Page 5

PROBLEMATIKA

Benarkah Bidikmisi Salah Sasaran?

ilustraasi: Diah

Keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam masyarakat sudah tak asing lagi kita temui. Tak sedikit pelajar yang berprestasi namun harus putus sekolah gara-gara keterbatasan biaya. Pemerintah memang telah mengeluarkan program untuk mengatasi masalah terkait biaya pendidikan untuk para pelajar dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi. Salah satu program tersebut adalah Bantuan Pendidikan Miskin Berprestasi (Bidikmisi).

P

rogram Bidikmisi merupakan bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa yang memiliki potensi akademik untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi, namun berasal dari keluarga yang kurang mampu secara finansial. Ironisnya, akhir-akhir ini pihak mahasiswa sendiri justru sering mengasumsikan Bidikmisi sebagai ‘program yang salah sasaran’. Tak sedikit mahasiswa yang mengasumsikan bahwa Bidikmisi di UNS banyak yang salah sasaran. Seperti yang diungkapkan Husein (bukan nama sebenarnya), salah seorang mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi. “Kesal, banyak (mahasiswa Bidikmisi—red) yang lebih makmur daripada aku ditambah lagi mereka hidup foya-foya,” ujar Husein saat diwawancarai VISI pada Senin (20/03).

Menyikapi asumsi tersebut, sebagai akademisi kita harus berpikir panjang untuk mengetahui keadaan sebenarnya. Apakah Bidikmisi secara realita memang salah sasaran? Banyak dari mahasiswa yang memandang penerima Bidikmisi hidup dalam kemewahan. Namun, terkadang mahasiswa kurang kritis terhadap keadaan sehingga hanya melihat dari suatu sudut pandang. Baju mewah, gawai keluaran terbaru, dan makan enak di restoran ternama kerap dijadikan ukuran penilaian status sosial dan prestis. Beberapa hal tersebut sering menjadi dasar asumsi yang digunakan mahasiswa saat menilai mahasiswa penerima Bidikmisi. Bermula dari persepsi tersebut muncul kecemburuan sosial antar mahasiswa reguler terhadap mahasiswa penerima Bidikmisi.

Acta Diurna No.26/V/2017

5

Buletin Acta Diurna Edisi 26  
Advertisement