Page 1

Ganti Rektor, Ganti Aturan

PENA KAMPUS FKIP UNIVERSITAS MATARAM

SURAT KABAR MAHASISWA

Newsletter LPM Pena Kampus Edisi 103

Wadah Gali Nurani Mahasiswa

Setahun Lebih Tidak Berkabar, POM Akan Adakan Pertemuan

Ganti Rektor, Unram Kembali Menerapkan Wisuda Empat Kali Setahun source: LPM Pena Kampus/sr

Mataram, Pena Kampus – Dianggap lebih efektif, Universitas Mataram (Un­ ram) kembali menerapkan wisuda empat kali setahun. Kebijakan ini mulai ber­ laku setelah Husni dilantik sebagai rektor baru Unram. Rencana wisuda tahun ini akan diadakan pada April, Juni, September, dan Agustus. Setelah mengalami kekosongan jabatan kurang lebih tiga bulan, terhitung sejak Desember 2017 hingga awal Maret 2018, Husni akhirnya terpilih sebagai rektor baru unram periode 2018-2022. Pemilihan tersebut terjadi pada pemilihan rektor yang digelar pada (3/3) di ruang sidang senat lantai III Unram. Pergantian tersebut ternyata tidak hanya tentang pergantian sosok kepemimpinan, tetapi juga tentang pergantian kebijakan yang diterapkan oleh Unram sebelumnya. Apabila kebijakan dua tahun terakhir sebelum berakhir masa kepe-

mimpinan Sunarpi, Unram menerapkan kebijakan wisuda satu tahun sekali. Saat ini, setelah resmi Husni dilantik sebagai rektor baru Unram pada (7/3) lalu ia mengadopsi kembali kebijakan sebelumnya wisuda satu tahun sekali, yakni kebijakan wisuda empat kali setahun. Hal ini didukung oleh surat edaran yang dikeluarkan Wakil Rektor (WR) I Unram, Wiresapta Karyadi pada (31/3) mengenai informasi pelaksanaan wisuda yang akan digelar April lalu. Dianggap Efektif Mengatasnamakan rektor, Hardiyan ajudan rek-

tor Unram saat ditemui di ruangannya pada (11/4) m­enerangkan bahwa kembali diterapkannya kebijakan wisuda empat kali setahun dilandaskan atas hasil evaluasi kebijakan wisuda satu tahun sekali yang dianggap tidak efektif. Pertimba­ ngan lainnya, yakni panitia pen­ yelenggara wisuda satu tahun sekali merasa sulit mengontrol perayaan wisuda yang dibarengi dengan Dies Natalis Universitas yang terlalu ramai karena diadakan selama seminggu berturut-turut. Satuan petugas pe­ngamanan (satpam) pun merasa kewalaBersambung ke hal. 5

Pena Kampus/Edisi 103/Minggu IV/Juni/2018

Mataram, Pena Kam­ pus – Setelah setahun leb­ ih belum ada pertemuan terkait trasnparansi dana Perkumpulan Orang­ tua Mahasiswa (POM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram (Unram), Badan Ekse­ kutif Mahasiswa (BEM) FKIP Unram merenca­ kan pertemuan untuk memperjelas pendanaan uang POM. Rencananya pertemuan kembali akan dilakukan setelah Ujian Tengah Semester usai. Muhammad Yamin, selaku bendahara POM mengatakan laporan mengenai keuangan pemakaian dana POM tetap dilaporkan secara berkala. Laporan ter­ a­khir sisa dana pada bulan Maret lalu, yakni dengan jumlah Rp. 140. 453. 803. Ketika ditanyakan mengenai rincian dana dari awal hingga yang terakhir, Yamin menyatakan beBersambung ke hal. 5

1


Salam Redaksi STRUKTUR ORGANISASI LEMBAGA PERS MAHASISWA (LPM) PENA KAMPUS FKIP UNIVERSITAS MATARAM

Assalamualaikum warahma­ tullahi­wabarakatuh Salam Pers Mahasiswa! Pertama-tama mari sama-sama menyempatkan diri mengangkat kedua tangan seraya berdoa, semoga kondisi negara kita tercint dapat kembali kondusif. Amin Tidak terasa waktu Ujian Akhir Semester (UAS) telah tiba, dengan tugas yang juga semakin menumpuk. Meski demikian, Pena Kampus tetap menyalurkan informasi kepada masyarakat FKIP. Pada terbitan edisi ke-103 ini, kami membahas beberapa isu seperti wisuda, beasiswa, dan POM, serta tulisan menarik lainnya berupa opini, resensi, dan kolom sastra berisi cerpen dan puisi. Sibuk dengan tugas-tugas, tidak

menjadikan kita untuk menutup diri dari informasi sekitar, sekaligus menutrisi otak biar gak pening, salah satunya dengan membaca-bukan baca status ya, agar tidak mudah terprovokasi apalagi sampai sumbunya tersulut dengan hal-hal yang masih tidak jelas kebenarannya. Dan tidak lupa, pada seluruh anggota baru yang telah dikukuhkan pada 29 April 2018, semangat untuk tetap berproses! Selamat menempuh Ujian Akhir Semester untuk seluruh masyarakat FKIP yang menjalankan. Semoga mampu menaklukan diri dengan seabrek tugas kuliah yang diberikan, bukan malah dikerjai tugas, ops… Salam Pers Mahasiswa!

Pelindung: Dekan FKIP Universitas Mataram; Penasihat: Alumni LPM Pena Kampus; Pembina: Johan Mahyudi, S.Pd., M.Pd.; Pemimpin Umum: Abdul Goni Ilman Kusuma; Sekretaris Umum: Wazi Fatinnisa; Bendahara Umum: Siti Rohmani; Pimpinan Redaksi: Idawati; Sekretaris Redaksi: Rahmawati Hansi; Redaktur Pelaksana: Baiq Rosdiana Susanti; Koordinator Liputan: Wiwit S. Apriadi; Desain Komunikasi Visual: Ni Made Mega Dwita Diartha, Mahatriani Iswari; Koordinator Mading: Muhammad Apriyandi; Litbang: Baiq Hikmatul Hasanah, Ahmad Afandi, Karmila Zuriatin Azri; Humas: Mazratul Ayni, Rina Rabiah, Chairunnisa; Rumah Tangga: Winda Adinda, Ahmad Viqy Wahyu R., Fitriana Handayani;

Tajuk Tragedi KKN : Siapa yang Bertanggungjawab? Masih segar diingatan bagaimana peristiwa pe­ rampokan yang menimpa 15 mahasiswa KKN periode semester gasal lalu, yang terjadi tepatnya pada tanggal 31 Januari 2018 di Desa Setungkep Lingsar kecamatan Keruak kabupaten Lombok Timur. Dari pernyataan dua orang yang pernah diwawancari Tim Pena Kampus, mahasiswa-mahasiwa korban perampokkan mengalami trauma berat karena selain merampas barangbarang berharga, mereka diancam akan dibunuh bahkan ada yang hampir

2

kena tebas karena melawan. Belum lagi dengan kerugian materil yang mencapai lebih dari 14 juta, itu bukanlah angka yang sedikit, serta tidak ada bantuan ganti rugi dari pihak kampus. Hal ini dikarenakan asuransi per mahasiswa KKN baru bisa dicairkan jikalau korban ada yang mengalami lukaluka dan butuh pengobatan. Dengan kondisi yang demikian, pihak LPPM tidak memberikan izin para mahasiswa untuk menenangkan diri dari kejadian itu dengan pulang ke rumah. Namun langsung memindahkan lokasi KKN ke desa Selebung Ketangga hari itu juga. Padahal dalam kebija-

kan KKN, mahasiswa bisa melakukan penarikan dini jikalau terjadi hal seperti yang dialami oleh kelompok mahasiswa tersebut. Dari pihak LPPM sendiri beralasan jika hal itu dilakukan maka otomatis mahasiswa yang mengikuti KKN tersebut dinyatakan gagal dan harus mengulang pada periode berikutnya. Walaupun kasus tersebut sedang diusut siapa pelakunya, namun kabarnya tidak terdengar lagi sampai sekarang. Ini tentu menjadi sebuah pertanyaan. Apakah tanggung jawab dari pihak universitas hanya sebatas itu saja? Hal tersebut harusnya

bisa menjadi evaluasi agar tidak terjadi hal yang demikian kembali. Tidak hanya sampai kepada menyoret wilayah Setungkep Lingsar dari daftar lokasi KKN, namun pemilihan lokasi-lokasinya lebih diperketat lagi dan kebijakan-kebijakan dalam pelaksanaan KKN lebih dimatangkan kembali. Karena bagaimanapun, mahasiswamahasiswa yang sedang menjalani salah satu mata kuliah praktik lapangan itu masih sepenuhnya menjadi tanggungjawab pihak kampus, agar KKN ini tidak pula hanya sekedar menjadi syarat untuk meme­ n­ uhi jumlah SKS semata.

Pena Kampus/Edisi 103/Minggu IV/Juni/2018


Suara pembaca Kritik Sistem Penunjukan Mahasiswa Dalam Kompetisi

Pembukaan kompetisi harap dibuka secara

Lucu! Merasa Berkuasa, Wakil Mahasiswa Ingin Jadi Penguasa

transparan, bukan dengan penunjukan Si A, Si B, atau

Yang namanya perwailan mahasiswa (DPM)

si C sebagai perwakilan. Masih banyak mahasiswa

ya harus mewakili mahasiswa, bukan justru ingin

lain yang mungkin memiliki potensi yang sama.

jadi penguasa, merasa berkuasa. Kan lucu jadinya!

HMPS juga diharapkan menyampaikan infor-

masi dengan jelas bagi seluruh anggotanya, karena

Ogang, Mahasiswa Pendidikan Bahasa

jujur banyak mahasiswa yang tidak merasakan apa

dan Sastra Indonesia Semester VIII

manfaat dari HMPS itu sendiri. SM, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Semester VI

Akreditasi baik (seharusnya) Fasilitas Baik Seharusnya, FKIP bisa menjadi fakultas pedoman atau barometer bagi fakultas yang lain karena selain memiliki akreditasi yang baik, tentunya (harus pula) disediakan fasilitas yang baik. Tidak seperti yang kita lihat sekarang ini, kalah dengan fakultas

Optimalkan Sarana dan Prasarana Saya rasa sarana dan prasarana di FKIP ini belum dimanfaatkan dengan seoptimal mungkin. Banyak ruangan yang menjadi gudang tak terurus. Baiknya ruang Micro Teaching yang ada di kampus dua (PGSD dan PG-PAUD) difungsikan kembali agar mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan Micro Teaching dengan nyaman, didukung sarana yang lebih baik.

yang baru terakreditasi. Karmila Zuriyatin Azri, Ahmad Abdan Syukron

Mahasiswa Semester VI prodi PGSD

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Semester II

Pojok Pena + Akhirnya wisuda empat kali setahun (lagi)! - Ciri-ciri Indonesia, ganti rezim ganti aturan + BEM dan DPM berebut kekuasaan - Kayak partai politik aja! + FKIP kemalingan lagi... - Sudah biasa, sudah lumrah

Pena Kampus/Edisi 103/Minggu IV/Juni/2018

SALAM PERSMA! Redaksi LPM Pena Kampus FKIP Unram menerima tulisan berupa opini, artikel, suara pembaca, cerpen, puisi , dan resensi. Tulisan tidak mengandung SARA dan belum diterbitkan di media mana pun. Kirim tulisan ke redaksi LPM Pena Kampus FKIP Unram di gedung UKMF, Jl. Majapahit 62 Mataram email : penakampus97@gmail.com facebook : LPM Pena Kampus FKIP Unram instagram: LPM Pena Kampus FKIP Unram blog : lpmpenakampus.blogspot.com

3


BERITA

Dana APBN Terbatas, PPA Dipangkas

source: google.com (dengan berbagai perubahan)

Mataram, pena kampus – Simpang siur isu pemangkasan beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) periode 2017-2018 merebak di kalangan mahasiswa. Hal ini kemudian dikait-kaitkan dengan pembangun yang sedang berlangsung di kampus dua FKIP. Kejelasan jumlah dana yang diterima oleh mahasiswa penerima beasiswa PPA periode 2017-2018 akhirnya menemui titik terang. Rumor yang berkembang di kalangan mahasiswa terkait dengan sisa dana yang belum di­ cairkan yakni digunakan untuk pembangunan kampus dua yang berlokasi di Seganteng akhirnya me­ nemui kejelasan. Terkait dengan hal ini selaku Dekan III FKIP bagian kemahasiswaan Ni Made Novi S, saat ditemui di ruangannya pada rabu (25/04) menjelaskan bahwa tidak ada pemotongan b­ easiswa PPA yang yang ditujukan untuk pembangunan kampus dua. Hal tersebut dikarenakan pembangunan kampus memi-

4

liki anggaran tersendiri dan bukan bersumber dari uang beasiswa mahasiswa melainkan langsung dari pusat. Ni Made Novi juga menambahkan tidak tahu-menahu perihal pemotongan ini. “Ndak mungkin dana mahasiswa itu dipotong untuk pembangunan, beasiswa yang dari FKIP ­ jumlahnya 120 juta yang dari PNBP itu bahkan mahasiswa yang diumumkan dapet ndak ngambil uangnya,” tegasnya. Ditemui ditempat berbeda, ketua BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan FKIP, Universitas Mataram Unram periode 2017-2018 Jamiludin pada (25/04) menjelaskan, bahwa mereka sempat mengajukan advokasi terkait pemotongan beasiswa PPA

tersebut tetapi tidak juga mendapat kejelasan. Terkait pemotongan beasiswa yang serba tidak transparan pihak Pena Kampus bertanya perihal adanya surat pemberitahuan mengenai pe­­motongan beasiswa PPA yang tidak secara jelas dipublikasikan kepada seluruh mahasiswa penerima beasiswa, sehingga membuat mahasiswa bingung mengenai kapan beasiswa mereka akan dicairkan. Jamiludin selaku ketua BEM FKIP Unram pada periode sebelumnya membenarkan ada surat yang diberikan oleh wakil dekan 3 kepada pihak BEM dan seluruh pimpinan HMPS terkait pemotongan be­ asiswa PPA yang diterima mahasiswa FKIP, namun surat tersebut sudah hilang.

M. Natsir selaku wakil rektor III bidang kemahasiswaan menggungkapkan sebenarnya tidak ada pemotongan uang beasiswa PPA seperti anggapan para mahasiswa. Hal ini sekaligus mematahkan isu penggunaan dana beasiswa untuk pembangunan kampus dua yang berlokasi di Seganteng. Jumlah bulan penerimaan beasiswa yang hanya mencapai sembilan bulan dan bukan selama satu tahun dikarenakan anggaran APBN yang tidak mencukupi. Kuota penerima beasiswa UNRAM periode 2017-2018 menurut WR 3 bidang kemahasiswaan sebanyak 877 orang penerima yang di bagi ke seluruh mahasiswa di berbagai fakultas yang ada di Universitas Mataram. (MA,ros)

Pena Kampus/Edisi 103/Minggu IV/Juni/2018


BERITA Setahun Lebih Tidak Berkabar, POM Akan Adakan Pertemuan (Sambungan dari hal. 1)

Laporan Dana POM FKIP Unram Januari-Maret 2018

lum bisa memberikannya. Rincian dana tersebut hanya akan diberikan ketika pertemuan. Meskipun angkatan terakhir yang mengeluarkan dana POM ini sampai tahun 2015, pengalokasian dananya diberikan secara

umum. Tidak ada dibatasan angkatan dalam pengalkasiannya karena pemberian dana tidak alokasikan secara individu. Namun pengalokasiannya untuk Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang ada di FKIP. Di satu sisi pengurus POM juga memberikan dana tersebut kepada mahasiwa yang melakukan PPL ke Luar Negeri berdasarkan keputusan pegurus dengan alasan mahasiswa yang ke Luar Negeri membawa nama baik Fakultas. Yamin menganggap bahwa POM juga ikut andil dalam menjaga nama baik fakultas. Alokasi dana untuk PPL Luar Negeri itupun lebih

tinggi dari alokasi untuk mahasiswa yang keluar daerah. Masing-masing Mahasiswa mendapatkan Rp. 3 Juta untuk yang PPL Luar Negeri, sedangkan yang keluar daerah hanya mendapatkan Rp. 1 Juta. Selain itu ada pula tunjangan untuk kematian orangtua mahasiwa. Wacana sisa dana POM akan dihabiskan keseluruhannya pada akhir tahun ini dibenarkan oleh Yamin. Jika tidak bisa habis sesuai rencana kemungkinannya sisa dana tersebut akan dibagikan kepada seluruh Ormawa. Akan tetapi belum diadakan rapat terkait kesepakatan akhir yang

akan diambil. Pada pertemuan yang dilakukan oleh beberapa perwakilan Ormawa dengan bendahara POM pada selasa lalu (24/04), rencananya pertemuan untuk laporan tranparansi dana ini akan dilakukan setelah Ujian Tengah Semester berakhir. Akan tetapi untuk waktu pastinya belum disepakati, mengingat Ketua POM belum bisa ditemui untuk kepastiannya. Sedang­ kan Yamin sendiri sudah siap untuk melakukan pertemuan namun sampai ujian akhir semester tiba, pertemuan tersebut belum juga dilaksanakan. (gon/ida).

Ganti Rektor, Unram Kembali Menerapkan Wisuda Empat Kali Setahun (Sambungan dari hal. 1)

han menjaga keamanan saat perayaan wisuda satu tahun sekali berlangsung karena kondisi Unram yang begitu padat selama seminggu penuh. Hardian juga kembali menjelaskan kebijakan wisuda empat kali setahun diberlakukan dengan pertimbangan untuk mempermudah mahasiswa dalam mendapatkan ijazah. “Tidak pelu lagi menunggu sampai bulan Oktober,� Tegas Hardian. Harapan dari diterapkan kembali kebijakan ini mahasiswa juga dapat menentukan target dalam menyelesaikan studinya di Unram. Dan pada

tahun ini wisuda diadakan pada bulan April, Juni, September, dan Desember. Hal tersebut ditanggapi antusias oleh sebagian besar mahasiswa. Salah satunya oleh Kusyanis Sejati mahasiswa semester akhir Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia saat ditemui pada (9/4). Ia mengaku senang wisuda kembali diadakan empat kali setahun karena dapat memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk lulus sesegera mungkin. Konfirmasi Sejak WR 1 Unram menerbitkan surat eda-

ran informasi wisuda pada (31/3) untuk wisuda 21 April mendatang. Tim Pena Kampus berusaha meminta keterangan langsung dari pihak-pihak terkait sejak tanggal (9/4). Akan tetapi, saat tim Pena Kampus berusaha menemui WR 1 dan Rektor Unram pada (10/4) secara langsung, tim Pena Kampus hanya dapat menemui ajudan masing-masing pihak. Sementara itu, melalui ajudannya WR 1 menolak untuk memberikan komentar perihal pergantian kebijakan tersebut karena SK Wisuda empat kali se-

Pena Kampus/Edisi 103/Minggu IV/Juni/2018

tahun belum dikeluarkan. WR 1 juga menyampaikan untuk informasi lebih lanjut mengenai kebijakan tersebut diatur langsung oleh Rektor. Pun saat ingin ditemui pada (20/4) masing-masing pihak belum ada yang mau mengkonfirmasi perihal kebijakan ini. Hingga berita ini diterbitkan, untuk informasi lebih lanjut Tim Pena Kampus belum mendapat konfirmasi secara langsung dari pihak rektor terkait alasan penerapan kembali kebijakan wisuda empat kali setahun ini. (sr/nnp/ zl/ga)

5


Opini

Kesetaraan Dalam Pendidikan Inklusi

Source: http://kathmandupost.ekantipur.com_

S

etiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Hal tersebut tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32 (1). Pendidikan sangat dibutuhkan bagi anak-anak untuk mencapai kesejahteraan sosialnya. Tidak terkecuali anak-anak yang kurang beruntung, baik dalam segi fisik maupun mental. Namun kenyataannya, anak-anak yang kurang beruntung dan berkebutuhan khusus menjadi anak yang dapat dikatakan mendapat penge­ cualian. Pelayanan pendidikan yang dikhususkan bagi anak berkebutuhan khusus semakin membuat anak yang kurang beruntung dan berkebutuhan khusus terpinggirkan. Biaya penyelenggaraan sekolahnya pun relatif lebih mahal daripada sekolah umum, dan menjadikan banyak anak berke-

6

lainan yang tidak mampu memperoleh pendidikan karena tidak tersedia sekolah khusus yang dekat. Hal inilah yang membuat anak berkebutuhan khusus s­­­eak­an didiskriminasi dalam pelayanan pendidikan. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III ayat 5, dinyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa anak berkelainan pun berhak pula memperoleh kesempatan yang sama de­ngan anak lainnya dalam pendidikan. Dengan kata lain, dalam pendidikan seharusnya sudah tidak ada lagi sekat pembeda antara anak berkebutuhan khusus dengan anak normal pada umumnya. Orang tua bisa mendaftarkan anak berkebutuhan khusus me­

reka ke sekolah umum. Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 pasal 12 mewajibkan lembaga-lembaga pendidikan umum menerima para difabel sebagai siswa. Tidak adanya sekat pembeda antara anak berkebutuhan khusus dengan anak normal dalam menempuh pendidikan dapat dikatakan sebagai inklusi, yaitu kegiatan mengajar siswa berkebutuhan khusus pada kelas reguler. Inklusi yaitu layanan pendidikan yang menyertakan semua anak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus atau ABK dalam

setiap warga ne­gara mempunyai kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan.

proses pembelajaran yang sama. Pendidikan inklusi berbeda dengan pendidikan anak berkebutuhan khusus, yang proses pembelajarannya dipisahkan dari siswa umum. Jadi, dalam pendidikan inklusi ini anak berkebutuhan khusus dengan anak normal berada dalam kelas yang sama dan menempuh pembelajaran yang sama pula. Tujuan dan Prinsip Pendidikan Inklusi Sekolah inklusif di Indonesia diselenggarakan dengan tujuan: memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua anak (termasuk anak berkebutuhan khusus) untuk mendapatkan pendidikan yang layak sesuai dengan kebutuhannya; membantu mempercepat program wajib belajar pendidikan dasar; membantu meningkatkan mutu pendidikan dasar dan Bersambung ke hal. 7

Pena Kampus/Edisi 103/Minggu IV/Juni/2018


Opini Kesetaraan Dalam Pendidikan Inklusi (Sambungan dari hal. 7)

menengah dengan menekan angka tinggal kelas dan putus sekolah; menciptakan sistem pendidikan yang menghargai keanekaragaman, tidak diskriminatif, serta ramah terhadap pembelajaran. Prinsip Pendidikan Inklusi, di antaranya: pertama, prinsip pemerataan dan peningkatan mutu, pendidikan inklusif merupakan strategi untuk pemerataan kesempataan memperoleh pendidikan, dan juga merupakan strategi peningkatan mutu pendidikan. Tentunya hal ini merupakan tanggung jawab pemerintah untuk menyusun strategi ini. Kedua, prinsip kebutuhan individual, setiap anak memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda, sehingga pendidikan inklusi harus berorientasi pada Program Pembelajaran Indidvidu (PPI), pendidikan didasarkan pada kebutuhan anak. Ketiga, prinsip kebermaknaan, pendidikan inklusif harus menjaga komunitas kelas yang ramah, menerima keanek­a-g­aramaan dan menghargai perbedaan. Keempat, prinsip keberlajutan, pendidikan inklusif harus diselenggarakan secara berkelanjutan pada semua jenjang pendidikan. Kelima, prinsip keterlibatan, dalam menyelenggarakan pendidikan inklusif harus melibatkan seluruh komponen pendidikan terkait. Guru Pendamping

Menurut Joko Yuwono (2007) dalam Pendidikan Inklusif menjelaskan bahwa: “Guru pendamping adalah guru yang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam bidang anak-anak kebutuhan khusus yang membantu atau bekerjasama dengan guru sekolah reguler dalam menciptakan pembelajaran yang inklusi. Peran guru pendamping dalam membantu guru reguler di karenakan keterbatasan pengetahuan dan keterampilan guru-guru tersebut”. Salah satu contoh peran guru pendamping dalam membantu atau bekerjasama dengan guru reguler adalah memberi informasi tentang siswa/anak berkebutuhan khusus dan membuat perencanaan pembelajaran secara bersama agar semua anak dapat berpartisipasi di dalam kelas sesuai level keberfungsiannya. Guru pendamping harus diposisikan sebagai teman berdiskusi oleh guru reguler, tempat mencurahkan permasalahan tentang anak berkebutuhan khusus, mendiskusikan, meminta solusi, dan lain sebagainya. Guru pendamping selayaknya memberikan segala apa yang telah menjadi tugas dan kewajibannya, guru pendamping bertindak dan berperan aktif sebagai konsultan. Oleh karenanya guru pendamping selayaknya adalah mereka yang benar-benar memiliki pen-

getahuan, keterampilan, dan keahlian dalam membantu anak-anak berkebutuhan khusus. Beberapa peran guru pendamping menurut Skjorten dkk., dalam Pengantar Pendidikan Inklusif (2003), yaitu: (1) mendampingi guru kelas dalam menyiapkan kegiatan yang berkaitan dengan materi belajar; (2) mendampingi anak berkebutuhan khusus dalam menyelesaikan tugasnya dengan pemberian instruksi yang singkat dan jelas; (3) memilih dan melibatkan teman seumur untuk kegiatan sosialisasinya; (4) menyusun kegiatan yang dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas; (5) mempersiapkan anak berkebutuhan khusus pada kondisi rutinitas yang berubah positif; (6) menekankan keberhasilan anak berkebutuhan khusus dan pemberian reward yang sesuai dan pemberian konsekuensi terhadap perilaku yang tidak sesuai; (7) meminimalisasi kegagalan anak berkebutuhan khusus; (8) memberikan pengajaran yang menyenangkan kepada anak berkebutuhan khusus; (9) menjalankan individual program pembelajaran yang terindividualkan (PPI). Dalam UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak, khususnya Pasal 51 yang berbunyi “Anak yang menyandang cacat fisik dan/ atau mental diberikan kesempatan yang sama dan aksesibilitas untuk mem-

peroleh pendidikan biasa dan pendidikan luar biasa.” Tapi ternyata, masih banyak orang yang tidak tahu hal ini dan beranggapan bahwa anak berkebutuhan khusus seharusnya tidak belajar di sekolah yang sama dengan anak normal pada umumnya. Karena menurut mereka, kehadiran anak berkebutuhan khusus hanya akan mengganggu anak normal ketika mereka belajar di satu tempat yang sama. Di sinilah pentingnya guru pendamping, yang mendampingi anak berkebutuhan khusus dalam belajar di kelas bersama anak normal lainnya, maka tidak ada lagi alasan mengapa anak berkebutuhan khusus harus belajar di sekolah reguler, dan merasa terganggu akan kehadiran mereka. Dan juga, jika anak berkebutuhan khusus dan anak normal belajar dalam satu ruangan yang sama, mereka dapat belajar mengenai kesetaraan dan perbedaan. Tidak semua manusia diciptakan dengan kondisi fisik ataupun mental yang sempurna. Manusia dilahirkan dengan kesempurnaan mereka tersendiri, ada yang kesempurnaannya terlihat maupun tidak terlihat. Bukankan Tuhan menciptakan makhluknya dengan bermacam perbedaan? Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna adalah manusia, dan manusia tidak ada yang sempurna.

Penulis: Riza Zohaeriah | *Anggota LPM Pena Kampus Angkatan ke-18

Pena Kampus/Edisi 103/Minggu IV/Juni/2018

7


Sastra

#Cerpen

Kepada Kartini

B

uku-buku bermacam judul dan kertaskertas berserakan di atas meja. Edelweis tengah memulai ritual hariannya : menulis. Untuk mejanya yang berantakan, ia tersenyum. Selalu ada kesan melihat mejanya berantakan oleh buku-buku dan kertas-kertas tiap kali menulis. Anggap saja itu peramai setia yang bisu. Dia membuka sebuah kotak berukuran sedang. Di sana ada kumpulan kertas berwarna krim kecoklatan berisi tulisan-tulisan yang beberapa minggu ini sudah menjadi kegiatan rutinnya. Tulisan yang ia tujukan kepada seseorang.

mengenalmu. Sebatas pada membaca buku-buku sejarah yang diberikan sekolah sebagai panduan belajar. Aku membacamu tanpa makna.Aku hanya sebatas mengenalmu sebagai pahlawan wanita yang teretalasi baik dalam dokumen sejarah bangsa ini di masa silam.

Surat 1 Kartini, aku mulai mengenalmu pada masa kecil, tepatnya pada masamasa sekolah dasar di mana aku sudah mulai banyak hafal lagu-lagu nasional. Namamu ada di antara lagu-lagu itu. Aku menghafalmu dengan baik.Aku juga mengenalmu dalam mata pelajaran sejarah.Kau diceritakan sebagai salah satu pahlawan wanita berpengaruh di negeri ini. Seorang guru pernah berkata di kelas : “Aku berani mengutuk Kartini! Karena gagasan emansipasi wanitanya, dia telah membuat banyak wanita berlaku kurang ajar!�Kulihat ekspresinya seperti menahan amarah. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya berkata begitu dan parahnya aku tidak bertanya. Kurang ajar seperti apa maksudnya?Aku masih belum ingin mencarimu. Namun hanya sebatas itulah aku

Surat 2 Selain dirimu Kartini, aku juga mengenal banyak wanita-wanita hebat lainnya, seperti Khadijah istri pertama Rasulullah yang mendermakan hampir seluruh hartanya untuk kepentingan umat islam, Aisyah wanita cerdas penghafal banyak hadist, pernah memimpin perang Jamal karena berbeda pendapat dengan Ali bin Abi Thalib terkait kematian Utsman bin Affan— namun amat disayangkan karena ini merupakan perang saudara, antar sesama muslim . Dia juga istrinya Rasulullah. Ada pula Fatimah Az-Zahra, Asiah istri Fir’aun, Rabiatul Adawiyah, siapa lagi ya?Aku tidak ingat.Tidak pernah terpikir olehku mengapa aku lebih banyak mengenal tokoh-tokoh wanita Islam dibandingkan dengan tokoh-tokoh wanita di negeri sendiri, yang dengan jiwa raga telah berbuat banyak untuk kemaslahatan negeri ini.

8

Aku rasa, kau lebih tahu mengenai mereka. Sama sepertimu, aku hanya sebatas mengenal mereka dalam buku-buku sejarah yang telah tersaji manis sebagai bacaan wajib mata pelajaran sejarah di sekolah atau karena menyimak ceramah-ceramah tentang tokohtokoh pahlawan. Selebihnya, aku tidak pernah ingin mencari tahu tentangmu atau mereka pada referensi-referensi yang lain. Surat 3 Aku mulai ingin menulis surat untukmu setelah membaca sebuah artikel di media sosial yang isinya adalah catatan tentangmu di masa kecil hingga akhir hayatmu. Kau wafat di usia yang begitu muda, 25 tahun. Aku begitu terpesona dengan semangatmu menuntut ilmu, kesungguhanmu dalam mendobrak sistem di masa silam yang seakan tidak memberi ruang bagi wanita dalam hal lain selain di dapur dan ranjang, dalam hal pendidikan, tidak diperkenankan sekolah tinggi layaknya laki-laki, hanya menjadi wanita yang dipingit di dalam rumah, begitupun dalam hal tata krama yang berlebihan, terlebih jika menjadi seorang gundik atau selir lelaki bangsawan, yang hanya didatangi jika ingin, dan ketika bosan, akan diusir dari rumah suami dan jika telah mempunyai anak, wanita tersebut tidak boleh membawa anaknya dan tidak dianggap sebagai ibu dari anak tersebut. Kau berbuat banyak hal di usia hidupmu yang singkat. Walaupun arBersambung ke hal. 9

Pena Kampus/Edisi 103/Minggu IV/Juni/2018


Sastra

Kepada Kartini

(Sambungan dari hal. 10)

tikel yang kubaca itu tidak sangat detail mengisahkanmu, namun aku merasa membacamu dengan utuh. Sejak itu aku mulai menyukai sosokmu, Kartini. Aku lebih semangat ingin mencari tahu tentangmu.Namun rasa malas menggodaku. Aku belum membacamu lagi semenjak kutulis surat pertamaku untukmu. Maaf ya. Surat 4 Ada hal yang begitu mengusik pikiranku.Ini terkait pernyataan guru semasa MA itu dan emansipasi wanita yang kau usung. Pikiranku bertebaran ke mana-mana.Aku mulai mencerna banyak fenomena yang ada, yang bisa kudapat dari tulisan-tulisan, buku, film, video, foto, dan sebagainnya. Dulu, di masa silam sebelummu, wanita hanya dianggap makhluk hina yang tidak bisa apa-apa, hanya dijadikan pemuas nafsu, tawanan perang, dan memiliki anak perempuan merupakan aib—ini kubaca dalam sejarah pra-islam kenabian. Umar bin Khattabpun ketika belum memeluk agama Islam ketika mengetahui bahwa anaknya adalah perempuan langsung menguburnya hidup-hidup karena malu. Untuk apa memiliki anak perempuan? Hanya dijadikan sebagai sarana untuk melahirkan generasi-generasi selanjutnya.Ya, begitu nyatanya diskriminasi tersebut. Sampai sekarang pun kita masih terhegemoni dengan pemahaman semacam itu. Namun, ada yang lebih aku khawatirkan dari sekedar hegemoni bahwa wanita tugasnya memasak, mengepel, mencuci, dan seterusnya.tepatnya ketika em­ansipasi, kesetaraan genre, atau feminisme itu telah digaungkan. Surat 5 Hampir semua iklan produk yang kulihat berisikan wanita di dalamnya walaupun sebenarnya iklan produk itu tidak ada kaitannya dengan wanita.

Tidak ketinggalan bermunculan Miss World atau Miss Universe. Negeri kita juga tidak kalah ingin menampakkan wanitanya dengan nama Miss Indonesia atau Miss-Miss lainnya. Wanita dieksploitasi besar-besaran dan anehnya, para wanita ikut nyemplung dengan suka rela tanpa paksaan. Kesetaraan genre itu disalahartikan. Belum lagi dengan wacana “Wanita Cantik Itu adalah yang memiliki wajah dan tubuh yang menawan, putih kulitnya, lentik bulu matanya, merah bibirnya, dan sebagainya-dan sebagainya” dan eksistensi untuk hal tersebut adalah dengan menunjukan keindahan yang dimiliki. Tidak heran jika model pakaian yang kini ada adalah laki-laki tertutup dan wanita serba terbuka dan menampakkan hal tersebut adalah suatu kebanggaan.Rela menjadi manekin yang bisa diperlakukan sesukanya. Kata ‘pelacur’ kini memiliki makna yang beragam. Nyata-nyata menjadi pelacur atau melacurkan diri tanpa sadar. Wanita antara lambang keindahan dan wakil penggoda setan. Tanpa menampakkan apa yang ada di dalam diripun, wanita memiliki daya tarik tersendiri, apalagi jika sengaja diumbar-umbar? Namun dalam beberapa kasus, tak semua wanita menikmati hal semacam itu. Ada juga yang karena terpaksa untuk memenuhi tuntutan hidup.Aku merasa begitu ironi Kartini, ketika hanya tubuhlah hal yang paling laris dijual untuk mendapat beberapa lembar uang. Apakah tiada pilihan jalan lain selain itu? Alangkah sulitnya posisi mereka. Kartini, aku tidak menyalahkan adanya eksistensi itu untuk pengakuan diri karena dalam beberapa hal kita memerlukannya. Pun dengan wanita yang berpendidikan tinggi, mengerjakan hal yang umumnya dikerjakan oleh laki-laki. Tidak ada yang salah. Namun muncul hal-hal semacam le-

laki malu berpasangan dengan wanita yang pendidikannya jauh lebih tinggi darinya dan wanita merasa memiliki wewenang lebih karena itu. Yah, kurasa ini semacam kekhawatiran pada laki-laki yang memang menjadi pemimpin dalam sebuah keluarga. Gengsi? Entahlah. Aku tidak menyangka permasalah mengenai genre akan sekompleks ini. Hingga muncul istilah ‘Suami-Suami Takut Istri’ atau ‘Suami yang Berada di Bawah Ketiak Istri’. Hahaha… apa itu? Surat 6 Aku mulai mengerti Kartini, meng­ apa guruku mengatakan hal demikian. Aku percaya, kau membe­rontak sekian sistem bobrok wanita di masamu bukanlah untuk menolak kodrat diri sebagai wanita, menyaingi laki-laki dalam hal pendidikan, pekerjaan, kedudukan, atau sebagainya, melainkan karena itu tidak manusiawi. Bagaimanapun keseta­ raan gender itu dirumuskan, wanita dan laki-laki tetaplah berbeda. Wanita memiliki hal yang tidak dimiliki laki-laki, ataupun sebaliknya. Kartini, aku bersyukur kau terus berbinar di langit sejarah, sehingga aku bisa mengenalmu, walaupun hanya dalam kumpulan tulisan saja. Surat 7 Aku tiba-tiba merasa gelisah Kartini. Bagaimana jika hal-hal tersebut ada di dalam diriku? Edelweis memasukkan surat itu dengan hati-hati ke dalam kotak. Ka­ gumnya pada Kartini meluap-luap. Ia berjanji setelah ini akan menyusuri Kartini di berbagai tulisan, diiringi gelisahnya pada wanita-wanita, pada dirinya sendiri. Bengkel, 13 Oktober 2017 Pukul 22 : 17 Wita

Penulis: Idawati | *Pemimpin Redaksi LPM Pena Kampus 2017/2018

Pena Kampus/Edisi 103/Minggu IV/Juni/2018

9


Sastra #Puisi

Malam Dengan Bulan Ku panggil dia bulan Ketika kelam dengan satu lentera Tersemat di dada kirinya Ku panggil dia bulan Ketika petang di puncak benam Dengan gulam menelaput di antara terali berkarat yang kusam; rusuk-rusuk purnama tersulam Ku panggil dia malam Jika angin mulai mendidih Dan meletupkan buih-buih pedih Yang mendera di antara dua sisi serambi

Kiri lalu kanan, Dimana rumah segala sembilu bermuara asal Ku panggil dia malam Jika senja mulai padam Dan patahkan bias-bias pucat Yang menyemburat di antara ruan peron-peron awan Timur lalu ke barat, Dimana kepulangan segala rasa bermuara asa Untuknya, Ku jadikan dia malam

Hitam sebagai ruam dan cahaya Sebagai teman bermain alam Untuknya jua, Ku jadikan dia malam Mimpi sebagai alamat bersua Salam dan lelap sebagai kecupan Sayang di atas bidang keningnya yang malang 6 Mei 2018

Ilustrasi: paintinghere.com/Leonid Afremov_

Luka Diselingi Hujan Getah-gemetah Rekah air matamu berkawah-kawah Pahit berkeluh kesah Di bibir bawah tempat lisan bernanah Dua luka bersahut tabu gebu-menggebu Setelah murka membagu Sisa hanya ragu membatu Sedetik lalu Aku daun gugur Dan kau telaga ;

Aku tangkai yang lebur Kau sumur haus dahaga Lalu apa? ; aku retap Kau lesap Kepergianmu menjelang Beberapa denyut larut Renggut-merenggut Menit antara lekang Gerakku melukis kata Berbait bahasa jiwa Di atas naskah berkain kasa

Sesekali untuk mengusap air mata Tatkala itu Langit ikut menangis Merakit-rakit gerimis Melantunkan nada frau Dan ketika itu, Aku dan hujan mulai bersahabat Berseling rasa Berbagi kain kasa Kamis, 5 April 2018

Penulis: Ni Made Mega Dwita Diartha | *Anggota Divisi DKV LPM Pena Kampus 2017/2018

10

Pena Kampus/Edisi 103/Minggu IV/Juni/2018


Resensi

F

MISS MY COCO

ilm produksi Pixar Animation Studios memang selalu membuat para penonton tercengang dan terbawa suasana. Banyak film hasil produksi ini yang menjadi film terbaik dan mendapat penghargaan. Adapun November lalu, Pixar Animation Studios kembali memunculkan film baru dengan ide dan cerita baru yang unik. Tentu saja film ini juga mendapat sambutan yang baik, hingga menjadi film terbaik sepanjang masa di Mexico. Film yang sangat laris ini menceritakan tentang Miguel Rivera yang terlahir dalam keluarga dengan perekonomian shoemaking sebagai bisnis untuk menghidupi keluarga. Keluarga besar itu yang secara turun-temurun sangat membenci musik dikarenakan Coco, ibu dari nenek Miguel sewaktu masih kecil ditinggal ayahnya demi mengejar mimpi menjadi seorang musisi. Maka, mulai dari istri sang musisi – mama Imelda, turun ke anaknya yakni Coco, kemudian nenek Elena, sampai orang tua Miguel sangat menentang adanya musik dalam keluarga. Namun Miguel tidak menyerah menggapai mimpinya untuk menjadi musisi seperti musisi terkenal yang merupakan idolanya, Ernesto de la Cruz. Seorang bintang film/penyanyi popular yang terkenal pada masa Imelda. Konflik film ini bermula dari Miguel yang suatu hari merasa putus asa karena terancam tidak bisa ikut talent show pada perayaan Dia de Muertos (Day of the Dead) di kotanya karena gitar miliknya dirusak oleh neneknya sendiri, nenek Elena. Di hari yang sama, secara tidak sengaja Miguel merusak foto Imelda karena ulah anjingnya. Ia lalu menyadari bahwa suami Imelda dalam foto yang wajahnya dirobek memegangi sebuah gitar terkenal milik Ernesto. Dari sinilah Miguel menyimpulkan bahwa dia adalah cucu buyut dari Ernesto dan merasa pantas “meminjam” gitar milik Ernesto dengan mencuri dari pemakamannya untuk digunakan dalam

Identitas Film Judul Film Sutradara Produser Produksi Distributor Rilis

: Coco : Lee Unkrich : Darla K. Anderson : Pixar Animation Studios : Walt Disney Pictures : 24 November 2017 (Indonesia)

pertunjukkan tersebut. Anehnya, hal tersebut membuat Miguel tidak bisa dilihat oleh teman-teman dan orangorang yang berada disana, bahkan keluarganya. Sebaliknya, Miguel bisa dilihat dan berbicara pada keluarga/ leluhurnya yang sudah meninggal termasuk mama Imelda. Demi bisa kembali ke keadaan semula, Miguel mendapati syarat dari seorang ahli dalam Dunia Kematian bahwa dia harus mendapat persetujuan dari keluarganya yang sudah mati dengan/atau tanpa syarat apapun. Masalahnya, mama Imelda bersedia mengembalikan Miguel ke Tanah Hidup dengan syarat Miguel tidak boleh bermain/bergelut dengan musik lagi. Tidak mau menerima, Miguel

Pena Kampus/Edisi 103/Minggu IV/Juni/2018

mencari persetujuan ke keluarganya yang lain, yaitu Ernesto dimana tetap saja menjadi seorang idola banyak orang di kalangan orang-orang mati. Dengan bantuan orang asing yang ditemui Miguel. Hector bersedia membantu Miguel dengan catatan ketika sudah kembali ke Tanah Hidup, Miguel harus menaruh foto Hector di ofrenda agar tidak menghilang dan mati seutuhnya dari Dunia Kematian. Kemudian terjadilah konflik yang menegangkan ketika Miguel, Hector, dan Ernesto bertemu dalam satu tempat dan terungkap yang sesungguhnya bahwa Hectorlah leluhur Miguel, bukan Ernesto seperti yang disangkanya. Bahkan ada cerita pengkhianatan pada masa lalu antara Ernesto dan Hector yang berakibat kesalahan persepsi untuk keluarga Imelda. Perseteruan yang sangat menggugah emosi terjadi ketika semuanya mulai bertemu satu sama lain, termasuk Imelda. Hingga pada akhirnya Miguel dapat kembali ke Tanah Hidup dengan persembahan mama Imelda tanpa persyaratan apapun. Dengan linangan air mata, Miguel kembali ke Tanah Hidup dan langsung menyanyikan sebuah lagu “Remember Me” kepada Coco berharap agar Coco masih tetap mengingat Hector – ayahnya demi keberlangsungan jiwa Hector untuk masih tetap di Dunia Kematian. Karena Cocolah yang masih tetap “sedikit” mengingat Hector sampai acara Dia de Muertos tahun ini. Lagu itu memicu ingatannya semakin kuat akan Hector dan merevitalisasinya, dan dia memberikan Miguel sebuah foto yang tercabik dari ofrenda, yang menunjukkan wajah Hector. Elena berdamai dengan Miguel, menerima keduanya dan musik kembali ke keluarga mereka. Sampai satu tahun kemudian dan seterusnya, Miguel dengan bangga mempersembahkan keluarga ofrenda yang menampilkan foto Coco yang sekarang sudah meninggal kepada adik bayinya. Memajang foto Hector Bersambung ke hal. 12

11


Resensi

Miss My Coco

(Sambungan dari hal. 11)

Source: www.pixarpost.com_

berdampingan dengan mama Imelda serta surat-surat yang disimpan oleh Coco selama ini. Semua film tentu saja memiliki keistimewaan dan kekurangan. Film ini juga dirasa sangat spesial untuk ditonton bersama keluarga tersayang.

Film yang unik dan sangat mampu membuat penonton ikut merasakan gejolak emosi dalam film ini. Film yang dirilis di Mexico satu bulan lebih awal ini mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari para penonton. Menjadi film terbaik sepanjang masa di Mexico. Film ini sangat mampu membuat penonton tidak bisa menebak akhir ceritanya. Karena ketika awal film, penonton disuguhi keyakinan dan simpulan bahwa Ernestolah yang menjadi leluhur Miguel hingga wajar dia juga pantas menjadi musisi. Namun penonton justru dibuat terpana dan terkejut menjelang akhir film. Sebuah surprise bahwa ternyata hal yang tak diduga-duga, Hectorlah yang merupakan leluhurnya, orang asing yang baru ditemuinya di Tanah Kematian. Kejutan yang luar biasa dan tentu saja makna dari film ini sangat dalam. Bahwa keluarga adalah segalanya. Terbaik dan terpenting di atas segalagalanya tanpa ada prioritas yang lain.

Walau film ini sangat mampu membuat penonton jatuh cinta, namun ada saja kekurangan yang dapat ditemukan dalam sebuah film. Kekurangan yang dapat ditangkap dari film ini hanya sedikit, yakni kurangnya penjelasan yang mendukung istilah-istilah dan budaya Mexico yang dikeluarkan selama film ini berlangsung. Hingga penonton juga terkadang bingung maksud dari istilah-istilah itu. Namun, walaupun dirasa ada kekurangannya, namun film animasi ini sangat baik untuk ditonton semua kalangan, tidak memandang baik tua maupun muda. Film animasi ini tidak hanya diperuntukkan dan disuguhkan hanya untuk anak kecil saja, namun juga untuk para orang tua agar dapat mengerti dan memahami seperti apa tindakan yang pantas untuk sebuah keluarga.

Penulis: Karmila Zuriyatin Azri | *Anggota Divisi Litbang LPM Pena Kampus 2017/2018

Intermeso

12

Pena Kampus/Edisi 103/Minggu IV/Juni/2018

Newsletter Edisi 103 LPM Pena Kampus  

Pada terbitan edisi ke-103 ini, kami membahas beberapa isu seperti wisuda, beasiswa, dan POM, serta tulisan menarik lainnya berupa opini, re...

Newsletter Edisi 103 LPM Pena Kampus  

Pada terbitan edisi ke-103 ini, kami membahas beberapa isu seperti wisuda, beasiswa, dan POM, serta tulisan menarik lainnya berupa opini, re...

Advertisement