Page 1

ZAMAN

Acta Diurna No.31/XI/2020 Bidikan Utama

Problematika

Pandemi Alasan Goresan Kebijakan

Kuliah Daring dan Kesehatan Mental Mahasiswa Profil

Paruh Waktu: Sinergi Kreativitas dan Teknologi


EDITORIAL Sebagai manusia, perubahan bukan lagi kata asing bagi kita semua. Perubahan dalam suatu hal dapat berdampak positif maupun negartif. Tidak jarang perubahan dilakukan secara insidental karena ada hal yang tidak dapat diprediksi terjadi. Pandemi Covid-19 menyebabkan banyak perubahan di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Anjuran untuk melakukan social distancing membuat berbagai kegiatan harus dilakukan secara daring. Tidak terkecuali kegiatan pembelajaran. Perubahan ini terjadi sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi digital yang semakin canggih. Dalam menghadapi situasi seperti ini, instansi pendidikan pastinya mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk menunjang perubahan tersebut. Sebagai salah satu instansi pendidikan, UNS juga mempersiapkan rencana untuk pembelajaran daring bagi mahasiswanya. Lantas, sudah sejauh mana persiapan tersebut? Dan bagaimana mahasiswa menanggapi sistem kuliah daring yang diterapkan pihak kampus? Wawancara yang tim kami lakukan dengan para narasumber terkait kuliah daring di UNS membuahkan respon yang bermacam-macam. Ada tanggapan positif maupun tanggapan negatif. Tidak dipungkiri, kegiatan kuliah daring juga berdampak pada kesehatan mental mahasiswa. Salah satu dampaknya pada kesehatan mental mereka. Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dan tuntutan untuk terbiasa dengan situasi serba daring dapat membuat seseorang menjadi terkekan. Akibatnya, mahasiswa mengalami penurunan semangat. Hal ini tidak dapat dianggap sepele, karena kondisi mental yang sehat akan mendukung kegiatan perkuliahaan mahasiswa.

SURAT PEMBACA Buletin Acta Diurna 30

Terbit 14 Desember 2019

BACA DI SINI

Tentang Quarter-Life Crisis Rasanya untuk melewati fase ini sulit. Belum lagi jika ada hal-hal yang belum pernah dirasa sebelumnya, harus sabar mencari-cari jawaban atas segala pertanyaan. Apakah fase ini masih bisa dianggap normal ketika suatu saat terjadi krisis bersama, dalam jangka waktu panjang? Lutfia Irma P. Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS 2018

Ketika Semakin Bertambah Umur Bertambahnya umur bukan hanya perihal soal bertambahnya sebuah angka, namun juga beban hidup yang terasa bertambah banyak. Kadang atau bahkan sering pikiran kemana-mana alias overthinking, mikir masalah pekerjaan, gaji, jodoh, dsb. Sebenarnya ini bukan suatu perkara yang sulit tapi tidak juga mudah untuk dijawab. Iklil Mara Abidyoga Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara UNS 2017

LPM VISI FISIP UNS Sekretariat LPM VISI Gedung 2 Lt. 2 FISIP UNS, Jl. Ir. Sutami No. 36A Surakarta 57126

redaksilpmvisi@gmail.com

@lpmvisi @gwi5930m http://www.lpmvisi.com/ @LPM_VISI Lpm Visi Fisip Uns

Susunan Redaksi Pelindung Penanggung Jawab Pemimpin Redaksi Redaktur Pelaksana Editor Reporter Ilustrasi dan Tata Letak Riset

: Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si : Lailaurieta Salsabila Mumtaz : Gede Arga Adrian : Zulfatin Naila : Azizah Diah Wulandari, Gede Arga Adrian, Lailaurieta Salsabila Mumtaz, Zulfatin Naila : Alif Nurmardiyanto, Anggie Desriantika, Annisa Firdausi, Cika Rania Alya, Clarisa Kusuma Wardani, Lailaurieta Salsabila Mumtaz, Lucia Daniella Siagian, Lutfi Hamidanzat, Nasyaatur Rosyidah, Nova Nurlaila, Rista Septiana, Riga Widyanita, Ruhul Malik Akbar, Salsabila Inas Sausan : Ajeng Kartika Saraswati, Azizah Diah Wulandari, Gede Arga Adrian, Zulfatin Naila : Bidang Litbang

Redaksi menerima kritik dan saran serta tulisan, artikel, informasi, ataupun karikatur. Naskah atau gambar yang dikirim menjadi hak penuh redaksi. Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan dan pengutipan pernyataan, Redaksi LPM VISI menerima hak jawab sesuai UU Pers No. 40 Tahun 1999 pasal 1 ayat 11. Kirim ke: Sekretariat LPM VISI Gd. 2 Lt. II FISIP UNS Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57126, email: redaksilpmvisi@gmail. com

2

Acta Diurna No.31/XI/2020


BIDIKAN UTAMA

PANDEMI ALASAN GORESKAN KEBIJAKAN

Ilustrasi: Naila

Pandemi merajalela, pendidikan taruhannya. Pendidikan menjadi salah satu bidang yang terkena dampak besar akibat pandemi Covid-19. Kegiatan belajar mengajar yang biasanya dilakukan secara tatap muka harus diganti dengan sistem belajar dari rumah masing-masing dengan sistem dalam jaringan (daring). Universitas Sebelas Maret (UNS) menjadi salah satu instansi pendidikan yang menggunakan sistem tersebut. Pembelajaran daring yang dilakukan UNS kabarnya akan terus dilaksanakan hingga waktu yang belum ditentukan. Berbagai langkah dan kebijakan terus dilakukan oleh pihak universitas agar mahasiswa paham dan tidak keliru dengan prosedur yang harus dipatuhi. Namun, kebijakan yang dibuat sering kali menimbulkan tanda tanya. Sebab, beberapa kebijakan yang diturunkan oleh pihak universitas dirasa kurang jelas dan memberatkan para mahasiswa. Hal tersebut membuat mahasiswa mengajukan beberapa tuntutan kepada pihak pembuat kebijakan kampus yang berujung turunnya mahasiswa ke jalan karena beberapa kali tidak digubris. UNS terus melakukan upaya agar kebutuhan semua pihak terpenuhi, baik dari pihak kampus maupun mahasiswa. Setelah beberapa kali menghubungi dan berujung pada aksi, akhirnya pihak rektorat mau menemui mahasiswa. setelah beberapa kali pengajuan, akhirnya audiensi terbuka dilaksanakan sebagai forum

untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa. Audiensi ini dilakukan pada 20 Juli 2020. Setelah adanya dialog antara mahasiswa dan rektorat, beberapa permintaan mahasiswa dipenuhi meskipun tidak sepenuhnya. Rektorat melakukan perubahan beberapa prosedur seperti perpanjangan pengajuan keringanan UKT terdampak Covid-19, KIP, dan keringanan UKT 50% bagi mahasiswa semester 7 D-3 dan semester 9 S-1/D-4. Di luar perihal UKT, masih banyak tantangan yang harus dihadapi UNS, salah satunya terkait dengan kegiatan bagi mahasiswa tingkat akhir seperti praktikum, Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan magang. Menghadapi situasi ini, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNS (FISIP UNS), Ismi Dwi Astuti Nurhaeni mengatakan bahwa untuk praktikum, UNS memberikan kelonggaran berupa mata kuliah praktik tersebut dapat dilaksanakan di pertengahan semester (awal November 2020) dengan mematuhi protokol kesehatan secara ketat sejalan dengan

Acta Diurna No.31/XI/2020

3


dikeluarkannya surat edaran. Berbeda dengan magang dan KKN, Ismi menjelaskan, pelaksanaan magang industri perlu mendapatkan izin dari dekan sesuai kekhususan masingmasing fakultas dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di instansi, industri, ataupun daerah tempat dilaksanakannya magang. “Di FISIP sendiri, kebijakan magang diserahkan sepenuhnya pada otoritas kepala program studi masing-masing,” sambungnya. Sementara untuk pelaksanaan KKN di UNS dilakukan penyesuaian, di mana mahasiswa yang belum waktunya KKN tetapi berminat menjadi relawan Covid-19 dapat mengajukan proposal kegiatan untuk rekognisi KKN UNS. KKN ini dinamai sebagai KKN Covid-19. Reaksi Pro dan Kontra Mahasiswa Menyikapi kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan UNS terkait pandemi Covid-19, tanggapan dari mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) beragam. Cukup sulit menyuarakan pendapat di tengah pandemi seperti ini karena segala kegiatan dilaksanakan secara daring. Mulai dari mahasiswa yang merasa bahwa tidak banyak ilmu dan informasi yang didapat dari pembelajaran daring, mahasiswa yang memiliki kendala dalam bimbingan skripsi, sampai mahasiswa yang kesulitan melakukan pembelajaran praktik secara daring. Mahasiswa Administrasi Negara 2018, Misa’al Rizqulloh Al Qodir mengatakan bahwa masalah yang paling krusial dalam pembelajaran daring adalah bantuan pulsa bagi mahasiswa yang masih terlalu kecil dan kurang setimpal dengan besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dibayarkan. “Harapan saya di semester depan nanti, implementasi kebijakan kuliah online juga harus dibarengi dengan itikad baik kampus untuk memfasilitasi baik dosen maupun mahasiswa dengan maksimal, serta mau mendengar segala bentuk aspirasi, keluhan, dan masukan terutama dari mahasiswanya,” ujar Misa’al. Berbeda dengan Abyan Ajrurrafi Syauqi, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2017 yang harus kuliah praktik secara daring. Menurut Abyan, praktikum di rumah tidak menjadi masalah. Sebab dari pandemi ini, ide dan kreatifitas mahasiswa yang sedang kuliah praktik diuji. Abyan juga berkata bahwa tugas-tugas yang diberikan dosen dapat diatasi dengan belajar dari videovideo di Youtube dan langsung bertanya kepada orang atau ahli yang bersangkutan. Lain lagi dengan Alif Faishal Farras, Mahasiswa Sosiologi 2017 yang harus menjalani KKN Rekognisi Covid-19. “Di KKN Covid-19 itu kita bekerja sendiri, timnya kita sendiri, buat proposal kita sendiri, apa-apa

4

Acta Diurna No.31/XI/2020

kita sendiri, dan itu menurutku tidak optimal. Jatuhnya, akhirnya turun ke masyarakatnya juga tidak maksimal. Kalau di KKN yang normal, kita bisa di-backup dengan adanya kelompok, namun ini tidak bisa,” ujar Alif. Ia juga menambahkan bahwa petunjuk teknis yang diberikan Unit Pelaksana KKN (UPKKN) dengan birokrasi kampus sangat tidak memuaskan. Teknis yang diberikan sering berubah-ubah, banyak yang tidak pasti, dan sistemnya sering error. “Ada satu petugas yang mengatakan A, lalu petugas lain bilang B, jadi tumpang tindih dan tidak selaras informasinya,” lanjutnya. Aulia Suminar Ayu, dosen FISIP UNS mengaku kerap mengikuti forum yang berisi pendapat dan keluhan mahasiswa terkait pembelajaran daring. Aulia mengatakan bahwa sebagian besar mahasiswa merasa tidak banyak ilmu dan informasi yang didapat dari sistem belajar daring. Menurutnya, ketika dosen terlalu fleksibel dan asinkron dalam pemilihan waktu penyampaian materi, antusias belajar mahasiswa kerap berkurang. Dibutuhkan konsistensi di pihak dosen dan mahasiswa. “Jika iklim diskusi terbangun dengan baik, sebenarnya mahasiswa juga dapat memahami materi meskipun disampaikan secara online. Kendalanya adalah skala kelas yang besar sehingga keterbatasan waktu memberikan informasi saat kelas berlangsung,” jelasnya. Aulia juga berpesan bagi mahasiswa yang memiliki keluhan terkait pembelajaran daring dan segala kebijakannya, sebaiknya disampaikan secara langsung kepada dosen yang bersangkutan. “Ketimbang berbicara di belakang dan kesulitan sendiri, apalagi ditambahi dengan kalimat kasar, kesulitan yang diperoleh justru menjadi berlipat.” ujarnya.

Lucia, Clarisa, Rista, Ruhul


PROBLEMATIKA

Kuliah Daring dan Kesehatan Mental Mahasiswa

Ilustrasi: Naila

Pandemi Covid-19 telah berdampak pada berbagai bidang kehidupan. Tidak hanya bidang kesehatan dan ekonomi saja, bidang pendidikan juga turut terkena dampaknya. Selama masa pandemi, pemerintah memberikan imbauan untuk melaksanakan seluruh aktivitas dari rumah, tak terkecuali dengan kegiatan akademik di perguruan tinggi. Hal ini membuat seluruh perguruan tinggi harus mengubah prosedur kuliah tatap muka menjadi kuliah dalam jaringan (daring). Dampak pada Kesehatan Mental Perubahan sistem pembelajaran daring bagi mahasiswa dapat memberikan dampak terhadap kesehatan mental. Hal tersebut dijelaskan oleh Laelatus Syifa, Dosen Psikologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta (FK UNS). Latus, sapaan akrabnya, berpendapat bahwa dengan keharusan adaptasi pada perubahan yang tidak diharapkan akan terasa berat oleh mahasiswa yang menjalaninya. Terlebih dengan adanya penambahan tugas selama perkuliahan daring dapat membuat lelah serta memberikan efek tekanan bagi mahasiswa. “Ketika kondisi seseorang merasa tertekan, merasa tidak baik dan terus berlanjut, bisa terjadi gangguan kesehatan mental. Bisa gangguan kecemasan, depresi atau gangguan mental yang lain,” tutur Latus. Namun, menurut Latus, perkuliahan daring ini tidak sepenuhnya memberikan efek negatif. Kuliah jarak jauh dapat membuat mahasiswa melakukan kuliah dengan lebih santai. “Bangun tidur saja bisa langsung kuliah,”

tambah Latus. Menurutnya, kuliah daring juga dapat meningkatkan kemandirian mahasiswa dalam mencari bahan pembelajaran. Dengan perkuliahan daring yang dilaksanakan sampai waktu yang belum ditentukan, Latus menyatakan bahwa hal ini akan memberikan dampak pada sistem pembelajaran ketika kembali normal nanti. “Kemungkinan sistem pembelajaran online ini akan tetap digunakan meski perkuliahan sudah dapat dilakukan normal kembali,” ujar Latus saat ditemui VISI. Perubahan sistem pembelajaran ini pun mendapat berbagai respon dari mahasiswa. Wildan, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2019 menilai bahwa kulliah daring cukup menyenangkan meskipun ada beberapa hal lain yang dirasa kurang. “Setengah enjoy setengah beban. Enjoy-nya karena bisa kuliah sambil tiduran dan tidak perlu jauh-jauh berangkat ke kampus. Bebannya karena mata jadi lebih cepat capek, jadwal tidur jadi berantakan, kuota internet juga lebih cepat habis,” ujarnya.

Acta Diurna No.31/XI/2020

5


Menanggapi hal tersebut, beberapa mahasiswa juga beranggapan bahwa sistem perkuliahan daring yang sudah berjalan beberapa bulan ini telah memberatkan mereka. Hal ini diungkapkan oleh Nadia, mahasiswa Sosiologi 2018, “Apalagi menjelang ujian, meskipun ada media kayak video call atau Google Meet itu tetap susah, dan malah bikin cape sendiri terus akhirnya stres. Apalagi ujian kan beruntun harinya, jadi otak seperti dikejar-kejar terus. Selama kuliah online ini juga sering begadang demi ngerjain tugas,” ujarnya. Di sisi lain, Candra, mahasiswa Administrasi Negara 2018 beranggapan bahwa kuliah daring adalah hal yang cukup menyenangkan untuk dilakukan. Terutama melihat kondisi yang seperti ini tidak ada cara lain lagi dalam melakukan pembelajaran. “Kalau berdasarkan pengalamanku kemarin, fine-fine saja, meskipun butuh penyesuaian baik dari segi mahasiswa dengan dosennya.” Ia juga menambahkan bahwa kuliah daring dapat berdampak positif jika dikaitkan dengan kegiatan di rumah. “Justru kalau dari aku kuliah daring dampaknya positif. Bisa melakukan kegiatan baru yang jarang dilakukan waktu kuliah offline, terutama olahraga sepeda. Tapi tetap kalau secara materi pembelajaran tidak sepaham waktu offline,” tuturnya. Menurut Latus, hal yang perlu diingat adalah melakukan kegiatan yang membuat pikiran negatif hilang dan mencari cara agar lebih mudah beradaptasi dengan perubahan adalah sebuah kunci. Bisa dengan mencoba aktivitas baru yang disesuaikan dengan minat masingmasing agar meringankan beban mental yang dirasakan para mahasiswa. Kecemasan Terkait Masa Depan Kuliah Selain merasa stres selama kuliah daring, mahasiswa lainnya juga berpendapat bahwa pelaksanaan kuliah daring selama satu semester dirasa kurang maksimal. Faiz Salman, mahasiswa Sosiologi 2018 mengatakan, “Sebenarnya efektif, namun kita jadi minim untuk mencari ilmu secara intensif melalui tenaga pengajar yang ada dan juga minim pengalaman secara lapangan untuk penerapan ilmunya. Jadi sedikit kurang maksimal,” ujar Faiz saat dihubungi VISI. Lain halnya dengan Annisa Alya, mahasiswi Ilmu Administrasi Negara 2019. Ia mengutarakan kekhawatirannya mengenai pelaksanaan kuliah daring di semester berikutnya. “Takut tidak efektif, tidak ada progres, dan buang-buang UKT,” tutur Annisa. Selain itu, mahasiswa juga merasa mengalami penurunan semangat selama menjalani kuliah daring. Faktor penyebabnya seperti susah sinyal, bosan, dan kurang interaksi secara

6

Acta Diurna No.31/XI/2020

langsung dengan teman-teman. Sementara itu, Mawar (nama samaran), mahasiswi Ilmu Administrasi Negara 2017, ikut mengutarakan perasaannya ketika harus melakukan bimbingan proposal seminar isu secara daring. “Harus sabar karena harus menyesuaikan jadwal dosen. Tidak jarang juga proposal kita (mahasiswa -red) tidak kunjung dikoreksi. Harus ekstra sabar pokoknya,” ujar Mawar. Ia juga mengutarakan bahwa dosen pembimbingnya sangat sibuk karena beliau mengemban jabatan penting di fakultas. Jadi, harus menyesuaikan dengan jadwal dosen tersebut yang cukup padat. Membangkitkan Semangat Kembali Kuliah daring yang sudah dijalani selama dua semester ini dirasa berjalan tidak efektif bagi sebagian mahasiswa. Bahkan Safira Jihan Safitri, mahasiswa Sosiologi 2018 merasa hanya sekitar ia hanya dapat mencerna materi sekitar 70% saja selama masa kuliah daring. Hal ini diakuinya memberikan tekanan yang lebih dari kuliah biasanya ia jalani. Penerapan kuliah daring cukup banyak menurunkan semangat belajar mahasiswa. Salah satunya bagi Hamas Nurhan, mahasiswa Hubungan Internasional 2018. Ia menjelaskan bahwa dikarenakan kuliah yang hanya berisi pemberian tugas terus menerus, membuat semangatnya menjadi menurun dari waktu ke waktu. Latus membagikan beberapa cara yang dapat dilakukan mahasiswa agar siap mental menghadapi tantangan perkuliahan di masa pandemi ini. Pertama, buatlah strategi yang cocok dengan dirimu. Sesuaikan kegiatan di rumah dan susun skala prioritas. Setelahnya, bangun motivasi dari diri sendiri agar keinginan belajar tetap ada meski ada kondisi eksternal yang tidak bisa ditebak. Kedua, pelihara komunikasi yang positif dengan rekan-rekan kuliah untuk mengurangi ketegangan sehari-hari. Kamu bisa memanfaatkan video call untuk berkomunikasi dengan teman-teman yang beda tempat tinggal. Ketiga, jaga gaya hidup sehat meskipun hanya di dalam rumah. Berolahraga minimal 30 menit sehari untuk mengeluarkan hormon endorfin yang bisa meminimalisir kecemasan, dan makan makanan kesukaan untuk membangkitkan gairah dan semangat. Terakhir, jangan lupa untuk luangkan waktu untuk bersenang-senang dan hibur diri.

Nova, Salsabila, Cika, Annisa


SUPLEMEN

Acta Diurna No.31/XI/2020

7


PROFIL

Paruh Waktu: Sinergi Kreativitas dan Teknologi Masa muda / masa yang berapi-api // Lirik lagu “Darah Muda” yang dilantunkan Rhoma Irama itu bukan bualan semata. Masa muda adalah masa keemasan seseorang. Selain jasmani yang masih sehat dan bugar, anak muda masih punya semangat juang yang tinggi untuk mengejar ambisinya. Masa muda juga merupakan saat yang tepat untuk mengembangkan bakat dan potensi yang ada. Kemajuan teknologi sangat membantu dalam pengembangan diri anak muda. Salah satu hasil dari kemajuan teknologi adalah kemunculan podcast. Podcast merupakan siaran dengan format audio yang dapat dinikmati di berbagai platform daring seperti media sosial ataupun website. Berbeda dengan radio, podcast dapat didengarkan berulang-ulang kapan saja. Selain itu, pendengarnya bebas memilih topik mulai dari bisnis, pendidikan, politik, atau perbincangan ringan seperti komedi dan gaya hidup. Selain karena bersifat akrab dan personal, podcast banyak disukai karena fleksibel, bisa didengarkan di mana saja, dan aksesnya mudah. Kali ini, VISI berkesempatan untuk berkenalan dengan dua orang mahasiswa FISIP UNS yang juga aktif sebagai podcaster. Muhammad Feraldi Hifzurahman dan Brilyan Duta Nuswantoro adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi 2017 pencetus podcast Paruh Waktu. Bersama dua rekan lainnya—yang mereka biasa sebut “awak” Paruh Waktu— yakni Diella Almira dan Teguh Budi Santoso, mereka memulai proyek ini pada awal tahun 2019. “Kami beri nama Paruh Waktu karena podcast ini dibuat saat waktu senggang, di antara kewajiban kuliah dan lainnya, yang juga kami harap dapat didengarkan oleh para pendengar saat waktu senggang mereka,” ujar Duta. Feraldi menuturkan bahwa ide pembuatan podcast ini bermula dari perbincangannya dengan Teguh. “Waktu itu, kami berdua ada dalam satu kepengurusan di organisasi. Lalu aku punya keinginan buat menuangkan ide-ide dalam medium audio, dan kami pikir kayaknya seru kalau bikin podcast,” ujarnya. Menggaet Duta dengan kemampuan desain serta Diella dengan basic seorang penyiar membuat komposisi tim podcast Paruh

8

Acta Diurna No.31/XI/2020

“Kami berharap Paruh Waktu bisa jadi salah satu rujukan buat temen-temen yang pengen dengerin info-info trivia maupun sharing dengan figur-figur yang memang punya cerita yang menarik.”


Waktu semakin mantap. Pada Januari 2019, podcast ini resmi merilis episode pertama dengan tajuk “Ngobrolin Plastik”. Topik yang biasa diangkat Paruh Waktu tak jauh dari kehidupan kampus, gaya hidup, dan isu-isu terkini. Ulasan film dan series juga menjadi bahasan andalan mereka. Selain itu, Paruh Waktu mempunyai segmen “The Life Of ” dengan mengundang orang-orang yang memiliki kisah unik untuk dibagikan. Pada episode “The Life of Didi Kempot Fans”, mereka mengundang salah satu penggemar Didi Kempot di Solo yang videonya viral di media sosial. Di episode lain, mereka mengundang seorang frater (calon pastor -red) untuk membagikan ceritanya. Hingga kini, Paruh Waktu telah mengudarakan 12 episode podcast yang bisa dinikmati di platform Spotify dan Anchor. “Kami ngobrol soal topik-topik yang kami rasa capable untuk bicarakan dan kami ingin bikin tempat diskusi yang bisa dibagikan dan didengarkan banyak orang,” tambah Feraldi. Konsistensi adalah kunci Sejak masa pandemi, Paruh Waktu banyak merilis episode yang membahas hal terkait pandemi dan imbasnya pada aktivitas sehari-hari. Dari mulai pembicaraan ringan tentang kegiatan di dalam rumah (Eps. 7: “Udah Ngapain Aja di Rumah?”), mengulas efektivitas kuliah daring (Eps. 10: “Kuliah Online”), hingga membahas keberlangsungan organisasi mahasiswa di kala pandemi (Eps. 9: “Badan Eksekutif Mediasosial”). “Sejak kita dianjurkan untuk tidak keluar rumah, justru Paruh Waktu jadi punya lebih banyak waktu untuk bisa produksi dan ngeluarin episode-episode baru,” ujar Feraldi. Semenjak pandemi mengharuskan orang-orang untuk tetap berada di dalam rumah, salah satu bidang yang masih bisa stabil adalah industri media dengan rilisan format digital. Dan podcast adalah salah satu produk hiburan yang tidak terkekang dengan adanya

pandemi. “Yang berubah mungkin hanya dari segi teknis. Yang biasanya kita rekaman bareng, sekarang lewat video call,” tambahnya. Ketika ditanya soal tantangan, Feraldi dan Duta sepakat menjawab: konsistensi. “Karena proyek kita ini belum dibuat bisnis, jadi tantangannya adalah bagaimana untuk tetap konsisten, lalu juga komitmen. Jadi harus terus cari apa yang membuat trigger dan memicu kita untuk bikin karya dan ide-ide baru,” ujar mereka. Meniti kesibukan di bidang kreatif di masa muda memang tidak selalu mudah, terutama bagi keempat awak Paruh Waktu yang kini sudah memasuki tahun akhir perkuliahan. Tapi itulah yang menantang Feraldi dan Duta untuk terus mencoba. “Nggak mudah memang untuk maintain Paruh Waktu, kami sempat kesulitan untuk bisa memproduksi episode-episode terbaru dan sempet mandeg dalam waktu yang cukup lama,” ujar Feraldi. “Kami juga masih sama seperti kebanyakan podcast pemula, masih meraba-raba konten yang akan kita patenkan buat jadi ciri khas Paruh Waktu. Kami sih berharap segmen “The Life Of ” ini bisa jadi salah satu konten tetap kita. Sampai sekarang kami masih memilah topik mana yang akan jadi core podcast ini,” beber Duta. Di masa yang sulit bagi banyak orang seperti sekarang ini, awak Paruh Waktu berharap agar pendengarnya dapat mendengarkan Paruh Waktu sebagai sumber informasi dan gagasan baru. “Untuk para pendengar atau calon pendengar yang sekarang harus tinggal di rumah dan butuh hiburan, ide, atau bahkan insight baru, kami sangat berharap Paruh Waktu bisa jadi salah satu bagian yang take part di situ,” ujar Feraldi. “Banyak yang bilang kalau podcast punya potensi untuk bisa berkembang lebih besar lagi. Jadi aku berharap, ke depannya iklim yang terbentuk akan tetap suportif, dan bisa memperluas manfaat podcast untuk lebih banyak orang,” pungkasnya.

Alif, Riga

Acta Diurna No.31/XI/2020

9


RETORIKA

Beropini Sembunyi-Sembunyi

“M

edia sosial menjadi wadah yang banyak dipilih mahasiswa untuk menyuarakan pendapat. Kebebasan beropini seharusnya sudah menjadi hak semua orang, namun banyak yang takut menyuarakannya karena ancaman tuduhan pencemaran nama baik ataupun dianggap mengganggu ketenteraman. Kebebasan beropini semakin memudar, digantikan rasa takut.� Kini, media sosial Twitter seakan memberi alternatif sementara untuk menyampaikan opini. Berbagai belenggu dan keterbatasan tidak menyurutkan kreativitas orang-orang untuk membuat wadah bagi yang ingin sekadar berkomentar di media maya, tanpa harus menampilkan identitas aslinya. Masalah ini terjawab dengan hadirnya autobase Twitter. Twitter sebagai media sosial berjenis microblogging yang memperbolehkan penggunanya untuk mengunggah status berisi maksimal 240 karakter. Dengan sistem autobase, pengirim pesan dapat secara otomatis mengunggah twit lewat direct message atau pesan langsung. Pesan yang telah dikirim tidak menampilkan identitas si pengirim pesan, sehingga pengirim dapat merasa lebih aman. Berbagai macam akun autobase tersedia di twitter, mengumpulkan pengguna dengan ketertarikan yang sama. Beragam akun autobase ini akhirnya membuat komunitas atau perkumpulan. Jenisnya banyak, mulai dari base pecinta make-up dan skincare @womanfeeds_id, @ohmybeautybank, base seputar dunia perkuliahan @collegemenfess, base untuk pecinta K-Drama @kdrama_menfess, @drakoridfess, @ drakorfess_, bahkan base untuk daerah-daerah tertentu seperti @jawafess dan @bandungfess. Akun autobase yang mengatasnamakan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk menyampaikan unek-uneknya adalah @ UNSfess_.

10

Acta Diurna No.31/XI/2020

Ilustrasi: Gede

Akun yang telah bergabung sejak tahun 2014 ini dikelola oleh mahasiswa UNS sendiri dan bersifat anonim. Jika ditelusuri lebih jauh, akun ini telah menjadi tempat bagi mahasiswa UNS untuk beropini, mencari informasi, curhat, atau sekadar mencari teman di dunia twitter. Bukan hanya di twitter, di Instagram juga terdapat akun sejenis @UNSfess_ dengan username @11maretmendem. Berbeda dengan akun @UNSfess_, akun ini banyak berisi postingan mengenai sindiran terhadap kampus hingga isuisu di sekitar kampus. Sindiran dalam akun ini dibuat dalam bentuk dagelan atau lelucon, sehingga terkesan tidak kaku namun isi pesan yang diberikan tetap tersampaikan. Pada highlight atau sorotan akun Instargramnya, @11maretmendem juga memberikan kesempatan bagi para followers untuk menyumbang opini mereka secara anonim maupun terbuka. Adanya fenomena akun anonim, selain menjadi ruang opini bagi mahasiswa, juga secara tidak langsung menjadi ruang berdiskusi. Dengan sebuah opini yang diunggah oleh akun tersebut, maka akan membuka diskusi di kolom komentar, sehingga memunculkan berbagai argumen dari audiens yang juga merupakan mahasiswa UNS. Nyatanya, banyak mahasiswa yang tertarik untuk mengikuti atau sekadar memantau unggahan dari akun-akun ini. Sejak tahun 2014 hingga saat ini akun Twitter @UNSfess_ memiliki 17 ribu pengikut, sedangkan akun Instagram @11maretmendem sejak bulan mei 2020 memiliki 249 pengikut. Pada akhirnya, keberadaan akun anonim menjadi cara aman bagi mahasiswa untuk menyampaikan opini mereka tanpa khawatir identitas terungkap. Namun, hal yang perlu digaris bawahi adalah meskipun beropini menggunakan akun anonim, baik pemberi opini maupun admin akun sebaiknya tetap memperhatikan etika media sosial yang benar. Pasalnya, hal yang kita lakukan di media sosial akan memiliki rekam jejak digital yang dapat ditelusuri.


RESENSI

Soe Hok Gie, Mati Muda Wariskan Gelora Oleh: Ola dan Lutfi

Judul : Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran Penerbit : Pustaka LP3ES Indonesia Terbit : VII, Mei 2005 Tebal Buku : 385 halaman ISBN : 978-979-3330-33-3

“H

anya ada dua pilihan, menjadi apatis atau untuk ikut tidak tinggal diam dan terlibat dalam penentuan mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk kebijakan di negara ini. jadi manusia merdeka.� – Soe Hok Gie Gie adalah salah satu inisiator demonstrasi besar mahasiswa tahun 1966, tahun yang menjadi titik kebangkitan Buku ini berisi catatan harian Soe Hok-Gie, seorang gerakan mahasiswa yang bersifat nasional. Meski aktif terlibat pemuda terpelajar Indonesia, yang menjadi legenda di banyak kegiatan gerakan mahasiswa, Gie tidak pernah sekaligus ikon bagi mahasiswa dan kaum intelektual tergabung dalam kelompok mahasiswa apapun. Gie dengan muda lainnya. Kisah hidupnya terhitung singkat, namun segenap keberaniannya seakan berjuang sendiri dengan namanya terus terdengar dari generasi ke generasi berkat senjata pemikiran dan mesin tiknya. Cacian dan kecaman pemikiran dan karya fenomenalnya. kerap diterimanya sebagai balasan atas kritik tajamnya pada Catatan ini ditulis Gie ketika ia berumur 15 sampai 27 pemerintah. Surat asing berisi hinaan dan ancaman sering tahun. Buku ini memuat kisah perjalanan hidup seorang dilayangkan para oknum pemerintahan yang gerah dengan mahasiswa yang gelisah dengan keadaan sosial-politik kritik pedas Gie. Semangat juang dan nyalinya mungkin di negaranya. Gie lahir pada tahun 1942 saat Indonesia dianggap naif, gegabah, dan nekat bagi sebagian orang. masih dalam proses perjuangan menuju kemerdekaan di Namun, Gie menganggap itulah panggilannya sebagai bawah kependudukan Jepang. Masa hidupnya ia habiskan seorang yang terpelajar untuk menyuarakan kebenaran. di Jakarta, di mana potret ibukota yang penuh dinamika Di samping menulis dan membaca, semasa kuliahnya, menjadi pemandangan sehari-harinya. Situasi Indonesia Gie juga gemar naik gunung. Hobi yang ia geluti bersama yang belum stabil serta diliputi berbagai macam bentuk teman-temannya ini melahirkan organisasi Mahasiswa kepentingan pemerintah berpengaruh besar terhadap Pecinta Alam (Mapala) di Universitas Indonesia yang pemikiran dan gagasan Gie muda. masih aktif hingga kini. Menurutnya, rasa persatuan dan Sejak kecil, Gie gemar melahap berbagai buku mulai nasionalisme dalam bangsa ini hanya bisa didapatkan dari sejarah, filsafat, sastra, hingga biografi tokoh-tokoh dengan rasa sadar terhadap alam dengan menyentuhnya berpengaruh. Saat memasuki bangku perkuliahan, ia langsung secara tulus. memilih Jurusan Sejarah di Fakultas Sastra, Universitas Soe Hok Gie menghembuskan nafas terakhirnya Indonesia untuk memperdalam pemahamannya tentang di Gunung Semeru pada usia hampir 27 tahun karena kesadaran sosial, politik, dan budaya. Dari sinilah ia menghirup gas beracun. Hingga kini, karya Gie dan aksi memenuhi panggilannya sebagai seorang intelektual fenomenalnya tetap menginspirasi dan masih menjadi bahan muda dan mulai aktif menulis kritik terhadap pemerintah perbincangan dalam dialog intelektual. Buku ini layak dibaca yang dikirimkannya ke berbagai surat kabar. Gie adalah untuk mengingatkan kita pada hakikat menjadi mahasiswa orang yang sangat vokal menyuarakan kritik terhadap dan manusia. Buku ini juga mampu membakar semangat kinerja pemerintah era Soekarno pada tahun 1960-an. kita untuk tetap berjuang menyuarakan kebenaran. Ia menuangkan pemikirannya ke dalam tulisan tanpa Kisah Soe Hok Gie pernah diangkat ke layar lebar pada rasa ragu sedikit pun. Tak jarang dalam kritik yang ia 2005 dengan judul GIE yang dibintangi Nicholas Saputra tulis memuat nama tokoh yang dituju dengan jelas tanpa dan disutradarai oleh Riri Riza. menganonimnya. Gie juga berharap tulisannya dapat membentuk kesadaran demokrasi pada masyarakat

Acta Diurna No.31/XI/2020

11


Profile for LPM Visi Fisip Uns

Buletin Acta Diurna Edisi 31  

Buletin Acta Diurna Edisi 31  

Advertisement

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded