Issuu on Google+

Edisi Empat / Mei 2009

Edisi 3/ April 2010

tidak ada permainan, ga usah main-main!


tidak ada permainan, ga usah main-main! Bermain merupakan hal diajar-tidak diajarkan. Diajarkan bagi sebuah permainan baku seperti badminton dan futsal, tidak diajarkan bagi permainan alamiah seperti bermain air dan kudakudaan. Semua manusia bisa bermain. Bermain seperti hal-nya sesuatu yang (terkadang) tak memerlukan penjelasan. Bayi menangis (mungkin) juga sebuah ajang untuk bermain bagi si bayi. Bermain tidak semata menjurus pada penghiburan diri. Bermain mempunyai artikulasi yang berbeda tiap individu. Anak-anak bermain dengan mainannya sebagai penghiburan atas pemikiran kekanak-kanakan-nya. Berbeda dengan manusia dewasa mutakhir, bermain terkadang sebatas pencarian tantangan. Segala hal bisa menjadi varian media bermain. Mainan adalah sebuah media lampiasan wujud bermain. Akan sangat berbeda ketika manusia beranjak dewasa. Daya ungkap bermain akan mengalami transedensi yang beranekaragam. Bukan berarti menjadi dewasa tidak membutuhkan mainan. Cara dan ungkapnya saja yang berbeda. Seberapa pun umur dan intelektual-nya, bermain masih saja dibutuhkan. Yang terkadang salah adalah menempatkan “bermain” pada hal yang keliru. Tengoklah koran hari ini, banyak kita jumpai pihak-pihak yang asik dengan “mainan-nya” masing-masing. Partai yang asik dengan mainan bursa calon ketua baru, polisi yang masih saja bermain dengan kasus korupsi, artis bermain dengan selingkuhannya, musisi yang asik mengimpor “mainan” pendahulunya, penyair yang masih saja bermain kata-kata.. Dan semua model permainan yang timbul-tenggelam mengisi blantika kebermainan masyarakat kita.

Suatu hal yang perlu dipertanyakan adalah; apakah kita akan terus bermain-main? Suatu hari seorang bocah penggila winning eleven bermain PS sampai larut pagi. Padahal dia harus berangkat ke sekolah. Akhirnya bocah itu terlambat. Karena semalaman main PS, si bocah lupa menggarap PR. Kemudian dimarahilah si bocah oleh sang guru. Si bocah disuruh keluar dan tidak boleh mengikuti pelajaran. Intinya, si bocah bermain di saat tidak seharusnya dia bermain-main. Buletin Sastra Lembah Kelelawar menggenapi edisi yang ke-4. Bukan main-main, bukan pula permainan. Segenap redaksi merasa perlu sedikit “tidak main-main” dalam keredaksian, perbendaharaan, administrasi serta menservice cara berpikir yang “main-main”. Perlahan kita tinggalkan kebiasaan bangun siang, mandi dua hari sekali serta malas beli rokok tapi suka minta rokok teman. Harapan untuk masa yang akan datang, Lembah Kelelawar akan berbenah dari segala hal berkaitan sambung-nyawa komunitas, loyalitas, eksistensi dan independensi berkomunitas. Membagi waktu bermain, belajar, tidur siang pacaran, cebok dan masuk kuliah. Tidak sekedar “main-main” tanpa menghasilkan. Hidup memang sebuah permainan, dan hiburan. Tetapi akankah kita tetap mempermainkan-dipermainkan diri sendiri? Seperti kata Bang Iwan; mari mandi dan gosok gigi, lalu setelah itu kita berjanji. Mari benahi diri dari “mainan” dan “permainan” yang kurang bermanfaat.Sebelum ditegur sang guru dan disuruh keluar dari kelas. Bermainlah pada waktu dan tempat yang sesuai. Jika tidak ada permainan, tidak usah main-main! Jika masih saja mempermainkan hidup dan masa depan, silakan keluar! Pintu belakang terbuka lebar-lebar, pintu kanan khusus buat penumpang, pintu kiri ke kamar kecil.. hahaha (red/wid)

komunitas sastra lembah kelelawar adalah komunitas yang ingin mengajak belajar menutup liang kubur dan mencipta surga tersendiri di dalamnya. lahir pada hari selasa, 11 agustus 2009, 11.50 pm. Didirikan oleh sulung pamanggih, widyanuari eko putra dan setia naka andrian, kemudian merangkul ibrahim, charier, fitriyani dan maftuhah.

tulisan dapat dikirim langsung, hub: 085290066710/ via email:

lembahkelelawarsastra@yahoo.co.id blogs: lembahkelelawarsastra.blogspot.com

Markas Kecil ‘Lembah Kelelawar’

Jl. Pandean Lamper 3 No. 337 A Kawasan Jembatan TI Semarang


tanda tangan aku tunggu di halte yang sesak kecemasan membawa tas berisi sejumlah nama-nama mewah yang hendak kuledakan seperti pesanmu yang tak sabaran atas nama tanda tangan aku tahu kau tak setuju dengan tanda tangan pada lembaran-lembaran uang kertas. menurutmu itu hanya soal kepantasan sebab tak ada tanda tangan pada uang koin, tapi kau tetap ingin memahat tanda tanganmu disitu aku masih menunggu hingga jari-jari tanganku sendiri yang tiba-tiba berubah petasan lalu meledak berurutan seperti saat-saat menjelang lebaran percik darah beterbangan menguasai kembang-kembang api namun, jari-jari tanganku tetap mampu bekerja sama untuk menulis sebuah tanda tangan pada lembaran uang kertas tanpa setahumu pandean lamper, maret 2010

Dari jauh saja kita menusuknya Hari ini masjid di RT kita sepi kurban Untungnya ayah pulang membawa sekantong plastik daging kambing Anehnya rumah ini hening. Tidak seperti dulu saat kita berebut tugas; mengiris menjadi beberapa potongan kecil-kecil, lalu menusuknya Tentu kau masih ingat kalau di antara kita paling malas pada bagian membakar, sampai akhirnya kita menyuruh mas Jon sebagai juru bakar Dan hari ini, bersama semut aku menyantapnya Maaf, aku tidak bisa menemanimu berebut menusuk satu-persatu potongan kambing seperti lebaran yang sudah-sudah. Maaf juga aku tidak bisa membuatmu jengkel seperti dulu, karena ulahku yang paling tidak mau untuk membakar. Kini aku hanya bisa membayangkan semua itu dengan caraku sendiri. Dan semoga rasa satenya tetap seenak dulu Tidak. Rasa satenya berubah asin, bukan karena kecap atau kebanyakan margarin, tapi karena air mata yang tiba-tiba merembes di kaca bibirku Di sini hujan, tempat tidurku pun basah. Padahal genteng yang bocor kemarin sudah diganti sama pak Udin Bojongnangka, 27 Nopember 2009


Renungan batu kali

Kematian Percakapan Tibatiba Percakapan menjadi hiruk Tapi kau semakin remuk Ah... tuhan t'lah melahirkanmu percakapan liwangliwung hirukpikuk gaduh... pasar... Ah... tuhan menamaimu percakapan nyawamu setengah hilang terbawa gaduh di gardu kampung bapakmu tuhan membesarkanmu percakapan hingga kandangkandang mewah itu serupa pasar menarik ulur penderitaan jelata dalam gubug renta kali ini tuhan mengambilmu lagi percakapan meletakkanmu di bawah ranjangnya

Plukk... Badannya tak angkuh dia jatuh pada matamata kaca tersisa dari yang ada tuk berada Tuhan melahirkannya dari cinta bukan hanya yang tersisa Aku ingin diam saja sepertinya hingga fajar membelai matamata kaca lalu bias bayangannya terbaca pada mata alam kau tak lelah menahan hujan meski tubuhmu adalah tumbal kau pernah katakan ingin mengabdi pada rumah seperti lebah penjaga sarang atau anjing tua yang setia akan majikannya terkadang kau marah pada kakikaki tak beralas sebelum malam ini ragamu terjemput gerimis lalu larut mengikuti jalan setapak yang kau bangun di depan rumahmu mungkin besok pagi mentari cuti untuk menghadiri pemakamanmu.... 090909

lalu kau bertanya dengan dahi berkernyit “kenapa kau letakkan aku begitu saja?� Percakapan.... Seandainya tuhan bercakap dengan percakapan.... Semarang, 191109


Lukisan hujan ; sepotong kisah untuk pecinta hujan Kala gelayut mendung manja menyapa. Kutata kanvas menjadi kata. Menjajarkan namamu. Merangkai kisah yang tak terbaca. Masih merapal mantramantra. mentasbihkan namamu di tetes hujan pertama. Hujan kali ini masih tentang kamu. Lima hari lalu aku temukan kau terpekur dalam damai rinairinai terurai. “Langit begitu arif,”katamu. Matakacamu berbicara dalam bisu. Cukup hujan memberimu ruang untuk sekedar mengambil jeda dari bingar yang sepi. Kemarin, kau kirimkan linangan air matamu pada langit. Mungkinkah kau akan menunggu hujanmu kembali? Sementara langit letih dan menggigil. Tak ada hujan hari ini. Lalu kulihat kau masuki ruang itu lagi. ruang penuh luka. Namun kau bisu dan bertahan. “Esok mungkin hujan akan menyapa tidurku,”tuturmu pada renung yang memanjang. Pagi ini langit berduka atas kematian hujan. Tak akan ada hujan menyapa harimu. Tanpa jeda melawan luka untuk kebisuan sempurnamu. Matakacamu padam. Tahukah kau, aku terluka melihatmu terpenjara dalam sakit yang tumbuh subur di rumah kacamu... Mungkin itu tak penting bagimu. Namun tak pernah sedetikpun namamu terhapus dari tiap hela nafasku. Dan tak pernah pikirku hengkang dari raut wajah birumu. Dariku yang hanya berdiri disisi kesakitanmu tanpa berkata. Aku titipkan lukisan hujan pada langit untukmu. Jajaran nama berairmata. Setidaknya kau akan merasakan kesejukannya jika kau layangkan matakacamu pada biru sang langit. Lalu biarkan aku tertidur setelahnya. Akumasihmembawanamamudalamnafaskuyanghampirhabisini. SEMARANG,051209 Teruntuk orang hebat yang selalu memberiku inspirasi... Thanx.....

Nobinobi Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya UNDIP 2007, bergiat di komunitas hysteria, pengelola zein PINROF, juga bergabung dalam teater ‘komunitas panggung’ pimpinan Alfiyanto.

lukisan judiyo


Balada Kota Pensiun Aku terlahir di kota ini Kota yang terletak di palung ketenangan Di antara pantai-pantai penuh keindahan Tak jarang kulihat bukit yang senantiasa asri

Balada Kota Pensiun II

Bapak-bapak sering bersepeda kumbang Ada yang masih bekerja Ada pula yang purna Mereka seakan kokoh Di sela gencarnya modernisasi Tak pandang uang tak pandang kemewahan

Tertegunku karena kepolosanku Diantara relung-relung terpaku Memaksa hidup ini tuk berpacu Kapankah waktu ini luang Tuk sejenak ku hela nafasku Di antara riuh redam dan gegap gempita Dan dunia semakin penuh euphoria

Di sini ketenangan yang mereka inginkan Harapnya tak lebih Dalam harap mereka Kelak mereka lebih baik dari beliau Betapa harap nan mulia

Menunggu dan diam itu bukan opsi Namun hanya ikuti arus Menurutku itu hanya sensasi Galau aku hadapi insan yang semakin beragitasi Sambil mengelap kaca dan bingkai Mauku tak lebih dari sekedar toleransi Berisi potret keluarga Hargailah kami yang rela pucat pasi Sang bapak berujar pada ibu Hanya untuk sumbangsih kami Beliau berencana untuk sekedar memugar Pada kotaku Bilik kecil peraduannya Yang tak lain berupa prestasi Harap kecil bilik itu menjadi singgasana sementara Saat putra-putri dan cucunya kelak Rupiah demi rupiah terjaga dalam rencanannya Sekedar mainan,hidangan atau apapun ala kadarnya Hanya demi bahagianya cucu dari anak mereka

Semarang,September 2009

Sang bapak tlah menua Rambut tlah memutih Tak lelah mereka walaupun kakek nenek sekalipun Mereka tetap setia demi menyambut belahan jiwa Saat gema mubarak berkumandang Sekedar camilan khas ku rasa itu lebih dari cukup Kini ku hanya mampu membalas dengan asaku Tuk berinya harapan Bahwa kelak ku akan berkarya demi kota ini Berbekal ilmu yang kudapat dari kota seberang Pati, Maret 2009 Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris IKIP PGRI Semarang, semester 2, aktip di UKM KIAS IKIP PGRI Semarang


ruang harap sayup daun serta gerimis orang-orang tak mengarah diantaranya ada satu masa yang jauh masa yang melihat hewan-hewan tak terurus di tengah, melong-melong liar dan belum menjawab mungkin ini senyum yang tak pernah, semua menjadi bintang cerita orang penulis kini mengabdikan sebagai pengajar SMP PGRI 16 Brangsong, Kendal lulusan IKIP PGRI Semarang 2007, lampu alam semasa kuliah aktip di Teater Gema lihatlah selendang menatapmu di ujung senja, indah sekali bukan? dia menghalangi penampilannya yang bisu, dan hanya ada satu yang membuat kita mati suci warna laut yang melangit tanpa batas. LA, 16-02-10

LA, 17-02-10

lukisan judiyo


kini perupa tersebut mengabdikan dirinya sebagai pengajar di SMA N 2 Kendal


kucing tetangga Oleh: Han Gagas

Bagi sejumlah orang, mungkin kucing begitu disayangi. Tapi aku amat membencinya. Warnanya yang elok tak membuat ku jatuh hati kepadanya. Apalagi ia telah membunuh anakku tepatnya janin dalam rahim isteriku. Hal itu aku ketahui setelah isteriku harus menjalani operasi kuret karena keguguran. Dokter memberi penjelasan virus TORCH sangat mungkin menjadi faktor penyebab janin itu berhenti dari pertumbuhannya. Kami telah berdiskusi macam-macam dan menarik kesimpulan kucing tetangga yang sering berkeliran di seputar rumahku menjadi penyebar virus itu. Aku berniat membunuhnya. Sayang keberanianku terenggut keraguan. Kucing itu milik seorang preman kampung. Sedang aku, pendatang baru yang belum genap setahun tinggal di perumahan ini. Aku hanya menyimpan niat yang membara di dada itu. *** Semua berawal ketika aku dan isteriku tinggal di perumahan. Walau rumah kontrakan ini kecil aku sudah amat bersyukur. Namanya saja perumahan biasa kalau temboknya ompong, kayu-jendela dan pintu yang dimakan rayap, plafon retak-retak, serta blandar dan reng bagian luar bangunan yang gapuk, itu biasa. Setelah beberapa hari menempatinya, aku mulai terusik karena ada seekor kucing yang suka berada di plafon. Aku khawatir, berat badannya tak sanggup disangga plafon retak itu. Apalagi kucing itu sering ribut mengejar tikus. Tak hanya menaiki plafon, kucing itu juga sering membuang kotorannya di halaman. Tanah halaman itu dicakari dengan kuku-kukunya hingga membentuk lubang. Lalu tak lama lagl lubang itu menjadi munjung berisi onggokan tahi kucing. Aku mulai membenci kucing itu. Untuk mengenyahkan kekesalanku, aku sering mengusir kucing itu dengan gagang sapu. Tapi dasar kucing, ia tak pernah jera untuk kembali terutama pada saat malam tiba. Sering pula bila ia datang, aku segera berlari ke kamar mandi

mengambil seciduk air lalu dengan cepat menyiramkannya. Dan, hatiku sedikit girang melihat kucing itu lari terbirit-birit. Tapi dasar kucing, setelah lewat hari, ia kembali. Aku geram dibuatnya. Aku mulai berpikir untuk membunuh kucing itu. Memojokkannya di sudut rumah lalu menggebuknya dengan kayu, menembaknya dengan senapan angin, atau meracuninya. Aku memilih cara terakhir karena tampak lebih aman dan gampang. Tapi aku tetap tak tega membunuhnya, lagi pula ia milik seorang preman. Aku tak mau persoalan ini menjadi runyam. la pasti tak rela kucingnya mati. Lalu petaka itu datang tiba-tiba. Isteriku mengaduh, dari pangkal pahanya mengalir darah kental. Aku segera menyumbatnya dengan jarik agar darahnya berhenti. Lalu segera naik taksi meluncur ke rumah sakit. Namun terlambat, kata dokter jaga, janin itu telah gugur. Aku lemas, isteriku menangis. Petaka datang tiba-tiba. Kau tahu, betapa sakit kehilangan harapan. Betapa perih kehilangan kasih tercinta. Dokter memanggilku, kami berdiskusi. Aku menjelaskan dulu isteriku pernah keguguran. la menyuruh agar istriku melakukan uji lab. Kata dokter, akhir-akhir ini banyak kasus keguguran berulang disebabkan oleh virus TORCH, khususnya toksoplasma. Virus yang disebarkan melalui daging dan sayur yang dimasak kurang matang, makanan hampir basi, kotoran kucing, anjing, burung dan lainlain. Dari berbagai faktor itu, pikiranku langsung mengarah pada kucing tetangga. Aku makin benci dan bertekad membunuhnya. Benar juga, hasil lab positif. Dendam menuntut. Bunuh balas bunuh. ***


Aku membeli racun tikus. Dosis kubuat lima kali lipat menyesuaikan tubuh kucing itu yang sekitar lima kalinya tikus. Kebetulan isteriku pas menggoreng ikan asin. Aku yakin sebentar lagi baunya akan mengundang kucing itu datang. Dan betul juga, bunyi meong terdengar mendekat. Dadaku bergolak menahan hati yang geram. Malamnya aku menaruh ikan itu hanya kepalanya saja di keranjang sampah. Tentu racun sudah kutambahi lagi dengan memasukkannya ke dalam batok kepala ikan. Dari celah jendela aku mengawasinya. Tak lama kemudian, terdengar suara kemrusak. Mataku memicing, tampak kucing itu mengais sampah. Dan, hatiku girang, ia menggigit kepala ikan itu. Dalam tempo singkat, yang digigit tertelan habis masuk ke perutnya. Aku menunggu. Kucing itu mengeong pelan, lalu diam. Aku segera mendekat. Tubuhnya kubungkus dengan tas kresek, segera aku ke kali yang tak begitu jauh dan membuangnya. Derasnya aliran air menelan bungkusan tas kresek itu. Aku pulang dengan hati senang sekaligus bergetar, semoga majikannya tak pernah tahu peristiwa ini. Paginya, pintuku digedor. Aku gemetar, isteriku juga. la kusuruh tenang di kamar. Aku keluar dan mendapati preman itu kelihatan marah. Pisau terlipat di pinggangnya. Aku gentar. "Kucingku hingga kini belum pulang, kau tahu di mana kucingku?" Aku diam. "Hah, kau bisu ya!" Aku tetap diam. "Dari semua orang di kampung ini, katanya kau yang benci sama kucingku. Temanku, saat mancing semalam melihatmu membuang tas kresek ke kali. Awas jika kau telah membunuh dan membuangnya!" Aku coba tenang. "Jika kau membunuhnya, aku akan balas membunuhmu!" Kata-kata itu menyembur mukaku, menghantam dadaku. Memercikkan bara.

“Tapi, ia telah membunuh anakku," sahutku. "Apa? Kucing membunuh manusia! Mana ada itu." "Isteriku keguguran dan dari hasil uji lab, kata dokter disebabkan oleh virus tokso yang juga disebarkan melalui kotoran kucing," sahutku lebih berani. "Tapi, apa yang punya kucing itu aku saja?" "Kucingmu yang sering berkeliaran di rumahku." "Mana buktinya kucingku mengandung virus itu?" Aku diam. "Berarti benar kau telah membunuh kucingku. Edan kowe!" la mengambil pisau dan menunjukkan kilatannya ke mukaku. Mataku melihat tajamnya pisau yang kelihatannya baru saja diasah. Para tetangga mulai berdatangan namun mereka hanya menatap. Jelas mereka hanya menonton, tak berani lebih. Huh, semua penakut, tunduk sama preman kampung. Tibatiba keberanian membuncah di dadaku. Ditatap banyak orang, egoku naik, nyaliku menguat. "Kau hanya berani berkelahi dengan pisau sementara lawanmu bertangan kosong." "Kau menantangku?" "Kalau kau lelaki, mari kita berkelahi tanpa senjata." "Ayo!" "Jangan Bang!" isteriku keluar rumah dan menahan langkahku. "Biarkan suamimu ini memberi pelajaran pada preman kampung ini. Preman musuh masyarakat. Kita harus berani melawannya!" Lalu kami mendekat, membuat arena di tengah jalan. Orang-orang hanya merubung, menonton. "Kalau kau jantan buang dulu pisaumu!" ' la membuang pisau itu ke tepi jalan. "Aku memang membunuh kucing sialan itu!" Ia mendengus marah. Aku senang, kemarahan membuat serangannya bakal ngawur.


Ia menyerang dengan cepat, gesit. Aku berkelit. Serangannya membabi-buta. Dan dengan mudah akhirnya aku menaklukkannya. Serangkaian pukulanku menghantam mukanya dan tendanganku menjerembabkan tubuhnya. Sorot matanya yang angkuh, tato tubuhnya, dan cat merah rambutnya ternyata hanya sekadar sok jagoan saja. la lunglai. Orang-orang tampak tersenyum. "Ayo bangun!" Kutarik kerah kaosnya dan sekali lagi tonjokanku menghantam mukanya. Darah meleleh dari hidung dan bibirnya. "Ampun Mas." Aku lepaskan dia. Orang-orang mulai mendekat. Aku diam, mundur perlahan lalu berbalik melihat isteriku. Tapi, ia tercekat, wajahnya pucat. Aku tergeragap. Aku berbalik, namun... ..Jcreesssh... "Ahggkkh.:." Pisau itu menancap di perutku. Darah mengucur deras. Dunia menjadi gelap. Begitu gelap. "Bang bangun! Hari sudah siang." Aku kaget, isteriku memukul-mukul pahaku, ternyata aku bermimpi. Aku tercenung. Isteriku bertanya, "Ada apa, Bang?" Aku menggeleng. Aku bangun dengan malas. Menimbangnimbang untuk pindah rumah atau jadi meracuni kucing itu. Ternyata isteriku sedang menggoreng ikan asin. Aku segera pergi membeli racun tikus. Solo, Januari 2010

Tentang penulis: Han Gagas, cerpennya pernah dimuat media massa nasional dan daerah seperti Republika, Seputar Indonesia, Gong, Littera, JogloSemar, Solopos, dll. Buku kumpulan cerpennya Jejak Sunyi (proyek buku pemerintah, 2008). Novelnya dalam proses diterbitkan. Anggota redaksi Pawon sastra Solo


Membaca karya Sitor Situmorang tak ubahnya kita diingatkan pada sebuah aktivitas rutin yang kita lakukan sesaat setelah puasa selesai. Sekadar rutinitas, itulah frase yang paling tepat untuk menggambarkannya. Karena sungguh pun kita telah berusaha memaknai hari kemenangan itu, ternyata masih terasa jauh dari hakikat hari nan fitri itu. Demikianlah mungkin sekelumit makna yang tersirat dari puisi Malam Lebaran karya Sitor Situmorang. Komentar pendek, padat, dan prismatis akan muncul di setiap benak penikmat sastra ketika membaca puisi ini. Sesungguhnyalah memang demikian puisi sebagai sebuah kristalisasi makna kehidupan. Poetry is the “distillation of the essence of being (Furman, 2007: 1). Puisi adalah sebuah distilasi atau penyaringan atau intisari dari sesuatu. Lebih lanjut puisi dianggap sebagai suatu subjective experience of the individual. Pengalaman individual yang dituangkan ke dalam sebuah tulisan padat makna. Memaknai karya Sitor ini membutuhkan pemikiran yang ekstra karena minimnya kata membuat puisi ini terasa prismatis. Namun demikian, sebuah puisi ketika sudah lepas dari tangan penyairnya, sudah barang tentu menjadi hak pembaca dalam hal pemaknaan. Secara objektif/struktural, kita akan melihat kepiawaian Sitor di dalam pengolahan diksi. Puisi kesedihan pada malam kebahagiaan itu menyajikan keindahan rima berupa kesamaan bunyi “an” dalam kata Bulan di atas Kuburan. Agaknya sitor peka di dalam menangkap fenomena kehidupan yang ia geluti setiap saat dan menuangkan gagasannya tersebut ke dalam puisi yang berjudul Malam Lebaran ini. Banyak hal yang bisa kita hubungkan untuk memulai memahami dan memaknai puisi ini. Sebelum itu, kita dapat memulainya dengan membuat puisi itu menjadi agak lebih diskursif

agar mudah dalam pemaknaannya (secara heuristic). Tahapan selanjutnya adalah dengan pemaknaan hermeneutik (Suyitno, 1999: 185). Untuk pemaknaan ini kita perlu mengetahui aspek ekstrinsiknya yaitu, “asbabun nuzul” puisi itu diciptakan. Pemaknaan hermeneutis dapat kita mulai dari kata “bulan”, “lebaran”, dan “kuburan”. Berawal dari kata-kata tersbut kita akan dapat memahami makna puisi singkat ini. Jika kita mau berpikir sejenak, apakah mungkin ada “bulan” yang muncul pada malam lebaran yang sudah barang pasti, malam lebaran jatuh pada tangggal 1 Syawwal. Inilah yang terkadang kita terlena dengan diksi yang digunakan oleh Sitor. Tentu “bulan” yang dimaksud memiliki banyak penafsiran. Bulan dapat diartikan sebagai sebuah kebahagiaan, ketenangan atau juga sebuah gejala sosial masyarakat.Sitor menggunakan diksi berupa “Bulan” sebagai lambang kebahagiaan dan “Kuburan” sebagai lambang kesedihan. “Bulan di atas Kuburan” bukan berarti kesedihan karena kematian seseorang pada malam kebahagiaan melainkan kesedihan yang diakibatkan kematian perayaan Idul Fitri itu sendiri yang jauh dari makna yang sesungguhnya. Seperti pada umumnya masyarakat Islam, setiap malam lebaran mereka akan bergembira mengumandangkan takbir atau hanya sekadar di masjid. Dalam kontemplasinya, Sitor merasa prihatin dan sedih akan keadaan bangsa Indonesia waktu itu. Malam lebaran adalah malam kebahagiaan menanti hari kemenangan. Baju baru dan makanan mewah seakan menjadi simbol “kembali ke fitrah atau suci”. Bulan Ramadan hanya diakhiri dengan pengeluaran besar-besaran dan menyisakan kesedihan bagi sebahagian orang. Sesungguhnya manusia telah lalai dan lupa tentang esensi atau makna puasa itu sendiri. Hari kegembiraan diartikan sebagai hari ketika semua sanak saudara berkumpul dan bermaafmaafan.


Hari kemenangan menjadi hari malapetaka dan kesedihan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Mereka yang mengalami pengeluaran besar-besaran lupa bahwa di sudut kecil bangsa Indonesia ada yang masih terus berpuasa pada hari fitri itu. Sebagian kecil tadi tidak sedang berpuasa syawal tetapi karena memang tak ada makanan untuk dimakan. Mereka yang bersenang-senang lupa bahwa harta mereka adalah sebagian milik orang fakir dan anak terlantar. Hiruk pikuk kesenangan telah membuat mereka tuli dan buta akan jerit tangis sebagian orang miskin. Kebahagian berkumpul sanak saudara juga menjadi tragedi tersendiri bagi orang-orang yang belum bisa pulang kampung. Sungguh suatu satire yang menusuk bagi kita.

Daftar Bacaan: Aminuddin. 1995. Stilistika: Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press. Furman, Richard. 2007. “Poetry Narrative as Qualitative Data: Exploration into Existential Theory”. Indo-Pacific Journal of Phenomenology, Volume 7, Edition 1 May 2007 page 1-9 Gorys Keraf. 2004. Diksi dan Gaya Bahasa: Komposisi Lanjutan I. Jakarta: PT Jika merunut secara genetis, kelahiran puisi Gramedia Pustaka Utama. malam lebaran muncul spontan dari penciptanya. Saat itu Sitor sedang berkunjung ke rumah Pramudya Herman J. Waluyo. 2002. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Ananta Tour sahabat sekaligus sastrawan besar Newton, K. M.. 1990. Menafsirkan Teks Indonesia - melewati kuburan. Puisinya terdiri satu (terjemahan: Soelistia). Semarang: IKIP baris saja. Walaupun hanya sebaris, terasa sekali Semarang Press. ekstase seorang Sitor dalam puisi itu. sebaris puisi Suwardi Endraswara. 2003. Metodologi tersebut mewakili kesedihan hati sang penyair yang Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka seolah hendak mengatakan bahwa Sitor tidak dapat Widyatama. berkata-kata melihat kejadian ironi di sekelilingnya. Suyitno. 1999. “Taut Kajian StrukturalisSitor prihatin melihat semua orang terlena akan me, Heuristik dan Hermeneutik dalam kebahagiaan dan tidak sadar bahwa mereka telah Telaah Puisi”. Spektrum. Jilid 1 No. 3 jauh dari esensi Idul Fitri yang sesungguhnya. Edisi September-Desember 1999 hal Sungguh sebuah tragedi kematian sebuah hari 182-190. raya namun tanpa disadari oleh semua orang. Ironisnya, peristiwa itu masih relevan dengan keadaan saat ini yang jauh dari masa kelahiran puisi tersebut. Dengan demikian, kita telah terusmenerus dalam kondisi memprihatinkan itu tanpa tahu kapan kita akan terbangun. Konflik yang disajikan Sitor Situmorang diciptakan untuk menegur kita pembaca atau pendengar tentang makna sebenarnya dari puasa Ramadan serta hari fitri tidak hanya ditunjukkan simbol baju baru. Nuansa kritik sosial begitu kental menjadi tema puisi ini. Rasa kemanusiaan dengan sesama manusia lebih penting daripada sekadar pakaian mahal atau makanan mewah. Penulis juga menginginkan pembaca atau pendengar tidak melupakan kewajibannya untuk berzakat karena sebagian harta adalah milik kaum miskin dan anak terlantar. Sepantasnyalah jika puisi ini selalu dikumandangkan ketika lebaran tiba.

Penulis adalah mahasiswi semester 4 Jurusan Fisika FPMIPA IKIP PGRI Semarang


Metamorfosa Bismillah dalam Proses Kreatif Malam sabtu pahing 23 April 2010 belum begitu larut. Jantung kota Kendal masih berdenyut. Alun-alun masih dipenuhi lalulalang orang, sekedar mencari hiburan atau ingin mengganjal perut di warungwarung tenda yang remang. Kandaraan juga masih banyak berseliweran. Biasanya jam-jam begini aku hanya di rumah, mengurung diri dalam kegundahan imajinasi. Kadang melukis, kadang menulis, kadang mengeja huruf-huruf ditemani sunyi. Kental kopi dan kepulan asap nikotin. Tetapi malam itu aku ingin berkumpul bersama Komunitas Kantungkantung Budaya Kendal. Ya, komunitas yang konsen pada kajian budaya Jawa itu tengah menggelar diskusi budaya di trotoar depan Pasar Kendal Permai. Ini baru pertama aku ikut. Kulihat ada beberapa teman yang aku kenal. Selain Mas Slamet Priyo ada Mas Kelana dan istrinya, Narti. Ian dan Agus juga ada di situ. Teman-teman yang lain aku belum kenal. Waktu itu diskusi berjalan santai, sesantai suasana di trotoar yang kami duduki. Mas Slamet memandu diskusi yang bertema 'Wong Kalang'. Sesekali aku urun rembug sambil menikmati kopi dan mengepulkan asap nikotin. Usai diskusi aku lihat benda-benda di depanku. Selain cemilan dan gelas-gelas yang mulai kosong ada beberapa makalah, naskah cerpen, makalah budaya, majalah dan news letter. Mataku tertarik pada news letter 'Lembah Kelawar' edisi 3/April 2010. Aku buka-buka sebentar. Di halaman belakang aku baca ada agenda 'Ndopok Bareng' di Perpustakaan IKIP PGRI Semarang bertema Strategi Bertahan dan Kiat-kiat Mengakses Yayasan Kelola. Memori ingatanku langsung menelisik menuju kenangan. Ya, di penghujung tahun 2001 aku pernah mengikuti Lokakarya Organisasi Budaya selama satu minggu di sebuah hotel berbintang Cirebon. Penyelenggaranya Yayasan Kelola.

Moch Taufiqurrohman Aku coba melontar kata, sedikit bicara tentang Kelola. Naka, salah satu pendiri 'Lembah Kelelawar' tersengat juga. Maka obrolan kami pun mulai menghangat walau kopi yang dari tadi aku sruput sudah mendingin dan hampir habis. Tengah malam; Kendal mulai mengantuk. Lalu-lalang orang mulai jarang. Motor dan mobil yang lewat juga mulai dapat dihitung jari. Aku berpamitan pada teman-teman lain yang masih asyik bercanda dan berdiskusi. Lelah memang. Tetapi sesampai di rumah tubuhku tak langsung merebah. Aku menuju ruang kecil tempatku berekspresi. Kanvas kosong tengah bersandar di dinding. Buku-buku menumpuk tidak rapi di meja. Kutatap lemari berpenghuni buku, majalah dan beberapa katalog pameran. Aha, kutemukan bendel Lokakarya Manajemen Organisasi Budaya. Kubuka lembar demi lembar. Sampai pada halaman peserta, serasa ada senyum dari wajah-wajah mereka. Sederet senyum dari Untari dan Mela (Komunitas Tari Prigel Purworejo), Mas Trontong dan Mas Agung dari Sanggar paramesthi Semarang, Pak Mudjiono dari Padepokan Sarotama Solo, Moeljono dari Yayasan Tangkai Jakarta, Mas Apri dan Mas Rahmat dari Ruang Apresiasi Jakarta, Mas Agus dan Mas Ephron dari Apresiator Teater Bandung dan beberapa senyum yang lain berseliweran di angan-angan seperti memberi semangatku untuk terus berkarya. Aku ingat, dulu waktu sering nongkrong di KOKKANG (Kelompok Kartunis Kaliwungu) aku diminta temanteman untuk mengikuti lokakarya karena syaratnya adalah pengurus harian. Karena teman-teman pengurus harian yang lain tidak bisa meluangkan waktu seminggu penuh maka aku sebagai sekretaris berangkat ke Cirebon sendirian. Awalnya berat juga. Tetapi karena dengan 'bismillah' aku meniatkan diri untuk berangkat dengan harapan semoga bisa menambah teman dan siapa tahu inilah metamorfosa proses kreatifku. Waktu menjelang sore sampailah aku di tempat yang kutuju. Kuistirahatkan sejenak tubuhku, tiduran sambil nonton televisi sekalian menunggu malam untuk ta'aruf direstoran hotel. Hari-hari mengikuti lokakarya kulalui dengan sederhana. Mendengarkan materi dari tutor, mengikuti diskusi kelompok dan presentasi. Cukup lelah memang karena lokakarya dimulai pagi hingga petang. Kami, peserta lokakarya tak pernah menghabiskan malam. Walau tubuh


kami lelah tetapi kami selalu manfaatkan fasilitas hotel. Kadang kami ke tempat karaoke kadang ke diskotik kadang duduk-duduk di tepi kolam renang sambil berdiskusi santai, sharing tentang komunitas masing-masing. Dari situlah otakku mulai sedikit mencair. Aku (dan juga teman-teman) menyadari, betapa dalam berorganisasi kita butuh networking. Juga pengelolaan manajemen organisasi yang baik. Kami sangat bersyukur karena lokakarya di Cirebon belum berakhir. Setelah menyadari kekurangan organisasi masing-masing kami diberi waktu tiga bulan untuk memperbaiki pengelolaan manajemen komunitas masing-masing. Mulai dari dasar manajemen, stakeholder, pelurusan visi-misi organisasi, konsep SWOT, manajemen keuangan dan pemasaran, perencanaan proyek, fund raising sampai penyusunan action plan.

terus terpompa. Ketertarikanku menjalar pada seni rupa, khususnya seni lukis. Aku me-ngonsumsi majalah seni rupa, sesekali nonton pameran, buka-buka katalog, mengakses seni rupa di internet dan silaturahmi ke beberapa pelukis. Maka setumpuk sketsa di atas kertas telah kuhasilkan. Bergulung kanvas telah kugores dengan cat minyak dan akrilik. Gundahku makin menjadi. Kadang aku buat karya kartun, kadang menulis puisi dan cerpen, kadang buat sketsa dan melukis. Tetapi suatu saat aku pernah berpikir, aku seperti orang serakah. Kalau aku tidak memilih berkarya pada salah satu bidang seni, aku akan kehabisan waktu menuruti gundahku. Maka aku mantapkan diri meninggalkan semuanya dan fokus pada seni luSepulang dari Cirebon aku bagi pengalamanku kis. Di bidang yang lain aku akan jadi dengan teman-teman di sanggar Kokkang. Maka apresian saja, begitu tekadku waktu itu. kami mencoba 'memperbaiki diri'. Hasilnya aku bawa Dengan 'bismillah' aku mencoba. Harike follow up di Studio Audio Visual Puskat, Yogyakarta. hariku hanya untuk seni lukis. Sementara Kulihat senyum teman-teman lebih mantap karena aku hanya mengapresiasi karya sastra ternyata telah mampu (mencoba) menjadi lebih baik. dan kartun. Sungguh, jiwaku sakit ketika Acara follow up kami lalui dengan lebih santai diban- ide-ide bersastra (menulis puisi dan cerding waktu di Cirebon. Kami hanya memaparkan pen) muncul kembali dan aku mencegahkeadaan organisasi masing-masing sebelum dan nya untuk berekspresi. Aku merenung setelah mengikuti lokakarya. Aku sangat bersyukur kembali. Sekarang aku tak peduli, gunkarena kami, para peserta diajak silaturahmi ke temdahku tak boleh dikekang. Apapun ide pat peserta lokakarya angkatan sebelum kami. Kami yang muncul dalam benak, akan aku tudiajak sarasehan ke Sanggar Natya Lakhsita Didik ruti demi ketenteraman hati walau gunNini Thowok dan Rumah Seni Cemeti. Sungguh, dah itu menjelma teror setiap waktu. lokakarya yang aku ikuti sangat menyadarkanku Hanya dengan 'bismillah' aku akan terus betapa seorang seniman zaman sekarang ini bukan- berproses. Bagaimana dengan Anda? lah manusia yang hanya mengumbar penampilan Kendal, Awal Mei 2010 Penulis lahir di Kendal, 23 September 1978. Alumni tetapi kosong dalam berkarya. Seniman sekarang IAIN Walisongo Semarang Fakultas Syari'ah Jurusan Ahwal harus memiliki kemampuan lintas disiplin. Di ranah Al Syahsiyah. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Tabloid Cempaka. Selain menulis cerpen, pada tahun 1997 pernah seni apapun seorang seniman harus mampu 'memmengikuti Pameran dan Festival Kartun 'Imadora-Kokkang' baca, menulis dan berkarya'. Ketiganya harus menjadi di Pendopo Kawedanan Kaliwungu, Kendal. Tahun 2001 ikut pameran Kartun DKJT 'Reformasi Demokrasi' di GOR bagian integral bila tak ingin dicap sebagai seniman Bahurekso Kendal. Juga mengikuti Lokakarya Manajemen gagap. Maka dengan 'bismillah' aku terus berproses. Organisasi Budaya Angkatan XVI oleh Yayasan Kelola di Cirebon. Tahun 2002 Pameran Seni Rupa 'Kang Tak lama setelah itu aku ketemu teman-teman 'sehati'. Sen'an' di Kaliwungu Kendal. Juga mengikuti Pameran Kami berdiskusi intens tentang seni budaya. Dari Kartun Internasional' Remembering -9/11', Kyoto, Jepang. Tahun 2004 memenangi Lomba Menulis Puisi Heroik kartun minatku menjalar ke sastra. Aku banyak baca Bupati Cup, Kendal. Tahun 2005 mengikuti Lokakarya karya-karya sastra Indonesia dan beberapa karya Pengembangan Apresiasi Sastra Daerah, Departemen Pendidikan Nasional Jakarta. Tahun 2007 Pameran Kartun sastra luar. Pada tahun 2005 aku sangat bersyukur Internasional, Indonesia-Australia 'Beach' di Sanur, Bali. mendapat undangan mengikuti Lokakarya Apresiasi Pernah juga ikut Pameran dan Bazar Lukisan di Kaliwungu Kendal. Tahun 2008, cerpennya berjudul 'Sepasang Sayap Sastra Daerah di Bogor. Aku bersyukur dapat meCahaya' ikut diterbitkan dalam '25 Naskah Terbaik Lomba nyaksikan pembacaan puisi Presiden Penyair Menulis Cerita Pendek' oleh Departemen Pendidikan Nasional Jakarta. Dalam rangka pembukaan Museum Kartun Indonesia Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, dan ulang tahun Kokkang ke-26 ikut pameran di Museum Jamal D. Rahman dan orang-orang dari majalah Kartun Indonesia, Bali. Kini bergiat di Komunitas Kantungkantung Budaya Kendal. Tinggal di Kendal. Horison yang lain. Maman S. Mahyana, Oka Rusmini, Ajip Rosidi juga mengisi acara. Semangat berkesenian


penulis [dilarang] mampir Widyanuari Eko Putra

Memilih untuk menggeluti dunia sastra bukanlah sebuah pilihan yang main-main. Ada kesatuan minat, bakat dan kesempatan yang terpadu. Hal tersebut merupakan sebuah rangkain takdir. Bahwasanya memilih menjadi penulis adalah takdir. Ketika mencoba untuk tidak menulis, maka hal tersebut adalah sebuah pengkhianatan nurani-sastrawi. (Solilokui, 1984). Memutuskan untuk menjadi penulis, mengeluh ataupun bersyukur tetap saja termasuk dalam sebuah usaha menunjukan eksistensi sebagai seorang penulis.

sepintas-lalu. Dilihat dari duduk per-soalannya, menulis yang sebatas sepintas-lalu terjadi karena keberadaan pengarang yang sekedar “mampir�. Ketika memutuskan maju ke arena kepengarangan. Sekedar “mampir� lalu pulang ke dunia asal, tidur dan berlaku sebagai penonton saja. Kebekuan berfikir yang diselingi prasangka tidak baik menyelimuti penulis yang kebanyakan masih muda. Sebagian menganggap bahwa selalu saja ada dominasi penulis tua, hingga tidak ada ruang bagi penulis muda. Pantas saja jika mereka gagal menjadi benar-benar penulis. Minimnya totalitas tersebut tentunya akan mengurangi kreatifitas dalam mencipta karya. Menulis bagi pengarang yang baik pada Pada dasarnya kreatifitas adalah perenungan dasarnya adalah sebuah proses penciptaan untuk menciptakan sebuah penemuan baru. tradisi bagi diri sendiri ataupun bagi orang lain. Ketika memulai kata-demi kata, secara Demikianlah sebaiknya pengarang yang baik tidak sadar penulis biasanya tidak mengerti seharusnya mampu berpijak pada kreatifitas serta orisinalitas sebagai usaha menciptakan tradisi apa yang sebenarnya ia tuliskan. Namun baru bagi kesusastraan Indonesia. Pengarang setelahnya, bisa saja apa yang ia tulis banyak dikutip oleh orang, mampir di buku- yang baik adalah mereka yang mempunyai referensi bacaan sastra bermutu dalam kapasitas buku serta berkeliaran di koran-koran. Dan penciptaan tradisi ini tentunya tidak semata- tidak sedikit, rajin menulis serta mempunyai wawasan sastra berkualitas didukung pendapat mata tanpa bekal apa-apa. Perlu adanya yang brilliant. orisinalitas dan gagasan-gagasan yang Bukan tanpa alasan jika di Indonesia jumlah bermula dari kepribadian kuat dari seorang buku bacaan sastra yang berkualitas masih sangat pengarang. sedikit. Begitu juga perpustakaan, serba kekuraSering kali sesuatu yang akan ditulis ham- ngan. Sedangkan persediaan di toko buku nyatanya pir sama dengan apa yang akan dikatakan; sampai sekarang masih jauh dari lengkap. Jangan heran jika pada akhirnya banyak pengasama-sama tidak tahu. Namun bukan berarti rang yang mengalami kelambatan dalam menyerap pengarang menulis tanpa adanya makna. sastra yang sesungguhnya. Hingga akhirnya Hanya saja perasaan yang selalu merasa bahwa dirinya itu bodoh, sering kali menye- syndrome dadakan banyak muncul dalam benak babkan pengarang menemukan penemuan pengarang kita; ingin mendadak menjadi pengarang terkenal. Karena itulah, penyair dilarang luar biasa yang belum pernah orang lain temukan. Mengenai hal yang pernah diucap- (sekedar) mampir-mampir. Karena siapa tahu sukses pun nanti cuma mampir. kan, tidak bukan hal tersebut merupakan Dalam dunia sastra terdapat banyak kemungkipengulangan saja mengenai apa yang nan. Memutuskan menjadi penulis pun sebenarnya pernah ia ucapkan sebelumnya. Sering penuh keserba-mungkinan. Seperti kata teman terjadi pengarang merasa begitu terkejut Penulis adalah penimba ilmu di IKIP PGRI sebantal saya. Dalam sastra yang tidak ketika membaca tulisannya sendiri. JawaSemarang, Fakultassegala Pendidikan Bahasa danmenjadi Seni, Jurusan Pendidikan Bahasadisertai dan mungkin bisa mungkin, pokoknya ban atas satu pertanyaan yang sama akan Sastrameyakinkan. Indonesia, semester 4. Pengarang berbeda jika dilontarkan di waktu yang ber- dengan argumentasi yang ternyata ingin menegaskan bahwa apa saja bisa beda. mungkin dalam sastra. Tidak ada yang mudah di Adanya penciptaan tradisi dari seorang dunia ini, tapi semua serba mungkin.(**) pengarang bukan berarti mengindikasikan penulis adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris bahwa tidak ada pengarang yang jelek. IKIP PGRI Semarang, semester enam Masih banyak pengarang yang hanya koordinator UKM KIAS, dan aktip di komunitas lembah kelelawar


Kontemplasi Penyair Hujan Meminang Badai Khoerul Maftuhah

Judul Buku: Hujan Meminang Badai Penulis: Tri Astoto Kodarie Penerbit: AKAR Indonesia, Sleman, Yogyakarta. Cetakan: Pertama Tahun: 2007 Halaman: 122 halaman ISBN: 979-9983-88-6

Segala macam tulisan fiksi tidak serta merta berangkat dari hal yang fiksi semata, akan tetapi merupakan sebuah refleksi dari hal yang bersifat fakta. Begitu pula dalam buku kumpulan puisi yang di tulis oleh Tri Astoto Kodarie, “Hujan Meminang Badai�. Puisi-puisi dalam buku tersebut di tulisnya dari mulai kota Purbalingga, kota kelahirannya hingga kota Parepare, kota kelahiran kedua bagi sang penyair. Tri Astoto Kodarie telah berkiprah dalam dunia kepenyairan selama hampir tiga puluh tahun, atau lebih tepatnya selama 27 tahun. Antologi puisinya yang berjudul “Hujan meminang Badai� ini, adalah kumpulan puisinya yang ditulis mulai tahun 19802007 dan berisi 115 sajak, yang masing-masing puisinya banyak sekali bercerita tentang alam. Sebelum di bukukan puisi-puisinya yang di tulis dalam buku ini juga pernah di terbitkan di sejumlah media massa, antara lain ; Masa Kini (Jogja), Swadesi (Jakarta), Sinar Harapan (Jakarta), Suara Karya (Jakarta), Kompas (Jakarta), Media Indonesia (Jakarta), Minggu Pagi (Jogja), Bernas (Jogja), Jogja Post (Jogja), Suara Merdeka (Semarang), Cempaka (Semarang}, Horison (Jakarta), Suara Pembaharuan (Jakarta), Nusa Tenggara (Denpasar), Fajar (Makassar), Pedoman Rakyat (Makssar), dan beberapa buletin. Design sampul buku ini juga cukup sesuai dengan judul, warna sampul yang berwarna kuning teduh, seteduh puisi-puisi Tri A. K dalam antologi ini. Tampak gambaran sebuah laut yang cukup abstrak, di lengkapi rintik hujan yang jatuh ke permukaan laut, yang bentuk tetesannya terbuat dari kepala manusia. Desain sampul yang cukup nyastra ini dirancang oleh Joni Ariadinata.

Kecintaan Pada Alam Puisi-puisi yang di tulis Tri Astoto Kodarie merupakan sebuah kontemplasi penyair terhadap Alam, Tuhan, dan lingkungan sekitar. Namun hampir 80 % puisi-puisinya ini merupakan refleksi percintaan penyair dengan alam, seprti yang di tuliskan dalam kata pengantar oleh Maman S. Mahayana; Sejumlah besar puisi yang terhimpun dalam antologi ini seperti hendak mewartakan percintaan aku lirik pada alam, lebih khusus lagi pada dunia laut. Laut dengan segala geraknya yang dinamis dan penuh gejolak dan yang tak pernah diam itu, bagi penyair, seperti makhluk yang penuh misteri. Kecintaannya pada alam sangatlah terlihat jelas, terutama pada laut, seperti yang di torehkan dalam beberapa puisinya. Antara lain Sajak Gelombang, Catatan di Pantai Losari, Meditasi Batu Karang, Kecemasan Ombak Buat Kus, Eksotisme Ombak, Mata Laut, dll. Berikut saya kutipkan dari Sajak Gelombang, yang merupakan pengawal dari puisi-puisi yang lain. Di laut ini Gelombang selalu saling mendahului ........ Kita menaiki gelombang Yang selalu memecah itu Yang selalu menghantam batu. . . . . . . .


Itulah salah satu kutipan beberapa bait puisi dari ajak Gelombang, dari situ bisa kita lihat kecintaan Tri A. K pada lautan, diungkapkannya lewat sebuah diksi-diksi yang sederhana, namun memiliki makna yang cukup mendalam. Cinta Selain mengungkap kedekatannya dengan alam Tri Astoto Kodarie juga mengangkat beberapa puisinya dengan tema cinta, antara lain; emas kawin, seratus jarak itu kekasih, kado perkawinan bagi istri, nyanyian ibunda, ibunda; elegy yang tak selesai, cerita buat muliana, membaca air danau di wajahmu, dll. Seperti dalam puisi membaca air danau di wajahmu, Tri Astoto Kodarie ingin mencoba mengungkapkan kerinduannya dengan diksi yang di kemas secara cantik, berikut kutipannya; .......... masih tersisa basah air danau di wajahmu sementara rindu di tubuhmu mengalir mencari gemuruh nafasku yang menari getir mencari batas negeri terjauh (wajo-parepare, 2003) Tri astotoo Kodarie juga menghiasi antologi dengan puisi-puisi religius, seperti puisi dahaga, zikir, Senja begitu diam, dan masih banyak lagi yang di tuliskan dalam antologi ini. Antologi ini kaya akan majas, sehingga sangat cocok untuk di jadikan bahan pembelajaran di sekolah-sekolah. Begitu juga dalam proses pengajaran menganalisis dalam pembelajaran di sekolah tingkat menengah atas. Karena puisi-puisi dalam antologi buku ini memang di ungkap dengan bahasa sehari-hari, tidak terlalu banyak menggunakan simbol-simbol seperti pada puisi-puisi jaman sekarang, jadi lebih mudah untuk di analisis. Pemilihan kata atau diksi yang digunakan dalam antologi puisi ini, rata-rata menggunakan bahasa sehari-hari. Dengan diksi yang lembut, meski ada sedikit yang kurang padat. Meski begitu kesetiaannya dalam dunia kepenyairan melewati sebuah perenungan mendalam, Tri Astoto Kodarie memang telah mampu meminang badai. Hingga lahirlah puisi tentang kepasrahannya akan, waktu yang di pinjami oleh Tuhan, dalam puisi yang berjudul hujan meminang badai, yang di jadikan sebagai judul antologi puisi ini. ***

Penulis adalah mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP PGRI Semarang, anggota UKM KIAS dan Komunitas Lembah Kelelawar


SKAK MATT!!

…jangan pernah berpikir seberapa jauh melangkah, tapi pikirkan arti dari setiap langkah yang membuat seberapa jauh itu….

Oleh : Handri Kusmoro ES-A Pemain : Pemain Catur, Orang 1, Orang 2, Orang 3, Orang 4, Orang 5, Komandan, Panglima Naskah Pentas Bulan Purnama 2009 [KSB ES-A] (Kelompok Seni Budaya Sultan Agung) BABAK I MUSIK PERLAHAN MENGALUNI PANGGUNG KEMUDIAN LAMPU MENYOROTI PEMAIN CATUR YANG BERJALAN MENUJU KE TEMPATNYA. Pemain Catur : He…he….he…(dengan wajah setengah tersenyum sinis melihat papan catur yang ada dihadapannya) Owh…Ternyata papan catur ini mengajakku bermain, baiklah… Akan aku mainkan papan catur ini, tapi karena beban pikiranku yang begitu banyak, aku akan memainkanmu pelan-pelan dan penuh perhitungan yang matang. (wajah serius sambil berpikir matang-matang untuk langkahnya) Baiklah Prajurit, maju!! dan lindungi aku sebagai atasanmu. Jangan biarkan siapapun untuk mencoba menghalangiku!! LAMPU YANG MENGARAH KE KOMANDAN PRAJURIT KEMUDIAN MENYALA SEKETIKA. Komandan: Siaaaaappp!! Laksanakan….. Tidak akan saya biarkan 1 orang pun menghalangi langkah anda kedepan. Dengan jiwa dan raga ini, saya siap melindungi! (dengan wajah garang dan sikap tegap) LAMPU KOMANDAN PRAJURIT KEMUDIAN SEMAKIN MEREDUP & MATI Pemain Catur: Hmmm….Kelihatannya, akan semakin sulit perjalananku ini… setumpuk balasan strategi perang coba menghantamku. Setumpuk umpan jeritan lemah terus menggerutu disekitar territorial singgasanaku… Owh…kenapa aku ini? Pikiran-pikiran apa ini yang mencoba menyumbat dan mencoba membunuhku? Aku harus bergerak otak-atik strategiku lagi…

LAMPU ORANG-ORANG MULAI MENYALA PERLAHAN-LAHAN. Orang 1: Hooiiiii….!! Apa yang kau lakukan disana? Percuma!! Kau hanya bisa berlindung di balik tembok berpelor saja!! Orang 2: Woi..!!! Apa yang telah kau berikan pada kami? Pendertitaan, kehancuran, malapetaka, kericuhan!! Kau terus melangkah di sekeliling jalan berlubang sembari kau terus melubanginya hingga mencapai dasar hitam lubang yang kau jajaki!! Orang 3: Saudaraku! Kita ini apa? Apa yang bisa kita lakukan, saudaraku? Sudahlah…sementara ini, biarkan saja dulu langkah-langkahnya terus maju kedepan.. Kita ini Apa? Orang 1&2: Huu….Wou…Huu.. Kita tidak bisa tinggal diam, hancurkan!! Hancurkan !! Jangan terus dibiarkan…!! Orang 3: Diam semua!!! Biarkan dulu saja….Mari kita pergi! LAMPU PEMAIN CATUR & ORANGORANG PUN MEREDUP DAN KEMUDIAN MATI. LALU MUSIK TENANG DENTUMKAN KETENANGAN MENGIRINGIPEMAIN CATUR YANG SEDANG SERIUS MEMPER HITUNGKAN LANGKAH BERIKUTNYA…


Pemain Catur: (Wajah tampak gusar dan penuh kecemasan dalam memperhitungkan langkahnya) Mmm…Sebaiknya bagaimana seharusnya aku melangkah? Jeritan peluh kecil mencoba menggusarkanku, koyakan-koyakan taring hitam meracuni aliran darah yang mengalir dalam tubuh yang linglung ini…Kemana akan aku bawa langkah permainan catur ini, dengan keadaan yang rentan akan gejolak kemunafikan bergelit, aku semakin bingung….Aku coba perangi jiwa batin putih berselubung hitam dalam langkah berlubang, menata pikiran-pikiran melangkah ke depan… (temenung serius memikirkan dan terus memikirkan langkahnya) BABAK II

Orang 3: Saudaraku…kita harus bergerak…kita harus memberinya perlawanan dalam papan catur ini…agar dia tidak dapat meneruskan galian lubang hitam dilangkahnya… agar dia juga tahu arti putih dalam setiap ruang gerak langkah yang dijalankannya…(dengan sedikit berbisik kepada orang 1&2) Orang 1&2: Iya…iya…betul itu…betul…kita harus buktikan..tidak selamanya orang-orang kecil selalu terdiam menyaksikan permainan langkahnya…

LAMPU ORANG-ORANG MENYALA TERANG

Orang 3: Langkah bagus saudaraku…(dengan wajah penuh ambisi)

Orang 3: Saudaraku…lihat kegembiraan yang mengalir indah disana, seakan tak memikirkan kita yang kering kerontang disini…kita hanya menghisap pahit deritanya, bahkan tak pernah sedikitpun kita merasakan manisnya percikan-percikan gula yang tumbuh dari benih kepedulian saudara-saudara kita..

LAMPU ORANG-ORANG PUN KEMUDIAN MATI. LAMPU PEMAIN CATUR PERLAHANLAHAN MENYALA..DIIRINGI MUSIK CEMAS.

Orang 2: Benar saudaraku…!! Kira-kira..apa yang dipikirkannya disana?Aku rasa, dia tak kan pernah tahu dan bahkan tidak mau tahu apa yang terjadi dibawah seperti kita ini… Orang 3: Tentu saja dia tak pernah tahu bagaimana kita disini, dia hanya duduk berlimpah manis yang menyelimuti hingga dia lupa kalau dia dulu sepeti apa.. Tentu saja dia tak pernah tahu seberapa pahit langkah setiap hari yang kita jalani..karena dia hanya duduk-duduk saja, seolah berpikir. Berpikir memikirkan hal tabu untuk dijadikan peluru,hal tabu untuk dijadikan penolong disetiap langkah berseteru… yach..lihatlah, apakah dia duduk sambil berpikir? Ataukah dia berpikir untuk duduk? Percuma….. Orang 1: Yach.. beginilah nasib kita sebagai orangorang kecil terhimpit sesak diantara bagian ruang yang luas…

Pemain Catur: Aku merasakan perlawanan diantara permainanku ini… Aku merasakan permainan api yang berkobar-kobar mendatangiku.. Mengapa tiba-tiba aku ragu akan kekuatanku… Akankah aku terus dihantui rasa bimbang karena setiap langkah yang aku jalankan…Tidak mungkin.. tidak mungkin…tidak mungkin aku ragu,karena semua yang ada di permainan ini, aku yang menjalankannya…Aku yang membuat setiap detail langkahnya.. Aku akan pasang strategi yang lebih ketat untuk menghadang tonggak-tonggak kecil bergumam di ruangku…Apa ini yang berjubel penuh di dalam kepalaku?Kenapa aku ini…aku harus hilangkan yang tak berguna ini…aku harus dapat melawan ini..aku pasti bisa karena aku juga permainan ini berjalan….Akan aku perketat penjagaan disetiap lini yang sekiranya mudah ditembus oleh tonggak-tonggak


kecil itu… Panglima! Perketat penjagaan disektor tengah… karena aku pikir, dari situlah akan ada penyerangan..! Lakukan apapun untuk menghadang… yang penting rajamu tetap utuh… Panglima: Siap laksanakan!! Saya akan melakukan dengan jiwa gelap tercabik dan mata tertutup kabut untuk melakukan tugas ini…!!! Pemain Catur: Mmmm…Gertakan apa ini? Baiklah.. akan aku tambahkan penjagaan di langkahku,.. Komandan! Rapatkan barisan depanmu..! Jangan sampai tertembus tonggak-tonggak kecil itu..! Komandan: Siap!! Semuanya…!! Rapatkan barisan! Jangan hiraukan apa yang ada dihadapan kita… selama ada perintah untuk menghancurkan, kita lakukan..karena itu perintah…!! Perintah harus dilakukan…apapun bentuknya… Laksanakan! LAMPU ORANG-ORANG MENYALA Orang-Orang: (Dengan menunjukkan keadaan mereka yang terlonta-lonta selama ini karena korban permainan hitam putih yang mengatur langkah mereka, hingga mereka tidak bisa bersuara, menjerit, bahkan menunjukkan semangat untuk berubah sebelumnya/ meratapi nasib) PANGLIMA DAN KOMANDAN KEMUDIAN BERSIAP-SIAP MELAKUKAN PENJAGAAN MENGITARI PANGGUNG DALAM PEMENTASAN, LAMPU KOMANDAN DAN ORANG-ORANG MENYALA Panglima: Aku berdiri tegak di hadapan ribuan banteng yang siap menyerudukku kapanpun jika mereka mau…Hei komandan, jangan gentar kau dalam menerima mandat dari atasanmu… kenapa wajahmu tampak gusar seperti itu?

Aku pikir..kau orang yang kuat dengan wajah garangmu…tapi ternyata aku salah,dibalik wajah garangmu itu, kau orang yang sangat lemah..(memandangi wajah komandan yang sedang bingung dan gusar dengan keadaan) Komandan: Panglima! Apa yang kau katakan…. saya tidak akan gentar dengan apapun…. selama itu perintah! Panglima: Ha..ha..ha……Sudahlah..kau tidak bisa berbohong dihadapanku…Apa yang menyebabkan kau sampai berpikir seperti itu komandan? Komandan yang aku tahu..dia selalu siap dan siap bila menerima mandat dari yang diatas… Kenapa? Komandan: Hmmmm..Sudahlah panglima, tidak ada apaapa…saya baik-baik saja…Hanya saja ada sedikit yang mengganggu dari dalam ini…saya bisa mengatasinya… Panglima: Apakah karena mandat-mandat yang sering diberikan oleh atasan? Tenang saja Komandan, aku yakin dalam ruang permainan ini, setiap ruang kotak putih pasti akan bisa menutup gejolak hitam yang sering membingungkan… walaupun jumlah putih sama banyaknya dengan hitam yang ada…Aku pastikan itu!!! LAMPU KOMANDAN & PANGLIMA MATI. KEMUDIAN LAMPU ORANG-ORANG MENYALA. ORANG-ORANG KEMBALI MENAMPAKKAN KEADAAN SEPERTI SEBELUMNYA. Orang-Orang: (Dengan menunjukkan keadaan mereka yang terlonta-lonta selama ini karena korban permainan hitam putih yang mengatur langkah mereka, /meratapi nasib, tapi sedikit berbeda dengan keadaan sebelumnya, mereka sedikit demi sedikit menunjukkan kekecewaan mereka untuk melakukan perlawanan permainan yang dimainkan)


BABAK III Pemain Catur: Apa lagi yang harus aku lakukan untuk mencegah tonggak tonggak kecil yang terus menggangguku? Sudah berbagai cara telah aku lakukan…tapi mengapa mereka terus bersikeras untuk menuntutku? Padahal aku coba berikan yang mereka mau… tapi dengan catatan tidak bertemu aku dan menjauh dari pikiranku...he…he.. Tapi kenapa aku malah bingung memikirkan mereka….Halah…paling toh mereka juga tidak tahu apa-apa tentang permainan ini…hehe… biarlah.. Orang 2: Tolooong…..jangan biarkan keadaan kami terus seperti ini…jangan biarkan hidup kami jauh seperti ini…jangan biarkan dunia kami di hantui gejolak hitam di ruang prmainan ini… Orang 3: Woiii….!! Sadar saudaraku! Apa yang kau harapkan dari jeritan lama seperti itu..Tak ada gunanya saudaraku…simpanlah suaramu… sekarang yang kita butuhkan adalah perlawanan… kalau hanya menjerit, dia malah akan tertawa… Orang 1: Betul itu….! Aku setuju denganmu… Tapi apa yang harus kita lakukan? Tidak banyak yang bisa kita perbuat kan saudaraku? Orang 3: Kita harus bangun…bangun saudaraku! Orang 1&2: Iya kita sudah bangun! Tapi bagaimana caranya? Orang 3: Hehe…Iya..iya..Begini, selama ini kita kan terus dihimpitkan pada masalah-masalah batasan ruang permainan yang begitu luas…kita bisa berlari… kita bisa tembus dinding berpelor yang besar itu… karena kita punya tekad dan kita juga mengambil apa yang semestinya kita ambil? kita harus langsung menemui siapa dibalik permainan ini…Mari kita cari siapa dia! Tapi sebelumnya, kita hancurkan tembok berpelor yang ada di depannya itu…bagaimana?

Orang 1&2: Baik kalau begitu! Kami setuju….! Orang 3: Mari kita bergegas saudara-saudaraku! LAMPU ORANG-ORANG PUN MATI. KEMUDIAN LAMPU PEMAIN CATUR MENYALA. Pemain Catur: Sialan! Brengsek! Apa ini…Mengapa permainan ini jadi begitu rumitnya… lagi-lagi harus putar otak… Kepalaku hampir pecah…! LAMPU PEMAIN CATUR MEREDUP. LAMPU KOMANDAN & LAMPU ORANG ORANG MENYALA. ORANG ORANG MENCARI DALANG DIBALIK PERMAINAN INI, TAPI MEREKA DIHADANG OLEH KOMANDAN & PANGLIMA. Orang-orang: (Berteriak menggugat dan terus berteriak, mencaci..mencari penjelasan) Orang 3: Woii…dimana kau?!Kami datang untuk mengambil kebenaran yang selama ini tersimpan dan hanya dijadikan benteng demi langkahmu!? Kami tidak butuh nyanyian-nyanyian merdu palsumu…! kami inginkan kebenaran dan langkah putih untuk kami! ORANG-ORANG, KOMANDAN, & PANGLIMA PUN AKHIRNYA BERTEMU. MEREKA SALING DORONG. ORANG-ORANG KALAH DAN TERSUNGKUR… TAPI KEADAAN BERBALIK.. Komandan: Keadaan jadi sedemikian rumitnya… tonggak-tonggak kecil yang aku pikir tak begitu berbahaya..ternyata malah membalik sedemikian semangatnya…


Padahal keadaan mereka begitu memprihatinkan… Aaaarrrgghh….kenapa aku ini…aku ini sedang bertugas..aku harus menjalankan tugas ini…Tapi tak ku pungkiri…di hati kecilku masih ada bisikanbisikan untuk menolong mereka…

Pemain Catur: Owh…Tidak! Apa-apaan ini?! Mereka mencoba mengakhiri permainan ini… mereka mengepungku…Komandan! Panglima! Kenapa ini!?

Panglima: Komandan! Apa yang kau pikirkan… Apa kau bingung dengan keadaan?

Panglima: Inilah keadaan yang semestinya terjadi! Keadaan dimana kotak putih untuk melangkah tidak selalu tertutup oleh kotakkotak gejolak hitam yang menyengsarakan!

Komandan: Iya panglima… Panglima: Tidak apa-apa…kita hanya menjalankan tugas… tapi, jika memang kau tidak kuat…mundurlah.. karena dalam permainan ini, mundur pun kau tidak apa-apa…jika kau mundur, berarti kau pun harus bisa menemui siapa yang menjalankan permainan ini menjadi seperti ini…dan kau harus bisa menunjukan kotak putih yang sebenarnya tertutupi gejolak hitam di permainan ini.. Karena sebenarnya akupun sama denganmu… Komandan: Benarkah?? Panglima: Iya benar…Mari kita juga mencarinya karena keadaan yang begini rumitnya adalah karena pikiran-pikirannya..!! Aku sudah lelah melangkah pada kotak-kotak gejolak hitam yang ada!!! Hai orang orang kecil semuanya… apa kalian masih ingin mencari siapa dibalik semua permainan ini bersama kami? (Orangorang bingung..dan kemudian mereka mencari keluar bersama sama) LAMPU ORANG-ORANG, KOMANDAN, PANGLIMA KEMUDIAN MATI. LAMPU PEMAIN CATUR MENYALA TERANG. Pemain Catur: Apa ini…mengapa para prajuritku tidak mau aku gerakan..Brengsek! Panglima perangnya pun juga mengelak mengikuti langkahku… Apa ini…sepertinya aku terdesak… keadaan malah berbalik seperti ini..!

Komandan: Inilah keadaan yang harus terjadi! Tidak menutup kemungkinan bukan, bahwa aku selama ini jalan di kotak langkah hitam menjadi berjalan di kotak putih! Lihatlah kenyataan keadaannya! Orang-orang: Hei kamu yang memulai langkah permainan dijalan hitam! Kini kami telah menemukanmu! Kami inginkan langkah kotak putih kami kembali! Kami ingin hidup kami tidak hanya tertutup gejolak hitam, tapi kami ingin tetap hidup dengan langkah kotak putih dijalan kami! Pemain Catur: Apa…Terserah…Terserah dengan apa yang kalian maksud?? Aku tak perduli…. Persetan dengan kalian semua! Tapi… Tapi…Owh.. tidak…Aku terkepung linglung…Aku terkepung permainanku sendiri….tidak… tidaaaaakkkkk!!! PEMAIN CATUR DIKEPUNG OLEH ORANG-ORANG, KOMANDAN, DAN PANGLIMA.. KEMUDIAN PANGLIMA MENYERET PEMAIN CATUR KELUAR PANGGUNG DARI KURSI PERMAINANNYA..LAMPU MATI DAN PERMAINAN SELESAI. PENONTON DIPERSILAHKAN BERTEPUK TANGAN.

LAMPU SEMUANYA MENYALA. SELESAI DAN TERIMA KASIH



Buletin Sastra Lembah Kelelawar #4 (Tidak Ada Permainan, Gak Usah Main-main!)