Page 1

MEYBI LOMANLEDO DAN KRIBONESE NTT: MEMELIHARA KERITING SEBAGAI SALAH SATU CARA MERAWAT IDENTITAS Veronica Gabriella Universitas Multimedia Nusantara

Meybi dan Kain Tenun Khas NTT – foto: dok.pribadi narsum

Meybi Agnesya Lomanledo lahir dan besar di Kupang, salah satu wilayah yang terletak di Nusa Tenggara Timur. Ia selalu menyukai tanah kelahiran sekaligus kampung halamannya itu. Baginya, timur Indonesia adalah


surga nusantara – kepulauannya masih memiliki napas murni alam, yang mampu memanggil jiwa siapa pun untuk bertualang dengan cara berbeda, kekayaan adatnya masih kental memberi pesona bagi orang-orang untuk menjelajah dan memelajari banyak hal. Tidak sekadar itu, buat Meybi, menjadi bagian dari gadis lokal Indonesia Timur juga adalah kebanggaan – sebab ia punya ciri khas yang buatnya berbeda: berkulit cokelat gradasi legam, dan berambut keriting natural. Dan, soal yang satu ini: rambut keriting – ia punya cerita.

Stigma Kecantikan Suatu ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar, Meybi kecil suka sekali mengikat atau menjepit rambut keritingnya dengan beragam model gaya yang lucu saat pergi ke sekolah. Sampai pada satu kesempatan ia memutuskan untuk menggerainya. Salah seorang temannya mengatakannya punya rambut yang menarik dan hendak berfoto bersama, namun tiba-tiba temannya ditarik oleh sang ibu yang memicingkan mata padanya seraya berkata untuk menjauh darinya karena rambut keritingnya yang mengembang itu: ngeri. Nyatanya, itu bukan pengalaman menyesakkan terakhir yang diterimanya karena keriting yang dipunya. Ketika ia sedang bermain dengan sepupusepupu, ia kerap menerima ejekan dan julukan: „si akar beringinâ€&#x;. Saat ia tengah jalan-jalan, ia dihampiri oleh orang asing yang menertawakan sampai menjambaki rambutnya sembari bertanya gamblang mencandai keritingnya, apakah air bisa menembus keritingnya ketika keramas. Dan, kisah-kisah sedih serupa yang tidak hanya ia temukan dan miliki sendiri, tapi juga kawan-kawan keritingnya. Jauh kemudian, Meybi kecil akhirnya tumbuh dengan rasa tidak percaya diri pada apa yang dulu dibanggakan. Puncaknya, ia ikut paket pelurusan rambut sejak SMP hingga SMA, bertahun-tahun lamanya, berkali-kali seringnya. Terlebih ketika tren smooting dan rebonding memasuki lingkungan, ketika model-model iklan berambut lurus mendadak berperan


dalam mendefinisikan makna cantik di pergaulan dan sekitar, Meybi pun terjebak pada stigma baru akan kecantikan. Begitu pula teman-temannya. Sampai kemudian di satu titik ia ketakutan karena menemukan suatu hal: stigma kecantikan baru telah mengubah dirinya dan melunturkan apa yang sesungguhnya jadi identitasnya sebagai gadis Indonesia Timur. Keriting dianggap tidak cantik. Keriting dianggap berbeda. Keriting dianggap aneh, berantakan, acak-acakan, dan kemudian dirisak keberadaannya. Namun, kali ini tidak. Meybi memilih berbuat sesuatu untuk melawan. “Pas aku kecil, iklan paket dan produk pelurusan rambut itu gencar banget. Sampai- sampai aku dan kawan-kawan mikir yang cantik itu yang rambutnya lurus. Aku ikut kemakan, dan sampai ngelurusin rambut empat kali setahun! Akhirnya aku ada di satu titik di mana aku lelah dan sadar kalau enggak ada yang salah dengan keriting. Aku mau ngelawan stigma kecantikan ini, aku enggak mau sampai kawan-kawanku juga sama kayak aku, ngelurusin rambut tanpa henti dan lupa identitas khas diri sendiri. Mereka yang bilang aku aneh dan beda, sebenarnya keliru. Aku mau bilang balik: keriting itu bukan beda, melainkan unik. Karena unik, ia menarik,” tegas gadis yang juga terpilih jadi Duta Pemuda Kreatif NTT 2017 ini. Dan, „Kribonese‟ pun lahir. Kribonese dan Gerakan #SayaKeritingSayaBangga Dibentuk pada awal September 2017, komunitas „Kribonese‟ hadir dengan semangat mengajak perempuan-perempuan berambut keriting di NTT untuk memilih memelihara keriting alaminya sebagai bentuk merawat identitas gadis Indonesia Timur. Sejauh ini, „Kribonese‟ sudah memiliki belasan anggota inti untuk mengurus agenda dan perencanaan kegiatan. “Aku milih nama „Kribonese‟ terinspirasi dari penamaan identitas. Misal,


kalau kita keturunan Tionghoa, akan disebut „Chinese‟, kalau keturunan Jawa, akan dinamai „Javanese‟, dan sejenisnya. Maka, kita yang punya keriting natural sejak lahir, dipanggil „Kribonese‟. Komunitas ini memang masih kumpul-kumpul dan bergerak di Kupang, tapi aku berharap ke depannya semangat ini tidak hanya terbatas di NTT, tapi juga menular ke seluruh perempuan di Nusantara utnuk lebih menghargai siapa seutuhnya diri mereka, tanpa mengubah apa pun yang jadi identitas hanya karena masyarakat punya stigma yang membuat mereka tersudut dan berbeda,” jelas Meybi, penggerak utama komunitas.

Meybi dan salah satu anggota komunitas Kribonese – foto: dok. pribadi narsum

Usia „Kribonese‟ memang belum genap setahun, tapi rencana kampanye dan narasi yang dibuat untuk melawan stigma kecantikan mainstream saat ini patut diapresiasi. „Kribonese‟ akan punya kampanye yakni #SKSB atau „Saya Keriting Saya Bangga‟. Kampanye ini mengajak perempuan-


perempuan yang terlahir dengan rambut keriting alami, tidak hanya dari Indonesia Timur, untuk berani memelihara keritingnya dan membagikan kisah inspiratif mereka kepada sesama perempuan untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan kebangaan pada identitas otentik mereka. Gerakan #SKSB nantinya berupaya untuk membunuh stigma kecantikan yang kaku, dan mengubah pandangan orang terhadap rambut keriting yang selama ini identik dengan „berantakan, jelek, acak-acakanâ€&#x;. Pertemuan rutin antar anggota komunitas pun sering dilakukan perminggu, isinya adalah sesi berbagi pengalaman dan cerita, yang kemudian diakhiri dengan konklusi- konklusi yang merujuk pada #SKSB. Bahwa memelihara keriting itu adalah menjadi diri sendiri, memelihara keriting adalah berani jadi unik, memelihara keriting adalah merawat identitas, memelihara keriting adalah keputusan yang membanggakan. “Aku sendiri punya cerita. Waktu aku akhirnya memelihara keritingku dan belajar buat mencintainya. Aku mulai coba berani posting foto dengan rambut keritingku di medsos, dan enggak kusangka, justru bikin salah satu fotografer tertarik buat jadiin aku model potretnya karena rambutku yang unik. Dari sana, undangan buat jadi model photoshoot mulai dateng. Bahkan sejak aku memelihara keriting, aku jadi sering dipanggil buat ikutan sesi foto. Rambutku yang tadinya ngabisin duit karena harus smoothing, justru dibiarin apa adanya malah datengin berkah, jadi salah satu sumber rezeki aku juga. Lain lagi dengan cerita temanku, memelihara keriting buatnya jadi cara dia untuk anti mainstream, berontak dengan konsep kecantikan yang ada, bentuk perjuangannya terhadap cantik yang dipercayai pada umumnya. Sebenarnya ada banyak hal positif yang akan kita sadari dan temui kalau setidaknya berani untuk jadi diri sendiri. Aku memulainya dengan memelihara keritingku yang memang jadi identitasku. Kuharap juga ini bisa jadi inspirasi buat teman-teman perempuan lain dalam memandang apa itu cantik,â€? ujar Meybi yang juga mengaku mengidolakan karakter Moana ini.


Hadirnya „Kribonese‟ dan semangat „Saya Keriting Saya Bangga‟ dari Meybi mungkin bagi sebagian orang bukanlah perkara yang darurat, tapi tak berarti tidak penting. Jika sejak awal kita tidak diajak untuk bangga dengan ciri khas yang melekat pada kita, perlahan tidak hanya apa yang jadi orisinalnya kita saja yang hilang tapi juga kekayaan sekitar. Melihat Apa Pun Dalam Diri Sebagai Anugerah Lebih dari sekadar persoalan rambut keriting sebagai identitas, harapan ke depannya, „Kribonese‟ bisa jadi medium bagi teman-teman perempuan untuk lebih memandang apapun yang ada dalam diri sendiri sebagai anugerah. Karena jika setiap pribadi bisa melihat sesuatu dalam diri yang berbeda dengan cara pandang yang lebih positif, perbedaan itu akan jadi keunikan yang memberikan kesempatan untuk menginspirasi yang lain, bukan menjatuhkan diri kita. Begitu juga yang Meybi kerap tularkan semangat kepercayaan diri pada orang-orang khususnya perempuan berambut keriting di NTT dan Nusantara. “Sebenarnya, enggak cuma rambut keriting aja yang harus kita pandang sebagai anugerah. Tapi apa pun itu yang datangnya dari ciptaan Tuhan, baik itu warna kulit sampai bentuk tubuh. Jadi kalau ada temen yang sering insecure sama bentuk badannya yang gemuk, atau kulit hitam, terus curhat ke aku, aku selalu ajak mereka buat lebih kreatif melihat potensi diri. Makanya jawabanku selalu bernada positif ke mereka. Aku bilang, badan mereka yang berisi enak banget dipeluk, kulit gelapnya eksotis banget, dan lain-lain. Aku pengen mereka menyadari kalau cercaan orang-orang itu ada bukan karena mereka jelek dan lain-lain, melainkan orang-orang hanya enggak bisa melihat kecantikan sejati yang tersembunyi di balik mereka. Dan, aku mau kita semua menyadarinya dengan mulai mencari sisi positif dan bersyukur. Itu akan bantu kita lebih percaya diri dan terhindar dari insecure,” tukas perempuan yang sekarang sibuk menjadi pengusaha kerajinan tangan NTT bernama Bibo Craft ini, sekaligus menjadi penutup bagi bincang-bincang hari itu. Keluar sebagai pemenang Miss Great Woman Indonesia sampai jadi Duta Pemuda Kreatif


Indonesia dari NTT menjadi cara Meybi menginspirasi sekitar dengan misi positifnya – foto: dok.pribadi narsum

Menengok kisah lahirnya „Kribonese‟ sampai cerita „keriting‟ Meybi, membawa kita pada satu fakta bahwa stigma sering kali muncul diam dan sembunyi, begitu halus tumbuh dalam diri hingga lupa jika perlahan ia mampu membunuh. Begitu berbahaya karena kemudian bisa membangun kontruksi yang membuat masyarakat mengelompokkan suatu hal yang berbeda dari mereka sebagai hal yang aneh, buruk, dan sebagainya. Namun, di tengah itu semua, selalu akan ada dan hadir sosok yang berani mendobraknya, memberontaknya – dan ketika itu muncul, mungkin akan kembali disebut berbeda dan aneh, namun kali ini berbeda yang dimaksud pun punya makna baru. Bukan aneh, melainkan unik! They Say You’re Different, I Say You’re Unique! (*)

Meybi Lomanledo dan Kribonese NTT  

Veronica Gabriella Universitas Multimedia Nusantara

Meybi Lomanledo dan Kribonese NTT  

Veronica Gabriella Universitas Multimedia Nusantara

Advertisement