Page 1

Refleksi 1 Tahun Kinerja BEM & DPM

PENA KAMPUS FKIP UNIVERSITAS MATARAM

SURAT KABAR MAHASISWA

Newsletter LPM Pena Kampus Edisi 99

Wadah Gali Nurani Mahasiswa

Refleksi Akhir Tahun: Kinerja BEM dan DPM

Optimis Hasilkan Lulusan Berkualitas, Unram Berlakukan Tahun Pertama Bersama Mataram, Pena Kampus – Mulai tahun ajaran 2016/2017, Universitas Mataram memberlakukan kebijakan kuliah bersama, selama satu tahun pertama untuk setiap mahasiswa baru. Kebijakan tersebut sengaja dihajatkan sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas mutu lulusan. Meskipun demikian, banyak pihak yang meragukannya.

source: LPM Pena Kampus/brs v& hkm

Mataram, Pena Kampus – Sejumlah Ormawa mempertanyakan kinerja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tahun ini. Beriringan dengan hal tersebut, komunikasi merupakan alasan utama yang dinilai dapat mempengaruhi sistem kerja sama antara BEM dengan organisai mahasiswa (Ormawa) yang terdapat di bawahnya. Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), selaku badan legislatif yang mengatur jalannya kinerja BEM, juga dianggap memiliki kinerja yang kurang. Menyoal kejelasan program kerja DPM dan BEM FKIP DPM merupakan badan legislasi mahasiswa yang seharusnya mengedepankan asas demokrasi perwakilan (baca: mewakilkan aspirasi mahasiswa). Dalam konteks demokrasi tersebut, dijelaskan bahwa DPM menduduki beberapa fungsi, diantaranya adalah fungsi legislasi, fungsi pengawasan, fungsi anggaran serta fungsi advokasi. Fungsi-fungsi tersebut menjurus kepada sistem kinerja badan eksekutif di bawahnya, yakni

BEM. Setelah dua tahun vakum, akhirnya BEM dan DPM FKIP memiliki wajah-wajah pemimpin yang baru. Hampir satu tahun sudah kedua organisasi yang ‘sebenarnya’ menduduki jantung ormawa tersebut dihidupkan kembali dari mati surinya. Karena hal tersebut, maka tidak jarang masalah-masalah ‘klise’ akan bermunculan dan tumbuh seperti panu-panu mengganggu di sekujur badan kepengurusan BEM dan DPM.

“Kinerja masih kurang” Terkait kinerja, Zakaria (01/12) tidak menafik bahwa sesungguhnya masih terlalu banyak kekurangan selama masa kepengurusan yang kurang dari satu tahun selama ia menjabat. Akan tetapi, meskipun aroma ‘masih tertidur’ masih bisa tercium, setidaknya BEM sudah memberikan sebentuk sumbangsih kepada mahasiswa dalam beberapa kegiatan. BEM juga merasa masih kurang untuk

Pena Kampus/Edisi 99/Minggu I/Januari/2017

Bersambung ke hal. 6

Universitas Mataram (Unram) kembali meluncurkan kebijakan terbaru, yakni Tahun Pertama Bersama (TPB). Kebijakan TPB atau sering disebut dengan kuliah bersama ini berlaku di satu tahun awal perkuliahan. Seperti yang diungkapkan oleh Azra’I selaku staf administrasi kemahasiswaan TPB, hal ini merupakan inisiatif pihak universitas mataram, yang dicanangkan mampu menciptakan output produk yang berkualitas. Konsep dasarnya menciptakan mahasiswa yang produktif dan bermental pemberi solusi dan beraksi (aksi nyata,red). Sistem perkuliahan sendiri melibatkan seluruh dosen se-Unram. Selain itu Semua prodi mendapat mata kuliah dasar., dengan rincian tujuh mata kuliah. Pemangkasan Mata Kuliah dan Kuliah Lima Tahun Kendati pelaksaan TPB ini banyak menuai pro-kontra pihak Unram merasa optimis akan menghasilkan lulusan berkualitas dengan adanya TPB ini. Beberapa dosen mengeluhkan perihal sarana Bersambung ke hal. 5

1


Salam Redaksi Assalamualaikum warahmatullahiwabarokatuh. Puji syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kesempatan yang diberikan-Nya hingga diterbitkannya Newsletter perdana periode kepengurusan 2016-2017 edisi ke 99. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada salah seorang insan sempurna yang berpengaruh terhadap peradaban dunia yakni Nabi Muhammad SAW. Semoga dengan dibukanya jalan terang atas pengetahuan dunia ini olehnya, dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya. Dewasa ini melihat begitu viralnya perkembangan media informasi dan telekomunikasi tentu tidak sulit bagi setiap orang untuk mencari berita-berita terbaru dan aktual. Agaknya menarik jika kami mengajak pembaca news letter Pena Kampus untuk menyimak beberapa buah fikiran Eriyanto dalam bukunya Analisis Wacana (Pengantar Analisis Teks Media). Diungkapkan oleh Eriyanto bahwa ada sesuatu yang baru dalam diri Pers Tanah air beserta realitas simbolik yang di produksinya yang tidak lagi seperti dulu dalam diri publickkonsumen industri media kita. Namun di sisi lain ada sebuah

sistem yang belum bisa tersentuh oleh revolusi yakni basis sistem produksi teks-teks isi media yakni yang digerakkan oleh dinamika never-ending circuit of capital accumulation (atau sirkuit money-commodity-more money) dengan segala konsepnya yang merupakan hasil kombinasi rasionalitas formal dan substansif. Sehingga saat ini konsumen industri pers kita walaupun tak lagi wajib menonton suatu laporan khusus—seperti pada zaman orde baru—namun masih tetap “wajib” menyaksikan iklan sampo, telenovela, dan sejenisnya. Oleh sebab itu mahasiswa, buruh, dan petani kita harus melakukan aksi demo yang porakporanda agar protes mereka memiliki “nilai berita” setara gosip selebriti yang memperoleh akses ke media. Penggalian kembali dinamika sistem produksi serta rasionalitas yang berlaku dalam industry pers mereproduksi konsepsi “Kita” dan “mereka” dapat dicerminkan melalui beberapa berita yang tengah hangat di media seperti aksi demo 411 hinga 212, dan sebagainya. Secara sadar kita memang memilih sendiri teks apa yang ingin kita konsumsi dan bagaimana

teks-teks tersebut dimaknai. Juga, akan selalu ada idealisme di ruang-ruang redaksi, sehingga akan selalu cukup tersedia jurnalis yang mampu merepresentasikan realitas dalam kemasan teks yang mereka pilih sendiri. Baik konsumen ataupun jurnalis professional masing-masing memang punya kuasa atas teks. Namun perlu dibahas tentang adanya kuasa atas teks dengan kuasa atas struktur di dalam mana teks dikonstruksi, dipresentasi, dan dimaknai. Maksudnya adalah pilihan yang dijatuhkan oleh konsumen ataupun orang yang memproduksi sebuah teks tidak pernah lepas dari sistem kekuasaan. Bercermin dari hal yang mengekang pers umum (Publik) tersebut, Pena Kampus sebagi salah satu Lembaga Pers Mahasiswa yang mengemban amanah untuk tetap berada di jalur pers bebas bertanggung jawab yang lepas dari tudung korporasi, tentu mempunyai tugas besar dalam proses pemberitaan. Berusaha untuk tetap cover both side bukanlah suatu yang mudah untuk dilaksanakan. Tekanan demi tekanan baik dari luar maupun dari nurani sendiri merupakan

sebuah tantangan tersendiri bagi kawan-kawan yang berproses di dalamnya. Untuk itu terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran dan pihak-pihak yang mendukung perjalanan kami selama ini. Akhir tahun 2016 ini mari kita sama-sama jadikan sebagai ladang untuk merefleksikan segala bentuk perbuatan di tahun-tahun yang lalu. Berproses adalah bagian dari kehidupan. Kami yang ada di dalam sini (Kampus Putih) adalah bibit-bibit penggerak masa depan bangsa. Oleh karenanya sudi kiranya tuan-tuan bertangan besi tak berupaya mematikan kami dengan menimbun, mencabut, dan membakar semangat idealisme kami selama dalam proses pencarian ini. Harapan kami agar” tiada orang tua yang membunuh calon bakal anaknya”. Kritik-kritik yang kami layangkan tidaklah lebih sebagai bentuk keaktifan dan kepedulian kepada kampus tercinta. Akhir kata, semoga apa yang kami tulis dapat bermanfaat bagi kemajuan kita bersama. Wassalam. Salam Pers Mahasiswa !

bahasa yang lugas. Hal yang menjadi sorotan dalam news letter 99 kali ini adalah peran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Sebagai salah satu organ yang sangat urgen dalam kelangsungan kehidupan organisasi kampus, BEM memegang peranan yang sangat besar. Salah satu peran penting yang sangat dibutuhkan mahasiswa adalah sebagai penghubung dengan birokrasi.

Dalam perjalanannya, BEM di FKIP masih terbilang jauh dari harapan seperti yang diungkapkan oleh beberapa mahasiswa. Namun di sisi lain dukungan BEM terhadap kebijakan birokrasi terlihat telah maksimal. Peran dan fungsi BEM sebagai perwakilan mahasiswa pun mulai dipertanyakan. Karena harapan sebagai penyampai aspirasi mahasiswa belum secara eksplisit terpenuhi. Hal ini tentu perlu diperje-

las di tahun-tahun berikutnya. Terkhusus dalam jangkauan sejauh mana BEM harus melangkah diantara Mahasiswa dan juga birokrarsi. Sebagai bentuk perbaikan bagi kelangsungan pemikiran kritis dan hubungan yang sehat antara mahasiswa dengan birokrasi yang selama ini selalu terlihat bertentangan di lingkungan kampus putih tercinta.

Tajuk Dalam buletin edisi 99 kali ini yang bertepatan dengan tahun baru 2017 kami menerbitkan beberapa hal mengenai refleksi akhir tahun 2016 lalu. Hal yang menjadi menarik dalam penerbitan Pena Kampus beberapa bulan terakhir ini adalah adanya rubrik intermezo yang berisi karikatur. Dengan adanya sedikit warna tersebut tentu harapan kami apa yang menjadi urgensi pemberitaan dapat tersampaikan dengan

Pengurus LPM Pena Kampus 2016/2017

2

Pelindung: Tuhan Yang Maha Esa; Penasihat: Alumni LPM Pena Kampus; Pembina: Drs. Mochammad Asyhar, M.Pd.; Pemimpin Umum: Baiq Hikmatul Hasanah; Sekretaris Umum: Ahmad Afandi; Bendahara Umum: Nanda Dwi Paramita Hadi; Pimpinan Redaksi: Baiq Rosdiana Susanti; Sekretaris Redaksi: Idawati; Redaktur Pelaksana: Aryanah Hilman, I Gusti Ayu Rizki Indrayani; Koordinator Liputan: Abdul Goni Ilman Kusuma, Mardianti; Layouter: Wazi Fatinnisa; New Media: Fitriyana Handayani, Baiq Natasya Ayu Pradia; Koordinator Mading: Muhammad Apriyandi, Karmila Zuriatin Azri; Litbang: Qoimatun Nisa, Sri Martin, Baiq Haula, Furqan; Humas: Rina Rabiah, Chairunnisa, Ahmad Viqy Wahyu R.; Rumah Tangga: Atriadi, Dewi Ayu Tri Anjani; Perusahaan: Siti Rohmani, Siti Hartina Hariati, Tika Anita;

Pena Kampus/Edisi 99/Minggu I/Januari/2017


Suara pembaca Segerakan Pembangunan Parkiran

Pembangunannya gedung-gedungnya sudah

mulai lama, bangku-bangkunya banyak yang kurang,

Tingkatkan Pelayanan Administrasi

Pelayanan Kepada mahasiswa FKIP khususnya

untuk bagian administrasi perlu ditingkatkan!

fasilitasnya kurang memadai.

Hardiyanti Putri

Tambahin AC di setiap ruangan, parkiran-

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Semester III

nya dong cepetin diselesaikan. Tiap kelas harusnya ada sapu dan tempat sampah supaya mahasiswanya

Satpam Nggak Telaten!

juga bersihin kelasa biar petugasnya tidak lelah. Keamanannya ditingkatkan biar tidak banyak maling, pemuling, dll.

Kampus FKIP masih kurang rapi. Satpamn-

ya nggak telaten menjaga motor. Anak Agung & Delya P.A Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Semester V

FKIP kamar mandinya bau, kotor. Sampah berserakan, suka banjir.

Tolong satpamnya lebih baik lagi dalam

menjaga keamanan kampus karena pengemis banyak yang masuk ke kampus. Wanda Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Semester XI

Kamar mandinya diperbaiki, parkiran cepat diselesaikan. Sampah lebih dibersihkan lagi. Bangku diganti. Ni Putu Wiwik Pratiwi Mahasiswa Pendidikan Matematikan Semester III

Irigasi Ditangani! Kebersihan dan irigasi ditangani biar mahasiswa tidak banyak mengeluh/protes! Retno Puji Setiawati

Pojok Pena + FKIP membangun - Pembangunannya udah tepat sasaran nggak sih? Kita kan masih kekurangan fasilitas di kelas. + UKT di Unram mahal, euy! - Drainase kapan diupgrade? + Unram berlakukan aturan berseragam - Mahasiswa atau kelas 13 SMA? + Desember musim hujan, FKIP banjir! - Kolam ikan lagi. Mancing, nteh!

Pena Kampus/Edisi 99/Minggu I/Januari/2017

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Semester I

Salam Persma! Redaksi LPM Pena Kampus FKIP Unram menerima tulisan berupa opini, artikel, suuara pembaca, cerpen, puisi , dan resensi. Tulisan tidak mengandung SARA dan belum diterbitkan di media mana pun. Kirim tulisan ke redaksi LPM Pena Kampus FKIP Unram di gedung UKMF, Jl. Majapahit 62 Mataram. email : penakampus97@gmail.com facebook : LPM Pena Kampus FKIP Unram twitter : @LPMPenaKampus blog : lpmpenakampus.blogspot.com

3


BERITA

Dipandang Sebagai Terobosan, Wisuda Satu Kali Setahun Tetap Dilanjutkan kahan, wisuda itu adalah resepsinya.” Ungkap WR I.

source: hipwee.com

Mataram, Pena Kampus — Wisuda satu kali setahun tetap dilanjutkan. Lamanya rentang waktu yudisium dengan wisuda membuat sebagian mahasiswa khawatir mengenai pemberian ijazah dan transkrip nilai. Adanya retribusi parkir menjadi salah satu kekurangan wisuda Oktober 2016 silam. Wisuda merupakan proses akhir dalam rangkaian kegiatan akademik pada perguruan tinggi yang merupakan tanda pengukuhan atas selesainya studi. Pada tahun-tahun akademik sebelumnya, Universitas Mataram (Unram) membagi pelaksanaan wisuda sebanyak empat kali dalam setahun, yakni pada Desember, Maret, Juni, dan September. Rencana wisuda satu kali setahun ini telah dibicarakan dalam Rapat Kerja Universitas (RKU) dan telah disetujui oleh peserta rapat. Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor (WR) I, L. Wirasapta Karyadi kepada tim Pena Kampus pada April 2016 lalu. Untuk pertama kalinya pada minggu akhir Oktober 2016 kemarin, kebijakan wisuda satu kali setahun mulai diberlakukan sesuai dengan

4

kalender akademik Unram tahun 2016/2017. Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Rektor Universitas Mataram Nomor: 2895/UN18/ HK.00.01/2016 tentang kalender akademik Unram tahun akademik 2016/2017. Ijazah dan Transkrip Nilai Tetap Diberikan Salah satu mahasiswa program studi bahasa inggris, Zuhairiah beranggapan bahwa wisuda satu kali setahun sama halnya dengan membuat mahasiswa tersendat dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena ijazah dan transkrip nilai diberikan ketika wisuda. Menanggapi hal tersebut, Wakil Dekan (WD) I FKIP, Zulkifli menjelaskan bahwa pelaksanaan wisuda satu tahun sekali telah menjadi keputusan dan akan terus berlanjut.

“Mahasiswa akan tetap diberikan haknya, terutama mengenai transkrip nilai, ijazah, dan surat keterangan lulus. Hanya saja kami tidak memberikan aslinya, tetapi fotocopy yang telah dilegalisasi sehingga sama kuat dengan aslinya.” tandas WD I pada Rabu (7/12). Pemberian fotocopy ijazah dan transkrip nilai tidak langsung diberikan ketika yudisium menimbang lamanya proses pengesahan dokumen tersebut. “Kita hanya berikan yang meminta saja,” tambah Zulkifli. Dalam kalender akademik tahun 2016/2017 pelaksanaan yudisium tetap dilakukan sebanyak empat kali, yakni pada September, Januari, Maret, dan Juli. “Yang penting itu kapan yudisium bukan wisudanya. Karena di situ penentuan terakhir kelulusan. Wisuda itu hanya pesta, ibaratnya perni-

Terkesan Dipaksakan Salah satu mahasiswi yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan pendapatnya mengenai kebijakan wisuda satu kali setahun. Ia beranggapan bahwa pelaksanaan wisuda satu kali setahun tidak berbeda dengan wisuda berperiode. ”Pelaksanaannya terkesan dipaksakan,” ungkapnya. Hal tersebut diungkapkannya melihat pelaksaan wisuda yang dilaksanakan oktober lalu dengan dirangkaikan dengan Dies Natalies Unram, berlangsung kurang kondusif. Mulai dari tata letak parkiran yang tak beraturan, serta padatnya stan-stan foto, pedagang kaki lima yang memenuhi badan jalan. Pendapat berbeda diungkapkan Wirasapta. “Itu kita pandang sebagai suatu terobosan. Tidak hanya wisudanya saja, tapi kita juga padukan dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Kita undang beberapa perusahaan yang kira-kira akan merekrut tenaga kerja lulusan perguruan tinggi.” jelas Wirasapta. Wisuda tiga hari berturutturut pada 24-26 Oktober lalu merupakan rangkaian acara perayaan Dies Natalis Unram. Acara tersebut juga diisi dengan job fair, bazar buku, jalan santai, bahkan masyarakat umum pun diperbolehkan “menjelajahi” Unram selama perayaan berlangsung. Retribusi Parkir Euforia wisuda satu tahun sekali yang dianggap sebagai terobosan ini ternyata memiliki beberapa celah untuk dijadikan ladang pungutan liar

Bersambung ke hal. 6

Pena Kampus/Edisi 99/Minggu I/Januari/2017


BERITA Optimis Hasilkan Lulusan Berkualitas, Unram Berlakukan Tahun Pertama Bersama (Sambungan dari hal. 1) dan prasarana yang hanya difungsikan pada awal perkuliahan saja, dianggap tidak sesuai dengan sosialisasi saat perencanaan TPB. Selain itu mahasiswa semester atas juga merasa dirugikan karena beberapa mata kuliah dihilangkan. Ketika ditanyai perihal isu adanya pemotongan mata kuliah, Azra’i mengungkapkan bahwa hal tersebut sudah dipikirkan konsekuensinya oleh berbagai ahli yang hadir pada saat rapat persetujuan. Tidak hanya Unram, beberapa universitas lain juga merintis hal yang sama. “Tidak ada yang harus di rugikan” ungkapnya. Hal tersebut dibenarkan juga oleh salah seorang dosen yang mengajar di TPB yaitu Moch. Asyhar, tidak ada pemangkasan mata kuliah melainkan perapingan jumlah sks untuk beberapa mata kuliah yang dianggap tidak terlalu urgent. Selain itu, beberapa mata kuliah yang dihilangkan telah diganti dengan mata kuliah baru yang dianggap lebih relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Ketika ditanyai perihal adanya isu kuliah lima tahun, Asyhar menambahkan hal tersebut memang telah direncanakan oleh pemerintah yang akan dicantumkan dalam sebuah kurikulum terbaru untuk perguruan tinggi yaitu Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia Rencananya akan ada 140-150 SKS yang akan ditempuh selama 8-10 semester. Akan tetapi, aturan tersebut belum diterapkan. Kewajiban Berseragam Kebijakan TPB ini semakin menuai pro dan kontra lantaran dikeluarkannya peraturan menggunakan seragam hitam putih untuk mahasiswa/ mahasiswi baru ketika mengikuti kuliah umum selama dua semester. Peraturan tersebut dikeluarkan oleh pihak Rektorat Unram atas dasar kesepakatan bersama dari masing-masing fakultas yang ada di Unram. Alasan dikeluarkannya peraturan terse-

Source: LPM Pena Kampus/sr

but, untuk mengembangkan karakter mahasiswa. Khusus hari jumat dan sabtu, mahasiswa baru boleh memakai pakaian bebas, rapi, dan sopan. Peraturan ini diputuskan untuk menghindari sikap jorjoran cara berpakaian sopan santun mahasiswa, dan agar lebih mengenal satu sama lain antarsesama mahasiswa baru. Menurut Wayan selaku kepala GKB, Kamis (08/12) ketika ditemui di ruangannnya mengungkapkan hal tersebut memang bertujuan untuk mendisiplinkan mahasiswa dalam hal berpakaian. “Kebijakan itu lebih bertujuan untuk penanaman kedisiplinan, kesopanan, dan kerapian dalam berpakaian, selain itu aturan pemakaian seragam ini juga diberlakukan untuk menjaga dan memelihara momentum pendidikan karakter serta saya tidak mau tahu semua mahasiswa baru harus mengikuti peraturan yang dibuat,” ujarnya. Hamdan, selaku satpam yang bertugas di TPB mengatakan, bahwa peraturan ini memiliki dampak postif bagi satpam untuk membedakan mahasiswa baru dan lama guna mengontrol mahasiswa untuk parkir, meskipun ia juga mengaku kewalahan mengatur lokasi parkir di sekitar GKB. Ia juga menambahkan bahwa. “Kegiatan kuliah umum ini juga belum 100% bisa ber-

jalan dengan baik, kami sangat kualahan memandu mahasiswa saat parkir kendaraan mereka, karena lokasi parkir yang sangat sempit dan jumlah mahasiswa yang begitu banyak.” Mahasiswa Merasa Dirugikan Namun, peraturan yang dikeluarkan oleh pihak kampus tersebut dianggap merugikan hak mahasiswa. Ada pun sanksi yang diberikan jika mahasiswa/mahasiswi tidak mematuhi aturan tersebut yaitu denda, surat peringatan, dan dikeluarkan dari kelas ketika perkuliahan sedang berlangsung. Salah satu mahasiswa yang pernah dikeluarkan yaitu Baiq Nadia Dwi Lestari, karena kedapatan tidak menggunakan seragam hitam putih, Dwi selaku mahasiswa Fakultas Hukum Unram, setelah dikonfirmasi pada (10/12), ia mengaku pernah diusir oleh salah seorang dosen yang sedang mengajar dikelasnya pada, rabu 01/11 tepatnya pukul 08.00. Wita. Ia dikeluarkan lantaran tidak menggunakan seragam hitam putih seperti temanteman kelasnya yang lain, dan dikenakan sanksi denda sebesar Rp 10.000,.”ungkapnya. Tindakan yang diambil oleh dosen tersebut, membuat mahasiswa merasa dirugikan, “Padahal kami sudah membayar UKT dan uang semester,

Pena Kampus/Edisi 99/Minggu I/Januari/2017

tetapi mengapa kami harus membayar uang denda lagi”, ujar salah seorang rekan Dwi. Bercermin pada kasus tersebut, dosen diharapkan dapat memberi peringatan atau teguran terlebih dahulu atas pelanggaran tersebut kepada mahasiswa yang bersangkutan. Sehingga mahasiswa tidak merasa di justifikasi secara langsung. Walaupun kelihatannya sepele, tetapi mengandung implikasi moral yang serius. Apa alasan pembenar, bagi seorang dosen ketika mengusir mahasiswa/mahasiswi dari kelas karena tidak menggunakan seragam hitam putih. Dalam artian bahwa, apakah jika mahasiswa tidak menggunakan seragam sangat merugikan kepentingan mahasiswa lain di dalam kelas. Kendati begitu, berbeda halnya dengan pendapat Dwi salah satu mahasiswa baru Fakultas Hukum, mengaku tidak keberatan perihal penggunaan seragam hitam-putih tersebut. Menurutnya hal tersebut adalah sesuatu yang menguntungkan mahasiswa karena tak perlu sibuk memilih dan mencuci pakaian. “Saya sih senang-senang saja menggunakan seragam seperti itu karena tidak lelah untuk mencuci” Ungkap Nadia (10/12/16). (dew/adi/ans/yos)

5


BERITA Refleksi Akhir Tahun: Kinerja BEM dan DPM

(Sambungan dari hal. 1)

menjalankan fungsinya sebagai pemberi naungan bagi semua ormawa yang ada di kampus. DPM selaku dewan yang memiliki hak pengawasan terhadap kinerja BEM, juga menuturkan bahwa DPM selama ini belum mampu membawa perubahan apapun. “kendala terbesar yang dihadapi adalah waktu untuk pertemuan rapat, perlu adanya kolaborasi antara anggota yang dari reguler pagi dan reguler sore agar bisa berjalan bersama, karena masalah waktu yang membuat saya sedikit kebingungan dalam menentukan waktu yang pas untuk kumpul semua” tutur Jamiludin selaku ketua DPM. Lagi-lagi, waktu menjadi alasan terhambatnya komunikasi. “Karena masalah waktu inilah yang membuat pertemuan menjadi sedikit terganggu dan proker yang

sudah disusun hanya sedikit yang berjalan. Serta keterlambatannya untuk dilantik yang membuat BEM dan DPM telat bergerak,” imbuh Jamil. Ihsan, salah satu anggota UKMF Mapala ketika ditemui di sekretariatnya, berpendapat bahwa BEM pada kepengurusan tahun ini tidak berani mengambil tindakan yang pro terhadap mahasiswa. Hal ini Ihsan jelaskan dengan menggambarkan pembangunan FKIP yang amburadul yang kemudian hanya didiamkan oleh BEM. “Mungkin ya, jiwa kritisnya untuk di ranah BEM sendiri mungkin sudah terkikis oleh jaman” ungkap Ihsan. Ihsan mengharapkan BEM, selaku badan eksekutif untuk dapat menyampaikan aspirasi untuk menemukan solusi yang diinginkan oleh mahasiswa dan peka terhadap isu-isu

yang berkembang di wilayah kampus. Kendati beredar isu adanya pengeksklusifan diri dari ormawa-ormawa yang lain BEM dan DPM tetap berjalan meskipun menuai banyak kritik dari Ormawa. Rahmat, selaku ketua UKMF Musik menuturkan bahwa BEM selama ini masih kurang mampu mendekatkan diri terhadap mahasiswa yang sekiranya mempunyai aspirasi serta keluhan-keluhan terkait sistem kampus. Menanggapi hal tersebut, Jamil menegaskan bahwa BEM dan DPM selalu membuka diri. Bahkan seharusnya, jelas Jamil, harus ada hubungan timbal balik antara BEM dan DPM dengan teman-teman ormawa yang lain. “Kami tidak pernah menutup diri, kami tetap menginfokan semampu kami jika

info itu untuk mahasiswa dan ormawa dan di samping itu, kami tidak hanya milik ormawa, akan tetapi kami adalah perwakilan dari semua mahasiswa FKIP,” ungkap Jamil. Berbagai harapan muncul mengenai kehadiran BEM dan DPM yang akan datang. Wira Widyaswara, mantan anggota BEM tahun 2013/2014 berharap agar BEM dapat aktif kembali, serta dapat menunjukkan fungsinya sebagai badan eksekutif mahasiswa. Harapan serupa juga dikemukakan Arman, salah satu anggota UKMF Teater Putih mengungkapkan agar kinerja BEM harus lebih ditingkatkan lagi serta dapat komunikatif dengan mahasiswa. (fan/nik/tin/at)

Dipandang Sebagai Terobosan, Wisuda Satu Kali Setahun Tetap Dilanjutkan

(Sambungan dari hal. 4)

oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Tim pena kampus yang mendapat laporan dari salah satu wisudawati, Siti Nurwahidah yang dimintai retribusi parkir motor sebesar Rp 2.000. Meski sempat bersikeras tidak ingin membayar karena masih merasa berstatus

sebagai mahasiswa, namun oknum satpam yang memintai retribusi tidak peduli dengan pembelaannya. Ditanyai mengenai retribusi parkir yang dimintai oleh oknum satpam, WD I tidak mengetahui perihal peristiwa tersebut. “Mungkin itu yang

menjadi kekurangan kita, karena terlalu banyak orang,” terang WD I. Ia mengaku tidak ada kebijakan dari universitas terkait retribusi parkir. Hal sama juga diungkapkan WR I. “Tidak pernah ada ketentuan dari Universitas dengan sengaja membuat

kebijakan penarikan uang parkiran. Hal itu merupakan ulah oknum yang tidak bertanggung jawab.” tegasnya saat dimintai keterangannya pada Kamis (8/12). (sr/ji’/tik/nan)

Iklan

6

Divisi Perusahaan LPM Pena Kampus menjual berbagai macam aksesoris handphone. Bagi kalian yang mau update aksesoris gadget, bisa cek di grup facebook kami, Pena All Shop Mataram

Pena Kampus/Edisi 99/Minggu I/Januari/2017


Opini

BEM dan DPM: Tumpulnya Ujung Tombak Mahasiswa yang baru, sehingga semangat perjuangan itu tidak bisa terus eksis. Tongkat estafet perjuangan itupun terhenti di tengah jalan dan belum sempat diterima. Tumpulnya BEM dan DPM sekarang ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada para pengurus yang sekarang, tapi ini juga tidak lepas dari kurangnya pengawasan dari pengurus yang sebelumnya. Di saat pengurus yang sekarang ini bingung bertanya pada siapa ataupun malu, seharusnya disinilah mahasiswa yang sebelumnya pernah menjadi dan berada pada lingkup itu hadir untuk memberi pandangan apa dan bagaimana Ilustrasi: M. Apriyandi

Dibentuknya kembali Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (DPMF) yang sempat dibekukan selama dua tahun berasa angin segar untuk mahasiswa dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram (Unram). Ujung tombak untuk meruntuhkan kebijakan-kebijakan yang menjerat kebebasan berorganisasi mahasiswa. Seperti diberlakukannya jam malam, yang ikut organisasi harus IP 3,00, minimal semester tiga, maksimalnya semester enam, dan kebijakan lainnya. Namun lebih dari setengah periode kepengurusan, belum ada yang berubah. Situasinya masih tetap sama seperti sebelum BEM dan DPM FKIP ini terbentuk, perubahannya hanya ada sekretariat atas nama BEM dan DPM FKIP tempat mahasiswa berkumpul dan bercanda gurau disela-sela jam kuliahnya. Kebijakan yang

menjerat bukannya berkurang malah bertambah. BEM dan DPM yang diharapkan bisa membuat keyakinan ormawa semakin kuat dan percaya akan harapan diberikannya kebebasan dalam berorganisasi bisa terwujud, malah sebaliknya yang terjadi. Harapan itu kini hanya sebatas harapan yang mengendap diangan-angan. Dan sampailah kita pada pertanyaan, apa yang salah dengan BEM dan DPM yang sekarang dibandingkan yang dulu? Yang dalam sejarahnya BEM terdahulu pernah berhasil merebut uang Iuran orang tua mahasiswa (Ioma), dan dipegang langsung oleh BEM untuk pengalokasiannya. Mungkin inilah yang disebut generasi ahistoris, generasi yang tercabut dari akar sejarahnya. Sehingga kehilangan pijakan untuk terus melangkah. Konsolidasi dan advokasi pun hanya ada dalam cerita mereka yang dulu. Hilangnya BEM dan DPM selama dua tahun membuat pengurusnya yang baru kebingungan dan ti-

dak tahu arah, sekarang hanya meraba-raba kemana arah dan tujuannya., melayang-layang tanpa pijakan dan pondasi yang jelas dan kuat. Bukan bermaksud untuk menjatuhkan, karena jika kita coba menanyakan kinerja BEM dan DPM FKIP ke mahasiswa, sebagian mungkin akan mengerutkan dahi, bingung mau mengatakan apa atau bahkan masih ada yang tidak tahu fungsi BEM dan DPM FKIP itu sendiri. Sebagian mahasiswa mungkin memang tidak tahu tentang itu, karena setelah dibekukan, mahasiswa baru tidak pernah tahu bahwa dulu ada organisasi seperti BEM dan DPM ini. Kalaupun ada yang tahu, itu karena diceritakan oleh seniornya yang sudah sempat merasakan keberadaannnya. Mahasiswa yang tahu dari cerita hanya bisa membayangkan saja. Namun semangat perjuangan mahasiswa terdahulu tidak sampai dan tidak sempat menggetarkan sanubari mahasiswa

Pena Kampus/Edisi 99/Minggu I/Januari/2017

“

Api perjuangan itu belum mati selama masih ada mahasiswa yang mempunyai keinginginan untuk menegakkan kebenaran dan mau belajar.

“

cara mengatasi masalah-masalah sekarang ini. BEM dan DPM yang sekarang terlihat seperti mengisi sekretariatnya jika ada waktu luang dari proses perkuliahannya, kemudian pulang saat tidak ada lagi rutinitas perkuliahan. Tidak ada diskusi ataupun konsolidasi dengan ormawa lainya mengenai kebijakan atau isu-isu baru yang nanti akan merugikan mahasiswa. Sedangkan yang sudah punya pengalaman dan pernah berada pada lingkup itu

Bersambung ke hal. 8

7


BEM dan DPM: Tumpulnya Ujung Tombak (Sambungan dari hal. 7)

sibuk mengkritik BEM yang sekarang, tapi lupa memberikan arahan saat yang baru ini sedang kebingungan. Seperti kata pepatah, ‘nasi sudah menjadi bubur’, paling tidak kejadian seperti ini jangan sampai terulang dan menjadi evaluasi bersama untuk mengatasinya. Situasi sekarang ini juga adalah hasil dari kebijakan yang tidak pro mahasiswa. Ketua BEM dan DPM yang terpilih baru semester tiga, masih belum matang dan belum siap untuk berada pada posisi sekarang ini. Terlalu cepat untuk berada pada posisi tertinggi. Berbekal dengan pengalaman organisasi yang minim dan masih proses belajar dalam organisasi. Dan BEM ataupun DPM, apalagi sekelas ketua bukanlah tempat yang tepat dalam proses belajar berorganisasi. Agent of Change Jangan sampai keadaan

ini terus dibiarkan terjadi, karena daya kritis mahasiswa akan mati secara perlahan oleh kebijakan-kebijakan yang terus menjerat kebebasan mahasiswa, seperti yang diinginkan oleh birokrasi melalui kebijakannya. Mahasiswa akhirnya menjelma menjadi kaum fundamentalis, yang hanya menerima tanpa pernah berani mempertanyakannya. Tidak jauh berbeda dengan siswa pada Sekolah Dasar (SD), yang ketika dijelaskan mengangguk dan mengamini semuanya. Predikat agen perubahan (agent of change) yang sudah lama melekat pada mahasiswa harus dipertanyakan kembali. Bagaimana tidak, melihat situasi dan kondisi sekarang ini. Bukannya melakukan perubahan, malah kita sebagai mahasiswa yang semakin lama diubah oleh birokrasi. Didoktrin supaya cepat selesai kuliah dan mendapat pekerjaan, seolah

kuliah hanya untuk mendapat gelar lalu bekerja. Selesai sampai disitu. Mahasiswa diarahkan untuk berpikir pragmatis. Hingga lupa dengan tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Lupa dengan tugasnya sebagai kaum yang terpelajar. Itulah pentingnya mengapa mahasiswa tidak boleh lepas dari akar sejarahnya, supaya tidak tergerus oleh arus berfikir yang pragmatis. Apalagi sampai melupakan bagaimana mahasiswa dulu meruntuhkan orde lama dan orde baru. Semuanya adalah gerakan mahasiswa yang kritis. Dan jangan sampai mahasiswa dilemahkan oleh budaya hedonisme, sibuk nongkrong memenuhi cafe dan pusat perbelanjaan, sedangkan lingkaran diskusi semakin sepi dan ditinggalkan.

lainnya pergi studi banding ke Universitas Negeri Yogyakarta (UNS) dan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). Tentunya ini bukan untuk pergi jalanjalan, tapi mengasah tombak menjadi tajam dan kritis untuka meruntuhkan kebijakankebijakan yang tidak sesuai itu. Dan sekarang kita menunggu gebrakan apa yang akan dilakukan oleh BEM dan DPM setelah pergi melakukan studi banding. Lalu mengaplikasikan apa yang didapatkan dari pulau Jawa, untuk mahasiswa FKIP Unram ini nantinya. Karena saya sendiri percaya, bahwa api perjuangan itu belum mati selama masih ada mahasiswa yang mempunyai keinginan untuk menegakkan kebenaran dan mau belajar.

Penulis: Abdul Goni Ilman Kusuma* Menunggu Gebrakan *Koordinator Liputan LPM Beberapa waktu lalu BEM, Pena Kampus 2016/2017

DPM, beserta delegasi ormawa

Intermezzo

Segenap keluarga besar LPM Pena Kampus FKIP Unram mengucapkan

Selamat Tahun Baru 2017 8

Pena Kampus/Edisi 99/Minggu I/Januari/2017


Sastra

#Cerpen Gadis itu lagi. Dia selalu saja melihatku diam-diam dari balik buku tebal yang selalu dibawanya. Apa dia menghabiskan seluruh harinya untuk membaca buku setebal itu? Jangan minta aku untuk membacanya, melihatnya saja sudah membuatku mengantuk. Ah iya, gadis itu juga sering berjalan di belakangku, mengikutiku dan berpura-pura menuju perpustakaan. Rambut sebahunya yang tipis itu kadang tertiup angin dan menutupi wajah pucatnya. Alih-alih terlihat cantik seperti dalam film yang aku tonton, dia malah terlihat menakutkan. Dia terlihat seperti manekin yang hidup. Dia juga selalu tersenyum saat tak sengaja mata kami bertemu. Ralat, sebenarnya dia selalu tersenyum jika melihatku. Aku yakin itu. Orangorang selalu melihatnya dengan tatapan aneh karena kulit pucatnya dan dia tahu itu. Dia seakan tidak peduli dan tetap tersenyum. Satu hal lagi, semua orang tahu jika gadis itu menyukaiku dan itu memaksaku untuk ikut tahu. “Aku menyukaimu,” katanya suatu sore padaku di taman kota, saat akhirnya setelah sekian lama hanya mengikuti dan memandangiku dari jauh, hari ini dia tiba-tiba saja mengungkapkan perasaannya. Saat itu musim gugur, tumpukan daun maple disekitar kami tiba-tiba saja tertiup angin. Mungkin terdengar tidak masuk akal tetapi memang seperti itulah suasana saat itu. “Aku menyukaimu, sungguh.” Dia mengulanginya lagi, kali ini dia menambahkan kata sungguh untuk menegaskan perkataannya. “Aku sudah tahu, Nona.” Sebuah daun maple mendarat dengan manis di ujung sepatu berwarna hitam yang menutupi kaki mungil gadis itu. “Tetapi kalau kau tidak keberatan, aku tidak menyukaimu.” Aku masih ingat bagaimana matanya membuka lebar ketika mendengar jawabanku. Gadis itu pasti tidak siap dengan jawaban kejam yang aku berikan. Satu detik, dua detik, dia tidak berkata apapun. Jika aku menjadi

A Lie

“kalau kau tidak keberatan, aku akan tetap menyukaimu.”

source: id.pinterest.com gadis itu, sudah sedari tadi aku berlari menjauh, oh, tentunya setelah menampar seseorang yang dengan mudahnya menolak pernyataan cinta dariku. Tetapi dia masih disini. Dia masih berdiri di depanku. Dengan tatapan yang sama. Dengan sebuah daun maple yang sama di ujung sepatu hitamnya. Dan dengan senyum yang sama. Dia tersenyum? Kenapa tersenyum? Kau benar-benar membuatku menjadi tokoh antagonis dalam cerita ini. “Kalau kau juga tidak keberatan, aku akan tetap menyukaimu.” Kali ini aku yang tidak siap dengan respon yang diberikan oleh gadis itu. Aku menatap bola mata sepekat jelaga miliknya, wajahnya semakin pucat dari hari ke hari. Kemana perginya darah milik gadis ini? Apa dia sakit parah? Kenapa wajahnya sangat pucat? “Berhentilah menyukaiku.” Aku beranjak meninggalkannya dengan angin yang semakin kuat berhembus. Jika dia cerdas seharusnya dia juga langsung pergi dari sini, angin ini bisa membuatnya flu. Aku tidak mau disalahkan jika wajah pucatnya nanti dihiasi dengan hidung kemerahan yang terus-menerus bersin. “Aku menyukaimu,” katanya lagi. “Aku menyukaimu.” Kali ini sedikit

Pena Kampus/Edisi 99/Minggu I/Januari/2017

lebih keras disuarakannya. “Aku menyukaimu!” oh astaga dia bahkan bisa berteriak selantang itu. Semoga tenggorokannya tidak sakit setelah ini. Sekali lagi, aku tidak mau disalahkan jika wajahnya menjadi semakin pucat dengan hidung kemerahan ditambah suara serak. Jadi, aku tidak peduli, tidak perlu berhenti melangkah. Aku sudah bilang padanya kan untuk tidak menyukaiku. Itu solusi terbaik yang seharusnya didengarkannya. “Aku menyukaimu...” ucapnya sekali lagi, tidak selantang tadi tapi aku masih bisa mendengarnya. Dan kali ini dilengkapi dengan kesedihan. Oh … aku benci perempuan yang menangis. Hari ini tepat dua minggu sejak kejadian dimana aku menolak gadis pucat itu dengan kejamnya. Dan tepat dua minggu juga aku tidak melihat gadis itu lagi dengan buku tebalnya. Aku juga tidak melihat ada orang yang berpura-pura ke perpustakaan hanya untuk mengikutiku. Apa aku terlalu kejam sampai akhirnya dia takut untuk masuk kuliah lagi? Tapi omong-omong kenapa banyak sekali yang membaca papan informasi hari ini? Tak perlu waktu lama untuk membacanya. Dasar, aku sudah menduga hal ini. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Aku sudah menduganya. Gadis itu memang suka melakukan sesuatu seenaknya saja. Setidaknya dia mengucapkan hal lain selain pengakuan cintanya itu sebelum aku mengetahuinya dari selembar kertas yang ditempelkan pada papan informasi. “Tapi bagus lah. Setidaknya tidak ada lagi alasan untukku berjalan melewati perpustakaan. Aku tidak perlu lagi...” Sial, apa gadis itu membalas dendam dengan cara membuat dadaku terasa sakit, aku merasa sesak. Aneh sekali. “Aku tidak perlu lagi berpura-pura untuk tidak menyukainya.” Sial! Sial! Sial! Kenapa aku mengatakan hal itu, beruntung hanya aku sendiri disini. Kenapa aku menyerah pada akhirnya? Aku sudah tahu hal seperti ini akan terjadi. Bagaimana mungkin wajah sepucat itu bisa men-

9


Sastra

ipuku. Dia mungkin mengira aku orang bodoh yang bisa dibohonginya dengan senyum itu. Tapi aku tidak sebodoh itu. Iya, aku menyukai gadis itu. Aku selalu menyukai saat dia melihatku dari balik buku tebalnya. Aku selalu menyukai saat dia dengan santainya berjalan di belakangku. Aku selalu menyukai senyum yang tidak pernah hilang dari wajah pucatnya. Aku menyukai gadis itu lebih dari rasa sukanya terhadapku. Tapi sayangnya aku terlalu takut untuk mengatakan bahwa aku menyukainya. Wajah pucatnya, rambut tipisnya, bahkan senyum manisnya pun membuatku ketakutan setiap hari. Aku takut kehilangan. Aku takut ditinggalkan.

Dan sekarang dia sudah pergi, aku tidak kehilangan, aku tidak ditinggalkan, tapi kenapa masih saja terasa sakit? Seharusnya aku merasa senang karena tidak perlu lagi mengatakan kebohongan yang sama berulang kali. Bukankah selama ini akulah yang sebisa mungkin mendorongnya menjauh? Kau menang telak dariku. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Kau sedang menertawaiku sekarang dari sana bukan? Iya, tertawalah. Tertawalah atas kebodohanku. Tertawalah atas diriku yang pengecut ini. Tertawalah atas kebohongan konyol yang selama ini aku lakukan di depanmu. Sial! Sudah cukup, sebaiknya aku segera pergi dari sini, pen-

gakuan menyedihkan yang baru saja aku lakukan itu sudah mengundang hujan untuk turun dari tempat yang salah. Itu bisa jadi akan sangat merepotkanku. Dan ... tentang kebohongan itu ... maafkan aku ... “Aku juga menyukaimu.� “Rest In Peace. Nada Azalea.� -Yr. Penulis: Annisa Aindasari YR* *Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah Semester I

#Puisi Pulang

Nyanyian Piluku

Bawa lari tawamu Bawa datang tangismu Seseorang berkata kepadaku malam itu dia tak mempedulikanmu lagi kamu hanyalah wadah tempat untuk dia membuang semua luka itu Aku heran, lantas berbalik Dia hilang, tanpa ucap

Sahabat-sahabatku Saudara-saudaraku Tersesak di tengah neraka duniawi Mati melawan embun pedih Dosa dimana-mana Maksiat di mana-mana Pahala kini hilang Kepedulian kini pudar Februari, 2016

Desember, 2015

Tiba

Tentang Kasih

Kurasuki hatinya dengan rasa yang ada Saat tiba di terminal nirwana Tiba-tiba semua lenyap Angan yang membara-bara saat senja tadi Pudar lalu seakan menghilang Tapi sungguh semua senyap Dalam ruangan ini aku merasa hampa Tiba-tiba bisikan itu tiba Mengagetkan jiwa kosong karena mengharap Tiba-tiba saja semua itu hadir Tiba-tiba saja semua itu tiba Hingga tak mampu mata ini menampung Kesedihan itu lalu meluap karena waktunya tiba

Hujan turun malam ini Bintang tak terlihat sedang bulan merunduk sepi Seandainya malam ini aku dapat mengungkapkan rasa yang tak terucap kemarin, mungkin sampai detik ini aku tetap merasa Kasih, maukah kau sambut saat hati ini benarbenar ingin berlabuh di paluh jiwamu? Aku ingin kau menemani saat aku ragu menuntunku ke dalam kedamaian senyummu itu

Januari, 2016

Maret, 2016 Penulis: Ara-Ara* *Anggota LPM Pena Kampus Terkece Angkatan 15

10

Pena Kampus/Edisi 99/Minggu I/Januari/2017


Resensi

ANNA DAN TUHAN: KOMPILASI PSIKOLOGI, FILSAFAT, DAN AGAMA

Pertama kali melihat sampul novel The Brain Charger ini, saya melihat sesuatu yang lain, tidak seperti novel Indonesia kebanyakan yang pernah saya baca. Novel fiksi ilmiah ini berkisah tentang misteri pembunuhan berantai tiga mahasiswi terbaik yang dibunuh secara sadis di Universitas Islam Bangsa (UIB). Tubuh mereka dimutilasi lalu dibuang terpisah di tempat – tempat berbeda. Pembunuhan itu semakin menjadi teka-teki karena pada bagian tiap tubuh yang dimutilasi terdapat simbol-simbol yang aneh. Rizki, yang juga salah satu mahasiswa UIB tertarik mencari tahu sebab-sebab kematian tiga mahasiswi terbaik tersebut. Simbol – simbol yang ada pada tubuh korban menimbulkan banyak tanya di benaknya. Dia bersama dua kawannya dibantu oleh Arisiska, seorang mahasiswi jurusan perbandingan agama, berpetualang mencari jawaban dari teka – teki pembunuhan sadis tersebut, yang membawanya pada hal – hal tak terduga juga mempertemukannya dengan mahasiswi cerdas sekaligus asisten dosen bernama Annisatu Lexa Meteorika (Anna). Dia tidak percaya Tuhan, pemuja pemilik teori atheis Sigmund Freud, Karl Max, dan Fredrich Nietsche.

Karena teori ketuhanan yang disampaikan Anna pada salah satu kelasnya, keduanya berdebat. Keduanya bagai dua kutub yang berlawanan antara Rizki yang merupakan sosok yang religius dan Anna yang atheis yang begitu gila dengan ilmu pengetahuan. Dibalik wajah yang rupawan dan kecerdasan yang dimiikinya, Anna adalah seorang dengan kepribadian ganda, menderita neurosis, suatu keadaan di mana seseorang mengalami kekhawatiran yang berlebihan terhadap sesuatu, membuat si penderita berhalusinasi yang dianggapnya seolah – olah nyata. Waktu kecil, orang tuanya bercerai. Dia sering mengalami kekerasan fisik yang dilakukan oleh ibunya sendiri karena menganggap Annalah penyebab perceraian mereka. Masa kecil yang kurang bahagia. Diapun tidak sadar memiliki kelainan kejiwaan lain pada dirinya. Dia tidak bisa membedakan perasaan cinta kepada orang tua dengan lawan jenisnya. Jika yang menderita kelainan ini adalah perempuan, ibunya dianggap seolah – olah musuh yang akan merebut ayahnya dari dirinya, begitu juga sebaliknya. Semua kejadian yang dialaminya waktu kecil itu membuatnya ragu akan adanya Tuhan, yang katanya membawa ketentraman dan kedamaian. Hingga dia sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu tidak ada, bahwa Tuhan itu mati, dan agama hanya pelarian manusia dari segala masalah yang dialami, sejalan dengan teori tiga tokoh ilmuan atheis yang dipujanya. Dari sekian bukti yang telah didapatkan Rizki bersama kedua kawannya, mencari hubungan simbol – simbol dan teka – teki dengan kematian tiga mahasiswi tersebut, Arisika menemukan fakta yang sama sekali tak disangkanya. Dia menemukan data – data mengenai kehidupan Anna sebelum kuliah di UIB dari dokter pribadinya yang ternyata pernah menangani kasus kejiwaan Anna. Jelaslah sudah bahwa sosok misterius

Pena Kampus/Edisi 99/Minggu I/Januari/2017

yang sempat menyandranya beberapa menit dan membeberkan alasan mengapa dia membunuh tiga mahasiswi tersebut adalah Anna. Sosok Ros yang ia kenal sebagai mahasiswi pendiam, yang merupakan adik dari salah satu korban pembunuhan itu hanya kamuflasenya saja. Anna dengan tiga kepribadian yang berbeda. Pada klimaks cerita, Anna mengalami konflik batin yang besar. Neurosisnya kambuh tanpa terkendali, membuatnya berdialog dengan halusinasinya sendiri, membuatnya kembali bertanya akan adanya Tuhan. Antara ada dan ketiadaannya. Walaupun akhir ceritanya dikemas dengan begitu dramatis, pembaca tidak akan dibawa pada alur cerita yang membosankan. Namun istilah – istilah ilmiah yang ada di novel ini membuat pembaca terkadang bingung karena tidak semua istilah dijelaskan arti dan maknanya oleh Si penulis. Novel ini sangat layak dibaca oleh remaja, terutama dari kalangan mahasiswa Dari novel ini kita bisa memahami bahwa ‘ilmu pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh, dan agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta – Albert Einstein’. Penulis: Idawati* *Sekretaris Redaksi LPM Pena Kampus 2016/2017

Identitas Buku Judul Buku Penulis : Pizaro Penerbit Tahun Terbit Halaman Ukuran Buku

: The Brain Charger : Salsabila : 2012 : 298 Halaman : 14.5 × 21.5 cm

11


12

Pena Kampus/Edisi 99/Minggu I/Januari/2017

Newsletter 99 LPM Pena Kampus FKIP Universitas Mataram  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you