Issuu on Google+


Tidur merupakan hal wajar yang dilakukan makhluk hidup karena dibekali nafsu oleh Tuhan. Untuk manusia dewasa dibutuhkan sekitar 6-8 jam. Karena merupakan hal wajar, maka lakukanlah sewajarnya. Kalau bisa dikurangi. Tapi bukan berarti tidak boleh ditambahi, silakan jika mau nambah, berapa jam? 1, 2 atau 3jam? Silakan! Yang pasti, banyak hal yang dapat kita kerjakan selain tidur itu, dan insya Allah bermanfaat. Pasti!. Jangan takut melakukan sesuatu pada jam tidur selain tidur, tapi takutlah tidur pada jam yang bukan miliknya tidur. Tentunya jika kita telah memilih melakukan sesuatu disaat orang lain sedang sibuk dengan dunia lainya dalam terpejam itu, kita harus serius benar. Masalahnya, yang mendengkur pun juga sangat serius dengan aktivitasnya. Jangan biarkan kita mendapat sesuatu yang sama dengan apa yang didapat orang tidur. Masak kita mau?

Dengan kesadaran itu, komunitas sastra “lembah kelelawar” selalu berusaha ketika sering tidak tidur memanfaatkan untuk berkarya atau sekedar ngobrol kecil tentang hal kecil, karena kami yakin, masalah besar pun terlahir atas masalah kecil. Besar muncul karena ada kecil. Hingga pada edisi ke-5 ini, bulan juni 2010, buletin sastra “lembah kelelawar” alhamdulillah tetap lahir berkat kekurangan tidur yang tidak pernah kami anggap. Karena kami yakin, apa yang kami lakukan tidak akan sia-sia. Kami tetap semangat dan selalu berbagi senyum Tuhan. Semoga kami nantinya akan direpotkan anda, tanpa kami kerepotan. Mari tetap berproses kreatif tanpa harus menciptakan pembatas, siapa saya, siapa anda, siapa dia. Yang penting proses harus tetap memproses. Satu lagi, jangan lupakan Tuhan! (Red/ bra).

Jangan takut untuk tidak tidur. Dan Jangan sampai ketika kita tidak tidur hanya seperti orang tidur. Ini lebih bahaya. Jangan takut untuk tidak tidur. Bagi yang tidur, selamat menikmati sesuatu yang nikmat, tetapi tidak melebihi nikmat yang lain. Buka mata, buka telinga, buka mulut, buka pikiran kita, untuk membangunkan hati kita yang semakin hari semakin lelap dengan hal yang membuat mata silap.

komunitas sastra lembah kelelawar adalah komunitas yang ingin mengajak belajar menutup liang kubur dan mencipta surga tersendiri di dalamnya. lahir pada hari selasa, 11 agustus 2009, 11.50 pm. didirikan oleh sulung pamanggih, widyanuari eko putra dan setia naka andrian kemudian merangkul ibrahim, charier, fitriyani dan maftuhah tulisan dapat dikirim langsung, hub: 085290066710/ via email:

lembahkelelawarsastra@yahoo.co.id blogs: lembahkelelawarsastra.blogspot.com

Markas Kecil ‘Lembah Kelelawar’

Jl. Pandean Lamper 3 No. 337 A Kawasan Jembatan TI Semarang


SATRIA Nang, duduk sini dipangku Ibu ku ingin mengusap keringat di dahimu sebelum ku kembali mengusap sepatu orang demi masa depanmu Nang, aku ajari kau cara mandi agar kelak bisa memandikanku saat ku tak bisa mengusap keringatmu lagi saat ku harus tidur abadi Nang, kau harus tau kenapa ku beri nama satria bukan untuk sekedar bagus-bagusan bukan untuk gampang dikenal orang tapi jadikanlah dirimu seorang ksatria

penulis lahir di Kendal 18 februari 1988 lulusan SMA 2 Kendal tahun 2007. cerpennya pernah dimuat di majalah sastra “HORISON�. Puisi-puisinya bisa dilihat di rubrik remaja cyber suaramerdeka.com, puisicinta.blors.com, puisiku.net dll. pernah dinobatkan sebagai aktor terbaik nasional dalam festival drama pelajar nasional tahun 2006 dan masuk dalam nominasi aktor terbaik dalam festival drama pelajar se-jawa tengah tahun 2007 Sampai sekarang menggeluti dunia teater dan sedang menyiapkan antologi puisi pertamanya.

yang bisa mencari arah bila ku mati yang bisa hidup lebih layak tak mengusap sepatu orang seperti aku Nang, ditengah hingar bingar Ibu Kota yang aku sendiri tak tahu kelaminnya meskipun kita dianggap hina janganlah sesekali kau tak trima karena Tuhan sudah menggariskan hidup kita Nang, satria anakku lekaslah pakai seragammu rajinlah menuntut ilmu agar kelak kau bisa mengubah hidupmu menebar kebaikan tak pandang bulu

KAMI dan JUNI kami ingin menjadi juni. yang selalu terlahir di tengah masehi. kami takkan mengeluh meskipun sehari lebih muda dari adik kami juli. meskipun kami harus menangis, meratapi kebahagiaan yang menjadi histeris. karena nilai kami yang terlalu tragis. pada selembar kertas yang penuh mistis kami tetap ingin menjadi juni. walau tak mendapatkan berkah jual beli kursi, dari mereka yang memaksakan mimpi. kami tetap setia mengubah merah jadi biru, biru jadi abu-abu dan abu-abu menjadi guru. agar kami dikenang selalu dan kami ingin menjelma juni. agar kami tak pernah kehabisan pangan. meskipun selama hidup kami selalu merindu hujan merindu kasih sayang


Negeri Bingkisan Roti Dering denting lagu kebangkitan negeri riuh disana-sini Teriring langkah-langkah penerus negeri yang berb0nd0ng hampiri bilik suara Ritual pun disiapkan cal0n pemimpin negeri, dari cari simpati sampai berlaku yang nggilani dan tiba-tiba dari depan pintu rumah saudari, ada suara mengetuk yang terdengar keji rupanya ada utusan cal0n pemimpin negeri yang memberi bingkisan yang katanya berisi r0ti Lalu disuguhilah aku r0ti yang ia dapati dari utusan pemimpin negeri setelah dibuka bingkisan itu ternyata juga berisi kertas kecil terbaca : pilih pasangan cal0n n0mer 9 : rupa ind0nesiaku...

Dialog Ruang Ujian Bu, aku lupa bagaimana rumus inersi Mereka malah berkata, “tak ada rumus inersi” Bu, aku bingung bagaimana menjawab soal uji Mereka malah berkata, “coret saja sesuka hati” Bu, waktu sudah hampir beranjak pergi Mereka malah berkata, “dasar goblok belum diisi” (0610ke3)

[ duka paripurna ] Aku diantar dalam pembaringan Aku untuk paripurna telah berserakan taburan mawar putih yang menguning sudah benar tak pantas bahkan aku diiringi lelayu berduka dengan cita bebaunan wangi pelayat mati sepi jasadku dalam peletakan yang tak terurusi ah, dukaku tak berimakna….. [180410rumahdalem ke21.03]


kehidupan Hidup ini adalah tiruan dari kehidupan Sesuatu yang sak wasangka Jalin menjalin, mengalir, berpacu dalam metafora bahasa ia bernama yang menyala, yang merancau, yang sekarat dalam kesiut angin yang geram gaduh atau membatu bak sesal yang kesal bernyawa belum tentu menyala bernyawa tak jua bernyawa segalanya hanya tanya segalanya hanya tanya tak ada jawaban dalam iman paling intim sekalipun! //030310//

Sajak ELANG Elang Seperti pada mirat Kuberi jua jiwa yang dikira orang mati di alam ini Sajak putih ini untukmu Cinta barangkali semakin lelucon di zaman ini Dalam sinetron-sinetron simahklah banyaknya Tapi Elang Suratku usang dan kuno, tertahan polusi kekinian Kisah kitapun menjadi museum kata Lihat saja‌ gambarnya ada dimana-mana Terlalu tergesa cumbuan itupun me-layu Kaku dan bisu jadi sisa-sisa stigma Pun elang Aku tetap dungu cium geletir masa mudaku Tak mengerti aku sibak tersibak riak wajahmu Dalam kemerdekaan kita meraba asa Elang Ah, Aku terlalu pagi menerima lamaranmu Padahal malam telah kita sayati sepinya. 070209


Potong Pita ------------------------------------------Aku menemukanmu di warna batu-batu Tak bersuara di lengan kecil surga Gelincir ombak tak mampu menghisap ruh mu Padahal biasanya engkau selalu keriangan, Tak memurungkan sinar mata. Meski pitamu perlahan mulai serak Usirlah keindahan itu Dan janganlah memenjara ingatan dengan segenggam lekukan yang terangkai jari-jari Aku tetap ingin melihat wajahmu terpasang di foto keluarga Meski pasir putih akan menjadi beku Dan menghangat di langit kecilmu -------------------------------------------Lembaran daun yang sempat terpungut dari bawah pohon, Dengan lincah tangan kita berubah mahkota dewa Lebih baik rangkai itu terlepas lagi membakarnya, sebelum hujan tiba Semarang, 28 Januari 2010

Klinik Bersubsidi Suaranya beradu Antara menelantarkan atau memecah tubuh Kemarin dengungnya ingin membedah Karena rasa sakit yang tertahan Tapi tak punya cukup biaya Jaminan kesehatan tak menyela di rumahnya Sekarang, kabar itu dibawa angin Tetangga dan sanak family berikan subsidi Tapi, langkahnya terhenti Teringat biaya jajan dan makan anak istri karena butuh berhari-hari bangkit, jalan, dan dorong gerobak setelah operasi


NAMAKU MANOHARA Kartika Catur Pelita Benarkah kalau kita memiliki nama yang sama atau mirip dengan seseorang maka kita akan memiliki nasib yang sama atau mirip dengan si empunya nama tersebut? Hei, aku memiliki satu cerita ungu. Dengarlah curhatku... Namaku Manohara. Tapi jangan kau bandingkan kecantikanku dengan Manohara Pinnot yang istri pangeran Kelantan itu. Walau tak ada darah indo mengalir dalam tubuhku, tapi orang bilang aku cantik. Walau kulitku tak seputih Manohara, tapi teman bilang kulitku coklat sawo matang, dan eksotis. Aku memang cantik, aku manis. Kau tahu bedanya cantik dan manis. Cantik kadang hanya menarik untuk dilihat pada pandang pertama. Setelah berulang kali memandang kau akan bosan. But, bila memandang wanita manis kau merasa ada sesuatu yang membuatmu tak jemujemu. Seperti bila kau memandangku. Narsis sedkit-sedikit gak apa, toh? Tuhan memang telah menganugerahiku paras cantik dan manis. Tubuh proporsional, rambut hitam berkilau, dan otak yang cemerlang. Aku juga dibesarkan dalam keluarga berada. Papaku pemilik pabrik Furniture terbesar di kota ini. Aku banyak dikelilingi makhluk yang mengulurkan tali persahabatan atau malah lebih. Seperti kumbang-kumbang jantan yang tak bosan merayu. Tapi sampai usia 17 tahun aku belum tergoda pada candu asmara. Aku belum pernah pacaran, karena kau memang belum pernah jatuh cinta pada seorang cowok. Entah mengapa. Keadaanku yang jomblo sering menjadi bahan godaan bagi Anne dan putri, dua sahabat karibku. "Mengapa sih suka ngejomblo?" "Suka aja dong. Bebas, lepas...." "Mengapa sih gak pacarn, Mano?" "Pacaran tuh asik..." "Ada yang nemenin, nganterin, date, nonton..." "Trus..ciuman...." "Aku ogah dicium cowok! Ngeri...!" Jujur sampai usiaku sweet seventeen aku memang belum pernah dicium cowok. Jika

Anne dan Putri berkicau tentang first kiss mereka aku memilih menutup telinga. Kadang aku berpikir...aku takkan pacaran dan ciuman dengan cowok! "Pikiran yang aneh!" Celetuk Anne. "Aku yakin one day kau akan kena karma!" kutuk Putri "Karma? Karma apa...?" Putri lalu bertutur tentang karma menurut definisinya. Kontan aku mencubit pinggangnya. Keki. Anne malah turut menggoda. Aku semakin gusar. Ingin kucubiti gadis bertubuh gendut itu. Waduh, dia menghindar dan berlari. Kami bertiga akhirnya malah berkejaran. Wow, alangkah indahnya sebuah persahabatan! ************** Benarkah kalau karma ada? Kata Putri karma tuh...kalo kamu mencium kelak kamu juga akan dicium! Aah, ada-ada aja. Hi-hihi-hi.. Tapi aku lupa-lupa ingat sejak kapan perasaan aneh itu mengalur dalam tubuhku. Pertama kali bertemu di parkiran kampus, ketika bukuku jatuh dan dia mengambilkannya, lalu mata kami saling beradu. Seperti ada magnet yang saling menarik, membetot sukma, sehingga aku ringan mengulurkan tangan dan menyebut nama... "Manohara..." "Manohara Pinnot..?" "Nggak lah. Nama depan aja sama." "Tapi kamu secantik Manohara.�


Tersipu merah merona menebar di pipiku. “Namaku tampan!" Mantap dan simpatik dia mengenalkan diri. “Kamu parkir?� "Ya. Hampir setahun di kampus ini!" Hei, mengapa waktu yang lumayan panjang aku tak pernah melihat cowok yang tongkrongannya lebih pantas menjadi pemain sinetron atau anak band dari pada bermain peluit sebagai tukang parkir? "Mengapa bengong..?" "Nggak. Kayaknya aku nggak pernah lihat kamu!" "Tapi aku sering lihat kamu!" "Ya." "Kamu sering bareng temanmu yang gendut dan kurus itu." "Ya." "Aku juga tahu kosanmu!" "Ya." "Boleh satu hari aku main?" "Ya." Seperti lagu GIGI yang YA_YA_YA-YA aku hanya mengiyakan. Lusa kemudain dia muncul di tempat kosanku, ngobrol. Malam Minggu depannya kami date, jalan bareng dan resmi pacaran. Anne dan Putri yang pertama menyalami. Bukan untuk memberi selamat tapi malah menebar nasihat. "Mengapa sih kamu pacaran dengan Tampan?" "Mengapa kalian usil sih. Dulu ketika kau nggak punya pacar kalian usil, sekarang ketika aku memiliki seseorang mengapa kalian ribut sih...?" "Bukan itu maksud kami, mano..." "Kami pikir..Tampan nggak pantas untuk kamu!" ''Oya..apakah karena dia bukan anak kuliahan? Nggak punya mobil dan sejuta kekurangan lainnya?" "Bukan itu saja. Kami dengar gosip diluaran tentang dia!" "Kau pernah dengar kalau Tampan sudah mariried dan punya anak?" "Ya," jawabku datar. Karena Tampan memang pernah menceritakannya padaku. Di mataku tampan sosok yang jujur, terbuka, apa adanya. Inilah yang membuatku suka!

“Kamu nggak risi berpacaran dengan suami orang?" "Siapa bilang begitu?! Istrinya kerja di Arab. Sementara anak-anaknya dirawat mertuanya yang sebentar lagi jadi manatan, karena Tampan tengah ngurus perceraian..." "Kau percaya?" "Apakah aku harus curiga?" "Mano sebagai teman kami ingin..." "Please deh jangan ganggu aku. Urusin aja urusan kalian masing-masing!" Anne dan Putri berpandangan. Aku tak peduli. Aku tak suka kalau ada orang yang menjelek-jelekkan seseorang yang kupuja! ***** Sungguh aku sangat takut ditingglakan oleh Tampan. Kau harus percaya kalau sehari aku tak bertemu dengannya aku merasa hati ini hampa. Tak ingin makan minum, tak lena tidur, pergi kuliah pun enggan. Tapi ketika bertemu tampan semangat hidupku seperti mobil diisi bahan bakat-kembali kencang melaju! Karma itu mungkin benar telah menerpa. Aku malu kalau harus mengakui.. Akulah yang pertama mencium Tampan. Ketika di taman di sudut pantai itu, kala kami menghabiskan senja, ketika aku terpesona mengamati wajah Tampan yang memang benar-benar tampan. Aku tergoda untuk menyentuh pelataran wajah menawan itu dengan jemariku, lalu bibirku. Kemudian, yups..akhirnnya aku punya kisah first kiss! Ternyata benar yang dikatakan Anne dan Putri, pacaranitu asik dan melenakan. Sampai aku pernah memilih meningglakan kuliah, ketika Tampan mengajakku jalan. Seperti siang yang kerontang itu, padahal angin bertiup kencang. Aku sedang berada di ruang kuliah, menunggu dosen menjelang, ketika sms Tampan lebih dulu datang, dan kami sepakat menghabiskan petang untuk menuntaskan kerinduan yang tak bisa lagi terhalang... "Tolong absenin, ya Ann..." "Tapi hari ini ada kuis!" "Alaa lain kali bisa!"


Aku memilih ngeloyor pergi bareng Tampan. Kuberikan kunci mobilku. Tampan yang mengemudi. Tampan ingin mengajakku ke kampung halamannya. Satu kota kecil di kaki gunung Halimun. Katanya ibunya sakit keras dan Tampan harus datang. Wuih, aku bersorak gembira karena Tampan akhirnya mengenalkanku pada keluarganya. Siapa yang tak bahagia sekaligus berdebar sebentar lagi akan bertemu calon mertua. Sungguh aku memimpikan menikah muda. Aku ingin memilki anak dari lelaki yang kucinta! Mobil melaju. Jalan bebas hambatan. Tapi di tengah jalan yang sepi Tampan tiba-tiba menghentikan laju.

suara reporter yang seperti datang dari dunia lain dan semakin melemparkanku pada dunia gelap, asing, tak bertepi! "Dari KTP yang ditemukan dalam pakaian korban...korban berusia 18 tahun bernama Manohara Wijaya. Mahasisiwa sebuah PTN ternama...." Aku berteriak histeris! Mengapa tak ada orang yang mendegar teriakanku, melihat kesedihan dan keputusasaanku?! Benarkah mayat itu..yang menjadi korban curanmor adalah... aku?! Kota ukir, 11 Pebruari 2009

"Sayang sepetinya mesinya ngadat nih..." "Trus...?" "Biar aku periksa." "Aku gimana syang...?" "Kamu di dalam mobil aja sayang. Gak usah takut, kan ada aku...!" senyum Tampan menenangkan. Aku mengiyakan. Tampan turun dari mobil. Tampan sedang memeriksa mesin mobil ketika tiba-tiba 3 orang preman muncul dan mengeroyoknya. Tampan melawan. Mereka baku hantam. Aku bingung tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku keluar dari mobil ingin menolong Tampan. Aku menjerit keras ketika satu benda tumpul menghunjam kepalaku. Itulah kali terakkhir aku melihat Tampan! ******* Hei, ada apa ini? Aku menyibakkan rambut, mengurai kegelapan dan kebingungan! Mengapa orang-orang berdatangan? Ada polisi, ada wartawan. Ada masyarakat awam. ada reporter TV?! "Telah ditemukan sesosok mayat di ruas jalan tol. Pada rerimbunan pohon seorang penduduk menemukan mayat berjenis kelamin..." Aku menyibak orang-orang yang berkerumun! Siapa orang yang telah menjadi korban kriminal? Aku tak ingin hal buruk terjadi pada Tampan. Aku berada tak jauh dari mayat yang sudah membusuk, tapi wajahnya masih bisa dikenali. Aku terkesima. Aku seperti terpelanting ke dasar jurang paling dalam, ketika samar-samar aku masih bisa mendengar


Bermula dari kesadaran akan fenomena kemrosotan tradisi berprosa, serta adanya identifikasi malas berprosa pada kalangan kaum muda. Budaya instant delivery yang terus berkembang di khalayak umum. Sungguh jarang kita jumpai ketelatenan memperhatikan kekuatan kata-kata dalam kehidupan sehari-hari. Konkritnya, kebiasaan orang menulis short message service yang cenderung singkat jels padat. Langsung pada satu titik tujuan─lebih herannya lagi kata-kata itu pun disingkat begitu pendeknya. Cukup tiga huruf untuk memakanai sebuah tujuan. Miris. Perlu sebuah gebrakan untuk mengatasi permasalahan di atas. Mengetahui hal yang demikian, komunitas Sastra Lembah Kelelawar yang beranggotakan Widyanuari Eko Putra; Setia Naka Andrian; Khoirul Maftukah; Fitriyani; Sulung Pamanggih dan Ibrahim, bertekad bundar mempurbalakan tradisi malas berprosa melalui sebuah pertemuan intens melalui sebuah acara Diskusi Sidang Meja Cerpen. Kenapa Meja? Dan kenapa cerpen? Meja kami anggap sebagai persepsi sebuah penentuan sebuah keputusan. Layaknya meja redaksi, meja pengadilan, juga meja perundingan. Kesemuanya berintikan pada sebuah penentuan. Cerpen, sebuah media pengungkapan prosa utuh. Kenapa juga cerpen bukan puisi? Karena kami anggap acara penelanjangan cerpen pada lingkup ruang aprsiasi sastra semarang pada khususnya masih sedikit dan bisa dikatakan belum ada. Sistematika Meja Cerpen serupa sidang, dilengkapai hakim, terdakwa dan penggugat. Penulis dan karyanya didudukkan sebagai terdakwa dan wajib menjawab semua gugatan dari masing-masing penggugat. Penggugat tidak sekedar menggugat saja, akan tetapi harus ada sebuah oret-oretan terstruktur sebagai bahan gugatan tersebut. Hakim berlaku penengah serta memberi masukan real. Siapa saja boleh urun rembug dalam acara diskusi ini. Tidak sekedar apresiator cerpen saja, akan tetapi lebih luas pada semua insan yang menghendaki perubahan arah yang lebih mending terhadap tradisi malas berprosa. Tidak ada maksud untuk berlaku sok-sokan, karena dengan cara ini kami mengharapkan ada sebuah revitalisasi budaya berprosa di kalangan generasi muda.

Untuk kali pertama acara Meja Cerpen sidang pertama digelar pada hari Kamis, 10 Juni 2010 pukul 19.30 WIB. Berlokasi di Markas Kecil Lembah Kelelawar Jl. Pandean Lamper 3 No. 337 A. Kawasan Jembatan TI Semarang. Mendudukkan cerpen Bulan Terlanjur Pecah karya Khoirul Maftuhah sebagai terdakwa. Khoirul Maftukah adalah salah seorang cerpenis muda dari IKIP PGRI Semarang yang sedang mencoba berbasah-basahan dengan cerpen. Dan hal itu perlu adanya sebuah supporting power agar ia bisa terus menggali potensi berprosa. Adapun naskah cerpen bisa dilihat di buletin sastra Keris atau dapat di download di lembahkelelawarsastra.blogspot.com. Meja Cerpen, diharapkan mampu merevitalisasi budaya berprosa pada generasi muda. Karena berprosa pada hakikatnya adalah budaya melatih kepedulian, kepekaan serta salah satu langkah melestarikan hegemoni sastra yang kian berkembang. Atas dasar itu semua, Komunitas Sastra Lembah Kelelawar mengharapkan kesedian dan dukungan semua pihak dalam usaha pemberdayaan prosa bagi kelanggengan hidup generasi muda. Begitu saja mungkin.** (Red/ wid). Markas kecil, 14 juni 2010


Menciptakan sebuah kreatifitas pada dasarnya adalah mencoba menemukan sesuatu yang belum pernah ditemukan orang lain sebelumnya. Yaitu mencoba mengungkap penemuan baru yang unik dan segar. Namun kreatifitas bukan hal yang hadir begitu saja, ada usaha serta pemikiran yang tidak main-main agar mampu menemukan hal yang demikian. Bukan barang mustahil, akan tetapi bisa dibiasakan agar terlatih. Namun terkadang proses kreatifitas tidak jarang menemukan kendala yang menghambat. Adanya pembatas-pembatas yang mampu mengikis proses kreatifitas. Pembatasan ide, imajinasi, ruang serta batas norma biasanya justru menjadi senjata makan bos yang meruntuhkan. Keterbatasan ruang, umur, kapasitas serta keterbatasan krusial pada individu itu sendiri kerap menjadi alasan. Pada dasarnya itulah pembatasan yang tak semestinya menjadi soal. Pembatasan itulah yang sebenarnya menjadi pembunuh kreatifitas. Berkaitan dengan gejala tersebut, Komunitas Sasra Lembah Kelelawar yang beranggotakan Widyanuari Eko Putra, Setia Naka Andrian, Sulung Pamanggih, Ibrahim, Khoirul Maftukah dan Fitriyani berupaya membumihanguskan pembatas-pembatas melalui sebuah Pelatihan Membangun Kreatifitas [pembatas]. Berlokasi di Ruang Seminar Gu. Lantai 2 IKIP PGRI Semarang, pukul 07.30-selesai. Mengajak semua kalangan─terbuka untuk umum, tidak melirik usia, suku, agama, ras dan golongan─untuk berani menjadi pembalap sastra. Kenapa mesti pembalap? Hemat kami, pembalap pada dasarnya adalah bukan bertanding untuk menyalip atau mendahului lawanlawannya, akan tetapi bagaimana ia mampu melawan waktu. Melawan waktu adalah musuh utama pembalap sebenarnya. Sehingga dengan analogi demikian, tidak perlu lagi adanya ketakutan untuk menghadapi sebuah pembatas yang mengurangi kapasitas dalam berkreatifitas. Karena waktulah yang menentukan, bukan pembatas-pembatas itu. Pembatas kita khususkan pada tradisi bersastra. Dengan cara menghadirkan beberapa pelaku seni sastra yang sudah konsisten dan terbukti dalam bidangnya. Heru Mugiarso, seorang penyair Semarang yang terbukti keampuhan sajak-sajaknya. Kerap muncul di pelbagai media masa serta pernah menjuarai lomba penulisan puisi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastra Indonesia. Dwicipta, cerpenis nasional yang karyanya berkali-kali mengisi kolom cerpen Kompas.

Berbasah-basah sastra dengan cara mengelola Parikesit Institute, Anggota Balai Sastra Kecapi Yogyakarta serta tergabung dalam Virtuoso Club. Muhajir Arrosyid, esais muda yang begitu akrab dengan pemula. Bersama isterinya yang juga penulis mengarang buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen tunggal Di Atas Tumpukan Jerami. Mengasuh Rumah Kreatifitas Karya Anak Kampung [KAK] Sidorejo, Karangawen, Demak. Adin Hysteria, mendapat julukan penyair nusantara. Menjadi Officer Project Grobak a(r)t Kos komunitas Hysteria. Sering melakukan aksi perlawanan kepada dominasi sistem terhadap penyair muda Semarang. Menyam-paikan materi mengenai masalah pengelolaan komunitas. Melalui Pembatas, Komunitas Sastra Lembah Kelelawar berharap muncul pembalap sastra yang siap meruntuhkan pembatas-pembatas kratifitas yang ada. Out put dari pelatihan ini diharapkan mampu menciptakan tradisi bersastra secara terstruktur, kreatif, konsisten serta mampu tetap eksis. Melahirkan generasi muda peduli sastra dan ikut serta memberi warna dalam jagad ruang kesusastraan semarang pada khususnya, Indonesia pada umumnya. Begitu saja mungkin.(Red/ wid) Markas kecil, 14 juni 2010


Jaman semakin canggih, dan segalanya bisa dilakukan secara canggih. Masih saya simpan dalam inbox. Seorang teman mengirim sms berisi hingga 4 karakter kepada saya. “Wah.. pasti sms puisi lagi ne..” saya membatin sebelum membuka isi pesan tersebut. Karena memang teman saya itu rajin sekali mengirim puisi via sms. Meja cerpen sidang 1, mendudukkan cerpen Bulan terlanjur pecah karya Khoirul Maftuhah…[komunitas Sastra Lembah Kelelawar]. Begitu sepintas isi sms tadi. Saya pahami sejenak, ternyata ini adalah edisi perdana acara bagi para apresiator cerpen. Kenapa apresiator, hemat saya mungkin dalam acara ini akan ada sidang yang mengangkat cerpen sebagai titik pijak landasan acara. Dan peserta yang ikut nimbrung mungkin tak sekedar kreator cerpen aja, namun semua orang yang bersimpatik tentang cerpen, lebih umumnya simpatik terhadap kegiatan sastra. Dan ternyata Meja Cerpen mewajibkan hadirin membawa oretoretan terkait cerpen yang akan “disidang”. Okelah kalau begitu, saya coba ikut bercoretria sebagai syarat ikut acara Meja Cerpen tersebut. Bulan Terlanjur Pecah di atas Meja Sidang Apa yang saya tulis mungkin keliru, namun hal ini sebatas pengetahun saya saja. Point of view penilaian saya murni subyektif dan tidak bermaksud mencari pembenaran. Jadi apa yang saya sampaikan dalam tulisan ini murni menelanjangi Bulan Terlanjur Pecah secara perspektif-idealistis saya sendiri. Terlepas dari segala urusan teoritis yang sama sekali tidak saya pahami. Menurut saya teori adalah pandangan saya terhadap sastra itu sendiri. Singkatnya, apa yang saya sampaikan boleh dibantah, disalahkan atau digugat. Tentunya dengan etika-estetis sepantasnya. Karena tulisan ini diperuntukkan bagi acara Meja Cerpen, serupa sidang, jadi saya berhak menghakimi dan memvonis cerpen ini. Begitu.

Kali pertama mengetahui cerpen yang akan disidang adalah milik teman saya sendiri; Khoirul Maftuhah (selanjutnya saya tulis Mth), sedikit kaget. Namun tidak sampai mempengaruhi penilaian saya terhadap Bulan Terlanjur Pecah (yang selanjutnya saya singkat BTP). Cukup banyak yang saya ketahui tentang Mth, selain aktif di kegiatan sastra juga dengan seabreg kegiatan organisasi. Saya cukup intens membaca karya Mth sejak pertama Dia aktif di kegiatan sastra kampus. Membaca karya Mth kali pertama adalah berupa sajak dan puisi. Dalam puisi yang masih saya ingat diksi-diksinya seperti Cincin, Mendekap kompas dan selembar peta, kemudian yang paling nendang adalah Bulan Separuh. Kentara sekali romantisme yang mungkin sengaja ditonjolkan. Bukan karena Mth adalah seorang perempuan, namun saya memandang apa yang Mth ungkap saat itu adalah sebuah keapa-adanyaan seorang perempuan dalam bersajak. Seperti Rini Ganefa dengan Liontin Cinta yang mendedah romantisme yang lagi-lagi menjurus pada urusan krusial (baca: cinta!). Apa yang saya jumpai kali ini begitu berbeda. BTP, sebuah cerpen yang tidak asing. Pernah saya baca berkali-kali sebelum akhirnya muncul di Buletin sastra Keris #2/ april-2010. Seorang Mth yang dulu lekat dengan sajak romantis, kini hadir dengan cerpen. Saya tidak tahu apakah hal tersebut adalah sebuah sublimasi dari proses kreatif atau justru sebuah yudasisme dari seorang Mth. Yang jelas Penulis mahasiswi saya salut denganadalah sikap banting-setir yang Mth lakukan. Meski sebenarnya saya me-4 semester nyayangkan yudasisme sebelum terjadi Jurusan Fisika klimaks akan sajak-sajaknya. TapiFPMIPA itulah IKIP PGRI Semarang pilihan.


Melirik judul cerpenMth BTP, seketika ingatan saya terbawa pada sebuah buku antologi puisi Bulan Pecah karya Sukamto yang launchingnya dipentaskan di Taman Budaya Raden Saleh beberapa tahun silam. Saya tidak tahu pasti apakah hal tersebut sebuah kemiripan yang kebetulan atau kesengajaan, yang jelas hal tersebut begitu lekat di pikiran saya. Saya belum pernah menanyakan perihal tersebut secara langsung, dan mungkin tidak akan saya tanyakan. Karena bisa saja sebuah kemiripan itu memang berasal dari sebuah orisinalitas ide yang berbeda pula. Atau mungkin memang sebuah ketidak-sengajaan yang benar-benar luput dari ketelitian penulis. Pada kasus Dua Anak Kecil-nya Seno Gumira Ajidarma dan Ia Telah Berpetualang (ITB) milik Rendra, terlihat begitu jelas kemiripan yang hampir sama. Untungnya Seno mengakui bahwa ketika menulis Dua Anak Kecil, ia memang sedang gila-gilanya membaca ITB. Sehingga ketika menulisnya, Seno begitu terbayang akan ITB. Namun hal tersebut tidak menjadi soal, karena pada kasus Mth ini kemiripan terjadi bukan pada isi cerita melainkan pada judul. Perkara Mth tahu-tidaknya Bulan Pecahnya Sukamto, hal tersebut tetap akan menjadi perdebatan. Karena kebenaran perkara tersebut sesungguhnya ada pada kreator. Hanya Mth yang tahu dari mana judul Bulan Terlanjur Pecah didapat. Dalam Gelak Esai dan Ombak Sajak Anno (2001), Jamal D Rahman berucap, apalagi yang bisa dilakukan kalau hampir segala perambahan pengucapan puitik telah dilakukan oleh para penyair sebelumnya? Hemat saya, bagaimanapun kata-kata tidak akan pernah habis. Meskipun tema yang diangkat itu sama, namun kreatifitas ungkap tiap penyair tentu akan berbeda dan semakin baru. Maka ketakutan kehabisan diksi tidak perlu terjadi. Dan kuncinya adalah bagaimana penyair menemukan kesegaran pembaruan ungkap yang berbeda meski mengupas hal dan tema yang sama. Mencari referensi memadai. Jangan sampai kita kaget ketika suatu saat membaca karya penulis terdahulu dan apa yang kita baca ternyata menyerupai

karya kita. Karena itulah referensi bacaan menjadi vital. BTP, dipandang dari praduga tak bersalah, saya harapkan sudah mencakup hal yang saya paparkan di atas. Realis-surealis Cerpen BTP bercerita seputar kisah percintaan antara Bulan dan Purnama. Menggunakan setting sebuah desa di kaki Gunung Kidul. Bulan hidup bersama Ayahnya yang lumpuh karena kecelakaan. Ibunya meninggal 20 tahun silam sehabis melahirkan Bulan. Diceritakan bahwa Bulan menjalin sebuah percintaan dengan Purnama (Pengambilan nama Bulan dan Purnama menurut saya unik, Mth begitu jeli mencari simbolisme cinta untuk dibuat nama tokoh). Demi cintanya pada Purnama, Bulan rela membeku ketika hujan turun dan akan selalu setia menanti kedatangan Purnama sebagai bukti cintanya. Semenjak kepergian Purnama yang entah di mana rimbanya, Bulan berubah beku setiap ada godaan cinta menggoyahkannya. Sama halnya ketika banyak pemuda tertarik pada Bulan dan berniat melamarnya, Bulan menjelma beku. Itulah janji setia Bulan menanti Purnama, meski sampai ending cerita Purnama tak jua kembali. Hingga ayahnya meninggal pula. Meski masih berkutat pada lingkup percintaan, Mth ternyata menyajikan cerita BTP secara mix. Antara bentuk realis-surealis diaduknya menjadi sebuah cerpen yang mengalir. Pada paragraf pembuka dengan jelas identitas dibuka lewat ledakan yang begitu apik; “Lewat tengah hari, Bulan mencari dirinya. Mencari pecahan tubuhnya yang terlanjur pecah. Di teras rumah, di bawah kolong meja, bahkan di atas bantal dan sprei.� Dari sini terlihat jelas Mth mencoba memberi penegas ke mana wujud cerpen BTP dibawa. Bulan yang mencari potongan di atas bantal dan sprei memberi simbol yang vulgar. Tubuh bulan seolah pecah berantakan berserakan,


hingga Bulan harus mencarinya. Seperti halnya kembali rambut-rambut hitam panjangnya dalam Pemetik air mata karya Agus Noor. Butir helai demi helai. Hingga utuh seperti semula. air mata yang mengeras dirangkai menjadi Begitulah selalu kehidupan Bulan jika musim sebuah kalung. Ya, kalung air mata. Kemuspenghujan tiba. tahilan yang coba dituangkan menjadi sebuah Bulan tinggal di daerah pegunungan yang realitas cerpen namun tidak wagu. Mth terlihat memiliki suhu sangat rendah. Jika musim begitu jelas dalam mencoba memasuki aras penghujan tiba, suhunya memang luar biasa surealis dalam tokoh utamanya, Bulan. dingin. Dan itu akan membuat tubuh Bulan Pada paragraf berikutnya cerita mengalir slow membeku. Dan pecah satu persatu. Tentu but sure. Mendekati ranah konflik dengan sang saja bukan hal yang wajar. Kejadian itu tak ayah yang begitu menginginkan Bulan menikah pernah diketahui oleh siapapun kecuali dirisecepatnya. Mungkin karena sudah terlalu nya sendiri. Termasuk ayah Bulan yang tingbanyak laki-laki yang Bulan tolak pinangannya. gal serumah pun tak pernah tahu akan perisDi sini konflik seolah memuncak ketika Bulan tiwa yang ditimpa putri semata wayangnya menolak pinangan Mas Dharmo; seorang itu. Sedangkan Ibunya meninggal 20 tahun pengusaha kaya yang terpesona kecantikan yang lalu ketika tengah melahirkan Bulan.� Bulan. Apalagi Mas Dharmo melihat langsung tubuh Bulan beku kemudian jatuh berserakan. Tergambar begitu jelas di mana Bulan tinggal. Seketika Mas Dharmo terbirit-birit meningalkan Di kaki Gunung Kidul yang sedang terjadi rumah Bulan. Simbolisasi ini menurut saya musim penghujan. Di daerah pegunungan sangat unik. yang memiliki suhu sangat rendah. Yang jika Realitas dalam cerpen adalah sebuah kenyataan musim penghujan tiba suhu udara akan mendalam cerpen itu sendiri. Karena menurut salah jadi sangat dingin. Tidak keliru Mth menafsirsatu teman saya yang juga penikmat sastra, kan suasana di sebuah daerah pegunungan dalam cerpen segala yang tidak mungkin bisa yang begitu dingin ketika musim hujan tiba. menjadi mungkin. Karena bagaimanapun realitas Karena lazimnya suhu di daerah pegunudalam cerpen adalah kehebatan penulis dalam ngan memanglah dingin. Namun perlu dicermenumpahkan imajinasi menjadi sesuatu yang mati ketika menyebut daerah di sekitar gutidak wagu. Cerpen adalah fiksi, namun keung- nung kidul. Bahwasanya Gunung Kidul megulan cerpen yang hebat adalah ketika penulis rupakan wilayah di pinggiran kota Jogjakarta mampu mencipta fiksi menjadi sebuah realita yang mempunyai intensitas hujan kecil. (Agus Noor). Cuaca di daerah ini pun sangat panas. MaKetika mencoba membaca BTP dalam taraf yang sih ingat di benak saya ketika berita di Tivi tak lagi sekedar menikmati karya, secara detail mengabarkan kekeringan yang begitu parah kita akan menemukan realitas yang jika mau di daerah ini. Hingga masyarakat sekitar ditelaah secara faktual akan terdapat celah sulit musti berjalan puluhan kilo demi mendapatjika diamini begitu saja. Meski pernyataan teman kan air. Tentunya sangat berkebalikan desaya di atas benar juga, akan tetapi membaca ngan apa yang Mth sampaikan dalam BTP. teliti BTP juga penting. Simak paragraf berikut; Simak juga paragraf berikut; “Hujan menitik deras, memayungi desa yang terletak di kaki gunung kidul itu. Bulan masih sibuk mencari pecahan dari tubuhnya. Siang ini, jari-jemarinya pecah dan jatuh di bawah kolong meja. Setelah jari-jarinya ketemu dan berhasil di pasang olehnya. Giliran rambutrambutnya membeku dan mulai pecah satu persatu. Dan berserakan di lantai. Ia segera meraih handuk dan melilitkan ke kepalanya yang sudah tak berambut lagi. Jika kepalanya sudah mulai hangat maka Ia akan memasang

“Kaca jendela mulai mengembun. Jalanan mulai buram. Tampaknya kabut mulai turun, hujan pun menitik perlahan. Kian lama makin lebat. Bulan menggigil kedinginan. Ia mulai gelisah. Keluar keringat dingin yang kemudian menjadi butiran kristal yang membeku. Lantas jatuh ke tanah dan pecah. Ia tahu sebentar lagi tubuhnya pasti akan membeku. Seperti yang di perkirakan. Tubuhnya mulai tak bisa digerakkan. Tangannya mulai membeku, kepalanya beku,


dipertemukan. Sebuah langkah yang berani, entah itu bibirya lebih beku. Kini, total ia tak dapat bergerak. Hanya matanya yang sedikit melirik ke arah tamunya. Tangannya jatuh ke tanah dan pecah. Di susul hidung, bibir dan rambutnya. Jatuh ke tanah satu persatu dan pecah. Suasana ketika jendela mulai berembun dapat dipastikan masihlah sangat dingin. Sedangkan jika menilik gunung kidul yang bercuaca panas, hal ini sangat berkebalikan. Mungkin inilah yang teman saya maksud. Semua menjadi mungkin bila terjadi dalam sebuah cerpen. Namun perlu saya tekankan bahwa ketidaksetujuan saya menanggapi hal tersebut adalah Mth terlanjur menyentuh ranah realis meskipun di paragraf pertama Mth membuka cerita dengan sentuhan surealis. Hal ini terlihat jelas dalam penceritaan latar tempat dalam cerpen BTP. Jadi mau tidak mau saya harus memberi judifikasi sesuai rasional saya dalam membaca teks BTP. Prosesi menjalani akibat dari janjinya pada Purnama diungkapkan melalui kejadian yang menimpa Bulan ketika hujan turun serta di saat keyakian Bulan pada Purnama diuji oleh para pelamar. Seluruh anggota tubuh Bulan yang membeku kemudian jatuh satu persatu. Daya ungkap simbolis ini seperti sengaja mengalami tumbukan yang ekstrem. Di mana digambarkan sebagai kejadian yang disaksikan oleh tokoh lain dalam cerita ini. “Mas Dharmo yang melihat hal itu tak bisa berkata apapun. Mulutnya berbentuk oval yang makin terbuka lebar. Rokok yang masih mengepulkan asap di bibirnya jatuh ke tanah. Ia menampar pipinya berulang kali. Berharap bahwa yang di lihatnya hanya mimpi atau khayalan semata. Bulu kuduknya mulai merinding, Ia merasakan sakit atas tamparannya sendiri itu. Ia lari keluar rumah, dan jatuh tersungkur di pelataran. Mencoba berdiri, lantas berlari memasuki mobil yang di kemudikan sopirnya.�

kejadian tersebut. Penceritaan hal tersebut merupakan sebuah tumbukan ekstrem antara lingkup realis dan surealis yang nampak begitu sengaja sengaja atau tidak yang jelas hal ini menurut saya justru menimbulkan shocking failed yang terasa menggangu dalam meramu sebuah daya ungkap cerita. Terasa begitu kasar. Hal ini tentunya akan menimbulkan tanda tanya terhadap eksistensi Mth dalam mengolah cerita. Apakah akan dikelompokkan dalam realitasfiksionalitas atau mengambang dan justru terasa wagu. Dalam Kupu-kupu Seribu Peluru dan Pagi Bening seekor kupu-kupu karya Agus Noor, benturan seperti itu terasa cair tanpa menggangu feel dari apa yang sedang dibenturkan. Meski relasi antara opening dan ending terasa jauh berbeda, namun dapat menghasilkan sebuah shocking success dalam mencipta ledakan cerita. Hal ini rasanya masih luput dari pantauan Mth. Bahkan ketika diterangkan bahwa apa yang menimpa Bulan sama sekali tidak tercium oleh ayahnya selama kurun waktu 4 tahun lamanya. Sungguh usaha yang unlogical, di mana Bulan mampu menyimpan derita kebekuan selama 4 tahun tanpa se-pengetahuan ayahnya yang tinggal serumah. Luar biasa! Realitas Maya Bulan, seorang gadis desa berumur 20 tahun dan siap menikah, ternyata harus rela menunggu Purnama menjemputnya. Seorang gadis desa pada umur 20 tahun adalah umur yang sudah teramat matang untuk menikah. Apalagi Bulan sudah mulai merajut cinta yang teramat dalam hingga membawa perubahan dahsyat pada hidupnya sejak umur 16 tahun. Sebuah tenggat waktuPenulis yang jarang sekali ditemukan. Betapa adalah penimba ilmu di IKIP PGRI Semarang, Fakultas Pendidikan pada umur 16 tahun, Bulan begitu Bahasa mantap dan Seni, Jurusan Pendidikan Bahasa dan mematrikan diri Sastra pada Purnama. Umur yang Indonesia, semester 4. terlalu labil dalam menentukan prinsip dan konsekwensi hubungan percintaan.

Kejadian itu begitu jelas disaksikan Mas “Ia berbicara dengan dirinya sendiri. SemDharmo, lelaki yang hendak melamarnya. mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris bariadalah meremas-remas jari jemarinya. IngatanSontak Mas Dharmo pun kabur menyaksikan penulis IKIP PGRI Semarang, semester enam nya melayang jauh empat tahun silam. koordinator UKM KIAS, dan Tepat ketikaaktip rembulan malam tengah medi komunitas lembah kelelawar


ngapung di pusara langit, sebentuk sabit. Bintang-bintang berpendar seperti titik-titik garam di atas pasir hitam. Di sebuah malam yang telah menghilangkan Purnama, kekasih Bulan.” Bulan sepertinya telah mengalami pendewasaan yang cepat. Yaitu ketika umurnya menginjak 16 tahun, Bulan begitu mabuk kepayang oleh cinta purnama. Barangkali sajak Bulan Separuh juga merupakan ekspresi kesetiaan yang turut andil dan berkesinambungan dengan cerpen ini. Bulan separuh “Jika rembulan malam ini hanya bersisa separuh di langit, itu karena yang sebagian telah kuraih dan kusematkan di hatimu Hingga kusibak wajahmu dalam sunyi rembulan. Lantas Ku gendong dan kutimang Ku pikir kapan lagi aku akan menina-bobokkanmu Dalam pangkuanku. Dan memandikan tubuhmu dalam kilau taburan bintang. Hingga saat kulukis rembulan kembali purnama” Mei '09

Keterlalucepatan pendewasaan Bulan rasanya akan terasa sangat kompleks ketika kematian ayahnya turut serta memberi ending yang semakin bergelayut. Di samping Purnama yang tak kunjung kembali, Bulan akhirnya menutup rapat pintu kamar di dalam rumah sendirian. Sungguh tragis dan tak kalah hebat dengan ending sinetron yang berkembang di negeri ini. Relevansi logis kematian ayah Bulan dengan umurnya terasa sangat kabur. Ketika mendadak ayah meninggal tanpa sedikitpun keterangan penyebab kematiannya. Hal ini tentunya menimbulkan “jembatan patah” berdasar umur ayah sebenarnya. Padahal dalam BTP sama sekali tidak disebutkan penyakit apa yang sedang menimpa ayah. Hanya kecelakaan 5 tahun silam yang menyebabkan kaki ayah diamputasi. Dan selebihnya tentu ayah akan

sehat kembali bukan? “Pasti kamu tolak lagi. Lan…dengarkan Ayah. Sebenarnya kau ini mengiginkan lelaki yang seperti apa? Mumpung Ayah masih hidup, ingin melihatmu menikah bahagia. Kamu satu-satunya putri Ayah. Bahkan Ayah tidak tahu sampai kapan Ayah dapat bertahan hidup. Apa kau tidak ingin melihat Ayah bahagia Nak?” Ayah Bulan mulai terisak.” Dialog tersebut seperti menggambarkan betapa sudah tidak berdayanya ayah Bulan. Seolah sudah teramat renta dan mengharap anak sematawayangnya segera menikah. Namun mari kita telaah sedikit mengenai umur ayah Bulan. Usia bulan 20, dan merupakan anak tunggal. Taruhlah ayah Bulan menikah pada umur 25 tahun, yaitu selang 4 tahun dengan ibu bulan yang meninggal sehabis melahirkan Bulan. Jika umur menikah ayah 25 saat menikah, kemudian ditambah umur Bulan sekarang yaitu 20. maka diketahui bahwa umur ayah adalah 45 tahun! Membandingkan umur ayah dengan isi dialog di atas tentunya akan sangat tidak pas. Umur 45 tahun, layaknya Andi Malarangeng, bukan umur yang pantas untuk berkata seperti itu. Di sinilah losing logical seakan menjadi pertaruhan atas konsistensi realis dalam cerita ini. Penciptaan dialog mestinya harus lebih kritis dan relevan. Musim hujan baru saja tiba di tahun ke-lima. Hujan sehari-hari menjadi sangat akrab di desa Bulan. Bulan pun melewati hari-harinya dengan kebekuan. Pintu rumahnya selalu tertutup rapat. Ia tak pernah keluar rumah semenjak kematian ayahnya, ketika musim kemarau tengah menggeragapi desanya. Para pemuda tak lagi hilir mudik melamar Bulan. Mereka tak lagi merasa bahwa Bulan masih hidup. Kematian ayah pada umur kira-kira 45-an ini menjadi titik nadir dari penghakiman saya atas BTP. Umur yang seharusnya menjadi pubertas edisi 2, justru menjadi masa tua yang renta. Jika sebatas kecacatan karena tidak mempunyai sepasang kaki


tentunya bukan hal yang muskil menjadi penyebab kematian ayah. Kematian ayah yang sepintas lalu ini semakin mengaburkan daya cengkram cerpen ini terhadap penghakiman saya. “Ketika” yang salah tempat ini pun pada akhirnya menjadi senjata makan tuan pada dua paragraf terakhir. “Ia tak pernah keluar rumah semenjak kematian ayahnya, ketika musim kemarau tengah menggeragapi desanya”. Lagi-lagi penempatan musim yang luput. Musim hujan yang baru saja tiba, tiba-tiba harus berpadu dengan musim kemarau yang disatukan oleh “ketika”. Yaitu ketika Bulan tak pernah keluar rumah semenjak kematian ayahnya, ketika musim kemarau tengah meranggasi desanya. Ironis. Bulan benar-benar terlanjur pecah. Hingga musim hujan yang terlanjur, umur yang terlanjur serta keterlanjuran itu sendiri. Cerpen BTP karya khoirul Maftuhah rupa-rupanya terlanjur memecahkan konstruksi realitas tubuhnya sendiri. Hal yang terlalu riskan namun sengaja diterobos sebagai upaya pembuktian atas konstruksi cerita yang utuh. Sejauh ini sebagai cerpen perdana yang mampu terbit, maka patut kita beri apresiasi lebih buat Mth. Meski selalu saja ada musim dingin dan penghujan. BTP, bagaimanapun adalah hasil kontemplasi unik dari seorang khoirul Maftuhah yang semoga saja tidak terlanjur pecah. Dan sekali lagi saya pertegas, apa yang saya kelupaskan di atas adalah personal-subjektif saya dalam menelisik Bulan Terlanjur Pecah. Jadi jika ada keterbalikan fatal pada statement saya, silakan sanggah dalam tulisan anda sendiri. Tulisan ini murni mengutamakan egoisitas saya dalam mendudukan cerpen sebagai terdakwa. Dan saya berlaku sebagai hakim yang mulia. Begitu saja mungkin** Majapura, 050610

*mahasiswa PBI, Koordinator UKM KIAS, aktif di Lembah Kelelawar.


KERLIP ITU HILANG

Pipit Tikawati

Ramadhan membuat suasana pagi terasa sangat damai, dentuman lembut suara orang-orang yang membangunkan orang sahur membuat puasa semakin lengkap. Berbuka adalah saat yang dinanti setiap insan yang berpuasa. Begitu pula aku, semuanya nikmat dan kita berbuka bersama keluarga. Puasa telah menginjak hari keempat pagi itu dengan aroma khas bunga matahari dan terlihat biji-bijinya telah jatuh yang menandakan mereka sudah tua dan saatnya tumbuh kembali dengan tunas-tunas baru. Aku pun mengambil satu persatu biji tersebut dan memindahkan ke tempat yang lebih luas. Belaian lembut sehingga surya pun menambah hangatnya tubuh yang masih bermalas-malasan. Telah terdengar keras suara ayam para tetangga yang telah berkeliaran dan mengganggu sejenisnya. Tapi, damainya ramadhan tak sedamai hariku dan keluarga. Terdengar suara anak laki-laki yang ternyata dia adalah adikku. Seketika itu pula aku kaget, pagi-pagi berteriak dengan kesedihan yang terlalu dalam telah menghampirinya. Bapak … Bapak … Bapak … teriakan itu sangat keras. Aku kaget, dan segera aku berlari mendekatinya. Aku melihat beliau sudah tak berdaya, cepat-cepat kuraih tangannya. Aku bingung apa yang terjadi, kenapa itu terjadi, bagaimana ini… bagaimana. Perasaan kacau, bingung, sedih semuanya campur aduk dalam satu pikiran yang muatannya melebihi kapasitas. Seketika itu pula rumahku ramai dan tetap kugenggam tangannya dan aku pun tidur di sampingnya. Aku melihat tiga kali nafas panjang darinya, setelah itu beliau terlihat seperti orang pingsan. Aku yakin beliau akan baikbaik saja, dokter pun belum datang tapi orang-orang berkata “Sing sabar yo mbak”. Aku tetap bingung kenapa mereka berkata seperti itu. Bapak akan baik-baik saja, beliau hanya tidur sebentar. Tapi aku tak mampu berkata seperti itu, hanya diam dan memandang Bapak yang aku lakukan. Tangisan adik dan ibuku semakin keras, tapi aku tetap yakin Bapak baik-baik saja. Dokter pun datang dan menyarankan dibawa ke Rumah Sakit. Aku tetap ikut dalam perjalanan itu, wajah Bapak terlihat tenang dalam tidurnya. Aku belum mau menerima kenyataan sampai belum ada kepastian. Ada pikiran bahwa semua ini hanya mimpi dan aku akan terbangun dari mimpi burukku. Tapi aku tidak tidur dan tidak bermimpi. Sebuah keluarga telah kehilangan seorang Bapak, pemimpin keluarga kami.

Tak pernah terlintas secepat itu beliau dipanggil dan meninggalkan kami. Sampai di rumah semuanya telah siap, air untuk memandikan, meja untuk tidur dan jarit untuk selimut. Orangorang telah datang untuk takziah dan mengikuti proses pemakaman keluargaku tak mampu berdiri untuk menyiram tubuhnya untuk terakhir kali. Semuanya gelap, masih teringat jelas saat mencium keningnya yang telah terbaring di meja dan siap dikafani. Suara adzan telah berkumandang, Bapak telah siap dishalati. Semua keluargaku masih belum menerima kenyataan, terutama Ibu. Ibu terus menerus menangis dan seperti orang kehilangan kesadarannya. Sebagai anak tertua, aku berusaha tegar tapi kenyataan berkata lain. Tubuhku lemah tak berdaya, pikiran ini selalu terbayang sosoknya, berjuang untuk memperpanjang kontrak hidupnya tapi semua memang Tuhan yang memutuskan. Tidak ada lagi aroma kopi pada pagi hari sambil menonton acara televisi, memakai sarung bermotif biru tua didominasi merah maron. Semuanya tinggal kenangan, Bapak tidak akan menanti aku dan adik pulang dari sekolah, menghubungi setiap saat, sekarang hanya mimpi. Keranda, macam-macam bunga, ukiran nama telah terpampang jelas. Rumah terakhir pun telah disiapkan. Suara adzan di liang kubur itu telah selesai. Saat itulah kami melihat beliau yang terakhir kalinya menjelang tujuh hari, suasana masih sama. Niat untuk berhenti kuliah pun terlintas, aku anak tertua yang ingin membantu orang tua, terutama saat ini hanya ibu satusatunya yang ada dan adikku masih SMA. Tapi banyak masukan yang mengharuskan aku meneruskan kuliah, apa yang patut dibanggakan dari orang tua yang bodoh kalau anak-anaknya tidak pintar. Beruntung lah, adikku tinggal beberapa bulan lulus. Kami semua saling bahu membahu, meneruskan cita-cita Alm. Bapak. Ibu dan adik satu-satunya keluarga yang aku milikiI Love My Family.


Beberapa waktu yang lalu ketika dalam launching antologi puisi di TBJT yang berjudul Kursi yang Malas Menunggu karena kesalahpahaman jadilah aku yang diposisikan untuk mempertanggungjawabkan alasan apa yang mendasari para penyair dimuat dalam antologi ini. Dua alasan aku kemukakan yakni alasan politis yang berkait erat dengan kebutuhanku akan infrastruktur (yang lebih utamanya di Semarang) dan satunya lagi alasan estetis. Nah alasan estetika inilah yang membuatku terjebak dalam situasi tidak nyaman. Karena ketidaksiapan, aku tidak bisa memberikan alasan yang meyakinkan pada sidang pembaca. Toh posisiku sebagai redaktur puisi di zine Hysteria dan kurator dalam Kredo Kecil Penyair Kecil (diskusi sastra rutin di Grobak A[r]t Kos) juga bukan karena alasan intelektual yang benar-benar bisa dipertanggunjawabkan. Artinya tidak ada mekanisme tekstual yang membuatku berkedudukan seperti itu. Karena zine dan diskusi rutin ini memang salah satu penggagasnya adalah aku dan otomatis akulah yang bertanggungjawab setidaknya sampai hari ini. Jadi bisa dipastikan selera, subjektifitas, dan semacam itu akan sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Bahwa aku kelak perlahanlahan meningkatkan kapasitas intelektual dan membuat orang lain yakin dengan integritas dan kapasitasku itu adalah hal lain. Di titik ini yang ingin aku tegaskan adalah posisi politis ini aku dapatkan karena aktivitasku. Jadi kalaupun aku akan bersikap semena-mena secara intelektual itu adalah urusanku atau bahkan tidak peduli sekalipun pada pihak-pihak lain. Toh aku tidak perlu mempertanggunjawabkan secara definitif alasan-alasan apa yang menjadi pertimbanganku dalam kuratorial tertutup ini. Nah celakanya dalam forum 'kecelakaan' di Solo terungkap sudah kesemena-menaan Adin. Tulisan inipun tidak aku buat untuk membela kenapa aku sewenangwenang. Justru ingin menegaskan bahwasanya aku juga bias berlaku sangat berlaku sewenang-wenang. Pihak lain boleh teriak, tidak setuju atau memakimaki tapi the show must go on karena aku yang memegang kekuasaan. Asal orang lain tahu saja bahwasanya 'kekuasaan' ini aku dapatkan dengan jerih payah sendiri jadi apa salahnya sekarang aku semena-mena. Nah! Sampai disini aku berusaha menganalogikan diriku dengan jabatan redaktur budaya di koran koran kenamaan. Menurut penuturan beberapa teman untuk menjadi redaktur budaya tidak harus ada seleksi intelektual yang ketat. Karena posisi itu hanya sekrup kecil dalam organisme besar bernama koran. Jadi dalam dunia kesusastraan yang hari ini

aku hebohkan, ternyata 'pusat dari segala pusat' bernama redaksi budaya itu tidak selalu jabatan yang tersebab hal-hal objektif. Kadang bisa sangat subjektif, misalnya karena si A dekat dengan dengan pemilik koran, atau karena politis, dan tidak selamanya karena inteletual maupun estetika. Celakanya pihak-pihak inilah yang hari ini dianggap menduduki posisi penting dalam dunia kesusastraan. Ia adalah hakim sekaligus eksekutor layak tidaknya karya sastra dimuat. Mereka bernasib lebih baik dari diriku yang ditelanjangi dihadapan forum, orang-orang ini biasanya memilih posisi aman dengan membuat penghargaanpenghargaan dan klaim-klaim kecanggihan estetika yang kesemuanya itu melibatkan kalau dalam istilah Saut, pseudo kritikus sastra. Dari situlah koran merasa telah melegitimasi pantas tidaknya individu sebagai sastrawan. Pengukuhanpengukuhan ini bisa dilihat misalnya terbitnya antologi cerpen terbaik Kompas dan Anugrah Sastra Pena Kencana yang keduanya memang mengafirmasi sastra koran. Di luar perdebatan sastra koran itu sendiri yang ingin aku soroti adalah posisi redaktur koran itu sendiri yang seolah tidak tersentuh apapun. Layaknya pejabat, ia kebal hukum dan hanya nurani dirinyalah yang bisa menyelamatkannya apakah kelak ia akan diktator dan melayani kepentingannya sendiri atau menjadi peduli dengan yang lain. Ia tidak perlu membuat pledoi untuk mempertanggungjawabkan pilihannya, cukup dengan membuat event besar dan melibatkan kritikus atau pakar yang telah dipilihnya untuk memperdahsyat efek legitimasinya. Hanya itu. Begitulah realitas kesusatraan Indonesia hari ini. Anda boleh menolak kondisi ini, menerima, atau menegosiasinya. Dalam strategi perlawanan ada dua pilihan yang yakni elawan sistem dengan begitu secara otomatis menyiapkan alternatif sistem baru atau merubah sistem dari dalam. Kalau tidak melakukan dua hal itu berarti memang harus berdamai dan mau tidak mau harus benar-benar tunduk dengan sistem tersebut. Pada pilihan pertama mungkin bisa dialamatkan pada gerakan cybersastra namun barangkali karena hegemoni media massa dan kooptasi pikiran sekian tahun, gerakan ini rupanya belum merubah sesuatu secara signifikan. Tentu saja model semacam ini masih akan terus berkembang dan sejauh apa nanti perkembangannya mari kita lihat. Sedangkan model kedua terus terang aku belum bisa menunjukkan siapa agennya namun tawaran kedua lebih menelan biaya lebih kecil.


Gerakan ini tidak membuat sesuatu yang tidak ada tetapi merevisi sistem yang sudah ada dan menggantinya perlahan-lahan secara evolutif. Metode inilah yang aku ingin tawarkan pada teman-teman kaitannya dalam konteks Semarang. Dari Nol hingga Malas Menunggu Mengapa Semarang? Pertama jelas karena karena aku hidup di kota ini, yang kedua Semarang adalah model pertama uji teoriku serta pemilihan wilayah ini untuk membatasi lingkup gerak. Andaipun berhasil, kelak aku harap bisa menjadi insirasi daerah lain mengingat Semarang adalah ibukota provinsi Jawa Tengah. Sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah tentunya posisi Semarang menjadi strategis. Namun entah mengapa pada posisi strategis ini muncul mitos 'Semarang kuburan seni'. Beberapa pihak berusaha menyangkal mitos ini pihak lain malah mengukuhkan dan buktinya pemakaman komunitas, individu atau seniman yang setiap tahun selalu ada menegaskan bahwa predikat ini memang layak. Dari tahun ke tahun aku berusaha memahami mengapa aku merasa sendirin di kota ini dan tidak tahu harus belajar dari siapa. Selama ini aku juga mencoba memahami mengapa banyak teman-teman yang merasa 'bunuh diri'. Tidak bisa ditolak yang terjadi kemudian adalah satu persatu teman-teman mulai jenuh, tidak ada progress dan hal yang paling realistis adalah berhenti. Sampai di sini saya teringat film India Three Idiots. Dalam salah satu adegan tokoh utamnya melakukan kritik pada rektornya bahwasanya penyebab beberapa mahasiswanya mati itu dikarenakan beliau. Celakanya para suicider atau pebunuh diri ini (selanjutnya akan ditulis suicider supaya keren) selalu disalahkan. Mereka dianggap sebagai individu-individu yang tidak mampu berkompetisi dalam dunia pendidikan yang dicitrakan dahsyat dan tonggak keberhasilan hidup. Sang tokoh utama juga menunjukkan statistik betapa tinggi angka bunuh diri mahasiswa India. Kali ini kasus bunuh diri bukan dipandang sebagai tindakan semata-mata individual semata. Bunuh diri adalah respon atas ketidakmampuan individu menghadapi sistem. Sudut pandang awal dan masyarakat pada umumnya pasti akan selalu menyalahkan suicider, namun tawaran perspektif lain meyakini bahwasanya ada yang salah dengan sistem. Di sinilah rektor tidak berdiri sebagai rektor an sich. Rektor adalah representasi sistem. Artinya rektor dan lebih luasnya sistem menjadi pihak yang harus disalahkan dalam maraknya kasus bunuh diri. Kalau kita memahami bahwasanya kebudayaan adalah hasil konstruksi tentu saja cara berpikir semcam ini lebih mudah diterima.

Menganalogikan kasus di atas barangkali Semarang mengidap penyakit yang sama. Ada yang tidak beres dalam sistem ini dan pilihan mengahdapi sistem adalah merombak sistem secara keseluruhan yang artinya kita juga mempersiapkan sistem baru atau merubahnya perlahan-lahan dan satu persatu. Tentu saja biayanya akan mahal kalau mau merombaknya serempak. Maka pilihan paling realistis yakni memilih target tertentu (bagian dari sistem yang lebih besar) dan merubahnya satu persatu. Pertama-tama yang menjadi perhatianku adalah persoalan kesusastraan dan karena begitulah esai ini dibuat, yakni untuk membuat perbedaan dalam dunia kesusastraan di kota lunpia ini. Berpikir mengenai kesusastraan tentu tidak bisa tidak kita harus tahu sarana prasarana apa saja yang dibutuhkan untuk perubahan. Hal ini penting disadari mengingat aktivitas kesusastraan di Semarang seringkali dihebohkan event-event yang sifatnya selebrasi belaka. Perayaan kerumunan yang ujung-ujungnya miskin isi. Dalam literary world kalau mau mengacu art world pihak-pihak yang diperlukan diantaranya penerbitan, fakultas sastra, forum apresiasi, ruang media, kritikus, dll. Kesemuanya itu memang diperlukan untuk kemajuan kehidupan kesusastraan di Semarang. Tanpa itu gerakan yang massif akan sulit diharapkan. Namun tentu naĂŻf jika hal ini semua disiapkan dalam waktu serempak. Untungnya beberapa pihak yang disebutkan itu telah ada namun belum bisa bertemu dalam satu meja. Namun akan halnya sebuah gerakan, tanpa target yang jelas akan sulit untuk mengukur keberhasilannya. Untuk itu sebagai pihak yang merasa sistem ini sakit maka dengan ini aku mengajak teman teman untuk merevisi pandangan salah satu pihak yang hari ini memegang peranan besar dalam perkembangan kehidupan kesusastraan di Semarang, yakni TT sebagai pengelola rubrik sastra dan seni di harian SM. Mengapa TT dan mengapa SM, berikut ini hal-hal yang ingin aku yakinkan dan mengapa kita perlu melakukan hal ini. Sebagaimana telah aku jelaskan di atas bahwa koran menempati posisi istimewa. Dengan redaktur bak tuhan dan kebal hukum serta posisi strategis koran dengan event-event legitimasinya telah membuat pola pikir kebanyakan orang terkooptasi bahwa sah tidaknya menjadi sastrawan adalah dimuat di koran. Untuk itu menduduki


posisi strategis ini menjadi hal yang penting dan jangan harap ketika posisi ini ditempati orang yang bebal kepeduliannya akan memperhatikan generasi di bawahnya. Mereka hanya akan melakukan tindakan yang hanya menguntungkan mereka. Posisi SM yang terletak di pusat Jawa Tengah dan sebagaimana besaran oplah yang dihasilkannya bisa dipastikan koran ini memegang peranan penting dalam hal pengendalian opini dan tentu saja legitimasi 'kebenarankebenaran' tertentu. Dunia kesusastraan di Semarang bahkan jawa tengah juga tidak bisa melepaskan diri dari mitos kebesaran harian ini. Diakui atau tidak koran ini akan ikut mempengaruhi kerangka berpikir warganya, termasuk di dalamnya isu-isu sastra. Jadi redaktur dan Koran ini memegang kontribusi yang besar pula. Nah apapula jadinya kekuasaan yang besar ini jatuh di tangan yang tidak tepat (baca: tidak punya kepedulian).Telah kita ketahui bersama bahwa Semarang tidak sepi-sepi amat dalam hal aktivitas kesusastraan. Dari data yang aku kumpulkan tidak kurang dari 7 antologi yang terbit yang sekurang-kurangnya mengorbitkan para penulis muda (kategori usia). Mulai dari antologi Nol hingga Kursi yang Malas Menunggu. Puluhan anak-anak muda yang pernah menisbatkan diri sebagai penyair juga tidak kalah banyaknya. Selain antologi puisi beberapa komunitas sastra juga eksis atau sempat eksis. Beberapa di antaranya ada yang membuat zine sastra sebagian yang lain rajin dalam penyelenggaraan eventevent sastra. Jadi bisa dibilang tidak mati-mati amat. Namun fakta yang mencemaskan adalah para 'penyair' ini biasanya tidak konsisten dan memilih menyerah. Mengingat banyaknya yang mati dan mengubur diri aku percaya ada yang salah dengan sistem. Dalam hal ini tata kelola TT sebagai redaktur SM. Bayangkan dari data yang aku kumpulkan terhitung sejak 2004 akhir hingga tahun 2010 hanya ada dua nama yang setidak-tidaknya aku kenal muncul di rubrik sastra SM. Dari puluhan penyair dan dari tahun ke tahun hanya ada 2 orang. Pertanyaannya apakah para penyair ini sedemikian bebalnya atau redakturnya yang bermasalah? Tentu tuntutan ini bukan tanpa pijakan. Jika kita mau membandingkan dengan pola-pola yang dilakukan, misalnya Umbu Landu Paranggi, Wan Anwar, Acep Zamzam Noor, Raudal Tanjung Banua, akan terlihat jejak-jejak campur tangan mereka kaitannya dalam regenerasi kesusastraan di tempat masing-masing. Hal ini yang barangkali tidak terjadi -setidaknya dalam skala intens- di Semarang. Sudah jamak diketahui bahwa kondisi

infrastruktur kesenian pada umumnya di Indonesia kurang mendapat perhatian pemerintah. Dalam kondisi yatim ini ternyata juga dicemari oleh praktik semena-mena beberapa pihak. Sampai hari ini SM (lebih spesifik mengacu pada rubrik budaya mingguannya) telah menjadi jumawa namun sekaligus inferior. Jumawa karena lebih banyak diisi orang-orang kenamaan, inferior karena tidak percaya pada bibit-bibit potensial. Ibarat orang mereka lebih percaya pada tamu daripada 'keluarga' sendiri. Selain itu mereka juga tidak mempunyai kesabaran untuk merawat generasi yang baru tumbuh. Maka jadilah TT dan rubriknya merawat mental penonton kota ini. Mental yang terkagum-kagum melihat artis dan menjadi sangat merasa rendah diri pada diri sendiri. Tidak mempunyai kepercayaan diri sama sekali.Orientasi hasil dan indstrialis semacam ini tentu saja tidak senada dengan semangat sastra untuk memanusiakan manusia sekaligus mendidik pembaca menjadi lebih kritis dan semangat menjadi kreator. Hal ini diperparah dengan ketidakpedulian mengenai lemahnya infrastruktur di Semarang. TT bersikap tak beda jauh pemerintah dalam kasus UAN. Mereka selalu meminta lebih tapi tidak mau tahu infrastruktur. Selalu dituntut bagus tapi tidak diberi fasilitas atau metode bagaimana caranya supaya bagus. Kasus lain yang membuatku semakin tidak simpatik yakni ketika mengetahui puluhan penyair di sini tidak mendapat kesempatan ikut dalam temu sastra Mitra Praja Utama yang katanya tahun lalu tuan rumahnya Jawa Tengah dengan kurator dahsyat TT dan DRH. Itu hanya sebagian kecil yang aku tahu mengenai distibusi kesempatan yang tidak merata, karena tidak menutup kemungkinan banyak kesempatan lain yang dibagi secara adil atau hanya dikangkangi orang itu-itu saja. Efek-efek politis yang jalin berkelindan dengan jabatan TT sebagai redaktur SM telah menempatkan TT menjadi sesuatu yang membunuh. Tidak hanya ditribusi kesempatan yang tidak jelas regulasinya namun juga sikap acuhnya terhadap generasi masa depan. Setidaknya aku bisa klaim dalam 10 tahun terakhir ini minim sekali generasi anak muda di Semarang di bidang kesusastraan yang berwibawa. Baik secara tekstual maupun gerakan. Tentu tidak adil jika semua kondisi ini dibebankan pada TT seorang. Namun sebagai sebuah representasi kekuasaan yang strategis, dosa TT cukup besar.


TT sebagai representasi sistem Seperti yang aku sebutkan di atas, memang tidak semuanya dosa TT. Namun dia memegang peranan penting dalam distribusi kesempatan yang penuh kepentingan ini. Kalau mau menarik jauh ke belakang sebenarnya TT pun adalah anak kandung sistem. Aku membayangkan dia mengalami masa-masa sulit di masa mudanya. Maka tidak heran jika ada anak muda mau sesukses dirinya harusnya lebih berdarah-darah lagi. Barangkali juga dia menempuh hal ini dengan (merasa) sendirian. Pembiaran-pembiaran ini rupanya berlangsung secara turun termurun dan sistematis. Saling membunuh adalah tradisi yang terus dipelihara dan kalaupun ada individu kuat muncul haruslah individu tahan banting macam TT dan kelakpun mungkin memiliki kondisi psikologi mirip dia, jika tidak mampu berdamai dengan lukanya dan masa depan anak-anak muda. Mustahil menginginkan perubahan signifikan di kota ini tanpa mengoreksi sistem dan mempelajari bagaimana sistem itu bekerja. Kalaupun aku mengajak teman-teman untuk kritis pada kondisi ini bukan berarti mengajak teman-teman memusuhi TT an sich. TT itu hebat dan kita mencintainya dengan mengingatkannya bahwa metode-metode yang dia tempuh tidak efektif lagi menjawab tuntutan jaman. Alihalih melahirkan individu-individu cerdas, metode yang ia tempuh justru telah membunuh puluhan sastrawan potensial di kota ini. Dalam kasus ini bisa kita analogikan masa-masa orientasi mahasiswa. Pada fakultas tertentu tradisi perploncoan ini masih ada. Alih-alih mendidik, ajang ini bisaanya malah menjadi ajang balas dendam perlakuan senior mereka di masa lalu. TT sebagai representasi sistem saling bunuh sekarang mempraktekkan hal ini. Seperti mengidap psikologi ospek beliau pun mengharapkan anak-anak mudanya semenderita beliau. Sebagai sosok yang bijak idealnya dia bisa menjawab tuntutan jaman dan bisa berdamai dengan seluruh rasa sakit nya. Pun halnya ketika ajakan gerakan ini dilontarkan sejatinya bukan untuk menyerang TT secara personal namun lebih kepada sistem dan semua pihak yang selama ini menutup mata terhadap persoalan ini. Kalaupun persoalan ini dibiarkan berlarut-larut tanpa kesadaran anak-anak muda untuk bergerak warisan sistem saling bunuh dan merasa sendirian akan berlangsung hingga masa-masa yang akan datang. Sebagai penutup kita tidak bisa menyerang sistem secara serempak tanpa modal yang cukup. Satu-satunya pilihan realistis adalah menyerang (baca: menyadarkan) agen sistem itu satu persatu dan merevisi perspektif mereka demi warisan sistem yang lebih baik dari situlah kita bisa melihat masa depan lebih cerah daripada hari ini.


TITI KALA MANGSA Bintang Al Huda STAGE I LAMPU MATI DAN BERLAHANLAHAN TERDENGAR SUARA SUMPAH PALAPA GAJAH MADA “Lamun huwus kalah nusantara insun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Pahang, Dompo, Ring bali, sunda, Palembang, tumasik, samana insun amukti palapa”. LAMPU FOLLOW MENYOROT PADA HAYAMWURUK YANG BERJALAN BERIRINGAN (SETTING KERAJAAN MAJAPAHIT) HAYAMWURUK: Pengawal tolong kau panggilkan patih gajahmada untuk segera menghadapku. PENGAWAL: Daulat gusti. (PENGAWAL KELUAR SEJENAK DAN MASUK KEMBALI) PENGAWAL: Gusti, patih gajahmada siap menghadap. HAYAMWURUK: Ya sudah tinggalkan kami berdua, aku ingin berbicara penting dengannya. PENGAWAL: Daulat gusti. (KEDUA PENGAWAL KELUAR DAN BEBERAPA SAAT PATIH MENGHADAP) GAJAH MADA: Hamba menghadap gusti.kiranya,ada apa gusti memanggil hamba? HAYAMWURUK: Aku ingin berbicara mengenai kerajaan sunda. GAJAHMADA: Ada apa dengan kerjaan sunda gusti? HAYAMWURUK: Nampaknya aku menginginkan diah pitaloka citraresmi yang berasal dari kerajaan sunda untuk menjadi permaisuriku.

GAJAHMADA: Ampun gusti jikalau saya lancang berbicara, sebetulnya dahulu saya pernah bersumpah bahwasanya saya akan menaklukan dan menyatukan nusantara tetapi saat ini sunda belum gusti.` HAYAMWURUK: Bukankah kalau diah pitaloka menjadi permaisuriku itu sudah cukup mewakili? GAJAHMADA: Maaf gusti prabu, apa yang dikatakan gusti benar namun apakah nantinya derajat kita tidak menurun? HAYAMWURUK: Sebetulnya saya sudah melamar diah pitaloka dan diterima oleh kerajaan sunda. GAJAHMADA: Ampun gusti, bukannya lebih baik diah pitaloka menjadi persembahan pengakuan kerajaan sunda atas kekuasaan majapahit. HAYAMWURUK: Benar, tetapi semuanya sudah terlanjur dan sekarang rombongan sunda sedang singgah di bubat untuk menuju kemari. STAGE II LAMPU MATI KEADAAN GELAP DAN SETTING BUBAT GAJAHMADA: Lingga buana!!!!!!!!!!!!Keluar kau!!!!!!! LINGGA BUANA: Gajahmada, ada apa perlu apa kau kemari? GAJAHMADA: Aku ingin membetulkan pembicaraan prabu hayamwuruk bahwasanya beliau menginginkan putrimu sebagai persembahan kekuasaan kerajaan majapahit bukan untuk melamarnya. LINGGA BUANA: Bicara apa kau? Kerajaan sunda tidak akan tunduk kepada kerajaan majapahit lagipula aku tidak akan menyerahkan putriku untuk persembahan rajamu!!!!!!!! GAJAHMADA: Bangsat!!!Prajurit!!!!!serang mereka!!!!!


KEADAAN PERANG ANTARA PASUKAN GAJAHMADA DAN LINGGA BUANA TETAPI DARI PASUKAN LINGGA BUANA KALAH DYAH PITALOKA: Ayah,kau apakan ayahku?? Sampai kapanpun aku tak akan mau menyerahkan diriku kepada kerajaan majapahit!!!! GAJAH MADA: Jika kau tak mau kau akan menyusul ayahmu!!!!! DYAH PITALOKA: Bajingan kau!!!!!!! (menyerang gajahmada) STAGE III SETTING KERAJAAN MAJAPAHIT HAYAMWURUK: Patih gajahmada!!!!!! Mengapa kau serang kerajaan sunda di bubat tanpa sepengetahuanku??!! GAJAHMADA: Saya hanya berpegang teguh pada janji yang saya ucapkan gusti. HAYAMWURUK: Kau lancang!!!!!berani-beraninya kau menentang prabumu sendiri mulai sekarang kau tidak usah menjadi patih lagi disini!!!!!!!

DEWA: Ya iya…walaupun sudah tua begini bapak masih sering baca buku… KASITA: Apa yang pak dewa sukai dari cerita gajah mada?? DEWA: Karena semangatnya itu untuk menaklukan dan menyatukan nusantara sehingga sebelum semua itu terealisasi ia tidak mau nikmatna palapa atau rempah-rempah yang diartikan sebagai kenikmatan duniawi. KASITA: Lantas ini patung sapa??(menunjuk siti jenar) DEWA: Itu adalah siti jenar atau juga syeh lemah abang. KASITA: Siti jenar?? Lemah abang? Siapa lagi itu pak?? DEWA: Kasita…kasita…tokoh terkenal seperti itu kamu gak tau?? wahh,, o'on banget sih kamu..

KASITA: Ya maklum to pak saya kan baru disini… STAGE IV lagian saya kan dari desa dan gak pernah SETTING RUANG TAMU sekolah… jadi ya wajar kalau saya gak tahu… DEWA: DEWA: Akibat peristiwa itu patih gajahmada di nonaktifYa jangan di jadikan masalah to ya…lha kan dari jabatanya dan ia diberi pesanggrahan wong bapak malah gak asli jawa tapi tau madakaripura di togas, probalinggo. Namun sedikit tentang cerita tokoh-tokoh itu…dari pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebaberbagai buku yang bapak baca kehadiran gai patih, hanya saja ia memerintah di syekh siti jenar ternyata menimbulkan madakaripura. Pada 1364, Gajah ada mengkontroversi, apakah benar ada atau hanya hilang secara misterius dan tidak pernah muncul tokoh imajiner yang direkayasa untuk satu lagi. kepentingan polotik. Tentang ajaranya senKASITA: diri, sangat sulit dibuat kesimpulan apa pun, Walah, pak dewa ini paham sekali tengang Gajah karena belum pernah diketemukan ajaran Mada ya… Hebat..hebat… tertulis yang membuktukan bahwa itu tilisan DEWA: syekh siti jenar, kecuali menurut para penuBukan paham, tapi sedikit tahu… itu pun dari buku lis yang identik sebagai penyalin yang beryang saya baca... akibat adanya berbagai versi. Tapi suka KASITA: atau tidak suka, kenyataan yang ada meSering baca buku ya, Pak?


nyimpulkan bahwa syekh siti jenar dengan falsafahnya atau paham dan ajaranya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang jawa, walaupun dengan pandanga berbeda-beda. Pandangan syekh siti jenar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunua sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, yang mana ia adalah manusia dan sekaligus Tuhan, sangat menyimpang dari pendapat wali songo, dalil dan hadist, sekaligus yang berpedoman pada hukum Islam yang bersendikan sebagai dasar dan pedoman kerajaan demak dalam memerintah yang didukung oleh para wali. Siti jenar dianggap telah merusak ketentraman dan melanggar peraturan kerajaan yang menuntut dan membimbing orang secara salah, menimbulkan huru hara, merusak kelestarian dan keslamatan sesama manusia. Oleh karena itu, atas legitimasi dari sultan demak, di utus beberapa wali ke tempat siti jenar di suatu daerah ada yang mengatakan desakrendhasawa, untuk membawa siti jenar ke demak atau memenggal kepalanya. Akhirnya siti jenar wafat ada yang mengatakan didunuh, ada yang mengatakan bunuh diri. KASITA: Ow…lah…..lah.. aku baru tahu ….he…, nah kalo yang itu pasti patungnya gatotkoco kan? DEWA: Iya benar sekali seratus buat kamu……… LAMPU MATI DAN KELUAR SEORANG TOKOH YAITU LOHGAWE SEORANG BAPAK ANGKAT KEN AROK SEDANG BERBICARA KEPADA KEPADA KEN AROK (SETTING RUMAH BAPAK ANGKAT KEN AROK) KEN AROK: Bapak guru… ketika saya tadi mengawal Tunggul Ametung dengan Ken Dedes bertamasya di taman baboji, saya melihat betis Ken Dedes bersinar terang …apa artinya itu bapak guru? LOHGAWE: Sepertinya itu sinar sakti, yaitu kekuatan atau kekuasaan di atas kodrat, yang merupakan

sumber pancaran kejayaan dan keagungan KEN AROK: Jadi yang dianggap oleh ayahanda Lohgawe barang siapa yang memiliki Ken Dedes akan mempunyai kekuasaan? LOH GAWE: Iya anakku…… KEN AROK MENJAUH DARI LOHGAWE DAN MEMILIKI PIKIRAN UNTUK MENDAPATKAN KEN DEDES BAGAIMANA CARANYA KEN AROK: Kalau begitu, bagaimana caranya, aku harus membunuh Tunggul Ametung dan mendapatkan Ken Dedes aku akan memesan keris kepada Mpu Gandring sebagai alat untuk membunuhnya STAGE V LAMPU MATI DAN SETTING DI TEMPAT MPU GANDRING. SAAT ITU KEN AROK DATANG DAN MENAGIH KERIS ITU (ilustrasi menyiasati perubahan waktu) KEN AROK: Mpu gandring… mana keris yang dulu aku pesan??? MPU GANDRING: Maaf ken arok keris ini belum jadi secara sempurna saya minta tambahan waktu lagi untuk menyempurnakan keris ini. KEN AROK: Tambahan waktu? Bukankah dulu sudah kita sepakati lima bulan keris itu harus jadi! MPU GANDRING: Membuat keris butuh proses yang lama… Harus bertapa dan mencari ilham Ken Arok!!! KEN AROK: Banyak bicara!!!aku tak mau tahu!!!serahkan keris itu padaku!!! MPU GANDRING: Jangan Ken Arok…… Tidak bisa……… KEDUA BELAH PIHAK BEREBUT KERIS DAN DI MENANGKAN OLEH KEN AROK DAN KEN AROK MENUSUKKAN KERIS ITU PADA MPU GANDRING.


MPU GANDRING: Aku dan keris itu akan menyatukan diri dan tidak terima dengan cara-cara kematian. Aku akan terus mengejar sebelum tujuh jiwa bahkan kalau mungkin tujuh turunan melayang jiwanya bersimpah darah!!!

KASITA: Wah, jadi anaknya tunggul ametung balas dendam kepada ken arok ' DEWA: Iya, dan itu berlangsung dari generasi ke generasi yang konon katanya juga sampai 7 turunan seperti apa yang mpu gandring STAGE VI katakan SETTING KEMBALI KE RUANG KERJA KASITA: Kalau saya bisa simpulkan ya pak,,, dari KASITA: cerita-cerita bapak di tadi…banyak sekali Terus setelah Ken Arok membunuh si pemyang dapat kita ambil hikmahnya....banyak buat keris tadi? pengalaman-pengalaman yang di petik di DEWA: balik cerita-cerita tersebut.... Ya terus Ken Arok berhasil membunuh DEWA: Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes. Itulah manfaatnya belajar sejarah agar kita KASITA: bisa ambil baiknya dan tidak salah perhituBerarti orang-orang tidak tahu kalau Ken Arok ngan dalam menyikapi masalah membunuh Tunggul Ametung? KASITA: DEWA: Jangan lupa pak, setiap zaman ada masanya Saat itu belum tahu tetapi orang-orang tahudan setiap masa ada orangnya nya yang membunuh Tunggul Ametung DEWA: adalah Kebo Ijo? Tumben kamu pintar?? KASITA: KASITA: Kebo Ijo? Siapa lagi itu Pak Dewa? Ya iyalah, siapa dulu,,,kasita… DEWA: DEWA: Iya…. Dia adalah teman Ken Arok yang suka Makanya generasi muda sekarang harus pada keris Ken Arok dan dia sering membacerdas… Jangan hanya diam…kita semua wanya, jadi orang-orang menilai kalau yang harus buat perubahan untuk bangsa ini…apa membunuh Tunggul lagi mahasiswa yang demo sana sini, kritik Ametung adalah Kebo Ijo ……. Dan Kebo Ijo sana sini tanpa mengerti duduk permasalapun akhirnya dihukum ……itu adalah siasat hannya.mahasiswa adalah kontrol sosial atas dari Ken Arok supaya tidak ketahuan. kebijakan pemerintah serta penggerak kemaKASITA: juan dan mehasiswa adalah harapan besar Wah…..Ken Arok sungguh cerdik sekali ya yang kelak menjadi pemimpin bangsa yang pak….. Pintar sekali…….. membuat perubahan DEWA: KASITA: Iya…..tetapi sepintar-pintarnya bajing melon- Setuju pak… cat pasti akan jatuh juga……. DEWA: KASITA: Sebetulnya negri ini belum merdeka yang Maksudnya? sesungguhnya… DEWA: KASITA: Semua itu akhrinya tercium oleh anaknya Maksud bapak?? Tunggul Ametung yang saat Ken Arok sedang DEWA: menikah dengan Ken Dedes….. Ken Dedes coba kita lihat potensi-potensi di negri kita... sedang hamil dan akhirnya melahirkan dari Katanya negeri kita adalah negri agraris tetapi anak asli Tunggul Ametung yang bernama kenapa harga beras mahal. lihat pengangguran Anushopati……nah…… Saat ia besar ia merajalela dan anak-anak kecil banyak yang gentian membunuh Ken Arok yang konon terlantar di jalan-jalan. katanya juga dengan keris itu…….


KASITA: iya juga ya pak...jadi sedih aku melihatnya... DEWA: (melihat jam tangan) waduh...sekarang sudah jam berapa kasita?bapak terlambat menjemput den wahyu ini....wah...bapak nanti di pecat ini.... KASITA: ough...iya-iya pak.....skalian saya nunut ke depan ya pak ya....saya mau beli sayur.... DEWA: iya...ayo cepat kasita.... MEREKA BERDUA BERGEGAS MENINGGALKAN RUMAH DAN LAMPU BERUBAH MENJADI REDUP KEN AROK: Aduh...aduh...capek juga ya jadi patung? (sambil menggerak-gerakan badan) GAJAH MADA: iya juga ya.... KEN AROK: hey...siti jenar....ngapain kamu masih jadi patung? Jadi patung kok betah. SITI JENAR: Siapa yang menjadi patung,aku sedang bertapa. GATOT KACA: Halah, gayane pol mentang-mentang hobinya bersemedi jadi bawaannya pengen bertapa terus. SITI JENAR: bersemedi dapat menyebabkan kita dekat dengan tuhan GAJAH MADA: ya sudah biarkan saja lebih baik kita langsungkan saja penyerangan KEN AROK: maksutmu kita mau menyerang apa? GAJAH MADA: ya menyerang ke pawon alias dapur, mumpung yang jaga rumah lagi ngak ada. (meninggalkan stage menuju dapur) GATOT KOCO: wooooo,dasar wong edan!!!perut aja yang di gede-gedein.

KEN AROK DUDUK TERMENUNG GATOT KACA: ada apa denganmu ken arok?kenapa kamu bermuram durja begitu? KEN AROK: aku sedang memikirkan apa yang dikatakan dengan pembantu tadi GATOT KACA: maksutmu dengan indonesia di ambang kehancuran? KEN AROK: iya,aku tidak rela saja kalau apa yang di katakan pembantu tadi benar-benar terjadi ken arok, aku yakin generasi muda pasti bisa memecahkan permasalahannya sendiri KEN AROK: tapi aku ragu tot!! GATOT KOCO: tetapi mereka memiliki kecerdasan melebihi di jaman kita ken. KEN AROK: Lho, kata siapa?? ndak ada yang bisa melebihi kecardasan jaman dulu, buktinya aku bisa menikung istri baginda rajaku walaupun aku masih menjadi seorang pengawal. Dan gajah mada yang naudubilah kaya gitu hampir menyatukan nusantara malah orang gila ini mengaku dirinya Tuhan, apa namanya manunggaling yang maha esa. SITI JENAR: bodoh!!!!!!!!!manunggaling kaulo gusti. KEN AROK: ya, itu maksud saya. GATOT KACA: kamu ternyata tak sepintar yang aku kira ken arok, lihatlah sekitar kita apa ada jaman kita senjata yang tinggal pencet langsung jebluk?? tinggal pencet terus bisa omongomongan jarak jauh, bahkan mereka dapat membuat replika saya kalo gak salah otot kawat balung wesi gak adakan itu semua KEN AROK: ya tapikan bukan buatan asli pribumi negri ini.


GAJAH MADA DATANG MEMBAWA MAKANAN DARI DAPUR GAJAH MADA: Pada ngomongin apa ini?nih aku bawakan makanann dari jaman ini.dahulu gag ada lho, dahulu ramban kok di makan. KEN AROK: dari pada ini sampah kok di makan. GAJAH MADA: ini namanya pizza o"on. GATOT KOCO: tinggal makan aja ribut dari tadi kok kamu bawaannya sewot aja to ken. SITI JENAR IKUT BERGABUNG MENYANTAP MAKANAN GATOT KACA: Lho katanya mau bersemedi kok ikut makan? SITIJENAR: aku lapar dan mau merasakan makanan jaman sekarang KEN AROK: katanya mengaku dirinya tuhan tapi kok punya rasa lapar opo kui tuhan kok doyan pizza. hahahahaha SETELAH SEMUA MAKAN HABIS MEREKA KEMBALI BERCAKAP-CAKAP GAJAH MADA: ada yang lupa? SITI JENAR: apa yang lupa? GAJAH MADA: sebentar(mengambil sesuatu dari sakunya) Nah ini pencuci mulut jaman sekarang biasanya yang dilakukan setelah makan ya merokok KEN AROK: Gak mau ah meroko dapat menyebabkan kangker, serangan jantung,ipotensi dan gangguan kehamilan pada janin GATOT KACA: lho gimana tha? Itukan untuk manusia lha kita kan patung jadi ya bebas gag bisa terkena kangker,serangan jantung dan mandul seperti kamu!!

KEN AROK: mandul ndasmu!!!aku ki gag mandul yo lha wong sudah terbukti dengan ken dedes nyatanya aku memiliki anak,wah jadi ingat saat malam pertama sama ken dedes goyangannya itu lho pantura banget lho!! GAJAH MADA: punya anak aja kok di banggakan aku juga bisa kalo membuat anak. KEN AROK: lho yang penting kan prosesnya pada masaku apa kamu menikung istri baginda rajamu sendiri? GAJAH MADA: Kok menikung lha wong menyatukan nusantara aja aku berani GATOT KACA: Heh!!!! Pada diem semua kalo narsisnarsisan yang paling keren tu aku coba siapa yang berani ma aku sampai-sampai julukanku otot kawat balung wesi KEN AROK: gag bisa tetep aku yang menang dari mpu gandring pembuat keris yang sakti sampai rajaku sendiri GAJAH MADA: Gag tetep aku cikal bakal nusantara ya aku yang merintis GATOT KACA: Iya setelah itu di deportasi kepada rajaku sendiri..... hahaha...di pecat SITI JENAR: Hentikan!!!!kalian semua pada ngomong apa?? Yang peling hebat adalah aku,aku sudah dalam tingkatan manunggaling kawula gusti bisa hidup dalam mati dan mati dalam hidup!! SEMUANYA TERBENGONG MELIHAT SITI JENAR DAN TIBA-TIBA ADA SUARA GADUH DI BELAKANG LALU MEREKA BERLARI KE TEMPAT SINGGAHAN PATUNGNYA MASING-MASING GAJAH MADA: ternyata hanya kucing to? Kaget saya. GATOT KACA: saya kira pemilik rumah,untung saja.


TERDIAM SEJENAK SAMBIL MELAKUKAN AKTIFITAS MASING-MASING TETAPI KEN AROK MEMBACA KORAN KEN AROK: ngomong-ngomong sekarang ini juga bisa disebut kerajaan modern. GATOT KACA: Lho kok bisa? KEN AROK: Coba baca di koran ini banyak sekali kerajaankerajaan yang ingin menjadi penguasa dari kerajaan Gokart,Hamburan,Hati menari dan yang lainnya pada mencalonkan patihpatihnya untuk menjadi pemimpin di negri ini GATOT KACA: itu bukan kerajaan tapi partai geblek!!! KEN AROK: lho sama saja buktinya saat sudah menjadi pemimpin ia hanya memakmurkan partainya itu sendiri dan orang-orang tangan kanannya malah disini ada perebutan kekuasaan dan jabatan GAJAH MADA: betul itu yang di katakan oleh ken arok SITI JENAR: itu semua karena peninggalan-peninggalan kita yang busuk dari jaman sekarang. GATOT KACA: Lihat tu gajah mada kejelekannmu di tiru oleh anak cucu kita GAJAH MADA: Enak saja!!!!ken arok itu dia kan lebih tua dari aku dan kasusnya dia ingin merebut kekuasaan rajanya. KEN AROK: Kok aku lagi!!!! Aku dulu cuman ingin merebut istrinya. GAJAH MADA: Ngaku aja deh orang sudah lewat juga. KEN AROK: Iya-iya tapi cuman dikit 3 banding 2 lah.. GATOT KACA: Sami mawon mas dasar searakah.. KEN AROK: Maaf....khilaf-khilaf..

KEN AROK MENERUSKAN MEMBACA KORAN KEN AROK: Lah, ini ada lagi berita yang aneh. GAJAH MADA: apa tu? KEN AROK: Mama mia meramalkan pada tahun 2012 bulan 12 tanggal 12 kiamat akan datang dan manusia di ambang kematian GAJAH MADA: Lihat tu siti jenar, ada yang meramalkan masa depan berarti dia menamai dirinya Tuhan.. SITI SENAR: Tidak mungkin, akulah tuhan yang sebenarnya dia hanyalah mengada-ngada kalaupun nanti akan kiamat kita semua harus senang karena kita akan mengalami kehidupan yang sebenarnya. kehidupan yang abadi, dukan di sini tempatnya kita hidup. Disini kita hanya semetara saja berbahagialah wahai manusia jika itu benar. KEN AROK, GAJAH MADA, GATOT KACA: Woooooooo!!!! Dengkulmu bahagia ki to!!! GATOT KACA: Kiamat tu gak ada yang tau kapan terjadinya, kalo pun iya cepay-cepatlah tobat kau siti jenar GAJAH MADA: Tapi juga benar lho isi berita, sekarang udah banyak tanda-tandanya coba kita lihat banyak bencana alam, banyak hewanhewan yang gak wajar seperti kambing berwajah kanguru atau kanguru berwajah manusia, hiiiiiii dan lagi banayk manusia yang melanggar kodrat cowok jadi cewek dan cewek jadi cowok.. KEN AROK: Jangan sembarangan kamu kalo ngomong gajah mada, itu semua hanya kebetulan.. GATOT KACA: Udah udah, jangan bicara tentang kiamat lagi, yang lain aja bikin ngeri tok. ken ada berita yang bagus untuk kita bahas gak?? Tapi jangan yang bikin kita ngerti. KEN AROK: Sebentar. (KEN AROK MEMBOLAK-BALIK KORAN) Nah, ini ini dia!


GATOT KACA: Apa? KEN AROK: Seorang remaja memperkosa gadis di bawah umur di taman pada malam hari.. GAJAH MADA: berita apa itu tidak bermoral!!!! GATOT KACA: Lihatlah ken arok!!!!kebejatanmu menurun ke anak cucuk kita!!! KEN AROK: Aku terus yang disalahkan!!!!apa kau tak sadar kalo tidak ada kita maka gag ada semua ini!!! Kau hanya bisanya menyalahkan orang tanpa melihat kebejatan-kebejatanmu sendiri!!! GATOT KACA: Maaf ken arok, lantas apa yang harus kita perbuat? SITI JENAR: Tidak ada yang bisa kita perbuat!!!kita harus yakin kepada generasi penerus sekarang. merekalah yang akan membuat perubahan di negara ini kita hanya bisa melihat karna setiap jaman ada masanya dan setiap masa ada pada jamannya.ini jaman mereka dan ini masa mereka biarlah mereka yang membawa perubahan di negara ini!!!!!!!! MEREKA SEMUA TERMENUNG MENDENGARKAN SITI JENAR DAN LAMPU BERLAHAN-LAHAN PADAM STAGE VII PAK DEWA DSEDANG TERTIDUR DI KURSI DAN KASITA MASUK MAU MEMBERSIHKAN TEMPAT KASITA: Pak dewa ayo bangun mau saya bersihkan, Pak dewa ayo bangun sebentar lagi jamnya menjemput den wahyu lho pak dewa.. DEWA: Iya...sebentar kasita. KASITA: Iya ayo bangun! PAK DEWA DUDUK SAMBIL MNGUSAP-USAP MATA DAN MELAMUN SEBENTAR KASITA: Pak dewa ini bagaimana to? Sehabis tidur kok melamun? DEWA: Kasita bapak tadi baru saja bermimpi kalo patung-patung itu hidup dan berbicara, Kasita. KASITA: Bapak ini bagaimana to? Sudah tua pikun ngomongnya ngantur.lha wong tadi bapak aja mbaca koran terus tertidur setelah mengantar den wahyu sekolah. DEWA: Tapi di mimpiku ada yang aneh kasita. Patung-patung itu membicarakan jaman sekarang. KASITA: Wes dah sana basuh mukanya terus menjemput pulang den wahyu pak dewa. DEWA: Iya..ech tapi pokoknya tentang generasi penerus bangsa harus memiliki akal dan budi luhur yang baik!!!!! SELESAI



Buletin Sastra Lembah Kelelawar #5 (Hati-hati)