Page 1

LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017

1


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

EDITOR NOTE DEWAN PELINDUNG

Ahmad S. Nugraha PIMPINAN UMUM Fauzi R.I Karo-Karo PEMIMPIN REDAKSI Vicky Zulfikar EDITOR Indah Rahmanesa G. KONTRIBUTOR Efen Merina Supandi Ravires Josan Muhammad Ahmi AG Imam Dermawan Mulia Merdekawati Merina Supandi Rode Arni Bagaskara LAYOUT Nadiful Amam Yudha Harsanto Akhmad Muzaki

E

disi kali ini Lingkar Utara masih mengajak kamu berkeliling Nusantara Indonesia. Negara Indonesia memang tidak pernah ada habisnya untuk dinikmati keindahan alamnya. Selain keindahan alam, Negara kita juga memiliki banyak sekali sejarah yang tidak diketahui banyak orang. Beberapa sejarah masih terjaga eksistensi sampai sekarang tapi sayang beberapa sejarah lainnya sudah mulai hilang di telan zaman. Beberapa masyarakat Indonesia sampai sekarang masih menganut beberapa sejarah yang mereka percayai. Sejarah-sejarah tersebut biasanya dapat berbentuk perilaku, keyakinan, prasasti, atau ritual perayaan. Sudah seharusnya kita sebagai pemilik sejarah harus mempertahankan eksistensi sejarah Negara kita. Karena hanya dengan sejarah kita mampu mempertahankan keberagaman dan kekuatan budaya Negara Indonesia.

DIDUKUNG OLEH Universitas Mercu Buana Yogyakarta UKM Ruang Gelap DIV. Fotografi UKM Ruang Gelap

Kritik & Saran : redaksi.lingkarutara@gmail.com

2

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017


DAFTAR ISI

LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

EDISI NUSANTARA New Years, New Hope

Eksistensi Tradisi & Budaya di Pulau Lombok Hidden Beach In Bekasi Mitos Sumur Jalatunda Dieng

Nyamannya Berlibur di Resort Pegunungan Kombur Medan

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017

4

8 11 12 14 18

3


NUSANTARA

LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

New Years, New Hope Kontributor : Muhammad Agris

B

angsa Indonesia memiliki ragam suku dan ras budaya yang sangat luar biasa. Banyak acara perayaan yang dapat kita temui di Indonesia. Salah satu nya adalah perayaan tahun baru dari saudara saudara kita yang berasal dari suku Tionghoa. Perayaan yang dimaksud adalah perayaan tahun baru Imlek. Merayakan Imlek di

4

Yogyakarta, kurang pas bila tidak mampir ke Ketandan. Disini kita bisa menyaksikan bagaimana akulturasi dua budaya, Jawa danTionghoa berlangsung. Ketandan merupakan salah satu kampong pecinaan yang masih kuat menjaga tradisi. Di kampong inilah perayaan Pekan Budaya Tionghoa di pusatkan. Festival menyambut Imlek ini

digelar setiap tahun. Hanya saja, perayaan nya tak bertepatan dengan Tahun Baru Imlek. Tahun ini, pecan budaya Tionghoa digelar dari tanggal 5 Februari hingga 17 Februari. Tepat pada pukul 19:00 WIB semua peserta yang mengikuti karnaval perayaan pekan budaya Tionghoa Yogyakarta XII memulai langkahnya dari taman

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

parkir abu bakar ali. Acara ini di awali dengan kesenian liong dari perkumpulan Hoo Hap Hwee sebagai pembuka jalan dari karnaval ini. Hampir di setiap pinggir jalan kawasan Malioboro di tutupi oleh para masyarakat yang ingin menyaksikan karnaval ini. Hal yang paling di nantikan oleh masyarakat dalam acara ini

adalah pertunjukan kesenian barongsai dan liong. Pertunjukan ini merupakan ciri khas dari perayaan imlek ini. Acara ini sangat meriah karena ada sekitar 1050 peserta dengan 24 komunitas yang mengikuti karnaval ini. Hari pertama Perayaan pekan budaya Tionghoa Yogyakarta XII yang dilakukan

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017

pada tanggal 5 Februari ditutup dengan kemeriahan pesta kembang api. Warna warni kembang api yang indah membuat malam acara karnaval lebih berwarna dan lebih hangat di kawasan Malioboro. Perayaan imlek ini memiliki harapan bahwa tahun ini akan lebih baik daripada tahun sebelumnya.

5


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

6

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017

7


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

EKSISTENSI TRADISI & BUDAYA DI PULA Kontributor : M. Ahmi Al Gazali

T

radisi dan budaya merupakan salah satu cerminan dari setiap daerah yang ada di indonesia ini. Seperti yang kita ketahui Indonesia merupakan negara yang memiliki budaya & tradisi yang sangat banyak nan unik yang di dalamnya sarat akan arti dan maknanya. Kekayaan tradisi dan budaya ini tentu menjadikan alasan utama kita agar selalu berusaha menjaga dan terus melestaraikannya sehingga tidak luntur oleh zaman

8

bahkan sampai hilang. Pentingnya kesadaran generasi muda sekarang ini sangat memegang banyak kendali terhadap tradisi dan budaya di Indonesia ini sebab mereka lah tumpu harapan kelestariannya. Generasi muda sekarang tentu harusnya benar - benar sadar terhadap tradisi dan budaya yang semakin hari semakin terkikis oleh datangnya budaya dari barat. Namun berbeda dengan tradisi dan budaya yang berada di pulau Lom-

bok. Di pulau ini tradisi dan budayanya sedang gencar-gencarnya untuk di pertahankan dan dilestarikan. Hampir setiap tahun kegiatan - kegiatan tersebut selalu diselenggarakan dan sangat meriah yang dipadukan dengan sentuhan modern dengan diadakan beberapa hiburan pendamping serta mengundang artis-artis besar maupun band-band terkenal di Indonesia ini demi memikat minat masyarakat Lombok maupun wisatawan asing .

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

AU LOMBOK Tradisi tersebut adalah Bau Nyale mungkin di telinga kalian tradisi ini sangat asing dan bahkan tidak pernah mendengar sebelumnya. Bau Nyale merupakan salah satu tradisi sekaligus identitas suku Sasak (masyarakat asli Lombok). Oleh sebab itu, tradisi ini masih tetap dilakukan oleh suku Sasak sampai sekarang. Bau Nyale biasanya dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai di pulau Lombok Selatan, khususnya di Pantai Selatan

=Lombok Timur seperti Pantai Sungkin, Pantai Kaliantan, dan Kecamatan Jerowaru. Selain itu, tradisi ini juga dilakukan di Lombok Tengah seperti di Pantai Seger, Kuta, dan pantai sekitarnya. Saat melakukan tradisi ini biasanya juga dilengkapi dengan berbagai hiburan pendamping. Bau Nyale selalu dilakukan secara rutin setiap tahun. Tradisi ini sebenarnya sudah dilakukan sejak lama dan dilakukan secara turun temurun. Sayangnya, kapan kepastian waktu dimulainya tradisi ini masih belum diketahui. Berdasarkan isi babad, Bau Nyale mulai dikenal masyarakat dan diwariskan sebelum abad 16. Bau Nyale berasal dari bahasa Sasak. Dalam bahasa Sasak, Bau artinya menangkap sedangkan Nyale adalah nama sejenis cacing laut. Jadi sesuai dengan namanya, tradisi ini kegiatan menangkap nyale yang ada di laut. Cacing laut yang disebut dengan Nyale ini termasuk dalam filum Annelida. Nyale hidup di dalam lubanglubang batu karang yang ada dibawah permukaan laut. Uniknya, cacing-cacing nyale tersebut hanya mun-

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017

cul ke permukaan laut hanya dua kali setahun. Tradisi Bau Nyale merupakan sebuah kegiatan yang dihubung-hubungkan dengan kebudayaan setempat. Bau Nyale berawal dari legenda lokal yang melatar belakangi yakni tentang kisah Putri Mandalika. Menurut kepercayaan masyarakat Lombok, nyale konon merupakan jelmaan Putri Mandalika. Putri Mandalika dikisahkan sebagai putri yang cantik dan baik budi pekertinya. Karena kecantikan dan kebaikannya, banyak raja dan pangeran yang jatuh cinta kepadanya dan ingin menjadikannya sebagai permaisuri. Putri tersebut bingung dan tidak bisa menentukan pilihannya. Ia sangat bingung. Jika ia memilih salah satu dari mereka, ia takut akan terjadi peperangan. Putri yang baik ini tidak menginginkan peperangan karena ia tidak mau rakyat menjadi korban. Oleh sebab itulah, putri pun lebih memilih mengorbankan dirinya dengan menceburkan dirinya ke laut dan berubah menjadi nyale yang berwarna-warni. Oleh sebab itu, masyarakat di sini percaya bahwa nyale tidak hanya sekedar cacing laut biasa

9


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

tetapi merupakan makhluk yang dipercaya dapat membawa kesejahteraan bagi yang menangkapnya. Masyarakat disini menghormati dan percaya bahwa orang yang mengabaikannya akan mendapat kemalangan. Mereka yakin nyale dapat membuat tanah pertanian mereka lebih subur dan mendapatkan hasil panen yang memuaskan. Selain itu, nyale juga digunakan untuk lauk pauk, obat dan keperluan lain yang bersifat magis sesuai kepercayaan masing-masing. Tradisi Bau Nyale biasanya dilakukan dua kali setahun. Tradisi ini dilakukan beberapa hari sesuai bulan purnama yaitu pada hari ke-19 dan 20 bulan ke10 dan ke-11 dalam penang-

10

galan suku Sasak. Biasanya tanggal tersebut jatuh pada bulan Februari dan Maret. Upacara penangkapan cacing nyale dibagi menjadi dua yakni dilihat dari bulan keluarnya nyale-nyale dari laut dan waktu penangkapannya. Dilihat dari waktu penangkapan juga masih dibagi lagi menjadi jelo pemboyak dan jelo tumpah. Bulan keluarnya nyale dikenal dengan nyale tunggak dan nyale poto. Nyale tunggak merupakan nyale-nyale yang keluarnya pada bulan kesepuluh sedangkan nyale poto keluarnya pada bulan kesebelas. Kebanyakan nyale-nyale keluar saat nyale tunggak. Oleh sebab itu, banyak masyarakat yang menangkap nyale saat bulan ke-10. Masyarakat menang-

kap nyale biasanya saat menjelang subuh. Pada saat tersebut, nyale berenang ke permukaan laut. Saat itulah masyarakat menangkap nyale-nyale tersebut. Jika anda ingin menikmati euforia bau nyale ini, anda harus mengkonfirmasi kepada teman atau saudara anda yang berasal dari Lombok. Karena acara ini tidak serta merta bisa di tentukan kapan ketepatan tanggal dan waktunya. Masyarakat sasak biasanya menunggu hasil keputusan para tetua adat dan pemerintah setempat mengenai kapan di selenggarakannya tradisi tersebut. “Cintai tradisi dan budaya negara kita sekarang sebelum di cintai oleh negara lain�

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

Hidden Beach in Bekasi Kontributor : Imam Dermawan

B

ekasi lebih dikenal oleh masyarakat banyak sebagai kota industri, sebab banyaknya gedung-gedung pabrik yang berdiri kokoh disana. Selain masyarakat asli Bekasi banyak pula orang-orang luar daerah yang bersaing untuk menjadi buruh pabrik disana. Tak dipungkiri kemacetan, polusi udara, dan kesibukan pun amat sangat kental kaitannya dengan kota ini. Sedikit sekali tempat wisata yang berada di kota ini jika dibandingkan dengan kota-kota lain seperti Yogyakarta, Bali, serta kota-kota yang ada di Jawa Barat seperti Bandung, Bogor dan lain sebagainya. Tetapi tidak dapat dipercaya bahwa di pelosok Bekasi terdapat keindahan alam yang amat sangat indah, jauh dari hiruk pikuk

dan kebisingan yang ada di perkotaan. Adapun tempat yang dimaksud adalah Pantai Muara Beting yang terletak di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Bekasi. Akses menuju ke tempat ini sangat membutuhkan perjuangan lebih. Untuk dapat sampai ke tempat ini kita harus bergelut dahulu dengan jalanan yang kurang bersahabat. Pantai ini belum sepenuhnya dibuka secara resmi dan sedang dalam proses pengembangan sebagai objek wisata yang amat sangat berpotensial yang ada di Bekasi. Terdapat hutan bakau sekitar 70 Ha. Setiap tahunnya pada bulan September tepatnya ketika arus badai taifun berbagai burung-burung bermigrasi dari Laut Pasifik dan Laut Cina Selatan. Burung-burung

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017

tersebut bermigrasi sampai bulan Februari sehingga terjadi kosentrasi burung migrasi di tempat ini. Selain burung terdapat juga lutung hitam yang sudah amat sangat langka. Ombak di Pantai Muara Beting Bekasi ini tidaklah terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil, pasirnya berwarna coklat kehitaman seperti di Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Pantai ini juga masih amat sepi pengunjungnya sebab belum banyak orang yang mengetahui tempat ini dan sedang dalam proses pengembangan, amat sangat pas untuk kalian yang ingin menenangkan pikiran sejenak dari kesibukan dan melupakan hiruk pikuk yang ada di perkotaan.

11


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

Mitos Sumur Jalatunda Dieng Kontributor: Vicky Zulfikar

S

umur Jalatunda Dieng merupakan sebuah sumur tua yang ada di daerah Dieng tepatnya di daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Sumur ini memiliki ketinggian sekitar 2000 meter dari permukaan air laut. Mengingat kondisi geografis disana yang merupakan daerah pegunungan, maka suhu diatas dieng memang sangat dingin. Sehingga jika anda ingin berwisata ke Gunung Dieng, ada baiknya jika anda membekali diri dengan selimut atau jaket yang sangat tebal un-

12

tuk menghangatkan tubuh anda. Sehingga anda tidak akan merasa kedinginan jika berada disana. Sumur Jalatunda sendiri memiliki beberapa keunikan di banding dengan beberapa objek wisata yang ada di Pegunungan Dieng. Disamping usia dari Sumur Jalatunda ini yang sudah ratusan atau mungkin sudah ribuan tahun, ternyata sumur ini menyimpan segudang sejarah yang mungkin belum diketahui. Berdasarkan beberapa cerita yang beredar di

masyarakat setempat, cerita Sumur Jalatunda Dieng ini memliki dua versi. Khusus dari masyarakat pribumi sendiri yakni warga Dieng dan sekitarnya cenderung mempercayai salah satu cerita saja. Dua versi yang dimaksud adalah versi ilmiah dan versi adat atau kandungan mistis. Mengenai penilaian dari kedua versi ini diserahkan kepada masyarakat yang menjalani dan mempercayainya. Pada cerita Sumur Jalatunda versi ilmiah mengatakan bahwa sumur

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

yang terdapat di ketinggian gunung ini terjadi akibat letusan gunung pada jutaan tahun yang lali, sehingga mengakibatkan timbulnya sebuah lubang dengan diameter kurang lebih 90 meter dengan memiliki warna air hijau pekat, sedangkan kedalamannya mencapai 750 meter. Dan pada bahasa ilmiah proses alamiah ini diberi nama Kepundan. Asal muasal nama Jalatunda ini sebenarnya memiliki arti sumur raksasa yang besarnya puluhan meter dan memiliki kedalaman ratusan meter.

Nama ini diambil dari bahasa jawa dan diaplikasikan untuk dikenal masyarakat sampai dengan saat ini. Sedangkan pada versi leg enda masyarakat, tepatnya dari cerita pewayangan Mahabharata, disebutkan bahwa Sumur Jalatunda sering disebut sebagai Sapta Pratala atau bumi lapis tujuh yang merupakan tempat bersemayamnya dewa bumi yaitu Eyang Antaboga, Nagagini dan Antareja. Sampai saat ini Sumur raksasa jalatunda juga masih digunakan sebagai tempat sem-

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017

bahyang ataupun pemujaan bagi kepercayaan kejawen (kepercayaan aliran jawa). Terlepas dari mitos dan legenda, nama Sumur Jalatunda berasal dari dua suku kata yaitu ‘Jala’ dan ‘Tunda’ ini mempunyai arti maupun sebagai wejangan ketika seseorang mempunyai cita cita atau harapan jangan sampai menunda dengan kemalasan atau mencari kesempatan dilain waktu karena kesempatan hanya datang satu kali saja dan waktunya tentu tidak akan bisa terulang kembali. Mitos yang hadir di Sumur Jalatunda menurut warga setempat ialah siapapun yang mampu melepar batu ke Sumur Jalatunda sampai terlihat posisi jatuhnya atau sampai ke tebing sebrang dengan mengharapkan sesuatu dengan niat dan dari hati yang bersih maka konon keinginannya akan terkabul. Tentang mitos tersebut dikembalikan kepada keyakinan dan kepercayaan masing-masing.

13


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

nyamannya berlibur di resort peg Kontributor: Merina Supandi

S

ubang merupakan kota kecil yang terletak di Jawa Barat, yang merupakan kota perlintasan antara Bandung dan Indramayu, karena terletak dijawa barat budaya sunda pun

14

terasa begitu kental didaerah ini, masyarakatnya yang mayoritas berbahasa Sunda, meskipun terdapat berberapa tempat di Subang terutama didaerah pantura yang masyarakatnya meng-

gunakan bahasa Jawa hal tersebut terjadi karena subang berbatasan langsung dengan kota yang memiliki perbedaan bahasa yaitu Bandung dengan bahasa Sunda dan Cirebon serta

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

gunungan Indramayu yang menggunakan bahasa Jawa. Meskipun Subang merupakan kota kecil yang masih berkembang Subang memiliki pariwisata yang patut kalian kunjungi ketika kalian

berkunjung ke Kota Nanas ini, salah satu destinasi pariwisata andalan kota Subang ialah Ciater Highland Resort.

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017

15


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

Ciater Highland Resort Ciater Highland Resort (CHR) merupakan resort pegunungan pertama di Indonesia, letaknya yang berada dibawah kaki gunung Tangkuban Perahu membuat sensasi yang sangat asri dan tenang jika berkunjung ke CHR dengan dimanjakan dengan fasilitas mewah di resort tersebut serta dengan pemandangan alam dari ketinggian 800 meter diatas permukaan air

laut (mdpl) membuat resort tersebut mempunyai keunggulan tersendiri. Untuk kalian yang ingin berlibur ditempat yang masih asri Ciater Highland Resort merupakan salah satu rekomendasi yang baik, karena lokasinya yang berada diatas pegunungan membuat kita merasa dimanjakan oleh pemandangan yang menyejukan mata dengan hamparan kebun

teh yang hijau serta pedesaan dan udara yang masih terasa sejuk. Selain dimanjakan dengan pemandangan Ciater Highland Resort juga dapat memanjakan para pengunjungnya dengan fasilitas didalamnya, yang menjadi andalan di resort ini tidak hanya fasilitas penginapannya saja tetapi juga fasilitas pariwisata yang terdapat di area resort tersebut

Kolam Pemandian Air Panas Ciater Untuk kalian yang bosan berendam di air dingin, rasakan sensasi berbeda kolam dipemandian air panas Ciater ini, selain dimanjakan dengan rileksasi dengan kehangatan air kolam, mata kita pun akan dimanjakan pula dengan keindahan alam disekitar kolam pemandian tersebut. Selain untuk merileksasi diri kolam pemandian air panas Ciater pun dipercaya mampu menyembuh kan berbagai penyakit kulit.

16

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

Pacuan Kuda Ciater Selain pemandian air panas salah satu area pariwisata lainnya ialah pacuan kuda, untuk kalian yang menyukai olahraga berkuda pacuan kuda ciater merupakan rekomendasi yang baik untuk para pencinta olahraga tersebut.

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017

17


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

KOMBUR MEDAN Kontributor: Gina Sebayang

S

etiap kota tentu memiliki hal-hal yang menarik, tak hanya satu tetapi banyak dan masing-masing dari setiap orang juga pasti memiliki pandangan yang berbeda-beda dari menariknya kotanya tersebut. Sama seperti kota Medan yang punya banyak sisi menarik didalamnya yang sekiranya cukup bisa dibanggakan kalau diceritakan ke orang lain. Tak hanya sisi menarik yang dapat dibanggakan namun juga memiliki sisi menarik untuk diubah, menarik diubah karena kekurangannya. Tentu masing-masing orang memiliki pendapat yang berbeda-beda akan kejelakan kotanya, termasuk juga kota Medan. Oleh sebab itu kami mencoba untuk sedikit merangkum apa yang menarik dari kota Medan dan apa yang harus dirubah dari Medan beserta pendapat mereka tentang bagaimana merubahnya dengan versi mereka. Pendapat-pendapat ini berasal dari remaja-remaja kota Medan yang sedang merantau di kota Yogyakarta, langsung saja berikut pendapat mereka. Menurut kelen apa yang menarik dari kota Medan? “Yang menarik dikota Medan menurut aku pertama gaya bahasa dan logatnya, kulinernya, becak motor, peninggalan bangunan-bangunan tua kaya peninggalan Belanda, Istana Maimun dan Tjong A Fie Mansion�

Doni Tarigan (Mahasiswa Universitas Mercubuana Yogyakarta)

18

Menurut kelen apa yang harus diubah dari kota Medan? “Yang harus dirubah dari kota Medan adalah alur lalu lintasnya dan pedagang kaki lima yang ada dikota Medan. Soalnya suka bikin macet. Pemerintah harus membuat penjagaan lalu lintas disetiap lampu merah dan untuk PKL mungkin pemerintah EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

harusnya menyediakan tempat tempat berdagang yang sesuai untuk PKL.” Nah, cara kelen untuk merubahnya kek mana? “Hal yang bisa aku lakukan adalah mengkordinasi masyarakat untuk mendemo terhadap yang bersangkutan. Mungkin itu adalah solusi terbaik bagi masyarakat kota Medan. Karena semua itu juga kembali ke pemerintahan. Nah masalahnya pemerintahan dikota Medan juga kurang baik, makanya perlu didemo.”

Robert Tanta Ginting (Alumni Universitas Atma Jaya)

Menurut kelen apa yang menarik dari kota Medan? “Kalau menurutku daya tarik Medan khususnya ada di sektor sejarah dan budayanya, dari sejarah mulai didirikan Medan oleh Guru Patimpus sampai sekarang, perkembangan kota Medan tidak hanya didominasi oleh satu suku saja, tapi bermacam suku bangsa, etnis dan golongan. Hal itu yg menyebabkan kota Medan itu unik beda dengan kota lain yang kebanyakan didominasi oleh satu suku saja dalam perkembangannya. Setiap suku punya kebudayaan tersendiri baik berupa kesenian, bahasa, tata cara adat, sampai ke makanannya. Hal itu yang buat Medan tu kaya dan berbeda.” Menurut kelen apa yang harus diubah dari kota Medan? “Kalau yang perlu diubah pola pikir masayarakat, baik dari pejabat setempat sampai ke masyarakat yang dibawahnya. Pola pikir disni yang utama kedisiplinan masyarakat. Stop jargon peraturan dibuat untuk dilanggar. Peraturan ya dibuat untuk pegendalian dan pencegahan. Jangan buat aturan sendiri sehingga kesalahan jadi hal yg wajar dilakukan.” Nah, cara kelen untuk merubahnya kek mana? “Cara merealisasikannya dimulai dari diri sendiri. Jadi panutan dilingkungan keluarga terutama. Bisa dengan cara sharing antar teman teman atau keluarga. Itu dalam lingkup scope yang kecil, untuk scope yang agak luas bisa masuk ke komunitas komunitas mengajak orang buat disiplin.”

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017

19


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

Menurut kelen apa yang menarik dari kota Medan? “Kalo menurutku, yang menarik itu wisata dan budaya adat istiadat. Jadi kaya kulturnya gitu. Soalnya masih ada tempat tempat yang menjaga keaslian budaya dari nenek moyangnya. Terus wisatanya juga masih cukup alami. Walaupun beberapa sudah tercampur dengan tangan manusia. Namun beberapa masih ada yang menjaga keaslian dan kelestariannya.” Khairunnisa (Mahasiswi Institut Seni Indonesia Yogyakarta)

Menurut kelen apa yang harus diubah dari kota Medan? “Kalo untuk hal ubah merubah, itu sulit sih menurutku. Aku sih pengen pendidikan, terus tata tertib. Banyak sih yang harus diubah. Terutama pola pikir. Susah memang, soalnya itu semua tergantung dari manusianya. Kalo manusianya ingin maju, itu gak bakalan terlalu sulit. Cuma kalo yang gak mau, malah akan membuat buat masalah lainnya. Jadi timbul problem yang baru. Makanya pola pikir manusianya harus diubah dulu biar bisa ngasih gagasan buat majuu. Gitu sih” Nah, cara kelen untuk merubahnya kek mana? “Oke untuk cara, kita bisa mulai dari kita sendiri dulu sih. Soalnya kan watak watak orang Medan itu agak keras dan susah untuk di ajak yang begitu. Jadi harus siapin mental dulu. Karena pasti bakalan ada penolakan dan hal hal yang negatif. Jadi siapin mental dulu, fisik. Baru deh mulai ajakin mereka buat program program yang baik. Kayak membantu soal perekonomian, kesejahteraan, pokoknya kasih solusi yang bisa langsung dilaksanakan. Jangan yang terlalu berat. Jadi biar bisa langsung eksekusi gitu. Soalnya lebih baik cepat bertindak, daripada sekedar wacana. Cuma iya itu, pasti ada omongan dibalik itu. Pokoknya gitu deh.”

Gilang Kresnawan (Mahasiswa Jogja Film Academy Yogyakarta)

20

Menurut kelen apa yang menarik dari kota Medan? “Keras bukan berarti brutal mungkin salah satu kata dari anakanak Medan yang menandai orang-orang Medan ya seperti itu. Banyak hal yang menarik dari kota Medan, pertama dalam hal berbudaya, di Medan ada banyak suku yang menjamur disana antar lain suku Batak,Melayu, Nias dan sebaginya adalah sebagai pendatang seperti Jawa, Minang, Aceh, India, Tionghoa yang hidup dengan toleransi sosial yang cukup tinggi. Saling membutuhkan satu sama lain bahasa alaynya. Kedua hal yg menarik adalah dari kuliner, Medan terkenal dengan kulinernEDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

ya yg kaya rempah gak kalah dari rendang nya orang Minang, belum lagi hasil produk durianya ditambah kopi hasil dri kabupaten di sekitaran kota Medan apalagi bagi non muslim babi panggang nya wkwkw. Dan hal paling menarik ya wisata di Medan juga gak kalah dri kota lain, Medan termasuk kota terbesar ketiga setelah Jakarta dan Surabaya, walaupun tidak sepamor dengan Bali dan Jogja, salah satu tempat yg menarik untuk wisata di Medan juga banyak dan peningalan gedung sejarah dan religi.” Menurut kelen apa yang harus diubah dari kota Medan? “Banyakk. Salah satu nya sikap dan mental orang Medan yang belum di modrenisasi, seperti halnya masih banyak opung opung dan orang tua yang gaptek (gagap teknologi). Kurangnya pemahan dan ketidak pedulian orang orang Medan sangat besar. Walaupun ramah namun terlihat seram kalau berbicara dengan suara kerasnya. Namun btw kalau yg di ubah dalam kotanya yg paling harus di ubah ya tata penataan kotanya. Yang sembrawut dan ugal ugalan dalam berkendara pungli ormas yang buat onar parkir yang ilegal karena mental tadi. Belum lagi infrastruktur kota yang hancur hancuran gajelas dan menyedihkan itu harus di ubah penataan dan orang-orang -nya. Belum lagi Medan ibukota dari SUMUT sempat masuk daftar provinsi yang terkorup di bumi pertiwi. Dan sebenernya banyak kehancuran yg harus di ubah. Untuk menambah keasyikan dan yang lebih kekinian di Medan.” Nah, cara kelen untuk merubahnya kek mana? “Cara yang baik ya dari orang tua guru dan wali yang benar benar bisa mendidik anak dengan mental dan jiwa disiplin dan jujur saja mungkin kota Medan bisa lebih baik.” Menurut kelen apa yang menarik dari kota Medan? “Kemana aja angkot ada, banyak wisata kuliner, kota yg sudah terbilang maju dalam bidang pembangunan.” Menurut kelen apa yang harus diubah dari kota Medan? “yang pengen diubah apa yaa... macet, orang-orang yang gak sabaran dijalan & tdk taat rambu lalu lintas, panas wkwk” Emma D H G Sinamo (Mahasiswi ISI YOGYAKARTA)

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017

21


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

Nah, cara kelen untuk merubahnya kek mana? “Bagaimana merubah Medan menjadi yg lebih baik lagi, memperbaiki segala fasilitas umum yang kurang baik, membuat Medan lebih hijau, memperhatikan bidang seni (mengorek potensi seni Medan, membuat sebuah area atau tempat yang khusus untuk orang-orang/organisasi/dll menampilkan karya seninya)”

Fauzi R.I. Karo-Karo (Mahasiswi Universitas Mercu Buana Yogyakarta)

Menurut kelen apa yang menarik dari kota Medan? “Yang menarik dari Medan itu sebenarnya banyak, hampir dari semua aspek lah menarik-menarik di Medan, mulai dari kuliner sampai ke orang-orang Medannya pun menarik kali ku liat. Belum lagi kalo kelen suka musik punk Medan punya tempat hangoutnya buat anak pencinta musik punk. Oh, iya sama nasi Padangnya, emang sih namanya nasi Padang tapi kalo nasi Padang di Medan itu harganya murah sama kaya harga burjo dijogjalah haha.” Menurut kelen apa yang harus diubah dari kota Medan? “Aduh, payah bilanglah kalo soal ini, banyak kali yang perlu diubah dikota Medan tercinta ku ini. Cuma yang menjadi paling fokusku di Medan ini cuma dua, sampah sama lalu lintas. aduh di Medan ini cantik-cantik naik mobil mahal pun masih sanggup dia lembar sampah ke jalanan, terus soal lalu lintas kalo kelen ke Medan jangan kaget liat lampu merah itu warnanya gak ada artinya, jadi sabar-sabarlah kelen ya. Terus di Medan itu jalan yang tadinya untuk 2 arah bisa jadi 4 arah, ajaib kan? pengen liat kelen, main lah ke Medan siapa tau kita jodohkan.” Nah, cara kelen untuk merubahnya kek mana? “Sebenarnya gak cemana-cemana, tau sendirilah kelen kan Medan itu cemana, keras-keras dikit yang ada awak yang di bante nanti. Semua balik kepribadi masing-masing, tapi sekiranya yang muda-muda kaya kita ini perlu buat kampanye-kampanye kecil ya tentang sampah atau lalu lintas aja lah, pake sosial media gitu biar ada efek kalo ada yang buang sampah sembarangan atau melanggar lalu lintas, biar pada malu orang tu yang suka melanggar-langgar gitu.”

22

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017

23


LINGKAR UTARA

RUANG KABAR UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA

24

EDISI KE 07 (NUSANTARA), FEBRUARI 2017

Lingkar Utara Edisi VII [Jumat, 24 Februari 2017]  

Edisi Nusantara #2

Lingkar Utara Edisi VII [Jumat, 24 Februari 2017]  

Edisi Nusantara #2

Advertisement