Page 1

ISSN: 1410-0517

Merekam Kota dengan Alunan Nada • Yang Lokal dan Panggung Internasional • Segala yang Terdengar dari Bunyi Cadas

VISI L P M V I S I . C O M • E D I S I X X X I V • TA H U N 2 0 1 7

M UA R A P E M I KI R AN K AM PUS

VISI • EDISI 34 • 2017

1


bostaichan Jalan Kartika RT 04 RW 23 Ngoresan 2

VISI • EDISI 34 • 2017


EDITORIAL

Kami Ingin Tulisan Ini Didengar Haruki Murakami, penulis termahsyur bin kelas menengah itu kerap melakukan hal unik setiap pagi. Dalam memoar What I Talk About When I Talk About Running, Murakami mengisahkan kebiasaannya bangun pagi pukul empat. Sesudah merapikan ranjang, ia lantas berjalan sepuluh kilometer atau berenang 1.500 meter, kemudian mendengarkan musik. Ya, yang anda baca di atas bukan salah cetak. Murakami mendengarkan musik. Rutinitas tersebut diulangnya hampir setiap hari, tanpa variasi. Bagi para Harukis—gelar untuk para penggemar Murakami—musik jelas hal yang dekat. Hampir setiap novel Murakami mengantar kita pada satu premis, bahwa penulis yang kerap digadang-gadang menyabet Nobel Kesusastraan itu gandrung dan dekat dengan musik. Dari karya-karyanya, kita dapat pula mendengar fragmen musik dalam wujud lain. Gesekan nadanya mengalun rapi dalam beberapa karya seperti Kafka on The Shore, Hear The Wind Song, hingga The Wind-Up Bird Chronicle. Novel paling menyimpang dari "gaya wajar" Murakami bahkan dinamai dengan salah satu judul lagu The Beatles, Norwegian Wood. Murakami bukan pula satu-satunya nama yang gemar bermain musik lewat teks. Di dalam negeri, kita punya nama Agus R Sarjono. Penulis yang pernah melahirkan antologi puisi Tangan Besi itu kelewat fasih dalam mengutip karyakarya Stanley Clarke, Chick Corea, hingga John Patittuci dalam sajak-sajaknya.

LPM VISI FISIP UNS Sekretariat LPM VISI Gedung 2 Lt. 2 FISIP UNS Jl. Ir. Sutami No. 36A Surakarta 57126

Berangkat dari titik itu, VISI menjatuhkan pilihan pada musik sebagai pokok bahasan majalah edisi ini. Tentu kami tak sepandai Agus, lebih-lebih Murakami. VISI dan Murakami ibarat keong dan anemon laut, berada pada level berbeda. Di markas yang tak lebih besar dari sepetak sawah itu, VISI juga tak merangkai sastra dan sajak sebagaimana dua nama ternukil di atas. Namun, rasanya bukan hal menyimpang jika pers maha cacat seperti VISI terobsesi sampai pada tujuan sama, meski jalan yang ditempuh berbeda. Didukung iklim Kota Solo yang memang ramah pada nada, VISI bertekad menjembatani pembaca untuk mendengar musik dengan cara lain. Dipilihnya Kota Solo sebagai benang merah juga membawa para penulis berharap agar liputan-liputan dalam cetakan ini dapat menjadi lem yang merekatkan masyarakat dengan kotanya. Semoga selepas membaca hingga halaman terakhir, kepala-kepala yang tertunduk akan mengamini pandangan kami, bahwa nada dan teks adalah dua hal yang tak muskil berbaur.

Salam, Redaksi LPM VISI

redaksi@lpmvisi.com

@LPM_VISI

lpmvisi

http://www.lpmvisi.com/

lpmvisi.com

@gwi5930m

Redaksi LPM VISI menerima kritik, tulisan, dan karya lainnya. Artikel, karya sastra, maupun tulisan lain yang telah masuk ke redaksi, menjadi hak penuh kami untuk diedit tanpa mengubah esensi. Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan dan pengutipan pernyataan, Redaksi LPM VISI menerima hak jawab sesuai UU Pers No. 40 Th.1999 Pasal 1 Ayat 1.

VISI • EDISI 34 • 2017

3


ISSN: 1410-0517

Merekam Kota dengan Alunan Nada • Yang Lokal dan Panggung Internasional • Segala yang Terdengar dari Bunyi Cadas

VISI L P M V I S I . C O M • E D I S I X X X I V • TA H U N 2 0 1 7

MUAR A P EMI KI R AN K AMP US

14 PEMIMPIN REDAKSI Herdanang Ahmad Fauzan REDAKTUR PELAKSANA MAJALAH Muthiatul Asna, Laila Mei Harini EDITOR Herdanang Ahmad Fauzan, Iim Fathimah Timorria, Laila Mei Harini, Muthiatul Asna REPORTER 'Aisyah, Ade Uli, Agung Nugroho, Catharina N, Dita Annisa, Dita Khairunnisa, Erna Wati, Fourresta Pulung, Herdanang Fauzan, Iim Fathimah, Kurniandi Darmawan, Laila Mei, Mardatilana Aini, Mekar Pertiwi, Nabilah Puspita, Novi Ariyanti, Nur Elok, Pitaloka Kusuma, Puan Adha, Rif'atus Sholiha, Syamsiyah Kulabuhi, Yuni Pri Antini FOTOGRAFER Fitriana Sekar Ayu Ritmawanti PENELITIAN & PENGEMBANGAN Bidang Penelitian & Pengembangan

8

20 42

47

DAFTAR ISI

LAYOUT & SAMPUL Herdanang Ahmad Fauzan ILUSTRASI Diah Nur Indah Yuliana, Eko Hari Setyaji, Fitriana Sekar Ayu Ritmawanti, Hernowo Prasojo, Nurmaya Sinta Permatasari IKLAN Bidang Usaha PRODUKSI & SIRKULASI Bidang Usaha Kepengurusan LPM VISI 2016-2017: PELINDUNG: Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si | PEMBIMBING: Sri Hastjarjo, S.Sos., Ph.D | PEMIMPIN UMUM: Iim Fathimah Timorria | SEKRETARIS UMUM: Dita Khairunnisa | STAF SEKRETARIS UMUM: Dita Annisa Puspaningtyas, Erna Wati, Fatma Arieska | BENDAHARA UMUM: Pitaloka Kusuma Palupi | STAF BENDAHARA: Novira Kusumastuti | PEMIMPIN REDAKSI: Herdanang Ahmad Fauzan | REDAKTUR PELAKSANA MAJALAH: Muthiatul Asna, Laila Mei Harini | REDAKTUR PELAKSANA BULETIN: Paxia Meiz Lorentz, Maran Ayu Nilawati | REDAKTUR PELAKSANA PORTAL ONLINE: Agung Nugroho Putro, Arwin Setio Hutomo | REDAKTUR PELAKSANA FOTO & DESAIN TERBITAN: Hernowo Prasojo, MB Aji Nur A | PEMIMPIN USAHA: Fourresta Pulung Prasiwi | PENGGALIAN DANA MANDIRI: Anisa Candra Yulivia | IKLAN: Widyadewi Metta, Anindya Aulia W, Prasasti Afrisa | PRODUKSI & SIRKULASI: Arienda Addis | PEMIMPIN PENELITIAN & PENGEMBANGAN: Ratna Widyawati PENDUKUNG TERBITAN: Irma Santika Nugroho, Dessi Irsanti | PEWACANAAN EKSTERNAL: Bima Mulya Perdana, Fritriana Sekar Ayu Ritmawanti, Kinanthi Sri Hapsari | PEMIMPIN KADERISASI: Eko Hari Setyaji | SKILL & LEADERSHIP: Novi Ariyanti | KAJIAN & DISKUSI INTERNAL: Ervyan Kussuma, Nurmaya Sinta Permatasari.

4

VISI • EDISI 34 • 2017


30 54

8 14 20 42 47 54 30

26

61 34

LAPORAN UTAMA Merekam Kota dengan Alunan Nada LAPORAN UTAMA Yang Lokal dan Panggung Internasional LAPORAN UTAMA Mempertahankan Musik Identitas LAPORAN KHUSUS Segala yang Terdengar dari Suara Cadas LAPORAN KHUSUS Menyisir Benang Merah Musik Komedi SPEKTRUM Memainkan Melodi di Tengah Keterbatasan SEKAKEN Geliat Musisi Kondang di Lingkup Kampus

51 37

26 61

63

64

SOSOK Mengapresiasi Seni Lewat Musik Kontemporer VISI BERTANYA Tak Ragu Menekuni Bebunyian

3 EDITORIAL 6 SURAT PEMBACA 24 ARTIKEL UTAMA 33 INFOGRAFIS 34 POTRET 37 DETAK 40 TEROPONG 51 PUISI 52 REFLEKSI 57 CERPEN 60 PODIUM 63 BUKU 64 MUSIK 65 FILM VISI • EDISI 34 • 2017

5

65


SURAT PEMBACA

Ajari Saya Birokrasi Oleh: Farahiah Almas Mahasiswi Sosiologi 2014

S

ebagai mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNS, saya belum mengerti betul soal prosedur administrasi yang ada di fakultas tercinta ini. Beberapa kali saya dan teman saya diharuskan mengurus surat untuk kegiatan, tugas, atau acara tertentu yang melibatkan nama fakultas, saya merasa sistem yang digunakan sering berbelit-belit serta menyulitkan. Berkali-kali kami harus menanyakan format surat mana yang benar, langkah apa yang seharusnya dilakukan, bahkan dimarahi karena tidak mengerti prosedur yang benar. Belum lagi kalau salah sedikit, kami harus pergi ke tempat cetak lagi hingga format surat benar-benar sesuai dengan yang dikehendaki. Bukannya tidak ikhlas, saya hanya prihatin dengan keadaan birokrasi, terkhusus yang melibatkan urusan administrasi. Kesimpangsiuran informasi seringkali muncul karena apa yang diinginkan pihak fakultas tidak sesuai dengan apa yang dipahami oleh kami, para mahasiswa. Saya tahu, memang sudah begitu prosedurnya. Yang saya sayangkan adalah ketidakjelasan informasi mengenai prosedur itu seperti dibiarkan berlarut-larut hingga sekarang. Pernah suatu waktu ketika saya sedang mengurus sebuah surat tugas, saya melihat seorang mahasiswa yang hampir menangis di depan ruang administrasi. Saya tidak tahu persis apa yang sedang terjadi, tapi kelihatannya dia sedang mengurus berkas-berkas keperluan sidang kelulusannya. Mahasiswa itu tampak putus asa, dengan segala keringat yang mengucur dan suara bergetar saat berbicara dengan salah satu petugas administrasi. 6

VISI • EDISI 34 • 2017

Saya memperhatikan mahasiswa itu dengan saksama, hingga akhirnya dia dan seorang petugas itu sama-sama lelah karena berdebat tentang format surat yang tidak ada ujungnya. Si petugas kukuh meminta mahasiswa tersebut membenarkan format surat tugas sebelum mendapatkan cap, tetapi si mahasiswa juga tak kalah kukuh mengatakan bahwa dia sudah pontang-panting membuat surat itu semirip yang diminta. Kalau begini, siapa yang salah? Sebetulnya tidak ada yang salah andai informasi mengenai kejelasan prosedur maupun format surat-menyurat disuarakan, diinfokan, atau disosialisasikan secara gamblang dan rutin. Karena saya rasa, hal-hal semacam itu akan lebih memudahkan bagi mahasiswa seperti saya, pun bagi para petugas administrasi supaya tidak melulu naik pitam ketika menghadapi mahasiswa yang tidak paham atau bertanya soal prosedur. Sebagai mahasiswa Sosiologi, saya memahami aturan sebagai sebuah norma yang perlu disepakati bersama. Untuk mendapat kesepakatan atau konsensus itu, perlu ada interaksi antarpihak sehingga apa yang disampaikan sesuai dengan apa yang diterima. Bila aturan dapat terlaksana dan ditaati dengan baik, saya kira kita semua dapat mencapai keteraturan sosial. Jadi intinya, demi mencapai keteraturan sosial di lingkup fakultas tercinta ini, saya mendukung dengan sangat adanya penginformasian tentang prosedur administrasi baik melalui pengumuman, pamflet, atau poster tentang tata cara mengurus surat maupun prosedurprosedur lainnya. Kiranya saran saya dapat bermanfaat untuk dipertimbangkan, demi keteraturan sosial yang lebih baik.


Jangan Jadi Mahasiswa FKIP Oleh: Febri Ernawati Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris

T

iga tahun lebih menimba ilmu di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tak membuat saya termotivasi menjadi seorang guru. Sebaliknya, saya bahkan sedang berfikir kembali, profesi apa yang memungkinkan bagi saya selain menjadi seorang pengajar. Jalan pikir seperti ini bukan tanpa alasan, bukan pula karena saya tidak menyukai profesi yang sangat mulia ini. Kebingungan di kalangan mahasiswa FKIP bukan suatu hal yang baru. Sejak pemerintah mewajibkan lulusan sarjana FKIP mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk mendapatkan sertifikasi mengajar, kami seakan kelimpungan. Bagaimana tidak, kewajian PPG yang harus ditempuh selama dua tahun itu benar-benar menyudutkan kami, para penghuni fakultas berdinding ungu. Salah satu syarat yang harus dimiliki seorang calon guru ialah sertifikasi. Itu bagus untuk menjamin mutu pengajar, karena bagaimanapun, guru menempati posisi yang cukup penting untuk memajukan bangsa dan negara, setidaknya itu yang sering saya dengar di FKIP tercinta. Namun prosesnyalah yang kemudian menjadi problematika. Pola sertifikasi guru yang semula melalui Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) kemudian digantikan dengan PPG. Lama waktu yang harus ditempuh PPG tidaklah pendek, tak kurang dari dua tahun. Nantinya selembar bukti kelulusan PPG tersebut akan digunakan sebagai prasyarat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan guru profesional. Sekali lagi itu bagus demi peningkatan mutu guru di Indonesia.

Namun sayang, PPG tak menerapkan keadilan. Skema dalam PPG membuat sistem pendidikan semakin rancu. Kebijakan yang diterapkan dalam PPG tersurat bahwa profesi guru terbuka bagi semua lulusan Program Studi (Prodi), pendidikan maupun non-pendidikan, asal yang bersangkutan lulus PPG. Keputusan ini tentu cukup ngawur, sangat tidak adil bagi lulusan FKIP atau Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK). Empat tahun proses yang saya dan teman-teman lalui selama menempuh jenjang sarjana seperti tidak ada artinya. Kami harus disandingkan dengan lulusan non-LPTK yang juga memiliki kesempatan sama untuk mengikuti PPG. Kami harus bersaing dengan teman-teman fakultas lain. Sedangkan di lain pihak, dalam peguasaan materi mungkin kemampuan kami sedikit berbeda. Konsentrasi mereka tak terbagi, mata kuliah yang diambil hanya berkaitan dengan prodi yang mereka pilih. Namun kami tidak, kurikulum kami campur-baur. Hal lain yang membuat kami semakin tersudut ialah terbatasnya kuota untuk melanjutkan PPG. Tak sebanding dengan banyaknya lulusan FKIP dan LPTK di Indonesia. Belum lagi jika harus bersaing dengan lulusan dari fakultas lain, tentu akan banyak yang tak tertampung. Lalu akan dikemanakan mereka? Apakah akan dibiarkan menambah jumlah pengangguran di Indonesia?

VISI • EDISI 34 • 2017

7


LAPORAN UTAMA

Merekam Kota dengan Alunan Nada Jauh sebelum ingatan para millennial mampu menjangkau, musik sudah menjadi alat perekam sejati dinamika kota. Apa yang menggerakkan seorang musisi untuk merekam situasi sekitar?

8

VISI • EDISI 34 • 2017


STASIUN BALAPAN - Potret salah satu sudut di Stasiun Solo Balapan, (15/10). Tempat ini sempat diabadikan penyanyi Didi Kempot dalam lagunya yang berjudul Stasiun Balapan. Selain Stasiun Solo Balapan, Didi Kempot sempat pula mendokumentasikan tempat lain di Solo dalam rekaman lagu, salah satunya Terminal Tirtonadi. (Dok.VISI/Sekar) VISI • EDISI 34 • 2017

9


T

aylor Swift pernah menarasikan kota yang ia tinggali lewat tembang gubahannya. Lagu berjudul Welcome to New York yang ia tulis bersama Ryan Tedder mengisahkan kehidupannya di kota New York yang tak pernah tidur. “Inspirasi yang kutemukan ketika menulis lagu ini cukup berbeda dengan inspirasi yang kudapat pada lagu-lagu lainnya,” ungkap Taylor kepada E! Online. Lagu ini lantas mengisahkan optimisme dan kebahagiaan Taylor manakala mewujudkan mimpinya untuk pindah ke New York. USA Today bahkan mendaulat lagu ini sebagai “The next New York anthem.” Taylor Swift bukan satu-satunya musisi yang menawarkan suasana kota dalam musik. Penyanyi wanita asal Jepang, Yui, pernah merilis lagu berjudul Tokyo. Lagu ini mengisahkan tentang kekhawatiran seseorang tatkala harus dihadapkan dengan kehidupan baru di ibu kota Negeri Matahari Terbit. Nun jauh sebelum Taylor Swift muncul sebagai ratu musik country, sejumlah musisi di Indonesia tercatat pernah mencetak lagu berkisah tentang kota. Didi Kempot dengan Stasiun Balapan salah satunya. “Ning Stasiun Balapan / Kutho Solo sing dadi kenangan / koe karo aku..," sepenggal lirik lagu ciptaan Didi Kempot itu barangkali akan mengiang di benak tatkala menginjakkan kaki di Stasiun Solo Balapan. Lagu yang mengisahkan perpisahan dua insan di stasiun kenamaan Kota Solo tersebut terus hidup, menemani kedatangan dan kepergian orang-orang yang memilih menggunakan kereta api sebagai sarana berpindah. Menarik tentunya, ketika tempat berangkat dan datangnya kereta api seperti stasiun saja bisa bertransformasi menjadi inspirasi bagi seorang Didi Kempot. Kisah perpisahan dua insan yang tersemat dalam lagu ini pun berhasil membuat Stasiun Balapan menjadi simbol kegalauan sekaligus melambangkan Kota Solo. Tak sekali itu saja Didi Kempot merekam sudut kota dalam karyanya. Maestro campursari yang lahir di Kota Solo 50 tahun silam itu tercatat pernah merilis tembang-tembang populer 10

VISI • EDISI 34 • 2017

dengan mengusung tempat-tempat ternama di Kota Solo. Terminal Tirtonadi—yang lagi-lagi bertema kegalauan—dan Taman Jurug misalnya. Lewat lagu-lagu itu, Didi Kempot menyampaikan kisah kehidupan muda-mudi dan percintaan yang berada di sekitarnya. Selain Didi Kempot, masih banyak musisi asal Solo lain yang pernah melagukan ruang kota, baik secara fisik maupun perasaan. Misalnya, ada Gesang Martohartono yang hadir dengan lagu Bengawan Solo. Ingatan Gesang mengenai proses penciptaan lagu tersebut pun masih terpatri jelas tatkala Tim Ekspedisi


KICAU KACAU KOTA - Salah satu sudut panggung kala The Mudub tampil di Lokananta, Sabtu (13/05). Acara ini merupakan bagian dari rangkaian promosi mini album baru bertajuk Kicau Kacau Kota. (Dok.Pribadi)

Bengawan Solo Kompas 2007 menanyainya. Pemusik keroncong yang berpulang pada 2010 tersebut mengaku mendapat inspirasi ketika ia tengah duduk di tepian Bengawan Solo. Sungai yang kering di musim kemarau dan menjadi sebab banjir tatkala hujan itu lantas mengantarkan Gesang kepada salah satu karya yang dikenal hingga nun jauh ke berbagai sudut dunia. Sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut sesungguhnya berhulu di Kabupaten Wonogiri, bukan di Kota Solo sebagaimana tertulis dalam liriknya. Hal tersebut diketahui Gesang dengan jelas. Dalam lirik lagu ia bahkan menyebutkan

dengan jelas lokasi mata air Bengawan Solo yang berada di Gunung Sewu, Kabupaten Wonogiri. Gunung Sewu yang dahulu merupakan bagian dari Karesidenan Surakarta membuat lirik Bengawan Solo tidak dapat dipersalahkan. Sungai yang membentang sepanjang 300 kilometer itu menjadi saksi bisu kedigdayaannya sendiri kala menjadi jalur perdagangan di Pulau Jawa. Di tepi sungai Bengawan Solo terdapat bandar tempat berlabuhnya kapal, tepatnya di Kampung Sewu. Gesang yang selesai menciptakan lagu berjudul serupa pada tahun 1940 mengabadikan kejayaan itu dalam alunan musik keroncong. VISI • EDISI 34 • 2017

11


Bukan hanya sudut fisik kota, fenomena yang berada di sekitar penduduk kota pun bisa bertransformasi menjadi kombinasi nada. Sebut saja The Mudub, grup musik indie asal Kota Solo yang menelurkan mini album bertajuk Kicau Kacau Kota pada Mei lalu. Dalam album tersebut, The Mudub salah satunya menyajikan lagu berjudul Bakso Bakar Bang Brewok. Lagu ini menceritakan fenomena merebaknya pedagang bakso bakar di berbagai sudut Kota Solo. “Terciptanya lagu Bakso Bakar Bang Brewok ini terinspirasi dari sempat booming-nya bakso bakar dua tahun terakhir,” kisah vokalis The Mudub, Arum Setiadi saat ditemui VISI usai acara peluncuran mini album Kicau Kacau Kota di pendopo Lokananta (13/05). Kota Solo yang awalnya identik dengan nasi 12

VISI • EDISI 34 • 2017

liwet dan serabi, kini juga mulai dikenal dengan bakso bakar yang bermunculan di berbagai tempat seperti di daerah kampus UNS dan AlunAlun Kidul Kota Solo. The Mudub menambahkan jika kepopuleran tersebut membuat mereka terinspirasi menciptakan lagu Bakso Bakar Bang Brewok. “Seperti sudah menjadi semacam tradisi kalau ke Solo jangan lupa beli ini (bakso bakar -red). Inginnya bakso bakar bisa dikenal seperti serabi dan nasi liwet,” tandas Arum yang disertai anggukan personil The Mudub lainnya. Kehadiran sudut fisik kota hingga fenomena bakso bakar yang menjadi sumber inspirasi bagi musisi ini membuktikan bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja. Hal tersebut diamini oleh salah satu pegiat musik asal Yogyakarta, Erie


BERCENGKERAMA - The Mudub tak sungkan berinteraksi langsung dengan para penggemar mereka. Usai promosi mini album Kicau Kacau Kota di Pendopo Lokananta, Sabtu (13/05) lalu Arum dan kawan-kawan langsung bercengkerama dengan para penggemar. (Dok.Pribadi)

Setiawan. “Bagi musisi yang memang butuh inspirasi dari lingkungan atau kondisi kota tempat tinggal mereka, (kondisi kota -red) bisa jadi sangat berpengaruh bagi kelahiran karya-karya yang istimewa,” ungkap pengamat musik sekaligus salah satu pendiri Lembaga Pusat Informasi Musik Art Music Today itu dalam pesan suara yang dikirim ke VISI (25/06). Secara pribadi Erie menambahkan bahwa sesungguhnya kondisi kota tidak memiliki pengaruh yang besar bagi musisi. Tantangan bagi seorang musisi sejatinya adalah kreativitas di manapun dan kapanpun ia berada, tidak hanya terbatas pada ruang atau tempat ia tinggal. Tema yang disinggung oleh musisi dalam karyanya pun tidak melulu perihal kondisi fisik kota atau fenomena atau isu yang berada di seki-

tar musisi. Erie menuturkan bahwa pada dasarnya musik adalah media. Musik digunakan musisi untuk berkomunikasi dengan pendengarnya. Pesan yang disampaikan pun beraneka ragam, seperti kehidupan sehari-hari, lingkungan, ketuhanan, hingga percintaan. Perkara mengenai bagaimana pesan-pesan dalam musik tersebut diterima oleh para pendengar bisa dilihat dari seberapa efektif pesan tersebut disampaikan. Contohnya The Mudub dalam lagu berjudul Emosi di Jalan dan Andai Aku Jadi Tarzan. Kedua lagu tersebut mengisahkan fenomena sosial yang tengah dialami oleh masyarakat urban. Emosi di Jalan mengisahkan tentang benturan emosi masyarakat perkotaan yang harus berjibaku dengan kemacetan kendaraan di jalanan. The Mudub seolah ingin meluapkan pemikiran mereka tentang masyarakat yang tidak tertib berlalu lintas, terutama ketika antrean kendaraan. Namun kembali lagi, pemaknaan terhadap pesan suatu karya bisa bervariasi bagi para pendengarnya. “Pernah ada mahasiswa yang mendengar lagu ini kemudian berkata bahwa lirik ini kritis. Padahal waktu membuat kami tidak kepikiran ke arah sana, tapi setelah dibilang seperti itu ya kami kait-kaitkan saja,” ungkap Arum kepada Bryan Barcelona dalam ulasan berjudul Menuju Kicau Kacau Kota: Mencoba Menyimak The Mudub dari Sisi yang Berbeda (12/05). Musik dan kota ibarat dua sisi koin yang saling bersinggungan. Keduanya memiliki relasi dengan manusia sebagai mediumnya. Bagi penikmatnya, musik bisa menjadi teman setia dalam menghadapi ragam masalah. Musik kerap menemani kaum urban menanti antrean kendaraan dan menembus kemacetan. Musik pula yang terngiang ketika menjejakkan kaki di tempat-tempat yang pernah dinarasikan lewat musik. Sedangkan bagi musisi, ragam dan permasalahan di kota setidaknya telah menjadi sumber inspirasi untuk karya-karya mereka seperti Didi Kempot atau Gesang dalam mencetak lagu hits mereka. Sebagaimana sulit rasanya untuk tidak mengenang Kota Solo ketika mendengar Stasiun Balapan atau Bengawan Solo, sulit pula rasanya untuk tidak mengasosiasikan Kota Solo dengan musisi-musisi tersebut. Andi, Iim, Mekar

VISI • EDISI 34 • 2017

13


LAPORAN UTAMA

Yang Lokal dan Panggung Internasional Para musisi yang lahir dari ruang Kota Solo terus bergerak. Mereka berkarya dan menolak diam, bahkan terhadap sekat pembatas bernama bahasa dan peta.

14

VISI • EDISI 34 • 2017


VOCA ERUDITA - . Para anggota Voca Erudita menampilkan pertunjukan berbeda dengan format pentas. Penampilan tersebut kan pada pembukaan Indonesian Dance Festifal (IDF) 2016 di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 1-5 November 2016. (Dok.Pribadi)

VISI • EDISI 34 • 2017

15


P

enonton di Corbett National Park memberi tepuk tangan meriah usai para peserta tampil. Malam itu, musisi dari 13 negara membaur jadi satu dan melakukan kolaborasi. Para musisi juga turut menampilkan lagu folk dari negara masing-masing.

Acara bertajuk Ethno India tersebut merupakan festival yang menampilkan jajaran musisi folk dan tradisional dari berbagai negara di dunia. Festival ini bertujuan untuk melestarikan musik tradisional dan mengenalkan budaya dari negara masing-masing peserta. Pada 2016, Ethno India diikuti oleh perwakilan dari negara-negara seperti Chili, Inggris, Belgia, Portugal, Iran, Perancis, India, dan Indonesia. Said Abdullah merupakan satu dari segelintir musisi yang tampil dalam acara tersebut. Duo grup musik yang digawanginya—Jungkat-Jungkit—menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia pada acara itu. “Waktu itu kami bawakan lagu Tak Lelo Ledung. Lagu lullaby (pengantar tidur -red) itu, kami aransemen bersama-sama,” ungkap Said kepada VISI (20/05). Selain Said, Jungkat-Jungkit juga beranggotakan vokalis yang merangkap sebagai gitaris, Safina Nadisa atau akrab disapa Adis. Usaha Said dan Adis mengaransemen ulang dan membawakan Tak Lelo Ledung mendapat respon baik dari para penonton di Ethno India 2016. Terlepas dari perbedaan bahasa, mereka tetap memberi apresiasi tinggi terhadap aksi panggung Jungkat-Jungkit. “Ada orang yang menangis terharu ketika menonton. Ada yang berpegangan tangan, ada juga yang sampai berpelukan,” imbuh Said. Pencapaian Jungkat-Jungkit di kancah internasional tidak berhenti pada Ethno India saja. Akhir 2016, grup yang terkenal dengan tembang berjudul Kuku itu juga diundang tampil dalam acara Frankfurt Book Fair, salah satu festival buku terbesar Eropa yang diselenggarakan di Frankfurt, Jerman. Oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI), Said dan Adis didaulat tampil di stan milik Indonesia. 16

VISI • EDISI 34 • 2017

Di Kota Solo, Jungkat-Jungkit bukan satu-satunya musisi yang mampu menarik atensi masyarakat mancanegara dengan menampilkan lagu-lagu daerah. Voca Erudita juga mendapat pengalaman serupa ketika membawakan lagulagu lokal di panggung internasional. Grup Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UNS yang sudah berdiri sejak 1987 tersebut memang kerap membawakan lagu-lagu lokal di kancah internasional. Pada saat tampil di Austria 2015 lalu misalnya, mereka menyanyikan dua lagu daerah, GerimisGerimis dan Gundul-Gundul Pacul.


FRANKFURT BOOK FAIR - Said Abdullah (kanan) dan Safina Nadisa (kiri) kala tampil dalam acara Frankfurt Book Fair 2016(25/10). Dua musisi yang tergabung dalam grup Jungkat-Jungkit tersebut tampil atas undangan Kedutaan Besar Indonesia di Jerman. (Dok. Pribadi)

“Masyarakat dari luar negeri itu memang menanti-nanti kompetitor dari Indonesia, karena mereka tertarik dengan lagu-lagu daerah di Indonesia,” terang Hanny Vidiastuti selaku Humas Voca Erudita kepada VISI (30/05). Lagu-lagu yang dibawakan Jungkat Jungkit dan Voca Erudita dilantunkan dengan bahasa daerah Indonesia yang syairnya sukar dipahami penonton dari mancanegara. Oleh karena itu, keberhasilan mereka membawa audiens larut dalam suasana lagu-lagu tersebut merupakan bukti bahwa musik mampu melintasi faktor

penghalang bernama bahasa. Ditemui VISI di ruang kerjanya, Pengamat Kesenian dan Budaya Internasional Andrik Purwasito menuturkan apa yang telah dilakukan Jungkat-Jungkit dan Voca Erudita di panggung internasional bukan sekadar memperkenalkan budaya Indonesia. Lebih dari itu, pria yang juga merupakan dosen di Program Studi Hubungan Internasional FISIP UNS tersebut berpendapat jika yang dilakukan dua musisi asal Kota Solo itu sudah termasuk dalam usaha melakukan diplomasi. Pasalnya, penampiVISI • EDISI 34 • 2017

17


lan Jungkat-Jungkit dan Voca Erudita tidak sekadar membuat orang mengetahui budaya Indonesia, tetapi juga sekaligus membuat para penonton tertarik dengan apa yang ditampilkan. “Seperti yang dilakukan oleh JungkatJungkit, mereka telah membangun suatu produk diplomasi. Selain itu selama tiga empat tahun ini Indonesia telah banyak memperkenalkan kebudayaannya ke luar negeri,” ujar Andrik (09/06). Kendati disebut telah berhasil melakukan diplomasi, Said mengungkapkan apa yang dilakukannya bersama Adis bukan sesuatu yang ditargetkan dan dipaksakan harus terjadi. Jung18

VISI • EDISI 34 • 2017

kat-Jungkit, menurut Said, tidak pernah menjadikan keberhasilan tampil di mancanegara sebagai patokan sukses atau tidaknya seorang musisi. “Kami sebenarnya nggak begitu berorientasi ke luar negeri. Kita bisa ke luar negeri juga seolah sudah diarahkan, tahu-tahu ada jalannya,” imbuh Said. Meski tak menargetkan demikian, Said merasa bersyukur. Ia sebelumnya tak memperkirakan Jungkat-Jungkit mampu berdampak baik dan memperkenalkan budaya Indonesia hingga mancanegara.


TAMPIL PERCAYA DIRI - Potret kepercayaan diri para anggota Voca Erudita saat tampil dalam kompetisi internasional yang dihelat di Spittal an der Drau, Austria. Ajang ini berlangsung pada bulan Juli 2015. (Dok.Pribadi)

“Untuk setelah itu ada dampak apa untuk kami pribadi, saya nggak mau bilang, takut sombong,” tambah Said.

Usaha dan Mandiri

Untuk dapat tampil membawakan lagu-lagu lokal di mancanegara bukanlah perkara mudah. Said dan Adis perlu bekerja keras. Pasalnya, kurator dalam festival musik internasional biasanya hanya memilih musik yang benar-benar memiliki karakternya sendiri. Selain itu, untuk berprestasi di level internasional juga diperlukan kemauan berkarya yang kuat. “Yang mau tampil di luar negeri ya, musik-

nya harus punya karakter. Saat ke India itu kan kami juga submit (mendaftar -red), bukan dari pihak Ethno India yang minta secara pribadi kepada Jungkat Jungkit,” ujarnya. Tak sampai di situ, hambatan tak kalah berat untuk mewujudkan keinginan tampil di mancanegara adalah faktor biaya. Jungkat-Jungkit perlu melakukan berbagai usaha mencari uang guna memuluskan jalan mereka. Selain dengan menggelar pertunjukan untuk menggalang dukungan, Said dan Adis bahkan perlu melakukan usaha pengumpulan dana dengan mengadakan support campaign. Usaha ini dilakukan dengan membuat kampanye video yang berisi rangkaian kegiatan yang akan mereka lakukan ketika berada di India, serta merilis merchandise yang dijual secara mandiri. “Biayanya independen sih, jadi kita cari sponsor. Dengan uang sendiri. Nggak ada bantuan dari pemerintah gitu,” ungkap Said. Sementara itu, Andrik mengatakan jika keberhasilan musisi lokal Indonesia tampil di skala internasional akan berdampak positif dalam tiga aspek, yakni musik internasional, musik lokal, dan musisi. Bagi musik internasional, kedatangan musik-musik baru yang belum pernah mendapat perhatian akan menambah gemerlap keberagaman musik itu sendiri. Sedangkan bagi musik lokal, keberhasilan musisinya menembus pasar internasional akan memperkenalkan dan menunjukkan eksistensi diri. Untuk pihak musisi, Andrik menggarisbawahi jika mereka akan mendapat pelajaran berharga, tidak saja selama mereka tampil di luar negeri, tetapi juga dalam proses persiapan hingga sesudah tampil. Menurutnya, apresiasi dari khalayak mancanegara hanya merupakan bonus dari jerih payah mempersiapkan diri. “Tentu saja mereka juga akan mendapatkan pengalaman. Berbagi dengan seniman-seniman di berbagai negara itu tambahan,” pungkasnya. Fauzan, Rifa, Yuni

VISI • EDISI 34 • 2017

19


LAPORAN UTAMA

Mempertahankan Musik Identitas Menelaah musik di Kota Solo, tak akan lengkap rasanya jika tak mengulas keroncong. Seperti satu kesatuan, Solo begitu lekat dengan aliran musik yang dikenal mendayu-dayu ini, sejak dulu hingga sekarang.

20

VISI • EDISI 34 • 2017


EKSIS - Orkes Keroncong Pandhawa merupakan salah satu grup musik keroncong yang masih eksis hingga saat ini. Mereka kerap mengikuti berbagai pagelaran, salah satunya pada Festival Keroncong yang diadakan DPRD Karanganyar dalam rangka hari jadi DPRD Kabupaten Karanganyar ke 66 (22/1). (Dok.Pribadi)

VISI • EDISI 34 • 2017

21


N

ama-nama seperti Gesang dan Waldjinah, sebagai pemusik asal Kota Solo yang begitu legendaris telah menjadi bagian penting dalam sejarah musik keroncong Indonesia. Hingga saat ini, musik keroncong tak pernah ditinggalkan oleh masyarakat Solo. Maka tak heran jika Solo sering disebut sebagai Ibu Kota Keroncong.

Kampung Tugu di Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta merupakan titik awal kelahiran musik keroncong di Indonesia. Keroncong memang berasal dari budaya asing, cikal bakalnya bersumbu pada keturunan bangsa Portugis, sekitar tahun 1770an. Namun musik ini mengalami pelokalan sehingga tak lagi dianggap sebagai produk asing. Keroncong kemudian menyebar ke berbagai kota di Indonesia. Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Solo merupakan kota-kota tempat tumbuh dan berkembangnya musik keroncong. Di Kota Solo, keroncong mulai masuk sekitar tahun 1920an. Peristiwa tersebut ditandai dengan kemunculan Anton Ferdinand Landouw, yang kemudian menjadi penyanyi lagu-lagu keroncong terkenal. Salah satu periode lain perkembangan keroncong di Kota Solo ialah pada masa pendudukan Jepang. Anggapan Jepang tentang keterkaitan erat antara musik dengan politik membuat mereka melarang setiap musik yang kebarat-baratan untuk diputar atau dimainkan. Hanya musik keroncong saja yang waktu itu boleh dimainkan, sehingga keronconglah yang kemudian mengisi kekosongan musik di tengah masyarakat. Salah satu pemusik keroncong yang sudah berkarya pada masa pendudukan Jepang ialah Gesang. Maestro kelahiran Kota Solo, 1 Oktober 1917 ini memiliki karya-karya yang tak tandas dimakan zaman. Beberapa lagunya yaitu Jembatan Merah, Tirtonadi, Bumi Emas Tanah Airku, dan yang paling legendaris yaitu Bengawan Solo. Tak hanya di Indonesia, lagu Bengawan Solo juga pernah populer di negara Jepang, bahkan sukses menjadi musik latar dari salah satu film asal Negeri Matahari Terbit itu. Lebih jauh, lagu ini 22

VISI • EDISI 34 • 2017

telah diterjemahkan dalam 13 bahasa asing. Kepopuleran Gesang dengan karyanya membawa kebanggaan tersendiri bagi para penghuni Kota Solo, seperti yang dituturkan Yanuar (28). Pemuda Solo yang juga merupakan pemusik keroncong ini mengungkapkan kekagumannya kepada sosok Gesang. Menurutnya, lirik lagulagu Gesang terutama Bengawan Solo cukup sederhana namun mampu menciptakan kesan yang istimewa. “Gesang itu maestro, sudah sangat melegenda. Nada-nadanya simple tapi luar biasa. Zaman dulu itu peralatan terbatas, tapi Gesang bisa bikin musik seperti itu, kan keren,” ungkap Yanuar dengan rasa bangga. Ia menambahkan bahwa rumahnya yang dekat dengan Sungai Bengawan Solo, yaitu di Kelurahan Sangkrah semakin meningkatkan kebanggaannya pada Gesang. Bagaimanapun, Gesang mengangkat lokasi di sekitar Yanuar sehingga lebih dikenal banyak orang.

Apresiasi

Perkembangan musik keroncong di Kota Solo terus berlanjut hingga saat ini. Lewat sanggar dan orkes-orkesnya, aliran musik ini menjadi sedemikian dekat dengan masyarakat. Salah satu yang masih memainkannya yaitu Orkes Keroncong (OK) Pandawa, yang berada di kawasan padat penduduk Kelurahan Sangkrah. Orkes yang rutin melakukan latihan setiap pekan pada hari Kamis ini menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat setempat. “Tiap pekan kami ada latihan. Kalau hari Kamis misal nggak latihan, ditanya sama warga, kok tumben nggak latihan. Memang (Keroncong -red) sudah jadi bagian dari kehidupan masyarakat sini,” ungkap Yanuar, salah satu anggota OK Pandawa. Apresiasi masyarakat terhadap musik keroncong sejak tahun 1980an hingga saat ini cukup tinggi. Meskipun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa keberadaannya tak terlalu eksis di kalangan generasi muda era sekarang. Karena itulah, Festival Musik Keroncong hadir di tengah kehidupan masyarakat Solo. Festival ini selalu dibuat sedemikian rupa sehingga mampu menarik minat kawula muda pada aliran musik yang selalu dimainkan dengan ukulele, cello, gitar melodi, bass, flute (seruling), dan biola ini. Acara yang rutin diadakan setahun sekali itu menjadi wa-


TETAP LOKAL - Selain di luar kota, Orkes Pandawa juga kerap mengisi acara-acara lokal Solo. Salah satunya adalah gelaran Lesehan Keroncong Asli yang diadakan di Taman Budaya Jawa Tengah setiap hari Selasa pekan ketiga suatu bulan. (Dok.Pribadi)

dah bagi para pemusik keroncong untuk unjuk kebolehan. Bentuk apresiasi lain juga ditunjukkan lewat Bale Keroncong, salah satu agenda rutin yang diadakan oleh Gramedia Pustaka Utama di Balai Sujatmoko, Solo. VISI berkesempatan hadir pada acara yang digelar pada Jumat (19/05) lalu. Meski acara baru dimulai pukul 20.00 WIB, kursi penonton sudah terisi penuh satu jam sebelumnya. Mayoritas pengunjung memang berusia lanjut, dan hanya beberapa saja yang masih berusia belasan. Situasi tersebut secara tidak langsung mengamini anggapan bahwa keroncong merupakan musik generasi tua. Namun Revita (19) menampik anggapan tersebut. Sebagai penikmat sekaligus vokalis OK Pandawa, ia menilai generasi muda mulai menaruh minat terhadap keroncong seiring perkembangan zaman. “Bahkan sekarang di pelosok-pelosok desa juga ada (orkes keroncong -red). Dulu aku pikir keroncong juga cuma buat orang tua, tapi ternyata sekarang nggak. Mulai banyak anak muda bikin grup-grup keroncong,” jelasnya. Bagi Revita, berkecimpung dalam dunia keroncong menimbulkan kebanggaan dan tantangan tersendiri. Menyadari setiap aliran musik mempunyai tantangannya masing-masing, Revi-

ta tahu betul kesulitan saat membawakan lagu keroncong. “Tidak semua orang bisa nyanyi keroncong, lantaran susah,” terang Revita. Namun kecintaannya terhadap keroncong mengalahkan kesulitan yang dihadapinya. Gadis yang menyukai keroncong sejak kecil itu beranggapan keroncong merupakan aliran musik yang enak didengar. “Keroncong itu lebih enak daripada yang lain, nyanyinya juga enak, nggak terburu-buru, santai, alunannya halus. Sebenarnya keroncong itu hampir sama dengan jazz," tambah Revita. Pernyataan senada diungkapkan Yanuar. Sambil mengisahkan pengalamannya pertama kali tertarik bermain keroncong, ia mengatakan jika melestarikan musik keroncong merupakan panggilan hati. “Setiap Jumat malam kan di sini ada yang main tua-tua, setiap dengar keroncong tertarik saja, didengar enak. Akhirnya gabung, sekaligus untuk melestarikan budaya juga,” pungkasnya. Laila, Marda, Oka

VISI • EDISI 34 • 2017

23


ARTIKEL UTAMA

Yang Lampau dari Silampukau Oleh: Gunawan Wibisono

Penulis dalam buku antologi Tentang Langit (2012)

S

alah satu kelompok musik asal Kota Pahlawan, Silampukau belum lama ini mengeluarkan album penuh perdananya. Duo folk yang terdiri dari Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening ini menelurkan album bertajuk Dosa, Kota dan Kenangan, yang memuat sepuluh lagu tentang memori kolektif keadaan kota yang terekam dan bermalam dalam satu fragmen hidup: Surabaya. Dari sampul album, kita bisa melihat sketsa wajah kota yang tampak enggan sepi, bising, lalu lalang tapi tetap riang. Jika kita menelusuri lagu demi lagu, bisa kita mulai dari urutan nomor satu: Balada Harian. Lagu ini berkisah tentang rutinitas kaum urban dari mulai bangun tidur sampai sesuatu yang tak menentu seperti pertumbuhan kota yang kian asing, kian tak peduli, semakin ngeri, bahkan tak terpahami bagi para penghuninya sendiri.

Tembang dan Kenyataan

Siapa yang tak kenal Dolly? kawasan legendaris lokalisasi pelacuran di Surabaya ini dipotret Silampukau dalam lagu berjudul Si Pelanggan: Dolly / yang menyala-nyala di puncak kota / yang sembunyi disudut jalang jiwa pria Surabaya. Dolly yang ditutup sejak Juni 2014 lalu sempat menjadi buah bibir dan polemik hangat di masyarakat. Jika kita tilik ke belakang, hal serupa ternyata pernah dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui Polisi Susila atau yang disebut zedenpolitie. Menurut majalah Historia Online, Polisi Susila ini didirikan untuk mengurusi masalah kesusilaan dan penegakan moral masyarakat. Tapi prostitusi tak lantas mati dan para pelakunya bergerak secara sembunyi-sem24

VISI • EDISI 34 • 2017

bunyi. Mulai dari pemilik hotel, restoran, dan tempat hiburan malam menyediakan jasa seks berbayar terselubung. Catatan RDGPH Simons, ahli demartologi Batavia, bahkan menyebut prostitusi di Surabaya berkembang menjadi delapan jenis pada 1939. Meski berusaha untuk dibasmi, perilaku yang dianggap menyimpang ini seakan tak pernah mati. Menariknya lagi, fakta sejarah ini seolah diamini oleh Silampukau dengan melantunkan: meski beritamu kini sedang tak pasti / yakinlah pelacur dan mucikari kan hidup abadi. Lagu ketiga berjudul Puan Kelana menjadi sebuah balada romansa bagi sepasang kekasih yang terpisah beda negara dengan sudut pandang Perancis dan Surabaya. Lagu selanjutnya berjudul Bola Raya, sebuah lagu sentilan tentang ruang kota. Silampukau melihat situasi anak-anak yang bermain bola di jalan raya dengan beralaskan aspal dan bergawang sandal. Secara tidak langsung, anak-anak yang bermain bola di jalan raya ini sedang melakukan perebutan ruang kota dari pemodal: tanah lapang kami berganti gedung / mereka ambil untung / kami yang buntung. Dalam buku Merebut Ruang Kota: Aksi Rakyat Miskin Kota Surabaya 1900-1960an (2013), Purnawan Basundoro merekam jejak akuisisi ruang yang dilakukan rakyat miskin Surabaya era 1900-1960an. Setidaknya ada dua kelompok yang menjadi lakon utama dalam buku ini, yakni kelompok rakyat desa pelaku urbanisasi dan penduduk lokal yang terpaksa mengungsi karena perang. Industrialisasi dan perang memaksa rakyat untuk melakukan hijrah.


Ilustrasi sampul album Dosa, Kota, dan Kenangan

Pada akhirnya, si pelaku urbanisasi tak kunjung sejahtera karena harus berebut ruang dengan kondisi Surabaya yang semakin luber oleh para pendatang dan kekagetan para pengungsi perang mendapati keterasingan di rumahnya sendiri karena rumah-rumah mereka telah diakuisisi. Penduduk yang tidak mendapatkan tempat di ruang privat akhirnya terdesak ke ruang publik. Sekali lagi, kota kembali menawarkan kengerian-kengerian tak terduga. Lagu selanjutnya bercerita tentang kawasan hiburan kota, Taman Remaja Surabaya yang ditembangkan lewat lagu berjudul Bianglala. Sementara pada urutan enam dan tujuh, lagu yang berjudul Lagu Rantau (Sambat Omah) dan Doa 1 jadi lagu andalan yang menjadikan album musik ini masuk dalam jajaran album terbaik 2015. Di urutan nomor sembilan, lagu berjudul Sang Juragan menceritakan tentang penjual minuman keras yang bergerak sembunyi-sembunyi. Silampukau melagukannya begitu etnografis: Dari sungai yang berkarat, susuri arah menuju barat / Di seberang kantor wakil rakyat, di sanalah aku bertempat.

Dalam penelitian yang berjudul Industri Rumah Tangga di Sekitar Pabrik: Penyulingan Arak di Beberapa Kota di Jawa sekitar 1870-1925 yang ditulis oleh Kasijanto menjelaskan bahwa Hindia Belanda pernah membuat komisi anti-alkohol untuk alasan moral sekaligus mendongkrak ekonomi. Berbagai organisasi seperti Sarekat Islam dan Muhammadiyah mendesak pemerintah kolonial untuk membuat peraturan terkait minuman beralkohol. Alhasil pada tahun 1918 pemerintah membentuk komisi penanggulangan alkohol (alcoholbestrijding commisie), yang beranggotakan unsur pemerintah dan masyarakat. “Komisi ini ditugasi untuk ‘memerangi’ masalah-masalah yang timbul sebagai dampak dari penggunaan (terutama penyalahgunaan) alkohol di Hindia Belanda,” tulis Kasijanto dalam Historia Online. Lewat album Dosa, Kota dan Kenangan ini Silampukau berhasil merefleksikan kenangankenangannya tentang Surabaya. Tentang konflik yang tak kunjung reda, dan tentang para penghuninya yang menyimpan banyak cerita tentang kotanya. Coba saja. VISI • EDISI 34 • 2017

25


SOSOK

Galih Naga Seno

Mengapresiasi Seni Lewat Musik Kontemporer

S

ore itu, VISI tiba di Taman Hutan Lemah Putih untuk memenuhi janji wawancara dengan seorang narasumber. Kami duduk pada kursi kayu, dipayungi pepohonan sebagai peneduh sambil sesekali mendengar gemeresik bambu yang tertiup angin. Setelah menunggu beberapa saat, sosok bernama lengkap Galih Naga Seno itu muncul. Masih muda, begitu kesan kami ketika pertama bertatap muka dengannya. 26

VISI • EDISI 34 • 2017

Galih Naga Seno adalah seorang seniman kontemporer asal Solo. Ia berasal dari keluarga dengan latar belakang seni nan kental. Ibunya pernah menjadi penari keraton. Ayahnya, Suprapto Suryodarmo, berprofesi sebagai penari dan seniman gerak (free movement) sekaligus pengagas amerta movement. Sebagai bungsu dari tiga bersaudara, Galih merupakan adik dari Melati Suryodarmo, yang juga pernah menjadi model video klip penyanyi Tulus yang berjudul Ruang Sendiri. Setelah kepergian ibunya pada umur empat tahun, Galih dititipkan pada bibinya di Jakarta. 15 Tahun berselang, ia pulang ke Solo untuk melan-


BERLATIH - Latihan dan menjaga ketenangan merupakan kunci keberhasilan Galih Naga Seno menghasilkan karya-karya musik kontemporer yang berkualitas. (Dok.Pribadi)

jutkan jenjang pendidikan. Awalnya ia berniat menjadi mahasiswa Program Studi Arsitektur di UNS, namun suatu kejadian penting mengubah arah hidupnya. Saat itu, pada tahun 2000, Galih menyempatkan diri melihat aksi panggung ayahnya dalam suatu festival di Rawa Pening, Jawa Tengah. Pada festival yang berlangsung selama tiga hari tersebut, di antara para penampil terdapat Daeng Basri, master kendang dan Tari Pakarena dari Sulawesi. Dari Daeng, Galih tertarik melihat pola permainan kendang yang saling berkaitan. Setelah belajar selama sejam, tiba-tiba saja ia diajak ikut dalam pementasan di Rawa Pening tersebut. Pengalaman berpentas secara dadakan itu rupanya menimbulkan kesan tersendiri dalam benak Galih. Sepulang dari pentas, ia memutuskan beralih untuk mendaftar di Jurusan Etnomusikologi, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta—sekarang bernama Insititut

Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Pada masa perkuliahan di STSI, Galih menimba ilmu dari I Wayan Sadra, komponis modern Indonesia yang karyanya telah dikenal hingga panggung internasional. Dalam mengajar, Wayan Sadra banyak memberikan ideologi bermusik bagi mahasiswanya. Salah satu ideologinya yang berkesan bagi Galih adalah membebaskan bunyi dari beban kultur. Kepada VISI, Galih mencontohkan permainan jimbe dari Afrika Barat sebagai salah satu wujud pembebasan bunyi dari beban kultur. Jimbe yang seharusnya dimainkan dengan dua tangan justru dibebaskan dari beban kulturnya dengan penerapan pola-pola kendang jaipong. Seperti itu pula wujud musik kontemporer di mata Galih. Musik kekinian yang terus mencari eksplorasi baik dari segi bunyi maupun kreativitas. Namun, Galih menekankan jika membebaskan bukan berarti tanpa aturan. Pemusik kontemporer harus terlebih dahulu menguasai esensi dari nilai tradisi suatu musik. Jika sudah mahir, barulah ia bisa membebaskan beban kultur dengan cara transmedium—proses pemindahan nilai-nilai tradisi ke medium lain yang baru. Semasa kuliah, Galih juga tergabung dalam grup musik bernama Ethno Ensemble Percussion. Grup yang terdiri dari 50 orang ini terbentuk dari inisiatif I Wayan Sadra. Hingga saat ini, terhitung sudah 16 tahun Galih tergabung dalam kelompok musik yang baginya sudah seperti keluarga sendiri itu. Setelah lulus dari program Pascasarjana ISI jurusan Pengkajian Seni pada 2009, Galih mendapat tawaran mengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan. Kesempatan itu lantas tak disia-siakannya. Hingga saat ini, rutinitas mengajar dilakoninya secara ajeg tiap dua pekan sekali.

Belajar, Bekerja, Berdoa

Dalam bermain alat musik, bidang yang paling ditekuni Galih adalah hand percussion dan alat musik tiup tradisional. Namun ia terus mengembangkan diri dengan belajar berbagai alat musik dan aliran musik dunia secara otodidak. Tidak hanya musik, Galih juga menekuni bisnis. Pada 2004 ia membuka Raga Art Shop di Sriwedari yang menjual alat-alat musik dan buku jurnal khusus musik. Ia turut mempelajari free movement meskipun tidak lantas terjun sepeVISI • EDISI 34 • 2017

27


PERKUSI - Alat-alat musik perkusi merupakan jenis alat musik yang akrab dengan tangan Galih. (Dok.Pribadi)

nuhnya sebagai penari. Tak sampai di situ, Galih juga membangun Taman Hutan Lemah Putih guna memberi fasilitas kepada para seniman dan pelaku bisnis muda agar terbiasa mendekatkan diri dengan alam. Galih pun turut menjadi seorang soundhealer. Orang yang menggeluti profesi ini melakukan pekerjaan penyembuhan penyakit dengan memanfaatkan suara. Galih mengaku mempelajari ilmu keprofesian tersebut secara otodidak dengan proses yang tidak mudah dan cukup lama. Pada 2009, Galih juga mendirikan Drumming Outloud, komunitas bagi siapa saja yang tertarik belajar musik juga tari Afrika Barat. Dari situ ia mendapat undangan pentas ke berbagai festival internasional. Galih memang selalu tertarik mencoba hal yang baru. Prinsip hidupnya ialah belajar, bekerja dan berdoa. "Dengan berdoa saya mencari kenyamanan spiritual. Belajar ialah mempelajari semua spiritualisme. Bekerja ialah apa yang dikerjakan secara keseharian di dunia," tandas Galih dengan nada bicara santai. Sebagai seorang visioner, Galih sering 28

VISI • EDISI 34 • 2017

mendapati orang-orang sekitar kesulitan mengikuti pola pikirnya. Ia juga kerap dipandang sebelah mata, bahkan dianggap gila. Sambil terkekeh, Galih mengakui seniman dan orang gila memang perbedaannya tipis. Keduanya mampu berimajinasi liar dan menikmati dunianya sendiri. Namun dari imajinasi yang tak terduga tersebut, seniman menghasilkan karya luar biasa. Meskipun begitu, Galih menyikapi kenyinyiran orang lain dengan santai. Proses Kreatif Seniman Seniman untuk bisa berkarya memerlukan proses. Pekerjaan seniman tidak hanya mengejar hasil, tetapi harus bisa menikmati proses kesenian. Oleh seniman, proses ini dikenal sebagai proses kreatif. "Bagi saya sendiri, proses kreatif itu selalu berputar. Mulai dari munculnya ide, eksplorasi, pentas, evaluasi, hingga ide baru lagi," ujar Galih menerangkan proses kreatif menurut pandangannya. Sayangnya, menurut Galih seniman saat ini banyak terpengaruh budaya instan sehingga kurang bisa menikmati proses. Seniman muda


"Proses kreatif itu selalu berputar. Mulai dari munculnya ide, eksplorasi, pentas, evaluasi, hingga ide baru lagi." sekarang mudah bangga ketika ikut berpentas dalam ajang yang dirasa bergengsi, kemudian memamerkannya dalam media sosial. Seharusnya tidaklah demikian. Dalam proses kreatif Galih terus mengejar skill dan peningkatan kualitas seninya. Ia berharap bisa menghasilkan berbagai macam peningkatan lewat prinsipnya untuk terus belajar. Selama menjadi pemusik kontemporer, ia juga berkolaborasi dengan seniman lain. Belajar harmonisasi dengan ritme seniman lain dan tidak egois. "Karena kunci musik kontemporer ini harus berkolaborasi, harus bisa menciptakan kreativitas yang baru," tambah Galih.

Musik dan Ketenangan Jiwa

Meski pernah melakoni pentas di berbagai tempat dan kesempatan, mulai dari Solo International Ethnic Music (SIEM), Solo City Jazz 2016, hingga ke panggung internasional, Galih mengatakan tempat yang paling berkesan baginya adalah candi. Diketahui, Galih pernah berkeliling candi, mulai dari Candi Plaosan, Candi Sukuh, Candi Cetho, Candi Borobudur, hingga Candi Kalasan. Tidak hanya candi, Galih juga datang ke kuburan, tempat-tempat keramat, dan mata air untuk mencari inspirasi dan ketenangan. “Sebenarnya saya itu tipikal orang yang penyendiri, nggak suka keramaian. Saya sebagai seniman dalam berkarya ingin yang batinnya tenang,” ujar Galih. Galih percaya, seniman yang tenang dalam membuat karya akan menghasilkan karya yang tenang juga. Sebaliknya, seniman yang karyanya membuat sensor indera rusak, pasti sedang stres dan merasa gagal hidup. Ketenangan dalam bermusik tersebut salah satunya Galih wujudkan dalam karyanya bersama Semeleh, grup kontemporer yang terdiri dari empat orang anggota—

dua penari keraton dan dua komponis. Bersama Semeleh, Galih ingin pelaku maupun penonton bisa merasakan hati yang semeleh (berserah) dan menep (tenang). Galih pun turut membawa musik ke panggung internasional. Baginya, musik menjadi bahasa universal. Meskipun orang luar tidak memiliki pengalaman kebudayaan yang sama, lewat musik mereka bisa ikut mengapresiasi dan merasa tenang, sedih, maupun bahagia.

Apresiasi Musik Kota Solo

Salah satu proses kreatif seniman adalah evaluasi. Untuk bisa disebut seniman, seseorang perlu menciptakan karya yang sudah diakui dan dipresentasikan. Ketika menampilkan karya tersebut, orang lain bisa mendengar, melihat, serta merasa lewat sensor indera kemudian menilai baik buruknya sebuah karya berdasarkan pengalaman tersebut, itulah apresiasi. Tapi daya apresiasi tiap orang berbeda, antara pengamat budaya, seniman, maupun penonton. Sebagai kota budaya, daya apresiasi masyarakat Solo pun beragam. Banyaknya acara kesenian di Solo, tentunya membuat masyarakat bebas memilih macam kesenian yang ia minati. “Tinggi tidaknya apresiasi seseorang itu tergantung dari minat. Minat keseniannya mau kemana,” begitu ujar Galih. Galih menuturkan apresiasi masyarakat Kota Solo akan musik kontemporer sudah bagus. Banyak tokoh musik kontemporer di Solo yang membantu menumbuhkan apresiasi masyarakat mengenai musik kontemporer. “Yang harus diubah dari masyarakat itu mau belajar, mau membuka hati, mau berserah, mau merefleksikan, mau semeleh. Kan Indonesia ini sekarang tegang sekali. Ketika orang mau semeleh, nyelondoh (merendah), mau belajar, akan lebih gampang terbuka, saling memaafkan, saling merangkul,” pungkasnya. Pulung, Chatrine, Novi

VISI • EDISI 34 • 2017

29


SEKAKEN

Geliat Musisi Kondang di Lingkup Kampus

M

eski terkenal sebagai kelompok yang hobi membajak musik, minat generasi millennial Indonesia terhadap gelaran musik yang dibawakan secara langsung (live) ternyata cukup tinggi. Hal ini setidaknya terlihat di UNS. Tiket-tiket event kampus yang mengundang musisi terkenal begitu laris di kalangan mahasiswa.

30

VISI • EDISI 34 • 2017

Harga yang jauh lebih murah dari tiket konser grup musik Korea jadi daya tarik. Di antara sorot lampu panggung dan sistem suara yang bergetar, mahasiswa-mahasiswa penikmat musik live pun berdendang. Art and Sport Appreciation by Economic and Business Faculty of UNS (ARTEFAC) adalah salah satu gelaran usungan mahasiswa FEB UNS yang rutin mendatangkan musisi terkenal sebagai pengisi acara. Gelaran kompetisi seni dan olahraga yang telah hadir sejak 2013 itu tercatat pernah mendatangkan sederet nama-nama mentereng. Sebut saja Sheila On 7, Payung Teduh, Ari Lasso, Endah and Rhesa hingga yang terbaru, Dipha Barus. Mahasiswa fakultas tetangga juga tak ketinggalan, FH UNS dengan Law Year-nya sem-


MUSISI KONDANG - Musisi kondang masih menjadi salah satu daya tarik dalam pagelaran acara kampus di UNS. Salah satunya pada penutupan ARTEFAC 2017 di Lapangan Parkir Selatan Stadion Manahan, Sabtu (11/04) yang turut dimeriahkan gup musik Sheila On 7. (Dok. Pribadi)

pat mengundang RAN pada gelaran di tahun 2016. Nama Fourtwnty kemudian hadir mengisi penutupan Law Year 2017. Animo mahasiswa begitu tinggi. Lebih dari 2.000 orang memadati kawasan Lokananta Solo untuk menikmati sajian musik musisi indie asal Jakarta itu. Ibarat dua kutub magnet, kehadiran musisi kondang di tengah lingkungan akademis mahasiswa memiliki gaya tarik yang sama. Ketua Penyelenggara ARTEFAC 2017, Prata Besto Eltino, mengamini hal tersebut. Menurutnya, Kota Solo memiliki iklim musik yang cenderung berbeda dengan kota besar lainnya. “Hiburan di Solo masih minim dibanding Jogja, Bandung dan Jakarta yang hampir tiap minggu ada,” ungkap Prata kala diwawancarai VISI (20/06).

Sementara itu, kehadiran musisi-musisi kondang dalam gelaran kampus menuai beragam opini dari mahasiswa. Sejumlah apresiasi datang. Tanggapan biasa pun tak terhindari. “Selama nilai moral dan etika masih terjaga, itu lebih penting daripada siapa bintang tamunya (musisi yang tampil -red),” ujar Arif Rizky, mahasiswa Statistika UNS angkatan 2015 kepada VISI (27/06). Hanna Gabriella, mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi 2015, memiliki pandangan yang berbeda. Ia menilai kehadiran musisi ternama bisa menjadi ajang promosi bagi UNS. Sebagai salah satu kampus negeri di Indonesia, menurutnya UNS belum cukup terkenal, “UNS memang universitas besar, namun bukan universitas yang terkenal di kalangan anak muda. VISI • EDISI 34 • 2017

31


BERBEDA - Dengan aliran EDM yang dibawakannya, DJ Dhipa Barus menjadi salah satu unsur pembeda dalam gelaran ARTEFAC UNS tahun ini. (Dok. Pribadi)

Mengundang musisi kondang merupakan pilihan yang menarik perhatian masyarakat luas dan secara tidak langsung turut mempromosikan UNS,” ungkapnya pada VISI (27/06) Berbeda dengan Hanna, Ayu Pratiwi lebih menekankan dampak terhadap pihak penyelenggara. Menurut mahasiswi D3 Akuntansi 2014 itu, penyelenggaraan acara membawa keuntungan bagi panitia, “Mahasiswa jadi bisa belajar bagaimana membuat acara yang besar, berdampak positif dan menghibur, serta menambah relasi,” timpal Ayu. Terselenggaranya acara yang mengundang musisi kondang lantas memunculkan pertanyaan, Apakah UNS merupakan pasar yang menjanjikan bagi musisi-musisi tersebut? “Dibilang pasar yang menjanjikan atau tidak, kalau menurutku tergantung. Karena musik punya segmentasi pasar sendiri,” jawab Sanggra Saka selaku perwakilan panitia Law Year 2016. Tak jauh berbeda dengan Saka, Prata berpendapat bahwa UNS bisa menjadi pasar yang menjanjikan untuk para musisi yang diundang. Ia juga menambahkan bahwa momentum penyelenggaraan yang tepat juga menjadi kunci. “Mungkin UNS bisa menjadi pasar yang menjanjikan, karena masyarakat Solo butuh

32

VISI • EDISI 34 • 2017

hiburan. Tapi yang mungkin perlu untuk diwaspadai yaitu ketepatan momen, jadi nggak bisa juga asal memanggil artis terkenal,” imbuhnya. Mendatangkan nama-nama terkenal dengan panggung mewah ternayata tak semudah membalikkan telapak tangan. Permasalahan dana hingga pemilihan lokasi kerap menjadi masalah yang harus dihadapi pihak peeyelenggara. Saka bercerita kepada VISI perihal kurangnya dukungan dari birokrat kampus yang terkadang menjadi penghambat dalam terselenggaranya acara. “Untuk hambatan pasti ada, tapi yang paling disesalkan dari kampus adalah kurangnya dukungan. Padahal tidak menutup kemungkinan antarfakultas bisa bergabung membuat satu acara besar yang mampu membawa nama baik UNS tercinta ini,” ungkap Saka. Senada dengan Saka, Prata menambahkan jika terbatasnya dukungan dari acara musik biasanya disebabkan oleh konsep acara yang kurang sesuai dengan branding kampus. “Mungkin acara yang diselenggarakan mahasiswa kurang sesuai dengan keinginan kampus. Oleh karena itu, dukungan yang kampus berikan masih sangat minim,” pungkasnya. Irma, Ratna


INFOGRAFIS

VISI • EDISI 34 • 2017

33


POTRET

Dari Musik Hingga Monumen Pengabar Zaman Oleh: Fitriana Sekar Ayu Ritmawanti

Piringan hitam mulai dipasarkan pada tahun 1958 dengan label 'Lokananta' yang bermakna gamelan di kahyangan yang berbunyi tanpa penabuh.

Sejak didirikan, Lokananta mempunyai dua tugas besar. Yaitu produksi sekaligus duplikasi piringan hitam dan casette studio

34

VISI • EDISI 34 • 2017


Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 215 Tahun 1961, status Lokananta menjadi Perusahaan Negara dan menjadi salah satu cabang dari Perum Percetakan Negara RI yang juga memiliki kegiatan perekaman, studio musik, penyiaran, serta percetakan dan penerbitan.

Salah satu karya musik produksi Lokananta adalah rekaman lagu Rasa Sayange bersama dengan lagu daerah lainnya dalam satu piringan hitam.

Lokananta memiliki lebih dari 5.000 koleksi rekaman lagu daerah dari seluruh Indonesia, bahkan hingga rekaman pidato kenegaraan Presiden Soekarno.

Rekaman gending karawitan gubahan dalang kesohor Ki Narto Sabdo, dan karawitan Jawa Surakarta dan Yogya merupakan sebagian dari koleksi yang ada di Lokananta.

Koleksinya antara lain terdiri dari musik Gamelan Jawa, Bali, Sunda, Sumatera Utara, VISIdan • EDISI 34daerah • 2017 lainnya. music 35


36

VISI • EDISI 34 • 2017


DETAK

Dangdut The Music of My Country Oleh: Muthi'atul Asna Redaktur Pelaksana Majalah

M

asih teringat jelas ketika media sosial dihebohkan dengan kematian Irma Bule, seorang penyanyi dangdut yang meninggal karena dipatuk ular dalam sebuah aksi panggungnya. Wanita yang selalu membawa ular dalam setiap penampilannya itu, suatu ketika tak sengaja menginjak ekor rekannya, dan sialnya binatang berbisa tersebut kemudian memagut paha Irma. Seketika itu Irma tak langsung berhenti. Ia tetap saja bergoyang sembari merampungkan lagunya. Hingga sepuluh menit berlalu, setelah racun dirasa mulai menyebar, Irma kejang-kejang, ambruk dan harus meregang nyawa. Apa yang terjadi pada Irma memang miris. Fenomena itu tak hanya berkisah tentang kematian seorang penyanyi pinggiran. Irma menjadi salah satu potret dari ajaibnya cara-cara manusia pinggiran dalam bertarung mempertahankan hidup. Perempuan yang harus menghidupi ketiga anaknya ini mencari peruntungan dengan menjadi biduanita, bergoyang dan menghibur penonton. Agar unik Irma pun punya cara nya sendiri, bernyanyi dengan melilitkan ular di tubuhnya. Irma dan kisah mirisnya itu sekaligus menunjukkan sengitnya kompetisi hiburan di panggung-panggung dangdut. Ia harus bersaing dengan sesamanya, mempertontonkan penampilan semenarik mungkin, dengan kostum sedemikian rupa agar tetap laku di pasaran. Kematian Irma kemudian menyisakan

banyak hal, mulai dari berita simpang siur di media massa, hingga komentar-komentar miring masyarakat. Ada yang mengasihani, ada pula yang menyayangkan, dan tak sedikit yang berkomentar, “penyanyi erotis meninggal dalam maksiatnya.” Tak hanya itu, kisah tragis Irma juga menambah panjang daftar fenomena dalam belantika musik dangdut. Seperti kata Project Pop dalam lagunya, Dangdut is The Music of My Country, berbagai fenomena yang terjadi dalam dinamika musik dangdut seringkali merepresentasikan apa saja yang ada di masyarakat kita. Lagu seperti gelandangan milik Rhoma Irama hingga lagulagu yang mengetengahkan tema-tema sensual seperti Buka Sitik Jos, Satu Jam Saja, dan Hamil Duluan, nyatanya tak bisa lepas dari gejalagejala yang terjadi di masyarakat. Menjadi pilihan aliran musik yang paling sering diputar di warung-warung kopi dan bis-bis kota, dan yang paling sering ditampilkan dalam hajatan-hajatan masyarakat dengan orkesnya, membuat dangdut layak disebut sebagai musik yang paling merakyat. Terlepas dari beragam stigma yang melekat selama ini. Musik yang tak diragukan lagi ke-Indonesiaannya ini pada mulanya berakar dari musik melayu, yang kemudian dibubuhi tekstur nada Arab dan India. Nama dangdut mulai dikenal sejak tahun 1970an. Konon penamaannya merupakan suatu “onomatopoetik,” yaitu kata yang diambil begitu saja dari bunyi-bunyian, dalam VISI • EDISI 34 • 2017

37


Ilustrasi: Mae

kasus ini alat musik gendang. Sebelum berkembang menjadi dangdut, musik melayu kerap dinilai sebagai musik pemenuh kebutuhan ideologis karena sifatnya yang merakyat. Di era 1960an, bagi golongan kiri dan nasionalis musik barat dianggap merusak moral, serta tak sesuai dengan masyarakat Indonesia. Sehingga musik melayu menawarkan alternatif bagi musik barat. Kemunculan musik dangdut tak pernah lepas dari raja dangdut Oma Irama. Penyanyi yang kemudian menyebut dirinya Rhoma itu, menyodorkan “musik baru� menggantikan musik rock barat yang baru ditinggalkannya. Tak hanya Rhoma, beberapa penyanyi lain juga menjadi pionir dangdut, sebut saja A. Rafiq yang mewakili irama India, dan Meggy Z serta Elvi Sukaesih yang mewakili irama Melayu. Rhoma sendiri menambah sub-aliran dangdut, dengan 38

VISI • EDISI 34 • 2017

menyertakan rock di dalamnya, sehingga muncullah rock-dut. Dalam dinamika perkembangannya, banyak stigma pernah melekat pada musik dangdut. Mulai dari musik yang dianggap vulgar, sensual, hingga kampungan. Di masa Rhoma, dangdut justru hadir dan menyentuh hampir semua kelas sosial. Kalangan menengah saat itu tak malu-malu ikut melebur dalam alunan gendang dan bergoyang. Sedangkan orang-orang kecil, telah lebih dulu hanyut dalam irama lagu-lagu Rhoma. Seiring dengan penerimaan khalayak ramai, Rhoma pun naik daun. Dangdut kemudian membawanya pada panggung musik kelas atas dengan kostum menawan, tata suara yang apik, dan pencahayaan yang menyerupai konserkonser besar. Tak tanggung-tanggung, ia pun berhasil mencicipi rasanya manggung di luar negeri.


Di masa Rhoma Irama, dangdut memiliki kecenderungan arah yang lebih religius. Dalam salah satu filmnya, Perjuangan dan Doa yang muncul di tahun 1980an, Rhoma menonjolkan latar dan musik dengan pesan-pesan dakwah yang kental. Beberapa lagu yang ditampilkan di dalamnya seperti lagu Haram dan Nafsu Serakah, selain mampu membuat orang berjoget juga menjadi contoh musik Indonesia kontemporer yang menyampaikan pesan dakwah di dalamnya. Namun dunia dangdut tak hanya ditampilkan dalam panggung-panggung besar Rhoma. Panggung-panggung kecil di pinggiran kota juga ikut hadir memeriahkan jagad musik dangdut. Panggung-panggung itu pula yang memperkenalkan nama-nama seperti Inul Daratista dengan goyang ngebor-nya atau Uut Permatasari dengan goyang patah-patahnya, serta Lilis Karlina dengan goyang karawangnya. Panggung itu juga yang menghadirkan cerita tentang Irma Bule, juga Irma-Irma lainnya. Penyanyi-penyanyi tersebut kemudian memberi citra baru dalam musik dangdut, citra yang lebih sensual, citra yang dianggap merendahkan derajat musik dangdut karena hanya menjual lekuk tubuh. Citra sensual tersebut juga didukung oleh lagu-lagu dengan lirik sensual pula, seperti Bukak Sitik Jos, Mobil Bergoyang, Wanita Lubang Buaya serta Belah Duren. Fenomena ini sejatinya membuktikan adanya perubahan dalam tatanan hidup masyarakat Indonesia. Hal yang semula dianggap tabu bagi perempuan, kini diumbar secara blak-blakan. Inul dan teman-temannya kemudian dianggap anak haram oleh Rhoma. Hingga kini mereka tak mengantongi restu dari raja dangdut tersebut. Meski demikian anggapan-anggapan itu tidak begitu saja melunturkan nyawa panggungpanggung dangdut pinggiran. Inul tetap saja eksis di televisi dengan gosipnya. Begitu juga dengan panggung-panggung kampanye partai yang tak pernah sepi dari goyangan heboh penyanyi dangdut. Bahkan panggung politik pulalah yang menjadi media bagi eksistensi musik dangdut di tanah air, di lain sisi dangdut juga menjadi media komunikasi politik yang dirasa cukup ampuh menarik massa. Keduanya—dangdut dan politik—kemudian menjalin hubungan mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain.

Seiring dengan meredupnya panggung Rhoma yang dinilai santun, panggung-panggung kampung terus bertransformasi. Kelompok-kelompok orkes Melayu terus tumbuh. Mereka malah memodifikasi dangdut dengan berbagai aliran, hingga muncullah dangdut koplo. Aliran dangdut yang sedang marak ini memiliki elastisitas yang tinggi. Dangdut koplo mampu meng-koplokan apa saja, baik lagu-lagu barat maupun lagu-lagu pop dalam negeri. Hanya dalam dangdut koplo, kita dapat mendengar lagu Flash Light-nya Jessie J dinyanyikan dengan goyangan Via Vallen, atau See You Again-nya Wiz Khalifa, My Heart Will Go On-nya Celine Dion, hingga Syiir Tanpa Waton-nya Gusdur disandingkan dalam jenis irama dan nada yang hampir sama. Dangdut koplo kini merajai bis-bis antarkota, mengisi daftar lagu tempat-tempat karaoke, hingga menjadi salah satu musik yang digemari anak-anak. Musik memang memiliki nyawanya sendiri. Tak hanya sekedar rangkaian nada dan irama, musik menyimpan banyak makna. Musik seringkali merepresentasikan apa saja. Entah itu peristiwa maupun fenomena, musik membuatnya terlihat lebih nyata. Begitu pula dengan musik dangdut. Anggapan sebagai musik religi, alat politik, vulgar, kampungan, hinga musik comberan tak melunturkan eksistensinya hingga saat ini. Dangdut tetap menjadi musik favorit bagi supir-supir angkot. Orkes dangdut tetap menjadi kelompok musik yang paling sering tampil di acara hajatan. Mungkin benar juga pertanyaan retoris yang pernah diajukan penerbit Tempo. “Siapa tahu, irama Melayu memang merupakan musik yang paling memenuhi selera orang Indonesia.”

VISI • EDISI 34 • 2017

39


TEROPONG

Ilustrasi: Diah & Mae

Sampaikanlah Walau Satu Hoaks Oleh: Udji Kayang Aditya Supriyanto

J

Peminat kajian budaya populer dan mengelola Bukulah!

ika ukuran iman adalah sejauh mana kita mempercayai dan memiliki keyakinan terhadap sesuatu, maka kita adalah orangorang dengan iman kuat. Kita sungguh ikhlas menerima berbagai informasi yang beredar di media sosial dengan keberserahan tinggi. Kita tak perlu mencurigai berita-berita dengan narasumber anonim, sebab kita percaya setiap media massa (termasuk media daring) sudah pasti mematuhi kode etik. Kita tidak terganggu dengan pemberitaan yang tendensius dan menyudutkan salah satu pihak yang kebetulan kita tidak sukai. Kita tahu, keberpihakan itu manusiawi. Kita tidak mengenal “verifikasi,” kata itu hanya dipakai orang-orang yang imannya lemah. Tuhan, misalnya, ada karena kita percaya: tak perlu diuji, tidak usah diverifikasi. Begitu pula berita, yang kita butuhkan hanya komponen terpenting iman: percaya. Kita percaya Partai Komunis Indonesia (PKI) sedang berusaha bangkit lagi. Hari-hari 40

VISI • EDISI 34 • 2017

ini kita dengan mudah menemukan spanduk bertulis: Waspadai Bangkitnya PKI..! Ingat...! Para Pahlawan Revolusi Korban Kebiadaban PKI..! Spanduk tersebut konon dipasang oleh Forum Anti Komunis (FAK). Kita tahu forum adalah ruang diskusi berisi orang-orang cerdas yang saling bertukar pikiran. Maka, sudah pasti isu kebangkitan PKI adalah hasil pertimbangan matang, bukan dugaan asal-asalan. Pemasangan spanduk itu sebagai bukti bahwa “bangkitnya PKI” adalah kebenaran yang disepakati forum. Jangan percaya buku Baskara T. Wardaya yang sudah sering diobral, atau buku John Roosa yang disebarkan serampangan lewat internet. Aku punya teman, sesama lulusan Sosiologi di universitas dekat kebun binatang. Ia pernah bercerita tentang ujian skripsinya yang sukses dan dipuji dosen pembimbing. Tentu saja aku kagum, ternyata di program studi Sosiologi masih ada yang lebih cerdas dariku. Hanya saja, aku lumayan terkejut ketika pada suatu kesem-


patan berdiskusi soal komunisme. Temanku ngotot menyebut PKI sedang dalam proses kebangkitan. Hal-hal yang disampaikannya itu belum pernah kujumpai sekalipun dalam buku-buku terbitan Resist Book, Marjin Kiri, Ultimus, dan sebagainya. Saat itu, aku malu dan benar-benar minder, mengetahui pengetahuanku belum seberapa. Selama ini, aku terlalu bergantung pada informasi dalam buku-buku. Kalau temanku yang cerdas saja percaya PKI bakalan bangkit, masa kita tidak percaya? Bagi yang belum mendapat hidayah untuk mempercayai bangkitnya PKI, Jason Ranti sudah membikinkan lagu bagus berjudul Bahaya Komunis. Simak saja liriknya: aku berpikir/ lalu terkilir/ orang-orang kiri/ seperti penyihir/ kulihat dunia di titik nadir/ kulihat negara terombang-ambing/ orang-orang kiri/ mendadak hadir// kucari petunjuk di dalam kitab/ susuri kalimat/ biar ku mantap/ kubaca pelan/ mulai dari kiri/ menuju ke kanan/ mulai dari kiri/ menuju ke kanan// kini kusadar/ apa yang kubuat/ aku membaca mulai dari kiri/ oh, ini buku pasti buku kiri/ oh, buku kubakar!// Kita perlu waspada, PKI bisa bangkit dari mana saja. Selain dari buku, Jason Ranti menyebut PKI bangkit dari pengajaran aritmatika di sekolah. Kita tahu, arit adalah simbol komunis. Aritmatika adalah ilmu tentang komunis! Kita selesai dengan isu komunis. Kesimpulannya jelas: kita mesti percaya bahwa PKI berusaha bangkit! Kini kita menyoal perihal yang jauh lebih penting, tentang ruang di mana kita hidup. Sisir Tanah dalam lagu berjudul Bebal menyebut “bumi adalah ibu,” maka selain merawat dan menyayangi, kita mesti mengerti betul tentang ibu kita: bumi. Jangan percaya kalau ada yang bilang bumi berbentuk bulat. Jangan menyamakan bumi dengan tahu yang digoreng dadakan, enak, lima ratusan. Bumi bulat hanya akal-akalan sutradara film sci-fi Hollywood saja. Sudah sejak sekolah dasar, kita berkenalan dengan atlas yang memungkinkan bumi tampil seutuhnya di lembaran kertas datar. Kita tahu peta pun berusia lebih tua daripada globe. Maka, kita mesti menghormati yang lebih tua, menghormati klaim bumi datar dan menolak bid'ah yang menyebut bumi itu bulat. Perkembangan teknologi memunculkan sekian aplikasi modifikasi foto, salah satu yang terkenal adalah Adobe Photoshop. Teknologi menghadirkan kebermanfaatan bagi kita. Aplikasi modi-

fikasi foto hadir sebagai upaya memperindah gambar yang sedianya akan kita tampilkan di media sosial. Segala yang indah sudah pasti baik, begitulah klaim estetika para filsuf zaman antik. Jadi, jika aplikasi modifikasi foto hadir dengan tujuan memperindah, maka aplikasi tersebut sudah pasti baik. Kita mesti beramai-ramai tampil di media sosial dengan foto indah hasil suntingan. Berita pun juga mesti kita antar dengan foto suntingan pula, masa tega mengabarkan berita disertai foto jelek? Bisa-bisa ditimpuk pakai buku tebal Sejarah Estetika garapan Martin Suryajaya. Sepertinya kita perlu menyoal lirik lagu FSTVLST, Hal-Hal Ini Terjadi: di masa engkau terlahir orang-orang berlomba menuju masa depan yang cerah/ seakan berhak mengengam dunianya yang luas tak berbatas dengan telapak tangan dan ujung-ujung jarinya/ mereka kegirangan, heran, lupa berkedip, lupa menoleh/ lalu tidak sadar bahwa mereka hanya melihat satu titik kecil/ dan melupakan sisa luasnya semesta/ kau terlahir di masa mahasempit. Lagu itu sesat. FSTVLST seakan menyebut hidup di media sosial sebagai satu titik kecil saja dari luasnya semesta. Zaman sudah kian modern dan global, eksistensi kita mendesak dibuktikan lewat media sosial. Khalayak media sosial bukan titik kecil, namun jaringan yang membentuk semesta tak terhingga. Maka, sebagai khalayak media sosial yang beriman, kita mesti memahami modus eksistensi di ruang maya. Media sosial adalah ruang bagi hoaks berkeliaran, berkejaran, bertepuk tangan. Kita tinggal memilih: menjadi anak zaman atau hidup di luar sejarah? Kita bisa menjadi anak zaman yang secara tekun mendakwahkan hoaks kepada khalayak. Sampaikanlah walau satu hoaks. Setiap hoaks yang kita dakwahkan akan mendatangkan banyak like, share, dan amin. Dari hoaks, hidup kita berlimpah doa. Jika kita tidak mau jadi anak zaman yang berlimpah doa, maka kita hanya akan berada di pinggir jalan raya informasi. Kita hanya berdiri menyaksikan arus informasi berlalu-lalang sambil (paling-paling) bilang, “Om, hoaks Om!” Melawan hoaks adalah aksi yang susah heroik lantaran memusuhi publik dan zaman. Sudahlah, kita percayai saja segala berita di media sosial sebagai kebenaran, dan cukup esai ini saja yang hoaks.

VISI • EDISI 34 • 2017

41


LAPORAN KHUSUS

Segala yang Terdengar dari Bunyi Cadas Kalem dan halus. Dua kata tersebut adalah kata ganti yang kerap digunakan untuk mendeskripsikan Kota Solo beserta orang-orangnya. Selentingan bunyi gamelan yang pelan atau gerakan lemah gemulai penari Gambyong barangkali akan terlintas di pikiran tatkala membicarakan Kota Solo. Hal demikian tidak selamanya benar.

42

VISI • EDISI 34 • 2017


TETAP MENGGEMA - Rock In Solo merupakan salah satu acara yang mengidentikkan Solo dengan musik rock. Acara ini masih rutin terselenggara sejak diinisiasi tahun 2004 silam. (Dok.Pribadi)

VISI • EDISI 34 • 2017

43


M

alam hari tertanggal 28 Mei 2004, suara gemuruh memecah keheningan Gelanggang Olahraga Manahan. Sebuah panggung bergetar karena hentakan sekelompok orang di atasnya. Di hadapan orang-orang itu, kurang lebih 1.500 orang lainnya melakukan ritual yang sama. Berkali-kali kepala mereka mengangguk-angguk, persenggolan badan dengan rekan sejawat pun diabaikan. Malam itu yang ada di benak mereka hanya lengkingan nada dari gitar listrik, dentuman bass yang ritmis, serta sinergi suara vokalis dan alat musik. Tujuh kelompok musik tampil di depan khalayak penikmat musik cadas Kota Solo. Malam itu Kota Solo terdengar tak sekalem biasanya. “Momen yang paling krusial adalah tahun 2004. Ketika awal Rock In Solo diselenggarakan,” Ariwan K. Perdana, pengamat musik rock Kota Solo, mengenang masa awal dimulainya salah satu helatan akbar musik cadas itu. Demikian kisahnya saat ditemui VISI di salah satu warung makan di kawasan Solo Baru (24/6). Gelaran perdana Rock In Solo kala itu mengusung tajuk Road to Euro. The Think Organizer, penyelenggara yang melahirkan Rock In Solo menghadirkan Tengkorak, The Brandals, Seringai, Down For Life, Sporadic Bliss, Automatic, dan Russian Roulette. Dewan Jendral The Think Organizer, Stephanus Adjie mengatakan bahwa hadirnya Rock In Solo merupakan keinginan untuk mengenalkan Solo dengan nuansa yang berbeda. Pria yang akrab dipanggil Adjie ini berpendapat bahwa Solo tidak hanya identik dengan batik, wayang, dan keroncong. The Think Organizer membawa misi mengangkat Kota Solo di kancah nasional dan internasional lewat musik rock. Latar belakang musik rock membuat mereka menjadikan aliran musik ini sebagai pijakan. “Kami harus membuat sesuatu yang menarik. Kalau festival keroncong, wayang, atau batik tidak akan ada yang spesial, kalau saya bikin festi44

VISI • EDISI 34 • 2017

val rock (di kota Solo -red) akan mengejutkan,” kelakar pria yang juga merupakan pentolan Down For Life ini saat ditemui VISI usai konferensi pers konser Pesta Partai Bar-Bar di kawasan Manahan (18/05). Salah satu grup musik yang kerap diundang manggung di Rock In Solo, Bandoso, merasakan bahwa setelah adanya acara tersebut, penggemar musik cadas di Kota Bengawan mulai meningkat. “Kalau sekarang banyak anak muda yang suka metal, ya berpengaruh setelah itu (Rock In


SELALU RAMAI - Tak banyaknya acara musik yang mengkhususkan rock membuat masyarakat Solo yang mencintai aliran musik ini rela mengorbankan waktu dan berbondong-bondong hadir di setiap pagelaran konser musik rock, tak terkecuali Rock in Solo. (Dok.Pribadi)

Solo -red),” ujar Agung "Nonot" Pranawa, gitaris Bandoso saat ditemui VISI di sela-sela waktu latihannya (08/07). Budaya Perlawanan Musik rock bukan hanya sebuah musik dengan alunan cepat dan keras. Bagi pencintanya, baik musisi maupun penggemar, musik rock bisa diartikan sebagai suatu simbol perlawanan. “Musik perlawanan adalah musik rock, bukan hanya musiknya yang keras saja, melainkan juga spirit-nya,” terang Adjie.

Hal serupa turut diamini oleh Syaiful Usman. Produser musik yang mulai menggemari aliran rock sejak di bangku SMP itu mengungkapkan bahwa musik rock mewakili emosinya. “Musik yang pertama kali saya kenal itu rock, itu pun ada pengaruh dari teman-teman saya. Alasan lainnya juga adalah kondisi emosi saat SMP. Masa itu adalah masa-masanya memberontak dan emosi labil,” jelasnya. Perkembangan musik rock bila dilihat dari sejarah Kota Solo memiliki kaitan yang begitu VISI • EDISI 34 • 2017

45


erat, Stephanus Adjie menyebutkan bahwa Kota Solo sebenarnya memiliki budaya perlawanan yang sangat besar. Ia menerangkan berbagai pergerakan yang dilakukan oleh orang Solo pada masa pemerintahan Belanda. Bagaimana Pangeran Sambernyawa melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh Belanda hingga kehadiran Sarekat Dagang Islam. Organisasi pedagang yang dibentuk oleh Kyai Haji Samanhudi tersebut hadir untuk menentang politik Belanda. Kemudian, era ketika Jokowi masih di sini, ketika orang Solo merasa bangga menjadi orang Solo, yang mana hal itu menandakan keberhasilan psikologis bagi orang Solo. “Solo ini bukanlah kota yang kalem, tapi berisi orang-orang yang kritis. Kita ini merupakan orang yang penting, tapi juga kota dengan orang-orang pensiunan makanya disebut kalem,” tambah Adjie.

Identitas Baru

Ruang gerak musisi rock asal Kota Solo tak hanya sekedar isapan jempol belaka. Down for Life dan Bandoso merupakan grup musik asal Solo yang pernah menghiasi panggung Hammersonic, sebuah festival metal terbesar di Asia Tenggara. Dua nama di atas merupakan alumnus Rock In Solo. Jika Down For Life sudah beberapa kali tampil di panggung Hammersonic, Bandoso baru tahun kemarin mencicipi cadasnya panggung pergelaran ini. Dengan tampilnya musisi Kota Solo di panggung nasional, gema musik lokal pun tak hanya didengar oleh masyarakat Kota Bengawan. Hal ini membuktikan bahwa Kota Solo mampu melahirkan talenta-talenta pemusik cadas. “Masyarakat luar Solo banyak merespons dan juga media-media banyak mengulas tentang Rock In Solo,” ujar Ariwan. Semakin dikenalnya Kota Solo sebagai penghasil musisi rock bisa saja mengangkat musik rock sebagai identitas baru untuk Kota Solo. Pagelaran musik yang kemudian menjadi identitas bagi sebuah kota bukanlah suatu hal baru. Ariwan mencontohkan pagelaran musik Wacken Open Air, gelaran musik metal asal Kota Wacken, Jerman. Nama Wacken lebih dikenal oleh publik dunia sebagai nama festival musik daripada sebagai kota. Menurut Ariwan musik rock Kota Solo dengan Rock In Solo-nya bisa saja menjadi identitas musik bagi Kota seluas 44,4 kilometer perse46

VISI • EDISI 34 • 2017

gi ini, namun pencapaian tersebut bukanlah hal yang mudah. Yang perlu diperhatikan oleh seluruh elemen penggiat musik cadas adalah kerja keras dan konsistensi. “Semua itu dibutuhkan konsistensi,” ujar pria yang juga aktif di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Yogyakarta ini.

Penuh Tantangan

Menurut Ariwan, perkembangan musik rock saat ini sudah semakin variatif. Hal ini ditunjukkan dengan semakin beraninya suatu kelompok musik atau musisi dalam mengeksplorasi aliran tersebut bersama aliran musik lain. Terkadang, terdapat kombinasi antara musik rock dan aliran musik lain yang dilakukan oleh sang musisi. Kombinasi aliran musik ini lantas menjadikan aliran musik rock semakin unik. “Cukup dalam juga teman-teman di Solo mengeksplor bagaimana mereka akan memainkan musik rock. Metalcore sudah ada, death metal sudah ada, kemudian mereka mencoba untuk mengarungi aliran-aliran musik rock yang ada. Jika berbicara suatu aliran itu, abu-abu. Sekarang ada band misalnya mungkin dari sisi vokal dia seperti jazz metal, tetapi musiknya black metal. Sehingga sedikit sulit untuk mengategorikan mereka kemana,” tutur Ariwan. Senada dengan Ariwan, Adjie juga mengapresiasi hasil karya musisi-musisi baru di Kota Solo. Namun, ia berpendapat bahwa seorang musisi tidak sebatas membuat karya yang bagus tetapi juga harus memperhatikan bagaimana dirinya memasarkan lagu-lagunya. “Band-band (musisi -red) baru itu, kalau dilihat dari lagunya itu lumayan dan menarik, hanya saja PR terbesarnya yaitu marketing ke publik. Karena Solo bukan kota besar yang diperhatikan secara nasional,” ungkap Adjie. Begitupun dengan pergelaran Rock in Solo, Adjie berpendapat bahwa ada tantangan yang menunggu untuk dihadapi acara tersebut. “Tantangannya semakin besar. Dulu ketika membuat Rock In Solo, hanya ada band-band Indonesia, sekarang kami harus mengundang band-band Internasional. Rock In Solo itu tanggung jawabnya lebih besar,” pungkas Adjie.

Agung, Nabilah, Syam


LAPORAN KHUSUS

Menyisir Benang Merah Musik Komedi

Ragam aliran musik dapat ditemui dari yang serius hingga yang santai, bahkan terdapat pula yang nyeleneh, seperti halnya musik komedi. Selain tujuan pembuatannya yang berbeda, aliran musik ini memiliki ciri khas tersendiri. Biasanya, musik komedi cenderung memiliki lirik lagu yang pendek dan singkat. Hal ini karena lirik yang panjang akan menimbulkan kebosanan. Lantas, apakah sejarah musik komedi di Solo hanya sependek liriknya?

PANJANG UMUR - Grup musik asal Kota Solo, Pecas Ndahe hampir menyentuh usia 24 tahun. Pada 2015 lalu mereka merayakan ulang tahun ke-22 dengan menampilkan kolaborasi bersama finalis ajang Indonesia Mencari Bakat (IMB). (Dok.Internet)

VISI • EDISI 34 • 2017

47


M

embincangkan musik rasanya tak akan lengkap tanpa menyinggung pelakunya. Begitu pula dengan musik komedi, yang tak akan lengkap rasanya jika tanpa menyinggung musisi yang membesarkan aliran musik nyeleneh tersebut. Tak hanya di ibu kota, pertumbuhan grup musik komedi pun terjadi di Kota Solo. Sebut saja Teamlo, Pecas Ndahe, FISIP Meraung, Padiangan Enam, dan pelopor grup musik komedi Solo, Suku Apakah. Danang, pengamat musik sekaligus pengelola studio rekaman Lokananta pun tak menampik peran besar Suku Apakah. “Awal mulanya (grup band komedi di Solo -red), kalau tidak salah, tahun 80-an ada yang namanya grup Suku Apakah. Kemudian muncul Pandiangan Enam yang konsepnya lebih ke parodi lagu-lagu barat populer, liriknya dibuat humor,” tuturnya kepada VISI (22/5). Sejarah pelopor grup musik komedi di Solo diperjelas pula oleh wawancara VISI dengan Yulianto yang merupakan salah satu personil dari grup musik komedi Pecas Ndahe. Pria yang fasih memainkan alat musik bass itu menjelaskan bahwa Suku Apakah merupakan permulaan dari terbentuknya grup musik Teamlo dan Pecas Ndahe. “Dia pionir musik komedi di Solo. Suku Apakah ini kemudian punya generasi kedua yang diberi nama Suku Apakah Junior. Setelah beriringan, berselang waktu akhirnya Suku Apakah Junior ini berubah menjadi Pecas Ndahe,” jelasnya kepada reporter VISI (6/6). Yulianto turut membenarkan jika satu nama grup lain yang ia sebut Teamlo, merupakan wajah baru dari Suku Apakah yang saat itu sempat vakum. Sebagai sebuah grup musik komedi, nama Teamlo kemudian sempat tenar di kancah musik Indonesia. Kelompok yang terbentuk sejak tahun 1997 itu bahkan terbilang mampu mengalahkan pendahulunya, yaitu Pecas Ndahe yang sudah memiliki nama resmi sejak tahun tahun 1993. Istilah Pecas Ndahe sendiri diambil dari kepusingan para personil grup tersebut dalam 48

VISI • EDISI 34 • 2017

mencari nama. Konon frasa pecas ndahe merupakan pembelokan dari istilah pecah ndase atau yang dalam bahasa Indonesia berarti pecah kepalanya. “Diberi nama Pecas Ndahe, kalau menurut orang-orang tua, itu karena susah cari nama, sampai pecah ndase. Yo wis, kuwi wae jenenge (ya sudah, itu saja namanya -red),” cerita Yulianto. Perkembangan musik komedi di Kota Solo lantas tak berhenti pada Pecas Ndahe dan Teamlo. Menyusul sesudahnya, bermunculan grup musik komedi lain yang kini tak kalah tenarnya. Dua nama yang tak bisa disisihkan dari dinamika Kota Solo adalah The Mudub dan FISIP Meraung. Kedua grup musik komedi yang masih terbilang baru ini bahkan sudah cukup akrab di telinga masyarakat Kota Solo.

Tertawa Bersama

Alunan musik yang disertai dengan candaan menjadi daya tarik utama bagi para penikmat


MENCOBA UNIK DENGAN LURIK - Grup musik Pecas Ndahe tampil dengan konsep kostum lurik dalam perayaan tahun baru 2016 di The Royal Heritage Solo (31/12). (Dok.Pribadi)

musik komedi. Meski begitu, dalam perkembangannya, musik komedi pun kerap mengalami perubahan konsep dari masa ke masa. Seperti yang dilakukan Pecas Ndahe. Pada awal berdirinya, mereka cenderung menyajikan konsep musik humor dengan cara memparodikan musik-musik terkenal yang sudah ada. Konsep itu pun berubah seiring dengan berjalannya waktu. Saat ini, mereka dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam berpentas. “Kalau dulu sekedar melesetin lagu. Tapi karena tuntutan zaman, kalau sekedar melesetin itu nggak lucu, kami lalu ada pertunjukan teater dan melakukan kolaborasi. Pokoknya terus berinovasi,” ujar Yulianto. Inovasi yang dilakukan Pecas Ndahe salah satunya dengan menyajikan musik humor sesuai dengan tema yang diusung pada saat pentas. Mereka juga menyesuaikan dengan isu-isu yang sedang beredar. Tak hanya itu, Yulianto dan

kawan-kawan sering melakukan aransemen lagu. Hal ini terutama mengingat sebagian besar lagu yang mereka punya menggunakan Bahasa Jawa, sedangkan tidak semua masyarakat mengerti Bahasa Jawa. Berbeda dengan Pecas Ndahe, grup musik FISIP Meraung yang usianya lebih belia tidak terlalu banyak melakukan inovasi. Kelompok bentukan mahasiswa FISIP UNS itu pun tidak mengusung konsep yang ajeg. Bahkan mereka mengaku jika dalam pembuatan lagu sering sesuka hati para personilnya. “Kalau kami membuat lagu ya materinya jangan ada paksaan harus lucu, yang penting semau kami,” ujar Topik, salah seorang anggota FISIP Meraung saat diwawacarai reporter VISI (21/5). Sementara itu Radius, anggota lain FISIP Meraung menjelaskan untuk tema lagu, grupnya cenderung mengangkat seputar kehidupan se-

VISI • EDISI 34 • 2017

49


TETAP DI ASAL - Meski kerap tampil di berbagai ajang, grup musik FISIP Meraung tetap eksis di lingkungan asalnya, Kampus UNS. Salah satunya kala tampil dalam acara ARTEFAC UNS 2015 (8/3). (Dok. Pribadi)

hari-hari. Keputusan tersebut juga merupakan idealisme yang sudah disepakati bersama. “Idealismenya kami mengangkat tema kehidupan sehari-hari,” ujar Radius. Sementara itu, sebagai pengamat sekaligus penikmat musik komedi, Danang mengatakan jika daya tarik grup musik FISIP Meraung terletak pada konsep lagunya yang beraliran hardcore namun menggunakan Bahasa Jawa. “Seperti FISIP Meraung, sebenarnya mereka membuat lagu sendiri dengan pendekatan humor. Alirannya hardcore tapi uniknya menggunakan Bahasa Jawa yang dekat dengan masyarakat Jawa,” ujar Danang.

Melucu itu Tantangan

Meski terkesan lebih santai, menjadi pemusik komedi bukan berarti tanpa tantangan. Tidak saja karena harus membuat orang-orang tertawa melalui musik yang mereka bawakan, bagi seorang pemusik komedi butuh waktu yang tidak sebentar untuk melakukan persiapan sebelum pertunjukan. Hal tersebut dibenarkan pula oleh Pendek, salah seorang anggota lain grup musik Pecas Ndahe. “Setiap ulang tahun kami bikin konsepnya dua sampai tiga bulan gitu, nggodog (mematangkan -red) materi. Begitu juga kalau mau pentas di tempat-tempat lain,” paparnya. Di luar dua konteks tersebut, tantangan lain adalah memikirkan agar orang tidak bosan dan bersedia 50

VISI • EDISI 34 • 2017

menonton pertunjukan hingga selesai, “Tantangan tersulitnya, ya gimana caranya gawe wong ngguyu (membuat orang tertawa -red). Itu ternyata tidak gampang. Bagaimana penonton itu nonton kami dua jam tidak bosan,” imbuh Pendek. Ada pula kendala lain, seperti jika pentas di luar kota. Situasi tersebut biasanya mengharuskan Pecas Ndahe mengubah sebagian lagu guna menyesuaikan dengan lelucon tempat mereka akan pentas. Berbeda dengan Pecas Ndahe, FISIP Meraung merasa tidak ada tantangan yang kelewat berarti untuk menciptakan musik komedi. Hal ini lantaran mereka membuat lagu sesuka hati yang bertema kehidupan sehari-hari, tanpa meniatkan suatu lagu harus lucu dari awal. “Tidak ada hambatannya karena sebenarnya kami bukan grup yang berorientasi harus komedi. Jadi kalau kami membuat lagu tidak ada paksaan harus lucu, yang penting semau kami,” jelas Topik. Meskipun begitu, FISIP Meraung berusaha menyesuaikan guyonan mereka. Selain kecenderungan masyarakat setempat, pertimbangan lain adalah tema. Biasanya FISIP Meraung menampilkan lagu tertentu sesuai dengan yang sedang menjadi perbincangan banyak orang. Atta, Dita, Elok


PUISI

Berdiri Oleh: Laila Mei Harini

Lalu separuh hasratku hangus Akan prahara yang kian membungkus Dan gores waktu yang memburu, membius Saat roda juangku mulai rapuh Dan belantara nafsu kian riuh Di sinilah langkah batin teruji Antara melangkah atau mati Berteriak atau merintih Bukan derai air mata yang harus menutup luka Atau jerit histeris yang melahap duka Namun asa yang harus membuai Dan rona ketegaran yang menyeringai Dalam badai hidup yang membantai

VISI • EDISI 34 • 2017

51


REFLEKSI

Ilustrasi: Nowo

Catatan Kaderisasi Mapala Oleh: Edvan Yazid Arridho Mahasiswa Agribisnis UNS

M

ahasiswa Pencinta Alam (Mapala), sesuai namanya merupakan kegiatan yang ada di dalam organisasi atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Kegiatan ini biasanya menyangkut dengan alam, seperti panjat tebing, mendaki gunung, arung jeram, dan lain sebagainya. Banyak yang memandang Mapala sebelah mata karena konon menurut orang-orang, mereka yang ikut dalam gerombolan tersebut lulus kuliah dalam kurun waktu yang lama. Dandanan

52

VISI • EDISI 34 • 2017

yang serba seadanya dan pembicaraan yang blak-blakan merupakan salah dua faktor munculnya pandangan tersebut. Di lain pihak, ada pula yang mengetahui sisi lain dari orang-orang Mapala seperti keberanian mereka, kesiaptanggapa dalam membantu yang lain, dan rasa kekeluargaan terhadap orangorang sekitar. Selayaknya sebuah organisasi, setiap UKM pasti perlu melantik anggota baru untuk meneruskan estafet kepengurusan, tidak terkecuali


bagi organisasi Mapala. Dalam wadah Mapala pelantikan anggota baru dilakukan dalam beberapa proses, dari pendaftaran calon anggota baru hingga proses Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) maupun Pendidikan Dasar (Diksar)--selanjutnya, dalam tulisan ini akan saya tulis dengan sebutan Diksar. Proses Diksar dimaksudkan kepada calon anggota baru untuk menerapkan teori-teori yang telah didapatkan ke alam bebas secara langsung dengan pengawasan oleh pihak bersangkutan. Mapala pada dasarnya memiliki kode etik yang telah disepakati bersama bertahun-tahun sebelumnya, yang artinya kegiatan yang dilakukan oleh Mapala harus sesuai dengan kode etik tersebut. Proses Diksar Mapala memiliki prosedur guna menciptakan generasi baru yang sesuai dengan tujuan Mapala itu sendiri. Proses kegiatan Diksar memang kerap berkonotasi dengan kegiatan sangat keras, mulai dari persiapan materi, fisik hingga mental calon anggota. Belum lama ini terjadi beberapa kasus yang menyangkut proses kegiatan Diksar Mapala. Bahkan dalam beberapa kasus kegiatan tersebut mengakibatkan adanya korban jiwa. Kasus tersebut lantas ditangani pihak berwenang, yang mendapati beberapa hal yang dapat dijadikan rujukan adanya kekerasan secara sengaja oleh senior. Berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia, tindakan kekerasan diatur dalam Pasal 170 KUHP dan 351 KUHP. Di dalamnya dibedakan lagi ke dalam beberapa kategori, dari yang ringan hingga berat serta mengakibatkan kematian. Kode etik dalam Mapala pada dasarnya memebentuk karakter anggota mapala yang berketuhanan, bemental kuat, memelihara alam dan seisinya, berguna bagi bangsa dan negara, berbuat baik dan menjalin tali persaudaraan serta saling membantu antarsesama. Jika kita menghubungkan kembali masalah kegiatan Diksar Mapala dan tujuan diadakannya Diksar Mapala, maka dapat kita ketahui bahwasanya Diksar Mapala yang dilakukan sangat dibutuhkan para calon anggota Mapala tersebut.

Kegiatan tersebut dapat membentuk karakter yang lebih baik sehingga dapat berguna untuk diri sendiri dan banyak orang. Akan tetapi, dalam proses kegiatan Diksar tersebut haruslah sesuai dengan Strandart Operational Procedure (SOP) yang ada. SOP tidak hanya mengenai kegiatan yang harus dilakukan akan tetapi juga kondisi peserta dan kondisi medan atau alam yang sedang dilalui. Bilamana terjadi kesalahan atau pelanggaran SOP tersebut dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam proses kegiatan Diksar Mapala yang dikatakan terdapat tindakan kekerasan, mungkin hal itu dilakukan oleh oknum yang lalai atau melewati SOP yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, setiap kegiatan yang akan dilakukan harus sesuai kode etik “wadah” tersebut, dan dipersiapkan matang-matang dengan adanya beberapa rencana cadangan apabila kondisi lapangan mengharuskan terhambatnya rencana awal. Proses izin dengan pihak berwenang juga perlu dilakukan sejelas-jelasnya sehingga dapat dilakukan pengawalan proses berlangsungnya kegiatan. Selain itu pengawasan pembina atau penasihat “wadah” tersebut dan andil regulasi, pembinaan, pengawasan dari kampus atau pihak yang bersangkutan juga diperlukan.

-

VISI • EDISI 34 • 2017

53


SPEKTRUM

Memainkan Melodi di Tengah Keterbatasan Ilustrasi: Diah & Sekar

Pagi itu, suasana Solo Car Free Day (CFD) sangat ramai. Bukan karena kedatangan artis atau pejabat negara, keramaian ini disebabkan oleh Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang merupakan anak didik salah satu Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) di Solo.

P

uluhan pengunjung berkumpul menyaksikan pertunjukan mereka yang tengah membawakan lagu Bengawan Solo karya Gesang. Ada yang bermain gitar menggunakan kakinya, ada pula yang memainkan alat musik dan bernyanyi di atas kursi roda. Puncaknya, tepuk tangan meriah dari penonton menutup pertunjukan apik mereka. Sederhana, apresiasi dan antusias yang baik dari para pengunjung bukan semata karena jenis musik apa yang mereka mainkan, namun lebih kepada rasa kagum sekaligus malu. Kagum melihat para ABK yang mampu tampil di depan banyak orang meskipun dengan kekurangan yang dimiliki, sekaligus merasa malu menyadari bahwa belum tentu mereka mampu tampil sebaik itu meski memiliki fisik yang normal. Keterampilan para ABK yang mengundang decak kagum tersebut bukanlah suatu hal yang 54

VISI • EDISI 34 • 2017

tiba-tiba dimiliki, melainkan melalui proses latihan yang panjang dan kerja keras mereka untuk menampilkan sesuatu yang luar biasa. Umumnya, sekolah maupun yayasan pendidikan anak cacat mengajarkan musik secara khusus sesuai dengan kurikulum. Pengajaran musik biasa dilakukan dengan sesi materi oleh instruktur musik. Apabila mendekati acara tertentu, maka dilakukan latihan yang lebih intens. Pengajaran musik untuk para ABK bukanlah tanpa alasan. Musik yang sudah diakui sebagai bahasa universal ternyata memiliki peran yang cukup penting bagi kalangan yang berkebutuhan khusus. Khalayak lebih mengenalnya dengan istilah terapi musik, bentuk terapi yang melibatkan musik sebagai sarana untuk penyembuhan dan perkembangan mental bagi para ABK. Jenis terapi ini tidak mampu mengembalikan kecacatan fisik, namun dapat memperbaiki


motivasi diri seseorang. Sama halnya ketika manusia normal yang merasa depresi, setelah mendengarkan musik, semangat dalam dirinya dapat kembali baik sedikit demi sedikit. Nugraha Arif Karyanta, salah satu dosen Psikologi UNS yang lebih sering disapa Pak Nug oleh mahasiswanya memberikan penjelasan terkait terapi musik. “Penggunaan bunyi-bunyian sebagai pengertian dasar dari musik adalah sarana untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas fisik dan psikis seseorang,” ungkapnya dalam sesi wawancara bersama VISI di kantor dosen Program Studi Psikologi UNS. Ia menyatakan bahwa musik bukanlah alat untuk menyembuhkan cacat yang mereka derita, melainkan alat untuk menumbuhkan jiwa mereka yang direnggut penyesalan dan rasa sakit karena diskriminasi. “Musik akan menumbuhkan tangan yang ada di dalam,” tambahnya. Penggunaan musik untuk terapi terbagi menjadi dua yaitu pemusik aktif dan pemusik pasif. Sama halnya seperti terapi musik untuk janin, pemusik pasif hanya mendengarkan saja tanpa memainkan alat musik apapun. Di sisi lain, mereka juga dapat dilibatkan langsung dalam bermusik, entah sebagai vokalis maupun punggawa instrumen musik. Sedangkan pemusik aktif adalah mereka yang ikut terlibat secara langsung dalam bermusik baik individu maupun kelompok. Musik yang didengarkan maupun dimainkan oleh para ABK dikhususkan sesuai kebutuhan masing-masing, karena berhubungan dengan kestabilan emosi. Bit yang kurang dinamis cocok untuk relaksasi, sedangkan bit yang cepat akan merusak proses relaksasi itu sendiri. Apabila dibutuhkan, bit dapat ditambah untuk membangun suasana riang. Pentingnya kesesuaian musik terhadap kebutuhan para ABK juga disampaikan oleh Erfando, salah satu anggota komunitas GAPAI, yang merupakan komunitas pendampingan anak difabel di Solo. Ia membeberkan bahwa sebenarnya musik diajarkan secara khusus untuk tunanetra. "Tunanetra sangat peka terhadap suara. Mereka bisa membedakan lingkungan hanya dengan pendengaran," tuturnya kala ditemui VISI di ruang baca perpustakaan Taman Cerdas Jebres. Dengan penglihatan yang terbatas, musik menjadi satu hal yang dapat melatih gerak motorik mereka. Hal itu tentu lebih mudah untuk diajarkan daripada seni rupa, tari, teater, dan kesenian

lainnya yang membutuhkan indera penglihatan. Meskipun begitu, setiap individu berhak menentukan seni apa yang disukai. Ketika ditanya mengenai kesulitan dalam mengajari anak difabel, Erfando hanya menahan senyum dan menyampaikan pendapatnya. "Mengajari anak normal saja ada kesulitan, begitu pula mengajari anak difabel," jawabnya. Meskipun begitu, ia mengaku mendapat lebih banyak pelajaran dari mereka. Umumnya anak difabel memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar, meskipun beberapa masih belum menemukan motivasinya. "Sebagian mereka beranggapan bahwa bukan hanya fisik mereka saja yang berbeda, kemampuan juga harus berbeda. Harus lebih baik,” imbuhnya. Selain media pembelajaran dan penyembuhan, musik juga dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan kepercayaan diri. Bukan hanya di lingkungan sesama ABK, namun juga di lingkungan masyarakat luas. Hal ini dibenarkan oleh Nugraha Arif. "Musik maupun membuat lagu selalu berbicara tentang self esteem. Ini sangat berguna bagi para ABK yang memiliki kepercayaan diri kurang," tuturnya. Dalam penjelasan lanjutnya, dosen yang terlihat ramah saat ditemui itu memaparkan, para difabel bisa melakukan interaksi ketika terlibat dalam suatu kelompok musik. Ia lantas menggambarkan betapa efek sebuah interaksi sangat membantu dalam memberikan stimulus kepada orang lain yang kemudian bekerja sama serta menyatukan pikiran. Selain itu, mereka juga merasa disayangi dan diakui. Terlebih apabila mereka berkumpul dengan orang-orang normal. Ketika mereka dihargai, maka mereka akan merasa nyaman dan tidak terbebani oleh perbedaan fisik yang dimiliki. Erfando tidak membantah pernyataan tersebut. Pria yang juga merupakan Mahasiswa Program Studi Matematika UNS ini bahkan menambahkan kepercayaan diri orang tua juga akan meningkat. Musik dapat mendorong mental orang tua yang seringkali merasa malu memiliki anak yang berbeda. Begitu besarnya peran musik bagi para ABK cukup sejalan dengan dukungan yang baik dari pemerintah. Erfando menilai pemerintah sudah memberikan ruang yang cukup untuk karyaVISI • EDISI 34 • 2017

55


BERSIAP - Para anggota YPAC Music Percussion sedang mempersiapkan diri jelang menampilkan pertunjukan musik di CFD Solo, Jalan Slamet Riyadi. (Dok. Internet)

karya para ABK. Hal ini ditunjukkan dengan kegiatan-kegiatan semacam pentas seni yang menampilkan difabel seperti di Taman Balekambang, Taman Budaya, maupun CFD. Kepedulian pemerintah juga dinilai cukup tinggi, salah satunya terkait program Kota Layak Anak (KLA), baik untuk anak-anak normal maupun yang membutuhkan pendampingan fisik dan mental. “Pemerintah sudah memberikan ruang, ini sebagai wujud kepedulian yang sangat tinggi untuk mewujudkan kota ramah anak," kemudian Erfando menambahkan dengan nada mengingatkan, “anak-anak di sini bukan hanya anakanak yang normal (berfisik sempurna -red), tapi juga mereka yang memiliki keterbatasan fisik” terangnya. Di sisi lain, kepedulian masyarakat perlu ditingkatkan. Menurut Erfando, sebagian masyarakat masih belum bisa menerima keberadaan ABK di sekitar mereka. “Mungkin sebagian masyarakat tidak bisa menerima orang difabel, bahkan dalam bentuk kalimat frontal seperti 'eh dia buta', 'eh dia cacat', dan ejekan fisik lain yang cukup menyakitkan untuk didengar,” tekan Erfando. 56

VISI • EDISI 34 • 2017

Belum lagi diskriminasi seperti yang sedang marak dibicarakan saat ini. Lebih sering lagi, adanya anggapan bahwa lahirnya anak-anak difabel merupakan hukuman untuk orangtuanya. Erfando sangat menyayangkan adanya anggapan seperti itu. Ia menolak hal tersebut karena menurutnya anak difabel adalah anugerah. Tidak sedikit difabel yang berprestasi di bidang akademik maupun bidang non-akademik. Ade Irawan, musisi tunanetra Indonesia yang bermusik di Chicago dapat dijadikan contoh bahwa difabel juga bisa memberi kebanggaan negara di mata dunia. Orang berkebutuhan khusus menandakan bahwa apa yang mereka dapat dan lakukan adalah sesuatu yang khusus. Mereka terpilih menjadi istimewa, namun bukan berarti kita harus menganggap mereka berbeda lalu mengasingkan mereka. Justru kita perlu merangkul mereka dan lebih peka terhadap setiap perlakuan orang lain. "Saya berharap Solo bukan hanya menjadi kota layak anak, namun juga kota layak difabel, " pungkas Erfando. Erna, Uli


CERPEN

Kisah Daun dan Tanah Oleh: Sucia Ramadhani

Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Indonsia

A

da yang duduk menunggu, bersama kabut pagi yang menyelimuti kesyahduannya. Ada yang menunggu, ditemani matahari yang tersenyum di balik sinarnya. Ia terus menunggu di atas kursi goyangnya. Menatap jalan raya yang mulai ramai dengan kendaraan. Setiap kendaraan yang melaju di depan rumahnya selalu ia sambut dengan sorak-sorai gembira dan lambaian tangan, memanggil nama seseorang. Walaupun pada akhirnya, kendaraan menjauh begitu saja tanpa membalas lambaiannya. Mereka lebih memilih menertawakan dan menganggap laki-laki itu gila. Dia menunggu. Masih menunggu. Pukul sembilan pagi adalah waktu kesyahduannya dalam menunggu. Pakaian rapi, bunga mawar, dan kursi putih. Tidak ada yang bisa menodai agenda rutinnya, alam pun menunduk padanya,

Ilustrasi: Diah & Mae

burung-burung bernyanyi menemani kesepiannya, matahari tampak malu-malu memancarkan sinar teriknya. Karena mereka tahu, bahwa ada seseorang yang menunggu. Menunggu dalam ketidaktahuannya. ****** “Jangan pergi. Kumohon, jangan pergi," pintanya. Patah-patah perempuan itu menoleh dan mendapati Rana berada di sana. Mengenggam erat tangannya. “Kumohon, jangan pergi," suaranya semakin lirih. Petir menyambar berkali-kali, membuat mobil yang menunggu Hening membunyikan klakson berkali-kali. Berisyarat kepada Hening agar ia segera bergegas. VISI • EDISI 34 • 2017

57


“Sebentar saja. Kumohon," Rana menatap lekat mata perempuan itu, menelengkupkan kedua tangannya, memohon. Klakson mobil semakin terdengar nyaring, membuat Hening bergegas menuju mobil hitam. Rana berteriak memanggil nama Hening berulang kali, air matanya semakin mengalir diiringi dengan sinar petir yang hadir di segala penjuru. Ia terpaku menatap perempuan itu membuka pintu mobil hitam, bersiap untuk pergi. Dengan rasa sakit dalam hatinya, ia memutuskan untuk berbalik, kembali ke dalam rumah. “Aku tidak akan pergi," tangan itu menyentuh pundak Rana. Suaranya tenggelam di antara jutaan rinai hujan yang membasahi tanah. Mata Rana mengerjap-ngerjap tidak percaya. Rana berlari masuk ke dalam rumah, tak menghiraukan kausnya yang basah. Langkahnya terhenti ketika laki-laki bertubuh kurus itu hadir di hadapannya. Raut wajahnya tampak panik, mencari di segala sudut rumah dengan memanggil-manggil nama seseorang. “Apakah kamu melihat perempuan itu? Aku mencarinya di segala penjuru rumah. Di mana pun, tapi aku tidak menemukannya,” ia menunduk lesu, suaranya seperti seorang anak kecil yang mengadu pada Ibunya. “Baiklah aku ingin mengambil gelas ini dan mencucinya," Rana menunjuk gelas kaca yang telah kosong, mengambilnya dan membawanya ke dapur. Laki-laki itu tidak menyerah untuk mencari. Menyusuri setiap lantai di rumahnya, menunduk, hingga langkahnya terhenti oleh sepasang sepatu selop bewarna hitam yang berada di hadapannya. “Beritahu aku, apa yang membuatmu menangis?” Serunya. Hening menggelengkan kepala pelan, Fahan terus bertanya apa yang terjadi. Kening laki-laki itu berkerut ketika Hening menuntunnya untuk duduk. Jendela terbuka lebar, air hujan dengan bebas masuk ke dalam ruangan membuat lantai basah oleh air hujan. “Apakah kamu ingin mendengarkan sebuah kisah dariku?” Tanya Hening menolehkan kepala ke arah Fahan. Matanya berkaca-kaca, membuat Fahan semakin khawatir. Di luar hujan menyambut, bersama kata yang hendak perempuan itu sampaikan. Tangan Fahan kembali mengenggam lembut tangan itu, ia tidak ingin perempuan itu pergi. 58

VISI • EDISI 34 • 2017

“Apa yang akan kamu ceritakan?” Fahan tidak sabar menunggu cerita dari Hening. “Kisah tentang daun dan tanah,” jawab Hening. Fahan menggaruk-garukan kepalanya yang tidak terasa gatal. Tatapan mereka saling bertemu, wajah Fahan berseri-seri, tidak sabar menunggu cerita itu dimulai. “Hiduplah Daun dan Tanah. Tanah sangat setia menunggu Daun. Begitu pula Daun yang diam-diam mencintai Tanah. Ketika hujan turun membasahi bumi, Tanah sangat bahagia. Melalui hujan, Tanah diam-diam menjaga Daun. Menjaga agar Daun tetap tumbuh. Ia tidak layu, dan mendapat banyak tenaga melalui hujan yang turun dari langit," perempuan bergaun putih itu menatap lekat rintik hujan yang masih membasahi bumi. “Aku tidak suka hujan!” Fahan mendengus kesal. Hening tersenyum, melajutkan kisahnya. “Hujan membuat Daun dan Tanah bahagia. Karena hujan, Daun tetap bertahan. Daun tidak pernah menyadari bahwa ada seseorang yang menunggunya. Daun juga tidak pernah menyadari, bagaimana pengorbanan Tanah untuk kehidupannya. Yang Daun tahu, hanya Tanah itu berada jauh di bawahnya. Daun selalu bahagia, ketika angin datang ia bisa menari-nari di dahan. Ketika pagi tiba, Daun bisa kenyang. Ketika malam tiba, Daun bisa merasakan keramaian yang hadir di sekelilingnya. Daun sangat senang. Tanah pun senang melihat Daun bahagia.” Fahan terus menyimak cerita itu. Tangannya tidak lepas mengenggam tangan Hening. Perempuan bergaun putih itu menghembuskan nafas pelan, melanjutkan kisahnya. “Hingga suatu ketika, tiba saatnya Daun itu menjadi tua. Warna hijaunya perlahan-lahan memudar menjadi kuning. Tubuhnya tidak sekuat dulu, kini tubuhnya lemah tidak berdaya. Satu per satu temannya sudah pergi meninggalkannya, ada yang terjatuh tenggelam ke dalam air, ada yang terjatuh terbawa angin, ada yang terjatuh bertumpuk-tumpuk, dan lainlain. Daun takut, takut dengan waktu yang kian mendekat,” Hening mengusap lembut tangan Fahan, menatap lama sekali Fahan. Ada rasa nyaman yang hadir ketika perempuan bergaun putih itu hadir. “Tanah mengetahui kerisauan Daun. Ia tidak ingin Daun terluka, ia ingin Daun tetap hadir menemani dirinya. Tanah selalu sabar menunggu, ia sedih melihat Daun lemah, warnanya pun


mulai menguning. Pada suatu pagi, angin kencang datang mengebu-ngebu. Membuat dahan pohon bergoyang-goyang dahsyat, daun-daun yang masih bewarna hijau pun berterbangan tertiup angin. Tapi, Daun mencoba bertahan sekuat tenaga, ia tidak ingin jatuh. Ia tidak ingin jatuh. Angin terus meluluhlantahkan, sampai akhirnya Daun kehabisan tenaga. Tanah gelisah melihat kondisi ini, tetapi, Tanah tidak bisa berbuat apaapa selain menunggu dan berdoa. Tapi, takdir berkata lain. Daun terhempas angin, membuat Daun terlepas dari dahan. Tanah terus berdoa, ia tidak ingin Daun pergi jauh darinya. Namun, angin terus saja membawa Daun jauh, jauh sekali hingga Tanah tidak tahu keberadaan Daun. Tapi, Tanah selalu percaya Daun akan kembali, angin itu akan membawa Daun itu kembali. Tanah akan tetap menunggu Daun, Tanah selalu percaya Daun akan kembali. Daun pasti akan kembali, Tanah selalu berdoa, dan berdoa untuk Daun.” Sunyi menyergap selama beberapa detik, suara hujan tidak terdengar lagi. Yang hadir adalah nyanyian burung yang bertengger di kabel listrik. Perempuan bergaun putih itu tersenyum memandang daun-daun lebat di pohon mangga. “Kapan Daun akan kembali?” Tanya laki-laki itu, matanya mengerjap-ngerjap. “Daun akan datang lagi pukul delapan pagi di esok hari,” Fahan mengerutkan dahi, tidak mengerti maksud Hening. “Dia akan kembali seperti.... aku,” suaranya menjadi pelan, matanya tajam menatap dua bola mata laki-laki itu. Pernyataan itu membuat Fahan membisu, tatapan mereka tetap bertemu dalam kesunyian. Mata laki-laki itu mulai berkaca-kaca, tangannya semakin erat mengenggam tangan Hening. Ada rasa sesak dalam hatinya melihat kedua bola mata itu berkaca-kaca. “Aku akan kembali, aku pasti akan kembali. Aku tidak mungkin membiarkanmu seperti ini," timpal Hening. Gadis kecil bernama Rana menatap dari ambang pintu, menatap perempuan bergaun putih itu dengan tangisan. Laki-laki itu menggelengkan kepala, ia tidak ingin agar perempuan itu meninggalkannya. Ia tidak mengucapkan apapun selain isyarat mata dan genggaman tangannya yang semakin kuat. Pelan, Hening membantu Fahan bangkit, bang-

kit dari duduknya, menuju tempat tidur. “Aku akan kembali ke sini, maka tunggulah aku seperti Tanah menunggu Daun.” “Kapan?” Tanya laki-laki itu. Hening menghembuskan nafas menghilangkan keresahannya. “Pukul delapan esok hari aku akan kembali. Jika tidak, tetaplah menungguku pada waktu yang sama.” Perempuan itu membaringkan laki-laki itu, mencoba melepaskan genggaman tangannya. Tapi, genggaman itu semakin erat, membuat perempuan itu tidak bisa melangkah pergi. “Aku akan kembali," bisik Hening. Perlahan genggaman itu lepas. Dengan langkah berat, Hening bergegas. Ia menoleh sekali lagi, mendapati Fahan terdiam di atas tempat tidurnya. ******* Matahari mulai meninggi, sinar matahari menerpa tubuhnya yang sedang duduk di atas kursi goyangnya. Ia sedang menunggu. Menunggu Hening. Sudah lima tahun sejak kepergian Hening dari rumahnya. Ia tidak pernah lelah, tidak peduli dengan terik dan hujan yang menghampirinya di pagi hari saat ia menunggu. Ia ingin seperti Tanah yang setia menunggu Daun. “Ayah, ayo masuk ke dalam,” pinta Rana dengan suara lirih. “Dia belum datang.” Fahan menghembuskan nafas pelan, sekali lagi melihat ke jalan raya. Menunggu. Namun Hening tidak kunjung datang. Tangan Rana semakin bergetar. Ia menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang menggantung di pelupuk mata. Tangannya menyembunyikan sebuah koran di balik punggungnya. Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk memberitahu hal ini. Fahan terus menunggu. Namun, hari ini Hening tidak kunjung datang. Fahan melangkah menjauh dari kursi putihnya, mengenggam tangan Rana dengan erat untuk bersama-sama masuk ke dalam rumah. “Rana kenapa menangis?” Tanya Ayahnya. Rana menggelengkan kepala. Di otaknya berkecamuk pikiran itu. Namun, ia tidak kuasa memberitahu hal ini. Memberitahu jika perempuan bergaun putih itu tidak akan kembali. ***** VISI • EDISI 34 • 2017

59


PODIUM

60

VISI • EDISI 34 • 2017


VISI BERTANYA

Tak Ragu Menekuni Bebunyian

S

Foto Suryadi Plenthe. (Dok.Pribadi)

etiap orang memiliki pemaknaan yang berbeda terhadap musik. Cara seseorang tertarik terhadap suatu musik juga dilatarbelakangi oleh beragam hal yang tak sama. Suryadi Nugroho misalnya. Musisi kontemporer yang akrab dengan nama panggung Suryadi Plenthe itu membagi perspektifnya perihal musik kepada VISI (1/6). Berikut kami sajikan hasil perbincangan dengan seniman asal Solo tersebut.

Bagaimana pandangan Anda terhadap musik, dan mengapa Anda memilih musik sebagai sebuah jalan hidup ?

Pada awalnya musik menurut saya tidak untuk dinikmati, tapi untuk dipelajari. Musik memberikan sesuatu yang edukatif, untuk keseimbangan otak kanan dan otak kiri. Untuk apapaun, menghafal rumus, menghafal kitab, semua itu dari musik. Tapi pada dasarnya saya terjun ke dunia musik itu karena suka dan penasaran dengan bunyi. Kalau dari orang tua mungkin justru tidak ada, Bapak dan Ibu saya pengrajin batik, sampai sekarang saya tertarik dengan musik karena menyukai suara.

Sejak kapan Anda mulai tertarik dan memainkan musik?

Sejak kelas 3 SD saya sudah menggeluti bidang musik perkusi. Sejak kecil saya suka dengan yang namanya sound, sampai sekarang pun saya masih sering penelitian tentang bunyi. Menurut saya, sifat suara itu gaib, nggak bisa dipegang atau diraba, tapi kita bisa merasakannya, nah itu pake indra apa? Kalau rasa asin, manis, pahit, itu kan pakai lidah. Kalau gaib kan yang merasakan hati, semua yang gaib yang merasakan hati.

VISI • EDISI 34 • 2017

61


Nama lengkap Suryadi Nugroho Nama panggung Suryadi Plenthe Tanggal Lahir 27 Oktober 1982

Alamat Laweyan, Solo Kesibukan Saat ini Melakukan riset tentang bunyi Media Sosial @plenthepercussion (Instagram)

Musik jenis apa yang Anda tekuni saat ini, dan mengapa memilih jenis musik tersebut? Musik kontemporer, yang berdasarkan pada bunyi bukan nada, jadi spektrumnya lebih luas. Kalau musik berdasarkan nada itu sama seperti musik gamelan, jazz, musik latin, dan sebagainya. Kalau yang berdasarkan bunyi, sifatnya lepas dengan nada tapi masih satu kaitan dan satu frekuensi. Nah nanti kami kulik di situ. Yang menyibukkan saya saat ini yaitu misi budaya dan riset bunyi. Saya mendapat ilmu pengetahuan dari Tuhan, dan menggunakan ilmu tersebut untuk memperbaiki teman-teman seniman yang berkandidat membentuk kebudayaan baru yang berkembang di Indonesia. Sekarang keadaan Indonesia sudah sangat crowded, jadi banyak seniman yang terjun di dunia musik, tapi kurang tau tentang musik.

Di beberapa karya, Anda seringkali menggunakan gendang Sunda, mengapa Anda memilih alat musik tersebut, dibandingkan dengan alat musik yang lebih khas dengan Jawa (Tengah)?

Karena sifat gendang Jawa Barat itu seperti ngomong, jadi satu wadah satu membran dan terdapat banyak suara. Selain itu gendang Jawa Barat lebih atraktif, tidak membuat orang mudah bosan. Kalau pakai gendang yang satu wadah ada dua atau empat suara itu monoton. Alasan lain kenapa menggunakan gendang sebenarnya karena di depan rumah saya ada pengerajin gendang. 62

VISI • EDISI 34 • 2017

Bagaimana pasang surut dalam perjalanan bermusik Anda?

Sejak kelas 3 SD saya sudah menggeluti bidang musik perkusi. Sampai sekarang saya memilih menjadi seorang musisi karena suka suara. Kelas 5 SD saya mulai ikut campur sari, dan sudah mulai ngamen cari uang. Waktu itu saya pernah ikut Mas Didi Kempot, mulai dari lagu Stasiun Balapan ketika masih baru sampai tahun 2008. Tahun 2008 saya keluar dari campur sari. Ijazah terakhir saya SMP, karena faktor orang tua, waktu itu saya harus ngamen. Sedangkan karir saya selama ini berjalan dengan sembunyi-sembunyi, karena menurut saya, biasanya kalau orang semakin terkenal akan semakin dekat dengan kesombongan.

Hal apa saja yang sudah Anda lakukan terkait riset bunyi, dan mengapa riset bunyi sangat menarik untuk Anda?

Kemampuan dasar saya sebagai seniman sampai sekarang adalah riset tentang bunyi (sound), mulai dari intonasi nada, beat, dan masih banyak lagi yang saya pelajari. Saya belajar ke banyak tempat, termasuk ke Suriname dan Belanda. Dalam proses belajar tersebut, saya hanya ingin mencari tahu pengaruh dari sound. Saya masuk ke genre musik seperti campur sari, dangdut, dan musik-musik rakyat lainnya untuk mempelajari musik-musik tersebut. Mencari apa dampak dan pengaruhnya di masyarakat. Setelah saya riset, saya keluar dari situ, dan kembali lagi ke asal saya yaitu musik kontemporer. Kontemporer yang berdasarkan bunyi bukan nada, jadi lebih luas lagi. Saya bisa sampai ke luar negeri karena musik yang berbau tradisi. Bagi mereka, hal itu unik dan orang luar negeri tertarik dengan itu. Malah masyarakat kita sendiri yang jarang mau mempelajarinya. Alhasil tradisi dan budaya kita dimakan sama orang luar negeri. Saya sering ke luar negeri karena misi budaya sekaligus untuk keperluan riset tentang bunyi. Biasanya baik misi budaya maupun riset saya mewakili Indonesia lewat ISI. Karena memang yang sering diundang instansi-instansi kependidikan. 'Aisyah, Puan


BUKU

Kritik Terhadap Pembutaan Teknologi

JUDUL: Kerumunan Terakhir PENULIS: Okky Madasari PENERBIT: Gramedia Pustaka Utama TAHUN: 2016 TEBAL: 357 halaman ISBN: 978-602-03-2543-9

Jayanegara adalah seorang pemuda yang semasa kecilnya dibesarkan oleh simbahnya di desa yang jauh dari hingar bingar kota. Konflik dimulai ketika Jayanegara kembali ke rumah ibu bapaknya di kota. Ia mulai melihat dan memahami apa yang seharusnya ia lihat dan pahami. Kenyataan bahwa ibunya meninggalkan rumah akibat bapaknya berselingkuh dengan perempuan lain membuatnya memutuskan untuk pergi ke Jakarta menyusul kekasihnya yang bernama Maera. Di Jakarta, Jayanegara mulai mengenal internet, yang kemudian membuatnya masuk di dunia baru sebagai Matajaya. Tidak ada orang lain yang mengetahui identitas asli Matajaya ter-

masuk Maera. Di dunia maya itu Matajaya mulai menuliskan kisah hidupnya dengan sedikit merubah jalan ceritanya. Tulisan Matajaya tersebut selalu ditunggu oleh para penikmat dunia maya. Pada akhirnya tulisan tersebut digunakan oleh Jayanegara sebagai alat balas dendam kepada bapaknya, walaupun pada akhirnya ia harus meringkuk di dalam penjara karena pencemaran nama baik. Dalam novel ini, Okky Madasari berusaha menyiratkan kritik sosial tentang perilaku manusia masa kini yang mulai dibutakan oleh teknologi – teknologi baru dan media sosial. Di jaman sekarang, orang bisa dengan mudah akrab dengan orang asing yang ditemui di media sosial. Namun di lain pihak, orang juga bisa membenci orang lain hanya karena ada kelompok atau seseorang yang membenci orang tersebut. Hal yang paling parah adalah, banyak orang di masa ini yang terlalu haus perhatian, selalu ingin dirinya dikenal dan disukai orang banyak, dan setiap orang ingin memiliki banyak pengikut. Novel ini mengingatkan kita bahwa dampak dari media sosial saat ini sangatlah dahsyat. Sudah seharusnya kita mulai menggunakannya secara bijak agar dampak yang ada tidak akan berkelanjutan. Sisi lain yang juga ingin disampaikan oleh Okky Madasari yaitu pentingnya moral dan pendidikan yang harus berjalan seimbang, bahwa pendidikan tanpa adanya moral adalah dusta. Pendidikan dan moral harus berjalan selaras dan tumbuh bersama dalam diri kita. Hal ini dicontohkan pada Sukendar, ayah Jayanegara, seorang guru besar yang suka main perempuan. Ini merupakan contoh kerumunan kecil dari kerumunan - kerumunan lain yang ada di dunia ini. Di dunia nyata pasti ada Sukendar – Sukendar lain yang masih hidup, begitu pula dengan Jayanegara – Jayanegara lain yang masih ada di luar sana yang akan terus berambisi untuk menuntaskan hal yang menurutnya tak pantas. Ghozi Alwandria

VISI • EDISI 34 • 2017

63


MUSIK

Menyusuri Beragam Sensasi

ALBUM: Lelaku ARTIS: Fourtwnty GENRE: Folk Acoustic/Indie LABEL: Wow Musikindo TAHUN: 2015 DURASI TOTAL: 42 menit PRODUSER: Roby Satria LAGU: Aku Tenang, Diam-Diam Kubawa, Hitam Putih, Argumentasi Dimensi, Iritasi Ringan, Fana Merah Jambu, Puisi Alam, Aku Bukan Binatang, Diskusi Senja

B

agi aktivis legalisasi ganja, 420 (dibaca: four twenty), adalah angka yang sakral. Ia perlambang apresiasi terhadap tumbuhan bernama latin Cannabis tersebut. Bagi penikmat musik indie di Indonesia, nama 420 punya asosiasi yang berbeda. Adalah Fourtwnty, 420 versi berbeda yang hadir membawa angin segar dalam belantika permusikan indie. Band asal Jakarta yang berformasi Ari Lesmana, Nuwi dan Roots ini mengusung aliran acoustic folk. Album perdana Fourtwny hadir tahun 2015 dengan titel Lelaku. Lewat album ini, para pendengar disuguhi sembilan lagu yang berdurasi total sekitar 42 menit. Pendengar langsung dibawa ke dunia Lelaku lewat sambutan petikan gitar akustik bertempo lambat di lagu Aku Tenang. Lirik sederhana dalam lagu ini tidak serta-merta menjadikannya minim esensi. Pendengar justru diajak menduga-duga apa sesungguhnya sosok-mu dalam lagu ini. Untuk ukuran lagu pembuka, Aku Tenang berhasil mengajak pendengar untuk terus melanjutkan sesi dengar album Lelaku. Suara Ari Lesmana sang vokalis langsung menyambut pendengar di detik pertama lagu Diam-Diam Kubawa: lembayung temanku / nada yang mendayu / sayupkan mataku / man64

VISI • EDISI 34 • 2017

jakan penatku / terkuras ideku setahun penuh / liburanku tolong jangan ganggu,� Seolah diajak untuk berliburan, Fourtwnty menyajikan musik dengan alunan instrumen akustik yang tenang dan nyaman. Lewat lagu ini, Fourtwnty berhasil menggugah imajinasi pendengar soal waktu bersantai dan cara melepas penat. Hitam Putih seolah menjadi representasi Fourtwnty dalam menyajikan lagu bertema tragedi percintaan. Dalam satu sesi live, Ari Lesmana mengatakan bahwa lagu ini berangkat dari pengalaman pribadi, tentang sepasang kekasih yang harus terpisah akibat adat istiadat. Suara penuh pendalaman sang vokalis dan paduan gitar akustik menjadikan lagu ini begitu ringan didengar. Seolah ingin memberikan kejutan di tengah jalan, lagu berjudul Fana Merah Jambu hadir dengan suasana optimis. Lagu ini adalah tipe lagu yang bisa membuat pendengar ingin menari mengikuti alunan nada dan iramanya. Lirik yang catchy menegaskan bahwa Fourtwnty tak melulu soal lagu mendayu dengan tema ituitu melulu. Mendengar judul lagu nomor urut tujuh, sejumlah pendengar mungkin mengira lagu ini berisi seruan untuk mencintai alam dan menjaga lingkungan. Puisi Alam ternyata tidak demikian adanya. Fourtwnty dalam lagu ini bercerita tentang kebahagiaan sederhana yang diperoleh lewat apresiasi kehidupan. Sekali lagi, dengan tempo lambat dan lirik memikat, lagu Fourtwnty yang satu ini kembali tak gagal membuat nyaman. Sebagaimana ganja yang ilegal kerap membuat para penggunanya merasakan perasaan bahagia yang sulit dijabarkan dengan kata-kata, mendengar Lelaku memiliki sensasi yang sama. Fourtwnty berani mengeksplorasi beragam perasaan yang tertuang dalam lirik dan aransemen yang dibawakan. Para pendengar barangkali turut merasakan amuk bergemuruh tatkala mendengar Aku Bukan Binatang. Perasaan hanyut juga akan menyapa ketika Diskusi Senja perlahan mengantar pendengar ke akhir album. Pada akhirnya, mendengar Lelaku-nya Fourtwnty bukanlah suatu hal yang ilegal. Iim Fathimah Timorria


FILM

Kotak Bekal yang Kepenuhan Nasi

JUDUL: Ronaldo PRODUSER: Paul Martin SUTRADARA: Anthony Wanke PEMERAN: Cristiano Ronaldo, Dolores Aveiro, Hugo Aveiro, Georgie Bingham TAHUN: 2015 DURASI: 102 Menit

H

ampir semua film dokumenter sepakbola yang pernah kulihat menyajikan alur dengan gemerlap di akhir. Pele: Birth of A Legend (2016) dan Don’t Take Me Home (2017) misal. Film dokumenter Pele: Birth of A Legend dipungkasi dengan adegan Pele menjuarai Piala Dunia 1958, sedangkan Don’t Take Me Home ditutup dengan adegan Wales lolos ke semifinal EURO 2016 serta mengakhiri kutukan tak pernah tampil di turnamen besar sejak Piala Dunia 1958. Fakta di atas barangkali membuat Ronaldo (2015), film dokumenter yang mengulas perjalanan karir dan latar belakang Cristiano Ronaldo terasa berbeda. Gemerlap film ini disajikan di awal. Usai adegan masa kecil sang bintang, plot langsung dirangkai sedemikian rupa menuju kepindahan Ronaldo dari Manchester United ke Real Madrid di tahun 2009, dan disambung kesuksesannya meraih La Decima (gelar Liga Champions kesepuluh Real Madrid) tahun 2014. Dari tiga adegan yang melompat rentang terlampau jauh ini, sutradara Anthony Wonke

seperti hendak menyampaikan pesan bahwa Ronaldo ditakdirkan hidup di dunia untuk mencapai La Decima, dan aku menangkap pesan itu dengan baik. Pertanyaannya, bagaimana adegan-adegan berikutnya disusun, setelah klimaksnya saja sudah ditunjukkan di awal. Tidakkah film ini bakal terasa membosankan? Plot dilanjutkan dengan adegan berbagai keseharian Ronaldo. Momen ketika Ronaldo menghabiskan waktu dengan anaknya, atau ketika bercengkrama dengan ibunya, adalah momen yang menunjukkan bahwa sepertinya superstar sekalipun butuh kehadiran keluarga. Sampai di titik itu, kurasa semuanya baik-baik saja. Semua lantas berubah ketika adegan masuk ke kegagalan Ronaldo tampil di ajang bergengsi karena cedera. Adegan ini terasa mengganggu karena aku tak dapat menikmati kesinambungan serta pesan yang hendak disampaikan. Situasi makin diperparah ketika plot justru ditambah dengan adegan keberhasilan Ronaldo meraih penghargaan Ballon d'Or. Jujur saja, dua adegan tersebut membuatku merasa geram. Film ini semacam dipaksakan menuju anti klimaks, lalu tiba-tiba dijadikan klimaks lagi pada saat-saat menjelang akhir. Si penulis skenario ngotot memasukkan semua aspek berbau Ronaldo ke dalam satu wadah. Waktu 102 menit kelewat kurang untuk memuat semuanya, maka hasilnya pun film terasa hambar. Jika film Pele: Birth of A Legend bisa diibaratkan sekotak bekal makanan berisi nasi, lauk, dan sayur dengan porsi cukup, Ronaldo tidak demikian. Film ini seperti sebuah kotak bekal yang sangat penuh, namun setelah dibuka isinya hanya butiran-butiran nasi. Pada akhirnya, 102 menit adegan dari film ini bisa terasa sia-sia bagi seseorang yang gemar makan nasi, lauk, dan sayur dalam porsi sedang. Di lain sisi, film ini bisa pula terasa menarik bagi sebagian lain, terutama bagi kamu yang suka makan nasi sebanyak-banyaknya dalam "porsi kuli," Tak ada salahnya mencoba dan mengetahui kamu masuk kategori yang mana. Herdanang Ahmad Fauzan VISI • EDISI 34 • 2017

65


66

VISI • EDISI 34 • 2017


VISI • EDISI 34 • 2017

67


68

VISI • EDISI 34 • 2017

Majalah VISI Edisi 34 "Musikalisasi Kota"  

Didukung iklim Kota Solo yang memang ramah pada nada, VISI bertekad menjembatani pembaca untuk mendengar musik dengan cara lain. Dipilihnya...

Advertisement