Page 5

OPINI

RABU, 25 juni 2014

Ruang Publik Kirimkan keluhan dan komentar Anda tentang pelayanan publik ke e-mail: redaksi@lampungpost.co.id, redaksilampost@yahoo.com, short message service (SMS) 0815-405-9000, www.facebook.com/lampungpost. interaktif. Setiap surat harus disertai identitas yang jelas.

5

LAMPUNG POST

NU ANSA

PAK D E PAK HO

Piala Dunia di Indonesia?

n LAMPOST/HENDRIVAN

Iyar Jarkasih Wartawan Lampung Post

ENAM hari perhelatan Piala Dunia 2014 di Brasil bergulir, Menteri Pemuda dan Olah­ raga (Menpora) Roy Suryo mengeluarkan pernyataan menarik. Ia menyebutkan Indo­ nesia siap menggantikan Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Pernyataan itu disampaikan Roy Suryo terkait adanya isu suap dalam penunjukkan Qatar se­ hingga mencuat opsi pembatalan mereka men­ jadi tuan rumah. Entah, apakah Roy Suryo se­ rius dengan ucapannya atau hanya sedang larut dalam euforia event empat tahunan itu yang kini sedang berlangsung di Negeri Samba. Menjadi tuan rumah Piala Dunia tentunya bukanlah hal yang mudah. Perlu dukungan dana yang tidak sedikit untuk membangun sarana dan prasarana, seperti stadion ber­ standar internasional. Paling tidak dibutuh­ kan sekitar 15 stadion yang dapat digunakan

untuk menggelar hajatan tersebut. Sementara Indonesia, saat ini praktis hanya memiliki Stadion Gelora Bung Karno dan Jakabaring, Palembang. Sekadar pembanding, Brasil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014, menggelontorkan dana sekitar Rp151 triliun untuk membangun sejumlah stadion. Selain masih terkendala tempat pertanding­ an, Indonesia juga dihadapkan pada masalah lainnya yaitu kualitas para pemain. Menpora perlu ingat, Piala Dunia bukan hanya sekadar prestise, melainkan juga soal prestasi. Boleh jujur dikatakan, prestasi Tim Nasional Indonesia saat ini masih jalan di tempat. Ja­ ngankan untuk bisa bersaing di pentas Piala Dunia, sekelas Piala Asia pun masih sangat sulit. Sederet negara raksasa di Asia, seperti Jepang, Korsel, Iran, Australia, dan Arab Saudi, masih menjadi tembok tebal bagi Indonesia. Jika pemerintah serius ingin menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia, lang­ kah pembenahan sepertinya harus dimulai dari

sekarang. Tidak hanya dalam hal sarana dan prasarana, tetapi juga perbaikan sistem kom­ petisi hingga pembinaan pemain usia dini. Terlepas masih banyaknya kendala dan kekurangan yang mesti dibenahi, wacana Indo­ nesia menjadi tuan rumah Piala Dunia tentu saja patut mendapatkan dukungan. Apalagi, banyak sisi positif yang bisa didapatkan dari perhelatan akbar tersebut, mulai dari pergerakan ekonomi hingga peningkatan pembangunan. Olahraga seperti sepak bola adalah sebuah kebanggaan. Ada istilah mengatakan hanya ada dua cara agar Merah Putih bisa berkibar di kancah internasional. Pertama, kunjungan kepala negara dan kedua prestasi olahraga. Mengutip salah satu kata bijak “tidak ada impian yang terlalu tinggi untuk dicapai, yang ada hanyalah niat yang terlalu rendah untuk berani melangkah”. Artinya, hanya ke­ beranian dan keseriusan yang bisa membuat Indonesia menjadi tuan rumah pesta sepak bola terakbar tersebut. n

SU RAT PE MB A CA

Presiden Terbaik untuk Negeriku PADA 9 Juli 2014 nanti di Indonesia akan diseleng­ garakan pemilihan umum untuk memilih presiden kita. Sebenarnya siapa yang akan menjadi orang nomor satu di negeri ini sudah dalam genggaman Allah swt. Yang Maha Mengetahui. Kewajiban kita sekarang hanyalah menebar ke­ baikan, antara lain terwujud dengan (a) membina kerukunan bangsa, tidak saling mengecewakan/me­ nyakitkan hati dan (b) memperhatikan rakyat kecil yang masih diliputi kebodohan dan kemiskinan. Untuk membina kerukunan bangsa kita perlu pe­ ngendalian diri dan sopan santun serta bersikap lemah lembut. Kedua hal itu merupakan refleksi dari sifat Allah swt., yaitu Maha Penyantun dan Mahalemah Lembut. Agar bisa memperhatikan rakyat kecil, kita perlu jujur dan memperhatikan serta merasakan peng­ aduan orang lain. Ini merupakan refleksi dari sifat Allah Yang Maha Pemelihara. Mari kita panggil kebaikan yang ada pada manusia sehingga sifat yang buruk, seperti benci, dendam, kikir, malas, dengki, dan sejenisnya dapat tersingkir dengan sendirinya. Kita pasti bisa menghidup-hidupkan sifat-sifat baik supaya disayang Allah sehingga diselamatkan dari ber­ bagai bencana dan keresahan. Kita tunggu saja, siapa yang akan dimunculkan dari dalam genggaman-Nya. Nila Elfreda Hajimena, Lampung Selatan

Mencari Intelektual Sejati EDWARD Shills dalam The Intellectual and the Po­ wers and Other Essays (1972) mengatakan intelektual adalah orang yang memahami nilai-nilai tertinggi (ultimate values), baik yang bersifat kognitif maupun estetik, demikian pula hasratnya akan kesepaduan. Dia mempunyai kepekaan terhadap hal yang suci (the sacred) dan mencari serta hal yang acap berhubungan dengan simbol-simbol keseharian bukan konkret dan referensinya jauh melampaui ruang dan waktu. Persoalan intelektual biasanya dibahas secara mendalam di dalam disiplin history of ideas atau sosiologi pengetahuan. Jika Ruslani mencoba me­ nyederhanakan hanya sekadar definisi yang ideal dan realistik, sebenarnya kenyataannya lebih rumit dibandingkan dengan yang telah diungkapkan oleh Julien Benda dan An-tonio Gramscy. Bagaimanapun dua hal yang terakhir itu selalu dikutip dalam perbincangan ihwal intelektual. Intelektual tidak saja mengurus gagasan, tetapi juga menghidupi dirinya. Oleh karena itu, kita per­lu memperhatikan apakah kaum intelektual di Indonesia bisa menghidupi dirinya? Boleh dikatakan mereka betul-betul ditantang oleh keadaan yang tidak bersahabat dengan kerja-kerja intelektual. Uang lebih banyak mengalir pada usaha untuk me­ menangkan ”politik” dan ekonomi, dan akhirnya menyandera kewarasan nurani dan akal budi. Jika merujuk kepada Edwards Shills, intelektual itu boleh jadi adalah wartawan, dosen, seniman, dan siapa pun yang di dalam konteks tersebut tak bisa hidup layak karena harus berjibaku dengan pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari. Akankah mereka mampu melihat persoalan secara jernih? Tidakkah mereka riskan untuk menjadi partisan? Agak susah menemukan intelektual seperti Arif Budiman yang masih menjaga kemandirian dan kesederhanaan di tengah godaan bisa dibajak dan disuap? Ignace Lepp dalam bukunya The Art of Being an In­ tellectual (1968: 9) menyatakan “The true intellectual is one who goes far beyond the limits of his specialty”. Itu adalah pernyataan yang paling tandas tentang sosok intelektual. Ia mengandaikan orang yang tidak terjebak pada keahliannya sendiri, tetapi mencoba menengok pers­ pektif lain agar bisa mendalami perincian sebuah masalah. Selain itu, juga mengandaikan pemahaman interdisipliner terhadap persoalan masyarakat. Keterbukaan pada disiplin lain sekaligus men­ syaratkan sebuah tim yang terdiri atas berbagai keahlian dalam melihat satu masalah. Contohnya, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak hanya dilihat dari sisi perhitungan ekonomi, tetapi juga biaya sosial (social cost) yang justru kadang luput dari perhatian dan berdampak sangat luas dalam kehidupan masyarakat kebanyakan. Pendek

kata, sosiologi, antropologi, politik, agama adalah sudut pandang yang juga dimanfaatkan untuk mengantisipasi efek domino yang mengakibatkan kesulitan hidup masyarakat. Dalam kerangka itulah, kebersamaan mereka yang mengaku intelektual dari pelbagai disiplin untuk tak lagi larut dalam ingar-bingar media, tetapi justru melakukan tindakan konkret yang mencerminkan pemikiran bersama. Jika pilot project itu tidak ber­ hasil, mereka duduk kembali untuk mengevaluasi keberkaitan teori dan tindakan. Singkatnya, ada usaha berkelanjutan dalam menyelaraskan buku teks dan dunia realitas. Seyogianya, keberhasilan Mohammad Yunus dengan Gramen Bank-nya di Bang­ladesh memberikan inspirasi kelompok intelek­ tual, bagaimana komitmen dan kehendak mewujud­ kan ide dalam tataran konkret bisa dilakukan. Seperti dikatakan oleh Talcott Parson, bahwa apa yang diharapkan dari intelektual adalah lebih mem­ berikan perhatian kepada norma dan makna pola sistem simbolik dibandingkan dengan tindakan atau kepentingan dari sebuah sistem sosial agen yang ada, baik individu maupun kolektif. Sayangnya, banyak kita temukan bahwa mereka yang secara formal berhak menyandang gelar intelektual menggadaikan kedudukannya untuk raihan sesat, baik materi maupun kedudukan. Dan Pemilihan Presiden 2014 menjadi jebakan berbahaya bagi intelektual. Sudah saatnya kita mendorong kaum cendekiawan untuk bersuara agar kaum cerdik pandai memikirkan kembali posisinya dalam pertarungan perebutan kekuasaan yang semakin kasar. Dengan sendirinya, kekasaran itu telah menyuburkan wacana yang berkembang di masyarakat dangkal dan karikatif. Budi Suharyono Gedongmeneng, Bandar Lampung

Budaya Gotong Royong Luntur DERASNYA arus globalisasi sudah menghantam ber­ bagai sendi kehidupan di Indonesia. Globalisasi juga selalu mengancam lunturnya budaya Indonesia yang mudah untuk dipengaruhi. Bahkan globalisasi mulai tidak mengenal adanya batasan ruang dan waktu. Globalisasi seperti mata uang logam yang memiliki dua sisi berlainan, sisi positif dan negatif, tergantung dari sudut mana kita memandang. Salah satu dampak positif yang ditunjukkan dari adanya globali­sasi saat ini ialah terjadinya akulturasi budaya yang dapat menciptakan kebudayaan baru yang unik. Selain itu, juga dapat menumbuhkan perkembangan iptek di Indonesia yang dapat digunakan untuk mem­ perkenalkan kebudayaan Indonesia pada dunia. Akan tetapi, globalisasi juga memberikan dampak negatif, salah satunya adalah lunturnya kebudayaan asli Indo­ nesia. Salah satunya budaya gotong royong. Gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat set­ empat secara bersama-sama dengan tidak mengharap­ kan suatu imbalan atas pekerjaan yang telah dilakukan tersebut. Gotong royong dilandasi rasa solidaritas antar­ warga masyarakat yang tinggi karena pada hakikatnya manusia saling membutuhkan satu sama lain untuk kelangsungan hidupnya dalam bermasyarakat. Dalam budaya gotong royong, sikap saling tolongmenolong secara kolektif merupakan kegiatan sosial yang dilakukan tanpa mengharapkan suatu imbalan jasa atas pekerjaan yang dilakukan. Tindakan tersebut dilakukan dengan sukarela dan didasarkan pada se­ mangat hidup, senasib, dan sepenanggungan dengan tu­ juan meringankan pekerjaan atau beban orang lain. Namun, masyarakat Indonesia saat ini cenderung bersifat individu. Mereka lebih mementingkan pribadi atau golongan di atas kepentingan bersama. Kini bu­ daya sambatan telah bergeser menjadi sistem upah. Hal tersebut sebagai akibat adanya globalisasi yang membuat semakin menyempitnya lapangan peker­ jaan yang kini banyak dikuasai bangsa asing sehingga memaksa mereka melakukan segala sesuatu dengan mengharapkan imbalan atas apa yang dia kerjakan. Akibatnya, budaya gotong royong saat ini sudah jarang ditemukan, terutama pada masyarakat perkotaan. Dulu sebelum Indonesia memasuki era globali­ sasi, budaya itu sangat melekat keberadaannya di masyarakat Indonesia. Seiring perkembangan zaman yang memaksa Indonesia untuk memasuki dunia global, banyak kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia tanpa filter lebih dulu. Selain itu, kini gotong royong dalam hal positif

pun berubah menjadi negatif, seperti gotong royong berkorupsi yang dilakukan bersama-sama atau berje­ maah oleh para kaum intelektual dan petinggi negeri. Fenomena inilah yang menyebabkan Indonesia kehi­ langan jati diri sebagai negara yang berbudaya. Bangsa Indonesia yang dikenal dunia sebagai bangsa yang kaya akan budaya dan “unggah-ung­ guh” ketimurannya, sudah selayaknya harus mem­ pertahankan eksistensi budaya Indonesia, seperti sambatan, yang saat ini mulai luntur terkikis zaman. Siapa lagi yang akan mempertahankan dan meles­ tarikan budaya Indonesia selain kita sendiri. Dian Utami Durianpayung, Bandar Lampung

Rasa Malu BANGSA ini terkenal memperlakukan rasa malu men­ jadi nomor wahid. Contoh, ketika harga minyak dunia melambung, segera rasa malu mengikuti de­ngan me­ naikkan harga BBM di negeri sendiri. Setelah dapat ”untung” segera keuntungan itu dibagi ”adil” pada rakyat berupa BLT (bantuan langsung tunai) yang tidak usah dikembalikan. Cukup membayar dalam bentuk komoditas yang makin tak terjangkau. Rasa malu pada mahasiswa yang menentang kenaikan BBM diwujudkan dalam bentuk BKM (bantuan khusus mahasiswa) yang berupa beasiswa. Namun, tidak terbukti efektif sebab BKM tidak diberikan sebelum ada kenaikan harga bahan bakar. Seolah pengambil kebijakan melakukan suap untuk meredam gejolak mahasiswa. Namun, mahasiswa punya rasa malu dengan ban­ tuan ini. Hal ini terbukti dengan tindakan mogok makan, begitu mau ada ”suap”. Terkait dengan BLT, rakyat miskin dapat menjadi contoh kedisiplinan dalam budaya antre. Mereka malu jika dikatakan tidak tertib hingga antre sampai berpanas ria demi mendapat kompensasi BBM. Tidak seperti di gedung Dewan yang tidak malu belum bisa memakmurkan rakyat yang diwakilinya. Malu bertanya sesat di jalan. Bertanya terus dikira tak tahu jalan. Begitulah gambaran arus bawah di era reformasi ini. Rukman Dasuki Hajimena, Natar, Lampung Selatan

Who’s Next? SETELAH Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, dan Soesilo Bambang Yoedoyono, who’s next yang akan menjadi presiden RI untuk periode 2014—2019? Tinggal bagaimana nanti, rakyat Indonesialah yang memilih. Siapa pun yang menjadi presiden dan wakil presi­ den Indonesia periode 2014—2019 pastilah pasangan yang bernasib baik. Tapi, Tuhan tidak akan begitu saja memberikan nasib baik kecuali kepada orangorang yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan mempunyai ketulusan untuk mengabdi pada bangsa dan negara serta jujur dalam bertindak. Nasib bangsa Indonesia dalam lima tahun ke depan segera kita tentukan. Mulai sekarang, per­ hatikan visi-misi capres dan cawapres mana yang paling sesuai dengan hati nurani kita. Yang paling mantap menurut kita itulah yang na­ manya akan kita contreng pada Pemilu 2014 ini. Jangan lupa, berdoalah sebelum mencontreng agar Tuhan berkenan memberi kesempatan pada bangsa Indo­ nesia untuk mempunyai presiden dan wakil presiden yang jujur, adil, bersih pikiran dan tindakannya, serta dapat menjadi teladan yang baik bagi rakyatnya. Sangat tidak mudah menjadi presiden untuk nega­ ra kita yang terkenal banyak masalah dengan 253,60 juta juta jiwa penduduknya ini. Jadi, siapa pun yang terpilih menjadi presiden dan wakil presiden, harus kita dukung sepenuh hati walaupun mungkin mere­ ka bukan pasangan yang menjadi pilihan kita. Kita harus optimistis bahwa Indonesia akan menjadi negara yang jauh lebih baik dan maju pada lima tahun mendatang. Kita tidak boleh skeptis melihat keadaan Indonesia. Jika kita percaya kita mampu, kita pasti akan benar-benar mampu karena Tuhan selalu menu­ ruti pemikiran dan keyakinan umat-Nya. Cindy Eldina Kemiling, Bandar Lampung

Harga daging ayam dan telur naik lagi, Pak De.

Pokoknya menjelang Ramadan semua pada naik ya, Pak Ho.

n FERIAL

P OJOK Gubernur minta Umar Ahmad mencontoh Bachtiar. Apa dulu dong yang dicontoh? n Pemkot Bandar Lampung memangkas 20% PBB. Enggak sebanding dengan kenaikan 300%!

S MS IN TERAKTIF

Sekcam Enggal Terlambat Ngantor Assalamualaikum. Pak Wali, mohon sekali-sekali sidak ke Kecamatan Enggal. Sampai pukul 09.30, pak sekcamnya be­ lum datang. Kami terkatung-katung menunggu beliau untuk minta paraf. Terima kasih. 087899541xxx

Kecewa Pelayan Telkomsel Yth. Pimpinan Telkomsel, saya sedikit kecewa dengan kin­ erja yang menangani laporan saya, sudah lebih dari tiga kali saya buat laporan melalui 133 dan cs@telkomsel.co.id perihal Kartu Halo saya 0811952626 yang setiap pagi mendapat SMS notifikasi perpanjangan paket BB Lifestyle harian dan kena biaya Rp3.000, yang sebenarnya paket sudah nonaktif sejak 29 Mei, sampai sekarang belum selesai dan sampai kapan? Yusni, Febriansyah, Gunungsugih 0811952xxx

Sosialisasikan soal Korsleting Kepada Yth. Kepala Cabang PLN Provinsi Lampung. Kalau boleh kami menyarankan kepada Bapak untuk mengantisipasi sering terjadi kebakaran disebabkan arus pendek listrik. Kami sebagai kon­ sumen kebanyakan kurang memahami apa itu arus pendek listrik, mohon untuk sosialisasi bagi kami sebagai konsumen agar pihak PLN menyosialisasikan melalui media televisi atau media cetak, untuk lebih mengantisipasi apa yang harus diperhatikan bagi kami selaku konsumen. Atas perhatiannya kami ucap­ kan terima kasih. 08975404xxx

Periksa BKD Lamteng Untuk Kepala Biro dan jajarannya. Mohon diselidiki di BKD Lampung Tengah kenapa berkas K2 belum juga dikirim ke pusat. Ada apakah kiranya oleh mereka? Terima kasih. 082186275xxx

Listrik Lamteng Byarpet Terus Kepada Pimpinan PT PLN Lampung Tengah, Gunungsugih, kenapa listrik byarpet terus tidak pernah berhenti pada waktu malam. Kalau mati sekalian mati jangan byarpet. Karena peralatan rumah kami dan lampu rusak dan putus. Jangan semaunya tanpa ada imbauan terlebih dahulu. Tolong profesional melayani masyarakat, giliran bayar menunggak enggak mau tahu. Malu dong sama listrik di Pulau Jawa sedetik pun gak pernah mati. Terima kasih. Ismail, Lampung Tengah 085609691xxx

Perbaiki Jalan Provinsi di Lampung Yth. Kementerian PU di Jakarta. Tolong jalan-jalan di Provinsi Lampung diperbaiki dan diperlebar. Jangan hanya jalan di Pulau Jawa yang selalu diutamakan. Jangan pula kesenjangan pemban­ gunan membuat terjadi pemberontakan seperti awal kemerde­ kaan RI. Pemerintah Pusat wajib adil dalam pembangunan. 085768829xxx

Desa Bakung Masih Gelap Gulita Yth. Pak Bupati Tuba, sampai kapan di tempat kami Desa Bakung, Gunungtapa, Kecematan Gedungmeneng, Tulang­ bawang, gelap gulita, di wilayah PT ILP Km 43. Mohon pen­ erangan PLN, jangan harapan tinggal harapan Pak. 082376842xxx

Berantas Judi di Lamteng Kepada Yth. Bapak Kapolda Lampung. Mohon perintahkan Kapolres Lampung Tengah untuk memberantas segala jenis per­ judian di Kecamatan Pubian karena sangat bebas. Terima kasih. 082255227xxx

PLN Oh PLN Kepada siapa lagi kami mengadu, PLN oh PLN, kenapa ser­ ing padam, enggak peduli siang atau malam, Metro Selatan. 08975408xxx

Jalan Ragom Gawi Rusak Yth. Kepala Dinas PU Jalan Ragom Gawi, Kampung Kepayang, menuju BKP Kemiling rusak, sempit, dan berlubang. 085768829xxx

:: LAMPUNG POST :: Rabu, 25 Juni 2014  
:: LAMPUNG POST :: Rabu, 25 Juni 2014  
Advertisement