Page 1

Broken Home adalah salah satu dari permasalahan yang mengakibatkan rusaknya pendidikan, moral atau kelakuan. Kadang bagi mereka yang tidak ikut campur didalamya menjadi imbas dari perbutan seperti itu, tak jarang kita temui anak-anak umuran remaja menjadi rusak moral karena tinggkah laku keluarganya sendiri atau permasalan kedua orang tuanya. Namun kali ini tidak untuk Nayla, seorang putri yang begitu tegar menghadapi kenyataan, meskipun gelombang kesedihan adalah kehidupannya. Namun semua itu tak pernah menyurutkan segala keinginan dan cita-citanya. Berbagai macam persoalan dalam dunia adalah bagian dari proses kehidupan, seorang putri yang hanya ditemani oleh seorang ibu yang begitu menyanyanginya kini mulai tumbuh menjadi seorang remaja yang santun. Permasalah dalam kehidupan takan mungkin dapat lepas dari sebab yang akhirnya menimbulkan akibat. Banyak dari kenyataan di Negri ini akan lemahnya tingkat ekonomi yang membuat mereka menghalalkan segala bentuk kemaksiatan. Begitulah yang dialami seorang perempun janda dengan anak satu. Ia terjerumus dalam kawah panas dalam malam laknat. Semua ini semata karena ia ingin membahagiakan putrinya. Kisah sedih tak pernah usai dari kehidupannya, semenjak remaja ia telah diusir dari rumahnya. Ketika masa dewasa tiba pernikahanya dengan seorang lelaki buruh pabrik tak dapat menuntaskan penderitaanya. Kesengsaraan dan kemiskinan adalah sajian bagi para kaum buruh, kerja lembur berpuluhan tahun yang dijalani bukan jaminan untuk hidup dalam kesejahteraan, sampai matipun mereka akan terus terjajah oleh mereka para pemodal, ketika tenaga sudah tak lagi dibutuhkan mereka akan tersingkirkan. Musim PHK adalah semacam kilatan petir yang terus menyambar sepanjang masa hidupnya. Dan ini lah kisah yang terjadi dalam kehidupan pak. Darto kini beliau menjalankan rutinitasnya sebagai tukang kebon disuatu rumah yang sebenarnya taka sing baginya. Bagaimanakah nasib seorang bocah kecil yang harus menerima kenyataan akat pahitnya proses kehidupan, mampukah ia ciptakan mimpi-mimpi indah bagi keluarganya yang terhimpit ribuan permasalahan.


Nayla adalah seorang putri yang dilahirka dari keluarga diatas kesederhanaan, segalanya dapat ia peroleh dengan mudah, semua keinginananya selalu dituruti oleh ibundanya, namun satu yang tak pernah ia dapatkan semenjak ia masih duduk dibangku kelas lima Sekolah Dasar Negri Kejambon, yaitu sosok seorang ayah yang kiranya dapat ia jadikan tempat untuk memanjakan diri dan berbagi kebahagiaan. Setiap kali bertanya kepada ibundanya tentang keberadaan ayahnya, Ibu. Anis, selalu memberikan jawaban yang sama. Sudah lah Nayl tak usah kau tanyakan ayahmu lagi yah, tapi Nayla kangen bu, Nayla iri dengan teman-teman di Sekolah, sejak kelas lima SD sampai Nayla kini akan lulus dari SMP, Ayah atau ibu tak penah mengambilkan raport untuk aku, dan bahagia atas prestasiku. Ibu selalu sibuk dengan urusan bisnis, yang sampai sekarang Nayla pun tak tau tentang bisnis yang di jalani ibu itu sebenarnya bisnis apa. Ya sudah, ibu janji nanti di acara lulusan Nayla ibu pasti datang. Kini Mentari mulai redup, cahaya rembulan mulai terlihat terang, kebiyasaan Nayla disaat malam datang, disaat adzan maghrib berkumandang, ia pergi ke musholah yang tepat sebelah kanan rumahnya. Seusai berjama’ah bersama, Nayla pergi untuk mengaji ayat-ayat agung Al-Qur’an di rumah kiyai Sodiq, seorang ‘Ulama alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang. Ketika sholat jamaah Isya telah selesai Nayla pulang ke rumahnya dan belajar atau mengerjakan tugas-tugas dari sekolahnya, setelah itu ia tertidur dan kembali merai imajinasi impian dalam kesendirian. Setiap malam, setiap seusai pulang dari mempelajari ayat-ayat Alquran, ibu Nayla sudah tidak ada di rumah, ia hanya menitipkan pesan kepada pembantunya ‘mbok Atun’ untuk menjaga dan mempersiapkan makan malam serta kebutuhan yang mungkin diperlukan oleh putrinya. Ibu Nisa adalah sosok perempuan yang begitu tegar menjalani proses kehidupannya, tak letih bekerja demi kesuksesan masa depan putrinya. Ketika pagi ia adalah ibu bagi Nayla, namun ketika malam mulai gelap ia adalah perempuan yang menanti tamu-tamu datang, dengan genit ia menggoda mereka. Sebenarnya ini bukan juga kemauanya, ibu yang mana yang tak menginginkan tidur bersama buah hatinya, menyelimutinya dari dinginya malam. Namun takdir memang telah tertuliskan untuknya. Menjadi teman tidur dan selimut bagi laki-laki hidung belang adalah profesinya.


Rokok di tangan dan segelas anggur biru bukanlah pemandangan yang asing di sebuah club malam, prempuan-prempuan genit mulai memanja kepada setiap tamu yang datang. Tak begitu lama aku pun mulai mencoba mengadu nasib, dengan modal sedikit kata merayu dan cantik parasku. Mereka jelas tentu akan mengajakku untuk menunaikan nafsu binatangnya, tak selang begitu lama ternyata benar apa yang telah aku harapkan. Lelaki berposter tinggi dan kulit putih datang menghampiriku, sebentar kita saling berbasa-basi dan tawar menawar layaknya pedagang yang menjual barang dagangannya akhirnya kita pun sampai pada kata sepakat. Begitulah rutinitasku setiap malam, karna dulu suamiku adalah seorang buruh baprik yang menjadi korban PHK, uang pesangon yang ia terima tak sebanding dengan kebutuhan manusia pada layaknya. Factor ekonomi yang memaksaku untuk menjalani pekerjaan seperti ini, dan ini pula yang membuat aku akhirnya pisah ranjang dengan suamiku. Ia pasti tidak betah melihat tubuhku dalam pelukan lelaki mana pu, akupun dapat memakluminya. Kini setatus janda muda dengan anak satu ada pada kenyataanku. Semoga tak lama lagi ini akan berakhir, semoga tuhan memberikan pekerjaan yanag lebih mulia untukku. Hari menjelang subuh, fajar kazdib mulai nampak, aku pun berkemas untuk pulang. Lelaki itu menawarkan diri untuk bisa mengantarku ke rumah, namun aku menolak ajakanya. Aku takut gosip dan kecurigaan masyarakat disekitar rumahku. Baiklah kalau memang dek Nisa menolak permintaanku, tapi aku bolehkan minta nomer Handphonya, suatu saat aku pasti akan merindukanmu lagi. Setelah kita saling bertukar nomer handphon, aku pun lansung pulang dengan menggunakan taxsi yang melintas didepan Cafe Ningrat, sebuah club malam di kota Surabaya, tempat ku mengais setetes rezeki. Setibanya di rumah, Nayla masih tertidur pulas, aku duduk disebelah kanannya dan dan ku cium keningnya sembari mengusapkan tanganku dirambut lurusnya dan memandangi teduh raut wajah yang jauh dari dosa-dosa, tanpa aku sadari tetesan air mata mengalir dipipiku. Bau wangi rambutnya mengingatkan aku, ketika masih seumuranya. Aku teringat akan masalaluku, ketika diusir dari rumah. Dengan alasan yang menurutku sampai sekarang tak akan pernah terbukti, karena aku memang tek pernah melakukanya.


Ibuku telah meninggal semenjak aku berumur sembilan tahun, beberapa tahun kemudian ayahku menikahi seorang wanita dengan setatus janda, apa yang aku harapkan jauh dari apa yang ada dengan kenyataan, aku berharap dengan kedatangan ibu tiri di rumahku dapat menggantikan peran almarhum ibu, akan tetapi itu semua hanya sebuah bayang-bayang semu. Beberapa bulan setelah pernikahanya, ibu tiriku menuduh aku mencuri perhiasanya dan menyuruh ayah untuk segera mengusirku dari rumah, atau ia yang akan pergi dari kehidupanya. Karena waktu itu ayah begitu mencintai wanita itu, aku pun diusir dari rumah. Dan sampai saat ini aku tak pernah kembali lagi ke kampung halamanku, sampai saat ini aku tak pernah mengerti keadaan ayahku. Namun suatu saat nanti aku ingin mengunjungi mereka, meski aku telah pernah dicampakan dari kehidupanya. kini aku pun tertidur di samping putriku Nayla, ketika baru saja ingatanku akan mulai menghilang tiba-tiaba Nayla membangunkanku. Bu bangun bu, ayo kita sholat shubuh bersama, meski kepalaku masih sedikit pusing, akupun memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidurku. Aku tak ingin terlalu sering mengecewakannya. Sebenarnya aku malu dengan diriku sendiri, masihkah ada temapat disisi tuhan bagi hambanya yang rutin melakukan apa yang dimungkarinya, dan menjadi seorang imam ketika sholat bersama Nayla. Dengan penuh keterpaksaan aku harus menuruti apa yang diharapkan Nayla. Aku bangga mempunyai putri yang begitu sholehah dan padai dalam pendidikan, semoga tuham memilihkan takdir yang indah bagi kehidupanya. Seusai berjammah sholat subuh aku dan mbok Atun pergi ke dapur untuk memasak apa yang nanti kiranya dapat disajikan untuk sarapan pagi. Sementara Nayla menemani Pak. Darto, ia adalah seseorang yang setiap hari membersihkan halaman rumahku dan mengantar Nayla pergi ke sekolah. Setelah semua selesai, Nayla pun berpamitan untuk pergi ke sekolahnya dengan menggunakan sepeda motor bersama Pak. Darto, hari ini ia harus berangkat lebih pagi dari hari biyasanya, karena saat ini di sekolahnya adalah hari pertama untuk melakukan Ujiyan Akhir Sekolah, sementara aku pun harus meneruskan kembali tidurku yang sempat tertunda. Kini Nayla pun telah sampai di halam sekolahnya, setelah ngobrol sebentar dengan Pak. Darto, nanti jempu Nayla jam 11.00 tepat yah pak, soalnya ini kan Ujiyan jadi nanti pulangnya cepat. Pak. Darto pun menjawab permitaan nyoya kecilnya ‘iya pasti non’. Dengan penuh


kerendahatiyan terhadap orang tua, Nayla mencium tangan pak. Darto dan meminta pamit untuk masuk ke kelas yang diakhiri dengan ucapan salam Assalamualaikum, Waalaikumussalam pak darto pun menjawab salam dari Nayla, Setelah itu pak darto pun kembali pulang ke rumah. Waktu terus berjalan kini setelah beberapa hari terlewati, Nayla pun telah selesai menjalankan proses ujiyan akhir sekolahnya, kini ia tinggal menunggu saatnya pengumuman hasil ujiyan dan pengumuman siswa-siswi yang dinobatkan sebagai pelajar dengan prestasi terbaik yang nanti akan diadakan bersamaan dengan acara wisuda. Undangan untuk para wali murid telah tersebar, termasuk untuk ibu Anis. Namun kini Nayla merasa cemas dan begitu sedih karena semenjak dua hari ini ibudanya belum juga pulang ke rumah, dan nomer Hadphonya juga tak dapat dihubungi. Berulang kali aku mencoba untuk menghubungi ibu, namun selalu saja jawaban dari operator yang terdengar dari telingaku, aku sangat berharap sekali ibu dapat hadir diacaraku nanti, aku telah mempersiapkan sebait puisi yang nanti akan aku bacakan di panggung pengumuman, karna itu memang permintaan dari sekolahku. mungkin hari yang menurutku istimewa itu akan terlewati dengan biyasa-biyasa saja, tak ada yang perduli dengan prestasi dan dan keceriaanku, ayah telah lama tak disampingku lagi bahkan mungkin beliau telah melupakanku, sementara ibu selalu penuh dengan kesibukannya. Ketika fajar pagi mulai terbit kembali, walaupun aku begitu malas melangkahkan kaki. Namun aku harus tetap menjalani proses kehidupan yang telah ditakdirkan tuhan. Setelah sarapan pagi aku mencoba untuk menghububungi ibu lagi namun sepertinya janji ibu yang kemarin hanya janji-janji semu saja. Aku pun memanggil Pak Darto, bermaksud untuk meminta tolong guna mengantarkanku ke sekolahan. Tiba-tiba mbok Atun yang datang, Pak. Darto semenjak tadi malam sudah ngga ada non, lah terus katanya kemana mbok, diya ngga ngomong apa-apa sama mbok, dia langsung pergi begitu saja, kayanya sih ada kepentingan yang begitu mendadak. Soalanya pas mbok lihat dia begitu kencang mengendarai motornya. Ya sudahlah mbok, biyar aku pergi kesekolahan naik anggkutan saja. Mbok temanin ya non, kalo mbok mau sih juga ngga masalah, tapi dandan yang cantik yah mbok. Seperti itu lah Nayla mencoba bercanda dengan mbok Atun, sekedar mencoba untuk menghibur diri. Setelah kami merasa siap untuk berangkat ke sekolahan, kamipun melangkahkan kaki ke depan halaman rumah untuk menunggu angkutan yang biyasa lewat depan rumahku. Sesaat


kemudian kami pun tiba di sekolahan, nampak sudah terlihat banyak para tamu undangan dan para calon lulusan beserta keluarganya yang begitu terlihat ceria. Kembali aku teringat andai saja ibu dan ayahku kini ada dan menggandeng kedua tanganku, tentu kebahagiaanku akan terasa begitu sempurna. Ah sudah lah aku tak mau berandai-andai lagi itu hanya akan membuat berlalut kesedihanku. Ayo mbok kita masuk nanti keburu penuh, iya non mari. Akhirnya kamipun masuk kedalam, kami duduk di bangku paling depan, karna waktu itu masih belum terlalu ramai. Sebentar setelah kami duduk, para tamu mulai masuk dan acarapun sudah akan dimulai. Lantunan salam dan ucapan kata pembukaan dari pembawa acara telah terdengarkan bersama, berikutnya adalah sambutan atas nama sekolah dan seterusnya. Sebelum acara pengumuman hasil Ujian Akhir Sekolah dan pengumuman peroleh sebagai siswa berprestasi, sesuai scedul yang telah tersusun kini giliran ku untuk membacakan puisi, sebagai pengisi dari acara istirahat. Pembawa acara memanggil namaku dan mempersilahkan untuk menuju panggung tersebut. Dengan sedikit rasa gerogi aku langkahkan kaiku menuju panggung yang telah disediakan. Setelah uluk salamku terucap, mulaiku lantunka bait puisiku dengan diiringi suara gitar yang di mainkan oleh Pak. Efendi, beliau adalah guru kesenian di sekolahku. Takdir memang mutlak adanya datang dari tuhan Ingatkah kau akan sabdanya untuk tetap terus berusaha Ketika hidup ini indah, dan bersama semua akan terasa lebih mudah Mengapa harus ada kata perpisahan diantara mereka Kau yang telah terlanjur dinobatkan sebagai ayah Mengapa kau berlari tinggalkan istri dan aku putrimu Ketika konflik hanya menimbulkan amarah dan kenyataan akan lebih susah Mengapa tak ada damai dalam selimut-selimut cinta


Kau yang telah terlanjur terpilih sebagai ibu Mengapa kau diam saja, sudahkah kau tak pedulikan suami dan aku putrimu Sebenarnya tuhan atau kalian yang tak ingin lihat senyum damai di raut wajahku Aku akan terus berjalan, aku takan mau diam, aku ingin bahagia dalam kebersamaan Dari atas panggung itu, ketika aku mebaca puisi tersebut. Begitu kaget dan bahagianya aku, ketika melihat ibuku dan seorang lelaki berdiri di depan pintu masuk gedung acara wisuda. Ketika selesai aku lantunan puisiku, aku berlari dan memeluknya, dengan tanginsan airmata yang masih mengalir di pipinya ia menciumiku. Tak hentinya air mata terus berlinang dengan isak suara yang tersendat-sendat, impianmu telah terwujud, keinginanmu telah jadi kenyataan, tuhan akan memberikan kebahagiaan yang selama ini kau nantikan, maafkan perlakuan ibu selam ini Nayl. Begitulah ucapan yang keluar dari bibir manis beliau saat aku dalam pelukanya. Tiba-tiba lelaki yang bersama ibu tadi mendekatiku dan mencium keningku sembari mengatakan, aku tak pernah jauh darimu, aku selalu ada di dekatmu. Hanya waktu itu aku bukan lagi milik ibumu, dan kini aku telah kembali bersamanya dan hanya untukmu. ia memang sosok lelaki yang kerap bersmaku dan membatu disetiap aktivitasku. Ibu menjelaskan apa yang selama ini sebenarnya terjadi dan siapa sebenarnya lelaki yang bersamanya. Pada kenyataanya aku sedikit kecewa mengapa ibu ataupun lelaki yang selama ini memang sebenarnya dekat denganku tak pernah mau jujur padaku. Namun aku rasa semua itu takan pernah puaskan kebahagiaanku, saat ini akau hanya ingin kebahagiaan dalam kebersamaan. Ketika dengan berbicar atau berdebad tidak akan menuntaskan permasalahan, diam adalah keputusan.

Ada Tuhan Tempat Aku Meminta  

cerita tentang ketegaran seorang bocah perempuan

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you