Page 11

RESENSI

Mengemudi Hidup Bersama Doa Ibu Oleh: Erna Wati Judul Penulis Bahasa Penerbit Tahun Terbit Tebal Buku

K

asih sayang orang tua memang tiada batas. Apapun rela mereka lakukan demi kebahagiaan anaknya. Hal itulah yang kiranya dapat menggambarkan isi cerita dalam novel Ibuk. Keluarga memang topik yang sudah begitu sering dibahas dalam masyarakat. Namun, Iwan Setyawan mampu membuatnya berbeda dengan menyajikan cerita dengan bahasa sederhana ke dalam sebuah novel. Cerita ini dimulai dengan kisah cinta Ibuk, Tinah, si gadis desa berparas cantik. Tidak lulus SD, Tinah lantas membantu menjaga kios Mbok Pah di pasar. Di sanalah ia menemukan pasangan hidupnya, Sim, sopir angkot yang dikenal sebagai playboy pasar. Kehidupan pernikahan mereka tidaklah berjalan mulus. Dengan latar belakang ekonomi yang dapat dikatakan sangat kurang, hidup dengan lima orang anak bukanlah hal yang mudah. Namun, Ibuk tak pantang menyerah. Berkat kecerdasannya dalam mengelola keuangan keluarga, kelima anak tersebut tumbuh menjadi anak-anak yang pandai dan tidak mudah mengeluh. Penulis, yang dalam novel tersebut diceritakan sebagai Bayek (salah seorang anak Ibuk), menceritakan secara gamblang kesulitan apa saja yang dirasakan keluarganya pada kala itu, mulai dari hal makanan sampai keperluan mandi. Penulis menceritakan betapa mereka sekeluarga sangat jarang untuk makan makanan enak, seperti sedikit empal yang dibagi untuk lima orang anak ketika ayahnya mendapat rejeki lebih. Diceritakan pula cara Ibuk dalam memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya secara bergilir dengan sistem kredit yang bergilir pula. Bahkan hal yang kita anggap sangat sepele, justru menjadi hal berharga bagi keluarga mereka, yaitu menghemat penggunaan keperluan mandi. Kehidupan yang begitu sulit tersebut menjadi semakin sulit ketika Bayek mendapat tawaran untuk melanjutkan kuliah di Bandung. Tidak main-main, sang ayah bahkan rela menjual angkotnya yang baru saja lunas pengkreditannya demi membayar biaya kuiah Bayek. Mobil yang sekaligus sebagai mata pencaharian

: Ibuk : Iwan Setyawan : Indonesia : Gramedia : 2012 : 292 halaman

utama keluarga itu terpaksa dijual demi membiayai keberangkatan Bayek dan biaya hidupnya di Bandung. Harga angkot tersebut terbayar lunas. Lulus kuliah, Bayek bekerja di sebuah perusahaan di Amerika Serikat. Dari situlah Bayek mulai mengubah kehidupan keluarganya ke arah yang lebih baik. Namun, hidup di negara orang juga bukan hal mudah. Ada banyak aral melintang yang harus Bayek hadapi. Termasuk kekhawatiran terhadap kondisi Ibuk dan beberapa kemalangan yang menimpanya selama tinggal di sana. Penulis dengan apik mengemas cerita hidupnya yang sulit menjadi sebuah novel yang mengalir. Melalui tokoh Ibuk, ia menyuguhkan cerita yang mampu membukakan mata kita. Sebuah kehidupan yang membuat kita sadar bahwa kesulitan yang kita alami tidak sebanding jika dibandingkan dengan kesulitan mereka di luar sana yang sedang memperjuangkan hidup. Ada kelebihan, ada pula kekurangan. Dari segi penulisan, penulis beberapa kali menyisipkan bahasa-bahasa daerah dalam kalimat yang dilontarkan Ibuk, namun tidak menyertakan arti dari kalimat-kalimat tersebut. Hal ini tidak menjadi masalah bagi saya atau mungkin para pembaca lain yang merupakan orang Jawa. Namun, bagi pembaca asal luar Jawa kemungkinan akan merasa bingung karena tidak mengerti apa yang dibicarakan. Pesan yang dapat saya petik dari novel ini adalah betapa orang tua, terutama ibu, banyak berjuang demi kebahagiaan anaknya. Penulis juga menyampaikan pesan betapa pendidikan sebenarnya mampu mengubah standar hidup seseorang, tergantung pada mau atau tidaknya orang tersebut berusaha. Satu hal yang tak kalah penting, semua orang berhak menentukan arah hidupnya tanpa memandang latar belakang ekonomi yang ada. Melalui cerita ini, Iwan juga berharap agar anak-anak sopir angkot lainnya mampu mengikuti jejak perjuangannya.

Acta Diurna No.26/V/2017

11

Buletin Acta Diurna Edisi 26