Issuu on Google+

Diamma NEWS LETTER

PROGRESIF MENGUKIR PERUBAHAN

Rp. 1000,-

UKM Diamma Univ. Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Telp 0857 1044 6384 Edisi XIII/IV/2014 Email: redaksi.diamma@gmail.com Website: www.diamma.com INSIDE Fisip Punya Cara Lawan Plagiarisme 3 Nama Jalan Gagal, Kawasan dan 4 Patung gantinya PKL Digusur, Mahasiswa Makan Dimana?

5

Pantomim, Art & Soul

6

Terbakar Cemburu, Remaja Gelap Mata

7

FISIP Punya Cara Lawan

Plagiarisme

Untuk bisa mengungkapkan apresiasi terhadap jasa para pahlawan, tidak hanya dengan mengenang mereka, namun bisa dengan hal lain. Seperti salah satunya yang dilakukan UPDM(B), sebagai bentuk apresiasinya mereka memberikan gagasan untuk membuat kawasan Hang Lekir menjadi kawasan Prof. Dr. Moestopo dan mengenang Almarhum Moestopo dengan sebuah patungnya. (bersambung ke hal 4)

Illustrasi : Ahmad Subagia

Nama Jalan Gagal, Kawasan dan Patung gantinya Perkembangan teknologi masa kini seringkali disalahgunakan, pasalnya mahasiswa yang seharusnya mengumpulkan karya tulis murni buatan dirinya, malah dengan mudahnya meniru karya tulis milik orang lain, demi mendapatkan nilai dari sang dosen.

D

alam peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, no. 17 Tahun 2010 pasal 1 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiasi di perguruan tinggi, menjelaskan bahwa plagiasi adalah perbuatan secara sengaja atau tidak dalam memperoleh, atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai.

Didalam pasal berikutnya dibahas mengenai siapa yang masuk ke dalam kategori seorang pelaku plagiasi (plagiater). Masalah plagiasi nampaknya telah menjadi masalah yang serius dan harus diperhatikan dalam dunia pendidikan dewasa ini. Tindakan ini tidak bisa dikatakan kejahatan biasa namun lebih dari itu, tindakan plagiasi merupakan kejahatan moral, tindakan yang tak menghargai hasil karya ilmiah orang lain, dan proses penelitian yang dilakukan sang (bersambung ke hal 3) empunya karya. Diamma • APRIL 2014

1


Editorial

Pemimpin Redaksi Fitriana Hidemi Redaktur Pelaksana Dewi Savitri Redaktur Agusto Reynaldo Annisa Pratiwi Kordinator Desain Ahmad Subagia Layouter Bayu Prasetyo Pemimpin Perusahaan Sri Rizqi Gustiarini Iklan & Pemasaran Eka Trisnawaty Cetak Nurkholis Reporter Amos Sury’el Tauruy, Ahmad Subagia, Zeldjian Poetera Athallah, Nur Silmi Istiqomah, Rachma Putri Utami.

Salam Mahasiswa!

Dari Redaksi

P

uji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa akhirnya LPM Diamma kembali menerbitkan Newsletter edisi ke tiga belas di pertengahan semester baru ini, yang tentunya sengaja kami rangkum untuk teman-teman mahasiswa sekalian. Di edisi kali ini kami mencoba mengangkat sejumlah isu-isu kampus yang mencuat kepermukaan. Kali ini kami membahas masalah plagiarisme yang bisa dibilang sudah melekat di diri mahasiswa. Tugas maupun karya tulis akhir yang seharusnya murni dibuat dari nol sebagai prasyarat kelulusan, malah justru diduplikasi dengan mudahnya. Menanggapi hal ini FISIP menyatakan untuk melawan plagiarisme, FISIP pun menyatakan bahwa punya cara tersendiri untuk mendeteksi plagiarisme yang dilakukan mahasiswa. Lalu isu tidak hanya dari kampus, kami pun menyajikan berita nasional yaitu kasus AS yang beberapa saat lalu sempat ramai diperbincangkan. Masih banyak berita menarik di dalamnya. Semoga berita yang kami sajikan bisa memberikan manfaat bagi pembaca dan dapat memberikan perubahan bagi kampus merah putih tercinta. Selamat Membaca!

Setiap reporter Diamma diberikan tanda pengenal berupa kartu pers. Tidak dianjurkan untuk memberikan insentif dalam bentuk apapun ketika reporter kami bertugas. 2

APRIL 2014 • Diamma


Kupas Kampus Sambungan halaman 1

Di lingkungan civitas akademika UPDM(B) sendiri rawan terjadi tindakan plagiasi, tindakan plagiasi tersebut biasanya dilakukan oleh mahasiswa saat mereka diharuskan membuat sebuah karya ilmiah untuk memenuhi tugas dalam bidang akademik seperti tugas harian atau tugas akhir semester. Bahkan dalam wujud yang lebih besar lagi, pada saat penulisan skripsi atau karya tulis akhir yang merupakan prasyarat kelulusan, masih saja ada mahasiswa yang melakukan plagiasi demi mempermudah jalannya dalam memperoleh gelar sarjana. Untuk mencegah tindakan plagiasi, FISIP UPDM(B) khususnya program studi Hubungan Internasional, menyatakan perang terhadap tindakan plagiasi, Ariel Manachem mahasiswa FISIP HI 2011 mengungkapkan bahwa, untuk mencegah terjadinya tindakan plagiasi dibutuhkan peran dari para dosen dan ketersedian alat untuk mendeteksi tindakan plagiasi karya mahasiswanya, dan juga ketegasan dalam memberikan sanksi yang berat dalam menyikapi perilaku plagiasi, “dalam hal ini dosen memang harus punya ukuran atau tingkatan peraturan yang memang ketat, artinya jangan bilang ‘say no to plagiarism’ tapi tetap masih ada saja dan masih gampang,” ujar Ariel. Sementara Dedat Muhammad, mahasiswa FISIP HI UPDM(B) mengungkapkan bahwa perkembangan teknologi khususnya dalam bidang jasa pelayanan penyedia internet menjadi salah satu faktor pendorong orang melakukan tindakan plagiasi, “zaman sekarang kan teknologi udah canggih, apa aja bisa di cari digoogle, karena anak muda sekarang pengennya instan, dengan mudahnya karya orang dicopy dimasukin jadi karyanya,” ujar Dedat. Bahkan muncul istilah dikalangan mahasiswa yang sering kita dengar ketika melakukan tindakan plagiasi adalah Copasus (Copy Paste ubah Sedikit). Ia mengakui dan menyadari bahwa plagiasi adalah tindakan yang membodohi, dan pentingnya bimbingan serta pembinaan dalam tata cara penulisan karya ilmiah, sebagai alternatif untuk mencegah atau menghilangkan tindakan plagiasi dan meningkatkan kualitas mahasiswa.

Menurut Andre Ardi salah satu dosen FISIP HI UPDM(B) tindakan plagiasi sebenarnya telah ada sejak dahulu, namun mungkin dalam konteks yang masih sederhana, “fenomena plagiarism secara umum sebenarnya sejak dari dahulu sudah ada, dan juga mungkin di zaman dahulu aksesnya tidak seperti sekarang,”ujarnya. Menurutnya akses yang begitu mudah di zaman sekarang ini menjadi keprihatinan bagi para pendidik, dimana ketika mahasiswa diberikan tugas, lalu mereka dengan mudahnya melakukan copy paste. “Ini kan sebenarnya mudah terdeteksi,

“zaman sekarang kan teknologi udah canggih, apa aja bisa di cari digoogle, karena anak muda sekarang pengennya instan, dengan mudahnya karya orang dicopy dimasukin jadi karyanya,” tapi mengingat mahasiswa kita dalam jumlah yang sangat besar, tidak mungkin kita bisa intensif memperhatikan,” lugasnya. Dalam mendeteksi tindakan plagiasi, para pedidik di lingkungan FISIP UPDM(B) memiliki cara tersendiri. Jika Ariel menginformasikan di salah satu universitas swasta mereka memiliki alat untuk mendeteksi kecurangan plagiat, di FISIP UPDM(B) menurut Andre para pendidik memiliki cara sendiri yang tak dapat dipublikasikan ke hadapan khalayak umum, jika cara pendeteksian tersebut dipublikasikan, dikhawatirkan membuat mahasiswa dan mahasiswi menjadi mudah dalam meghindari pendeteksian tindakan

plagiasi yang mereka lakukan. Sementara itu menurut dosen yang juga senior FISIP HI UPDM(B) ini menyatakan perang terhadap tindakan plagiarism yang diakui belum terlalu tegas, hanya dikembalikan kepada peraturan dosen yang mengajar.”Menurut saya, ini kita belum tegas, secara institusi belum betul-betul tegas untuk mencanangkan perang terhadap plagiarism itu,” terang Andre. Untuk pendekatan yang di lakukan oleh para pendidik dan instansi terkait sebenarnya juga bukan merupakan pendekatan sanksi, namun lebih kepada sosialisasi dan edukasi kepada mahasiswa yang dituliskan di dalam SAP (Satuan Acara Perkuliahan). Di SAP tersebut di jelaskan bahwa bagi barang siapa yang melakukan tindakan plagiasi akan diberikan nilai nol. Ia mengajak semua elemen mahasiswa, dosen, dan seluruh civitas akademika untuk melakukan kampanye perang terhadap plagiarisme, yang bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada semua pelaku akademis untuk tidak melakukan tindakan plagiasi. Tidak hanya itu ia juga menghimbau mahasiswa untuk lebih menyikapi perkembangan teknologi dengan baik karena hal tersebut yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya plagiarisme. Ia menjelaskan jika mahasiswa memahami tindakan seperti plagiarisme itu tak perlu di lakukan, sebagai pendidik ia dan kawan-kawan pendidik yang lain berusaha memberikan pemahaman kepada mahasiswa. Bukan dengan aspek sanksi yang ditegaskan, melainkan lebih menekankan kepada aspek moral dari mahasiswa itu sendiri. D

Amos Sury’el Tauruy

Newslatter Diamma melayani iklan baris dengan harga mahasiswa. Minat? Hubungi 0858-1125-0892 Diamma • APRIL 2014

3


Kupas Kampus

Fotografer : Ahmad Subagia

Salah satu tanda kawasan Prof. Dr. Moestopo yang disebar di empat tempat di seluruh wilayah Hang Lekir.

Sambungan halaman 1

P

erubahan nama jalan Hang Lekir I menjadi jalan Prof. Dr. Moestopo sebenarnya sudah direncakan dan akan diresmikan pada tanggal 10 November 2012. Namun sayangnya hal tersebut tidak dapat terlaksana hingga saat ini, karena masih mengalami beberapa kendala, seperti salah satunya, diharuskan merubah data – data tempat tinggal para warga sekitar. Seperti yang dikatakan Paiman Rahardjo, selaku sekretaris tim perubahan nama jalan Moestopo, penggantian nama jalan dilakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap jasa dan pengabdian mendiang Moestopo selama masih hidup, namun hal tersebut tidak dapat terwujud karena beberapa faktor, “jika diganti (nama jalan-RED) maka akan merubah alamat – alamat dan lainnya,” jelas Paiman. Endang Nayani selaku ketua RW 06 Hang Lekir mengungkapkan ketidaksetujuannya apabila jalan Hanglekir I diubah menjadi jalan Prof. Dr. Moestopo, “meskipun usulnya tadinya Hanglekir I ingin diubah menjadi jalan Prof. Dr. Moestopo kami keberatan,” ungkap beliau. Meskipun begitu, gagalnya penggantian nama jalan tidak membuat pihak kampus gentar, usulan pemberian nama kawasan untuk daerah Hang Lekir serta pembuatan patung mendapat respon positif dari pemerintah provinsi DKI Jakarta. Pada 14 Maret 2014 Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, meresmikan Kawasan Prof. Dr. Moestopo yang

4

APRIL 2014 • Diamma

mencakup Jl. Hang Lekir I sampai XII. Namun sayangnya pembuatan patung tidak semulus peresmian kawasan Prof. Dr. Moestopo, pasalnya hingga saat ini patung tersebut belum terpampang karena proses pembuatannya yang memakan waktu cukup lama. Untuk membuat hal tersebut terlaksana tentunya dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Seperti pembuatan taman di tempat berdirinya papan tanda kawasan, serta pembuatan patung yang menurut Paiman akan berukuran kurang lebih empat meter tentunya akan membutuhkan dana khusus. Namun paiman mengatakan bahwa untuk proses pengajuan dan sejenisnya tidak dipungut biaya, tapi untuk hal seperti taman dan patung menggunakan biaya sendiri atau melalui sponsor, “tidak ada biaya, hanya ada biaya untuk pembuatan taman dan untuk membuat patung yang biasanya dibantu oleh sponsor,” tegasnya. Kembali ke masalah mengenai jalan, sebenarnya selain mengusulkan pemberian nama kawasan Prof. Dr. Moestopo dan patung, pihak yayasan juga mengusulkan agar Pemkot DKI Jakarta tetap memberikan nama “Moestopo” di salah satu tempat di jakarta. Paiman menjelaskan mereka telah mengusulkan agar pemberian nama “Moestopo” di bubuhkan di jalan yang tidak merugikan banyak pihak, “kita mengusulkan yaitu jalan yang tidak mengganggu kepentingan banyak orang, yaitu di jalan layang non toll Tanah Abang – Kp. Melayu,”jelasnya. Namun sayangnya kabar baik ini belum mendapat respon yang pasti dari pihak

Pemkot DKI Jakarta mengenai kapan akan dilakukan peresmian pemberian nama jalan tersebut. Tanggapan bermunculan dari berbagai pihak, terkait pemberian nama kawasan dan patung tersebut. Salah satunya Baskoro Pujo Sasmito mahasiswa FISIP 2012 yang mengaku senang mendengar kabar itu namun merasa masih ada yang kurang dari hal tersebut, “kalo ada patung ya bagus, tapi kalau bisa jangan cuma di buat patung dan kawasan, kan kalau itu sifatnya hanya hiasan. Kalau bisa yang bersifat menguntungkan saja,” jawabnya. Tidak berbeda, kritik pun terungkap dari Dyah Ayu Mustikaningrum, yang merasa pembangunan kawasan dan patung hanya membuang uang saja. “Kalau menurut gua sih jangan bikin patung, lebih baik uang nya dipergunakan untuk hal lain misalnya beasiswa untuk mahasiswa berprestasi atau yang kurang mampu, dan untuk kegiatan sosial seperti untuk panti asuhan,” tegas Ayu salah satu mahasiswi FISIP angkatan 2012. Paiman berharap tindakan ini dapat memberikan suatu profit yang tidak merugikan banyak pihak dan dapat berjalan lancar. Beliau juga berharap dari gagasan ini para mahasiswa UPDM(B) dapat merasakan suatu kebanggaan, “suatu kebanggaan bahwa nilai sejarah telah terukir, dimana pak Moestopo disamakan dengan pahlawan – pahlawan nasional lain dengan dijadikannya nama beliau sebagai nama jalan,”tutupnya. D

Ahmad Subagia


Kupas Kampus

PKL Digusur,

Mahasiswa Makan Dimana?

Tertanggal 2 Maret 2014, PKL yang menjajakan makanannya di depan UPDM(B) telah digusur, mahasiswa pun merasakan dampak dari penggusuran tersebut. Sejauh ini, pihak kampus belum dapat memberikan solusi atas problematika ini.

M

enilik sarana dan prasarana Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) yang berada di jalan Hanglekir I, Jakarta Pusat, masih dihiasi dengan keterbatasan. Absennya kantin dari fasilitas yang disediakan di kampus I UPDM(B) membuat mahasiswa, dosen maupun staf harus membeli makanan di luar lingkungan kampus. Para pedagang kaki lima (PKL) menjadi satu-satunya pilihan alternatif yang dimiliki, selain jarak yang dekat, harga yang masih terjangkau menjadi alasannya. PKL pun tumbuh subur di sekitar kampus Merah Putih, dan hal ini sudah berlangsung cukup lama. Namun, pada tanggal 2 Maret 2014, PKL sudah tidak diperbolehkan lagi berdagang di sekitar kampus. Hal ini dikarenakan ada pihak swasta yang membeli lahan kosong yang berada di depan kampus, dan menginginkan agar area tersebut bebas dari PKL. Holil salah satu PKL yang berjualan di depan UPDM(B) membenarkan pernyataan tersebut, ia menyatakan bahwa dirinya telah mendapatkan surat keterangan yang berasal dari kelurahan sekitar, yang berisi larangan berjualan di area tersebut, “pada tanggal 2 Maret kita (para PKL-RED)

disuruh pindah gak boleh lagi jualan di situ,” tegasnya. Hal serupa juga dirasakan oleh Muhammad Chusen, PKL yang menjual bakmie ini mengaku tetap nekat berjualan lantaran tuntutan ekonomi, “kalau gak melanggar-langgar dikit, saya gak bisa dagang, walaupun kucing-kucingan dengan kantib. Saya dagang disini karena tuntutan ekonomi apalagi semuanya sekarang mahal,” keluhnya. Kebanyakan para PKL yang masih ngotot berjualan dengan alasan karena adanya tuntutan ekonomi, mengungkapkan bahwa omzet yang didapatkan menurun setelah adanya larangan tersebut. Penggusuran ini kembali membangkitkan pertanyaan lama, kapan UPDM(B) akan memiliki kantin sendiri? Selama ini semua pihak lupa akan pertanyaan tersebut dikarenakan kehadiran PKL dianggap sudah menjawabnya. Sekarang, setelah lingkungan sekitar kampus terancam bebas PKL, dimana lagi kita akan mencari makanan? Ketika disinggung mengenai masalah tersebut, pihak Management Building enggan mengeluarkan pendapat.

Fotografer : Zeldjian Poetera Athallah

Visualiasi keadaan di depan kampus UPDM(B) pasca penggusuran terjadi.

Andriansyah selaku Wakil Rektor III yang mengurusi bidang kemahasiswaan mengatakan bahwa tidak ada solusi atas permasalahan ini, “kita belum ada solusi sampai sejauh ini, karena itu domain yayasan bukan dari rektorat pribadi,” ungkapnya. Dia juga menambahkan bahwa tidak adanya solusi disebabkan karena kurangnya lahan yang dimiliki UPDM(B) di kampus I, Hanglekir. Namun, Andriansyah menegaskan bahwa akan meninjau lebih lanjut kasus ini. Mengingat kedua belah pihak, antara kampus dan PKL, saling membutuhkan satu sama lain. Beberapa mahasiswa pun mempunyai perspektif sendiri dalam menanggapi kasus tersebut. Ajityaga Atmojo salah satunya, mahasiswa Fikom 2011 ini mengaku merasa kebingungan untuk mencari makan ketika jam perkuliahan usai, “kalau misalnya itu (PKLRED) digusur makan dimana? kalau ke meksiko (area dekat Moestopo-RED) jauh, kesana kesiangan rame,” ungkapnya. Aga juga menambahkan bahwa seharusnya pihak kampus memberikan wadah kepada para PKL, karena baik mahasiswa maupun PKL mempunyai keterikatan tersendiri. Lain orang, lain juga pendapat yang dilontarkan, berbeda dengan Aga, Giri Mahesa pun melontarkan argumentasinya yang bertolak belakang dengan Aga. “Kalo gue sih setuju-setuju aja, pertama ketika PKL berdagang di trotoar, trotoar itu hak pejalan kaki sedangkan kalo misalkan PKL masih berdagang disitu pejalan kaki berjalan dimana? Pasti jalan di badan jalan dong, hal itu membuat jalanan makin sempit dan macet, kedua dari segi estetika juga terlihat kumuh,” jelasnya. Namun, ketika disinggung mengenai solusi apa yang harus dilakukan baik Aga maupun Giri pun sepakat bahwa seharusnya pihak kampus memberikan kantin seperti kampus pada umumnya karena hal tersebut selain dapat meningkatkan nilai estetika kampus UPDM(B), juga mengangkat citra kampus itu sendiri. D

Zeldjian Poetera Athallah

Deska Yunita Diamma • APRIL 2014

5


Komunitas

Pantomim, Art & Soul Fotografer : Nur Silmi Istiqomah

Pa’de Ututh, salah seorang Mimers menampilkan Pantomim Klasik.

“Pantomim sendiri bukan hanya masalah gerak atau ekspresi dan imajinasi tetapi melatih kepekaan hati, perasaan kita,” ucap Reza.

S

eni yang memainkan isyarat melalui mimik wajah dan gerak tubuh sebagai dialognya atau yang biasa dikenal dengan sebutan Pantomim, mulai dikenal masyarakat Indonesia pada tahun 1977 yang diperkenalkan oleh (Alm) Sena A.Utoyo dan Didi Petet di lingkungan kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dari panggung ke panggung para tokoh Pantomim Indonesia seperti Moorti Poernomo, Deddy Ratmoyo, dan Jemek Supardi setia mendeklarasikan seni tersebut kehadapan masyarakat Indonesia. Ketertarikan pada pantomim ini bisa dilihat dari terbentuknya Komunitas Pantomim Indonesia atau biasa disebut Indomime pada akhir tahun 2010. Menurut Reza, anggota Indomime, pantomim merupakan seni bercerita yang tidak menggunakan kata tapi melalui gerak dan ekspresi. Selain itu, pantomim juga akar dari semua seni. Contoh, di stand-up comedy ada act out, teater ada olah tubuh, bicara dalam hati di sinetron juga merupakan bentuk pantomim, ”inti dari pantomim itu adalah gerak, ekspresi, penjiwaan, dan imajinasi, apapun yang dilakukan seseorang tanpa dialog itu pantomim,” ujar Reza Pantomim sekarang terbagi dua yaitu klasik dan modern. Perbedaannya terletak pada makeup dan pakaian yang dikenakan serta properti. Pantomim klasik mengharuskan pantomimer atau mimers (pelaku pantomim) memakai bedak

6

APRIL 2014 • Diamma

putih, baju garis hitam putih dan tidak menggunakan properti apapun selama pertunjukan berlangsung, sedangkan untuk pantomim modern lebih bebas dan bisa dikolaborasikan dengan tari, musik, stand-up comedy , sulap, dubstep, dan efek suara. Pantomim juga memiliki aliran yang berbeda, jika musik ada yang beraliran rock , pop , electric dan sebagainya, sedangkan pantomime terbagi tiga yaitu komedi, serius, dan satir,” tambah Ututh Murti. Satir sendiri merupakan penampilan pantomim yang mengkritik keadaan bangsa dan sering terlihat disampaikan saat demo berlangsung. Aliran pantomim juga ada yang realis dan suryalis. Realis berdasarkan kehidupan seharihari, sedangkan suryalis berdasarkan penjiwaan alam bawah sadar. Menurut Ali, sebagai orang yang tidak mengerti mengenai pantomime itu sendiri, pantomime hanyalah sekedar gerakan fisik, olah tubuh bisa didukung dengan senam aerobik dan senam wajah. “Pantomim itu ada olah rasa dan olah tubuh”, ujar Ali. Ututh Murti Wibowo atau akrab dipanggil Pakde Ututh mengatakan diperlukan latihan yang mendetail seperti senam wajah yang harus dilakukan secara rutin dan juga melatih jari. Senam wajah diperlukan untuk melatih ekspresi kita dengan tepat sesuai dengan apa yang akan ditunjukan. Sebagai contoh ketika mimers tertawa terdapat kerutan

dibawah mata sedangkan ketika mangap tidak terdapat kerutan. Untuk olah rasa sendiri tergantung dari masing-masing individu. Pakde Ututh menjelaskan bahwa, latihan perasaan itu seperti ketika kita bertemu orang dan merasakan auranya. Ali yang mempunyai nama panggung Ali Mix mengatakan, “melatih rasa juga bisa dimulai dari kegiatan sehari-hari”. Lain halnya dengan Reza yang mempunyai nama lengkap Reza Rahasia. Ia melatih ‘rasa’ bersamaan dengan empat inti pantomim dan itu harus sering dilakukan dengan terus-menerus. Selain itu melatih intonasi suara juga sangat diperlukan terutama ketika mimers menunjukan pantomim mini kata. Manfaat pantomim yang dirasakan oleh Reza salah satu admin dari Indomime ini adalah hidupnya lebih menyenangkan karena gerakan yang dibuat diciptakan dan diarahkan oleh ‘rasa’ kita sendiri, lebih percaya diri, dan lebih peka. Menurutnya anak jaman sekarang rasa pekanya terhadap orang lain kurang terbangun, dan karena kurang pekanya anak, mereka tidak bisa membedakan orang baik dan orang jahat. Hal ini didasari dengan kenyataan ketika pendidikan di sekolah lebih banyak dijejali materi otak kanan. “Dengan belajar pantomim, seseorang akan jadi lebih peka, lebih tajam terhadap ekspresi dan gerak tubuh seseorang”, jelasnya. Pantomim sendiri masih kurang berkembang di Indonesia. Terobosan yang sekarang sedang dikembangkan adalah diadakannya Lomba Seni Pantomim Siswa Nasional untuk anak sekolah dasar dari kelas satu sampai lima. Konsep ‘Fun to Mime’ yang diusung Septian Dwicahyo yang belum ada lima tahun ini juga kurang ‘terdengar’ karena kurangnya dukungan dari media. “Saya berharap pantomim bisa popular, tidak hanya sebagai hiburan saja tapi udah ke arah pendidikan. Jadikan pencerahan tentang pentingnya imajinasi lewat seni pantomim”, tutur pria berambut sebahu ini. D

Nur Silmi Istiqomah


Nasional

Terbakar Cemburu, Remaja Gelap Mata

Illustrasi : Ahmad Subagia

Seiring berkembangnya zaman, perilaku manusia khususnya remaja semakin bermacam-macam. Tindakan kekerasan sering kali menjadi pilihan bagi remaja dalam menghadapi suatu masalah.

B

eberapa waktu yang lalu, beredar berita mengenai kasus penculikan serta penganiayaan yang menyebabkan kematian yang dilakukan oleh sepasang remaja. AS (19) seorang mahasiswi salah satu universitas swasta di Jakarta menjadi korban kasus tersebut, dirinya meninggal dunia setelah dianiaya oleh mantan kekasih dan pacarnya pada 3 Maret 2014, tak hanya itu jenazahnya pun dibuang di tepi jalan tol kawasan Bintara. Hafidt, remaja 19 tahun yang menjadi tersangka sekaligus mantan kekasih AS mengaku kesal lantaran tidak dapat berkomunikasi lagi dengan AS. Sedangkan Syifa merasa cemburu dan ingin Hafitd membuktikan kepada dirinya bahwa Hafitd sudah tidak lagi menyimpan rasa dengan AS. Karena memiliki rasa kesal kepada orang yang sama, maka sepasang kekasih tersebut memutuskan untuk membunuh AS. Hafitd dan Syifa mengajak AS bertemu di stasiun Gondangdia dan saat di mobil AS dianiaya dengan disetrum, dicekik, dan disumpal tisu, hingga nyawanya pun melayang. Hingga saat ini, Hafitd dan Syifa sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Kasus pembunuhan yang terjadi dikalangan remaja tersebut dapat dikatakan sudah memasuki tingkat kritis. Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya hal tersebut pada kalangan remaja seperti segi usia, dimana pada masa remaja keadaan emosi masih belum

stabil dan sering kali emosi, hal tersebut bisa dengan mudahnya membuat remaja kehilangan kontrol. Hal tersebut menurut ahli dikarenakan kurang pemahaman dan pembelajaran sosial serta emosional. Faktor lain yang juga mempengaruhi keadaan emosional seorang remaja adalah dari lingkungan seperti keluarga maupun lingkungan pendidikan. Peran orang tua dan pengajar, baik dosen maupun guru sangat dibutuhkan dalam mengontrol emosi remaja, karena pada masa remaja merupakan titik penting untuk masa depan seseorang dalam membina perkembangan emosionalnya.

“Menurut gue gak manusiawi ya, anak umur 19 tahun udah punya pikiran buat ngebunuh orang lain,”.

Kasus pembunuhan yang melibatkan remaja tersebut cukup menyita perhatian para psikolog dan masyarakat termasuk dosen UPDM(B). Hamsinah, selaku dosen Psikologi Komunikasi di UPDM(B) memberikan tanggapannya mengenai kasus tersebut, dirinya mengatakan bahwa kasus yang dilakukan

Hafitd dan Syifa dikarenakan kondisi emosi yang masih labil sehingga mereka melakukan tindakan yang tidak wajar dilakukan oleh remaja, “kurang pendidikan moral, kasih sayang, lingkungan yang memperlihatkan kekerasan, bahkan mungkin mereka adalah korban dari kekerasan itu,” ujar Hamsinah. Kerjasama antara keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah dalam hal meningkatkan pendidikan moral dikalangan remaja dirasa dapat menjadi solusi untuk permasalahan tersebut, “khususnya peran orang tua dalam keluarga, karena pendidikan moral diawali dari keluarga,” ungkapnya. Tanggapan juga datang dari Ana, mahasiswi Fikom UPDM(B) angkatan 2012, dirinya berpendapat tindakan tersebut tidak manusiawi, “menurut gue gak manusiawi ya, anak umur 19 tahun udah punya pikiran buat ngebunuh orang lain,” ungkapnya. Ana mengatakan agama, iman yang kuat serta peran orang tua sangat penting untuk bekal seorang remaja di masa depan karena ketika iman seseorang kuat maka ia akan terus ingat kepada Tuhan nya, “selain perhatian dari orang tua, mendekatkan diri kepada tuhan juga penting. Dekat dengan Tuhan itu kunci utama biar terjauh dari hal buruk, ” tutupnya. D

Rachma Putri Utami

Diamma • APRIL 2014

7


Event

Diamma.com @peljurnaldiamma pelatihan jurnalistik diamma Peljurnal2014.blogspot.com Diammamoestopo

8

APRIL 2014 • Diamma


Nl fix supoerb