Page 1

WARTA Diamma

Dilarang Mencabut/ Merusak, Dibuat dengan Uang Mahasiswa

Progresif Mengukir Perubahan

Edisi #3 | Oktober/2012

Editorial

Berita Utama

Mengharumkan nama kampus sampai ke Negeri Gajah Putih tak diiringi dengan kemudahan birokrasi apalagi apresiasi. Buntutnya, mahasiswa dibuat kecewa dan merasa kesal.

M

enjadi suatu kebanggaan bagi mahasiswa jika dapat mewakili nama kampus terlebih ditingkat Internasional. Namun tidak demikian dengan apa yang dirasakan oleh kelima mahasiswa FISIP UPDM(B) yakni, Lintang Idhayu Sandhinika, Citra Prima Reskyana, Gary Bivan Arely, Bayu Hermawan, dan Marika Abdul Gani. Hal ini berawal dari undangan yang diberikan oleh Surawat Thongbu, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Rajabhat Maha Sarakham University kepada perwakilan UPDM(B), dalam program Pertukaran Budaya ASEAN 2012 Indonesia-Thailand yang berlangsung dari 27 Agustus-27 September

2012, untuk mengenalkan budaya Indonesia baik kultur masyarakat dan bahasa Indonesia. Lintang, salah satu lima perwakilan tersebut menjelaskan, bahwa saat itu dirinya telah dua kali mengajukan izin kepihak fakultas. Namun hingga pengajuan yang kedua, tanggapan pihak kampus jauh diluar dugaan, seolah kami diabaikan begitu saja tanpa ada kejelasan dari pihak kampus untuk mendukung atau sekedar memberi saran. “Melihat sikap pihak kampus seperti itu, kami berlima nekat pergi untuk mengabulkan undangan tersebut,” katanya. Pahitnya lagi, tidak sepeser pun suntikan dana diberikan meskipun sekedar untuk membeli cindera mata sebagai bentuk

Laporan Khusus

K

ampus sebagai tempat menimba ilmu sudah seharusnya menyediakan segala sarana dan prasarana penunjang keilmuan, salah satunya aula besar seperti auditorium. Namun berbeda di kampus merah putih yang tidak mempunyai aula, Muhammad Agus Rahman FISIP 2011 merasa terganggu dengan tidak adanya aula. “Cukup terganggu kampus tidak memiliki aula, karena jika Himpunan Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (HMJHI) ingin mengadakan diskusi atau seminar harus meminjam kelas,” ucap Agus anggota HMJHI. Ia menambahkan jika HMJHI ingin meminjam kelas, selain harus berkoordinasi dengan pihak fakultas, HMJHI juga harus berkoordinasi dengan dosen agar tidak terjadi kesalahpahaman antara dosen dengan HMJHI. Saat dikonfirmasi ke pihak Manajement Building, Adil mengatakan bahwa aula terpaksa dikorbankan menjadi ruang perpustakaan karena untuk kebutuhan akreditasi universitas. Adil membeberkan bahwa solusi jangka pendeknya aula akan

D iamma Online

d i a m m a . com Portal Berita Mahasiswa UPDM(B) J a k a r t a

@diammamoestopo

LPM Diamma

Laporan Khusus

Peran Wakil Dekan III Dimata Kelembagaan

Foto: Ilustrasi/google.com

Kampus Kok Enggak Punya Auditorium

memakai ruang laboratorium Humas Fikom di lantai tiga gedung Perdamaian. Jangka panjangnya, Management Building berencana membangun aula di lantai dua di gedung Perdamaian atau di ruang sekretariat FISIP saat ini. Tapi, rencana jangka panjang akan terlaksana jika Warek I sudah menyelaraskan jadwal mata kuliah dan kelas. Karena untuk pembangunan aula, Management Building harus bekerja sama dengan Warek I seperti perpindahan perpustakaan. Menanggapi persoalan itu, Sumarhadi Wakil Rektor I bidang akademik mengatakan, untuk pemindahan ruangan dan penyelarasan jam kuliah sudah ada dalam program kerja, namun pemindahan ruang tesebut masih belum dilaksanakan. “Pemindahan ruang kelas dan penyeragaman jam kuliah baru sebatas program kerja, belum terlaksana,“ jelas Sumarhadi. Untuk kedepannya, aula besar atau auditorium belum akan dibangun di kampus I Hanglekir, untuk sementara ini aula masih berintegrasi dengan kelas. Hal yang ironis ketika sebuah kampus tidak memilki aula dan tidak ada kejelasan tentang pengadaan aula di kampus. Reporter: Bagus Prayogo

Apresiasi Kampus Tak Ada, Mahasiswa Makin Pesimistis

K

etua Komisi II Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fikom, Elizabeth Pricili Manopo menuturkan bahwa peran Wakil Dekan III Fikom sudah cukup baik, namun seharusnya bisa lebih maksimal lagi terutama soal kehadiran serta birokrasi. Saat ditanya kehadiran Wadek III secara informal ke ruang LKM Fikom, Manopo menuturkan bahwa Wadek III hanya sekali saja keruangan Lembaga. Seharusnya, Wadek III itu bisa lebih merangkul dan meluangkan waktunya untuk LKM dan mahasiswa. “Jika dirasa tidak mampu membawa tanggung jawab itu, dari awal jangan diterima jabatannya (Wadek IIIRed),” tukas Manopo. Di lain sisi, Manopo kecewa belum diberikannya jaket almamater ke mahasiswa Fikom 2012. Karena menurutnya, keterlambatan pemberian jaket almamater ini sudah menjadi isu yang sensitif. Tahun sebelumnya terjadi demonstrasi yang menuntut diberikannya jaket almamater ke mahasiswa Fikom 2011 yang berujung diberhentikannya Wadek III saat itu. Meski demikian, Manopo berharap pemberian jaket almamater dapat berjalan lancar agar tidak terulang seperti kejadian tahun lalu. Sementara Wadek III Fikom Prasetya Yoga menanggapi, bahwa dirinya

S

ebagai institusi pendidikan, perguruan tinggi mempunyai tiga tugas pokok yang menjadi prioritasnya seperti penelitian, pendidikan dan pengajaran , dan pengabdian ke masyarakat. Ketiga misi itu biasa disebut sebagai tri dharma perguruan tinggi. Namun berbeda dengan apa yang terjadi di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Sebuah institusi pendidikan yang didirikan oleh seorang pejuang kemerdekaan Pak Moestopo ini, seperti bersikap acuh dan tak memberikan sebuah penghargaan apapun kepada para mahasiswa yang mengabdikan diri dengan cara mengharumkan nama kampus dikancah Nasional bahkan Internasional. Parahnya, mahasiswa dibuat frustasi dengan sistem birokrasi yang bertele-tele dan menyusahkan. Padahal keuntungan dari hal tersebut tidak hanya diraih oleh mahasiswa saja, melainkan nama kampus juga ditorehkan. Tak aneh jika mahasiswa akan semakin pesimis dan lagi-lagi menyeret kepada alur pemikiran apatis. Oleh karena itu, semestinya pihak kampus harus lebih memahami apa yang dirasakan mahasiswa dengan merangkul dan mengayominya. Namun sebaliknya, fenomena menarik dan sungguh disayangkan terjadi dengan apa yang di apresiasikan kampus terhadap dosen. Kampus seolah lebih membangga-banggakan para dosennya yang meraih gelar S3 atau Doktor. Lucunya lagi, pihak kampus malah memajang banner/spanduk besar bertuliskan “selamat meraih gelar Doktor” kepada dosen terkait. Suatu hal yang sangat ironis memang, tapi itulah kampus merah putih. Foto: Ilustrasi/Dok.diamma.com

Foto: Dok. Lintang Idhayu Sandhinika

Birokrasi Berbelit, Mahasiswa Kapok Harumkan Nama Kampus

penghargaan kampus UPDM(B) kepada pihak Thailand. Karena untuk akomodasi sudah ditanggung pihak Thailand. Pihak kampus beralibi kalau anggaran kampus sudah ditentukan sedemikian rupa. “Bohong jika mereka (pihak kampus-Red) tidak menyediakan dana dadakan seperti itu. Lembaga kampus saja pasti menyediakan dana dadakan dalam anggarannya, apalagi pihak kampus,” kesalnya. Karena keterbatasan itu, Lintang dan keempat temannya rela memberikan barang bawaan pribadi sebagai tanda terimakasih untuk diberikan kepada pihak Thailand. “Barang tersebut yaitu wayang golek, selendang ulos dan sepuluh baju batik. Miris sebenarnya melihat kondisi ini, tapi enggak ada lagi yang kami bisa berikan selain itu.” Buntutnya, karena kekecewaan itu, kelima mahasiswa ini kesal ketika melihat berita kampus baik video berita maupun News Letter dari Rajabhat Maha Sarakham University yang menyebutkan, ada “embelembel” nama UPDM(B) di Program Pertukaran Budaya Indonesia-Thailand. Kerena kesal, kelima mahasiswa ini sengaja meninggalkan News Letter tersebut disana agar saat balik ke Indonesia kekecewaan mereka terhadap sikap kampus yang arogan berkurang. Saat dikonfirmasi, Paiman Raharjo Wadek III FISIP bidang kemahasiswaan angkat bicara. “Dari awal mereka tidak ada kordinasi kepada saya. Mereka kordinasinya dengan ketua program.” Paiman menjelaskan, saat keberangkatan kelima mahasiswa FISIP tersebut ternyata belum ada surat resmi dari Rajabhat Maha Sarakham University yang ditujukan untuk pihak kampus. “Kita sama sekali tidak pernah menyudutkan mahasiswa, tetapi mahasiswa harus mempunyai etika yang benar jangan sampai ada masalah baru dilemparkan ke kita (pihak kampus-Red),” jelasnya. Reporter: Aslan La Ode

memiliki pekerjaan ditempat lain yang membuatnya tidak bisa berada di kampus sepanjang waktu. Mengenai keluhan birokrasi, Yoga mengatakan memang sudah prosedur dari universitasnya. Sedangkan menyoal pemberian jaket almamater sudah masuk proses produksi, dan sebelum UTS mahasiswa baru sudah bisa mendapatkannya. Alasan keterlambatan, karena ada keinginan mengubah modelnya. Namun setelah dirundingkan bersama LKM, akhirnya tetap memakai model yang lama. Hal senada juga dikeluhkan Felix Bayu Adhi, mantan ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FE 2011-2012. “Untuk bertemu pak Agung (Wadek III FE-Red) agak susah, jarang ada di tempat, dan birokrasinya cukup sulit,” keluhnya. Lantaran itu, Bayu hanya menekankan satu hal kepada Wadek III FE untuk membantu sosialisasi setiap kegiatan LKM agar peminatnya semakin banyak. Sementara Wakil Dekan III FE, Agung Setyo merasa tidak sulit untuk ditemui mahasiswanya. Ia beralasan mungkin saat itu tidak ada diruangannya. Sementara untuk birokrasi seperti ini mahasiswa tidak perlu resah karena birokrasi ini kan untuk kebaikan dan keamanan bersama. Reporter: Rionaldo Herwendo

Pemimpin Redaksi: Tri Susanto Setiawan, Redaktur Pelaksana: Frieska Maulidiyah, Kord Desain: Kevin Erens Giri Layouter: Tri Susanto Setiawan, Aslan La Ode, Pemimpin Perusahaan: Novita Uli Utami, Percetakan: Karlina Nur Hayati, Pemasaran: Kharis Karim, Reporter: Aslan La Ode, Bagus Prayogo, Rionaldo Herwendo. Alamat Redaksi: Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Pusgiwa 04, Jln. Hanglekir I/8 Kebayoran Lama Jakarta Pusat. Web: www.diamma.com Email: redaksi@diamma.com Twitter: @ diammamoestopo.

#3 Warta Diamma  

#3 Warta Diamma