Page 15

JUMAT, 6 SEPTEMBER 2013 LAMPUNG POST

CMYK

CMYK

INSPIRASI

Fatkur “Listrik baru masuk ke desa saat saya duduk di kelas XII SMA. Jadi, sangat sulit kalau mau belajar.”

15

FATKUR

Belajar dengan Lampu Teplok PRIA ini tidak pernah menyangka bahan skripsinya yang hanya diniatkan untuk bisa lulus dari STMIK Teknokrat bisa membawanya mendapatkan dua penghargaan sekaligus saat wisuda pada 2012. Terlebih, dia memang berasal dari sekolah di kabupaten yang masih dianggap taraf pendidikannya rendah.

D

ialah Fatkur si “Gamolan Android”. Pria pendiam berusia 23 tahun ini menceritakan dia baru mengenal dunia komputer saat duduk di bangku kelas X SMA ketika bersekolah di Lampung Utara. Saat masih duduk di SD Negeri 1 Gedungnegara, pada 1997, dia jalani dengan susah payah. Dia hanya mengandalkan seorang ibu yang telah ditinggal pergi sang ayah saat dia masih duduk di kelas III SD. Waktu itu, jarak sekolah dengan rumah Fatkur sekitar 5 km. Dengan berjalan kaki, Fatkur kecil menuju sekolah. Dia harus rela melalui tanah yang becek serta menerjang derasnya arus sungai hanya untuk ke sekolahnya. “Walaupun banyak kendala, saya tetap mau sekolah. Kakak-kakak saya yang putus sekolah itulah yang memotivasi saya harus melanjutkan sekolah,” kata dia. Saat itu, desa tempat Fatkur tinggal belum teraliri listrik sehingga untuk belajar pun dia harus menggunakan lampu teplok berbahan minyak tanah. “Listrik baru masuk ke desa saat saya duduk di kelas XII SMA. Jadi, sangat sulit kalau mau belajar,” kata dia. Demi mengejar cita-cita, Fatkur pun melanjutkan sekolah di salah satu SMA

negeri di Kotabumi. Hal itu karena tidak adanya sekolah lanjutan atas di desanya. Bermodalkan uang dari hasil kebun karet milik orang tua serta bantuan beasiswa dari sekolah, dia pun dapat meneruskan pendidikan di SMA Negeri 2 Kotabumi hingga Fatkur memberanikan diri melanjutkan kuliah sampai perguruan tinggi. “Lulus sekolah saya maksain diri untuk kuliah. Saya tidak mau menjadi petani. Saya harus bisa mengubah keadaan ekonomi keluarga.” Fatkur mengakui menjadi mahasiswa pada ilmu komputer memang citacitanya. Sejak kecil dia sering menonton acara televisi, melihat orang menggunakan komputer ataupun laptop. Dalam pemikirannya mereka adalah orangorang hebat. Dari situ dia terpacu ingin pintar dalam bidang IT. Bersekolah di ibu kota kabupaten membuat Fatkur bersyukur untuk bisa selangkah lebih dekat dengan citacitanya. Keinginan untuk lebih bisa komputer mulai dia dapatkan ketika duduk di bangku SMA. “Saya kenal komputer ketika saya kelas X SMA. Awal belajar komputer saya takut memegang mouse, masih diajarkan buat folder, dan menghidupkan komputer. Pokoknya masih sangat

dasar,” ujar dia. Dia yang yang bercita-cita ingin lebih mahir design grafis betah berlama-lama di perpustakaan sekolah untuk membaca buku, terutama buku komputer. Fatkur sangat terinspirasi dengan tokoh-tokoh dunia di bidang IT, seperti penemu Facebook, Google, Apple, serta Microsoft. Pada 2008, setelah selesai pendidikan SMA, Fatkur melanjutkan kuliahnya di STMIK Teknokrat. Demi mewujudkan cita-cita untuk bisa menjadi seorang yang ahli IT. Pria yang pernah aktif di UKM Robotik Teknokrat ini menceritakan untuk membantu pembiayaan uang kuliahnya dia bekerja paruh waktu di warnet dekat kampusnya. “Bekerja menjadi operator warnet. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil. Dari situ dapat informasi banyak, pengetahuan tentang komputer meningkat. Selain itu, bisa mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan di kelas. Karena terkadang warnet juga dijadikan tempat untuk menservis komputer atau laptop.” Materi kuliah yang dia dapatkan dikembangkan dengan belajar autodidak melalui fasilitas internet gratis sebagai operator warnet, seperti materi trouble shooting, hanya dasar-dasarnya dia dapatkan di kampus, kemudian dia kembangkan. Bahkan, tentang operasi sistem linux, dia mempelajari sendiri ketika di warnet. “Kalau di kampus tidak ada penerapan kalau di warnet bisa langsung aplikasi, tahu linux juga dari internet,” (KARLINA APRIMSYTA/S2)

 LAMPUNG POST/KARLINA APRIMSYTA

Bagi Waktu antara Kuliah dan Kerja SEBAGAI mahasiswa, Fatkur harus pintar membagi waktu antara kuliah dan kerja. Terkadang, ketika bekerja hingga malam hari, dia sampai tertidur di kelas saat kuliah. “Saya pernah tertidur di kelas karena kelelahan bekerja hingga malam. Saat tertidur itu, saya ketahuan dosen dan disuruh ke depan. Untungnya saya bisa langsung mengerti. Hal itu karena saat bekerja di warnet saya sempatkan untuk belajar. Satu lagi kuncinya, harus fokus kalau sedang diterangkan dosen,” kata Fatkur. Putra pasangan Masamah dan Suyitno ini menjelaskan lebih susah membagi waktu saat mendapatkan tugas dosen di bandingkan ujian. “Kalau ujian saya bisa karena saya sudah mempersiapkan bahan ujian jauh sebelumnya. Yang sulit kalau saya mendapatkan tugas dari dosen, jadi sambil menjaga warnet saya mengerjakan tugas. Walaupun sedikit-

sedikit, akhirnya selesai juga. Bahkan, terkadang temanteman yang K-3 (kampus, kantin, indekos) terbalap dengan saya. Saya selesai duluan,” kata dia. Fatkur pun banyak mengaplikasikan ilmu IT-nya di kampus. Aplikasi virtual yang mengangkat tentang gamolan Lampung sebenarnya hanya dia tujukan membuat tugas akhir dan melestarikan budaya Lampung. Masterpiece yang dia hasilkan selama lima bulan ini merupakan perpaduan antara teknologi dan seni di bawah bimbingan Yeni Agus Nurhuda. Fatkur mengaku sempat berputus asa, ketika dia menemukan kendala akibat tidak adanya penelitian yang membahas secara detail dan teknis alat musik itu sebelumnya. Namun, kecintaannya terhadap IT serta semangat dari dosen pembimbing membuat dia terus berusaha menyelesaikan

Temukan ‘Gamolan’ Android karyanya tersebut. Saat masih bekerja sebagai operator warnet, Fatkur sebenarnya telah banyak mempelajari teknologi software java, terutama pada aplikasi Android. Ada banyak aplikasi Android alat musik tradisional sebenarnya yang sudah dia ketahui. Namun, kesadaran sebagai putra daerah membuat dia ingin mengangkat budaya Lampung untuk dijadikan tugas akhirnya. “Sebenarnya saya tidak pintar, tetapi apa pun kerjaan yang dipercayakan kepada saya akan saya kerjakan sebaik mungkin, sekalipun itu sulit. Kalau saya tidak mengambil materi ini, mungkin saya tidak akan mendapatkan dua penghargaan sekaligus. Terbaik ketiga saat wisuda Teknokrat 2012 dan penghargaan dari gubernur. Sayangnya, hingga kini sertifikat tersebut belum ditanda tangani gubernur,” kata dia. (KARLINA APRIMSYTA/S2)

 LAMPUNG POST/KARLINA APRIMSYTA

‘G AMOL A N’ A NDROID. Fatkur memegang alat musik tradisional Lampung gamolan yang diaplikasikan dalam gamolan ponsel Android temuannya. Temuan itu menjadikan dia mendapat penghargaan dari Gubernur Lampung.

CMYK

SAAT ini jarang kita temui orang-orang yang bermain alat musik tradisional, baik di rumah maupun saat mereka berada di luar rumah, terlebih oleh generasi muda. Alat musik tradisional Lampung saat ini kebanyakan hanya dimainkan pada upacara adat atau di sanggar seni. Hal ini menyebabkan kurangnya pemahaman masyarakat Lampung tentang alat musik mereka sendiri. Jika ini dibiarkan terus, cepat atau lambat alat musik tradisional Lampung akan tergeser alat musik yang lebih modern. Untuk itu, perlu ada upaya untuk mengenalkan kepada masyarakat, terutama kepada generasi muda, tentang alat musik tradisional Lampung dengan memanfaatkan perangkat mobile yang lebih modern. Fatkur ingin melestarikan budaya Lampung itu dengan membuat sebuah aplikasi virtual gamolan menggunakan media yang lebih modern, menggunakan perangkat Android. Gamolan sebagai salah satu alat musik tradisional Lampung sebenarnya sudah mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas. Hal ini terbukti dengan dibuatnya film yang berjudul Gamolan Lampung yang dicetus Syaiful Irba Tanpaka dan Diandra Natakembahang, penggiat budaya serta melibatkan banyak tokoh lain. Masyarakat pada umumnya mengenal gamolan dengan sebutan cetik. Gamolan adalah sebuah instrumen musik yang merupakan warisan budaya dunia yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang peradaban Lampung. Dalam hal ini Kerajaan Sekala Brak kuno. Dimulai dari perkembangan peradaban awal manusia hingga sekarang ini. Gamolan mendapat pengaruh mulai pase prasejarah, zaman klasik, hingga zaman modern. Kebudayaan batu, kayu, hingga bambu, dan kepercayaan animisme, dinamisme, Hindu-Buddha, Islam, dan Melayu. Bangsa India, China, Arab, dan Eropa. Dari sekian pengaruh tersebut terbentuklah gamolan sebagai instrumen musik tradisional Lampung. Keistimewaan gamolan ponsel Android Fatkur dikembangkan dengan menggunakan teknologi informasi modern sehingga dapat dimainkan menggunakan perangkat handphone Android. Dalam aplikasi tersebut, pengguna dapat memainkan gamolan

BIODATA Nama Lahir Ayah Ibu

: : : :

Fatkur Gedungnegara, 17 Juli 1989 Suyitno (alm.) Masamah

Prestasi : 1. Juara I Lomba Blog Islami PHBI UKM Ar Rahman (2010) 2. Lulusan Terbaik III Teknokrat (2012)

layaknya memainkan gamolan yang asli. Pengguna dapat mengatur tinggirendahnya nada yang dihasilkan. Selain itu, pengguna mendapat pengetahuan mengenai gamolan Lampung yang terdapat dalam aplikasi Android tersebut. Pengguna juga dapat melihat gambar-gambar yang berhubungan dengan gamolan, misalnya dokumentasi atau foto-foto yang berhubungan dengan gamolan. “Jika pada gamolan, besar kecilnya frekuensi suara ditentukan ukuran gamolan. Namun, dalam gamolan virtual ini ditentukan oleh frekuensi yang bisa diatur secara digital pada aplikasi yang dikembangkan,” kata dia. Berkat karyanya itu, pria yang pernah menjuarai kompetisi blog Islami Teknokrat ini mendapatkan penghargaan dari Gubernur Lampung, Sjachroedin Z.P. dan berhasil dipentaskan pada Pekan Informasi Daerah oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Lampung 2012 di lapangan Saburai. Selain itu, dia juga mendapatkan penghargaan mahasiswa beprestasi bidang teknologi informasi pada 2012. Fatkur yang mengidolakan Steve Jobs mengakui bahwa sebagai generasi muda, bisa mengangkat budaya dari bidang apa saja yang ditekuninya. Tidak peduli dari mana kita berasal dan apa latar belakang kita. Yang terpenting, mulai dengan menerima diri sendiri apa adanya. Lakukan yang terbaik mulai dari sekarang dan ke depannya. Niscaya kita dapat mengubah kehidupan sendiri. Dia pun berpesan, cintailah budayamu sebelum budaya kita dicuri orang dan jangan pernah takut untuk mencoba walaupun banyak kegagalan. “Jika ingin melihat bagaimana kecanggihan aplikasi ini, bisa men-download dan dilihat di www.gamolandroid.blogspot.com. Ke depan saya akan lebih mengembangkan teknologi yang saya ciptakan ini,” kata Fatkur, optimistis. (KARLINA APRIMSYTA/S2)

CMYK

:: LAMPUNG POST :: Jumat, 6 September 2013  
:: LAMPUNG POST :: Jumat, 6 September 2013  
Advertisement