Issuu on Google+

Lembaga Pers Mahasiswa Journal

D’Journal

Edisi CALANG | 01 | 2010 | www.lpmjournal.com

Mewartakan Realita

WHAT FOR??

r Fe TOPIK UTAMA

Sebandingkah Amikom Dengan “Isinya”

WAWANCARA

Ngobrol Bareng Calon Profesor

WACANA

Marilah Kita Mulai Sedikit “Kurang Ajar”

01 E d i s i C A L A N G

2010


Salam Redaksi

Keredaksian PELINDUNG: Drs. M. Idris Purwanto, M.M

PEMBINA: Jaeni, S.Kom.

PIMPINAN UMUM: Ngaliman ibnu Latief

SEKERTARIS: Af Idatun K.

BENDAHARA: Melinda Detya Rensi

PIMPINAN REDAKSI: Arleta Fenty PIMPINAN PRODUKSI: Sugiarti

REDAKTUR PELAKSANA: Frans, Diska

REDAKTUR Riza, Zen

REPORTER: Aji, Tika, Zul, Rachmad, Ilham, Satrio, Senja, Yudi, Deny

ARTISTIK: Fery eka

ALAMAT REDAKSI: Ruang sekertariat bersama III Kampus STIMIK Amikom Yogyakarta, Jln. Ringroat Utara, Condong Catur, Sleman, DIY.

EMAIL: lpmjournal@gmail.com

WEB: www.lpmjournal.com

S

uatu kebanggan bulletin D'Journal dapat kembali terbit seiring dengan pergantian tahun. Kilas balik tahun 2010 menyisakan banyak kenangan. Semoga pergantian tahun menandai perubahan positif. Baik itu di lingkungan LPM Journal untuk bisa memperbaiki diri dengan karya yang lebih baik, maupun di lingkungan Kampus “Ungu”. Terkait dengan bencana yang menjadi catatan buruk tahun 2010 bagi warga Yogyakarta, semoga kota ini kembali bangkit, menjadi saksi tumbuhnya caloncalon pemimpin baru negeri ini. Tahun baru menandai pula lahirnya para calon aktifis pers mahasiswa di Lembaga Pers Mahasiswa Journal. Ini adalah bukti bahwa LPM Journal terus berusaha untuk menajamkan penanya, menempa diri dengan ilmu-ilmu yang tak didapat di bangku kuliah, melainkan di sebuah organisasi. Akhir kata, selamat tahun baru. Selamat berkarya bagi calon aktivis pers mahasiswa LPM Journal yang baru. Selamat bangkit bagi kota Yogyakarta. Dan selamat membaca bulletin pertama dari tiga edisi khusus magang calon anggota LPM Journal. Salam Pers Mahasiswa!

D’Journal 2


Topik Utama

Sebandingkah Amikom dengan “Isinya” “Ruang kelas saat ini kurang memenuhi lihat saja mahasiswa yang duduk di belakang mereka akan susah melihat papan tulis yang ada di depan”, tutur seorang dosen STIMIK Amikom, “seharusnya ya di bangun meningkat sehingga kalau duduk di belakang pun masih tetap bisa lihat”(16/12). Dari 4043 pendaftar angkatan 2010/2011, di terima separuhnya saja atau sekitar 2000an mahasiswa yang diterima. Dari 2000an orang tersebut kemudian di pecah menjadi sekitar 70 sampai 80 orang untuk setiap kelasnya. ”Sangat banyak memang seharusnya masih bisa di pecah menjadi 2 kelas lagi kalau setiap kelas 70an”, papar mahasiswa baru jurusan S1TI di depan ruang kelas setelah usai UTS Rabu (8/12) Menurut Fitri salah satu mahasiswi semester 5 yang juga menjadi asisten dosen, “banyaknya mahasiswa di kampus, tidak hanya memberi dampak negative namun juga positif, banyak teman itu merupakan dampak positifnya. Sedangkan dampak negative dari banyak siswa pastinya kelas jadi ribut apalagi perbandingan laki-laki dan wanita di setiap kelas lebih berat”. Menurutnya juga masalah paham atau tidak paham di dalam kelas yang tidak kondusif itu

tergantung mahasiswanya niat atau tidak untuk belajar, Kamis (16/12). Fasilitas Menilik fasilitas yang dimiliki Amikom seperti ruang kelas yang didesain menggunakan air conditioner (AC), sound system, penerangan yang cukup, over head projector, LCD viewer, presensi dengan karu magnetic serta kamera CCTV. Amikom juga memiliki 13 Lab, perpus dan prasarana lainya. Namun sebandingkah itu dengan jumlah mahasiswa yang ada? Menurut Fitri (20), “tidak sebanding, namun karena banyak mahasiswa yang tidak benar-benar memanfaatkanya jadi terlihat sebanding”. “Ruang kelas yang sebenarnya cukup terlihat sempit karena kebanyakan mahasiswanya akibatnya mahasiswa kurang aktif dan malah jadi ribut sendiri”, kata mahasiswa baru yang kami wawancarai, selain kelas terasa sempit suhu di dalam kelas juga panas bilamana salah satu ac dari dua ac mati. Namun dengan keadaan seperti itupun banyak mahasiswa amikom yang mempunyai prestasi tidak kalah dengan perguruan tinggi lain. Misalnya saja beberapa mahasiswa yang dapat melanjutkan studinya di luar negeri.

3


Topik Utama

Tidak hanya itu beberapa dosen juga mempunyai prestasi yang cukup mengesankan sampai akhir tahun 2007, misal saja Hanif Al Fatta, S.Kom yang terpilih sebagai nominasi kategori Tertiary Student Project pada Asia Pasific Information & Communication Technology Award (APICTA) di Macao, 2006. Keluhan mahsiswa “Amikom seperti tidak mengira-ngira mahasiswa baru yang akan di terima dengan kapasitas kampus yang ada”, ungkap salah satu mahasiswa baru dari 2000an mahasiswa baru yang di terima tahun 2010 ini. “ya tidak bisa konsen apalagi kalau duduk di belakang”, kata mahsiswa S1TI semester tiga . Kalau terlalu banyak mahasiswa memang kelas jadi tidak efektif, apalagi kalau mahasiswa itu terlambat dan duduk di belakang dia pasti akan mudah terpengaruh mahasiswa lain yang ribut, menurut mahsiswi yang sudah satu tahun setengah berada di Amikom. Bagaimana dosen menanggapi “Perguruan tinggi swasta kan hidup dari mahasiswanya, jadi mahasiswa banyak bagi Amikom itu perlu”, menurut salah satu dosen yang di wawancarai. Namun penerimaan mahasiswa yang setiap tahunya meningkat memang perlu di imbangi dengan pembangunan yang nyata dan dapat menampung mahasiswa yang ada. Sehingga tidak memunculkan opini bahwa “amikom terkesan mencari uang saja”, seperti yang di ungkapkan salah satu mahasiswa baru kampus ini. Penurunan mahasiswa dari semester satu sampai semester empat ternyata belum cukup mengurangi banyaknya mahasiswa yang ada dalam setiap kelas. Di semester satu ada 70 sampai 80 orang perkelas sedangkan di semester empat ada 50 sampai 60 jadi hanya berkurang sekitar 10 sampai 20 mahasiswa saja. Seperti yang di ungkapkan dosen praktikum di semester 4 yang jumlah mahasiswanya per kelas rata-rata 56-63, menurutnya itu kurang ideal “yang ideal ya maksimal 50 anak per kelas” praktikum terhadap asisten dosen. 4

Bagaimana dosen mengatasi “Saya biasanya melakukan uji kompetensi baik kelompok maupun individu untuk mengatasi mahasiswa yang cukup banyak,” diungkapkan seorang dosen praktikum lab microprocessor kamis (16/12). Berbeda lagi dengan dosen yang mengajar teori ia lebih memilih untuk bercerita atau memberi semangat agar mahasiswa yang tidak fokus bisa fokus kembali selain itu ia juga memberi latihan latihan-latihan kecil. Selain dosen ada juga asisten dosen yang membantu dosen di lab, ”asisten dosen ada yang membantu dan ada yang tidak, kalau menurut saya asisten dosen tidak digunakan untuk membantu melainkan melatih mereka agar siap untuk kerja,” itulah salah satu ungkapan dosen. “Praktikum kalau dikontrol sama asisten dosen ya jadi efektif tapi kalau tidak ya sama saja seperti di kelas,”ungkap mahasiswi semester tiga kamis (16/12). Harapan Dengan kemajuan Amikom setelah mendapatkan status terdaftar berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 084/D/O/1994 tanggal 11 Oktober 1994 sampai sekarang tidak bisa di bilang sebagai hanya sekedar kemajuan. Mengenai majunya Amikom tahun demi tahun tentunya ada harapan untuk kedepanya, “harapan saya Amikom lebih cerah” ungkap seorang dosen di Amikom. Terkait dengan banyaknya mahasiswa di Amikom dan juga pembagian kelas yang kurang efisien, “kalau bisa gedungnya di tambah” tutur seorang mahasisiwi. Harapan itu juga sama seperti yang diungkapkan salah seorang dosen kampus ini bahwa ruang kelas harusnya di tambah agar sebanding dengan mahasiswanya dan pembalajaran menjadi efektif. Begitu juga ungkap seorang mahasiswa S1.TI yang berharap penerimaan mahasiswa tahun berikutnya tidak kebanyakan seperti tahun tahun sebelumnya. Paling tidak dosen bisa mengatasi dengan banyak melakukan interaksi dengan mahsiswa untuk mengatasi ributnya kelas karena terlalu banyak mahasiswa, harapan ini diungkapkan salah seorang mahasiswi kampus “ungu”. (JI|DIS|ZE|TIK)


Karya Ngelantur

Nasionalis bola

JL. ilmu

Zul

5


Wacana

Marilah Kita Mulai Sedikit “Kurang Ajar” “Mungkin lebih tepatnya inilah indahnya budaya diskriminatif kita. Dengan alasan budaya timur dan tenggang rasa serta yg biasa di sebut persahabatan itulah negara ini dibuat lalu golongan junior menjadi tidak mampu berargumentasi dan mengungkapkan pendapatnya.” Hal ini terlihat miris ketika beberapa orang yang dianggap junior berkumpul dan melakukan diskusi atau perdebatan. Tidak jarang mereka berbalas argumen yang rasional hingga menuju emosional. Lalu dari salah satu penjuru selalu datang orang yang di anggap sebagai senior dan mulai ikut bicara, seketika omongannya di anggap sebagai kebenaran. Semua member yang terlibat pun menghentikan agresinya dan diam tanpa berani menantang sang senior untuk berdebat secara rasional. Argumen sang senior yang singkat, padat, dan kadang menggantung dianggap sebagai benda pusaka yanga tadinya hilang. Tak ada yang tahu siapa yang berinisiatif memulai budaya ini, namun agak ironis ketika seorang senior yang seharusnya mendidik dan mengarahkan juniornya untuk lebih kritis dan berani berargumen secara rasional malah diam dengan kenikmatan dan kemenangan ketika menyaksikan tidak ada juniornya yang berani mendebat pendapatnya. Mereka yang berani mendebat dianggap provokator, cari musuh, bahkan dianggap tidak mengerti budaya timur yang begitu cinta kedamaian. Padahal perdebatan yang dilakukan bukan untuk membunuh karakter apa lagi mempermalukan lawan debat. Apakah seorang junior selamanya harus diam walaupun ia benar…??? Mungkin lebih tepatnya inilah indahnya budaya diskriminatif kita. Dengan alasan budaya timur dan tenggang rasa serta yang biasa disebut persahabatan itulah negara ini dibuat lalu golongan junior menjadi tidak mampu berargumentasi dan mengungkapkan pendapatnya. 6

Bukannya sang junior yang tidak bisa berbicara namun kadang senior selalu enggan memberi kesempatan pada junior untuk berbicara. Lalu apa yang terjadi setelah junior tersebut menjadi senoir? Anda sendiri pasti tau. Ya, penjajahan yang telah tersistematis. Junior yang sudah menjadi senior itu pun akan balas dendam pada juniornya karena ia telah merasakan penjajahan dari sang seniornya yang dulu. Selanjutnya akan selalu begitu, begitu, dan begitu. Seorang teman pernah berkata kepada saya, bahwa sistem pendidikan dan budaya yang berlaku di Indonesialah yang menyebabkan hal ini terjadi. Mulai dari hal kecil ketika kita kecil, ingatkah kita apa cita-cita kita? Anak kecil di Indonesia memiliki cita-cita yang tidak jauh dari dokter, insinyur, pilot dan presiden. Tidak ada yang bercita-cita menjadi jurnalis, fotografer, sutradara, dan lain sebagainya. Coba tanyakan kepada mereka yang bercita-cita ingin jadi pilot, dokter atau insinyur, mengapa mereka memiliki cita-cita seperti itu? Saya rasa tidak banyak anak yang bisa menjawab. Karena anak Indonesia sudah terdidik secara structural untuk menuruti hal yang diyakini benar tanpa perlu tahu alasannya. Jadi bagi para junior untuk itulah, dalam rangka belajar marilah kita mulai sedikit “kurang ajar” dengan berani berargumen melawan orang yang lebih senior. Karena ketika kita berani berargumen, menang dan kalah anda sama-sama mendapat pelajaran berharga. Sementara ketika kita memilih untuk tidak berargumen dengan orang lain sama halnya dengan “menjilat pantat” orang tersebut. Hanya “bau pantat” yang anda dapatkan. Mulai hari ini, marilah kita untuk tidak takut mendebat setiap perbedaan yang timbul dengan argumen yang rasional. Bukan untuk mencari ribut, bukan untuk mencari musuh, apalagi mengabaikan nilai-nilai budaya timur. Tapi agar kita semakin mengerti dan semakin menguasai kebenaran sesungguhnya. Dan bagi para senior, berikan kesempatan junior untuk berbicara karena apapun yang ia katakan itu adalah tahap belajar. Arahkan mereka agar menjadi guru untuk para juniornya di masa mendatang dan bukan untuk menjadi penjajah pada juniornya. [diska]


Liputan

Jangan Hanya di Gantung atau Dilipat di Lemari

S

elain untuk menunjukan identitas suatu perguruan tinggi jas almameter memiliki nilai sebagai pemersatu antar peserta didik dan lingkungan kampus, setidaknya itu yang ada di dalam benak Afifah Ayumi, mahasiswa semester satu STIMIK Amikom Yogyakarta. Hal senada juga disampaikan oleh Panji Tri Nur Trisno ketua senat STIMIK Amikom “Alamamater adalah sebuah gambaran citra atau merk dari sebuah kampus, jadi ketika seseorang itu menggunakan almamater itu merupakan bentuk dari identitas, jika seseorang itu malu untuk menggunakan almamater kampusnya berarti dia seakan-akan belum mengakui bagian dari kampusnya,” (18/12) Namun sayangnya jas almamater lebih sering tergantung di hanger atau pun dilipat di dalam lemari pakaian, tidak heran karena jas almamater terkesan hanya di pakai oleh mahasiswa-mahasiswa yang aktif pada oraganisai, sementara mahasiswa yang lain terakhir kali memakai pada saat PPM ataupun pembuatan foto KTM. “Terakhir kali saya pakai alamamater yaitu pada kegiatan RMA (Relawan Mahasiswa Amikom) beberapa waktu yang lalu, sebelumnya hanya di gunakan pada saat kegiatan ORMA ataupun kegiatan diuar lingkunga kampus,” ungkap Jon, mahasiswa yang bergabung dengan Manggar, salah satu ORMA di STIMIK Amikom. Lain Jon lain pula Edo,“ saya terakhir menggunakan jas almamater, emm pada saat PPM dan foto untuk pembuatan KTM selain itu belum pernah, mau nya sih ada waktu tertentu kita di wajibkan mengenakan jas almamater biar keren, hehe ” ungkap mahasiswa baru angkatan 2010 ini. Hal itu juga di benarkan oleh pihak lembaga, “Memang selama ini almamater hanya digunakan pada saat kegiatan yang mengatas namakan lembaga, misalnya kegiatan seminar, kunjungan dan sebagainya,

namun pada dialog lembaga dan mahasiswa pada bulan maret 2009, kewajiban penggunaan jas almamater di tambah yaitu pada saat ujian pendadaran, kalau untuk pemakaian di harihari pada saat kuliah sepertinya belum ada aturan mengenai itu” jelas Suyatmi. S.E selaku sekretaris Puket III. (22/12) Sayangnya hal-hal mengenai jas almamater ini kurang di sosialisasikan, kami tidak menemukan adanya aturan dan tata tertib penggunaan almamater pada buku panduan akademik yang di berikan kepada mahasiswa baru pada saat masuk kuliah. Keterangan yang kami peroleh dari lembaga selama penggunaan jas almamater tidak mencemarkan nama baik lembaga tidak masalah, “Selama penggunaan jas amamater untuk menunjukan identitas lembaga, misalnya pada kegiatan seminar ataupun kegiatan di luar kampus ya tidak masalah, namun karena ini merupakan identitas suatu lembaga, gunakanlah sebagaimna fungsinnya dengan layak, dan menjaga nama baik lembaga, hal ini terakhir kali di sosialisasikan pada bulan maret seusai dialog lembaga dan mahasiswa pada tahun 2009 yang lalu.” tuntas Suyatmi. S.E . jadi jangan takut menggunakan jas almamater, tunjukan bahwa kita bangga menggunakan jas almamater. [frans/yudi/rahmat] “Alamamater adalah sebuah gambaran citra atau merk dari sebuah kampus, jadi ketika seseorang itu menggunakan almamater itu merupakan bentuk dari identitas, jika seseorang itu malu untuk menggunakan almamater kampusnya berarti dia seakanakan belum mengakui bagian dari kampusnya,” Panji Tri Nur Trisno (ketua senat STIMIK Amikom)

7


Lantai - sudut lain dari rumah Betang

Sumber : Diska Dewangga I LPM jurnal

Sumber : Diska Dewangga I LPM jurnal

Foto Journal

Rumah Betang - rumah adat khas Kalimantan Tengah, salah satu peninggalan leluhur yang perlu di lestarikan. 8


Foto Journal

Sumber : Diska Dewangga I LPM jurnal

Tangga - rumah Betang memiliki tangga yang unik dan terbuat dari batang kayu pilihan.

Sumber : Diska Dewangga I LPM jurnal

ukiran - Motif ukir suku dayak

9


Sumber: ibu Ema

Wawancara

Ngobrol Bareng Calon Profesor Kapan pertama kali Ibu tertarik dengan ilmu komputer? Saya pertama kali menggunakan komputer yaitu pada tahun 1989 untuk menulis tugas sekolah Waktu SMP dan pada saat itu menurut saya komputer cukup asik, walaupun tidak sering menggunakannya. Apa yang membuat Ibu tertarik mendalami ilmu komputer tersebut? Karena pada waktu itu di Yogja komputer merupakan “sesuatu” yang menarik, pada waktu itu kalau tidak salah ada lembaga kursus yang cukup terkenal bernama LPKIA dan komputer juga banyak di bicarakan pada waktu itu.

Dr. Ema Utami, S.Si, M.Kom

B

elajar dari pengalaman Dr. Ema Utami, S.Si. M.kom, ibu dengan tiga orang anak yang telah banyak berkarya lewat karya tulis ataupun karya nyata dan pemegang juara I Katergori Open Source pada ajang Lomba Amikom ICT Award 2010 dengan nama produk “JawaTeX ( J a va n es e Typ es ettin g and Transliteration Tex Document)” Web : Transliteration Dokumen Teks Latin ke Aksara Jawa Berbasis Web. Dan merupakan calon Prof termuda yang di miliki STIMIK Amikom Yogyakarta. Tim Reporter LPM Journal memiliki kesempatan untuk mewawancarai dan menimba ilmu dari beliau di sela-sela kesibukannya sebagai Lektor Kepala dan dosen di STIMIK AMIKOM Yogyakarta. Berikut adalah obrolan singkat tim reporter LPM Journal dengan Dr. Ema Utami, S.Si, M.Kom. 10

Mengapa Ibu lebih mendalami ilmu tersebut? Ya karena komputer banyak di bicarakan orang pada saat itu, selain itu saya yakin bahwa komputer akan berkembang pesat kedepanya. Selain Ilmu komputer dulu saya juga tertarik jadi dokter juga lho. Adakah kendala atau halangan baik internal maupun external yang menghambat ibu untuk menekuni ilmu tersebut? Kendala utama pada saat itu yaitu komputer masih cukup mahal dan tidak seperti sekarang, kalau gak salah komputer yang saya punya kecepatan 33 Mhz, bisa dibandingkan dengan komputer sekarang yang cloknya udah samper Ghz. Kendala lain adalah kurangnya buku tentang komputer, akses internet belum semudah sekarang ini, mungkin pada tahun 1996 akhir baru kenal dengan internat untuk menyelesaikan skripsi. Kendala lain adalah sedikitnya teman wanita untuk diskusi di bidang komputer, dulu saya kurang gaul makanya temennya gak banyak. Hehehe Bagaimana cara ibu untuk mengahadapi hambatan tersebut? Berusaha sekuatnya dan berdo'a sebanyakbanyaknya hehe.


Wawancara Alhamdulillah pada tahun 1995 dapat kenalan mahasiswa yang banyak mengerti tentang komputer sangat membantu saya dalam berdiskusi mengenai masalah ilmu komputer. Hal ini menjadikan saya lebih bermotivasi dalam belajar ilmu komputer dan akhirnya saya bisa menyelesaikan S1 Ilmu Komputer pada tahun 1997 atau kurang lebih 4 tahun 2 bulan di UGM. Banyak karya yang telah ibu buat, seperti buku dan karya-karya ilmiah, hingga terdengar kabar bahwa ibu merupakan calon Prof. Termuda di STIMIK Amikom Yogyakarta, apakah benar begitu? Dan bagaima ibu memotivasi diri untuk melalukan semua itu? Setelah lulus saya belum punya keinginan untuk kembali mendalami ilmu komputer, karena ilmu komputer yang saya kenal dulu waktu S1 cukup banyak mata kuliah yang tidak ada kaitanya dengan komputer sperti kimia, fisika, matematika bahkan biologi, MIPA banget hehehe. Saya sempat bekerja sebentar di PT Jamsostek Jakarta di bagian klaim JHT sampai pertangahan tahun 1998. Kemudian menjadi dosen di STIMIK Amikom Yogyakarta sejak tahun 1998, kerena sudah sebagai dosen maka mau tidak mau ya harus selalu mengembangkan diri. Setelah mengajar satu tahun lebih dan ingin mengembangkan kemampuan agar bisa seperti dosen-dosen UGM yang mengajar di Amikom pada waktu mengajar bergelar “M.Kom� maka tahun 2000 saya memutuskan untuk kuliah S2 Ilmu Komputer di UGM walaupun dengan biaya sendiri, kerena pada saat itu Amikom masih membiayai sekolah dosen yang lebih senior. Kuliah S2 saya selesaikan dalam waktu dua tahun dua bulan secara Cumlaude. Pada waktu kuliah, saya cukup aktif menulis buku, mungkin karena banyak waktu luang. Menulis merupakan salah satu motivasi saya untuk membagi apa yang saya dapatkan kepada orang lain. Pada september 2006, Amikom memberikan beasiswa untuk kuliah S3 di UGM. Seperti motivasi saya kuliah S2 saya ingin memperdalam kemampuan di bidang Ilmu Komputer, Allhamdulillah di tahun 2010 atau tepatnya 3 tahun 6 bulan bisa meraih gelar Dokor. .

Jabatan akademik saya sekarang adalah Lektor Kepala, do'akan semoga bisa cepat menjadi guru besar yah. Apakah Ibu memiliki target khusus untuk Amikom ataupun untuk diri ibu pribadi? Saya ingin sekali mengembangkan MTI Amikom menjadi Program Magister yang diperhitungkan di Yogyakarta, Indonesia maupun Asia seperti cita-cita Prof. Dr. M Suyanto, MM. Terget pribadi, walaupun sibuk sebagai dosen dan wakil direktur, saya ingin menjadi ibu yang membanggakan bagi keluarga, dan berusaha bisa selalu meluangkan waktu bagi anak dan suami. Bagaimana cara ibu untuk mewujudkan target tersbut? Dengan meningkatkan pemahaman, pengetahuan di bidang Akademik, evaluasi diri MTI, analisis SWOT (Strenght, Weakness, opportunity dan threat). Sehingga mengetahui apa yang bisa dilakukan di bidang akademik MTI, berdiskusi dengan pimpinan, temanteman dosen, mengikuti seminar, workshop di bidang akademik, menjadi anggota asosiasi komputer di antaranya MASTEL, IASII dan IndoCEISS. Apa harapan ibu untuk mahasiswa dan mahasiswi Amikom? Saya berharap agar mahasiswa memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri sebagai seorang mahasiswa informatika sehingga mempunyai semangat untuk selau berkarya khususnya di bidang informatika, dan dibiasakan untuk aktif dalam ajang kompetisikompetisi TIK. Sampaikanpan Ibu akan terus mendalami IT dan terus berkarya? Terus.. dan terus.. saperti iklan baterai di TV, hehe. Ya prinsipnya belajar dan selalu berkreasi tidak akan behenti selama kita mash diberi kesempatan oleh Allah untuk hidup di dunia. [senja /ilham] 11


Seputar Teknologi Informasi

Jelajahi Tubuh S D

e

n

g

a

n

Google

12

ebuah aplikasi web yang dapat dipakai untuk menjelajah seluruh tubuh, mulai dari kulit, otot, sampai tulang atau organ tubuh, hingga sistem saraf. Aplikasi tiga dimensi berteknologi tinggi ini dikatakan sebagai terobosan dalam studi anatomi. Bahkan dapat dianggap sebagai revolusi pemahaman mengenai tubuh manusia dan jalur cepat penelitian medis. Aplikasi tersebut bernama Google Body Browser, yang baru-baru ini di luncurkan oleh Google, kamis 16 Desember 2010 lalu. Meskipun belum dirilis secara resmi, namun gambarannya layanan itu mudah digunakan kerena memiliki navigasi hampir sama seperti Google Earth. Pengguna hanya tinggal memasukkan nama bagian tubuh dan tanpa harus menyelesaikannya atau memasukkan kata yang benar, karena Google akan membantu menampilkan anjuran kata kunci. Fitur yang sangat mudah digunakan memungkin menjadi alat bantu bagi siapa saja yang sering menggunakan Google untuk mencari tahu penyebab rasa sakit yang mereka derita, dan menganalisis setiap gejala di tubuh secara amatir ataupun bagi mereka yang mendalami anatomi tubuh manusia. Selain meluncurkan gambaran tiga dimensi tubuh, Google Body Browser juga memperkenalkan teknologi internet terbaru yang dikenal dengan nama WebGL (kanvas elemen HTML yang menyediakan API grafis 3D) . Ini memungkinkan grafik tiga dimensi yang rumit untuk digunakan pada halaman web biasa, tanpa perlu plug-in browser khusus seperti Flash atau Java.dan WebGL diharapkan menjadi standar di versi terbaru di sebagian besar internet browser, termasuk Firefox. [Frans] Sumber : http://sikenarok.blogspot.com/2010/12/jelajahitubuh-dengan-google.html


Pojok Sastra Kulayangkan dirimu. Sepucuk yang terhenti di trotoar. Berbaku hantam di badan jalan. Retak, lebam berlumur bercak. Sungguhkan niatmu yang dulu tegak.

Setubuh Kertas

Kumuntahkan doaku di rahimmu. Menggoresi kertas tubuhmu hingga kelak menumbuhkan akar. Sisa api yang membakar isak tangis warna kehitaman. Disanalah kamu harus bertahan. Jika esok hari ikhlas meredakan amarahmu. Jika telah habis waktu bermain di balik batu. Aku tahu kamu akan segera tiba. Berkubang dalam dekapan mereka yang mulai menetas. Menyuguhkan kabar terakhir sebelum pagi melunak. Melelehkan dingin tabir dengan segala kegusaran yang dipertaruhkan.

[ilham]

Biarkan matahari beranjak pergi. Perlahan pergi. Awal terbaik sebelum titik dikebiri.

Sindiran Untuk Koruptor..

Dia bahagia . . . Dia bisa tertawa . . . Dan dia bangga . . . Dengan hasil uang yang bukan haknya, Gaya hidupnya berfoya-foya, Hidupnya berlimpah harta, Bisa pergi kemana saja, Tapi menutup mata ketika rakyat sengsara, Ini Negara Indonesia, Negara yang berideologi Pancasila, Tapi mengapa . . . ? Masih banyak orang seperti dia, Ini bukti nyata, Terjadi di Indonesia, Bahwa ideologi Pancasila, Hanya diucap dimulutnya saja ! Dia jelas salah dan menjadi tersangka, Tapi benarkah dia dihukum dan dipenjara ? Penjara kok fasilitas hotel bintang lima, Dimana letak hukumannya ? [Deni D.K.] 13


Rubrik Calang

Kejutan Edisi Pertama Mendebarkan. Itulah perasaan pertama yang harus singgah dikepala saya ketika papan gabus bertuliskan LPM Journal mengucapkan selamat datang. Padahal papan itu tidak diletakkan di tempat pemakaman. Bukan karena warna papan yang luntur akibat berlama lama mengendap di dinding sekretariat. Itu warna yang sungguh menggoda. Saya perhatikan beberapa teman sepermainan rela menyewa wajah yang serius, ada pula yang salah menyewa wajah berseri. Sedang saya lebih suka memilih wajah konsentrasi, setidaknya sampai toilet kampus ungu berhasil menenangkan fokusnya. Sudah tiba waktunya. Ucapkan selamat datang kepada rapat buletin kami yang pertama. Rapat dimulai dengan gagas tema. Kata mendebarkan yang tadi sempat bercanda harus angkat kaki lebih awal dari yang dibayangkan. Calon anggota atau biasa disingkat calang, dipaksa mengeluarkan seluruh kemampuan berpikir agar berhasil mencatatkan diri sebagai penggagas terbaik. Kami sangat bersyukur ketika tidak ada ide calang yang ingin meliput kantin universitas lain. Setidaknya tidak untuk edisi pertama ini. Setelah bersusah payah berjuang, berseteru dengan lawan, akhirnya disepakatilah beberapa ide cemerlang sebagai urat syaraf buletin kami. Dilanjutkan dengan dirombaknya satu halaman Pojok Sastra untuk memberi ruang bagi Rubrik Calang. Inilah rahang yang membedakan, atau lebih tepat disebut harus membedakan antara buletin calang dengan buletin reguler pengurus LPM Journal. Secara naluriah, kami merasa harus siap digelayuti peri-peri berita. “Ayo reportase”, “ ayo menulis wacana”, hingga kemungkinan terbaik dan terburuk, “waktunya penerbitan dan persidangan”. Rupanya saya tidak diberi banyak waktu untuk menduga duga kemungkinan terlantarnya calang akibat program kerja pengurus yang turut sibuk menjahit berita mereka sendiri. Calang akan tetap dibimbing selama mengeksekusi Job Desk yang telah dipegang hingga tiba saatnya penerbitan. Bukan sekedar terbit dan dijadikan teman plastik ice cream di tempat sampah. Tetapi menjadi hitam putih yang berwarna lebih lengkap dari CMYK dan RGB. Andaikan harus berakhir di tempat sampah, lalat akan betah seharian membacanya. Belajar dan belajar. Rasanya dua hal tersebut membutuhkan teman bercerita yang tepat. Perlu waktu cukup lama sampai akhirnya buletin ini terbit. Kunjungan rasa malas tidak hanya sekali dua kali. Bukan hanya kesulitan untuk mendapatkan data reportase yang akurat, kematian ide kolom bebas tidak lagi menjadi hal yang tabu. Menulis berubah menjadi permainan yang sangat sulit ketika harus berteman dengan EYD dan politik keredaksian yang berlaku. Tidak pernah ada yang salah dengan belajar kecuali kalian belajar menulis pesan singkat berisi jawaban saat Ujian Akhir Semester. Mungkin kalian punya ide lebih buruk. Inilah usaha pertama kami. Buletin ini terbit agar selalu ada yang salah, kalah dan tekanan untuk menyerah. Ketiga hal tersebut tidak melulu diartikan pencitraan jelek terhadap seseorang. Ketika yang menjadi tujuan ingin dicapai sebaik mungkin, berbesar hati menjadi pilihan yang bijak sekaligus sulit. Kebenaran akan lahir berkat kesalahan kesalahan di masa lalu. Kemenangan bersama akan diraih ketika individu yang kalah berbesar hati, mengesampingkan egoisme diri untuk perayaan yang lebih besar. Seorang jurnalis tidak akan menjadi tangguh tanpa melewati fase penuh tekanan. Bumbu keputus asaan seringkali menghalangi langkahnya menuju tujuan hidup yang dewasa, hingga akhirnya pilihan untuk menyerah muncul ke permukaan. Lalu apa pilihan kalian? [ilham]

14


Referensi “Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita sudah punya televisi� Lupakan melankolia nestapa, putus cinta, perselingkuhan atau perebutan warisan. Konseptual album band modern rock asal Yogyakarta ini memaparkan manuver mereka yang menenteng kisah balada tragis sebagai senjata. Album ini seolah menjadi salah satu terapi penegangan syaraf-syaraf adiksi kita yang mengendur karena musik indonesia akhir-akhir ini miskin adiksi. Komposisi komplit secara keseluruhan, album ini punya lirik-lirik lugas dan tajam, tanpa mengurangi esensi melankolisnya membelai balada psikadelis misterius, lagu lirikal yang anthemic, distorsi dan sampling gelap bagaikan mendengar The Doors dari era disko pantura bersynthesizer, hingga lagu pop sing along indah yang dikemas dengan Melancholic Bitch [music] nuansa tradisional. Balada Joni dan Susi Refleksi imaji yang menggiring pendengar menuju balada-balada realita 2009 urban ibukota dan kemudian persuasif untuk meng’kaya’kan persepsi pendengar dengan analisa sosial. Pencerah untuk mereka yang dibutakan televisi dengan artis-artis dadakannya dan untuk para pembaharu yang menambatkan hati pada filsafat musikal. [iok]

Grown Ups [filem] Adam Sandler, Salma Hayek, Kevin James 2010 Columbia Pictures

Trik komedi ala Adam Sandler berkawin silang dengan drama keluarga yang sarat pesan moral. Permainan kata 'renyah' khas film komedi Amerika dengan quotes motivasi bertebaran di sana-sini, interaksi antar karakter yang alami, mampu menyampaikan pesan moral secara tersirat dengan gemilang. Berkisah tentang lima sahabat yang bertemu kembali setelah kematian pelatih basket mereka semasa kanak-kanak. Membawa keluarga beserta problem rumah tangga mereka masing-masing. Liburan mereka kemudian menjadi arena belajar untuk lebih memaknai kebahagiaan dalam hidup. Bahwa hidup akan terasa lebih indah jika kita mengindahkan hidup itu sendiri. Bagaimana sebagian dari mereka menjalani kehidupan yang berbeda saat harus saling berbagi dengan orang-orang yang 'tidak biasa' untuk kemudian menemukan arti indah kebahagiaan dalam kebersamaan.Film ringan sebagaiasupan motivasi dalam menjalani kehidupan. Tanggalkan sejenak beban rutinitas, hubungi kawan-kawan terdekat lalu tonton dan tertawalah bersama untuk sejenak dan saling menguatkan kembali esok hari.[iok]

15


Penerapan Pendidikan Jurnalistik (PPJ) LPM jurnal 2010

D’Journal


Buletin D'Journal Edisi Calang 2010 #1