapa cuplikan hadits Nabi yang berisi seruan untuk menyayangi hewan dan larangan berbuat dzalim terhadap mahluk-mahluk Tuhan khususnya hewan, seperti halnya pada hadits di atas. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitabnya “Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah wa Syaiun min Fiqhiha wa Fawaa’idiha (Silsilah Hadits Shahih)” secara istimewa telah memberikan ruang tersendiri berkenaan bab khusus hadits-hadits Nabi saw. tentang seruan untuk menyayangi hewan. Dalam pengantar bab tersebut, Syaikh Nashiruddin al-Albani mengatakan, “…Hadits-hadits itu menunjukkan betapa besar perhatian orangorang terdahulu saran-saran Nabi s.a.w. tentang kasih sayang terhadap hewan. Walaupun hakekatnya semua itu (kumpulan hadits-hadits tersebut) masih sedikit sekali porsinya, ibarat setetes air di lautan. Namun hal itu telah memberikan alasan yang cukup kuat bahwa Islam mengajarkan untuk menyayangi hewan, tidak seperti apa yang diduga oleh orang-orang yang sedikit pengetahuannya tentang Islam…” Dalam kelanjutan pengantarnya, Syaikh Nashiruddin al-Albani pun menyindir tentang kesalahpahaman non muslim yang beranggapan Islam tidak pernah mengajarkan kasih sayang kepada hewan, hal ini diakibatkan pula karena realitas sosial dari kalangan muslim yang tidak atau belum mengamalkan seutuhnya seruan Nabi Muhammad saw. dalam memberikan perhatian khusus terhadap dunia hewan. Dalam pandangan Islam, anjing memang dinyatakan najis bahkan ada di jajaran najis mughallazhah, akan tetapi sebagai manusia yang menganut agama rahmat, memandang anjing jangan dilihat dari sisi


najisnya, tapi dari sisi manfaat yang dimiliki oleh hewan tersebut. Dan perlu diketahui pula bahwa menyayangi binatang termasuk salah satu aspek akhlak Islam, yaitu akhlak terhadap lingkungan dan hewan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN Syafe’I Rachmat, Al Hadis(Aqidah,Akhlak,Sosial,dan Hukum), Bandung: Pustaka Setia.2000 www.kumpulanhadis-hadis/kepeduliansosialbpogspot.com


Hadist