__MAIN_TEXT__

Page 1

HARGA RP 15.000

EDISI NOVEMBER 2019

TERBIT SETIAP SEMESTER

Muslim di Tengah Populisme Politik Sebagai mayoritas di negeri ini, kelas menengah muslim menjadi target utama untuk mengonsumsi wacana dan isu kerakyatan. Apakah ada peran elite di dalamnya?


Hakikat akhlak baik adalah mengerahkan seluruh kemampuan untuk melakukan kebaikan, menahan diri dari yang menyakitkan dan bersikap ramah - Hasan Al Bashri -


MEJA REDAKSI

Pemimpin Umum Riski Setyo Widarto Sekretaris Umum Yusuf Apriyanto Pemimpin Redaksi Pabelan-online.com Annisavira Pratiwi Pemimpin Redaksi Koran Pabelan Lia Lesmawati Pemimpin Redaksi Tabloid Pabelan Pos Muhammad Sukma Aji Pemimpin Redaksi Majalah Pabelan Inayah Nurfadilah Pemimpin Penelitian dan Pengembangan Afitasari Mulyafi Pemimpin Personalia Hanif Afifah Pemimpin Perusahaan Cici Birohmatika Manajer IT dan Logistik Ananda Iriyadi Manajer Humas Wahyu Aji Pangestu Manajer Diskusi Ahmad Hafiz Imaduddin Manajer Data Rio Novianto Manajer Penelitian Tias Nur Aini Manajer Pelatihan Nadya Vicky Putri Pribadi Manajer Iklan dan Pemasaran Wulan Adis Aranti Manajer Produksi dan Distribusi Muhammad Ahlan Fauzan Jawahir

Pemimpin Redaksi Majalah Pabelan: Inayah Nurfadilah Redaktur Pelaksana: Aji Tirto. P Redaktur: Alfrisa Renuat Editor: Afitasari Mulyafi; Dian Aulia C. K.; Livia Purwati; Inayah Nurfadilah Reporter: Afitasari Mulyafi; Rio Novianto; M. Sukma Aji; Dian Aulia C. K.; Hanifah Indrianti; Lia Lesmawati; M. Ahlan Fauzan. J; Ummu Azka A.; Aji Tirto. P; Livia Purwati; M. Taufik Nandito; Inayah Nurfadilah; Hanif Afifah; Annisavira Pratiwi; Riski Setyo W; Tias Nur Aini; Alfrisa Renuat Fotografer: M. Alif Muhajid; Riski Setyo W; Riki Efendi Layouter & Ilustrator: Yusuf Apriyanto; Nadya Vicky P. P; M. Jabal Noor; Akhdan M. Alfawwaz; Cita Aprilda. K; Riski Setyo W.; Aji Tirto. P; Ayu Arlinda Tim Kover: Syarifudin Aji. P; M. Jabal Noor; Ayu Arlinda; Akhdan M. Alfawwaz; Riski Setyo W. Alamat Redaksi LPM Pabelan: Griya Mahasiswa, Kampus 1, Universitas Muhammadiyah Surakarta Jalan A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura, Surakarta, Jawa Tengah 57162, Indonesia

Dari Redaksi

A

lhamdulillah, puji syukur tak hentinya kami haturkan kehadirat Allah ‘Azza Wa Jalla, atas nikmat dan kuasa-Nya lah kami dapat menyelesaikan majalah edisi ini. Selawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa cahaya menuju zaman terang benderang sebagaimana sekarang. Tak lupa pula, ucapan terima kasih teruntuk semua pihak yang mau meneteskan banyak keringat dan melalui proses panjang dalam mengurai sekat. Pada edisi kali ini, kami akan membawa pembaca untuk menilik kelas menengah muslim di Indonesia, khususnya di Solo. Sebagaimana diketahui, muslim menjadi mayoritas negeri ini. Dalam sejarahnya, muslim ada bahkan sebelum Indonesia itu ada. Sejak semula ada, hal-hal yang bersinggungan dengan keimanan akan selalu diutamakan, dan direpresentasikan dengan perbuatan. Berbicara keimanan, bahkan Utsman bin Affan berkata, �Tingkatan iman tertinggi adalah bahwa kamu selalu menyadari kehadiran Allah di hadapanmu�. Karena itu, muslim akan selalu merasa terawasi dan melakukan kebaikan-kebaikan yang membuat Allah senang. Muslim tak segan diminta tolong oleh satu atau sekelompok orang karena hal itu bagian dari kebaikan yang bisa dilakukan. Apalagi jika pertolongan itu ditujukan kepada kaum proletar. Ciri khas muslim yang selalu ingin melakukan kebaikan itulah kemudian kami garis bawahi. Di majalah ini, narasi muslim yang bergerak dan berjuang untuk menebar kebaikan mengisi halaman demi halaman. Terlalu fokus untuk melakukan kebaikan, sampai akhirnya lupa atau tak menyadari ada apa dibalik pergerakan dan perjungan yang dilakoni. Seolah tak ingin membuat praduga, akhirnya kami mulai menyusuri satu-dua kejadian yang berkaitan. Mari kita selisik lebih dalam agar mendapat kesimpulan. Terakhir, selamat membaca untuk hasil yang tidak seberapa ini. Semoga tidak puas dengan hasil yang ada di sini, agar mencari tahu lebih banyak lagi. [] Selamat membaca! Redaksi Majalah Pabelan

1


DAFTAR ISI

03 04 05 07 10 15 19 25 29

EDITORIAL Ini Bukan Kali Pertama

KOMIK Demi Rakyat

PABELAN DOELOE Politik Islam di Indonesia

OPINI Populisme dalam Kepemimpinan Jokowi

FOKUS UTAMA 1 Menerka Aktualisasi Gerakan Islam di Kota Solo

FOKUS UTAMA 2 Islam Sebagai Identitas dalam Berpolitik

FOKUS UTAMA 3 Perjalanan Muslim Solo Aktivitas, Identitas, dan Gaya Hidup

ARTIKEL PENDUKUNG Fragmentasi Umat dalam Populisme Islam

BINGKAI Senja Kala Itu

DAFTAR ISI 34 39 43 47 51 54 56 58 60 WAWANCARA

Menelusuri Populisme di Indonesia

RISET

Aksi Sebagai Wujud Eksistensi. Kini, Masih Adakah Relevansi?

PERSONA

Nurul Khawari: Perbedaan Karena Tuntutan Zaman

KOMUNITAS

Dua Dekade Lebih Peduli pada Bumi Pertiwi

SASTRA Harapan

RESENSI SITUS

Ubah Niat Baik Jadi Aksi Baik

RESENSI FILM

Dari Pengelola Kedai Pizza, Menjadi Konglomerat Muda

BILIK REDAKSI

ILM

2

Edisi November 2019


EDITORIAL

Ini Bukan Kali Pertama Diketahui, orang-orang yang memadati jalanan untuk menyuarakan aspirasinya itu merupakan sekelompok muslim yang tergabung dalam sebuah wadah atau komunitas. Hal ini bukan kali pertama terjadi. Di Kota Bengawan, jauh sebelum ini sudah menorehkan sejarah yang menarasikan muslim bersatu padu mewujudkan visi yang satu.

B

elum lama ini, kita mendapati video Aksi Penolakan Pemasangan Lampion di Pasar Gedhe, serta Penolakan Tanda Salib di Kilometer Nol Kota Solo. Video yang tersebar begitu cepat itu mendapat sorotan publik yang juga cepat. Tak sedikit dari kita mengunyah video itu mentah-mentah dan menjadikannya makanan seharihari. Tak sedikit dari kita juga bergumul dengan hal itu, salah satunya akibat berita yang beredar. Diketahui, orang-orang yang memadati jalanan untuk menyuarakan aspirasinya itu merupakan sekelompok muslim yang tergabung dalam sebuah wadah atau komunitas. Hal ini bukan kali pertama terjadi. Di Kota Bengawan, jauh sebelum ini sudah menorehkan sejarah yang menarasikan muslim bersatu padu mewujudkan visi yang satu. Dalam skala nasional, muslim seluruh Indonesia bahkan mau berkumpul di Monumen Nasional (Monas) dan daerah sekitar ibu kota lainnya agar ikut serta menyuarakan aspirasi. Dari tahun 2016 silam, diselenggarakanlah Aksi Bela Islam I yang sampai sekarang sudah ketujuh dalam penyelenggaraannya. Aksi-aksi ini turut menginisiasi “Aksi Bela Islam� lainnya. Banyak motif orang melakukan aksi. Menurut Farouk Radwan (penulis buku psikologi), aksi dilakukan untuk mendapatkan kembali Edisi November 2019

Ilustrasi Oleh : Riski Setyo W.

hak yang selama ini diterima, menentang apapun yang tidak disukai, serta memaksa para diktator untuk turun dari kursi kekuasannya. Namun tidak semua orang yang melakukan aksi bermotif demikian, karena setiap orang punya kebutuhan psikologis berbeda. Namun yang pasti, ketika seseorang melakukan aksi, identitas dirinya melebur dengan identitas kelompok. Karena alasan ini, tak heran kita mendapati banyak atribut identitas yang dipakai dalam setiap momen aksi. Begitu pula dengan proses bagaimana orang-orang sampai melakukan aksi. Bisa jadi karena terintervensi orang lain, atau membaca berita yang beredar, atau hal

lainnya. Mengetahui hal itu, beberapa oknum memproduksi wacana, isu, atau berita agar mempengaruhi muslim bergerak melakukan aksi. Pasalnya, muslim merupakan mayoritas di negeri ini. Apabila dapat menjadi suara kelompok ini, suara untuk kepentingan lainnyapun mudah didapatkan. Wacana, isu, atau berita yang disajikan beragam topiknya, yang pasti sering bermuara pada tema besar, yakni rakyat kecil. Isu yang mengangkat tema rakyat kecil atas kepentingankepentingannya disebut populisme. Istilah yang berkembang sejak abad ke-19 ini sering digunakan elite untuk mendulang banyak keuntungan. Isu populisme bahkan banyak muncul di permukaan saat tahun-tahun politik. Entah apakah memang suatu kebetulan, atau sesuatu yang sudah direncakan. Begitu banyak fakta-fakta yang terselimut bongkahan es, sehingga sulit diuraikan apalagi disingkap satu-persatu. Terlebih untuk urusan politik. Namun yang pasti, Indonesia punya kekuatan yang berasal dari rakyatnya, atau dikenal sebagai people power. Apalagi jika dilakukan muslim yang lagi-lagi membicarakan mayoritas di negeri ini. Maka, alangkah baiknya jika kekuatan itu digunakan untuk sesuatu yang memang krusial dan mendatangkan kebermanfaatan untuk hajat hidup banyak orang. 3


KOMIK

(Mungkin) Komik Inspiratif dan Mencerahkan

“Demi Rakyat� yooo aan, lama gak ketemu. ikut aku yuk

Aksi An, kita harus perjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas. kalau bukan kita para pemuda yang mau bergerak siapa lagi?

eh udin, kemana din?

Wah iya tuh din, jangan sampai hak rakyat direnggut para elite

???

bisa arus tah h in r e pem harga turunkan secepat-cepatnya

us Kita har perjuangkan hak-hak raky at

Y

ini sih memperjuangkan caleg bukannya memperjuangkan rakyat

yang

jujur

dan

merakyat

!! RAKYAT..

!! RAKYAT..

ini aksi apa kampanye, kok ada unsur politik di dalamnya?

no.urut 08

HIDU P

HIDU P

iya an, kenapa jadi ngelantur gini ya?

harus

pilih

!! AA..

YA

loh din, kok gini aksinya?

rakyat

berikan kami pekerj aan

..

A..!!

Untuk itulah

DIINN

U

Ehh... lu ngrasa ada yang aneh di belakang kita gak An?

makannya din, an, kalau ikut aksi itu kalian harus tahu dulu apa tujuannya, jangan asal ikut aja. jangan sampai aksi yang kalian lakukan malah menjadi tunggangan para elite demi mendapat suara massa. Ikut aksi itu baik demi terciptanya pemerintahan yang sehat, tapi sebagai pemuda kalian juga harus cerdas dalam memilih apa dan siapa yang kalian perjuangkan. Ngerti gak din, an?

A AA

AN

N

iya Din, seperti sesuatu dengan hawa-hawa negatif.

Ampun Pa

k Bel !!

Kok aku ikutan kena !?!

Iyaa.. Pak Bel.. saya paham. termasuk cerdas memilih dan memperjuangkan jodoh juga kan Pak Bel?

Ide cerita: Tim Komik Majalah PABELAN Ilustrastor: Riski Setyo W / Majalah PABELAN

4

Edisi November 2019


PABELAN DOELOE

Pabelan Pos/Edisi 39/April-Mei/1999

Pabelan Pos/Edisi 37/Desember/1998

Foto: M. Alif Mujahid

S

aat masa pemerintahan Habibie, perpolitikan nasional populer dengan kedudukan politik Islam. Saat itu memunculkan berbagai respons dari masyarakat, baik itu pro maupun kontra. Hal itu ditengarai oleh beberapa unsur kelompok Islam di Indonesia yang tidak mendukung Habibie, meskipun saat itu Habibie dianggap sebagai sosok yang merepresentasikan umat Islam lewat keterlibatannya dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Umat Islam seolah diberi keleluasaan di bawah pemerintahan Habibie. Yang menyebabkan pernyataan itu relevan, Adi Sasono selaku orang Habibie, melakukan gebrakan dalam ekonomi rakyat kalangan bawah saat itu. Kontroversi dituai melalui gebrakan yang Adi lakukan, namun nyatanya menimbulkan reaksi. Sebagian masyarakat Islam mulai bersimpati pada pemerintahan Habibie. Selain itu, basis Habibie sendiri pernah berkecimpung dalam ICMI, yang dikenal dengan Islam moderat. Seorang pengamat sosial politik asal Solo, Drs. Totok Sarsito, mengungkap pendapatnya bahwa dalam kepemimpinan suatu negara, umat dianggap memiliki pengaruh penting terhadap perpolitikan Islam. Ketika visi Habibie dipandang akrab Edisi November 2019

dengan kepentingan umat Islam, tokoh-tokoh Islam seperti kiai mulai berdatangan memberi dukungan. Sayangnya, tidak semua kelompok Islam sejalan dengan Habibie. Pakar politik manapun tahu bahwa kekuatan Islam tak bisa dipandang sebelah mata. Berkaca pada keadaan yang sudah-sudah, seringkali Islam digunakan sebagai kendaraan politik oleh para elite demi kepentingan tertentu. Ini mengingatkan kita kembali pada rezim Orde Baru, pada saat itu orang Islam yang memperoleh jabatan strategis tak bisa dihitung jari. Mereka yang punya kewenangan memperjuangkan kepentingan umat Islam justru menyeleweng, yang mana ini merupakan tindakan yang mencoreng umat Islam bahkan dilaknat oleh agama Islam sendiri. Lalu digelarlah Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) sebagai momen tertinggi untuk menyatukan umat. Ini menarik dikaji lebih mendalam, sebab kongres yang mendapat sokongan dari sejumlah organisasi masyarakat Islam ini tak menyelesaikan apa-apa. Melainkan, hanya mengeluarkan statement politik semata. Disini seolah menunjukkan bahwa kepemimpinan Islam saat itu berintegritas rendah, hanya berupa objek kekuasaan tanpa memuat

nilai Islam yang sesungguhnya. Serikat Islam yang lain, misalnya Masyumi (Majelis Syuro Muslimin) sebagai partai untuk menampung aspirasi umat. Ketika Masyumi sudah dibentuk, rezim Soekarno kala itu tak kondusif untuk Islam. Meskipun Masyumi dipandang mampu mewadahi kekuatan politik Islam, namun partai itu dilarang dan berujung pada penjeblosan tokohtokohnya ke penjara. Setelah itu, pengaruh Islam terkesan teredam. Orang bahkan takut disebut beragama Islam dan ragu menampakkan keislamannya, sebab selalu dikaitkaitkan dengan ihwal fundamental yang dianggap berbahaya untuk negara. Hal tersebut berakibat tersisihkannya posisi Islam dalam peta politik Indonesia. Hal ini berlanjut sampai lengsernya Soekarno dalam roda kepemimpinan. Bangkitnya Umat Islam Bagaimana posisi politik Islam pasca rezim Orde Baru? Berakhir masa terkungkungnya umat Islam saat berganti dengan rezim Habibie. Kebebasan yang saat itu ditawarkan Habibie terhadap umat Islam menjadi kesempatan emas untuk kembali merubah asas organisasi kembali pada asas Islam. Namun tidak bagi kubu yang sudah merasa nyaman dengan asas sebelumnya. Prof. 5


PABELAN DOELOE

Yusril Ihza Mahendra berpendapat, untuk mengatasinya diperlukan jembatan pemikiran masyarakat yang berbeda-beda. Usaha penjembatan pendapat terancam sia-sia apabila di masa kebebasan itu, muncul tokoh Islam “karbitan” yang mengaku mengusung kepentingan umat. Padahal yang diperjuangkan tak lain hanya kepentingan pribadi semata. Umat Islam yang tadinya diharapkan bisa bersatu karena usaha itu, bisa kembali terkotak-kotak sesuai kubu yang dipilih. “Umat Islam jangan sektarian, berjuanglah secara demokratis,” tutur Totok Sarsito yang mengerti bahwa perbedaan pendapat itu lumrah dilihat dari aspek sosio-kultur di Indonesia. Masyarakat wajib diberdayakan, tukas Totok. Umat perlu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maksudnya, penerapan nilai-nilai Islam yaitu untuk menciptakan umat yang bijak, baik secara kuantitas maupun kualitas. Yang terpenting, kultur menomorsatukan kepentingan masyarakat harus diutamakan. Dalam negara yang bersifat pluralisme seperti Indonesia, baik penguasa maupun rakyat samasama termasuk dalam status egaliter, dan ini harus terus disosialisasikan. Pemahaman konsep mengenai kebangkitan Islam justru seharusnya bukan lagi tentang kompetisi yang bertujuan untuk mengalahkan agama lain, namun bagian dari keinginan bersama untuk mewujud6

kan cita-cita masa depan yang demokratis, sejahtera, dan humanistik. Demokrasi dianggap sebagai masalah yang dominan di era reformasi, tidak lepas dari pengaruh kebangkitan pergerakan umat Islam ketika memasuki era Milenium III (Abad XV H). Dengan memasuki era Milenium III, umat Islam dituntut lebih radikal dalam menunjukkan identitas Islam dan peran intelektual muslim secara berani dan percaya diri. Di Indonesia sendiri, output-nya berujung pada penentuan arah bangsa Indonesia ke depan. Nurcholis Madjid yang setuju dengan pendapat Totok bersama angkatannya waktu itu mempelopori pemikiran bahwa Indonesia harus mempunyai citra dan wibawa di masa depan. Terbagi Menjadi Enam Kelompok Dalam misi mewujudkan Indonesia baru yang memodernisasi demokrasi, peran umat Islam dalam perpolitikan menjamur sehingga sulit dimarginalisasi. Wahyuni Nafis, Direktur Islamic Boarding School Bogor, mengutip artikel dalam Majalah Madani no. 2 Tahun 1999, menyatakan ada enam kelompok peran politik umat Islam. Munculnya enam kelompok tersebut dibedakan oleh dua dalih, sebagian murni karena paham ajaran agamanya, sebagian lainnya ihwal kepentingan politik sesaat. Enam kelompok tersebut, yaitu: “Fundamentalis”, sebagai kelompok pertama, menganggap eksklusif hanya kelompoknya saja yang

benar. Setiap orang yang punya pendapat berbeda dari kelompok ini dianggap dar al-harb, yang berarti musuh yang harus diperangi. Kelompok kedua diisi “Revolusioner”, yang memperjuangkan ide-ide hanya dengan pendekatan radikal dan revolusioner, tanpa memercayai pendekatan lain. “Konstitusionalis” ialah kelompok ketiga, biasanya beranggotakan orang-orang dengan tingkat pendidikan tinggi dan mengerti disiplin politik secara demokratis. Kemungkinan mewarisi politik Islam Indonesia zaman Masyumi, mereka berpegang pada konstitusi negara namun terus melayangkan kritik tajam terhadap penyimpangan penguasa. Kelompok keempat disebut “Akomodasionis”, memiliki paham bahwa yang dinilai tidak adil dan bersih pada pemerintah sudah sepatutnya dibuang. Selanjutnya ada kelompok “Oportunis”, yang dinilai cukup berbahaya karena apa yang diucapkan tidak sesuai dengan kata hatinya, alias tidak jujur. Kelompok yang bisa juga disebut hipokrit ini melihat Islam dan umatnya sebagai “alat” untuk mencapai tujuan pribadi. Dengan kata lain, musuh dalam selimut, menurut Nurcholis Madjid dikutip dari Tradisi Islam (1997). Kelompok terakhir disebut “silent majority”. Anggotanya tak lain adalah rakyat, namun meski jumlahnya banyak, nyaris tidak punya fungsi apapun karena silent. Para politikus sering berebutan mengklaim anggota kelompok ini adalah pengikutnya. Sebab meskipun mereka nyaris tak punya fungsi, mereka dianggap perlu pimpinan. Pengamat Pergerakan Islam asal Solo, Fajri Muhammad, menuturkan bahwa cara umat Islam membicarakan Islam itu sendiri terhadap masyarakat dan menerapkan Islam sebagai rohmatan lil'aalamin adalah agenda besar umat Islam yang ada di depan mata. Itulah sebenarnya posisi Islam yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Sehingga hal itu diharapkan dapat menghapus stigma Islam yang tidak relevan tanpa kehilangan jati diri. Dan bertujuan akhir untuk menciptakan m a s ya r a k a t ya n g “ B a l d a t u n thoyyibatun warobbun ghofur”. Edisi November 2019


Ilustrasi : id.pinterest.com/jikiprayuda/vector/

OPINI

Kehidupan politik di Indonesia tidak terlepas dengan adanya isu populisme. Populisme dianggap sebagai gaya politik khusus seorang pemimpin dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat (Allan Knight, 1998). Sehingga jika dilihat dari sejarah kepemimpinan di Indonesia, setiap pemimpin memiliki pendekatan sendiri untuk membentuk kepercayaan dan agar dianggap memiliki kedekatan dengan rakyatnya.

S

alah satu bentuk populisme politik yang belum lama kita rasakan di Indonesia adalah populisme dalam kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Periode 2014 – 2019, Joko Widodo. Dilihat dari rekam jejaknya, Jokowi telah menjalankan beragam praktik populisme sejak beliau masih menjabat sebagai Walikota Solo. Salah satunya melalui kebiasaan beliau melakukan blusukan. Edisi November 2019

Populisme yang dilakukan oleh Jokowi sangat terlihat keberhasilannya. Dengan beliau melakukan pendekatan melalui program blusukannya, hal itu berhasil meningkatkan reputasinya di mata publik, terlebih dengan adanya dukungan pemberitaan di media. Sehingga kedekatannya dengan rakyat sangat terlihat. Hal ini menjadikan beliau memiliki citra sebagai seorang pemimpin dari warga

sipil yang dapat mewakili rakyat kecil. Imelda (2011) berpendapat bahwa populisme sendiri dapat dibagi menjadi 2 varian, yaitu populisme irasional dan populisme rasional. Dalam kasus populisme Jokowi yang sedikit saya paparkan tersebut, Jokowi termasuk seorang pemimpin populis dengan varian populisme irasional. Hal ini dijelaskan bahwa track record Jokowi dimulai 7


Foto : inews.id

OPINI

dari masyarakat kalangan bawah. Beliau tidak memiliki darah bangsawan dan bukan pula konglomerat. Bahkan beliau juga bukan ketua umum dari partainya, namun dapat berhasil menuju pentas politik dalam skala nasional. Jokowi berhasil menjadi pemimpin populis irasional dengan mengandalkan kharismanya ketika terjun blusukan di masyarakat. Kharisma dan ideologinya sebagai pemimpin rakyat kecil sangat terlihat di situ. Namun dari hal itulah beliau kemudian berhasil mengubah varian populismenya menjadi seorang populis yang rasional, dengan ditandai track record selama kepemimpinannya yang menunjukkan skill bagus dan mendapat dukungan masyarakat, terciptanya koalisi antara kelas atas dan kelas bawah yang kuat, hingga berhasil menggunakan ekonomi dari sisi demand (upaya membantu kelas bawah dalam rangka memiliki kemampuan daya beli). Namun ternyata, populisme yang ditunjukkan oleh Jokowi tersebut kini tidak cukup kuat untuk membangun sebuah power dalam ajang pemilihan umum (pemilu) calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) periode 2019 – 2024 melawan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Hal ini dikarenakan adanya perubahan keinginan 8

dan harapan masyarakat terhadap pemimpin mereka selanjutnya.

Setelah adanya Aksi Bela Islam 212 yang lalu, keinginan masyarakat dalam memilih pemimpinnya tidak hanya seorang pemimpin yang pro dengan rakyat, namun juga pro dengan Islam. Terlebih Indonesia merupakan negara yang dihuni oleh penduduk dengan agama mayoritas Islam. Sehingga dalam hal ini, agama Islam menjadi sebuah komoditas yang tinggi dalam rangka menarik suara politik dalam pesta demokrasi yang telah terlaksana pada 17 April 2019 yang lalu. Setelah hampir lima tahun kepemimpinan Presiden Jokowi, dapat kita lihat bahwa banyak sekali suara yang menyebutkan bahwa beliau adalah seorang yang pro dengan China, pro dengan asing, bahkan ada yang mengatakan Jokowi keturunan

komunis. Berbicara di luar hal tersebut, yang pasti kita dapat melihat bahwa kepercayaan dan antusiasme masyarakat terhadap Jokowi kemudian menurun dan menginginkan adanya pemimpin baru yang pro dengan Islam. Berdasarkan hal ini, kita dapat melihat bahwa Jokowi selanjutnya mencoba membangun sebuah populisme Islam di mata masyarakat. Hadiz (2016) menjelaskan bahwa Populisme Islam merupakan varian populisme yang tepat dalam mengkaji sebuah fenomena politik di sebuah negara dengan penduduk yang mayoritas menganut agama Islam. Tentu salah satunya adalah Indonesia. Pembentukan Populisme Islam dari Jokowi sangat jelas terlihat dari calon wakil presiden yang dia pilih untuk periode keduanya, yaitu Ma’ruf Amin yang merupakan sosok seorang ulama. Dengan dipilihnya beliau sebagai calon wakil presiden, Edisi November 2019


Foto : Riki Efendi/ Majalah PABELAN

OPINI

Khairul Syafuddin, S.I.Kom Prodi Ilmu Komunikasi UMS Asisten Dosen Ilmu Komunikasi UMS dan Reporter Website UMS

sangat menunjukkan bahwa Jokowi ingin sekali menarik suara dari umat Islam dalam pemilu kemarin. Sehingga beliau berusaha untuk memanfaatkan agama dalam rangka membentuk politik bersama. Semiotika dari Populisme Islam tidak hanya ditunjukkan melalui pemilihan cawapres 01 saja, namun juga diperlihatkan melalui iklan poster foto pasangan calon (paslon) 01 melalui fashion yang ditunjukkan. Roland Barthes (1967) menjelaskan bahwa kata-kata, image, ataupun objek dapat memiliki fungsi sebagai signifier dalam memproduksi makna. Selain itu, Barnard (1996) menerangkan fashion dapat mengkomunikasikan pesan dan menjadi simbol non verbal bagi pemakainya. Sehingga populisme Islam yang dilakukan oleh Jokowi juga terlihat dari poster paslon 01 yang selalu kita lihat. Pakaian putih dan peci yang dikenakan oleh Jokowi - Ma’ruf dalam poster pemilu yang sering kita lihat menunjukkan adanya sebuah komunikasi bahwa paslon 01 adalah paslon yang memiliki kedekatan dengan Islam. Jokowi Ma’ruf berusaha mengkomodifikasi agama Islam menjadi suara Edisi November 2019

pemilih dalam pemilu yang lalu. Jika dilihat dengan seksama, strategi Jokowi dalam meraih suara dalam setiap pentas politiknya hampir memiliki kesamaan, yaitu samasama mengikuti tren yang muncul pada saat pemilu berlangsung. Ketika pemilu 2014 dahulu, Jokowi menjadi sosok yang didambakakan karena masyarakat menginginkan pemimpin yang berasal dari warga sipil, sebab memiliki kejenuhan dari kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang merupakan purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selain itu, pada saat pemilu 2014 Jokowi juga berhasil menarik suara rakyat kecil yang mendambakan seorang pemimpin yang memiliki kedekatan dengan mereka. Hal ini karena selama kepemimpinan SBY, sangat jarang melakukan pendekatan dengan rakyat kecil seperti yang dilakukan Jokowi. Sehingga Jokowi adalah sosok yang tepat untuk menggantikan kepemimpinan SBY pada masa itu. Selanjutnya, untuk strategi Jokowi saat ini dapat dilihat bahwa beliau ingin kembali menjawab tren yang ada dalam masyarakat. Masyarakat kini menginginkan sosok seorang pemimpin yang pro de-

ngan Islam, dan Jokowi berusaha menjawabnya dengan strategi yang telah dipaparkan di atas, mulai dari pemilihan cawapres, hingga visualisasi dari poster paslon 01. Beliau berusaha lebih menunjukkan bahwa dirinya lebih dekat dengan Islam dibandingkan paslon 02. Namun sangat disayangkan dalam pembentukan image tersebut beliau kurang mendapat dukungan dari ulama, sehingga strategi beliau dalam menarik suara melalui kedekatan dengan umat Islam terlihat masih sangat kurang. Terlebih ulama-ulama terkenal di Indonesia lebih condong dalam mendukung paslon 02. Dari penjelasan ini, satu hal yang kini kita alami dalam isu populisme di Indonesia, yaitu adanya peran elite ekonomi-politik dalam meraih kekuasaan dengan memanfaatkan identitas “umat� Islam. Hal ini lah yang memunculkan praktik populisme Islam dalam pemilu 2019 - 2024 kemarin. Sehingga umat Islam pada saat ini dapat dianggap sebagai konsumen terbesar dalam pentas politik saat ini, dan agama Islam seakan menjadi barang yang dijual untuk mendapatkan keuntungan bagi kelas elite.

9


FOKUS UTAMA

Foto : Google.com/istimewa

10

Edisi November 2019


FOKUS UTAMA

D

i jalan depan Balaikota Solo, siang itu cahaya matahari terasa meruap di kulit. Di tengah lalu-lalang kendaraan, kerumuman massa dengan baju putih-putih menyemut di pinggir jalan. Di sana, seolah tanpa komando, takbir sahutmenyahut dengan orasi lantang dari seorang pria yang berseru di podium. Tampaknya tak main-main, ada hal yang sedang mereka gugat.

Edisi November 2019

Ternyata, mereka memprotes mozaik jalan di depan balai kota yang dianggap menyerupai gambar salib. Orasi dari seorang yang dianggap representasi kerumunan itu mengatakan, bahwa pemerintah kota Solo memiliki agenda salibisasi masyarakat yang bersifat terselubung. Upayanya dituding lewat mozaik jalan tersebut. Tak pelak kontroversi pun menggelinding, bahkan sampai pemberitaan di skala nasional.

11


FOKUS UTAMA Kota Solo waktu itu sedang memanas. Apalagi momentum pemilihan umum (pemilu) 2019 semakin dekat. Sepertinya demi mencegah polarisasi masyarakat yang tak diinginkan, pemerintah Kota Solo sampai rela menghapus mozaik jalan yang diprotes. Pro-kontra pun berdatangan. Ada yang beranggapan, tuntutan serba-forma seperti itu semestinya dibukakan ruang dialog yang kontinu, agar substansi dari desain mozaik tersampaikan. Akan tetapi, manajemen risiko pemerintah Kota Solo nampaknya sudah menghitung pertimbanganpertimbangan tertentu. Mozaik jalan yang dianggap sebagai bagian dari agenda salibisasi kota, ujungujungnya dihapus. Sebagai gantinya, Kota Solo, setidaknya, sampai dengan pemilu serentak digelar, relatif lebih tenang. Dan polarisasi yang terjadi di banyak tempat, tidak tereplikasikan di Kota Bengawan. Kota Solo, setelah Jokowi menjabat Gubernur Jakarta, dihela oleh seorang yang berasal dari kaum minoritas. Tentunya tegangan-tegangan sebelum walikota terkini naik jabatan tetap muncul. Dan lagi-lagi isu yang digencarkan adalah isu agama. Keberagamaan masyarakat jadi terusik karena difusinya dengan politik. Isu-isu yang santer beredar pun lebih kurang seputar isu-isu moral. Fatah (nama samaran) mengatakan bahwa ia memang tidak terlibat langsung dengan aksi tersebut. Akan tetapi ada rasa ketertarikan untuk terlibat dalam aksi itu. Ia mengaku pernah terlibat aksi seperti itu di Jakarta. Ia mengaku terlibat pada aksi 212. Menurutnya, ketika terlibat dalam aksi tersebut, ada semacam emosi yang terbakar, ”Ada getaran gitu Mas, ketika ikut,” ujarnya ketika ditemui di kediamannya. Lagi, menurut Fatah, ia merasa bahwa mozaik jalan di dekat balai kota itu mirip dengan gambar salib. Itulah yang membuatnya menghubungkan antara misi salibisasi global dengan konteks lokal kota Solo. Fatah beranggapan, kalau itu memang benar adanya, maka umat Islam harus waspada dan bersatu menghadapi tantangan itu. ”Kalau tidak bersatu bisa tenggelam Mas,” Katanya. 12

*** Lebih dari seratus tahun yang lalu, Haji Misbach, seorang agitator dari Sarikat Islam (SI), mengerahkan sepuluh ribu massa dari pelbagai daerah untuk memprotes koran Djawa Hiswara. Koran tersebut, memuat tulisan yang membuat umat Islam meradang. Di koran itu tertulis, ”Sebab, Gusti Kandjeng Nabi itoe minoem tjioe A.V.H dan minoem madat”. Lantas, gemparlah masyarakat Solo kedatangan massa yang membawa amarah terhadap koran tersebut. Selidik punya selidik, Tjokroaminoto, seorang pemimpin legendaris SI menganggap lembaganya punya peluang untuk mengintegrasikan kekuatan umat islam guna menghadapi cengkraman kolonialisme. Hal ini, tentunya berimbas pada peran Haji Misbach yang pada waktu itu, di Kota Solo terkenal sebagai sebagai sosok yang doyan mempropagandakan keburaman kolonialisme. Perpaduan antara momentum dan kesediaan sosok yang berada di Kota Solo membuat pengusaha dari

Arab dan Surabaya rela merogoh kocek untuk pembentukan Tentara Kanjeng Nabi Muhammad (TKNM). Pemimpinnya, tak lain dan tak bukan, Haji Misbach. Ia memimpin sepuluh ribu orang dari banyak tempat untuk menyatakan sikapnya menolak kolonialisme dan kontroversi Djawa Hiswara. Sayang, kegemparan itu tak diiringi dengan keberhasilan gerakan. Tjokroaminoto menghentikan gerakan, hingga akhirnya Haji Misbach membentuk gerakannya sendiri yang bernama Sidik, Amanah, Tableg, Vatonah (SATV). Eksistensi gerakan ini diduga berawal dari kekecewaan Haji Misbach atas mandegnya agitasi yang dilancarkan oleh elite SI. Alhasil ia berinisiatif membentuk gerakannya sendiri dan SATV adalah aktualisasi dari gagasan beserta kekecewaannya. Hampir sama dengan kejadian protes salibisasi jalan, gerakan yang digalang oleh Haji Misbach pada tahun 1918 itu, merupakan manifestasi dari solidaritas umat Islam dalam bentuk gerakan jalanan. Meski demikian, pemicunya di tiap masa berbeda-beda. Kalau di era Haji Misbach, yang terjadi adalah pelecehan terhadap kemuliaan nabi, Edisi November 2019


FOKUS UTAMA

maka di era sekarang, lebih berupa bentuk simbolisme saja. Takashi Siraishi dalam bukunya yang berjudul Zaman Bergerak beranggapan, di tahun tersebut Solo bagaikan kota dengan iklim revolusioner yang kuat karena kehadiran Haji Misbach. Sementara di awal kemerdekaan, Kota Solo juga memanas karena kedatangan Tan Malaka. Lantas, di milenium baru ini tokoh-tokoh reformasi seperti Moedrick Sangidoe dan Amien Rais memiliki basis massa yang loyal dari Kota Solo. Solo, dengan kata lain, memiliki sisi reformis yang tidak bisa dianggap sepele. Kota ini merupakan salah satu pilar strategis pembaharuan agama setelah Yogyakarta. Di masa-masa awal pergerakan nasional sampai reformasi kekuasaan Soeharto, Solo juga mendapat porsi Edisi November 2019

pergerakan yang cukup penting. Solo punya sejarah penting ihwal bertemunya tegangan-tegangan yang melibatkan entitas agama dan politik. Akan tetapi di luar itu, Solo adalah kota dengan melting plot ideologis yang cukup rawan. Persoalannya, melting plot ini menarik beragam basis massa dari ideologiideologi besar yang ada di Indonesia. Hal ini diutarakan oleh Vedi R. Hadiz dalam bukunya yang berjudul Populisme Islam di Indonesia dan Timur Tengah. Terang saja, terkadang yang dikhawatirkan, gesekan-gesekan yang tak diinginkan terjadi. Dan itu mesti diprevensi sedini mungkin. Menurut Vedi R. Hadiz, Kota Solo menjadi sebuah kota yang rawan dengan gesekan sosial-politik karena faktor historis yang kompleks.

Dalam tulisannya, Hadiz menyebut Kota Solo sebagai �Wadah campuran dari berbagai tradisi politik dan sosial yang berbeda dan saling bersaing. Pun, Solo dan sekitarnya juga menyediakan basis dukungan bagi komunisme dan nasionalisme radikal�. Maka, jelaslah alasannya ketika sosok sinkretik santri-abangan seperti Haji Misbach punya tempat ketika menggalang massa di Kota Bengawan. Ia pastinya memiliki basis yang cukup besar. Namun, sekalipun terdapat banyak kesamaan dengan gerakan SATV Haji Misbach, gerakan Islam di Kota Solo tetap memiliki perbedaan yang nyata, terutama pada substansinya. Apalagi jika komparasi dilakukan pada gerakan salibisasi belakangan. Substansi yang ditekankan sudah terlepas dari makna pergerakan yang pernah dilakukan oleh Haji Misbach. Haji Misbach sendiri ketika memisahkan diri dari TKNM dan mendirikan SATV, memiliki visi progresif yang jelas. Ia mempunyai pandangan bahwa kolonialisme merupakan musuh utama umat Islam. Dalam buku yang berjudul Haji Misbach: Pertarungan antara Islam dan Komunisme Melawan Kapitalisme, terang yang coba dilawan oleh Haji Misbach adalah kapitalisme yang diinfiltrasikan oleh kolonialisme. Karenanya, meski berangkat dari pemicu yang hampir sama, yakni reaksi pelecehan terhadap umat Islam, sebenarnya gerakan antisalibisasi di Kota Solo belakangan, hanyalah riak-riak dari aktivisme gerakan Islam di Kota Bengawan. Maka, ketika melihat yang diprotes oleh massa gerakan itu adalah formalisme simbol keagamaan. Garis perbedaan dengan gerakan Haji Misbach sungguh terlihat di depan mata. *** Gerakan keagamaan sekarang, terkhusus gerakan Islam, memiliki segudang pekerjaan rumah besar untuk berkontribusi terhadap perkembangan masyarakat sipil di Indonesia. Sebagai bagian dari publik, tentunya kontribusi mewujud salah satu hal penting menuju 13


FOKUS UTAMA ilahiah, maka akan menjadi agama humanisme yang kering. Dan pada akhirnya mengalami krisis,” tulisnya. Memang, simbolisme isu menyedot perhatian besar di kalangan akar rumput. Namun peran elite pranata sosial hendaknya menggunakan elegansi metodik, agar praksis akar rumput lebih berkualitas dalam masyarakat sipil. Dari hal tersebut, setidaknya reaksireaksi gerakan tidak hanya terpaku ke dalam inferioritas yang dipermak sedemikan tebal. Gerakan Islam bisa berbuat lebih dari hal itu. Gerakan islam punya potensi untuk mengembangkan aktivitasnya ke arah praksis sosial yang konkret dan tidak memicu kontroversi baru. Fatah ketika ditanyai mengenai gerakan yang diikutinya, menyatakan keikutsertaannya bermula dari kebutuhan pertemanan. Apalagi jika mengingat dirinya baru saja memutuskan untuk berhijrah, ia merasa butuh wadah pertemanan yang sejalan. Dan kebetulan, terkadang gerakan yang diikutinya memang sering aktif di media sosial. Isu-isu yang diangkat pun juga lebih

sering berkutat di masalah politik, terutama kebangkitan Islam dalam kancah politik. Lagi-lagi Fatah mengungkapkan keterlibatan dirinya itu dirasa perlu. Ia mengingatkan bahwa Islam sedang terseok di tengah perang pemikiran, yaitu ghazwul fikr. ”Kejayaan khilafah Turki Utsmani perlu diulang. Tidak harus khilafahnya, yang jelas Islamnya itu yang harus berjaya. Dan kita juga harus mengantisipasi nilai-nilai yang merusak keimanan kita. Artinya iman kita harus dibentengi, itu salah satu modal untuk menghadapi ghazwul fikr. Syarat lainnya, ya harus cerdik dan berwawasan,” katanya. Mengingat percakapan dengan Fatah beserta banyak kejadian di Kota Solo, sepertinya kata-kata Haedar Nashir ada benarnya,”Ketika Islam diciutkan ke wilayah yang sempit dan serba formalis yang jumud, maka jangan salahkan manakala sejarah kemudian meninggalkan gerakan yang dulu terkenal dan dikenal sebagai pembaharu,” tuturnya.

Ilustarsi: Aji Tirto Prayogo

kolaborasi. Walau demikian, seringkali malah terjadi friksi-friksi yang menghilangkan semangat kepublikan tersebut. Inilah salah satu modal sosial yang semestinya ditangkap oleh penggerak gerakan Islam. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah terkini, pernah menuliskan persoalan itu dalam sebuah tulisan yang berjudul “Problem masyarakat Indonesia dan Tantangan Gerakan Islam”. Menurut Haedar Nashir, formulasi gerakan Islam, cenderung berjalan ke arah spiritualisme. Jadi, dengan kata lain, gerakan Islam bergerak secara normatif dan formal. Padahal jika diberdayakan melalui cara pengamatan yang lebih empiris, gerakan Islam dapat lebih berdaya oleh cara-cara emansipatoris. Menurut Haedar Nashir, ”Jika gerakan-gerakan Islam di Indonesia terlalu ekstrem bergerak ke arah langit, sebagaimana agama zaman tengah di barat, maka ia akan menjadi gerakan teosentrisme yang kehilangan konteks kesejarahan kontemporer. Sebaliknya, jika serba duniawi yang kehilangan sumbu

14

Edisi November 2019


Foto : Alif/Majalah PABELAN

FOKUS UTAMA

Edisi November 2019

15


FOKUS UTAMA

R

euni Alumni 212 pada hari itu merupakan kali kedua Alumni 212 menyelenggarakan reuni setelah sebelumnya diadakan pada tahun 2017. Tak awam bagi kita bahwa Aksi 212 muncul karena kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama, yang kini terbukti sebagai tersangka, pada tiga tahun yang lalu. Benih yang pertama kali ditanam pada Aksi Bela Islam 411 ini, setidaknya, terus tumbuh hingga penghujung 2018. Mahasiswa yang mengambil studi Teknik Informatika ini aktif mengikuti forum kajian, baik yang dilaksanakan di sekitar kampus maupun di luar itu. Ia juga tidak luput mengikuti kajian yang dilaksanakan di indekos. Ihwan mengaku, kedua kakinya sampai ke Reuni Aksi 212 yang kedua itu dilatarbelakangi oleh proses berpikirnya dalam mengusahakan perjuangan Islam. Ia meyakini saat ini Islam menginjak zaman jabariyyan, di mana fase ini merupakan fase keempat setelah kenabian, kekhalifahan, lalu addon. Ihwan memperumpamakan dirinya sebagai pemain dalam laga sepak bola. Menurutnya, tidak ada yang bisa memenangkan kebangkitan Islam kalau bukan ia, sebagai muslim, ikut memainkan bola. Sebagai pemain, Ihwan mengaku ingin mendapatkan piala dari Allah SWT. Ihwan adalah salah satu dari ribuan peserta Reuni Alumni 212 yang kedua. Ia mengaku keikutsertaannya merupakan wujud kecintaan terhadap dakwah Islam. Mahasiswa Teknik Informatika ini terse16

nyum ketika mengungkapkan niatnya untuk bersilaturahmi dengan umat muslim dari berbagai daerah di Indonesia. Ihwan yakin bahwa acara yang didatanginya tak bermuatan politik dan berunsur anarkis. Ia datang sekaligus ingin membuktikan bahwa apa yang dikatakan ibunya, yang mengungkapkan aksi ini berjarak dengan kata damai, adalah tidak benar. Ihwan bercerita aksi tersebut diisi dengan selawat dan sambutansambutan dari para tokoh, termasuk Prabowo Subianto. Sejenak, Ihwan menyayangkan kedatangan Prabowo di tengah-tengah ajang silaturahmi umat tersebut. Ia tidak menampik kemungkinan aksi ditunggangi politik, tetapi Ihwan mengatakan label tersebut terbantahkan karena fakta lapangan yang menunjukkan tidak adanya bendera partai. “Batin saya kok ada Prabowo, kan ini agenda reuni bukan politik. Waktu itu banyak sekali yang teriakteriak nama Prabowo, tapi saya netral nggak ikut gitu-gitu.” Perihal keengganannya meneriakkan nama Prabowo, Ihwan beralasan bahwa hal tersebut merupakan agenda politik praktis. Ia mengabaikan apapun agenda politik praktis yang ada, karena baginya demokrasi bukanlah jalan Islam. Demokrasi sebagai sistem politik dianggap memiliki kedaulatan penuh di tangan rakyat, sementara menurutnya kedaulatan berada di tangan Allah. Aturan yang telah ditetapkan di kitab suci merupakan suatu hal yang haq, yang tidak lagi perlu pembahasan di dunia. Namun, Ihwan meyakini ada tiga hal yang

boleh dibahas yakni perkara cara berperang, berdakwah, dan salat. “Kalau beragama Islam harus berislam secara kafah, tidak boleh mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian. Dalam Islam ada hukum kisas (qishas-red) yang tidak bisa diterapkan. Di dalam Al Qur’an disebutkan diwajibkan untuk berpuasa, begitu juga kisas itu wajib, tapi gak bisa dilaksanakan karena adanya demokrasi itu.”

Ihwan meyakini bahwa demokrasi bukanlah sistem politik yang seharusnya diterapkan. Baginya, demokrasi bisa membatasi dirinya dalam mengamalkan nilai-nilai agama yang ia percayai. Demokrasi melibatkan rakyat dalam pembuatan hukum. Kondisi tersebut, menurut Ihwan, bisa menyebabkan chaos karena pikiran manusia yang relatif sehingga apa yang menjadi mayoritas belum tentu benar. Padahal, demokrasi telah menjadi sistem yang dijalankan oleh pemerintahan Indonesia sejak tahun 1950. "Pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat." Demikianlah pengertian demokrasi oleh Abraham Lincoln. Perkembangan demokrasi pun berjalan mulai tahun 1950 sampai 1959 dengan sebutan Demokrasi Parlementer dimana presiden hanya bertindak sebagai kepala negara bukan sebagai kepala eksekutif. Memasuki tahun 1959-1965 pemerintahan berjalan dengan sistem Demokrasi Terpimpin, dimana peEdisi November 2019


Ilustrasi: M. Jabal Noor

FOKUS UTAMA

mimpin atau presiden yang bersifat diktator. Hingga sistem demokrasi pada orde reformasi yang berjalan hingga sekarang, dikatakan sebagai sistem terbaik di Indonesia. Berbicara tentang demokrasi tidak bisa lepas dari adanya penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) dan partai politik untuk menyukseskan demokrasi itu sendiri. Namun, dengan adanya penyelenggaraan pemilu timbul suatu tren politik yang mengusung kepentingan dari suatu kelompok. Fenomena politik identitas di tahun 2019 begitu terasa dibanding pemilu tahun 2014. Hal ini dijelaskan oleh Thontowi Jauhari selaku pengamat politik sekaligus advokat dari Boyolali yang mengatakan bahwa fenomena tren politik identitas ini diawali pada pemilihan kepala Edisi November 2019

daerah (pilkada) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, dimana Ahok muncul untuk melawan dengan politik identitas. Politik identitas ini pun muncul akibat adanya kepentingan - kepentingan dari suatu kelompok partai dalam rangka meraih kepentingan elektoral yang lebih mengutamakan identitas dibanding program-programnya. Hal ini ditandai dengan adanya persamaan background baik itu agama, ras, dan budaya. Berdasarkan orasi ilmiah Ahmad Syafii Maarif yang berjudul “Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Indonesia�, secara substantif politik identitas memiliki kaitan dengan kepentingan-kepentingan anggota dalam sebuah kelompok yang merasa terpinggirkan karena diperas ataupun tersingkir dari 17


FOKUS UTAMA dominasi arus yang lebih besar. Buya Syafii, sapaan akrabnya, mengilustrasikan hal tersebut melalui pendatang muslim di Eropa yang mungkin terpinggirkan oleh berbagai sektor seperti ekonomi, politik, dan kultural. Pelaku bom bunuh diri merupakan contoh gamblang yang menggambarkan ketidakmampuan beradaptasi kaum muslim sebagai pendatang. Penyesuaian diri menjadi sulit karena keterikatan primordial yang kuat dengan daerah asalnya. Keterasingan ini bisa memunculkan kelompok garis keras. Buya Syafii sekaligus menyebutnya sebagai tragedi diaspora muslim abad ke-21, dimana kelompok yang teralienasi menggunakan jubah Islam sebagai politik identitasnya. Sementara itu di Indonesia, penggunaan politik identitas dalam pemilu bisa disebabkan karena kegagalan partai politik Islam dan partai politik berbasis Islam untuk mengusung isu-isu yang rasional. Thontowi mencontohkan salah satu partai di Indonesia, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada tahun 2004 bisa memenangkan pemilu di DKI Jakarta. Ini membuktikan meskipun PKS merupakan partai Islam, tetapi bisa memenangkan pemilu di DKI Jakarta karena bisa membawa isu-isu yang universal.

Dalam tren identitas politik di Indonesia sendiri, identitas agama pun menjadi fenomena yang paling mengundang banyak perhatian. Isuisu identitas Islam di ranah publik dalam konteks politik elektoral ketika pemilu berlangsung sangat terasa. Dalam politik identitas agama muncul kecenderungan kesadaran baru, tentunya dalam menghadapi pemilu tahun 2019 banyak kelaskelas menengah muslim yang berperan memunculkan tren politik identitas agama. Padahal sebagai suatu partai politik tidak perlu mengedepankan identitas, namun politik yang mengusung agama sebagai identitas menurut Thontowi tidak punya masa depan. Hal ini di18

sebabkan selama penyelenggaraan pemilu di Indonesia tahun 1955 sampai 2019 belum pernah partai yang mengusung identitas agama menjadi pemenang pemilu. Sejak tahun 1995 dan juga pada era reformasi, partai yang memenangkan pemilu adalah partai-partai yang tidak mengusung suatu identitas tertentu. Hingga Thontowi Jauhari berani mengatakan bahwa partai politik yang mengusung suatu identitas tidak akan pernah memenangkan pemilu dan tidak akan bertahan lama dalam pemilu di Indonesia. Dalam konteks di Indonesia, jika suatu partai ingin memenangkan suatu pemilu itu mestinya partai politik dapat mengusung isuisu universal seperti istilah yang digunakan Kuntowijoyo yaitu objektivitas. “Objektivitas Islam politik yaitu mengangakat isu-isu yang menjadi kepentingan universal, bukan kepentingan kelompok. Kemudian secara substansi juga Islam, misalnya partai politik tidak pernah mengusung antikorupsi padahal itu bagian dari Islam, sementara itu yang diusung hanya dia Islam atau tidak. Hal tersebut merupakan bagian dari pelarian partai politik yang tidak bisa bersaing dalam konteks persaingan politik dan tidak memiliki ide-ide sehingga mencari gampang dengan eksploitasi identitas,� tutur Thontowi. Dalam konteks pemilu Indonesia, partai politik yang mengusung suatu identitas tidak akan pernah menang dan dengan munculnya tren politik identitas ini juga menunjukan kualitas demokrasi menurun. Hal ini disebabkan karena masalah-masalah yang diangkat ke publik hanya persoalan latar belakang partai, padahal pada penyelenggaraan pemilu partai politik seharusnya menawarkan programprogram yang dapat menguntungkan rakyat. Kelas menengah muslim merupakan kelompok-kelompok yang secara ekonomi di atas rata-rata. Hal yang menjadi persoalan ketika ekonomi muslim di Indonesia termaginalkan secara ekonominya. Dimana ekonomi lebih dikuasai

oleh kelompok-kelompok Islam, sehingga hal ini menimbulkan adanya semacam solidaritas internal dalam kelompok Islam. Isu yang diangkat juga isu agama yang sensitif dan diangkat untuk meraup simpati orang meskipun itu tidak strategis. Menurut Thontowi, tidak seluruh kelompok menengah muslim memiliki kesadaran politik baru melalui politik identitas. Ini berkaitan dengan Islam-Islam yang puritan, dimana kelompok ini tidak terjun ke dalam dunia perpolitikan Indonesia. Paham-paham transasisionalisme yang dianut oleh kelompok ini berasal dari luar, misalnya gerakan salafi dan bisa tersebar melalui kajian - kajian yang berada di sekolah dan kampus. Pada mulanya, mereka tidak akan bicara soal politik, tetapi gerakan ini mulai terpancing untuk terjun dalam perpolitikan akibat kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahja Purnama atau Ahok sehingga muncul gerakan 212. Edisi November 2019


Foto : Riski Setyo W./Majalah PABELAN

FOKUS UTAMA

Edisi November 2019

19


Foto : Riski Setyo W./Majalah PABELAN

FOKUS UTAMA

Kepadatan jalan menjadi penanda bahwa Solo senantiasa ramai dengan hiruk-pikuk. Menyusuri jalanan di sekitar Masjid Agung yang dibangun oleh Pakubuwana III pada tahun 1757, hiruk pikuk pedagang yang berjualan di sekitar Pasar Klewer semakin terasa. Satu dua becak berbaris rapi menanti penumpang maupun muatan barang. Tak sedikit pula yang telah bermuatan kain bercorak unik dengan berbagai pemaknaannya menanti dijemput tuannya. Sementara di sebagian sisi jalan, sepasang mata akan termanjakan oleh cat kusam bangunan tua, tulisan ‘Kampung Batik Kauman’ menyapa.

20

S

ebelum Laweyan populer dengan sentra industri batik pada abad ke-19, Kauman terlebih dahulu menjadi sentra batik di Solo. Kala Pakubuwana III menyelesaikan pembangunan Masjid Agung Surakarta, para abdi dalem keraton dan para santri tinggal di sekitar daerah masjid. Sembari itu, mereka turut andil dalam pembuatan batik dan menjualnya. Seiring pertumbuhannya, perkampungan di sekitar masjid yang kebanyakan dihuni oleh abdi dalem serta santri maupun ulama tersebut dikenal dengan nama kampung Kauman. Merujuk dengan yang pernah dikemukakan seorang sejarawan, Sartono Kartidirdjo, yang mengungkapkan bahwa Kauman merupakan tempat tinggalnya kaum beriman. Sementara itu, apabila dilihat dari asal usul kata kaum yang berasal dari qoimuddin berarti penegak agama. Jadi Kauman merupakan tempat para penegak agama yaitu santri dan ulama.

Tak jauh beda, seperti yang dikatakan oleh dosen Sejarah asal Universitas Sebelas Maret (UNS), Susanto, bahwa perkampungan pada masa lampau memiliki nama atau dikenal dengan hal-hal yang menjadi ciri khasnya. “Ada Kampung Kabangan, karena (batik-red) yang diproduksi adalah kain yang berwarna merah. Lalu ada Kampung Mutian, karena yang diproduksi adalah kain-kain berwarna putih. Lalu Klaseman, itu kain-kain yang berwarna coklat. Itu menunjukkan komunitas.� Saat kami berdua menemui Susanto pada hari Kamis (4/7), ia sedang memeriksa tugas kuliah mahasiswa yang diampunya. Karena kedatangan kami, ia menghentikan aktivitasnya itu lalu menyambut kami dengan senyuman hangatnya. Suara beratnya menjadi pembuka perbincangan kami bertiga. Dari yang Susanto tuturkan, jauh sebelum gereja dibangun satupersatu dan memasuki Wilayah Solo Edisi November 2019


FOKUS UTAMA di Solo. Sebab tanpa kekuatan ekonomi tidak mungkin budaya itu besar,� pungkas Susilo di ruangannya pada suatu siang. Di daerah Kedunggudel, Sukoharjo, misalnya, wilayah bagian selatan Surakarta ini memiliki banyak pengusaha batik wanita pada masanya. Dibanding dengan wilayah utara Surakarta yang memiliki pengaruh kuat Eropa, wilayah selatan lebih tradisional. Masjid-masjid yang dibangun di sana menjadi

Foto : Alif/Majalah PABELAN

Solo erat kaitannya dengan kehadiran pengusaha-pengusaha batik pribumi yang mampu bersaing dengan pengusaha Tionghoa maupun pengusaha Eropa. Adanya persaingan bisnis tersebut kemudian menjadikan Solo sebagai kota dagang. Karenanya, kekuatan ekonomi inilah yang mendasari suatu perkembangan budaya di Solo. “Penting sekali kita bicarai itu, karena justru kekuatan ekonomi ini yang nanti mendasari satu perkembangan budaya

Foto : Riski Setyo W./Majalah PABELAN

sekitar tahun 1916, muslim sudah bisa dilacak keberadaanya sejak zaman Mataram masih ada di Kartasura. Dalam lingkup kerajaan, hal itu dibuktikan dengan adanya gelar Senopati ing Ngargo Sayyidin Penatagama yang berarti seseorang telah menjadi wakil Allah untuk mengatur umat manusia berdasarkan hukum-hukum-Nya. Napas Islam dalam keraton semakin kental dengan adanya pembangunan Masjid Agung di sekitar keraton. Sementara di kalangan kelas menengah, para santri dan abdi dalem yang tinggal di sekitar masjid beraktivitas mengikuti perkembangan industri batik yang tengah berkembang pesat kala itu. Tidak ada pengidentifikasian khusus, muslim dan jawa membaur menjadi satu identitas. “Muslim (pada masa itu-red) sulit dikategorikan, karena pada waktu itu Jawa itu muslim. Dia tidak mengatasnamakan Muslim, ya Jawa, gitu aja,� terang Susanto yang juga menjabat sebagai kepala Program Studi Sejarah UNS tersebut. Seturut dengan apa yang dikatakan oleh Susanto, kelas menengah

Edisi November 2019

21


FOKUS UTAMA

tanda bahwa masyarakat Kedunggudel selain menjadi pembatik juga seorang muslim. Dari historisnya, dilansir dari Solopos.com (9/6/ 2017), Kedunggudel menjadi salah satu wilayah yang dijadikan para ulama untuk menyebarkan ajaran Islam melalui jalur sungai Bengawan Solo yang menghubungkan wilayah Solo hingga Gresik, Jawa Timur. Pertumbuhan batik di Kedunggudel lebih unggul dibanding kainkain buatan Eropa. Padahal, terang Susanto, harga batik kala itu lebih mahal. Pun setelah abad ke-19, tepatnya setelah canting ditemukan, produksi batik menjadi semakin luar biasa. Pertumbuhan itu disusul dengan perkembangan batik di Kauman dan Laweyan. Memasuki abad

22

20, Kampung Laweyan merupakan potret keberhasilan kelas menengah muslim yang semakin mampu mewarnai dominasi usaha batik yang waktu itu turut dikuasai oleh saudagar Tionghoa. Sejarawan Solo, Soedarmono, dalam Mbok Mase, dilansir dari Republika.co.id, menuliskan bahwa kelas menengah Jawa kala itu ingin menandingi budaya aristokrasi keraton dan priyayi. Hal menarik lainnya adalah ketika pada tahun 1897 Mangkunegaran mengalami krisis ekonomi. Kelompok kelas menengah menjadi penggerak dalam mengatasi krisis tersebut. Mereka yang awalnya hanya berbisnis dengan memproduksi batik, turut merambah bisnis lainnya seperti beras, minyak, dan lainnya. Kelompok kelas menengah ini pun memiliki kaitan erat dengan gelar Kota Solo yang disebut sebagai Kota Budaya. Berawal dari krisis ekonomi pada tahun itu, merambat pada wayang orang yang terancam mati karena hanya dipentaskan dalam wilayah istana, padahal membutuhkan banyak biaya. Tercetuslah ide dari seorang pengusaha batik peranakan Tionghoa bernama Gan Kam yang atas izin Mangkunegara VI, dapat membawa wayang orang dipentaskan di luar istana. Untuk pertama kalinya, wayang orang dapat disaksikan oleh masyarakat umum dan dikomersialisasikan. Dari sanalah tempat-tempat kesenian seperti Sri Wedari lahir. Edisi November 2019


FOKUS UTAMA

Arsip foto orang membatik dari masa ke masa yang terpajang di salah satu ruang toko batik, Laweyan.

T

ahun 1911, Haji Samanhudi memotori terbentuknya Sarekat Dagang Islam (SDI) di Solo. Samanhudi yang sejak awal berlatar belakang sebagai saudagar saat itu merasa tersaingi dengan adanya pengusaha Tionghoa. Keresahan tersebut berangkat dari bahan-bahan batik yang dikuasai oleh pengusaha Tionghoa, pun dengan penentuan harganya sehingga saudagar pribumi merasa dirugikan. Kelompok yang awalnya cabang dari buatan Tirto Adhi Soerjo di Bogor ini memiliki tujuan untuk memperkuat persatuan dagang pribumi agar mampu bersaing dengan pengusaha asing khususnya Tionghoa. Kelompok kelas menengah secara umum mampu mengikuti perguliran waktu, tak hanya batik, ketika sastra menjadi kuat, maka muncul pula pengusaha buku dan percetakan. Sarekat Islam (SI) turut andil dalam penerbitan surat kabar Saroetomo yang dipimpin oleh Edisi November 2019

Marco Kartodikromo, seseorang yang dulunya ikut bekerja bersama Tirto Adhi Soerjo, orang pribumi pertama yang menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu bernama Medan Prijaji dan kini dikenal sebagai Bapak Pers Indonesia. “Jadi SI menerbitkan di Solo, koran namanya Saroetomo, itu korannya SI yang ada di Solo. Berarti kan penerbitan, lalu perdagangan, batik, dan sebagainya.� Seiring berjalannya waktu, SDI pun berubah namanya menjadi SI. Hal ini dilandaskan pada ruang gerak organisasi yang lebih luas dan tidak hanya terbatas pada masalah perdagangan saja. Selain itu, anggota pergerakan tersebut tak hanya dari kaum pedagang, melainkan muslim pada umumnya. Adanya SI menimbulkan gaya hidup baru bagi kelas menengah muslim kala itu. Ada seragam yang dikenakan. Ada identitas baru yang muncul. “Wuaahh, saya ikut rapat meskipun mungkin buta huruf ya, tapi ikut ra23


FOKUS UTAMA

24

M

emasuki era sekarang, kelas menengah muslim di Indonesia sudah memiliki perbedaan yang signifikan. Paling nampak adalah bagaimana cara berpakaian. Gaya hidup yang menjadi desain global turut berubah. Dalam hal berpakaian, identitas seseorang dapat ditunjukkan dengan apa yang dikenakan. Namun, dalam perjalanannya, justru gaya hidup dapat menghilangkan identitas seseorang. Pengaruh dari gaya hidup lantas memasuki ruang-ruang dimana ukuran kesalehan salah satunya diukur dari penampilan. Akibatnya, mereka yang tak mampu mengikuti jalannya gaya hidup tersingkirkan ataupun memilih untuk menyingkir. “Tapi saya tidak bisa masuk karena pendirian saya berbeda, maka saya menyingkirkan diri. Saya masuk ke dalam kantong yang dibuat sendiri, bukan ruang mereka,” papar lelaki paruh baya tersebut mengilustrasikan.

Buntutnya lagi, mereka yang memilih untuk menyingkir kembali berkelompok membentuk kelompok baru. Atau sebaliknya, modernisasilah yang memang menyingkirkan orang-orang secara paksa. Kerugiannya bisa secara kultural maupun psikologis, pun bisa jadi secara religius. Tak hanya sekarang, sejak dulu pun, perlawanan-perlawanan muslim masih berkaitan dengan gaya hidup yang berbeda. “Maka jangan heran, kelompok kebatinan itu tumbuh karena dia tersingkir. Jadi modernisasi ini menyingkirkan kelompok, komunitas-komunitas kecil yang tidak bisa masuk di dalam arus itu.” Hampir satu jam kami berbincang pada siang hari itu. Mengenai perjalanan kelas menengah muslim di Kota Solo, pikiran kami berdua sudah dipenuhi dengan banyak gambaran muslim dari masa ke masa. Kami merasa apa yang dipaparkan sudah cukup untuk menambah data. Seperti pada awal menyambut kami, Susantopun tersenyum mengizinkan kala kami pamit undur diri. Kami kemudian keluar dari ruangannya yang berukuran sekitar 3x3 meter itu.

Ilustrasi : Riski Setyo W./Majalah PABELAN

pat untuk pertemuan itu penting sekali. Muslim memulai identitasnya,” contoh Susanto dalam penggambarannya. Namun, dibanding menekankan pada gaya hidup, kelas menengah muslim lebih menekankan pada nilai identitas mereka sebagai seorang muslim. Nilai identitas tersebut ditujukan dalam bentuk kesalehan. Dari segi pakaian, tak ada yang membedakan dari kelas menengah muslim maupun kelas menengah lainnya. Pakaian-pakaian pada awal abad 20 tidak memiliki ciri sebagai pakaian muslim. Cara berpakaian didasarkan pada masingmasing pakaian khasnya. Jika perempuan Jawa maka mereka mengenakan kebaya, jika peranakan Tionghoa mengenakan pakaian Tionghoa, dan jika keturunan Arab maka mereka mengenakan pakaian kebudayaan Arab. Perubahan-perubahan terkait identitas pada pakaian baru nampak setelah tahun 1979. Memasuki tahun 1980-an, terlebih setelah era reformasi, ada pergesaran dalam berpakaian di kalangan muslim. “Jadi dulu tidak mengidentifikasikan bahwa muslim itu dari ciri pakaiannya, tidak. Sama (cara berpakaian-red),” terang Susanto. Contoh lain sebagai pembanding adalah orang-orang muslim di masa lalu masih jarang yang menunaikan ibadah haji. Bukan karena tidak mampu dalam pembiayaan, melainkan karena keyakinan pada bobot seseorang yang menunaikan haji kala itu adalah orang yang sudah baik perilakunya, segala nafsu dan emosi duniawi telah disingkirkan dan benar-benar hidup sebagai seseorang yang dapat dipastikan kebaikannya. “Tidak mungkin dia kena KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi-red), misalnya. Tidak mungkin pada waktu itu. Karena pada waktu itu bukan gaya hidup yang penting, tapi identitas. Lah sekarang penampilan. Kulit lebih penting dibandingkan dengan isi,” kelakar Susanto membandingkannya dengan masa sekarang.

Edisi November 2019


Ilustrasi : Aji Tirto P./Majalah PABELAN

ARTIKEL PENDUKUNG

Edisi November 2019

25


ARTIKEL PENDUKUNG

M

asih lekat diingatan, 2 Desember tiga tahun lalu ketika berseluncur di dunia maya, berbagai akun ramai menyiarkan foto tugu monumen nasional (monas) yang dipenuhi oleh ribuan orang. Massa yang diperkirakan 200.000 orang itu bergerak dengan semangat untuk membela Islam, setelah perkara penistaan agama yang terjadi pada bulan September di tahun yang sama. Aksi yang lebih dikenal dengan Aksi 212 tersebut dimulai sejak pagi, pada jam 10.00 WIB perserta aksi sudah ramai memenuhi jalanan dan peserta melaksanakan salat Jumat berjamaah. Aksi Bela Islam sebelumnya telah terjadi dua kali, pertama pada 14 Oktober yang dikenal dengan 1410, kemudian 14 November atau 1411. Fenomena 212 tersebut dianggap hal yang luar biasa, setiap ahli terperangah akan masifnya gerakan umat Islam saat itu. Aksi tersebut tidak berakhir hingga di situ, dengan perasaan solidaritas antar

26

masyarakat yang beragama Islam, maka Reuni 212 pun diadakan. Sebagian besar mulai menyimpulkan bahwa aksi tersebut sebagai tanda menguatnya populisme kanan di Indonesia. Banyak juga yang meragukan dengan mempertanyakan apakah gerakan itu hanya riak belaka. Sebelum lebih jauh membahas, mari menelisik makna populisme terlebih dahulu. Populisme merupakan arah politik di mana hak rakyat kecil dijunjung tinggi.

Makna Populisme Islam Achmad Mukafi Niam dalam tulisannya “Populisme Islam, Gelombang Pasang atau Hanya Riak?� mengungkapkan populisme Islam secara sederhana diartikan dengan menampung suara umat Islam yang merasa terpinggirkan dari elite-elite penguasa. Sedangkan, Abdil Mughis Mudhoffir dalam jurnalnya yang dimuat dalam Jurnal Prisma dengan judul “Populisme Islam dan Tantangan Demokrasi di Indonesia� menyebutkan populis-

me merupakan kecenderungan politik yang menempatkan rakyat banyak berhadapan dengan elite yang menindas. Populisme Islam merupakan respon terhadap globalisasi neoliberalisme yang memperburuk ketimpangan sosial-ekonomi. Para prekariat dihadapkan dengan kondisi tidak stabil, tidak pasti, dan tidak aman. Sedangkan kelas menengah yang berpendidikan meski banyak, nyatanya tidak dapat melakukan gerakan perubahan ke atas. Karena, pada realita kelas menengah juga menghadapi kondisi yang serupa, kemampuan ekonomi yang tidak begitu stabil disertai sifat konsumtif yang tinggi demi mempertahankan status kelas menengahnya. Maka, umumnya solusi yang dicari ialah relasi dan solidaritas. Sehingga jawaban atas keadaan tak pasti itu adalah persaudaraan keagamaan. Vedi R. Hadiz dalam wawancaranya dengan Balairung Press menyebutkan, di Indonesia dalam sistem ekonomi dan politik

Edisi November 2019


Sumber: hidayatullah.com

ARTIKEL PENDUKUNG

yang beridentitas moralitas religius s e r t a m e n gh a r u s ka n a d a nya solidaritas berdasarkan ummah merupakan solusi yang dicari. “Identitas tersebut seakan-akan menyatukan berbagai kalangan yang mempunyai kesamaan dalam memandang diri mereka sebagai ‘korban’ sistem yang ada. Namun, dalam kenyataan mereka terdiri dari elemen yang sangat berbeda (misalnya kelas menengah terdidik dan orang miskin kota),” ujarnya. Terkadang terjadi kebingungan antara populisme sayap kanan dan politik identitas. Jika populisme m e r u p a k a n g a m b a ra n k a u m proletar melawan elite, maka politik identitas digambarkan anti terh a d a p p i h a k ya n g m e m i l i k i identitas berbeda dengan mereka. Sehingga, ketika dalam partai politik Islam yang harusnya bisa menjadi representasi atas perlawanan dengan pihak elite namun tidak dapat melakukan itu, maka kepercayaan masyarakat atau “umat” dapat memudar. Sedangkan, politik identitas merupakan senti-

Edisi November 2019

men-sentimen yang dikomporkompori seperti “kafir”, “nonpribumi”, “monyet”, dan sebagainya.

Warisan Depolitisasi Faktor lain yang mendukung agama sebagai solusi adalah absennya gerakan politik yang progresif. Demi melanggengkan kepemimpinan, Soeharto kala itu banyak merepresi berbagai gerakan agar tidak muncul pertentangan dengan pemerintah, baik gerakan kiri maupun kanan. Keadaan sosial yang kini dihadapi masyarakat ialah adanya ketimpangan sosial yang tinggi dan munculnya perasaan ketidakadilan sosial yang semakin menguat. “Secara konvensional ini adalah lahan dari kekuatankekuatan kiri, untuk dibina dan membangun basis pendukung. Dikarenakan gerakan kiri vakum, maka kekosongan tersebut diisi oleh sebagian besar kelompok Islam,” ujar Vedi R. Hadiz yang merupakan Professor of Asian Studies di Asia Institute, University of Melbourne, Australia.

D i b awa h re z i m o to r i te r tersebut banyak kegiatan politik yang dihilangkan, hal ini membuat masyarakat cenderung apolitis dan memilih tidak mempercayai partai politik. Meski demikian, demokrasi berhasil diraih oleh Indonesia, namun terjadi krisis representasi. Reorganisasi kekuasaan yang oligarkis tetap bereproduksi, masyarakat sipil masih saja apolitis, sedangkan gerakan sipil progresif tidak terorganisir. Oleh karena basis sosial yang tidak kuat itu, lahirnya partai politik baru belum bisa menawarkan agenda politik yang progresif. Sehingga, saat kontestasi elektoral berlangsung, bukannya membangun basis sosial yang kuat, melainkan memainkan politik uang, politik kekerasan, dan politik identitas. Hal ini bisa diamati banyaknya peraturan-pperaturan daerah yang diluncurkan dengan berbasis syariat di berbagai daerah. Dampaknya, masyarakat bukan b e r fo ku s u n t u k m e m b a n g u n kebaikan bersama dengan

27


ARTIKEL PENDUKUNG demokrasi, melainkan mementingkan sentimen-sentimen keagamaan.

Umat yang terfragmentasi Pada pilkada Jakarta 2017 lalu, pasangan Anies - Sandiaga lebih unggul dibandingkan pasangan Ahok - Djarot. Fenomena ini banyak dianggap sebagai menguatnya populisme kanan di Indonesia, meski demikian sesungguhnya para umatnya tampak terfragmentasi. Hal ini dapat diidentifikasi dari beragamnya elemen gerakan Islam yang merepresentasikan diri sebagai umat. Seperti yang disebutkan da la m t u lisa n Ab dil Mu gh is Mudhoffir dkk, di antaranya yaitu yang menempuh jalur kekerasan dan terorisme yang menolak demokrasi, kelompok kekerasan sipil, kelompok pengajian yang apolitis, hingga partai-partai Islam. Senada dengan hal tersebut, M. T. Arifin saat ditemui di kediamannya juga mengungkapkan dalam Islam, umatnya-lah yang terfragmentasi. Menurutnya, hingga sekarang masih banyak yang tidak mengakui realitas kemajemukan kehidupan umat. Harus dipahami umat Islam terdiri dari kelas bawah, menengah, dan atas, serta baik itu yang berpendidikan maupun tidak,

baik yang berpartisipasi dalam partai politik maupun tidak. “Islam itu satu tetapi pemahaman umat yang berbeda-beda karena berislam itu sesuai kemampuan. Permasalahannya kadang umat yang berpolitiknya tidak sebagaimana kelompok-kelompok mainstream akan dianggap bukan muslim, ” jelas lelaki yang menyebut dirinya seorang konsultan ini. Dapat ditarik kesimpulan bahwa secara sosiologis Islam menguat, namun aliansi populis Islam secara pengorganisasian tidak kuat. Serta, partai politik (parpol) Islam sendiri nyatanya bukan merupakan saluran politik yang representatif. Karena, banyak petinggi parpol Islam yang juga terlibat dalam korupsi. M. T. Arifin berpendapat parpol Islam tidak dapat menjadi agregasi kepentingan-kepentingan umat, sehingga tidak bisa diangkat untuk menjadi sebuah kekuatan yang bisa mewakili umat. Oleh karena itu, massa yang tidak terorganisir tersebut dimobilisasi oleh politisi sekuler yang menawarkan diri bahwa mereka tampak dapat merepresentasikan umat. “Kepercayaan rakyat kepada parpol Islam juga naik turun, hal ini bisa dilihat dekat tidaknya pemimpin parpol dengan masyarakat,” ujar Arifin.

Populisme Islam menjadi bermakna hanya dalam kompetisi elektoral belaka karena dimobilisasi oleh para politisi. Tidak bisa menjadi sebuah aliansi yang berdiri sendiri maupun otoritatif yang mengangkat agenda Islam. Abdil Mughis Mudhoffir dalam jurnalnya tidak menyepakati kemenangan Anies - Sandi pada Pilkada 2017 merupakan tanda menguatnya populisme Islam. Menurut M. T. Arifin, Islam memang merupakan mayoritas di Indonesia, namun penyebarannya di berbagai daerah tidak melulu mayoritas. Parpol Islam sudah mengikuti kontestasi politik sejak lama, namun tidak pernah menjadi pemenang dalam ranah nasional. Achmad Mukafi Niam dalam tulisannya juga, kelanjutan populisme Islam akan bergantung pada situasi yang ada. Melihat beragamnya golongan yang tertampung dalam umat, maka apakah akan ada kepentingan bersama yang dapat menyatukan. Ataukah terlalu banyak perbedaan yang tidak bisa disesuaikan sehingga terjadi perpecahan. Perlu adanya penyadaran bahwa kekecewaan yang terjadi bukan karena adanya ancaman kelompok lain, namun langgengnya para elite yang serakah.

Islam itu satu tetapi pemahaman umat yang berbeda-beda karena berislam itu sesuai kemampuan. Permasalahannya kadang umat yang berpolitiknya tidak sebagaimana kelompok-kelompok mainstream akan dianggap bukan muslim

28

Edisi November 2019


BINGKAI

Edisi November 2019

29


BINGKAI

30

Edisi November 2019


BINGKAI Sore itu, suara lantang di megafon berpacu bersama sorak soraiorang-orang di belakangnya. Nampak lengkap dengan aparat berjaga untuk mengondusifkan suasana. Di tengah hiruk pikuk itu,tetap saja, seketika khidmat kala adzan maghrib berkumandang, dan segala aktivitas ditinggalkan. Urusan khidmat adalah milik setiap orang, tanpamengenal jabatan dan segala kepentingan yang sedang diperjuangkan.

Edisi November 2019

31


BINGKAI

Aksi persatuan umat Islam menuntut KPU adil, Minggu (19/05/2019)

32

Edisi November 2019


BINGKAI

Edisi November 2019

33


Foto: youtube.com/istimewa

WAWANCARA

34

Edisi November 2019


WAWANCARA

P

olitik bak tak ada matinya untuk diperbincangkan, terlebih selama kurun waktu pesta demokrasi negara ini yang terus berkembang, hingga terkadang alpa akan kebenaran. Pada setiap tahun politik, istilah populisme selalu muncul bersamaan dengan istilah demokrasi. Populisme dan demokrasi selalu saja dikait-kaitkan karena memiliki basis yang sama, yakni kedaulatan akan kekuasaaan rakyat. Istilah populisme digunakan untuk paham yang mengutamakan kepentingan rakyat kecil dibandingkan kalangan elite, namun isu ini selalu dimanfaatkan untuk memunculkan rasa nasionalisme dalam arti sempit. Populisme dimanfaatkan untuk menolak semangat perubahan dan keterbukaan. Munculnya populismepun tak lepas dari kelompok-kelompok masyarakat, karena Indonesia memiliki kemajemukan dalam banyak hal. Salah satu yang bisa terlihat dari kelompok-

Edisi November 2019

kelompok ini adalah masyarakat kelas menengah muslim. Kelompok ini turut terlibat, terus bergerak, dengan tujuan menjadi masyarakat yang madani. Dipengaruhi oleh intelektual, tak heran kelompok ini juga merambat di kampuskampus. Berikut wawancara reporter Majalah Pabelan terkait populisme dengan Wasisto Raharjo Jati via WhatsApp. Hal ini dilakukan karena narasumber sedang menempuh studi Strata Dua (S2)-nya di Australian National University Canberra, Australia, sehingga reporter belum bisa bertatap muka secara langsung. Akhirnya kami melakukan wawancara via media. Terhambat oleh jaringan atau masalah teknis lain yang kerap terjadi, mengakibatkan wawancara tidak dilakukan dalam satu waktu. Namun hal tersebut bisa teratasi. Berikut akan kami paparkan hasilnya.

35


WAWANCARA Apa itu Populisme? “Secara definisi, Populisme dapat diartikan menjadi dua buah makna. Yang pertama, populisme dapat diartikan sebagai alat koreksi terhadap demokrasi, dengan kasus oligarki meminggirkan suara publik yang terpinggirkan. Makna yang kedua dapat diartikan sebagai alat anarki terhadap demokrasi, yang dimana praktik demo mengandalkan suara mayoritas dan cenderung meminggirkan minoritas.”

“Berbicara tentang sifat, jenis dan contoh dari populisme itu sendiri, populisme bersifat fluktuatif atau naik turun. Populisme bisa terjadi karena ada kasus atau tragedi yang dialamatkan kepada pemerintah. Maupun jenis populisme itu sendiri, tidak bisa dipukul rata, karena berbeda pada setiap negara. Untuk contoh-contoh dari populisme di Indonesia, dapat terpampang jelas pada Gerakan Pasca ‘99, Gerakan Pendukung KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi-red), Gerakan Relawan 2014, dan Gerakan Bela Islam 212.” Kenapa populisme dapat terjadi di Indonesia? “Populisme dapat terjadi karena adanya gejala kekecewaan yang dialamatkan terhadap pemerintahan, sentimen SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan–red). Politik identitas menggunakan narasi bersifat sentimen, seperti isu agama dan kepercayaan, dan figuritas. Dapat dicontohkan pendukung Jokowi memiliki alasan kuat untuk memilih paslon (pasangan calon-red) 01 dikarenakan adanya kesamaan latar belakang terhadap Jokowi.” Bagaimana perbedaan gerakan populisme zaman sekarang vs zaman dahulu? “Masyarakat baru, terkesan pragmatis dan rasionalitas, tanpa adanya ideologi yang kuat dan po36

Foto: lipi.go.id/istimewa

Bagaimana sifat, jenis, dan contoh dari populisme?

pulis menyambungkan rasa dan isu yang sama. Sedangkan gerakan dulu lebih terorganisir dengan ideologi yang diperjuangkan.” Apakah dengan adanya populisme berdampak baik pada kehidupan bermasyarakat? “Dengan adanya populis yang berkembang di Indonesia, paham populisme dapat mengakibatkan dampak baik dan buruk bagi kehidupan bermasyarakat atau dapat diibaratkan sebagai dua buah mata pisau. Karena di satu sisi, paham populisme dapat mengawal kebijakankebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan, di lain sisi dapat mengakibatkan perilaku anarkis yang dapat merugikan semua pihak. Perilaku anarkis ini kebanyakan didasarkan atas ideologi yang belum matang dan hanya berdasarkan sentimen semata, karena memiliki perasaan yang sama.” Masyarakat kelas menengah bisa saja menerima isu populis.

Bagaimana populisme masuk ke mereka? “Yang pertama masyarakat kelas menengah itu adalah masyarakat yang tanpa ideologi, yang mereka cenderung tidak terikat pada halhal yang sifatnya bersifat idealis. oleh karena itu kemudian mereka menerima populisme. Secara sederhana populisme diartikan sebagai gerakan ideologi tanpa ideologi. Karena, ia menjadi payung besar atas semua kepentigan dan semua keinginan dari anggota kelas menengah.” Bagaimana pandangan masyarakat kelas menengah terhadap populisme? “Saya pikir masyarakat kelas menengah Indonesia memandang populisme ini sebagai sesuatu hal yang strategis, karena di satu sisi kelas menengah itu unggul dalam jumlah populasi dan jumah penetrasi terhadap sumber kekuasaan sehingga mereka memandang Edisi November 2019


WAWANCARA politik mereka?

Biodata Narasumber ................................... Nama : Wasisto Raharjo Jati Tempat/Tanggal Lahir : Sleman, 15 Maret 1990 Pendidikan : - Strata Satu (S1) Politik dan Pemerintahan UGM (2008 – 2012) - Strata Dua (S2) Political Science Coral Bell School of Asia and The Pacific AffairsThe Australian - National University Canberra, Australia (2019 – sekarang) Profesi : Peneliti di Pusat Penelitian Politik – LIPI (2014 – sekarang) Jati, W.R. (2018). Gaya Hidup Penduduk Kelas Publikasi : Menengah Indonesia. Analisis CSIS, 47 (4), 491-508. Thung J.L., Soewarsono, Hadi, A., Jati, W.R., Nadhiroh, I.M., Amalia, M., Ulya, A. (2018).Indeks Kerentanan dan Profil Rumah Tangga Miskin. Jakarta: LIPI Press. Jati, W.R. (2017). Trajektori Populisme Islam di Kalangan Kelas Menengah Muslim. Prisma, 36(3), 1928. Jati, W.R. (2017). Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia. Jakarta : LP3ES Jati, W.R. (2016). The Indonesia Middle Class: A Conceptual Debate, Masyarakat, 22(7), 1-5. Jati, W.R. (2013). Radicalism in the Perspective of Islamic Populism: Trajectory of PoliticalIslam in Indonesia. Journal of Indonesian Islam, 7(2), 268-287. (Scopus Index Q2).

populisme dapat mempengaruhi pemerintahan.” Bagaimana pengaruh populisme itu sendiri terhadap kelas menengah? “Pengaruh populisme terhadap kelas menengah diartikan sebagai populisme yang memiliki arti sebagai alat, metode, dan juga ideologi kelas menengah itu sendiri. Karena mereka mengandalkan komunalitas yang itu dibangun dari berbagai macam kepentingan dan minat dari berbagai macam pokok kelas menengah.” Bagaimana dan apa alasannya isu populis itu sering digunakan sebagai alat kampanye? “Karena populisme ini mengaitkan hal-hal yang sifatnya pribadi dan sensitif, sehingga itu yang kemudian menjadi alat kampanye. Dari situlah kelas menengah gampang tersentuh oleh hal-hal yang pribadi yang sifatnya terbuka, soal Edisi November 2019

isu identitas dan agama sifatnya seksis sebagai alat untuk menarik massa.” Apakah ada agenda politik populis selain di tahun politik? Selain di bidang politik, populisme dibahas dalam bidang apa?? “Saya pikir, populisme itu sendiri terkait dengan tahun politik atau tahun dimana pemilu (pemilihan umum-red) dilakukan, kalaupun itu tidak dilakukan saya pikir tidak akan ada populisme. Sejauh yang saya tau populisme berkembang di bidang politik dan kegamaan, untuk keagamaan itu lebih condong bagaimana kemudian agama tertentu berupaya menjadi agama dominan atau agama sipil yang dimana aturan-aturan dalam agama sipil itu berada pada pokok masyarakat.” Masyarakat kelas menengah menerima isu populis dan menjadikannya sebagai agenda politiknya. Apa saja agenda

“Agenda kelas menengah sebenarnya, mereka hanya berupaya untuk menjaga aksesbilitas dan berupaya meningkatkan kepentingan kepada pemerintah.” Bagaimana populisme itu menyebar? “Populisme itu menyebar melalui sosial media dan juga media mainstream, artinya populisme itu berkembang mulai dari ranah individu, kemudian berkembang menjadi ranah komunal.” Melihat kontes politik sekarang, kedua belah kubu Jokowi dan Prabowo, apakah mereka juga memanfaatkan populisme? Populisme apa yang mereka gunakan, bagaimana mereka menggunakannya? “Saya pikir kalau Jokowi dan Prabowo, itu lebih condong Prabowo dalam penggunaan sentimen populisme. Prabowo lebih condong menggunakan sentimen populisme yang berbau agama sebagai alat kepentingan kampanye beliau.” Kalau dalam Islam terkait tema populisme, fenomena apa saja yang bisa terjadi di dalamnya? “Saya pikir masih umum populisme seperti isu penistaaan agama, kemudian kriminalisasi ulama menjadi bagian fenomena populisme Islam.” Apakah semua orang bisa disebut sebagai populis dan kenapa orang tersebut bisa disebut seorang populis? “Tidak semua orang dapat dikatakan sebagai populis, karena satu sisi populisme itu dia berupaya menarik minat orang hal-hal yang sifatnya pribadi, kalaupun masalah pribadinya menjadi masalah umum, maka dia disebut sebagai populis. Populis itu harus mereka yang dikenal masyarakat luas dan mereka itu massa.” 37


WAWANCARA

Islam Kulturalis

Muslim kelas menengah berada di ranah budaya dan hanya menempati posisi sebagai new petty bourguoises Kesadaran akan kesatuan kelas belum begitu kuat

Sarekat Dagang Islam berdiri di masa kolonialisme Menghimpun para saudagar muslim indonesia melawan kapitalisme pemerintahan kolonial yang merugikan

Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarekat Islam

Islam Politis

Fokus organisasi menjadi lebih fundamental Tidak hanya melawan ketertinggalan dari bangsawan dan kolonial di bidang ekonomi, tetapi juga politik

Gerakan politik Sarekat Islam tidak sukses

Infografis: Riski Setyo/Majalah PABELAN Sumber: validnews.co

Terlalu banyak faksi di tubuh organisasi, mengakibatkan banyaknya kepentingan berakibat kerap terjadi konflik, hingga akhirnya kalah dengan organisasi nasional seperti PNI

38

Islam Sipil

Masyarakat menengah muslim bergerak ke arah masyarakat madani yang dipengaruhi intelektual Kelompok studi dan kajian islam menjamur di kampus-kampus Berdiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Menunjukkan identitas islam, namun disisi lain butuh pengakuan sebagai kelompok modern yang adaptif terhadap perkembangan zaman Sumber: Jati, 2016 Diolah: Visi Teliti Saksama

Edisi November 2019


RISET

We Are

G

erakan mahasiswa merupakan bagian dalam gerakan sosial, muncul karena adanya motivasi tertentu. Salah satu bentuk dari motivasi mahasiswa antara lain adalah adanya keinginan untuk mengadakan perubahan atau koreksi terhadap hal yang menyimpang dalam kehidupan sosial. Sebagai gerakan mahasiswa cenderung bermuara idealisme subjektif mahasiswa akan kondisi sosialnya (Choirul Mustofa, 2018). Mahasiswa sering kali mendapatkan sorotan dari masyarakat, karena meningkatnya eskalasi demonstrasi elemen mahasiswa menuntut berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat. Esensi dari setiap gerakan

Edisi November 2019

mahasiswa adalah selalu mengatasnamakan rakyat sebagai sumber inspirasi dalam mengusung perubahan. Karena keniscayaannya adalah, mahasiswa merupakan bagian tak terpisahkan dari elemen yang bernama masyarakat. Intuisi dan hati kecilnya akan selalu menyerukan idealisme. Mahasiswa tahu, ia harus berbuat sesuatu untuk masyarakat, bangsa dan negaranya (Subandi Rianto, 2012). Riset ini dilakukan oleh Redaksi Majalah Pabelan melalui Manajer Penelitian LPM Pabelan 2019 dengan populasi Pergerakan Mahasiswa di Rayon Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Partisipan yang diambil sebanyak empat Pergerakan Mahasiswa, yaitu Ikatan

Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dengan total 17 responden yang merupakan anggota Pergerakan Mahasiswa minimal bergabung selama dua tahun. Pengisian survei menggunakan instrumen kuesioner secara daring untuk mengulas pendapat responden tentang perspektif anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Rayon UMS terhadap aksi sebagai wujud eksistensi populisme seorang muslim. Pertanyaan yang diajukan, serta jawaban yang tersedia dalam kuesioner ini berdasarkan dari pembahasan dari beberapa sumber jurnal.

39


RISET *Data kuesioner

Sebuah aksi oleh Pergerakan Mahasiswa umumnya berangkat dari forum diskusi internal yang kemudian menjadi refleksi bagi anggota untuk menentukan sebuah sikap terhadap permasalahan yang terjadi. Sikap yang diambil berupa aksi turun ke jalan, dapat dilakukan oleh satu Pergerakan Mahasiswa maupun berkonsolidasi dengan Pergerakan Mahasiswa lain. Berdasarkan hal tersebut, kami mencoba mengumpulkan jejak tanggapan dari anggota Pergerakan Mahasiswa. Faktanya, perbedaan pendapat antaranggota terkait relevansi aksi turun ke jalan dengan kondisi era saat ini cukup jelas. Sebanyak 53% responden menjawab bahwa aksi yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa dengan terjun langgsung ke jalan dinilai masih relevan pada era saat ini. Sedangkan, 47% sisanya berpendapat tidak relevan.(1) Kemudian alasan bagi responden yang beranggapan bahwa aksi masih relevan pada era saat ini, yaitu 67% menjawab aksi berorientasi pada pembelaan terhadap segala kekuatan masyarakat yang menjadi korban disebabkan oleh otoriter, 22% menjawab aksi merupakan suatu kekuatan yang berpengaruh dan penentu perubahan tatanan kemasyarakatan dan kenegaraan, dan 11% sisanya menjawab Aksi merupakan bentuk demokrasi dalam bidang pendidikan yang merupakan suatu keharusan, agar dapat melahirkan manusia-manusia yang berwatak demokratis.(2) Sedangkan alasan untuk responden yang beranggapan bahwa aksi tidak relevan pada era saat ini yaitu 80% menjawab aksi turun ke jalan oleh pergerakan mahasiswa saat ini masih monoton, sedangkan zaman semakin hari semakin berubah dan terus maju, 10% lainnya menjawab aksi gerakan mahasiswa lebih cenderung terkesan sebagai ritualisme rutin, 10% sisanya menjawab Kelemahan dari aksi gerakan mahasiswa adalah karena mereka lebih mementingkan mobilisasi (pengerahan massa) daripada substansi. (3) Berdasarkan jawaban responden terkait, keikutsertaan mereka

40

1. Apakah aksi yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa dengan terjun ke jalan dinilai masih relevan pada era ini?

47%

53%

Ya

Tidak

2. Apa alasan menganggap aksi tersebut masih relevan?

11%

22%

4a. Apakah pernah ikut serta dilakukan oleh 12%

67%

88%

Aksi merupakan suatu kekuatan yang berpengaruh dan penentu perubahan tatanan kemasyarakatan dan kenegaraan Aksi berorientasi pada pembelaan terhadap segala kekuatan masyarakat yang menjadi korban disebabkan oleh otoriter Aksi merupakan bentuk demokrasi dalam bidang pendidikan yang merupakan suatu keharusan, agar dapat melahirkan manusia-manusia yang berwatak demokratis

4b. Jika pernah, sudah dalam aksi

12%

3. Apa alasan menganggap aksi tidak relevan pada era saat ini?

18% 23%

47%

10% 10%

80%

Aksi cenderung terkesan sebagai ritualisme rutin Aksi lebih mementingkan mobilisasi daripada substansi

5. Gerakan mahasiswa 12% 35%

53%

Monoton, sedangkan zaman semakin berubah dan terus maju

Edisi November 2019


RISET

“

Di tengah dinamika gerakan mahasiswa menyuarakan perubahan bangsa ke arah yang lebih baik, masih ada setitik keresahan dalam masyarakat terkait arah gerakan mahasiswa selama ini.

“

dalam sebuah aksi yang pergerakan?

6. Menurut Anda, adakah hubungan/relevansi antara aksi pergerakan mahasiswa dengan eksistensi populisme seorang muslim?

Pernah 35%

Tidak ada

Tidak pernah

Ada

65%

berapa kali terjun tersebut?

7. Apakah adanya aksi tersebut dapat diartikan sebagai bentuk hadirnya budaya dalam ruang publik yang diinisiasi oleh umat muslim?

Tidak pernah 1 kali

35%

Ya

2 kali

Tidak 65%

3 kali > 3 kali

8. Menurut Anda, setelah adanya aksi turun ke jalan, sejauh mana dampak yang ditimbulkan terkait penanganan masalah? lebih condong kemana?

Tidak berpengaruh 12% 12%

Sangat berpengaruh

Gerakan moral Gerakan intelektual

35%

Gerakan sosial

41%

Cukup berpengaruh Kurang berpengaruh

Edisi November 2019

dalam aksi yang dilakukan oleh masing-masing pergerakan. Sebanyak 88% atau 15 responden menjawab pernah, dan 12% atau 2 responen lainnya mengaku tidak pernah ikut serta dalam aksi.(4a) Kemudian dari 88% responden yang pernah megikuti aksi, 47% diantaranya mengaku pernah mengikuti aksi lebih dari tiga kali, 23% responden menjawab dua kali mengikuti aksi, dan 18% responden menjawab satu kali mengikuti aksi.(4b) Dalam buku Mahasiswa Menggagas Kebangkitan Indonesia yang ditulis oleh Subandi Rianto, dkk (2012) disebutkan bahwa mahasiswa merupakan suatu elemen masyarakat yang unik. Sejarah menunjukkan bahwa dinamika bangsa ini tidak lepas dari peran mahasiswa. Di tengah dinamika gerakan mahasiswa menyuarakan perubahan bangsa ke arah yang lebih baik, masih ada setitik keresahan dalam masyarakat terkait arah gerak mahasiswa selama ini. Banyak pendapat terkait arah gerak dari pergerakan mahasiswa, yang kemudian dipersempit menjadi tiga fokus, yaitu ke arah gerakan sosial, gerakan intelektual, dan gerakan moral. 53% dari responden berpendapat condong ke arah gerakan intelektual, sedangkan 35% berpendapat ke arah gerakan sosial, sisanya 12% ke arah gerakan moral. Gerakan intelektual yang dimaksud adalah tradisi keilmuan yang berkaitan dengan pendidikan berbasis pada pemikiran spekulatif, cerdas, berakal, dan berpikir jernih berdasarkan ilmu pengetahuan.(5) Pada tahun 2016-2017, fenomena yang terkait dengan populisme juga terjadi, namun kali ini dalam bentuk aksi massa yang terkait isu keagamaan melibatkan banyak elemen untuk menuntut keadilan hukum. Populisme di kalangan muslim di Indonesia dan menganggap bahwa identitas agama (dalam hal ini Islam) telah menjadi sumber baru untuk mobilisasi politik. Sebanyak 65% responden menjawab ada hubungan antara aksi pergerakan mahasiswa dengan eksistensi populisme seorang muslim, 35% sisanya beranggapan tidak ada

41


RISET hubungan antara aksi pergerakan mahasiswa dengan eksistensi populisme seorang muslim.(6) Islam Populer dapat diartikan sebagai bentuk hadirnya budaya Islam dalam ruang publik yang diinisiasi oleh muslim kelas menengah. Ruang-ruang tersebut perlu dihadirkan sebagai upaya untuk mengenalkan Islam secara inklusif. Hadirnya muslim kelas menengah memang memiliki hubungan fluktuatif dengan negara. Islam populer sen-

42

diri dianalisis dalam perspektif skripturalis sebagai bentuk islamisasi dalam masyarakat yang kemudian menghasilkan muslim kelas menengah tersebut. Islamisasi dengan kata lain disebut hadirnya Islam dalam ruang publik kemudian dipahami dalam dua bentuk yakni islamisasi secara skriptural maupun islamisasi secara substansial. Sebanyak 65% responden sepakat bahwa dengan adanya aksi dapat diartikan sebagai bentuk hadir-

nya budaya dalam ruang publik yang diinisiasi oleh umat muslim. Sedangkan 35% responden tidak setuju akan hal tersebut. (7) Berdasarkan riset ini, mengenai sejauh mana dampak yang ditimbulkan setelah adanya aksi turun ke jalan terkait penanganan suatu masalah, 41% menjawab cukup berpengaruh, 35% merasa kurang berpengaruh, dan 12% mengaku sangat berpengaruh serta 12% lainnya beranggapan tidak berpengaruh.(8)

Edisi November 2019


PERSONA

Edisi November 2019

43


PERSONA

J

ika pusat Nagari Kota

Surakarta Hadiningrat

“

................... Proses kehidupan tidak selalu vertikal dari bawah menuju atas

...................

44

adalah kawasan paseban

yang memanjang hingga

alun-alun utara dan ka-

wasan Gladak, maka kita

asumsikan dari titik itu melingkar rantai yang sambung-menyambung membentuk lingkaran keanekaragaman. Sejak dari dulu di sekitar kawasan itu tinggal berbagi macam etnis. Mereka tinggal secara berkelompok sesuai etnis masingmasing. Cerita sejarah ini diambil melalui laman Facebook Nurul Khawari, juga dimuat di portal daring kompasiana.com. Dalam tulisannya, Nurul Khawari mampu mendeskripsikan sejarah kultur etnis di Kota Solo secara masif. Tak heran mengingat dirinya memang lulusan Strata satu (S1) Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS). Saat bertemu dengan reporter Majalah Pabelan melalui wawancara di kediamannya, ia sangat berbaik hati memaparkan kepada kami tentang sepak hidupnya sebagai aktivis. Konon, dahulu ia pernah melakoni sebagai pejuang saat zaman perubahan, dimana melalui pergerakan mahasiswa, ia menjadi tonggak pilu saksi gerakan reformasi Kota Solo. Nurul Khawari, laki-laki kelahiran tahun 1977 dan hidup di Klaten. Ayahnya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), yang selalu menyuguhkan buku-buku bacaan untuknya. Waktu masa kecilnya ia habiskan untuk membaca majalah-majalah hasil pinjam-meminjam. Majalah yang kerap ia baca di antaranya Majalah Bobo, Si Kuncung, Nova, dan sebagainya. Atau buku-buku yang dibawakan oleh ayahnya di akhir pekan. Kumpulan majalah dan Edisi November 2019


PERSONA Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Sewaktu SMA dirinya berujar bahwa apa yang akan dia lakukan di kuliah n a n t i ingin sekali menjadi seorang aktivis kampus. Menurutnya, standar aktivis

bukubuku yang telah ia baca pernah ia jadikan sebagai dasar perpustakaan kecil di rumahnya. Berbekal setumpuk majalah dan buku itu, ia tempel tulisan tangan Perpustakaan. Pendidikan SD-SMP ditempuh di Klaten, Sementara SMA ia memilih melanjutkan studi di Solo. Sempat ingin menempuh pendidikan di luar Solo, namun takdir berkehendak bahwa dirinya harus tetap tinggal. Kuliah di Kota Bengawan mengambil jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), UNS. Tak menyianyiakan pendidikan yang ia tempuh di UNS, dirinya memilih menjadi seorang aktivis kampus dengan mengikuti beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). UKM yang ia ikuti antara lain Koperasi Mahasiswa (kopma) UNS, Senat mahasiswa, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kalpadruma FIB UNS, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Liga Edisi November 2019

di masa itu mengikuti beberapa UKM yang memang bersinggungan langsung dengan perjuangan mahasiswa. Tergabung dalam keluarga mahasiswa LMND adalah debut awal sekaligus terakhir kebanggaanya menyandang status mahasiswa. Berawal dari keterlibatannya dalam aksi-aksi politik mahasiswa di akhir tahun ‘90-an, ia pun terlibat langsung dalam aksi ‘98. Dalam berbagai aksi itu, keterlibatan Nurul Khawari bertugas sebagai koordinator kota hingga provinsi. Kepiawaian dalam melaksanakan tugas mengkoordinasi di UKM terakhirnya itu membuatnya ditugaskan untuk membantu pengorganisasian petani, buruh, hingga kaum miskin kota. Peristiwa medio tahun '98 di Kota Budaya, Solo menjadi saksi betapa waktu itu seolah mahasiswa dituntut untuk perang karena tuntutan zaman. “Jika dulu mahasiswa bergerak dalam pers mahasiswa seluruh mahasiswa terlibat di titik mana saja itu pilihan.

Pada waktu itu perubahan adalah suatu keniscayaan. Setelah 33 tahun di bawah rezim Soeharto dan waktu itu pula adalah momen yang pas untuk pergerakan mahasiswa dan rakyat karena mahasiswa tidak berdiri sendiri. Untuk menumbangkan rezim yang tumbuh subur. Saya yang aktif dalam organisasi mahasiswa harus terlibat menjadi bagian dari mereka. Peran kemudian persoalaan saya lebih terlibat ya karena saya memilih untuk itu. Kesimpulan dari masa itu ya karena tuntutan sejarah,” tutur Nurul Khawari. Sebagai mahasiswa aktivis, Nurul Khawari tentu menggalang banyak teman-teman untuk mengisi satu posisi sentral. Perlu catatan Nurul Khawari tidak sendiri dalam memprakarsai aksi-aksi pada tahun itu. Bersama teman-teman satu pemahaman, ia mengkoordinir mahasiswa untuk aksi bersama-sama. Namun di balik itu ia juga merasa risih ketika selalu dikaitkan dengan polemik '98 seolah-olah peristiwa itu menjadi beban sejarah hidupnya. Apalagi dengan orang-orang yang mengatasnamakan mantan aktivis ‘98 beroposisi dengan partai-partai politik pada pesta demokrasi tahun ini. Demo-demo yang pernah ia lakukan bersama teman-teman seperjuangan di medio ‘98 meliputi isu-isu demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM), suksesi kepemimpinan, pembredelan media baik dalam maupun luar kampus. Bertolak belakang dengan tujuan mengatakan mantan aktivis beroposisi dengan politik pada tahun 2019. Kaleidoskop peristiwa ‘98 membuatnya teringat masa-masa tatkala jantung terus berdebar dalam melaksanakan aksi. Insiden saat intelijen lebih banyak daripada massa pendemo. Berbeda dengan aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa milenial. Menurutnya, tuntutan zaman memang 45


PERSONA membawa keniscayaan perbedaan antara mahasiswa ‘90-an dengan mahasiswa sekarang. Laki-laki berkulit sawo matang ini juga masih menyimpan foto masa mudanya ketika melakukan aksi demo. Sambil memegang toa, ia memimpin mahasiswa berorasi dalam gerakan reformasi 1998. Jenjang karier yang Nurul tempuh itu beragam. Menurutnya jenjang proses berkarier tidak selalu vertikal dari bawah menuju atas. Pernah ketika mahasiswa, sempat juga ia membuka toko buku dengan nama Bumi Manusia di UNS. Bekerja secara variatif, pernah sempat juga menjadi dosen namun memutuskan keluar. Kemudian menjadi staf ahli Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Hingga menemukan rencananya dalam bidang bisnis yang ia geluti hingga sekarang. Hal tersebut, reporter jumpai langsung setelah kami berpamitan kepada Nurul dan disapa langsung dengan rekan bisnis online.

Seperti yang dituturkannya, proses kehidupan tidak selalu vertikal dari bawah menuju atas. Setelah selesai menamatkan S1 Ilmu Sejarah, dirinya banyak malang-melintang berkarier, mulai dari dosen hingga staf ahli DPR RI pernah ia lakukan. Kini fokus utamanya dalam dunia berbisnis dengan tak meninggalkan latar belakangnya sebagai sejarawan. Hal itu dibuktikan dengan aktif menulis di sosial media. Mulai dari menulis sejarah yang ada di Kota Solo, hingga polemik yang terjadi di Kota Budaya ini. Beberapa tulisannya juga di muat di media-media daring dan bisa dicari dengan kata kunci nama-nya, Nurul Khawari. Apabila melihat unggahan di media sosialnya, tampak jelas kebahagiaan alumni Ilmu Sejarah UNS ini dengan keluarga kecilnya. Nurul Khawari memiliki seorang istri dan dikarunai dua lelaki yang ia banggakan. Apa yang dilakukan kedua putranya ia abadikan dalam foto dan ia bagiakan momen-momen

bahagia itu. Tentu selain unggahan gambar bahagia keluargannya, Nurul Khawari membagikan opininya di laman yang sama. Terkadang dirinya membagikan cerita sejarah Kota Solo, kadang juga polemik kotanya. Selain sejarah, ia juga sering memberikan ulasan terhadap buku-buku yang telah dibacanya. Membaca ulasan hasil analisisanalisis terhadap perdebatan yang terjadi di Solo menarik dan mudah dijumpai dengan mengunjungi laman Facebook-nya. Ketika menyinggung masyarakat menengah Kota Solo, Nurul Khawari memiliki anggapan bahwa dulu para sosiolog mengatakan tidak ada masyarakat menengah kota di Indonesia. Pada saat itu masyarakat menengah sangat bergantung pada birokrat. Namun sekarang yang menarik dari masyarakat menengah kota yang didefinisikan kebanyakan orang itu tumbuh. Banyak anak-anak muda berperan dalam membentuk civil society terangkat.

Biodata Narasumber Ÿ Nama Ÿ Tanggal Lahir Ÿ Tinggal Ÿ Pendidikan Ÿ Almamater

N 46

S

: : : :

Nurul Khawari Tahun 1977 Klaten SD dan SMP di Klaten SMA di Solo : S1 Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS).

S

N Edisi November 2019


KOMUNITAS

Foto: Riski Setyo W./ Majalah PABELAN

Setiap warga negara ingin memberikan sumbangsih untuk negaranya. Seperti harapan terwujudnya masyarakat yang adil dan demokratis di Indonesia. Sebuah harapan itu tertulis dalam laman resmi Percik, sebuah komunitas yang di dalamnya berkumpul warga negara dengan visi yang sama.

Foto: Riski Setyo W/ Majalah Pabelan

Edisi November 2019

47


KOMUNITAS nya Ambar Istiyani. Ia akrab disapa Ambar, salah satu anggota yang mengurusi administrasi, keuangan, dan kerumahtanggaan. Ambar mempersilakan kami masuk pada sebuah rumah di halaman belakang, dan kami duduk membentuk lingkaran bersama dua anggota lainnya.

Sebagaimana dikutip dalam laman resminya, percik.or.id, komunitas Percik dibentuk pada awal tahun 1996, tepatnya 1 Februari 1996. Bermula dari konflik yang terjadi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) tahun 1993-1995. Konflik yang dipicu dari surat salah seorang civitas akademika kepada rektorat yang isinya mengkritisi beberapa kebijakan kampus yang dianggap merugikan universitas. Percik didirikan oleh sekelompok ilmuwan di Salatiga. Mereka terdiri dari sejumlah peneliti sosial, pengajar universitas, serta aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang hukum dan pengorganisasian ma-

syarakat. Pradjara Dirdjosanjoto selaku direktur mengungkapkan banyak dari pendiri komunitas percik adalah dosen Fakultas Hukum, “12 pendiri yang kebanyakan adalah dosen Fakultas Hukum,” ungkapnya. Sebagian dari mereka merupakan staf akademik universitas di Salatiga yang terpaksa keluar karena menolak beberapa kebijakan universitas. Pasalnya, kebijakan itu dinilai tidak demokratis, bertentangan dengan nilai kemanusiaan, serta tidak menjunjung tinggi kebebasan akademis dan otonomi kampus pada masa itu. Berdirinya Lembaga Percik sebagai wadah untuk mewujudkan idealisme mereka mengenai masyarakat yang demokratis dan berkeadilan sosial. Nama Percik diambil dari akronim Persemaian Cinta Kemanusiaan. Sejak pertama didirikan, Percik bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan demokratis, dimulai dari sentral yang kecil yakni masyarakat lokal di antaranya mereka yang tinggal di kampung. Menurut Ambar ada banyak kearifan lokal di kampung yang per-

Prasasti berdirinya Percik yang terdapat di samping Kantor Utama Percik

48

Edisi November 2019

Foto: Riski Setyo W/ Majalah PABELAN

M

enempuh jarak sekitar 39 kilometer, tibalah kami di Jl. Patimura KM. 1, Kampoeng Percik, Turusan, Salatiga. Matahari begitu terik Kamis itu (30/5), namun di tempat ini malah terasa sejuk. Maklum saja, Kampoeng Percik termasuk dataran tinggi. Disambutlah kami dengan tulisan ‘Selamat Datang di Kampoeng Percik’ pada papan yang bertengger depan pohon besar. Kami duduk di kursi kayu depan rumah yang pada salah satu pagar kayunya bertuliskan ‘Penelitian Advokasi’, rumah itu berhadapan langsung dengan perpustakaan milik Percik. Seorang bapak melintasi kami dan bertanya ihwal kedatangan kami. Mengerti maksud kami, bapak itu mengantar kami menuju belakang. Kami menunggu di musala dan menikmati pemandangan sekitar, suasananya benar-benar asri. Tak lama, seorang dara yang kami kenal -dikarenakan dari dialah kami ditunjukkan jalan melalui chat WhatsApp- menyalami kami, nama-


Sebagai lembaga independen, Percik memiliki tiga pilar kegiatan, yakni penelitian, advokasi, dan refleksi. Sedangkan isu yang diangkat berfokus pada lima isu strategis, yaitu Kepemerintahan Lokal yang Baik, Pelembagaan Demokrasi, Kemiskinan, Konflik, Tranformasi dan Praktik Keagamaan Lokal. Kelima isu itu diimplementasikan melalui tiga pilar kegiatan Percik: riset, advokasi, dan refleksi. Pada bidang penelitian, Percik mengembangkan dua pusat studi, yaitu Pusat Penelitian Politik Lokal (P2PL) dan Pusat Studi Transformasi Praktik Keagamaan Lokal (PSTPKal). Di samping melakukan penelitian, mereka juga mengadakan training metodologi penelitian Edisi November 2019

Foto: percik.or.id

lu dilestarikan, “Namun istilah kampung juga mempunyai konotasi kurang baik, padahal di kampung itu sebenarnya kearifan lokal banyak dan seharusnya dihargai,� jelasnya. Selain berfokus pada masyarakat lokal, kantor Percik pun dibuat layaknya kampung kecil. Awalnya lahan yang digunakan merupakan pekarangan yang ditanami pepohonan keras seperti pohon sengon. Pada tahun 2002 setelah lahan dibeli, kemudian didatangkan pula bahan-bahan dari Blora untuk membuat bangunan yang didirikan di sana, dan jadilah Kampoeng Percik sebagai nama tempat itu. “Memang pada awalnya kami merasa bahwa siapa tahu kampung itu akan menjadi bagian dari pemerintahan terkecil dari negara ini. Namanya kan kampoeng bukan kampung, siapa tahu nanti jadi kampung, menjadi bagian dari suatu pemerintahan. Karena lahirnya desa itu juga dari beberapa rumah kemudian menjadi kampung,� papar Ambar lebih lanjut. Harapnya juga, dengan disisipkan kata kampung yang bersanding dengan kata Percik, warga sekitar lebih bisa menerima kehadirannya dan hubungan yang terjalin menjadi lebih dekat.

Foto: percik.or.id

KOMINITAS

“

Namanya kan kampoeng bukan kampung, siapa tahu nanti jadi kampung, menjadi bagian dari suatu pemerintahan. Karena lahirnya desa itu juga dari beberapa rumah kemudian menjadi kampung. ............................................................... bagi peneliti muda dari berbagai daerah dan mengadakan berbagai seminar. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk membangun jaringan pemerhati dan peneliti lokal. Kemudian pada bidang advokasi, kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan berfokus kepada Good Local Governance, Pengembangan Lembaga Demokrasi, Pemberdayaan Civil Society, Pencegahan Konflik,

dan Pemeliharaan Lingkungan Hidup yang Baik. Beberapa kegiatan yang sudah pernah dilaksanakan di antaranya: advokasi kebijakan dan penegakan hukum, pengembangan kapasitas organisasi, pengembangan forum warga, dan masih banyak lagi. Pilar yang terakhir yakni kegiatan refleksi. Pada pilar ini diselenggarakan diskusi, seminar, lokakarya 49


KOMUNITAS

Tempat wudu yang berada di belakang Kantor Utama Percik

Foto: Riski Setyo W/ Majalah PABELAN

dan publikasi (jurnal dan buku). Di antara kegiatan yang pernah diselenggarakan yaitu Seminar Internasional Tahunan, diikuti dengan Roundtable Discussion sebagai upaya mempertemukan hasil studi dengan advokasi kebijakan.

Percik selalu mempunyai fokus kegiatan berbeda dari waktu ke waktu. Bagi Percik, isu yang krusial harus diprioritaskan. Pradjarta mengungkapkan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Percik menyesuaikan dengan perkembangan hidup dan kondisi masyarakat pada saat itu. “Fokusnya itu sangat dinamis tergantung kebutuhan masyarakat. Dulu kami bikin forum diskusi terkait persoalan air, disitu para peneliti mempresentasikan hasil penelitiannya sebagaimana isu terkait, dan mempublikasikannya dalam jurnal kami. Tapi dalam rentang yang lama kami tidak memberi perhatian soal air,� jelasnya. Matanya mengawang mengingat-ngingat kejadian dahulu ketika air masih su50

sah mengisi bak-bak rumah warga. Percik berupaya kegiatan yang dilaksanakan mendatangkan kebermanfaatan langsung pada warga. Tak jarang Percik berkolaborasi dengan tokoh-tokoh keagamaan, dengan menyadari bahwa ucapan tokoh agama lebih mudah diterima dibanding Percik sendiri yang melakukannya. Seperti belum lama ini, Percik diminta tolong oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mensosialisasikan pemilihan umum (pemilu), kemudian digandenglah para kiai untuk membantu pelaksanaan kegiatannya.

Sudah 23 tahun Percik bersinggungan dengan masalah-masalah yang terjadi di negeri ini. Kiprahnya untuk terus konsisten dalam mewujudkan harapan seperti yang dituliskan dalam laman resminya tidak diragukan lagi. Percik tahu bahwa sebuah bangsa, negara, selalu ada masalah. Anggota Percik terajar menjadi fleksibel untuk ditaruh di posisi manapun sesuai dengan ke-

giatan yang akan dilaksanakan. Bagi mereka posisi dalam Percik itu tidak menjadi persoalan, karena yang terpenting adalah kondisi bumi pertiwi harus segera dipulihkan, dengan cara apapun yang mereka bisa. Seperti tahun ini yang disebut tahun politik, Percik pun ikut mengawali jalannya pemilu. Menutup percakapan kami, Pradjarta menyampaikan harapannya terkait kondisi politik di Indonesia saat ini. Sebagai negara dengan warganya yag majemuk (plural society), ada nilai-nilai tertentu yang perlu diperjuangkan, yang terkadang bertolak belakang dengan nilai-nilai identitas. “Kita berharap ada nilai-nilai yang baik untuk kehidupan bersama. Nilai keterbukaan, nilai penghargaan terhadap keyakinan orang lain, nilai persahabatan. Ada nilai-nilai yang perlu dikembangkan untuk kehidupan bersama sebagai komunitas, sebagai bangsa, sebagai umat manusia. Walaupun terkadang terdapat dinamika yang mengganggu nilai-nilai itu.� Tutupnya.

Edisi November 2019


SASTRA

Ilustrasi : Riski Setyo W./Majalah PABELAN

Di sebuah pintu tua aku membatu, bersimpuh dengan hati lusuh. “Tuhan, bukakan aku pintu-Mu.” Kurang lebih seperti itulah suara yang ingin aku ucapkan. Pikirku, berteriak sekencang mungkin agar Tuhan mendengarkan. Bibirku bergetar, mulutku terbuka lebar-lebar, namun tidak ada suara yang keluar, hanya desis yang terdengar. Gema parau yang hilang di sapu angin kemarau. “Menyerahlah, tidak ada yang Edisi November 2019

akan mendengarmu,” sahut daun jendela. “Siapa peduli? Engkau bukanlah siapa-siapa,” ejek dinding menimpali. Aku bersikeras untuk dimengerti, bersimpuh dalam sembab mata dan khusuk doa. “Rabi, aku ingin kembali” pintaku lirih. Selalu saja aku tak pernah merasa bosan mendengar nenek ber-

cerita. Selalu merasa seperti pertama kali mendengar cerita itu, meski sudah berulangkali nenek menceritakan kisah yang sama. Seperti hari ini, nenek menceritakan arti sebuah pengharapan, yang entah berapa kali sering ku dengar. Padahal harapku, nenek membawa cerita lain seperti pangeran tampan nan gagah perkasa yang menunggang kuda, atau seorang putri nan cantik jelita yang membuat siapapun terpana tatkala memandangnya, misalnya. 51


SASTRA “Malam itu sungguh luar biasa. Setiap mulut seperti dibungkam. Sunyi. Sepi. Tidak ada pertengkaran maupun perdebatan, yang dirasa hanya sebuah kedamaian. Keadaan sekeliling yang gelap tiba-tiba terasa benderang, seperti Tuhan sedang berbaik hati menyalakan lampu ratusan Watt di angkasa”. Nenek menceritakannya dengan penuh takzim, suaranya mengambang setengah berbisik. Penuh penghayatan. Seolah apa yang ia sampaikan adalah sebuah rahasia besar yang tidak boleh banyak orang yang tahu. Aku terpukau mendengar kisahnya. Sungguh luar biasa. “Terang seperti siang? Panas dong, Nek?!” tanyaku. “Tidak persis seperti itu. Keadaan memang terang benderang, namun tidak ada terik matahari yang menyakiti kulitmu. Yang ada hanyalah sebuah perasaan damai, tenang, dan menyejukkan. Pada malam itu angin berhembus pelan, membuat nyaman siapapun yang merasakannya,” jawab nenek sambil tersenyum padaku, tangan keriputnya membelai rambutku yang bergelombang. “Malam itu, semua makhluk tun-

duk patuh menyucikan nama Tuhannya. Tetumbuhan bersujud mengagungkan nama Tuhan, hewan-hewan pun melolong mentasbihkan nama Tuhan. Namun sayang, sedikit manusia yang menyadari akan kemewahan malam itu. Kebanyakan mereka masih menikmati hangatnya selimut dan empuknya kasur busa mereka,” lanjut nenek. “Nenek pernah merasakan malam itu?” tanyaku pada nenek. Nenek hanya menjawab dengan gelengan kepala. “Fajar ingin merasakan malam itu, Nek. Merasakan malam yang lebih baik dari seribu bulan,” pintaku sembari tersenyum penuh pengharapan. “Sudah, sebaiknya kau tidur sekarang. Malam sudah larut,” nenek menyuruh. Jika nenek sudah berkata demikian, itu artinya aku harus segera tidur. Aku harus patuh. Setelah meninggalnya bapak-ibu, hanya nenek yang aku punya di dunia ini. Maka tidak ada alasan apapun untuk membantah perkataannya. Butuh beberapa waktu untuk terlelap setelah membayangkan apa yang nenek ceritakan. Bayangku, pada sebuah malam yang terang

benderang itu, hawa sejuk yang membuat nyaman, dan seluruh makhluk bertasbih bersamaan. Indahnya….. Hari ini adalah hari pertama bulan Ramadan. Menurut cerita nenek, dalam Ramadan akan turun satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Seperti biasa, anakanak kecil menyalakan pelita yang terbuat dari botol-botol bekas. Mereka taruh pelita itu di sepanjang jalan kampung. Karena pelita-pelita itu, desa yang biasanya terlihat angker, kini terang benderang. Semua kegembiraan ini adalah untuk menyambut datangnya malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bertahun-tahun aku tinggal di kampung bersama nenek sejak bapak dan ibu meninggal. Nenek membesarkanku hingga aku tumbuh dewasa dan bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Kini usiaku telah menginjak kepala dua, dan nenek delapan puluh tahun. Aku adalah tulang punggung untuk menghidupi nenek yang telah berusia senja. Namun sampai saat ini aku tidak pernah bosan mendengar cerita nenek tentang malam seribu bulan,

Ilustrasi : Ayu Arlinda/Majalah PABELAN

52

Edisi November 2019


SASTRA sehingga tersingkaplah sebuah fakta, yaitu keinginannya yang telah disimpan sangat lama untuk bisa berjumpa dengan malam itu. Seperti bola salju yang kian lama kian membesar, begitu pula dengan keinginan nenek yang sepertinya telah sampai pada puncaknya. “Nenek ingin bertemu malam seribu bulan itu sekali saja. Entah tahun depan Nenek bisa merasakan dan bertemu Ramadan lagi atau tidak. Walau sekali, seperti dahaga yang dirasakan para musafir ketika menemukan sumber mata air setelah berjalan berkilo meter melewati padang pasir, tentu akan terasa nikmaaaat... sekali,” tuturnya lirih. Aku tercekat kala itu, mengingat ceritanya yang dulu berulangkali memasuki alam mimpiku. “Dunia terasa damai…… pepohonan mengendap….. langit terang benderang dipayungi awan…… angin berhembus nyaman,” lirih nenek lagi yang terlihat seperti mengigau. Tanah merah telah menimbun jasad orang tua yang merindukan malam seribu bulan itu. Nenek meninggal dengan satu keingininan yang belum terpenuhi, yaitu merasakan malam seribu bulan. Selepas meninggalnya nenek, aku putuskan untuk bekerja di ibu kota. Sudah tiada lagi kisah tentang malam seribu bulan yang dibawakan nenek setiap menjelang tidur. Aku putuskan berhenti mempercayai keberadaan malam itu, yakin bahwa itu hanya bualan nenek belaka. Pergaulan ibu kota sedikit banyak merubah pribadiku. Meskipun hanya menjadi kuli panggul, aku ingin menjadi bagian dari masyarakat ibu kota, dari segi apapun. Termasuk berlaku dan berpenampilan laiknya masyarakat kelas menengahnya. Yang semula santun, menjadi sedikit kasar. Yang semula peduli, kini rasa peduliku sedikit pudar. Pakaianku yang biasanya tidak neko-neko, kini sedikit demi sedikit stylish mengikuti tren ibu kota. Atribut yang dulunya sering aku pakai, sekarang sudah tidak lagi ku kenakan, seperti peci, koko, dan sarung. Aku merasa itu kuno. Padahal tidak jarang aku menemui masyarakat kelas menengah di ibu

kota masih mengenakan atributatribut itu, dan entah kenapa aku merasa itu mungkin menjadi tren baru di ibukota, bahkan laki-laki yang memakai gamis semakin banyak. Tapi aku kebalikan dari mereka. Aku malah menanggalkan segala macam atribut identitas diri itu. Dan sebenarnya, menjadi kuli panggul di pasar terbesar di ibu kota hanyalah pekerjaan sampingan. Aku mempunyai pekerjaan utama yang hasilnya cukup cepat membuatku kaya. “Target selanjutnya adalah rumah mewah milik Haji Komsidi. Seperti biasanya, bergeraklah secepat citah dan selicin belut! PAHAM?!” perintah Bang Kolot, atasan kami. “SIAP, PAHAM!!!” teriak kami mantap. Ini adalah kali ketiga aku beroperasi di bawah komando Bang Kolot. Operasi pertama dan kedua berjalan cukup lancar tanpa kendala yang berarti. Ini semua berkat kecerdikan Bang Kolot dalam menyusun strategi. Target untuk operasi ketiga ini adalah milik seorang kaya raya di daerah ini. Selain terkenal dengan kekayaannya yang melimpah, Haji Komsidi terkenal akan kedermawanannya. Pernah suatu kali dia menyumbangkan delapan sapi untuk kurban di daerahnya, menyantuni ratusan yatim piatu, menebus hutang orang-orang miskin, serta membebaskan mereka dari cengkeraman para rentenir yang tidak tahu diri, dan masih banyak kebaikan lainnya. Banyak yang menyukai Haji Komsidi namun tidak sedikit pula yang membencinya, salah satunya Bang Kolot, kepala rentenir di daerah itu. Bang Kolot merasa bahwa penghasilannya terus berkurang karena Haji Komsidi membantu orang-orang miskin yang biasa hutang kepada Bang Kolot.

nuansa ruangan utama ini, menyiratkan aroma surga. Tidak ada kesulitan berarti dalam menjalankan operasi kali ini, namun tiba-tiba…… “HEY, SIAPA KAMU!?” teriak Haji Komsidi dari belakang. Aku terkaget mendengar teriakan itu. Segeralah aku berlari dengan sebelumnya meninggalkan pisau dapur tepat di dada kiri Haji Komsidi. Sepuluh tahun adalah waktu yang panjang merasakan dinginnya ubin penjara yang sempit dan kumuh. Rasa penyesalan yang kian menjadi, tidak membuat hatiku melunak kembali. Masih terngiang pada sebuah operasi yang ke sekian… D D D O O O R R R R … . . DDDOOOORRRR!!!! Terdengar tembakan ke udara. “Angkat tangan, menyerahlah!!!” teriak seorang polisi yang membuatku kalap. Beberapa kalung emas dan cincin hasil jarahanku berjatuhan. Aku berusaha kabur. Namun nahas, polisi menumpahkan timah panas di kedua kakiku. Aku jatuh tersungkur dan diseret ke penjara. Pada malam ke sekian di penjara, di sebuah mimpi…. “Fajar, malam seribu bulan itu nyata adanya. Sungguh indah ciptaan Allah, Rab Semesta Alam,” kata seseorang di seberang sana. “NENEK??????” Kini aku bersimpuh di depan pintu rumah Tuhan. Aku menjatuhkan diri dalam-dalam mengharap Tuhan menerimaku kembali. Ia mengembalikan imanku yang sempat tercecer. Iman yang besar, sebesar pengharapan nenek terhadap malam seribu bulan.

Aku bertugas sebagai eksekutor, yaitu yang menyisir di ruang utama rumah Haji Komsidi. Aku sempat terhenyak sebentar menikmati Foto : dokumen pribadi

Edisi November 2019

53


Foto: M. Alif Mujahid/Majalah PABELAN

RESENSI SITUS

Berangkat dari tujuan sekelompok orang-orang “biasa” yang ingin menjadi bagian dari usaha membuat Indonesia menjadi lebih baik, terciptalah website bernama Indorelawan.org. Lewat kolaborasi antara relawan dan organisasi/komunitas, diharapkan membuat misi sosial menjadi lebih ringan dan mudah. Dalam website ini, ada sebuah harapan mengajak lebih banyak masyarakat dari berbagai kalangan untuk mengambil peran menjadi relawan.

L

ewat moto mereka ‘If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together’, menunjukkan apabila kita melangkah bersama, akan membuat kita melangkah lebih jauh. Hingga tulisan ini dibuat, Indorelawan.org mampu memincut sebanyak 107.975 relawan, 1.672 organisasi yang bergabung, dan 3.594 aktivitas yang dapat diikuti oleh relawan. Dibalut dengan tampilan yang menarik dan responsif

54

menjadikan nilai tambah dari website ini. Indorelawan.org memiki empat pilihan menu, yaitu Cari Aktivitas, Cari Relawan, Cara Kerja, dan Tentang Kami. Apabila kita memilih menu Cari Aktivitas, maka akan tampil ratusan aktivitas yang tersedia dan dapat diikuti. Menu Cari Aktivitas ditujukan bagi mereka yang ingin mendaftar menjadi relawan, namun harus memiliki akun terlebih dahulu sebelum mendaftar. Cara membuat

akun untuk menjadi relawan cukup mudah, yaitu dapat menggunakan akun Facebook atau Gmail, atau bisa juga dengan mengisi formulir yang sudah disediakan. Setelah berhasil mendaftar, kita bisa juga memilih kategori yang disediakan. Ada 18 kategori minat, diantaranya Difabilitas/Disabilitas, Hak Asasi Manusia, Kepemimpinan dan Organisasi, Kesehatan, Kesejahteraan Hewan, Kesetaraan Gender, Ketenagakerjaan, Lingkungan, Olahraga, Edisi November 2019


RESENSI SITUS

| Edisi November 2019

relawan, disediakan fitur percakapan yang memudahkan organisasi/komunitas untuk merespon aplikasi dan mengontak relawan. Melalui fitur ini, organisasi/komunitas juga dapat memberikan apresiasi terhadap kinerja relawan. Terakhir adalah menu Tentang Kami. Pada pilihan pertama, ada sub menu bernama Tentang Indorelawan yang berisi penjelasan profil singkat dari Indorelawan.org, misi yang ingin mereka capai, dan juga terdapat profil tim Indorelawan.org

“

“

Penanggulangan Bencana, Pendidikan, Pengembangan Masyarakat, Pusat Informasi dan Kajian, Pengembangan Anak Muda, Pertanian, Sains dan Teknologi, Seni dan Budaya, serta Bantuan Hukum. Kategori ini dapat dipilih relawan sesuai kebutuhan ataupun keinginannya, asiknya lagi bisa memilih lebih dari satu kategori bagi tiap relawan. Selain kategori, relawan juga dapat memilih tipe lokasi aktivitas, yaitu dengan Tatap Muka yang mengharuskan relawan untuk datang ke lokasi organisasi/ komunitas, dan melakukan aksinya di tempat tersebut. Pilihan lainnya agar lebih fleksibel, yaitu dengan virtual yang hanya bermodalkan ponsel ataupun Personal Computer (PC) yang terkoneksi internet, kita bisa berkontribusi dalam sebuah aksi. Misalnya untuk menyebarkan i n fo r m a s i b e r u p a s o s i a l i s a s i mengenai topik tertentu. Kemudian menu kedua yakni Cari Relawan, ditujukan untuk para organisasi/komunitas yang sedang membutuhkan relawan dalam aksi mereka. Sama seperti sebelumnya, organisasi/komunitas tersebut harus mendaftarkan diri terlebih dahulu agar mempunyai akun. Terdapat empat tahapan yang harus dilewati sebagai bahan pelengkap informasi tentang organisasi/komunitas yang akan didaftarkan. Selanjutnya menu ketiga adalah Cara Kerja yang berisi panduan untuk relawan maupun organisasi/komunitas. Terdapat empat tahap yang dijelaskan pada panduan untuk relawan, mulai dari Daftar sebagai Relawan dengan menyumbangkan waktu dan talenta yang dimiliki, Lengkapi Profil yang berisi informasi identitas kita, Cari Aktivitas yang disesuaikan dengan lokasi, waktu dan minat, yang terakhir adalah Jadi Inspirasi dengan berbagi aktivitas di sosial media. Sedangkan panduan untuk organisasi di sana dijelaskan langkah awal pendaftaran sebagai organisasi, lalu membuat aktivitas untuk ditawarkan kepada relawan, mencari relawan yang dapat dilakukan dengan menawarkan aksi/kegiatan ke sosial media, dan setelah mendapat relawan sebuah organisasi, dapat mengelola relawan yang sudah bergabung. Untuk mengelola

yang terdiri dari satu penasehat, empat pendiri, enam tim operasional, dan 16 relawan inti. Namun sayangnya tidak dijelaskan kapan berdirinya Indorelawan.org ini. Tim yang diisi oleh sebagian besar anak muda ini membuktikan bahwa peran generasi milenial dapat dirasakan oleh masyarakat. Dengan memanfaatkan media teknologi untuk memberikan informasi yang baik dan mengembangkan ide-ide kreatif dan unik.

Masih dalam menu Tentang Kami, pilihan kedua adalah Donasi. Pilihan ini sebagai bentuk usaha dalam menjalankan misi menjaga eksistensi, dan kebermanfaatan dengan memberikan layanan gratis bagi organisasi/komunitas sosial. Bagi yang tergerak atau empati dengan program yang ada di Indorelawan.org namun belum ada waktu untuk bergabung menjadi relawan, dapat juga dengan cara mudah yaitu dengan berdonasi. Kita bisa memilih metode berdonasi dengan menggunakan kartu kredit, go-pay, atau transfer ke rekening Indorelawan.org. Selain keempat menu diatas, Indorelawan.org juga menawarkan program pilihan yang tak kalah menarik, terletak di bawah header pada menu Home. Program tersebut diusung oleh beberapa organisasi/komunitas besar dengan agenda/aksi yang besar pula. Salah satu yang menarik dalam program terbarunya adalah tantangan untuk berbuat kebaikan melalui ide-ide yang inovatif dan solutif untuk permasalahan sosial di Indonesia. Selain itu ada juga program pilihan untuk menyambut hari kebersihan, gerakan bersih-bersih yang dilaksanakan secara serentak di 158 negara di dunia. Indorelawan.org percaya bahwa perubahan yang bermakna untuk Indonesia hanya akan dapat tercapai jika ada lebih banyak lagi orang yang terlibat dalam aktivitas komunitas sosial sehingga muncul banyak kolaborasi antar komunitas. Sayangnya, pola kolaborasi yang terlihat saat ini masih terbentur oleh sekat identitas antargolongan yang kita ciptakan sendiri. Butuh lebih banyak lagi wadah gerakan aksi sosial yang dapat menyatukan disparitas ruang lingkup golongan. Kita harus mendayagunakan segala potensi diri untuk kemudian menciptakan sebanyak-banyaknya manfaat atas peran kontributif yang bisa dirasakan oleh banyak manusia. Sebagai mahasiswa bisa dimulai dengan berkontribusi sesuai passion, hal tersebut dirasa akan lebih berdampak dibandingkan hanya sebuah aksi pergerakan yang mengikuti arus organisasi tanpa memiliki fokus.

55


Resensi Film

Mr.Deeds menceritakan tentang perubahan kehidupan Longfellow Deeds yang diperankan oleh Adam Sandler. Deeds adalah seorang pemuda sederhana pengelola kedai pizza di sebuah kota kecil di New Hamshire Hamlet of Mandrake Falls yang mendadak mendapatkan warisan dari seorang konglomerat bernama Preston Blake, diperankan oleh Harve Presnell. Blake yang meninggal dikarenakan membeku saat mendaki gunung Everest ini diyakini tidak memiliki keturunan. Namun setelah diselidiki, Blake yang memiliki warisan senilai US$ 40 miliar ternyata adalah paman dari Deeds.

S

ebelum resmi menerima warisan itu, Deeds dijemput oleh Chuck, yang merupakan CEO dari Blake Media, dan Anderson. Deeds harus menandatangani beberapa surat penting di New York. Cerita pun mulai menarik saat Deeds berada di New York untuk mengelola warisan dari pamannya tersebut. Kehadirannya di kota ini pun menimbulkan banyak kontravensi pada pemegang saham yang lain. Chuck juga sudah mulai menunjukkan watak aslinya, ia mulai memanfaatkan keberadaan Deeds dengan cara mencemari nama baik Deeds 56

lewat framing media untuk memperlancar keinginannya sedari dulu, yaitu menjatuhkan Syarikat Blake. Dari awal cerita, Deeds sudah digambarkan memiliki sifat yang baik dan sederhana, ia tidak berubah walaupun telah menjadi konglomerat di New York. Tidak ada sifat sombong sedikit pun dalam diri Deeds. Deeds tetap menjadi manusia yang menjadikan kesederhanaan sebagai pedoman hidup. Bahkan ia akrab dan sangat bersahabat dengan semua pekerjaannya. Oleh sebab itu ia bisa diterima dan dicintai oleh banyak orang.

Di sisi lain, ada cerita berbeda dari sekadar membahas harta. Deeds berkenalan, akrab dan akhirnya jatuh hati dengan wanita cantik, Babe Benet yang diperankan oleh Winona Ryder. Sebenarnya, Babe adalah seorang wartawan yang sedang ditugaskan oleh stasiun televisi tempatnya bekerja untuk bisa mendapatkan liputan-liputan eksklusif dan cerita kehidupan dari Deeds yang sekarang merupakan konglomerat muda. Berawal dari penyamaran Babe menjadi Paw Dawson, seorang perawat anakanak yang mengaku berasal dari Edisi November 2019


Resensi Film sebuah kota kecil jauh dari New York. Pengakuan palsunya ini bukan karena alasan, hal ini juga dilakukan agar Deeds merasa punya kesamaan dengannya, sehingga mudah untuk mengulik kehidupan Deeds. Seiring dengan berjalannya waktu, Babe mulai menikmati kedekatannya dengan Deeds. Deeds yang selalu bersikap baik dan mampu membawa kehangatan, membuat Babe luluh dan terbuai dengan kebaikan dan kehangatan itu. Tak butuh waktu lama untuk membuatnya juga jatuh cinta kepada konglomerat muda ini. Atas dasar itu, Babe merasa bersalah karena selama ini telah membohongi Deeds. Ia memutuskan untuk menjelaskan yang sebenarnya. Namun sayang, sebelum penjelasan itu tersampaikan, Mac, bos dari Babe telah membocorkan penyamaran itu dengan ditayangkan melalui televisi. Mengetahui hal itu, Deeds merasa sangat bodoh karena sudah mencintai wanita yang ternyata membohonginya selama ini. Tentu saja Deeds juga merasa sangat kecewa. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyumbangkan semua harta warisan pamannya itu ke Negro Association dan kembali ke tempat asalnya. Babe tidak menyerah begitu saja, karena didasari rasa bersalah yang semakin besar, akhirnya ia memutuskan untuk mencari Deeds di Mandrake Falls. Saat mencari Deeds, ia terjatuh ke dalam lubang es yang pecah. Babe pun merasa putus asa. Namun ia beruntung, Deeds mendengar rintihan dan permintaan tolongnya, lalu Deeds pun menolongnya. Ikatan cinta mereka kuat dan bisa meredam ego masingmasing. Deeds pun memaafkan Babe dan mereka mencoba menjalin hubungan yang sehat juga memperbaiki semua hal yang telah terjadi sejak perpisahan mereka di New York.

Kekurangan dan Kelebihan Film Film ini bergenre komediromantis. Walaupun penulis menilai kesan komedi dalam film ini Edisi November 2019

masih kurang terasa, tapi nuansa romantis yang tercipta sudah cukup baik. Ada beberapa sceen atau adegan komedi yang menurut penulis terkesan sangat dipaksakan. Seperti adegan pada menit ke-27, saat Babe berpura-pura dijambret oleh temannya sendiri. Disini tergambar jelas keinginan dari sang sutradara agar adegan ini bisa mengundang tawa, tetapi malah tidak lucu dan terkesan tidak natural. Penulis menilai ada dua hal penting dalam kesuksesan film bergenre komedi. Pertama, adanya joke atau lelucon. Kedua, kesuksesan para aktor dalam memvisualisasikan joke tersebut. Sehingga berhasil membuat penontonnya menyumbang tawa. Namun dalam film ini belum menghasilkan dua hal tersebut secara imbang. Penulis sempat berpikir, mungkin ada yang namanya ‘komedi sesuai zaman’. Seperti halnya makanan, dimana sebuah joke juga ada batas waktu lucunya. Film ini diproduksi awal tahun 2000-an dan ditayangkan pada 28 Juni 2002. Sedangkan penulis menonton film ini pada Mei 2019. Penulis merasa banyak joke yang ada di film ini sudah tidak relevan lagi lucunya di tahun 2019 ini. Penulis juga setuju dengan ungkapan bahwasanya tingkat humor atau hal yang dianggap lucu oleh setiap orang itu berbeda. Berbicara komedi, berarti berbicara tentang selera. Seperti yang kita semua tahu, selera setiap insan tidak bisa disamaratakan, pun begitu dengan selera komedi. Jadi tidak masalah jika teman-teman, setelah menonton film ini, lalu beranggapan berbeda, merasa lelucon dalam film ini masih relevan dan akan terus lucu sepanjang zaman. Dari segi cerita, film ini mudah dimengerti dan dipahami. Jalan ceritanya mengalir begitu saja dengan didukung dialog sederhana, membuat penonton tidak perlu berpikir keras untuk berusaha menebak ending dari cerita ini. Dengan disisipkannya konflik yang tidak terlalu ruwet dan tertatanya alur cerita, menambah nilai plus menonton

film ini. Meskipun beberapa pemain pendukung belum bisa memvisualisasikan sebuah humor dengan cukup matang, baik ekspresi maupun adegan. Dari awal cerita, penonton sudah disuguhi hal-hal positif dari watak si pemeran utama. Penggambaran Deeds sebagai pemuda baik, ramah, sederhana dan hangat, sukses menjadi nyawa utama dalam kenikmatan film ini. Ditambah pesan moral yang begitu kental. Kita akan dibawa pada kenyataan yang terjadi dalam kehidupan sosial. Tidak hanya di Amerika, kehidupan sosial yang tergambar di film ini pun ada di Indonesia. Hal yang paling mendasar yang akan kita petik dari film ini adalah tentang ketidaksombongan seorang manusia yang telah berubah status sosialnya, dari masyarakat menengah menjadi masyarakat kelas atas dengan bergelimang harta. Perihal visual, seperti tata letak kamera, pemilihan latar belakang, pencahayaan dan lain sebagainya sudah cukup baik untuk film yang diproduksi pada tahun 2000-an. .............................................................. Secara tidak langsung, Deeds mengajari kita bahwa menjadi manusia dengan kehidupan yang sederhana bukan berarti tidak akan diselimuti oleh kebahagiaan. Kebahagiaan yang hakiki, menurut Deeds bukanlah saat mempunyai banyak harta dan menjadi orang yang berpengaruh di kota besar, melainkan menjadi diri sendiri dengan selalu menjadi orang baik dan mau menolong siapa pun, dimanapun dan kapanpun. Kesombongan, keangkuhan dan ketidakpeduliaan tidak akan mengantarkan kita pada kebahagiaan. Film ini cocok dinikmati oleh semua kalangan. Terlepas dari humor yang mungkin tidak cocok, film ini bisa dinikmati kapan saja tidak ada batas masa karena pelajaran yang ada adalah hal yang penting dalam kehidupan bersosial. Di mana kita diajarkan untuk peduli sesama, tidak membedakan kasta atau status sosial.

57


BILIK RASA

58

Edisi November 2019


BILIK RASA

Edisi November 2019

59


ILM

Iklan layanan masyarakat

Lakukan kebaikan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan kemasyarakatan. Juga, dengan cara-cara yang indah dan santun dalam melakukannya.

Iklan layanan masyarakat ini depersembahkan oleh:

LPM PABELAN LEMBAGA PERS MAHASISWA PABELAN

Ilustrasi: Nadya Vicky P.P./Majalah Pabelan

60

| Edisi November 2019


LPM PABELAN LEMBAGA PERS MAHASISWA PABELAN

DIGITAL LEBIH ASYIK Baca produk cetak LPM Pabelan versi digital di issuu.com

Read us on issuu #lpmpabelan


Soulmate on The Tongue

Profile for LPM Pabelan

Majalah Pabelan Edisi November 2019: Muslim di Tengah Populisme Politik  

Sebagai mayoritas di negeri ini, kelas menengah muslim menjadi target utama untuk mengonsumsi wacana dan isu kerakyatan. Apakah ada peran e...

Majalah Pabelan Edisi November 2019: Muslim di Tengah Populisme Politik  

Sebagai mayoritas di negeri ini, kelas menengah muslim menjadi target utama untuk mengonsumsi wacana dan isu kerakyatan. Apakah ada peran e...

Advertisement