Page 1

6

Tanya Jawab Kesehatan Repoduksi

Tanya TIDAK MENSTRUASI SETELAH KB

Assalamualaikum wr. Wb. Dear redaksi 'Adalah yang saya banggakan Terimakasih telah menghadirkan rubrik tanya jawab tentang kesehatan reproduksi. Karena dengan adanya rubrik ini saya merasa bisa bertanya permasalahan yang saya alami. Saya menikah Januari 2006. Pada Mei 2007 anak saya lahir, setelah itu saya memakai alat kontrasepsi s u n t i k u n t u k K B . Aw a l n y a menstruasi saya lancar, tapi setelah penggunaan selama kurang lebih satu setengah tahun menstruasi saya tiba-tiba berhenti, sudah 6 bulan saya tidak mens. Dalam jangka waktu 6 bulan tersebut saya pernah mengecek kehamilan,dan saya tidak hamil. Perut saya sering terasa penuh. Apakah yang terjadi pada saya ini tergolong normal?, bagaimana cara saya mengatasinya? Terimakasih Wassalamualaikum. Wr. Wb Mara, Yogyakarta

Waalaikumsalam Wr. Wb. Salam kenal Mara, senang rasanya bila rubrik ini dapat membantu Mara dan teman-teman perempuan yang lain, khususnya hal-hal berkaitan kesehatan reproduksi. KB suntik merupakan salah satu jenis kontrasepsi hormonal. KB suntik ada dua macam yaitu 1 bulan dan 3 bulan sekali. KB suntik dengan periode 1 bulan sekali, pemakainya tetap mengalami menstruasi sedangkan pada periode 3 bulan sekali, pemakainya tidak mendapatkan menstruasi. Karena itu apa yang dialami Mara ini normal. KB suntik dengan periode 3 bulan diberikan pada perempuan yang menyusui. Mengingat Mara menggunakan KB suntik ini setelah melahirkan dan kemungkinan besar sedang menyusui maka Mara akan diberikan KB suntik jenis ini. KB suntik merupakan salah satu kontrasepsi hormonal. Kontrasepsi hormonal secara umum memiliki efek seperti vagina mengeluarkan flek darah, mual, muntah, pusing, flek hitam pada wajah, gemuk dan menaikkan tensi sehingga dapat beresiko diabetes militus, hipertensi, varises dan sakit jantung. Selain itu kontrasepsi hormonal tidak boleh digunakan lebih dari 5 - 7 tahun karena beresiko mengakibatkan kanker payudara. Setiap metode KB baik hormonal maupun non hormonal, baik alamiah maupun tidak alamiah memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Hal yang penting bagi perempuan adalah apa pun metode KB yang digunakan, tiap perempuan telah mendapatkan penjelasan mengenai berbagai metode KB yang ada, efek samping dan hak perempuan untuk memilih jenis kontrasepsi yang ingin digunakan dan bahkan hak perempuan untuk tidak bersedia menggunakan alat kontrasepsi apa pun. Ada berbagai macam metode kontrasepsi yang dapat dipilih dan digunakan tidak hanya perempuan tapi juga laki-laki. Secara medis, penggunaan KB oleh laki-laki memiliki efek samping yang lebih kecil dan menimbulkan keluhan yang lebih ringan daripada perempuan. Demikian penjelasan yang dapat kita berikan. Semoga pemaparan ini membuat wawasan kita semua menjadi lebih luas. Terima kasih Mara.

'Adalah merupakan buletin yang dikelola oleh Program Islam dan Perempuan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta bekerjasama dengan (TAF) dalam rangka Program Pengenalan Hak-hak Perempuan dan Demokrasi di Lingkungan Pesantren. Media ini menekankan kajian seputar persoalan hak perempuan. Redaksi menerima pertanyaan seputar permasalahan kesehatan reproduksi, dan menerima tulisan seputar Hak-hak perempuan baik yang bersifat kritik, refleksi, opini dan berbagai ide-ide yang menyangkut permasalahan hak perempuan dan permasalahan perempuan. Tulisan maksimal 2 halaman spasi 1,5 dengan menyertakan nama dan lembaga asal penulis.

Keadilan Untuk Semua Edisi: 15 / IV/Agustus /2008

Puasa dan Perempuan

Ramadhan, Antara Harapan dan Kenyataan

Pras: Ketika Tanggung Jawab Harus Dijaga Kecerdasan Sultan Abdul Malik Bin Marwan

Tanya jawab kespro: Tidak Menstruasi Setelah KB


Iftitah Susunan

Redaksi Penanggungjawab Ketua Yayasan LKiS Ketua Sidang Redaksi Zusiana Elly Triantini Sidang Redaksi Mar'atul Uliyah Hanifah el Adiba Andi Andrianto Wafiyatul Muflihah (Magelang) Maria Ulfa (Solo) Ibah Muti'ah (Kulon Progo) Asih Nuryanti (Gunung Kidul) Setting/Layout Imam Syahirul Alim Administrasi Pusvyta Nungki Reni Yanti Alamat Redaksi Jl. Pura I/1 Sorowajan Baru, Banguntapan Bantul Yogyakarta 55198 Telp/Fax: (0274) 489901. Email: zusiana_tiantini@yahoo.com Website: www.lkis.or.id

Ya y a s a n

Islam Transformatif dan Toleran

1

Ramadhan

Pembaca yang budiman.. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Sholawat serta salam kepada Rasulullah SAW beserta keluarga, sahabat dan ummatnya. Masih dalam nuansa ramadhan, kali ini 'Adalah menyuguhkan bagaimana makna puasa bagi perempuan. Dalam edisi ini, kita juga bisa melihat kembali seperti apakah perempuan dalam mengabdikan dirinya kepada Allah dan bagaimana ia mewujudkan kecintaanya kepada keluarganya. Kita insya allah akan mampu pula merasakan bagaimana kelelahannya, semangatnya serta ketaqwaaannya yang tiada tara. Nah di edisi ke-16, artikel utama berjudul, ”Ramadhan, Antara Harapan dan Kenyataan”. Rubrik Testimony akan menghadirkan kisah seorang ibu rumah tangga yang gigih dalam mewujudkan taqwanya dalam ibadah kepada Allah dan ibadah kepada sesama manusia. Untuk Rubrik Kisah, ”Kecerdasan Sultan Abdul Malik Bin Marwan”. Dan yang tidak lupa adalah Rubrik Tanya Jawab Kesehatan Reproduksi yang menjawab seputar problem kesehatan reproduksi perempuan. Semoga sajian dari meja redaksi kami ini dapat menjadi pengetahuan yang akan memperkaya wawasan kita serta meningkatkan kecintaan kita akan bulan penuh berkah ini. Selain itu, kami juga berharap edisi buletin kali ini dapat menghadirkan kemaslahatan bagi semua pihak.

Selamat membaca

S

elama ini Ramadhan hanya dilekatkan pada aktivitas yang berbau ritual belaka. Di berbagai tempat maupun media cetak dan elektronik, kita dapat saksikan beragam tayangan Ramadhan: talkshow, seminar, sinetron, kuis, lawakan, dan lain-lain—hampir semua acara itu mengarahkan pemirsa di rumah pada pelajaran (ibrah) bahwa puasa itu sebatas bersentuhan pada kesadaran keagamaan Islam semata. Sesempit itukah makna puasa? Seperti diketahui, penanaman nilai moral Islam di bulan puasa dalam kegiatan hidup sehari-hari manusia tak kalah penting dari sekedar mengulang ceramah lazimnya khutbah Jum'at. Bukankah dalam Alquran telah dijelaskan bahwa untuk mengabdi pada Sang Pencipta manusia bisa melakukan bermacam cara, seperti ibadah mahdah (langsung pada Tuhan) dan ghairuh mahdah (sosial). Sayangnya, ibadah sosial kadang terlupakan oleh kita di bulan Ramadhan ini. Lihat saja untuk mengisi aktivitas Ramadhan kebanyakan orang memilih melakukan kegiatan agama yang bersifat formal: berceramah misalnya. Cara dakwah semacam itu memang baik, namun tetap saja perlu mendapat masukan dari masyarakat. Pasalnya pesan dakwah yang disampaikan oleh penceramah kadang masih sulit dimengerti orang banyak. Selain karena pilihan tema yang

Antara Harapan dan Kenyataan Oleh: Megawati, Karyawan Pekerja Toko di Malioboro

bersifat umum, terdapat kelemahan lain dari sang pembawa pesan dakwah (mubalig) yakni ketika menyampaikan materi dakwah biasanya membuat janji abstrak serta membikin kuping orang lain panas. Contoh saja adanya janji masuk surga bagi mereka yang berhasil menghancurkan tempat hiburan malam, menutup lahan ekonomi pekerja kupu-kupu malam, mengguncing orang lain yang tidak sepaham dengan pendapat golongannya. Serta mengajak orang lain untuk menutup diri dari masalah dunia yang keras. Menurut hemat penulis, cara berdakwah seperti di atas bukannya salah, tapi masih perlu ada pembenahan di berbagai sendinya, baik cara maupun tema pesan yang ingin disampaikan. Bukankah seperti diterangkan dalam Al-Quran bahwa Ramadhan adalah bulan kasih sayang dan cinta terhadap sesama manusia, alam, dan Tuhan. Pertanyaannya bagaimana cara membumikan pesan moral Ramadhan? Inilah yang kadang masih sulit dilakukan. Masalahnya, kita tahu akan teori tapi dalam praktek masih saja ditemukan pesan Islam yang ramah itu tak disampaikan secara wajar. Sebaliknya, menimbulkan permusuhan antarsesama. Akibatnya Islam pun tidak lagi dipandang sebagai agama yang dapat menyelesaiakan masalah umat di dunia, namun makin

1


Testymoni

2 ditinggalkan pemeluknya karena perilaku sebagian orang Islam yang kasar. Dalam jangka panjang keadaan ini sudah barang tentu sangat berbahaya bagi masa depan Islam ke depan. Kaum Muslimin makin sedikit pengikutnya karena tidak lagi mendapat kepercayaan pemeluknya. Lalu apa yang dapat kita dilakukan guna membangun kepercayaan masyarakat lagi akan Islam yang membebaskan umat dari masalah dunia? Saya pikir untuk membangkitkan kembali Islam yang ramah bisa dengan cara sederhana. Yakni dalam praktek hidup sehari-hari, nilai-nilai kemanusian Islam itu dibumikan. Ramadhan menjadi bulan yang tepat untuk mewujudkan pelajaran moral Islam. Dan setiap orang bisa melakukannya: anak, orang dewasa, ibu atau bapak dan juga manula. Seperti yang terjadi di salah satu keluarga ketua takmir masjid di daerah pesisir utara Jawa Tengah. Selama bulan puasa keluarga tersebut berbagi tugas: si ibu bertugas mempersiapkan makanan berbuka sedangkan si bapak bertugas mempersiapkan hidangan saur. Tak hanya sampai disitu saja, kadang bapak menyapu rumah dan halaman dan ibu mencuci piring. Ketika saya tanya, apakah pembagian tugas itu berdasar atas kesepakatan bersama atau karena kemauan masing-masing?. “Saya tidak tega kalau melihat ibu melakukannya sendirian “ kata Bapak itu. Bagi Bapak yang ditinggal anaknya merantau ini, sebetulnya tak ada tugas yang berbeda antara istri dan suami.

Ramadhan, Antara Harapan dan Kenyataan

Menurutnya, keduanya mempunyai tugas yang sama untuk membina rumah tangga. “Sang istri kadang juga bekerja mencari nafkah”. Untuk mengatasi kekosongan tugas rumah tangga biasanya saya yang melakukannya. “Kita kan sama-sama hamba Tuhan, jadi tidak baik kalau membiarkan orang lain susah payah lantas kita enak-enakan”. Katanya. Mendengar kata-kata itu, sontak hati saya tersentuh. Di tengah budaya kebapakan yang kuat di tanah Jawa ternyata masih ada laki-laki yang setia membantu istrinya untuk meringankan beban kerja: dapur, sumur, dan kasur yang selama ini dilekatkan pada perempuan. Semua itu dilakukan oleh sang ketua takmir dengan tulus ikhlas. “Segalanya akan menjadi ibadah kalau dilakukan dengan ikhlas,” jawabnya ketika saya tanya apakah Bapak tidak merasa tabu atau sungkan untuk melakukan pekerjaan itu? Sebagai hamba Tuhan, apa yang diamanatkan di bumi bukan hanya berhubungan dengan-Nya, tetapi juga dengan sesama manusia termasuk dengan sang istri. Semua itu saya lakukan atas perintah Allah, sebagai hamba saya harus berperilaku adil dan baik (makruf) terhadap istri saya. Bukankah ini juga bagian dari ibadah Ramadhan kan mba. Tuturnya sambil tersenyum.

Pras: Ketika Tanggung Jawab

Harus Dijaga Oleh: Andi.Andrianto*

N

amaku Prastiati Siwi. Sudah 33 tahun aku menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga sejak menikah pada 16 Agustus 1975. Dalam rentang waktu cukup panjang itu, suka duka membangun keluarga sakinah bersama sang suami, Anthon Pati telah kami lalui dengan banyak kisah dan cerita. Ya, itulah keluargaku, yang Tuhan pertemukan. Sebagai seorang ibu, saya mempunyai banyak peran. Mengurusi suami, mengatur asap dapur agar tetap mengepul, mencuci, masak, mengurusi anak, dan berbagai tugas kerumahtanggaan lain. Selain itu saya juga pernah membantu ekonomi keluarga dengan berjualan bahan campuran di rumah. Tapi kegiatan itu tak bertahan lama. Saya kekurang modal dan akhirnya bangkrut. Beraneka aktivitas tersebut sudah pernah aku lakukan bahkan hingga kini sebagai wujud tanggung jawab dan amanah sebagai ibu rumah tangga. Tentu tidak mudah menjalaninya, tapi kegiatan

terse b u t sudah menjadi ses uatu yang harus s a y a kerjakan sebagai seorang ibu. Selama bulan Ramadhan ini tanggung jawab saya makin bertambah. Jika di bulan-bulan sebelumnya saya bangun pagi sekitar pukul 05.00, namun sejak bulan puasa seringnya saya bangun jam 3 subuh. Hal itu sengaja saya lakukan, tujuannya supaya saya bisa memiliki waktu panjang untuk mempersiapkan hidangan sahur bagi ibu saya yang sudah beranjak menua, namanya Siti Halimah (78), suami saya, dan ke enam anak saya, Aspri, Yoga, Heri, Andri, Mega, dan Sari yang kini sudah dewasa.

3


Testymoni Meskipun kami keluarga besar, tapi biasanya ketika mempersiapkan makan saur saya melakukannya sendiri. Maklumlah saya tidak punya pembantu yang “wajib” menolong saya saat mempersiapkan makan sahur untuk keluarga. Kalaupun ada anak atau suami saya yang meringankan kerja dapur itu pun tidak saya suruh. Biasanya mereka mengerti sendiri. Begitulah cara saya mendidik keluarga, sangat jarang sekali saya bersikap memerintah. Selama ini cara yang saya tempuh dalam memberikan arahan baik pada anak maupun suami biasanya dengan cara memberi contoh dengan apa yang saya kerjakan. Misalkan saja dalam bulan puasa ini, hampir tiap hari saya bangun jam 3, setelah itu menghidangkan makan sahur. Dengan berperilaku seperti itu, ada harapan kecil saya terhadap anak dan suami saya agar mereka melakukan hal yang sama dengan apa yang saya lakukan. Tapi jika mereka tak menuruti atas apa yang saya kerjakan, bagi saya hal semacam itu biasa saja. Yang terpenting bagi saya sebagai ibu rumah tangga yakni keluarga saya bisa bahagia dengan segala pengorbanan yang saya lakukan.

4

Bangun lebih awal selama Ramadhan adalah bagian terkecil dari pengorbanan saya pada kebahagiaan keluarga. Bagiku keluarga adalah segala-galanya. Makanya meski terkadang saya tidak puasa karena halangan, tapi saya tetap ikhlas untuk bangun dan bahagia menyiapkan mereka makan sahur. Selama Ramadhan ini, diantara keluarga, saya yang paling banyak bolongnya. Maklumlah tamu istimewa itu datang lagi. Memasuki hari ke 13 puasa, sudah satu minggu saya tak berpuasa. Jadi jika hitung-hitung puasa saya baru 6 hari. Untuk mengganti puasa yang bolong itu, saya membayarnya di bulan lain sehabis lebaran. Ya, seperti itu kan ajaran agama Islam. Kata ibu kelahiran di Jakarta 17 Desember 1959. Sementara itu, ketika menjelang buka puasa aktivitas biasa saya tetap berlangsung. Selama ini untuk mempersiapkan hidangan berbuka puasa, kerjaan saya agak lumayan ringan karena dibantu anak atau suami. Jelang berbuka, umumnya kami membagi tugas. Ada yang membuat teh atau minuman dingin. Ini biasanya dikerjakan anak saya. Sementara saya mempersiapkan yang lain, hidangan makan: lauk, sayur, dan lain.lain.

Pras: Ketika Tanggung Jawab Harus Dijaga

Kecerdasan Sultan Abdul Malik Bin Marwan

P

ada suatu hari Sultan Abdul Malik bin Marwan menerima seorang perempuan menghadap kepadanya. Si perempuan hendak mengadukan bahwa dia telah diperlakukan tidak adil oleh famili-familinya dalam hal harta warisan. “Tuan! Famili-familiku telah memperlakukan aku secara tidak adil. Permasalahannya adalah bahwa saudara laki-lakiku seibu sebapak meninggal dunia. Dia meninggalkan harta kekayaan enam ratus dinar, tetapi aku hanya diberi satu dinar saja. Aku merasa hal ini tidak sesuai dengan ajaran Islam,” ujar si Perempuan. Dengan tangkas Sultan Abdul Malik bin Marwan menjawab: “Mungkin saudara laki-lakimu mati meninggalkan dua orang anak perempuan; bagian mereka adalah dua per tiga, jadi empat ratus dinar. Juga meninggalkan ibu yang bagiannya adalah seperenam, jadi seratus dinar. Juga meninggalkan seorang istri yang bagiannya adalah seperdelapan, jadi tujuh puluh lima dinar. Juga meninggalkan dua belas saudara laki-laki yang bagiannya adalah dua puluh empat dinar. Maka tersisalah satu dinar, yaitu bagianmu. Jadi, famili-familimu sudah benar.” Disarikan dari Butir-Butir Hikmah Sufi Jilid 3, Penerbit LKiS, Yogyakarta oleh Rina.

Kecerdasan Sultan Abdul Malik Bin Marwan

5

Bulletin 'Adalah edisi 16  

Bulletin 'Adalah edisi 16

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you