Issuu on Google+

Teman Merawat Percakapan


Foto: Agung Priyo

Teman Merawat Percakapan Koskow

Tan Kinira Books 2013


Isi Buku

[7 - 46] Bagian ini mengisahkan karya desain dan seni rupaku bserta latar belakang dan tujuan yang melatarinya. Bagian ini memuat tulisan dan gambar yang hubungannya saling menjelaskan satu sama lain.

[47 - 60] Bagian ini mengisahkan tentang diriku. Pembabakan dalam bagian ini seturut fase-fase pendidikan formal. Ini kupilih guna menyampaikan bahwa di kemudian hari ruangku memang di situ, pendidikan. Lebih jauhnya, berkesenian di ruang(-ruang) pendidikan.

Terima kasih aku berikan kepada Tan Kinira Books (Lelaki Budiman), Kotasis (Gamaliel Budiharga dan Senja Aprella), sivitas akademik Desain Komunikasi Visual dan Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, Ruang Jurnal ARS FSR ISI Yogyakarta (serta FKSB dan AKSI), Kamikoti (Yogyakarta) serta Balai Soedjatmoko (Bentara Budaya Solo), Tri Noviana (menejerial seni), Diskom Drawing Foundation (DDF) dan Titik Api DKV ISI Yogyakarta (terima kasih untuk Ponda yang berkenan mendokumentasi prosesku berkesenian), Rumah Sinema, Puspaningtyas Panglipurjati, Sastra Prancis UGM, bapak-ibu guru dan teman-teman SD. St. Antonius Semarang (Angkatan Delapan delapan), Okik, dan keluarga buku saya (Endah SR, Lintang Timur, Wahyu Timur). Buku ini aku persembahkan untuk DGI (desain grafis Indonesia).

Teman Merawat Percakapan Š Koskow Editor: Lelaki Budiman Desain sampul: Gamaliel Budiharga Layout dan ilustrasi: Koskow Indeks: Gamaliel, Koskow 160 halaman, 14 x 19 cm ISBN 0856 430 1010 8 Diterbitkan oleh Tan Kinira Books, Yogyakarta Cetakan I April 2013 Dicetak menggunakan mesin cetak toko, di Yogyakarta, Indonesia.

[61 - 108] Bagian ini memuat buku reuni SD. St. Antonius 1, Semarang. Tata tulis dalam buku tersebut aku edit. Bagian ini memuat tulisan dan gambar dimana gambar mengilustrasikan tulisan.

[109 - 148] Bagian ini memuat arsip berkesenianku, termasuk gambar ulang buku reuni. Tidak semua dokumentasi berkesenianku kumasukkan dalam buku ini, hanya beberapa saja yang kumasukkan karena kurasa aku suka karya-karya tersebut. Bagian ini memuat gambar dan tulisan dimana tulisan sebagai keterangan gambar.

[149 - 152] Bagian ini merupakan bagian penutup. Aku tidak menyimpulkan sesuatu, sebatas menutup dan menegaskan jalan saja, namun itu tak berarti aku usai berkarya.


Daftar Singkatan ASRI, Akademi Seni Rupa Indonesia C59, Caladi 59 Despro, Desain produk DDF, Diskom Drawing Foundation DGI, Desain Grafis Indonesia DKV, Desain Komunikasi Visual Fb, facebook FSR, Fakultas Seni Rupa FSRD, Fakultas Seni Rupa dan Desain GEMA, Gereja Mahasiswa IKAPI, Ikatan Penerbit Indonesia ISI, Institut Seni Indonesia ITB, Institut Teknologi Bandung ITS, Institut Teknologi, Sepuluh November JNM, Jogja National Museum Kotasis, Komunitas Taman Siswa NEM, Nilai Evaluasi Murid Persma, Pers Mahasiswa SD, Sekolah Dasar SMA, Sekolah Menengah Atas SMP, Sekolah Menengah Pertama St., Santo UGM, Universitas Gajah Mada UKS, Unit Kesehatan Sekolah

‘Alter ego est amicus’


9

B

uku ini sebatas menyampaikan jejakku mendisain. Ini kumaknai juga sebagai caraku berkesenian. Jejak tersebut memilih memancang waktu sejak 2005, yaitu aku sejak mengajar di Program Studi Desain komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Meski jejak berkesenian telah ada sebelumnya, tak dapat dipungkiri bahwa sejak di ISI Yogyakarta budaya berkesenian kian menarik perhatianku. Bagiku ini penting sebagai usaha mencari dan terus mencari otentisitas kedirian, baik dalam hal gaya, bentuk, maupun filosofi/gagasan karya, meski aku tak menafikan bahwa orisinalitas nyaris sia-sia. Kita boleh menamai hal tersebut sebagai jejak pencarian estetika personal. Meski di sana sini terbaca pengaruh karya-karyaku yang telah ada sebelumnya, hal tersebut tak dapat dipungkiri. Maka itu dalam buku ini pun kusertakan jejak berkesenianku di masa sebelum 2005. Dapatlah disampaikan bahwa bagi seorang perupa - seniman atau desainer -

yang bergulat dengan kediriannya, tak ada kata berhenti. Ia senantiasa mencari, bersamasama, pun seorang diri, batasbatas seni dan usaha mencari kemungkinan berungkap yang baru, segar, dan kontekstual. Jalan berkesenianku hingga kini: “kesenian, kesunyian”. Teman Merawat Percakapan Buku ini kunamai “Teman Merawat Percakapan”. Sebuah nama yang kucari guna memahami jalanku mendisain dan berkesenian. Bagiku, seni maupun desain juga merawat hal-hal kecil, pertemanan misalnya. Di ruang-ruang kecil semacam inilah aku berkarya, menggambar, mendisain. Kadang kubuat satu dua tulisan dalam proses itu. Mengupload gambar ke fb bagiku merupakan usaha merawat hubungan dengan teman lain. Sebuah gambar mampu membuka ruang percakapan. Ya, percakapanlah yang membuat hubungan jadi tersimpan dan terawat lewat cara tertentu: gambar. Dinding fb lantas jadi galeri yang dialogis. Lewat ruang yang demikian sebuah karya terbuka untuk diapresiasi: like this, atau disertai komentar tertentu. Biasanya gambar-gambar

itu kubuat karena ada sesuatu, bisa peristiwa politik, olah raga, pendidikan, pertemanan, dlsb. Lewat cara ini pula sebuah gambar selain menyimpan ekspresi di tingkat visual, ia juga jadi ruang beropini, hingga ruang sembunyi sunyi. Aku berpendapat bahwa setiap desainer, setiap seniman, memiliki jalan berkesenian. Jalan itulah yang membedakan diri satu orang dengan diri yang lain. Jalan pula yang dapat menjadi otentisitas dan peneguhan prinsip kreativitas. Jalan tak harus muluk, raya, bombastis. Ia dapat berupa pernyataan diri sederhana. Namun, jalan mesti diciptakan secara jujur dan mendasari seluruh proses kreasi. Khalayak akan menilai sejauh mana seorang desainer, seorang seniman, jujur dalam berkarya. Aku mengingat Soedjojono lewat pernyataannya: “kami tahu ke mana seni rupa Indonesia akan kami bawa”. Aku mengingat Affandi lewat tuturannya yang dituliskan oleh Sindhunata: “Saya tidak suka ayam. Tapi saya mencintai ibu saya, dan ibu saya suka ayam”. Lantas, Affandi punya alasan (motivasi) melukis ayam. Aku pun menilai penting sebuah tajuk sebuah pameran mahasiswa “In Future We Blur”. Meski masa depan menyisa blur, namun kita telanjur memandangnya demikian dan berani memaknainya lewat karya-karya. Karya pun

menjadi sebuah place, titik (me)labuh diri: in blur we trust. Teman merawat percakapan jadi sebuah pemahaman yang tetap mau sederhana. Ini bukan big idea. Ini hanya soal aku memang mau berkarya secara demikian, mengasal dan menyumur dari dalam diriku sendiri. Baiklah, aku mulai saja, kuharap kawan berkenan. Pameran, Tidak Pameran Sebelum mengajar di ISI Yogyakarta, aku mengajar di Despro ITS, Surabaya. Di sini, di Despro ITS, iklim desain grafis kencang dengan nuansa kuantitatif, industrial. Yang namanya berkesenian nyaris melompong. Namun, selalu ada orang-orang yang memandang bahwa berkesenian itu penting untuk hadir. Ada. Maka itu, aku turut diajak menyiapkan pameran mahasiswa yang mana pameran tersebut didiskusikan di malam hari, di kampus dan selepas kuliah pagi hingga sore hari. Yang sering aku kerjakan justru menulis tugastugas mahasiswa. Ini seperti majalah dinding yang isinya ulasan tentang tugas-tugas mahasiswa, terutama tugas penciptaan/perancangan desain. Bagiku, cara-cara demikian menjadi ruang apresiasi guna menyampaikan bahwa apa-apa


20 Teman Merawat Percakapan

21

Keterangan: Sampul novel “Lumbini” (Kris Budiman, Jalasutra), sebuah sampul buku yang memberi ruang eksperimentasi, selembar kain oranye dijahit pada sampul depan. Keterangan: Sampul novel terjemahan “Sepatu Sang Nelayan” (Moris West, Grasindo). Sebuah sampul yang menyita perhatian penuh dalam pengerjaannya. Sebuah pengalaman mendisain yang bermakna. Gambar-gambar pada sampul buku ini dikerjakan dengan tinta Cina, cat air, dan pensil warna pada kertas. Keterangan: Sampul buku puisi “Kepada Cium” (Joko Pinurbo, Gramedia) aku kerjakan bersama Dewi. Dia selaku fotografer. Pencarian simbol gambar untuk buku tersebut aku temukan tidak jauh dari tempat si sasterawan berada sehari-harinya, yaitu di belakang ruang kerjanya sewaktu beliau masih aktif di Grasindo Yogyakarta, di sebuah kebun pisand di ndalem Tejokusuman.

Keterangan: Sampul buku “Pesona Barat” (Visia Ita Yulianto, Jalasutra) aku kerjakan bersama Dewi, selaku fotografer, dan dua mahasiswiku, Natalia, dan Arilia, selaku tim desain sekaligus model foto. Ini sampul buku yang menarik karena membicarakan masa lalu lewat masa kini, ada sikap-sikap ambivalen.


28 Teman Merawat Percakapan

29

Keterangan: Desain freemagz “Laskar Pelangi”, timku mahasiswa saat itu yaitu Natalia Afnita (redaksi), Rahmat Tri Basuki “Gepeng” (ilustrasi dan desain sampul), Danang Sukmana (layout), dan Wilsa Pratiwi (Komik). Aku sendiri sebagai penanggung jawab dan menjalankan juga selaku redaktur artistik.

membedakan salah satunya skala. Pameran kecil memiliki unsur-unsur pameran besar bukan? Begitulah sekilas jalan berkesenianku. Terkadang aku bermain ruang dan media. Rain Rosidi, seorang pengajar seni rupa di ISI Yogyakarta dan kurator seni

rupa mengatakan (mungkin tepatnya mengharapkan) agar aku menekuni atau mengolah media. Perjumpaanku dengan buku banyak meninggalkan jejak berkesenianku. Buku pula yang nantinya mengantarku pada satu peristiwa penting dan menguras perhatianku saat menyusunnya:

Keterangan: Desain katalog Jogja Java Carnival 2010, timku mahasiswa saat itu yaitu Alinda, Wicaksono Haryo, Sonny Prasetyotomo, Ponda Sujadi, Wisnu “Lele” (Fotografi) yang tergabung dalam komunitas foto Titik Api, lalu Adrianus Adhistomo (ilustrasi), Wima (layout), Rahmat Tri Basuki “Gepeng” (ilustrasi dan desain sampul), Anugrah Wisnu, Arif Budiman (tulisan), dan alumni yaitu Arjuna Bangsawan”Simbah” (tulisan), serta Bagus Anggoro (cetak). Aku sendiri sebagai pemimpin redaksi yang juga menyiapkan tulisan sambutan Walikota Yogyakarta serta tulisan sambut Ketua JJC 2010.

reuni sekolah dasar. Melanjutkan pernyataan Rain Rosidi, bahwa ia benar, selama ini aku memandang desain (dkv) bukan dkv an sich, namun dalam/sebagai media. Kata buku, atau perbukuan, dan bukan

sampul buku, menjelaskan bahwa aku menekuni bidang, menekuni media, bukan sampulnya saja. Maka itu, desain dalam pengertianku berada di sini: (ber)media.


30 Teman Merawat Percakapan

Membayang Delapan delapan Juli 2011, secara tiba-tiba, aku ditelepun seorang kawan sekolah dasarku, Mona. Mona bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Aku ditelepon untuk berjumpa di Jogja. Bersama Mia, yang juga teman sekolah dasarku dan saat ini menetap di Jogja, dia mengajakku berjumpa untuk menyiapkan reuni sekolah dasar (sd) kami: SD. St. Antonius I Semarang. Aku mengusulkan untuk berjumpa di Perpustakaan Kota, di belakang Gramedia Jalan Jendral Sudirman, Yogyakarta. Setelah berjumpa, kami membicarakan rencana reuni sd. Aku terlambat hadir mengikuti

31

perkembangan reuni. Mona ke Jogja dan menjumpaiku karena ia ingin dibantu penyiapan reuni. Maka itu, aku mengusulkan pembuatan buku reuni. Usulku ini usul yang dapat aku kerjakan: perbukuan. Maka itu, aku berjanji untuk membuat undangan menulis untuk buku reuni nanti. Setelah itu Mona kembali ke Jakarta, dan aku menyiapkan tulisan undangan menulis. Tulisan untuk undangan menulis aku susun dan aku emailkan kepada teman-teman, di mana untuk beberapa bulan aku mengaktifkan kembali fesbukku (sebelumnya aku malas membuka fesbuk). Beginilah undangan tersebut:

MEMBAYANGKAN DELAPAN DELAPAN “Membayangkan, bisa sangat nakal. Namun ia juga bisa jujur, sangat jujur. Bahkan, teramat sangat jujur” Menulis masa lalu mengandaikan hadirnya ingatan, pelupaan, serta pembayangan. Apalagi jika masa lalu tersebut lama direntang waktu. Tak semudah mengingat apa-apa yang barusan lewat. Mengingat masa yang lama berlalu, kita berusaha keras memilih, memilah, membuang, menyimpan, menunda, melipatmenguncinyarapatrapat, hingga kerap memanggil ingatan tertentu. Namun, memanggil ingatan juga bisa berarti menjangkau sesuatu yang senantiasa terlambat: penyesalan. “Yang terbaik senantiasa milik masa lalu”, tertulis di sebuah buku. Saya mempercayainya. Penyesalan yang Menyenangkan Seorang teman, sesama mantan murid sekolah dasar, sedang membayangkan masa

lalunya. Ia senang mengingat-ingat bahwa pernah ia dihukum untuk menunggu di luar kelas selama pelajaran berlangsung, oleh seorang gurunya yang cantik berambut panjang. Begitu pula dengan seorang mantan murid lain yang juga senang mengingat kalau ia pernah dihukum menunggu di luar kelas. Hukuman di masa lalu, di kemudian hari menjadi sebentuk ingatan yang menyenangkan. Apa benar waktu itu ia gembira karena dihukum? Mengapa pula kalau dulu ia malu dihukum namun kini ia senang mengingat-ingatnya? “Yang terbaik senantiasa milik masa lalu” setidaknya dapat menjelaskan bahwa penyesalan dapat ditertawakan, sendiri maupun bersama-sama, lantas kita memahaminya sebagai sebuah penyenangan atas sesal yang telah lewat. Kesenangan yang Menyesalkan Berbeda dari yang di atas. Kesenangan-kesenangan di masa lampau kerap menjadi penyesalan di kemudian hari. Membolos, misalkan. Atau jatuh cinta, namun ia belum sempat tersampaikan. Tetap saja ia merupakan kesenangan, namun kesenangan yang hadir di ruang-ruang penyesalan. Ia senantiasa tertunda untuk menjadi peristiwa. Seperti saat berbaris hendak masuk kelas sewaktu di sekolah dasar, sembari melirik dia seorang dari kejauhan, berbaris di muka kelas yang berbeda, berdiri, agak depan. Jauh di kemudian hari, perjumpaan dengannya masih terasa menggetarkan. Meng-getar-kan. Namun, tetap saja ia merupakan kesenangan dalam terang penyesalan. Hanya aku saja yang tahu. Hanya aku seorang. Mungkin pula kau, kawan terdekat. Menulis & Mengingat: Membayangkan Mengingat sebuah kata yang memertemukan hadirnya masa lalu di masa kini, terasa sangat menyenangkan. Orang-orang menyebutnya dengan kata: reuni. Mungkin, kata ini mengasal dan menyatukan diri dari kata re dan union, upaya penyatuan kembali, menjadikan satu lagi. Pengucapan reunian bisa menunjuk pada kegiatan bertemu kawan lama dalam ruang beratap kenangan. Apa benar reunian itu menyatukan kembali? Kalau menyatukan kembali, apa yang disatukannya lagi? Ingatankah? Ada sebuah cara untuk menyatukan masa lalu, yaitu dengan menuliskannya. Menulis tentang masa lalu mengartikan menghadirkannya kembali saat ini. Penghadiran ini tidaklah sesederhana mengingat penjumlahan bilangan-bilangan dasar. Ia menyertakan ingatan yang selama ini disimpansimpan, disambungsambungkan, dibelokbelokkan, dilupalupakan, ditepitepikan, dilesaplesapkan, hingga difantasikan. Ia adalah sebentuk usaha membayangkan masa lalu di masa kini. Membayangkan, bisa sangat nakal. Namun ia juga bisa jujur, sangat jujur. Bahkan, teramat sangat jujur. Nakal, jujur, atau teramat sangat jujur, yang penting itu yang dimaui, namun tanpa melukai. Seperti menarik keluar kata-kata yang belum sempat tersampaikan, yang


32 Teman Merawat Percakapan

33

mengasal dari dalam, yang belum tersempatkan menjadi peristiwa. Atau ia bisa juga menuliskan peristiwa yang belum bisa terkatakan, seperti menemu rasa senang dalam pendam sesal di masa lalu. Menulis, lantas bisa mengobati masa-masa yang terlewat, atau memberi kata bagi yang belum ternamai, meski ia senantiasa menyimpan sisa. Menulis Pembayangan Lewat menuliskan ingatan, masing-masing dari kita memperkaya arti reunian. Ia tak sebatas “menyatukan kembali”, namun “disatukan kembali”. Ia tak menunggu disapa, namun terlebih dahulu menyapa. Lewat menuliskan ingatan, perjumpaan kita esok akan terasa berbeda. Ia berbeda karena telah diperkaya lewat tulisan yang nakal, jujur, teramat sangat jujur, hingga... Reunian yang dituliskan dengan cara-cara tertentu mengubah orientasi masa lalu ke masa depan. Ia menuliskan apa-apa yang belum tersampaikan saat bersapa, atau ia mensapakan apa-apa yang belum sempat tersampaikan kala berjumpa. Ia juga menaruh harapan-harapan, bagi kita, pun bagi teman-teman yang mendahului menuju fana. Menulis lantas menjadi momen pengabadian. Lagipula, ingatan kita pun terbatas. Dengan menulis, defisit ingatan dan keterbatasan tadi jadi terkurangi. Menuliskan masa lalu, selain membayangkan masa depan ia juga memberi kata bagi yang masih dan masih saja terlupa. Ia juga memberi makna bagi yang belum sempat termaafkan, yang masih tersesalkan, bahkan disesalkan. Ia memanggil kembali pesanpesan re dan union. Ia menjadikan lagi kita, penulis dan pembaca, berbaris rapih seperti hendak memasuki kelas sebuah mata pelajaran: menjelangkan ingatan dan menjadikannya tetap sederhana.

Keterangan: Beberapa gambar yang aku buat sebagai ilustrasi tulisan teman-teman di buku reuni “Membayang Delapan delapan”. Ini buku terbaik yang pernah aku rancang dan miliki. Ini buku sederhana, jujur, dan menjadikannya istimewa.

Kawan-kawan, selamat menulis. Lewat tulisan, kita saling dijumpakan. Salam. (Koskow, Jogja, Delapan delapan)

Begitulah. Setelah tulisan undangan tersebut aku emailkan dan aku fesbukkan, satu persatu teman-teman sd mengirim tulisan mereka untuk buku reuni kami nanti. Beberapa teman mengirim lewat email, beberapa lewat sms, ada pula yang ditulis di notes. Tugasku melayout tulisan-tulisan tersebut, memberinya gambar/ilustrasi. Aku

juga menulis tentang foto-foto masa lalu. Foto-foto aku pinjam dari koleksi Mia. Semula kupikir kerja ini biasa saja. Lama-lama, membaca tulisan teman-teman, menatap foto-foto lama, aku terbawa pada situasi tertentu, situasi yang menguras seluruh perhatian, emosi, pikiran. Namun, ruang seperti inilah yang kumaksud sebagai narasi

berkesenian, bahwa seni harus hadir melayani ruang-ruang pertemanan, dan terutama ruang-ruang ingatan tentangnya. Gambar-gambar yang aku ciptakan kadang hadir bawah sadar: ia menduhului tulisan. Hampir tiap malam aku dan teman-teman berkomunikasi melalui sms. Hingga kini, aku seperti kamar tempat menyimpan persoalan beberapa teman. Aku diberi nama: pak camat. Mona kuberi nama: pak pos. Dan seorang teman di Semarang, yang memastikan reuni

berjalan, Novi, kami beri nama: korlap, koordinator lapangan. Ini reuni yang sederhana. Justru pada kesederhanaan itulah proses berkesenianku menemui apa yang selama ini kumaui, yaitu jalan seniku: kesenian, kesunyian. Sepertinya, selama ini gambargambarku hadir dan tercipta di ruang-ruang sunyi demikian. Reuni berjalan lancar, berjalan seperti yang kami maui: sederhana. Kami menggelar tikar di ruang kelas VI. Guru-guru pun hadir,


36 Teman Merawat Percakapan

pada agenda-agenda lain seperti pengarsipan data reuni, agenda kampus (penyiapan pameran, penerbitan jurnal, penerbitan buku, kuliah-kuliah umum, dlsb.). Namun ini bukan alasan. Mungkin ini siatuasi yang justru semakin memastikan apakah aku sebenarnya menginginkan pameran untuk karyakaryaku, atau tidak. Desember 2011, oleh Gamaliel aku dikenalkan pada Lelaki Budiman. Lelaki Budiman berencana menerbitkan buku kumpulan puisi yang (dia rencanakan) berjudul “Percakapan Diam-Diam”. Aku diberi kesempatan mencipta gambargambar untuk buku kumpulan puisi tersebut. Kami bertiga - aku, Gamaliel, Lelaki Budiman - kian kerap berjumpa dan bercakapKeterangan: Sampul buku buku “Percakapan Diam-Diam”, desain dikerjakan oleh Gamaliel.

37

cakap. Maka itu bulan Desember aku gunakan untuk menciptakan gambar/drawing puisi-puisi Lelaki Budiman tersebut. Tepat pukul 23.30 WIB, tanggal 31 Desember 2011, semua drawing selesai aku kerjakan. Ah, akhirnya selesai juga, mengingat aku dinamai seniman pemalas oleh mereka berdua, tetapi Lelaki Budiman kami namai sastrawan gelisah. Dalam proyek ini Gamaliel memerankan diri sebagai “tuan rumah” yang ramah sekaligus sebagai art director buku puisi tersebut. Bagiku ni kerja yang menyenangkan dan ini kesempatanku untuk melakukan eksperimentasi drawing. Drawingku kali ini mulai berkurang kehadiran garis-garis. Namun, tetap ada bertahan di sana: kesan sunyi. Keterangan: Layout halaman buku “Percakapan Diam-Diam”, desain dikerjakan oleh Gamaliel.

Keterangan: Beberapa drawing yang aku kerjakan untuk ilustrasi puisi “Percakapan Diam-Diam”. Drawing aku kerjakan dengan teknik manual, tinta Cina dan cat air pada kertas cat air ketebalan 400 gram. Enambelas drawing aku ciptakan untuk buku kumpulan puisi tersebut. Rata-rata gambar berukuran 14 x 27 cm. Dalam proyek ini aku melatih kepekaan ruang, tepatnya kekosongan yang ada, semacam suwung. Aku menikmati kerja seni kali ini untuk hal pencarian bentuk baru. Dan sejauh ini aku menikmatinya dan merasakan hadirnya bentuk baru tersebut. Ya, seniman memang mencari dan menemukan jalannya sendiri. Namun bagiku proses ini kulalui lewat percakapan dengan Gamaliel, Lelaki Budiman, dan juga Senja.


38 Teman Merawat Percakapan

39

Keterangan: Pameran “Kata dan Rupa” di Balai Soedjatmoko, Solo (Bentara Budaya Solo). Pameran ini merupakan pameran kedua ilustrasi buku puisi “Percakapan Diam-Diam”. Pameran sebelumnya dilaksanakan di Kamikoti. Jika pameran di Kamikoti sekaligus melaunching buku “Percakapan Diam-diam”, pameran di Balai Soedjatmoko tersebut sekaligus memperingati kelahiran Chairil Anwar. Maka itu dalam pameran tersebut juga terdapat karya ilustrasi yang menafsir puisipuisi Chairil Anwar. Ilustrasi dikerjakan oleh komunitas DDF, sedangkan aku merancang ilustrasi pada ember kaleng yang kukerjakan bersama Amadeus Rembrandt, mahasiswaku. Pada pameran di Balai Soedjatmoko ini juga disertai musikalisasi puisi yang salah satunya dibawakan oleh Rama (gitar) dan Avira (vokal) (mahasiswa DKV ISI Yogyakarta angkatan 2011). (Foto: Ponda Sujadi) Keterangan: Bangunan Kamikoti tempat launching dan pameran ilustrasi buku puisi “Percakapan Diam-Diam”, di Kamikoti, Alun-alun Kidul, Yogyakarta (26 Februari 2012). Foto bawah merupakan salah satu mural ilustrasi puisi “Percakapan Diam-Diam” di dinding Kamikoti. (Foto: dokumentasi Lelaki Budiman)


42 Teman Merawat Percakapan

Keterangan: Ilustrasi untuk tiga buku Rumah Sinema, 2012. Media tinta Cina pada kertas. Buku Rumah Sinema tersebut tentang kajian khalayak, yaitu penonton. Ringkasnya, film ada karena penonton. Sebenarnya aku mengerjakan layout tiga buku tersebut dalam proyek ini, hanya saja aku juga membuat tiga buah ilustrasi (satu ilustrasi untuk satu buku, ditempatkan di halaman dalam. Layout tiga buku tersebut aku kerjakan bersama Eko Suprati (Rumah Sinema) dan dalam situasi tergesa dan semakin melatihku menghadapi situasi yang demikian.

43


44 Teman Merawat Percakapan

45

Keterangan: Karya ilustrasi yang aku ciptakan untuk menghormati wafatnya Gus Dur. Karya ini aku sertakan (susulkan) bersama karya ilustrasiku yang lain pada pameran Biennal Jogja X. Pada pameran tersebut para seniman juga menciptakan berbagai karya guna memberi kehormatan kepada Gus Dur, pula di Tugu Yogyakarta diadakan malam lilin untuk mengantar kepergian Gus Dur. Mengingat Gus Dur sebenarnya juga mengingat ayahku (alm) dimana ayahku pernah menjadi bagian dari Partai Kebangkitan Bangsa.

Setelah Kotasis: ILustrasi, Sastra, Percakapan di Kampus dan di Mana Saja Setelah berproses di/dan bersama Kotasis aku masih menekuni desain buku, antara lain layout buku “Semua Ada Waktunya” (Jalasutra), ilustrasi puisi karya Puspanintyas Panglipurjati (“Intro”), juga bersama DDF dan mahasiswa Sastra Prancis

UGM yaitu pameran ilustrasi sastra di Balai Soedjatmoko, Solo (4-6 Maret 2013). Beberapa ilustrasi, desain sampul, dan layout buku tetap aku kerjakan, meski tidak banyak. Hingga di saat ini pun aku jarang mengikuti pameran seni rupa. Duniaku memang kecil, kerap di kampus saja, berjumpa dan bercakapcakap dengan mahasiswa. Aku tetap menyempatkan berkunjung ke

Keterangan: Di waktu tetentu beberapa gambar aku ciptakan. Tidak untuk tujuan tertentu, hanya menggambar saja. Kemasan termasuk salah satu media dkv yang menarik perhatianku. Beberapa desainer (termasuk Kotasis) mengkoleksi kemasan, ya kemasan kopi, rokok, coklat, dlsb. Perilaku tersebut setidaknya menggambarkan orientasi taste desain seorang desainer.

Kotasis untuk bertemu Gama, Senja, juga Lelaki Budiman, juga pak Benot (kawan Gamaliel). Di masa tersebut Kotasis pun meraih penghargaan sebagai “The best agency of the year (2012)” pada ajang Pinasthika. Sebagai sebuah biro desain Kotasis tak sebesar biro desain lain, terutama dari segi infrastruktur. Namun,

sebagai ruang bercakap-cakap bisa jadi Kotasis memberi pengalaman bercakap kritis, terbuka, konstruktif. Begitulah, tempatku bermain di luar kampus tidaklah banyak. Aku pahami saja jalan ini sebagai bersetia kepada ruang yang aku pilih sendiri. Kadang aku merindukan mendisain sampul buku lagi dalam


A

ku dilahirkan di Kota Semarang, 10 Juli 1975, Kamis kliwon. Kata ibuku, aku lahir sewaktu ayahku melaksanakan ujian kuliahnya. Sejak kecil aku jarang bermain di rumah dan lebih memilih bermain bersama teman-teman, bermain bola, sepeda, jalan-jalan menyusur kampung. Pernah di satu masa, mungkin kelas lima atau kelas enam sekolah dasar, selama kurang lebih setahun aku dan teman-teman kampung menabung dalam sekaleng bekas kuweh. Hasil tabungan kami gunakan untuk wisata ke kebon binatang di Semarang, lalu ke museum perjuangan (di daerah Tugu Muda, Semarang), dan berakhir ke pantai, naik bis kota.

Foto: Maret Prima

Luka Karang (untuk teman-teman sekampung) Tiap sore kami bertemu, mengumpulkan uang sebesar seratus perak tiap anak. Bertujuh mencoba menabung untuk bertamasya saat liburan sekolah tiba nanti. Maka menabunglah kami dalam kaleng bekas roti berbentuk tabung, merah warnanya. Setelah menabung maka terkumpullah uang untuk berkelana keliling kota. Pertama, kami mengunjungi kebon binatang. Berangkat pukul tujuh pagi naik bis kota. Berhenti di tepi jalan raya, bertujuh kami berjalan kaki yang lumayan jauhnya. Sesampainya di kebon binatang yang kami jumpai singa kurus,

macan yang sedang tidur, serta kandang ular yang tidak tahu ke mana ularnya dan malah bikin kami ketakutan. Siang datang, kami makan bekal yang kami bawa dari rumah. Beramai-ramai makan siang diselingi hembus angin, angin yang bercampur aroma kandang binatang. Amboi! Setelah kenyang menikmati kebon binatang perjalanan pun kami lanjutkan ke museum pahlawan. Sengaja kami ke sana karena penasaran saja mengingat museum kerap sepi pengunjungnya. Dengan langkah gagah dan keinginan mempelajari sejarah bangsa, kami memasuki ruangan yang besar serta gelap remang. Semula kami melihat berbagai kendaraan perang, senjata, yang itu semua bagi kami sangat imajinatif. Lalu mulailah kami memasuki ruang yang terdapat patung pahlawan. Tidak begitu menyeramkan, malahan kami dapat mengenal sosok pahlawan melalui wajahnya. Lalu, sampailah kami di ruang pakaian. Terkejutlah kami dalam ruangan yang besar, suram, dan melihat baju warna hijau tua dikenakan pada tubuh buatan namun tidak ada kepalanya. Seketika kami lari namun berusaha untuk tidak berteriak agar tak dianggap penakut. Tapi, gimana lagi, memang sangat menakutkan. Sampai di luar kami jadi tahu kenapa banyak orang enggan pergi ke museum pahlawan. Untuk menghibur diri kami tertawa bersama dan mulai mencari siapa yang lari duluan diantara kami. Perjalanan kami lanjutkan ke ujung kota: pantai! Meski tidak mirip pantai, namun mirip tambak, tapi bolehlah kami sebut pantai agar ada penghiburan


60 Teman Merawat Percakapan

ulang, atau menjadi bahan pembicaraan kala berjumpa. Ia, seturut tulisan seorang teman, senantiasa ada yang terahasiakan. Lewat ini, beberapa hal tak kutuliskan, agar senantiasa jadi ingatan sunyi yang mungkin hanya aku saja yang mengetahuinya. Begitulah jalan seniku. Sekolah dan kampus jadi ruang sehari-hariku.

Pun di rumah aku tak jauh dari buku. Masa lalu pun kurawat dalam sebuah buku. Hingga kapan jalan berkesenianku, itu bukan hal utama. Bagiku, merawat pertemanan melalui seni dan pengetahuanlah yang setidaknya hingga kini kujalankan. Ada sesuatu yang menopang jalanku itu, meski tak semuanya aku mengerti, meski aku tetap yakin dalam menjalaninya.

Buku Reuni: Membayang Delapan delapan


110 Teman Merawat Percakapan

111

“Insert (BLACK) Character� Pameran Insert Character di Kedai Kebun Yogyakarta, bersama mahasiswa DKV ISI Yogyakarta Keterangan karya: Foto oleh Koskow, model Doni Agung. Lokasi pemotretan di Seni Patung FSR ISI Yogyakarta, 2008.


112 Teman Merawat Percakapan

113

Pameran SEE THE SOUND Pameran Mahasiswa DKV ISI Yogyakarta Angkatan 2007

Pameran Biennale Jogja X, di Jogja National Museum

Karya ilustrasi manual, tinta Cina, cat air pada kertas (watercolor paper), ukuran 14,5 x 21 cm (2009). Judul karya “O Amuk Kapak”, “So(u)n(d) of The Sky”, dan “Manifesto Postmodernisme (Attribute to JENNY)”

“Fragmen Penerbitan Seni Rupa Buku Penerbit Jogja 90an” “…Persoalan menjadi lain jika kita mendudukkan gaya sebagai form and new ways of expressing ideas. Gaya sebagai form and new ways of expressing ideas mendudukkan gaya tidak sebatas persoalan surface namun ideas. Ringkasnya, dibalik form/surface ada idea. Atau di balik form/surface ada content yang disampaikan...” Karya ilustrasi manual, tinta Cina, cat air pada kertas (watercolor paper), ukuran 14,5 x 21 cm, tahun 2009. Karya tersebut merupakan karya undangan pada pameran Biennale Jogja X untuk kategori ruang arsip, yaitu arsip seni rupa buku penerbit alternatif Yogyakarta era 1990an.

Gagasan hingga turun ke jalan. Dalam dunia penerbitan, mengerjakan gagasan bisa berarti menerbitkan buku penting dan mendesak bagi masyarakat. Di Jogja, menerbitkan buku bisa hadir dalam bentuk tekstual maupun visual. Ngobrol bareng menjadi ruang dalam memberi bentuk atas gagasan tersebut.

Fotokopi dan pembentukan komunitas imajiner Sebelum maraknya penerbitan di Jogja, menggandakan gagasan pun menggunakan mesin fotokopi. Bahwa ada yang penting di sana, yaitu gerakan diam-diam untuk melawan penguasa melalui penyebarluasan gagasan. Pertemuan akupembaca dengan bacaan (teks) diperantarai oleh mesin fotokopi.


116 Teman Merawat Percakapan

117

ilustrasi Sampul buku yang gagal dicetak Atas: sketsa untuk buku “Trilogi Insiden”, mengapresiasi ilustrasi sampul buku “Jazz, Parfum dan Insiden” yang diambil dari karya Mella Jarsma. Bawah: Karya ilustrasi manual, tinta Cina, cat air pada kertas (watercolor paper), ukuran 14,5 x 21 cm.

Komodifikasi.

Penerbit rumahan. Manajemen pertemanan. Penerbit gang.

“Di Jogja, menerbitkan buku itu mudah.” Benar demikian?

“The truth is out there.”

Seni urban & meng-urban-kan seni

“Sampul buku penerbit Jogja 90-an: gagasan, perlawanan, perubahan.


122 Teman Merawat Percakapan

redesain ilustrasi buku reuni Delapan delapan Karya ilustrasi manual, tinta cina, cat air pada kertas (watercolor paper), tahun 2012.

“Seperti menarik keluar kata-kata yang belum sempat tersampaikan, yang mengasal dari dalam, yang belum tersempatkan menjadi peristiwa. Atau ia bisa juga menuliskan peristiwa yang belum bisa terkatakan, seperti menemu rasa senang dalam pendam sesal di masa lalu. Menulis, lantas bisa mengobati masa-masa yang terlewat, atau memberi kata bagi yang belum ternamai, meski ia senantiasa menyimpan sisa.�

123


148 Teman Merawat Percakapan

“Aku mengingatmu dengan cara sederhana, menyimpanmu di tempat teristimewa.” (kawan Delapan delapan)

“Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.” (Mengingat WS. Rendra)


151

Perjumpaan Kali Ini Sampai Di Sini Mungkin cukup sampai di sini. Tulisan ini memang bermaksud mengisahkan jalan berkesenianku karena tidak banyak orang yang mengetahui proses berkesenianku selama ini. Harapannya, pengisahan tersebut memperjelas latar belakang mengapa dan bagaimana aku memandang sebuah gambar, ilustrasi, atau buku, sama seriusnya dengan karya seni lain. Saat menulis buku ini pun aku mengingat lagi bahwa pertama kali aku mengajar yaitu tahun 2002, di Bandung. Maka itu, buku ini juga Foto: Dokumentasi Reuni 88

sekaligus menjadi catatan harianku selama sekitar sepuluh tahunan aku mengajar dkv di kampus. Aku tahu, semua yang aku tuliskan bukan sesuatu/satu-satunya yang istimewa, terutama jika dibandingkan pengalaman orang lain yang sangat mungkin lebih istimewa dariku, baik tentang praktik kesenian, praktik mendisain, mengajar, hingga praktik percakapan. Lewat hal tersebut aku sebatas mau menyampaikan bahwa menjadi desainer, pendidik desain, pula jika ia berkesenian, memerlukan jalan dalam melangsungkan praktik (-praktik) tersebut.

Foto: Dokumentasi Lelaki Budiman

Desainer kian bermunculan, namun desiner yang memiliki visi jauh lebih dibutuhkan. Visi itulah yang menjadi jalan guna menghalau praktik kesadaran alienasi diri desainer serta audiens. Aku yakin bahwa desain(er) mampu merawat percakapan. Ia hanya memerlukan pendamping percakapan: teman. Barangkali di sinilah seni diperlukan guna menjalankan praktik tersebut. Terima kasih sudah berkenan menyimak tulisanku. (Selalu ada teman merawat kebaikan.) Yogyakarta, Paskah 2013


152 Teman Merawat Percakapan

Indeks 97/98 Alienasi Balai Soedjatmoko Biennal Jogja Estetika Garden Juice In blur we trust Jalan berkesenian JNM Kamikoti Kedirian Kesenian, kesunyian Kotasis Liyan Membayang Delapan delapan Menyumur Merupa Buku Percakapan Diam-Diam Pers Mahasiswa Pinggiran Ruang Jurnal Sastra Teman Merawat Percakapan Trust


Teman Merawat Percakapan