Page 1

KEBERTAHANAN USAHA MELALUI MODAL SOSIAL DALAM PERSPEKTIF IBNU KHALDU>N (Studi Pada Pasar Tradisional Swasta Soponyono Surabaya)

PROPOSAL DISERTASI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Doktor Pada Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

Oleh: Lia Istifhama NIM. F15431364

PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2018


1

A. LATAR BELAKANG

Permasalahan yang harus dihadapi oleh hampir semua negara berkembang diantaranya adalah kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup manusia yang masih rendah. Dari kesemua itu, kemiskinan1 menjadi problem utama karena kemiskinan yang membatasi akses pendidikan kesehatan, dan sebagainya. Menurut John Friedmann, a destitute people (orang miskin) ialah mereka yang hanya berpikir tentang bertahan hidup. Mereka kekurangan dalam pemenuhan 4 basis penting kehidupan yaitu: Pertama, modal produksi atas asset, seperti tanah, rumah, peralatan dan kesehatan. Kedua, sumber keuangan, seperti income dan kredit yang memadai. Ketiga, organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama, seperti koperasi. Keempat, jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang, pengetahuan, dan keterampilan yang memadai.2 Sedangkan menurut antropolog Oscar Lewis yang melakukan komparasi studi kasus Puerto Rico dan New York, menjelaskan istilah the culture of poverty (budaya kemiskinan). Budaya kemiskinan ialah keadaan keseluruhan cara hidup, yang tidak hanya ditunjukkan dengan kondisi kemalangan ekonomi, tapi juga keadaan ketergantungan, rasa rendah diri, kuatnya perasaan disisihkan, kehilangan 1

Piven pada 1963 menjelaskan: Poverty is a condition that deprives the individual from basic necessities for existence like food, water, shelter and clothing as well as other fundamentals to life like health, education, security, opportunity and freedom. The poor, who are without material resources or human capital, subsequently lack access to decision makers or other avenues of political influence. (kemiskinan adalah kondisi yang mengambil kemampuan pemenuhan individu pada kebutuhan pokok yaitu makanan, minuman, tempat tinggal, dan pakaian sebagaimana penting untuk kesehatan, pendidikan, keamanan, kesempatan, dan kemerdekaan. Kemiskinan, yang mana tanpa sumber materi ataupun SDM yang memadai, membuat kekurangan akses sebagai pembuat keputusan atau berpengaruh dalam politik. Lihat Frances Fox Piven, “Low-Income People and the Political Process� dalam The Politics of Turmoil: Essays on Poverty, Race, and the Urban Crisis, edited by Richard A. Cloward and Frances Fox Piven (New York: Pantheon Books. 1974). 73–88. 2 John Friedmann, Insurgencies: Essays in Planning Theory (New York: Routledge, 2011), 154.


2

harapan, dan sebagainya. Ditambahkan juga bahwa kemampuan seseorang untuk keluar dari kemiskinan tidak hanya mengenai kapasitas fisik, namun juga harus memiliki kemampuan olah pikir dan berbudaya, sehingga upaya pengurangan kemiskinan harus melalui sinergi antara kapasitas ekonomi dan non ekonomi.

3

Kapasitas non ekonomi dibangun melalui pembangunan kualitas sumberdaya manusia sebagai pelaku usaha, salah satunya ialah penguatan sektor ekonomi rakyat. Penguatan sektor ekonomi rakyat merupakan bentuk pemberdayaan ekonomi. Komitmen pentingnya semangat pemberdayaan ekonomi yang adil dan merata, ditunjukkan oleh Islam melalui surah Al-Hashr ayat 7: 4

ْ‫ﻛَﻲْ ﻻ ﯾَﻜُﻮنَ دُوﻟَﺔً ﺑَﯿْﻦَ اﻷﻏْﻨِﯿَﺎءِ ﻣِﻨْﻜُﻢ‬

supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.5 Pemerataan ekonomi juga dijelaskan dalam Firman Allah SWT: 6

ِ ‫وَاﻟَّﺬِﯾﻦَ ﻓِﻲ أَﻣْﻮَاﻟِﮭِﻢْ ﺣَﻖٌّ ﻣَﻌْﻠُﻮمٌ ﻟِﻠﺴَّﺎﺋِﻞِ وَاﻟْﻤَﺤْﺮُوم‬ dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta.7 Penekanan unsur distribusi kekayaan merupakan strategi dalam ekonomi Islam untuk mewujudkan pemerataan dan pemberdayaan ekonomi. Lebih lanjut, ketika pemberdayaan ekonomi tercapai, maka tercapai pula pertumbuhan ekonomi.

3

Oscar Lewis, “The Culture Of Poverty”, Jurnal American, vol. 215, no. 4 (Oktober 1966), 19. Al-Qur’a>n, 59: 7. 5 Departemen Agama RI. Al-Qur’a>n dan Terjemahnya. Semarang: PT. Tanjung Mas Inti, 1992). 916. 6 Al-Qur’a>n, 70: 24. 7 Departemen, Al-Qur’a>n dan Terjemahnya, 29. 4


3

Salah satu pemikir muslim yang seringkali sebagai referensi kajian ekonomi dan sosial adalah Ibnu Khaldu>n. Ada beberapa teori fenomenal oleh Ibnu Khaldu>n, di antaranya teori Siklus yang menjelakan pertumbuhan ekonomi dengan perkembangan situasi sosial atau kondisi kebersamaan di dalam masyarakat. Dalam kitab Muqaddimah, Ibnu Khaldu>n menjelaskan tentang sub bahasan “When the natural (tendencies) of the royal authority to claim all glory for itself and to obtain luxury and tranquility have been firmly established, the dynasty approaches senility�. Dalam sub bahasan tersebut, dijelaskan beberapa tahap situasi sosial masyarakat yang terjadi dalam dinasti-dinasti Arab dan Turki. Situasi ini merupakan dampak kemakmuran dan kemewahan terhadap perubahan situasi sosial masyarakat, yaitu bagaimana sikap sosial mereka pada pemerintahan. Situasi sosial yang pertama yaitu masyarakat dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk dibawah otoritas kekuasaan yang didukungnya. Kedua, masyarakat yang karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan, menjadi tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara. Ketiga, masyarakat yang tidak lagi memiliki hubungan emosional dengan negara. Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka sukai tanpa memperdulikan nasib negara.8 Untuk menghindari kerusakan negara yang ditandai dengan ketidakpedulian masyarakat terhadap nasib negara, maka perlu ditekankan bahwa pembangunan ekonomi menurut Ibnu Khaldu>n seharusnya bukan hanya secara fisik, tapi juga non fisik, yaitu pembangunan sumber daya manusia. Ibnu Khaldu>n menjelaskan bahwa

8

Khaldu>n (Ibn), Abd Ar Rahman bin Muhammed. The Muqaddimah. Terj. Franz Rosenthal (New Jersey: Princeton University Press, 1967),133.


4

tanpa kebersamaan dan saling tolong menolong, usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak akan berhasil.9 Kebersamaan memang sangat penting dan seharusnya menjadi aspek utama dalam relasi hubungan sosial karena mampu mendorong semangat kerjasama untuk selanjutnya memotivasi kegiatan usaha produktif yang mendatangkan keuntungan. Dalam Islam, kegiatan usaha produktif dikenal dengan istilah at-tija>rah, yaitu aktivitas atau pengelolaan harta benda untuk mencari keuntungan10. Aktivitas yang dimaksud ialah perdagangan atau transaksi jual beli dalam pasar. Pasar yang mempertemukan langsung antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli, dibedakan menjadi dua jenis yaitu pasar tradisional dan modern. Menurut pasal 1 PP No. 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, dijelaskan pengertian pasar tradisional dan toko modern. Pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah yang termasuk kerjasama dengan swasta, dalam tempat usaha berupa toko, kios, los, dan tenda yang dimiliki dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat, ataupun koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil, dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar. Sedangkan toko modern adalah toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara

9

Ibnu Khaldu>n, Muqaddimah, terj. Ahmadie Thoha (Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus 2001), 284. Abul Qosim Al-Husain bin Muhammad (Ar-Roghib Al-Ashfahani), Al-Mufrodat Fi> Ghoribil Qur’a>n (t.t: Maktabah Nazar Musthofa Al-Baz, t.th). 10


5

eceran yang berbentuk minimarket, supermarket, department store, hypermarket ataupun grosir yang berbentuk perkulakan.11 Dari kedua jenis pasar tersebut, yang lebih mencerminkan usaha kreatif dan mandiri dari masyarakat ialah-pasar tradisional. Varian yang diperdagangkan dalam pasar tradisional mayoritas ialah produk lokal dan hampir keseluruhan pedagangpedagang yang berada dalam pasar tradisional, ialah pelaku ekonomi mikro. Keberadaan pasar tradisional (termasuk di dalamnya para pedagang informal) memang tidak mengalami pertumbuan postif. Menurut data survei AC Nielsen tahun 2013, jumlah pasar tradisional atau pasar rakyat di Indonesia terus mengalami penurunan. Sementara perbandingan pertumbuhan pasar rakyat terhadap pasar modern cukup drastis. Survey AC Nielsen pada 2013 menjelaskan pada 2007 pasar rakyat berjumlah 13.550, kemudian pada 2009 jumlahnya turun menjadi 13.450 pasar, dan pada 2011 berjumlah 9.950. Survey tersebut menyimpulkan bahwa dalam kurun waktu 2007 hingga 2009, perbandingan pertumbuhan pasar rakyat terhadap pasar modern sangat kontras. Pertumbuhan pasar rakyat (tradisional) hanya -8,1% sedangkan pasar modern sangat signifikan dengan angka 31,4%.12 Menurunnya omset pedagang pasar tradisional umumnya disebabkan kondisi fisiknya yang yang tidak senyaman ritel modern. Faktor lain yang tidak bisa diabaikan ialah persaingan pemasaran dan harga. Normatifnya, ritel modern mematok harga di atas pasar tradisional mengingat operational cost-nya jauh lebih 11

Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, “Peraturan Presiden no 112 tahun 2007�, dalam http://setkab.go.id/wp-content/uploads/2017/12/Perpres_Nomor_112_Tahun_2017 (12 Januari 2017). 12 Esthi Maharani, “Jumlah Pasar Tradisional Semakin Menurun�, dalam http://republika.co.id/berita/ekonomi/makro/14/10/02/nct8ag-jumlah-pasar-tradisional-semakinmenurun (1 Maret 2018).


6

tinggi, antara lain beban pajak, listrik dan fasilitas, upah karyawan, dan sebagainya. Namun realita sebaliknya. Harga barang dalam ritel moden mampu bersaing dengan pasar tradisional, bahkan lebih rendah dari pasar tradisional sehingga ritel modern bisa menjadi pusat perkulakan (whole seller).

Fakta ini sama halnya dengan

memotong marketing channel (jalur pemasaran), yang semestinya dari jalur produsen ke sole agent (agen tunggal) kemudian ke whole seller (grosir) baru kepada pengecer dan untuk selanjutnya kepada konsumen.13 Namun yang terjadi pada harga barang di ritel modern, ialah dari produsen ke sole agent dan ke pengecer (ritel modern) untuk kemudian konsumen, sehingga harga barangnya rendah. Peraturan daerah yang dibuat sebagai upaya menyelamatan eksistensi pasar tradisional dinilai kurang tegas. Banyak perda yang dilanggar oleh ritel modern namun tidak ada sanksi mengikat. Salah satunya adalah pelanggaran jam operasional dimana ritel modern beroperasional hingga tengah malam. Hal ini bertentangan dengan pasal 7 PP No. 112 Tahun 2007. Ritel modern juga bertentangan dengan pasal 3 PP No. 112 Tahun 2007 terkait harga14 dan Peraturan Menteri Perdagangan RI No. 53 tahun 2008 pasal 7 tentang hubungan Toko Modern dengan Pemasok15, serta Pasal 3 ayat (9) Permendag 53/ 2008 tentang pendirian ritel modern. Dalam hal ini, pendirian ritel modern tidak melihat aspek dan rencana detail tata ruang kabupaten/ kota yang seharusnya tidak didirikan di dekat ritel tradisional.

13

Philip Kotler, Marketing Management, (New Jersey: Prentice Hall, 2012), 420. Setkab, Perpres Nomor 112 Tahun 2007. 15 Pemasok adalah pelaku usaha yang secara teratur memasok barang kepada Toko Modern dengan tujuan untuk dijual kembali melalui kerjasama usaha. (Kementerian Perdagangan RI, “Peraturan Menteri Perdagangan RI No. 53 tahun 2008 Bab 1 pasal 1�, dalam www.kemendag.go.id/files/.../53m-dagper92014-id-1411011843.pdf(9 Maret 2017). 14


7

Sedangkan menurut survei Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (IKAPPI) pada 2011, terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab menurunnya jumlah pedagang dalam pasar tradisional selain disebabkan faktor menurunnya omset pedagang. Dijelaskan oleh IKAPPI bahwa ada 144 pasar tradisional yang mengalami konflik akibat revitalisasi. Konflik yang dimaksud ialah konflik antara pedagang dengan pengelola dan pemerintah setempat. Faktor lain ialah kebakaran yang terjadi pada pasar sehingga menimbulkan kerugian materiil bagi pedagang. Data IKAPPI menjelaskan 161 pasar yang pernah mengalami kebakaran.16 Bagaimanapun permasalahan yang menimpa pasar tradisional, namun masih banyak pasar yang bertahan. Sebagai contoh di Surabaya, data Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), menunjukkan jumlah pasar daerah yang berada di bawah naungan Pemerintah Kota Surabaya ialah sebanyak 81, yang terdiri atas 38 induk pasar dan 43 anak pasar. Sedangkan jumlah pasar tradisional swasta yang terdaftar di Bagian Perekonomian Pemerintah Kota Surabaya ialah sebanyak 101 pasar. Data yang menunjukkan bahwa masih terdapat pasar tradisional yang bertahan meskipun terjadi penurunan omset pedagangnya, ialah suatu fakta yang menarik. Hal ini menunjukkan ada beberapa faktor yang menyelamatkan eksistensi pasar tradisional ditengah hegemoni17 ritel modern. Wasisto Raharjo Jati dalam penelitian “Dilema Ekonomi: Pasar Tradisional versus Liberalisasi Bisnis Ritel di Indonesia”, menjelaskan faktor bertahannya pasar tradisional ialah disebabkan 16

Muhamad Bari Baihaqi, “Pasar Tradisional Kian Tergerus Ritel Modern - Perdagangan Domestik”, dalam http://www.neraca.co.id/article/37989/perdagangan-domestik-pasar-tradisional-kian-tergerusritel-modern(5 Desember 2017). 17 Hegemoni adalah bentuk penguasaan terhadap kelompok tertentu dengan menggunakan kepemimpinan intelektual dan moral secara konsensus (kesepakatan. (Wikipedia, “Hegemoni Media Massa”, dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Hegemoni_media_massa(5 Desember 2017).


8

modal sosial yang membentuk kerjasama dan kepercayaan antar pedagang ataupun antar pedagang dan pembeli.18 Ini sama dengan yang dijelaskan oleh Assauri, bahwa pasar adalah arena pertukaran potensial, baik dalam bentuk fisik sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli, maupun dalam bentuk non fisik, yaitu pertukaran nilai-nilai sosial, norma, dan partisipasi rasa saling percaya (trust) diantara mereka19. Bentuk non fisik disini identik dengan terjalinnya interaksi modal sosial dimana pasar bukan hanya interaksi menusia yang melibatkan pertukaran barang dan jasa, namun juga komunikasi secara langsung antara penjual dengan pembeli. Pasar tradisional melalui proses tawar menawarnya, paling memungkinkan terbangunnya komunikasi yang dekat antara penjual dengan pembeli. Melalui komunikasi tersebut, terbangun kepercayaan diantara keduanya serta berpotensi membangun kesempatan kerjasama antar mereka, terlebih dalam kehidupan sehari-hari, pedagang dan pembeli umumnya telah memiliki hubungan, baik sebagai teman maupun tetangga. Ahimsa Putra juga menjelaskan bahwa dasar-dasar sosial dalam aktivitas pasar tradisional tidak menjadikan sifat persaingan antara sesama pedagang, namun diantara mereka terdapat kebersamaan dan kerjasama untuk saling membantu eksistensi usaha mereka masing-masing20. Realita tersebut menunjukkan potensi kuat modal sosial antar pedagang dalam pasar tradisional. Modal sosial (social capital) merupakan kajian penting dalam ekonomi. Sebagaimana dijelaskan oleh Michael Woolcock bahwa modal sosial merupakan 18

W. R. Jati, “Dilema Ekonomi: Pasar Tradisional versus Liberalisasi Bisnis Ritel di Indonesia�, Jurnal Ekonomi Studi Pembangunan, Vol. 4, No. 2, 2012. 19 Sofjan Assauri, Manajemen Pemasaran (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1987), 58. 20 Ahimsa Putra dan Heddy Shri. “Prologue: Dari Ekonomi Moral, Rasional, ke Politik Usaha� dalam Ekonomi Moral, Rasional, dan Politik dalam Industri Kecil di Jawa (Yogyakarta: Kepel Press, 2003), 154.


9

salah satu elemen yang bisa mendorong pengurangan kemiskinan dengan membangun kemitraan antara negara (pemerintah), pasar dan masyarakat sipil. Modal sosial menurutnya berperan sebagai perekat utama dalam institusi di tingkat komunitas serta menjembatani terjalinnya jaringan dengan institusi lainnya.21 Salah satu fakta menarik melihat peran modal sosial, ialah eksistensi pasar tradisional swasta Soponyono Surabaya. Disebut swasta karena memang bukan usaha milik daerah, yang dalam hal ini pemerintah kota Surabaya, melainkan beroperasional di bawah naungan Yayasan Tholabuddin Rungkut Surabaya. Pasar tradisional swasta tersebut merupakan perwujudan hasil swadaya masyarakat sekitar. Pasar yang didirikan pada tahun 1982 di wilayah Rungkut Surabaya ini telah dikelilingi berdirinya beberapa ritel modern. Pada sisi utara pasar beroperasional Alfamart dan

Indomaret,

sedangkan pada sisi selatannya beroperasional

Hypermarket Transmart. Berdirinya transmart yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya, menjadi ancaman besar bagi pedagang pasar Soponyono yang notabene berskala mikro. Sebenarnya, selain pasar Soponyono, masih terdapat 101 pasar tradisional swasta di Surabaya, seperti: pasar Pahing, pasar Yamuri, pasar Krempyeng, dan sebagainya. Namun keberadaan pasar Soponyono paling menonjol atau ramai pengunjung dibandingkan dengan pasar swasta lainnya. Berdasarkan observasi pengamatan yang sudah dilakukan peneliti sebelum dilakukan penelitian, dapat diketahui bahwa memang sempat terjadi penurunan

21

UNESCO, Social Capital and Poverty Reduction, Which role for the civil society organization and the state? (Paris: UNESCO, 2002), 22.


10

omset pedagang pada awal-awal berdirinya Transmart Pebruari 2017. Namun tiga bulan kemudian omset pedagang pasar berangsur-angsur kembali normal. Hasil wawancara dengan salah satu pedagang konveksi, yaitu Mas’ad, diketahui bahwa omset penjualan mengalami kemerosotan di awal berdirinya Transmart, yaitu menjelang hari raya Idul Fitri tahun 2017. Namun setelahnya, keadaan mulai berangsur normal. Menurutnya, keadaan yang kembali normal disebabkan kembalinya para pelanggannya yang merupakan warga sekitar pasar.22 Hal ini sama dengan yang disampaikan oleh Saluki, salah satu pedagang buahbuahan, yang menjelaskan bahwa penjualannya sempat merosot diawal berdirinya Transmart. Penjualan akhirnya kembali normal seperti sebelumnya. Menurut Saluki, ini disebabkan harga jualnya yang murah dan hubungan baik dengan pelanggan23. Pelanggan Saluki, seperti halnya pelanggan Mas’ad, yaitu warga sekitar Rungkut. Ini merupakan perwujudan kuatnya jaringan ataupun modal sosial. Pada intinya, melihat dan mengamati bagaimana pasar tradisional bisa bertahan di era persaingan modern, merupakan kajian penting dalam permasalahan sosial. Ketika pasar tradisional masih bertahan, maka disitulah akses sektor usaha mandiri kreatif rakyat, masih terbuka. Transaksi jual beli di pasar tradisional yang dilakukan dengan cara tawar-menawar menunjukkan adanya komunikasi dan kekerabatan di antara pedagang dan pembeli. Kemudian, dari komunikasikomunikasi tradisional tersebut, menguatlah solidaritas dan ikatan sosial. Inilah yang kemudian ditarik sebagai bentuk strategi bertahan melalui modal sosial.

22 23

Mas’ad, Wawancara, Pasar Tradisional Soponyono Surabaya, 8 Maret 2018. Saluki, Wawancara, Pasar Tradisional Soponyono Surabaya, 8 Maret 2018.


11

Memahami bagaimana modal sosial dalam ekonomi bisa dilakukan melalui kajian

pemikiran

Ibnu

Khaldu>n.

Ibnu

Khaldu>n

dalam

Muqaddimah,

menyampaikan: “He (people) cannot do without a combination of many powers from among his fellow beings, if he is to obtain food for himself and for them. Through cooperation, the needs of anumber of persons, many times greater than their own (number), can be satisfied.”24 Maksudnya bahwa manusia tidak dapat berbuat banyak tanpa bergabung dengan tenaga lain, jika ia hendak memperoleh makanan bagi diri dan sesamanya. Dengan bekerja sama, maka kebutuhan manusia (yang setiap waktu selalu lebih luas dibandingkan jumlah pertumbuhan manusia), dapat terpuaskan atau dipenuhi. Hal ini menjelaskan adanya ketergantungan antara satu komunitas dengan lainnya sehingga harus saling bekerjasama dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Dalam Islam, konsep ini disebut dengan sikap saling tolong menolong (ta’a>wun)25 dalam hubungan sosial sebagai simbol makhluk sosial. Hubungan atau modal sosial menurut Ibnu Khaldu>n dijelaskan melalui istilah ‘as}abiyah (‫)اﻟﻌﺼﺒﯿﺔ‬. Secara literal, ‘as}abiyah berasal dari kata ‘as}abah (

ُ‫ ) اَﻟْﻌَﺼَﺒَﺔ‬adalah bentuk jamak dari ‘a>s{ib ( ٌ‫) ﻋَﺎﺻِﺐ‬. Dijelaskan oleh Abdurrahman Walad Sha’i>d bahwa:

‫ ﻋَﺼَﺐَ اﻟﻘﻮ ُم‬:‫ وأﺻﻞ اﻟﻜﻠﻤﺔ ﻣﺄﺧﻮذ ﻣﻦ ﻗﻮﻟﮭﻢ‬،‫ ﻗﺮاﺑﺔ اﻟﺮﺟﻞ ﻷﺑﯿﮫ‬:‫اﻟﻌﺼﺒﺔ ﻓﻲ اﻟﻠﻐﺔ‬ 26

‫ﺑﺎﻟﺮﱠﺟُﻞِ اِذَا اﺟْﺘَﻤَﻌُﻮْا وَاَﺣﺎَﻃُﻮْا ﺑﮫ ﻣﻦ أﺟﻞ اﻟﺤﻤﺎﯾﺔ واﻟﺪﻓﺎع‬

As}abah menurut bahasa artinya semua kerabat seorang laki-laki yang berasal dari ayah. Asal kata ‘as}abah diambil dari mereka (kaum Arab) 24

Khaldun, Muqaddimah, 45. Ta’a>wun adalah suatu kegiatan tolong menolong dalam kebaikan antar sesama umat muslim 26 Abdurrahman Walad Sha’i>d. ‫ ( ﺗﻮرﯾﺚ اﻟﻌﺼﺒﺔ‬waris as}abah ), dalam http://www.achouaib.com/index.php/e59879l476/2641-2012-07-11-08-06-28.html, diakses 20 Mei 2018. 25


12

yang artinya: as}abah suatu kaum (dari kekerabatan laki-laki) ialah apabila mereka mereka bertemu dan saling mengelilingi untuk memelihara dan mempertahankan (satu sama lain). Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa secara fungsional as}abah atau‘as}abiyah menunjuk pada ikatan sosial kekerabatan yang saling menguatkan. Dalam terminologi sosial, bisa dipahami sebagai suatu solidaritas atau modal sosial yang saling menopang satu sama lain. Disampaikan oleh John L. Esposito, bahwa‘as}abiyah yang dipopulerkan oleh Ibnu Khaldu>n, dapat dipahami sebagai solidaritas sosial yang menekankan pada kesadaran, kepaduan, dan kesatuan suatu kelompok.27 Dengan begitu, ‘as}abiyah merupakan modal solidaritas sosial yang menimbulkan kerjasama sehingga menguatkan kesatuan ikatan kelompok tersebut. Sebagaimana dibahas pada awal tulisan, Ibnu Khaldu>n menjelaskan pentingnya faktor kebersamaan manusia dalam pemberdayaan dan pertumbuhan ekonomi. Kebersamaan yang dimaksud ialah solidaritas sosial antar masyarakat yang menimbulkan kerjasama dan kepercayaan diantara mereka sehingga mendorong potensi usaha masyarakat. Dalam penelitian ini, peneliti tertarik mengkaji lebih dalam mengenai modal sosial,

yaitu

kebersamaan

dan

solidaritas

sebagai

bentuk

kebertahanan

pemberdayaan ekonomi rakyat, yaitu pedagang pasar tradisional. Penelitian ini dimaksud untuk mencoba uji teori modal sosial menurut Ibnu Khaldu>n dengan realitas modal sosial yang telah terjadi di lokasi penelitian. Lokasi yang dipilih ialah pasar tradisional swasta Soponyono Rungkut Surabaya atau bisa disingkat dengan 27

John L. Esposito, The Oxford Dictionary of Islam (New York: Oxford University Press, 2003), 25.


13

nama pasar Soponyono Surabaya. Pertimbangan lokasi penelitian ialah karena pasar tersebut merupakan representatif dari pasar tradisional swasta yang masih bertahan di tengah beroperasionalnya beberapa ritel modern di wilayah tersebut. B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah, sebagai berikut: 1.

Terjadi penurunan omset di sebagian besar pasar tradisional swasta di Surabaya. Akan tetapi, belum didapati data pasti tentang faktor penyebab penurunan omset tersebut.

2.

Tidak banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui kondisi terbaru pasar tradisional swasta di Surabaya seiring dengan pertumbuhan ritel modern yang signifikan. Hal ini mengakibatkan minimnya informasi tentang fakta sektor usaha rakyat sehingga belum dapat diketahui strategi pedagang dalam sektor tersebut untuk dapat bertahan.

3.

Umumnya kajian tentang pasar tradisional hanya terkait kondisi fisiknya, namun kurang kajian mengenai bagaimana cara atau strategi pedagang mencoba bertahan, khususnya melalui modal sosial. Akibatnya, tidak dapat diketahui bentuk kebertahanan melalui modal sosial.

4.

Menurunnya omset pedagang pasar tradisional di perkotaan dianggap sebagai wujud menipisnya modal sosial di dalamnya. Namun, hal ini belum dipahami hubungan antara menipisnya modal sosial dengan menurunnya omset pedagang pasar tradisional tersebut.


14

5.

Ada anggapan bahwa Islam tidak memiliki konsep strategi modal sosial, khususnya yang bisa digunakan sebagai strategi kebertahanan usaha oleh pedagang. Padahal dalam ekonomi Islam, terdapat pemikiran tentang modal sosial yang ada hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi.

6.

Sebagian pedagang dalam lingkungan pasar tradisional belum memahami modal sosial menurut ekonomi Islam yang dicetuskan oleh bapak Ekonomi28, Ibnu Khaldu>n. Padahal, konsep modal sosial tersebut dapat digunakan oleh pedagang untuk bertahan. Akibatnya, hanya sebagian kecil yang sudah menggunakan modal sosial sebagai strategi bertahan. Dari beberapa masalah yang dapat diidentifikasikan sebagaimana disebut di

atas, maka batasan masalah yang diteliti ialah sebagai berikut: 1.

Bentuk modal sosial yang terjadi dalam interaksi jual beli di pasar Soponyono Surabaya sebagai unsur penting terwujudnya kebertahanan usaha pedagang pasar tersebut.

2.

Teori modal sosial menurut Ibnu Khaldu>n.

3.

Kebertahanan usaha melalui modal sosial pedagang pasar tradisional swasta Soponyono Surabaya dalam perspektif modal sosial Ibnu Khaldu>n.

C. Rumusan Masalah Berdasar latar belakang masalah dan pembatasan masalah di atas maka diperoleh rumusan masalah, sebagai berikut:

28

Disebut sebagai the father of economics oleh banyak ilmuwan, seperti Ibrahim M. Oweiss dalam http://faculty.georgetown.edu/imo3/ibn.htm dan Joe Mc Caffrey dalam https://www.tcd.ie/Economics/assets/pdf/SER/2009/Joe_McCaffrey.pdf.


15

1.

Bagaimana bentuk modal sosial sebagai strategi kebertahanan usaha pedagang pasar tradisional swasta Soponyono Surabaya?

2.

Bagaimana modal sosial dalam perspektif Ibnu Khaldu>n?

3.

Bagaimana kebertahanan usaha melalui modal sosial pedagang pasar tradisional swasta Soponyono Surabaya dalam perspektif Ibnu Khaldu>n?

D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1.

Untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk modal sosial sebagai kebertahanan usaha pedagang pasar tradisional swasta Soponyono Surabaya.

2.

Untuk mengetahui dan memahami bentuk modal sosial dalam perspektif Ibnu Khaldu>n.

3.

Untuk mengetahui dan menemukan kebertahanan usaha melalui modal sosial pedagang pasar tradisional swasta Soponyono Surabaya dalam perspektif Ibnu Khaldu>n.

E. Kegunaan Penelitian Kegunaan hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan menjadi kontribusi baik secara teoritis maupun secara praksis, diantaranya sebagai berikut: 1.

Kegunaan secara Teoritis a.

Bagi ilmu pengetahuan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan dan keilmuan dalam kajian dan pengembangan studi ilmu Ekonomi Islam.

b.

Bagi peneliti, diharapkan penelitian ini diharapkan mampu menafsirkan pemikiran Ibnu Khaldu>n mengenai teori ‘as}abiyah.


16

2.

Kegunaan secara Praktis a. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan pedoman altematifkonstruktif dalam rangka melahirkan pemikiran ekonomi Islam yang relevan dengan masalah kontemporer, serta sekaligus memberi rekomendasi kepada peneliti yang berminat melanjutkan penelitian yang berkaitan kajian modal sosial dalam konteks ekonomi Islam. b. Bagi lembaga pendidikan ataupun institusi lain yang berkaitan dengan Ekonomi Islam, diharapkan penelitian ini menambah khazanah keilmuan ekonomi Islam yang aplikatif dalam kehidupan nyata.

F. Kerangka Teoritik 1.

Strategi Kebertahanan Usaha Strategi menurut Harry Yarger merupakan bentuk umum dari suatu rencana,

konsep, aksi, ataupun pandangan dari suatu petunjuk yang mengarahkan proses seseorang, organisasi, dan pemerintahan atau Negara.29 Strategi oleh Yarger didefinisikan sebagai seni dan pengetahuan yang membangun dan mempekerjakan instrumen-instrumen kekuatan negara dalam suatu sinkronisasi atau integrasi pencapaian tujuan.30 Dalam kajiannya, strategi mencakup sebuah proses bagaimana konsep atau cara untuk melakukan kontrol atas keadaan demi mencapai tujuan yang

29

Strategy as a general term for a plan, a concept, a course of action, or a “vision� of the direction in which to proceed at the personal, organizational, and governmental—local state, or federal— levels. Lihat Harry Yarger, Strategic Theory For The 21st Century: The Little Book On Big Strategy (Carlisle: U.S. Army War College, 2006), v. 30 Ibid, 1.


17

diinginkan.

Strategi

akan

membantu

bagaimana

menyikapi

kebertahanan

(keberlangsungan), isu, peluang, dan ancaman.31 Strategi bertahan (survival strategy) bisa diartikan sebagai cara yang digunakan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mempertahankan eksistensinya yang bernilai atau dianggap bernilai, baik bersifat material maupun non material32. Dalam kajian ekonomi, strategi bertahan atau kebertahanan merupakan hal penting untuk dimiliki oleh pelaku usaha (bisnis) dalam mempertahankan usaha ekonominya ditengah kuatnya situasi persaingan usaha. Oleh Kelly Robins, kebertahanan ini dijelaskan dalam istilah business endurance. Endurance (kebertahanan) ialah kualitas penting dalam setiap orang untuk memulai bisnis baru dan yang ingin meraih tujuan besar. Kebertahanan adalah kekuatan berkompetisi, kemampuan untuk bertahan dalam waktu lama33. Dikaitkan dengan industri kecil, Ariana menyatakan bahwa salah satu faktor yang berperan dalam keberlangsungan atau bertahannya industri kecil, khususnya di pedesaan, adalah kemampuan industri kecil untuk memanfaatkan modal (jaringan) sosial.34 2.

Modal Sosial Modal sosial mengandung makna bahwa manusia adalah makhluk sosial

yang hidup saling membutuhkan dan tolong menolong. Oleh karena itu struktur modal terbentuk dapat melalui ikatan kekeluargaan, ikatan kedaerahan dan ikatan 31

Ibid., 2. Aimie Sulaiman, “Strategi Bertahan (Survival Strategy): Studi Tentang Agama Adat Orang Lom’, Jurnal Society, Volume II, Nomor 1 (Juni 2014), 1. 33 Kelly Robins, “How to Build the Endurance You Need to Achieve Your Business Goals�, The Business Journals, 13 Mei 2016, dalam https://www.bizjournals.com/bizjournals/how-to/growthstrategies/2016/05/how-to-build-the-endurance-you-need-to-achieve.html (21 Mei 2018). 34 Nyoman Ariana dan I Nyoman Sudiarta. Impliementasi Marketing Mix pada Masing-masing Tahap Life Cycle Pariwisata Bali, Jurnal Manajemen Pariwisata, Vol 6, no. 2 (Desember 2006). 32


18

pertetanggaan. Konsep modal sosial pada mulanya diperkenalkan oleh sosiolog Perancis, Pierre Bourdieu. Bourdieu mengatakan: “Social capital is an attribute of an individual in a social context. One can acquire social capital through purposeful actions and can transform that capital into conventional economic gains. The ability to do so, however, depends on the nature of the social obligations, connections, and networks available to you.35 Maksud dari penyampaian Bourdieu tersebut, bahwa modal sosial merupakan atribut individu dalam sebuah konteks sosial. Seseorang dapat memperoleh modal sosial melalui tindakan-tindakan ekonomi dan dapat mengubah modal itu menjadi faktor yang bertujuan meraih keuntungan ekonomi (konvensional). Namun, kemampuan untuk melakukannya tergantung pada kewajiban sosial, koneksi, dan jaringan yang tersedia dalam lingkungan sosialnya. Bourdieu juga mendefinisikan modal sosial sebagai sekumpulan sumberdaya aktual maupun potensial dan kekuasaan yang terkait dengan pemilikan suatu jaringan yang tahan lama dari hubungan-hubungan yang sudah terlembagakan dan bisa dipergunakan dengan tujuan saling menguntungkan.36 Dengan begitu, modal bukan hanya sebagai sesuatu yang berbentuk materi, melainkan keseluruhan sumberdaya baik yang bisa dimiliki seseorang berkat adanya jaringan sosial. Dari modal social, seseorang bisa memperoleh berbagai manfaat atau sumberdaya baik berupa material maupun non material dari orang lain sejauh ia dapat membina hubungan baik secara kelembagaan dengan orang tersebut.

35

Rhonda Phillip and Robert H. Pittman, an Introduction to Community Development (Canada: Roudledge, 2009), 50. 36 Fauzi Fashri, Penyingkapan Kuasa Simbol: Apropriasi Reflektif Pemikiran Pierre Bourdieu (Yogyakarta: Juxtapose, 2007), 60.


19

Sedangkan menurut Francis Fukuyama, modal sosial adalah serangkaian nilai dan norma informal yang dimilki bersama diantara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjadinya kerjasama diantara mereka.37 Menurut Fukuyama, ada tiga unsur utama dalam modal sosial38 adalah trust (kepercayaan), reciprocal (timbal balik), dan interaksi sosial. Trust (kepercayaan) dapat mendorong seseorang untuk bekerjasama dengan orang lain untuk memunculkan aktivitas ataupun tindakan bersama yang produktif. Trust merupakan produk dari norma-norma sosial kerjasama yang kemudian menunculkan modal sosial. Fukuyama menyebutkan trust sebagai harapan-harapan terhadap keteraturan, kejujuran, perilaku kooperatif yang muncul dari dalam sebuah komunitas yang didasarkan pada norma-norma yang dianut bersama anggota komunitas-komunitas itu.39 Unsur selanjutnya adalah reciprocal (timbal balik), yaitu dalam bentuk memberi, saling menerima dan saling membantu yang dapat muncul dari interaksi sosial.40 Sedangkan unsur ketiga yaitu interaksi sosial. Interaksi yang semakin meluas akan menjadi jaringan sosial yang mendorong semakin meluasnya lingkup kepercayaan dan hubungan timbal balik yang sudah ada.41 Dalam pasar tradisional, modal sosial yang terjalin antarpedagang menimbulkan kepercayaan yang diwujudkan oleh pedagang kepada pembeli melalui 37

Francis Fukuyama, Social Capital and Civil Society (Washington: International Monetary Fund, 2000), xii. 38 Social capital is an instantiated informal norm that promotes cooperation between two or more individuals. By this definition, trust, networks, civil society, and the like, which have been associated with social capital, are all epiphenominal, arising as a result of social capital but not constituting social capital itself�. (Ibid., 3). 39 Ibid., xiii. 40 Soetomo, Strategi-strategi Pembangunan Masyarakat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), 87. 41 Rahel Widiawati Kimbal. Modal Sosial dan Ekonomi Industri Kecil: Sebuah Studi Kualitatif (Sleman: Deepublish, 2015), 27


20

pemberian hutang, ataupun hutang antar pedagang sendiri. Pada kenyataan di pasar tradisional, modal sosial yang terjalin, memang membentuk sebuah jaringan di antara pedagang maupun dengan pembeli. Tindakan bersosialisasi yang dilakukan para pedagang juga memunculkan nilai dan norma. Nilai budaya dari interaksi antara para pedagang, di antaranya ialah munculnya gotong royong, saling membantu, saling menyapa, dan peduli satu sama lain. Modal sosial yang tercipta sekaligus membangun hubungan kekeluargaan dan persaudaraan terhadap sesama. Hubungan yang terbentuk antar pedagang terjadi karena intensitas dari tindakan sosial yang mereka lakukan pada aktivitas ekonomi di pasar tradisional. Di dalam hubungan-hubungan tersebut terdapat tingkah laku sosial yang terlibat di dalamnya seperti kepedulian antar sesama, sifat gotong royong dan lain-lain. Jaringan yang terjalin antarpenjual serta antara penjual dan pembeli cukup unik dan alami. Jaringan mikro terbentuk melalui pengalaman pembeli yang mendapat kepuasan sehingga ia berlangganan dan merekomendasikan kepada pembeli lainnya. Jaringan mikro akibat hubungan yang terjadi antarpedagang maupun dengan pembeli pernah dikemukakan oleh Damsar. Menurutnya, individu yang melakukan interaksi sosial dengan individu lainnya akan mengkristal menjadi suatu hubungan sosial. Hubungan ini dilakukan secara terus-menerus menjadikan suatu jaringan sosial di antara mereka. Jaringan sosial antarindividu atau antarpribadi disebut jaringan mikro. Jaringan mikro yang terjalin antarpedagang akan memberikan


21

manfaat informasi kepada para pedagang serta pembeli, karena didalam komunikasi, akan terbentuk pertukaran informasi yang dibutuhkan kedua belah pihak.42 Dalam Islam, modal sosial disampaikan oleh pemikir ekonom muslim, salah satunya Ibnu Khaldu>n melalui teori â&#x20AC;&#x2DC;as}abiyah, yang dipahami sebagai ikatan sosial. Dijelaskan oleh Ibnu Khaldu>n bahwa manusia tidak akan mampu untuk hidup sendiri dan membutuhkan orang lain. Manusia tidak dapat berbuat banyak tanpa bergabung dengan beberapa tenaga lain jika hendak memperoleh makanan. Dengan kebersamaan sebagai makhluk sosial, kebutuhan manusia dapat saling terpenuhi.43 Ibnu Khaldu>n menjelaskanâ&#x20AC;&#x2DC;as}abiyah sebagai teori berbasis komunitas, yaitu berbasis bada>wah (komunitas tradisional, desa) dan berbasis h{ad{a<rah (komunitas modern, kota).44 Antara satu komunitas dengan komunitas lain harus saling bekerjasama dan menguatkan suatu ikatan modal sosial â&#x20AC;&#x2DC;as}abiyah. Hal ini diharapkan juga berlaku dalam penguatan jaringan usaha pasar tradisional. G. Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu yang menjadi referensi penelitian dijelaskan dalam tabel berikut No 1.

Penulis Mohammad Mushoffa

Judul Konsep Ibnu Khaldu>n dalam Politik Ekonomi

2.

Khoiruddin

Analisis

42

Isi Menjelaskan pemikiran Ibnu Khaldu>n bahwa dalam sistem ekonomi yang dibangun oleh pemerintah, harus bisa mengendalikan harga dan memberi fasilitas untuk rakyat. Dengan begitu pertumbuhan ekonomi bisa terwujud. Teori Karya ini memfokuskan pada pemikiran

Ibid., 73. Khaldun, Muqaddimah, 72. 44 Bada>wah adalah budaya hidup berpindah-pindah, lawan dari had{a>rah, yaitu budaya hidup menetap. Ini sering disebut Ibnu Khaldu>n dalam kitab Muqaddimah-nya. (Ibid., 74). 43


22

â&#x20AC;&#x2DC;As}abiyah Ibnu Khaldun Sebagai Model Pemberdayaan Ekonomi Umat

3.

Dwisara Ajeng Rahmawati

Modal Sosial dan Pasar Tradisional (Studi Kasus di Pasar Legi Kotagede Yogyakarta)

4.

Ismayadi

5.

Tristan Claridge

Pengaruh Modal Sosial Islam Terhadap Pendapatan Buruh Tani (Studi Kasus di Desa Sepit) Social Capital and Natural Resource Management: an important role for social capital?

6.

Michael Woolcock

The Place of Social Capital in Understanding Social and Economic Outcomes

Ibnu Khaldu>n yang membangun solidaritas sosial â&#x20AC;&#x2DC;as}abiyah sebagai ekonomi kerakyatan. Hal ini menjadi peran sentral karena â&#x20AC;&#x2DC;as}abiyah memiliki nilai filosofis yang tinggi untuk membangun sinergitas sektor-sektor ekonomi dalam suatu negara. â&#x20AC;&#x2DC;As}abiyah mewujudkan bada>wah (komunitas pedesaan) dan h{ad{a>rah (komunitas perkotaan). Keduanya merupakan model pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas, bahwa antara satu komunitas dengan lainnya harus saling bekerjasama dan melengkapi agar dapat memenuhi kebutuhan hidup secara ekonomi. Mentipologikan modal sosial yang terjalin antara sesama pedagang maupun dengan pembel di lokasi penelitian melalui dua jenis berdasarkan nilai-nilai social yang terjadi, yaitu modal sosial bonding (kekerabatan) dan modal sosial bridging (persahabatan atau pertemanan). Menjelaskan bahwa modal sosial Islam, yaitu modal sosial yang memiliki nilainilai amanah, tolong menolong, tanggung jawab, dan persaudaraan memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan buruh tani di lokasi penelitian. Penelitian ini mengkaji teori modal sosial oleh Pierre Bourdieu, James Coleman and Robert Putnam yang kesemuanya memiliki gap atau perbedaan bahkan pertentangan yang kompleks. Dengan begitu, diharapkan mendapatkan konsep kuat bagaimana teori modal sosial yang selama ini sering didiskusikan dalam disiplin ilmu sosiologi, antropologi, politik, dan ekonomi. Menjelaskan modal sosial dengan pendekatan budaya. Pembangunan ekonomi dijelaskan bukan hanya membuat suatu pertahanan, tapi menjaga pertahanan itu (eksistensi). Hubungan sosial yang baik merupakan faktor krusial


23

7.

Suruchi Thapar dan Gurchathens Sanghera

Building Social Capital and Education: The Experiences Of Pakistani Muslims in The UK

8.

Asyraf Wajdi Dusuki

Ibn Khaldun’s Concept Of Social Solidarity And Its Implication To Group-Based Lending Scheme

Dari penelitian terdahulu di ‘as}abiyah

dalam pembangunan tersebut. Menjelaskan bagaimana pemuda pemudi Pakistan membangun modal sosial di tengah realita marginalisasi dan diskriminasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkatan modal sosial terbentuk sesuai dengan latar belakang ekonomi dan pendidikan. Menjelaskan bahwa ‘as}abiyah atau solidaritas sosial menurut Ibnu Khaldu>n ialah dipengaruhi perubahan situasi masyarakat pedesaan. ‘As}abiyah disebut memiliki peran penting dalam pembangunan dan stabilitas politik. Rasa solidaritas ini sama halnya dengan istilah esprit de corps, yang bermakna perasaan bangga dan rasa loyalitas tertentu yang dimiliki oleh seluruh anggota dalam suatu kelompok. Perasaan ini menjadikan kepentingan kelompok lebih penting daripada individu sehingga mampu mendorong keharmonisan dan keberhasilan pembangunan. atas, dapat diketahui bahwa studi tentang

memang bukan topik baru dan dapat dilihat titik perbedaan fokus

penelitian ini dengan sebelumnya. Penelitian Asyraf Wajdi Dusuki contohnya, mengkaji permasalahan konsep solidaritas sosial (‘as}abiyah ) Ibnu Khaldu>n hanya dalam perspektif sosial dan tidak mengkaitkan dengan perspektif ekonomi. Sedangkan dalam penelitian ini ‘as}abiyah diteliti sebagai alat analisa sebuah strategi kebertahanan usaha pedagang pasar tradisional swasta Soponyono Surabaya. H. Metode Penelitian Metode diartikan sebagai suatu cara atau teknis yang dilakukan dalam proses penelitian. Sedangkan penelitian diartikan sebagai upaya dalam bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta dan prinsip-prinsip


24

dengan sabar, hati-hati dan sistematis untuk mewujudkan kebenaran. Metode penelitian yaitu cara yang dilakukan dalam proses penelitian pada bidang pengetahuan untuk memperoleh fakta dan mencapai suatu tujuan penelitian45. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Menurut Creswell, penelitian kualitatif didefinisikan sebagai suatu proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial berdasarkan pada penciptaan gambaran holistik dalam bentuk narasi yang bersumber dari pandangan informan secara terperinci dan susun dalam sebuah latar ilmiah. 46 Sedangkan Neuman melihat penelitian kualitatif sebagai pendekatan yang berusaha untuk menganalisis secara sistematis mengenai gejala sosial alami yang muncul pada lingkungan yang diteliti.47 Penelitian kualitatif lebih mengarah pada intepretasi data yang diharapkan memperoleh data yang lebih mendalam, detail, dan komprehensif mengenai kebertahanan usaha melalui modal sosial yang terjadi dalam interaksi jual beli. Fokus penelitian ini pada bentuk modal sosial di lokasi penelitian (pasar tradisional) dan analisis modal sosial dalam perspektif Ibnu Khaldu>n, yaitu â&#x20AC;&#x2DC;as}abiyah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Studi kasus diartikan sebagai pendekatan penelitian yang menginvestigasi sebuah kasus dalam waktu yang ditentukan dan menghasilkan kesimpulan di akhir (penelitian). Tujuan dari penelitian adalah mendeskripsikan apa yang terjadi pada subyek (fokus

45

Mardalis, Metode Penelitian (Jakarta, Bumi Aksara, 1995), 24. John W. Creswell, Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches (California: SAGE Publications, Inc, 1994), 162. 47 W. Lawrence Neuman, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches (NewYork: Pearson Education, 2003), 76. 46


25

penelitian) tanpa memperbandingkan dengan kelompok (subyek) lainnya.48 Menurut Yin, studi kasus merupakan pendekatan yang menganalisa “bagaimana”

dan

“mengapa” sebuah pertanyaan muncul dari suatu situasi tertentu.49 Dari pendekatan tersebut, diharapan penelitian ini menjadi salah satu referensi yang berkontribusi dalam kajian sosial ekonomi, terutama mengenai proses kebertahanan usaha. Informan yang digunakan ialah pedagang pasar tradisional Soponyono Surabaya. Dalam rangka memahami realitas pedagang pasar tradisional swasta yang diteliti, peneliti akan mengeksplorasi data mengenai: 1. Kebertahanan usaha, bisa diartikan sebagai kualitas penting dalam setiap orang untuk memulai bisnis baru dan yang ingin meraih tujuan besar. Kebertahanan adalah kekuatan berkompetisi, kemampuan untuk bertahan dalam waktu lama. Kebertahanan disini merupakan strategi keberlangsungan suatu usaha ditengah ancaman kompetisi usaha (dalam hal ini oleh ritel modern). 2. Modal Sosial dalam perspektif Ibnu Khaldu>n, yaitu ‘as}abiyah. ‘As}abiyah merupakan serangkaian nilai yang melahirkan suatu kepercayaan, perasaan saling peduli , konektivitas, dan jaringan antar individu maupun indvidu dengan kelompok.‘As}abiyah juga dapat dipahami sebagai solidaritas atau modal sosial dengan menekankan pada kesadaran, kepaduan dan persatuan kelompok. Modal sosial ini dikaji sebagai strategi kebertahanan usaha pedagang pasar tradisional. I. Sistematika Pembahasan

48

Beverly R. Dixon, Gary D. Bouma, dan B.J. Atkinson, A Handbook of Social Science Research (Oxford: Oxford University Press, 1995), 110. 49 Robert K. Yin, Case Study Research: Design and Methods (Thousand Oaks: Sage Publications, 2003), 20.


26

Penyusunan ini terdiri dari bab-bab sesuai dengan kajian bahasan, yaitu: Bab pertama ialah pendahuluan yang membahas tentang latar belakang masalah, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penelitian terdahulu, dan sistematika pembahasan. Bab kedua ialah kajian pustaka strategi bertahan dan modal sosial, yaitu berisi tentang teori strategi bertahan, modal sosial secara umum dan modal sosial dalam perspektif Ibnu Khaldu>n. Bab ketiga ialah metode penelitian, yaitu pendekatan dan jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, setting dan informan penelitian, teknik pengumpulan data, pengabsahan data, dan analisis data. Bab keempat ialah gambaran umum pasar tradisional swasta Soponyono Surabaya dan penyajian data. Bab kelima adalah modal sosial dalam perspektif Ibnu Khaldu>n, yaitu mendeskripsikan praktek modal sosial pedagang pasar tradisional swasta Soponyono dan menganalisa secara kritis kebertahanan usaha pasar tradisional melalui modal sosial dalam perspektif Ibnu Khaldu>>>>>>>>>n Bab keenam adalah penutup yang kesimpulan, implikasi teoretik, keterbatasan studi dan rekomendasi. J. Outline Penelitian Outline ini menjelaskan kerangka pembahasan sebagai acuan penelitian. HALAMAN JUDUL ABSTRAK DAFTAR ISI


27

DAFTAR TABEL BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Identifikasi Dan Batasan Masalah C. Rumusan Masalah D. Tujuan Penelitian E. Kegunaan Penelitian F.

Kerangka Teoretik

G. Penelitian Terdahulu H. Sistematika Pembahasan BAB II. STRATEGI BERTAHAN DAN MODAL SOSIAL A. Strategi Kebertahanan B. Modal Sosial Ibnu Khaldu>n BAB III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian B. Tempat dan Waktu Penelitian C. Setting dan Informan Penelitian D. Teknik Pengumpulan Data E. Pengabsahan Data F.

Analisis Data

BAB IV. PASAR TRADISIONAL SOPONYONO SURABAYA A. Gambaran Umum Pasar Tradisional Soponyono Surabaya B. Penyajian Data.


28

BAB V. MODAL SOSIAL DALAM PERSPEKTIF IBNU KHALDU>N A. Modal Sosial Pedagang Pasar Tradisional Swasta Soponyono B. Kebertahanan Usaha Pasar Tradisional melalui Modal Sosial dalam Perspektif Ibnu Khaldu>>>>>>>>>n BAB VI. PENUTUP A. Kesimpulan B. Implikasi Teoretik C. Keterbatasan Studi D. Rekomendasi DAFTAR KEPUSTAKAAN LAMPIRAN-LAMPIRAN K. Daftar Kepustakaan Sementara Ariana, Nyoman dan I Nyoman Sudiarta. “Implementasi Marketing Mix pada Masing-masing Tahap Life Cycle Pariwisata Bali”, Jurnal Manajemen Pariwisata, Vol 6, No. 2, Desember 2006. Ashfahani (al) ar-Roghib, Qosim Al-Husain bin Muhammad, Abul. Al-Mufrodat Fi Ghoribil Qur’a>n. T.t: Maktabah Nazar Musthofa Al-Baz, t.th. Assauri, Sofjan. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1987. Bogdan dan Biklen. Qualitatif Reserarch for Education: An Introduction to Theory and Methods. Boston: Allyn and Bacon, 1982. Claridge, Tristan. Social Capital and Natural Resource Management: an important role for social capital?, https://www.socialcapitalresearch.com/literature/nrm/, 2004, (1 Mei 2018). Creswell, John W. Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches. California: SAGE Publications, Inc, 1994.


29

Departemen Agama RI. Al-Qur’a>n dan Terjemahnya. Semarang: PT. Tanjung Mas Inti, 1992. Dixon, Beverly R., Gary D. Bouma, dan B.J. Atkinson. A Handbook of Social Science Research. Oxford: Oxford University Press, 1995. Dusuki, Asyraf Wajdi. Ibn Khaldun’s Concept Of Social Solidarity And Its Implication to Group-Based Lending Scheme, www.iefpedia.com/.../IbnKhaldun’s-Concept-Of-Social, 2006, (3 Mei 2018). Fashri, Fauzi. Penyingkapan Kuasa Simbol: Apropriasi Reflektif Pemikiran Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Juxtapose, 2007. Friedmann, John. Insurgencies: Essays in Planning Theory. New York: Routledge, 2011. Giddens, Anthony. Teori Strukturasi, Dasar-Dasar Pembentukan Struktur Sosial Masyarakat, Terj. Maufur. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010. Ismayadi. Pengaruh Modal Sosial Islam Terhadap Pendapatan Buruh Tani, etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&, 2015 (21 Maret 2018). Jati, Wasisto Raharjo. “Dilema Ekonomi: Pasar Tradisional versus Liberalisasi Bisnis Ritel di Indonesia”, Jurnal Ekonomi Studi Pembangunan, Vol. 4, No. 2, 2012. Khaldun, Ibnu. Muqaddimah. Terj. Ahmadie Thoha. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000. Khaldun (Ibn), Abd Ar Rahman bin Muhammed. The Muqaddimah. Terj. Franz Rosenthal. New Jersey: Princeton University Press, 1967. Khoiruddin.

“Analisis Teori

‘As}abiyah

Ibnu

Khaldu>n

Sebagai

Model

Pemberdayaan Ekonomi Umat”. Lampung: IAIN Raden Intan, 2017. Kotler, Philip. Marketing Management. New Jersey: Prentice Hall, 2012. Le Grand, Julian dan Ray Robinson. The Economic of Social Problems. New York: The Macmillan Press Ltd, 1976. Mardalis. Metode Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara, 1995. Mushoffa, Mohammad. Konsep Ibnu Khaldu>n dalam Politik Ekonomi, Tesis. Yogyakarta: Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, 2015.


30

Neuman, W. Lawrence. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches. NewYork: Pearson Education, 2003. Oscar Lewis, “The Culture Of Poverty”, Jurnal American vol. 215, no. 4, Oktober 1966. Piven, Frances Fox. “Low-Income People and the Political Process” dalam The Politics of Turmoil: Essays on Poverty, Race, and the Urban Crisis. New York: Pantheon Books. 1974. Putra, Ahimsa dan Heddy Shri. “Prologue: Dari Ekonomi Moral, Rasional, ke Politik Usaha” dalam Ekonomi Moral, Rasional, dan Politik dalam Industri Kecil di Jawa. Yogyakarta: Kepel Press, 2003. Rahmawati, Dwisara Ajeng. “Modal Sosial dan Pasar Tradisional (Studi Kasus di Pasar Legi Kotagede Yogyakarta)”, Jurnal Sosiologi DILEMA, 2017. Sekretaris

Kabinet

RI.

“Peraturan

Presiden

no

112

tahun

2007”,

http://setkab.go.id/wp-content/uploads/2017/12 (12 Januari 2017). Silalahi, Ulber. Metode Penelitian Sosial Jilid II. Bandung: PT. Refika Aditama, 2010. Sulaiman, Aimie. “Strategi Bertahan: Studi Tentang Agama Adat Orang Lom”, Jurnal Society, Volume II, Nomor 1, Juni 2014. Sha’i>d,

Abdurrahman

Walad.

Waris

‘As}abah,

http://www.a-

chouaib.com/index.php/e59879l476/2641-2012-07-11-08-06-28.html, (20 Mei 2018). Thapar, Suruchi dan Gurchathen Sanghera. Building Social Capital and Education: The Experiences Of Pakistani Muslims in The UK, https://risweb.standrews.ac.uk/...pakistani.../export.html, 2010, (2 Maret 2018). UNESCO. Social Capital and Poverty Reduction, Which Role For The Civil Society Organization and The State?. Paris: UNESCO, 2002. Woolcock, Michael. The Place of Social Capital in Understanding Social and Economic Outcomes, www.oecd.org/innovation/1824913.pdf, 2001 (18 Maret 2018).


31

Yin, Robert K. Case Study Research: Design and Methods. Thousand Oaks: Sage Publications, 2003.

KEBERTAHANAN USAHA MELALUI MODAL SOSIAL  

KEBERTAHANAN USAHA MELALUI MODAL SOSIAL

KEBERTAHANAN USAHA MELALUI MODAL SOSIAL  

KEBERTAHANAN USAHA MELALUI MODAL SOSIAL

Advertisement