Issuu on Google+

6

T a n y a

J a w a b

Kesehatan Reproduksi

Assalamu'alaikum Wr Wb Dear buletin adalah Saya perempuan yang belum lama ini menikah. Saya mendengar cerita dari beberapa teman yang sudah meahirkan, bahwa melahirkan itu sakit sekali. Yang ingin saya tanyakan bagaimana cara mencegah rasa sakit saat melahirkan dan konsumsi makanan yang seperti apa untuk memperlancar proses melahirkan. Atas jawaban yang diberikan saya haturkan ribuan ucapan terimakasih Azmi

Keadilan Untuk Semua

J a w a b Assalamu'alaikum Wr Wb. Trimakasih atas pertanyaannya Azmi.. Melahirkan adalah salah satu proses yang banyak ditakuti oleh perempuan. Sebenarnya perasaan takut tersebut berasal dari persepsi bahwa melahirkan adalah proses yang sangat menyakitkan. Perempuan yang melahirkan dengan perasaan takut berlebihan akan mengalami sakit yang lebih parah daripada perempuan yang melahirkan dengan perasaan santai. Ada 2 metode yang dapat membantu proses melahirkan menjadi lebih santai dan nyaman serta mengurangi rasa sakit: 1. Waterbirth Waterbirth adalah metode melahirkan di dalam air hangat bersuhu 36-37째C. Air hangat membantu ibu melahirkan dengan lebih santai sehingga rasa sakitnya dapat dikurangi. Selain itu melahirkan di air hangat juga membuat bibir vagina menjadi lebih lunak sehingga kemungkinan robeknya bibir vagina kecil. Proses melahirkan dalam air juga relatif lebih cepat bila dibandingkan dengan melahirkan normal. Anda tidak perlu khawatir dengan keselamatan bayi anda saat lahir di dalam air karena suhu air dan suhu dalam rahim dibuat sama. Bayi juga masih bernafas melalui plasenta saat di dalam air, baru ketika diangkat ia mulai bernafas untuk pertama kalinya. 2. Hypnobirthing Hypnobirthing adalah metode melahirkan dengan cara menetralisir persepsi-persepsi negatif seputar melahirkan sehingga perempuan dapat melahirkan dengan lebih tenang. Hypnobirthing dapat dipelajari melalui buku atau VCD yang sudah banyak beredar, bahkan ada juga kursusnya. Selain itu ada juga suntikan penghilang rasa sakit yaitu spinal epidural analgesik (SEG) dan intrathecal labor analgesia (ILA). Kedua analgesik tersebut menutup sara -saraf sensorik di tulang belakang, sehingga dapat mengurangi rasa sakit. Penggunaan metode di atas maupun suntikan penghilang rasa sakit harus dikonsultasikan terlebih dahulu pada dokter kandungan. Tidak ada makanan yang dapat memperlacar proses melahirkan, meminum minyak kelapa adalah salah satu mitos tidak benar yang berkembang di masyarakat. Satu hal yang tidak kalah pentingnya adalah adanya pelibatan suami sepanjang masa kehamilan dan saat melahirkan. Suami yang mendampingi istri pada saat proses melahirkan memberikan pengaruh besar terhadap perasaan nyaman serta ketenangan menghadapi proses melahirkan. Hal ini secara psikologis memperkuat hubungan batin antara suami dan istri karena melahirkan menjadi peristiwa yang dialami suami istri bersama. Peristiwa ini juga memperkuat hubungan antara ayah, ibu, dan anak yang dilahirkan. Diskusikan sebelumnya, mengenai kehadiran suami di samping istri dalam proses melahirkan dengan dokter kandungan maupun bidan yang akan membantu sehingga kerja sama yang baik dapat terjadi.

Edisi: 29/II/Maret/2009

Mengapa Harus

Pilih Caleg Perempuan? Soal Caleg Perempuan

Askiyah, Perempuan Pun Bisa Memimpin

Dan Ummat pun Bangga pada 'Aisyah

Tanya Jawab Kesehatan Reproduksi


Susunan Redaksi Penanggungjawab Ketua Yayasan LKiS Ketua Sidang Redaksi Zusiana Elly Triantini Sidang Redaksi Mar'atul Uliyah Hanifah el Adiba Andi Andrianto Wafiyatul Muflihah (Magelang) Maria Ulfa (Solo) Ibah Muti'ah (Kulon Progo) Asih Nuryanti (Gunung Kidul) Setting/Layout Imam Syahirul Alim Administrasi Pusvyta Sari Nungki Kusetyowati Reni Dwi Putranti Dwi Yanti Iras Alamat Redaksi Jl. Pura I/1 Sorowajan Baru, Banguntapan Bantul Yogyakarta 55198 Telp/Fax: (0274) 489901. Hp. 085253775585 Email: adalah.lkis@gmail.com Website: www.lkis.or.id

Ya y a s a n

Islam Transformatif dan Toleran

1

SoalPerempuan Caleg

Pembaca yang kami muliakan. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Sholawat serta salam kepada Rasulullah SAW beserta keluarga, sahabat dan ummatnya. Pemilihan Umum tinggal menghitung hari, berbagai kampanye telah digelar. Sloganslogan perjuangan untuk rakyat muncul di mana-mana, janji–janji politik seperti bunga yang telah mekar indah dipandang. Harapannya, semua janji tersebut dapat dipenuhi. Pemilu 2009 ini tidak hanya ramai oleh 34 partai, tetapi juga ramai calon legislatif (caleg) perempuan. Mengapa demikian? Dan apa yang sejatinya diperjuangkan para caleg perempuan? Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan itulah, redaksi mencoba memberikan gambaran latar belakang munculnya perjuangan porsi yang sama antara lakilaki dan perempuan dengan harapan perbaikan kualitas perempuan Indoensia khususnya dan masyarakat pada umumnya. Kami juga menyajikan rubrik testimony salah satu caleg perempuan. Namun, catatan khusus yang kami berikan kepada pembaca adalah dalam rubrik ini kami tidak bermaksud kampanye melainkan hanya mengupas kesaksian perjuangan salah satu caleg perempuan. Oleh karena itu, kami tidak menyebut partai maupun nomor urut di dalamnya. Dalam rubrik kisah kami menghidangkan sejarah perjuangan dan kecerdasan Aisyah dengan harapan caleg-caleg perempuan kita secerdas dan sepiawai Aisyah ra. Selain tiga rubrik di atas kami juga menyajikan rubrik tanya jawab kesehatan reproduksi yang menjawab petanyaan dari para pembaca buletin. Harapan kami rubrik kesehatan reproduksi ini dapat meningkatkan kualitas kesehatan dan pengetahuan pembaca. Terakhir, semoga apa yang kami sajikan dapat menghadirkan kemaslahatan bagi kita semua. Amin

Selamat membaca.

Oleh : Zuelianti el Azmi *

Mengapa harus pilih caleg perempuan?

B

egitu kurang lebih pertanyaan yang muncul dalam berbagai perbincangan masyarakat belakangan ini. Pertanyaan tersebut muncul karena memang menjelang pemilihan umum 2009 ini banyak celon legeslatif perempuan bermunculan. Kesempatan untuk perempuan menjadi anggota legislatif beberapa tahun belakangan memang menjadi gencar. Pro (setuju) dan kontra (tidak setuju) tentang hal ini sedikit santer di masyarakat. Beberapa yang pro mengatakan bahwa sudah saatnya perempuan ikut menentukan kebijakan. Sedangkan yang kontra mengatakan, untuk apa perempuan bingung-bingung menjadi legislatif, tugas dia sesungguhnya di dapur. Pe r j u a n g a n p e m b a g i a n kekuasaan atau kursi dewan yang sama antara laki-laki dan perempuan sebenarnya bukan

berangkat dari persoalan karena perempuan ingin disamakan dengan laki-laki, tetapi lebih dari itu perjuangan tersebut didasarkan pada kebutuhan penyelesaian berbagai persoalan perempuan yang telah ada di Indonesia. Bayangkan perempuan yang jumlahnya sebesar 49,8% dan laki-laki sebesar 50,02% dari total penduduk + 224 Juta orang, hanya diwakili 11, 8% dari jumlah keseluruhan anggota DPR RI. Hal ini berdampak pada kebijakankebijakan yang dikeluarkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak peka terhadap persoalanpersoalan perempuan dan juga anak. Sehingga, angka buta aksara perempuan di atas 15 tahun lebih besar dari pada lakilaki, yakni perempuan 12,4%, laki-laki sebesar 5,6%, padahal umur harapan hidup perempuan (69,6 tahun) lebih tinggi dari lakilaki (65,7 tahun). Yang lebih menyedihkan, Angka kematian ibu (AKI) pada usia reproduktif sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup. Selain itu,Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) laki-laki sebesar 84,74 % jauh lebih tinggi dari perempuan hanya 48,63%. Oleh karena berbagai per-

2


S o a l

C a l e g

soalan tersebutlah perempuan merasa bahwa ketika kebijakankebijakan yang dibuat di lembaga negara itu mengikutsertakan perempuan (yang memahami kebutuhan dan keberadaannya sendiri) maka persolan-persoalan atau ketidakadilan di atas dapat diminimalisir (dikurangi sebanyak mungkin). Lalu mengapa kebutuhan perempuan begitu istimewa untuk diperjuangkan? Tentu karena perempuan rentan dengan ketidakadilan, karena perempuan yang memiliki organ reproduki berbeda dengan laki-laki harus memperoleh jatah lebih dalam hal kesehatan karena bagaimanapun organ reproduksi perempuan adalah pemberian Allah SWT. Perempuan yang selama ini dipandang tidak penting untuk sekolah tinggi harus disamakan dengan laki-laki karena itu juga merupakan perintah Allah SWT. selain itu persoalan ekonomi adalah persoalan yang sangat dekat dengan perempuan, namun penyelesaian ekonomi di Indonesia terkadang tidak melihatnya. Dan tentu alasan yang paling kuat adalah hak-hak setiap warga negara harus diberikan secara adil. Nah, di sinilah posisi para calon legislatif perempuan ditempatkan, memperjuangkan hakhak yang adil bagi kaumnya. Karena pada dasarnya tidak ada ajaran yang membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam hal pengambilan kebijakan. Seringkali muncul perta31

P e r e m p u a n

nyaan mengapa harus perempuan jika ada laki-laki tetapi yang punya perhatian terhadap perempuan? Jawabanya cukup sederhana, karena perempuan memiliki kedekatan dengan kaumnya (perempuan), dan perempuan yang jauh lebih mengerti tentang dirinya dan lebih peka dalam persoalan perempuan sendiri, melihat perempuan lain bisa seperti melihat dirinya. Selama ini persoalan perempuan tidak banyak diselesaikan karena ketidak imbangan porsi di beberapa lembaga pemerintahan, terutama lembaga pengambil kebijakan. Oleh karena itu, sudah saatnya para politikus berbagi kekuasaan dan peran dengan perempuan agar persoalan bangsa terselesaikan dan memilih caleg perempuan bukan kesalahan, tetapi kebenaran. * Alumni Mahasiswa Politik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Mengapa harus pilih caleg perempuan?

Askiyah, Perempuan Pun Bisa Memimpin Masih adanya anggapan masyarakat bahwa perempuan itu lemah dan tak bisa menjadi pemimpin kadang membuat saya resah dan gelisah. Sebagai perempuan, tentu keadaan itu membuat tidak nyaman saya dan juga perempuan lain dalam menjalani kehidupan. Maka, demi memperjuangkan hak-hak kaum hawa dan melakukan perubahan di masyarakat akupun memutuskan untuk maju menjadi Calon Legislatif (Caleg) 2009. Alasan saya menjadi Caleg Perempuan sebetulnya cukup mendasar. Selama ini saya melihat kedudukan perempuan masih lemah di berbagai ruang termasuk wilayah publik. Hal itu disebabkan oleh keputusan anggota dewan yang belum berpihak sepenuhnya terhadap perempuan. Maklum, bukan rahasia umum lagi bila keputusan wakil rakyat itu turut dipengaruhi oleh faktor dominasi kaum laki-laki yang begitu kuat di parlemen. Tak heran bila produk hukum yang dihasilkannya pun kerapkali hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja, dan fakta menunjukkan banyak kebijakan yang tidak berpihak kepada perempuan. Padahal, perempuan kan separo dari jumlah penduduk Indoenesia. Makanya saya berpikir sudah saatnya sekarang saya maju agar perempuan harus bangun dari tidur

panjangnya dan mengukir perubahan dalam kehidupan. Sebab, suka atau tidak suka, siapa lagi yang akan memperjuangkan hakhak perempuan yang selama ini terpinggirkan, kalau bukan perempuan sendiri. Perjuangan menuntut hak bisa dilakukan perempuan dengan berbagai macam cara. Nah, momen politik Pemilihan Umum 2009 pun menjadi ajang penting bagi perempuan guna memperjuangkan hak-hak politiknya yang selama ini dikebiri. Salah satunya bisa dengan cara yang saya tempuh yaitu menjadi caleg. Jalan menjadi caleg tentu bukan sesuatu yang mudah saya lalui. Beragam tantangan dan rintangan silih berganti menghadang. Terdaftar sebagai caleg perempuan merupakan jalan yang tak mudah. Sebagai calon pemimpin saya harus tampil prima di mata publik. Supaya terlihat meyakinkan, saya mesti harus dapat bersaing dengan caleg lain termasuk dengan laki-laki yang cukup mendominasi bursa caleg. Tapi hal itu tak memupuskan harapan saya apalagi mematahkan semangat juang saya untuk melangkah ke parlemen. Jalan menjadi caleg adalah putusan “final� bagi saya demi sebuah perubahan di masyarakat dan lebih khusus pada perempuan yang saya idam-idamkan. Sebab, hati kecil

41


51 saya berkata perempuan juga bisa mewarnai kehidupan ini dengan menjadi pemimpin. Lihat saja dalam sejarah, perempuan turut mengambil peran strategis dalam mengisi perubahan. Mungkin kita tidak akan bisa merasakan manisnya kemerdekaan yang kini rasakan tanpa peran serta pejuang perempuan seperti RA Kartini, Cut Nyak Dien, dan lain-lain. Di luar negeri pun juga demikian. Di masa modern ini perempuan bisa melakukan perubahan dalam tatanan kehidupan. Contohnya, kesuksesan Bank Greemon milik Muhamad Yunus di Bangladesh yang mampu menghapus kemiskinan di negeri itu hingga 80 persen lebih pun tak lepas dari peran perempuan. Contoh lain, di Swedia selama lebih 40 tahun perempuan berjuang menuntut pengakuan publik toh akhirnya juga bisa terwujud. Kini, parlemen di Swedia dikuasai perempuan dengan jumlah yang cukup besar yakni lebih dari 50 persen anggota perwakilan rakyat di negara tersebut adalah perempuan. Kembali ke soal perjuangan perempuan di negeri sendiri. Berbeda dengan kondisi perempuan di Swedia maupun Bangladesh, keadaan perempuan di Indonesia masih butuh perjuangan panjang untuk dapat diakui secara luas. Nah, ajang Pemilu Legislatif pun menjadi wahana yang tepat bagi perempuan Indonesia guna membuktikan pada masyarakat luas bahwa perempuan tak selamanya menjadi

Askiyah, Perempuan Pun Bisa Memimpin

orang yang dinomorduakan. Perempuan pun bisa menjadi orang nomor wahid, tetapi dengan berbagai catatan. Pertama, ia harus mampu keluar dari lingkaran anggapan umum bahwa perempuan hanya bisa berada di ruang domestik. Yakni mengurus anak, dapur, sumur, dan suami. Namun perempuan sudah harus berani menjajaki dunia yang lebih luas yakni masuk wilayah publik. Kedua, di bidang intelektual kemampuan perempuan minimal setara dengan laki-laki. Untuk menunjang itu, perempuan mesti banyak bergaul dengan siapapun guna menambah wawasannya. Ia bisa membuka dan mengikuti ruang-ruang diskusi, seminar, dan banyak membaca buku. Ketiga, secara ekonomi upayakan perempuan bisa memadai. Sebab, dalam perjuangan faktor ekonomi pun sangat menunjang keberhasilan. Seperti yang saya lakukan selama ini. Guna menunjang basis ekonomi, saya membuka koperasi yang khusus diperuntukkan bagi perempuan guna menciptakan kemandirian perempuan. Langkah di atas hanya bagian kecil yang dapat dilakukan perempuan jika ingin diakui keberadaannya. Jalur politik misalnya menjadi caleg hanyalah cara, namun yang tak kalah penting untuk menunjang agar cita-cita perempuan dapat terwujud dibutuhkan daya dukung seperti yang saya paparkan di atas. Maju terus perempuan! Tetap semangat untuk perubahan!

61

Bangga pada 'Aisyah* Ketika perang bani Musthalik, 'Aisyah terpilih untuk menyertai Rasul berperang. Dalam perjalanan pulang, saat istirahat di suatu tempat setelah memenangkan perang, Aisyah tertinggal dalam perjalanan. Rombongannya meninggalkan saat ia keluar dari kendaraannya untuk mencari kalungnya yang tertinggal saat ia membersihkan diri. Rombongan mengira, 'Aisyah masih berada di dalam sedekup untanya. 'Aisyah kemudian ditemukan oleh Shafwan bin Mu'thil, sedang tertidur. Shafwan kemudian sambil menuntun ontanya mengantarkan ‘Aisyah kepada Rasulullah. Kehadiran 'Aisyah bersama Shafwan diketahui oleh tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salun. Langsung saja ia menghembuskan fitnah kepada masyarakat bahwa telah terjadi perselingkuhan antara 'Aisyah dan Shafwan. Para sahabat terpengaruh dengan fitnah keji terebut, sehingga membuat Abu Bakar dan Rasulullah merasa tidak nyaman dan sempat curiga. Allah SWT. kemudian menurunkan firmannya yang menyatakan bahwa 'Aisyah tetap suci dan setia. Syaidina Ali juga memuji Istri Nabi Muhammad ini dengan ucapannya “jika seorang perempuan bisa menjadi khalifah (pada waktu itu) maka yang pantas menjadi khalifah adalah 'Aisyah”. Dalam beberapa riwayat dijelaskan keutamaan ‘Aisyah, yaitu sangat menguasai Hadits dan al-Qur'an. Juga paling mahir munggubah Syair. Karena kecerdasannya, Abu Musa al-Asy'ari berkata: “jika para sahabat Rasulullah menghadapi kesulitan tetang suatu hadits, maka kami bertanya kepada 'Aisyah dan pasti menemukan pemecahannya”. Bahkan, Al Hakim menegaskan “seperempat dari hukum Syari'at adalah dinukilkan dari ucapan 'Aisyah”. 'Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah, sehingga ia banyak menyaksikan turunan wahyu kepada Nabi saat 'Aisyah bersama beliau. Karena itulah, 'Aisyah banyak mengetahui hadits dan dikenal sebagai perawi hadits yang mampu mengistimbatkan hukum. Para ahli menempatkan 'Aisyah pada urutan ke lima para penghafal hadist setelah Abu Hurairah, Ibnu Abbas, penguasaan al-Qur'an dan Hadits yang mendalam dari 'Aisyah seperti dijelaskan Abu salmah “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mengetahui sunnah Rasulullah, lebih benar pendapatnya jika dia berpendapat, lebih mengetahui bagaimana al-Qur'an turun, serta lebih mengetai kewajibannya kecuali 'Aisyah”. Itulah sosok pejuang Islam Istri Rasulullah yang memiliki sifat mulia, zuhud, tawadhu, setia kepada Rasulullah. Kisah ini dapat menjadi bukti bahwa perempuan apabila diberikan kepercayaan perempuan mampu mengurusi masalah ummat dan menjadi pejuang serta ulama.

*ditulis oleh reporter ‘Adalah Andi Andrianto * Ditulis oleh Ahmad Arif, disarikan dari berbagai buku yang bercerita tentang ‘Aisyah


Buletin 'Adalah edisi 30