Page 27

Di Borneo terdapat banyak hutan lebat, gunung yang terjal, dan sungai yang sangat besar; pulau itu dihuni oleh orang Cina, orang Melayu Muslim, dan orang Dayak—penduduk asli yang sebagian besar memadati daerah sungai, dan yang dahulu terkenal garang sebagai pemburu kepala manusia. Untuk menjangkau komunitas Dayak di pedalaman, kami biasanya naik perahu atau kano, menelusuri sungai-sungai yang belum tercemar menembus hutan rimba. Buaya-buaya besar berjemur di bantaran sungai, monyet-monyet menatap kami dari pohon, dan burung-burung memamerkan bulu mereka yang beraneka warna. Ya, dinas utusan injil sungguh penuh petualangan! Kebanyakan keluarga Dayak tinggal di rumah panggung yang terbuat dari bahan-bahan di hutan. Ada pondok-pondok kecil; ada juga rumahrumah panjang yang menampung beberapa keluarga. Banyak orang belum pernah melihat orang bule, maka Josef menjadi terkenal. Anakanak berlarian di desa sambil berseru, ”Pastor! Pastor!” Semua orang berdatangan untuk mendengar apa yang akan dikatakan rohaniwan berkulit putih itu. Josef berbicara melalui penerjemah Saksi setempat, yang kemudian mengatur untuk memandu pelajaran Alkitab dengan banyak peminat. Berangkat ke Papua Nugini

Karena tekanan para penentang dari kalangan agama kian memuncak, pemerintah Indonesia melarang kegiatan Saksi-Saksi Yehuwa pada Desember 1976. Maka, saya dan Josef ditugasi ke Papua Nugini. Setibanya di ibu kota, Port Moresby, kami menyelesaikan kursus dua bulan untuk mempelajari bahasa Hiri Motu, bahasa niaga setempat. Lalu, kami pindah ke Daru, pulau kecil di provinsi bagian barat yang terpencil. Di sana saya berjumpa dengan Eunice, seorang wanita yang besar, kuat, menyenangkan, dan giginya hitam kemerahan karena kebiasaan mengunyah buah pinang selama bertahun-tahun. Ketika Eunice belajar bahwa Allah ingin agar hamba-hamba-Nya bersih secara fisik, moral, serta rohani, ia meninggalkan kebiasaannya yang mencandu, lalu menjadi orang Kristen yang setia. (2 Korintus 7:1) Setiap kali kami melihat orang rendah hati seperti itu yang menerapkan kebenaran Alkitab, kami semakin meng-

hargai kata-kata di Mazmur 34:8, ”Kecaplah dan lihatlah bahwa Yehuwa itu baik.” Kemudian, Josef meneruskan pelayanan sebagai pengawas keliling, dan kami mengunjungi hampir semua bagian dari Papua Nugini, suatu bangsa dengan 820 bahasa. Supaya kami dapat berbicara kepada lebih banyak orang, kami menambahkan satu bahasa lagi ke perbendaharaan kami—Tok Pisin, bahasa setempat yang umum digunakan. Untuk mencapai berbagai kota kecil dan desa, kami berjalan kaki, naik mobil, perahu, kano, dan kapal terbang kecil di bawah udara panas yang menyengat, diganggu nyamuk serta serangan malaria yang rutin. Kemudian, pada 1985, kami menerima tugas utusan injil lain lagi—ke Kepulauan Solomon, sebelah timur Papua Nugini. Di sana kami bekerja di kantor cabang Saksi-Saksi Yehuwa setempat dan mengadakan perjalanan di seluruh kepulauan itu untuk menganjurkan sidang-sidang dan menghadiri Kebaktian Kristen. Sekali lagi, kami harus mempelajari bahasa yang baru—kali ini, Pijin Kepulauan Solomon. Tetapi, sungguh senang dapat bercakap-cakap dengan penduduk Kepulauan Solomon yang mengasihi Alkitab! Perjalanan Hidup Saya yang Paling Sulit

Tahun 2001, pelarangan atas Saksi-Saksi Yehuwa di Indonesia dicabut; saya dan Josef kembali ke Jakarta. Namun, tak lama setelah itu, suami saya tercinta didiagnosis mengidap melanoma ganas, jenis kanker kulit yang agresif. Kami berangkat ke negeri asal Josef, Jerman, untuk pengobatan. Namun sungguh menyedihkan, pada tahun 2005, tepat pada ulang tahun perkawinan kami yang ke-33, Josef tidur dalam kematian, menantikan kebangkitan untuk hidup di Firdaus dalam dunia baru. (Yohanes 11:11-14) Ia berusia 62 tahun dan selama 40 tahun melayani dalam dinas sepenuh waktu. Saya tetap tinggal di Jakarta, dan terus melayani sebagai utusan injil. Saya sangat kehilangan suami saya. Tetapi dengan mengajar orang lain tentang kebenaran yang berharga dari Firman Allah, saya lebih kuat mengatasi perasaan itu, karena pelayanan memberi saya kepuasan yang dalam dan makna dalam kehidupan. Ya, dengan penuh keyakinan saya dapat mengatakan bahwa Yehuwa telah memberi saya kehidupan yang penuh warna dan sangat memuaskan. Sedarlah! Februari 2011

27

SEDARLAH  
SEDARLAH  

JURNAL INI DITERBITKAN untuk memberikan penyuluhan kepada seluruh keluarga. Majalah ini memperlihatkan cara menanggulangi problem-problem de...

Advertisement