Issuu on Google+

puisi

Lelaki Budiman ilustrasi oleh

Koskow


Percakapan Diam-Diam Lelaki Budiman Penerbit Tan Kinira Books e-mail: surat@lelakibudiman.com twitter: @lelakibudiman

Edisi Kedua Cetakan Pertama, Februari 2012

© 2012, Lelaki Budiman dan Widyatmoko ‘Koskow’

Ilustrasi Widyatmoko ‘Koskow’ Desain Buku Gamaliel W. Budiharga Kotasis Kamar Desain 3x3x3 kotasis@kotasis.com www.kotasis.com

Cetakan ini adalah cetakan khusus karena dicetak terbatas hanya untuk 50 pembeli pertama.

Dicetak di yogyakarta, Indonesia


“Octavio Paz, menyebut puisi sebagai ‘suara lain”; puisi, pada akhirnya, menjadi suara sunyi, yang bisa kita dengar kembali. Percakapan Diam-diam, menjadi sebuah upaya untuk mendengar ‘suara lain’ itu, mengenali yang (mungkin) tak terdengar dari sebuah percakapan. Puisi hadir bukan hanya sebagai yang terkatakan, tetapi juga yang tak terkatakan dalam diam. Puisi-puisi Lelaki Budiman yang lembut ini, mengajak kita untuk itu: mendengarkan percakapan-percakapan lain, suara-suara lain, hal ikhwal yang mungkin.” Agus Noor, penulis

“Di tengah lalu lintas informasi dan komunikasi yang kian tinggi intensitasnya, sajak-sajak Lelaki Budiman ibarat hujan malam yang mengajak kita untuk diam mendengarkan suara hujan, sebagaimana kita juga sesekali perlu diam mendengarkan burung berkicau di dahan-dahan. Menulis adalah sebentuk percakapan dalam diam untuk menjernihkan ingatan di tengah sampah komunikasi yang bertimbunan.” Joko Pinurbo, pengarang puisi


“Sajak-sajak Lelaki Budiman berlarian di antara keramaian dan kesepian, kelonggaran dan kepadatan. Kadang ia tampak seperti tengah memuja bentuk tapi di lain waktu ia mengabaikannya begitu saja dan membiarkan isi muncrat tanpa aling-aling. Membacanya seperti membaca sungai dalam berbagai cuaca. Membacanya seperti bertemu langsung dengan dirinya yang menolak pasti.� Gunawan Maryanto, penyair

“Puisi-puisinya yang singkat menunjukkan bahwa pergulatan penyair dengan kata-kata berlangsung cukup intens. Kata-kata yang dipilihnya meskipun terkesan sederhana namun efektif dan fungsional. Penyair nampaknya sudah paham apa yang ingin diungkapkan dan bagaimana cara mengungkapkannya.� Acep Zamzam Noor, penyair


Untuk Emak dan Bapak yang mengajarkan kesabaran dan keberanian


Sublim

2


Aku iri kepada air yang tak bisa ditusuk dan dilukai.

Aku terpana kepada udara yang bisa menelusup ke mana saja. 2009

3


4


12


Surat Pendek untuk Calon Istriku Selamat malam kekasih rahasia Tuhan. Bidadari tak bersayap denganmu agama menggenap. Kelak, suatu waktu kita berbagi sajadah rindu. Menebus rindu kepada Sang Maha Rindu. Engkau, makmum pertamaku dalam jamaah Qalbu. 2010 13


Kepada Hujan Aku Cemburu

Setiap hujan mengunjungiku, kulihat genap sayap di punggungmu. Tak seperti kupu-kupu, sayapmu warna tak bernama. Matamu hijau cahaya. Tak lagi aku hirau pada cahaya, selain matamu. Basah tubuhmu adalah dedaunan, yang terbangun pertama kali. Menjaga embun paling perawan agar tak disentuh matahari. Kepada hujan aku cemburu. Entah kapan bisa menggenapi sayapmu. Atau sekedar menjadi hiraumu, mencuri cahaya matamu. 2011

21


25


Radio

Klik. Kau pun berada di sebuah benua yang jauh. Kau menatap asing tubuhmu : berjalan sendiri dalam mimpimu. Klik. 2011

32


33


Suatu Pagi di Alun-alun Kecil

Kegelisahan mengental dalam gelas kopi. Pagi ini: sendiri. 2010

52


S e t e l a h S u ny i

62


Setelah sunyi, apalagi yang akan kita ziarahi malam ini. Mimpi? 2011

63


Scripta manent, verba volant Berawal dari kata-kata yang berserakan di blog hingga outbox, akhirnya saya mengajak Anda bercakap dalam Percakapan Diam-diam. Buku yang Anda baca sekarang, semula adalah “hadiah� kecil bagi kedua orang tua saya pada perayaan ulang tahun saya. Edisi pertama Percakapan Diam-diam (Maret 2011) dicetak terbatas, hanya sekitar 80 buku. Atas dorongan beberapa kawan, akhirnya edisi kedua Percakapan Diam-diam diterbitkan. Beberapa perubahan dalam buku edisi kedua ini, antara lain ilustrasi, layout dan desain sampul. Tak sekadar tampilan fisik yang berubah, dalam edisi kedua Percakapan Diam-diam terdapat puisi-puisi baru dan penyusunan ulang susunan puisi. Penyusunan ulang tersebut lebih dimaksudkan agar keseluruhan puisi memiliki alur cerita juga irama yang berbeda dari buku sebelumnya. Berbahagialah mereka yang tak melulu bercakap-cakap dengan dirinya sendiri. Mereka yang memiliki teman untuk mendengarkan dan mengoreksi kesalahankesalahan yang kadang tak pernah saya disadari.

77


Kepada Yang Mahapuitis, terima kasih telah menjadi kawan bercakap setiap menjelang tidur. Terima kasih selalu memberiku kesempatan untuk bertanya dan menemukan jawabannya (sendiri). Matur nuwun, Gusti. Sebelum diam, ijinkan saya menyampaikan terima kasih kepada beberapa sahabat: Bung Widyatmoko ‘Koskow’ yang telah membuat ilustrasi dan menjadikan Percakapan Diam-diam tak hanya berhenti sebagai pengalaman verbal semata. Bung Gamaliel W. Budiharga atas kesediaannya menjadi pengarah artistik untuk keseluruhan proses penerbitan (kembali) Percakapan Diam-diam. Mbak Ra’ a.k.a. Syaharani @Jazzy_Syaharani yang dengan senang hati menjadi teman berdiskusi tentang hidup dan kehidupan. Gabriella “Gie” a.k.a. @bleedingie yang telah menjadi penyunting paruh waktu untuk Percakapan Diam-diam (edisi pertama) di sela-sela kesibukannya belajar menjadi jurnalis.

78


Fitria Agustina a.k.a. @flafea yang telah menjadi penyunting dan meluangkan waktu (di sela-sela kesibukannya mendidik Mata Air) membantu saya untuk menyusun kembali tulisan yang tercerai berai. Terima kasih kepada Mas Danarto dan Mas Acep Zamzam Noor yang telah memberikan endorsment untuk buku ini. Mas Joko Pinurbo a.k.a. @ jokopinurbo, Mas Agus Noor a.k.a. @agus_noor, Mas Gunawan Maryanto a.k.a. @gunawanmaryanto yang telah bersedia memberikan catatancatatan kecil bagi buku ini. Tabik. “Terima kasih telah mau mendengarkanku bercakap dalam sebuah percakapan diam-diam. Semoga kau tak hanya diam saat aku kembali mengajakmu menikmati percakapan diam-diam.� Yogyakarta, Februari 2012 Lelaki Budiman

79


Daftar Ilustrasi

tinggal biji, 4-5

dalam senyap, 18-19

di antara, 7

menyimpan ingatan, 25

hasrat dalam diam, 8-9

helai melegam, 28-29

presisi, 12

titik (tak) hilang, 32-33

cat air dan tinta cina pada kertas 215 x 140 mm 2011

cat air dan tinta cina pada kertas 215 x 140 mm 2011

cat air dan tinta cina pada kertas 215 x 140 mm 2011

cat air dan tinta cina pada kertas 215 x 140 mm 2011

80

cat air dan tinta cina pada kertas 215 x 140 mm 2011

cat air dan tinta cina pada kertas 215 x 140 mm 2011

cat air dan tinta cina pada kertas 215 x 140 mm 2011

cat air dan tinta cina pada kertas 215 x 140 mm 2011


Indeks Baris Pertama

82


A

D

Adalah ingatan 39 Adalah Kau 18 Adalah sepasang kursi 9 Ada yang harus segera dituliskan 6 Aku 74 Aku ingin memanggil hujan 23 Aku iri kepada air 3 aku justru lancar membaca kata-katamu 20 Aku mencintai pagi 16 Aku sering menatapmu 29 Apa yang akan dituliskan kata malam ini 72

Dalam diammu 20 Dan 44 E Entah berapa banyak angka kita lupa 54 H Hujan bertandang kembali 61 I

C

Ijinkan aku sejenak 15 Ijinkan aku sejenak bercerita tentang kemungkinan 47 Ijinkan kutiupkan doa-doa - harapan tentang rindu 46

Cahayamu begitu biru 27

J

B Bukanlah kau 37

Jika kau sudah selesai menulis puisi 50

83


Sosok

Lelaki Budiman lahir 27 Maret, dibesarkan di sebuah dusun kecil di Bantul dan di sebuah kampung di pesisir utara Pulau Jawa. Sekarang menetap di Yogyakarta dan menjadi pekerja lepas, sesekali menjadi volunteer acara seni budaya. Masih berjuang menghadapi kompleksnya birokrasi untuk menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di sebuah universitas. Penikmat senja, jazz dan kopi ini (terus) belajar menulis dan memotret sembari menjadi reporter dadakan untuk beberapa media. Saat ini tengah masih sibuk menyunting beberapa naskah buku beberapa kawan. Penggalan percakapan saya bisa diikuti via twitter: @lelakibudiman atau www.flickr. com/photos/lelakibudiman.

Widyatmoko ‘Koskow’, dilahirkan di Semarang, 10 Juli 1975. Menekuni perbukuan, sebagai desainer sampul, ilustrator isi, dan layout. Pemateri workshop layout pers mahasiswa (Jurnal Mahasiswa “Balairung” UGM, Majalah Mahasiswa “Pendapa” Taman Siswa, “Artffect” ISI Yogyakarta). Pameran seni rupa yang pernah diikuti antara lain Pameran Seni Rupa “The Highlight” ISI Yogyakarta (Jogja National Museum, 2008), Biennale X ‘Jogja Jammin’ (Desember 2009 Januari 2010), “Speak Of” (Jogja Artnews, Jogja Natioanl Museum, 2011), “Food and Paper” (ArtCafe, Magelang, Desember 2011 - Januari 2012). Buku yang sudah diterbitkan yaitu “Merupa Buku” (LKiS, 2009). Saat ini mengajar di Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, dan sebagai anggota redaksi jurnal ARS Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Bisa dihubungi di: koskowbuku@gmail.com.

86


87


Renungan, cinta, mawas diri, pikiran, kelam, harapan, merupakan batu sandungan perjalanan “Percakapan Diam-Diam�, Lelaki Budiman, penulisnya, merasakan suatu suasana tanpa ruang. Ia meraba-raba, ia nyaman di situ. [Danarto, penulis-perupa]

88


Percakapan Diam-diam