Issuu on Google+

Getting Rich Through Property

Vol. 8 Aug - Sep 2010

“The secret of getting rich… is to buy four green houses, and then sell the four green houses to buy a red hotel”

Road to Wealth Clarity is Power

Growth Strategies

The One You Have in Hand is The Opportunity

Smart Family

Emangnya uang turun dari Langit? w w w.m o n e y- a n d - i . co m

Rp. 25.000,-


Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

3


wo rd sfrom t he

c ontents

d i re c tor Special Feature

Pimpinan Perusahaan

Alex P. Chandra

07

Tim Redaksi M&I Magazine Contribor Koordinaator

I Pt Agus Ariawan

Pimpinan Redaksi

Getting Rich Through Property

Desain & Fotografi

Kopi Panas Productions

Supported by:

E. redaksi@money-and-i.com marcomm@bprlestari.com Direct Sales & Marketing for Advertisement T. 0361 744 884 www.money-and-i.com

Pembaca M&I yang budiman, Saya mengumpamakan investasi sebagai sebuah kendaraan. Kendaraan yang akan membawa kita dari tempat kita sekarang menuju ke tempat tujuan yang kita inginkan. Dari kondisi kita sekarang menuju kehidupan yang kita cita-citakan.

Road to Wealth

Clarity is Power

10

Salah satu instrumen investasi yang powerful adalah properti. Bukan suatu kebetulan bahwa hampir semua orang kaya, tanpa kecuali, menjadi kaya karena ber-investasi di properti atau menyimpan kekayaannya dalam bentuk real estate.

Dua-duanya meluangkan waktu mereka yang berharga untuk bercerita kepada kita, how do they do their business, what they belief in. Sebuah insight yang sangat berharga.

Salam dahsyat,

Economic Focus

12

Bisnis Properti Bali Masih Menjanjikan

Green Business

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

Smart Family Emangnya uang turun dari Langit?

29 Polling Buku atau Baju - Dilematis? 30 Leisure Sensasi Terbang Menantang

34 Front of Mind Muhammad Yunus, Bankir Kaum Wanita dan Orang Miskin 36 Literature Property Cash Machine Langkah Cerdas Membangun Kekayaan Melalui Properti

38 Small Biz Home Biz Kopi Luwak B-36, Kotoran ‘Nikmat’ Berharga Selangit

43 High-Tech Index

Yayasan Wisnu

Note: Kritik dan saran dapat dikirimkan ke: redaksi@money-and-i.com

Green Business Yayasan Wisnu

40 Community Enterprise Studio Batik Tjok Agung Gede Pemayun

Alex P Chandra

Ilustrasi: Fauzi

22 26

32 Note from the Guru Mengapa Excellent Service Saja Tidak Cukup

Spesial Issue kita kali ini adalah Getting Rich Through Property. Dan ke hadapan anda kami hadirkan special interview kami dengan dua orang property entrepreneur. Dua orang ini saya kenal secara pribadi, dan bahkan bekerja sama dengan mereka.

Selamat membaca, semoga bermanfaat.

4

12 Economic Focus Bisnis Properti Bali Masih Menjanjikan

20 Entrepreneur Interview Wayan Jamin

Apapun cita-cita itu, Alamat Redaksi: PT. BPR SRI ARTHA LESTARI Jl. Teuku Umar 110 Denpasar T. (0361) 246706 F. (0361) 246705

Road to Wealth Clarity is Power

18 Interview with The Millionaire Ir. Gede Agus Hardiawan

danielGABE Annisa Era Putri

Special Feature Getting Rich Through Property

16 Growth Strategies The One You Have in Hand is The Opportunity

Public Relation

07 10

22

44 After Hour 46 Sneak Peek

Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

5


co ntr ibu tor

p rof i l e

f

sp ecial eatu res Hermawan Kartajaya

Alex P. Chandra

Direktur Utama BPR Lestari

Pribadi Budiono

Direktur BPR Lestari

I Made Wenten B.

Kabid Support& Operation BPR Lestari

Asia’s Leading Marketing Strategiest CEO Of Mark Plus. Inc & Founder of MIM

Suzana Chandra

Managing Director- Lestari Living

Dicky Lopulalan

Penulis dan fasilitator kewirausahaan sosial

Alex P. Chandra Direktur Utama BPR Lestari

Getting Rich Through Property “The secret of getting rich… is to buy four green houses, and then sell the four green houses to buy a red hotel” (Robert T Kiyosaki)

T

eman saya, Mervinda Lim, dulu wakil pemimpin di BCA Cabang Kuta pernah mengatakan bahwa orang tidak bisa menjadi kaya dengan berbisnis hotel. Orang menjadi kaya dulu baru mempunyai hotel. Menarik bukan apa yang dikatakannya ? Terserah apakah anda setuju atau tidak dengan pendapat teman saya di atas, kenyataannya adalah para orang kaya, tanpa kecuali, menjadi kaya karena properti atau mereka menyimpan kekayaannya dalam bentuk real estate. Jadi lebih menarik lagi bukan ? Hampir 100% dari para orangorang kaya tersebut, menjadi kaya karena investasinya di properti atau menyimpan kekayaannya dalam bentuk real estate. Karena itu jika kita ingin menjadi kaya, atau lebih kaya, bukankah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk mempelajari rules of the games-nya untuk berinvestasi di bidang ini ? HOW I MAKE MY FIRST 100 MILLION Kejadiannya adalah di penghujung tahun 1998. Saya masih bekerja di BCA. Waktu itu masih sebagai Wakil Pemimpin. Seorang nasabah yang juga kawan saya, Pak Candra, mengajak saya melihat tanah yang baru dibelinya di kawasan Canggu. Waktu itu ia menganjurkan saya untuk ikut membeli sebidang lahan di dekat tanah yang dibelinya. Harganya 10 juta per are. Lahannya seluas 15 are.

6

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

Saya tidak punya uang waktu itu. 150 juta adalah jumlah yang besar sekali bagi saya ketika itu. Tetapi, pada masa itu, di penghujung krisis ekonomi 90-an, harga dollar mencapai 15,000 rupiah. Harga susu mencapai 100 ribu rupiah per kalengnya. Saya kemudian merasa betapa murahnya harga tanah ketika itu. Saya berkata kepada istri saya, “semeter persegi tanah ini harganya sama dengan sekaleng susu”. Wow? Saat itu saya memberanikan diri membeli sebidang tanah tersebut, dengan mengajukan pinjaman lunak dari kantor. Sebagai pejabat di BCA, saya memang berhak mendapatkan pinjaman untuk membeli rumah. Atas pinjaman itu, setiap bulan gaji saya akan dipotong selama 10 tahun masa kredit. Termasuk jika saya mendapat bonus tahunan, maka bonus saya akan dipotong dulu oleh pinjaman saya itu. Pinjaman saya disetujui oleh Kakanwil Surabaya, Pak Maliki Tedja. Jadilah saya membeli tanah seluas 1,500 m2 itu. Tanah ini kemudian saya jual setahun kemudian. Harganya waktu saya jual 22 juta per arenya. Jadi secara total saya mendapatkan keuntungan 180 juta. Setelah dikurangi biayabiaya, termasuk biaya broker dan biaya bunga, keuntungan saya mencapai 150 juta sendiri. That’s how I make my first 100 million. Keuntungan dari penjualan tanah tadi ditambah dengan sedikit berhutang saya belikan lagi tanah di Banjar Anyar,

Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

7


f

f

spec ial eature s Kerobokan. Ketika itu harganya 30 juta per are. Tanahnya bagus. Tidak di pinggir jalan raya, agak masuk namun tidak terlalu jauh. Di belakang tanah ini adalah hamparan sawah yang melandai kemudian sampai ke lembah yang dipenuhi pepohonan kelapa. Karena letaknya yang tinggi, maka hampir 180 derajat saya bisa melihat area persawahan. Dari tanah ini saat senja pemandangan sunset yang indah bisa terlihat. Di tanah inilah saya kemudian mendirikan rumah, yang kemudian saya tinggali sekarang ini. A ROOKIE MISTAKE Kalau dilihat dari kacamata sekarang, tindakan saya waktu itu membeli sebidang tanah di Canggu tanpa tahu harus diapakan, tanpa pengetahuan mau dijual kepada siapa, dan bagaimana cara menjualnya, adalah murni spekulasi. Don’t do that at home ! Tanah yang saya beli berada di pinggir jalan besar yang masih sepi. Kurang lebih 3 kilometer dari pantai Canggu.

sp ecia l eatu res Rumah itu akhirnya laku disewakan. Namun jika dibandingkan dengan nilai investasinya, sebenarnya merugi.

kita adalah 47,5 juta dari equity invested sebesar 150 juta. Ini berarti 31% pa return.

ini cukup 150 juta saja. Yang 350 lagi akan di-finance oleh bank.

Please don’t do that at home !

Not bad bukan ?

PROPERTY IS FORGIVING

PROFIT MADE WHEN YOU BUY

Dua tindakan pertama saya dalam berinvestasi di properti, dua-duanya adalah kesalahan.

Rahasia lain berinvestasi di properti itu adalah adalah bahwa keuntungan itu kita harus sudah kita dapatkan pada waktu kita membelinya.

Setelah itu kita bisa mencari jalan bagaimana caranya memberikan nilai tambah kepada properti kita. Banyak caranya. Misalnya dengan mengecat ulang, mengganti pagar, membuat taman, membikin air mancur, membuat garasi dan lain-lain.

Yang pertama salah memilih lokasi. Yang kedua, benar lokasinya, salah membangunnya. Namun, beruntung saya berinvestasi di Bali, di tempat yang sedang tumbuh. Kesalahan saya dimaafkan dengan kenaikan harga. Buktinya saya masih dapat untung dari kesalahan membeli lahan yang pertama, dan akhirnya nilai sewa rumah saya itupun berhasil ditingkatkan dengan berjalannya waktu. Inilah salah satu yang saya sukai dengan berinvestasi di properti. Property is forgiving. Barangnya tidak rusak dan busuk, malahan bertambah nilainya. Jadi kesalahan kita akan ter-offset dengan berjalannya waktu dan pertumbuhan.

Adalah sangat dimungkinkan bahwa kita membeli properti yang ‘nilai sebenarnya’ 600 juta dengan harga 500 juta. Sedangkan jika kita berinvestasi di saham misalnya, kita tidak mungkin membeli saham yang ‘nilai’nya 600 juta seharga 500 juta bukan ? Mengapa demikian ? Banyak alasannya. Salah satu adalah karena sifatnya yang tidak likuid. Menjual sebuah properti tidaklah segampang menjual saham atau emas. Dibutuhkan waktu untuk menjualnya. And sometimes people do not have that time..

Pemikiran saya, kalau di pinggir jalan, harganya pasti lebih bagus.

Jaraknya-pun masih terlalu jauh dari pantai. Lautnya tidak kelihatan, debur ombaknya tidak kedengaran.

Kemudian, berdasarkan pengalaman saya yang pertama tadi, saya meneruskan ‘petualangan’ saya di dunia properti.

LEARNING THE RULES OF THE GAMES

Kali ini setelah tanya-tanya dan sedikit survey. Katanya, kalau membeli tanah di kawasan turis ini, tanahnya harus mempunyai view.

OTHERS PEOPLE MONEY

Jadi saya membeli tanah yang indah, tidak di pinggir jalan, melainkan masuk sedikit, dan mempunyai million dollar view. Cocok buat residence villa yang disewa-sewakan.

Alasan lain mengapa saya menyukai berinvestasi di properti antara lain adalah saya bisa menggunakan pinjaman bank untuk membeli properti yang saya inginkan.

Kali ini saya lebih berani lagi. Saya mulai membangun residence villa. Tujuannya agar mendapatkan income dengan meyewakan villa tersebut.

Kalau kita berinvestasi di saham, tidak ada bank yang mau meminjamkan uangnya ke kita untuk kita pakai berinvestasi di saham. Namun sebaliknya, jika kita mau membeli rumah, hampir semua bank mau meminjamkan uangnya kepada kita.

8

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

Teknik ini sudah saya lakukan berkali-kali. Saya pernah membeli rumah seharga 100 juta, saya cat menghabiskan 25 juta dan bisa saya jual dalam sebulan seharga 175 juta.

81% return dalam setahun !

Saya membeli lagi tanah di Banjar Anyar, Kerobokan.

Rumah itu besar sekali investasinya, sehingga kalau disewakan dengan memperhitungkan nilai investasi, tidak akan ada yang mau menyewanya. Selain itu rata-rata orang asing yang tinggal di Bali, keluarganya tidak banyak. Mereka hanya butuh 2 bedroom atau maksimal 3 bedroom. Saya membangunnya 4 bedroom.

Misalkan kita putuskan untuk mengganti pagar, mengecat dinding, mengganti lampu dan membuat taman kecil yang cantik di rumah yang baru kita beli tadi. Total ongkos 25 juta, mungkin memberikan nilai tambah 100 juta terhadap rumah tadi.

Katakanlah prosesnya mulai dari membeli, memberikan nilai tambah, sampai menjualnya memakan waktu 1 tahun, profit before interest-nya adalah 200 juta. Dikurangi biaya bunga 52,5 juta dan biaya perbaikan 25 juta, maka net profit 122.5 juta dari equity 150 juta.

Ketika saya berhasil menjualnya, saya cuma beruntung. Tanpa keahlian sama sekali saya berhasil mendapatkan untung yang lumayan. A pure luck atau Hoki.

Saya telah benar membeli lahannya, namun salah membangunnya.

Jadi banyak sekali hal-hal yang bisa kita lakukan untuk memberikan nilai tambah dari properti yang akan kita beli.

Bapak/Ibu sekalian, dengan 3 teknik sederhana di atas, berinvestasi di properti akan memberikan handsome return. Kembali kepada contoh di atas rumah yang nilainya 600 juta tadi berhasil dipercantik sehingga nilai menjadi 700 juta. Sedangkan kita membelinya hanya dengan equity 150 juta dan tambahan 25 juta untuk biaya perbaikan.

Ternyata pemikiran saya tadi salah. Karena jalan dan areanya masih sepi, tanah di pinggir jalan tadi malah tidak memberikan keuntungan. Terlalu sepi buat dijadikan toko. Namun terlalu ramai dan tidak nyaman buat residence villa.

Namun, saya membangunnya dengan memakai kacamata saya. Rumahnya besar dengan 4 kamar yang besar-besar.

Kebalikan dengan orang yang menjual mobil, dimana mobilnya akan didandani dulu sebelum dijual, jarang sekali orang mendandani rumah yang akan dijualnya. Kebanyakan dibiarkan saja rumahnya itu dalam kondisi tidak terawat.

Jika kita misalnya, ingin membeli properti senilai 500 juta misalnya, kita tidak perlu punya uang 500 juta. Mungkin cukup 150 juta saja. Sisanya bank akan membiayai. Kalau properti tadi bisa kita flip dalam setahun misalnya dengan harga 600 juta. Maka 150 juta kita memberikan return before interest 100 juta. Jika memperhitungkan bunga (misalnya 15% pa), maka biaya bunga kita adalah 350 juta (jumlah pinjaman kita) x 15% = 52.5 juta. Net keuntungan

Dan secara natural, kecuali investor properti dan beberapa pengecualian ketika orang hendak membeli properti yang lebih besar, orang-orang yang menjual propertinya selalu dalam kondisi distress. Mereka punya kebutuhan untuk segera melikuidasi propertinya. Mereka tidak punya waktu untuk menunggu. Hampir semua penjual properti berada dalam kondisi “BU”. Jadi kalau saja kita mengerti apa yang kita lakukan, sangat mungkin kita membeli properti yang nilainya 600 juta dengan hanya membayar 500 juta saya. Dan kita tidak perlu punya uang 500 juta, cukup 150 juta saja. Sisanya bank yang akan membayarinya buat kita. Jadi ketika kita membelinya, kita sudah untung 100 juta. FLEKSIBILITAS UNTUK MEMBERIKAN NILAI TAMBAH Kini kita sudah bisa membeli properti yang ‘nilainya’ 600 juta dengan hanya 500 juta saja. itupun kita tidak perlu mempunyai keseluruhan dananya. Dalam contoh kasus

Anda semua dapat melihat sekarang betapa saya sudah bertambah pintar, dibandingkan dengan 2 transaksi saya yang pertama. Sama halnya dalam berinvestasi, semua ada aturan mainnya. Pelajari dan pahami dulu rules of the games-nya. Baru ikut bermain dan mulailah dengan skala kecil-kecilan. I learned my lesson since and still learning up to now.. Ups…, jatah kolom saya sudah habis. Semoga artikel sederhana ini membantu Bapak/Ibu sekalian untuk memutuskan apakah akan berinvestasi di properti atau tidak. Edisi berikut, saya akan membahas bagaimana cara-cara yang lebih advance lagi. Seperti quotationnya Kiyosaki di atas…the secret of getting rich is to buy a four green houses and then sell the four green houses to buy a red hotel.. Edisi kali ini hanya sampai kepada membeli dan menjual four green houses. Besok kita bahas bagaimana caranya membeli hotel, dan mengapa bisnis kamar dan rumah-rumah sewaan ini merupakan ultimate game bagi setiap investor. Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

9


ro adto

w e al th

roa dto

w ealth

Alex P. Chandra Direktur utama BPR Lestari

CLARITY IS POWER Everything happened twice, first time in our mind

A

da satu teknik yang sangat powerful, untuk membantu kita mendapatkan apa yang kita inginkan, apa-apa yang kita cita-citakan. Yaitu teknik Visualisasi. Kita harus tahu apa yang kita inginkan. Dan semakin jelas dan detail kita bisa menggambarkan apa-apa yang kita ingin capai, semakin bagus kans kita untuk mencapainya. Kemudian, buat gambarnya dalam pikiran kita. Semakin detail semakin bagus. Putar ulang gambaran mental tadi berulang-ulang, terus menerus. Kira-kira begitu tekniknya. Misalnya kita menginginkan rumah idaman. Harus jelas dan detail, berapa meter persegi rumahnya, satu lantai atau dua lantai, warna pagarnya seperti apa, berapa kamarnya, dan seterusnya. Saya mencita-citakan rumah tinggal saya bahwa harus ada teras depan dengan kolam ikan koi dan air mancur, ada teras samping yang semi terbuka berhadapan dengan kolam renang, punya balkon yang memandangi area persawahan, ada outdoor showernya. Well, akhirnya saya tinggal di rumah yang seperti itu. Teknik ini sangat sederhana, murah dan menyenangkan. Saya mempraktekkannya setiap kali. Cita-cita saya di masa yang akan datang terus saya bentuk, saya sempurnakan, saya bayangkan dalam pikiran saya. Dan saya putar ulang mental picturenya dalam pikiran

10

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

saya, ketika saya jogging, ketika saya bersepeda, ketika menyetir dan seterusnya. Menyenangkan, menghibur dan murah. Segala sesuatunya tercipta dua kali, pertama di pikiran kita baru kemudian realitinya. Jika kita tidak berhasil membentuk gambaran mentalnya di pikiran kita, lebih sulit kiranya merealisasikannya. Mengapa hal itu bisa terjadi ? Apakah masuk akal ? Penjelasannya begini: Otak kita itu secara otomatis memprogram untuk menyaring mengerjakan dan mencari informasi apaapa yang kita butuhkan. Marilah kita bereksperimen. Dengarkan di sekeliling kita sekarang, berapa banyak suara yang bisa kita dengarkan ? Kita saya menulis ini, saya bisa mendengar suara suster saya mengatur makan pagi anak-anak saya, saya bisa mendengar batuk anak saya yang paling kecil, anjing tetangga menggonggong, suara air mancur di teras depan, suara mesin kolam renang, suara kicau burung, ada suara ayam berkokok di kejauhan, ada suara mesin cuci di belakang, dan kalau saya perhatikan lebih detail ada suara cicak. Tapi sebelumnya, ketika saya berkonsentrasi menulis artikel ini, suara-suara tadi ‘tidak terdengar’ oleh saya. Bukannya telinga saya tidak mendengarnya, melainkan otak saya menyaringnya, karena suara-suara tadi untuk sementara ‘tidak dibutuhkan’.

Otak kita itu mempunyai sifat seperti filter untuk menyaring dan menarik informasi, opportunity yang kita butuhkan. Alangkah kacau balaunya hidup kita jika otak kita tidak mampu membeda-bedakan semua informasi. This is a God given. Ini adalah anugrah Tuhan kepada kita. Nah dengan teknik visualisasi ini, kita mengaktifkan bagian yang sangat powerful dari otak kita ini, yang oleh Anthony Robbin dikatakan sebagai Reticular Activating System (RAS). RAS adalah bagian dari otak kita yang bersifat seperti magnet, menarik informasi, resources dan apapun yang kita butuhkan untuk mencapai apapun yang kita inginkan. Ketika saya merasa bahwa ikut seminar membantu pertumbuhan saya, ketika saya merasa ikut seminarseminar yang bermutu adalah jalan yang paling cepat buat saya belajar, tiba-tiba saya otak saya men-scan banyak sekali informasi mengenai seminar-seminar. Tiba-tiba di koran secara otomatis saya melihat banyak informasi tentang seminar-seminar tersebut. Dan itu terjadi secara otomatis, refleks saja. Ketika kita secara clear bisa mendeskripsikan apaapa yang ingin kita capai, secara tidak sadar kita memprogram otak kita untuk membantu kita mendapatkan informasi, resources dan opportunity yang kita butuhkan. Let’s have a dream, a big dream. Make it clear, and visualize. Gampang, menyenangkan, murah dan powerful. (Ilustrasi: Fauzi)

Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

11


f

f

econ omic o c us

economic o c u s untuk membiayainya lewat program kreditnya. Tidak perlu hitung-hitungan yang terlalu rumit karena nilai bunga kredit dan perkembangan nilai properti tidak akan paralel atau dibawahnya. Sudah hampir pasti nilai properti tersebut akan lebih tinggi dari nilai bunga. Yang kedua menciptakan “Additional Income” yang mungkin saja dapat menutupi tagihan kredit bank, yaitu dengan mengelola properti tersebut dengan menyewakannya kepada orang lain. Nilai sewa tersebut dapat dipakai untuk menutupi biaya kredit hingga akhirnya saat kredit dilunasai properti yang sudah menjadi penuh milik kita akan jauh memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding saat kita membelinya. Dua keuntungan yang “langka” dibanding investasi di bidang lain.

Bisnis

Properti

Bali Masih Menjanjikan M

Oleh Gabe

engapa bisnis property selalu diminati dari waktu ke waktu? Pelaku bisnis ini bisa dari berbagai kalangan dan dapat dilakukan berkelompok, dengan management yang complicated atau bisa juga dilakukan oleh management yang paling sederhana atau oleh perorangan. Bahkan disegala kondisi, baik situasi krisis maupun saat perekonomian sehat bisnis ini sepertinya “tidak ada matinya”. Bahkan hampir setiap orang berpendapat bahwa bisnis ini tidak pernah merugi bahkan nilainya akan terus naik tiap tahun. Benarkah? Mengapa demikian? Investasi di properti memang saat ini menjadi pilihan paling utama di kebanyakan orang. Bisnis ini dianggap menjadi cara terbaik dalam mengembangkan uang

12

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

dengan aman. Begitu banyak pebisnis yang suskes abis dalam menjalankan bisnis ini, sebut saja Donald Trump hingga Ciputra di Indonesia bahkan banyak “pemain-pemain” baru yang mendapatkan “jackpot” diawal perintisannya. Menurut Mieke Rini di Danareksa.com: kebanyakan produk investasi lain banyak dipengaruhi oleh faktor luar. Misalnya harga-harga di bursa saham bisa naik turun dengan cepat bahkan signifikan karena isu atau gossip seputar politik, kebijakan pemerintah, keamanan negara, kondisi ekonomi, atau seperti obligasi yang harganya turun saat angka inflasi dan suku bunga naik. Dibandingkan properti yang walaupun juga

terpengaruh faktor luar, namun perubahannya tidak terlalu cepat, misalnya harga rumah tentunya tidak bisa berubah begitu saja dalam sehari tetapi butuh tahunan. Deddy Handarbeni seorang pengamat dan pengelola majalah properti mengatakan ada dua hal yang menarik dalam bisnis ini: Pertama “tidak perlu pakai uang sendiri”. Untuk berinvestasi di bidang property kita tidak perlu membelinya dengan uang kita seluruhnya secara tunai. Bisa saja kita mengeluarkan uang hanya 10% atau 30% saja dan sisanya ajak Bank

Jadi investasi ini sangat menarik terlebih di pulau Bali yang saat ini perkembangan perekonomiannya sangat baik dan stabil. Terlebih ketika kita mulai merambah bisnis pariwisatanya. Inilah kelebihan Bali yang memiliki nilai plus alam dan prospek pariwisatanya. Kesempatan untuk mengelola dan memanfaatkan investasi di bidang property ini masih begitu terbuka, meskipun sudah cukup banyak “player” bahkan yang dari luar negeri, tetap masih banyak “kue” yang dapat “dimakan”. Untuk memulai bisnis ini sepertinya tidak perlu“sekolah” khusus, kata Raymond pelaku bisnis ini, yang katanya hanya untuk “sambilan”. Untuk berniat memulai bidang ini. Cukup menyimak rules-rules yang berlaku dan mulai latih “insting” properti anda. Bagaimana melihat nilai strategis, bagaimana menganalisa prospeknya dan sekaligus mulai belajar bernegosiasi secara sederhana. Mudah, aman dan sangat menguntungkan! (Foto: Dika) Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

13


f

f

econ omic o c us

economic o c u s

Gianto Prayogo Jujur, Ulet dan Tawakal adalah awalnya... Oleh Prad

U

ntuk melengkapi pembahasan tentang bisnis properti ini, kami coba mewawancarai salah satu pelaku dalam bisnis ini. Dan pilihan jatuh kepada Bapak Gianto Prayogo. Seseorang yang memulai karirnya dari Chief Accountant di sebuah group perusahaan di Jakarta hingga kemudian dia menemukan “ROAD TO WEALTH” di Bali, dan tahun 1995 dia memulai bisnis dibidang properti. Berikut cuplikan wawancara kami

M&I: Kapan Bapak memulai membuka toko Gelora Perkasa? GP: Saya sudah memperkirakan bahwa menjadi rekanan BUMN pasti ada akan datang masa surut, maka pada bulan Juli 1990 saya membuka toko Gelora Perkasa yang pada awalnya menjual peralatan telekomunikasi seperti key telephone, PABX, intercom dan faximile dan dengan bertambahnya permintaan pasar, mata dagangan terus bertambah seperti HP, Banking Equipment, CCTV dan lainnya.

GP: Menurut anda jika seorang pengusaha itu tidak jujur dan tidak tepat janji apakah bisnisnya bisa berkembang? kalau mau sukses harus memiliki Godly Character, Honest, Diligent, dan jangan jadi pengusaha yang lupa bayar hutang. M&I: Bagaimana Bapak memutuskan deal suatu project? GP: Dalam menentukan deal suatu properti urutan pertama adalah lokasi. Unsur lokasi ini sangat menentukan keberhasilan dalam menjual properti tersebut, baik lahan untuk Ruko, Perumahan, atau Komersial. Jika lokasinya bagus dan harganya kompetitif (lebih murah dari harga pasar) kalau yang kita beli dengan harga pasar bagaimana kita membayar bunga Bank yang tidak mengenal hari Minggu, Hari Raya Nyepi atau Galungan) maka lahan yang bagus lokasinya dan kompetitif harganya layak untuk dibeli. Jika modal tidak mencukupi, itu bukan masalah berarti karena sumber pendanaan bisa didapat dari Bank, dari teman atau pembayaran diundur (dicicil) untuk mendapatkan sumber

tersebut saya belum bisa menyelesaikan perizinan dengan pembeli. Akhirnya uang muka senilai ratusan juta hangus. Stress bukan main saya waktu itu, kemudian saya buat lagi perjanjian baru dengan pemilik lahan, pelunasan dalam tiga bulan, berkat perjuangan dan doa maka pada bulan kedua semua perijinan yang diminta pembeli bisa saya penuhi dan saya segera melunasi pembayaran lahan tersebut. Berkaca dari pegalaman tersebut, saya tak ingin gagal lagi, semenjak itu saya selalu berhati-hati dalam melakukan deal-deal,” terangnya sumringah. M&I: Kalau Bapak bisa berbagi kepada para pembaca, halhal apa yang harus dipelajari atau dipersiapkan sebelum terjun ke bidang ini? GP: Modal bukan masalah selagi masih ada yang mau percaya pada kita, dan untuk mendapat pinjaman itu kita harus mulai dengan kejujuran. Sekarang ada proyek yang saya tangani bersama dengan Bapak Alex P Candra, saya menganggap beliau adalah leverage buat bisnis saya. Untuk pebisnis property pemula saya menyarankan untuk tidak melakukannya sendiri dulu. “Lebih baik bekerja sama dengan orang yang sudah berpengalaman (sebaiknya berdua saja agar suara anda didengarkan) namun mitra anda harus orang baik (kalau orang jahat anda akan ditelan

M&I: Kapan Bapak memulai bisnis Properti?

pendanaan tersebut syaratnya kita harus jujur (kalau sering buka cek kosong pasti sulit cari pinjaman). M&I: Apakah awalnya ada yang mengajari atau Bapak belajar sendiri (dari mana)?

M&I: Bagaimana awal karir Bapak di bidang bisnis? GP: Saya lahir dari keluarga sederhana bahkan bisa dibilang miskin, ibu saya hanya penjual kue “kremes” (kue yg terbuat dari ubi jalar) sementara ayah saya tidak berpenghasilan, dari gaji yang saya terima bekerja di Dharmala group saya kuliah extension di Tarumanagara Jakarta, tahun 1986 saya melepaskan jabatan sebagai chief accountant project karena diajak teman dan memulai babak baru menjadi entrepreneur dengan modal yang sangat minim dan berbekal pesan ayah saya “jika kamu terus bekerja walaupun sebagai direktur kamu adalah pegawai dan jika jadi pengusaha jangan lupa bayar hutang”. Suatu babak baru dalam kehidupan saya, merantau ke Denpasar Bali dengan berbekal Kejujuran, Ketekunan, Tawakal. Tepatnya tanggal bulan Februari 1986 saya mengundurkan diri dari perusahaan dan tiba di Denpasar pada tanggal 13 April 1986 saya memulai bisnis menjadi rekanan PT. Telkom Denpasar. Pekerjaan yang saya terima mulai dari pekerjan galian kabel, tarik kabel telepon, mengecat tower, pemasangan sentral telepon sampai pengadaan suku cadang stasiun bumi besar saya kerjakan dan berhenti menjadi rekanan pada tahun 1997 karena waktu itu proyek di PT. Telkom semakin sedikit.

14

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

GP: Awalnya dari keterpaksaan harus merelokasi toko Gelora Perkasa karena masa kontrakan toko yg saya sewa berakhir, pada tahun 1995 saya membeli gedung di jalan Teuku Umar No. 42, namun sampai berakhirnya kontrakan toko, gedung yang saya beli belum juga selesai finishing, dengan penuh keprihatinan saya membeli lagi sebuah ruko 3 lantai di pertokoan IDT (Genteng Biru) yang 100% dananya dibiayai oleh Bank, dan Gelora Perkasa saya relokasi kesana. Setelah gedung di Teuku Umar selesai finishing saya tawarkan ke PT. Telkomsel karena Gelora Perkasa adalah dealer Telkomsel dan disewanya selama 5 tahun, uang hasil menyewakan ruko tersebut saya pakai untuk mengangsur pinjaman saya di Bank dan saya bersyukur dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun pinjaman tersebut bisa lunasi. Atas kasus diatas saya mau berbagi pada pembaca sekalian “ jangan takut membeli properti yang akan dipakai tempat usaha sendiri apakah itu toko/ruko, rumah atau kantor, karena pada saat kita berhutang pada bank untuk hal yang disebutkan diatas, pendapatan anda akan meningkat tanpa disadari dengan begitu anda bisa membayar kewajiban anda ke Bank.” M&I: Apa kiat atau tips Bapak dalam berbisnis?

GP: Yang pasti tidak ada guru yang mengajari saya berbisnis, yang saya miliki hanya naluri dan saya percaya pada invisible hand, yang terutama adalah keberanian mengambil keputusan, langkahnya adalah: 1. lihat bisnisnya, 2. hitung biayanya, 3. hitung resikonya, 4. hitung hasilnya, 5. ambil keputusan. Kalau kelamaan mengambil keputusan biasanya gagal. Yang membuat gagal ada dua hal: 1. karena property tersebut dibeli orang lain, 2. anda takut karena kebanyakan berhitung. M&I: Bagaimana Bapak menemukan “kepuasan” dalam bisnis properti ini? Apakah Bapak pernah stress dalam mengelola bisnis tersebut? GP: Kepuasan saya dapatkan bukan hanya karena adanya profit namun juga jika produk yang saya jual bisa memuaskan pembeli. Stress…?! sudah pasti ada, dengan modal dari Bank tahun 1995 saya diajak teman untuk membebaskan lahan di Suwung seluas 4,8 Ha untuk supermarket. Saya kasih uang muka lahan yang bernilai milyaran rupiah itu hanya dengan lima juta rupiah per pemilik, waktu itu pemiliknya ada kurang lebih 30 orang. Dalam perjanjiannya disebutkan saya harus melunasi sisanya dalam waktu tiga bulan. Namun dalam jangka waktu pelunasan tiga bulan

perlahan-lahan, pelajari track recordnya sebelum memutuskan bekerjasama). Dan mulailah dengan nilai transaksi yang tidak terlalu besar“ Factor networking sangat diperlukan (banyak teman akan banyak tempat anda untuk bertanya dan menjual produk properti) Factor leverage, siapa dan apa saja yang bisa menjadi leverage dalam bisnis yang kita tekuni. M&I: Bagaimana Bapak melihat usaha property saat ini dan prospeknya; khususnya di Bali ? GP: Untuk lima tahun kedepan prospeknya masih sangat bagus, dan menjanjikan nilai tambah yang tinggi terutama daerah Denpasar, Badung dan Ubud. Jadi jika anda ingin membeli rumah atau tempat usaha/toko (untuk dipakai sendiri) lakukan sekarang juga sebelum harga meningkat tajam. Properti selalu naik dan tidak pernah turun, tutupnya. (Foto: Dedeth) Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

15


s

s

growth t rate gi e s

growth trategies

Hah!... berarti selama ini dia melakukan sesuatu dalam tataran kualitas alakadarnya atau secukupnya?

I Made Wenten B. Kabid Support & Operation BPR Lestari

The One You Have in Hand is The Opportunity Di jam kantor saat waktu sedikit luang, saya sering memandang kesekitar untuk mengamati rekan-rekan saya. Ini saya lakukan karena dengan mengamati mereka akan ada hal-hal yang mungkin saja muncul. Bisa jadi muncul hal-hal tentang project yang saya dan mereka kerjakan. Hal itu bisa jadi, ide-ide sederhana yang bisa membuat sesuatu menjadi lebih baik.

T

empat kerja saya, terletak di lantai 3 gedung BPR Lestari. Di lantai ini layout ruangannya berbentuk studio, jadi tidak ada pemisah antara satu bagian dengan bagian yang lain. Kita bekerja dalam satu ruangan yang luas dimana antar bagian hanya dipisahkan oleh kelompok-kelompok meja. Kita hampir bisa memandang semua orang yang bekerja di lantai ini hanya dengan sedikit mengangkat kepala saja.

16

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

Dua hari lalu saat melakukan “kebiasaan kecil” tersebut, pikiran saya tertuju kepada salah satu teman saya. Dia cukup senior di BPR Lestari, sudah bergabung di BPR Lestari kurang lebih 4,5 tahun. Ditempat kami bekerja waktu 4,5 tahun merupakan waktu yang sangat cukup untuk membuat seseorang menjadi “matang”, dan siap untuk diberikan tugas dan tanggung jawab yang lebih berbobot untuk kepentingan karir mereka.

Berdasarkan pengalaman, orang-orang yang termasuk berprestasi di BPR Lestari dapat menjadi “matang” dalam jangka waktu 2-3 tahun. Bahkan baru-baru ini kita memberikan tanggung jawab cukup besar kepada salah satu rekan yang baru bergabung selama 3 bulan, padahal dia seorang fresh graduate. Kembali lagi ke teman saya yang “tertangkap” oleh mata dan pikiran saya, dia orangnya cukup berpendidikan. Intelegensianya bagus dan semangatnya besar. Dia memiliki syarat yang cukup untu menjadi “pemain” yang berarti di tempat kami bekerja. Tetapi anehnya, selama 4,5 tahun dia bergabung di BPR Lestari ternyata belum membuat dia menjadi “matang”. Kenapa? Saya coba flashback kembali, diskusi yang pernah saya lakukan dengan dia. Dan saya teringat salah satu pernyataannya, “Saya sedang menunggu kesempatan dan saat yang tepat untuk mengeluarkan segala kemampuan saya. Dan kalau kesempatan dan kepercayaan itu telah datang saya akan menunjukkan segala kemampuan saya”.

Saya teringat tulisan Paul Arden di bukunya yang berjudul It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want to Be. Ini saya kutip sedikit bagian dari buku tersebut

“Don’t Look For The Next Opportunity. The One You Have In Hand is The Opportunity”. Di topik tersebut si Paul Arden bilang bahwa kita sering menunggu kondisi yang sempurna untuk melakukan yang terbaik dari yang kita punya. Padahal kondisi sempurna tersebut jarang terjadi, dan bahkan mungkin kondisi sempurna tersebut tidak akan pernah ada. Sering juga kita memandang bahwa pekerjaan yang sedang kita hadapi adalah hal yang sepele, hal yang biasa-biasa saja dan bukan hal yang spesial. Karena kita menganggap pekerjaan sehari-hari adalah hal yang biasa, maka kita mengerjakannya dengan biasabiasa saja, alakadarnya! Masalahnya adalah apabila selama “masa penantian” itu kita sering melakukan hal dengan “alakadarnya” dengan hasil yang biasa-biasa saja, maka orang lain akan menganggap kita adalah orang yang biasa-biasa saja dan kecil kemungkinan orang yang biasa-biasa saja akan mendapatkan peluang yang lebih baik dan lebih berbobot. Paul Arden punya saran yang sangat bagus. Janganlah menghabiskan waktu menunggu kesempatan yang sempurna untuk melakukan hal yang terbaik. Apapun yang ada dihadapan kita adalah sebuah kesempatan. Lakukan hal terbaik untuk apa yang dihadapi sekarang. Dan hasil dari usaha yang terbaik merupakan magnet untuk menarik opportunity yang lebih baik dan yang lebih bagus. “Terimakasih Paul Arden! Anda telah mengingatkan saya dan teman-teman saya.” (Ilustrasi: Dika) Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

17


interviewwiththe

m illionaire

interviewwiththe

m illionaire

Ir. Gede Agus Hardiawan Oleh Prad

H

ardy’s, siapa yang tidak tahu nama ini. Sebagai salah satu perusahaan ritel terbesar di Bali, Hardy’s kini sudah melebarkan sayap sampai ke Jawa Timur. Siapa sangka, Hardy’s yang begini besar awalnya berasal dari satu toko yang luasnya hanya 4,3 are. Adalah Ir. Gede Agus Hardiawan, akrab dipanggil Gede Hardy, yang berhasil ‘menyulap’ lahan tersebut menjadi bertambah di berbagai wilayah. Keberanian, Kejujuran, dan keinginan untuk menuju arah yang lebih baik menjadikan Gede Hardy sosok pebisnis muda yang diperhitungkan di Bali. Sense of business-nya kian terasah seiring berjalannya waktu. Money & I mendapat kesempatan bagus untuk bisa mengupas kiat-kiat bisnis pebisnis asal Negara ini.

M&I : Selamat sore Pak Gede, sibuk terus keliling BaliJawa mengontrol perusahaan? Gede Hardy : Selamat sore, ah tidak juga... tidak harus setiap saat juga berkeliling. Jika memang diperlukan barulah ke sana. M&I : Bisa Bapak tolong ceritakan bagaimana perjalanan hidup Bapak sampai bisa menjadi seperti sekarang ini? Gede Hardy : Saya termasuk dari keluarga yang biasa-biasa saja, ibu guru SD dan bapak mendapat penghasilan dari jual beli hasil-hasil pertanian. Dulu setamat kuliah dari ITB, saya bekerja di sebuah perusahaan otomotif. Sekian lama bekerja saya berpikir untuk bisa berkembang. Saya pulang dan berkonsultasi dengan keluarga akan hal ini. Bapak saya masih memiliki hutang di satu Bank dan sedikit lahan di Negara. Tahun 1996 saya memberanikan diri untuk mewarisi hutang itu, dan kemudian saya tambah untuk modal usaha toko. Sambil menjalankan toko itu, saya belajar manajeman bisnis. Sulit awalnya karena saya orang teknik. Keuntungan dari toko dan tambahan pinjaman Bank saya pergunakan untuk mencari lahan dan membuka Hardy’s Negara setahun kemudian. Nasib baik masih menaungi saya karena Hardy’s Negara berdiri sebelum krisis moneter 1998. Tak banyak yang bisa dilakukan selama krisis berlangsung, dan saya maksimalkan yang sudah ada. Barulah tahun 2000 saya bisa ekspansi ke luar kebupaten dan saya buka Hardy’s Seririt di Singaraja. M&I : Kalau boleh tahu Pak... dengan perusahaan

18

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

Kesempatan Berkembang Selalu Ada

sebesar ini tentu keuntungannya besar pula. Lantas kapan bapak mendapat keuntungan 1 milyar pertama? Jika sekarang berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai angka tersebut? Gede Hardy : Ya... tahun 1997 itu sebelum dihantam krisis... tapi keuntungan itu kan saya putar terus, diantaranya untuk bayar cicilan di Bank. Kalau sekarang…tentu cenderung lebih mudah karena anak perusahaan sudah bertambah dan berkembang. M&I : Dalam menjalankan bisnis ini apakah ada sistemnya atau tidak ada, atau cuma kebetulan-kebetulan saja? Gede Hardy : Sistem…? Begini… orang tahunya mungkin Hardy’s ini adalah pusat belanja (shopping mall) saja. Namun sejatinya dasar bisnis ini adalah properti komersial. Maksudnya begini, misal saya cari lokasi yang didapat dengan sistem sewa atau beli. Saya bangun mall/supermarket atau apalah, lalu saya carikan partner bisnis yang lain seperti Carrefour, Ramayana, Unilever atau yang lain. Jadi... selain mendapat hasil dari jualan barang primer, tekstil, kosmetik, saya mendapat uang dari sewa blok, lantai, etalase, atau yang lain. Tidak itu saja, di Denpasar misalnya, dari hasil lahan parkir saja saya mendapat bagi hasil dari PD Parkir ratusan juta per tahunnya. ‘Setoran’ dari partner tersebut bisa dipergunakan untuk bayar bunga Bank, atau mencari lahan lain. M&I : Brilliant! Suatu konsep model bisnis yang cemerlang. Pak Gede, sekarang ini berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk ‘mengajarkan’ seseorang untuk mencapai financial success seperti bapak? Gede Hardy : Tergantung niat dan usaha orang tersebut. Sekarang ini masih banyak peluang bisnis yang ditawarkan. Dari sektor properti saja masih banyak yang perlu digarap. Kesempatan masih sama seperti yang dulu. Semisal saya, dulu saya terobsesi dengan sukses seorang Gede Darmawan tahun 1970. Saya lahir saja tahun 1972 dan bisa seperti sekarang, itu artinya kesempatannya tetap sama. M&I : Apa yang disarankan kepada saya atau pembaca M&I untuk dilakukan jika ingin menjadi ‘milyuner’? Dan pelajaran penting apa saja yang pernah bapak rasakan? Gede Hardy : Dalam setiap usaha itu tentu modal sering menjadi kendala. Untuk bisa mendapat modal, cara termudah tentu dengan mencari pinjaman. Untuk mendapat akumulasi

pinjaman, Anda harus mendapat kepercayaan dari pemberi modal. Jangan salah gunakan kepercayaan itu, patuhi aturan main dan tanggung resiko. Saya juga pernah melepas aset di jalan Gatot Subroto Denpasar karena memenuhi jatuh tempo Bank. Pelajaran terpenting? Itu terjadi tahun 2008. Dalam satu tahun saya mendirikan bangunan di beberapa lokasi dengan total investasi sebesar 52 milyar. Awalnya dari pinjaman Bank sudah cukup menkover semuanya. Tapi apa yang terjadi? Bank hanya mencairkan 16,5 Milyar, sementara dana ke kontraktor dan pemilik lahan harus dibayar. Sisanya saya dapat dari mana? Dapat Anda bayangkan pusingnya saya waktu itu. Tapi untung, ‘BAK’ (Bank Antar Kawan) masih mempercayai saya, dan mau memberi pinjaman ha... ha... Jika tidak ada bantuan dari ‘BAK’, berapa aset lagi yang harus saya lepas? Sejak saat itu saya lebih hati-hati mengambil langkah. Saat ini saya tergetkan satu tahun satu lokasi. M&I : Bagaimana mengintegrasikan spiritualitas dengan bisnis Anda? Apakah masih ada peluang bisnis lain yang belum dan akan dikerjakan ? Gede Hardy : Spiritualitas dan bisnis saya jalan berbarengan, jangan abaikan satu hal ini. Dengan spiritualitas pula saya terselamatkan pada satu keadaan emergency dulu. Peluang bisnis lain? Ya... saat ini saya bergerak di bidang agrobisnis, terutama jati emas. Saya bersinergi dengan petani di berbagai wilayah untuk jati emas ini. Paling tidak, saya berharap Bali tetap hijau ke depannya. M&I : Saya dengar, Bapak sekarang saya terjun dalam dunia politik. Ada keterkaintannyakah dengan bisnis Bapak? Gede Hardy : Perlu saya luruskan itu. Saya di politik ini bukan untuk politik praktis. Melainkan saya ingin mencari networking bisnis. Tidak ada itu, yang namanya saya ingin mencalonkan jadi bupati atau apalah. Cukuplah saya menjadi presiden di Hardy’s saja... ha... ha... M&I : Terima kasih Bapak Gede, atas kesediaanya berbagi pengalaman dengan M&I. Semoga pembaca terinspirasi dan bisa mengikuti kisah sukses ini. Gede Hardy : Sama-sama, saya harap juga demikian. Bali dan saya masih membutuhkan banyak pengusaha-pengusaha baru. Ingat satu hal, kesempatan masih ada! (Foto: Dedeth)

Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

19


e ntrepreneurinterview

e ntrepreneurinterview Di samping itu, pihaknya masih kekurangan peralatan berupa alat pengayak biji kopi yang nilainya mencapai milyaran. “Kita telah mengajukan permohonan bantuan ke pemerintah. Kita harap pemerintah pusat bisa membantu, sehingga usulan itu segera disetujui,” katanya. Menuru Jamin, produksi kopi di Bangli, khususnya perusahaanya tergantung dari jumlah Luwak yang datang. Pendek kata, jika Luwak banyak hasil kopi banyak, jika sedikit tentu produksi menurun.

Wayan Jamin

Kembangbiakkan Luwak di Habitatnya Oleh Prad

W

ayan Jamin, salah seorang pengusaha kopi luwak asal Desa Landih, Bangli, mulai kesulitan untuk memenuhi permintaan Kopi Luwak. Dimintai keterangan belum lama ini, kopi luwak produksinya cukup diminati konsumen terutama di Korea dan Jepang. Jamin mengaku mengetahui bisnis Kopi Luwak ini dari internet. Kopi Luwak ini dulunya hanya dikonsumsi sendiri, yang diyakini memiliki khasiat obat. “Sekitar tiga tahun lalu saya membacanya di internet kalau Kopi Luwak sangat diminati dan mahal. Padahal dulu kopi ini hanya dikonsumsi sendiri untuk kesehatan. Lalu saya coba memasarkannya. Namun karena produksinya masih sedikit, saya jual seaadanya,” terang Jamin. Sekarang ini Jamin sudah bisa memasarkan Kopi Luwaknya di Centro Kuta. Luwak, datangnya dari seputaran hutan Kintamani. Namun jumlah yang

20

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

datang tidak pasti. Sementara untuk pemasaran ke luar negeri, Jamin menerapkan sistem tunggu. “Biasanya mereka menelepon, kemudian saya kirim,” terangnya. Lantas bagaimana mengatasi permasalahan Luwak tersebut? “Saya dan teman – teman petani yang lain ingin memagari kebun di sini. Dengan demikian saya harap Luwak tidak akan pergi jauh. Tentu bukan pekerjaan yang mudah dan membutuhkan biaya yang sangat besar,” terang Jamin. Terkait produksi kopi luwak yang dihasilkannya, Jamin mengakui hingga saat ini sejak dirintis beberapa waktu lalu, demand (permintaan) terus mengalami peningkatan. Namun, pihaknya baru mampu memenuhi permintaan konsumen mencapai 1 sampai 2 ton kopi luwak per tahun. Produksi kopi luwak memang sangat minim. Ini tak lepas dari berbagai kendala yang dihadapi, seperti minimnya binatang musang sebagai penghasil biji kopi.

Ia mengatakan, harga kopi luwak lebih mahal di pasaran ketimbang harga kopi biasanya. Per kilogram kopi luwak bisa menembus harga jutaan rupiah. “Kita juga telah berhasil memproduksi kopi bubuk luwak dalam bentuk sachet,” katanya. Kopi Luwak, selain cita rasanya yang khas, hal lain yang membuat kopi ini populer adalah latar belakang produksinya. Kopi Luwak diproduksi dari biji kopi yang telah dimakan dan melalui saluran pencernaan hewan yang bernama Luwak. Mungkin ini agak menjijikan bagi saya karena biji kopi yang diproses adalah hasil ‘kotoran’ hewan ini. Sempat muncul pertanyaan, apakah kopi ini sehat? Proses pengolahan kopi ini terbilang cukup higienis. Pertama-tama, biji kopi disortir, dipisahkan dari kotoran luwaknya lalu dibersihkan. Setelah bersih, biji kopi dijemur sampai kering. Setelah kering, biji kopi lalu disangrai kemudian ditumbuk. Setelah melalui proses penumbukkan, kopi lalu disaring. Nah, jadilah bubuk kopi termahal di dunia. Begitulah prosesnya, masih tradisional. Ternyata proses yang tradisional itu masih dipertahankan karena kualitas kopi yang dibuat lebih bagus dibandingkan dengan biji kopi olahan nontradisional. Berkat kenikmatan rasanya kopi Luwak bisa go internasional. Faktor yang menyebabkan rasa kopi luwak begitu nikmat adalah cairan dari kotoran luwak itu sendiri. Ya, diyakini bahwa cairan dari kotoran luwak itu memperkaya citarasa kopi tersebut. Sedangkan faktor yang menyebabkan harga kopi Luwak mahal mungkin karena proses produksinya yang cukup sulit serta kenikmatan citarasanya yang luar biasa selain itu mungkin karena keberadaan kopi ini yang tergolong langka di pasaran. Kopi Luwak B-36 adalah kopi luwak yang berasal dari biji Kopi Bali Arabica dengan mutu superior yang dimakan oleh binatang luwak yang terdapat di perkebunan kopi di Kintamani, Bangli, Bali, Indonesia. Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

21


green

b us i ne s s

green

“One Close System”

Yayasan Wisnu Pilihan Usaha Selaras Lingkungan

T

aman yang bersih, udara yang sejuk, senyum yang ramah dan sambutan yang hangat. Itulah kesan yang melekat saat M&I berbicang-bincang dengan I Made Suarnatha atau yang akrab disapa Suar. Ketua pengelola Yayasan Wisnu ini langsung menyuguhkan penganan organik yang terbuat dari buah sukun menemani obrolan kami. Unit usaha Yayasan Wisnu mengelola beberapa kegiatan usaha antara lain pertanian, peternakan sapi dan ayam, budidaya belut dan lele, warung organik dan pengolahan kertas daur ulang. Dari lahan seluas 1 hektar milik yayasan dikelola dengan menggunakan konsep one close system. Disana ada sawah, ada tempat kompos, ada kandang sapi. Dari kotoran sapi diolah menjadi biogas untuk memasak, kemudian ampas kotoran sapi dijadikan pupuk untuk sawah dan kebun. Hasil produk organik lalu dimasak di warung sebagai makanan sehat. Itu semua menjadi satu sistem yang tertutup sehingga tidak ada yang terbuang. Sisa-sisa olahan di dapur pun tidak ada yang terbuang. Daun-daunan dikomposting, makanan sisa menjadi makanan ayam. Sampah-sampah kering yang dihasilkan dari kantor diolah menjadi kertas daur ulang.

Oleh: Muammar Kaddafi

Indonesia adalah Negara dengan laju deforestasi tercepat di seluruh dunia. Setiap menit area hutan setara dengan luas lima lapangan sepak bola dihancurkan sebagian besar untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit dan pulp and paper, atau rata-rata 1,8 juta hektar hutan per tahun. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai Negara penghasil emisi gas rumah kaca ketiga terbesar di dunia setelah China dan Amerika Serikat. Lalu, apa yang mesti Anda lakukan? Liputan M&I tentang green business yang dilakukan oleh unit usaha Yayasan Wisnu berikut semoga dapat menjadi inspirasi Anda dalam berbisnis.

22

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

Dari seluruh kegiatan usaha yang dilakukan Wisnu, yang paling besar omsetnya ada di kertas daur ulang. Sebentar lagi disusul warung. Sementara di pertanian masih dalam proses inisiasi. Menurut Suar, investasi untuk memperbaiki struktur tanah yang sudah rusak cukup besar. Karena tanahnya dulu sudah terkontaminasi pestisida dan zat kimia. “Unsur hara tanah itu sudah hampir habis. Orang mengatakan tanah ini sudah mati,” tambah Suar.

Dengan demikian harus dikembalikan lagi dengan menggunakan mikro organisme lokal. Misalnya dengan menggunakan kotoran sapi, kencing sapi, dedaunan dan buah-buahan. Sehingga akan menjadi bioaktivator. Memang di tingkat awal itu dibutuhkan sampai 20 ton kompos untuk mengembalikan unsur hara tanah. Satu kilogram kompos itu harganya mencapai seribu rupiah. Jadi dibutuhkan dana sekitar dua puluh juta rupiah. Menurut Suar ini menjadi kendala bagi petani, apalagi petani penggarap, untuk menjadi petani organik itu berat. Proses untuk mengembalikan tanah yang rusak, tanah yang miskin unsur hara menuju tanah yang bagus itu yang mahal. Butuh waktu, butuh tenaga dan butuh uang. Kertas Daur Ulang Wisnu Pengolahan kertas daur ulang telah dimulai sejak awal berdirinya Yayasan. “Di Wisnu sendiri kalau bicara pengetahuan, bicara kesadaran masyarakat, untuk mendekatkan orang dengan lingkungan kita menggunakan media-media. Kita tidak cukup sekedar bicara saja. Contohnya kalau kita melihat kertas bekas, di satu sisi orang melihatnya sebagai sampah, disisi lain kita bisa membalikkan persepsi orang bahwa kertas bekas itu adalah sumber daya yang dapat menghasilkan uang” papar Suar penuh semangat. Berdasarkan pengamatan M&I, proses pengolahan kertas tampak sederhana. Kertas bekas disobek-sobek. Sobekan kertas bekas kemudian direndam. Kertas yang telah lunak diblender dengan campuran tepung kanji hingga menjadi pulp atau bubur ketas. Tambahan kanji dipakai untuk perekat. Pulp kemudian dituang di atas kain kasa yang diratakan dengan plat seng. Pulp yang menempel di kain lalu dijemur. Setelah kering dia akan menjadi kertas daur ulang berkualitas tinggi. “Kalau dijual pun laku dan kita bisa mempekerjakan orang. Kalau dihitung, bila kita memproduksi kertas daur ulang dengan kertas bekas 1 ton itu setara nilainya kita menyelamatkan 7 batang pohon pinus. Itu sama artinya dengan anda menyelamatkan hutan,” jelas pria yang juga aktif melakukan advokasi lingkungan ini.

b u sin ess

Disamping itu sebagai pusat pengolahan kertar daur ulang, Wisnu juga menjadi pusat belajar setiap orang yang peduli terhadap lingkungan. Banyak siswa yang telah berkunjung ke sini. Mereka senang sekali melihat dan ikut mencoba proses daur ulang kertas. Dan itu melekat dalam bayangan mereka bahwa sampah itu dapat menjadi sumber daya yang menghasilkan. Dan dari kegiatan tersebut telah membuka peluang kerja bagi puluhan orang. Penghasilan dari kegiatan daur ulang kertas Wisnu cukup menjanjikan. Kegiatan produksi per hari rata-rata menghasilkan 1.500 lembar kertas daur ulang. Satu lembar kertas dijual seharga Rp 1.500. Bila waktu kerja efektif sebulan 24 hari, maka dalam sebulan akan menghasilkan 36.000 lembar kertas. Dikalikan Rp 1.500, maka sebulan rata-rata omzet mencapai Rp 54.000.000,-. Bisnis yang menjanjikan bukan? Disatu sisi bisnis ini menjanjikan keuntungan, sementara disisi lain kita telah menyelamatkan lingkungan, khususnya penebangan hutan yang membabibuta. Bisnis lancar, alam lestari. Semoga. (Foto: Dedeth)

Tentang Wisnu Yayasan Wisnu adalah organisasi nonpemerintah yang didirikan di Bali pada tanggal 25 Mei 1993. Ide untuk mendirikan Yayasan Wisnu didasarkan atas masalah lingkungan yang terjadi di Bali, salah satunya diakibatkan oleh ‘ledakan’ pariwisata massal.

Alamat:

Jl. Pengubengan Kauh No 94. Banjar Pengubengan Kauh, Desa Adat Kerobokan, Kuta – Bali. Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

23


green

i

b us i ne s s

co mmercia l n fo

Salah satu bentuk komitmen BPR Lestari dalam memberikan & meningkatkan pelayanan terbaik kepada para nasabahnya; terutama nasabah prioritas, adalah meluncurkan program baru, yang disebut Lestari First Ladies. 1. Apa sebenarnya program lestari First Ladies

Lestari First Ladies merupakan salah satu program BPR Lestari yang memberikan tambahan benefit buat nasabah Lestari First dimana dalam program ini diberikan Discount belanja khusus kepada nasabah Lestari First khususnya para istri atau para wanita di beberapa tempat seperti salon, spa dan butik yang ada di Denpasar.

2. Tujuan Program? a. Memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para nasabah prioritas khususnya para istri atau para wanita. b. Untuk dapat lebih meningkatkan loyalitas nasabah terhadap pelayanan yang kami berikan. c. Untuk memotivasi nasabah agar meningkatkan Jumlah Simpanan, minimal mempertahankannya. d. Memotivasi nasabah yang lainnya agar tertarik untuk menjadi nasabah LESTARI FIRST. 3. Why memilih wanita sebagai sasaran?

Alasan memilih wanita sebagai sasaran karena dalam program ini yang berperan lebih atau yang berperan sebagai “direktur keuangan� dalam sebuah keluarga adalah wanita. Wanita pada umumnya adalah sebagai pengurus masalah keuangan di keluarga. Lelaki adalah kepala rumah tangga tetapi yang sangat berperan dalam menentukan keuangan keluarga adalah wanita. Kalau wanita tidak setuju dengan apa yang dipilih oleh laki-laki/ kepala rumah tangga, kecenderungan keputusan akan batal dilaksanakan.

4. Bagaimana Strategi mendapatkan nasabah Lestari First? Ada trik atau strategi khusus?

24

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

Untuk mendapatkan nasabah Lestari First memang sangat sulit, karena pengendapan deposito untuk menjadi nasabah Lestari First lumayan banyak. Dengan memberikan benefit yang lebih kepada nasabah Lestari First maka bisa menjadi selling point buat mendapatkan nasabah Lestari First, seperti misalnya:

Majalah pilihan gratis setiap bulan, majalah M&I setiap bulan, Suku bunga yang sangat menarik buat nasabah Lestari First, buat istri para nasabah mendapatkan kartu member Lestari First Ladies, gratis menggunakan ruang meeting di lantai 4 kantor BPR Lestari Teuku Umar, gratis menggunakan lounge di lantai 2 kantor BPR Lestari Teuku Umar, dibantu oleh seorang PBO setiap melakukan transaksi. Sangat banyak hadiah dan fasilitas yang bisa diberikan buat nasabah Lestari First. Untuk nasabah-nasabah Lestari First penanganannya lebih personal. 5. Sudah berapa lama berjalan dan bagaiman tanggapan market terhadap Lestari First Ladies?

Untuk program Lestari First Ladies baru berjalan 1 bulan dari bulan Juni 2010, tanggapan market terhadap program ini sangat baik, dari fasilitas yang kami berikan antara lain salon, Spa, dan butik. Fasilias yang paling banyak digunakan oleh nasabah Lestari First Ladies adalah salon-salon. • Syarat dan Ketentuan - Nasabah yang bersangkutan harus memiliki saldo deposito mengendap sebesar Rp.250 juta . - Sebelum melakukan transaksi nasabah wajib menunjukkan kartu keanggotaan Lestari FIRST LADIES - Nasabah yang memiliki kartu keanggotaan berhak atas discount pada tempat yang telah ditentukan oleh BPR Lestari - Program Discount yang diberikan adalah dalam jumlah persentase dari pembelian atau pembelanjaan. - Pembelian tidak dapat diwakilkan (dalam hal ini harus nasabah yang bersangkutan sesuai dengan yang tertera pada kartu dan contoh tanda tangan di belakang kartu) • Mekanisme Transaksi - Para Nasabah Lestari First First akan mendapatkan kartu keanggotaan yang berisi data nama, no.keanggotaan - Sebelum melakukan transaksi para nasabah Lestari First wajib menunjukkan Kartu Lestari First Ladies untuk mendapatkan discount istimewa di tempat yang telah ditunjuk oleh BPR Lestari. - Nasabah Lestari First Ladies tanda tangan di struk pembelian, dan Salon, Spa dan Butik.

Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

25


f

f

smar t ami l y

s mar t amily Ternyata kita semua memiliki “Money Blue Print” yaitu semacam “cetakan awal” mengenai persepsi kita terhadap uang. Ya, semacam ‘gen factor’ nya uang. Berbeda dengan ‘gen factor manusia” yang tidak dapat diubah, untungnya“Money Blue Print” ini dapat kita ubah.

Oleh Suzana Chandra Managing Director- Lestari Living

Emangnya uang turun dari Langit? (Do you think, money falls from the sky?)

“Kata-kata tersebut terasa akan tersembur dari mulut saya, pada saat anak perempuan saya (12 tahun) untuk kesekian ratus kalinya merengek minta dibelikan handphone baru”, kemudian iPad (salah satu produk terbarunya Macintosh), iPod touch , DC shoes, roxy shirt, dst…dst…dst.

A

nak saya merengek minta ganti handphone. Dia lihat kebanyakan teman-temannya sudah pakai LG touch screen, Blackberry bahkan iPhone. Sedangkan anak saya masih pakai Nexian (sebagai “replica” bentuk Blackberry) yang layarnya retak (jatuh dan tanpa sengaja kedudukan oleh ayahnya). Rengekan itu kadang sebegitu hebatnya, sampai setiap kali ada iklan handphone, yang notabene, ada dimana-mana, kata-kata rengekan itu keluar. Pokoknya sampe BETEEEE banget ngedengerinnya. Minta ampun deh Dengan mengerahkan segala ‘kemampuan saya’ ditambah menarik napas sambil menghitung sampai hitungan 20 (kalau perlu lebih lama lagi), saya menahan diri untuk “TIDAK” menggunakan “kata-kata” seperti “Do you thing money falls from the sky (ini sering sekali saya dengar dari orang-orang bule) atau “emangnya barang-barang tersebut bisa dibeli pake daun?”(yang ini sering saya dengar dipakai di Bali). Kenapa saya berusaha dengan amat sangat untuk menghindari penggunaan kata-kata dengan konotasi negatif tersebut. Alasan mendasar adalah, memang penggunaan kata-kata tersebut tidak perlu sama sekali. Seringkali kita hanya latah menggunakannya, tanpa mengerti “the real meaning” (arti sesungguhnya) dan “Psychology effect” atau pengaruh kata-kata tersebut terhadap psikologi seseorang. Berikut saya akan mencoba sharing sedikit apa yang saya ketahui tentang hal ini :

26

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

Menurut T. Harv Eker (Millionaire’s Mind), kalau kata-kata berikut ada dalam kosakata anda : Uang tidak turun dari Langit, Uang susah didapat, kita harus bekerja keras untuk mendapatkan uang, Uang dan kekayaan adalah “evil”, Orang kaya adalah orang “licik”, kalau mau kaya musti “trick the system”, saya benci orang kaya, dan semua kata-kata lain yang berarti seperti demikian, kemungkinan besar...anda “tidak” dalam posisi keuangan yang sehat atau secara singkat kita sebut “TIDAK WEALTHY”. Money Blue Print (baca : persepsi kita terhadap uang) dipengaruhi oleh banyak sekali factor; baik yang sekarang (current factors) atau yang lampau. Rasa frustrasi karena beban finansial yang tinggi, banyaknya hutang-hutang yang masih harus dibayar, tuntutan keluarga yang semuanya memerlukan biaya, anak akan masuk SMP atau SMA sedangkan dana untuk masuk sekolah masih belum tahu darimana,   merupakan, “current factors” yang membentuk “money blue print “ dari seseorang yang memiliki perasaan negatif terhadap uang. Kegagalan finansial dimasa lalu, sulitnya kehidupan dimasa kecil karena berasal dari keluarga tidak mampu, kata-kata orang tua yang selalu menekankan bahwa hidup itu susah, bahwa uang tidak jatuh dari langit, dan bahwa orang paling kaya di kota atau desa kita kalau bukan   koruptor pasti jualan obat2 terlarang. Ini semua adalah “faktor-faktor dimasa lampau” yang juga mempengaruhi “Money Blue Print” dalam perasaan negatif terhadap uang. Demikian sebaliknya, pengalaman bagus, kemudahan mencari uang, kecukupan finansial dari kecil, pengertian bahwa orang paling kaya di desa selalu menyumbang untuk pembangunan dan pendidikan desa, banyak penduduk desa mendapatkan mata pencarian karena bekerja untuk orang di desa tersebut, bahwa uang dapat memberikan kebahagiaan, banyak uang berarti bisa berkesempatan membantu orang lain, mensejahterakan masyarakat etc… etc… etc… Hal-hal tersebut juga merupakan factor-faktor yang mempengaruhi “Money Blue Print” kita. Most likely in a positive way. Mengapa “uang” yang sama bisa menghasilkan sedemikian berbeda “pendapat dan pengertian” bagi kita? Apakah ada yang salah dengan “konsep uang”? Apa betul bahwa “uang tidak bisa membawa kebahagiaan?” Bahwa uang adalah sumber masalah? Salah seorang mentor saya bilang…Money “ DOES NOT SOLVE” the problem, masalah akan tetap ada, cuma kalau kita punya uang, kita bisa menghadapi masalah dengan “gaya” (“when we have money we can deal with the problem in style”). Wow.. bahasan kita kali ini agak dalam ya  . Saya adalah salah seorang yang percaya bahwa "Money Blue Print" seseorang akan sangat mempengaruhi wealth and happiness level dari seseorang. Dan ternyata bukanlah suatu kebetulan bahwa hampir semua orang-orang sukses memiliki “Money Blue Print” yang positif. Secara logika, kita akan "menjauh" dari "sesuatu yang TIDAK kita suka", jadi kalau kita memiliki sikap yang TIDAK SUKA atau NEGATIF terhadap uang, kekayaan atau kebahagiaan,

maka hampir bisa dipastikan bahwa kita, secara sadar atau bawah sadar, akan "bersikap" menjauh dari uang, kekayaan dan kebahagiaan. Research juga menunjukkan bahwa fisiology (sikap tubuh) dan kosakata seseorang sangat berpengaruh terhadap tindak laku kita, baik secara sadar maupun tidak sadar. Oleh karena itu, saya ingin mengajak anda semua untuk berlatih “hanya” menggunakan kata-kata dengan konotasi positif. Misalnya pakailah kata ‘tantangan’ (challenge) daripada ‘masalah’ (problem), ‘menarik’ (interesting) daripada ‘susah’(difficult), ‘memerlukan usaha lebih’ daripada menggunakan kata-kata seperti ‘tidak ada jalan keluar’. Saya menganjurkan untuk berlatih menggunakanlah kata-kata hiperbola (berlebihan) untuk sesuatu yang positif, tapi gunakan kata-kata kurang intensitas atas hal-hal yang negatif. Misalnya, kalau ada yang tanya, “Apa Kabar?”…gunakan sapaan balik seperti “ Luar Biasa”, “Bagus sekali”, “Hebat” dan seterusnya. Sedangkan untuk mengekspresikan ketidaksukaan terhadap sesuatu, daripada menggunakan kata seperti “benci banget” (yang notabene sangat intense), pakailah kata-kata seperti “kurang cocok atau kurang sejalan”. Daripada menggunakaan kata “sebel sekaleee” pakailah kata-kata seperti “kurang nyaman nih”. Penggunaan kata-kata ini, dengan otomatis akan menurunkan tingkat intensitas “perasaan negatif” kita. Dan saya jamin…It works”! Apakah mudah merubah kebiasaan ini?.... Jawabannya tentu saja tidak. Tapi dengan usaha yang terus menerus dan konsisten, menggunakan kata-kata konotasi positif akan menjadi kebiasaan . Jangan sepelekan “the power of words and mind”. Spesial pesan, bagi anda yang memiliki “Money Blue Print” yang negatif terhadap uang, mungkin tidak ada salahnya untuk mulailah mencintai uang dan dengan demikian uang akan sering-sering datang berkunjung. Pakailah kosakata dengan konotasi positif sehubungan dengan uang seperti “I am a money magnet“ (saya adalah magnet terhadap uang), ‘Money is just an idea’ (uang hanyalah sebuah ide), ‘Dengan uang saya bisa membantu mereka yang membutuhkan’, Uang mudah dicari, dst..dst.. dst Pepatah mengatakan ‘ when you do believe, there is a power to own it. But if you do not believe, even if you have it, then you don’t have it . Kalau kita percaya, kita berkemampuan untuk memiliki. Tapi kalau kita tidak percaya, walaupun kita sudah punya, tapi kita tidak memiliki. Omong-omong, anak saya masih saja merengek minta handphone baru, ada ide kosakata positif apa yang harus saya pakai? Satu hal yang saya sangat kagumi dari anakanak adalah bahwa rengekan mereka selalu konsisten dan tidak pernah berhenti sampai mereka menemukan rengekan yang lain. Itu yang saya sebut sebagai ‘ consistency and perseverance”. Kalau saja, kita orang-orang dewasa juga memiliki kualitas tersebut, dijamin kita semua hidup dengan sukses dan bahagia. Selamat mencoba

Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

27


p olling GED telah berkembang menjadi penyedia jasa layanan pengiriman udara yang mandiri. Sejak berdirinya GED telah memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan standar layanan yang sesuai dengan standar internasional untuk sebuah perusahaan courier dan cargo. Selain memiliki jaringan yang tersebar diseluruh Indonesia, kecepatan dan ketepatan waktu penghantaran, keleluasaan waktu pengambilan, informasi tracing dan tracking pengiriman yang akurat dan cepat, GED senantiasa mengedepankan tingkat layanan yang bersumber dari keunggulan sumber daya manusia dalam upaya memenuhi kepuasaan pelanggan.

SERVICES: Same Day Service Layanan pengiriman dengan waktu tiba di kota tujuan pada hari yang sama Overnight Service Layanan pengiriman untuk tiba pada keesokan harinya Regular Service Layanan pengiriman dengan masa tiba 1-2 hari International Courier Service Layanan pengiriman international door to door

PT. GANESHA EMAS DWIPA Jl. Pulau Kawe No. 53 Denpasar, Bali 80222 Phone : (0361) 264320, 234461 Fax : (0361) 247985 Email : denpasar@ged.co.id Website : www.ged.co.id

Ternyata Hampir 60% Responden Lebih Memilih Beli Baju Ketimbang

Buku

Oleh Team Kopi Panas

K

alau kita punya uang, apa yang terpikir pertama kali untuk dibeli; buku atau baju ? Inilah polling yang diangkat untuk edisi kali ini. Polling ini hanyalah untuk melihat kecenderungan masyarakat sekitar tentang pola konsumtif mereka. Poling ini dilakukan secara acak melalui facebook tidak dengan metode ilmiah dan dilakukan kepada 30 responden secara acak. Rsponden yang terjaring untuk menjawab polling ini terdiri dari 7 ibu rumah tangga, 20 karyawan / professional dan 3 orang mahasiswa. Pertanyaan ini diajukan untuk sekedar ingin tahu; bagaimanakah sebenarnya kecenderungan konsumtif masyarakat terhadap kebutuhan primer & tersier, yang diwakili oleh 30 orang ini. Bagaimana mereka memperlakukan uang mereka. Apakah mereka lebih melihat persoalan-persoalan jangka pendek yang diwakili oleh “baju� atau mereka melihat sesuatu yang lebih jauh kedepan yang diwakili oleh “buku�. Dan ternyata sebagian besar responden memilih baju. Ini sangat berbeda dengan Negara Jepang ketika diadakan polling serupa. Karena ternyata mereka sebagian besar lebih memilih buku sebagai prioritas mereka. Ternyata berdasarkan polling sederhana ini ada kecenderungan

28

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

bahwa budaya membaca belum cukup mengakar di masyarakat kita. Lucunya dalam polling ini ternyata tidak semua mahasiswa, yang notabene sedang menuntut ilmu, sebagian besar lebih memilih baju ketimbang buku. Dari 3 orang mahasiswa tersebut, 2 orang memilih untuk membeli baju ketimbang buku. Alasannya pun sifatnya lebih praktis; yaitu karena baju bisa dipakai, sedangkan buku tidak bisa.Di kalangan karyawan, minat terhadap buku & baju ternyata seimbang dan hanya 1 ibu rumah tangga yang lebih memilih beli buku daripada beli baju, dengan pertimbangan bahwa baju itu gampang menjadi old fashioned dibandingkan buku yang bisa dibaca kapan pun. Secara keseluruhan buku dan baju adalah pilihan cukup dilematis bagi responden ketika ditanyakan pertanyaan ini. Buku untuk masa depan sedangkan baju untuk masa sekarang. 40% responden memilih buku sebenarnya sudah menjadi isyarat bagus bahwa ternyata sudah mulai banyak dari kita yang sudah mulai menempatkan masa depan sebagai prioritas hidup.

Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

29


l eis u re

l eisu re menginjak bumi namun beberapa saat kemudian sudah memandang bumi dari sisi lain, dari sebuah ketinggian di angkasa raya. Ini adalah sensasi lain yang tidak semua orang dapat melakukannya. Sensasi ini tentu saja berbeda dengan kehidupan sehari-hari Anda. Ketika Anda melayang di ketinggian secara tidak langsung akan lebih menghargai kehidupan dengan cara lain. Info lebih lanjut

Bali Paragliders Club

Kompleks Pertokoan Sudirman Agung Blok B-26 Jalan P.B. Sudirman Denpasar, Bali - Indonesia Telephone: +62 361 7917873 Facsimile: +62 361 241075 E-mail: info@baliparagliders.com

Sensasi Terbang Menantang

Flying Site: Desa Kutuh, Badung Bali - Indonesia. S 08°50’31.1” ; E 115°11’31.0”

Oleh Prad Tak kenal maka tak sayang, ya... sebelum Anda ingin mencoba sensasi paralayang, maka ketahuilah terlebih dulu jenis olahraga ekstrem ini. Paragliding (paralayang) adalah salah satu cabang olahraga terbang bebas. Paralayang dapat diartikan sebagai sebuah parasut yang dapat diterbangkan dan dapat mengangkat badan penerbang. Lalu di mana dapat bermain paralayang ini?

B

ali Paragliders Club (BPC), hadir untuk memenuhi ‘dahaga’ sensasi terbang ini. Ada dua tempat di Bali yang biasa digunakan untuk melakukan lepas landas (take off ), satu di desa Timbis satunya lagi di Gunung Payung, Kuta Selatan. “Di Timbis kita gunakan terbang untuk angin timur, sementara di Gunung Payung untuk angin selatan,” terang Rizky Widiantara, salah satu team pilot Bali Paragliders Club. Banyak orang mengira belajar paralayang ini susah dipelajari, namun kenyataannya tidak demikian. Anda dapat menggunakannya semudah yang diinginkan karena akan didampingi oleh instruktur bersertifikat professional. Jika seorang pemula ingin melakukan terbang sendirian, maka dia harus melewati kursus intensif. “Pemula harus lewati kursus intensif 8 hari. Setelah itu license keluar, dan barulah boleh terbang. Kalau ingin terbang langsung juga boleh, namun harus tandem flight. Seorang pilot akan menemani Anda terbang,” lanjut Rizky. Siapa saja boleh ikut terbang?

30

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

“Siapa saja boleh, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, asal sehat jasmani dan rohani, tidak mengidap penyakit jantung, dan epilepsi. Umur peminat yang disarankan adalah minimal 14. Peminat yang berumur kurang dari 14 tahun harus mendapat ijin dan pengawasan dari orangtua/wali”. Berbahayakah? Kita mengetahui bahwa semua olahraga mempunyai resiko, itu pasti. Naik sepeda di jalan raya pun mengandung unsur bahaya yang sangat besar, bukankah demikian? Di dalam melakukan olahraga, terutama olahraga alam bebas, resiko yang mungkin akan terjadi sangat tergantung dari bagaimana cara para pelaku itu melakukan kegiatannya. Demikian pula di dalam olahraga paralayang, jika kita melakukan dengan prosedur dan tata cara yang benar maka resiko yang akan terjadi pun akan sangat minimal. Jika Anda baru bisa berjalan maka jangan berlari, setuju? Dalam peningkatan kemampuan seorang penerbang paralayang harus dilakukan setahap demi setahap. Menikmati udara bebas siapa yang tak suka? Olahraga paralayang adalah olahraga di alam bebas. Kalau Anda pernah bermimpi jadi burung, maka terbang dengan paralayang adalah salah satu kenyataan yang dapat jalani. Hanya dengan memanfaatkan angin anda dapat melayanglayang tinggi di angkasa luas dan merasakan desiran angin. Bayangkan saja, beberapa saat sebelumnya Anda Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

31


notefrom t he

g uru

no tefrom the

Hermawan Kartajaya

Asia’s Leading Marketing Strategiest CEO Of Mark Plus. Inc & Founder of MIM

Mengapa Excellent Service Saja Tidak Cukup K

onsep pelayanan konsumen bukanlah hal yang baru. Hampir semua perusahaan, terutama yang telah berkembang lebih besar dari sekedar industri rumahan, paham bahwa konsumen yang bahagia akan semakin menguntungkan perusahaan. Baik melalui pembelian kembali oleh konsumen yang sama (repeat purchase), atau karena word-of-mouth yang diciptakan dari pengalaman yang menyenangkan tersebut.

Namun memang harus diakui bahwa banyak perusahaan belum menjadikan pelayanan konsumen sebagai prioritas. Ini banyak disebabkan karena ada persepsi bahwa pelayanan hanya merupakan suatu biaya tambahan yang perlu dikeluarkan perusahaan. Keuntungan yang didapatkan tidak sebanding dengan biaya yang perlu dikeluarkan. Untuk beberapa industri tertentu, sebenarnya persepsi tersebut bisa jadi memang benar. Saat produk atau jasa yang kita tawarkan adalah sesuatu yang sangat unik dan tidak bisa diberikan oleh kompetitor lainnya, maka pelayanan yang baik tidak akan banyak meningkatkan keuntungan perusahaan. Toh mereka tidak ada pilihan lain. Tapi lain halnya dengan industri yang sudah mulai memasuki situasi persaingan. Dengan hanya ada satu kompetitor saja, maka produk atau layanan kita dapat dengan mudah dibandingkan dengan yang diberikan kompetitor. Hal pertama yang diperbandingkan memang adalah harga dan kualitas produk. Jika memang perusahaan bisa menawarkan produk atau jasa dengan harga lebih rendah dan kualitas lebih baik, secara konsisten, maka mungkin tak banyak pelanggan yang akan pindah kepada kompetitor. Meskipun demikian, jika kompetitor bisa menawarkan layanan yang hebat, tidak tertutup kemungkinan bahwa ada pelanggan yang rela ”membayar mahal” untuk mendapatkan layanan tersebut. Lain pula halnya jika perusahaan berada dalam industri dengan persaingan yang ketat. Saat banyak pesaing yang bisa menawarkan produk yang relatif sama dengan harga yang kompetitif, perusahaan mulai kehilangan keunggulannya. Jika hanya mengandalkan harga dan produk saja, perusahaan akan terjebak pada perang harga. Keuntungan akan terkikis sedikit demi sedikit dan pada akhirnya berdampak negatif pada kinerja perusahaan. Situasi seperti ini banyak terjadi di dalam industri yang sudah lama dan sudah mapan, misalnya industri retail, restoran, hotel, dan perbankan. Dalam industri tersebut, produk dasar yang ditawarkan dapat dengan mudah didapatkan oleh konsumen dari banyak pilihan perusahaan. Di sinilah perusahaan mulai mencari cara mendapatkan keunggulan kompetitif baru, diluar produk dan harga. Salah satu alternatifnya adalah layanan pelanggan. Perusahaan sadar bahwa jika mereka dapat menjadikan konsumen semakin puas dan lebih bahagia, mereka akan rela membayar sedikit lebih mahal, atau mendapatkan produk yang sedikit lebih jelek. Oleh sebab itu, perusahaan lalu berlomba untuk investasi

32

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

g u ru

dalam upaya mencapai layanan terbaik, excellent service. Saat semua pemain dalam industri sudah sangat maju dalam penerapan layanan konsumen, hal ini lalu membawa permasalahan baru bagi perusahaan. Disamping ekspektasi konsumen yang semakin tinggi akan layanan yang baik, terjadi pula fenomena komoditiasi layanan. Yaitu kondisi dimana layanan antara satu perusahaan dan para kompetitornya tidak lagi dapat dibedakan. Dengan standar layanan yang sama, memberikan layanan yang terbaik bagi konsumen tidak lagi menjadi keunggulan kompetitif. Pelanggan tidak lagi memilih berdasarkan layanan, dan bisa jadi industri akan kembali terjebak dalam perang harga. Sehingga excellent service di sini tidak lagi cukup untuk mempertahankan kinerja perusahaan ke depan. Perusahaan harus menemukan cara lain untuk mendapatkan keunggulan kompetitif. Salah satunya adalah dengan memberikan pelayanan yang tidak saja baik, tapi juga unik, sesuai dengan karakter perusahaan. Inilah yang disebut ”branded service”. Branded service adalah konsep pelayanan yang dibentuk tidak saja berdasarkan standar umum pelayanan yang berlaku di industri, tapi juga berdasarkan karakter perusahaan yang ingin ditampilkan. Sehingga yang pengalaman konsumen dengan perusahaan adalah sesuatu yang unik yang benar-benar berdasarkan karakter atau kodifikasi DNA perusahaan. Jika perusahaan memiliki karakter yang unik, maka pelayanan seperti ini tidak akan mudah ditiru kompetitor. Sehingga keunggulan kompetitif ini akan lebih berkesinambungan (sustainable). Akan tetapi, sebenarnya ada satu tingkatan pelayanan lagi. Ini adalah level tertinggi pelayanan yang menjadi semakin berkembang seiring perubahan menuju era New Wave Marketing, yaitu Care. Dalam Care, konsumen tidak lagi diperlakukan sebagai “raja” yang perlu disembah, tapi adalah teman yang dibantu dengan tulus, dari hati. Dengan Care, perusahaan tidak lagi hanya mencapai sekedar repeat buying atau loyalitas pelanggan, tapi juga menciptakan rekomendasi dan word-of-mouth. Yang lebih besar pengaruhnya pada kinerja perusahaan. Jadi semua kembali pada kondisi industri anda. Apakah sudah cukup memberikan excellent service, karena persaingan sangat minimal? Atau sudah perlukah adanya branded service di tengah kompetisi yang semakin meningkat? Atau mungkin saatnya perusahaan menerapkan Care? (Ilustrasi: Fauzi)

Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

33


f rontof

m i nd

f rontof

Muhammad Yunus: Bankir Kaum Wanita dan Orang Miskin “Each one of you is capable of changing the world” Oleh Dicky Lopulalan

K

omite Nobel membuat kejutan pada saat mengumumkan Muhammad Yunus dan Grameen Bank Bangladesh sebagai peraih Nobel Perdamaian 2006. “Ini penghargaan bagi kaum miskin!” seru Muhammad Yunus (66), pendiri Bank Grameen yang kini memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa dan mampu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin saat mendengar pengumuman Komite Nobel itu. Dan, sejak menerima hadiah itu namanya semakin hari semakin tenar membuncah dan sistem perbankannya kemudian diterapkan di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat yang terbilang sebagai negara maju itu. Bagaimana lelaki kelahiran Chittagong, Bangladesh, 28 Juni 1940 ini membuat semua aturan dan prosedur  yang sekarang dikenal sebagai sistem Grameen yang membuatnya menerima hadiah Nobel?

34

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

Jawabannya adalah: “Itu sangat mudah dan sederhana. Saat saya membutuhkan sebuah aturan atau prosedur dalam pekerjaan kami, saya hanya melihat pada bank konvensional dan melihat apa yang mereka lakukan pada situasi yang sama. Saya pelajari apa yang mereka lakukan dan saya lakukan kebalikannya. Itulah cara kami membuat aturan kami. Bank konvensional mendatangi orang kaya, kami mendatangi orang miskin; aturan mereka adalah ‘semakin banyak yang anda miliki, semakin banyak yang anda dapatkan.’ Maka aturan kami adalah-‘makin sedikit yang anda miliki, makin besar perhatian yang anda dapatkan. Jika anda tidak memiliki apa-apa, anda mendapatkan prioritas tertinggi.’ Mereka meminta jaminan, kami membebaskannya, seperti kami tidak pernah mendengar apa-apa tentang itu. Mereka membutuhkan pengacara dalam menjalankan bisnis mereka, kami tidak. Tidak ada pengacara yang terlibat dalam setiap transaksi pinjaman kami. Mereka dimiliki oleh yang kaya, kami dimiliki oleh yang termiskin, the poorest women to boot. Saya dapat terus menambahkan ke dalam daftar ini untuk menunjukkan bagaimana Grameen melakukan berbagai hal dengan cara yang sebaliknya,” kata suami Afrozi (menikah April 1980) dan ayah dari dua anak perempuan, Deena dan Monica. Bukan cuma mikrokredit untuk kaum wanita yang dikembangkan Muhammad Yunus. Dia juga mengembangkan kredit untuk para pengemis dan gelandangan di Bangladesh. Suatu hal yang paling ditekankan, pinjaman itu tidak dibayar dari uang hasil mengemis. Artinya, dengan cara seperti itu, mereka memang harus berusaha lepas dari pekerjaan mengemis. Kalau begitu, pengemis berkurang? Benar sekali!

Keberhasilan Muhammad Yunus mengundang banyak korporat untuk ikut terlibat. Bersama Group Danone, Framen membuat perusahaan yogurt yang mengandung nutrisi mikro untuk mengurangi kekurangan gizi anak-anak di Bangladesh. Dia juga bekerja sama dengan perusahaan air minum dunia Velio water untuk sistem air bersih dan aman untuk penduduk desa termiskin di Bangladesh, kemudian membangun perusahaan penghasil nyamuk anti malaria dengan perusahaan BASF untuk mengatasi kematian akibat penyakit malaria. Itu belum cukup. Sekarang ini, dia juga membangun rumah sakit mata spesialis katarak bekerja sama Green Children Foundation dan perusahaan teknologi informasi bekerja sama dengan Intel. Produk yang dihasilkan adalah telepon seluler murah yang ditujukan untuk para wirausaha wanita yang tinggal di desa-desa untuk membantu mereka memasarkan barang dan jasa yang dihasilkan. “Kami juga menandatangani kesepakatan join ventura bisnis sosial dengan Saudi German Hospital Group untuk membangun beberapa rumah sakit di Bangladesh,”ujarnya di situs resmi The Yunus Center (www.muhammadyunus.org). Lebih banyak lagi perusahaan dari seluruh dunia menunjukkan ketertarikannya dalam join venture bisnis sosial seperti ini. Perusahaan sepatu terkemuka ingin menciptakan bisnis sosial untuk memastikan tidak ada orang yang bepergian tanpa sepatu. Sebuah perusahaan farmasi terkemuka berkeinginan membentuk perusahaan join venture bisnis sosial untuk memproduksi suplemen gizi yang cocok bagi ibu hamil dan wanita muda Bangladesh, dengan harga termurah yang mungkin. Dia juga sedang dalam diskusi untuk meluncurkan perusahaan bisnis sosial untuk memproduksi anti nyamuk kimia untuk melindungi masyarakat Bangladesh dan Afrika dari malaria dan nyamuk penular penyakit lainnya. Lantas, apa alasan dasar Muhammad Yunus untuk membangun bisnis sosial yang mengutamakan orangorang miskin? “Saya dapat mengatakan dengan sangat empatik kepada Anda bahwa dalam konteks kapasitas manusia, tidak ada perbedaan antara orang miskin dengan orang yang berada. Semua manusia diciptakan beserta potensi yang tak terbatas.

m in d

Tak terkecuali orang miskin. Tetapi dunia di sekeliling mereka tidak pernah memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengetahui bahwa setiap orang dari mereka membawa bakat yang menakjubkan. Bakat tersebut masih tidak diketahui dan terbungkus. Tantangan kita adalah untuk menolong orang-orang miskin mengeluarkan bakatnya,” ujar penerima pelbagai penghargaan internasional ini. Bagi Muhammad Yunus, menyelesaikan masalah besar tidak harus selalu melalui tindakan besar, atau inisiatif global atau bisnis besar. Itu dapat dimulai dengan tindakan yang kecil. Jika kita melakukannya segera, itu dapat berkembang menjadi tindakan global dalam waktu singkat.

“Anda lahir di zaman ide-ide. Ide adalah sesuatu yang seorang lulusan MIT tidak akan kehabisan. Pertanyaan yang ingin kuutarakan sekarang – apa manfaat yang ingin Anda buat dari mereka (ide-ide itu)? Menghasilkan uang dengan menjual atau menggunakan ide-ide Anda? Atau mengubah dunia dengan ide-ide Anda? Atau keduanya? Terserah Anda untuk memutuskan.” Dan, menurut Muhammad Yunus dalam pidato resmi saat menerima hadiah Nobel sebesar 1,36 juta dollar AS (sekitar Rp 12,5 miliar):

“Setiap orang dari kalian memiliki kemampuan untuk mengubah dunia!”

“Tujuan program ini bukan hanya memberdayakan secara ekonomi, tetapi juga mengangkat moral dan harga diri para pengemis itu,” ujar Yunus. Berkat program yang dinamai “The Struggling Members Program” ini, sekitar 47 ribu lebih pengemis di Bangladesh telah terbantu. Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

35


l iterat ure

l ite ratu re

Pribadi Budiono Direktur BPR Lestari

PROPERTY CASH MACHINE Langkah Cerdas Membangun Kekayaan Melalui Properti Joe Hartanto

J

oe Hartanto adalah seorang entrepreneur dan investor properti yang mengawali kedua profesinya dari NOL. Setelah melewati fase jatuh bangun dalam membangun bisnis dan belajar melalang dunia dengan mentor hebat seperti Robert T. Kyosaki, Dolf De Roos, Robert G. Allen dan T. Harv Eker, Joe Hartanto mendapatkan perubahan paradigma dalam menjalankan bisnis terutama dalam bidang properti. Pengalaman selama 10 tahun dalam menjalankan bisnis properti terutama sebagai investor properti disaripatikan dalam buku best seller dengan judul PROPERTY CASH MACHINE. Anda diajak oleh Joe, bagaimana Anda membangun kekayaan melalui Properti walaupun Anda mempunyai keterbatasan modal. Buat sebagian besar orang, bermain properti tidaklah mudah dan butuh modal besar. Itu benar kalau anda tidak tahu cara bermainnya. Tapi bila tahu rahasianya, Anda akan terkejut, ternyata hal itu mudah dan tidak memerlukan modal besar bahkan Anda bisa mndapatkannya tanpa modal.

KENAPA HARUS PROPERTI? Kenapa...? Anda bisa membangun kekayaan melalui Properti. Kok Bisa... Bagaimana Caranya...? Properti senilai 10 bisa dibeli dengan pembayaran senilai 1 saja (contoh properti senilai Rp.1 milyar dibayar senilai Rp.100 juta bahkan bisa tidak menggunakan modal sendiri, semuanya mempergunakan dana orang lain). Bagaimana Anda bisa berinvestasi properti tanpa mempergunakan dana sendiri? Ya... Anda bisa mencari properti dan membeli dengan harga di bawah pasar sehingga Anda LANGSUNG UNTUNG saat membeli. Properti yang dibeli dengan harga dibawah pasar, dan pembiayaan bisa dicarikan melalui bank senilai transaksi bahkan kalau Anda bisa mencari properti dengan harga bagus (properti hot deal), investor bisa mendapatkan cash back (kelebihan pembiayaan) yang bisa digunakan untuk perputaran bisnis.

36

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

Bagaimana caranya mendapatkan Properti Hot Deal…? Joe, menuturkan dalam Property Cash Machine melalui rumus ajaib 100 - 10 - 3 - 1. Artinya Anda harus mendata paling sedikit properti incaran dari berbagai sumber yang berpotensi menjadi prospek hot deal. Kemudian Anda menyaring sebanyak 10 properti yang bisa ditawar. 3 dari 10 properti yang Anda tawar Anda lanjutkan proses negoisasi. 1 berarti Anda akan mendapatkan satu properti hot deal yang benar-benar akan MENGUBAH HIDUP ANDA dan menjadikan Anda investor properti yang sesungguhnya dan selanjutnya Anda ingin mengulangi lagi, lagi, lagi… lagi dan lagi sampai anda terbiasa mencari Properti Hot Deal…. Hidup Anda selalu diliputi dengan pengalaman AHA. Alangkah indahnya.

Membeli properti...? Sebagian besar orang menunda untuk membeli properti, dan tidak tahu kapan untuk memulai. Setiap diberi prospek properti selalu ada hambatan untuk membeli, entah harganya terlalu mahal, lingkungan tidak cocok, lokasi terlalu jauh. Intinya transaksi tidak terjadi.

Kapan mulai membeli ? Pertama, Properti yang dibeli harus menghasilkan cash flow positif. Artinya properti disewakan ke pihak lain dan hasil sewa harus menutup biaya operasional, cicilan bank dan masih sisa. Jika Anda menjumpai properti seperti ini, saatnya Anda untuk membelinya. Seberapa banyak? Sebanyakbanyaknya agar Anda mencapai Financial Freedom. Dolf De Roos menyarankan minimal anda membeli 1 properti hot deal setiap tahunnya dan dalam waktu 10 tahun keajaiban menyertai Anda. Membeli properti dan disewakan mendapat dua keuntungan sekaligus yaitu cash flow bulanan dan capital gain. Capital gain atau keuntungan investasi adalah

selisih antara harga saat ini dan harga saat membeli. Jangan menunggu untuk membeli properti. Belilah properti dan tunggu. Kedua, harga harus memberikan keuntungan pada saat membeli. Joe memberikan patokan bahwa harga yang anda beli dibawah harga pasar (under value)

Kenapa...? Karena faktor tersebut akan mempengaruhi besarnya tingkat hunian properti dan besarnya capital gain atas properti yang dibeli.

“Buying and Selling makes you rich. Buying and holding make you wealthy”.

Properti hot deal dapat Anda peroleh dari berbagai sumber. Adapun sumber utama properti hot deal adalah bank. Kenapa? Bisnis utama bank adalah menghimpun dan menyalurkan kredit. Adapun kredit yang diberikan tidak semuanya lancar. Nah kondisi debitur yang mempunyai kredit yang cenderung menurun ini rata-rata penyelesaian yang paling cepat adalah dengan menjual properti dengan harga likuidasi (dibawah pasar) karena nasabah dikejar tenggat waktu untuk pembayaran kredit. Balai lelang. Kenapa? Ini merupakan tempat bank untuk melepas asset secara terbuka dan harga atau limit dasarnya yaitu nilai likuidasi (dibawah pasar). Pengadilan, BPN, Notaris, Broker properti dan yang tidak kalah menarik adalah pemilik properti yang pindah ke luar kota atau keluar negeri. Joe menyarankan Anda harus rajin untuk mengunjungi instansiinstansi tersebut di atas agar Anda memperoleh properti dengan harga bagus sekaligus mendapatkan pembiayaan melalui bank.

Bagaimana Anda disebut sebagai Investor Properti? Apakah dengan membeli properti dengan harga yang murah kemudian Anda menjual dengan harga bagus sehingga mendapatkan keuntungan disebut sebagai investor properti. Atau dengan membangun rumah yang banyak di atas tanah kosong kemudian dengan strategi pemasaran yang jitu, rumah dijual ke orang dengan harga bagus disebut investor properti... Tidak! Seorang investor tidak akan menjual investasinya karena ingin menarik tunai. Seorang investor hanya menunggu telur emasnya dan tidak akan menyembelih angsanya. Pertanyaannya. Kalau Anda tidak menjual properti bagaimana Anda bisa memenuhi kewajiban membayar bank. Ingat, bahwa Anda hanya membeli properti yang menghasilkan cash flow positif sehingga kewajiban ke bank akan tertutupi dari hasil menyewakan.

Properti seperti apa yang harus Anda beli? Joe, dalam Property Cash Machine menyarankan anda untuk membeli properti dengan memperhatikan beberapa faktor yaitu dekat dengan perkantoran, dekat dengan pabrik/ industri, di sekitar kampus, di sekitar pasar, dekat dengan pusat perbelanjaan, kepadatan penduduk yang tinggi, dekat dengan pintu tol, kemudahan akses transportasi.

Dimana Anda bisa memperoleh Properti Hot Deal?

Menjadi investor properti dan passive income memang menjadi impian setiap orang, tetapi kendala modal dan knowledge. Tidak semua orang berhasil mewujudkan kedua hal tersebut dalam hidupnya. Buku Property Cash Machine ini akan menginspirasi dan memberikan knowledge-nya pada Anda, bahwa memiliki properti dan passive income adalah hal sangat mungkin dan bisa dicapai. Semoga Anda Semua terinspirasi dan melakukannya. Selamat membaca. Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

37


small

b izhom e b i z

sm all

b izhomebiz

juga pintar mengkonsumsi buah- buahan yang siap dipanen, seperti : Pisang, Coklat, Pepaya, dan buah segar lainnya. Perilaku yang demikian menjadikan luwak sebagai binatang yang diburu petani.

Kopi Luwak B-36

Kotoran ‘Nikmat’ Berharga Selangit Oleh Prad

L

uwak, jenis binatang karnivora ini umumnya dibenci para peternak dan petani. Bahkan peternak dan petani menganggap mereka sebagai ‘hama’, karena sering memangsa ternak dan merusak buah-buahan. Namun, bagi petani kopi, Luwak adalah berkah. Betapa tidak, saluran pembuangan makanan hewan ini bisa menghasilkan sesuatu yang nikmat dan berharga mahal.

38

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

Jika... Anda salah seorang coffee junkies, rugi kalau belum pernah mendengar kopi luwak. Jenis kopi asli Indonesia ini, merupakan jenis kopi termahal di dunia. Jika sudah demikian, angka belasan juta untuk sekilo kopinya cukup untuk mengundang decak kagum manusia. Namun kalau sudah mengetahui proses “pengolahan” kopi Luwak, jadilah kepala kita menggeleng.

Proses pengolahan kopi luwak sama dengan pengolahan kopi umumnya. Perbedaannya hanya pada proses giling yang digantikan oleh luwak. Fermentasi terjadi di dalam perut luwak. Biji kopi tercampur dengan enzim – enzim yang ada dalam perut luwak. Suhu dalam perut yang mencapai > 26O C membantu proses fermentasi sempurna. Kedua keistimewaan ini menghasilkan aroma dan cita rasa kopi luwak yang nikmat dan khas disamping kelebihan – kelebihan yang lain. Hebatnya lagi, kepopuleran kopi asli Indonesia ini sempat menarik minat presenter kelas dunia Oprah Winfrey hingga pada tahun 2003, ia memperkenalkan dan memperagakan cara menyeduh kopi luwak dalam acara reality shownya yang sangat terkenal The Oprah Winfrey Show. Sebuah prestasi tinggi untuk setumpuk kopi yang keluar dalam bentuk kotoran seekor luwak.

Kopi Luwak adalah jenis kopi dari biji kopi yang telah dimakan dan melewati saluran pencernaan binatang sejenis musang bernama Luwak (Paradoxurus Hermaphrodirus) atau di Bali dikenal dengan Lubak. Luwak hanya mau memakan biji kopi yang benar – benar masak. Namun perut musang tidak bisa mencerna biji kopi, melainkan hanya kulitnya. Nah, biji kopi itu keluar lagi bersama kotoran. Kopi itulah yang kemudian untuk diolah melalui proses sanitasi. Popularitas kopi ini telah terkenal sampai luar negeri, dengan harga yang tentunya selangit. Di negeri Paman Sam sana, terdapat kafe atau kedai yang menjual kopi luwak (Civet Coffee) dengan harga yang sangat mahal. Di Hongkong secangkir kopi luwak dapat dibeli dengan harga 300-400 ribu rupiah, wow! Biji kopi seperti ini, pada masa lalu sering diburu para petani kopi, karena diyakini berasal dari biji kopi terbaik dan difermentasikan secara alami. Dan menurut keyakinan, rasa kopi luwak ini memang benar - benar berbeda dan spesial di kalangan para penggemar dan penikmat kopi. Beberapa spesies luwak terdapat di Asia Tenggara, tetapi yang menghasilkan kopi dengan aroma terbaik adalah Luwak Indonesia. Produksi kopi luwak dari tahun ke tahun semakin merosot , dikarenakan luwak dianggap sebagai hama, atau binatang perusak, karena selain buah kopi, luwak Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

39


communi t y

e nte rp ri s e

co mmunit y

Studio Batik Tjok Agung Gede Pemayun Karya Ibu Rumah Tangga untuk Dunia

usaha yang sudah dilakoni oleh saudara-saudara kita yang lain karena bisa menciptakan iklim persaingan yang tidak sehat dan mempersempit kesempatan berusaha,”ungkap Tjok Agung penuh semangat. Ibu-ibu rumah tangga yang selama ini yang diletakkan sebagai penyokong urusan domestik menjadi sasaran Pak Tjok. Waktu luang kaum ibu usai mengerjakan tugas-tugas rumah tangga dimanfaatkan untuk belajar membatik. Untuk pekerja baru, biasanya mendapat pelatihan selama kurang lebih dua minggu sebelum ia mulai memegang canting. Anggota kelompok Studio Batik Tjok Agung kini berjumlah 40 orang. Semuanya bertempat tinggal di daerah sekitar tempat usaha dan kebanyakan memiliki hubungan kekerabatan yang dekat sehingga jam kerjanya pun diatur fleksibel disesuaikan dengan aktivitas-aktivitas lain di luar pekerjaan sebagai pembatik di studio. Dengan demikian, acara-acara adat, keagamaan dan tugas-tugas sebagai ibu rumah tangga tidak terganggu. Menariknya lagi, anak-anak mereka dapat bermain dan belajar di samping ibunya yang sedang membatik. Tangan-tangan terampil kaum ibu kini telah menghasilkan ribuan lembar batik berkualitas tinggi. Karya mereka tak hanya diminati dalam negeri, tapi telah menembus pasaran

L

Kala itu Tjok Agung telah mapan bekerja di sebuah perusahaan garmen ternama di Bali yang tidak terlalu terpengaruh dampak bom Bali. Saat pulang ke desanya, Tjok Agung menyaksikan kenyataan memedihkan, banyak warga desa yang menganggur karena terkena pemutusan

40

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

hubungan kerja akibat lesunya pariwisata Bali. Masalahnya bukan sekadar pengangguran itu sendiri, melainkan bagaimana pengangguran itu juga menjadikan para perempuan dan ibu rumah tangga menanggung beban saat suami mereka terjebak dalam situasi putus asa. “Setiap hari para ibu rumah tangga harus berfikir dan mencari cara agar dapat makanan dan biaya hidup untuk satu hari saja. Hutang pun sudah tidak bisa karena sudah terlampau banyak,”ujar Tjok Agung. Ayah dari dua anak ini kemudian mengambil langkah yang tidak populer saat itu. Ia keluar dari pekerjaannya dan secara khusus belajar membuat batik di sentra-sentra produksi batik di Pulau Jawa. Setelah merasa cukup bekal ilmu, ia kemudian pulang dan mendirikan studio batik di desanya. “Membuka studio batik ini bukan kebetulan semata, tetapi lebih pada pertimbangan untuk memunculkan sebuah inovasi baru dalam berusaha. Saya tidak ingin membuka

dunia. Dan tentu saja, sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kini tak lagi bergantung sepenuhnya pada pendapatan suami, karena potensi kaum ibu yang tertidur selama ini telah bangkit dan mendongkrak ekonomi keluarga berkat sentuhan kesabaran Tjok Agung. Tjok Agung sadar, setiap anggota kelompok mengkontribusikan potensi mereka terhadap kemajuan usaha batik. Tjok Agung kemudian membangun relasi yang sehat dengan anggota kelompok dengan membentuk koperasi sebagai wadah untuk meningkatkan kesejahteraan yang berkeadilan. Keberadaan koperasi sangat membantu anggota kelompok. Saat kebutuhan keluarga mendesak mereka dapat meminjam di koperasi. Selain itu sisa hasil usaha dari kegiatan simpan pinjam dan usaha lainnya juga dibagikan kepada anggota. Bom Bali memang melahirkan kepedihan, tapi juga mendorong lahirnya manusia-manusia Bali seperti Tjok Agung Gede Pemayun ini. Pasti ada banyak cerita, bagaimana manusia Bali keluar dari jebakan keputus-asaan pasca Bom Bali, mengambil pilihan tidak populer, dan berhasil menyelamatkan masa depan sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Dan, sudah sepantasnya, manusia-manusia macam ini mendapatkan apresiasi yang tinggi. Salut! (Foto: Dedeth)

Oleh Muammar Kaddafin edakan bom di Bali pada 12 Oktober 2002 menghancurkan Restoran Sari Club di Legian, Kuta, dan meminta korban ratusan orang. Dan, dampaknya tidak berhenti di situ saja melainkan menjalar ke mana-mana. Dalam sekejap hotel, restoran, pusat perbelanjaan, tempat hiburan dan berbagai sektor pendukung pariwisata lainnya sepi pengunjung. Ribuan orang terpaksa dirumahkan karena perusahaan tak mampu membayar upah. Adalah Tjok Agung Gede Pemayun tergerak untuk menciptakan peluang usaha berbasis komunitas untuk mengatasi masalah pengangguran di desa kelahirannya, Desa Pejeng, Tampak Siring di Kabupaten Gianyar.

e nterprise

Batik Ramah Lingkungan Tatkala para pembatik lain berlomba-lomba menggunakan bahan pewarna kimia dengan alasan lebih mudah didapat dan harganya yang jauh lebih murah, Tjok Agung memilih untuk tetap mempertahankan pewarna alam sebagai bahan dasar batiknya. Meskipun diakuinya bahwa untuk mendapatkan bahan-bahan tersebut tidaklah mudah. “Pilihan ini bukan menjadi tren bisnis. Akan tetapi saya ingin melakukan hal-hal kecil untuk mempertahankan kelestarian lingkungan kita. Limbah yang dihasilkan oleh pewarna alam tidak akan mencemari tanah” tutur Tjok Agung. Warna alam yang menjadi andalan studio Tjok Agung berasal dari tanaman indigo yakni satu-satunya jenis tanaman penghasil warna biru. Hanya tumbuh di daerah yang beriklim sedang, tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin. Di Pejeng sendiri indigo memang ditanam oleh masyarakat setempat, namun tanaman ini hanya akan tumbuh subur pada kisaran bulan Juni – Desember. Bahan pewarna lain yang juga digunakan adalah kayu kuning, kulit buah delima, bunga sidawayah, akar mengkudu, dan lain-lain. Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

41


communi t y

e nte rp ri s e

iPhone 4 J

t

hig h- e chindex

ujur apa yg diungkap oleh engadget tentang iPhone harus diakui benar

untuk saat ini iPhone 4 adalah “the best smartphone on the market right now”. Kombinasi baru yang sempurna dari display yang sangat tajam, camera yang luar biasa dan pengembangan operating system yang signifikan. Ini jadi paket yang membuat iPhone kembali jadi “top rank” dikelasnya. Beberapa gadget freak yang sebelumnya tidak pernah memperhitungkan iPhone mulai melirik karena upgrade tekenologinya yang menggiurkan. Apple sekali lagi mengambil alih “konsentrasi” kita dengan mengeluarkan “racun” baru yang menggoda para pecinta “apple”

This changes everything. Again

Tiga hal yang paling “menggoda” dari gadget ini adalah 1. Face Time. Ini adalah video calling, tidak seperti lainnya kali ini Apple membuatnya lebih realists. Bahkan kedua camera-nya dapat di-switching saat melakukan video call hanya dengan menekan satu button / key. 2. Retina Display. Dengan mengembangkan pixel a mare 78 micrometers wide maka resolusi smartphone ini menjadi sangat tajam dari display manapun. Resolusinya hingga 326 pixels per inch. Setiap zooming retina akan terlihat setajam display standardnya. 3. HD video recording dan 5 Megapixel Camera dengan LED Flash. Wow… ini yg paling luar biasa. Dengan segengam hanphone kita bisa merekam video kualitas HD

42

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

Key Features • Quad-band GSM and quad-band 3G support with 7.2 Mbps HSDPA and 5.76 Mbps HSUPA • 3.5″ 16M-color LED-backlit TFT capacitive touchscreen of 640 x 960 px resolution • Scratch-resistant glass front and rear, with fingerprint-resistant coating • 1GHz Apple A4 SoC; 512MB of RAM • 5 MP autofocus camera with LED flash and touch focus • 720p video recording at 30fps • Wi-Fi 802.11b/g/n • GPS with A-GPS connectivity; digital compass • 16/32GB storage options • Accelerometer, proximity sensor and threeaxis gyro sensor • Active noise cancellation with a dedicated secondary microphone • Standard 3.5 mm audio jack, stereo Bluetooth v2.1 • Excellent audio output quality • Slim waistline at only 9.3mm • Secondary front-facing camera • Some degree of multitasking • Rich AppStore

Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

43


af ter

h ou r

a f ter

Susan Boyle

Mungkin sedang bete, penyanyi sensasional asal Inggris, Susan Boyle, tiba-tiba saja membuat onar di bandara Heathrow saat ia sedang menunggu pesawat datang. Susan yang bertubuh tambun ini tiba-tiba menyanyi kencang sambil berdansa di VIP Lounge dan menyebabkan suasana jadi gaduh. Untungnya tidak sampai terjadi peristiwa yang lebih memalukan lagi. “Suasana benar-benar kacau waktu itu. Susan terlihat resah sejak ia pertama kali datang dan setelah itu mulailah ia berulah yang menyebabkan suasana jadi gaduh,” ujar salah seorang saksi mata seperti dikutip dari Splash News. Kabarnya, Susan yang memang sudah terlihat gelisah tiba-tiba saja berdiri dan merampas peralatan pel dari tangan petugas dan mulai bernyanyi keras-keras sambil menari-nari. Orang-orang yang terkejut mulai merasa terganggu ketika Susan mulai menggunakan alat pel ini untuk mengelap sepatu orang-orang di sana. Tak berapa lama kemudian petugas dari British Airways datang dan mengawal Susan Boyle sampai ia masuk ke dalam pesawat yang mengantarnya menuju Chicago.

44

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

Bikin Gaduh Bandara

Sebelum mengikuti sebuah ajang kontes pencarian bakat di negerinya, Susan Boyle bukanlah siapa-siapa. Namun semenjak ia mengikuti ajang Britain’s Got Talent musim ketiga pada 2009, namanya langsung menjadi terkenal seantero jagat. Juri acara tersebut, Simon Cowell, Amanda Holden dan Piers Morgan dan beserta seluruh penonton pada malam itu hanya memandang sebelah mata pada perempuan kelahiran Blackburn, West Lothian, Skotlandia, 1 April 1961 ini. Tapi semua pandangan meremehkan hancur ketika Susan mulai menyanyi lagu I Dreamed A Dream. Suaranya memukau ketiga juri pada malam 11 April 2009. Bahkan Amanda sampai terharu dan seluruh penonton dan juri memberinya standing applause padanya.

h ou r

Slank Bikin Film Dokumenter

Sepak terjang grup band Slank dalam pentas hiburan tanah air tentu tak bisa diragukan lagi. Selain tetap eksis menghibur musik mania tanah air, Slank juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Kini grup yang dimotori Kaka dan Bimbim itu punya kesibukan baru. Slank akan meluncurkan film baru. Setelah membuat film yang berjudul GENERASI BIRU, grup band yang yang eksis sejak tahun 1983 ini akan kembali membikin sebuah film. Film kedua akan berbeda dengan film yang pertama dimana film GENERASI BIRU adalah film bertemakan musikal, sedangkan film kedua nantinya menjadi sebuah dokumenter Slank.

“Iya kita mau ada film lagi, itu film dokumenter yang didokumentasikan di Kupang, Medan, Batam, dan Yogya. Isi filmnya hampir 30 persen perjalanan kita dari Kupang ke Dili. Jadi isinya banyak dialog Timor,” terang Bimbim ketika di temui di launching album terbaru Slank di markasnya Gg Potlot, Duren Tiga, Jakarta. Film yang menitikberatkan setting tur Slank di Kupang dan Dili ini mempunyai maksud bahwa musik Slank tak mengenal perbedaan yang sedang terjadi di sana. “Kita mau nunjukin di Timor sana ada dua negara, beda bendera tapi tetap ada satu Slankers yang mau samasama bersaudara,” ujar Bimbim.

Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

45


s neakpe e k

“The Dream is Real”, apa yang akan anda pahami dari kalimat tersebut? Ketika mimpi adalah kenyataan atau anda tak bisa membandingkan antara kenyataan dan mimpi. Christopher Nolan menjabarkannya dalam Inception, sebuah kisah dimana kenyataan terjebak di dalam mimpi “They are not sleep, they are awake”. Bersama dengan Leonardo DiCaprio, Marion Cottilard, Joseph Gordon-Levitt, Ellen Page, Ken Watanabe, Tom Hardy, dan Cillian Murphy, Nolan mampu menjabarkannya dengan baik dimana sebuah mimpi (alam bawah sadar) memiliki kehidupan, dan mimpinya sendiri. Alur yang diceritakan sangat rapi, anda tidak boleh meninggalkan layar lebar untuk memahami kejeniusan film ini. Bersamaan dengan special effects yang tanpa cela dan alunan scoring dari Hans Zimmer mampu membuat ketegangan yang nyaman untuk dinikmati. Sedangkan pemeran yang pas dan tidak berlebihan sesuai dengan jatah masing-masing, sebut saja salah satu nama Leonardo DiCaprio (Dom Cobb) yang berperan sebagai penyusup mimpi dan mampu menyerang alam bawah sadar korban dan memperoleh apa yang dicari, dan Ken Watanabe (Saito) perannya dalam The Last Samurai tak perlu dipertanyakan lagi, kini ia hadir kembali dengan peran ksatria (menghargai janji).

46

- Vol. 8 Aug - S e p 2010

Mimpi itulah yang diceritakan film ini, imajinasi yang mampu diterima akal pikir kita karena banyak hal kecil yang mendukung ke-masuk akal-an film ini, seperti totem (pengganti cubitan) yakni sebuah alat yang digunakan untuk memberi tanda bahwa kita sedang bermimpi atau tidak diselipkan dengan halus dan tanpa paksaan sehingga penonton tidak melihat film ini dengan berlebihan. Sensasi film ada saat di bagian mimpi berada di dalam mimpi, dan apa yang terjadi di dalamnya yang berhubungan dengan mimpi sebelumnya dan sesudahnya beserta kerumitan di tiap-tiap mimpi, di sanalah anda akan melihat sebenarnya ide Nolan dalam pembuatan film ini dan bagaimana para aktor dan artis menyajikannya yang membuat film ini menarik dan bagus. Dengan adanya Inception, Christopher Nolan bisa dinobatkan dengan predikat sebagai seorang sutradara jenius. Inception sudah merupakan sebuah bukti kuat kalau Nolan mampu membuat sebuah karya yang beyond imagination, selain produksinya terdahulu.

Better than Matrix and ”Just don’t forget the kick” / Two Thumbs Up!

INCEPTION

Oleh Elly Ten

Vol. 8 Aug - S ep 2 0 1 0 -

47


48

- Vol. 8 Aug - S e p 2010


M&i magz ed 08