Page 1

Buletin Oase

0| Edisi I

Fokus Email Lpmanalisa6@gmail.com Website Lpmanalisaonline.blogspot.com Facebook lpm analisa ipmafa

Oase -Mengawal Intelektual Mahahasiswa-

LEMBAGA PERS MAHASISWA ANALISA INSTITUT PESANTREN MATHALIUL FALAH

Sekarang Riset Harus Menghasilkan! Tak Boleh Kalau Cuma Rutinan!

Kuliah Mahal Cuma Mau Jadi Plagiator, Serius?

Keluarnya Cahyo, Sebabkan Kosongnya Kursi Pemimpin Dema FSEI

LITERASI: Sebuah Implementasi Jihad Peradaban

Buletin Bulanan – Edisi :I 5/Feb/2018


1 | Edisi I

Buletin Oase

Salam Redaksi

“ Membaca buku-buku yang baik berarti memberi makanan Rohani yang baik.�

Buya Hamka Seorang ulama, aktivis dan sastrawan Indonesia 19081981


2 | Edisi I

Buletin Oase

Salam Redaksi Assalaa u’alaiku Wr. Wb. Salam Pers Mahasiswa! Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas diberikannya kemudahan disetiap proses penyusunan hingga terbitnya buletin OASE ini. Terima kasih kepada teman-teman yang memberikan dukungan, motivasi da do’a ya, sehi gga OASE hadir kembali ditengah-tengah pembaca yang budiman. OASE sebagai sarana informasi dan komunikasi dengan pemikiran yang dinamis, dan diharapkan selalu menyajikannya sesuai konteks yang ada. Seluruh tim redaksi OASE berharap, kedepannya dapat terus berkarya dan menghasilkan bibit-bibit penulis yang berkualitas dan menjadi buletin yang besar dan memiliki kreatifitas yang baru, melahirkan inovasi-inovasi baru yang lebih dari sebelumnya, Aamiin. Pada edisi ini, OASE menghadirkan informasi kepada pembaca yang budiman dengan suguha te a Budaya Literasi ya g Sea aki Pudar . Tak ba yak ya g memungkiri bahwa kebutuhan membaca semakin pudar dan sangat langka dijumpai. Hanya segelintir orang yang sadar akan pentingnya budaya literasi ini. vvvvvvvvvvvv

Selain itu, OASE juga menyajikan beragam informasi melalui rubrikrubrik. Semoga dengan adanya OASE, dapat menjadi penghubung antara mahasiswa dengan kampus IPMAFA. OASE mengharapkan kritik dan saran yang membangun dan membuat OASE dapat lebih baik kedepannya. Semoga pembaca yang budiman dapat memeroleh informasi, inspirasi, motivasi dan edukasi dari OASE ini. Terima kasih & Selamat membaca. Wassala u’alaiku Wr. Wb

Daftar Isi Salam Redaksi : ...... 2 Fokus : .............. 3 Kabar : .............. 7 Esai : ............... 9 Opini : .............. 12 Wassala u’alaiku Resensi : ............ 15 Komik : .............. 17 Puisi : .............. 19


3| Edisi I

Buletin Oase

Fokus

Dok. LPM ANALISA

Sekarang Riset Harus Menghasilkan! Tak Boleh Kalau Cuma Rutinan! “Sekarang riset harus menjelma menjdi investasi, tidak boleh kalau cuma kegiatan rutin!Maka, risetharus menghasilkansesuatu yang kemanfaatannya bisa dirasakan, merupakan sesuatuyang dibutuhkan atau menjadi solusi bagi persoalanpersoalan yang dihadapi Indonesia,” tutur Kapuslitbit UIN Walisongo & Editor In Chief Jurnal Terakreditasi Walisongo Syamsul Ma’arif dalam

Seminar “Membangun Budaya Literasi:Strategi Jitu Menulis dan Mengelola Jurnal Ilmiah’’ di Auditorium Lt. 2 Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Jum’at (10/11). Dalam acara yang diselenggarakan oleh Jurnal Islamic Review (JIE) IPMAFA tersebut, Syamsul mendorong mahasiswa agar semangat dalam meneliti.


4| Edisi I

Buletin Oase

Fokus “Untuk mempertegas posisi sebagai akademisi, maka kita dituntut untuk melakukannya,” imbuhnya. Kesempatan seminar ini menjadi langkah untuk menyuarakan pentingnya membaca dan menulis. Terlebih dunia akademisi dituntut untuk menghadirkan penelitian. Hal itu mengingat ramainya penyuaraan, pentingnya menulis dan membaca mulai digerakkan oleh banyak pihak yang melihat dunia menulis dan membaca kurang diminati. Secara lebih rinci, Syamsul menyampaikan salah satu faktor penyebab rendahnya minat baca dan menulis adalah belum adanya kebiasaan yang menumbuhkan minat tersebut. Menurutnya ‘kebiasaan’ harus dibangun sejakdini dan dilakukan oleh orangtua, keluarga, lingkungan dan sekolah. Sebagai bahan evaluasi, Syamsul menegaskan bahwa minimnya akses dan fasilitas perpustakaan bukan lagi masalah. Dengan perkembangan teknologi dan komunikasi yang sangat pesat tidak ada alasan lagi untuk tidak menulis dan membaca. Syamsul menyarankan, bahwa kurangnya produksi buku di Indonesia dapat disiasati dengan menggiatkan kegiatan menulis dan membaca dengan berbagai cara dan upaya yang dilakukan semua elemen masyarakat.

Upaya Perguruan Tinggi Berbagai upaya telah dilakukan perguruan tinggi guna menumbuhkan minat membaca dan menulis mahasiswa.“Seperti tugas yang diberikan dosen kepada mahasiswa berupa karya tulis lmiah,” tutur Syamsul. Dia menjelaskan, bahwa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencantumkan ada 6 dasar literasi yang harus diketahui yaitu, literasi baca tulis, literasi numerik, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi kewarganegaraan. Hal tersebut ditujukan agar masyarakat melek informasi (tertulis). Perhatian serius terhadap literasi juga ditunjukkan oleh United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang menetapkan 8 September sebagai hari literasi internasional. Data penelitian yang dimuat oleh United Nations DevelopmentProgramme (UNDP) menunjukkan literasi di Indonesia tergolong rendah, 14.6%. “Banyak upaya yang dilakukan oleh berbagai kalangan termasuk mahasiswa guna menumbuhkan budaya literasi yang produktif menghasilkan karya dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas,” pungkasnya.(zaka/irfan)


Buletin Oase

5| Edisi I

Fokus

Kuliah Mahal Cuma Mau Jadi Plagiator, Serius? “Berbagai upaya telah dilakukan perguruan tinggi guna menghidupkan budaya literasi di kalangan mahasiswa. Namun upaya tersebut masih berimbang dengan budaya plagiat oleh oknum tertentu. Ya, untuk memenuhi kebutuhan pribadi dengan cara mengakui karya orang lain sebagai karya sendiri,” tutur Editor In Chief JIE IPMAFA Zaenurosyid, dalam seminar “Membangun Budaya Literasi: Strategi Jitu Menulis dan Mengelola Jurnal Ilmiah di Auditorium Lt. 2 Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Jum’at (10/11). “Kuliah mahal-mahal kok cuma mau jadi plagiator. Apa nggak salah pilih tempat? Inilah kejahatan yang disebut Plagiarisme dan orang yang melakukannya disebut plagiator,” imbuhnya. Dosen yang akrab disapa Rosyid tersebut melanjutkan dengan mengutip gagasan Boediono, bahwa yang perlu dihindari dalam dunia kepenulisan adalah mengambil katakata atau kalimat atau teks orang lain tanpa memberikan acknowledgment dalam bentuk pemberitahuan kepada pembaca, bahwa bagian-bagian tertentu dari tulisan kita berasal

dari sumber yang ditulis penulis lain (sitasi) yang secukupnya. Plagiarisme dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain yang diakui menjadi milik sendiri. Ia mencontohkan, berbagai macam bentuk plagiarisme yaitu mengakui tulisan orang lain sebagai tulisannya sendiri, mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri, mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri, mengakui karya kelompok sebagai karya sendiri, dan lain sebagainya. Plagiarisme dalam literatur terjadi ketika seorang mengaku atau memberi kesan bahwa ia adalah penulis asli tulisan yang ditulis oleh orang lain. Rosyid menyayangkan budaya plagiat yang dilakukan mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa seharusnya memberikan contoh yang baik, bukan sebaliknya, plagiat. “Ironisnya, pada dunia akademik akhir-akhir ini marak terjadi plagiarisme yang dilakukan mahasiswa kita, tidak hanya di Jakarta, tapi juga di perguruan tinggi doktoral Belanda,” katanya. Ia melanjutkan, plagiarisme merupakan sebuah penyakit yang harus dibumihanguskan, maka dari itu Kementrian Pendidikan mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No.17 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan


6| Edisi I

Fokus Pencegahan dan Penanggulangan Plagiarisme atau Plagiat di Perguruan Tinggi. “Ini merupakan salah satu bentuk penyelesaian yang dilakukan oleh pemerintah guna menangani masalah tersebut,” pungkasnya. Bangun Budaya Literasi Rajin membaca menjadi sangat penting untuk menunjang ilmu pengetahuan dan melahirkan para penulis yang menghasilkan karyakarya bermanfaat bagi masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2006 menunjukkan, bahwa orang Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi hanya sekitar 23,5 % dari total penduduk. “Ini artinya daya baca masyarakat kita masih belum menguat dan budaya rajin membaca masih rendah. Membaca harus menjadi kebiasaan mahasiswa, khususnya di IPMAFA agar melahirkan cendekiawan yang mampu memberikan kontribusi untuk ilmu pengetahuan dan merespon masalah sosial,” harap Rosyid. Ia menjelaskan, selain dari kesadarannya sendiri, budaya membaca juga harus didukung oleh fasilitas yang memadai agar bisa mendapatkan referensi yang bisa membantu para penulis untuk meningkatkan kualitasnya. Oleh karena itu, antar lembaga pendidikan dan dunia intelektual terdapat hubungan yang sangat kuat, dari keduanya saling mempengaruhi dan

keduanya saling mempengaruhi dan membutuhkan. Rosyid menambahkan, bahwa dalam perkembangannya IPMAFA telah melahirkan penulispenulis muda, diantaranya yang tergabung dalam Pusat Studi Pesantren dan Fiqh Sosial (FISI). FISI telah menerbitkan buku karya mahasiswa, Santri Ngaji Fiqh Sosial oleh Ahmad Khoirun Niam, Muhammad Labib, Siti Aqmarina Lailani, Zahrotun Nafisah, Rona Nisrina Ulayya, Farichatun Ni’mah, Kunarti, dan Arina Ulfatul Jannah. Meskipun begitu, menurut salah satu mahasiswa dari Program Studi (Prodi) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) semester 3 Alfi Inayah mengatakan bahwa dari segi kuantitatif para penulis tersebut dirasa masih kurang memotivasi mahasiswa. “Kesadaran pentingnya literasi memang perlu ditingkatkan dengan gerak menyeluruh dari dosen sebagai pendorong dan mahasiswa yang memandang literasi sebagai kebutuhan, sehingga ini menjadi upaya untuk menumbuhkan iklim akademik kondusif sesuai langkah Perguruan Tinggi,” pungkasnya. (zaka/irfan)


7| Edisi I

Buletin Oase

Kabar

Keluarnya Cahyo, Sebabkan Kosongnya Kursi Pemimpin Dema FSEI sebelum Ujian Akhir Semester (UAS) serta tidak diketahui apa penyebabnya. “Cahyo sudah jarang masuk sejak sebelum UAS, bahkan tidak mengikuti UAS. Kami satu kelas belum mengetahui penyebab Cahyo keluar dari kampus. Beberapa dari kami sudah mencoba menghubunginya, namun tidak ada balasan,” terang Diyah. Pati, (1/2/) Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam (FSEI) Cahyo Fajar Nugroho dikabarkan keluar dari Kampus Institut Pesantren Mathali'ul Falah (IPMAFA). Hal ini berdampak pada kosongnya kursi kendali pada Organisasi Mahasiswa (ORMA) yang dipimpinnya. Berdasarkan keterangan komting kelas Cahyo dari Program Studi (Prodi) Perbankan Syari'ah (PS) Semester V A Royyatus Sa’diyah, ia sudah jarang masuk

Menanggapi hal itu, sesuai AD/ART Lembaga Kemahasiswaan (LK), Ketua Sema Pusat Leo Eko Saputra melalui musyawarah berasama, memutuskan Wakil Ketua Dema FSEI Meylana Nurul Ulya untuk mengambil alih posisi Cahyo. Namun Meylana merasa bahwa dirinya tidak sanggup menggantikan posisi Cahyo karena merasa tidak memiliki pengalaman Memimpin Organsasi. “Saya tidak bisa menggantikan posisi Cahyo karena tidak saanggup dan kurang memiliki pengalaman di bidang tersebut,” tegas Meylana.


8| Edisi I

Buletin Oase

Kabar

Lebih lanjut, Meylana berharap agar masalah ini segera teratasi dengan pengganti yang lebih memprioritaskan kepentingan organisai. “Saya berharap semoga ada pengganti yang mau memprioritaskan kepentingan organisasi dan mengesampingkan kepentingan pribadinya untuk kemajuan Dema Fakultas Syari’ah dan semangat dalam menggemban tugasnya," tambahnya. Mengetahui hal tersebut, Leo menuturkan bahwa SEMA PUSAT belum bisa mengambil tindakan. Namun untuk menindaklanjutinya, pada awal semester ini akan diadakan musyawarah bersama Sema Pusat, Dema FSEI, beserta Manajemen. “Sema sendiri juga belum bisa ambil keputusan itu sekarang, seperti yang sudah dijelaskan bahwa sebetulnya sudah diputuskan bersama untuk pengganti ketua Dema Fakultas Syari’ah adalah Meylana selaku wakil ketua. Adapun putusan lanjutnya akan diproses semester depan lewat musyawarah bersama antara Sema Pusat, Dema Fakultas Syari’ah, beserta Manajemen,” tandasnya. (Maya)

“Saya berharap semoga ada pengganti yang mau memprioritaskan kepentingan organisasi dan mengesampingkan kepentingan pribadinya untuk kemajuan Dema Fakultas Syari’ah dan semangat dalam menggemban tugasnya,"

Berita Mengenai pemimpin Dema FSEI ini akan kami update terus melalui Website : Lpmanalisaonline.blogspot.com Jangan sampai kelewatan. Simak terus perkembangannya


9| Edisi I

Buletin Oase

Esai

Sumber : Pixabay.com

Sumber : Pixabay.com

LITERASI: Sebuah Implementasi Jihad Peradaban Oleh : Muntoha Semester III PMI IPMAFA Manusia tercipta dari setetes air sperma yang berproses dalam rahim seorang ibu. Seiring berjalannya waktu, ia dilahirkan dalam keadaan bodoh. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia yang terlahirkan sama dengan bayi-bayi hewan yang dilahirkan. Perlu digaris bawahi, bahwa manusia menyamai hewan hanya terbatas pada kebodohan seketika dilahirkan. Hal ini dikarenakan manusia seketika dilahirkan dalam keadaan tanpa pengetahuan.

Sedangkan yang menjadi jurang pemisah sehingga tampak perbedaan antara manusia dengan hewan adalah manusia dibekali potensi akal yang sangat istimewa yang tidak dimiliki makhluk lain seperti hewan. Dengan potensi akal tersebut manusia berkembang secara kontinu dari mengamati, belajar dan menganalisa, serta pada puncaknya manusia dapat menciptakan sebuah peradaban yang sangat maju, terbukti hanya manusialah yang


10| Edisi I

Buletin Oase

Esai dapat menguasai dan mengendalikan hukum kausalitas yang terdapat dalam alam raya ini. Dari sini, pantaslah manusia menjadi satusatunya makhluk yang paling dimuliakan oleh Allah SWT sehinga digelari sebagai pemangku bumi, yang artinya ditangan manusialah keberlangsungan hidup alam raya ini, yang berimplikasi baik dan buruknya, sehat dan sakitnya, rusak dan lestarinya alam ini, terserah tangan-tangan manusia. Mencapai peradaban yang maju tidak semudah membalikkan telapak tangan. Memang benar, bahwa manusia diberi bekal potensi akal untuk mencapai sebuah peradaban maju. Lantas, apakah benar potensi akal sudah dimanfaatkan dan dieksploitasi besar-besaran oleh manusia?. Fakta sejarah mencatat, bahwa hanya sedikit bangsa yang dapat mencapai peradaban maju. Fakta sejarah ini dapat mewakili jawaban dari pertanyaan diatas. Mengasah kemampuan akal dibutuhkan belajar dan membaca. Karena membaca banyak sekali manfaatnya. Di antara manfaat membaca adalah mendapatkan informasi aktual, meningkatkan intelektual, memuaskan batin dan mengembangkan diri. Manfaat membaca dalam rangka mengeksploitasi akal untuk menuju peradaban maju, dapat diartikan bahwa membaca sebagai sebuah

media untuk mengembangkan akal, menemukan ide-ide baru dan inspirasi-inspirasi penting yang mendorong dan memperlancar daya pikir manusia. Sehingga manusia akan memperoleh kemajuan dalam bidang agama, ekonomi, politik dan sosial-budaya. Sejarah mencatat bahwa sejak ditemukannya seni baca-tulis, manusia/bangsa dapat mencapai puncak peradabannya dengan mulus, dan melalui baca-tulis manusia melahirkan 27 peradaban yang dimulai dari bangsa Sameria sampai peradaban sekarang ini. Oleh sebab itu, membaca dan menulis menjadi jurus terampuh untuk menaklukkan dan menguasai sebuah peradaban. Untuk menyukseskan faktor penyebab pembentuk peradaban yakni membaca dan menulis dibutuhkan iklim dan kondisi yang mendukung berjalannya kegiatan tersebut. Sebagian filosof berpendapat bahwa manusia adalah produk keadaan bukan produk keinginan manusia sendiri. Berbicara tentang membaca dan menulis agaknya tidak mungkin meninggalkann sosok ideal dari mahasiswa. Pasalnya, mereka adalah kelompok yang aktif dan menjadikan literasi sebagai kewajiban. Selain itu, mahasiswa hidup di lingkungan kampus yang tidak asing tentang membaca dan


11| Edisi I

Buletin Oase

Esai menulis, sebab tugas yang diberikan dosen kepada mahasiswa pada umumnya berupa tulisan, dan pastinya untuk mengerjakan tugas tersebut, mereka harus membaca terlebih dahulu. Agaknya, dengan tugas yang memerlukan membaca, mereka dianggap sebagai seorang yang rajin membaca. Mengingat setiap semester, mahasiswa dalam perkuliahan diharuskan menyelesaikan tugas-tugas di setiap makul yang memaksa mereka untuk membaca. Hal ini, berlangsung sampai minimal delapan semester. Bahkan di akhir perkuliahannya, mereka diwajibkan membuat karya tulis dengan sistem yang sangat ketat sebagai hasil dari pembacaan dan pemahaman tentang teori-teori. Maka tidak heran, jika harapanharapan masyarakat melambung tinggi dibebankan pada pundak mahasiswa. Selain rajin membaca dan menulis, mahasiswa yang pada umumnya masih muda dan seringkali biaya kehidupan ditanggung oleh orang tua mejadikannya sosok yang bebas dalam memanajemen waktu. Sebab tanpa memikirkan biaya hidup, membuat mahasiswa mempunyai waktu yang lebih banyak dibandingkan orang lain. Situasi ini, sangat memungkinkan bagi mereka untuk membaca dan meyusun strategi dalam rangka perubahan

yang lebih baik di tengah bangsa. Dan pada akhirnya sangatlah pantas dijuluki sebagi generasi milenial. Transformasi atau perubahan kearah lebih baik sehingga mengarah pada peradaban maju dapat diaplikasikan mahasiswa dan yang paling relevan di era sekarang ini adalah membubuhkan tinta dalam lembaran buku sebagai penggiat literasi. Mengingat pengerahan masa atau demonstrasi seringkali dimanfaatkan oleh politisi untuk menumbangkan lawan politik yang dianggap mengganggu kerakusannya. Perlu diinggat, membudayakan literasi bukan hanya untuk transformasi saja, namun menjadi wahana bagi mahasiswa untuk meningkatkan kualitas kemahasiswaan bagi mahasiswa itu sendiri. Jadi, jihad suci mahasiswa sekarang ini tidak lain adalah memberdayakan dan membudayakan literasi dengan membaca, memahami dan menulis ide-ide demi peradaban yang lebih baik, serta tidak puas dengan tugas wajib berupa makalah dan lain sebagainya.


12| Edisi I

Buletin Oase

Opini

Sumber : Pixabay.com

Membangun Karakter Bangsa Dari Gemar Membaca Oleh : Layly Qurroti A’yun Semester V PS IPMAFA Minat baca masyarakat Indonesia rendah? Memang benar. Pernyataan ini didukung dengan survei dari studi Most Littered Nation in the World 2016, Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara dengan minat baca yang sangat rendah. Sementara, data dari United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menunjukkan hanya 1 dari 1.000 penduduk yang memiliki minat baca (0,001%) per tahun. Bandingkan dengan masyarakat

Eropa atau Amerika khususnya anak-anak yang bisa membaca hingga 25-27 persen buku per tahun. Selain itu, Jepang minat bacanya mencapai 15-18 persen buku per tahun. Bahkan, hasil penelitian Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia membaca sekitar 2-4 jam per hari, dibawah standar UNESCO sekitar 4-6 jam per hari. Sementara, masyarakat di negara-negara maju rata-rata meluangkan 6-8 jam per hari untuk membaca.


13| Edisi I

Buletin Oase

Opini Banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Mulai dari perkembangan teknologi yang sangat pesat tapi tidak diimbangi dengan pengoptimalan media komunikasi yang tersedia. Walaupun diperkirakan netter (pengguna internet) Indonesia bakal mencapai 112 juta orang, mengalahkan Jepang diperingkat ke-5 yang pertumbuhan jumlah pengguna internetnya lebih lamban, tapi masih saja minat baca masyarakat Indonesia tidak dapat mengimbangi tingginya tingkat pengguna internet di Indonesia. Bahkan, alokasi pengeluaran pengguna internet cenderung boros, menempati posisi kedua setelah pengeluaran untuk kebutuhan pokok sehari-hari, lebih tinggi dari dana yang dialokasikan untuk tabungan atau investasi. Lalu bagaimana dengan dana yang dialokasikan untuk kebutuhan literasi? Tentu saja diurutan kesekian. Bahkan bisa jadi dilupakan. Lingkungan yang tidak mendukung juga turut membuat rendahnya minat baca. Selain dipengaruhi oleh teman sepermainan, orang tua juga turut berkontribusi besar dalam menanamkan budaya membaca. Karena orang tua adalah guru pertama yang akan dianut oleh anak. Selain itu, motivasi diri menjadi faktor penentu berhasil tidaknya dalam meningkatkan minat baca yang akan membuat diri terus

kontinyu dalam memanfaatkan dan terus menyambung mata rantai sejarah yang sudah ada sejak dahulu. Saya harap, tidak hanya minat baca yang ditumbuhkan, tetapi juga daya baca. Apa gunanya semangat menggebu-gebu kalau tidak diimbangi dengan usaha? Pasti akan menjadi angin lalu belaka. Dalam rangka meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia, pemerintah maupun pegiat literasi mengupayakan segala daya yang mampu dilakukan. Bahkan, tanggal 24 Mei 2017 dengan disahkannya UU No. 3 Tahun 2017 tentang sistem perbukuan pastinya akan mempermudah masyarakat memeroleh literatur yang murah, mudah dengan konten yang bermanfaat pula. “Pemerintah kabupaten/kota berwenang memfasilitasi pengembangan budaya literasi.... Masyarakat berperan aktif dalam membangun dan mengembangkan budaya literasi melalui Sistem Perbukuan�, begitulah beberapa ayat dari UU Sistem Perbukuan. Jadi, masyarakat maupun pemerintah punya andil bersama dalam menyukseskan Gerakan Indonesia Membaca ini. Bahkan, Presiden Joko Widodo pun sampai menerbitkan kebijakan pengiriman buku ke seluruh penjuru tanah air secara gratis melalui PT Pos Indonesia tanggal 17 setiap bulannya. Masyarakat juga dapat menyumbangkan bukunya pada


14| Edisi I

Buletin Oase

Opini tanggal itu untuk dibagikan kepada masyarakat yang kurang mendapatkan literatur yang memadai. Saran saya, dahulukan lah “mengkonsumsi� literatur yang ada agar dapat membentengi diri dari pusaran kebodohan yang dapat mempersempit mindset kita. Tempatkanlah satu buku/literatur yang kita baca sebagai satu titik yang ada di semesta ini, sehingga akan terus mengumpulkan titik-titik

itu menjadi garis-garis yang akan membuat suatu gambaran alam semesta. Literatur merupakan kunci untuk membuka pintu dunia dari masa lalu ke masa sekarang dan masa kedepannya. Sebagai penutup, mungkin kutipan dari Heinrich Mann : a house without books is like a room without windows. Perjuangan para pegiat literasi yang penuh lika-liku dan pasang-surut di Indonesia. mungkin, setelah proses tersebut, Indonesia akan lebih menemukan karakternya.

“ Perbanyak literatur agar dapat membentengi diri dari pusaran kebodohan yang dapat mempersempit mindset kita.�

Sumber : Pixabay.com


15| Edisi I

Buletin Oase

Resensi

Membaca Sejarah Oleh : Mochammad Nasrullah Semester V KPI IPMAFA

Sumber : Google.com

Judul : Suluk Gunung Jati Penulis : Enang Rokajat Asura Penerbit : Penerbit Imania Cetakan : I, September 2016 Tebal : 319 hlm ISBN : 978-602-7926-26-4

Ada sebuah pepatah mengatakan, “orang pintar belajaralah dari sejarah�. Itu yang sampai saat ini masih saya pegang, karena sejarah itu tidak ternilai harganya meskipun sejarah atau masa lalu itu memiliki kisah-kisah rumit yang tidak bisa diungkapkan melalui kata-kata. Dalam membuat sebuah karya sastra tentunya memiliki wawasan yang luas, baik itu dari segi pemilihan kata maupun banyaknya dalam membaca karya sastra lainnya. Ketika sebuah karya sastra peristiwa sejarah dijadikan rujukan dalam kepenulisan, maka ada nilai-nilai atau kata kunci utama yang menurut Kuntowijoyo untuk mengungkapkan karya sastra sebagai simbol verbal yaitu sebagai cara pemahaman (mode of comprehension), cara perhubungan (mode of communication), dan cara penciptaan (mode of creation). Ketiga kata kunci tersebut merupakan cara kita memperoleh data seluas-luasnya, karena jika kita tidak membaca maka keluasan nikmat pengetahuan tidak akan didapatkan dan peroleh jika hanya berdiam diri. Melalui serangkaian kata kunci diatas, kita dapat mengolah data itu menjadi sebuah karya sastra yang—bisa jadi Best


16| Edisi I

Buletin Oase

Resensi Seller—memiliki cerita yang asyik dan mengalir ketika pembaca mencoba menyelami nilai sejarah yang terkandung dalam buku tersebut. Suluk Gunung Jati inilah salah satu karya sastra sejarah yang mampu menceritakan bagaimana perjalanan sunan gunung jati untuk bisa merasakan nikmatnya ilmu pengetahuan dengan mengarungi samudera hingga hutan belantara untuk berliterasi dengan kitab-kitab teks kuno bersama gurunya. “Raden Ketib mengangguk, Ia teringat ajaran Kanjeng Sunan Gunung Jati, kula nitip tajug lan fakir miskin. Pepatah itu mengandung arti bahwa kaum muslim harus memiliki pengetahuan agama dan dunia agar tidak menjadi miskin. Tanpa pendidikan dan ilmu yang memadai, mereka akan mudah diombang-ambing dan dipengaruhi orang lain. Ia melihat buktinya pada kasus Hasan Ali yang mendirikan Pondok Lemah Abang tandingan. Banyak orang yang terpengaruh. Andai saja mereka telah mengenyam pendidikan yang lebih baik, tentu mereka bisa segera mengetahui bahwa kelakukan Hasan Ali hanya untuk memperburuk citra Syaikh Lemah Abang. Jalan itu ditempuh dilatari dendam kepada Sunan Gunung Jati (halaman 267).

“ kita harus bersikap terhadap orang lain dengan menghormati keilmuan yg dimiliki � Kutipan diatas menceritakan bagaimana kita harus bersikap terhadap orang lain dengan menghormati keilmuan yg dimiliki agar akhirnya tidak seperti Hasan Ali yang malah membuat dirinya besar diri dan mampu melampaui keilmuan orang lain melalui jalan kurang baik (sesat berpikir), menandakan novel ini bagus dan patut dibaca, dipahami dan dimaknai. Melalui buku ini tentunya para pembaca bisa membuka wawasan berpikir sehingga ingin menambah wawasan, tidak hanya satu sisi agar tidak sesat berpikir dan bisa bersikap dengan baik terhadap suatu informasi maupun wacana.


17| Edisi I 17 Edisi : I

Buletin Oase Bulletin Oase

Komik Komik

Sumber : Google.com

Judul : Suluk Gunung Jati Penulis : Enang Rokajat Asura Penerbit : Penerbit Imania Cetakan : I, September 2016 Tebal : 319 hlm ISBN : 978-602-7926-26-4


18| Edisi I

Buletin Oase

18Komik Edisi : I

Bulletin Oase

Komik

Created by : Ulfah Anjasari Semester V PS IPMAFA


19

Edisi :

I

Bulletin Oase

Puisi

Susunan Redaksi

Pekerjaan Gila dia seakan-akan tuli dia juga seakan-akan bisu dan dia sekarang mulai buta. dia mulai bingung apa yang seharusnya ia lakukan. dia selalu mengatakan dengan dalih "katanya", tapi dia tak melihat atau mendengar dengan dalih "nyatanya". ah, sudahlah.. kau pandai mengarang cerita simpan saja ceritamu untuk anak dan cucumu. kala anak dan cucumu merengek untuk sebotol susu atau semangkuk bubur, kau tinggal mendongeng cerita indah di Negeri khayalan. setelah dia tidak tau apa yang seharusnya di kerjakan. dia memilih pekerjaan Gila. pekerjaan itu mulai di perbicarakan keluarganya kala keluarganya menegur dia hanya diam, bahkan dia mulai tidak mengenali keluarganya. dia sekarang tuli dia sekarang bisu dia juga sekarang buta bahkan sekarang dia menikmati pekerjaannya. Oleh : Andi Ardiansyah Semester V PS IPMAFA

Pimpinan Redaksi : Layly Qurroti A’yun Redaktur Pelaksana : Audina Khoirunniamah Redaktur Berita : Zaka Rohman I Irfan Nuhab I Maya Cholida Redaktur Fiksi : Andi Ardiansyah Editor : Muhammad Rujhan I Mochammad Nasrullah Layouter : Muhammad Khoirur Rofiq

Kritik dan saran kirim ke Email Lpmanalisa6@gmail.com

Keep Read & Have Fun

Buletin oase edisi i  

Buletin Oase LPM Analisa IPMAFA

Buletin oase edisi i  

Buletin Oase LPM Analisa IPMAFA

Advertisement