Page 1

MUSIC

THE BLACK MOJO MUNI MUNI STEPPING STONE STICKMAN ETC.

TECHNOLOGY MIIJA FUJI X-A10 ZOTAC VR KODAK EKTRA MI NOTEBOOK

EVENT REVIEW JIIVA DINASTY ARTMOSPHERE SMANSIX 2016 WALL OF FADES

INTERVIEW NISKALA THE POPO FASHION GOLD.INC

EDITION

VII


LONGLIFE EXECUTIVE DIRECTOR

BRANDING & CREATIVE DIRECTOR

LAYOUTER

PUBLIC RELATION

Henggal Wismana Ardia Kusuma

Dias Yuda Pratama

PHOTOGRAPHER Phillipus Alcander Brian Fakhri Hardianto Hanantyo Refly Devandhanu Tan Ryan Dani Amigo Salman Al Farisyi Catra Lestari Rachmawati

AUTHOR

Ahmad Luthfi Maajid Dega Bintang Rosnanda Musa Hakam Nindya Kartika Rizky Febrian Yudha Pradipta Satria Java Shidqi Dirham Rizaldy Gunawan

Bagus Adityatama

Luqman Afif Khairuddin Rizky Ardiansyah

WEB DESIGNER Danang Suryo Adi

CONTACT

Email : publisher@longlifemagz.com Partnership : partnership@longlifemagz.com Advertise : ads@longlifemagz.com Sponsorship : sponsorship@longlifemagz.com Jl. Dr.Wahidin Family Housing G-10 Semarang - Indonesia

WWW.LONGLIFEMAGZ.COM

4


LETTER FROM EDITOR IN CHIEF Tidak terasa beberapa hari yang lalu telah digelar acara pesta perayaan tahun baru di berbagai tempat. Perayaan tahunbaru di Indonesia di meriahkan dengan berbagai pertunjukkan kembang api seperti tahun-tahun sebelumnya. Suara letusan kembang api silih berganti menyelimuti langit malam itu. Tahun baru selalu menjadi ajang perayaan bagi seluruh konstelasi masyarakat yang ingin menikmati hidupnya agar semua dapat bertemu dengan impian masa depan yang dicita-citakan dan ganjaran nasib yang tentu memberikan berkah untuk sebuah tantangan yang terus menuntun menuju ke arah kesuksesan. Tema dari majalah ketujuh ini adalah “EUFORIA�, kami mengambil tema ini karena kami ingin mengajak teman-teman untuk bersama merayakan pergantian tahun dengan berbagai kenangan yang telah dilalui pada tahun 2016. Berbagai kegiatan kreatif telah diselenggarakan di berbagai tempat di Indonesia khususnya di Semarang. Pada tahun ini Semarang mulai menunjukan taringnya dalam berbagai bidang, mulai dari musik, acara, forum kreatif, dll. Semangat positif ini harus terus ditingkatkan pada tahun berikutnya agar Semarang dapat menjadi kota yang kreatif mengungguli kota lainnya. Bagi kami tahun baru dimaknai sebagai waktu untuk introspeksi dan evaluasi diri atas preseden hidup yang berlatar pada etika dan sikap kami selama berpijak pada satu tahun sebelumnya. Hal ini membuat kami selalu termotivasi untuk selalu menjadi yang media terbaik dalam menyajikan berbagai informasi yang dikonsumsi oleh masyarakat. Pada akhir tahun ini sudah banyak perkembangan dan pencapaian yang sudah kami dapatkan. Berbagai rintangan dan masalah dapat kami lewati dengan sangat baik. Berbagai dukungan, pujian dan kritik mewarnai hari-hari kami dalam membangun LONGLIFE. Semua itu kami ambil sebagai motivasi untuk berkarya lebih baik lagi. Tidak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dalam membangun LONGLIFE, kritik dan saran kalian yang berikan sangat memotivasi kami kami untuk terus memperbaiki karya yang akan kami sajikan untuk kalian semua. Kami selalu membutuhkan dukungan kalian semua untuk mensukseskan konsep yang telah kami buat untuk kalian semua. Tiada kesempurnaan di semua konten yang telah kami sajikan kepada kalian, kami memerlukan kritik dan saran kalian untuk dapat mengetahui kekurangan tersebut. Kalian dapat memberikan kritik dan saran ke email kami di publisher@longlifemagz.com.

Warm Regards, Executive Director Henggal Wismana Ardia Kusuma

5


EDITION VII COVER Photo by Henggal Wismana Tema dari majalah ketujuh ini adalah “EUFORIA�, kami mengambil tema ini karena kami ingin mengajak teman-teman untuk bersama merayakan pergantian tahun dengan berbagai kenangan yang telah dilalui pada tahun 2016. Berbagai kegiatan kreatif telah diselenggarakan di berbagai tempat di Indonesia khususnya di Semarang. Pada tahun ini Semarang mulai menunjukan taringnya dalam berbagai bidang, mulai dari musik, acara, forum kreatif, dll. Semangat positif ini harus terus ditingkatkan pada tahun berikutnya agar Semarang dapat menjadi kota yang kreatif mengungguli kota lainnya.

Longlife magz

6


CHECK OUR CHANNEL ON YOUTUBE “LONGLIFE TV” Get the latest update from LONGLIFE TV by hitting the SUBSCRIBE button!

Stay connected with us on your favorite social media platform:

Facebook.com/LLmagz Instagram.com/longlifemagz


EUFORIA ISSUE DESEMBER 2016 FASHION 12 MUSIC

Death Prophecy 16 Ekspresi Musik Underground 17 Muni - Muni 18 Eva Celia 20 Stepping Stone 21 Micro Gig 22 The Black Mojo 24 Stickman 25 Banda Neira 26 Indikasi vol.2.2 27 Bonita & The Hus Band 28

INTERVIEW

Niskala 32 The Popo 36

TECHNOLOGY

Mi Notebook Air 4G 42 Mijia 43 Kodak Ektra 44 Fujifilm X-A10 45 Zotac VR 46

TRAVEL 50 EVENT REVIEW

Update Your City 54 Wall of Fades 2016 56 JIIVA 58 Artmosphere 2016 59 DINASTY 2016 62 Smansix Euforia 2016 64

8


F


FASHION


GOLD.inc X Crusade Membawa Aura “Perang Salib” WORD BY GOLD.inc PHOTO BY GOLD.inc

Gold.inc memperkenalkan produk terbaru mereka dengan latarbelakang “crusade” atau “perang salib”. Dan produk ini untuk mengapresiasi para tentara salib di medan perang saat itu. Karena itu disetiap produk terdapat arti tersendiri yang menggambarkan “perang salib”. Dan yang diluncurkan pada natal kemarin . Produk dari Gold.inc yang diluncurkan pada natal kemarin yang bertemakan “Crusade” terdiri dari 3 macam model yaitu cincin, gelang, dan kalung. Dan 3 model ini mempunyai filosofi masing-masing. Crux : Isu terpenting atau diartikan sebagai inti permasalahan. Dan isu terpenting pada perang salib ini adalah memperjuangkan tempat-tempat penting dalam sejarah keagamaan tersebut. Crux Immissa : Menandakan keberagaman elemen yang berdada di bumi, contohnya tanah, air, udara, dan api. Dan kita memilih Emas sebagai bagian dari produk kami karena sifatnya yang mulia. Deus Vault : yang diterjemahkan langsung berarti kehendak Tuhan, dan kehendak Tuhan tersebut yang menyelesaikan perang salib pada masa itu sendiri. Jadi Gold.inc mengambil crusade sebagai tema koleksi terbaru nya untuk menyamakan temanya dengan natal dan untuk mengenang perjuangan para tentara salib yang terjadi pada abad ke 14 dan 15 bahkan sampai akhir abad 17.

12


13


M


MUSIC


Salatiga Menunjukkan Taringnya Lewat Death Prophecy WORD BY MUSA HAKAM PHOTO BY DOC.DEATH PROPHECY

Salatiga – Unit slamming brutal death metal dari kota tetangga, Salatiga yang bernama Death Prophecy mulai berancang-ancang untuk mengeluarkan album perdana mereka yang dijadwalkan rilis awal tahun depan. Nama albumnya sendiri masih dirahasiakan oleh pihak band. Akan tetapi, mereka telah sedikit membocorkan beberapa materi lewat sebuah promo single terdiri dari dua buah lagu, yang juga akan masuk dalam album mereka nanti via label rekaman Valist Records. Berawal dari sebuah film anime terkenal yang mengisahkan seorang samurai pada era Meiji yakni Samurai X. Kemudian, berangkat dari ketertarikan terhadap hal tersebut, mereka terbersit untuk membuat sebuah album berkonsep yang berkutat pada era Meiji dan mengangkat tema kepedihan sosial dan perang saudara yang terjadi di era itu. Proses kreatif pembuatan album sendiri telah dimulai sejak Maret tahun lalu. Dikarenakan satu dan lain hal seperti bongkar pasang personel dan juga kesibukan masing-masing personel hingga akhirnya album perdana ini baru akhirnya akan rampung. Untuk recording sendiri dilakukan di dua tempat terpisah, dimana mayoritas dilakukan Al Studio dan sisanya di 4WD Music Studio, keduanya terletak di Semarang. Dua buah materi di dalam promo single yang telah dapat didengar khalayak luas itu di antaranya adalah The Darkest Era (Intro) dan Carcass of the Boshin yang merupakan semacam perkenalan dan gerbang masuk ke album perdana mereka nanti. Dengan mengambil influence dari berbagai macam band seperti Katalepsy, Abominable Putridity, Venomed dan Turbidity mereka mencoba menawarkan sesuatu yang spesial untuk para pendengar mereka.

16


Suara Ekspresi Musik Elektronik Underground Indonesia WORD BY MUSA HAKAM PHOTO BY DOC.PEPAYA RECORDS

Jakarta – Dunia musik lokal bawah tanah Tanah Air kembali kehadiran sebuah album sarat kualitas yang bermaterikan lagu-lagu elektronik dari musisi-musisi indie lokal terpilih. Setelah diedarkan secara terbatas untuk pertama kali pada tanggal 8 Oktober 2016 dalam bentuk format kaset pita, akhirnya album kompilasi Dentum Dansa Bawah Tanah (DDBT) dirilis dalam format cakram padat (compact disc) melalui kerjasama antara Pepaya Records dan juga Demajors yang merupakan label rekaman independen dengan jangkauan luas tingkat nasional. CD album kompilasi yang telah di-mastering ulang di Sage Audio (Nashville, Tennessee) tersebut akan diedarkan secara luas pada tanggal 18 Desember nanti di acara SUPERBAD! Vol. 76 yang diselenggarakan secara istimewa hasil kolaborasi antara Pepaya Records dan Studiorama. Beberapa penampilan musisi yang terlibat di dalamnya yang akan tampil live di antaranya adalah Sunmantra, Future Collective dan whoosah. Sattle juga akan turut mengisi dengan DJ setnya yang tersohor. Ada sekitar 14 musisi yang ikut mengisi album kompilasi ini, sebagian besar diantaranya merupakan DJ/produser yang

berkiprah di scene musik elektronik underground Jakarta. Para musisi tersebut di antaranya adalah REI, Basement House, Harvy Abdurachman, Django, whoosah, Android 18, Duck Dive, Swarsaktya, Future Collective, Maverick and Moustapha Spliff, Sattle, Sunmantra, Baldi dan John van der Mijl. Selain itu, juga terdapat liner notes yang dituliskan oleh Dipha Barus dan Merdi Simanjuntak. Lagu-lagu yang berjumlah total 14 lagu tersebut pun juga telah dibuatkan video klipnya oleh para clip maker independen dengan menggunakan pola pendekatan yang unik dan juga spontan karena tak melibatkan komunikasi yang intens antara unit-unit musik dengan para pembuat video klip. Dimana video klipnya sendiri bila dianalogikan merupakan representasi pengejawantahan isi lagu yang terdapat di dalam DDBT oleh para pembuat video klip. Sutradara yang turut menyumbangkan karya dan terlibat dalam proses pembuatan video klip diantaranya adalah Dana Putra, Edwin, Anggun Priambodo, Henry Foundation, Adythia Utama, Adel Pasha, Sabina Renika, Bing Luther, Riyan Berlian, Allan Soebakir, Heytuta Masjhur, dan Yovista Ahtajida.

17


Muni – Muni : Bukan Sekedar Interview Biasa WORD BY A. LUTHFI MAAJID PHOTO BY DOC. IMPALA SPACE

Impala Space kembali mengadakan talkshow yang mengangkat isu-isu dalam dunia kreatif. Kali ini, diskusi tersebut dikemas dalam sebuah acara bertajuk “Muni – Muni”. Muni – Muni merupakan suatu forum diskusi yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengembangan diri berdasarkan passion yang kita punya. Pada forum Muni – Muni kita dapat saling mengenal, berbagi pengalaman dan bertukar pikiran bersama para narasumber yang telah terlebih dahulu terjun di industri kreatif, khususnya untuk kali ini di sektor musik dan desain. Muni – Muni kali ini mendatangkan tiga pembicara yang dibagi dalam tiga sesi yakni Endah n Rhesa (musisi) dengan bahasan ‘Kolaborasi dan Inovasi dalam Industri Musik’; Eki N.F (Direktur Kreatif MD Picture) dengan bahasan ‘Menciptakan Konten Kreatif ’; dan Kiki Ucup (Demajors dan Manager Barasuara). Selain sesi talkshow, acara ini dimeriahkan juga oleh penampilan solois Ocsila dalam sesi networking seusai sesi talkshow. Sesi pertama dimulai sekitar pukul 14.30 WIB, ruangan diskusi Impala Space sontak ramai sekali dipenuhi audiens yang mungkin penasaran akan bahan diskusinya atau mungkin juga hanya sekedar ingin melihat Endah n Rhesa semata. Selain sesi diskusi utama dalam ruangan tersebut, terlihat juga orang-orang yang berkumpul di sudut-sudut ruangan nampak sedang mendiskusikan projek-projek mereka. Hal semacam inilah yang menjadi dampak positif dari acara diskusi ini, terlepas dari diskusinya itu sendiri.

18


Direktur Kreatif MD Picture yang ternyata asli Semarang, Eki N.F, memulai diskusi selanjutnya yang dimoderatori oleh Muhammad Fatchurofi (Desainer Grafis). Ia memulai dengan menceritakan awal masa mudanya saat sedang mencari jati diri dan passion dengan menggunakan metode analisis SWOT. Di drop out berkali-kali tidak mematahkan semangat Mas Eki, melainkan justru membuat ia lebih fokus dengan apa yang dijalankannya. Selain pokok bahasan menciptakan Konten Kreatif, Mas Eki juga memberikan cerita-cerita pengalamannya yang menjelaskan bahwa semua proses dimulai dari hal yang paling bawah seperti misalnya dia yang bermula hanya menjadi OB dan akhirnya berhasil menulis script untuk serial TV “OB�, dan berhasil. Sesi terakhir dimoderatori oleh Adiyat Jati dari OK Karaoke dengan pembicara Kiki Ucup. Terlihat audiens pada saat sesi terakhir ini tersisa sekitar setengah dari awalnya. Mas Ucup berbicara tentang bagaimana mem-branding sebuah band dengan mengambil contoh band yang sedang panas-panasnya di Indonesia, Barasuara. Sayangnya, talkshow langka nan

penting semacam ini justru tidak dihadiri langsung oleh para penggiat musik. Dimana biasanya talkshow dilakukan kepada personil dari sebuah band, tetapi justru diskusi macam ini yang lebih penting karena memberikan edukasi bagaimana langkah-langkah membentuk dan juga mengembangkan sebuah band tersebut. Terakhir, merupakan sesi networking yang bertempat di Spiegel Bar & Bistro. Sesi ini tidak kalah penting, karena selain edukasi yang didapat, memperluas networking adalah kunci utama dalam pengembangan di dunia kreatif. Dalam sesi ini semua peserta diskusi dapat dengan santai berbincang-bincang dengan narasumber. Tak hanya itu, beberapa penggiat-penggiat kreatif di Semarang pun secara tidak sengaja menjadi brianstorming karena biasanya bertemu hanya untuk sekedar bersenda gurau. Sesi ini diiringi oleh penampilan dari solois Ocsila, finalis Go Ahead Challenge dari Semarang.

19


Eksistensi dan Pembuktian, Eva Celia! WORD BY FAKHRI HARD PHOTO BY QUBICLE.ID

Cantik aja engga cukup nih guys kalau belum punya bakat atau karya. Yups seperti Eva Celia, gadis kelahiran Jakarta ini baru saja merilis debut album perdananya. Musik memang gajauh dari kehidupannya, peran ayah bisa salah satu faktor yang mempengaruhi Eva harus terjun ke dalam dunia musik. Indra Lesmana sebagai ayah kandung dari Eva ini juga masih eksis di dalam dunia musik, memang ya buah jatuh tidak jauh dari pohonya pribahasa yang tepat untuk menggambar kehidupan keluarga Eva Celia. Peertengahan November kemarin, Eva di dukung teman – teman musisi berhasil merilis album pertamanya yang bertajuk And So It Begins. Bagi Eva sendiri, album ini bukan hanya sekedar album, melainkan pembuktian dan eksistensi Eva dalam dunia musik, setelah tahun sebelumnya Eva juga berhasil merilis single yang berjudul Reason. Enggak hanya musik nih guys yang di tekuni oleh Eva Celia nih, ternyata doi juga pernah tergabung dalam pembuatan film, sampai tahun 2016 ini, cewek berumur 24 tahun ini sudah berperan dalam 3 buah film dari film horror sampai drama.

Ada yang menarik nih dalam pembuatan album pertama Eva, Justin dan Mark yang merupakan personil band instrumental asal New York “Snarky Puppy” ini ikut terlibat dalam pembuatan album And So It Begins. Eva yang ternyata sangat mengidolakan band ini, engga nyangka banget bisa kolaborasi sama dua personil tersebut, berkat media sosial akhirnya dapat menggiring Justin dan Mark ke Jakarta dalam penggarapan album pertamanya. Dari salah satu lagu di album ini, ada satu lagu yang liriknya sadis banget nih guys, dalam lagu yang berjudul Let Love Grow Eva mengaku frustasi melihat kondisi hutan – hutan yang dibakar secara Ilegal dan juga masih banyak sistem pemerintahan yang korupsi. Menurut Eva sendiri, jika masih ada cinta, kondisi – kondisi itu enggak bakal terjadi guys, pembakaran dan korupsi bisa di hindari, dan bagaimana kita bisa memendam ego dan bisa lebih mencintai sekitar kita. So¸ buat temen – temen yang kepo nih sama lagu – lagu Eva yang baru sudah tersedia dalam bentuk fisik ataupun digital diberbagai platform loh. Terus, buat kamu yang mau beli album nya, bisa di cek di toko – toko musik kesayangan kamu guys!!

20


Tasyakuran: Perilisan EP Debut ‘Out Of The Blue’ dari Stepping Stone

WORD BY A. LUTHFI MAAJID PHOTO BY DOC.SUGAR BITTER

Semarang – Stepping Stone, band asal Semarang pengusung genre indie rock yang terbentuk pada awal 2014, siap meluncurkan mini album pada Sabtu, 10 Desember 2016 mendatang di Impala Space mulai pukul 17.00 hingga 23.00. Grup ini digawangi oleh 5 anak muda yaitu Temon (vokal), Angus (gitar ritem), Kemin (gitar utama), Ivan (bass) dan Shady (drum). ‘Out of The Blue’, nama yang diusung sebagai judul mini album Stepping Stone, secara harfiah memiliki arti tiba-tiba. Ya, seperti proses penggarapan rilisan berbentuk Extended Play ini memang dilakukan secara tiba-tiba dan secara ekstrim bisa dikatakan sebagai rilisan yang tidak disangka akan terjadi. Launching mini album Stepping Stone juga akan dimeriahkan oleh teman – teman dari band lain seperti Rusty Chicken, Dogtooth Tuna, Flutterby, Fuzz Break, Soundgrass, Rubber heat, The Moors dan Sugar Bitter. Acara ini nantinya akan diakhiri oleh sharing session bersama Stepping Stone, simbolis peresmian peluncuran album dan juga penampilan dari band tuan rumah. Selain itu sebagai kenang-kenangan dari acara tersebut, akan ada live sablon dari Markyake Inc. sehingga para pengunjung yang sudah membawa kaos polos dapat menyablonkan kaosnya dengan artwork acara perilisan ini.

21


Micro Gig “Indikasi Vol. 2: Mini Showcase Primata” WORD BY A. LUTHFI MAAJID PHOTO BY DOC. RIPSTORE ASIA

Micro gig Indikasi kembali hadir awal Desember ini di Kedutaan Besar Bekasi. Memasuki volume keduanya, forum kolektif musisi independen di Kota Bekasi ini bakal mengetengahkan mini showcase dari grup musik instrumental rock ‘Primata’ yang sedianya bakal dihelat pada 3 Desember 2016 mulai pukul 4 sore di Jl Raya Jatikramat No. 2A, Jatiasih. Adapun konser tunggal Primata di Indikasi vol. 2 ini juga bakal dimeriahkan oleh opening act dari The Corals, unit stoner rock asal Bekasi serta Mataharibisu, trio dream pop/ ambient/ electronica asal Tangerang Selatan. Dua band pembuka ini juga baru saja meluncurkan singlenya via iTunes, Spotify, Deezer dan kanal digital store lainnya. Yang tak kalah menarik, sebanyak 7 orang seniman grafis, komik dan lukis dari Kedubes Bekasi juga berkolaborasi lewat pameran visual art di acara ini sebagai respon mereka dari mendengarkan lagu-lagu Primata. Para seniman tersebut antara lain Amalia Permahani, Aruga Perbawa R, Asyraful Umam, Marshall Libert, Muhammad Khalid, Ranindra MK dan Sanditio Bayu. Muhammad Khalid selaku koordinator pameran menjelaskan bahwa ini adalah kali pertamanya para seniman di Kedubes Bekasi berkolaborasi dengan musisi dalam bentuk pameran visual art. “Sebelumnya kegiatan kami lebih banyak berinteraksi dengan sesama seniman visual saja. Di Indikasi volume 2 inilah pertama kalinya kami bekerjasama dengan musisi independen dan kami sangat antusias.” Single Kedua dan Cover Song ERK Primata sendiri baru saja mengeluarkan single ‘Khaga’ pada 17 November kemarin sebagai single kedua dari debut album mereka bertajuk Avani. Single ‘Khaga’ dirilis dalam format mini CD termasuk B-Side ‘Melankolia’ instrumental cover song karya berjudul sama milik Efek Rumah Kaca. Mengenai cover song tersebut, Andrew Mahardika selaku manager band mengatakan bahwa ini adalah lagu yang disiapkan Primata untuk mengikuti kegiatan Tribute to Efek Rumah Kaca yang digelar Ripstore.Asia, namun terlambat karena sudah melewati deadline pengiriman karya.

di situs Ripstore.Asia dengan format bebas unduh lewat lisensi creative commons sebagai bagian dari rangkaian kolaborasi kesenian bersama Kedutaan Besar Bekasi lewat hajat Indikasi Volume 2 ini. Tentang Indikasi Indikasi merupakan forum kolektif dalam format gig yang dirintis untuk menjahit berbagai jejaring pegiat musik di Bekasi yang selama ini terserak. Konsep ini digagas dengan semangat guyub dan etos berbagi: bahwa Bekasi menyimpan banyak potensi di bidang musik. Diinisiasi oleh Kedubes Bekasi dan Ripstore.Asia, hajat Indikasi pertama kali dihelat bertepatan dengan perayaan #CassetteStoreDay 8 Oktober lalu dengan menampilkan 7 band penampil, 3 lapak kaset dan 3 narasumber yang mengisi sesi diskusi musik seputar musik digital dan rilisan fisik. Sebagai edisi sempalan, Indikasi juga menggelar volume 1.2 yang mengetengahkan workshop recording, mixing/ mastering bersama Reza Hilmawan dan music performance dari Remedmatika. Pada volume 1.3, Indikasi mengadakan pemutaran film Pamurba Yatmaka Cakra Bhirawa dan diskusi dengan sutradaranya, yakni Kamerad Edmond (The Anarcho Brothers), didampingi dengan Andibachtiar Yusuf (Produser film, sutradara). Fithor Faris, selaku pendiri Kedubes Bekasi mengatakan bahwa ke depannya Indikasi bakal diadakan secara berkala. “Sebagai catatan, di Indikasi ini kami juga membuka peluang kerjasama dengan teman-teman musisi atau stakeholder lain di luar kota Bekasi untuk bekerjasama mengembangkan iklim musik independen dalam negeri yang saling mendukung satu sama lain.”

“Sekitar bulan Oktober kemarin, secara kebetulan di satu acara musik di Kedubes Bekasi kami bertemu dengan tim Ripstore.Asia. Ide mengadakan mini showcase ini pun muncul dari pihak Ripstore.Asia dan kami respon dengan positif,” ungkap Andrew. Kini dua track ‘Khaga’ dan ‘Melankolia’ ini juga tersedia

22


23


The Black Mojo, Grup Blues Modern Anyar Kota Semarang, Rilis Single Perdana WORD BY A. LUTHFI MAAJID PHOTO BY DOC. THE BLACK MOJO

Grup modern blues asal Semarang yang berdiri sejak Februari 2015, The Black Mojo, resmi merilis debut single dengan sebuah lagu berjudul “Hey You There”, pada November 2016 . Grup pendatang baru di kancah musik indie ini beranggotakan Jonathan Adika (Vokal, Gitar), Ghany Nur Rahman (Harmonika), Aditia Ramadhani (Bass), dan Dave Mahardika (Drum). Mereka mengungkapkan bahwa “Hey You There” akan termuat dalam album perdana The Black Mojo yang akan dirilis pada awal tahun 2017. Band yang lahir berkat adanya komunitas Semarang Blues Community ini mengaku bahwa single mereka ini menggunakan makna metafor. Menurut rilis pers, Aditia memaparkan, “Hey You There sekilas tampak seperti lagu cinta masa kini, tapi sebenarnya ini berangkat dari kebiasaan manusia yang selalu terjebak kedalam ego-nya sendiri. Saya ambil garis besar permasalahannya, lalu saya gambarkan dengan hal yang mudah ditangkap oleh khalayak, yaitu jatuh cinta pada seorang gadis. Semoga dengan rilisnya single ini, menjadi awal perkenalan musik kami serta memotivasi kami untuk terus berkarya lebih dan lebih lagi.”

24


Stickman, Unit Indie Pop Yogyakarta, Rilis Single Kedua WORD BY A. LUTHFI MAAJID PHOTO BY DOC. STICKMAN

Stickman, trio asal Yogyakarta yang menyebut musik mereka sebagai pop kreatif, merilis single kedua berjudul “A.T.N.I.C”. Single ini dirilis tak hanya dalam format audio, tetapi juga dalam format performing art hasil garapan Vikri Ihsan Rohmadi yang dapat diakses melalui kanal YouTube Otakotor Records. Proses penggarapan single ini turut melibatkan rekan-rekan diluar personil Stickman untuk memperkaya warna musiknya. Nama-nama yang turut berkontribusi dalam lagu A.T.N.I.C ini adalah Septavauzan Ananda (biola) dan Reza Stanzah (flute). Satya Chandra atau Firman Hans Cahyo Buono juga ikut membantu mengisi part gitar di lagu A.T.N.I.C yang memang sengaja ingin dibuat lebih padat. A.T.N.I.C sendiri sebenarnya adalah kebalikan dari C.I.N.T.A, isinya lebih kurang menceritakan tentang romansa adam dan hawa, yang sejatinya selalu membawa bangkai yang hidup kemanapun dan kapanpun kita pergi. Bahwasanya ketika manusia merasakan cinta, sejatinya mereka terbelenggu dalam apa yang kita sebut sebagai tubuh yang didalamnya dikandung beragam ego, nafsu, emosi, hasrat dan keinginan-keinginan yang memang sudah dikodratkan menjadi milik manusia. Namun ketika teman-teman mendengarkan lagu ini, teman-teman berhak mengartikan dan menerjemahkan menurut argumen teman-teman sendiri. Sebelumnya, band yang beranggotakan Kiat Istiqamah (Bass, Vokal), Rifkky Riza Rahman (Gitar, Vokal), dan Aditya Nugraha Surya Saputra (Drum) ini, telah merilis single yang pertama pada 2014 lalu berjudul “Kembalikan Indonesia”. Stickman saat ini sedang merampungkan beberapa materi album pertama yang rencananya akan selesai pada awal taun depan.

25


Empat Tahun Bermusik, Duo Folk Banda Neira Resmi Umumkan Kebubarannya. WORD BY A. LUTHFI MAAJID PHOTO BY HARIAN NASIONAL

Banda Neira, duo indie folk asal Bandung yang namanya sempat melejit semenjak menjamurnya musik-musik folk yang teduh, umumkan secara resmi terkait keputusan mereka untuk bubar melalui akun Instagramnya. Kamis malam lalu, 22 Desember 2016, duo yang digawangi Ananda Badudu dan Rara Sekar, mengumumkan “dengan berat hati, melalui surat ini kami umumkan bahwa kami telah bersepakat untuk berpisah dan mengakhiri perjalanan Banda Neira.� Kabar sebelumnya, paska merilis album penuh kedua, Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti (2016), mereka mengumumkan hanya akan vakum dikarenakan Rara Sekar yang melanjutkan studi ke Selandia Baru. Ternyata pada akhir tahun 2016 ini kabar yang lebih mengejutkan muncul. Banda Neira sendiri bilang bahwa ini bukan merupakan keputusan yang mudah bagi mereka. Kurang lebih satu tahun mereka telah pikirkan matang-matang hingga akhirnya keputusan menjadi bulat. Banda Neira pun pada awalnya hanyalah merupakan projek iseng-iseng dari kedua personil tersebut. Berawal dari empat lagu berjudul Di Atas Kapal Kertas, Ke Entah Berantah, Kau Keluhkan, dan Rindu (musikalisasi puisi Subagio Sastrowardoyo) yang diunggah ke kanal soundcloud mereka, pendengar Banda Neira pun mulai meluas baik di dalam maupun luar kota. Dari respon positif tersebut mereka pun sepakat untuk melanjutkan projek tersebut sampai akhirnya, selama empat tahun ini, mereka berhasil menelurkan dua album penuh, Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti (2016) dan Berjalan Lebih Jauh (2013). Selain itu, Banda Neira sempat meluncurkan mini album Paruh Waktu (2012), album kolaborasi Kita Sama-sama Suka Hujan (2015) dan album kompilasi Prison Songs (2015). Selanjutnya, terlepas dari alasan yang masih belum diketahui, Ananda Badudu (gitar) menyatakan bahwa dia masih akan terus bermusik walaupun lebih memilih untuk berada di belakang layar. Ananda Badudu sekarang berdomisili di Yogyakarta.

26


Indikasi Vol. 2.2 : Mini Showcase Auretté and The Polska Seeking Carnival WORD BY A. LUTHFI MAAJID PHOTO BY DOC. RIPSTORE ASIA

Sukses menggelar Mini Showcase Primata 3 Desember kemarin, micro gig Indikasi kembali hadir pekan ini. Dengan nomor volume 2.2, micro gig berbasis di Kota Bekasi tersebut kali ini secara istimewa kedatangan tamu dari Yogyakarta, band folk Auretté and The Polska Seeking Carnival dan menggelar mini showcasenya pada Jumat pekan ini, 23 Desember 2016. Indikasi Vol. 2.2 sedianya bakal digelar mulai pukul 18.00 WIB di sekretariat Kedutaan Besar Bekasi, Jl Raya Jatikramat No. 2A, Jatiasih, Bekasi. Dan sebagai opening act, perhelatan reguler ini bakal menampilkan 3 band independen pendatang baru yang berbasis Kota Bekasi, yakni Indigo Moire, Sir Lommar John dan Pathway Pleasure. Hajat konser musik independen ini juga bakal mengetengahkan perilisan debut mini album dari Sir Lommar John yang nantiya juga bakal tersedia secara legal dan bebas unduh pada platform music sharing di situs Ripstore.Asia Tentang Auretté and The Polska Seeking Carnival Auretté and The Polska Seeking Carnival atau disingkat AATPSC merupakan band folk independen asal Yogyakarta yang beranggotakan enam orang yaitu Dhima Christian Datu (vocal, accordion, ukulele), Aurelia Marshal (ukulele, keyboard, synthesizer, vocal), Danny Rachman (bass), Ahmad Mursid (trumpet), Bayu Atmojo (trombone), dan Aris Setyawan (drum, percussion).

AATPSC pertama kali meluncurkan debut mini album self titled pada tahun 2013 di bawah naungan 2 label yakni Tomat Records dan Elevation Records dalam format CD, Kaset serta Vinyl yang kemudian mencuri perhatian publik pendengar musik di Indonesia dan luar negeri. Pada awal 2014, AATPSC lewat keterangan di blog resminya sempat menyatakan bubar karena kesibukan akademis masing-masing personilnya. Tanpa diduga banyak pihak, AATPSC meluncurkan single baru berjudul ‘Melerai Lara’ yang juga menandai bahwa band ini benar-benar kembali aktif bermusik dan tengah menggarap materi baru untuk album berikutnya. Melerai Lara sendiri adalah karya AATPSC yang pertama direkam setelah memutuskan kembali aktif bermusik akhir tahun 2015 kemarin. Keputusan melemparkan single adalah untuk mengobati kerinduan para pendengar akan karya-karya AATPSC, sekaligus sebagai ancang-ancang untuk album kedua yang saat ini masih dalam proses penggodokan materi.

27


Bonita & The Hus Band, Perpaduan Musik Dan Budaya! WORD BY FAKHRI HARDIANTO PHOTO BY DOC. BONITA & THE HUS BAND

Euforia akhir tahun sepertinya enggak pernah ada habisnya ya guys! Dari fenomena Om Telolet Om, berakhirnya duo Folk Banda Neira, dan juga event – event yang gokil banget di bulan desember ini. Nah, Bonita & The Hus Band merupakan salah satu dari banyak band atau musisi yang merilis album di bulan desember ini. Musik yang memanjakan telinga dan mendayu – dayu ini mampu mengobati rasa kangen fans terhadap karya dari Bonita & The Hus Band. Bonita yang mempunyai suara yang khas, mampu diimbangi oleh Petrus Briyanto Adi sebagai gitaris, Jimmy Tobing peniup saksofon, dan Bharata Eli Gulo sebagai perkusionis yang mampu menyajikan musik yang sangat harmonis. Album yang di bertajuk Rumah yang dirilis pada pertengahan bulan desember ini, mampu menggambarkan perjalanan Bonita & The Hus Band selama ini. Kelompok musik yang terbentuk pada tahun 2006 mampu menghasilkan beberapa karya yang pastinya ciamik banget guys! Pada tahun 2009 mereka membuat mini album sebagai souvenir dalam partisipasi mereka di acara Indie Asia dan Mosaic Music Festival Singapura pada tahun 2010 silam. Pada tahun 2014 yang lalu juga, Bonita & The Hus Band mampu merilisi album pertama mereka yang bertajuk “small miracles” dengan sentuhan pop dan folk mereka mampu meluluhkan hati pendengarnya. Parah lah pokok nya!!! Nah, balik lagi nih guys ke album baru nya Bonita & The Hus Band! Di dalam album rumah ini, Bonita & The Hus Band mampu menghadirkan nuansa – nuansa yang bener – bener Indonesia banget nih! Lagu andalan mereka yang berjudul Bromo di akui oleh Bonita ditulis berdasarkan pengalamannya saat turut serta dalam event Jazz Gunung pada 2015 lalu. Dan lagu ini juga menjadi sebagai lagu andalan dalam album ini. Selain itu, demi mendapatkan suasana yang Bromo banget, mereka bikin video clip di Taman Nasional Gunung Bromo Jawa Timur. Biar suasana gunung bromo-nya kerasa banget gituuuu, ah parah keren.

28


Selain lagu bromo ada juga nih guys ada Lord Guide Me yang terkesan sangat religious. gaya devosi akutnya Kristen Protestan, ditulis oleh orang Katolik yang seharusnya kaku dalam pemujaan dan salah satu penyanyinya Islam. Sangat – sangat universal banget nih guys, bagaimana setiap individu berserah diri kepada sang pencipta dan juga sebagai wujud pujian untuk alam semesta yang sudah memberikan segalanya. Cocok sih buat di denger sekarang, dimana dunia sedang sibuk dengan sentimen umat beragama. Ah serius – serius banget nih hahaha Kenapa sih album baru mereka bisa dibilang punya rasa kebudayaan yang tinggi? Track penutup dari album ini berjudul, Satu Hari Sebelum Besok, lagu ini di nyanyikan dengan empat bahasa yang berbeda guys, Bahasa Indonesia, Nias, Batak Toba, dan Jawa. Paraaah lo harus denger!!!!! Jadi, kenapa mereka memilih empat bahasa daerah tadi, karena empat bahasa tersebut adalah mewakilkan daerah asal dari personil mereka guys! Bhineka Tunggal Ika lah intinyaa. Jadi gini sob, album yang berisi tujuh lagu utama dan di antara setiap lagu selalu di selingi dengan komposisi atau lagu singkat (ditties/insert), menjadikan album ini berisi total 13 tracks. Menurut personil Bonita & The Hus Band sendiri, insert itu adalah persentasi singkat lagu – lagu project mendatang, ya kalau bisa dibilang untuk album berikutnya sob!!! Menarik kan? Visioner abis!!!! Sementara untuk distribusi sendiri, Bonita & The Hus Band menggandeng label demajors yang sudah akrab di kalangan musisi. Tidak hanya bentuk fisik guys, album mereka juga bisa dinikmati secara streaming seperti iTunes, Spotify, Amazon dan lain sebagainya! Yups!! Album ini harus di dengarkan guysss! Dan jangan lupa Stop Pembajakan!!!

29


I


INTERVIEW


Niskala, Melawan Arus Dengan Post Rock Instrumental WORD BY BRIGITAN ARGA SIAM PHOTO BY RIAN AMIGO

Semakin mudahnya mengakses informasi di dunia serba instan ini, menjadi nilai plus dan nilai negatif bagi siapapun yang setiap hari berkutat mencari informasi di dalamnya. Tak menutup kemungkinan juga bagi Niskala, kwintet Post Rock Instrumental dari kota Jogjakarta ini mengekpolrasi musik mereka dari berbagai hal, Dari Film, obrolan sehari – hari, dan hasil berselancar di dunia maya yang semakin memperkaya musik mereka. Keteguhan mereka untuk tampil beda dengan arus utama musik di Indonesia pada umumnya, justru membuat nilai plus tersendiri bagi Niskala, karena mereka terlihat beda dan unik dengan membawakan musik Post Rock Instrumental. Simak Interview kontributor longlife dengan Niskala, disela – sela menunggu giliran manggung Gigs pertamanya di kota Semarang.

32


33


Halo selamat malam Niskala ? Halo selamat malam Longlife Untuk saat ini Niskala sedang sibuk apa? Kalau sekarang kita lagi di semarang ini lagi meramaikan acara Oasis Night yang diadakan oleh Forkicks, sama waktu deket – deket ini sih, awal desember kita mau fokus untuk album. Karena karya sebelumnya sudah ada tapi ke-suspended. Lalu bagaimana mengenai konsep albumnya yang akan direkam awal desember besok ? Kalau dari konsep, at least hampir semuanya instrumental ya karena kita memang band instrumental, kalau konsepnya sih kayak ngomongin satu lagu sama lainnya kayak enggak ada jedanya sih, terus nyambung jadi kayak cerita utuh gitu. Oh iya sebentar sedikit lupa, bisa dikenalkan dulu nih personilnya siapa saja ? Niskala itu ada berlima. Damar ada di Bass, ada Indra di Drum, terus ada Daniel di gitar satu, ada Danar di Gitar dua, lalu terakhir Danis di Keyboard Synth. Oh oke, jadi rencana kedepan yang paling terdekat hanya untuk album saja ? Ya, kita kan berdiri sebenarnya tahun 2014 bulan Desember, jadi sekarang sudah hampir dua tahun dan itu alangkah baiknya karena udah terlalu sering banyak main sana main sini, sekarang fokusnya ke karya album itu. Jadi rencana besok awal Desember di Jogja kita akan recording secara live untuk bikin satu album. Kenapa kalian memilih live recording ? bukan multi track ? apakah kalian sengaja agar supaya tetap mendapat atmosfirnya atau bagaimana ? nah bener, itu alasan salah satunya. jadi Kemarin pas jalan satu tahun itu kita coba recording, ada empat lagu kalau tidak salah. Kita take recording biasa multi track gitu, tapi ternyata setelah di dengar dan di ulang – ulang kok kayak enggak nemu soulnya, kayak pas live karena kan kita emang Band Instrumental tanpa lirik tanpa vokal emosinya di lagunya itu kok enggak dapet, terus lalu sharing sana – sini ada masukan kalau recording live aja gimana.

Nah dari situ kita akan coba untuk recording live. Jadi lagu dari Niskala sendiri itu, tanpa lirik dan tanpa vokal ? yap bener, tapi ada kasus sih, beberapa part kalau kita live kita bawain semi teatrikal juga tapi itu udah lama sih waktu awal – awal kita main pasti kayak gitu, di setiap kami live pasti ada yang bawain puisi tapi sampai kesini kayaknya konsep itu udah kurang cocok untuk diterapkan jadi sekarang sih kita lebih ke ekplorasi Sound, emosi, jadi lebih pure music. Lalu kenapa kalian memilih tanpa lirik dan vokal? hahaha, alasan yang pertama ya karena kami enggak ada yang bisa nyanyi, yang kedua kita kan suka banget nonton film gitu kan, ada skoringnya kan dalam film, nah seakan akan kita ingin membuat musik niskala itu kayak film, cita – cita Niskala bisa jadi band yang bisa bikin skoring film, jadi kalau ada film indie boleh tawar – tawar ke kita kalau mau join hahaha. Kalau alasan yang lain kita sebenarnya berlima itu udah ada band sendiri – sendiri yang ada vokalnya jadi kami mencari hal yang berbeda, selain itu juga di jogja masih jarang musik Instrumental gitu kenapa kita enggak nyoba ini, siapa tahu banyak yang tertarik. Lalu untuk nama niskala sendiri itu jarang didengar yah, nama itu didapat dari mana ? Ceritanya nama Niskala itu awalnya sih kayak semacam nemu aja sih, suatu waktu aku baca buku nemu sebuah kata niskala apa ya, nah di tahun 2014 itu sebelum band ini terbentuk nama itu sudah lahir sebenarnya tapi aku enggak tahu mau dibuat apa yang penting pikirnya nama tersebut bagus, nah lanjut dari situ kita ngejam ada sebuah acara di jogja dan kita ingin buat band tapi kita belum punya nama, jadi waktu itu bandnya apa nih namanya, langsung aja nyeletuk Niskala aja. Kalau untuk artinya sendiri Niskala itu kalau di Bali ada Skala dan Niskala ya itu elemen spiritual ya kalau Skala itu yang visible sedangkan Niskala itu invisible. Yang berbentuk dan tidak berbentuk kurang lebihnya begitu sesuai dengan musik Niskala sendiri yang instrumental kanan kiri kanan kiri hahaha.

34


Mengenai responnya khalayak ramai sendiri gimana ? dengan adanya Niskala ? Biasa sih kayak awal – awal kita bikin, kita masih awal latihan, kita pertama kali keluar orang bingung nunggu vokalnya kok enggak ada vokalnya ini, udah 5 menit sampai 10 menit kok belum ada vokalnya, oh ternyata memang instrumental, kebetulan pada saat itu band – band instrumental di jogja juga sudah ada namun banyak yang hilang dan udah lama enggak terlihat gitu lho, akhirnya ya pada kaget, tapi lama kelamaan kita sering main akhirnya bisa menikmati kalau musiknya memang intrumental, ya alhamdullilah sampai saat ini ada yang seneng. Apakah ini pertama kalinya Niskala main di Semarang ? Ya ini gigs pertama kali Niskala di Semarang, semoga tidak mengecewakan hahaha, tadi lihat rame Semarang, tapi kali ini juga unik di acara Oasis Night ini, kita kan tanpa lirik tanpa vokal nih tapi harus membawakan lagu – lagu Oasis, jadi nanti kita juga akan berkolaborasi dengan teman kita dari Jogja vokal juga ada, jadi nanti dua lagu ada vokalnya khusus malam ini hahaha. Lalu untuk Niskala sendiri Influencenya siapa ? Wah ini yang unik, setiap orang di Niskala itu seleranya beda – beda, contoh aja ya Radiohead, Sigur Ros, yang lainnya dari Pop Punk ada dari indie rock juga ada, bahkan dari film karena kami juga suka nonton Film jadi nonton film dulu terus dapet emosinya dan alurnya baru dibikin musiknya. Jadi dari 5 orang ini karena Influencenya enggak sama ketika masuk studio pas bikin musik hasilnya juga sedikit aneh, tapi itu malah jadi ini nih kalau nilanya Niskala itu ya disini beda dengan yang lain gitu.

terus saya dan adik saya yang namanya Danar itu punya Band Pop namanya Not End, terus Danis itu ada band juga namanya FSTVLST yang namnya sudah besar, tapi di FSTVLST itu Danis pegang Drum di Niskala dia coba pegang yang lain Gitar akustik sama Synth. Mengenai musik si Semarang, band apa saja yang kalian tahu berasal dari Semarang ? Wah banyak Lipstick Lipsing, OK Karaoke, Something Abou Lola, Good Morning Everyone, AK // 47, Ambulance Panic Voice, Sereal hahaha konsisten mereka, sama Moiss. Nah dulu itu gigs pertama Niskala kami main sama Moiss di Jogja hahaha. Kalau teman – teman ingin mendengarkan karya kalian bisa kemana nih ? kami ada soundcloud, ada twitter, ada instagram, ada youtube juga, semuanya menggunakan nama yang sama niskalayk,di soundclud ada satu lagu yang sudah bisa di dengarkan namun belum free download. Harapannya sendiri untuk Niskala Kedepannya ? Ya itu tadi kita berharap semoga kita tahun depan sudah bisa mengeluarkan album itu dulu sih, nanti dari situ kita bisa lihat progreesnya penonton atau penikmat di Jogja atau di Jawa Tengah khususnya gimana responnya tentang Niskala, dari situ nanti kita bisa tahu keseruan – keseruan apa lagi yang akan kita bikin, sama ini sih kalau kami berharap Niskala itu ibarat Rumah jadi Rumah itu dijaga bagaimana biar convert antar personilnya enggak ada gesekan, kalau pun ada gesekan ya saling terbuka aja, yo jenenge nelateni wong lanang ki podo – podo wong lanang yo to hahahaha.

Saat ini kalian berlima kan sudah punya band sendiri – sendiri ya, nah itu bagi waktunya gimana ? Drummer kami si Indra udah punya band Patrick Hilson, Daniel ini juga udah ada band tapi udah bubar hahaha,

35


The Popo, Merangkum Isu – Isu Sosial Dalam Sebuah Karya WORD BY BRIGITAN ARGA SIAM PHOTO BY THE POPO DOC

Semarang – Di tengah hiruk pikuk menjalani hidup yang menyebalkan di kota – kota besar di Indonesia, yang akrab dengan kemacetan, penggusuran, kriminallitas, dan tuntutan hidup yang semakin meningkat adalah hal yang biasa kita temui jika hidup di kota besar. Potret sosial tersebut selalu menginspirasi The Popo, seniman Mural yang biasa menggunakan tembok – tembok perkotaan sebagai kanvas dalam medium berkarya ini. memotret isu – isu sosial yang sedang terjadi dan hangat di sekitar tempat yang akan dia eksekusi untuk berkarya, hal tersebut dilakukan agar karya yang dia ciptakan memiliki kaitan emosional dengan warga sekitar yang mendiami wilayah tersebut. Sebut saja salah satu contoh karya The Popo berjudul “ Demi Fly Over Pohon Game Over ” yang memotret penebangan pohon – pohon, atas dalih pembangunan Fly Over yang membuat lingkungan sekitar yang terdampak menjadi panas. The Popo selalu menyisipkan muatan Humor dalam setiap karyanya, agar pesan yang berat dalam karyanya jadi terasa lebih ringan dan mudah tersampaikan. Simak interview Kontributor Longlife Magazine dengan The Popo seniman Mural asal kota Bekasi di sela – sela dia menikmati acara Update Your City di Impala Space hari sabtu kemarin.

36


Halo selamat malam Popo Selamat malam Longlife Sedang sibuk apa sekarang ? Sekarang itu lagi sibuk bikin project – project mural sosial di beberapa kota, terus lagi ini sih untuk awal tahun mau nyelesain buku ilustrasi tentang Alphuket. Kenapa lebih memilih Alphuket ? Alphuket jadi adalah satu buah yang aku suka banget, terus banyak manfaatnya juga punya pengalaman mendalam juga soal alphuket karena dulu aku punya penyakit Asam Lambung, ternyata sembuh dengan alphuket yaudah makin kesini makin sering makan alphuket. Kalau pemilihan nama Nickname The Popo sendiri itu bagaimana ceritanya ? Biar gampang di inget aja itu mah, biar enggak terlalu apa ya susah lah gitu, biar kalau aku ngetag nama, orang gampang inget. Kalau karakter The Popo yang ikonik sendiri itu bagaimana sejarah lahirnya ? Awal tahun 2001 mau ngegambar muka sendiri gabisa, gak kayak temen – temen di sekolah seni gitu, akhirnya bikin karakter The Popo yang menyerupai muka ku, jadi keterusan karena aku enggak terlalu bisa gambar kan, akhirnya si karakter The Popo sendiri ini selalu mengisi karya – karya mural ku, dia mewakilkan aku sebagai seorang seniman Kalau pertama berkarya sendiri itu tahun berapa ? Tahun 2001. Itu langsung pakai Nickname The Popo ? Iya langsung pake The Popo, bukan crew ya itu, tapi sendiri hehe. Karya apa yang paling berkesan sampai sekarang ? Yang paling berkesan itu karya mural untuk almarhum ayahku, jadi tahun 2013 aku bikin, itu mural yang menurutku ketika ayahku meninggal itu pengen aku sampein rasa terima kasihku tapi ayahku udah meninggal gitu, jadi ya itu mural tanda terima kasih untuk ayahku.

Kalau project yang paling dekat sendiri ? project yang paling dekat ini itu menyelesaikan buku ilustrasi alphuket, kalau engga berubah nanti namanya “Melihat Alphuket Bekerja”. Karya The Popo itu identik dengan pesan – pesan Sosial yang kuat, itu kenapa ? Ya karena itu inspirasi yang gampang di dapet, yang enggak pernah habis, jadi menurutku ini satu hal yang bisa dikatakan ketika aku buka pintu rumah itu inspirasi ada di depan rumah gitu, aku berteman, bertetangga, bersaudara, semuanya inspirasi tetap ada gitu. Ini kayak semacam kehidupan sosial itu kayak ini bahan yang enggak pernah habis untuk dijadikan muatan di karya gitu. Dalam proses kreatif pembuatan karya harus Riset dulu atau bagaimana ? Riset itu bisa kita ambil dari pengalaman pribadi di kehidupan sosial, jadi mural– mural ku kebanyakan mungkin enggak semua tapi kebanyakan rata – rata itu dari pengalaman pribadi, yang muatanya isu sosial ya, kayak ngomongin tentang kemacetan, tentang politik di tengah – tengah warga, tentang perekonomian, tentang sosial itu sendiri, ya itu dari pengalaman pribadi. Tapi ada hal – hal mural – muralku itu yang muatannya humor yang engga masuk diakan itu cuman sekedar bercandaan, Tapi semua berdasarkan pada isu sosial. Di dalam karya The Popo sendiri itu kan pesannya berat sekali ya, tapi selalu di isi dengan humor, nah itu gimana tuh ? Nah itu tadi, sebenarnya kalo aku ya ngeliat lukisan itu berat, ngeliat sebuah karya berat banget, ya jadi ini sih kalo karya – karyaku kayak mempersingkat, mempermudah, mencairkan isu – isu yang menurut orang lain berat gitu. Yangenurut orang lain berat aku selipin humor – humor. jadi ya apapun kalau disampaikan dengan humor menjadi cair.

Karyanya yang untuk ayah yang lilin itu ya ? Iya yang itu namanya Doa, itu ada lima seri, yang lilin, parasut, anak kecil main kuda kudaan, anak kecil lagi coret – coret.

37


Kalau menurut The Popo sendiri, tentang skena Street Art di semarang bagaimana ? Sebenarnya rata – rata scene di indonesia ini, Skena Grafitinya ya merata lah, yang muatanya sebagian besar temen – temen grafiti itu yang masih kiblatnya New York, Brooklyn, ya kultur Hip – Hop kayak gitu. Ya sebenarnya memang itu kiblatnya dari mereka, cuman kita sebenernya punya sejarah sendiri tentang grafiti, gimana mural – Mural itu berdiri di Maros Sulawesi, terus gimana para pejuang kemerdekaan itu menebar Propaganda melalui grafiti saat itu kan, seluruh pemuda di Indonesia tahun sekitar 1940an mempropaganda indonesia atau mati. Itu kan juga sejarah grafiti yang kulturnya juga kuat, jadi ya aku sendiri melihat Skena di Indonesia masih banyak terpengaruh oleh New York yang Hip – Hop Kultur gitu, jadi ya masih sebatas perubahannya dari tahun 2000 kebanyakan enggak semua ya mereka masih statis di jalur itu. Mungkin ada satu dua tiga orang yang kontennya lokal banget, perspektif dia melihat grafiti itu lokal banget gitu ya, tapi ya itu enggak bertahan lama. Kalau pengalaman yang tidak mengenakan selama turun di jalan ada enggak ya ? Ya ditangkap Satpol PP pernah, dari 2001 pernah. Ditangkep dibawa ke kantor Satpol PP suruh bayar denda, tapi ya aku engga lari sih, maskutnya kalo aku ada Satpol PP ya kalo semakin aku lari ya semakin salahlah. Jadi ya kita tuker argumen ya kebanyakan ngobrol sama mereka kenapa aku ditangkep, dengan alasan mereka vandal tapi mereka sendiri enggak tahu arti Vandal itu apa. Mereka dengan alasan aku coret – coret tapi yang aku lakukan itu menggambar buka coret – coret. Ya macam – macam tapi dari semua kejadian mereka yang nyerah gitu. Kalo aku sih hadapi ajalah adu argumen aja, cuman jangan yang menggebu gebu dengan amarah yang kesannya heroik gitu ya enggalah. Inspirasi The Popo sendiri saat memutuskan pertama kali terjun ke dunia mural ini sendiri siapa ? Secara engga langsung itu ayahku ya, karena dia enggak selalu mengijinkan dengan alasan – alasan yang dia bawa ketika aku mau sekolah seni dia bilang engga usah atau engga punya duit kayak gitu ya. Ternyata dia punya Visi Misi tersendiri untuk aku sendiri gitu, yang aku baru sadari ketika beliau meninggal. Dulu dia pernah beberapa waktu sebelum dia meninggal, lagi ngobrol agak serius gitu, jadi ternyata rencana beliau itu tersusun dengan baik ya pada akhirnya ya kayak aku ini. Karena menurut dia kalau aku kuliah di sekolah seni perspektif ku akan hampir sama atau pada umumnya dengan temen – temen yang kuliah seni, kemungkinan besar aku akan punya kesempatan ke arah situ gitu. Maksutnya kemungkinan nanti akan kayak gitu. cuman ketika aku engga kuliah seni aku punya ilmu lain, perspektif cara berkesenian ku beda sama yang lain. Aku mempunyai cara sendiri, punya metode sendiri, ya macam – macam lah yang pada akhirnya bertahan sampai sekarang. Apa yang ingin disampaikan untuk teman – teman di Semarang, khususnya teman – teman Street Art yang masih berkarya di Semarang ? Yang disampaikan ya sebenarnya mereka udah melakukan apa yang mereka sebenarnya mesti lakukan, cuman kalo menurutku ya itu tadi butuh konsisten aja ketika itu sudah berjalan lima tahun sepuluh tahun mereka punya template sendiri, kalau misal kontennya tentang kota, mereka bisa ngelihat kota dengan karya mereka. Jadi sebenarnya mereka sudah mengerjakan apa yang semestinya mereka lakukan, tapi ya itu tadi kulturnya masih Hip – Hop sebenarnya. Kalau menurut pengamatan pribadi, karya The Popo itu dekat sekali dengan Comic ya ?

Nah sebenarnya kalau di comic itu kan kayak satu strip cerita yang teatrikal yang dramatikal, metodenya kayak comic gitu tapi aku terapkan di tembok. Jadi gambarku kayak berbicara sama ruang, berbicara sama orang lain. Mediumnya tetap Mural karena aku pikir itu cara yang paling mudah sih, comic jugakan itu cara yang paling mudah di mengerti sama khalayak luas, jadi ketimbang aku memikirkan estetika yang terlalu bermetafora, pesanku takut engga nyampe gitu. Jadi ya mending comical langsung aja gitu. Karya The Popo itu hampir semuanya kayaknya warnanya merah, hitam, dan putih ya ? itu di sengaja dalam pemilihan warnanya atau bagaimana ? Karena warna merah itu kan The King of Color ya, jadi merah itu udah nih rajanya warna gitu, di cat aja yang paling mahal itu merah, dan kenapa paling mahal karena merah itu punya daya tarik khusus gitu. Kalau hitam dan putih itu sendiri ketika disandingkan dengan warna merah itu jadi warna yang sangat sederhana dan kontras, jadi sebenarnya sesuatu yang kontras itu bagus ketika mereka bekerja sama. Jadi pemilihan warna merah, hitam dan putih itu udah aku rencanakan karena biar menarik perhatian mata dijalan. Kalau The Popo sendiri pernah membuat karya dengan ukuran raksasa ? Kalau besar belum, tapi kalau panjang pernah, itu 300 meter letaknya di Jakarta namanya Kali Opak Movement itu dibantu beberapa warga yang ada disana. Jadi karya itu melibatkan warga sekitar ya ? Iya, karena powernya ada disitu. Makanya muralku beberapa tahun belakangan ini jarang dihapus karena warga merasa memiliki. Beberapa karya The Popoh sangat berkesan, salah satunya adalah “Demi Fly Over Pohon Game Over” nah karya itu sendiri menceritakan tentang apa sih ? Itu karena cerita tiap hari aku lewat jalan situ terus ada pembongkaran karena akan dibangun Fly Over, pohon – pohon di tebang. se simpel itu sih, ini bakalan jadi panas nih daerah sini, terus aku ngetag di tembok – tembok sekitar Fly Over bertuliskan “Demi Fly Over Pohon Game Over”. Pendapatnya orang – orang sekitar situ sendiri gimana ? Mereka enggak ngelarang aku sih, karena mereka juga merasakan hal yang sama. Ini mendekati ujung, harapan The Popo Sendiri untuk kedepannya gimana ? Aku mempunyai harapan yang sangat besar dengan kesehatan, karena kalau kita sehat kita bisa ngapain aja, bisa membantu orang lain dan bisa tetap berkarya. Ohh oke terimakasih untuk waktunya dalam wawancara singkat ini, semoga karya dari The Popo dapat selalu memberikan kontibusi positif bagi kemajuan negara ini. Baik sama – sama Longlife, semoga dapat menjadi media informasi yang menginspirasi kami semua.

38


39


Te


TECHNOLOGY


Xiaomi Rilis Mi Notebook Air 4G WORD BY SATRIA JAVA S PHOTO BY GIZMO CHINA

Beijing – Vendor asal Tiongkok, Xiaomi, resmi meluncurkan laptop terbaru Mi Notebook Air dengan koneksi 4G. Xiaomi merilisnya bersama perusahaan China Mobile di Beijing, Tiongkok. Laptop terbaru dari Xiaomi yang di namakan Mi Notebook Air ini adalah laptop generasi kedua yang dimiliki Xiaomi. Laptop ini dibekali dengan fitur menarik, yakni sebuah slot kartu SIM yang mendukung koneksi 4G LTE. Notebook ini merupakan produk hasil kerja sama dengan perusahaan telekomunikasi China Mobile. Mi Notebook Air 4G ini merupakan generasi kedua dari produk Notebook keluaran Xiaomi. Pada generasi keduanya ini, body Xiaomi tidak seramping body generasi pertamanya. Dan disebut-sebut Notebook ini akan menjadi pesaing berat Apple iPad Air ataupun MacBook Air. Namun Xiaomi masih tetap mempertahankan desain orisinilnya yang ramping. Keunggulan lain yang diusung pada generasi kedua Notebook Xiaomi ini adalah sudah disematkannya fitur yang mendukung untuk konektivitas 4G LTE, tanpa harus menggunakan kartu SIM. Selain itu juga prosesor yang digunakan adalah prosesor jenis terbaru yaitu prosesor Intel Core i7. Mi Notebook generasi kedua ini ada dalam dua pilihan ukuran, yakni 13,3 inci dan 12,5 inci. Masing-masing ukuran tersebut pun memiliki spesifikasi berbeda. Untuk Xiaomi Mi Notebook Air 4G ukuran 12,5 inci, dilengkapi dengan prosesor Intel Core M3. RAM yang diusung juga berukuran 4 GB. Notebook ini juga dilengkapi dengan memori penyimpanan berupa solid state drive be-

rukuran 128 GB. Baterainya pun diklaim bisa tahan lama hingga maksimal sekitar 11,5 jam. Ada juga speaker khusus buatan AKG, yang sudah dirancang mendukung Dolby. Sedangkan untuk Xiaomi Mi Notebook Air 4G ukuran 13,3 inci, sudah menggunakan prosesor intel Core i7 3,0 GHz. RAM yang diusung berukuran 8 GB DDR4. Notebook ini juga dilengkapi dengan memori penyimpanan berupa solid state drive berukuran 256 GB. Baterai yang disematkan juga dapat bertahan hingga 9,5 jam. Mi Notebook Air 13,3 inci ini memiliki sebuah alat pemrosesan grafis Nvidia GeForece 940MX yang merupakan kartu grafis yang mendukung DirectX12, CUDA, PhysX serta bisa meningkatkan efek game hingga dua kali lipat serta bisa dipakai untuk menjalankan aplikasi AutoCAD atau Photoshop merupakan kartu grafis yang mendukung DirectX12, CUDA, PhysX serta bisa meningkatkan efek game hingga dua kali lipat. Dua laptop terbaru Xiaomi Mi Notebook Air memiliki speaker AKG yang menawarkan suara jernih dan enak didengar. Koneksi Internet 4G yang ada di Mi Notebook Air disediakan perusahaan telekomunikasi China Mobile. Melihat spesifikasi yang ditawarkan, laptop terbaru Mi Notebook Air 4G berlayar 12,5 inci dijual US$677 atau sekitar Rp9,1 juta. Sedangkan Mi Notebook Air 4G dengan layar 13,3 inci dilego US$1.004 atau Rp13,5 juta. Untuk peluncuran di pasar internasional masih menunggu kabar dari sang vendor.

42


Mijia, Skuter Elektrik Yang Unik dari Xiaomi WORD BY SATRIA JAVA S PHOTO BY GIZMOCHINA.COM

Beijing – Perusahaan gadget dan smartphone asal negera China Xiaomi, kini telah melebarkan sayap bisnisnya ke berbagai produk elektronik. Tak hanya smartphone dan gadget yang selalu terbarukan oleh Xiaomi, namun perusahaan ini juga menciptakan perangkat lain yang mempermudah perjalanan. Kali ini Xiaomi mencoba menghadirkan sesuatu yang baru, yakni sebuah skuter yang rencananya akan di rilis 15 Desember 2016 besok. Dalam kabar yang beredar disebutkan bahwa Xiaomi bakal memperkenalkan sebuah kendaraan baru. Ternyata kendaraan tersebut bukanlah sebuah mobil, melainkan skuter elektrik dan praktis bernama Mijia. Sepeda roda dua ini memiliki ukuran yang lebih kecil dan lebih portabel ketimbang QiCycle, serta harga yang lebih murah. Xiaomi Mijia akan dirilis tanggal 15 Desember pukul 10:00 waktu setempat dengan harga 2000 Yuan, atau sekitar Rp. 3,8 jutaan. Untuk membawa seseorang dengan bobot 75 kilogram, Mijia bakal mampu melaju hingga jarak 30 kilometer dalam sekali isi ulang baterai. Bicara tentang sumber tenaga, Mijia memiliki baterai 280 Wh (LG 1850 lithium). Motor berkekuatan 500 W ini bisa melaju hingga kecepatan 25 km/jam. Skuter ini memiliki sistem KERS, berikut dengan rem cakram yang bisa berhenti total sekitar 4 meter setelah pengereman. Perusahaan raksasa smartphone di China ini akan menawarkan skuter terbarunya Xiaomi Mijia ini dalam dua warna pilihan, Putih dan Hitam. Kepraktisan Mijia ini adalah bisa dilipat dalam tiga detik saja. Dengan bobot 12,5 kilogram, kendaraan ini bakal menjadi skuter yang sangat portabel dan bisa dibawa ke mana saja sehingga mudah untuk menyimpannya. Skuter elektrik ini juga dapat terhubung dengan perangkat smartphone. Tentu saja banyak keuntungan bila menghubungkan skuter ini dengan smartphone, seperti dapat mengetahui kecepatan laju skuter, memantau sisa baterai, serta jarak yang sudah ditempuh. Bahkan pada aplikasi tersebut juga dapat memberitahu bila ada sesuatu yang tidak beres. Bila terjadi kesalahan pada baterai, aplikasi juga akan memberikan peringatan secara otomatis.

43


Kodak Ektra, Smartphone Dengan Kamera 21 Megapiksel WORD BY SATRIA JAVA S PHOTO BY EPHOTOZINE.COM

New York – Bagi pecinta fotografi nama Kodak pasti sudah tak asing lagi, sumua produknya sudah bisa dipastikan berupa kamera. Namun, perusahaan yang dulunya dikenal sebagai produsen kamera, saat ini sudah tak lagi membuat kamera film. Sebagai gantinya, perusahaan ini berusaha membuat smartphone baru untuk beberapa tahun. Seperti diketahui beberapa waktu lalu di 2016 Kodak telah mengumumkan smartphone Kodak Ektra tepatnya pada Oktober lalu. Bahkan pihak Kodak mengabarkan jika smartphone tersebut siap dipasarkan pada 9 Desember mendatang. Smartphone Kodak Ektra mendukung desain yang unik dan pihak perusahaan kodak telah membeberkan bahwa smartphone terbarunya akan mirip dengan kamera klasik abad ke-20. Tidak hanya itu, smartphone Kodak Ektra akan menonjolkan kamera untuk fotografi yang lebih sempurna. Sedikit ketahui spesifikasi kamera Kodak Ektra yang telah menggunakan sensor 21 MP dengan dukungan fitur PDAF, OIS, f/2.0 aperture, dual LED Flash serta akan membantu untuk pencahayaan yang lebih optimal. Jika melihat kesan pertama dari Kodak Ektra ini, Anda mungkin akan berfikir jika smartphone ini dirancang dengan bentuk menyerupai kamera Kodak Ektra yang telah dirilis perusahaan pada tahun 1941, tapi Anda tidak salah karena smartphone ini memang memiliki desain yang serupa. Tak hanya itu saja, Kodak Ektra juga akan mampu rekam video 4K dengan menggunakan lensa belakang serta memiliki opsi manual dalam pengambilan gambar yang bisa sesuai dengan yang anda harapkan. Bila melihat spesifikasinya smartphone dengan desain mirip kamera ini hadir dengan layar 5 inci beresolusi Full HD. Juga didukung dengan prosesor Helio X20 deca-core, yang disandingkan dengan 3GB RAM dan 32GB ROM. Smartphone ini hadir dengan kapasitas baterai sebesar 3.000mAh dan dengan kamera depan yang memiliki resolusi sebesar 13MP untuk selfie atau video call, sedangkan sistem operasi Kodak Ektra sudah mendukung Android v6.0 Marshmallow. Untuk penjualan pertama kali, Kodak Ektra akan tersedia di pasar Jerman terlebih dahulu sebelum hadir di negara-negara lain di seluruh dunia. Smartphone Kodak Ektra di Eropa dibanderol ₏499 atau sekitar Rp7,1 jutaan. Sedangkan untuk pasar Indonesia harganya akan lebih dari itu, namun belum diketahui secara pasti kapan smartphone Kodak Ektra ini akan masuk ke Indonesia.

44


Fujifilm Luncurkan X-A10, Kamera Mirrorless Murah Meriah WORD BY SATRIA JAVA S PHOTO BY FUJIFILM.COM

Perangkat kamera mirrorless saat ini sudah terbilang banyak karena hampir masing-masing merek seperti Sony, Canon, Nikon telah memproduksinya. Tak mau ketinggalan, pabrikan kamera Fujifilm pun kembali ke pasar dengan perangkat kamera terbarunya dengan fitur terkini. Fujifilm mengumumkan kamera mirrorless terbarunya, X-A10. Ini merupakan kamera dengan harga termurah di seri mirroless X bikinan Fujifilm. Kamera yang berada di kelas pemula ini dibanderol seharga 499,95 dollar AS atau sekitar Rp 6,7 juta. Harga tersebut dibanderol untuk paket bodi kamera plus lensa kit 16-50mm f/3.5-5.6 OIS II. Meski merupakan kamera baru, X-A10 ini sebenarnya masih mirip dengan X-A2. Kemampuan dan “jeroannya� pun mirip. Namun X-A2 yang merupakan pendahulunya itu, saat perilisan dibanderol lebih mahal, yakni 550 dollar AS atau sekitar Rp 7,4 juta. Sensor yang digunakan pada kamera X-A10 ini adalah APS-C sebesar 16 megapiksel dengan filter warna Bayer. Kemampuan merekamnya memang tidak mampu mencapai resolusi 4K, hanya mempu diresolusi Full HD dengan kecepatan 30p, 25p atau 24p selama 17 menit. Menggunakan shuter elektrikal, kecepatan menjepret X-A10 hingga 1/32000 detik. Dengan mengandalkan tingkat efisiensi yang tinggi, disebut-sebut kamera ini mampu mengambil gambar hingga 410 foto. Selain itu, ada layar LCD seluas 3 inci dengan 1.040.000 dot yang dapat ditekuk hingga 180 derajat. Tentu ini ditujukan bagi para konsumen yang gemar selfie. Bahkan

Fujifilm mengatakan bahwa sensor kamera saat digunakan untuk selfie akan otomatis mendeteksi mata, sehingga hasil jepretan lebih maksimal. Selain itu, Fujifilm juga menyelipkan beberapa fitur yang spesifik bertujuan memudahkan kegiatan selfie. Antara lain berupa eye-detection AF yang otomatis menyala di mode selfie, mengubah tombol dial di bagian belakang menjadi alat kendali shutter, dan pendeteksi yang membuat kamera otomatis memotret saat mengetahui subjek sedang tersenyum. Bahkan, raksasa fotografi Jepang itu juga menambahkan sebuah Portrait Enhancer, yakni mode yang berfungsi membuat kulit subjek foto jadi lebih mulus dan putih. Pengguna X-A10 pun bakal mendapatkan sebuah sensor APS-C setajam 16,3 megapiksel, yang memakai sususan filter warna Bayer, bukan X-Trans. Ada juga kemampuan bawaan berupa ISO yang mencakup rentang 200 hingga 6400, dan bisa diperluas hingga 25.600. Namun kabarnya Fujifilm Mirrorless X-A10 ini rencananya akan mulai dijual di sejumlah negara pada Januari 2017. Paket penjualan yang disertakan juga mencakup lensa XC1650mm f/3.5-5.6 OIS II dengan harga yang tergolong murah, yakni sekitar 499 USD atau berkisar 6,74 juta Rupiah. Tapi belum diketahui secara pasti kapan kamera ini akan masuk ke Indonesia.

45


Zotac VR Go Backpack PC, Cara Baru Bermain Game Virtual Reality WORD BY SATRIA JAVA S PHOTO BY ZOTAC.COM

Hongkong – Zotac telah memperkenalkan perangkat PC atau komputer jinjing yang bentuknya menyerupai tas ransel. Zotac VR GO Backpack, merupakan perangkat komputer yang ditujukan untuk konsumen yang ingin menjajal sensasi berbeda dalam memainkan game Virtual Reality. Perangkat ini pada intinya berbentuk PC Game kecil, tetapi dapat disandingkan dengan Harness yang memungkinkan anda dapat membawa sistem itu di punggung anda seperti Tas Ransel. Di dalam chassis kecil VR Go ini terdapat Kartu Grafis NVIDIA GeForce GTX 1070 dengan VRAM 8 GB, Sebuah CPU quad-core, kemampuan Input/Output yang baik serta Baterai yang Hot Swappable (mudah untuk melakukan cabut pasang). Zotac VR Go juga dapat digunakan sebagai PC normal saat tidak bermain game di luar rumah. Tantangan bagi PC berbasis Sistem Form Factor (SFF) ini terletak pada pendinginnya, apalagi bila terdapat kartu grafis sekelas PC Desktop di dalamnya. Zotac VR GO memiliki port yang diperlukan untuk menghubungkan Headset VR dengan berbagai pilihan konektivitas termasuk output HDMI, Dual USB 3.0 dan konektor power. Baterai yang mudah dilepas pasang (The Removeable Battery), memungkinkan perangkat ini dapat beroperasi dimana saja. Adapun pilihan konektivitas lainnya ialah port USB 3.0, SD Card reader, Dua Output HDMI, Dua Output DisplayPort, Dual Gigabit Ethernet, dan sepasang 3.5mm input headphone. Dengan Perangkat Keras (Hardware) termasuk Prosesor Intel Core i7, Dual DDR4 SODIMM, SSD M.3, WiFi, dan kartu grafis GeForece GTX. Tersedia juga tempat untuk HDD 2,5 inci atau SSD. Untuk kapasitas daya Zotac VR GO memiliki dua buah battery yang memiliki kapasitas 6000mAh, dan dapat digunakan hingga 2 jam penuh saat bermain. Perusahaan VGA asal Hongkong ini mematok harga Zotac VR GO Backpack dengan nominal yang terbilang cukup mahal, karena perangkat komputer gaming ini dibanderol dengan harga 2.000 USD atau sekitar 27 juta Rupiah.

46


47


T

74


TRAVEL


Sapu Lidi Cafe, Resort & Gallery Bertemakan “Nature” WORD BY RIZKI FEBRIAN YP PHOTO BY TRIPADVISOR

Bicara soal traveling memang tidak ada habisnya. Apalagi di era yang semakin maju ini. Setiap orang mengunjungi tempat wisata menarik bukan hanya untuk berlibur saja, melainkan untuk keperluan hunting foto. Inilah yang sering dilakukan para remaja masa kini. Sehingga banyak sektor yang memanfaatkan momen ini dengan menciptakan atau memperbaiki obyek wisata yang sudah ada. Contohnya tempat wisata di Lembang Bandung yang akan kita bahas. Lembang merupakan salah satu kecamatan yang berada di Bandung Barat. Di daerah ini suhunya mencapai 17 derajat selsius. Ini karena Lembang terletak pada dataran tinggi antara 1.312m hingga 2.080m diatas permukaan laut. Titik tertingginya ini berada di puncak gunung Tangkuban Parahu. Hawa yang sejuk serta pemandangan alam yang masih asri, dianggap wisatawan dapat menghilangkan stres maupun penat. Satu tempat wisata kuliner menarik di Lembang yaitu Sapu Lidi. Namanya terdengar aneh dan bikin penasaran. Konsep yang dituangkan pada obyek wisata ini bertemakan “nature”. Dimana kamu bisa menyantap kuliner yang lezat di saung – saung tradisional lengkap dengan pemandangannya. Kamu akan disuguhkan dengan danau serta sawah – sawah hijau. Suasana tenang dan sunyi juga sangat cocok digunakan oleh wisatawan yang ingin kabur dari hiruk piuknya kesibukan di kota. Dari tempat dan namanya terdengar seperti spot wisata yang mewah dan mahal. Nyatanya bukan seperti itu, menu makanan yang ada di sini harganya cukup terjangkau. Tidak menguras kantong saat liburan, mulai dari 30 ribu hingga kurang dari 100 ribu. Untuk minumannya sendiri juga masih tergolong murah. Dari 5 ribu sampai dengan 35 ribu. Dimalam hari, suasana Sapu Lidi sangat romantis dengan hiasan lampu – lampu kuning dan udara sejuk khas Lembang. Hal ini yang menjadikan Sapu Lidi sebagai tempat wisata favorit para pasangan muda ataupun suami istri yang ingin bernostalgia. Tertarik ingin menyinggahi salah satu tempat wisata kuliner terbaik di Lembang ini? Datang saja ke kompleks Graha Puspa, tepatnya di jalan Sersan Bajuri Lembang, Bandung Barat.

50


51


E


EVENT


Update Your City, Melukis Semarang Dalam Bentuk Graffity dan Mural WORD BY SATRIA JAVA S PHOTO BY DOC. UYC

Semarang – Komunitas graffiti dan street art Kota Semarang kembali menuangkan karya seni mereka melalui kegiatan Update Your City yang di pelopori oleh salah satu majalah lokal yakni Kind Magazine. Beragam imajinasi mereka tuangkan melalui beberapa material di dinding yang ada di komplek area Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Kota Semarang, pada Minggu (27/11). Update Your City adalah sebuah kegiatan yang digagas oleh Kind Magazine yang bertujuan untuk membuka perspektif masing – masing pelaku seni street art maupun masyarakat umum tentang dampak street art di ruang lingkup kota, serta agar pelaku seni lokal lebih peduli tentang budaya maupun sejarah kota nya yang dimana mereka mengemasnya kembali sesuai dengan sudut pandang maupun gaya mereka lewat karya seni graffiti dan mural. Kind Magazine sendiri adalah sebuah majalah online yang mengulas seputar Graffiti dan Street Art di Indonesia sejak tahun 2010. Pada tahun ini mereka menggelar kegiatan yang bertemakan “Update Your City”. Selain acara live graffiti perform di TBRS tersebut, beberapa kegiatan lain juga dilaksanakan di lokasi yang berbeda, seperti City Mapping, Photograffity Competition, serta Workshop & Presentation. Graffity dan mural sering digambar diruang terbuka sehingga tidak hanya menuangkan karya seni semata tapi juga sebagai sarana dalam berekspresi serta mempunyai jenis yang berbeda – beda. Kegiatan Update Your City

ini menggunakan jenis style graffiti letters dan characters yang mempunyai makna yang luas apabila dipadukan. Dalam acara ini ada masing – masing 10 writter untuk style letters dan characters dengan jumlah total 20 writer graffiti termasuk mural yang dimana menggambarkan tempat – tempat yang mencirikhaskan Kota Semarang. Kebereadaan graffiti dan street art di Kota Semarang sekarang sudah semakin berkembang. Hal itu dibuktikan oleh banyaknya writter yang turut serta meramaikan acara Update Your City dengan menggambar Lawang Sewu, Tugu Muda, Warak Ngendok, Gereja Blenduk dan ikon Kota Semarang lainnya dalam bentuk graffity dan mural yang mempunyai karakteristik berbeda dari tiap writter yang melukiskannya di area tembok TBRS Kota Semarang. Update Your City sendiri baru pertama kali digelar, rencananya acara ini akan bersifat seperti tur yang dimana nantinya Kind Magazine akan terus menjadi penggerak dan menuju 10 kota besar di Indonesia untuk menyelenggarakan acara semacam ini, namun sesuai dengan konteks masing – masing kota, dimana masing – masing kota mempunyai keunikan dan ciri khas tersendiri, acara ini nantinya akan membaur dengan budaya masing – masing kota, sehingga susunan mini event tiap kota pun akan dapat berbeda satu sama lain.

54


55


Wall of Fades 2016 : Evolusi Jeans Sebagai Pakaian Sehari Hari WORD BY YOSTRIA GINTARSA PHOTO BY YOSTRIA GINTARSA

Jakarta – Selama lebih dari 7 tahun terakhir, Wall of Fades yang dihelat oleh INDIGO atau Indonesia Denim Group selalu berhasil menghidupkan antusiasme para denim heads tanah air. Event tahunan ini merupakan sarana apresiasi dan edukasi bagi para pecinta denim tanah air yang setiap tahunnya selalu tumbuh. Tahun ini, Wall of Fades dengan mengusung tema “Jeans as Daily Wear” menyuguhkan rangkaian edukasi berbagai styling yang meliputi street wear,casual style, monochrome style, hingga formal wear dengan menggunakan denim sebagai elemen utama. Gelaran akbar ke 7 yang dihelat di Kuningan City, Jakarta ini, selain denim education & exhibition sebagai suguhan konten utama, Wall of Fades juga memiliki daya tarik lain yang selalu sukses menyedot perhatian pengunjung. Yaitu kehadiran Local Brand Market dimana terdapat 38 tenat dari local brand kenamaan yang telah melewati proses kurasi yang ketat dari segi kualitas produk hingga reputasi brand. Mereka diberikan kesempatan untuk menampilkan koleksi terbaik mereka, hingga berinteraksi dengan pengunjung. Hal ini merupakan salah satu upaya Wall of Fades sebagai platform yang membantu melahirkan serta memelihara kelangsungan pertumbuhan local brand berkualitas di tanah Air. Selain denim exhibition dan local brand market, Wall of Fades menghadirkan suguhan menarik lainnya dengan menghadirkan Ben Sihombing, KLAV+RL, Indobeatbox, Beergans, dan Tristan & Zaki sebagai pengisi acara. Berbagai genre musik dihadirkan diacara ini yang membuat Wall of Fades menjadi meriah. Longlife Magazine sebagai media partner dari Wall of Fades 2016 “ Jeans as Daily Wear “ merasa beruntung telah berkesempatan hadir dalam event tahunan ini. Semoga Wall of Fades bisa terus menghadirkan konten edukasi menarik setiap tahunnya.

56


57


JIIVA, Gambaran Jiwa Dalam Karya Fotografi WORD BY SATRIA JAVA S PHOTO BY DOC. JIIVA

Semarang – Mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang kembali menggelar sebuah kegiatan yang mengapresiasi karya seni. JIIVA begitulah nama gelaran pameran foto yang diadakan oleh PRISMA (Perhimpunan Seni Foto Mahasiswa ) salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang yang bergerak di bidang fotografi. Pameran Foto ini digelar selama 5 hari, dari tanggal 1-5 Desember 2016, dan bertempat di Gallery 360 (widya mitra) Jalan Mt Haryono 360 Kota Semarang. Jiiva adalah pagelaran pameran foto tahunan yang setiap tahunnya diadakan oleh UKM Prisma Universitas Diponegoro Semarang. Untuk tahun 2016 ini adalah pameran fotografi Prisma Undip angkatan XXVII yang juga merupakan pameran akhir kepengurusan angkatan UKM Prisma ke 27. Tujuan diadakannya pameran ini adalah untuk menghasilkan karya atas pembelajaran mahasiswa yang sudah tergabung di dalam UKM Prisma Undip selama kurang lebih 2 tahun. Kata Jiiva sendiri merupakan kata yang berasal dari bahasa sansekerta yang artinya roh, dengan maksud masing – masing pameris yang mengambil foto dapat mencerminkan ekspresi dalam Jiwa yang dituangkan dalam sebuah karya fotografi. Sehingga hasil foto yang diciptakan mempunyai makna yang dalam dari penciptanya.

Pameran Jiiva ini terdiri dari beberapa jenis foto, seperti foto series dan story dengan cerita yang berbeda – beda namun memiliki makna jiwa tersendiri berdasarkan persepsi dari masing – masing pameris di pagelaran pameran foto ini. Pameran fotografi Jiiva ini dibuka oleh pembina UKM Prisma dan koordinator yayasan widya mitra yang juga sekaligus kurator yakni Aji Susanto Anom Yokss dari lensculture dan angkorphoto. Dalam gelaran pameran foto ini tidak hanya memamerkan karya seni dari mahasiswa yang tergabung dalam prisma saja, namun dalam kegiatan pameran foto ini juga diselipkan dengan sebuah talkshow yang bertema ” Personal Project ” yang juga disampaikan oleh Pembina UKM Prisma Aji Susanto Anom Yokss. Kegiatan ini dibuka untuk umum dan gratis sehingga siapapun dapat menghadirinya. Pameran Fotografi ini rencananya kedepan akan terus diadakan dan setiap tahunnya dari UKM Prisma Undip akan terus memperbarui ide – ide dan konsep acara agar lebih menarik serta lebih meriah sehingga dapat menarik minat orang lain terhadap karya seni fotografi dan bisa menghasilkan karya – karya yang lebih bisa memberikan manfaat untuk masyarakat luas.

58


Bergembira Bersama di Artmosphere 2016 WORD BY DEGA BINTANG PHOTO BY RYAN AMIGO

Semarang – Gelaran Artmosphere yang dihelat oleh HMJ Manajemen Universitas Negeri Semarang berhasil dilaksanakan kemarin Sabtu, 10 Desember 2016. Dihelatan yang ke dua ini, sang empu acara memboyong Efek Rumah Kaca sebagai guest star. Tidak hanya itu, turut juga Legit!, Offside Mouth, Pingkel Standing, Serempet Gudal, dan Oswag Hilo yang memanaskan venue malam itu. Gelaran ini merupakan gelaran yang ke dua kalinya, setelah ditahun sebelumnya sudah pernah digelar Artmosphere yang pertama. Namun Artmosphere di tahun ini memiliki konsep yang berbeda dengan tahun sebelumnya. Di tahun ini para pemuda kreatif ini keluar dari zona nyamannya, mereka memilih Stadion Diponegoro sebagai venue untuk menghelat acara kali ini. Namun cuaca kurang bersahabat ketika hujan sempat mengguyur venue. Walaupun hujan sempat mengguyur namun acara tetap berlangsung. Dibuka pukul 16.00 WIB, beberapa band kolektif langsung menghentak panggung sore itu hingga break pada pukul 17.30 WIB. Setelah break istirahat sejenak, acara dilanjutkan oleh penampilan Offside Mouth. Band pop punk yang sudah terbentuk sejak 2010 ini lansung menghentak venue dengan track andalannya. Bermain selama 45 menit kini saatnya Legit! untuk mengeluarkan syair rap mereka. Menghadirkan musik yang berbeda dari pengisi acara yang lain, Legit! memberikan penampilan yang mengesankan untuk penonton malam itu. “Legit! selalu mengesankan saat diatas panggung, keren.� begitulah kata Fajar salah satu penonton yang datang malam itu. Kini saatnya Pingkel Standing yang menggantikan giliran Legit! untuk bergembira bersama. Band yang beranggotakan 9 orang ini sukses mengajak penonton untuk berjamming bersama mereka. Tak puas rasanya ketika 8 lagu yang dimainkan harus diakhiri malam itu karena mereka harus bergantian dengan Serempet Gudal. Ya, Serempet Gudal orkes band andalan Kota Semarang ini hadir malam itu. Kehadiran Serempet Gudal mampu menambah ramainya suasana malam itu. Band yang tengah menyelesaikan dapur rekaman mereka ini selalu membawa suasana ceria lewat celotehan khas Semarang dan lagu yang mereka bawakan.

59


Setelah Serempet Gudal meramaikan venue, ada perubahan jadwal penampil yang seharusnya giliran dari Efek Rumah Kaca namun kini digantikan oleh Oswag Hilo yang seharusnya bermain dipenghujung acara. Hal ini disebabkan oleh Efek Rumah Kaca mengalami kendala dalam transportasi ketika akan berangkat menuju Kota Semarang. Oswag Hilo yang mengambil alih panggung pun mampu memuaskan penonton lewat beat edm yang mereka mainkan. Tidak hanya musik edm yang dimainkan namun mereka juga mengkolaborasikan dengan gitar dan drum yang menyatu dalam satu beat yang dimainkan. Satu jam berlalu dengan penuh sukacita bersama Oswag Hilo, akhirnya Efek Rumah Kaca tiba diatas panggung. Personil Efek Rumah Kaca tiba dahulu tanpa tim produksi dan alat untuk manggung mereka. Akhirnya Efek Rumah Kaca bermain dengan meminjam alat dari Oswag Hilo dan Serempet Gudal. Hal tersebut tidak membuat penonton kecewa karena Efek Rumah Kaca mampu bermain apik diawal penampilannya. Setelah dua lagu dimainkan, tibalah tim produksi mereka. Sempat berbenah kemudian Efek Rumah Kaca melanjutkan penampilan mereka. Menampilkan beberapa lagu dari 3 albumnya, Efek Rumah Kaca yang hadir tanpa Cholil mampu mengobati rasa rindu dari fans mereka. Penampilan kali ini membawa kembali Adrian ke Kota Semarang sejak tahun 2010 ketika Adrian terakhir kali bermain di Kota Semarang. Menutup malam itu dengan Desember, penonton masih belum puas dan akhirnya Efek Rumah Kaca menutup dengan Cinta Melulu. Acara yang sangat bagus dari mahsiswa Jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang. Semoga acara ini dapat kembali digelar tahun depan.

60


61


Dinasty 2016 : Pesta Perayaan 59 Tahun Universitas Diponegoro WORD BY A. LUTHFI MAAJID PHOTO BY HENGGAL W & REFLY DEVANDANU

Semarang – Dinasty merupakan sebuah karya entertainment yang telah menutup dan memeriahkan serangkaian acara yang telah diadakan untuk memperingati HUT Universitas Diponegoro yang ke-59. Tak hanya artis nasional yang diundang panitia Dinasty yang kali ini dipegang oleh anak-anak Fakultas Teknik, mereka juga mengikutsertakan kolaborasi dari UKM/UPK seni yang ada di Universitas Diponegoro itu sendiri guna unjuk gigi akan bakat-bakat yang dimiliki Universitas Diponegoro. Acara digelar pada Jumat (16/12) dengan mengambil tempat di Stadion Universitas Diponegoro, yakni di kandang mereka sendiri. Tak banyak acara-acara yang diadakan oleh mahasiswa Universitas Diponegoro yang bisa menggunakan tempat tersebut. Semua bintang tamu berhasil membius penonton dari berbagai kalangan, Endah N Rhesa dengan gaya andalan romantis pasangan suami istri, Barasuara dengan Gerald Situmorangnya, Maliq & d’Essentials dengan koreografinya, sampai The Changcuters yang sangat energik a la The Rolling Stones. Sayangnya, penampilan yang disuguhkan oleh Universitas Diponegoro itu sendiri justru kurang matang, padahal seharusnya sajian seperti dikemas sebagaimana mungkin agar dapat menyita perhatian penonton karena inilah yang membedakan dengan konser-konser band pada umumnya. Selain itu, karena waktu yang sudah terlalu malam, sajian-sajian

dari Undip tersebut justru membuat penonton malas karena makin tertunda untuk menonton bintang tamu yang mereka tunggu-tunggu. Ketepatan waktu menjadi permasalahan paling utama. Dari rundown resmi yang dikeluarkan oleh pihak Dinasty, Endah N Resha sebagai guest star yang pertama tampil, dijadwalkan pukul 18.15. Namun, duo folk asal Jakarta tersebut baru naik panggung sekitar pukul 20.30. Alhasil, ke tiga bintang tamu yang tersisa pun terpaksa mundur jadwal dan acara baru selesai kurang lebih pukul 1.30. Jam yang semalam itu sebenarnya tidak efektif mengingat crowd penonton yang optimal biasanya sampai pukul 11 atau 12 malam. Ditambah lagi, dengan jadwal yang terlalu larut rawan menimbulkan isu keamanan dengan polisi dan warga sekitar. Untungnya, penonton tetap ramai dan energik karena memang bintang tamu yang ditunggu-tunggu dan juga tidak terdapat permasalahan keamanan. Terlepas dari kekurangan tersebut, acara ini berlangsung lancar dan tak ada permasalahan. Jumlah penonton juga terbilang cukup ramai.

62


63


Cerita Besar di Smansix Euforia 2016 WORD BY DEGA BINTANG PHOTO BY BAGUS ADITYA & ADRIAN REYNALD

Semarang – Smansix Euforia yang sudah digelar sekian tahun kini mengulang kesuksesannya diujung tahun 2016. Cuaca yang mendukung dari sore hari membuat pentas seni yang digelar Sabtu, 17 Desember 2016 berjalan secara lancar. Mengusung tema “La Grande Storia” yang berarti cerita besar, sang empu acara menginginkan bahwa dari acara ini akan memiliki sebuah cerita besar untuk setiap penonton yang datang. Acara yang bertempat di lapangan SMAN 6 Semarang ini digelar mulai pukul 16.00 langsung diramaikan penonton dan dibuka oleh band kolektif yang saling berbagi panggung secara bergiliran hingga adzan maghrib berkumandang.

beberapa lagu yang dimainkan semalam. Lagu yang dimainkan adalah beberapa lagu yang sedang hits saat ini hal ini membuat suasana semakin ramai dengan Sheryl mengajak penonton untuk bernyanyi bersama. Penyanyi yang sedang menyelesaikan album terbarunya ini menutup malam itu dengan single andalannya yaitu Ku Tunggu Kau Putus.

Setelah break ishoma acara berlanjut dengan sambutan dari Kepala Sekolah SMAN 6 Semarang kemudian ada Mahakarya SMAN 6 yang dipersiapkan secara khusus oleh siswa – siswi SMAN 6 Semarang. Mahakarya ini menampilkan grup musik yang menyanyikan beberapa lagu populer yang dikemas secara berbeda dan beberapa tarian yang sangat menghibur. Merupakan sebuah sajian yang istimewa dari para pemuda kreatif yang tergabung di Mahakarya SMAN 6. Kemudian panggung diambil oleh Djimbot yang memainkan instrumen electronic dance music. Selama 45 menit penonton diajak bergoyang dengan alunan beat remix dari Djimbot.

Asik bermelo ria bersama Sheryl, Smansix Euforia juga menyuguhkan musik rock dari band asal Bandung yaitu, The Sigit. Band yang beraliran hard rock ini tampil pada pukul 21.30 WIB. Membuka penampilan dengan track Detourn, The Sigit langsung mengajak penonton untuk berjingkrak. Memilih track lebih banyak dari abum terbarunya yaitu Detourn, The Sigit tampil sangat maksimal malam itu. Di penghujung acara tibalah Hivi untuk menutup cerita dari Smansix Euforia. Hivi yang beberapa kali datang ke Kota Semarang tidak membuat bosan penonton untuk menikmati musiknya karena Hivi selalu memiliki cara untuk menyegarkan penampilannya diatas panggung. Sebut saja Pelangi, Siapkah Kau ‘Tuk Jatuh Cinta Lagi, dan Sama-Sama Tahu adalah beberapa lagu yang dimainkan Hivi selama satu jam malam itu. Menyenangkan sekali untuk hadir dalam Smansix Euforia 2016, semoga memiliki cerita besar di acara selanjutnya.

Kini saatnya Sheryl Sheinafia untuk mengambil alih panggung untuk penampilan selanjutnya. Penyanyi cantik yang masih berusia 20 tahun ini mampu membius penonton dengan lagu – lagu yang diaransemen ulang dan dimainkan secara istimewa kemarin malam. Closer, lagu dari The Chainsmoker adalah salah satu lagu dari

“Smansix Euforia acaranya asik karena ada Sheryl Sheinafia dan juga Hivi. Booth makanannya juga banyak pilihannya, pokoknya seru deh.” kata Adis salah satu penonton Smansix Euforia.

64


65


Longlife Magazine 7th Edition  
Longlife Magazine 7th Edition  

Tema dari majalah ketujuh ini adalah “EUFORIA”, kami mengambil tema ini karena kami ingin mengajak teman-teman untuk bersama merayakan perga...

Advertisement