Page 1

Beritahu Aku Kenapa Mereka Berbeda Theresia Amadea Jurnalistik UMN / 00000021476

Pementasan ke-27 Indonesia Kita pada hari Sabtu (3/3/18) Preman Parlente di Taman Ismail Marzuki yang berlokasi di Menteng, Jakarta Pusat, menyampaikan hal-hal kepada penonton teater mereka, lewat Preman Parlente, Indonesia Kita berpesan untuk menjadi masyarakat Indonesia belajar potensi dan keindahan setiap daerah Indonesia yang terkhusus pada pementasan ini kebudayaan suku Batak. Saat ditemui seusai pementasan, Djaduk Ferianto menuturkan bagaimana cara Indonesia Kita menyampaikan pesan-pesan yang ingin diutarakan kepada penonton lewat teater yang mereka tampilkan. “Nah kenapa kami memilih Batak? Karena daerah-daerah yang di


Indonesia memiliki potensi-potensi, itulah yang ingin kita sampaikan kepada penonton untuk belajar kembali tentang Indonesia� tutup Djaduk. Indonesia yang beragam menjadi ide utama pementasa Indonesia Kita selama 27 kali pementasan, namun hal tersebut bagai euforia semata, hal biasa bagi masyarakat Indonesia lebih suka menemukan perbedaan dari sesamanya. Dari warna kulit hitam, coklat, kuning, hingga tidak berpigmen jadi tolak ukur perbedaan. Padahal sama saja kulit yang menempel ditubuh. Rambut hitam, merah, pirang, warna-warni bisa lurus atau bergelombang menjadi kategori dalam bersosialisai. Tempat tidur bisa dipermasalahkan, yang tidur beratap bintang dan jembatan sulit menyapa yang tidur di kasur empuk dan rumah hangat beratap. Hanya karena latar belakang, kepercayaan menimbulkan pertengkaran. Bisakah hal-hal alamiah dan menjadi berkah dari lahir menjadi dasar permusuhan dan alasan dari kebencian kepada sesama yang notabenenya sama-sama makhluk hidup ciptaan Yang Maha Kuasa yang berakal budi. Kegunaan akal budi manusia terasa tidak digunakan saat mempermasalahkan perbedaan, hanya dengan insting untuk saling mengalahkan. Tidak terpikirkan kehidupan yang penuh kebencian satu sama lain karena pemberian Tuhan, padahal kehidupan yang baik penuh dengan keharmonisan dan hubungan yang baik dengan sesama. Bayangkan saat berjalan beberapa langkah dari pintu rumah dan bertemu dengan tetangga yang berbeda dan dibenci, hal tersebut membuat emosi naik dan membuat marah, bukankah lebih nyaman tidak membenci dan menyapa yang berbeda? Perbedaan akan kesukaan bisa menjadi pemicu kerusuhan yang tidak perlu. Hanya karna tim jagoan kalah, maka seenaknya membacok pendukung tim lain yang menang. Hanya perbedaan genre musik, bisa menimbulkan perang ciber yang berujung dengan kata-kata menghujat yang menimbulkan rasa sakit hati. Dan hanya menyukai sesama jenis, diperlakukan seperti hewan?


Apa karena berbeda warna kulit, berbeda rumah ibadah, berbeda kesukaan hingga menyukai yang tidak biasa, mereka bukan manusia. Mereka tetap lah sesama kita, mereka masih bernafas, makan dan beraktifitas seperti kita. Mereka tidak berbeda, mereka sama, hanya cara berpikirnya saja yang berbeda.

Beritahu Aku Kenapa Mereka Berbeda  

Theresia Amadea Universitas Multimedia Nusantara

Beritahu Aku Kenapa Mereka Berbeda  

Theresia Amadea Universitas Multimedia Nusantara

Advertisement