Issuu on Google+


SURAT PEMBACA Kenaikan Biaya Kuliah = Kenaikan Pelayanan?

D

engan ada kenaikan biaya kuliah diharapkan fasilitas kampus lebih diintensifkan. Pemberitahuan inforasi diharapkan lebih baik lagi karena untuk seputar birokrasi belum semua mahasiswa mengetahui. Bila dilihat lagi mahasiswa ternyata masih terlalu dipenjara dengan mata kuliah yang begitu padat sehingga mahasiswa susah berkembang dalam kegiatan eksternal lingkungan kampus.

Momy Ega Linanta Pertanian 2010

Peningkatan Kesejahteraan Karyawan

P

engin rasanya punya seragam kerja seperti karyawan yang lain dan ada perpanjangan kontrak minimal satu atau 2 tahun. Saya berharap kepada UST agar lebih memperhatikan kesejahteraan karyawan serabutan seperti saya. Dengan harga kebutuhan hidup yang semakin membengkak, semoga saja ada kebijakan tambahan penghasilan. Wiratmo karyawan Perpustakaan, LP2M & LPSD

K

Pelayanan yang Diharapkan

enapa sih pelayanan Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK) di UST nggak ramah? Padahal keramahan pelayanan sangat mempengaruhi kenyamanan mahasiswa dalam urusan administrasi. Anda ramah, kami segan...! Imam Attermizi Teknik Industri 2011

Akses Informasi yang Mudah

U

ST yang saya cintai, saya berharap KRS bisa dipermudah, dan kalau ada info terbaru yang penting bisa di share seluas- luasnya. Jangan Cuma di pasang di Kampus 1 doang. Purwanti Akuntansi 2011

S

ATM Centre UST? enang kuliah di UST, ketemu temen yang bermacam- macam karakter. Bisa saling tukar pengalaman baik secara akademis maupun akademis. Tapi semestinya UST punya ATM Centre, jadi bisa mempermudah mahasiswa dalam membayar adminstrasi.

Miryani Pend. Matematika 2013

Indra ‘13

►►Redaksi menerima tulisan berbentuk artikel, opini, budaya, cermin, puisi, dan drawing. Panjang tulisan maks. 4 halaman kuarto. ►►Redaksi berhak mengedit/mengubah tulisan sepanjang tidak mengubah isi dan makna.

2

Buletin PENDAPA News Edisi II Bulan September 2013


EDITORIAL

PENDAPA News

Mahasiswa: Kupu-Kupu VS Kura-Kura

T

ahun akademik baru 2013/2014 Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) telah dimulai pada 9 September 2013 lalu. Banyak wajah-wajah baru menyapa di berbagai sudut kampus. Seakan sudah menjadi tradisi bahwa saat pergantian tahun akademik akan bertambah jumlah mahasiswa. Sepertinya kurang afdhol ketika pergantian tahun akademik tidak dibarengi adanya figur-figur segar yang menambah populasi di UST. Aktivitas di ruang kuliah pun kembali menjadi ritual wajib yang dijalani para mahasiswa, tak terkecuali mahasiswa baru angkatan 2013. Mahasiswa baru pastinya tidak mungkin lepas dari pergantian identitas dari status siswa ke mahasiswa. Gelar maha yang menempel ini menjadikan aktivitas sang empunya gelar menjadi serba maha. Mahasiswa merupakan masa untuk mulai bergerak serius menuju masa depan. Berbagai karakteristik yang dimiliki mahasiswa mempengaruhi aktivitas yang dilakukannya selama masa kuliah. Perlu kiranya mahasiswa baru mengenal tipe-tipe mahasiswa yang sudah lazim dikenal. Istilah mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) pastinya sudah dikenal oleh semua orang. Istilah ini disematkan kepada mahasiswa yang setelah kuliah langsung pulang ke rumah atau ke kos. Karakter ini biasanya tertutup dan pemalu. Akan tetapi, tidak semua mahasiswa kupukupu berkarakter seperti itu, semua tergantung pribadi, kebutuhan dan keadaan masing-masing. Selain itu ada istilah mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat), identitas ini dimiliki oleh mahasiswa aktivis. Mahasiswa yang suka mengikuti kegiatan dan organisasi di dalam ataupun di luar kampus. Mahasiswa tipe ini biasanya akan menjadi mahasiswa yang percaya diri, supel, pandai berkomunikasi, dan berani berpendapat. Selanjutnya istilah mahasiswa kunang-kunang dijadikan julukan bagi mereka yang kuliah nangkring-kuliah nangkring. Mahasiswa tipe ini suka berkumpul secara berkelompok dengan teman-temannya sekedar ngobrol di kantin, cafe maupun mall. Selain itu, ada juga mahasiswa kuper (kuliah perpustakaan), dimana mahasiswa ini selain di kampus dan kost akan datang ke perpustakaan untuk mencari bahan referensi tugas-tugas kuliah. Tipe mahasiswa ini biasanya memang unggul dalam hal akademik. Bisa dikatakan mereka ini haus prestasi dan apresiasi. Dari beberapa tipe tersebut yang paling familiar adalah mahasiswa kupu-kupu dan mahasiswa kura-kura. Kedua tipe mahasiswa ini merupakan tipe yang mempunyai karakteristik yang berseberangan antara memilih aktif mengisi hari-hari kuliah dengan aktivitas organisasi atau hanya serius menekuni kuliah. Hingga pada akhirnya gelar sang maha yang ada pada mahasiswa tersebut menuntut untuk bijak menentukan jati dirinya, ingin menjadi golongan yang mana? Pastinya tipe yang dipilih harus disesuaikan dengan minat dan keadaan sang mahasiswa tersebut.

Diterbitkan Oleh Lembaga Pers Mahasiswa PENDAPA Tamansiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Pelindung Drs. H. Pardimin, M.Pd. Penasehat Drs. Hadi Pangestu Rihardjo, S.T, M.T. Pemimpin Umum Taofiq Tri Yudhanto Wakil Pemimpin Umum Hironimus P. Jehadun Sekertaris Umum Maryani Bendahara Umum Ummi Lailatun Ni’mah Nur Romdlon M. A. Ernawati Suratmi Eko Budiono Eva Yuliani Indra Leviana Fitria Sylviana Maharani, Gita Anisa, Eko Junianto, Liri Afri, Basirun, Lis Handayani, Isnan Waluyo, Wisnu Nur Cahyo Layout danArtisik Armansyah, Taofiq Tri Yudhanto, Hanung B. Yuniawan, Maryani, Desi Sri Rahayu Editor Desi Sri Rahayu, Wulandari, Supriyanti Dokumentasi dan Putri Rizki Lestari Kepustakaan Staf Dokpus Wakhidatun Aisyah R. A., Lili Siskayanti Penelitian dan Seno Dwi Sulistyo (NA) Pengembangan Staf Litbang Eva Y uliani, Fitri Nurhayati, Ahmad Mustaqim, Achmad Fiqhi W.,Wayahdi Pemimpin Perusahaan Fadheil Wiza Munabari Staf Perusahaan Maryani, Ernawati, Khuriyatul Aeni Jaringan Kerja Ofirisha Utami (NA) Alamat Jl. Batikan No .02 Kompleks Perpustakaan FKIP UST Email lpm_pendapa@yahoo.com Website lpmpendapa.com

Pemimpin Redaksi Wakil Pemimipin Redaksi Sekertaris Redaksi Redaktur Pelaksana Koordinator Buletin Koordinator Web Reporter

Penjaga Lorong Pojok

Buletin PENDAPA News Edisi II Bulan September 2013

Foto bersama anggota baru yang resmi dilantik pada acara pelantikan anggota baru LPM PENDAPA Tamansiswa pada Sabtu (14/9). Foto : Hironimus/PENDAPA

3


SOROT Mahasiswa Ideal: Aktivis atau Pemburu IP? “Mahasiswa yang ideal sudah terangkum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi (PT) yaitu penelitian, pengajaran, dan pengabdian. Tri Dharma PT tidak hanya menyangkut mahasiswa saja, tapi juga dosen serta seluruh sivitas akademika. Untuk mencapai ideal, kualitas mahasiswa tidak hanya perlu ditingkatkan dari segi intelegensi saja tapi juga dari sisi attitude. Hal yang perlu diperhatikan adalah ternyata intelegensi turut mempengaruhi motivasi dan daya juang seseorang.”

vs Indra ‘13

T

ahun akademik baru 2013/2014 telah dimulai. Area parkir kampus yang kembali dipadati kendaraan mahasiswa menunjukkan sivitas akademika Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) mulai beraktivitas. Seakan sudah menjadi tradisi, setiap tahun akademik baru, mahasiswa-mahasiswa baru mulai bermunculan. Mahasiswa baru merupakan sosok peralihan dari masa putih abu-abu ke masa kuliah yang identik dengan kebebasan, dimana di masa itu mahasiswa mulai benar-benar menguak jati dirinya. Memasuki dunia kampus adalah masa peralihan dari siswa menjadi mahasiswa. Mahasiswa pada dasarnya sudah masuk dalam masa dewasa awal menurut psikologi. Pada fase ini mahasiswa harus sudah punya goal atau tujuan yang jelas. Ketika menjadi mahasiswa, mulai ada motivasi untuk mengembangkan diri dan mencari goal dalam hidup. “Saat masih menjadi siswa, dorongan terbesar mungkin adalah dari orang tua, tapi ketika sudah menjadi mahasiswa seharusnya sudah mulai punya motivasi dan idealisme sendiri karena mahasiswa dipandang sudah punya kematangan,” papar TMA Kristanto, S.Pd., M.Hum, Kepala Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa Inggris UST yang ditemui PENDAPA beberapa waktu lalu. Hal serupa juga diungkapkan oleh Gabriel Putra Suprapto, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UST. Menurutnya mahasiswa bukan lagi remaja secara pola pikir, tingkah laku, dan pembawaan diri. Mahasiswa seharusnya punya pandangan dan idealisme sendiri, idealisme yang tinggi dan berpendirian. “Tapi sayangnya, banyak mahasiswa yang tidak memiliki goal yang jelas sehingga tidak bisa berpikir mandiri dan lack of date serta manja,” ungkap mahasiswa angkatan 2011 ini. 4

Dra. Titik Muti’ah, MA, Ph.D, Kaprodi Psikologi memberikan penjelasan bahwa pandangan yang menganggap kuliah hanyalah serangkaian fase yang harus dilalui harus mulai ditinggalkan. Terutama segelintir pihak yang berpandangan setelah SD harus melanjutkan SMP lalu SMA dan diteruskan kuliah, mereka tidak ada tujuan yang jelas tentang arti penting kuliah. “Mereka yang beranggapan seperti itu jelas akan tergilas zaman dan tidak dikenang. Intinya mereka tidak punya idealisme dan tujuan. Mereka yang hanya ingin segala sesuatu serba instan tidak akan menjadi siapa-siapa. Padahal pada setiap fase kehidupan akan ada masalah yang harus ia selesaikan,” terang Nyi Titik Muti’ah. Sosok Mahasiswa Ideal Ideal adalah nilai relatif, karena setiap orang mempunyai perbedaan pandangan mengenai kriteria ideal. Begitu juga yang diungkapkan oleh Denik Agustito S.Si, M.Sc., Staf Pengajar Program Studi (Prodi) Pendidikan Matematika tentang kriteria mahasiswa ideal. Menurutnya, mahasiswa harus bersikap tidak apatis terhadap politik kampus. “Mahasiswa yang ideal sudah terangkum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi (PT) yaitu penelitian, pengajaran, dan pengabdian. Tri Dharma PT tidak hanya menyangkut mahasiswa saja, tapi juga dosen serta seluruh sivitas akademika. Untuk mencapai ideal, kualitas mahasiswa tidak hanya perlu ditingkatkan dari segi intelegensi saja tapi juga dari sisi attitude. Hal yang perlu diperhatikan adalah ternyata intelegensi turut mempengaruhi motivasi dan daya (Bersambung ke halaman 11)

Buletin PENDAPA News Edisi II Bulan September 2013


SOROT Penerimaan Dewantara Muda (Berjiwa)Tamansiswa “PMB sudah seharusnya sesuai amanat Ki Hadjar Dewantara dalam menerima calon anak didik yaitu tidak boleh tebang pilih membedakan anak didik yang hendak menuntut ilmu. Tugas pamong/dosen harus mampu mengoptimalkan potensi mahasiswa di UST dengan segala fasilitas yang ada, meski pada kenyataannya belum semua dosen mampu menerapkan konsep mengajar Ki Hadjar Dewantara.”

F

enomena yang lumrah terjadi pada awal tahun ajaran baru di Perguruan Tinggi adalah melakukan pendaftaran, mengikuti ujian masuk, membayar biaya yang sudah ditentukan, barulah kemudian mengikuti perkuliahan. Fenomena tersebut juga terjadi mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA)/ sederajat, termasuk Perguruan Tinggi, salah satunya adalah Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST). Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di UST pada ajaran baru tahun akademik 2013/2014 ini lain dari biasanya. Bagaimana tidak? Pertama, rentang waktu pendaftaran yang lama dilakukan Panitia PMB dimulai sejak gelombang I (2/1) sampai dengan gelombang III (18/9). Kedua, jumlah mahasiswa baru (Maba) yang diterima semakin meningkat, dalam status mesia sosial facebook milik Ardy Shihabuddin (17/9), mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika angkatan 2010 yang mengutip ucapan Rektor tersebut menyebutkan bahwa jumlah Maba tahun ini mencapai rekor dalam catatan sejarah di UST. Ketiga, jadwal akademik unik bagi Maba, perkuliahan dimulai pada tanggal 9 September 2013, sementara pendaftaran PMB masih dibuka sampai pada 18 September 2013. Kemudian kuliah perdana dilaksanakan pada hari Senin (23/9) di Jogja Expo Center (JEC), dilanjutkan dengan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) Universitas pada hari Selasa sampai Jumat (24-27/9) di Balai Pamungkas dan Ospek Fakultas pada hari Sabtu (28/9) di masing-masing fakultas. Kebijakan PMB di UST pada tahun ajaran baru ini bukan tanpa alasan, akan tetapi sudah melalui rapat Universitas. Sebelumnya, mahasiswa UST direncanakan masuk kuliah mulai hari Senin (23/9). Akan tetapi terlalu jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Perguruan Tinggi lain, maka diputuskan awal masuk kuliah adalah hari Senin (9/9). Mengingat masih ada permintaan dari masyarakat untuk membuka pendaftaran bagi calon Maba, PMB masih berlangsung hingga hari Rabu (18/9). “Bagi Maba yang mendaftar pada akhir periode, melalui Kepala Program Studi (Kaprodi) dengan bantuan para dosen akan memberikan kuliah susulan demi menyeimbangkan materi kuliah dengan Maba yang sudah mulai kuliah sejak dua minggu yang lalu sebelum Ujian Tengah Semester (UTS) dilaksanakan,” tutur Drs. Sugiyamin, M.Pd., Kepala Biro Pemasaran, Hubungan Masyarakat dan Kerjasama (BPHMK) UST. Hingga hari Selasa (17/9) tercatat bahwa jumlah Maba di UST tahun akademik 2013/ 2014 sudah mencapai 1.480 mahasiswa, jumlah yang cukup membludak jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berkisar 1.200 mahasiswa. “Walaupun target Maba tahun ini adalah 2.500 dan belum terealisasi, tapi angka tersebut sudah cukup memuaskan karena upaya promosi pihak BPHMK yang

Taofiq ‘13

di rasa sudah maksimal, bahkan promosi sudah dilakukan sampai luar Jawa,” terang Sri Adi Widodo, M.Pd, Kepala Bagian Sumber Daya Pemasaran BPHMK yang ditemui di ruang dosen Prodi Pendidikan Matematika. Meski banyaknya jumlah maba sebenarnya mempengaruhi akreditasi, namun penargetan banyaknya jumlah maba bukan menjadi tujuan utama UST dalam melaksanakan PMB. Drs. Hazairin Eko P., M.S., Wakil Rektor (Warek)I UST menerangkan, “Tamansiswa sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat berkewajiban memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siapa saja yang hendak berguru menuntut ilmu di lingkungan Tamansiswa, begitu pula di UST.” Senada dengan Ki Hazairin Eko, Miryani, Maba Pend. Matematika yang sempat tidak lolos tes masuk Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta juga mengungkapkan bahwa untuk dapat mengenyam bangku kuliah di UST nampaknya lebih mudah apabila dibandingkan dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), khususnya pada saat tes seleksi masuk. “Dari segi biaya, UST terbilang lebih ringan apabila

Buletin PENDAPA News Edisi II Bulan September 2013

(Bersambung ke halaman 7) 5


OPINI Ayo... Melek Politik ! Oleh : Ardy Syihabuddin*

I

ndonesia adalah negara besar yang juga memiliki sejarah besar. Sejak zaman Sriwijaya kemudian digantikan dengan lahirnya kerajaan Majapahit ditahun 1293, bumi pertiwi sudah terbukti tangguh dan diakui. Sebelum akhirnya entah karena kutukan atau anugerah tanah Indonesia yang memiliki kandungan sumber daya alam yang melimpah ruah ini diidam-idamkan oleh bangsa lain hingga mencoba untuk merebut secara paksa kekayaan alam tersebut hingga ratusan tahun lamanya. Namun lewat semangat, perjuangan, membuat perkumpulan organisasi, serta strategi politik akhirnya bangsa ini dapat mengusir kolonialisme dari tanah air. Tidak dapat dipunkiri bahwa organisasi kepemudaan menjadi pelopor bangkitnya semangat juang bangsa ini, berawal dari berbagai macam persatuan kepemudaan tingkat daerah kemudian bersatu pada tahun 1928 yang pada akhirnya mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Dari realita sejarah di atas dapat kita tarik benang merah bahwasanya kemerdekan Indonesia tidak serta merta terjadi begitu saja, namun dibutuhkan perjuangan serta kegigihan termasuk membangun organisasi yang akhirnya dapat menhimpun persatuan, itu semua bisa terjadi lewat strategi politik. Catatan sejarah lain yang sangat membekas dan juga menjadi salah satu dosa potitik terbesar adalah kasus G 30 S. Dimana pada kejadian itu PKI dikambing hitamkan dan dituduh sebagai pihak yang bersalah terhadap pembunuhan para jenderal. Pada waktu itu rakyat berhasil dipolitisasi oleh lawan politik PKI dan akhirnya terjadi pembantaian besar-besaran yang menewasakan ribuan orang tak berdosa. Politisasi tersebut dilakukan lewat berbagai cara, seperti propaganda film serta menyebar isu bahwa orang komunis adalah ateis, serta berbagai macam cara busuk lainnya. Padahal saat ini sejarah sudah membuktikan bahwa itu murni adalah pertarungan politik yang berhasil menghipnotis beberapa kelompok masyarakat ikut membantai saudara sebangsa yang sejatinya tak bersalah. Dalam konteks kekinian, negara kita dalam membuat kebijakan yang bersinggungan langsung dengan aspek sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, bahkan agama juga menggunakan aturan dan kebijakan politik. Contohnya dalam pendidikan yang bersinggungan langsung dengan kampus khususnya mahasiswa. Coba kita tengok anggaran biaya pendidikan di negeri ini, dari total anggaran negara yang ada, gaji guru, fasilitas pembelajaran, hal tersebut tentu tidak luput dari kebijakan politik yang disusun oleh pemerintah. Kasus yang lain masalah sosial, semisal kaum miskin kota yang tempat hidupnya diombang-ambingkan bahkan digusur, kemudian pedagang kecil yang diusir oleh aparat. Masalah sosial semacam itu mustahil di selesaikan tanpa ada gerakan kolektif yang masuk kedalam ranah politik, karena pada dasarnya hal tersebut langsung bersinggungan dengan birokrasi negara. Untuk memulai menuju ranah politik semacam itu, tak perlu muluk-muluk terlebih dahulu. Bagi mahasiswa 6

Tidak dapat dipunkiri bahwa organisasi kepemudaan menjadi pelopor bangkitnya semangat juang bangsa ini,

bisa dimulai dengan pembangunan organisasi-organisasi tingkatan lokal dimulai dari perkumpulan kecil, bentuk komunitas, ataupun segala macam bentuk perkumpulan. Kemudian dari perkumpulan tersebut dijadikkan tonggak untuk membuat kekuatan politik. Satu hal yang harus dijadikan landasan adalah jangan memisahkan antara gerakan sosial dengan gerakan politik karena keduanya tidak bisa dipisahkan. Ketika kekuatan politik sudah dibentuk waktunya untuk memperjuangkan aspirasi dan gagasan hak-haknya. Ibarat sapu lidi, ketika seorang individu diibaratkan dengan satu batang lidi memperjuangkan haknya sendiri tentu akan lemah dan mudah terpatahkan, berbeda ketika individu-individu dengan kepentingan yang sama bersatu membentuk perkumpulan ataupun organisasi diibaratkan dengan sapu lidi yang tentu akan kuat dan sulit dipatahkan. Semakin banyak lidi tersebut maka semakin kuat pula sapu lidi yang dapat terbentuk, tak ubahnya organisasi. Semakin banyak individu yang dapat tergabung dan ikut berjuang bersama maka akan semakin kuat pula kekuatan politik yang terbentuk. Untuk itu mari kita mulai dengan hal yang kecil, membangun dan bergabung dalam organisasi. Mari berpolitik dan jangan takut untuk menyuarakan aspirasi di negara demokrasi ini. Angapan politik saat ini terpelintir hanya karena oknum-oknum busuk yang menjabat di pemerintahan dengan segala macam tindakannya yang melangar norma seperti korupsi, suap, nepotisme, dan lain sebagainya. Tentu kita menolak hal yang semacam itu, namun yang harus digarisbawahi adalah jangan sampai mengkambinghitamkan politik, yang salah adalah oknum yang terlibat di dalamnya, dan untuk memperbaiki itu semua sebagai generasi penerus kita tidak boleh antipati terhadap politik. Kita gunakan politik sebagai cara untuk memperbaiki sekaligus memperjuangkan hak-hak masyarakat tertindas. Hanya ada dua pilihan, mau ditindas dan diam oleh sistem politik atau bangkit melawan dengan membangun kekuatan politik ! Mari kita renungkan dalam sanubari kita masing-masing. Ayo... ikut berpolitik ![p]

*Mahasiswa Pendidikan Matematika UST ‘10 Komandan Resimen Mahasiswa (Menwa) Dewantara UST

Buletin PENDAPA News Edisi II Bulan September 2013


KOLOM Tinjauan Ospek dalam Tamansiswa Oleh : Ernawati *

O

rientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) selalu menjadi agenda pertama yang diikuti oleh setiap mahasiswa baru (Maba) setelah resmi diterima dalam suatu Perguruan Tinggi (PT). Seperti yang tertulis dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Nomor 38/ Dikti/Kep/2000 yang mengatur tentang kegiatan penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 1 menerangkan bahwa pengenalan terhadap program studi dan program pendidikan di Perguruan Tinggi (Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Politeknik, dan Akademi) di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional hanya boleh dilakukan dalam rangka kegiatan akademik dan dilaksanakan oleh pimpinan perguruan tinggi. Selain untuk mengenalkan lingkungan kampus, Ospek acap kali juga digunakan untuk membentuk karakter mahasiswa dan menanamkan jiwa seorang pemimpin melalui berbagai macam kegiatan. Dengan memberikan berbagai macam persyaratan, maba mengikuti serangkaian kegiatan Ospek dengan mengenakan beraneka macam atribut yang sudah ditentukan dengan dalih untuk menanamkan sikap disiplin dan kreatif bagi para maba. Beraneka macam persyaratan tersebut menjadikan Ospek sebagai ajang perploncoan yang sering kali mendapatkan citra negatif. Sejatinya tujuan diadakannya Ospek adalah untuk pengenalan lingkungan kampus sebagai lingkungan akademis serta pemahaman mekanisme yang berlaku di dalamnya sekaligus penambahan wawasan Maba dalam penggunaan sarana akademik yang tersedia di kampus secara maksimal.

Dengan memberikan pemahaman awal tentang wacana kebangsaan serta pendidikan yang mencerdaskan berdasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan diharapkan Maba mampu belajar di Perguruan Tinggi serta mematuhi dan melaksanakan norma-norma yang berlaku di kampus, khususnya yang terkait dengan kode etik dan tata tertib mahasiswa. Ditambah lagi dengan menumbuhkan rasa persaudaraan dan kemanusiaan di kalangan sivitas akademika dalam rangka menciptakan lingkungan kampus yang nyaman, tertib, dan dinamis, maka akan tumbuh pula kesadaran Maba akan tanggung jawab akademik dan sosialnya sebagaimana tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Apabila dikaitkan dengan konsep Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan Tamansiswa, dasar pendidikan yang dipakai adalah Momong, Among, dan Ngemong. Pendidikan tidak mengenal sistem paksaan. Bahkan sekedar memimpin pun dianggap tidak perlu, yang dibenarkan adalah mengarahkan anak didik dalam belajar. Bentuk paksaan tersebut dipraktikkan dalam kegiatan Ospek yang seringkali memberikan syarat kepada maba untuk membawa dan mengenakan beraneka rupa atribut. Dengan dalih Ospek menjadi sebuah tradisi, kegiatan tersebut menjadi agenda tahunan. Tidak terkecuali adanya beberapa praktik pemaksaan dan bisa jadi hingga praktik kekerasan fisik maupun mental. Maka, kembali pada apa yang dituliskan Ki Hadjar Dewantara “Dengan sendirinya kita akan terpaksa untuk menerima sesuatu yang tidak dapat dielakkan sekalipun kita tahu bahwa perbuatan itu sebetulnya bukan suatu pilihan merdeka, tetapi semata-mata karena mutlak.”[p] *Mahasiswa Pendidikan Matematika ‘10 Wakil Pemimpin Redaksi LPM PENDAPA Tamansiswa

Penerimaan Dewantara........(Sambungan dari hal 5) dibandingkan dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Yogyakarta,” terangnya. Menurut Ki Hazairin Eko, PMB sudah seharusnya sesuai amanat Ki Hadjar Dewantara dalam menerima calon anak didik yaitu tidak boleh tebang pilih membedakan anak didik yang hendak menuntut ilmu. Tugas pamong/dosen harus mampu mengoptimalkan potensi mahasiswa di UST dengan segala fasilitas yang ada, meski pada kenyataannya belum semua dosen mampu menerapkan konsep mengajar Ki Hadjar Dewantara. Mahasiswa pun harus mempunyai sikap kerja keras, cerdas bergaul, dan mampu membagi waktu dengan tepat. Sikap tersebut adalah kunci yang bisa dibawa mahasiswa agar berhasil dalam belajar, sehingga tidak hanya menjadi mahasiswa yang pas-pasan. “Walaupun alat ukurnya bukan

hanya nilai, tapi semestinya nilai adalah potret kesungguhan belajar dari mahasiswa yang mampu di pertanggung jawabkan,” tegas Ki Hazarin Eko. Sementara itu, demi menghidupkan pikiran yang kritis, Arif Munandar wakil ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika dan IPA (HMJ PMIPA) menekankan agar seluruh mahasiswa membudayakan diskusi publik. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengasah sikap peka dan tanggap terhadap kondisi sosial di UST. “Sehingga nantinya bukan generasi buntu solusi yang akan menjadi pionir,” terangnya.[p]

Buletin PENDAPA News Edisi II Bulan September 2013

Eva Yuliani 7


RESENSI Orientalisme, Menilik Bangsa Timur dari Barat Judul Buku

D

Penulis Penerjemah Penerbit Tahun Terbit Tebal

: Orientalisme; Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur sebagai Subjek : Edward Wadie Said : Achmad Fawaid : Pustaka Pelajar : 2010 (Cetakan ke-1: April 2010) : 590 halaman

Judul asli Penerbit Tahun Terbit

: Orientalism : Vintage Books, New York, USA : 1978

Hironimus/PENDAPA

alam pengertian yang sempit, orientalisme merupakan kajian intelektual. Di Barat, orientalisme dianggap telah memperoleh eksistensi formalnya untuk pertama kali ketika Dewan Gereja Wina pada 1312 memutuskan agar bahasa Arab, Yunani, Ibrani, dan Syria diajarkan di Paris, Oxford, Bologna, Avignon, dan Salamanca. Pada saat itu orientalisme dilakukan tidak hanya dengan mempertimbangkan keberadaan sang orientalis dan karyanya saja, tetapi juga gagasan dalam bidang kajian itu sendiri. Yang menarik dari kajian orientalisme ini adalah sifatnya yang sangat eksklusif dan informatif hingga nyaris tak ada seorangpun yang dapat membayangkan munculnya kajian lain yang mampu menyainginya, yang dinamakan “oksidentalisme”. Orientalisme merupakan sebuah buku yang sangat terikat dengan hiruk–pikuk dinamika sejarah kontemporer. Dalam buku ini Edward W. Said menegaskan secara bersamaan bahwa tidak ada satupun istilah dari Timur ataupun konsep Barat yang memiliki stabilitas ontologisme; masingmasing di antara kedua entitas ini sama-sama dibuat oleh manusia, sebagian dengan mengafirmasi dan sebagian lagi dengan mengidentifikasi keberadaan yang lain. Buku ini menyatakan bahwa secara geografi imajinatif, Timur hanyalah berfungsi layaknya panggung teater. Geografi Imajinatif kemudian menjadi salah satu praktik orientalis untuk membedakan identitas Timur dengan Barat, dalam batas-batas teritorialnya yang tegas (meski sedikit imajiner), tanpa peduli apakah Timur mengakui identitas Barat atau tidak. Oleh barat, Timur dianggap sebagai kawasan nun jauh di sana, yang eksotik, feminin, penuh dengan romansa, kenangan, imaji-imaji, dan janjijanji. Bagi Barat, identitas Timur benar-benar tak punya tanda, kecuali warna sepia. Dalam buku ini Edward W. Said seolah menegaskan 8

bahwa hanya dengan mengkaji teks-teks orientalis melalui operasi diskursif yang berlangsung di dalamnya, kita bisa menyingkap relasi ideologis yang terdapat dalam orientalisme. Said membagi menjadi empat jenis relasi kekuasaan yang hidup dalam wacana orientalisme: kekuasaan politis (pembentukan kolonialisme dan imperialisme); kekuasaan intelektual (mendidik Timur melalui sains, linguistik, dan pengetahuan lain); kekuasaan kultural (kolonisasi selera, teks, dan nilai-nilai, misalnya Timur memiliki kategori estetika kolonial, yang secara mudah bisa ditemukan di India, Mesir, dan Negara-negara bekas koloni lain); serta kekuasaan moral (apa yang baik dilakukan dan tidak baik dilakukan oleh Timur). Dalam buku ini penulis berharap agar orientalisme bisa membuka jalan bagi mereka yang hendak memperjuangkan apa yang disebut sebagai kebebasan dan kemerdekaan. Buku ini dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia memang pernah diterbitkan. Namun karena banyak keluhan atas kualitas terjemahan yang cukup rumit dipahami, sedangkan permintaan cukup tinggi, maka diperlukan usaha untuk mengemasnya kembali menjadi sejenis buku yang kurang lebih dapat terjangkau oleh pembaca secara umum. Pada revisi, semi sadur, dan terjemahan ulangnya kali ini, orientalisme telah mengalami beberapa perubahan diksi, redaksi bahasa, struktur, dan subjudul – subjudul tertentu yang tidak dimaksudkan selain hanya untuk membantu pembaca agar lebih mudah memahami pemikiran-pemikiran Said. Buku ini juga telah dilengkapi dengan prolog (2003) dan epilog (1994) yang ditulis Edward Said sendiri (dalam versi terjemahan sebelumnya belum disertakan secara utuh) sehingga dapat dikatakan buku ini mengalami kelahiran kembali. Orientalisme merupakan buku yang telah diterjemahkan dari 36 bahasa. Buku ini adalah buku induk bagi para pengkaji kebudayaan pasca-kolonial serta bagi mereka yang menaruh perhatian besar akan persoalan pelik Timur dan barat.[p] Suratmi Pend. Matematika ‘11

Buletin PENDAPA News Edisi II Bulan September 2013


PENDAPA SELINTAS Welocome Back Everyone, Konser UKM Musik Dewantara

KGBI Wujud Kepedulian Guru Besar

Jumat (13/9), tepatnya di depan gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) konser musik berlangsung meriah dengan 7 pasukan band yang perform : Don’t Be Like Flatus, Baby Face Killer, Rock ‘In Filty, Ceria & Dewantara Rock, Punky Junky, Explosion, Chan Hyperlife. pasukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musik Dewantara. 7 pasukan Band itu adalah anak Band dari UKM Musik Dewantara. Tidak ada tarif yang dipungut panitia, bagi siapa saja yang ingin menikmati performance dari band didikan UKM Musik tersebut. “Sebenarnya konser kemarin adalah agenda rutin bulanan yang di adakan oleh UKM Musik kami, ya cuma Road to Faculty saja”, terang Ardy salah satu personil Band UKM Musik Dewantara. Acara berjalan dari pukul 16.00-22.00 wib dengan Eliz Porenjes dan Bayu Art Fokus sebagai MC. Tidak ada dana yang di keluarkan, karena untuk perlengkapan mereka pinjam kepada fakultas, sedangkan untuk alat musik mereka bawa sendiri dari base camp UKM. Konser yang dikoordinatori oleh Ceria Hadini, mahasiswa semester 7, Pend. Seni Rupa tersebut berakhir dengan aman dan tertib.[p] (Eva Yuliani)

Forum Intelektual Indonesia (FII) kembali menyelenggarakan acara Konferensi Guru Besar Indonesia (KGBI) yang bertempat di Hotel Inna Garuda, Jln. Malioboro Yogyakarta. Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) dipercayai oleh FII untuk menyelenggarakan KGBI yang ke lima ini dengan tema “Merdeka Kembali Secara Utuh, Menjadi Tuan di Negeri Sendiri dan Amanat Bagi Pimpinan Negara” sejak hari Jumat sampai Sabtu (13-14/9). KGBI yang pertama diselenggarakan di Surabaya, kemudian yang kedua Jakarta, ketiga di Manado, selanjutnya yang keempat di Makasar dan kelima di Yogyakarta. Peserta yang hadir sekitar 380 Guru Besar dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Drs. H. Pardimin M.Pd, Rektor UST sekaligus Ketua Panitia KGBI menjelaskan bahwa acara tersebut diselenggarakan sebagai wujud kepedulian para guru besar dalam menyikapi keadaan negara Indonesia agar ke depan lebih baik. “Kita mengetahui kondisi negara Indonesia dengan istilah negara gagal, negara tergadaikan yang dikuasai hampir seluruh sektor dikuasai oleh orang asing,” terang Ki Pardimin. Acara tersebut menghadirkan Prof. Dr. Sri Edi Swasono dan Prof. Dr. Mahfud MD sebagai pembicara. Ki Widodo, Wakil Rektor IV mengungkapkan bahwa tujuan dari KGBI adalah untuk memberikan rekomendasi kepada calon-calon pemimpin 2014 agar ke depannya lebih baik serta mendapatkan pemimpin yang peduli dengan rakyat. “Harapannya, setelah adanya acara KGBI semoga ke depannya lebih baik dan berkembang dari negara lainnya,” tambahnya.[p] (Putri R& Khuriatul Aeni)

Buletin PENDAPA News Edisi II Bulan September 2013

9


CERMIN Hari Bernyanyi Nasional Oleh:: Risda Nur Widia*

A

nak-anak berwajah ranum itu berbaris rapi di lapangan sekolah. Siluetnya berkilat disepuh sinar mentari pagi yang belum begitu ganas, baru sepenggalan beranjak menaiki peraduannya. Udara pagi masih kentara dengan desau angin yang lambat. Seragam merah-putih yang mereka kenakan masih tampak gilang-gemilang di bawah hangatnya sinar matahari muda. Anak-anak itu ribut membicarakan liburan panjang dan tempat-tempat yang mereka kunjungi bersama keluarga selama liburan. Pun, seorang pemimpin upacara berteriak keras di tengah lapangan. Kegaduhan itu buyar seketika, dan upacara bendera pun dimulai. “Kepada sang Merah Putih! Hormat gerak!” pemimpin upacara kembali berteriak ketika bendera merah putih dikibarkan, seolah harimau yang tengah meraung. Garang. Tiga siswi yang bertugas mengibarkan bendera begitu cekatan mengurai lipatan bendera seraya menyimpulkan tali-talinya pada pengait bendera. Lagu Indonesia Raya yang merupakan lambang panjipanji kemerdekaan berkumandang. Seluruh siswa ikut bernyanyi mengiringi naiknya sang Merah Putih ke puncak tiang tetinggi. Dengan dada membusung dan suara yang mengebu, siswa-siswi itu bernyanyi lantang. “Indonesia tanah airku/ Tanah tumpah darahku/ Di sanalah aku berdiri/ Jadi pandu ibuku/ Indonesia kebangsaanku/ Bangsa dan Tanah Airku/ Marilah kita...” Suara itu tercekat, berhenti di tenggorokan. Siswa yang bertugas pada bagian paduan suara pun demikian. Namun sang bendera terus naik ke singgasana tertinggi. Berkibar ditingkah angin. Tak ada lagi suara selain getar suara bendera yang berkelebat-kelebat di atas tiang. Mereka kebingungan. Mereka sadar, ada lirik lagu Indonesia Raya yang terlupakan. Semua mata saling memandang satu sama lain, tertumbuk oleh kegusaran hati lewat desah napas yang terputusputus. Para guru kebingungan. Mereka pun sama saja, lupa pada lirik lagu berikutnya. Namun bendera tak peduli, berkibar di ujung tiang tertinggi. Menguraikan kelantangan atas kemerdekaan yang panjang, dengan seluruh nanah dan darah dari para pejuang. Kebisuan itu menyekap waktu. Gemerisik daun beringin yang bergesek angin pun seakan menjadi sembilu di telinga. Ada sesuatu yang hilang di dalam benak orang-orang itu. Mereka memeras otak masing-masing untuk mengingat-ingat kembali lirik lagu berikutnya, dan tidak peduli sang bendera telah menyapa dengan kibarnya yang gagah di singgasana tertinggi. Setiap mulut menggumamkan kalimat tak kentara, mereka seakan merapalkan sebuah mantra. Memangut-manggut kekosongan hati yang berjelaga. Namun usaha mereka selalu tanggal oleh kebuntuan yang menganga di ujung pita suara. Mereka tak dapat mengingat-ingat kembali lirik lagu berikutnya. Kepala sekolah tergopoh-gopoh menaiki mimbar upacara. Air mukanya menggenang. Pucat. Ia bertutur dengan terbata-bata. “Coba kita nyanyikan lagi lagu Indonesia Raya.” Maka siswi yang bertugas sebagai dirijen mulai memberi isyarat agar bernyanyi kembali. Semua siswa pun kembali 10

bernyanyi. “Indonesia tanah airku/ Tanah tumpah darahku/ Di sanalah aku berdiri/ Jadi pandu ibuku/ Indonesia kebangsaanku/ Bangsa dan Tanah Airku/ Marilah kita...” Tak ada suara lagi. Lirik lagu berikutnya terpotong. Mereka semua tak tahu kelanjutan lirik lagu tersebut. Hati mereka meremang dirundung halimun kelabu. Dalam kepala mereka seolah berdentuman halilintar. Yang terbayang di kepala mereka hanya lagu-lagu barat, dan pop yang menyesatkan. Tanpa musabab yang jelas, mereka melupakan lirik lagu Indonesia Raya. *** Tayangan televisi siang itu pun mengambarkan bahwa bangsa ini dilanda amnesia akut. Semua warga Indonesia lupa cara bernyanyi lagu kebangsaan sendiri. Dari para pejabat hingga pemulung di kolong-kolong jembatan, mereka semua lupa cara melafalkan lagu tersebut. Seorang presenter pada siaran televisi mengabarkan. “Penduduk negeri ini tiba-tiba dilanda amnesia. Penduduk lupa cara menyanyikan lagu Indonesia Raya. Para pakar musik pun kebingungan mencari penyebab amnesia yang melanda secara serentak ke seluruh penjuru negeri.” Di jalan bertebaran orang-orang bernyanyi lagu-lagu barat. Mereka sama sekali tak peduli dengan terlupakannya lirik lagu itu. Pun mereka malah bangga mengunakan bahasa asing untuk bertutur. Bahasa Indonesia tidak digunakan lagi untuk bercakap-cakap. Para peneliti bahasa mulai kebingungan dengan hilangnya kebudayaan berbahasa negeri ini. Sejarah baru akan tercipta lewat bahasa dan penuturnya. Hilanganya bahasa dan lagu Indonesia Raya menyebabkan kebakaran jenggot para aktivis dan pemerhati bahasa. Kota tetap saja melaju menyemat kedinginan yang mengutuk manusia dalam lubang durjana kebisuan. Orang-orang hanya berbicara sepotong-potong, itu pun mengunakan bahasa asing. Modern adalah anak yatim yang dikutuk zaman. Menjauhkan manusia dari sejarah dan budaya. Upacara bendera setiap hari Senin mulai ditinggalkan. Rupanya persoalan lupa lirik lagu Indonesia Raya dan hilangnya bahasa Indonesia sudah bukan menjadi masalah lagi. Negeri ini sudah lumrah melupakan sesuatu. Negeri ini tetap melaju seperti angin yang diam dan tanpa meninggalkan bekas. Namun beberapa aktivis tetap memperjuangkan rasa kehilangan itu. Mereka tak rela sejarah panjang negeri ini hilang begitu saja. Dengan kesadaran yang serupa remahremah sampah di kolong-kolong jembatan dan di kali-kali yang kerap banjir bila musim penghujan tiba. Pemerintah menyetujui usulan mereka untuk membuat hari ‘Bernyanyi Lagu Nasional.’ Dan mereka kibarkan rasa nasionalisme pada negeri yang pelupa ini. Seorang pemimpin upacara meraung keras laksana seekor serigala yang kelaparan di tengah istana negara. “Kepada sang Merah Putih! Hormat gerak!” Sang

Buletin PENDAPA News Edisi II Bulan September 2013


Merah Putih mulai ditarik. Angin meningkahnya. Para pemimpin negeri dan golongan masyarakat tertentu yang masih menyayangi negeri ini mengadakan sebuah upacara bendera sederhana. Mereka menengadahkan tangan, mengacungkan hormat kepada sang Merah Putih. Puakpuak paduan suara pun mulai bernyanyi lagu kemerdekaan. “Indonesia tanah airku/ Tanah tumpah darahku/ Di sanalah aku berdiri/ Jadi pandu ibuku/ Indonesia kebangsaanku/ Bangsa dan Tanah Airku/ Marilah kita...” Namun seperti biasa mereka lupa lirik lagu berikutnya. Mereka hanya saling memandang, bersua akan kegamangan melalui lirik mata. Pada jalanan yang gaduh itu pun seorang pria berpak-

aian cumpang tertawa sembari menjinjing radio. “Negeri edan! Masak sama lagu kebangsaan sendiri sudah lupa,” dari radio yang dijinjingnya terdengar lagu dangdut koplo. ‘Iwak peyek/ iwak peyek/ iwak peyek/ nasi jagung/ sampek tuek sampek nenek..” Orang gila itu melangkah sembari terus menertawai mereka. [p]

Mahasiswa Ideal...................(Sambungan dari hal 4)

menjadi ‘mapala’, mahasiswa paling lama. Hal yang seyogyanya dihindari adalah ketika mahasiswa merasa tidak berhasil dalam pembelajaran di kelas, sebagai kompensasinya beralih ke organisasi. Seharusnya mengikuti organisasi adalah komitmen dari awal bukan untuk pelarian,” tambah Ki Kristanto. Dalam penjelasan Ki Kristanto, mahasiswa akan mengalami shock culture ketika terjun di masyarakat apabila di masa kuliahnya mereka hanya mengejar IP. Hal ini disebabkan kondisi di masyarakat tidak selalu sama dengan teori yang mereka pelajari di kelas.

juang seseorang,” papar Ki Denik. Pentingnya etika dan sikap yang baik bagi mahasiswa juga dikemukakan oleh Nyi Titik Muti’ah. Tolok ukur mahasiswa ideal dari segi akademis adalah IP yang bagus, punya sikap, dan berkarakter serta punya unggah ungguh. “Hal ini yang sudah mulai hilang, jadi ketika demo pun yang berkarakter bukan demo yang jalanan dan preman,” ungkapnya. Kaitannya dengan keorganisasian, Noorlaksmita, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris turut angkat bicara. Noor berpendapat bahwa mahasiswa ideal harus peduli dengan nama baik kampus, bukannya menjelekkan. “Mahasiswa yang ideal itu yang bisa menyeimbangkan 3 hal yaitu religius, aktivis dan berprestasi,” ujarnya. Mahasiswa dari latar belakang maupun goal yang berbeda mempunyai hak yang sama untuk dapat mengembangkan diri di kampus. Pilihan cara apa yang akan digunakan mereka untuk mengembangkan diri menjadi sosok mahasiswa yang ideal ada di tangan mereka masing-masing. Namun, yang terpenting mereka harus bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Mahasiswa dan Organisasi “Mahasiswa dan organisasi seperti halnya dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Mahasiswa sebagai makhluk sosial senantiasa ingin mengembangkan potensi dirinya, salah satu wadah pengembangan diri tersebut adalah organisasi. Dikatakan ideal jika perkembangan yang terjadi tidak hanya mencakup satu aspek saja (parsial) tapi juga pengembangan soft skill yang tidak diberikan di kelas,” tutur Ki Kristanto. Ki Kristanto berharap semua mahasiswa tidak hanya mempunyai Indeks Prestasi (IP) yang baik, tapi juga aktif dalam kegiatan kampus karena hal tersebut akan terasa penting ketika terjun di lingkungan masyarakat. Melalui organisasi, mahasiswa akan lebih termotivasi untuk meningkatkan prestasi akademiknya. Selain itu, mahasiswa yang merupakan agent of change diharapkan bukan hanya belajar untuk diri sendiri tapi untuk gerakan perubahan.“Sebagai contoh peristiwa reformasi yang juga dimotori mahasiswa,” lanjut Ki Kristanto. “Jangan sampai karena aktif dalam organisasi justru

*Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ‘10

Organisasi Kemahasiswaan Dulu dan Kini Bila kita menilik ke belakang tentang keorganisasian kampus, akan terasa perbedaannya dengan organisasi kini. Dulu tidak ada kebebasan berpendapat. Kalaupun dikatakan ada, itu sangat terbatas. “Itu karena dipengaruhi oleh kondisi politik saat itu yang masih dikuasai oleh rezim Soeharto,” kenang Haryanto, MM, staf pengajar SMPN 8 Yogyakarta yang juga alumni UST. Menurut Haryanto, kebebasan dalam berorganisasi dan berpendapat zaman sekarang sangat dijunjung tinggi. Dimana-mana orang meneriakkan kebebasan berpendapat karena pengaruh era reformasi dan demokrasi yang mengarah ke liberal memungkinkan keterbukaan berorganisasi di dalam maupun di luar kampus. “Buktinya para mahasiswa dapat berdemo,” tambahnya. Sedangkan menurut Titis Haryo yang berprofesi sebagai Comic Stand Up Comedy, mahasiswa dan organisasi zaman dulu itu cenderung lebih kolot dan serius. “Meski serius, tapi nilai positifnya adalah ketika dalam organisasi pembagian tugas bisa lebih optimal dan pas sehingga dalam menyelenggarakan acara, tingkat kesuksesannya tinggi,” terang Comic pemilik akun @standupindoJGJ. Lain lagi dengan Ratsongko, Koordinator Bidang Kesehatan Posdaya UST. Baginya, organisasi mahasiswa zaman dulu lebih bernuansa musyawarah sedangkan zaman sekarang lebih cenderung idealis. “Zaman sekarang ke-egoan selalu dimunculkan. Zaman dulu siapa yang dianggap sesepuh, dialah yang diajukan. Seperti semboyan Ki Hajar ‘hidup adalah sebuah pengabdian’. Tujuan awal bergabung dalam organisasi adalah pengabdian,” pungkasnya.[p]

Buletin PENDAPA News Edisi II Bulan September 2013

Fitria Sylviana Maharani 11



Pendapa news edisi II 2013