Page 1

Rasionalitas Perilaku Konsumen dalam Perspektif Ekonomi Islam Lia Istifhama1 Prolog: rationality is the characteristic of any action, belief, or desire, that makes their choice optimal under a set of constraints.[1] It is a normative concept of reasoning in the sense that rational people should derive conclusions in a consistent way given the information at disposal. It refers to the conformity of one's beliefs with one's reasons to believe, or with one's actions with one's reasons for action. However, the term "rationality" tends to be used differently in different disciplines, including specialized discussions of economics, sociology, psychology, evolutionary biology and political science. A rational decision is one that is not just reasoned, but is also optimal for achieving a goal or solving a problem. Keyword: rasionalitas, perilaku konsumen, pengambilan keputusan.

RASIONALITAS DALAM PERILAKU KONSUMEN Perilaku konsumen merupakan respon psikologis yang kompleks yang muncul dalam bentuk perilaku-tindakan yang khas secara perseorangan yang langsung terlibat dalam usaha memperoleh, menggunakan produk, dan menentukan proses pengambilan keputusan dalam melakukan pembelian produk.2 Dalam berperilaku, decision making yang dibuat konsumen tentunya berdasarkan pertimbangan rasionalitas. Rasionalitas merupakan konsep normatif yang mengacu pada kesesuaian keyakinan seseorang dengan alasan seseorang untuk percaya, atau tindakan seseorang dengan alasan seseorang untuk bertindak. menjelaskan bahwa dalam literatur teori ekonomi modern, seorang pelaku ekonomi diasumsikan rasional berdasarkan hal-hal berikut3: 1) Setiap orang tahu apa yang mereka mau dan inginkan, serta mampu mengambil keputusan atas suatu hal, dari sesuatu yang paling diinginkan(most prefered) sampai dengan paling kurang diinginkan(less prefered). Setiap individu akan mampu bertindak dan mengembalikan keputusan secara konsisten. 2) Keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan tradisi, nilai-nilai, dan mempunyai alasan dan argumentasi yang jelas dan lugas. Hal ini menunjukakan bahwa metodologi rasionalitas ketika hal ini diambil berdasarkan cara berfikir dari setiap pelaku ekonomi itu sendiri. Syed umar syed agil

1 2 3

Dosen tetap STAI Taruna Surabaya. Ali Hasan, Marketing Bank Syariah (Bogor: PT. Ghalia Indonesia, 2010), 50.

Syed umar syed agil, rationality in economic theory: A critical Apraisal, dalam Sayid Tahir,et, al, ed., reading in microeconomics: An islamic perspektive, (selangor: logman malaisia, 1992), hlm. 32


3) Setiap keputusan yang diambil oleh individu ini harus menuju pada pengkuantifikasian keputusan akhir dalam satuan unit moneter. Pengkuativikasian ini akan membawa, pada perhitungan dan bertendensi untuk memaksimalkan tujuan dari setiap aktivitas, dimana sesuatu hal yang lebih baik lebih disukai dari pada yang kurang baik. 4) Dalam model produksi dari kapitalisme, rasionalitas berarti kepuasan yang dapat dicapai dengan prinsip efisiensi dan tujuan dari ekonomi itu sendiri. Disana tidak ada ruang bagi sentimen pribadi atau nilai tradisional yang tidak dapat dikuantitatifkan dalam unit moneter. 5) Perilaku seorang individu yang rasional dalam mencapai kepuasan berdasarkan kepentingan sendiri bersifat materiil(materiil self interest) akan menuntut pada pembuatan barang-barang sosial yang berguna bagi kemaslahatan umat. 6) Pilihan seseorang dapat dikatakan rasional jika pilihan ini secara keselurahan bisa dijelaskan oleh syarat-syarat hubungan konsisten pilihan yang lebih disukai dengan definisi penampakan pilihan yang lebih disukai. Yaitu, jika seluruh pilihan ini bisa dijelaskan ketika memilih yang alternatif yang lebih disukai dengan berdasarkan hubungan postulat pilihan yang lebih disukai. Secara ringkas, rasionalitas dalam banyak ekonomi literaturn berarti kepentinagan sendiri (selfinterest) dan pada saat yang bersamaan konsisten pada pilihan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, di mana bisa dikuantifikasikan menuju maksimalisasibeberapa ide kesejahteraan umum. Sedangkan menurut Reid Hastie, suatu keputusan yang dibuat pelaku ekonomia tentunya “rasional�. Dalam hal ini, ekonomi mengadopsi pandangan lebih luas dan menilai rasionalitas tidak hanya dalam istilah “best interests� (kepentingan/ keperluan terbaik) seseorang yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan, namun suatu best interest yang didefinisikan sebagai kepentingan bersama. Keputusan yang baik atas beragam pilihan ialah dipilih sesuai tujuan yang ingin dicapai oleh pengambil keputusan yang sekaligus pemilik tujuan (personal).4 Oleh sebab itu, rasionalitas disebut juga quality of choice, suatu kualitas atas pilihan yang ada. Terkait dengan pilihan, suatu pilihan yang dikatakan rasional dapat didefinisikan atas 4 kriteria: 1. Berdasarkan apa yang dimiliki oleh pembuat keputusan saat ini. Kepemilikan tidak hanya termasuk uang, tapi juga psikologi, hubungan sosial, dan perasaan. 2. Berdasarkan resiko yang mungkin terjadi atas pilihan.

4

Reid Hastie and Robyn M. Dawes, Rational, Choice, in an Uncertain World (London: Sage Publications, 2001), 17.


3. Ketika resiko tidak pasti terjadi, maka dapat dievaluasi teori probabilitas atau kemungkinan-kemungkinan yang ada. 4. Pilihan bersifat adaptif, dimana dibatasi dengan kemungkinan resiko yang buruk dan kemungkinan nilai-nilai kepuasan. Keempat kriteria rasionalitas tersebut memiliki dasar filosofi. Jika ada yang dilanggar, maka pembuat keputusan dapat mencapai kesimpulan yang kontradiktif (bertentangan) dengan apa yang dipilih. Namun kerasionalan dapat tidak sesuai dengan realita yang diharapkan. 5 Rasional konsumsi Rasionalitas adalah hal yang penting dalam kehidupan ekonomi manusia, termasuk pola konsumsi. Dagun6 menyatakan �Konsep rasional dalam manusia ekonomi adalah kegiatan ekonomi sebagai kegiatan masuk akal, rasionalitas sebagai masuk akal dalam kegiatan ekonomi adalah menjadikan istilah-istilah ekonomi masuk akal�. Lebih lanjut Dagun7 mengemukakan bahwa rasionalitas ekonomi berkaitan dengan preferensi atau pilihan-pilihan. Sedangkan Adam Smith 8 menyatakan �Masyarakat yang kapitalistik dan rasional umumnya baru membeli dan mengkonsumsi sesuatu ketika mereka membutuhkan, dan itu pun dengan dasar pertimbangan yang serba rasional; mengalkulasi untung rugi dan dibayangkan masyarakat senantiasa mencari komoditas dengan harga yang terendah karena disitulah sifat rasional masyarakat bekerja�. Begitupun dalam proses perilaku konsumen, seorang konsumen tentunya mengetahui tingkat intensitas dari kebutuhan dan keinginanannya serta ragam barang atau jasa pemuas kebutuhan, maka ia harus dapat mencari informasi terhadap barang atau jasa yang tersedia. Proses pencarian informasi ini guna untuk melihat berbagai alternatif barang atau jasa yang dapat memberikan kepuasan optimal sebelum mengambil keputusan pembelian. Engel dkk9 menyatakan �Konsumen mencari informasi yang disimpan di dalam ingatan (pencarian internal) atau mendapatkan informasi yang relevan dengan keputusan dari lingkungan (informasi eksternal). Prinsip ekonomi adalah pedoman melakukan tindakan ekonomi dimana di dalamnya terkandung asas dengan pengorbanan tertentu diperoleh hasil yang maksimal atau dengan pengorbanan sekecil-kecilnya diperoleh hasil tertentu. Dalam kegiatan konsumsi, penerapan prinsip ekonomi didorong oleh keinginan mendapatkan kepuasan maksimum atas barang dan jasa yang dimanfaatkan. Tindakan konsumsi yang rasional adalah tindakan konsumsi yang pengeluaran disesuaikan dengan anggaran yang telah ditetapkan dari jumlah pendapatan atau penghasilan yang ada. c. Motif yang melatar belakangi perilaku konsumsi 1) Motif berkonsumsi Keinginan yang mendorong seseorang melakukan tindakan ekonomi disebut motif ekonomi. Motif ekonomi adalah segala sesuatu yang mendorong manusia melakukan tindakan ekonomi. Dalam perilaku konsumsi rasional motif akan timbul untuk melakukan tindakan ekonomi yang timbul atas kemauan sendiri. 2) Pengaruh lingkungan sosial ekonomi pada perilaku konsumsi Lingkungan sosial yang mempengaruhi perilaku konsumsi merupakan motif ekstrinsik, yaitu sebagai suatu keinginan untuk melakukan tidakan ekonomi atas dorongan orang lain. 5 6

Ibid., 18.

Dagun, Save M. (1992). Pengantar Filsafat Ekonomi. Jakarta: Rineka Cipta, 2. Dagun, Save M. (1992). Pengantar Filsafat Ekonomi. Jakarta: Rineka Cipta, 2. 8 dalam Suyatno, 2013: 109 9 Engel, James F. dkk. Perilaku Konsumen. (Edisi keenam Jilid 1). (Penerjemah: F.X Budiyanto). Jakarta: Binapura Aksara, 30. 7


Ekonomi Konvensional menjelaskan bahwa ada beberapa kebiasaan dalam prosedur pengambilan keputusan yang tidak berhubungan langsung dengan rasionalitas, yaitu: a. Kebiasaan atau pilihan yang pernah dipilih sebelumnya b. Kenyamanan, atau pilihan yang dapat membanggakan diri. c. Prinsip keagamaan dan budaya.10 Namun Islam memandang berbeda, dimana prinsip keagamaan memiliki urgensi untuk dilibatkan dalam proses decision making. RASIONALITAS DALAM EKONOMI ISLAM Pemikiran ekonomi Islam memandang rasionalitas bermakna bahwa konsumen merupakan sosok cerdas, sehingga memiliki beberapa sikap, seperti: sikap netral, menentukan sesuatu dengan dasar alasan yang dapat diterima secara logika atau dapat dijelaskan dan bertujuan.11 Lebih lanjut, Syed Omar Syed Agil mengklasifikasikan pengeluaran dalam perilaku ekonomi sesuai pandangan rasionalitas Islam: a. Pengeluaran untuk meraih kesuksesan dalam hidup, yang meliputi: konsumsi dan tabungan/ investasi, b. Pengeluaran sebagai bekal di akhirat.12 Adapun Kurshid Ahmad menjelaskan bahwa ada tiga hal dalam teori konsumen yang terkait dengan motif rasional, yaitu: a) Seorang konsumen dapat membuat peringkat, sesuai

10

Ibid. 18. Syed Omar Syed Agil, Economics Rationality, dalam Sayyid Tahir (ed.), dkk. Readings in Microeconomics: an Islamic Perspective. Chapter Fourteen, Ibn Taimiyyah’s Concept of Market Mechanism, ’Abdul ’Azim Islahi (Malaysia: Longman Malaysia, 1992), 31. 12 Ibid., 42. 11


dengan pilihannya, komoditas mana yang harus ia pilih; b) Pilihan seorang konsumen adalah konsisten dengan selera atau rasa yang paling memenuhi kelengkapan yang diinginkan; dan c) Hubungan antara harga barang dan penghasilan menyediakan pilihan yang meyakinkan yang membuat ia menentukan pilihan13. Konsumen tentunya berperilaku untuk mencapai tujuannya, yang dalam islam, dikenal dengan istilah fala>h{. Nejatullah Siddiqi menjelaskan dominasi atas perilaku konsumen mencapai fala>h{ menurut Islam: a. Keimanan kepada hari akhir dan hari penghitungan amal b. Konsep berhasil dalam Islam. Berhasil atau sukses dalam arti tersebut ditujukan kepada Allah SWT, bukan semata mencari kemakuran. c. Konsep kekayaan. Harta dalam islam diyakini sebagai pemberian dari Allah SWT. Harta dapat menjadi jalan ibadah, juga justru dapat menjadi jalan bermunkar sesuai perbuatan manusia. Oleh sebab itu, manusia yang memiliki kekayaan lebih harus menyadari bahwa itu hanya titipan dan harus memenuhi kewajibannya atas orang miskin (seperti zakat).14 Ketiga hal tersebut menunjukkan bahwa Nejatullah Siddiqi merumuskan salah satu tujuan rasionalitas konsumen, yaitu bertujuan normatif. Dalam hal ini, rasionalitas dalam berperilaku ekonomi memiliki dimensi transendental, yaitu bertujuan menjalankan kewajiban kepada Allah SWT ataupn tujuan akhirat. Hal ini yang kemudian menjadi pembeda utama antara rasionalitas barat dan islam, dimana islam mengedepankan social interest, yang didalamnya termasuk distribusi pendapatan.

13

Ausaf Ahmad and Kazim Raza Awan (ed.), Lectures on Islamic Economics (Jeddah: Islamic Research and Training Institute IDB, 1987), 170. 14 Khurshid Ahmad, (ed.), Studies in Islamic Economics (Jeddah: King Abdul Aziz University, 1980), 24.


Dalam hal ini, Ekonomi Barat berasumsi bahwa perilaku individu adalah rasional. Perilaku rasional secara otomatis akan menjadi perilaku yang disadari atas tujuan tertentu, baik ekonomi atau non ekonomi. Sebagai contoh, pemikiran pengikut Darwin menjelaskan bahwa rasionalitas disamakan dengan pelayanan atas kepentingan pribadi (self interest). They interpret the drive of self interest in man as the moral equivalent of the force of gravity in nature. Kemudian, mereka menginterpretasikan kepentingan pribadi manusia sebagai moral yang sepadan dengan kekuatan untuk menghadapi gravitasi pada kehidupan alam semesta.15 Selain itu, Edgeworth pun mengekpresikan pemikirannya dalam pernyataan: the first principle of economics is that every agent is activated only by self interest (prinsip utama ahli ekonomi bahwa setiap pelaku ekonomi berperilaku berdasarkan kepentingan pribadi).16 Terkait dengan kerangka ini, masyarakat mengkonseptualisasikan kumpulan individu semata melalui pertalian self interest atau kepentingan pribadi tersebut. Hal ini, namun, memungkinkan penyajian kepentingan pribadi dalam cara yang berbeda, seperti halnya dalam hal ilmu ekonomi ataupun non ekonomi. Tapi, ini menjaga dengan orientasi materialistik, maka rasionalitas pun disamakan dengan hal yang berkaitan dengan ekonomi dan uang (pecuniary). Hal ini menunjukkan bahwa ilmu ekonomi barat membangun konsep bahwa pelaku ekonomi adalah one and only one social responsibility is to increase his profit (individu yang bertanggungjawab meningkatkan keuntungannya).17 Otomatis, ilmu memperhatikan perilaku ekonomi rasional manusia (behaviour of rational economic man) hanya dimotivasi atau didorong melalui kepentingan pribadi melalui pemaksimalan kesejahteraan dan konsumsinya dalam

15

Milton L. Myers, The Soul of Modern Economic Man: Ideas of Self Interest, Thomas Hobbes to Adam Smith (Chicago: University of Chicago Press, 1983), 4. 16 F.Y. Edgeworth, Mathematical Psychics: An Essay on the Application of Mathematics to the Moral Science (London: Kegan Paul, 1881), 16. 17 Milton Friedman, Capitalism and Freedom (Chicago: The University of Chicago Press, 1972), 133.


berbagai cara yang ia bisa. Semua keinginan manusia menyatu bersama-sama, seperti cooperation (kerjasama), compassion (perasaan kasihan/ terharu dengan orang lain), brotherhood (persaudaraan), dan altruism (mementingkan kepentingan orang lain), dimana manusia berjuang untuk kesejahteraan yang lain meskipun akan menyakiti atau merusak kepentingan pribadinya, akan ditolak (oleh konvensional).18 Kembali dalam pilihan rasional menurut ekonomi Islam, dijelaskan oleh Ausaf Ahmad bahwa ada dua aspek pilihan dalam perspektif Islam: pertama, menyimpan sesuatu sebagai konsumsi masa depan adalah hal yang sangat diizinkan. Apa yang dipersiapkan untuk masa depan, bukan semata harta, karena setelah orang meninggal, harta bukan berarti apa-apa. Kedua, harapan akan tingkat pengembalian tabungan (dengan bagi hasil atau balasan) merupakan motivasi menabung yang lebih efektif dalam Islam daripada tingkat bunga. Seperti halnya zakat yang mendapat balasan tersendiri dari Allah.19 Ia juga menjelaskan beberapa pilihan konsumen untuk mengalokasi kebutuhan sesuai sumber daya (Consumer Choice for Allocation of Resources) a. Pilihan utama: wordly needs (kebutuhan utama yang tidak ada alasan untuk tidak dipenuhi), cause of Allah (ibadah). b. Pilihan kedua: present consumption (kebutuhan masa sekarang), future consumption (kebutuhan masa datang) c. Pilihan ketiga: essentials (kebutuhan penting), amelioratories (kebutuhan untuk perbaikan/ kenyamanan)

18

M. Umer Chapra, The Future of Economics: An Islamic Perspective (Leicester: The Islamic Foundation, 2000), 22. 19 Ahmad, Islamic Economics, 172-172.


d. Pilihan keempat: pilihan diantara substitusi atau beragam alternatif.20 Pilihan-pilihan konsumen yang ditentukan oleh Ausaf Ahmad tersebut tentunya merupakan pilihan yang wajar sesuai tujuan/ maslah{ah yang diinginkan (present aim rationality). Maslah{ah Maslah{ah ialah yang mengandung kebaikan bagi pribadi maupun orang lain. Islam memandang wajar ketika seseorang mencapai maslah{ah dalam dua hal: maslah{ah yang selalu lebih besar atau disukai, dan maslah{ah yang diupayakan terus meningkat sepanjang waktu atau yang disebut konsep quasi concavity yang menunjukkan pola non-decreasing. Hal ini tentunya ntuk mencapai falah{ yang lebih baik (h{ayat t{ayyibah). ِ‫ﻓﺈذا ﺗﺰاﺣﻢ ﻋﺪد اﻟﻤﺼﺎﻟﺢِ ﯾُﻘﺪَّم اﻷﻋﻠﻰ ﻣﻦ اﻟﻤﺼﺎﻟﺢ‬ “Apabila beberapa maslahat berbenturan, dahulukan yang paling besar maslahatnya” Kaidah ini disebut ” ‫( ” ﺗﺰاﺣﻢ اﻟﻤﺼﺎﻟﺢ‬berbenturan beberapa maslahat). Jika seorang tidak bisa memilih salah satu dari 2 maslahat kecuali dengan mengalahkan/mengorbankan salah satu dari maslahat itu, maka apa yang harus dilakukan? Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menyebutkan: harus mengutamakan maslahat yang lebih besar walaupun harus meningalkan maslahat yang lebih kecil. Kaidah ini bersumber dari ayat al-Qur’an dan hadist Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, diantaranya: 1.

Firman Allah Ta’ala dalam Az-Zumar: 55: ْ‫“ وَاﺗَّﺒِﻌُﻮا أَﺣْﺴَﻦَ ﻣَﺎ أُﻧْﺰِلَ إِﻟَﯿْﻜُﻢْ ﻣِﻦْ رَﺑِّﻜُﻢ‬Dan

ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” (maksudnya AlQur’an)

20

Ibid., 178.


2.

Firman Allah Ta’ala dalam Az-Zumar: 17-18:

َ‫ﻓَﺒَﺸِّﺮْ ﻋِﺒَﺎدِ اﻟَّﺬِﯾﻦَ ﯾَﺴْﺘَﻤِﻌُﻮنَ اﻟْﻘَﻮْلَ ﻓَﯿَﺘَّﺒِﻌُﻮن‬

ُ‫” أَﺣْﺴَﻨَﮫ‬sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaran mereka” Maka “yang paling baik” itu dikembalikan kepada ucapan ini: “jika bertabrakan antara manfaat yang didalamnya untuk mendapatkan hukum dari hukum-hukun syariat maka kami mengikuti yang paling baik”. Jika manusia mau memperhatikan hukum-hukum syariat maka akan mendapati maslahat yang banyak jenisnya: ada maslahat yang sudah ditentukan dan merupakan kewajiban seperti sholat wajib; kadang mendapati maslahat yang disukai dan disunnahkan, seperti sholat-sholat sunnah; kadang maslahat yang di syariatkan kepada masyarakat walaupun tidak semuanya harus mengerjakan, seperti sholat jenazah, memandikan mayit; dan kadang juga ada maslahat yang harus dikerjakan oleh semua anggota masyarakat. Dan diantara maslahat-maslahat ini, ada maslahat yang mu’tabar (diakui & dikenal) dalam syariat dan telah di tentukan hukumnya. Ulama membagi maslahat ini menjadi 3 bagian: Pertama: ‫( ﻣﺼﺎﻟﺢ ﻣﻌﺘﺒﺮة‬maslahat yang sudah terkenal), yaitu yang kemaslahatannya telah diakui oleh syariat, baik dengan dalil Al-Qur’an, sunnah, ataupun ijma & qiyas (seperti contohcontoh diatas). Kedua: ‫( ﻣﺼﺎﻟﺢ ﻣﻠﻐﺎة‬maslahat yang gugur), yaitu yang bertabrakan dengan dalil. Seperti orang yang melangar sumpahnya sedang dia tidak bisa menebus kafarahya kecuali dengan puasa karena tidak mampu memberi makan fakir-miskin atau memberikan penghidupan & pakaian. Maka jika dikatakan kepada orang ini: “wajib bagi kamu puasa 3 hari karena tidak bisa menjaga sumpahnya”. Akan tetapi maslahat ini digugurkan oleh syariat, karena dalam syariat kafarah bagi yang melangar sumpah adalah harus memberi makan fakir-miskin, atau memberikan pakaian,


atau membebaskan budak, namun jika tidak didapati dan tidak mampu maka sebagai gantinya adalah puasa. Ketiga: ‫ﻣﺼﺎﻟﺢ ﻣﺮﺳﻠﺔ‬, (maslahat yang tidak terdapat dalilnya), yaitu yang tidak didapati dalil pengugurannya atau penetapannya, dan telah berselisih sebagian ulama dalam menjadikan dalil maslahat ini. Ada sebagian yang menjadikannya dalil dan ada sebagian yang menolaknya. Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah dan ibnu Qayyim al-Jauziyah (semoga Allah merahmati mereka berdua) berpendapat: bahwasanya tidak mungkin ada maslahat mursalah, karena semua maslahat itu sudah pasti mu’tabar (dikenal dan ditetapkan syariat), jika ada sebagian yang menganggap itu maslahat mursalah maka tidak lepas dari dua hal: 1.

Mungkin hal itu mafsadah (mudharat/membahayakan) dan bukan maslahat

(manfaat atau faedah) 2.

Sudah ada dalil penetapannya oleh syariat, namun tersembunyi (samar) bagi

sebagian faqih (orang yang mengerti fiqh), dan pendapat ini sangat kuat karena menetapkan bahwasanya syariat islam sudah paripurna dan sempurna. Jika kita memperhatikan dalil-dalil syar’iyyah maka akan kita dapati bahwasanya syariat ini mencakup keumuman maslahat bagi manusia, dan seseorang itu tidak membutuhkan qiyas kecuali hanya pada hal-hal yang amat sedikit sekali yang mungkin kurang adanya dalil-dalil dalam hal-hal atau keadaan tersebut. Contoh-contoh Penerapan Kaidah Berikut ini beberapa contoh penerapan kaidah ke-3: 1.

Mencari ilmu syar’iyyah lebih utama dari pada sholat sunnah, karena mencari

ilmu selain bermanfaat bagi dirinya juga bermanfaat bagi orang lain, berbeda dengan sholat sunnah manfaatnya untuk diri sendiri.


2.

Jika seseorang masuk masjid sedangkan sholat fardhu sudah ditegakkan, maka

mendahulukan sholat fardhu tersebut dari pada sholat tahiyatul masjid, atau sunnah yang lainya meskipun sifatnya sunnah mu’akkadah (seperti 2 rakaat sebelum subuh dan dan semisalnya), karena mengerjakan hal yang wajib lebih diutamakan daripada yang sunnah. 3.

Seseorang memiliki hutang puasa Ramadhan 3 hari dan dia juga memiliki hutang

puasa nadhar, sedangkan waktunya sudah mendekati bulan Ramadhan. Keduanya sama-sama wajib, manakah yang diutamakan? Melihat keutamaan yang yang agung dan besar maka lebih diutamakan untuk mengerjakan puasa Ramadhan. MENDAHULUKAN MASHLAHAT TERTINGGI DAN MENGUTAMAKAN KEBURUKAN TERKECIL

ِ‫ وَﻣَﻨْﻊِ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣَﻔْﺴَﺪَﺗُﮫُ أَرْﺟَﺢَ ﻣِﻦْ ﻣَﺼْﻠَﺤِﺘِﮫ‬،ِ‫ﻓِﻲ اﻟْﻘُﺮْآنِ ﻋِﺪﱠةُ آﯾَﺎتٍ ﻓِﻲ اﻟْﺤَﺚِّ ﻋَﻠَﻰ أَﻋْﻠَﻰ اﻟْﻤَﺼْﻠَﺤَﺘَﯿْﻦِ وَﺗَﻘْﺪِﯾْﻢِ أَھْﻮَنِ ا ْﻟﻤَﻔْﺴَﺪَﺗَﯿْﻦ‬ Dalam beberapa ayat al-Qur'an ada anjuran agar (kaum Muslimin) mendahulukan mashlahat yang lebih besar atau mendahulukan mafsadah yang lebih kecil serta ada larangan dari (melakukan) sesuatu yang mafsadah (keburukan)nya lebih dominan dari pada mashlahatnya Diantara pokok agama yang wajib diketahui oleh kaum Muslimin yaitu agama ini diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk merealisasikan dan memperbanyak kemaslahatan (kebaikan) serta untuk melenyapkannya atau meminimalisir keburukan. Oleh karena itu Islam memerintahkan bahkan mewajibkan kaum Muslimin untuk melakukan berbagai perbuatan baik, seperti shalat, puasa, zakat, menyambung silaturahmi dan lain sebagainya. Islam juga melarang bahkan mengharamkan semua keburukan. Adalah kewajiban bagi kaum Muslimin untuk mentaati syari'at Allâh Azza wa Jalla dengan melakukan semua kebaikan yang diperintahkan dan menjauhi semua keburukan yang dilarang. Namun terkadang dalam kondisi tertentu, seseorang

tidak bisa melakukan semua kebaikan yang diketahuinya dan tidak bisa menghindari semua keburukan yang dilarang syari'at. Artinya dia harus memilih. Lalu mana yang harus dipilih ? Inilah yang maksud perkataan penyusun kitab al-Qawa'idul Hisan al-Muta'alliqah bi tafsiril Qur'an di atas. Dari perkataan di atas kita simpulkan tiga point penting :


1. Apabila ada dua kebaikan atau lebih berbenturan, maksudnya, kebaikan-kebaikan itu tidak mungkin kita lakukan semuanya, karena suatu sebab, maka kita harus memilih. Mana yang harus dilakukan ? Yang harus kita pilih adalah yang terbaik dari berbagai kebaikan yang berbenturan itu. Ini menunjukkan bahwa nilai amal-amal shalih yang diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla itu tidak sama, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla : َ‫ﻟَﺎ ﯾَﺴْﺘَﻮِي ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻣَﻦْ أَﻧْﻔَﻖَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞِ اﻟْﻔَﺘْﺢِ وَﻗَﺎﺗَﻞ‬ Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah).[al-Hadîd/57:10] Dan firman-Nya : ِ‫ﺤﺮَامِ ﻛَﻤَﻦْ آﻣَﻦَ ﺑِﺎﻟﻠﱠﮫِ وَاﻟْﯿَﻮْمِ اﻟْﺂﺧِﺮِ وَﺟَﺎھَﺪَ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﯿﻞِ اﻟﻠﱠﮫ‬ َ ْ‫أَﺟَﻌَﻠْﺘُﻢْ ﺳِﻘَﺎﯾَﺔَ اﻟْﺤَﺎجﱢ وَﻋِﻤَﺎرَةَ اﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ اﻟ‬ Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram kamu anggap sama dengan orang-orang yang beriman kepada Allâh dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allâh ? [at-Taubah/9:19] Dan juga firman-Nya : ْ‫ن ﻓِﻲ ﺳَﺒِﯿﻞِ اﻟﻠﱠﮫِ ﺑِﺄَﻣْﻮَاﻟِﮭِﻢْ وَأَﻧْﻔُﺴِﮭِﻢْ ۚ ﻓَﻀﱠﻞَ اﻟﻠﱠﮫُ اﻟْﻤُﺠَﺎھِﺪِﯾﻦَ ﺑِﺄَﻣْﻮَاﻟِﮭِﻢ‬ َ ‫ﻟَﺎ ﯾَﺴْﺘَﻮِي اﻟْﻘَﺎﻋِﺪُونَ ﻣِﻦَ اﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﯿﻦَ ﻏَﯿْﺮُ أُوﻟِﻲ اﻟﻀﱠﺮَرِ وَاﻟْﻤُﺠَﺎھِﺪُو‬ ‫ﺎ وَﻋَﺪَ اﻟﻠﱠﮫُ اﻟْﺤُﺴْﻨَﻰٰ ۚ وَﻓَﻀﱠﻞَ اﻟﻠﱠﮫُ اﻟْﻤُﺠَﺎھِﺪِﯾﻦَ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﻘَﺎﻋِﺪِﯾﻦَ أَﺟْﺮًا ﻋَﻈِﯿﻤًﺎ‬‫وَأَﻧْﻔُﺴِﮭِﻢْ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﻘَﺎﻋِﺪِﯾﻦَ دَرَﺟَﺔً ۚ وَﻛُﻠ‬ Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allâh dengan harta mereka dan jiwanya. Allâh melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allâh menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allâh melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. [an-Nisâ/4:95] 2. Apabila dua keburukan atau lebih berbenturan, maksudnya karena suatu hal dan kondisi, berbagai keburukan itu tidak bisa dijauhi semuanya, namun kita harus melakukan salah satunya. Lalu mana yang kita lakukan ? Yang harus kita lakukan adalah yang paling ringan dampak buruknya. Penerapan kaidah ini bisa kita temukan dalam banyak tempat, diantaranya : a. Dalam firman Allâh Azza wa Jalla :


‫ﺸﮭْﺮِ اﻟْﺤَﺮَامِ ﻗِﺘَﺎلٍ ﻓِﯿﮫِ ۖ ﻗُﻞْ ﻗِﺘَﺎلٌ ﻓِﯿﮫِ ﻛَﺒِﯿﺮٌ ۖ وَﺻَﺪﱞ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﯿﻞِ اﻟﻠﱠﮫِ وَﻛُﻔْﺮٌ ﺑِﮫِ وَاﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ اﻟْﺤَﺮَامِ وَإِﺧْﺮَا جُ أَھْﻠِﮫِ ﻣِﻨْﮫُ أَﻛْﺒَﺮُ ﻋِﻨْ َﺪ‬ ‫ﯾَﺴْﺄَﻟُﻮﻧَﻚَ ﻋَﻦِ اﻟ ﱠ‬ ِ‫اﻟﻠﱠﮫ‬ Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allâh, kafir kepada Allâh, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allâh [al-Baqarah/2:217] Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa pembalasan yang dituntut oleh kaum kafir terhadap kaum Muslimin atas peperangan di bulan-bulan yang terhormat- meski ada keburukannya namun apa yang dilakukan kafir Quraisy yang telah menghalangi manusia dari jalan Allâh, kafir kepada Allâh dan menghalangi manusia dari Masjid Haram serta mengusir penduduknya lebih besar keburukannya (dosanya) disisi Allâh dari pada berperang di bulan-bulan yang terhormat atau suci. Jadi disini terdapat dua mafsadah (keburukan), yaitu : Pertama : Tetap eksisnya orang-orang kafir Quraisy yang menghalangi kaum Muslimin dari jalan Allâh Azza wa Jalla , mengusir dan menzhalimi kaum Muslimin di sana, serta kekufuran dan kesyirikan mereka. Kedua : Menyerang mereka saat bulan haram. Mana diantara dua mafsadah ini yang lebih buruk ? Allâh Azza wa Jalla menjelaskan dengan gamblAng bahwa yang lebih buruk adalah yang pertama. Sehingga ketika harus memilih, maka yang kedualah yang dipilih, karena dampak buruknya lebih sedikit. b. Dalam firman Allah Azza wa Jalla ٍ‫وَﻟَﻮْﻟَﺎ رِﺟَﺎلٌ ﻣُﺆْﻣِﻨُﻮنَ وَﻧِﺴَﺎءٌ ﻣُﺆْﻣِﻨَﺎتٌ ﻟَﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮھُﻢْ أَنْ ﺗَﻄَﺌُﻮھُﻢْ ﻓَﺘُﺼِﯿﺒَ ﻜُﻢْ ﻣِﻨْﮭُﻢْ ﻣَﻌَﺮﱠةٌ ﺑِﻐَﯿْﺮِ ﻋِﻠْﻢ‬ Dan kalau bukanlah karena laki-laki Mukmin dan perempuan-perempuan Mukmin yang tidak kamu ketahui (keberadaan mereka, yang dikhawatirkan), kamu membunuh mereka sehingga menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allâh tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). [al-Fath/48:25] Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menahan kaum Muslimin dari keinginan mereka untuk menyerang penduduk kuffar di Makkah yang telah menghalangi mereka memasuki Masjidil Haram. Ini untuk suatu tujuan yang lebih tinggi yaitu supaya kaum Muslimin dan Muslimat yang masih menyembunyikan keimanannya dan masih tinggal di Makkah tidak menjadi korban peperangan. Kalau mereka menjadi korban perang, maka tentu orang yang menyebabkannya akan merasa menyesal atau turut berdosa, sebagaimana dijelaskan para Ulama ahli tafsir. Oleh


karena itulah, Allâh Azza wa Jalla melarang penyerangan itu, meski faktor pemicunya sudah ada yaitu perilaku kuffar yang telah menghalangi kaum Muslimin dari Masjidil Haram. Jadi disini ada dua keburukan yaitu : Pertama : Tidak memerangi atau membiarkan kaum kuffar yang telah menghalangi kaum Muslimin untuk memasuki kota Makkah Kedua : Memerangi mereka dengan resiko ikut terbunuhnya kaum Muslimin yang masih tinggal di Makkah dan menyembunyikan keimanan mereka karena belum mampu hijrah ke Madinah. Mereka akan ikut terbunuh karena sulit membedakan antara penduduk Makkah yang sudah beriman dan masih kafir. Dari kedua keburukan ini, yang paling sedikit dampak buruknya adalah tidak memerangi mereka. Termasuk dalam pelaksanaan kaidah yang kedua ini yaitu semua kejadian-kejadian atau kesepakatan-kesepakatan dalam Shulh (perjanjian damai) Hudaibiyah, dimana tercantum butirbutir perdamaian yang harus dipatuhi, yang dzahirnya sangat merugikan kaum muslimin, akan tetapi itu ternyata berbuah kemenangan bagi kaum muslimin. Termasuk juga, larangan terhadap kaum Muslimin untuk berperang sebelum Rasûlullâh n hijrah ke Madinah. Karena berperang dalam kondisi seperti itu lebih besar dampak buruknya daripada tetap bersabar. 3. Jika ada kebaikan dan keburukan sekaligus, namun keburukannya lebih kuat atau lebih dominan, maka kita dilarang melakukannya. Ini merupakan bagian terakhir yaitu apabila mashlahat dan mafsadah berkumpul, maka mashlahat harus didahulukan ketika mafsadah tidak mendominasi, jika sebaliknya, maka mafsadah harus diutamakan, meskipun harus meninggalkan atau menghiangkan maslahah. Misalnya dalam firman Allâh : ‫ﯾَﺴْﺄَﻟُﻮﻧَﻚَ ﻋَﻦِ اﻟْﺨَﻤْﺮِ وَاﻟْﻤَﯿْﺴِﺮِ ۖ ﻗُﻞْ ﻓِﯿﮭِﻤَﺎ إِﺛْﻢٌ ﻛَﺒِﯿﺮٌ وَﻣَﻨَﺎﻓِﻊُ ﻟِﻠﻨﱠﺎسِ وَإِﺛْﻤُﮭُﻤَﺎ أَﻛْﺒَﺮُ ﻣِﻦْ ﻧَﻔْﻌِﮭِﻤَﺎ‬ Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya." [Al-Baqarah/2:219] Ini merupakan alasan umum yaitu segala sesuatu yang bahayanya (madharat) dan dosanya lebih besar daripada manfaatnya, maka dengan hikmah-Nya, Allâh melarang para hamba-Nya dan mengharamkannya.21 21

(Dikutip dari kitab Al-Qawâidul Hisân, Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa`di Disalin dari


Kebolehan atas sesuatu yang wajar demi maslahat juga telah dijelaskan oleh Yousuf Kamal Muhammad, bahwa konsep asceticism (pertapaan seperti kaum sufi) dalam Islam bukan untuk melarang apa yang sebenarnya diizinkan untuk mencapai kesejahteraan, tapi untuk mempercayai apa yang menjadi kehendak atau dikendalikan Allah dan yang dapat dikendalikan manusia, dengan tujuan agar manusia tidak menyesal.22 Hal ini pun tertuang dalam Al-Qur’a>n, yang diantaranya sebagai berikut: Al Ma>’idah ayat 87:

َ‫ﯾَﺎ أَُّﯾﮭَﺎ اﻟَّﺬِﯾﻦَ آﻣَﻨُﻮا ﻻ ﺗُﺤَﺮِّﻣُﻮا ﻃَﯿِّﺒَﺎتِ ﻣَﺎ أَﺣَﻞَّ اﻟﻠَّﮫُ ﻟَﻜُ ﻢْ وَﻻ ﺗَﻌْﺘَﺪُوا إِنَّ اﻟﻠَّﮫَ ﻻ ُﯾﺤِﺐُّ اﻟْﻤُﻌْﺘَﺪِﯾﻦ‬ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Al Ma>’idah ayat 88:

َ‫وَﻛُﻠُﻮا ﻣِﻤَّﺎ رَزَﻗَﻜُﻢُ اﻟﻠَّﮫُ ﺣَﻼﻻ ﻃَﯿِّﺒًﺎ وَاﺗَّﻘُﻮا اﻟﻠَّﮫَ اﻟَّﺬِي أَﻧْﺘُﻢْ ﺑِ ﮫِ ﻣُﺆْﻣِﻨُﻮن‬ Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. Al Shat{ibi berkata bahwa apa yang menjadi firman Allah SWT tersebut menunjukkan bahwa kesenangan bagi manusia sebenarnya sah menurut hukum selama tidak bersifat haram dan berbahaya bagi manusia.23 Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Islam telah memaparkan bahwa fulfilling needs (memenuhi kebutuhan) berbeda dengan satisfying wants (memuaskan keinginan). Dalam hal ini, ada perbedaan antara necessities (kebutuhan yang dirasa penting), needs

majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XIV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta,] 22

Yousuf Kamal Muhammad, The Principles of The Islamic Economic System (Cairo: Islamic Inc. Publishing & Distribution, 1636 M), 155. 23 Ibid., 156.


(kebutuhan yang memang diperlukan), dan peningkatan. Necessities bertujuan melayani kepentingan keagamaan dan keduniaan. Jika kewajiban ini dilanggar, maka dapat merusak kehidupan dunia dan kegagalan dalam keselamatan akhirat. Sedangkan tujuan dari needs adalah memperluas kemampuan sehingga mengeliminasi kesempitan/ kekurangan dalam membentuk kehidupan yang sejahtera. Oleh sebab itu, jika needs tidak terpenuhi, dapat membuat manusia hidup kekurangan. Tujuan dari peningkatan (kehidupan) adalah untuk memperbaiki kebiasaan dan menghindari penodaan dalam pemikiran manusia, termasuk didalamnya adalah kebaikan moral. Islam sendiri meyakini bahwa distribusi pendapatan bisa menciptakan equity kekayaan antara yang kaya dan miskin sehingga menghindari kemiskinan dan monopoli kekayaan. Dengan begitu, Islam telah menganjurkan keseimbangan kebutuhan dunia dan akhirat.24 Adapun menurut S{iddiqi, konsumen akan berorientasi mencapai kenyamanan maksimal dalam berkonsumsi, dan hal itu diperbolehkan selama sesuai norma Islam. sedangkan Kahf menegaskan, bahwa dasar dari konsumsi, adalah ketepatan dalam hal maksimasi atas konteks perilaku konsumen dalam Islam, yaitu harus sesuai norma Islam. Dalam hal ini, konsumsi barang mewah, hal-hal spekulasi atau unsur perjudian, kesenangan (wanita), dan hal yang sia-sia adalah dilarang.25 Namun Islam juga menolak pola pengeluaran niggardliness (bukhl), yaitu kekikiran. Dengan begitu, konsumsi merupakan pilihan yang tepat untuk menghindari kemubadziran sumber daya yang bisa dimanfaatkan. Namun pemanfaatan apa yang ada harus setimpal dengan pengorbanan untuk mendapatkannya, tidak boleh ada kesia-siaan ataupn sesuatu yang berlebihan. Namun pendayagunaan sumber daya alam harus dilakukan sesuai norma Islam dan bukan kemewahan. Baqir al S{adr mengusulkan bahwa sumber daya seharusnya tidak diperbolehkan untuk dialihkan dalam produksi barang mewah sampai produksi kebutuhan yang

24 25

Ibid., 161. M. Nejatullah S{iddiqi, Muslim Economic Thinking (Jeddah: King Abdul Aziz University, 1981), 54-55.


penting dijamin jumlahnya terus mencukupi. Dengan begitu, konsumen semestinya tidak masuk dalam pengeluaran barang mewah di luar pemenuhan kebutuhan penting.26 Al Furqa>n ayat 67:

‫وَاﻟَّﺬِﯾﻦَ إِذَا أَﻧْﻔَﻘُﻮا ﻟَﻢْ ﯾُﺴْﺮِﻓُﻮا وَﻟَﻢْ ﯾَﻘْﺘُﺮُوا وَ ﻛَﺎنَ ﺑَﯿْﻦَ ذَﻟِﻚَ ﻗَﻮَاﻣًﺎ‬ Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Salah satu ekonom Muslim, Afzalur Rahman, menyampaikan pandangannya: “Islam made it obligatory to maintain and develop human life in order that every member of the state should be able to obtain his basic necessities of life including food, clothing, and shelter, etc.27 Similarly, enjoyment of comfort is considered to be permissible in Islam provided it remains within limits and does not lead to excesses.”28 (Islam mewajibkan memelihara dan membangun kehidupan manusia sebagai tujuan setiap anggota masyarakat dalam negara yang seharusnya mampu memperoleh apa yang menjadi kebutuhan pokoknya, termasuk yaitu: makanan, pakaian, perlindungan diri, dsb. Dengan cara yang sama, manusia menikmati kenyamanan, yaitu memperhitungkan sekaligus mempertimbangan apa yang dibolehkan dalam Islam yang dalam batas yang wajar (sisanya bukan mubadzir) dan tidak berlebihan). Juga diterangkan lagi oleh Afzalur Rahman terkait barang mewah: Has forbidden the use of luxuries as they encourage the growth of unproductive and immoral industries and spread mischievous and disruptive elements in the society which ultimately destroy the unity and integrity of the entire community.29 (Adalah dilarang atas penggunaan barang mewah yang hanya mendorong pertumbuhan barang tidak produktif (kurang berguna) dan industri non moral dan

26

Ibid., 17. Afzalur Rahman, Economic Doctrines of Islam, Vo. I & II (Lahore: Islamic Publications Ltd., 1980), 22. 28 Ibid., 27. 29 Ibid. 27


menyebarkan kerugian dan kekacauan elemen dalam masyarakat dimana akhirnya merusak kesatuan dan integritas dalam seluruh masyarakat). Terkait pendayagunaan sumber daya alam sebagai barang mewah, menarik untuk disimak pernyataan Ausaf Ahmad terhadap permintaan barang mewah: “Pertama, ini tidak seperti pengertian bahwa permintaan terhadap barang mewah tidak ada sama sekali dalam konteks Islam. Karena mungkin saja secara logika, permintaan barang mewah akan melemah dan berkurang pada masyarakat yang tingkat kesalehan dan kealimannya tinggi. Konsekuensinya, barang mewah pun tidak penting lagi. Kedua, kebutuhan barang mewah bisa jadi sebagai bahwa ada terminologi relatif yang menjadi permasalahan. Apa yang menjadi penting bagi seseorang, bisa jadi adalah hal pelengkap atau penambah kenyamanan, dan bisa jadi diartikan sebagai barang mewah bagi orang lain. Mewah tidaknya suatu barang dapat dipengaruhi oleh tingkat sosial, ekonomi, dan pertumbuhan teknologi dalam masyarakat. Ketiga, tidak bisa dikatakan bahwa Islam secara mutlak melarang barang mewah. Namun, Islam mengecilkan upaya seseorang mengkonsumsi barang mewah, terlebih dalam skala luar biasa dan berlebihan, karena penggunaan secara berlebihan akan merusak moral masyarakat.�30 Oleh sebab itu, rasionalitas konsumen juga berfungsi sebagai upaya memilih yang meminimumkan resiko (risk aversion). Dalam hal ini, ada dua resiko yang dimaksud, yaitu resiko yang bernilai (worthed risk) dimana memang ada nilai pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu, dan resiko yang tidak bernilai dimana hasil yang didapatkan lebih kecil atau tidak sebanding dengan pengorbanan. Resiko yang kedua ini merupakan dampak dari perilaku hedonisme yang hanya mengandalkan kepuasan. Padahal dalam ekonomi Islam, untuk

30

Ahmad, Islamic Economics, 252.


melengkapi kepuasan, dimana sebagai tujuan maksimal yang diinginkan, hal ini tidaklah berhubungan dengan kemampuan mental dan tafakur manusia. Al-Baidawy (wafat 791 H), berkata bahwa hampir semua kewajiban atas alam (merawat dan memelihara alam) diselesaikan dengan rasa malas/ enggan, meskipun mereka adalah bentuk hak (yang harus dipenuhi) dan menyebabkan keberhasilan (jika alam dirawat dengan baik). Sebaliknya, apa yang dilarang justru merupakan keinginan dan dihargai oleh personal (untuk dipenuhi) meskipun mencakup hal-hal yang menimbulkan kerusakan�.31 Begitupun Ibnu Taimiyah (w. 738 H) menyatakan: �Kepuasan absolut (mutlak) sebenarnya merupakan sesuatu (pemanfaatan kegunaan barang) yang jumlahnya berlebihan. Jika ini untuk mencegah sesuatu yang berlebihan atau yang dapat menimbulkan kerusakan, ini merupakan tidak benar untuk dipertimbangkan. Juga, apa yang terlihat berguna meskipun ternyata tidak, atau yang darinya menjadi sumber atas kepuasan yang kemudian merusak, tidak lagi menjadi kegunaan sepenuhnya. Oleh sebab itu, apa yang dilarang oleh Allah SWT dan para RasulNya adalah hal-hal yang memang merugikan bagi manusia, dimana tidak memiliki kegunaan dan hanya berlebihan�.32 Lebih lanjut, imam Ghazali (w. 505 H) mengilustrasikan sebagai berikut: “Semua hal dipisahkan sesuai kepentingannya dalam dunia dan akhirat. Ilmu pengetahuan dan perilaku, dipisahkan apa yang berbahaya di dunia yang harus dihindari atau dilarang. Juga, apa yang penting sekarang dan sesuatu yang menimbulkan bahaya di kemudian hari, seperti mencari kepuasan atau kesenangan melalui naluri atau hasrat pengeluaran, dan itu menjadi kondisi yang berbahaya dan keuntungan kemudian, seperti dengan cara memendam keinginan dan menentang hasrat/ nafsu. 31 32

Muhammad, Islamic Economic System, 152. Ibid., 152.


Dari ketiga pernyataan tokoh ekonom Muslim, kepuasan yang berada di atas kualitas kebutuhan dapat menjadi hal yang tidak tepat, berbahaya, dan menimbulkan penderitaan. Sebaliknya, akan menjadi penghormatan yang riil ketika kepuasan dan keuntungan yang didapat ialah berasal dari ilmu pengetahuan ataupun perilaku ekonomi yang cerdas, yang memiliki rasionalitas sesuai ekonomi Islam. Yousuf Kamal Muhammad menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga macam kebutuhan yang menghasilkan kepuasan: 1. Kebutuhan intelektal: ini merupakan kebutuhan yang dicapai dari ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan (hikmah/logika). Oleh karena itu, ini tidak dinikmati melalui indera penglihatan, penciuman, perasa, makanan atau seksual, tapi lebih kepada hati, yang dipresentasikan melalui pikiran, sebagai satu-satunya organ yang merasakan kesenangan. Kebutuhan ini dibatasi dengan hasil karya manusia yang akhirnya dinikmati dan hampir sepenuhnya sebagai kebutuhan yang memenuhi kegunaan/ manfaat bagi manusia di bumi. 2. Seperti umumnya pada binatang, manusia mendapatkan kepuasan dari kepemilikan kekuatan, kedaulatan, pemberian, sebagai contoh singa, harimau, dan sebagainya. 3. Seperti halnya semua makhluk hidup, manusia mencapai kepuasan dari makanan dan seksual. Ini merupakan bentuk kepuasan yang paling rendah.33 Dari kesemuanya, manusia yang termasuk dalam kategori ketiga, adalah mereka yang terobsesi kekuatan dan kelak merugi. Sedangkan yang termasuk kategori pertama, manusia akan menikmati pengetahuan dan kebijaksanaan/ hikmah, yang kemudian mencapai level pengetahuan keimanan kepada Allah SWT. Ini merupakan peringkat bagi orang suci. 33

Ibid., 153.


Meski begitu, Allah SWT mengizinkan manusia mencari perhiasan dunia/ kekayaan sesuai kebutuhan. Hal ini yang termaktub dalam surat Al-A’raf ayat 32:

‫ﻗُﻞْ ﻣَﻦْ ﺣَﺮَّمَ زِﯾﻨَﺔَ اﻟﻠَّﮫِ اﻟَّﺘِﻲ أَﺧْﺮَجَ ﻟِﻌِﺒَﺎدِهِ وَاﻟﻄَّﯿِّﺒَﺎتِ ﻣِﻦَ اﻟﺮِّزْقِ ﻗُﻞْ ھِﻲَ ﻟِﻠَّﺬِﯾﻦَ آﻣَﻨُﻮا ﻓِﻲ اﻟْﺤَﯿَﺎةِ اﻟﺪُّﻧْﯿَﺎ‬ َ‫ﺧَﺎﻟِﺼَﺔً ﯾَﻮْمَ اﻟْﻘِﯿَﺎﻣَﺔِ ﻛَﺬَﻟِﻚَ ﻧُﻔَﺼِّﻞُ اﻵﯾَﺎتِ ﻟِﻘَﻮْمٍ ﯾَﻌْﻠَﻤُﻮن‬ Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. Dengan begitu, Yousuf Kamal Muhammad menjelaskan bahwa konsep asceticism (pertapaan seperti kaum sufi) dalam Islam bukan untuk melarang apa yang sebenarnya diizinkan untuk mencapai kesejahteraan, tapi untuk mempercayai apa yang menjadi kehendak atau dikendalikan Allah dan yang dapat dikendalikan manusia, dengan tujuan agar manusia tidak menyesal.34 Al Ma>’idah ayat 87:

َ‫ﯾَﺎ أَُّﯾﮭَﺎ اﻟَّﺬِﯾﻦَ آﻣَﻨُﻮا ﻻ ﺗُﺤَﺮِّﻣُﻮا ﻃَﯿِّﺒَﺎتِ ﻣَﺎ أَﺣَﻞَّ اﻟﻠَّﮫُ ﻟَﻜُ ﻢْ وَﻻ ﺗَﻌْﺘَﺪُوا إِنَّ اﻟﻠَّﮫَ ﻻ ُﯾﺤِﺐُّ اﻟْﻤُﻌْﺘَﺪِﯾﻦ‬ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Al Ma>’idah ayat 88:

34

Ibid., 155.


َ‫وَﻛُﻠُﻮا ﻣِﻤَّﺎ رَزَﻗَﻜُﻢُ اﻟﻠَّﮫُ ﺣَﻼﻻ ﻃَﯿِّﺒًﺎ وَاﺗَّﻘُﻮا اﻟﻠَّﮫَ اﻟَّﺬِي أَﻧْﺘُﻢْ ﺑِ ﮫِ ﻣُﺆْﻣِﻨُﻮن‬ Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

Al Shatibi berkata bahwa apa yang menjadi firman Allah SWT tersebut menunjukkan bahwa kesenangan bagi manusia sebenarnya sah menurut hukum selama tidak yang telah jelas bersifat haram dan berbahaya bagi manusia.35 Adapun sifat rasionalitas lainnya menurut Islam adalah sebagai upaya memilih untuk menghindari ketidakpastian (uncertainty). Dalam hal ini, konsumen harus melengkapi informasi dan pengetahuan agar mendapatkan keakuratan.

KESIMPULAN Berdasarkan kajian pemikiran ekonomi islam terkait rasionalitas, penulis berusaha merumuskan rasionalitas ekonomi Islam dalam 6 hal: rasionalitas bertujuan normatif, pilihan yang wajar sesuai tujuan/ maslah{ah yang diinginkan (present aim rationality), pilihan yang tepat untuk menghindari kemubadziran sumber daya yang bisa dimanfaatkan, upaya memilih yang meminimumkan resiko (risk aversion), social interest, yang didalamnya termasuk distribusi pendapatan, dan upaya memilih untuk menghindari ketidakpastian (uncertainty). DAFTAR PUSTAKA Ahmad, Ausaf and Kazim Raza Awan (ed.). Lectures on Islamic Economics. Jeddah: Islamic Research and Training Institute IDB, 1987. Ahmad, Khurshid (ed.). Studies in Islamic Economics. Jeddah: King Abdul Aziz University, 1980.

35

Ibid., 156.


Chapra, M. Umer. The Future of Economics: An Islamic Perspective. Leicester: The Islamic Foundation, 2000. Edgeworth, F.Y., Mathematical Psychics: An Essay on the Application of Mathematics to the Moral Science. London: Kegan Paul, 1881. Friedman, Milton. Capitalism and Freedom. Chicago: The University of Chicago Press, 1972. Hasan, Ali. Marketing Bank Syariah. Bogor: PT. Ghalia Indonesia, 2010. Hastie, Reid, dan Robyn M. Dawes. Rational, Choice, in an Uncertain World. London: Sage Publications, 2001. Muhammad, Yousuf Kamal. The Principles of the Islamic Economic System. Cairo: Islamic Inc. Publishing & Distribution, 1636 M. Myers, Milton L. The Soul of Modern Economic Man: Ideas of Self Interest, Thomas Hobbes to Adam Smith. Chicago: University of Chicago Press, 1983. Rahman, Afzalur. Economic Doctrines of Islam, Vo. I & II Lahore: Islamic Publications Ltd., 1980. S{iddiqi, M. Nejatullah. Muslim Economic Thinking. Jeddah: King Abdul Aziz University, 1981. Tahir, Sayyid (ed.), dkk. Readings in Microeconomics: an Islamic Perspective. Malaysia: Longman Malaysia, 1992.

Rasionalitas Perilaku Konsumen dalam Perspektif Ekonomi Islam  

Rasionalitas Perilaku Konsumen dalam Perspektif Ekonomi Islam

Rasionalitas Perilaku Konsumen dalam Perspektif Ekonomi Islam  

Rasionalitas Perilaku Konsumen dalam Perspektif Ekonomi Islam

Advertisement