Issuu on Google+

Kain Tenun Selingga Alam

Halaman. 15 No IX / 22 Januari 2014 - 20 Februari 2014

Memperkenalkan Kembali Tenun Ikat Selinggang Alam

S

EJAK masa prasejarah, di Indonesia telah dikenal tenun dengan corak yang dibuat dengan cara ikat lungsi. Beberapa daerah di Indonesia pun banyak yang sudah mengenal kain tenun sejak lama. Di antaranya kain tenun yang berasal dari pedalaman Kalimantan, Pulau Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur. Beberapa daerah tersebut memang sudah lama mengenal dan membuat kain tenun ikat dengan corak dan motif tenunan yang sangat rumit. Bahkan, nenek moyang kita dulu sudah mengenal alat-alat tenun dan menciptakan desain dengan mengikat bagian-bagian tertentu dari benang. Bahkan, sekitar abad ke-8 sampai abad ke-2 SM, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal pewarnaan alamiah yang berasal dari akar, batang, dan beberapa bagian tumbuhan yang dapat menghasilkan warna. Tenun tradisional merupakan warisan budaya yang memang harus terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Tenun tradisional itu mencerminkan identitas bangsa. Lampung yang merupakan bagian wilayah dari Pulau Sumatera, sejak zaman dulu juga sudah mengenal kain tenun ikat. Kain tenun tradisional dari Lampung ini sampai sekarang memang banyak yang belum dikenal oleh generasi muda. Menurut perajin tenun ikat selinggang alam, Raswan, sebenarnya masyarakat Lampung memiliki banyak hasil karya tenun tradisional. Di antaranya, kain tenun dari pesisir yang sering disebut dengan kain kapal (pelepai), kain tenun tampan/nampan, dan kain tenun tatibin. Kain-kain tenun ini hampir memiliki kesamaan corak, tetapi dari segi ukuran dan kegunaan berbeda. Menurut Raswan, dari beberapa sumber menyebutkan kain tenun kapal biasa juga disebut dengan kain pelepai/tampan pesisir/pelepai pesisir. Kain tenun itu menggambarkan lingkungan dan dunia kelautan yang terkait dengan pola struktur kapal. Fungsi kain itu awalnya sebagai penghormatan kepada leluhur atau nenek moyang. Kapal menggambarkan wahana atau kendaraan roh untuk menuju ke alamnya dan dikaitkan juga dengan pemujaan terhadap tokoh leluhur atau nenek moyang. “Pada perkembangannya, kain itu juga digunakan pada acara-acara adat,� kata Raswan.

warisan turun-temurun keluarganya. Mengingat kain yang ada sudah dalam kondisi terpotong-potong dan warna yang sudah memudar, atas saran Marwansyah Warganegara, Raswan pun diminta untuk menenun kembali kain itu dengan corak dan motif serta warna sesuai aslinya. Dengan perhitungan dan perencanaan yang matang, Raswan pun berhasil menenun kembali kain tenun ikat selinggang alam walau masih dalam jumlah terbatas. “Saya mencoba mengikuti teknik pembuatan seperti aslinya. Memang kita belum produksi secara besar. Paling tidak, saya akan mencoba mengenalkan kepada masyarakat umum bahwa di Lampung selain tapis, sulaman usus, tenun pelepai dan tenun nampan, ada juga kain tenun ikat selinggang alam.� Selain itu, Raswan mencoba mengembangkan kembali warisan-warisan budaya yang ada di Lampung, terutama yang berasal dari Tulangbawang yang memang banyak menyimpan sejarah, selain kain maduaro. (LUKMAN HAKIM/KRAF)

Selain kain tenun itu, lanjut Raswan, Lampung juga memiliki warisan budaya yang kini sudah dikenal di dunia internasional, yaitu kain tapis dan sulaman usus. Namun, ternyata Lampung juga memiliki kain tenun ikat yang tak kalah menarik dan indah untuk terus dikembangkan dan dilestarikan, yaitu tenun ikat selinggang alam. Kain tenun itu berasal dari Tulangbawang. Sejauh ini, kata Raswan, memang belum diketahui secara pasti sejak kapan kain itu tidak diproduksi lagi. Untuk itu, dia pun masih melakukan penelitian ke daerah asalnya (Tulangbawang). Yang dia ketahui, saat ini kain tenun ikat selinggang alam yang dimiliki keluarga Marwansyah Warganegara (alm) sudah berumur sekitar 400 tahun, dan merupakan


2 23 Januari 2014

ekraf

Torial DAFTAR INFO Pemkab Lambar Gali Potensi Pariwisata

Memperkenalkan Tenun Ikat Selingga Alam

Lukman Hakim Wartawan Lampung Post

T

APIS Lampung memang sudah dikenal di dunia internasional. Bahkan, tapis Lampung merupakan salah satu dari 70 tekstil tradisional di Indonesia yang wajib dilestarikan. Namun, ternyata Lampung tidak hanya memiliki tekstil yang dikenal dengan nama tapis, tapi juga ada sulaman usus dari Tulangbawang, sulam ulat dari Mesuji, dan kain maduaro asal Tulangbawang. Kini, kembali diperkenalkan tenun ikat selinggang alam asal Tulangbawang yang nyaris tidak ada produksi terbarunya. Tenun ikat selinggang alam yang ada saat ini sudah berusia ratusan tahun. Bahkan, menurut perajin dan peneliti tapis Lampung Raswan, tenun ikat selinggang alam ada yang berumur sekitar 400 tahun dan dalam kondisi sudah tidak utuh. Untuk terus melestarikan tenun ikat selinggang alam, sejak setahun lalu Raswan kembali melakukan penelitian dan membuat tenun ikat itu kembali eksis, tanpa mengubah corak dan warna kain aslinya. Dalam waktu dekat ini tenun ikat selinggang alam akan diperkenalkan ke khalayak sebagai salah satu warisan budaya Tanah Lada. Memang tidak mudah mengangkat khazanah tekstil Lampung yang ternyata memiliki nilai sejarah tinggi dari sebuah peradaban masyarakat Lampung sendiri. Mengingat, selain tenun ikat selinggang alam, ternyata Lampung juga memiliki kain nampan dan kain tenun kapal/ pelepai. Saat ini memang hampir tidak lagi ditemukan masyarakat Lampung yang kembali memproduksi kain tenun tersebut. Tak heran, kain-kain tenun yang ada saat ini usianya sudah sangat tua dan tidak bisa digunakan lagi sebagai sebuah peninggalan sejarah masa lalu. Memang dibutuhkan peran serta pemerintah, terutama pemerintah daerah, untuk menghidupkan kembali warisan budaya Lam-

4

TRADISI Tari Sigeh Pengunten, Tradisi Penyambutan Tamu

5

BUDAYA Tumi Mit Kota, Sastra Lampung yang Diminati

6

Sastra Lampung yang Belum Banyak Berkembang

7

CORAK Menghidupkan Kembali Kain Tenun Ikat Selinggang Alam

8-9

WISATA

pung berupa tekstil yang dinilai banyak orang unik dan estetik. Sehingga, ke depan, tidak hanya tapis dan sulaman usus yang dikenal masyarakat nasional dan internasional, tapi kain tenun ikat selinggang alam diharapkan mampu menandingi kemasyhuran tapis dan sulaman usus sebagai warisan budaya Lampung. Tidak mudah. Namun, paling tidak jangan membiarkan masyarakat berjalan sendiri menelusuri jejak-jejak sejarah masa lalu Lampung yang berkaitan dengan kain adat tersebut. Perlu ada kemauan yang besar dari pemangku kepentingan (dalam hal ini pemda) membantu masyarakat (perajin) dalam melakukan penelitian dan memproduksi kembali warisan-warisan budaya Lampung yang sudah sangat tua. Semoga apa yang kita harapkan bersama akan benar-benar terwujud demi menjadikan Lampung sebagai salah satu kawasan situs budaya nusantara yang diakui dunia. n

Pugungraharjo Situs Bersejarah yang Dijadikan Objek Wisata

10-11

galeri Tenun Ikat Selingga Alam

12

RESEP Gulai Taboh

13

ASRI Rumah Panggung Unik dan Hangat

14-15

Direktur Utama: Raphael Udik Yunianto, Pemimpin Umum: Bambang Eka Wijaya. Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Gaudensius Suhardi. Wakil Pemimpin Redaksi: Iskandar Zulkarnain. Pemimpin Perusahaan: Prianto A. Suryono. Dewan Redaksi Media Group: Saur M. Hutabarat (Ketua), Bambang Eka Wijaya, Djadjat Sudradjat, Elman Saragih, Laurens Tato, Lestari Moerdijat, Rahni Lowhur Schad, Suryopratomo, Toeti Adhitama, Usman Kansong. Redaktur Pelaksana: Iskak Susanto. Kepala Divisi Percetakan: Kresna Murti. Sekretaris Redaksi: M. Natsir. Asisten Redaktur Pelaksana: D. Widodo, Umar Bakti Redaktur: Hesma Eryani, Lukman Hakim, Muharam Chandra Lugina, Musta’an Basran, Nova Lidarni, Sri Agustina, Sudarmono, TriHudi Joko, Wiwik Hastuti, Zulkarnain Zubairi. Asisten Redaktur: Abdul Gofur, Aris Susanto, Isnovan Djamaludin, Iyar Jarkasih, Fadli Ramdan, Rinda Mulyani, Rizki Elinda Sary, Sri Wahyuni, Sony Elwina Asrap, Susilowati, Vera Aglisa. Liputan Bandar Lampung: Agus Hermanto, Ahmad Amri, Delima Napitupulu, Fathul Mu’in, Ricky P. Marly, Meza Swastika, Karlina April Sita, Surya Bakara, Wandi Barboy. LAMPOST.CO Redaktur: Kristianto. Asisten Redaktur: Adian Saputra, Sulaiman. Content enrichment Bahasa: Wiji Sukamto (Asisten Redaktur), Chairil, Kurniawan, Aldianta. Foto: Hendrivan Gumay (Asisten Redaktur), Ikhsan Dwi Satrio, Zainuddin. Dokumentasi dan Perpustakaan: Syaifulloh (Asisten Redaktur), Yuli Apriyanti. Desain Grafis redaktur: DP. Raharjo, Dedi Kuspendi. Asisten Redaktur: Sugeng Riyadi, Sumaryono. Biro Wilayah Utara (Lampung Utara, Way Kanan, Lampung Barat): Mat Saleh (Kabiro), Aripsah, Buchairi Aidi, Eliyah, Hari Supriyono, Hendri Rosadi, Yudhi Hardiyanto. Biro Wilayah Tengah (Lampung Tengah, Metro, Lampung Timur): Chairuddin (Kabiro), Agus Chandra, Agus Susanto, Andika Suhendra, Djoni Hartawan Jaya, Ikhwanuddin, M. Lutfi, M. Wahyuning Pamungkas, Sudirman, Suprayogi. Biro Wilayah Timur (Tulangbawang, Mesuji, Tulangbawang Barat): Juan Santoso Situmeang (Kabiro), Merwan, M. Guntur Taruna, Rian Pranata. Biro Wilayah Barat (Tanggamus, Pringsewu, Pesawaran): Sayuti (Kabiro), Abu Umarly, Erlian, Mif Sulaiman, Widodo, Heru Zulkarnain. Biro Wilayah Selatan (Lampung Selatan): Herwansyah (Kabiro), Aan Kridolaksono, Juwantoro, Usdiman Genti. Kepala Departemen Marcomm: Amiruddin Sormin. Senior Account Manager Jakarta: Pinta R Damanik. Senior Account Manager Lampung: Syarifudin Account Manager Lampung: Edy Haryanto. Manager Sirkulasi: Indra Sutaryoto. Manager Keuangan & Akunting: Rosmawati Harahap. Harga: Eceran per eksemplar Rp3.000 Langganan per bulan Rp75.000 (luar kota + ongkos kirim). Alamat Redaksi dan Pemasaran: Jl. Soekarno Hatta No.108, Rajabasa, Bandar Lampung, Telp: (0721) 783693 (hunting), 773888 (redaksi). Faks: (0721) 783578 (redaksi), 783598 (usaha). http://www.lampungpost.com e-mail: redaksi@lampungpost. co.id, redaksilampost@yahoo.com. Kantor Pembantu Sirkulasi dan Iklan: Gedung PWI: Jl. A.Yani No.7 Bandar Lampung, Telp: (0721) 255149, 264074. Jakarta: Gedung Media Indonesia, Kompleks Delta Kedoya, Jl. Pilar Raya Kav. A-D, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Telp: (021) 5812088 (hunting), 5812107, Faks: (021) 5812113. Penerbit: PT Masa Kini Mandiri. SIUPP: SK Menpen RI No.150/Menpen/SIUPP/A.7/1986 15 April 1986. Percetakan: PT Masa Kini Mandiri, Jl. Soekarno - Hatta No. 108, Rajabasa, Bandar Lampung Isi di Luar Tanggung Jawab Percetakan. DALAM MELAKSANAKAN TUGAS JURNALISTIK, ­WARTAWAN LAMPUNG POST DILENGKAPI KARTU PERS DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA ATAU ­MEMINTA IMBALAN DENGAN ALASAN APA PUN.


3 23 Januari 2014

ekraf

Tabik Pun

Rubrikasi ini dipersembahkan oleh: Pemda Tanggamus oleh: Pemkab Lampung Barat

Potensi Pariwisata di Lambar akan Dikaji S

OAL rencana pengembangan bidang pariwisata ke depan, Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri menyatakan akan melakukan pengkajian yang mendalam terlebih dulu. Menurut dia, apakah potensi pariwisata yang ada di Lampung Barat ini ke depan cocok untuk dijadikan sebagai program unggulan atau tidak. Selama ini potensi pariwisata yang berkembang di wilayah Lampung Barat adalah potensi wisata bahari di wilayah pesisir. Namun, dengan dibentuknya wilayah pesisir menjadi daerah otonomi baru (DOB) Kabupaten Pesisir Barat tahun lalu, dengan sendirinya Lampung Barat sudah tidak memiliki potensi wisata bahari lagi. Kendati tidak memiliki wisata bahari lagi, Lampung Barat tetap memiliki potensi pariwisata, hanya potensi itu masih perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut. Sebab, potensi pariwisata yang ada tidak harus dapat menjadi prioritas jika memang tidak cocok. “setelah berpisah dengan wilayah pesisir, potensi pariwisata di wilayah kami Lampung Barat masih ada, yaitu Danau Ranau di Lumbok dan Danau Tiga Warna di Suoh, serta beberapa potensi pariwisata lainnya, termasuk potensi di zona ekowisata TNBBS. Namun, apakah potensi itu dapat dikembangkan menjadi program prioritas unggulan atau tidak ke depan, tentunya harus melalui pengkajian oleh orang yang ahli di bidangnya,� kata Mukhlis melalui ponselnya, Sabtu (18/1). Dia menjelaskan untuk melakukan pengkajian rencana pengembangan beberapa potensi pariwisata itu, perlu menghadirkan orang yang pakar atau ahli di bidang pariwisata tersebut. “Yang jelas kami akan lihat dulu seperti apa hasil pengkajiannya. Melalui hasil pengkajian itu maka kami akan mengetahui apakah potensi pariwisata yang kami miliki di Lambar ini cocok untuk dikembangkan menjadi program unggulan atau tidak,� kata

Mukhlis. Untuk sementara ini, potensi pariwisata seperti di kawasan Danau Ranau Seminung Lumbok, sarana dan prasarana sudah ada berupa kawasan hotel. Jika memang berdasarkan hasil pengkajian itu nantinya menyatakan bahwa kawasan potensi pariwisata Danau Ranau itu cocok untuk dijadikan sebagai program unggulan bidang pariwisata, tindak lanjutnya adalah dengan menambah pembangunan sarana pendukung lainya. Seperti pembangunan kolam renang atau kolam pemancingan dan lain sebagainya. Kemudian untuk potensi pariwisata Danau Tiga Warna di Suoh, kata dia, potensinya juga cukup tinggi. Namun, kendalanya lokasinya berada di dalam kawasan serta infrastruktur jalan menuju lokasi yang masih sulit. Namun, apabila berdasarkan hasil pengkajian itu ternyata kawasan tersebut nantinya dapat dikembangkan menjadi program unggulan, Pemkab akan merencanakannya ke arah sana. Untuk potensi pariwisata di zona TNBBS maka pelaksanaannya dapat dilakukan dengan bekerja sama kepada pihak TNBBS. Soal infrastruktur jalan sebagai pendukung utama menuju lokasi potensi pariwisatanya juga akan menjadi bahan pemikiran lebih lanjut. Demikian juga dengan sumber daya manusia di bidang pariwisatanya, jika memang potensipotensi pariwisata di Lambar ini ke depan dapat dikembangkan menjadi program unggulan bidang pariwisata, dengan sendirinya akan adanya penambahan SDM yang dibutuhkan. Meski demikian, kata dia, beberapa potensi pariwisata seperti kawasan Danau Ranau itu tetap dapat dimanfaatkan menjadi daerah tujuan wisata, tetapi pemanfaatannya untuk sementara hanya dengan menggunakan sarana yang sudah ada. (ELIYAH/KRAF)


4 23 Januari 2014

ekraf

Info

Rubrikasi ini dipersembahkan oleh: Pemda Tanggamus oleh: Pemkab Lampung Barat

Pemkab Lambar Gali

Potensi Pariwisata yang dapat menarik minat pengunjung. Selain masyarakat sekitar, kata dia, pihaknya juga berharap ada investor lain yang siap mendukung pengembangan kawasan pariwisata di daerah tersebut. Saat ini sudah ada satu calon investor yang telah memiliki lahan di kawasaan tersebut dan siap membangun penginapan di kawasan Danau Ranau Seminung Lumbok. Selain kawasan itu, kata Ujang Misron, daerah tujuan wisata yang akan dikembangkan adalah rest area, yaitu tempat persinggahan sementara di Kecamatan Sumberjaya dan kawasan wisata arung jeram di Sumberjaya. Hanya saja, kendala yang dialami Pemkab saat ini adalah rendahnya sumber daya manusia yang dimiliki untuk rencana pengembangan bidang pariwisata. Kemudian infrastruktur jalan menuju lokasi daerah tujuan wisata. (ELIYAH/KRAF)

PEMERINTAH Kabupaten Lampung Barat kini mulai fokus menggali potensi pariwisata yang dimiliki daerah itu setelah terbentuknya daerah otonomi baru Kabupaten Pesisir Barat.

K

epala Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda, dan Olahraga Lampung Barat Ujang Misron, Senin (13/1), menjelaskan pembangunan jangka panjang bidang pariwisata ke depan akan dititikberatkan pada tiga kegiatan. Yaitu, program pengembangan pemasaran pariwisata, pengembangan destinasi pariwisata, dan pengembangan kemitraan. Program pengembangan pemasaran pariwisata, kata dia, contohnya adalah upaya promosi yang akan dilaksanakan dengan menggelar event-event tertentu. Untuk 2014, promosi yang dilaksanakan adalah melalui kegiatan Festival Skala Brak sebagai pengganti Festival Teluk Stabas saat Lambar masih bergabung dengan Pesisir Barat. Event pariwisata melalui kegiatan Festival Skala Brak yang akan digelar mulai 2014 ini merupakan ajang promosi untuk memperkenalkan potensi pariwisata di Lambar dan berbagai kegiatan lainya. Seperti mengikuti event-event tertentu di daerah lain, baik di tingkat provinsi maupun pusat. Kemudian, selain pengembangan secara khusus di daerah Danau Ranau Lumbok Seminung, untuk pengembangan pariwisata lainnya, kata dia, pihaknya akan menggali potensi ekowisata dan agrowisata. Dari sisi agrowisata, Lambar memiliki banyak perkebunan rakyat, seperti kopi dan aneka sayuran, yang bisa dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Untuk ekowisata dengan pola kemitraan bersama TNBBS, kata dia, pihaknya akan menjalin kerja sama dengan pihak Balai Besar TNBBS untuk pemanfaatan zona potensi cagar alam yang ada. Menurutnya, ada beberapa potensi zona dalam kawasan TNBBS yang dapat digali dan dimanfaatkan sebagai daerah tujuan wisata. Pertama objek wisata air terjun Sepapa Kanan dan Sepapa Kiri dengan jarak tempuh sekitar 7 kilometer dari jalan raya Pekon Kubuperahu. Kemudian objek wisata Danau Tiga Warna di Kecamatan Suoh yang sangat unik untuk menjadi daerah tujuan wisata. Kendalanya, kata dia, adalah infrastruktur jalan

Ujang Misron menuju daerah wisata yang masih sulit. Namun, untuk pencinta pariwisata alam, kondisi tersebut merupakan sebuah tantangan yang paling digemari. Karena pemanfaatan potensi pariwisata tersebut untuk sementara masih alami. Kemudian secara khusus, kata Ujang Misron, Pemkab Lambar akan mengembangkan kawasan wisata Danau Ranau di Pekon Lumbok, Kecamatan Lumbokseminung. Di kawasan tersebut, selain Hotel Seminung Resort, Pemkab juga memiliki lahan seluas 15 hektare yang dapat dimanfaatkan untuk dijadikan area perkebunan buah-buahan yang selanjutnya akan dijadikan sebagai agrowisata. Untuk mendukung pengembangan daerah wisata kawasan itu, nantinya akan ada perpaduan program dari semua dinas. Misalnya Dinas Pertanian melaksanakan pengembangan penanaman buahbuahan atau lainnya. Dinas Perikanan fokus kepada pengembangan produksi ikan air tawarnya. Dinas Perhubungan, pengembangan sarana perhubungan danaunya. Dinas PU untuk pengembangan infrastrukturnya dan dinas-dinas lainya sesuai dengan topuksinya di wilayah tersebut. Pihaknya berharap masyarakat setempat dapat menggali potensi kepariwisataanya di daerah tersebut, misalnya pengembangan potensi industri kerajinan atau potensi pertanian dan perikanannya


5 23 Januari 2014

ekraf

Tradisi

Rubrikasi ini dipersembahkan oleh: Pemprov Lampung

Tari Sigeh Pengunten,

Tradisi Penyambutan Tamu Agung ala Lampung

B

AGI masyarakat Lampung, tari sigeh pengunten (siger penguntin) memang sudah tak asing lagi. Tarian itu bisa disaksikan pada acara-acara resmi adat (pernikahan) atau pemerintahan di Lampung sebagai tarian penyambutan tamu. Tari ini salah satu tari kreasi baru dari Lampung karena memang merupakan modifikasi atau pengembangan dari tari sembah yang lebih dulu dikenal dalam acara adat Lampung. Tari sembah memang merupakan tarian asli budaya Lampung. Tari sigeh penguten diresmikan sebagai tarian penyambutan tamu setelah disahkan dalam suatu peraturan daerah (perda). Modifikasi tarian ini banyak mengambil unsur berbagai tarian tradisional Lampung untuk merepresentasikan budaya Lampung yang sangat beragam. Tari ini menggambarkan ekspresi kegembiraan atas kedatangan para tamu undangan. Selain itu, makna esensial dari tari ini merupakan bentuk penghormatan kepada para tamu undangan yang hadir. Dalam tari ini, para penari mengekspresikan hal tersebut dalam rangkaian gerakan yang luwes, ramah, dan penuh kehangatan. Proses lahirnya tari sigeh pengunten tak lepas dari realitas budaya Lampung yang terdikotomi menjadi Pepadun dan Peminggir. Kedua adat yang memiliki kekhasan tersendiri samasama merasa paling layak merepresentasikan Lampung. Tari sigeh pengunten merupakan sintesis dari dua indentitas kebudayaan yang ada di Lampung. Tari ini menyerap gerak tarian baik dari adat Pepadun maupun adat Peminggir menjadi satu kesatuan dan dapat diterima masyarakat luas. Ciri khas dari tari sigeh penguten adalah aksesori yang dipakai para penari yang biasanya ditampilkan lebih dari lima orang. Dalam membawakan tari tersebut, para penari mengenakan aksesori utama berupa siger–mahkota berwarna emas. Siger itu sudah menjadi identitas masyarakat dan daerah Lampung. Aksesori lain yang digunakan pada jemari tangan penari sigeh pengunten adalah tanggai, yaitu penutup jari berbentuk kerucut berwarna emas. Selain kedua aksesori tadi, penari sigeh pengunten juga mengenakan papan jajar, gelang kano, gelang burung, kalung buah jukum, dan pending. (LUKMAN HAKIM/DBS/KRAF)


6 23 Januari 2014

Tumi Mit Kota, Sastra Lampung yang Diminati BUKU cerita pendek (cerita buntak) berbahasa Lampung yang ditulis Udo Z. Karzi bersama Elly Dharmawanti ternyata sangat diminati kalangan muda dan komunitas sosial media lainnya. Udo mengungkapkan Tumi Mit Kota (Tumi pergi ke kota) adalah kisah pribadi Udo saat menjalani kuliah kerja nyata (KKN) daerah Liwa, Lampung Barat. Tuminingsih, nama lengkapnya. Menurut Udo, Tumi adalah seorang wanita Jawa yang mencintai budaya Lampung. Walaupun dia Jawa, rasa kecintaannya terhadap budaya Lampung tidak diragukan lagi. Atas dasar itulah, Udo menuliskan cerita Tumi Mit Kota. Tumi sendiri, bagi Udo, selain diangkat dari sosok Tuminingsih, adalah juga merupakan suku asli Lampung di wilayah pesisir. Udo sendiri membuat 7 cerpen dalam buku ini. Sedang Elly membuat 6 cerpen. Menurut Udo dan Elly, dari buku ini mereka ingin mengakrabkan diri dengan pembaca Lampung yang berbeda-beda. Untuk itu, bahasa Lampung yang berbeda antara Udo dan Elly tetap dipertahankan apa adanya sesuai lisan penuturnya. “Tumi itu sekilas identik dengan Jawa. Namun, sangat me-Lampung. Karena itu, mengapa orang Lampung malu dengan budayanya sendiri,� kata Elly. Sedangkan Elly Dharmawanti juga merespons pelajar di Liwa yang mempertanyakan mengapa mereka berdua mau menerbitkan buku berbahasa Lampung, apalagi cerpen yang terbatas segmentasinya. Menurut Elly, dari buku ini dia berharap orang Lampung harus berani mengungkapkan apa yang memang menjadi bahasa penutur masingmasing. (WANDI BARBOY/KRAF)

ekraf

Budaya

Rubrikasi ini dipersembahkan oleh: Pemprov Lampung


7 23 Januari 2014

ekraf

Budaya

Rubrikasi ini dipersembahkan oleh: Pemprov Lampung

Sastra Lampung yang Belum Banyak Berkembang

B

UKU kumpulan cerita pendek (cerpen) berbahasa Lampung Tumi Mit Kota itu ditulis oleh Udo Z. Karzi dan Elly Dharmawanti telah diluncurkan dalam sebuah diskusi di SMA Negeri 2 Liwa, Lampung Barat, pada Kamis (19/12). Dalam kesempatan itu, Kepala SMAN 2 Liwa Haikan menyambut baik acara yang digagas Organisasi Siswa IntraSekolah (OSIS) SMAN 2 Liwa ini. “Buku kumpulan cerbun Tumi Mit Kota ini memang perlu diapresiasi karena selain bahasanya bahasa Lampung, isinya banyak mengambil latar daerah Lampung Barat dan Pesisir Barat,” ujarnya. Pada kesempatan itu, Elly Dharmawanti, salah satu penulis buku ini, menyatakan kegembiraannya atas sambutan siswa-siswi di Liwa. Acara ini terselenggara atas kerja sama dari berbagai pihak, antara lain Kepala SMAN 2 Liwa, Pembina OSIS Trino Wijaya, Ketua OSIS Dian Yusuf, dan Duta Suhanda dari radio Mahameru, Liwa. Kumpulan cerbun Tumi Mit Kota yang diterbitkan Pustaka Labrak, Bandar Lampung, berisi 13 cerpen Elly Dharmawanti dan Udo Z. Karzi. Judul buku ini diambil dari judul cerpen bertitel sama dari Udo Z. Karzi. Menurut Redaktur Penerbit Pustaka Labrak, Udo Z. Karzi, judul diambil karena paling tidak cerpen ini menggambarkan kondisi kontemporer masyarakat Lampung terkait dengan orientasi hidup, pergeseran tatanan sosiobudaya, dan kecenderungan urbanisasi di antara warga Lampung. Alasan lain, kata Udo, ada proses inkulturasi dalam diri Tumi (Tuminingsih), yang namanya dekat dengan kultur Jawa dan memang beretnis Jawa, tetapi sudah menjadi gadis Lampung benar. “Inilah yang seharusnya terjadi alih-

alih marginalisasi bahasa-budaya Lampung di rumahnya sendiri,” kata Udo. Alasan ketiga, menurut Udo, jika membaca-baca sejarah, rupanya Buay Tumi atau Suku Tumi adalah nenek moyang orang Lampung. “Keempat dan seterusnya… cerbun ini bagus seperti juga cerbun-cerbun lain di buku ini,” ujarnya berseloroh. Kisah-kisah dalam buku ini membaurkan suasana laut dan pegunungan, sesekali kondisi kehidupan urban; juga ketegangan antara masa lalu dan kekinian. Dengan setting budaya yang khas, kedua cerpenis menuturkan ulun Lampung berikut filosofi hidup mereka dan kepiawaian mereka mengatasi problema kehidupan. Dibandingkan dengan sastra Sunda, Jawa, dan Bali, perkembangan sastra Lampung memang kalah jauh. Betapa langkanya buku bacaan berbahasa Lampung. Padahal ini penting bagi pelestarian, pemberdayaan, dan pengembangan bahasa dan sastra Lampung. Seharusnya setiap tahun ada buku berbahasa Lampung terbit, walau satu-dua judul. Apalagi sastra Lampung pernah mendaparkan Hadiah Sastra Rancage pada 2008 dan 2010. Sudah lama tidak terbit buku sastra berbahasa Lampung. Terakhir, tahun 2011, terbit dua: novel Radin Inten II karya Rudi Suhaimi Kalianda (diterbitkan BE Press) dan karya klasik Warahan Radin Jambat suntingan Iwan NurdayaDjafar dan redaktur ahlini Hilman Hadikusuma (diterbitkan Pustaka Labrak). “Oleh karena itu, terbitnya kembali buku sastra Lampung ini patut kita sambut dengan gembira,” ujar Udo. (INSAN ARES/KRAF)


8 23 Januari 2014

ekraf

Corak

Rubrikasi ini dipersembahkan oleh: DekaranasdaTulangbawang

Menghidupkan Kembali

S

ALAH satu warisan budaya Lampung yang harus dilestarikan adalah tenun ikat selinggang alam. Tenun ini berasal dari Tulangbawang. Sejauh ini, usia tenun ikat selinggang alam yang masih ada sudah berumur lebih dari 400 tahun. “Itu pun sudah dalam kondisi terkoyak dan terpisah menjadi beberapa bagian,” kata peneliti dan perajin tenun ikat selinggang alam, Raswan, di galerinya, pekan lalu. Menurut Raswan, nama tenun ikat selinggang alam berasal dari cerita turun-temurun dari Tulangbawang. Pada zaman dahulu dikisahkan ada seorang putri yang bernama Selinggang Alam yang merupakan keturunan Buay Bulan. Salah satu keturunannya diceritakan menikah dengan seorang bidadari. Dari pernikahan itu, lahirlah Putri Selinggang Alam. “Jadi nama putri itulah menjadi nama kain tenun asli dari Tulangbawang. Tapi, sejak ratusan tahun

lalu, kain tenun itu sudah tidak diproduksi lagi. Dan sekarang kita coba menenun kembali kain selinggang alam dengan motif dan teknik pembuatan sama seperti kain tenun aslinya,” kata Raswan. Pembuatan kain tenun itu, kata Raswan, terinspirasi dari perbincangannya dengan Marwansyah Warganegara (alm.), seorang tokoh adat Lampung, sekitar dua tahun lalu. Marwansyah yang memiliki peninggalan kain tenun selinggang alam meminta Raswan membuat kembali kain tersebut dengan corak dan motif yang sama dengan aslinya. “Berdasarkan literatur pembuatan tenun asal Lampung yang ada, kita mendapatkan sedikit sekali info tentang itu. Dengan melihat beberapa potongan kain tenun selinggang alam yang sudah berumur lebih dari 400 tahun itu, kami mencoba membuat duplikasinya. Hasilnya seperti ini dan memang mirip dengan kain tenun selinggang alam peninggalan keluarga Marwansyah Warganegara

(alm.),” kata Raswan. Dari motif dan corak yang ada dalam kain tenun selinggang alam, lanjut Raswan, umumnya menceritakan kehidupan warga Tulangbawang pada masa itu. “Sama halnya dengan kain tenun kapal (pelepai) dan tenun nampan yang juga menceritakan tentang kehidupan masa itu. Walaupun sebenarnya yang kita ketahui selama ini tenun ikat hanya ada dalam kehidupan masyarakat di Pesisir Barat Krui (dulu masuk Lampung Barat). Selain itu, ada juga di daerah Kenali, Liwa, dan Danau Ranau,” kata dia. Ternyata, lanjut Raswan, di Tulangbawang juga terdapat kain tenun yang biasa digunakan untuk kegiatan upacara adat yang melambangkan Putri Selinggang Alam. “Sejak setahun ini, saya mencoba menenun kembali kain itu agar bisa terus dikembangkan dan dilestarikan seperti halnya dengan tapis, tenun ikat nampan dan tenun ikat kapal (pelepai),” kata dia. (LUKMAN HAKIM/KRAF)


9 23 Januari 2014

ekraf

Corak

Rubrikasi ini dipersembahkan oleh: DekaranasdaTulangbawang

Cerita Kehidupan Masyarakat Tempo Dulu

R

ASWAN yang membuka usaha tenun ikat selinggang alam di bawah bendera Galeri Tapis Helau memang dikenal sebagai perajin yang kerap melakukan penelitian kain yang merupakan warisan leluhur masyarakat Lampung. Bahkan, sejak di bangku kuliah (sekitar tahun 1987) dia sudah melakukan penelitian tentang tenun ikat tapis yang saat ini sudah menjadi trade mark Lampung. Hasil penelitiannya pun sudah menjadi sebagian bahan penelitian bagi peneliti dalam dan luar negeri. Melihat dari motif dan corak kain tenun selinggang alam, kata Raswan, memang banyak corak. Misalnya ada bentuk sekebal. Umumnya, yang memakai kain tenun itu adalah masyarakat yang lebih tinggi kedudukannya. Selain itu, ada juga motif tumpal (segitiga) atau biasa juga disebut motif cucuk rebung. Di tengah kain tenun selinggang alam terdapat garis tengah (kalau zaman dulu garis tengah merupakan sambungan dua kain) yang melambangkan sungai besar yang ada di Tulangbawang (Way Tulangbawang). Kain tenun itu, kata Raswan, kalau yang asli berukuran panjang 3 meter dan lebar 120 sentimeter. Kain itu merupakan gabungan dua kain yang masing-masing papan kain selebar 60 sentimeter. Tapi, saat ini kain tenun itu dibuat langsung dengan ukuran sesuai aslinya dan terdapat garis tengah yang melambangkan kebesaran Sungai Tulangbawang. Kain tenun selinggang alam sendiri dibuat dengan alat tenun bukan mesin (ATBM). “Kalau dulu menggunakan alat tenun gedengan yang menyatukan dua kain dengan lebar 60 sentimeter x 60 sentimeter. Dan dalam kain aslinya terdapat juga garis-garis yang mengelilingi Sungai Tulangbawang,� kata dia. Menurut Raswan, memang harus dilakukan penelitian lebih lanjut guna mengembangkan dan melestarikan kain tenun ikat ini. Mengingat, kain yang ada sudah sangat tua dan warnanya sudah pudar. Namun, dia tetap akan mengembangkan tenun ikat ini dan menghidupkan kembali perajin tenun ikat terutama di daerah aslinya; Tulangbawang. “Sebenarnya, kain tenun ikat ini sudah akan diperkenalkan kembali dalam sebuah pesta wisata tahunan yang digelar Pemerintah Provinsi Lampung. Namun, karena sesuatu hal, kain itu batal diperkenalkan kembali ke khalayak. Mudah-mudahan, dalam waktu dekat kain tenun ikat selinggang alam ini bisa saya perkenalkan kembali dalam suatu acara di Museum Lampung,� kata pria yang beberapa motif tapisnya tersimpan di Museum Tekstil Indonesia. (LUKMAN HAKIM/KRAF)


10 23 Januari 2014

ekraf

Wisata

Rubrikasi ini dipersembahkan oleh: Pemprov Lampung

Pugungraharjo Situs Bersejarah yang Dijadikan Objek Wisata

T

AMAN purbakala Pugungraharjo yang terletak di Lampung Timur baru ditemukan pada 1954. Kala itu, hutan Pugung baru dijamah oleh masyarakat setelah masuknya transmigran yang tergabung dalam Biro Rekonstruksi Nasional (BRN) membuka hutan yang dianggap sebagian masyarakat dengan keangkerannya. Apalagi, kawasan itu memang merupakan hutan yang sangat lebat, sampai-sampai warga setempat tidak berani mendekatinya. Setelah transmigran datang dan membuka kawasan itu untuk dijadikan permukiman, barulah masyarakat tahu kalau di daerah itu tersimpan banyak situs bersejarah. Waktu itu, transmigran banyak menemukan susunan batu besar, gundukan tanah yang berbentuk bujur sangkar, dan sebuah arca batu yang dinamakan Putri Badhariah.

Penemuan tersebut cukup menggemparkan. Masyarakat kemudian melaporkan penemuan itu ke Dinas Purbakala Jakarta yang ditindaklanjuti dengan penelitian awal pada 1968. Hasilnya, para ahli sejarah dan purbakala menyimpulkan bahwa peninggalan yang ditemukan merupakan benda-benda purbakala yang bernilai budaya, sejarah, seni, dan ilmiah dari zaman megalitik dan klasik. Taman Purbakala Pugungraharjo berada di Desa Pugungraharjo, Kecamatan Sekampungudik, Kabupaten Lampung Timur. Di lokasi itu, kita bisa menjangkau daerah datar berketinggian 80 meter itu dengan menempuh jalan beraspal sejauh 52 kilometer dari Kota Bandar Lampung. Memasuki kawasan itu, Anda akan melintasi areal perkebunan karet yang luas. Di kawasan Taman Purbakala Pugungraharjo dikenal sebagai kawasan yang subur. Tak heran,

di kawasan itu kita banyak menjumpai beragam jenis tanaman, seperti pohon kopi, cabai jawa, kakao, kelapa, dan tanaman jenis lainnya. Taman Purbakala Pugungraharjo merupakan peninggalan nenek moyang yang sangat unik karena jarang terjadi di daerah lain. Tradisi megalitik merupakan jenis kebudayaan pada zaman prasejarah, yang saat itu nenek moyang Lampung belum mengenal tulisan. Kawasan situs itu memiliki luas sekitar 30 hektare. Di sana kita akan menemukan ciri-ciri dari tradisi megalitik yang ditandai dengan alat-alat kehidupan terbuat dari batu-batu besar. Para pengunjung akan melihat menhir (batu tegak), dolmen (meja batu), kubur batu, keranda dan sebagainya. Dahulu benda seperti itu berfungsi sebagai tanda peringatan tempat pemujaan, tempat penguburan atau tempat bermusyarawah. (LUKMAN HAKIM/KRAF)


11 23 Januari 2014

ekraf

Wisata

Rubrikasi ini dipersembahkan oleh: Pemprov Lampung

Banyak Benda Bersejarah di Pugungraharjo

B

ENDA-benda situs di Taman Purbakala Pugungraharjo umumnya dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dan Buddha sekitar abad ke-6 sampai abad ke-15 Masehi. Di sana juga ditemukan benda-benda keramik peninggalan masa Dinasti Han, Yuan, Sung, dan Ming serta sebuah arca tipe Polunesia. Di sekeliling situs bahkan terdapat sebuah benteng primitif sepanjang 1,2 km yang diduga dahulu berisi air yang berasal dari mata air. Konon, air tersebut membuat seseorang menjadi awet muda saat dimandikan ke tubuh orang itu. Situs-situs Taman Purbakala Pugungraharjo 1. Benteng. Terdapat dua benteng, sebelah timur dan sebelah barat dengan luas seluruhnya 30 ha (Benteng sebelah timur 20 ha dan benteng sebelah barat 20 ha). Fungsi benteng untuk berlindung dari serangan binatang buas dan musuh. 2. Punden berundak. Terdapat 13 punden, baik berukuran besar maupun ukuran kecil. Awalnya punden ini ditemukan hanyalah sebuah gundukan tanah yang tertutupi ilalang dan pepohonan. Setelah dibersihkan, gundukan itu berupa teras bertingkat. Punden yang ditemukan dalam situs ini ada yang memiliki tiga buah undak-undak dan dua buah undak-undak yang membedakan derajat dan status sosialnya. 3. Batu mayat. Batu mayat adalah sebutan oleh

penduduk setempat, yakni sebuah batu yang kemungkinan sebuah menhir. Disebut batu mayat karena batu tersebut berbentuk menyerupai bungkusan mayat. Batu mayat ini memiliki ukuran 205 cm dan garis tengah 40 cm. 4. Batu berlubang. Sebuah batu yang memiliki sebuah lubang biasanya jumlah dan letak lubang tidak beraturan. Batu berlubang ini terdapat di bagian timur situs dekat dengan mata air. Batu tersebut terbuat dari batu kali (andesit) yang berwarna hitam keabu-abuan. Pada bagian permukaan terdapat empat buah lubang yang cukup luas, sedangkan jumlah batu lobang semuanya ada 19 buah. 7. Pemandian megalitik. Suatu kolam yang mengandung benda-benda megalitik dan sudah dapat dipastikan bahwa kolam pemandian itu telah digunakan sejak masa prasejarah. Kolam dimaksud terletak di bagian timur situs, tepatnya di sebelah barat punden yang paling timur atau sering disebut punden arca. 8. Dolmen. Semacam meja batu atau papan batu yang ditopang oleh beberapa batu sebagai kakinya. Dolmen ini banyak ditemukan di luar kompleks Taman Purbakala Pugungraharjo atau tepatnya di luar halaman benteng. Hingga saat ini dolmen yang ditemukan berjumlah empat buah, tiga di antaranya ditemukan dalam satu kompleks, yaitu terletak di sebelah selatan sungai atau sebelah selatan dari kompleks benteng bagian barat. (LUKMAN HAKIM/DBS/KRAF)


12 23 Januari 2014

Tapis Helau

nDokumen

ekraf

Galeri


13 23 Januari 2014

ekraf

Gulai Taboh G

ULAI taboh adalah kuliner khas Lampung yang juga dapat diartikan sebagai gulai santan. Gulai ini biasanya berisi khattak atau kacang-kacangan, seperti kacang/khattak gelinyor, kacang merah/khattak ngisi, kacang panjang/ khattak kejung, khattak tuwoh, rebung, kentang, dan lain-lain. Gulai taboh memang asli dari Lampung. Masakan lezat ini bisa menjadi pelengkap makan siang Anda yang menyenangkan. Cara Membuat Bahan: 2 buah (600 gram) jagung manis, disisir 100 gram jagung putren, dibelah dua 200 gram labu kuning, dipotong kotak 5 lonjor (50 gram) kacang panjang, dipotong 3 cm 10 gram daun kemangi 1.500 ml santan dari 1 butir kelapa 4 buah cabai merah besar, diiris serong 2 cm lengkuas, dimemarkan 2 lembar daun salam 1 batang serai, diambil putihnya, dimemarkan 1 sendok teh terasi, digoreng, dihaluskan 41/2 sendok teh garam 2 sendok teh gula pasir Cara Pengolahan: Didihkan santan, cabai merah besar, lengkuas, daun salam, serai, terasi, garam, dan gula pasir sampai harum. Tambahkan jagung manis. Masak sampai empuk. Masukkan jagung putren, labu kuning, dan kacang panjang. Masak sampai matang. Tambahkan daun kemangi. Aduk rata dan beri bumbu penyedap lainnya. Jika semua bahan sudah matang siap dihidangkan. (LUKMAN HAKIM/KRAF)

Resep


14 23 Januari 2014

ekraf

Asri

Rubrikasi ini dipersembahkan oleh: PemdaLampung Barat

Rumah Panggung Unik dan Hangat

R

nFoto-foto: eliyah

UMAH panggung merupakan rumah tradisional masyarakat, termasuk Lampung. Pada umumnya merupakan bangunan lama karena banyak dibangun sebelum era 1970. Menurut pengakuan sejumlah orang tua, masyarakat terutama tinggal di sebagian besar wilayah Sumatera yang masih berupa hutan dan di dalamnya banyak binatang buas. Waktu itu masyarakat memilih membangun rumah panggung yang dinilai merupakan tempat paling aman untuk berlindung dari ancaman binatang buas. Guna menghindari serangan binatang buas itu, masyarakat memilih membangun rumah bertiang dengan bahan baku kayu yang disebut dengan rumah panggung. Di bagian rumah panggung itu dimanfaatkan untuk menyimpan bahan bakar kayu dan lain sebagainya. Rumah panggung yang dibangun menggunakan bahan baku kayu dikarenakan bahan baku kayu saat itu masih mudah didapat. Rumah panggung bahkan tidak hanya terdapat di Lampung saja, tetapi hampir menyeluruh di wilayah Sumatera. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, maka rumah panggung yang sebetulnya memiliki nilai seni budaya mulai ditinggalkan. Terlebih dengan bahan baku kayu yang semakin mahal serta lebih dianggap ketinggalan zaman. Tidak jarang jika saat ini keberadaan rumah panggung mulai sirna. Rumah-rumah panggung yang masih banyak dijumpai hanya terdapat di tempat tertentu, seperti rumah-rumah tua di perkampungan suku pribumi. Rumah-rumah yang berarsitektur seni dan budaya itu pun sebagian sudah banyak dimodifikasi agar terlihat lebih cerah dan memiliki nilai seni. Di zaman ini pun tampaknya tak banyak lagi warga yang memilih membangun rumah dengan arsitektur rumah panggung berbahan baku kayu. Alasannya, rumah panggung lebih cepat membutuhkan renovasi ketimbang rumah tembok. Namun, hal itu tak berlaku bagi mereka yang cinta terhadap bangunan arsitektur bernilai seni budaya dan sejarah yang berkaitan dengan adat istiadat serta banyak memiliki keunikan tersendiri yang patut dilestarikan keberadaannya. Selain itu, keberadaan rumah panggung juga cukup dirasakan hangat, terutama pada malam hari, daripada rumah tembok. Karena itu, bangunan rumah panggung atau rumah berbahan kayu masih sangat cocok dibangun di daerah perdesaan berhawa sejuk atau dingin serta dikelilingi perbukitan seperti di daerah Liwa. Masyarakat Lampung yang masih berupaya mempertahankan keberadaan rumah panggung yang merupakan rumah adat Lampung itu salah satunya pasangan suami-istri, Khairul Anwar (mantan Kadis Pertanian Lampung Barat) yang saat ini memegang jabatan fungsional sebagai koordinator penyuluh Lambar dan Sri Mustika (Kabid Bina Produksi Dinas Peternakan Lambar). Pasangan suami istri itu pada 2006 lalu sepakat membangun rumah berarsitektur Lampung dengan ukuran 7 X 7,5 meter persegi di Pekon Sebarus, Balikbukit, Lampung Barat. Membangun rumah panggung merupakan pilihannya dengan alasan rumah panggung berbahan baku kayu untuk di daerah dingin seperti di Liwa lebih cocok karena terasa hangat. Selain itu, rumah panggung terlihat unik serta ingin mempertahankan arsitektur bangunan rumah Lampung. (ELIYAH/KRAF)


15 23 Januari 2014

ekraf

Asri

Rubrikasi ini dipersembahkan oleh: Pemda Lampung Barat

Bernilai Seni Budaya Tinggi

R

UMAH panggung, kata Khairul, selain bernilai seni dan budaya juga merupakan ciri khas dan menunjukkan kecintaannya terhadap budaya Lampung dengan rumah tradisionalnya. “Sebenarnya rumah panggung seperti ini tidak hanya dimiliki orang Lampung saja, tapi hampir semua wilayah Sumatera ini pada zaman orang tua dulu mendirikan rumah panggung karena sekitarnya masih banyak hutan. Hanya saja saat ini keberadaan rumah panggung sudah mulai ditinggalkan. Warga tidak banyak lagi yang mau membangun rumah panggung karena lebih rumit dan dinilai sudah ketinggalan,� kata Khairul. Jika masih ada warga yang membangun rumah panggung di saat sekarang, seperti pihaknya, kata Khairul, itu karena rasa cintanya terhadap keberadaan rumah panggung yang dinilai memiliki keunikan tersendiri. Soal umur bangunan, kata dia, itu bergantung kepada kualitas bahan baku kayu yang digunakan. Apabila kayu yang digunakan sudah tua dan berkelas dengan syarat kayunya tidak terkena hujan dan panas, ketahanan bangunan akan cukup lama bahkan mencapai 40

tahunan. Menurutnya, rumah panggung miliknya itu menghabiskan 30 kubik kayu dan dibangun dengan ketinggian tiang mencapai 2,75 meter dengan maksud agar di bagian bawahnya dapat digunakan secara leluasa untuk kepentingan lain. Bangunan di bagian bawah semua menggunakan bahan baku kayu, termasuk tiang. Hanya di bagian samping yang ditembok dengan tujuan sebagai penahan. Sedangkan lainnya dibuat dari kayu. Ruang bangunan di bagian bawah untuk tempat barang dan dapur, termasuk garasi. Sementara di bagian atas ruang keluarga, kamar tidur, ruang tamu, dan ruang makan. Kamar mandi ditempatkan di bangunan bagian atas dengan maksud agar memudahkan jika suatu saat hendak ke kamar mandi. Dia pun bangga dengan keberadaan rumahnya itu. Sebab, lokasinya sedikit

tinggi dari daerah sekitar. Suasananya tampak hidup dan terasa seperti berada di kampung. Dari teras bagian belakang (atas) rumah tampak pemandangan indah karena dari kejauhan terlihat puncak Gunung Pesagi dan dari dekat tepat di belakangnya terdapat hamparan sawah yang padinya tengah menguning. Kemudian di bagian depan dari kejauhan kita dapat memandangi sederetan hijaunya Bukit Barisan Selatan dan tepat di depan rumah kita dapat menyaksikan hirukpikuknya kendaraan yang melintas di tikungan jalan raya yang meliuk di jalan lintas dari arah Bandar Lampung menuju Kota Liwa, Krui, dan OKU. Khairul mengaku sengaja membangun rumah bernuansa budaya ini karena selain ingin mempertahankan keberadaan rumah tradisional Lampung, juga karena memiliki seni. Di zaman ini tak banyak lagi masyarakat yang membangun rumah tradisional. Masyarakat saat ini lebih memilih membangun rumah tembok karena bahan materialnya mudah didapat serta mudah membentuknya. (Eliyah/Kraf)

nFoto-foto: eliyah


16 23 Januari 2014

ekraf

Khasanah

Rubrikasi ini dipersembahkan oleh: Pemprov Lampung

Bahasa Lampung, 1 dari 9 Bahasa

di Nusantara yang akan Bertahan

B

AHASA Lampung merupakan satu dari sembilan bahasa di nusantara yang akan bertahan. Mengingat, bahasa Lampung adalah satu dari ratusan bahasa etnis di Indonesia yang memiliki aksara tersendiri. Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Turmudi di Jakarta, beberapa waktu lalu, mengatakan secara konseptual bahasa akan bertahan apabila memiliki sistem penulisan atau aksara sebagai fasilitas untuk merekam bahasa itu dalam media selain lisan. Dia mengatakan tidak banyak bahasa di Indonesia yang memiliki sistem penulisan tersendiri. “Bahasabahasa yang memiliki sistem aksara dan diperkirakan akan bertahan untuk ke depannya, antara lain Aceh, Batak, Lampung, Melayu, Jawa, Bali, Bugis, Sunda, dan Sasak,” kata dia. Bahasa-bahasa yang akan bertahan tersebut, kata Endang, termasuk kelompok bahasa Austronesia atau Melayu. Sementara bahasa-bahasa etnislainnya yang belum memiliki sistem tersebut kemungkinan besar terancampunah. Berdasarkan Living Tongues, Institute for Endangered Languages yang dikutip oleh Ibrahim, Endang mengatakan bahasa adalah sebuah gudang pengetahuan manusia yang sangat luas tentang dunia alamiah, tanam-tanaman, hewan-hewan, ekosistem, dan sediaan budaya. Dengan kata lain, setiap bahasa memuat keseluruhan sejarah umat manusia.

Oleh karena itu, dia mengatakan tidak berlebihan jika dikatakan bahwakepunahan bahasa sama dengan kepunahan peradaban manusia secarakeseluruhan. Hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja karena pembiaran atas kepunahan bahasa-bahasa berpenutur sedikit, sesungguhnya adalah pengingkaran atas kemajemukan yang sesungguhnya merupakan soko guru keindonesiaan. Sejarah asli Lampung sendiri, pada abad VII orang di negeri China sudah membicarakan suatu wilayah di daerah selatan (Namphang). Di sana, terdapat kerajaan yang disebut Tolang Pohwang, To berarti orang dan Lang Pohwang adalah Lampung. Terdapat bukti kuat bahwa Lampung merupakan bagian dari Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Jambi dan menguasai sebagian wilayah Asia Tenggara, termasuk Lampung, dan berjaya hingga abad ke11. Sriwijaya datang ke Lampung karena daerah ini dulunya merupakan sumber emas dan damar. Peninggalan yang

menunjukkan bahwa Lampung berada di bawah pengaruh Kerajaan Sriwijaya antara lain dengan ditemukannya prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Batu Bedil di Tenggamus yang merupakan peninggalan kerajaan Sriwijaya (abad VIII). Kerajaan-kerajaan Tulangbawang dan Skala Brak juga pernah berdiri pada sekitar abad VII-VIII. Pusat Kerajaan Tulangbawang diperkirakan di sekitar Menggala/Sungai Tulangbawang sampai Pagardewa. Zaman Islam ditandai masuknya Banten di Lampung pada abad ke-16, terutama saat bertahtanya Sultan Hasanuddin (1522—1570). Guna mengatasi permasalah kepunahan bahasa etnis tersebut, Endang mengatakan perlu ada strategi tersendiri. LIPI, lanjutnya, telah merancang dan melakukan penelitian bahasa-bahasa yang terancam punah di Kawasan Indonesia Bagian Timur yang dilaksanakan selama empat tahun. Tujuan penelitian untuk menyusun policy paper, ensiklopedia mengenai etnik minoritas, dan bahasa yang terancam punah di kawasan Indonesia Timur. “Secara khusus diharapkan akan dapat dirumuskan strategi komunitas etnik pada lokus penelitian dalam mempertahankan bahasanya dan rekomendasi kebijakan bahasa pada tingkat daerah maupun nasional,” kata dia. Selain itu, usaha lain yang dapat dilakukan adalah memberikananjuran-anjuran untuk ketahanan suatu bahasa yang terancam punah kepadaorang tua agar setiap dari mereka terbiasa menggunakan bahasa daerah di rumahnya. Di Lampung sendiri, sangat jarang sekali terdengar penutur bahasa Lampung dalam pergaulan sehari-hari. Kalaupun ada, hanya di tingkat rumah tangga atau pembicaraan tertentu oleh penutur dengan etnis sama. (Lukman Hakim/Kraf)


EKRAF, 22 Januari - 20 februari 2014