Page 1

Acta Diurna No.28/X/2018 Problematika

Kritis Tak Melulu Anarkis Profil

Demonstrasi Bukan Sekedar Eksistensi Bidikan Utama

Pilihan Tunggal Mencapai Keadilan


EDITORIAL Demontrasi adalah sebuah aksi. Kekecewaan yang akhirnya menuntut keadilan untuk ditegakkan adalah tujuan yang sangat umum dilontarkan para demonstran. Isu yang dituntut pun tidak main-main karena harus melalui kajian isu terlebih dahulu. Bukan sembarang cap cip cup. Butuh pemikiran yang mendalam untuk dapat menimbang apakah isu tertentu memang layak untuk dituntut melalui demonstrasi. Butuh tenaga dan keahlian yang cukup tangguh untuk dapat mengerahkan massa menyerukan satu suara. Ditambah lagi dengan atmosfer padat yang menuntut para demonstran untuk berdiri bahkan berlari dan berdesak-desakan dalam lautan massa. Banyak proses yang perlu dilalui untuk dapat menyelenggarakan aksi demonstrasi. Hari demonstrasi tiba. Semua orang mengabarkan aksi yang berlangsung. Apa yang mereka dapat? Alih-alih mendapat pujian karena menyuarakan keadilan, para demonstran justru menerima berbagai komentar negatif. Komentar negative pun disebarluaskan baik dari mulut ke mulut maupun media sosial. Bahkan juga dapat memancing perdebatan antara si pro dan si kontra. Hal ini dikarenakan demonstran seringkali meluapkan kekecewaan dengan merusak atribut di sekitar lokasi demonstrasi. Lalu, pantaskah kita menghujat para demonstran tanpa melihat apa yang mereka korbankan demi demonstrasi ini?

SURAT PEMBACA World Class University atau... Visi UNS adalah untuk mencapai WCU (World Class University) tapi nyatanya sebaran mahasiswa yang masuk hanya dari daerah-daerah sekitarnya, mungkin WCU yang ingin dicapai adalah kampus WCU (Wong Cerak Uomah) anonim

Dijaman now, masih banyak memang mahasiswa yang kritis tapi kenyataannya mahasiswa tak segarang cerita nenekku dulu.. Mahasiswa sekarang hanya pandai beretorika di organisasi kampus tanpa pernah menggunakan retorika dan kemampuannya dalam fungsi pengabdian masyarakat, lihatlah sekitar, mungkin kalian tidak tahu masih banyak masyarakat mengagungkan kata “MAHAsiswa� dan sedang menunggu gebrakan kalian, jadi stop apatis!! Stop cuma jadi mahasiswa kupu-kupu!! Aqnita Candra Koordinator Relawan LAZIS UNS 2017

LPM VISI FISIP UNS Sekretariat LPM VISI Gedung 2 Lt. 2 FISIP UNS, Jl. Ir. Sutami No. 36A Surakarta 57126

redaksi@lpmvisi.com

Susunan Redaksi Pelindung Penanggung Jawab Pemimpin Redaksi Redaktur Pelaksana Editor Reporter

Ilustrasi dan Tata Letak Riset

@lpmvisi @gwi5930m http://www.lpmvisi.com/ @LPM_VISI Lpm Visi Fisip Uns

: Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si : Laila Mei Harini : Kurniandi Darmawan Al Rasyid : Erna Wati : Banyu Visandi Pangestu, Erna Wati, Kurniandi Darmawan Al Rasyid : Arif Miftah, Diah Nur Indah Yuliana, Irma, Pitaloka Kusuma Palupi, Ratu Riyaning Arum P., Rifa’tus Sholiha, Syamsiyah Kulabuhi : Banyu Visandi Pangestu, Laila Mei Harini : Bidang Litbang

Redaksi menerima kritik dan saran serta tulisan, artikel, informasi, ataupun karikatur. Naskah atau gambar yang dikirim menjadi hak penuh redaksi. Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan dan pengutipan pernyataan, Redaksi LPM VISI menerima hak jawab sesuai UU Pers No. 40 Tahun 1999 pasal 1 ayat 11. Kirim ke: Sekretariat LPM VISI Gd. 2 Lt. II FISIP UNS Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57126, email: redaksi@lpmvisi.com

2

Acta Diurna No.28/X/2018


BIDIKAN UTAMA

Pilihan Tunggal Mencapai Keadilan

Illustrasi: Laila, Ridho

Aksi mahasiswa merupakan sebuah bentuk apresiasi yang disampaikan melalui diskusi, audiensi dan demonstrasi. Aksi mahasiswa yang lebih sering di kaitkan dengan demonstrasi, justru sering menuai banyak anggapan negatif meski sesungguhnya memiliki tujuan-tujuan yang baik. Lantas apakah demonstrasi ini memang perlu di lakukan? Demonstrasi bagaikan acara tahunan yang dilaksanakan mahasiswa. Setiap tahunnya, pasti ada saja isu yang diusung untuk menyuarakan aspirasi melalui demonstrasi. Padahal demonstrasi bukanlah peringatan tahunan. Waktu yang diperlukan dalam menyiapkan demonstrasi tidaklah menentu, tergantung isu apa yang menuntut keadilan. Isu yang diangkat pun tidaklah menentu. “Misalkan ada mahasiswa yang tiba-tiba di drop-out (DO), otomatis tidak mungkin ngerencanainnya seminggu atau sebulan. Otomatis cuma 24 jam atau kurang dari itu,� beber Yogi, Ketua Badan Eksekutif

Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Sebelum memutuskan untuk melakukan demonstrasi, BEM FISIP sebagai pihak yang berkepentingan akan mendiskusikan isu terlebih dahulu dalam Forum Besar (Forbes) Eksternal se-UNS. Melalui Forbes ini, mereka akan memutuskan langkah apa yang akan diambil untuk menyikapi isu. Melalui Forbes ini, mereka akan memutuskan langkah apa yang akan diambil untuk menyikapi isu. Hasil akhir Forbes seringkali berujung pada keputusan demonstrasi.

Acta Diurna No.28/X/2018

3


“Biasanya nanti di Forbes itu kita tarik keputusan aksi nggak, demonstrasi nggak, unjuk rasa nggak. Ya lazimnya memang itu. Aku juga tidak bisa memungkirinya, pasti ujung-ujungnya selalu dilakukan (demonstrasi -red),” tutur Yogi.

publikasi hasil yang didapat dari demonstrasi memang kurang menyebar di kalangan mahasiswa FISIP. “Sanggah D3 yang tahun kemarin nggak ada sekarang jadi ada. Aku nggak ngerti ya itu terasa atau tidak, tapi itu ada hasilnya,” ujar Yogi.

Segala sesuatu dilakukan untuk mencapai tujuan, begitupun demonstrasi. Tujuan yang diharapkan oleh para demonstran tidak selalu membuahkan hasil. VISI melakukan penelusuran untuk mengetahui berapa banyak demonstrasi yang dilakukan BEM selama 2018, khususnya terkait isu-isu internal kampus. Dengan bantuan media sosial, VISI menemukan satu demonstrasi yang dilakukan pada 2 Mei 2018 terkait peringatan Hari Pendidikan Nasional. Demonstrasi yang dilakukan di halaman gedung rektorat ini menghasilkan tiga poin penting. Satu, adanya kuota bidikmisi sesuai dengan pihak Direktorat Jenderal Pembelajaran dan KemahasiswaanRiset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Belmawaristekdikti). Dua, sanggah Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang tetap diadakan untuk mahasiswa Jalur Seleksi Mandiri. Tiga, Cost Structure Analysis (CSA) dapat diakses. Meski begitu, tuntutan mengenai UKT Jalur Seleksi Mandiri yang tidak sesuai skema UKT dan Biaya Kuliah Tunggal (BKT) belum dapat disepakati.

Publikasi demonstrasi tidak tersebar secara merata. Hal ini lantas menimbulkan pertanyaan, apa urgensi dari diadakannya demonstrasi. “Tidak jelas, sia-sia, dan hasilnya nol,” pungkas Joco, ketika ditanya pendapatnya mengenai pentingnya demonstrasi. Pendapat sejenis juga dilontarkan Puspita, mahasiswa Sosiologi. “Kadang aku kurang pro dengan tindakan demo yang anarkis menurutku.” Kedua pendapat tersebut juga sejalan dengan pendapat Supriyadi selaku dosen FISIP. “Malah memperburuk citra, misalnya jalanan jadi macet. Kerusuhan itu kan jadi memperburuk citra,” ungkapnya.

Diterima atau tidaknya tuntutan demonstrasi, BEM FISIP berkewajiban untuk melakukan publikasi kepada mahasiswa. Lazimnya, hasil demonstrasi dipublikasikan melalui akun media sosial seperti official account (OA) Line, Twitter, Instagram, dan website. Akan tetapi, berdasarkan penelusuran VISI di semua lini massa yang ada, publikasi demonstrasi hanya ditemukan di OA Line dan Instagram. Informasi yang disampaikan pun cukup singkat dan tidak memberikan penjelasan yang mendalam. Singkatnya penjelasan tersebut dapat dimaklumi lantaran terbatasnya jumlah karakter yang disediakan media sosial.

4

Acta Diurna No.28/X/2018

Berdasarkan fakta-fakta di atas dapat ditarik benang merah. Bahwasannya demonstrasi dewasa ini masih relevan dilakukan jika memang itu merupakan jalan terakhir. Setelah dengan dialog antara pihak-pihak yang berkepentingan tidak membuahkan hasil. “Dulu saat ’98 turunnya Pak Harto, itu upaya terakhir karena dialog sudah mentok,” tutur Supriyadi.

Syam, Arif, Atuk

Ilustrasi: Banyuvisandi

VISI mencari tahu lebih lanjut untuk mengetahui pendapat mahasiswa umum terkait hasil demonstrasi yang dipublikasikan. Beberapa mahasiswa mengaku mendengar pelaksanaan demonstrasi namun tidak mengetahui hasil dari tuntutan yang diajukan. “Kalau aksinya sempat beberapa kali lihat juga yang waktu itu, kan kayak misalnya aksi pengin keringanan UKT yang lebih sering dengar. Cuman, kelanjutannya juga saya nggak tahu apa ada hasilnya apa nggak,” kata Puan, mahasiswa Sosiologi, saat ditemui VISI di sela-sela waktunya menunggu kuliah. Pihak BEM FISIP pun membenarkan,

Menanggapi tanggapan tersebut, Yogi menyatakan tidak setuju. Mahasiswa yang dikenal supel ini menyatakan bahwa demonstrasi itu penting. Namun, yang dia inginkan bukan demonstrasi yang berpanaspanasan. Dia menginginkan demonstrasi dalam bentuk baru yakni dengan sebuah nyanyian. “Kita jalan santai, lalu duduk di rektorat, melakukan orasi dalam bentuk nyanyian,” bebernya.


PROBLEMATIKA

Kritis Tak Melulu Anarkis

Ilustrasi: Laila, Ridho Aksi demonstrasi yang dilakukan BEM UNS beberapa waktu lalu sempat menyita perhatian terutama dengan dirusaknya fasilitas kampus, hal ini pun menimbulkan protes dari kalangan mahasiswa. Apakah tindakan seperti itu bisa dianggap wajar? Dan benarkah kritis harus dibumbui anarkis ? Gerakan aksi mahasiswa, sebuah gerakan yang dimaksudkan untuk memperjuangkan kepentingan bersama demi terciptanya sebuah keadilan. Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk melakukan aksi. Demonstrasi menjadi cara aksi yang paling menyita perhatian. Demonstrasi lebih banyak diberitakan di media massa. Terlebih dengan seringnya pemberitaan tindakan demonstrasi anarkis yang berujung pada kekerasan dan perusakan fasilitas umum. VISI mendatangi lima mahasiswa FISIP UNS untuk menanyakan tanggapan mereka terkait demonstrasi anar- kis. Kelimanya menyatakan tidak setuju adanya pe-

rusakan fasilitas saat demonstrasi. “Saya tidak setuju karena perusakan fasilitas tentunya menimbulkan kerugian. Padahal kebanyakan demonstran menuntut masalah yang berka- itan dengan uang,� beber Imas (nama samaran), mahasiswa Periklanan. Mahasiswa lain, sebut saja Putri (nama samaran) juga mengungkapkan ketidaksetujuan. Ia merasa perusakan fasilitas saat demonstrasi dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat sekitar. “Belum tentu juga tuntutan yang diperjuangkan dapat sepenuhnya dikabulkan meskipun sudah melakukan tindak perusakan fasilitas,� tuturnya.

Acta Diurna No.28/X/2018

5


Tanggapan negatif serupa kerap kali menjadi konsumsi indra pendengaran Ridho (nama samaran). Ia merupakan seorang demonstran aktif yang sekaligus pernah menjabat posisi yang cukup penting dalam demonstrasi. Berbeda dengan Imas dan Putri yang tidak membenarkan tindakan anarkis, Ridho justru menganggap hal itu boleh dilakukan. “Terkait perusakan dan lain-lain, saya rasa ketika memang itu tidak merusak properti milik orang lain (bukan milik negara -red), menurutku itu nggak apa-apa. Asalkan memang ada pertimbangan dan juga pertanggungjawaban yang baik,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa pada dasarnya, anarkis adalah sebuah pilihan ketika suatu aksi dianggap tidak serius. Dalam arti lain, anarkis terjadi apabila demonstran tidak memiliki posisi yang cukup strategis untuk menyuarakan tuntutan. “Ketika posisi kita lemah, guna anarkis itu adalah kita ingin tuntutan itu segera dipenuhi sehingga posisi kita untuk negosiasi itu lebih tinggi. Sebenarnya anarkis hanya sekedar itu,” bebernya saat diwawancarai VISI (10/9). Ridho pun tidak mengelak. Ia mengaku pernah melakukan tindakan anarkis sebanyak tiga kali. Menurut pandangannya, tindakan anarkis diperlukan untuk memancing pemimpin turun dan berdialog langsung bersama para demonstran. “Aku nggak pernah munafik. Jika ditanya melakukan tindakan anarkis ya aku ngaku. Toh nyatanya anarkis itu tidak hanya diadakan di Indonesia saja,” akunya. Menanggapi lebih lanjut mengenai tanggapan negatif mengenai demonstrasi yang anarkis, Menteri Luar Negeri BEM FISIP UNS, Shidiq tidak membenarkan adanya tindak kekerasan ataupun perusakan dalam aksi. Jika anarkis tetap terjadi, hal tersebut murni muncul dari peluapan emosi yang tidak direncanakan. Ia juga menambahkan, bila pada akhirnya terdapat kerusakan fasilitas, pihak BEM siap bertangggung jawab akan hal itu. Ia berkilah, “Sulit mengatur massa yang banyak. Meskipun sebelum melakukan aksi dilakukan briefing terlebih dahulu, tetap saja ada yang tidak menaati.” Demonstrasi tidak melulu soal anarkis. Tindakan anarkis yang sering terjadi pada beberapa demonstrasi cenderung tergantung pada massa aksi. Emosi yang meluap-luap karena geram dengan kebijakan pemerintah memicu terjadinya baku hantam antara massa dan petugas kepolisian.

6

Acta Diurna No.28/X/2018

“ Ketika posisi kita lemah, guna

anarkis itu adalah kita ingin tuntutan itu segera dipenuhi sehingga posisi kita untuk negosiasi itu lebih tinggi. Sebenarnya anarkis hanya sekedar itu.

Tindakan anarkis yang demikian menimbulkan meluasnya anggapan negatif terhadap aksi demonstrasi. Padahal, aksi demonstrasi sejatinya merupakan tindakan nyata untuk mengkritisi kebijakan pemerintah atau pejabat terkait. Rangkaian proses pun harus dilalui sebelum memutuskan terjun aksi di jalan. Proses inilah yang tidak banyak diketahui publik. “Dilakukan proses yang panjang sebelum mengadakan aksi demonstrasi. Jadi, jangan menyimpulkan sendiri,” pungkas Shidiq. Shidiq mengungkapkan bahwa suatu aksi demonstrasi di universitas dilakukan melalui dua proses. Pertama, soft diplomacy. Kedua, hard diplomacy. Pada proses soft diplomacy, ruang-ruang diskusi diadakan untuk menemukan titik temu atas suatu topik permasalahan. Selain itu, ada pula audiensi yang diselenggarakan setiap bulan. Apabila tidak didapati kesepakatan, maka akan dilanjutkan pada proses yang kedua. Pada proses hard diplomacy, alur yang dilakukan menjadi lebih panjang. Diawali dengan diskusi terbuka dan kajian-kajian kasus, serta diakhiri pada tahap konsolidasi. Tahap konsolidasi merupakan puncak dari proses aksi yang sekaligus menentukan bagaimana aksi itu akan berjalan. Terdapat pula gimmick dalam bentuk tulisan yang kemudian dieksekusi dalam bentuk aksi massa. Gimmick hanya digunakan untuk memancing massa, bukan untuk melakukan kekerasan ataupun perusakan. “Jadi, jangan menyimpulkan sendiri. Ikuti diskusi-diskusinya agar teman-teman menyadari bahwa dalam suatu bentuk universitas tidak selamanya ideal. Ada hal yang perlu dikritisi,” terangnya.

Diah, Ika


SUPLEMEN

Acta Diurna No.28/X/2018

7


PROFIL

Demonstrasi Bukan Sekedar Eksistensi Seorang Wildan Wahyu Nugroho bukanlah sosok yang asing di telinga para mahasiswa UNS. Memangku jabatan sebagai Presiden BEM UNS membuat namanya dikenal sebagai sosok orator yang identik dengan gerakan aksi mahasiswa. Ia banyak menyalurkan aspirasinya dengan berbagai cara. Salah satunya melalui aksi massa berupa demonstrasi. Menurutnya, demonstrasi tidak melanggar hukum karena merupakan bentuk kebebasan berpendapat yang telah dilegalkan Pemerintah Indonesia dan dijamin undang-undang. Meskipun begitu, sebagian masyarakat khususnya mahasiswa masih melihat aksi demonstrasi cenderung dilakukan secara anarkis dan merugikan lingkungan sekitar. Hal ini menyebabkan demonstrasi dipandang sebagai hal yang negatif dan tidak efisien. Menanggapi pandang tersebut, Wildan berpendapat bahwa di negeri yang demokrasi, semua orang dapat beropini. Demonstrasi sebagai bentuk penyampaian aspirasi memiliki banyak hal positif. Pada kasus tertentu, misalnya, teman-teman di Riau yang pada 2016-2017 berhasil menurunkan Kalpolda Polresta yang bermasalah karwna terlibat dengan pelaku pembakaran lahan gambut. Di samping itu, ada pula mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unisri) Palembang yang melakukan demonstrasi terkait pembakaran lahan gabut dan membuat Gubernur Sumatera Selatan menjamin kasus pembakaran serupa tidak akan terulang kembali.

8

Acta Diurna No.28/X/2018

“Menyuarakan kebenaran bukan sekedar untuk mencari eksistensi, tapi demi rakyat, mereka yang terdzalimi.�


Wildan Wahyu Nugroho // Wildan sedang bersuara di tengah Kongres keempat Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang berlangsung di Jakarta Februari lalu. (Dok. Pribadi)

Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa aksi demonstrasi mampu menghasilkan respon nyata yang membela kepentingan rakyat. Pandangan negatif mengenai demonstrasi yang melulu anarkis harus dikesampingkan karena tidak dapat digeneralisasikan pada semua bentuk kasus aksi massa. Mahasiswa program studi Agribisnis 2013 ini berpendapat bahwa perlu adanya sinergi pengamanan yang baik oleh petugas kepolisian terhadap massa, sehingga emosi kedua belah pihak dapat terjaga dan tindakan semena-mena dapat terhindarkan. Jalannya suatu aksi demi mencari solusi pun dapat disepakati dan diselesaikan dengan cara damai. Pernah beberapa kali melakukan demonstrasi, Wildan mengaku mendapat banyak pengalaman menarik yang akan selalu dikenangnya. Ia memberikan contoh pada beberapa aksinya dimana tuntutan yang dilakukan bisa disepakati pejabat terkait, seperti aksi 2 Mei 2016 yang memberikan manfaat untuk banyak mahasiswa. Ia menambahkan aksi 28 Oktober lalu ketika pria kelahiran Malang ini ditetapkan sebagai tersangka dan kemudian dibebaskan.

Ia merasa beruntung dapat melihat dan mengalami secara langsung betapa hukum bagaikan pisau yang tumpul ke atas namun tajam ke bawah. Ketidakadilan di sekitarnya merupakan hal menarik yang mampu mengisi ruang-ruang kemungkinan dalam pikirannya. Menjadi pembelajaran dan pengalaman berkesan yang harus ia ceritakan pada banyak orang. Semakin lama bergelut di dunia aksi, Wildan menyadari adanya perbedaan-perbedaan aksi demonstrasi di masa lampau dengan sekarang. Kesamaan isu yang diangkat mahasiswa sekarang tidak semasif dahulu. Dimungkinkan ada faktor tertentu yang membuat mahasiswa mulai resisten dengan gerakan-gerakan apatis hingga membuat aksi mudah terpecah-belah. Jumlah massa aktif yang semakin menipis menjadi tantangan tersendiri bagi para demonstran saat ini. Terlepas dari perbedaan akan massa aksi di masa silam dan kini, ia berpesan untuk teman-teman seidealisnya yang melakukan aksi demonstrasi di jalan untuk tetap memperjuangkan kebenaran yang independen. “Menyuarakan kebenaran bukan sekedar untuk mencari eksistensi, tapi demi rakyat, mereka yang terdzalimi,� tegasnya.

Rifa, Oka

Acta Diurna No.28/X/2018

9


RETORIKA

Demonstrasi Tidak Bisa Disalahkan Oleh : Adika Sandra Panji P. Program Studi D3 Perpustakaan

Illustrasi: Laila, Ridho

T

idak ada yang salah dengan aksi yang banyak dilakukan mahasiswa sebagai bentuk keresahan yang dirasakan oleh masyarakat dan mereka sendiri. Keresahan terhadap kebijakan-kebijakan rezim yang secara analisis tidak pro pada kesejahteraan rakyat. Aksi yang biasanya kita sebut dengan demo ini seja- tinya adalah ruh atau arwah dari pergerakan mahasiswa yang telah berjalan melewati masa ke masa sejak kemunculan organisasi kepemudaan di masa kolonial, orde lama, sampai saat ini dengan keampuhannya teruji mampu meruntuhkan orde baru dengan bersenjatakan poster dan toa. Melawan kerasnya sepatu, tameng, dan sepan peluru tajam polisi ketika itu. Pers khususnya pers mahasiswa juga tidak luput dari adanya baku hantam dengan kekuatan pemerintah. Terhitung pers mahasiswa seringkali menjadi sasaran pembredelan dengan SK Rektor. Layaknya demonstrasi dengan oratornya yang ditembak peluru tajam. Di era sekarang,masa pasca reformasi yang sudah memasuki usia 20 tahun. Terlahir dalam kondisi serba kurang membuatnya tumbuh layaknya pemuda labil dan tak tentu arah. Itulah reformasi dan keadaan setelahnya. Jika kita telah mengenal dan memahami para mahasiswa,maka mereka tidak bisa dipisahkan dari idealisme dan daya pikir kritis kepedulian terhadap masyarakat. Maka wajar saja jika mereka merasa sangat mewakili masyarakat dengan segala problemnya. Jika dikatakan bahwa di masa sekarang ini aksi atau demo sudah tidak perlu dilakukan maka dipastikan pernyataan semacam ini adalah bentuk pengerdilan terhadap demokrasi dan kebebasan pendapat.

10

Acta Diurna No.28/X/2018

Berulangkali diajarkan pada PPKn di ruang ruang kelas perkuliahan, kebebasan berpendapat sangat diagungkan secara teorinya. Tentu demonstrasi tidak bisa disalahkan dan mahasiswa dalam langkah benar melakukannya. Tidak ada orang yang menyampaikan kebenaran boleh disalahkan dan dihujat. Hanya yang hati nuraninya abnormal dapat menyalahkan suara kebenaran dari khususnya para mahasiswa sebagai anak kandung rakyat. Patut disayangkan pula bahwa dari kalangan mahasiswa sendiri seringkali menyalahkan kawan mahasiswa lain yang mengorbankan waktunya turun ke jalan. Sekali lagi bahwa demo turun ke jalan tidak bisa disalahkan,begitu pula mahasiswanya. Hal ini sama seperti mahasiswa lain yang tidak mau membantu temannya ketika ingin mendapat penjelasan tugas dosen. Mereka pasti tidak mau disalahkan. Demonstrasi adalah hal umum di banyak negara demokratis seperti indonesia. Terlihat bahwa akar kata demokrasi adalah demo yang artinya rakyat. Sudah menjadi hak rakyat dan mahasiswa di dalamnya mengeluarkan keluhan kepada rezim. Sehingga, tidak ada istilah demo bagi mereka yang membela rezim dan kebijakan tidak pro rakyat. Demo adalah alat pembela kepentingan rakyat tertindas, bukan penguasa penindas. Terus menerus menyalahkan masyarakat dan mahasiswa di dalamnya yang turun ke jalan untuk berdemo tidak serta-merta membuat demo dan pendemo menjadi hina. Demo ibarat kelas praktikum bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu hati nuraninya secara langsung. Rakyatlah penilainya dengan evaluator adalah mereka yang berpanas ria di jalan menuntut keadilan. Maka jangan hanya bisa menyalahkan jika demo membuat kerusuhan karena pada dasarnya demo ialah untuk menuntut keadilan bukan berperang. Tentu kedatangan dengan damai lah yang selalu ditunjukkan. Alangkah baiknya untuk bisa sesekali terlibat melihat realita yang ada bahwa menyuarakan kebenaran dan pendapat tidak boleh disalahkan.


RESENSI

Potret Suram Revolusi Kemerdekaan Ala Peternakan Binatang Oleh: Dita Anisa Puspaningtyas Judul Penulis Bahasa Penerbit Tahun Terbit Tebal Buku

: Animal Farm : George Orwell : Indonesia : Bentang Pustaka : 2017 : 144 halaman

S

ebuah judul buku yang menggelitik indra saya ketika menemukan Animal Farm. Menerawang lebih jauh, apa sesungguhnya yang ada dalam benak Orwell hingga menghadirkan novela bertokohkan hewan dalam balutan kisah politik?

Tak berhenti di situ, hujatan dan provokasi kebencian terhadap Snowball terus digencarkan. Di akhir cerita, Napoleon memonopoli seluruh hasil panen dan digunakan untuk kepentingan para babi. Bahkan para babi pun tak sungkan untuk berhubungan dengan manusia, Di awal cerita, kita disambut dengan persiapan hingga babi-babi ini tak ubahnya berwatak picik seperti para binatang pada pidato Si Tua Major di Peternakan manusia. Manor. Babi tua tersebut mengisahkan mimpinya. Inti Miris memang, membaca kisah revolusi yang dari pidatonya, ia mengharuskan semua binatang untuk digadang-gadang mampu menjadi era kebangkitan justru hidup bebas dan berkuasa atas dirinya sendiri. Lebih proka-poranda oleh kaumnya sendiri. Revolusi berakhir dari itu, ia menginginkan setiap binatang untuk tidak gagal. Prinsip “semua binatang setara’ yang digaungkan saat terkekang oleh kekuasaan manusia. Tercetuslah ide awal pemberontakan berubah menjadi “semua binatang pemberontakan. Para binatang mulai menyusun strategi. setara, tetapi beberapa binatang lebih setara daripada yang Pada suatu malam, semua binatang di lainnya�. Kekurangan dari buku ini, banyak alur cerita yang Peternakan Manor menderita kelaparan dan terlantar. terkesan dipotong dan digantung begitu saja, layaknya tekaMereka merasa ditindas. Mereka telah memberikan teki, pembaca hanya bisa menerka apa yang terjadi. susu, daging, telur, bahkan tenaga. Namun, hasil yang diperoleh para binatang masih jauh dari kata layak. Pemberontakan pun akhirnya dilaksanakan. Peternakan Manor yang semula milik Jones berhasil diakuisisi para binatang pemberontak. Snowball dan Napoleon, babi yang dianggap cerdas pun naik tahta menjadi pemimpin bagi binatang lain. Seluruh kehidupan para binatang pun berangsur membaik. Hasil panen melimpah, pendidikan berjalan dengan baik, pelatihan keterampilan dan berorganisasi pun terstruktur di bawah kendali Snowball.

Secara khusus, Orwell memang menulis tentang alegori politik pada perang dunia II. Mengkritik tentang totaliterisme yang terjadi di Uni Soviet pada 1917. Namun lebih jauh lagi, buku ini juga mengkritik semua rezim. Toh semua rezim berpotensi melakukan penindasan terhadap rakyatnya dan memiliki potensi konflik di berbagai aspek. Dalih seperti kepentingan negara, kepentingan bersama, bahkan kepentingan semesta dijadikan kompromi.

Semua yang berjalan dengan sangat baik seketika lenyap saat Napoleon berusaha merebut kekuasaan. Napoleon merasa iri pada Snowball. Tak habis akal, ia membangun benteng kekuasaannya sendiri. Dengan keahliannya dalam memenangkan suara mayoritas, ia berhasil menumbangkan Snowball.

Acta Diurna No.28/X/2018

11


Buletin Acta Diurna Edisi 28  
Buletin Acta Diurna Edisi 28  
Advertisement