Issuu on Google+

Diamma NEWS LETTER

PROGRESIF MENGUKIR PERUBAHAN

UKM Diamma Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Telp 0857 1044 6384 Email: redaksi@diamma.com Website: www.diamma.com

FIKOM Kembali Dapat Akreditasi A, Pantaskah? Informasi Terbatas, Pengetahuan Mahasiswa Mengenai Beasiswa Berkurang

3 4

Parkiran Terkesan Umum, Pihak Kampus Akan Ubah Sistem Parkir

5

Sterilisasi Jalur TransJakarta, Mampukah Buat Pelanggan Jera?

6

Terbongkarnya Penyadapan Kepada Pemerintah Indonesia

7

Open Recruitment LPM Diamma

8

Informasi Terbatas, Pengetahuan Mahasiswa Mengenai Beasiswa Kurang

D

i era keterbukaan ini, peluang masyarakat dalam bidang pendidikan sangat luas karena banyak pihak menawarkan berbagai macam beasiswa dari berbagai disiplin ilmu dan berbagai tingkatan untuk menempuh pendidikan. Tentu hal ini diperuntukan untuk siapa pun yang memiliki kemampuan intelektual, tetapi tidak mempunyai kemampuan secara finansial. Namun demikian, mahasiswa (bersambung ke hal 4)

Edisi XII/XII/2013

FIKOM Kembali Dapat

Akreditasi A, Pantaskah ?

Fotografer : Hana Nur Fadhilah

INSIDE

Rp. 1000,-

FIKOM mempertahankan akreditasinya sejak 2008.

“Bicara soal fasilitas kampus ini dilematis. Lokasi kampus kita ini strategis namun lahan yang minim menjadi kendala untuk meng-upgrade fasilitas,” ujar Hanafi.

S

esuai dengan surat keputusan badan akreditasi nasional perguruan tinggi nomor 211/SK/ BAN-PT/Ak-XVI/S/X/2013, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof.Dr.Moestopo (Beragama) kembali mendapatkan akreditasi “A” untuk ketiga kalinya. Hal ini tentu membanggakan bagi pihak fakultas karena dapat mempertahankan akreditasi tersebut setelah proses penilaian selama tiga bulan. Penilaian akreditasi sendiri meliputi struktural kepemimpinan, penyelenggaraan akademik, unsur penunjang, serta fasilitas. Dengan kembali diraihnya nilai “A”, sarana dan

pra-sarana yang menjadi bahan penilaian harusnya sudah bisa dibandingkan dengan unversitas-universitas terbaik pemegang akreditasi “A” lainnya. Namun, hal tersebut nyatanya berbeda dengan keadaan yang terjadi dilapangan. Dengan segala fasilitas yang dinilai masih dibawah standar, muncul pertanyaan dari berbagai warga kampus, apakah Fikom masih layak mendapatkan akreditasi “A”? Dari segi media penunjang, banyak yang menilai masih belum cukup memadai. Menurut salah satu dosen Fikom, Eni Kardi Wiyati sarana dan (bersambung ke hal 3) Diamma • Desember 2013

1


Editorial

Pemimpin Redaksi Fitriana Hidemi Redaktur Pelaksana Dewi Savitri Redaktur Cetak Agusto Reynaldo Annisa Pratiwi Kordinator Desain Ahmad Subagia Layouter Bayu Prasetyo Pemimpin Perusahaan Sri Rizqi Gustiarini Iklan & Pemasaran Eka Trisnawaty Cetak Nurkholis Reporter Amos Sury’el Tauruy, Gabriella Andina, Hana Nur Fadhilah, Rizky M. Akbar, Wulan Fitria

2

Desember 2013 • Diamma

Dari Redaksi Salam Mahasiswa!

P

uji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa akhirnya LPM Diamma kembali menerbitkan Newsletter edisi kedua belas di kepengurusan periode 2013-2014. Di Edisi kali ini kami mencoba mengangkat lebih lanjut permasalahan-permasalahan umum yang selalu hangat diperbincangkan. Masalah parkiran kembali mencuat, luas lahan parkiran yang dianggap tidak memadai oleh mahasiswa ternyata dipenuhi oleh sejumlah pekerja disekitar kampus UPDM(B). Pihak kampus pun akan menyiasati masalah ini dengan membuat peraturan baru untuk menertibkan area parkir UPDM(B). Sejumlah permasalahan terkait fasilitas menimbulkan pertanyaan bagi mahasiswa mengenai kelayakan FIKOM yang kembali mendapatkan akreditasi A. Tidak hanya itu masalah beasiswa juga semakin marak untuk diperbincangkan, hingga kini mahasiswa masih mempertanyakan keberadaan beasiswa itu sendiri. Tidak hanya membahas isu kampus, kali ini kami coba membahas isuisu Nasional dan Internasional yang sedang marak diperbincangkan. Kurang tegasnya pemerintah dalam menertibkan jalur TransJakarta kini mulai diperbaiki, pasalnya belakangan ini pihak berwajib mulai menegaskan pengendara “nakal” yang menerobos jalur TransJakarta. Tidak hanya berkutat dalam negeri, isu kali ini juga mengangkat mengenai penyadapan Australia terhadap Indonesia. Hal ini cukup hangat diperbincangkan karena pasalnya cukup meningkatkan ketegangan antara dua negara tersebut. Semoga berita yang kami sajikan mampu memberikan manfaat bagi pembaca dan dapat menghasilkan perubahan ke arah yang lebih baik bagi kampus merah putih tercinta. Selamat Membaca!

Setiap reporter Diamma diberikan tanda pengenal berupa kartu pers. Tidak dianjurkan untuk memberikan insentif dalam bentuk apapun ketika reporter kami bertugas.


Kupas Kampus Sambungan halaman 1 prasarana dinilai belum cukup untuk menunjang kegiatan belajar mengajar dikarenakan tidak lengkapnya media yang ada di dalam kelas. Misalnya saja seperti di lab humas, suara microphone-nya tidak jelas dan kadang beradu dengan kelas sebelah, infocus dan proyektornya pun sudah rusak. Menurut Eni hal ini sangat disayangkan, karena alat tersebut sangat penting dan cukup mengganggu jika tidak berfungsi saat proses mengajar. “Pengelolaan dan perawatannya harus lebih diperhatikan sehingga bisa meminimalisir kerusakan. Fasilitas di kelas kan juga merupakan penilaian untuk akreditasi,” ucap dosen Fakultas Ilmu Komunikasi tersebut. Dari segi fasilitas, mahasiswa Fikom sendiri merasa bahwa akreditasi “A” kurang layak mengingat sarana dan prasarana yang kurang memadai, terutama lahan parkiran. Seperti kata Mairy, mahasiswi Fikom 2012 ini berpendapat lahan parkiran masih kurang memadai untuk menampung kendaraan bermotor masyarakat Moestopo. Mahasiswi Fikom lainnya,

Isna Maulida pun berpendapat sama, bahkan menurutnya, pihak kampus terkesan “curang” saat proses penilaian, karna saat penilaian ahan parkir yang sengaja dikosongkan saat hari-H menjadi alasannya. “Menurut gue ya kurang layak aja, parkiran yang sengaja tengahnya dikosongin selama proses penilaian, padahal biasanya penuh,” ujar mahasiswi angkatan 2012 tersebut. Dari segi akademik dan dosen, secara keseluruhan sudah dirasa cukup memadai. Terlebih jika dipandang dari segi kualitas, mengingat banyak dari mereka yang sudah mendapatkan gelar pendidikan doktor, bahkan profesor, namun berbanding terbalik jika dilihat dari segi kehadiran. Agusri dan Desi membenarkan hal tersebut. Kedua mahasiswi Fikom 2012 tersebut berpendapat bahwa kualitas dosen untuk menunjang akreditasi “A” sudah cukup memadai namun dari segi absensi harus lebih diperhatikan. “Kalau SDM tidak diragukan lagi, karena sudah cukup berkualitas hanya saja absensi beberapa dosen yang jarang masuk harus lebih diperbaiki lagi ke depannya,” ujar Agusri dan Desi bersamaan. Hanafi Murtani selaku Dekan Fikom mengaku senang dan cukup puas

Tingkat Kepuasan Mahasiswa Terhadap Fasilitas Kampus

dengan diraihnya kembali akreditasi “A” ini, karena dapat mempertahankan status yang telah diraih sejak tahun 2003. Hanafi juga mengungkapkan bahwa saat ini fakultas terus mengembangkan sarana dan prasarana kampus. “Bicara soal fasilitas kampus ini dilematis, lokasi kampus kita ini strategis namun lahan yang minim menjadi kendala untuk meng-upgrade fasilitas. Saat ini kita terus mengembangkan fasilitas yang ada di kampus swadarma terutama laboratorium untuk mengasah skill mereka, selain itu pihak fakultas juga terus memperbaiki kualitas pengajar. Belum lama ini, beberapa dosen UPDM(B) juga mendapatkan sertifikat untuk bisa menguji para mahasiswa dibidang kewartawanan, dengan adanya beberapa dosen yang mendapatkan sertifikat sebagai penguji wartawan sebagai penunjang akreditasi,” ujar Dekan Fakultas Ilmu Komunikaasi UPDM(B) tersebut. Dengan diraihnya kembali akreditasi “A” untuk Fikom, banyak masyarakat kampus yang berharap agar sarana dan prasarana serta penyelenggaraan akademik di Fikom dapat berkembang lebih baik sehingga layak mendapatkan “A”. D Hana Nur Fadhilah

Faktor Penyebab Ketidakpastian Mahasiswa Terhadap Fasilitas Kampus: 1. Fasilitas dalam kelas (microphone, infocus, bangku, dll) banyak yang rusak. Keterangan :

Puas

Kurang Puas

Tidak Puas

2. Fasilitas umum dilingkungan kampus seperti laboratorium, toilet, dan penyediaanya tidak sebanding dengan banyaknya mahasiswa.

3. Perpustakaan memiliki pelayanan dan keamanan yang kurang baik dan penyediaan data jurnal (buku, karya ilmiah, dll) tidak lengkap. 4. Luasnya lahan parkir tidak sesuai dengan jumlah kendaraan yang parkir dikampus.

D

Diamma • Desember 2013

3


Sambungan halaman 1 enggan mencari tahu dan pihak universitas pun kurang menjembatani mahasiswanya untuk kesempatan emas tersebut.

M

enjadi cerdas di era globalisasi seperti saat ini sangatlah mudah untuk mengenyam pendidikan yang tinggi baik dalam maupun luar negeri, karena sekarang berbagai pihak menawarkan bantuan pendidikan. Tidak seperti pada era sebelumnya, kaum ekonomi lemah hanya bisa menaruh harapan untuk mengenyam bangku pendidikan. Apresiasi bagi mahasiswa berprestasi merupakan salah satu motivasi yang mampu membangkitkan semangat belajar mahasiswa. Beasiswa merupakan salah satu bentuk penghargaan nyata dari usaha mahasiswa dalam meraih nilai terbaik atau kemampuan lebih dibidang akademis maupun keahlian khusus, seperti kemahiran dibidang olahraga. Menurut Farris Daniel, mahasiswa Fikom 2013, beasiswa sangat penting sebagai bentuk dukungan di dunia pendidikan. Menurutnya, dengan adanya beasiswa dapat memacu mahasiswa untuk belajar lebih giat demi memperoleh penghargaan tersebut. Baginya beasiswa juga merupakan bantuan yang akan meringankan mahasiswa berekonomi lemah dalam menempuh pendididkan. “Beasiswa penting karena dapat memotivasi mahasiswa untuk mendapatkan beasiswa itu sendiri, sehingga mereka akan rajin belajar. Karena sangat meringankan biaya pendidikan yang semakin mahal,” ungkapnya. Namun, sangat disayangkan, banyak mahasiswa yang masih belum tahu bahwa di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) memiliki beberapa bentuk beasiswa antara lain seperti Sampoerna Foundation, bidik misi, kopertis, dan Dikti (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi). Meskipun tidak semua mahasiswa tidak mengetahui mengenai beasiswa tersebut namun, ini mengindikasikan bahwa penyebaran informasi tidak merata. Kurangnya sosialisasi merupakan salah satu faktor penyebab hal ini terjadi. “Saya tidak tau di sini ada beasiswa. Informasinya kurang jelas dan nggak pernah liat kalo ada informasi mengenai beasiswa ditempel di mading. Kalaupun ada di mading, sedikit sekali ada yang baca, harus ada sosialisasi dari 4

Desember 2013 • Diamma

dosen, kasih tau info mengenai adanya beasiswa,” tutur Aditya Permana Erdev, Mahasiswa FISIP-HI 2012. Pengakuan senada juga diutarakan oleh Farris. Sebagai mahasiswa baru ia tidak mengetahui keberadaan beasiswa, sementara informasi mengenai beasiswa penting untuk memicu semangat mahasiswa baru. Selain itu, dengan tersedianya beasiswa bisa jadi akan menarik minat seseorang untuk masuk ke universitas tersebut. “Dari awal kita masuk seharusnya udah dipikirin bagaimana cara mensosialisasikannya, atau brosur pendaftaran juga sebenarnya dapat dijadikan media untuk sosialisasi beasiswa. Kalau sampai saat ini belum tahu kalau ada beasiswa,” tambah farris. Hal ini diakui oleh Andri, selaku Kepala Sub-bagian mahasiswa dan alumni UPDM(B), ia membenarkan informasi mengenai beasiswa yang hanya ditempel di mading memang kurang efektif, karena rasa keingintahuan dan minat membaca mahasiswa kurang. Dengan begitu informasi beasiswa harus disosialisasikan secara personal, meskipun cara tersebut sudah dilakukan oleh salah satu dosen di Fikom pada saat mengajar, namun tetap saja mahasiswa seolah tidak tertarik. “Memang ditempel dipapan pengumuman, tetapi mahasiswa kurang peka dan animo-nya kurang walaupun sudah pernah diberi tahu ke kelas-kelas,” tuturnya. Andri mengatakan bahwa ia sudah mulai menyusun program untuk sosialisasi ke kelas-kelas agar mahasiswa mengetahui informasi beasiswa di kampus. Dan berharap, para mahasiswa mengetahui informasi mengenai beasiswa di kampus UPDM(B). “Harapan saya untuk kedepannya agar mahasiswa lebih rajin membaca, terutama membaca informasi di mading agar tau lebih banyak informasi,” tuturnya. Tidak semua mahasiswa tidak mengetahui keberadaan beasiswa, Niki Putri Riyanto, mahasiswi FE 2011 yang mengetahui informasi beasiswa yang tersedia di kampus UPDM(B) mengatakan mengetahui informasi beasiswa melalui mading. Namun, sangat disayangkan tidak ada kelanjutan informasi setelah mendaftar beasiswa yang dikeluarkan oleh dikti melalui UPDM(B) dalam bidang akademis dengan kuota sepuluh sampai lima belas orang disetiap fakultas. Sebanyak empat mahasiswa FKG, enam belas mahasiswa FISIP, sepuluh mahasiswa FE, dan tujuh mahasiswa Fikom mendapatkan beasiswa. Namun, karena kurangnya informasi yang diberikan oleh pihak terkait, tidak

Illustrasi : Ahmad Subagia

Kupas Kampus

sedikit mahasiswa yang sudah mendaftar tidak mengetahui bahwa namanya sudah tecantum dalam daftar pemegang beasiswa. Ia juga menambahkan bahwa, sosialisasi dari pihak sekertariat sangat minim sehingga ia tidak dapat mengetahui informasi beasiswa selanjutnya setelah mendaftar. “Saya daftar beasiswa dari semester empat, tapi baru tau sekarang kalau nama saya terdaftar. Karena nggak ada informasi yang diberitakan kepada saya,” ungkap Niki. Ia pun mengungkapkan bahwa setiap penerima beasiswa akan menerima uang setiap bulannya sekitar 300 ribu Rupiah hingga 600 ribu Rupiah selama satu semester perkuliahan. “Saya belum mengetahui uang tersebut sudah keluar atau belum, karena saya belum cek tabungan saya, ”ujarnya. Wanita berkerudung tersebut berharap agar informasi mengenai penerima beasiswa dapat disebarkan secara luas karena beasiswa tersebut dapat meringankan biaya kuliah. ”Kalau menurut saya, sebaiknya informasi beasiswa dishare disemua fakultas, nanti ada tahap penyaringan, mana yang berhak mendapatkan mana yang tidak berhak, insyaAllah digunakan sebagaimana mestinya,” tutup Niki. D Arimbi Puspita Ratri


Kupas Kampus

Terkesan Umum, Kampus akan Ubah Sistem Parkir

B

erbicara mengenai lahan parkir, seolah sudah menjadi fenomena yang tak asing lagi terlihat di kampus I Hang Lekir, Jakarta Pusat. Lahan parkir yang sempit dan semrawut, terasa masih belum menemukan ujung permasalahan sampai saat ini. Terlebih kondisi lahan parkir yang tidak lagi menjadi lahan parkir khusus mahasiswa, melainkan untuk masyarakat umum yakni karyawan mall, karyawan bank, serta para pegawai toko yang lokasi kerjanya tak jauh dari kampus UPDM(B). Mahasiswa juga tak jarang mengeluhkan lahan parkir UPDM(B) yang saat ini sering dimanfaatkan untuk parkiran masyarakat umum. Andriansyah selaku Wakil Rektor III UPDM(B) menjelaskan bahwa lokasi kampus yang sangat strategis membuat lahan parkir UPDM(B) banyak dimanfaatkan oleh masyarakat umum. “Kita tahu bahwa kampus kita letaknya strategis. Saya juga tidak memungkiri banyaknya karyawan Sency (Senayan City-Red) yang memarkirkan kendaraannya disini,” tuturnya. Dalam menanggapi permasalahan ini, pihak rektorat akan melakukan perubahan sistem penertiban parkir dengan cara menunjukan kartu khusus, sehingga dapat dipastikan bahwa hanya mahasiswa, dosen, dan para karyawan UPDM(B) yang bisa memarkir kendaraan mereka. Pihak kampus saat ini sudah melakukan tahap pengkajian dan tahap implementasi uji coba demi terealisasinya hal tersebut. Kondisi penertiban ini dilakukan untuk meminimalisir masyarakat umum yang memarkir kendaraannya di kampus UPDM(B). Andriansyah menjelaskan

mengenai kebijakan tersebut, “sampai saat ini kami memang belum memberi ketegasan untuk masyarakat umum yang parkir disini, tetapi jika sistem ini sudah dijalankan, mereka silahkan saja parkir di luar karena mereka tidak mungkin memiliki kartu khusus,” tutur Andriansyah. Pihak kampus mengaku akan memberlakukan kebijakan ini secepatnya, yakni mulai dari tahun ajaran ini. Pihak rektorat pun yakin dengan diberlakukannya sistem parkir seperti ini efisiensi terhadap penertiban parkir di Kampus Merah Putih dapat terlaksana dengan baik. Tak hanya pihak rektorat yang menanggapi masalah ini. Berbagai macam pendapat muncul dari kalangan mahasiswa UPDM(B). Surya, Mahasiswa FIKOM 2012 menuturkan pendapatnya, “memang benar masyarakat umum banyak yang parkir di kampus, itu salah satu faktor mahasiswa sulit mendapat lahan parkir. Saya setuju kalau akan dibuat sistem seperti itu, saya yakin dengan sistem tersebut akan sangat efektif asalkan petugas parkir kampus memiliki ketegasan,” tuturnya. Tak berbeda jauh dengan Andi, Panji yang juga Mahasiswa Fikom 2012 mengungkapkan tanggapannya, “saya sangat setuju dengan adanya perubahan sistem parkir di kampus yang menggunakan kartu khusus. Tapi kalau berbicara efektif atau tidak, itu tergantung konsistensi penjaga parkirnya seperti apa,” ungkap Panji. Dengan adanya rencana perubahan sistem parkir, nampaknya bisa menjadi titik terang untuk mengantisipasi masyarakat umum yang selama ini bebas memarkirkan kendaraannya di kampus. WAREK III UPDM(B) berharap agar semua mahasiswa mendukung dan

Fotografer : Gabriella Andina

Kondisi lahan parkir yang sempit sudah menjadi momok keluhan mahasiswa selama ini. Salah satu penyebabnya yaitu lahan parkir yang tidak hanya diperuntukan untuk mahasiswa, dosen, dan para karyawan, melainkan masyarakat luar kampus yang bebas memarkirkan kendaraannya di lahan parkir kampus UPDM(B).

Loket parkiran UPDM(B) dan Kartu Tanda Mahasiswa. dapat bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini. “Saya harap mahasiswa bisa membantu dan ikut mendukung rencana perubahan sistem parkiran di kampus kita ini,” tutupnya. D Gabriella Andina

Diamma • Desember 2013

5


Nasional

Sterilisasi Jalur TransJakarta,

Foto : Google.com

Mampukah Buat Pelanggan Jera?

Beberapa polisi sedang memberhentikan mobil yang menerobos jalur Bus TransJakarta.

Sekitar 2000 kendaraan terjaring razia setiap harinya karena memasuki jalur transjakarta yang seharusnya steril dari kendaraan umum. Undang-undang nomor 22 Tahun 2009 Pasal 287 ayat 1 telah di tetapkan, namun ketegasan dari pemprov DKI Jakarta mengenai hal ini baru mulai ditertibkan kembali belakangan ini

K

emacetan yang semakin memuncak rupanya masih menjadi masalah besar bagi kota metropolitan. Para petinggi kota, mulai dari Gubernur hingga Dinas Transportasi tak ada habisnya mencari solusi untuk menanggulangi masalah tersebut. Seperti dibuatnya jalur TransJakarta, dan perencanaan Mass Rapid Transit (MRT) yang tujuan utamanya untuk mencegah kemacetan ibu kota. Namun, tak semudah yang dibayangkan, adanya fasilitas yang disediakan oleh pemerintah DKI Jakarta tak jarang menimbulkan masalah baru yang justru semakin menambah kemacetan DKI Jakarta, seperti banyaknya pengguna kendaraan bermotor yang menerobos jalur TransJakarta. Menanggapi hal tersebut, Polda Metro Jaya menetapkan peraturan baru, yakni dengan adanya sterilisasi 6

Desember 2013 • Diamma

jalur TransJakarta. Peraturan ini akan memberlakukan denda maksimal satu juta rupiah untuk para pengguna mobil dan lima ratus ribu rupiah untuk para pengguna motor yang terbukti menerobos jalur TransJakarta. Peraturan yang mulai diberlakukan sejak November 2013 ini ternyata telah menjaring lebih dari 2.000 kendaraan. Setidaknya sampai tanggal 2 November 2013, ada 1.590 motor, 306 mobil, 101 angkutan umum, dan 21 kendaraan beban. Kebijakan sterilisasi jalur busway ini tak jarang membuat pro dan kontra dari masyarakat DKI Jakarta. Seperti Gelar Achmad yang mengaku dengan adanya peraturan ini tidak efektif karena dapat menimbulkan kemacetan yang lebih parah, terlebih lagi orang Indonesia bisa dikatakan jarang mematuhi peraturan yang telah dibuat.

Disamping itu, ada pengguna jalan yang setuju dengan adanya kebijakan ini, Alfiansyah, salah satu pengendara motor, sangat menyetujui peraturan ini yang menurutnya sangat efektif. Ia mengatakan, pengendara “nakal” akan jera. Sehingga tidak ada lagi yang merasa “dicurangi” saat berkendara di jalan. Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo berharap dengan adanya sterilisasi jalur Transjakarta ini akan membuat warga lebih tertib dan memberikan efek jera bagi para pelanggarnya. “Denda ini supaya orang yang melanggarnya kapok. Kalau kapok, orang kan bisa naik transportasi umum. Kita konsisten tertib hukum,” ujar Jokowi. D Wulan Fitria & Rizky M. Akbar


Internasional

Terbongkarnya Penyadapan Kepada Pemerintah Indonesia

(Dari kiri) Tony Abbott Dan Susilo Bambang Yudhoyono dua Pemimpin Negara yang sempat berseteru.

B

eberapa waktu yang lalu, pemerintah Indonesia digegerkan oleh terbongkarnya penyadapan yang dilakukan oleh negara tetangga yaitu Australia. Banyak kabar menyebutkan bahwa Amerika Serikat juga turut serta dalam hal ini. Hampir semua orang penting di negeri ini menjadi korban. Beberapa di antaranya adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu negara Ani Yudhoyono, serta mantan wakil presiden Jusuf Kalla. Untuk mengklarifikasi kabar penyadapan tersebut anggota DPR RI Komisi I mencoba “memburu” Edward Snowden, yang diketahui membeberkan penyadapan yang dilakukan oleh Australia dan Amerika Serikat terhadap negaranegara lain termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, Anggota Komisi I menemui duta besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin, karena menurut kabar yang beredar Snowden berada di Rusia. “Oleh Galuzin, anggota Komisi I disambut dengan hangat di kediamannya,” ujar Tantowi Yahya salah satu anggota komisi I (Rabu 27 November 2013). Dalam pertemuan dengan Dubes Rusia tersebut, Tantowi Yahya bercerita mereka diberikan kesempatan untuk menghubungi website pengacara terkenal Rusia yang menangani kasus Snowden, Anatoly Kucherena. Mereka juga diberikan kesempatan untuk melakukan percakapan lewat telepon. Anggota Komisi I DPR-

Foto : Google.com

“Presiden menyayangkan atas sikap dari PM Australia yang tidak meminta maaf atau memberi klarifikasi yang jelas mengenai hal ini,”

RI menyatakan hendak berterimakasih kepada Edward Snowden, karena ia telah membeberkan penyadapan yang dilakukan oleh Australia dan Amerika Serikat. Selain itu, mantan Duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal menyatakan Indonesia memang seharusnya berterimakasih kepada Snowden. Karena berkat data yang di peroleh oleh Snowden, penyadapan yang dilakukan Australia terhadap Indonesia pada tahun 2009 dapat terungkap. “Kalau boleh jujur kita harus terima kasih kepada Snowden, kalau tidak (jika Snowden tidak membocorkan-Red), kita tidak tahu,” ujar Dino. Hingga saat ini alasan dari penyadapan tersebut belum jelas. Namun menurut Hamid Awaludin, mantan Duta Besar Indonesia untuk Rusia, rencana pembelian kapal selam dari Rusia nampaknya menjadi salah satu alasan dilakukannya penyadapan oleh Australia dan Amerika Serikat pada tahun 2009. Bukan tanpa alasan mantan Dubes RI untuk Rusia tersebut menyatakan hal tersebut, pasalnya penyadapan dilakukan sekitar Agustus 2009. Dalam bulan dan tahun yang sama, rencana negosiasi untuk pembelian dua kapal selam asal Rusia sedang dilakukan. Selain itu, sebagian petinggi negara yang disadap adalah petinggi yang berhubungan dengan rencana negosiasi tersebut. Tokoh

nasional tersebut antara lain, Sofyan Djalil (saat itu menjabat sebagai Menteri BUMN) dan Sri Mulyani Indrawati (saat itu menjabat sebagai Menteri Kordinator Perekonomian). “Mereka terkait aspek ekonomi negosiasi itu (kapal selam-Red), yakni pembiayaan. Ada anggaran atau tidak,” jelas Hamid. Menurut Hamid Awalludin, pada akhirnya rencana pembelian dua kapal selam tersebut dibatalkan, dan Indonesia lebih memilih membeli kapal selam dari Korea Selatan. Kedekatan Jakarta dan Moskow nampaknya menjadi faktor utama dalam penyadapan yang dilakukan oleh Australia, meski banyak alasan penyadapan lain yang diungkapkan baik dari pihak Indonesia maupun Australia. Apapun alasannya, penyadapan terhadap pejabat negara lain bukanlah hal yang dapat dibenarkan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa kecewa terhadap penyadapan yang dilakukan oleh Australia dan beliau juga menyayangkan sikap Perdana Menteri (PM) Australia, Tony Abbott yang menolak untuk meminta maaf terhadap pemerintah Indonesia. “Presiden menyayangkan atas sikap dari PM Australia yang tidak meminta maaf atau memberi klarifikasi yang jelas mengenai hal ini (penyadapan),” ujar Julian Aldrin Pasha, Juru Bicara Presiden. Abbott pun mendapat desakan dari warga negaranya yang berada di Indonesia, Parlemen Australia, dan juga mantan PM Australia Julia Gilard untuk meminta maaf kepada Pemerintah Indonesia. Walau awalnya Abbott menolak meminta maaf dengan alasan penyadapan dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya, namun karena desakan dari warga negara dan sejumlah politisi negerinya, serta ancaman penghentian sementara kerjasama dalam segala bidang terutama dalam menangani imigran gelap dengan pemerintah Indonesia. Pada akhirnya Abbott secara resmi meminta maaf kepada pemerintah Indonesia. Permintaan maaf disampaikan di hadapan para anggota parlemen Australia secara resmi. D Amos Sury’el Tauruy Diamma • Desember 2013

7


Event

Open Recruitment LPM Diamma L

embaga Pers Mahasiswa Diamma kembali buka kesempatankepada mahasiswa Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) angkatan 2012 dan 2013 untuk menjadi bagian dari LPM Diamma. LPM Diamma merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa ditingkat universitas yang bergerak dibidang jurnalistik. Pendaftaran penerimaan anggota dibuka mulai 21-29 November 2013. Setelah melakukan proses pendaftaran, nantinya para calon anggota Diamma akan diberikan pelatihan - pelatihan seputar jurnalistik seperti, pengenalan berita, teknik wawancara, layout, fotografer jurnalistik, liputan langsung (live report), dan buletin. Pelatihan ini akan dibimbing oleh senior-senior Diamma yang sudah expert dimedia-media nasional. Diberikannya pelatihan kepada calon anggota memiliki tujuan sebagai bekal kepada calon anggota sebelum terjun langsung ke dunia jurnalistik. Namun, tidak hanya seluk beluk jurnalistik saja yang panitia berikan, cara - cara berorganisasi, public speaking, kunjungan redaksi ke media nasional (baik TV, cetak, ataupun online), studi banding ke salah satu LPM yang ada di Indonesia. Kini LPM Diamma sudah memasuki angkatan ke-15, panitia serta pengurus mengharapkan akan adanya calon anggota yang memiliki loyalitas yang tinggi, 8

Desember 2013 • Diamma

tanggung jawab penuh, dan inovasi untukmemajukan LPM Diamma yang sesuai dengan taglinenya “Progresif Mengukir Perubahan�.

Contact Person Humas PAB: Edward S Baringbing: 082123235249 Arimbi Puspita Ratri: 087880784977


Newsletter XII