Page 1


SELAYANG PANDANG Antologi esai merupakan salah satu program kerja tahunan dari Departemen Penulisan, KSM Eka Prasetya UI. Adanya program kerja ini ditujukan untuk menjadi wadah bagi anggota KSM untuk menuangkan ide dan gagasannya dalam bentuk tulisan mengenai satu tema tertentu. Tema yang diambil pada tahun 2016 ini adalah “Inovasi untuk Negeri.� Sebagaimana yang telah diketahui bersama, inovasi merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan. Apabila masyarakat tidak memanfaatkan inovasi secara maksimal, maka pada akhirnya tidak akan tercapai pembangunan yang diinginkan. Selain itu, pemilihan tema ini juga dilatarbelakangi oleh semakin besarnya tantangan dan peluang bagi pemuda untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Maka dari itu, pemuda yang merupakan ujung tombak kesuksesan serta pembangunan Indonesia di masa mendatang, diharapkan mampu untuk dapat menyumbangkan gagasan inovasi. Gagasan tersebut dapat digunakan untuk membantu masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang lebih baik. Dalam antologi ini, terdapat tujuh belas esai yang dibuat dari berbagai perspektif. Mulai dari perspektif kesehatan, sains dan teknologi, serta sosial humaniora. Harapannya, antologi ini dapat menjadi salah satu wadah untuk menyuarakan gagasan dari seluruh anggota KSM Eka Prasetya UI. Salam, Departemen Penulisan KSM Eka Prasetya UI 2016

ii


SAMBUTAN KETUA KSM EKA PRASETYA UI Menulislah maka namamu akan abadi –Pramoedya Ananta Toer Sejauh ini, gagasan-gagasan luar biasa telah banyak diberikan oleh mahasiswa Indonesia dalam rangka memikirkan kemajuan bangsanya. Termasuk juga terpikirkan oleh mahasiswa yang tergabung dalam KSM Eka Prasetya UI. Dari tahun ke tahun, anggota KSM Eka Prasetya UI selalu dituntut untuk mampu berpikir kritis dalam bernalar demi membangun negeri. Dengan melakukan kajian, penelitian, dan penulisan gagasan cerdas anggota diolah menjadi suatu produk yang berguna bagi banyak kalangan. Suatu gagasan yang bagus pun pada dasarnya hanya akan menjadi angin lalu apabila tidak diimplementasikan. Namun, dalam tahap pengimplementasian tersebut akan memakan waktu yang tidak sedikit mengingat belum terakuinya mahasiswa secara profesional dalam mewujudkan gagasan mereka ketika status mahasiswa masih disandang. Oleh karena itu, langkah kongkret pertama yang dapat dilakukan adalah dengan menuliskan gagasan tersebut. Melalui Antologi KSM Eka Prasetya UI setiap tahunnya menuangkan gagasangagasan terbaik para anggotanya. Dengan mengusung tema “Inovasi untuk Negeri�, antologi diharapkan menjadi batu loncatan pertama bagi para mahasiswa dalam mengimplementasikan gagasannya dalam membangun Indonesia. Sebanyak 17 tulisan terbaik dari masing-masing anggota KSM akan disuguhkan dalam antologi ini. Semoga dengan tema yang diusung, kelak dapat terimplementasikan dan mampu membawa Indonesia lebih baik. Sekian Depok, 17 November 2016

Nesia Qurrota A’yuni Ketua Umum KSM Eka Prasetya UI

iii


DAFTAR ISI Selayang Pandang Sambutan Ketua KSM Eka Prasetya UI Daftar Isi

ii iii iv

Qualify Sebagai Solusi Antrean Pada Rumah Sakit Althof Endawansa

6

City Branding sebagai Strategi Menciptakan Brand Equity dalam Pengembangan

18

Pengembangan Peran PKK untuk Membentuk Keluarga Sejahtera: Refleksi Hasil Kunjungan ke Lapas Anak Pria Tangerang Nurul Khomariyah

24

Pendekatan Psikologi Musik dalam Menanamkan Nasionalisme Isti Sri Ulfiarti

31

Mengembalikan Jati Diri Pembangunan Indonesia: Membangunan Manusia dengan

37

Industri Kreatif Indonesia: Studi Pengembangan Industri Batik Pekalongan Riski Vitria Ningsih

Right-Based Approach Ghany Ellantia Wiguna

Menyoal Dimensi Pendidikan dalam Human Development: Perpustakaan Digital sebagai Solusi Rendahnya Minat Baca di Indonesia Puji Rahayu

46

Rumah Washington (Waste Processing Installation): Pilar Kebersihan Desa Nusantara Muhammad Abdul Rohman

57

Pemanfatan Daun Stevia sebagai Pemanis Pengganti Gula Yuhana Kinanah

66

Inovasi: Menggedor Kelanggengan Tradisi Emil Supriatna

71

Dilema Kemacetan Jakarta F.X. Rio Panangian Gultom

77

Pendidikan Kewirausahaan Sejak Dini sebagai Solusi Pengurangan Jumlah Pengangguran di Indonesia Zakiah Rahmayanti

84

Training Motivation sebagai Wujud Gerakan Pemuda melalui Pos Ramah Anak

94

Mengenali Kekuatan Bangsa melalui Pemahaman Soft Power bagi Pelajar dalam Sistem Pendidikan Indonesia Randy Raharja

102

Pahruroji

iv


Membangun Negeri bersama Anak Jalanan Arini Shafia Afkari

108

Inovasi Camilan Sehat Dodol Sayuran Lisani Syukriani

114

Osteoporosis Sekunder: Silent Killer bagi Pasien Geriatri Mela Milani

120

Refleksi Aqil Muhammad Syaroful Umam

131

v


Althof Endawansa Ilmu Administrasi Negara, 2015 Departemen Penulisan

“”If you’re dream doesn’t scare you, it isn’t big enough.”

Althof Endawansa merupakan penulis esai dengan judul “Qualify sebagai Solusi Antrean Pada Rumah Sakit.” Putra asal Jambi ini merupakan anggota departemen penulisan KSM Eka Prasetya UI 2016 dan Kepala Departemen Kastrat, BEM FIA UI 2016. Laki-laki kelahiran Bengkulu, 16 Maret 1996 ini memiliki impian untuk memimpin birokrasi Indonesia.

6


QUALIFY SEBAGAI SOLUSI ANTREAN PADA RUMAH SAKIT

S

aat ini, masyarakat Indonesia lebih sering melakukan swamedikasi daripada berobat ke lembaga kesehatan baik primer maupun sekunder. Hal ini terlihat dari data dari Badan

Pusat Statistik tahun 2014 yang menunjukkan presentase penduduk yang melakukan swamedikasi secara modern mencapai 90,54% sedangkan 20,99% melakukan swamedikasi secara tradisional (BPS, 2014). Angka ini cukup tinggi dan perlu diwaspadai karena swamedikasi yang tidak disertai dengan pengetahuan tentang penggunaan obat yang memadai dapat menyebabkan permasalahan kesehatan, seperti tidak tercapainya efek pengobatan, timbulnya efek samping yang tidak diinginkan, penyebab timbulnya penyakit baru, kelebihan pemakaian obat (overdosis) karena penggunaan obat yang mengandung zat aktif yang sama secara bersama, dan sebagainya. Modern

Tradisonal

Lainnya

Tahun

Persentase Tahun

Persentase Tahun

Persentase

2010

90.75

2010

27.58

2010

5.48

2011

90.86

2011

23.89

2011

4.41

2012

91

2012

24.42

2012

4.36

2013

90.88

2013

21,59

2013

3.98

2014

90.54

2014

20,99

2014

4.06

Tabel 1. Presentase Penduduk yang Mengobati Sendiri (Swamedikasi) berdasarkan data Badan Pusat Statistik

Umumnya, swamedikasi dilakukan untuk mengatasi keluhan dan penyakit ringan yang banyak dialami masyarakat, seperti demam, batuk, flu, nyeri, diare dan gastritis (Harahap, 2016). Pelaksanaan swamedikasi didasari oleh pemikiran bahwa pengobatan sendiri cukup untuk mengobati masalah kesehatan yang dialami tanpa melibatkan tenaga kesehatan (Hanson, Venturelli, & Fleckenstein,

2011). Alasan lainnya yaitu semakin

mahalnya biaya pengobatan ke dokter, tidak cukupnya waktu yang dimiliki untuk berobat 7


karena antrean yang panjang, atau kurangnya akses ke fasilitas–fasilitas kesehatan (Atmoko & Kurniawati, 2009). Salah satu faktor yang meningkatkan terjadinya swamedikasi adalah antrean panjang. Selain itu, antrean yang panjang dalam pelayanan kesehatan dapat menyebabkan berbagai hal, misalnya tersitanya waktu para pasien akibat antre yang terlalu lama sehingga membuat pasien menjadi resah dan menimbulkan protes dari pihak pasien. Panjangnya antrean ini menyebabkan pasien meninggalkan antrean sebelum tiba giliran pelayanannya. Antrean panjang juga menyebabkan pasien tidak mau dan bahkan enggan masuk dalam antrean. Risiko yang fatal seperti kematian juga dapat terjadi karena berurusan dengan kesehatan apabila tidak segera mendapat pelayanan. Rumah sakit akan kalah berkompetisi, karena pasien akan pergi dan mencari rumah sakit lain yang bisa memberikan pelayanan lebih cepat. Kerja server (dokter) menjadi terlalu berlebihan, karena jika antreannya terlalu panjang maka dokter tidak punya waktu untuk beristirahat dan mungkin akan tergesa-gesa dalam memberikan pelayanan. Sehingga akan menurunkan kinerja karyawan dan pelayanan yang diberikan kurang optimal. Rumah sakit akan dinilai tidak profesional atau tidak serius dalam menangani pasien karena tidak berusaha mengurangi panjang antrean (Wang, P.P., dkk, 2003). Dalam era globalisasi, teknologi informasi dan komunikasi memiliki peranan penting untuk meningkatkan efisiensi dan memperluas akses pelayanan. Istilah teknologi informasi dan komunikasi dalam bidang kesehatan disebut e–Health. Menurut WHO (World Health

Organization) e-Health yaitu “penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk kesehatan, misalnya mengobati pasien, mengejar penelitian, mendidik siswa, melacak penyakit dan memonitor kesehatan masyarakat.” (Sucahyo, 2015). Sementara dalam KepMenKes

Nomor

192/MENKES/SK/VI/2012

disebutkan

bahwa

e-Health

adalah

pemanfaatan TIK di sektor kesehatan terutama untuk meningkatkan pelayanan kesehatan. Pemerintah

Indonesia

telah

mengambil

langkah

serius

untuk

mendukung

pengembangan e–Health. Langkah tersebut ditunjukkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 374/MENKES/SK/V/2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional (SKN), yang

8


kemudian diikuti dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 192/MENKES/SK/VI/2012 tentang Roadmap Rencana Aksi Penguatan Sistem Informasi Kesehatan Indonesia. Oleh karena itu, penulis menawarkan gagasan inovatif berupa aplikasi QUALIFY yang menunjang proses pendaftaran, pengambilan nomor oleh pasien untuk fasilitas kesehatan dan pengambilan obat di instalasi kefarmasian. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur notifikasi yang memberitahukan kisaran jam di mana pasien harus tiba di Rumah Sakit dan notifikasi bila obat telah selesai diracik dan siap diambil. Maka dari itu, diharapkan aplikasi ini dapat menyelesaikan masalah antrean panjang di lembaga kesehatan agar masyarakat lebih gemar berkunjung ke rumah sakit daripada melakukan swamedikasi yang berpotensi menghasilkan medication error.

GAGASAN

Kondisi Kekinian Sistem pelayanan kesehatan saat ini masih menggunakan sistem antrean. Dalam sistem antrean, pasien dapat dilayani satu per satu maupun sekaligus. Sistem antrean sendiri dibagi dalam lima jenis yaitu (1) first come first served (tergantung waktu kedatangan pasien), (2) random order (antrean pelayanan dilakukan secara acak), (3) last come first

served (jika terjadi penumpukan antrean ataupun ketika ada pasien gawat darurat), (4) priorities (yang mempunyai layanan lebih cepat diutamakan), dan (5) processor sharing (sebuah sistem yang telah dibuat pembagian tugas) (Suryadhi dan Manurung, 2009). Di antara kelima jenis pelayanan tersebut, yang paling umum terjadi adalah pelayanan first

come first served. Proses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di Indonesia melalui antrean manual first come first served. Hal ini dapat dilihat dalam pelayanan kesehatan RSU Pusat H. Adam Malik Medan. Tahapan pelayanan merupakan tipe first come first served yang disertai berbagai prosedur. Pelayanan dimulai dari (1) pasien datang kepusat informasi, (2) mengisi dan melengkapi berkas untuk pelayanan yang diperlukan, (3) kemudian mengambil nomor antrean di ruang Instalasi Rawat Jalan, lalu mendaftarkan berkas di loket 2. Setelah itu pasien (4) menunggu pengambilan berkas kartu berobat di loket 5, lalu (5) mengambil kartu 9


dan berkas kartu berobat dan pergi menuju poliklinik yang sesuai dengan penyakitnya. Akibat rangkaian prosedur tersebut, rumah sakit sering terjadi antrean yang panjang pada pukul 08.00-11.00 WIB karena banyaknya pasien yang menunggu di loket 5 (tempat pengambilan kartu berobat) (Purba,2014). Pasien datang

Mengambil nomor antrian

Loket 5

Loket informasi

Loket 2

Poliklinik yang dituju

Gambar 1 Struktur Antrean Dasar di RSU Pusat H. Adam Malik Medan

Data pelayanan kesehatan di Kanada menunjukkan sering sekali terjadi waktu tunggu untuk memperoleh pengobatan. Menurut surveinya pada tahun 2015, waktu antrean pengobatan dan penebusan resep adalah 18,3 minggu per tahun. Hal tersebut lebih lama dari tahun 2014 yaitu 18,2 minggu per tahun. Waktu tunggu di tahun 2015 adalah 97% lebih lama dibanding tahun 1993 yang saat itu waktu tunggu hanya 9,3 minggu per tahun (Bacchus Barua, 2015). Antrean yang panjang di Indonesia terjadi karena fasilitas pelayanan jasa lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah orang yang memerlukan pelayanan yang bersangkutan (Salaki,2012). Metode antrean yang disertai banyaknya pasien yang akan dilayani menyebabkan berbagai kendala dan ketidaknyamanan bagi pasien. Pasien mengalami keterlambatan pelayanan medis yang menyebabkan berbagai risiko. Salah satu kasus tersebut adalah kematian saat mengantre yang terjadi di Padang, 13 Januari 2016 lalu (Tan, 2016). Panjangnya antrean rumah sakit berimbas pada instalasi kefarmasian atau apotek. Apotek merupakan tempat terakhir ketika seseorang melakukan pengobatan. Lamanya waktu tunggu di rumah sakit dan proses di instalasi kefarmasian yang lama sering membuat pasien merasa kesal. Pasien menginginkan proses pengambilan obat menjadi cepat.

Solusi Terdahulu Penatalaksanaan sistem antrean yang pernah ditawarkan sebagai solusi berupa rancangan antrean berbasis Java dan rancangan antrean dan sistem notifikasi antrean 10


berbasis android. Rancangan antrean berbasis Java yaitu sistem antrean dengan menggunakan perangkat lunak berupa pemograman Java. Rancangan antrean ini diujikan ke sistem antrean rumah sakit sedangkan sistem notifikasi antrean berbasis android diujikan Layanan Keuangan Mahasiswa Perguruan Tinggi Raharja (Fridatama,2011). Pada rancangan antrean berbasis Java pasien harus melakukan registrasi terlebih dahulu untuk mendapatkan nomor ID dan data-data pasien akan tersimpan pada database

server. Selanjutnya pasien yang memiliki nomor ID memilih poliklinik tujuan dan mencetak nomor antrean. Pasien yang memiliki nomor ID tersebut diberikan layanan tambahan melakukan antrean melalui sms dan dapat mengantre di rumah sakit dengan menunjukkan sms tersebut. Pasien yang mendaftar melalui sms mendapatkan informasi pergerakan nomor antrean via sms. Dari hasil survey 90% pasien menyatakan antrean ini bermanfaat dan 55% menyatakan lebih mudah menggunakan SMS (Fridatama,2011). Pada sistem notifikasi antrean berbasis android pengguna harus mendownload aplikasi terlebih dahulu. Kemudian mengisi identitas diri, membuat username dan password dalam aplikasi. Lalu pengguna memastikan mereka sudah login dan apabila telah login, akan muncul pilihan kasir yang dituju. Setelah memilih kasir yang dituju, pengguna akan memperoleh list antrean terbaru. Pengguna dapat logout dari sistem setelah proses mengantre selesai (Ariyani dan Rienauld, 2014).

Solusi yang Ditawarkan Dalam mengatasi kondisi antrean yang panjang ini, kami menawarkan solusi dengan sistem aplikasi berbasis teknologi. Sistem aplikasi ini bukan hanya terbatas hingga pasien keluar dari ruang praktik dokter, melainkan hingga pasien

menyelesaikan segala

keperluannya di rumah sakit. Solusi ini dibagi menjadi beberapa check point.

Pengefisienan Waktu Pendaftaran dan Pengambilan Nomor Antrean oleh Pasien Pengambilan nomor antrean merupakan awal dari proses antrean panjang di rumah sakit. Waktu antrean akan bertambah lama ketika ada seorang pasien yang belum terdaftar di rumah sakit pilihannya. Dengan sistem antrean berbasis teknologi, pasien hanya perlu 11


mendownload aplikasi QUALIFY. Lalu pasien dapat melakukan pengisian data diri di manapun dan juga melakukan update data dirinya. Data yang bersifat rahasia tersebut tersimpan dan dapat digunakan rumah sakit lain apabila melakukan pengobatan di tempat yang berbeda dari rumah sakit awal. Hal ini membuat pasien tidak perlu berulang kali melakukan pendaftaran ulang ketika berpindah rumah sakit. Selain keefisienan dalam pengambilan data diri, pasien juga dapat langsung memilih rumah sakit pilihan dan kemudian poliklinik yang disediakan rumah sakit. Setelah memilih poliklinik akan diberi nama dokter yang praktik dan jam kerjanya sehingga dapat memilih waktu yang sesuai dan langsung mengetahui pada jam berapa ia mendapat giliran untuk masuk. Hal ini memberikan keefisienan waktu tunggu pasien di rumah sakit, pasien tidak perlu menunggu waktu lama untuk masuk ke ruang praktik dokter dan dapat melakukan aktivitas masing-masing. Aplikasi juga akan memberikan notifikasi kepada pasien jika telah mendekati nomor antrean pasien.

Gambar 2 Pengefisienan Waktu Pendaftaran dan Pengambilan Nomor Antrean

Pengefisienan Waktu Menunggu Obat di Instalasi Kefarmasian atau Apotek Efisiensi waktu tunggu di instalasi kefarmasian juga penting agar memungkinkan adanya konseling pasien dengan apoteker mengenai obat yang mereka konsumsi. Sistem aplikasi berbasis teknologi akan mengefisienkan sampainya resep dari dokter di instalasi 12


kefarmasian. Resep dari dokter ini akan dibuat dalam bentuk data elektronik bukan tulisan tangan dan diterima pasien di dalam aplikasinya. Pasien dapat memilih apotek tempat ia menebus obat. Kemudian, pasien dapat langsung mengirimkan resep tersebut ke apotek tujuan sehingga pengerjaan resep obat dapat dilakukan secara cepat tanpa menunggu pasien sampai di instalasi kefarmasian. Sistem ini akan transparan terhadap obat yang sedang dalam proses pengerjaan maupun obat yang tidak tersedia di apotek tersebut sehingga pasien dapat mengetahui secara langsung. Hal tersebut akan membuat pasien mampu melakukan aktivitas lainnya dan tidak hanya menunggu resepnya di apotek. Sama dengan sistem antrean, aplikasi juga akan memberikan notifikasi jika proses pengerjaan resep hampir selesai.

Gambar 3 Pengefisienan Waktu Menunggu Obat di Instalasi Kefarmasian atau Apotek

Skema Alur Antrean dengan Aplikasi berbasis Teknologi

Gambar 4 Diagram Skema Penggunaan Aplikasi di Rumah Sakit

13


Pihak-pihak Terkait Penerapan sistem ini dapat mentransformasikan sistem antrean dalam pelayanan kesehatan khususnya rumah sakit di seluruh Indonesia ke arah yang lebih modern dan efisien. Oleh karena itu, dibutuhkan sinergisasi dari berbagai pihak antara lain: 1. Kementrian Kesehatan 2. Kementrian Komunikasi dan Informasi 3. Pusat Kesehatan Masyarakat (Pusat Kesehatan Primer) 4. Ikatan Apoteker Indonesia 5. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPENAS) 6. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPEDA)

Langkah-langkah Strategis Penggunaan aplikasi ini bertujuan untuk menurunkan panjang waktu antrean di rumah sakit dan mengefisienkan waktu pasien selama di rumah sakit. Dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan langkah-langkah strategis, antara lain: 1. Merancang aplikasi antrean yang akan digunakan pada sistem ini. 2. Melakukan penyuluhan ke rumah sakit di seluruh Indonesia untuk mensosialisasikan cara penggunaan sistem sehingga dapat diterapkan secara serentak. 3. Melakukan kerjasama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk pemerataan jaringan internet di seluruh wilayah Indonesia.

Peluang dan Tantangan Sistem Aplikasi Antrean Berbasis Teknologi Adapun peluang yang didapat dari sistem aplikasi antrean berbasis teknologi ini adalah : 1. Pelayanan kesehatan dalam hal sistem antrean menjadi lebih terorganisir sehingga menciptakan efisiensi waktu baik bagi pasien maupun tenaga teknis kesehatan. 2. Sistem aplikasi ini dapat diakses oleh pasien yang memiliki smartphone. 3. Sistem ini merupakan salah satu bentuk pemerintah terutama Kementrian Kesehatan. 14

pengembangan e-health yang diinisiasi


4. Sistem ini meningkatkan kenyamanan pasien dalam hal pelayanan kesehatan 5. Sistem ini juga mampu meminimalisasi kesalahan pasien dalam penggunaan obat.

Tantangan yang akan dihadapi oleh sistem aplikasi antrean berbasis teknologi adalah : 1. Diperlukan pemerataan pembangunan infrastruktur jaringan internet di Indonesia . 2. Sistem aplikasi ini membutuhkan pembagian kerja yang terorganisir dan spesifik antar profesi. 3. Dibutuhkan kolaborasi interprofesional di rumah sakit.

4. Tidak dapat diakses oleh seluruh jenis handphone yang beredar karena hanya terbatas pada smartphone android dan blackberry. 5. Diperlukan cara untuk mengatasi server down.

KESIMPULAN

Gagasan yang Diajukan Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem aplikasi QUALIFY merupakan sebuah sistem yang membantu mengatasi masalah antrean panjang pada pelayanan kesehatan di rumah sakit dan instalasi kefarmasian. QUALIFY memfasilitasi pengguna untuk melakukan proses pendaftaran, pengambilan nomor oleh pasien untuk fasilitas kesehatan, dan pengambilan obat di instalasi kefarmasian. Tidak hanya itu, QUALIFY menyediakan fitur notifikasi kisaran jam di mana pasien harus tiba di rumah sakit. Dihararapkan dengan adanya sistem ini, pasien lebih memilih untuk datang ke rumah sakit daripada melakukan swamedikasi yang berpotensi menghasilkan medication error.

Teknik Implemetasi Teknik implementasi yang penulis gagas adalah dengan menerapkan aplikasi ini pada rumah sakit dan instalasi kefarmasian di seluruh indonesia. Diharapkan dalam jangka panjang, sistem ini dapat berjalan dengan baik dan dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat Indonesia dalam upaya mengatasi antrean panjang di pusat kesehatan masyarakat dan instalasi kefarmasian. 15


Prediksi Hasil Sistem aplikasi QUALIFY memerlukan peran dari pemerintah, tenaga kesehatan, rumah sakit, dan instalasi kefarmasian dalam proses pengimplementasiannya. Sistem ini dapat diterima dengan mudah karena sebagian besar masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan dengan waktu tunggu yang cepat. Adapun tantangan yang dihadapi yaitu dibutuhkannya integrasi antara pemerintah, rumah sakit dan instalasi kefarmasian untuk mempermudah sistem QUALIFY sehingga dapat diimplementasikan secara menyeluruh. Rencana mengenai hasil yang dicapai adalah berupa penurunan angka swamedikasi di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA Ariyani, D., & Rienauld, A. Sistem Notifikasi Antrian Berbasis Android. Atmoko, W., & Kurniawati, I. (2009). “Swamedikasi: Sebuah Respon Realistik Perilaku Konsumen di Masa Krisis�. Volum, 2(3), 233-247. Badan Pusat Statistik. (2014). Persentase Penduduk yang Mengobati Sendiri Selama Sebulan

Terakhir Menurut Provinsi dan Jenis Obat yang Digunakan, 2000-2014. Diakses tanggal

30

Maret

2016

pukul

17:34.

https://www.bps.go.ID/linkTableDinamis/view/ID/926 Barua , Bacchus. (2015). Waiting Your Turn: Wait Times for Health Care in Canada, 2015

Report.

.

Diakses

tanggal

21

Maret

2016

Pukul

18.43.

https://www.fraserinstitute.org/studies/waiting-your-turn-wait-times-for-health-carein-canada-2015-report. Hanson, G., Venturelli, P., & Fleckenstein, A. (2011). Drugs and society. Jones & Bartlett Publishers. Harahap, N. A. (2016). Tingkat Pengetahuan Pasien dan Rasionalitas Swamedikasi di Tiga

Apotek Kota Panyabungan. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 192/MENKES/SK/VI/2012 Roadmap Rencana Aksi

Penguatan Sistem Informasi Kesehatan Indonesia. 15 Juni 2012. Jakarta: Kementrian Kesehatan 16


Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 374/MENKES/SK/V/2009 Sistem Kesehatan Nasional. 13 Mei 2009. Jakara: Kementrian Kesehatan Nilapuspa Fridatama, N., (2011). Rancang Bangun Sistem Layanan Antrian Rumah Sakit

Berbasis Java. EEPIS Final Project. Purba, J.A., (2014). Analisis Sistem Antrian Pelayanan Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit

Umum Pusat H. Adam Malik Medan. Rhamani Suryadhi, P.A. & Manurung, N.J. (2012). “Model Antrian pada Pelayanan Kesehatan di

Rumah

Sakit”. Majalah

Ilmiah

Teknologi

Elektro

(Journal

of

Electrical

Technology), 8(2). Salaki, D.T., (2012). “Deskripsi Sistem Antrian pada Klinik Dokter Spesialis Penyakit Dalam”. Jurnal Ilmiah Sains, 12(1), pp.72-76. Sucahyo , Yudho Giri & Chan Basaruddi. (2015). Penggunaan Teknologi Informasi dan

Komunikasi ( TIK ) untuk Kesehatan. Diakses tanggal 30 Maret 2016 pukul 13: 44. https://scele.ui.ac.ID/berkas_kolaborasi/konten/mpktb_2015genap/075.pdf. Tan. (2016). Keluarga Pasien dan Rumah Sakit Bertengkar Harus Antri Akhirnya Meninggal. Diakses

tanggal

31

Maret

2016

Pukul

00.05.

http://metrotabagsel.com/2016/01/13/121/keluarga-pasien-dan-pihak-rumah-sakitbertengkar-harus-antri-akhirnya-meninggal/ Wang, P. P., Grayson, A. C. R., Choi, I. S., Tyler, B. M., Brem, H., Cima, M. J., & Langer, R. (2003). “Multi-Pulse Drug Delivery From A Resorbable Polymeric Microchip Device”.

Nature materials, 2(11), 767-772.

17


Riski Vitria Ningsih Ilmu Psikologi, 2014. Departemen Penelitian

“Kamu hidup dengan apa yang kamu punya dan kamu bahagia dengan apa yang kamu beri.”

Riski Vitria Ningsih merupakan deputi dari departemen penelitian, KSM Eka Prasetya UI 2016. Ia juga merupakan project officer dari Indonesia Student Research and Summit (ISRS) 2016. Perempuan kelahiran Lampung Barat, 28 Februari 1995 ini, menulis esai dengan judul “City Branding sebagai Strategi Menciptakan Brand Equity dalam Pengembangan Industri Kreatif Indonesia: Studi Pengembangan Industri Batik Pekalongan.” Perempuan yang hobi travelling ini bercita-cita ingin menjadi psikolog pendidikan.

18


CITY BRANDING SEBAGAI STRATEGI MENCIPTAKAN BRAND EQUITY DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF INDONESIA: STUDI PENGEMBANGAN INDUSTRI BATIK PEKALONGAN

S

elain merupakan barang atau jasa yang dapat diperjualbelikan di pasar, suatu produk juga merupakan identitas atau ciri khas yang membuatnya mampu

terjual. Salah satu produk yang dapat menggambarkan identitas budaya Indonesia adalah batik. Melalui simbolnya, batik merupakan representasi identitas kultural seseorang, baik identitas sosial, budaya, ataupun identitas diri (Darmaputri, 2014). Selain perannya sebagai identitas kultural, batik juga memiliki andil dalam perkembangan

industri

batik

yang

merupakan

salah

satu

pilar

kekuatan

perekonomian Indonesia. Batik, di manakah biasanya seseorang mengenakannya? Di sekolah sebagai seragam batik guru dan siswa, di tempat kondangan, atau di acara-acara tradisional Jawa? Tentunya kini batik tidak hanya dikenal sebagai “seragam atau pakaian kondangan�. Lebih luas dari itu, batik telah menjadi tren fashion di Indonesia. Dulu batik memang diasosiasikan dengan pakaian kuno, formal, pasangan kebaya, dan berarti juga pakaian tradisional, tapi kini batik telah disambut dengan antusias dan dianggap sebagai fashion yang sangat fleksibel dan menjadi suatu tren hingga batik mencapai puncak popularitasnya (Shafita, 2009). Puncak popularitas batik dicapai sejak batik mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritages (kekayaan tak benda) pada 2 Oktober 2009 lalu (Kementrian Perindustrian RI, 2009). Sejak itu juga selain menjadi tren fashion Indonesia, batik secara perlahan tapi pasti mulai melangkah menjadi tren fashion dunia.

19


Seiring dengan popularitasnya, permintaan batik pun kian meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini tercermin dari jumlah unit usaha, pembelian bahan baku, dan peminat batik yang meningkat dari tahun ke tahun. Data Kementrian Perindustrian menunjukkan jumlah unit usaha batik selama lima tahun sejak 2011 hingga 2015 tumbuh 14.7 %, pembelian bahan baku meningkat 12.8% dari tahun 2011, dan peminat batik mancanegara meningkat dilihat dari nilai ekspor batik yang naik 14,7% dari tahun 2011 (detikcom, 2015). Peningkatan permintaan batik tersebut tidak semata-mata menunjukkan kejayaan batik. Dalam pengembangan industri kreatif seperti batik, tentu berbagai macam rintangan siap menghadang. Apalagi, Indonesia dihadapkan pada kenyataan persaingannya di kancah ASEAN sejak ditetapkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Padahal, industri kreatif memiliki kontribusi yang cukup signifikan terhadap perekonomian Indonesia khususnya di bidang fashion. Dari lima belas subsektor ekonomi kreatif yang dikembangkan, terdapat tiga subsektor yang memberikan kontribusi dominan terhadap PDB, yaitu kuliner sebesar Rp209 triliun atau 32,5 persen, fesyen sebesar Rp182 triliun atau 28,3 persen dan kerajinan sebesar Rp93 triliun atau 14,4 persen (ANTARA News, 2015). Hal ini menunjukkan pentingnya peran industri kreatif di bidang fashion sebagai pilar untuk menguatkan perekonomian Indonesia. Mengetahui hal tersebut, pengembangan industri batik sebagai bagian dari industri kreatif di bidang fashion tentu tidak dapat dipandang sebelah mata. Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk menciptakan citra batik sebagai suatu produk dengan nilai tertentu sehingga dapat bersaing di pasaran. Salah satu jenis batik Indonesia yang telah memiliki „namaâ€&#x; adalah batik Pekalongan. Di Pekalongan, industri batik merupakan potensi ekonomi unggulan yang berpengaruh terhadap kemajuan ekonomi wilayahnya. Pemberdayaan ekonomi unggulan merupakan strategi utama pemerintah untuk mengembangkan industri batik Pekalongan (Mujiono, dkk., 2007). Dalam upaya pengembangan industri batik Pekalongan, branding atau pencitraan menjadi salah satu hal yang tidak terpisahkan.

20


Tulisan ini akan mengulas penggunaan city branding sebagai strategi untuk menciptakan brand equity dengan menggunakan studi kasus pengembangan industri batik Pekalongan.

Brand equity merupakan salah satu capaian terpenting dalam menciptakan branding suatu produk. Dengan adanya brand equity, konsumen tidak hanya membeli suatu produk, tetapi lebih dari itu konsumen akan loyal pada produk tersebut. Loyalitas konsumen pada produk batik tentu menjadi perhatian utama dalam pengembangan industri kreatif batik. Dalam hal ini, loyalitas konsumen pada batik dapat dicapai dengan menciptakan brand equity. Brand equity adalah nilai intrinsik dari nama merek yang muncul dari persepsi konsumen mengenai superioritas produk (Schiffman & Wisenblit, 2015). Brand equity biasanya muncul ketika konsumen mau membayar lebih untuk kualitas yang sama karena kemenarikan nama yang ada pada produk (Mohd Yasin, dkk., 2007). Tujuan utama

brand equity adalah untuk mendapatkan konsumen yang loyal pada produk tertentu. Dalam pengembangan industri batik Pekalongan, upaya untuk menciptakan brand

equity sangat dibutuhkan untuk mendukung pengembangan industri kreatif Indonesia. Salah satu upaya untuk menciptakan brand equity pada produk adalah melalui city branding. Pada tanggal 1 April 2011, dalam rangka rangkaian kegiatan Hari Jadi Kota Pekalongan yang ke-105, Pemerintah Kota Pekalongan meluncurkan brand Kota Pekalongan dengan tagline Pekalongan Worldâ€&#x;s City of Batik, Pekalongan Kota Batik Dunia (Dewan Kesenian Kota Pekalongan, 2011). Slogan kata BATIK juga dipakai sebagai sesanti kota Pekalongan. Kota BATIK dimaknai sebagai kota yang Bersih, Aman, Tertib, Indah dan Komunikatif (Dewan Kesenian Kota Pekalongan, 2011). Dengan tagline Pekalongan World City of Batik, produk batik Pekalongan akan dikenal sebagai batik yang berkualitas dan berkelas dunia. Kata „batikâ€&#x; yang melekat pada tagline tersebut akan dilihat sebagai identitas Pekalongan yang merupakan Kota Batik Dunia. Dengan begitu, batik Pekalongan akan lebih dikenal dan diingat

21


sehingga city branding yang diciptakan oleh Pemerintah Pekalongan akan menciptakan brand equity sehingga konsumen loyal terhadap produk batik Pekalongan. Melalui penelitiannya, Mohd Yasin mengungkapkan bahwa city

branding atau place branding berpengaruh secara signifikan terhadap brand equity (Mohd Yasin, dkk., 2007). Melalui city branding-nya, Pemerintah Kota Pekalongan dapat memengaruhi persepsi konsumen terhadap superioritas produk batik Pekalongan dengan brand Pekalongan worldâ€&#x;s city of Batik sehingga tercipta brand

equity atau nilai tertentu pada produk batik Pekalongan. Pada akhirnya, tujuan dari brand equity ini adalah agar konsumen loyal terhadap produk batik Pekalongan. Loyalitas pada produk ini sangat penting untuk pengembangan industri kreatif batik Pekalongan di tengah-tengah persaingan produk batik yang semakin ketat.

City Branding pada akhirnya dapat dimaknai sebagai product branding. Sebuah kota dapat mencitrakan suatu produk khasnya. Upaya Pemerintah Kota Pekalongan menggunakan strategi city branding dengan tagline Pekalongan Worldâ€&#x;s

City of Batik untuk menduniakan Batik Pekalongan dirasa tepat mengingat city branding dapat menciptakan brand equity pada produk. Dengan terciptanya brand equity maka akan diperoleh konsumen yang loyal pada batik Pekalongan sehingga industri batik Pekalongan dapat semakin berkembang dan dapat memaksimalkan potensinya sebagai kontributor industri kreatif Indonesia dalam memajukan perekonomian Indonesia. Strategi city branding untuk menciptakan brand equity tentu

dapat

diadopsi

atau

diimplementasikan

penggunaannya

untuk

mengembangkan dan memajukan pengembangan industri kreatif di seluruh Indonesia, tidak hanya pada produk batik. Setiap kota dapat menciptakan city

branding untuk industri kreatif di wilayahnya dalam upaya mengembangkan industri kreatif yang menjadi potensi ungulan melalui brand equity.

DAFTAR PUSTAKA

22


Antara News. (2015). Ini kontribusi industri kreatif di perekonomian Indonesia. Retrieved

from

http://www.antaranews.com/berita/511673/ini-kontribusi-

industri-kreatif-di-perekonomian-indonesia Darmaputri, G. L. (2014). Representasi Identitas Kultural dalam Simbol-Simbol pada Batik

Tradisional

dan

Kontemporer.

Jurnal

Commonline

Departemen

Komunikasi, 4(2). Detikcom. (2015). Diakui Dunia, Ekspor Batik RI Meningkat Setiap Tahun. Retrieved from

http://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3034083/diakui-dunia-

ekspor-batik-ri-meningkat-setiap-tahun Dewan Kesenian Kota Pekalongan. (2011). Tentang City Branding Kota Pekalongan. Retrieved from http://www.pekalongankota.go.id/artikel/tentang-city-brandingkota-pekalonganFianto, A. Y. A., Hadiwidjojo, D., & Aisjah, S. (2014). The influence of brand image on purchase behaviour through brand trust. Business Management and Strategy,

5(2), 58. Kementrian Perindustrian RI. (2009). Dunia Makin Mencintai Batik. Retrieved from http://www.kemenperin.go.id/artikel/6827/Dunia-Makin-Mencintai-Batik Mohd Yasin, N., Nasser Noor, M., & Mohamad, O. (2007). Does image of country-oforigin matter to brand equity?. Journal of Product & Brand Management, 16(1), 38-48 Mujiono, dkk., (2007). Potensi UKM Batik Terhadap Ekonomi Wilayah. Retrieved from http://digilib.pekalongankota.go.id/detailbuku-18-potensi-ukm-batik-terhadapekonomi-wilayah-kajian-terhadap-strategi-pemerintah-kota-pekalongandala.html?PHPSESSID=d0657b94ea51851eb5cc7dc5f3fda416 Schiffman, L. G. & Wisenblit, J.L. (2015). Consumer Behavior: Eleventh Edition. US: Pearson Education. Shafita, M. H. (2009). Wacana tentang Batik dalam Media Massa Tren Identitas dan

Komoditas. Tesis. Universitas Indonesia.

23


Nurul Khomariyah Ilmu Ekonomi Islam, 2014. Kontrolir

“Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup, ingin merasakan saripati hidup.”— Andrea Hirata. Nurul Khomariyah merupakan perempuan kelahiran Kota Reog, Ponorogo, 7 Agustus 1996. Penulis esai dengan judul “Pengembangan Peran PKK untuk Membentuk Keluarga Sejahtera: Refleksi Hasil Kunjungan ke Lapas Anak Pria Tangerang” ini merupakan kontrolir KSM Eka Prasetya UI 2016. Ia juga pernah aktif di BPM dan FSI FEB UI 2015. Nurul adalah seseorang yang menyukai puisi dan bercita-cita ingin menjadi social worker.

24


PENGEMBANGAN PERAN PKK UNTUK MEMBENTUK KELUARGA SEJAHTERA: REFLEKSI HASIL KUNJUNGAN KE LAPAS ANAK PRIA TANGERANG ―Saya

menggunakan

narkoba

karena

teman-teman

saya

menggunakannya,‖ ―Saya

membeli

narkoba

menggunakan

uang

yang

saya

minta

dari orang tua‖ ―Saya lebih senang di Lapas, Kak, karena saya nggak ketemu sama orang tua‖

S

etidaknya itulah beberapa pengakuan dari penghuni Lapas Anak Pria di Tangerang saat penulis melakukan kunjungan pada 8 Oktober 2016. Miris dan

sangat mencengangkan. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap perilaku remaja, khususnya dalam penggunaan narkotika. Dalam tulisan ini, penulis akan berfokus pada peran keluarga dalam membentuk sikap remaja yang turut berpengaruh terhadap perilaku penggunaan narkotika. Berdasarkan laporan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) kantor wilayah Banten pada April 2016, tercatat dari 116 anak yang terjerat kasus hukum dan menjadi narapidana di Lapas, 36 diantaranya tersangkut kasus narkoba. Salah satu faktor yang mempengaruhi banyaknya kasus penggunaan narkoba pada remaja adalah lingkungan pergaulan. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan

oleh

Hawari

pada

tahun

2000

tentang

Penyalahgunaan

dan

ketergantungan naza (narkotika, alkohol dan zat adiktif), disebutkan bahwa 81,3% orang yang menggunakan narkoba di awali oleh pengaruh atau bujukan teman. Selain itu, ditemukan bahwa 58,36% angka kekambuhan pada pengguna narkoba disebabkan oleh tekanan pertemanan.

25


Seorang remaja, yaitu mereka yang berusia 12-21 tahun, biasanya akan berusaha untuk melepaskan diri dari pengaruh orang tua. Pada fase tersebut, individu akan lebih sering berinteraksi dengan teman sebanyanya dikarenakan oleh beberapa faktor yang salah satunya merupakan adanya perasaan senasib. Remaja mempunyai attachment yang besar terhadap teman sebaya. Mereka akan berusaha megikuti apa yang dilakukan oleh teman sebayanya agar dapat diterima dengan baik. Ketidakikutsertaannya pada apa yang dilakukan oleh sebayanya akan mengakibatkan penolakan terhadap diri remaja yang berarti akan mengakibatkan mereka kehilangan teman. Perilaku remaja yang demikian disebut dengan perilaku konformitas. Menurut (Baron et.al. 2005), konformitas merupakan suatu jenis pengaruh sosial dimana individu mengubah sikap dan tingkah lakunya agar sesuai dengan norma sosial yang ada. Berdasarkan definisi konformitas dari Baron tersebut (Bayu et.al. 2012: 4) mendefininisikan bahwa ciri-ciri remaja yang melakukan konformitas terhadap teman sebaya, yaitu: (1) remaja akan berperilaku sama atau sesuai dengan kelompok dan bersikap menerima serta mematuhi norma-norma yang ada dalam kelompok, (2) remaja akan lebih sering bertemu dan berkumpul bersama dengan teman dalam kelompoknya daripada dengan orang di luar kelompok, (3) remaja akan menyepakati serta menyesuaikan pendapatnya sendiri dengan pendapat yang dianut oleh mayoritas anggota kelompok, (4) remaja akan lebih mementingkan perannya sebagai anggota kelompok daripada mengembangkan pola norma sendiri, (5) remaja akan mencari informasi tentang kelompoknya dengan tujuan supaya remaja dapat berperilaku secara benar dan tepat di dalam kelompoknya. Menurut penulis, perilaku konformitas sebenarnya tidak selalu menimbulkan hal yang negatif. Konformitas sangat tergantung dari norma yang menjadi acuan dalam kelompok remaja. Norma yang dipakai dalam kelompok bisa saja merupakan norma yang conform dengan norma sosial yang berlaku di masyarakat maupun sebaliknya. Apabila norma yang bertentangan dengan norma sosial yang berlaku di masyarakat tersebut menjadi norma yang berlaku dalam kelompok, maka

26


konformitas akan menimbulkan hal-hal yang sifatnya negatif, termasuk penggunaan narkotika di kalangan remaja. Pelajaran yang harus dipetik dari fenomena sosial tersebut adalah perlu ditingkatkannya peranan keluarga utamanya orang tua dalam mendampingi anaknya pada fase-fase remaja. Hal ini penting sebab di masa remaja lah seorang individu mulai terbentuk konsep dirinya. Konsep diri memiliki pengertian sebagai pandangan dan sikap individu terhadap dirinya yang mencakup pandangan mengenai dimensi fisik, karakter individual dan motivasi diri, baik yang merupakan kekuatan maupun kelemahan. Konsep diri sendiri merupakan alat kontrol bagi remaja, suatu konsep diri yang positif akan membentuk perilaku yang positif, begitu pula sebaliknya. Menurut (Pudjijogyanti 1985) terdapat tiga alasan yang dapat menjelaskan peranan penting konsep diri dalam menentukan perilaku seseorang, yaitu: (1) mempertahankan keselarasan batin, (2) membantu individu dalam menafsirkan pengalaman, dan (3) menentukan harapan hidup. Konsep diri dibentuk melalui interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya. Peran keluarga menjadi sangat penting, sebab sebagaimana

menurut

(Gunarsa

1995)

dalam

(Respati

et.al

2006:

124),

perkembangan konsep diri terjadi melalui dua tahapan primer yang terbentuk melalui pengalaman yang diperoleh dari lingkungan keluarga dan tahapan sekunder saat anak telah memiliki hubungan luas di luar lingkungan keluarga. Pembentukan konsep diri anak bergantung dengan pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua dalam keluarga. Menurut (Brooks 1991) dalam (Respati et.al 2006: 127), pengasuhan merupakan proses yang di dalamnya terdapat unsur memelihara, melindungi, dan mengarahkan anak selama masa perkembangannya. Namun, dalam kenyataannya sebagaimana permasalahan yang dihadapi oleh beberapa penghuni Lapas Anak Pria di Tangerang, orang tua kurang menjalankan perannya dalam proses pembentukan konsep diri anak tersebut. Kerenggangan hubungan anak dengan orang tua membuat anak merasa kehilangan perasaan aman dan kekurangan afeksi (kasih sayang). Kurangnya intensitas orang tua dalam proses

27


tumbuh kembang anak di masa remaja dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor yang salah satunya adalah kondisi perekonomian keluarga yang tergolong menengah ke bawah. Banyak di antara orang tua penghuni Lapas Anak yang memang berfokus untuk mencari nafkah guna mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga. Mereka cenderung membebaskan aktivitas anaknya tanpa memberikan kontrol yang memadai. Faktor lain yang juga turut memperburuk kondisi tersebut adalah adanya kekerasan yang dilakukan oleh orang tua kepada anak, sehingga sebagaimana temuan penulis, anak lebih merasa nyaman berada di Lapas karena tidak bertemu dengan orang tuanya. Dalam kondisi demikian, apabila keluarga yang notabene merupakan tempat pendidikan utama bagi sang anak sudah tidak mampu menjalankan perannya, maka diperlukan adanya motor dalam masyarakat yang berfungsi untuk membina keluarga. Motor tersebut adalah Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang merupakan gerakan untuk membangun keluarga sebagai unit atau kelompok terkecil dalam masyarakat guna menumbuhkan, menghimpun, mengarahkan, dan membina keluarga guna mewujudkan keluarga sejahtera. Gerakan PKK tumbuh dari bawah dan dikelola oleh masyarakat sendiri. Menurut (Notoatmojo 2003: 24) dalam (Rahman 2014) tim penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah warga masyarakat baik laki-laki maupaun perempuan, perorangan, bersifat sukarela, tidak mewakili organisasi, golongan, partai politik, lembaga atau instansi manapun. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya memahami betapa besar peran PKK dalam membentuk keluarga yang sejahtera. Sejauh ini pelaksanaan PKK di masyarakat tidak ada bedanya dengan ajang arisan atau ajang makan-makan bulanan. Oleh karena itu, PKK perlu dikembalikan eksistensinya sebagai motor pemberdayaan. Mengacu kepada 10 program pokok PKK yang meliputi: (a) penghayatan dan pengamalan Pancasila, (b) gotong royong, (c) pangan, (d) sandang, (e) perumahan dan tata laksana rumah tangga, (f) pendidikan dan keterampilan, (g) kesehatan, (h) mengembangkan kehidupan berkoperasi, (i)

28


kelestarian lingkungan hidup, serta (j) perencanaan yang sehat; terlihatlah bahwa fungsi PKK sangat komprehensif dalam mewujudkan kesejahteraan keluarga. Program-program pokok PKK tersebut selain membina kelaurga dalam tata laksana rumah tangga juga mengenalkan strategi berusaha untuk meningkatkan taraf hidup dan kepedulian terhadap lingkungan. Dalam kaitannya dengan peningkatan peran orang tua dalam mengasuh anak-anaknya, PKK dengan kapasitasnya sebagai pemberdaya tata kelola keluarga dapat memberikan pembinaan kepada para orang tua sehingga anak dapat memperoleh bimbingan dan kasih sayang yang cukup dari dimana dengan itu anak tidak mudah terjerumus ke dalam perilaku negatif. Menurut (Rahman 2014) setidaknya terdapat tiga substansi penting dalam memaksimalkan peran dan eksistensi PKK di masyarakat, yaitu: (1) peningkatan pengetahuan dan keterampilan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga melalui pendidikan dan pelatihan, orientasi, seminar, dan sejenisnya yang dilakukan oleh PKK dilevel yang lebih tinggi dengan memanfaatkan tenaga-tenaga yang ahli dibidangnya; (2) meningkatkan sumber pendanaan untuk memperlancar kegiatan PKK melalui APBDes, APBD, maupun APBN serta donatur lainnya; dan (3) guna mengatsi keterbatasan waktu dan tenaga, Pembinaan Kesejahteraan Keluarga perlu mendidik secara profesional tenaga penyuluh yang khusus untuk membantu tugas-tugas konseling yang diemban oleh PKK. Permasalahan penggunaan narkotika dikalangan remaja apabila dirunut kembali salah satunya merupakan kausalitas atas absennya peran dari keluarga khususnya orang tua dalam mendidik anak. Peran dan fungsi keluarga yang mulai melemah dalam masyarakat tersebut hendaknya dapat diberdayakan kembali melalui cara-cara yang mengedepankan inklusifitas dan mengoptimalkan motor penggerak yang sudah ada dalam masyarakat. Dengan peningkatan dan pengembangan peran PKK dalam membina keluarga sejahtera tersebut maka akan terlahirlah anak-anak yang sejahtera secara pola pikir dan mumpuni pribadinya. Terkhusus dengan upaya untuk menekan penggunaan narkotika pada remaja, PKK dapat pula bekerjasama

29


dengan BNN ataupun komunitas lain. Tulisan ini hanya membahas dari sudut pandang sistem lingkungan sosial utamanya teman dan keluarga, penanggulagan permasalahan narkoba tentunya membutuhkan inovasi maupun optimalisasi dari sistem-sistem yang lain. Pada ahirnya keluarga yang sejahtera akan membentuk generasi-generasi yang cerdas dan sejahtera pula pola pikirnya. DAFTAR PUSTAKA Hawari, D., 2000. Penyalahgunaan dan ketergantungan naza (narkotika, alkohol dan

zat adiktif). Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Saputro, B.M. and Soeharto, T.N.E.D., HUBUNGAN ANTARA KONFORMITAS TERHADAP TEMAN SEBAYA DENGAN KECENDERUNGAN KENAKALAN PADA REMAJA. Baron, R.A., Dan Byrne, D.(2003). Psikologi Sosial Jilid, 2. Respati, W.S., Yulianto, A., Widiana, N., Esa, D.F.P.U.I., Unggul, J. and Esa, M.F.P.U.I., 2006. Perbedaan konsep diri antara remaja akhir yang mempersepsi pola

asuh orangtua authoritarian, permissive dan authoritative.[Differences in selfconcept

between

the

teenagers

who

perceive

parenting

parents

authoritarian, permissive and authoritative]. Jurnal Psikologi, 4, pp.119-138. RAHMAN, I.A.R., 2014. PERAN SERTA PEMBINAAN KESEJAHTERAAN KELUARGA (PKK)

DALAM PENYELENGGARAAN SATUAN PAUD SEJENIS MENARA LAUT DESA OLELE KECAMATAN KABILA BONE KABUPATEN BONE BOLANGO (Doctoral dissertation, Universitas Negeri Gorontalo). “Tahanan Anak di Banten Didominasi Kasus Narkoba�. PalapaNews, 23 April 2016. Diakses

pada

tanggal

30

Oktober

2016,

http://palapanews.com/2016/04/23/tahanan-anak-di-banten-didominasikasus-narkoba/.

30


Isti Sri Ulfiarti Ilmu Sejarah, 2013. Departemen Penulisan

“Jangan mempermasalahkan masalah untuk menjadi masalahmasalah yang bermasalah.”

Isti Sri Ulfiarti merupakan penulis esai dengan judul “Pendekatan Psikologi Musik dalam Penanaman Nasionalisme.” Perempuan kelahiran Cianjur, 1 September 1993 ini, memiliki hobi travelling dan baca novel. Bagi Isti, menjadi menteri di bidang pendidikan dan kebudayaan merupakan cita-citanya. Sampai sekarang, perempuan asal Cianjur dan Ponorogo ini, aktif menjadi anggota departemen penulisan KSM Eka Prasetya UI 2016 dan Kopma FIB UI.

31


PENDEKATAN PSIKOLOGI MUSIK DALAM PENANAMAN NASIONALISME

M

usik dan nasionalisme merupakan dua hal yang terkait satu sama lain. Dalam sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, keduanya tidak dapat dipisahkan

begitu saja. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya lagu-lagu perjuangan yang mampu menanamkan semangat bagi pejuang kemerdekaan ataupun bagi para pejuang revolusi. Maka, tidak salah jika lagu-lagu nasional menjadi salah satu bukti pentingnya musik untuk membangkitkan semangat cinta tanah air di Indonesia. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, musik merupakan ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan, keharmonisan, dan kesinambungan. Musik dikenal oleh masyarakat Indonesia sudah sejak zaman dahulu, seperti penggunaan dalam pemujaan, pemanggilan roh nenek moyang, pertunjukan kesenian, hingga memasuki masa kerajaan-kerajaan dan kolonialisme, musik menjadi salah satu hal yang mengalami perkembangan. Adapun nasionalisme, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan suatu bentuk kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa tersebut. Nasionalisme di Indonesia sendiri mulai tumbuh dengan berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908 di Jakarta sebagai sumbu awal munculnya pergerakan-pergerakan

nasionalisme

lainnya.

Sedangkan

perpaduan

antara

nasionalisme dan musik untuk pertama kalinya muncul pada Kongres Pemuda Kedua, 28 Oktober 1928. Pada saat itu, untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman diperdengarkan. Tidak hanya sebatas pada kebangkitan perjuangan kemerdekaan dan perjuangan revolusi, musik juga mampu menjadi media pendidikan. Sebuah

32


pembelajaran yang asyik dan menyenangkan dapat dilakukan dengan memadukan konsep antara psikologi, musik, dan pendidikan. Psikologi sebagai salah satu ilmu memiliki penjelasan tersendiri mengenai nasionalisme. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Psikologi adalah ilmu yang berkaitan dengan proses mental, baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada prilaku, dan kegiatan kejiwaan. Kondisi kejiwaan manusia digambarkan sebagai inner yang berkembang pada tahap paling awal sampai dewasa dengan berbagai manifestasi dan tingkah laku. Sigmund Freud mengungkapkan bahwa realitas psikis adalah bentuk partikular dari eksistensi dan tidak dikacaukan dengan realitas rasional. Melalui pendekatan psikologi sosial, nasionalisme dijelaskan sebagai suatu bentuk sikap individu terhadap bangsanya dan bangsa lain, dengan melibatkan suatu bentuk perasaan terikat serta loyalitas dari individu terhadap kelompoknya (Druckman, 1994). Pendekatan psikologi sosial yang digunakan untuk menjelaskan definisi nasionalisme ini nantinya akan disambung dengan pendekatan psikologi musik sebagai sarana untuk meningkatkan perasaan serta jiwa nasionalisme. Pernyataan mengenai psikologi tersebut sejalan dengan gagasan menanamkan nilainilai nasionalisme melalui musik. Secara kejiwaan, musik dapat menjadi terapi dan memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi secara verbal maupun non verbal. Musik sebagai terapi sangat tergantung pada keadaan fisik, emosi, dan mental seseorang sehingga hal ini mampu digunakan sebagai perubahan mood ataupun perilaku seseorang. Oleh karena itu suatu paham, nasionalisme, akan dapat mengena jika disusupkan pada psikis manusia itu sendiri. Beberapa tahun terakhir ini wacana tentang nasionalisme seringkali menjadi perdebatan secara berulang. Beberapa tanggapan bahkan menyatakan bahwa nasionalisme sudah tidak relevan lagi karena sekarang kita menghadapi arus dominan dunia yaitu “era globalisasi”. Bahkan lebih jauh lagi mempertanyakan keabsahan dari konsep “negara bangsa” (nation-state). Disadari atau tidak, dengan kemasan “ilmiah” ataupun bukan, langsung ataupun tidak langsung, sengaja atau

33


tidak sengaja, mereka ini bagai perpanjangan tangan untuk membuat bangsa Indoensia tergiring dalam pemikiran akan makna nasionalisme di zaman sekarang yang dianggap tak relevan. Tidak hanya itu, semakin terglobalnya dunia, di Indonesia mulai bermunculan gagasan akan “nasionalisme baru” yang tidak terlalu jelas isinya, namun hanya sekadar menganggap bahwa nasionalisme yang dirumuskan oleh pendiri bangsa adalah nasionalisme sempit. Oleh karena itu, penanaman nilai nasionalisme bagi generasi muda saat ini menjadi suatu agenda yang penting. Terlepas dari arus globalisasi ataupun munculnya istilah “nasionalisme baru”, pentingnya penanaman nasionalisme ini diperlukan karena setelah memasuki masa reformasi, nilai-nilai nasionalisme yang dicirikan salah satunya dengan pengamalan Pancasila pun mulai ikut luntur seluntur kebijakan-kebijakan rezim Orde Baru yang lain. Pancasila yang merupakan ideologi dari tegaknya bangsa dan negara Indonesia lewat lima pilarnya, dan merupakan simbol dari hasil perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka, telah dianggap dan mengakar di kalangan masyarakat Indonesia sebagai „alat‟ untuk memperpanjang kekuasaan dari orde yang sebelumnya berkuasa sehingga banyak kalangan masyarakat melupakan nilai-nilai luhur awal yang dicitacitakan oleh pendiri Bangsa Indonesia. Adanya pendekatan psikologi, khususnya psikologi musik, penanaman nilai nasionalisme perlu dicoba untuk diterapkan. Penanaman nilai-nilai nasionalisme harus dilakukan secara berkesinambungan melalui media musik, agar ide dasar dalam menanamkan jiwa kebangsaan tertanam dan menjadi karakter dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Contohnya saja dapat dilihat dari lirik-lirik dalam lagu yang bersifat kebangsaan mampu menjadi sebuah refleksi dari kehidupan berbangsa dan bernegara itu sendiri. Oleh karena itu, gagasan ini dapat diimplementasikan melalui kerjasama antara pelaku industri kreatif, psikolog, musisi, bahkan lembaga negara, untuk melakukan terapi kejiwaan melalui sebuah proses kreatif dan kumulatif.

34


Di tingkat lembaga negara sendiri telah ada pembentukan Gita Bahana Nusantara dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Gita Bahana Nusantara atau yang disingkat GBN merupakan paduan suara dan orkestra nasional yang para pemainnya merupakan gabungan para pemuda dan pemudi dari seluruh Indonesia yang dipilih secara ketat oleh negara melalui pemerintah daerah. GBN yang mulai digagas pembentukannya pada tahun 2001 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri ini menjadi kenyataan dengan dukungan berbagai pihak sehingga pada tahun 2003, GBN memulai debutnya untuk pertama kali di Istana Merdeka dalam peringatan Detik-Detik Kemerdekaan Republik Indonesia hingga saat ini. Lahirnya gagasan GBN pun dilatarbelakangi oleh tujuan untuk (a) menguatkan jati diri dan karakter bangsa, (b) untuk menumbuhkan rasa kebangsaan, menghormati perbedaan dan memupuk rasa kebersamaan di kalangan generasi muda, dan (c) membentuk paduan suara dan orkestra nasional yang tangguh. Secara gamblang, GBN merupakan wadah untuk menyalurkan bakat dan kreativitas generasi muda di bidang seni musik yang pada akhirnya mampu untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme, menghargai keberagaman, dan menguatnya jati diri dan karakter bangsa. Tidak hanya sebatas paduan suara dan orkestra binaan lembaga negara, musik dari band-band tanah air yang kini banyak digandrungi oleh kalangan muda mudi Indonesia sehingga mampu menjadi alat untuk perpanjangan tangan dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme. Banyaknya band-band musik atau solosis menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu dengan tema kebangsaan, seperti Bendera, Indonesia Jaya, dan sebagainya, mampu menjadi daya tarik untuk diikuti oleh para fansnya. Maka dari itu, penerapan inovasi penanaman nasionalisme lewat pendekatan psikologi musik ini diharapkan dapat memberikan perubahan positif untuk meningkatkan nasionalisme pada generasi muda Indonesia. DAFTAR PUSTAKA

35


Djohan. 2005. Psikologi Musik. Yogyakarta : Buku Batik. Kamus Besar Bahasa Indonesia ------. 1990. Seminar Sejarah Nasional V : Subtema Pengajaran Sejarah. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. ------. 2016. Merayakan Indonesia Raya. Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI : Jakarta

36


Ghany Ellantia Wiguna Ilmu Ekonomi, 2015 Departemen Penulisan

Ghany Ellantia Wiguna merupakan penulis esai dengan judul “Mengembalikan Jati Diri Pembangunan Indonesia: Membangun Manusia dengan Right-Based Approach.� Selain aktif sebagai anggota departemen penulisan KSM Eka Prasetya UI 2016, Ellen juga aktif sebagai anggota divisi penelitian KANOPI FEB UI. Perempuan asal Bekasi ini lahir pada tanggal 1 Juni 1996 dan memiliki cita-cita menjadi pengusaha.

37


MENGEMBALIKAN JATI DIRI PEMBANGUNAN INDONESIA: MEMBANGUN MANUSIA DENGAN

RIGHT-BASED APPROACH

L

ebih dari 70 tahun Indonesia merdeka, namun sejumlah permasalahan masih menghambat upaya negara untuk mensejahterahkan rakyatnya. Tahun 2015

tercatat 11,13% penduduk Indonesia atau tepatnya 28,51 juta penduduk Indonesia berada dibawah garis kemiskinan dengan indeks ketimpangan gini yang tinggi mencapai 0,4. Kesejahteraan kota dan desa pun semakin timpang. Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan bantuan Beras Miskin atau Raskin yang digadang-gadang menjadi upaya mutakhir penanggulangan kemiskinan justru dalam praktiknya jauh dari kata tepat sasaran. Bantuan yang seharusnya ditujukan untuk penduduk miskin justru terjadi miss targeting karena juga dinikmati oleh kalangan yang tidak berhak menikmati, hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang didapat oleh SMERU

Research Institute, sebagai berikut;

Dewasa ini, penggusuran di kota-kota juga menjadi isu yang santer didengar. Penggusuran dilakukan dengan dalil penataan dan pengembangan kota, sehingga masyarakat yang hidup pada tempat yang dianggap bukan tempatnya atau di tempat-tempat yang akan dikembangkan, akan dipindahkan ke tempat lain. Namun di lain sisi, tenda-tenda pengungsi serta orasi-orasi korban gusuran yang menolak

38


direlokasi pun kerap muncul menjadi highlight di berbagai media berita. Lantas mengapa penolakan tersebut dapat terjadi? padahal pemerintah sesumbar bahwa tempat tinggal dan fasilitas yang disediakan jauh lebih layak daripada tempat tinggal korban gusuran sebelumnya. Adanya dua kasus tersebut merupakan salah satu indikasi adanya kesalahan dalam memahami pembangunan itu sendiri. Pembangunan masih dimaknai sebagai pembangunan materil dengan orientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar (basic-

needs approach). Pembangunan yang pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat, sudah semestinya dikembalikan pada harkatnya sebagai sebuah proses pembangunan manusia yang bukan hanya didasarkan pada pemenuhan kebutuhan materil melainkan pemenuhan hak sebagai seorang manusia yang seutuhnya (right based approach). Pembangunan berdasarkan right-based approach adalah sebuah kerangka yang mengintegrasikan norma, prinsip, standar, dan tujuan dari sistem internasional hak asasi manusia dalam rencana dan proses pembangunan. Menurut UndangUndang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang disebut sebagai Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, dan pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Hak tersebut tidak dapat direnggut oleh pihak manapun. Hak asasi manusia terdiri atas kesatuan hak sipil, politik, sosial, ekonomi, budaya, dan hak kolektif. Sehingga kesatuan hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan satu dengan yang lainnya. Dalam undang-undang tersebut dijamin hak asasi manusia antara lain; hak untuk hidup aman, damai, sejahtera lahir dan batin, hak memperoleh keadilan, hak atas rasa aman, hak atas kesejahteraan, dan hak asasi lainnya. Sehingga peran pemerintah jelas yakni sebagai pelaksana undang-undang tersebut.

39


Dalam pembangunan yang didasarkan pada pendekatan hak asasi manusia, salah satu elemen kunci pengimplementasian pembangunan adalah pada partisipasi dan pemberdayaan masyarakat. Pembagunan difokuskan pada masyarakat sebagai pemilik hak dan pelaku pembangunan atau aset pembangunan bukan hanya sebagai objek atas program pembangunan dalam rangka pemenuhan kebutuhan seperti pada basic-needs approach, sehingga pembangunan yang dilakukan merupakan perwujudan dari pastisipasi aktif masyarakat untuk mengubah hidup, memperbaiki kondisi, serta menentukan kehidupan di masa mendatang secara mandiri. Maka peran pemerintah dalam hal ini difokuskan pada peningkatan kualitas dan kapasitas masyarakat untuk dapat memainkan peran dalam pembangunan. Pada basic-needs approach, pemecahan masalah pembangunan hanya terfokus pada penyebab masalah sesaat, sehingga produk pembangunan yang dihasilkan tidak berkelanjutan. Sedangkan dengan right-based approach, pemecahan masalah pembangunan difokuskan pada penyebab struktural dan menifestasinya, sehingga produk pembangunan lebih kokoh dan berkelanjutan. Bantuan

subsidi

kebutuhan

pokok

merupakan

salah

satu

produk

pembangunan dengan basic needs approach, masyarakat miskin disuapi dengan kebutuhan dasar yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Jika subsidi terus dilakukan tanpa adanya upaya memberdayakan masyarakat untuk mandiri memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, maka subsidi hanya akan menimbulkan ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah. Lantas jika hal tersebut terjadi, akan timbul pertanyaan, sampai kapan subsidi harus terus dilakukan? dan sampai kapan pula negara mampu menanggung beban ketergantungan tersebut? Pada akhirnya, pembangunan perlu diarahkan untuk membuat masyarakat dapat mandiri memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Hal tersebut dapat dilakukan diantaranya dengan intensifikasi pertanian, penyediaan lahan garapan untuk masyarakat, edukasi pertanian yang meliputi cara bercocok tanam yang baik, penyediaan bibit unggul, perbaikan sistem irigasi, serta teknologi pertanian yang menunjang efisiensi dalam

40


bercocok tani, serta dilengkapi dengan kebijakan-kebijakan pendukung lainnnya yang pro terhadap petani. Tentu hal tersebut tidak mudah dan tidak murah. Namun, dengan perbaikan sistem pertanian dalam negeri akan membawa dampak perubahan kemandirian jangka panjang yang dapat diturunkan hingga ke generasigenerasi berikutnya. Salah satu negara yang berhasil dalam sektor pertanian khususnya produksi beras adalah negara Thailand. Kunci keberhasilan terletak pada kebijakan pertanian yang terintegrasi dan pro petani. Di sana, tidak ada lahan pertanian yang boleh dikonversikan menjadi wilayah industri atau perumahan. Pemerintah membentuk Komite Kebijakan Beras Nasional yang bertugas membuat dan mengajukan kebijakan dan strategi terkait beras. Terdapat pula Kementerian Pertanian dan Koperasi yang memiliki departemen khusus untuk beras dengan tugas antara lain; membuat analisis dan kajian bagi kebijakan pemerintah, meneliti varietas baru padi dan teknologi terkait, alih teknologi ke petani, mengembangkan produksi, serta mendukung sistem pasca produksi. Kerajaan pun mendukung penuh melalui Yayasan Beras Thailand yang berperan penting dalam penelitian dan pengembangan padi dan beras serta kesejahteraan petani. Kebijakan perdagangan beras yang ditetapkan juga dapat menjaga harga beras stabil sehingga tidak menjadi persoalan inflasi. Kolaborasi yang baik antara pemerintah, kerajaan, dan petani tersebut membuat Thailand berhasil memberdayakan bangsanya melalui petanian khususnya beras. Indonesia merupakan negara yang sangat potensial untuk mengembangkan sektor pertanian sebagaimana yang telah dilakukan oleh Thailand. Sedangkan dalam kasus penggusuran di atas, agaknya pemerintah lupa bahwa dalam tempat yang digusur atau direlokasi bukan hanya terdiri atas bangunan kumuh yang dengan mudah penghuninya dapat dipindahakan dari satu tempat ke tempat lain. Pemerintah lupa bahwa di tempat tersebut terdapat ruang hidup yang menjadi hak dasar bagi kehidupan manusia, yang menyangkut lingkungan alam, hubungan sosial, hubungan timbal-balik, hubungan dagang, dan lain sebagainya,

41


yang

dengan

menghilangkannya

berarti

menghilangkan

ruang

kehidupan

pemiliknya. Dalam salah satu kasus penggusuran, yakni penggusuran di daerah Rawajati, Jakarta Selatan sebanyak 60 kepala keluarga digusur dan direlokasi ke Rusun Marunda, Jakarta Utara. Relokasi dilakukan oleh pemerintah kota Jakarta Selatan lantaran wilayah yang ditempati warga merupakan jalur hijau dan akan dikembalikan pada fungsinya semula, keberadaan warga beserta aktivitas perekonomian ditempat tersebut dianggap memperparah terjadinya kemacetan. Selain Rusun Marunda, warga korban gusuran juga direlokasi tempat usahanya di Pasar Tebet Jakarta Selatan. Warga menolak relokasi tersebut dan melakukan perlawanan dengan membangun tenda di lokasi penggusuran. Alasannya sederhana, tempat tinggal warga dipindahkan di tempat yang jauh dari lokasi usaha (Rusun Marunda di Jakarta Utara dan Pasar Tebet di Jakarta Selatan), Apalagi, sebagian besar usaha yang dilakukan adalah berdagang makanan dan minuman yang keuntungannya tidak akan sebanding

dengan

biaya

operasional

dari

rusun

menuju

pasar,

sehingga

kekhawatiran warga jelas bahwa keadaan ekonomi keluarga tidak terjamin pasca terjadi relokasi. Belum lagi biaya sewa rusun dan pasar hanya digratiskan untuk tiga bulan pertama. Lantas bagaimana jika usaha warga korban gusuran tidak berjalan di tempat yang baru dan tidak memiliki kemampuan untuk membayar sewa rusun? Maka konsekuensi logis adalah pengusiran dari rusun tersebut. Pemerintah dalam hal ini telah mencabut warga dari ruang hidupnya, mencabut warga dari hubungan sosial dan hubungan timbal-balik dengan lingkungannya, hubungan pedagang dengan pembeli setianya, hubungan anak-anak dengan kawan bermainnya, serta hak atas hidup aman, damai sejahtera lahir dan batin, hak mendapat perlindungan negara, dan lainnya, yang merupakan hak asasi warga korban gusuran Rawajati yang tidak dipertimbangkan dalam pengambilan kebijakan penggusuran tersebut. Jika pembagunan dikembalikan pada hakikatnya sebagai pembangunan manusia, penataan kota dapat dilakukan bukan hanya dengan menggusur warga

42


yang dianggap membuat kerusuhan atau kekumuhan di kota, melainkan dengan melakukan penataan dan pemberdayaan di wilayah tersebut dengan kebijakan renovasi, bukan hanya relokasi. Beberapa contoh nyata sukses penataan kota yang dapat dijadikan sebagai rujukan, di antaranya penataan kawasan Kali Code, Yogyakarta. Hal yang pertama kali diubah dalam proses penataan kawasan Kali Code adalah masyarakatnya. Melalui berbagai pendekatan, edukasi masyarakat dilakukan dengan tujuan mengubah pola pikir masyarakat tentang kehidupan dan lingkungan. Perubahan pola pikir yang lebih baik meningkatkan kesadaran akan lingkungan yang lebih baik sehingga warga berhasil menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk; di antaranya sifat apatis terhadap lingkungan, kebiasaan membung sampah di sungai, dan lain sebagainya. Hal penting selanjutnya yang dilakukan adalah penguatan struktur sosial masyarakat, yakni dengan memperkuat struktur kelembagaan dan kolektivitas atau solidaritas di dalam masyarakat Kali Code. Kedua hal tersebut merupakan proses pembangunan manusia yang tidak dapat dilakukan secara instan, butuh waktu bertahun-tahun untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan hidup masyarakat Kali Code, sehingga konsistensi, kesungguhan, dan totalitas menjadi faktor penting penentu keberhasilan tersebut. Jika manusianya sudah diubah, maka penataan yang bersifat fisik, seperti renovasi bangunan dan infrastruktur akan lebih mudah dilakukan. Keberhasilan tersebut tak terlepas dari adanya kerja sama yang kuat antara pemerintah dan masyarakat. Dari pihak masyarakat, terdapat perorangan maupun lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang memposisiskan diri sebagai bagian dari masyarakat Kali Code itu sendiri. Sehingga pendekatan-pendekatan yang diberikan kepada masyarakat lebih mendalam dan dapat lebih mudah diterima oleh masyarakat. Dari pihak pemerintah sebagai pemberi legalitas dan mediator, kebijakan yang diambil searah dengan masyarakat yang berjuang dari dalam. Pemerintah dalam menangani Kawasan Kali Code membentuk visi yakni; pertama, menjadikan kawasan bantaran Sungai Code, meskipun berkepadatan tinggi tetapi

43


tetap layak huni serta mempunyai sarana dan prasarana yang memadai; kedua, pola pemanfaatan tempat tinggal di kawasan tersebut sekaligus sebagai tempat bekerja; dan ketiga, menjadikan kawasan tersebut sebagai pendukung kawasan Malioboro. Dari visi tersebut, terlihat bahwa pemerintah daerah setempat menyadari bahwa ditempat tersebut, selain untuk tempat tinggal juga digunakan untuk tempat bekerja, sehingga ruang hidup tersebut sebagai hak asasi warga tidak dapat dengan seenaknya dicabut dari pemiliknya. Pemerintah dalam melakukan penataan juga tidak menggunakan cara penggususran, melainkan menjadikan Kawasan Code sebagai tempat layak huni dengan sarana dan prasarana yang memadai. Tanpa adanya ancaman penggusuran, masyarakat akan lebih dapat menerima program penataan dari pemerintah. Kedua contoh kebijakan diatas diapaparkan dengan komparasi kebijakan pembangunan manusia dengan menggunakan right-based approach sehingga dapat dilihat perbedaan diantara keduanya. Demi memperjuangkan hak asasi manusia yang dimiliki warga negara sebagaimana dijamin dalam undang-undang dasar 1945, dibutuhkan pemahaman yang komprehensif dalam pengambilan kebijakan terkait pembangunan.

Jangan

sampai

pembangunan

yang

pada

dasarnya

untuk

meningkatkan kualitas hidup masyarakat, justru menyengsarakan masyarakat. Pembangunan harus dikembalikan pada hakikatnya yakni membangun manusia seutuhnya, sehingga kebijakan-kebijakan terkait pembangunan harus diarahkan menuju tujuan tersebut. Pembangunan manusia merupakan investasi jangka panjang yang tidak dapat dicapai dengan instan, sehingga dibutuhkan keseriusan, konsistensi, serta totalitas dari segenap pelaku pembangunan. Dalam hal ini dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Aji, Priasto. 2015. Summary of Indonesiaâ€&#x;s Poverty Analysis ADB Papers On Indonesia

No. 04. Manila: Asian Development Bank.

44


Ayodiya, Natalia. 2014. Model Kebijakan Permukiman Kampung Code Utara di Tepi

Sungai Code. Semarang: Biro Penerbit Planologi Undip. Badan Pusat Statistik. 2016. Berita Resmi Statistik No. 05/01/Th. XIX, Profil Kemiskinan

Dd Indonesia September 2015. Jakarta, Indonesia. Departemen Sosial Republik Indonesia. 2009. Mengintegrasikan Pendekatan Berbasis

Hak ke dalam Kinerja Depsos Workshop Manual. Bandung, Indonesia. Hastuty, dkk. 2012. Tinjauan Efektivitas Pelaksanaan Raskin dalam Mencapai Enam

Tepat. Jakarta: The SMERU Research Institute. Kirkemann Boeson, J., & Martin, T. 2007. Applying a Rights –Based Approach: An

Inspirational Guide for Civil Society. Copenhagen K: The Danish Institute for Human Rights. Korves, Ross. 2012. “Kebijakan Beras dalam Negeri Thailand.” Global Farmer Network. http://globalfarmernetwork.org/id/2012 /02/thailands-domestic-rice-policiesupset-trade-patterns/. Diakses pada 30 Oktober 2016. Ninuk.

2011.

Belajar

dari

Thailand

dan

Vietnam.

http://regional.kompas.com/read/2011/08/19/02212945/Belajar.dari.Thailand. dan.Vietnam. Diakses pada 30 Oktober 2016. Robertus

Belarminus,

Robertus.

2016.

Penggusuran

di

Rawajati.

http://megapolitan.kompas.com/read/2016/08/31/15195861/ini.alasan.permu kiman.warga.rawajati.akan.digusur. Diakses pada 30 Oktober 2016 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia. Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (YIPD). Penanganan Permukiman Bantaran

Sungai Code. www.yipd.or.id/files/Best_Practice/kali%20code-short.pdf. Diakses tanggal 30 Oktober 2016.

45


Puji Rahayu Ilmu Hubungan Internasional, 2014. Departemen Penulisan

“Always be grateful. For despite what happens, life is beautiful. And God is Listening.”

Puji Rahayu merupakan perempuan kelahiran Kota Apel, Malang, 8 April 1996. Penulis esai berjudul “Menyoal Dimensi Pendidikan dalam Human Development: Perpustakaan Digital sebagai Solusi Rendahnya Minat Baca di Indonesia” ini aktif di KSM Eka Prasetya UI dan menjabat sebagai kepala departemen penulisan. Di waktu senggangnya, Puji juga aktif menjadi blogger buku dan tergabung dengan komunitas Blogger Buku Indonesia. Terakhir, Puji bercita-cita ingin menjadi professional reviewer di bidang penerbitan.

46


MENYOAL DIMENSI PENDIDIKAN DALAM HUMAN DEVELOPMENT: PERPUSTAKAAN DIGITAL SEBAGAI SOLUSI RENDAHNYA MINAT BACA DI INDONESIA ―Economic growth without investments in human development is unsustainable – and unethical.‖—Amartya Sen.

I

su pembangunan menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi suatu negara berkembang. Dengan adanya pembangunan di berbagai bidang, negara tersebut

dapat mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi. Akan tetapi, di Indonesia, pembangunan yang dilakukan belumlah maksimal. Salah satu permasalahan terbesar bagi pembangunan di Indonesia adalah human development. Merujuk pada apa yang dinyatakan oleh Amartya Sen, pertumbuhan ekonomi tanpa diiringi investasi dalam human development hanya akan menjadi pembangunan yang tidak berkelanjutan dan tidak etis. Tulisan

ini

merupakan

bentuk

esai

menganai

permasalahan

human

development di Indonesia. Fokus dari esai ini adalah dimensi kedua dari human development, yakni dimensi pendidikan yang diturunkan menjadi minat baca masyarakat Indonesia. Pendapat utama penulis adalah, adanya inovasi di bidang perpustakaan secara tidak langsung dapat meningkatkan minat baca masyarakat karena mudahnya akses informasi yang disediakan. Secara keseluruhan, esai ini terbagi menjadi empat bagian. Bagian pertama, penulis akan menjelaskan definisi serta indikator dari human development; bagian kedua merupakan pemaparan dari rendahnya minat baca di Indonesia beserta penyebabnya; bagian ketiga berisi solusi yang ditawarkan oleh penulis esai ini; dan bagian terakhir berisi kesimpulan.

Human development: Upaya Pembangunan di Berbagai Bidang

47


Pembangunan merupakan sebuah proses yang identik dengan pertumbuhan. Akan tetapi, pembangunan tidak hanya tentang pertumbuhan, tapi juga perubahan, khususnya dalam bidang sosial. Menurut Todaro (2000), pembangunan didefinisikan sebagai proses peningkatan kualitas hidup manusia dalam tiga hal utama: (1) meningkatkan derajat hidup manusia melalui ketahanan; (2) menciptakan situasi yang kondusif untuk menumbuhkan harga diri seseorang; dan (3) meningkatkan kebebasan

individu

pembangunan.

untuk

Dengan

berpikir,

demikian,

bertindak,

pembangunan

dan

berpartisipasi

dapat

diartikan

dalam sebagai

peningkatan kualitas hidup manusia di berbagai bidang secara keseluruhan.

Human development merupakan salah satu bentuk pembangunan yang dikejar oleh berbagai negara, khususnya negara berkembang. Dalam human

development ada tiga komponen yang diukur. Pertama, pembangunan sosioekonomi, perubahan kebudayaan emansipatif, dan demokrasi. Ketiga komponen dari

human development ini berfokus pada pilihan manusia. Sehingga, human development dalam masyarakat berarti menumbuhkan pilihan manusia pada tingkat masal (Welzel, Inglehart, dan Klingemann, 2003: 345-6). Lalu, human development ini dapat diukur dengan Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP. Biasanya, HDI menjadi acuan dalam menentukan tingkat kesejahteraan suatu negara. Menurut UNDP, HDI adalah pengukuran rata-rata dari dimensi human

development. Dimensi yang diukur dalam indeks ini adalah: kesehatan, pendidikan, dan standar hidup. HDI dibuat untuk menaksir tingkat pembangunan dari sebuah negara. Perbedaan antara HDI dengan skala ukur pembangunan lainnya adalah HDI tidak hanya melihat tingkat pertumbuhan ekonomi dalam mengukur pembangunan, tapi juga aspek lainnya. Dimensi kesehatan dalam indeks ini diukur dari tingkat harapan hidup pada saat kelahiran. Kemudian, dimensi pendidikan diukur dari ratarata pendidikan yang didapat serta sejauh mana kemungkinan seseorang mendapatkan pendidikan. Terakhir, dimensi standar hidup diukur dari seberapa besar pendapatan nasional per kapita. Ketiga dimensi ini akan saling mempengaruhi HDI

48


secara keseluruhan. Sehingga, apabila salah satu dimensi tidak mencapai standar, kemungkinan HDI suatu negara akan menjadi rendah.

Gambar 1 Human Development Index (HDI) Sumber: UNDP, 2015.

Nilai HDI Indonesia pada tahun 2014 adalah 0.684, menyebabkan Indonesia berada pada kategori medium. Dengan nilai tersebut, Indonesia menempati posisi 110 dari 188 negara (UNDP, 2015). Meskipun berada pada kategori medium, posisi Indonesia masih mengkhawatirkan. Indonesia belum termasuk dalam kategori negara tingigi. Apalagi, sudah hampir tiga tahun Indonesia berada di posisi yang sama. Hal ini menunjukkan adanya stagnansi dari pembangunan yang dilakukan oleh Indonesia. Maka dari itu, masih diperlukan peningkatan dan pembangunan di berbagai bidang untuk meningkatkan HDI Indonesia.

Persoalan Dimensi Pendidikan dalam Human Development: Rendahnya Minat Baca di Indonesia Salah satu dimensi yang masih menjadi permasalahan di Indonesia adalah dimensi pendidikan. Salah satu indikator dalam dimensi ini adalah minat baca mayarakat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut

University, Indonesia mendapatkan posisi 60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Posisi tersebut berada setingkat di atas Botswana dan setingkat di bawah Thailand (The Jakarta Post, 2016). Tentunya, posisi ini bukanlah posisi yang dapat dibanggakan oleh Indonesia. Semakin rendah suatu minat baca, maka semakin rendah pula HDI suatu negara. Dengan demikian, Indonesia akan kesulitan mencapai tingkat kesejahteraan yang dicanangkan.

49


Pengertian dari minat baca merujuk pada persepsi pembaca terhadap tingkat ketertarikan pada aktivitas membaca. Minat baca juga merujuk pada keyakinan bahwa aktivitas membaca merupakan aktivitas yang menyenangkan (Thomas dalam Scott, 2014). Sehingga, minat baca merupakan bentuk manifestasi kesenangan seseorang terhadap aktivitas membaca. Aktivitas membaca yang dimaksud bukan hanya membaca buku teks ataupun buku-buku bersifat akademis, tapi membaca berbagai macam bentuk bacaan mulai dari surat kabar, majalah, hingga karya fiksi (novel, puisi, naskah drama, dan lainnya). Seseorang dikatakan sudah memiliki minat baca apabila orang tersebut sudah memiliki kecenderungan untuk tertarik pada kegiatan membaca. Kemudian, ketertarikan itu diwujudkan dalam kegiatan membaca secara berkelanjutan (Putri, 2010: 29). Pada dasarnya, permasalahan dari rendahnya minat baca seseorang adalah aliterasi, keadaan saat seseorang yang memiliki kemampuan untuk membaca tapi tidak memiliki motivasi untuk membaca (Moser dan Morrison, 1998: 233). Pada dasarnya, banyak sekali faktor yang mempengaruhi rendahnya minat baca di Indonesia. Dalam tulisannya, Mustafa (2012) menyatakan ada lima faktor utama yang menyebabkan rendahnya mincat baca di Indonesia. Kelima faktor tersebut adalah, rendahnya ketersediaan infrasruktur untuk membaca, sulitnya mengakses buku dan bahan bacaan tertentu di perpustakaan, mahalnya harga buku, kurangnya dukungan orang tua dan guru terhadap anak-anak untuk membaca, dan adanya dominasi kebudayaan oral di Indonesia. Rendahnya ketersediaan infrastruktur untuk membaca ditandai dengan kurangnya perpustakaan maupun taman bacaan di suatu daerah. Meskipun perpustakaan

tersebut

sudah

ada,

fasilitas

yang

disediakan

cenderung

memprihatinkan dan tidak dapat memuaskan pengguna. Selain jumlah koleksi yang sedikit, tak banyak perpustakaan yang mendapat perawatan dan perhatian yang maksimal. Koleksi yang lapuk dan ruang baca yang tidak nyaman ditempati. Lalu, hanya sedikit pustakawan yang bekerja penuh waktu dan memahami sistem

50


manajemen dan informasi dari perpustakaan itu sendiri. Sehingga, perpustakaan menjadi tidak maksimal fungsinya. Kemudian, permasalahan lainnya adalah, masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa buku merupakan kebutuhan mewah. Hal ini disebabkan oleh mahalnya harga buku di Indonesia. Permasalahan ini pada dasarnya disebabkan oleh faktor geografis. Ongkos produksi dan distribusi buku di Indonesia tergolong mahal (Nusantaranews, 2016). Harga buku di Pulau Jawa bila dibandingkan dengan harga buku di Pulau Kalimatan maupun Sulawesi akan jauh berbeda. Pendistribusian ke daerah-daerah tersebut memang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Hal ini jugalah yang menyebabkan harga buku impor di Indonesia tidak ramah bagi kantong sebagian besar masyarakat Indonesia. Penyebab lainnya dari mahalnya buku Indonesia adalah harga kertas yang semakin merangkak naik. Harga kertas di Indonesia ditentukan menggunakan mata uang dolar. Otomatis, harga kertas menjadi melambung dan semakin meningkatkanya biaya produksi. Selain faktor di atas, ada pula faktor derasnya arus hiburan melalui media elektronik, kuatnya daya tarik dari kegiatan yang bersifat hura-hura, dan mental anak atau kondisi lingkungan yang tidak mendukung untuk membaca (Putri, 2010: 16). Dengan berbagai faktor yang begitu kompleks tidak heran apabila minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Masyarakat di Indonesia masih menganggap kegiatan membaca merupakan kegiatan yang membosankan dan bersinggungan dengan akademik. Sehingga, masyarakat banyak yang enggan untuk meluangkan waktunya untuk membaca.

Perpustakaan Digital Sebagai Solusi yang Ditawarkan Kurangnya ketersediaan infrastruktur untuk membaca selalu menjadi keluhan masyarakat. Dalam satu daerah, biasanya hanya terdapat satu perpustakaan daerah. Akibatnya,

perpustakaan daerah tersebut tidak dapat mengimbangi jumlah

penduduk di daerah tersebut. Otomatis, kurangnya ketersediaan infrastruktur ini

51


selalu dikeluhkan oleh sebagian besar masyarakat. Maka dari itu, perpustakaan harus mengikuti perkembangan teknologi informasi yang serba dinamis (Subakti, 2016). Salah satu solusi yang ditawarkan oleh pemerintah adalah perpustakaan digital. Sering kali, perpustakaan digital disebut sebagai perpustakaan elektronik atau virtual. Perpustakaan digital dapat diartikan sebagai bentuk pengembangan perpustakaan fisik di masyarakat yang banyak dipengaruhi oleh teknologi informasi (Marchionini, 1998). Selain itu, perpustakaan digital merupakan bidang penelitian dan praktik dari berbagai disiplin keilmuan dan profesi, yakni komputer, ilmu informasi dan perpustakaan, penerbitan, sektor kebudayaan, serta pendidikan. Definisi lainnya dari perpustakaan digital adalah suatu sistem dan jasa yang tersedia untuk mendukung pengembangan pendidikan dan kebudayaan secara daring. Perpustakaan digital selalu dicirikan memiliki berbagai koleksi dalam bentuk digital (Calhoun, 2014). Sehingga, masyarakat tidak perlu kesulitan dalam mendapatkan buku, artikel jurnal, ataupun bahan bacaan lainnya. Masyarakat hanya perlu menggunakan gawai yang mereka miliki untuk mengakses perpustakaan digital. Menjawab tuntutan tersebut, Perpustakaan Nasional Indonesia dan beberapa Badan Perpustakaan Arsip Daerah (BPAD) di Indonesia mengembangkan bentuk perpustakaan digital yang dapat diakses oleh semua orang secara mudah dan gratis. Bentuk-bentuk dari perpustakan digital ini adalah aplikasi yang dapat diunduh secara gratis

oleh

semua

orang.

Contoh

dari

perpustakaan

digital

yang

sudah

dikembangkan adalah iPusnas, iJakarta, iJogja, iPekanbaru, dan lainnya.

Pada

akhirnya, berbagai macam aplikasi perpustakaan digital ini menjadi jawaban bagi kurangnya ketersediaan infrastruktur untuk membaca yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Perpustakaan digital yang dibuat oleh Perpustakaan Nasional Indonesia dan BPAD setempat memang mengembangkan inovasi dari perpustakaan fisik. Dalam mengakses keseluruhan buku di perpustakaan tersebut, seseorang harus mendaftar sebagai anggota perpustakaan. Baru kemudian ia dapat melakukan peminjaman

52


buku. Saat melakukan peminjaman buku, pengguna hanya diberi waktu beberapa hari untuk membaca. Kemudian, apa bila sudah jatuh tempo dari waktu yang diberikan, maka buku yang dipinjam tidak dapat diakses kembali oleh pengguna. Dengan demikian, jelas bahwa perpustakaan digital benar-benar mengadopsi sistem dari perpustakaan fisik. Perbedaannya, keseluruhan dari sistem tersebut berjalan secara digital.

Gambar 2 Aplikasi iJakarta. Perpustakaan digital yang dikembangkan oleh BPAD, DKI Jakarta. Sumber: Tech in Asia, 2015.

Perpustakaan digital juga dapat menjadi solusi dari mahalnya harga buku yang dijual di pasaran. Dalam mengakses perpustakaan digital, pengguna tidak dikenakan biaya sama sekali alias gratis. Dengan adanya kemudahan ini, diharapkan pengguna dapat mengakses buku sebanyak-banyaknya melalui gawai masingmasing. Apalagi, perpustakaan digital yang dikembangkan oleh Perpustakaan Nasional Indonesia dan BPAD ini telah bekerja sama dengan beberapa penerbit besar di Indonesia. Sehingga, akses terhadap koleksi perpustakaan menjadi lebih lengkap. Masyarakat yang sudah menganggap gawai sebagai kebutuhan primer, tentunya akan dimudahkan dengan adanya perpustakaan digital. Masalah kurangnya waktu yang dimiliki oleh seseorang untuk pergi ke perpustakaan fisik, telah terpecahkan dengan adanya perpustakaan digital yang diakses kapan saja dan dimana saja. Sayangnya, tidak semua orang mengetahui keberadaan dari perpustakaan digital ini. Mungkin benar apabila orang-orang yang tergabung dalam komunitas

53


buku tertentu seperti Goodreads Indonesia dan Blogger Buku Indonesia mengetahui keberadaan dan manfaat dari perpustakaan digital ini. Akan tetapi, banyak sekali orang awam yang belum mengetahui keberadaan perpusatakaan digital. Padahal, apabila perpustakaan digital ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, masyarakat akan lebih mudah dalam mengakses informasi dan pada akhirnya dapat menaikkan minat baca masyarakat di Indonesia. Dengan permasalahan tersebut, seharusnya pemerintah, khususnya pihak Perpustakaan Nasional Indonesia dan BPAD setempat, dapat lebih gencar lagi dalam mempromosikan perpustakaan digital yang mereka gagas. Dengan demikian, keberadaan dari perpustakaan digital ini dapat diketahui dan dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.

Kesimpulan Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki nilai HDI yang cukup rendah. Hal ini salah satunya disebabkan oleh rendahnya minat baca di Indonesia yang mempengaruhi dimensi pendidikan dalam HDI. Persoalan mengenai rendahnya minat baca di Indonesia telah banyak dibahas dalam berbagai diskusi maupun seminar. Oleh karena itu, permasalahan ini harus segera diselesaikan. Untuk menanggulangi hal tersebut, Perpustakaan Nasional Indonesia dan BPAD beberapa daerah mulai mengembangkan perpustakaan digital berbentuk aplikasi yang dapat membantu masyarakat Indonesia untuk meningkatkan minat baca mereka. Adanya perpustakaan digital ini dapat menjadi salah satu solusi yang ditawarkan oleh pemerintah untuk meningkatkan HDI. Sayangnya, keberadaan dari perpustakaan digital ini belumlah dimanfaatkan secara maksimal karena belum adanya sosialisasi secara keseluruhan pada masyarakat. Akibatnya masyarakat masih banyak yang belum mengetahui keberadaan perpustakaan digital. Dengan demikian, pemerintah diharapkan dapat melakukan sosialisasi secara luas mengenai perpustakaan digital agar masyarakat dapat memanfaatkan perpustakaan digital secara maksimal.

54


DAFTAR PUSTAKA “Harga Buku Mahal Penyebab Minimnya Niat Baca Anak Indonesia.” Nusantaranews, 6

September

2016.

Diakses

pada

tanggal

29

Oktober

2016.

http://nusantaranews.co/harga-buku-mahal-penyebab-minimnya-niat-bacaanak-indonesia/. “Human Development Index (HDI).” United Nations Development Programme, 2015. Diakses pada 29 Oktober 2016, http://hdr.undp.org/en/content/humandevelopment-index-hdi. “Indonesia ranks second-last in reading interest: Study.” The Jakarta Post, 29 Agustus 2016.

Diakses

pada

tanggal

29

Oktober

2016,

http://www.thejakartapost.com/life/2016/08/29/indonesia-ranks-secondlast-in-reading-interest-study.html. Calhoun, Karen. 2014. Exploring Digital Libraries: Foundation, Practice, Prospects. London: Facet Publishing. Marchionini, Gary. 1998. Encyclopedia of Library and Information Science, vol. 63. Moser, Gary P. dan Morrison, Timothy G. Maret/April 1998. “Increasing Students‟ Achievement and Interest in Reading.” Reading Horizons, volume 38, no. 4, hlm. 233-245. Mustafa, B. “Indonesian People Reading Habit is Very Low: How Libraries can Enhance the People Reading Habit.” Perpusnas, 2012. Diakses pada tanggal 29

Oktober

2016,

http://consalxv.perpusnas.go.id/uploaded_files/pdf/papers/normal/ID_B_Mus tafa-paper-reading-habit.pdf . Putri, Savira Anchatya.. Peningkatan Minat dan Budaya Baca Masyarakat: Upaya

Forum Indosia Membaca dalam Bersinergi menuju Masyarakat Melek Informasi. Skripsi, Universitas Indonesia, 2010. Diakses pada 29 Oktober

55


2016.

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20160927-RB13S42pe-

Peningkatan%20minat.pdf. Scot, Squires. 2014. “The Effects of Reading Interest, Reading Purpose, and Reading Maturity on Reading Comprehension of High School Students.” Disertasi,

School of Education of Baker Univerity. Diakses pada 29 Oktober 2016, https://www.bakeru.edu/images/pdf/SOE/EdD_Theses/Squires_Scot.pdf. Todaro, Michael P. 2000. Economic Development. Utah: Addison Wesley. UNDP. 2015. “Human Development Report 2015: Indonesia.” Work

for Human

Development: Briefing Note for Countries on the 2015 Human Development Report.

United

Nations

Development

Programme.

Tersedia

di

http://hdr.undp.org/sites/all/themes/hdr_theme/country-notes/IDN.pdf. Diakses pada: 29 Oktober 2016. Welzel, Christian, Ronald Inglehart, dan Hans-Dieter Klingeman. 2003. “The Theory of Human Development: A Cross-cultural Analysis.” European Journal of

Political Research, vol. 42, no. 3. Hlm. 341-379.

56


Muhammad A.R. Ilmu Ekonomi Islam, 2015. Departemen Penelitian

“Man Jadda wa Jadda.”

Muhammad A.R. merupakan salah satu anggota dalam departemen penelitian KSM Eka Prasetya UI 2016. Selain aktif di KSM, laki-laki kelahiran Grobogan, 28 Agustus 1996, juga berkecimpung di Badan Otonom Economica. Penulis esai dengan judul “Rumah Washington (Waste Processing Installation): Pilar Kebersihan Desa Nusantara” ini hobi membca buku dan bercita-cita ingin menjadi profesor.

57


RUMAH WASHINGTON (WASTE PROCESSING INSTALLATION): PILAR KEBERSIHAN DESA NUSANTARA

P

ermasalahan sampah Indonesia menjadi ancaman yang serius. Sampah yang dihasilkan Indonesia secara keseluruhan mencapai 175.000 ton per hari atau 0,7

kilogram per orang. Sayangnya, pada 2014, data statistik sampah di Indonesia mencatat bahwa Indonesia menduduki negara penghasil sampah plastik kedua terbesar di dunia setelah Cina. Ini menjadi masalah serius ketika permasalahan ini belum mencapai titik terang. Jumlah sampah di Indonesia akan terus meningkat jika penanganan sampah belum serius. Diprediksikan, pada 2019, produksi sampah di Indonesia akan menyentuh 67,1 juta ton sampah per tahun. Kesadaran pemerintah dan masyarakat akan sampah harus digali agar terlepas dari permasalahan sampah. (Geotimes, R, 2015) Sementara rumah tangga yang sampahnya diangkut petugas/dibuang ke TPS/TPA dan rumah tangga yang sampahnya dijual ke pengumpul barang bekas, persentasenya masih relatif rendah yaitu berturut-turut sebesar 27,49 persen dan 15,67 persen. Rumah tangga yang tinggal di perkotaan lebih banyak membuang sampahnya dengan cara diangkut petugas/dibuang ke TPS/TPA yaitu sebesar 51,56 persen dibandingkan dengan rumah tangga yang tinggal di perdesaan yaitu hanya 3,59 persen. Hal ini disebabkan adanya perbedaan fasilitas yang ada di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan, seperti keberadaan TPS/TPA serta petugas pengangkut sampah yang biasanya difasilitasi oleh dinas kebersihan kota atau provinsi. (Sub Direktorat Lingkungan Hidup, 2014) Berdasarkan data hasil Susenas Modul Hansos 2014, kebiasaan rumah tangga di Indonesia dalam membuang sampah masih banyak yang tidak ramah lingkungan yaitu rumah tangga yang membuang sampah dengan cara dibakar tercatat sebesar

58


69,88 persen, dibuang sembarangan ke tanah lapang, kebun, dan lain-lain (21,64 persen), ditimbun/dikubur (18,07 persen), dan dibuang ke laut/sungai/got (11,51 persen). Sementara rumah tangga yang membuang sampah dengan cara lebih ramah lingkungan relative belum banyak, seperti membuang sampah dengan cara diangkut petugas/dibuang ke TPS/TPA sebesar 27,49 persen rumah tangga, dijual/diberikan kepada orang lain (15,67 persen), dijadikan makanan hewan/ternak (10,69 persen), dan didaur ulang/dibuat kompos (4,75 persen). Konsep Washington ini berawal dari Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang berada di Kota Depok. Sarana dan prasarana proses pengomposan di UPS berupa bangunan pengomposan, bangunan kantor, conveyor pemilahan dan mesin pencacah, mesin pencacah dan mesin penyaring kompos. UPS tersebut dibangun dan dikelola oleh Pemkot Depok, termasuk menyediakan tenaga kerja. Masingmasing UPS umumnya dijalankan oleh 14 orang tenaga kerja, termasuk 1 (satu) orang sebagai koordinator.

Gambar A Gundukan sampah Sumber : Dokumentasi Pribadi

Selain

proses

pengomposan,

di

dalam

UPS

dilakukan

juga

usaha

pengumpulan barang lapak, yaitu sampah anorganik yang laku dijual. Malahan usaha ini terlihat lebih diprioritaskan, dibandingkan dengan upaya untuk membuat kompos. Adapun tahapan proses pengomposan yang dilakukan adalah sebagai berikut: pemilahan sampah, pencacahan, penumpukan skala besar dengan tanpa

59


pembalikan dan penyiraman (pengomposan pasif), penumpukan skala kecil dengan pembalikan dan penyiraman (pengomposan aktif), penyaringan dan pengemasan. UPS ini cakupan wilayahnya hanya berada di Kota Depok dan sekitarnya. Meskipun banyak kelurahan yang terpencil dan jauh dari UPS belum terjangkau dengan baik. Meski demikian keberadaan ups ini sangat membantu para warga masyarakat Depok dalam menjaga dan melestraikan lingkungan bersih disekitar.

Gagasan Yang Ditawarkan

Mekanisme Pembuangan Sampah Desa Proses pembuangan sampah sendiri dimulai dari masyarakat memilah sampah yang non organik dan organik di tempat smaapah yang telah ditentukan. Tempat ini seperti ember dan tempat sampah lainnya. Kegiatan memilah sampai Selama 2 hari, Setelah itu warga mengumpulkan ke pos sampah RT sampah yang telah ditentukan sebelumnya oleh beberapa warga sebagai pos pengumpulan sampah. Sampah yang terkumpul di Post RT tersebut akan ada petugas yang pengambilan sampah yang nantinya akan dikirim di Rumah Washington di tingkat desa. perjalanan sampah ini terjadi pada semua jenis sampah organik, non organik maupun residu. Semua jenis sampah yang telah dipilah warga itu kemudian disetorkan dirumah sampah, dirumah sampah inilah sampah akan diolah hingga menjadi pupuk organik, kerajinan tangan dan sebuah hibah sampah. Warga masyarakat yang melakukan pengumpulan sampah ini akan mendapat insentif berupa pupuk organik gratis dan pemotongan harga dalam membeli kerajinan tangan hasil dari rumah Washington ini.

60


Gambar B Mekanisme Pembuangan Sampah Desa Sumber: Ilustatrasi Penulis

sum

Gambar C Tahapan Pembuangan Sampah Desa Sumber: Ilustatrasi Penulis

sum

Konsep Rumah Washington di Setiap Desa Nusantara Konsep rumah sampah ini hasil perpaduan dari bank sampah dan UPS di Kota Depok. Rumah Washington ini mengolah sampah organik dan non organik, sehingga terdapat 2 bagian utama yatu unit pengolahan sampah organik dan unit pengolahan sampah non organik. Pada bagian unit pengolahan sampah non organik memproduksi kerajinan tangan dari sampah dan menyediakan layanan bank sampah serta layanan hibah barang bekas yang masih terpakai. Hasil kerajinan tangan ini nantinya akan diperjual-belikan kepada masyarakat umunya, pada hibah sebarang

61


bekas ini, hasilnya akan diberikan modal pinjaman sesorang yang membutuhkan tanpa ada bunga sepeserpun. Pada unit pengolahan sampah organik, terdapat beberapa tahapan perlakuan sampah diantaranya penimbangan sampah, pemilahan sampah organik, pengilingan sampah membuat gundukan sampah dan pengemasan pupuk organik yang siap. Tahapan ini harus dijalani setiap sampah organik sebelum masuk pembentukan gundukan. Konsep gundukan kompos ini terdapat urutan dan perlakuan tersendiri dalam proses pembuatan kompos ini. Gundukan ini akan berjalan secara terus menerus contoh gundukan 1 nanti akan menjadi gundukan 2, kemudian gundukan 2 akan menjadi gundukan 3 dan seterusnya. Pada pemindahan ini terjadi setiap 1 minggu sekali, gundukan satu akan diisi sampah organik baru lagu. Setiap gundukan diberikan waktu maksimal 1 minggu dan diberi penanda tentang nomor gundukan, tanggal gundukan, berat gundukan supaya dapat teridentifikasi dengan baik. Dalam proses selama 1 minggu ini dengan dilakukan pengecekan setiap hari terhadap suhu. Jika suhunya rendah maka sesegera mungkin dibalik, jika kering juga disiram dan pembalikan ini yag dimaksud adalah pemindahan dari gundukan satu ke gundukan 2. Cirinya panen gundukan adalah ciri-cirinya gundukan memiliki sifat seperti tanah. Di sini tidak membutuhkan zat EM-4 dalam proses pengkomposan. Rumah Washington dapat diterapkan di setiap desa seluruh nusantara. Rumah ini memberi kelebihan tersendiri dari penduduk desa dan petugas rumah Washington. Berhubung dengan jumlah desa di Indonesia relative banyak dan kesadaraan menjaga lingkungan yang sangat minim di desa, mebuat kami mengkonsepkan rumah Washington ini diterapkan didesa. Selanjutnya tidak menutup kemungkinan jika konsep in berhasil untuk juga diterapkan dikelurahan, kota –besar. Konsep ini sejalan dengan usulan kami dalam gerakan one village one

Washington. Pengolahan Sampah Organik di Rumah Washington

62


Adapun tahapan proses pengolahan sampah organik adalah sebagai berikut: pemilahan sampah yang dilakukan oleh warga, lalu pencacahan, penumpukan skala besar dengan tanpa pembalikan dan penyiraman (pengomposan pasif), penumpukan skala kecil dengan pembalikan dan penyiraman (pengomposan aktif), penyaringan dan pengemasan. Berikut diagram alir proses pengolahan sampah organik desa.

sampah organik

pemilahan awal

pencacahan dan pemilahan lanjutan

penumpukan skala besar

kompos belum matang

penumpukan skala kecil

pembalikan

penyiraman

kompos matang kasar

penyaringan

kompos matang halus

pengemasan

Gambar E. Diagram aliran proses kompostin

Sebelum sampah diproses pada bagian atas, sampah terlebih dahulu ditimbang. Penimbangan ini sampah dicatat perolehan dari setiap Pos RT oleh petugas rumah washington. Proses pengomposan yang terjadi di rumah Washington ini perlu penjelasan yang lebih jauh, khususnya untuk proses komposting pasif dan proses komposting aktif. Proses komposting pasif dilakukan sebelum proses komposting aktif. Selanjutnya sampah dipilah, proses pemilahan ini terbagi menjadi 2 proses, pemilihan awal dan pemilihan lanjutan. Pada pemilahan lanjutan ini di ikuti proses pencacahan. Setelah sampah dicacah –cacah, lalu sampah didiamkan selama 1-2 hari. Tujuannya agar muncul induk jamur yang kecil-kecil disampah cacahan tadi. Kemudian sampah berjamur ini dikumpulkan di bentuk gundukan gunung pada sampah, lalu dilanjutan tanpa diikuti oleh proses pengadukan dan penyiraman. Proses ini dinamakan dengan proses pengomposan pasif, karena faktor utama yang dibutuhkan untuk suatu proses pengomposan aktif seperti kecukupan oksigen dan

63


kebutuhan air untuk suatu proses metabolisme mikroba yang optimal tidak dapat dipenuhi. Untuk itu, proses degradasi atau proses penguraian materi organik berlangsung lama. Biasanya materi organik berada dalam tumpukan besar kurang lebih sekitar 6 bulan, bahkan lebih, tergantung dari adanya permintaan kompos. Begitu ada permintaan kompos, maka materi organik yang berada dalam tumpukan besar, sebagian dipanen (diambil) untuk kemudian dibentuk menjadi tumpukan kecil dengan ukuran sekitar 2 m X 2 m X 1m. Di tumpukan kecil ini, materi organik diaduk untuk memberikan kecukupan oksigen, dan disiram untuk memenuhi kebutuhan air. Proses yang terjadi dinamakan dengan pengomposan aktif, dan berlangsung selama 2-3 minggu. Proses komposting biasanya diawali dengan fase aktif selama 2-4 minggu yang biasanya ditandai dengan terciptanya suhu yang tinggi (bisa mencapai 700 C-800 C) dan penurunan volume materi organik yang tinggi (sekitar 50% dan bahkan lebih). Setelah fase aktif ini maka aktivitas mikroorganisme menurun, sehingga disebut dengan fase pasif atau fase pematangan. Mengamati kondisi sekarang tentang pengolahan sampah di Indonesia yang kurang optimal dalam pelaksanaannya, sehingga banyak masalah-masalah sampah di Indonesia yang perlu penanganan khusus. Hal ini perlu adanya perbaikan dalam pengelolaan sampah. Penanganan ini dari mulai bentuk, sitem, dan tujuan dari pengelolaan sampah. Rumah Washington merupakan solusi yang tepat dalam pengolahan sampah organik dan non organik. Konsep ini sangat efektif dan efisien dalam pengolaan sampah agar menjadi berkah. Konsep ini menawarkan solusi inovati untuk mengajak masayarakat dalam meilah dan peduli akan sampah.

DAFTAR PUSTAKA Dewi, Rahmi Sari. (2008). Evaluasi Ekonomi dan Sosialunit Pengolahan Sampah (UPS)

Kota Depok. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Geotimes, R. (2015). 2019, Produksi Sampah di Indonesia 67,1 Juta Ton sampah Per

Tahun

|

GeoTimes.

[online]

64

GeoTimes.

Available

at:


http://geotimes.co.id/2019-produksi-sampah-di-indonesia-671-juta-tonsampah-per-tahun/ [Accessed 6 Mar. 2016]. Oktaria, Dinar, dan Sri Maryati. (2015). Studi Pengelolaan Persampahan Permukiman

Formal

dan

Informal

di

Kota

Depok.

Volume

4

Nomor

2.

http://sappk.itb.ac.id/jpwk2/wp-content/uploads/2015/09/Artikel-DinarOktaria-rev.pdf , 1 September 2015. Sahwan, Firman L. (2012). Analisis Proses Komposting pada Pengelolaan Sampah

Berbasis Masyarakat Skala Kawasan (Studi Kasus di Kota Depok). Jakarta : BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Sub Direktorat Statistik Lingkungan Hidup. (2014). Indikator Perilaku Peduli

Lingkungan Hidup 2014. 119-120

65


Yuhana Kinanah Farmasi, 2016 Member

“Do the Best!”

Yuhana Kinanah merupakan member KSM Eka Prasetya UI 2016. Penulis dengan esai berjudul “Pemanfaatan Daun Stevia sebagai Pemanis Pengganti Gula” ini lahir di Jakarta, 4 November 1998. Sejalan dengan program studi yang ia tempuh, Yuhana bercita-cita menajdi seorang farmasis sukses, sekaligus herbalis dan water-colorist. Di waktu senggangnya, Yuhana sering menghabiskan waktu dengan membaca komik atau novel serta melukis dan menggambar.

66


PEMANFAATAN DAUN STEVIA SEBAGAI PEMANIS PENGGANTI GULA

K

ebutuhan manusia akan pangan merupakan salah satu hal yang tidak dapat diabaikan. Selain sebagai kebutuhan primer, makanan merupakan bahan baku

utama bagi manusia untuk memproduksi energi dan memenuhi segala nutrisi yang diperlukan tubuh untuk dapat beraktivitas sehari-hari. Ibarat bensin yang sangat vital peranannya bagi kendaraan bermotor, makanan dan minuman berperan penting bagi tubuh manusia dalam mempertahankan kelangsungan hidup.

Apalagi

makanan-makanan manis yang banyak dicari sebagai makanan ringan. Kue merupakan salah satu contoh makanan yang banyak disukai oleh masyarakat. Tak hanya itu, kue biasanya dihidangkan di banyak acara seperti acara pernikahan, ulang tahun, dan acara lainnya. Akan tetapi, apabila kita telusuri lagi, kue mengandung kadar gula hingga sebesar 63 persen. Tentu saja angka tersebut cukup tinggi untuk dapat kita konsumsi secara aman tanpa ada efek samping. Gula sebagai pemanis banyak dikonsumsi oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, terlalu banyak mengonsumsi gula dapat menimbulkan efek yang merugikan kesehatan. Asupan gula yang tinggi dapat membuat pankreas bekerja keras untuk memproduksi insulin yang dibutuhkan dalam menormalkan kadar gula dalam darah. Produksi insulin yang berlebihan pada akhirnya dapat menimbulkan kelelahan pankreas sehingga produksi insulin menurun. Hal ini dapat berakhir dengan tingginya kadar gula dalam tubuh dan akan mengakibatkan diabetes. Konsumsi gula yang tinggi juga dapat menyebabkan gigi berlubang. Bakteri yang berada di mulut, seperti Streptococci mutans akan memfermentasikan gula menjadi asam. Asam ini menempel pada email gigi yang menyebabkan gigi berlubang. Kegemukan juga sering terjadi pada orang yang mengonsumsi gula tinggi. Gula dapat mempengaruhi keseimbangan hormonal yang mengakibatkan

67


peningkatan selera makan dan perkembangbiakan jaringan lemak dan selulit. Di samping itu, gula juga mempengaruhi metabolisme kalsium dalam tubuh. Osteoporosis dapat timbul karena adanya asimilasi kalsium yang dihubungkan dengan konsumsi gula yang berlebihan. Selain itu, konsumsi gula yang tinggi juga berdampak pada sintesis hormon yang berimplikasi langsung pada koordinasi aktivitas sistem imunitas. Hal ini mengakibatkan imunitas rendah yang dicirikan dengan meningkatnya kemampuan penerimaan tubuh terhadap beberapa penyakit seperti virus, cystitis, dan infeksi kulit. Penyakit lain yang ditimbulkan karena konsumsi gula dalam jumlah besar adalah alergi, sklerosis, gastritis, kolitis, siklus menstruasi yang tidak teratur, riketsia, anemia, sinusitis, rinitis, dan asthenia. Dalam perkembangannya, ilmuan meneliti adanya daun yang dapat digunakan sebagai pengganti pemanis gula dengan kadar yang tinggi. Daun Stevia dapat diambil sebagai salah satu solusi yang dapat mengatasi masalah tersebut. Ekstrak senyawa stevioside dan rebaudioside yang berasal dari Daun Stevia umum digunakan sebagai pemanis pengganti gula yang berasal dari sumber alami. Penggunaan Gula Stevia sebagai pemanis terutama banyak ditemukan di Jepang. Stevia digunakan di Jepang sejak tahun 1970. Ekstrak Stevia menjadi sangat populer dan sekarang digunakan sebagai pemanis secara komersial dengan pasar di atas 50 persen. Stevia digunakan sebagai pemanis mulai dari saus kedelai, sayur–sayuran, hingga minuman ringan. Sebagai pemanis alami non kalori, Gula Stevia memiliki tingkat kemanisan yang tinggi (sekitar 100-200 kali gula pasir) sehingga penggunaannya cukup sedikit untuk mendapatkan rasa manis yang diinginkan. Gula dari saun stevia tidak mengandung kalori dan tidak menyebabkan kenaikan kadar gula darah saat dikonsumsi. Keunggulan-keunggulan ini menyebabkan Gula Stevia bermanfaat bagi penderita diabetes, penderita obesitas, dan mereka yang sedang menjaga asupan kalori atau berdiet. Meskipun tentu saja, Gula Stevia dapat dikonsumsi oleh semua orang. Pada pasien diabetes, Daun Stevia memiliki efek menguntungkan pada

68


sensitivitas insulin, bahkan dapat membantu sel-sel beta pankreas melepaskan insulin tambahan. Pada manusia, penelitian cross-over membandingkan 1 gram

stevioside untuk 1 gram pati jagung, menunjukkan bahwa tanaman stevia memiliki kadar glukosa darah 18% lebih rendah setelah makan. Terdapat penelitian yang membandingkan sukrosa, aspartam, dan stevia. Hasilnya adalah tanaman stevia mengurangi glukosa darah dan insulin setelah makan dibandingkan dengan dua pemanis lainnya. Selain itu, gula stevia juga umum direkomendasikan para dokter sebagai pemanis alami pengganti gula yang diyakini aman dikonsumsi oleh anakanak dengan autisme. Stevia juga tidak rusak pada suhu tinggi seperti sakarin atau aspartam. Stevioside tahan pada pemanasan hingga 200°C (392° Fahrenheit), sehingga dapat digunakan pada hampir semua resep makanan. Gula stevia menjadi solusi bagi mereka yang membutuhkan pemanis alami yang tidak mengandung risiko penyakit. Hidup sehat tak harus menjauhi manis. Ekstrak tanaman stevia juga diyakini bermanfaat untuk membantu pengaturan kadar gula darah. Bahkan, di Amerika Selatan, ekstrak tanaman ini sudah lama digunakan untuk penderita diabetes. Terdapat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun stevia dapat membantu menghambat kenaikan kadar gula darah setelah makan pada penderita diabetes dan saat uji toleransi glukosa pada orang sehat. Penelitian lain menunjukkan manfaat senyawa stevioside yang diekstrak dari tanaman stevia dalam pengaturan tekanan darah. Diketahui bahwa konsumsi stevioside dapat membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Pemanfaatan daun stevia sebagai pengganti gula merupakan langkah baru yang dapat digunakan oleh masyarakat Indonesia. Mengingat gula-gula lokal yang beredar sekarang ini masih memiliki kadar gula yang tinggi. Pemanfaatan daun stevia dalam menggantikannya merupakan suatu langkah yang dapat menurunkan risiko masyarakat terkena penyakit diabetes. Belum lagi, saat ini kabar mengenai daun stevia masih belum tersebar luas. Masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui

69


mengenai daun stevia apalagi beragam manfaatnya. Padahal pengolahan yang dibutuhkan dalam pembuatan gula stevia ini tidak begitu sulit. Cukup dengan mengeringkan daun stevia lalu menghaluskannya dengan blender atau coffee

grinder, bubuk stevia sudah dapat langsung digunakan sebagai pengganti gula. Setiap masyarakat tentu dapat membuatnya. Pemanfaatan daun stevia sebagai pengganti pemanis gula juga dapat dijadikan sebagai usaha dalam pengolahan makanan sehat. Selain bermanfaat untuk tubuh dapat juga dijadikan mata pencaharian. Memang akhir-akhir ini terdapat beberapa kelompok orang yang telah mengembangkan pembudidayaan tanaman stevia. Akan tetapi, hal tersebut tidak akan berguna secara optimal apabila tidak ada masyarakat yang mengetahui mengenai khasiat tanaman itu sendiri. Untuk itu, dalam perkembangannya masih dibutuhkan pengenalan berupa sosialisasi terhadap masyarakat sekitar. Dapat dilakukan dengan adanya suatu kegiatan untuk memberitahu dan menginformasikan kepada lapisan masyarakat agar dapat menumbuhkan kebiasaan mengonsumsi makanan dengan kadar glukosa yang rendah. Dimulai dengan adanya pengenalan daun stevia kepada masyarakat luas. Dengan menggunakan daun stevia sebagai pengganti gula dalam makanan yang telah ada, dapat diharapkan makanan tersebut dapat dikonsumsi secara aman bagi seluruh masyarakat. Masyarakat juga akan tergerak untuk dapat berperilaku hidup sehat melalui makanan yang berkadar gula rendah.

DAFTAR PUSTAKA Raini, Mariana. dan Isnawati, Ani. 2011. “Kajian: Khasiat dan Keamanan Stevia sebagai Pemanis Pengganti Gula.� Media Litbang Kesehatan, vol. 4, No. 21, hlm. 145156

70


Emil Supriatna Antropologi Sosial, 2014 Member

“Manusia terlahir dengan takdirnya masing-masing. Usaha untuk mengubah takdir adalah bagian dari takdir itu sendiri. Satu yang mungkin, temukan takdirmu (who are you).”

Emil Supriatna merupakan salah seorang member KSM Eka Prasetya UI 2016. Laki-laki kelahiran Jakarta, 6 November 1994 ini, aktif di berbagai organisasi, di antaranya; FSI FISIP UI, Duta Damai Dunia Maya 2016, Duta Gemar Membaca 2016, dan Anggota FLP Jakarta. Penulis dengan esai berjudul “Inovasi: Menggedor Kelanggengan Tradisi ini” bercita-cita ingin menjadi akademisi.

71


INOVASI: MENGGEDOR KELANGGENGAN TRADISI

B

eberapa waktu lalu, sebuah game online berhasil menggemparkan dunia. Masyarakat beragam negara, tak terkecuali Indonesia, terkena demamnya.

Sebuah inovasi yang cerdas. Sang perancang mampu mentransformasikan lingkungan nyata yang direkam melalui GPS ke dalam dunia digital. Kemudian, game tersebut disempurnakan dengan memetakan monster-monster maya di dalamnya. Betapa tidak menggiurkan. Pemain diajak berburu makhluk-makhluk semu menggemaskan di wilayah yang tak asing, serta di lingkungan tempat tinggal pemain itu sendiri. Konsep permainannya juga sangat spektakuler. Sebab, game ini menawarkan langsung pengalaman berburu monster yang memang mustahil dilakukan di dunia nyata. Game yang dimaksud tak lain adalah Pokemon Go. Jika ditelisik lebih jauh, Pokemon Go pada dasarnya diangkat dari serial film kartun anak, Pokemon. Akan tetapi, tidak sesederhana itu. Asal mula serial film Pokemon juga memiliki sejarah yang tidak terduga. Film tersebut lahir dari sebuah permainan tradisional masyarakat Jepang, yakni menangkap serangga. Bahkan, permainan tersebut dijadikan festival tahunan musim panas di sana. Secara cerdas, serangga-serangga tersebut diterjemahkan dalam wujud monster unik dalam serial film Pokemon yang akhirnya menjadi viral dalam bentuk

game online. Itulah salah satu contoh kecil inovasi pada masa sekarang ini. Senada, namun tak sama. Inovasi tersebut tidak hanya berbentuk transformasi tradisi-tradisi. Contohnya saja industri perfilman, Hollywood. Pada film yang dihasilkan, makhluk-makhluk mitos seakan dapat hidup nyata berdampingan dengan manusia. The Hobbit dengan makhluk Orc-nya, misalnya. Atau, Ghost Rider dengan hantu berkepala apinya. Dan yang tak kalah fenomenal, Star Wars dengan alien-alien bintang juga menjadi contoh film yang mampu menghadirkan makhluk aneh ke

72


dalam dunia manusia. Hal tersebut tak akan terwujud tanpa didukung oleh teknologi-teknologi perfilman yang canggih. Teknologi ini merupakan bentuk inovasi lainnya. Inovasi dan kehidupan manusia tampaknya begitu saling mempengaruhi. Inovasi mengkonstruksi kehidupan manusia, pun kehidupan manusia memunculkan inovasi-inovasi. Pembahasan inovasi sendiri telah masif hadir pada perbincanganperbincangan publik. Hal ini mengindikasikan signifikansi inovasi bagi manusia. Inovasi telah menjadi kebutuhan yang menyokong kehidupan segala makhluk di dunia. Sebab sebenarnya, tidak hanya manusia yang membutuhkan inovasi, melainkan juga makhluk-makhluk lain. Pengobatan hewan, contohnya. Rogers (2003:10), dalam “Diffusion of Innovations�, mendeskripsikan inovasi sebagai sebuah ide, praktik, atau objek yang dirasa sebagai sesuatu yang baru, baik oleh individu maupun sekelompok individu. Dianalogikan sebuah teknologi, inovasi dibedakan atas dua jenis: aspek hardware dan aspek software (Rogers, 2003:105). Aspek hardware mencakup perlengkapan, produk, dan benda-benda material lainnya. Sedangkan, aspek software meliputi pengetahuan, keterampilan, dan prosedur-prosedur. Perangkat pembuatan film yang digunakan oleh industri perfilman merupakan contoh dari aspek hardware. Sedangkan, keterampilan berburu monster maya dalam Pokemon Go dapat menjadi contoh aspek software sebuah inovasi. Pertanyaannya, di tengah-tengah gempuran inovasi bangsa dunia, di manakah posisi Indonesia terkait sumbangsih penetasan inovasi? Pada sejumlah publikasi media, putra-putri bangsa memang telah mencatat beragam prestasi membanggakan terkait inovasi. Mulai dari gitar berbahan bambu, helm anti begal, sampai Droplock Turnstile Gate (pengonversi energi hasil putaran pintu tiga kaki di Halte TransJakarta) yang ditemukan oleh mahasiswa teknik Universitas Indonesia. Namun, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah melebihi angka 200 juta jiwa, akumulasi inovasi anak bangsa saat ini

73


belumlah sebanding. Indonesia agaknya masih didominasi oleh gempuran inovasi bentukan luar negeri. Dengan kata lain, bangsa ini masih menjadi “kaum penikmat� produk-produk inovasi bangsa asing. Padahal, bukan rahasia umum bahwa Indonesia merupakan bangsa yang sangat multikultural. Ragam tradisi mengendap dalam bumi pertiwi. Sayangnya, tradisi tetaplah tradisi yang mengalir secara turun temurun, tanpa mampu terkonversi atau dikonversikan ke dalam bentuk lain. Kondisi demikian tampaknya masih sangat sejalan dengan ciri tradisi itu sendiri yang bersifat langgeng, diwariskan dari generasi ke generasi, dan diekspresikan dalam bentuk simbol-simbol (Geertz dalam Alam, 1998:3). Namun demikian, kelanggengan tradisi seperti yang terjelaskan di atas perlu dikritisi kembali. Apakah dalam sistem dunia global ini, suatu tradisi masih mampu mempertahankan kelanggengannya? Eriksen (2007:3), dalam The Key Concept

Globalization, berusaha menjawab pertanyaan tersebut dengan memunculkan isu delokalisasi. Eriksen mengatakan bahwa konsep-konsep lokal, dalam hal ini tradisi, mengalami reduksi akibat interaksi-interaksi yang terbangun. Miliaran manusia, antarbatas geografis, senantiasa melakukan obrol-obrol setiap harinya. Pendorong fenomena tersebut tak lain disebabkan kemunculan ponsel. Sebuah perangkat yang telah digunakan oleh masyarakat dunia tidak hanya di negara-negara kaya saja, melainkan kelas menengah, bahkan masyarakat kalangan bawah sekalipun. Akibat arus interaksi yang deras itu, konsep-konsep lokal seharusnya tidak dapat lagi hidup sebagai unit yang tertutup, seperti yang dikonsepsikan oleh Eric Wolf, atau sebagai unit yang bersifat stagnan, seperti yang diinterpretasikan oleh Marxist (Rigg, 1994:123). Tiap-tiap tradisi lokal di dunia kehilangan kemurniannya. Mereka tersubstitusi, atau malah melebur dengan tradisi lainnya. Sebagian tradisi-tradisi di dunia, memang, telah kehilangan kesakralannya. Tradisi tersebut kini hidup untuk keperluan yang lain, pariwisata misalnya. Atau malah dapat melahirkan hal baru, seperti Pokemon Go yang lahir dari permainan

74


tradisional

masyarakat

Jepang.

Sebagian

tradisi

yang

tidak

mampu

mengubahfungsikan diri lenyap di telan zaman. Lowe (2006:262) mempertegas bahwa dunia global mendorong manusia, berbagai barang dan jasa, kapital, gambar-gambar, dan ide-ide bergerak melintasi batas-batas geografi. Berbagai hal berubah sejalan dengan aliran ini. Tempat yang paling sudut letaknya di muka bumi berubah menjadi Kosmopolitan. Pun kontak terjadi antara metropolitan di berbagai belahan dunia dengan wilayah pinggir dan terpencil. Adanya fenomena globalisasi seharusnya menjadi refleksi bagi masyarakat Indonesia. Sebagai pewaris tunggal kekayaan negeri, bangsa ini perlu melihat jauh ke dalam, sekaligus memandang keluar diri. Seberapa tradisi pertiwi hilang ditelan sejarah. Pengaruh-pengaruh asing telah menihilkan tradisi lokal, mengubah masyarakat Indonesia menjadi “kaum penikmat�, serta menjadikan mereka budakbudak produk inovasi bentukan asing. Sesederhana game online Pokemon Go, diskusi-diskusi publik terkait inovasi seharusnya tidak melulu menyepadankan inovasi dengan teknologi. Rogers sendiri telah jelas-jelas mengingatkan bahwa teknologi hanya memenuhi salah satu aspek inovasi. Masih ada aspek lain, yakni sistem pengetahuan, gagasan-gagasan, metodemetode, keterampilan, prosedur, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, inovasi tidak selalu meliputi benda-benda material saja. Masih ada benda non-material yang belum banyak dijamah oleh para inovator. Ide Rogers tersebut dapat menjadi peluang segar bagi ilmuan sosial, maupun mahasiswa di bidang sosial humaniora. Sebab memang, permasalahan negeri ini tidak semua dapat diselesaikan dengan perangkat-perangkat. Kebobrokan mental, misalnya, tidak dapat serta merta dibuat “alat pengubah mental�, layaknya serial film Doraemon, demi memperbaiki kebobrokan tersebut. Mental merupakan bagian ideasional, sehingga harus diselesaikan dengan ideasional juga. Contoh inovasi yang dapat jadi teladan adalah gagasan Revolusi Mental. Gagasan ini, terlepas dari pro-

75


kontra, menjadi salah satu inovasi pada aspek software. Hal-hal seperti ini yang perlu dicermati oleh ilmuan sosial kini. Saatnya menggedor kelanggengan tradisi. Para ilmuan sosial dapat mengkaji jutaan tradisi bangsa Indonesia yang mungkin sudah jauh tenggelam, kemudian mengonversikannya ke dalam bentuk lain secara inovatif berdasarkan kebutuhan atau permasalahan yang ada, seperti Pokemon Go yang ditujukan sebagai media hiburan. Sehingga, setiap lapisan masyarakat, baik yang mengkultuskan diri sebagai kaum eksakta maupun sosial humaniora, dapat berpartisipasi dalam menghadirkan inovasi untuk kemaslahatan bumi Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA Alam, B. 1998. “Globalisasi dan Perubahan Budaya: Perspektif Teori Kebudayaan.”

Antropologi Indonesia 54:1-11 Eriksen, T.H. 2007. The Key Concept Globalization. New York: Berg Lowe, C. 2006. “Kajian Antropologi tentang Globalisasi: Catatan tentang Studi-studi Keterkaitan Dunia.” Antropologi Indonesia 30(3):262-271. Rigg, J. 1994. “Redefining the Village and Rural Life: Lessons from South Asia.” The

Geographical Journal 160(2):123-135. Rogers, E. M. 2003. Diffusion of Innovations. New York: Free Press

76


F.X. Rio Panangian Gultom Ilmu Hukum, 2015 Departemen Bisnis dan Proyek

“Segala sesuatu harus direncanakan.”

F.X. Rio Panangian Gultom atau yang sering disapa Rio, merupakan anggota Departemen Bisnis dan Proyek KSM Eka Prasetya UI 2016. Selain aktif di KSM, Rio juga aktif di Mahkamah Mahasiswa Universitas Indonesia. Laki-laki kelahiran Bantul, 16 Mei 1997 ini menulis esai dengan judul “Dilema Kemacetan Jakarta.” Meskipun mengenyam pendidikan di Fakultas Hukukm, Rio bercita-cita ingin menjadi pengusaha.

77


DILEMA KEMACETAN JAKARTA

M

acet, suatu frasa yang melekat dalam kalimat seseorang yang mengalami keterlambatan saat berangkat kerja. DKI Jakarta adalah daerah yang sangat

familiar dengan istilah tersebut, yang kemudian tumbuh menjadi imaji ibukota. Setiap naiknya Pemerintahan berkuasa yang baru, janji utama yang dilontarkan dalam penyampaian visi-misi seorang calon Gubernur Jakarta adalah bagaimana mengatasi masalah kemacetan. Namun setelah sekian kali pergantian Gubernur, tidak terlihat adanya perubahan nyata dalam program yang dijanjikan. Masalah seperti apakah yang terjadi sebenarnya? Andrinof Chaniago, seorang pengamat kebijakan publik yang kebetulan juga pernah menjadi menteri Bappenas di era Jokowi, menyatakan bahwa ada 9 alasan penyebab kemacetan. Penyebab tersebut diantaranya adalah ruas jalan yang masih berada di bawah batas kebutuhan, moda angkutan umum yang masih terlampau sedikit, minimnya jembatan penyeberangan orang, penataan kota yang salah (minimnya rumah susun), kesalahan pemberian izin bangunan (toko dan Mall), banyaknya ruas bottleneck (percabangan jalan, seperti ruas pintu masuk jalan tol), kurang banyaknya jumlah flyover dan underpass di persimpangan jalan, angka urbanisasi masyarakat yang masih termasuk tinggi, dan terakhir adalah masalah birokrasi dan tata kelola anggaran (Saâ€&#x;diyah, 2013). Berkaitan dengan pernyataan di atas, kesembilan masalah tersebut kemudian dapat dirangkum menjadi tiga. Pertama, status Jakarta sebagai kota metropolitan yang lebih maju ketimbang daerah lainnya mengakibatkan ketertarikan masyarakat sekitarnya untuk mencoba meniti karier. Masyarakat Jakarta kemudian terbagi dua, menjadi masyarakat asli (lahir dan tinggal di Jakarta) dan para pendatang dari luar Jakarta (masyarakat seluruh daerah di Indonesia yang tertarik untuk mencoba peruntungan). Selain itu, jika dilihat dari domisilinya, masyarakat Jakarta kembali terbagi lagi menjadi dua. Pertama adalah masyarakat yang „menangâ€&#x; dalam 78


persaingan memperebutkan lokasi tinggal. Harga tanah di Jakarta yang amat tinggi, dan

kebetulan

juga

banyak

diantaranya

sudah

dikuasai

oleh

developer,

menyebabkan peningkatan yang signifikan atas harga benda tak bergerak tersebut setiap tahun. Dari situ, penduduk Jakarta yang „kalahâ€&#x; kemudian memilih untuk tinggal di daerah yang lebih murah, dan pindah ke pinggir daerah Jakarta (Bekasi, Depok, Tangerang, dan daerah lain yang berdekatan). Permasalahan di sini kemudian adalah semakin membludaknya jumlah masyarakat pendatang. Besarnya minat masyarakat untuk mencari untung tidak sebanding dengan kapabilitas Jakarta untuk menampung keseluruhan peminat tadi. Masalah kedua adalah masalah yang kemudian timbul dari banyaknya penduduk di Jakarta. Masalah ini adalah jumlah kendaraan yang amat besar. Di dalam statistik transportasi Jakarta Tahun 2015-2016 (Suhaimi, dkk., 2016: 14), jumlah total kendaraan bermotor di Jakarta adalah sebanyak 18.273.646 (Mobil, sepeda motor, mobil beban, mobil bus, dan ransus). Mayoritas pertumbuhan terbesar ada pada sepeda motor, dengan pertumbuhan sebesar 8, 52% per tahun. Sedangkan pertumbuhan kendaraan umum (bus) di sini justru mengalami pengurangan sebesar 0, 06% per tahun. Sangat disayangkan, mengingat sebenarnya justru kendaraan umum ini yang ditingkatkan sebagai sarana alternatif. Masalah ketiga adalah kurangnya ruas jalan. Pertumbuhan kendaraan yang teramat besar, terlebih jika ditambahkan dengan kuantitas yang telah ada sebelumnya, tidak berbanding setara dengan jumlah ruas jalan yang dibangun. Seperti yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS), ada total 6955, 84 kilometer jumlah ruas jalan yang telah dibangun. Jenisnya terdiri atas jalan kota administrasi, jalan provinsi, jalan negara, dan jalan tol yang jumlahnya masing-masing dapat dilihat dari tabel 1. Jenis Jalan

Panjang 2015

Panjang 2014

Jalan kota administrasi

5117,26 km

5117, 26 km

Jalan Provinsi

Arteri sekunder: 535,26 km

Arteri sekunder: 535, 26

79


Kolektor sekunder: 1027,02 km km

Kolektor

sekunder:

1027,02 km Jalan Negara

Arteri primer: 128,88 km

Arteri primer: 128,88 km

Kolektor primer: 23,69 km

Kolektor primer: 23,69 km

Jalan tol

123,73 km

123, 73 km

Tabel 1. Keterangan jumlah ruas Jalan di Jakarta 2015 dan 2014 (Widodo, dkk., 2015)

Dari kedua perbandingan di atas, terlihat dengan jelas bahwa tidak terdapat adanya penambahan ruas jalan pada rentang tahun 2014-2015. Sedangkan flyover, yang marak disebut jalan layang, jumlahnya pada tahun 2015 adalah 62 buah. Sedangkan pada tahun yang sama jumlah underpass ada sebanyak 16 buah (Widodo, dkk., 2015: 9). Menariknya, tidak ada penambahan underpass dan flyover pada tahun berikutnya. Padahal jumlah kendaraan bermotor yang melalui jalanan Jakarta pada rentang tahun tersebut meningkat sebanyak 749.679 buah1. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah kendaraan yang meningkat secara signifikan tidak diiringi dengan jumlah jalan yang turut ditambah. Dari masalah-masalah yang tertulis di atas, apa yang pemerintah harus lakukan untuk mengatasinya? Menurut pendapat Saya, hal pertama yang harus dikurangi adalah intensitas penggunaan kendaraan bermotor di jalan raya. Untuk penyelesaian masalah ini, kita dapat berkaca pada Jepang. Di Negeri ini, masyarakatnya telah terbiasa untuk menggunakan kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi. Jikalau kemudian mereka harus menggunakan kendaraan pribadi, yang mereka gunakan biasanya adalah sepeda. Ya, kendaraan 2 roda yang berjalan dengan energi gerak ini adalah kendaraan pribadi yang amat populer di sana. Lebih luar biasanya lagi, masyarakat di sana mengganggap bahwa yang menggunakan mobil hanyalah orang kampung (Maharani, 2016). Menarik, bukan? Bagaimana sistem mereka mengubah pandangan tersebut? 80


Pertama, mereka menaikkan pajak kendaraan mereka. Seperti yang telah kita bersama pelajari semasa masih memakai seragam sekolah, Jepang menerapkan

dumpling pada sistem perekonomian mereka. Barang-barang yang dijual di negeri sendiri lebih mahal ketimbang di luar negeri, yang juga berlaku pada kendaraan bermotor. Selain itu, pajak kendaraan juga berlaku, dimana penentuan atasnya dilakukan berdasarkan ukuran mesin kendaraan (mis. 1500 cc, 2000 cc dll). Belum lagi, pajak tersebut hanya diberlakukan bagi kendaraan bermesin, sehingga otomatis sepeda dapat “terhindar� dari pajak. Faktor kedua, dan terakhir, yang menjadi paling penting di dalam penguraian kemacetan ini adalah efektivitas dari kendaraan umum. Maksudnya disini tidak hanya penambahan jumlah kendaraan umum saja, melainkan juga pengaturan penggunaan jalan yang lebih efektif. Seperti yang dapat kita lihat bersama, ada berbagai macam kendaraan umum di Jakarta. Transjakarta, kopaja, kopami, Kereta Rel Listrik (KRL), angkutan kota (Angkot), ojek, dan masih banyak lagi. Namun diantara itu semua baru Transjakarta yang jelas keteraturannya, baik dari segi tata ruang maupun pengaturan pembayaran. Sisanya masih amburadul, dan diurus secara privat. Padahal kendaraan umum tadi juga merupakan salah satu penyebab kemacetan utama. Seperti yang kita tahu, angkot dan kendaraan umum selain transjakarta terkenal dengan istilah

ngetem. Tindakan ini dilakukan di pinggir jalan, untuk menunggu dan mencari penumpang. Tindakan ini kemudian menyebabkan kemacetan karena mereka tidak segan-segan untuk memenuhi jalan hanya untuk menunggu penumpang. Belum lagi hal tersebut dilakukan dalam waktu yang cukup lama, dan di jam sibuk, sehingga kemudian mengganggu masyarakat yang ingin pulang/pergi ke suatu tempat. Pertanyaannya, bagaimana “menata� kendaraan umum tersebut agar tidak

semrawut? Pertama, yang mungkin saat ini sedang diusahakan oleh pemerintah, adalah pengalihan kepemilikan atas kendaraan umum. Angkot, kopaja, dan kopami yang berlalu-lalang di Jakarta banyak yang merupakan milik suatu perusahaan privat. Hal

81


ini jelas menyulitkan pemerintah untuk menyeragamkan peraturan. Nah, peraturan dimaksudkan disini adalah yang berkaitan dengan masalah pembayaran supir. Para pengendara kendaraan umum (angkot, kopaja, kopami) harus menyetor sejumlah uang kepada bos mereka, sehingga kemudian memunculkan istilah ngetem tadi untuk mencari penumpang. Menariknya lagi, rata-rata dari mereka juga harus mengeluarkan uang sendiri untuk biaya bensin atas kendaraan mereka. Maka dari itu, mereka pun memutuskan untuk berhenti saat tidak ada penumpang untuk menghemat pengeluaran atas bahan bakar. Maka dari itu, disini pemerintah dapat mengakuisisi kepemilikan atas kendaraan umum tadi. Selain mereka mendapatkan gaji bulanan, mereka juga tidak perlu memikirkan masalah biaya bahan bakar. Kedua, penataan ruang jalan untuk masing-masing kendaraan umum. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya di atas, kendaraan umum yang akrab dengan kebiasaan ngetem seperti angkot dan kopaja harus menunggu penuhnya kendaraan mereka dengan juga memperhatikan masalah bahan bakar. Belum lagi kalau ternyata di suatu jalan tertentu tidak dibolehkan kendaraan umum untuk ngetem, mereka malah semakin menjadi. Tidak berhenti di pinggir jalan, tetapi cenderung mengurangi kecepatan. Hal ini kemudian juga menjadi penghambat, karena 1 ruas jalan terhalang oleh pelan-pelannya kendaraan umum tadi. Dari permasalahan di atas, bagaimana cara mengatasinya? Saya mengusulkan adanya pembedaan ruas jalan. Transjakarta, kendaraan umum yang resmi milik pemerintah kota DKI Jakarta, memiliki ruas jalan sendiri untuk mengangkut penumpang. Mengapa hal ini tidak dilaksanakan juga untuk kendaraan umum yang lain? seperti di Jogjakarta, contohnya, mereka mempunyai ruas yang terpisah untuk kendaraan yang berkecepatan lambat dan cepat di jalan raya yang terdiri atas 3 ruas jalan. Di Jakarta juga dapat diterapkan demikian, namun dengan cara yang berbeda. Transjakarta, yang sudah mempunyai ruas di kanan jalan, tetap pada posisinya semula. Kemudian, tambahkan ruas tersendiri untuk kendaraan umum yang sering mangkal di pinggir jalan di sebelah kiri. Jalur ini dibuat terbuka di

82


beberapa bagian tertentu, untuk lewatnya kendaraan yang ingin berbelok ke kiri, atau untuk kendaraan umum yang ingin berjalan cepat. Selain itu, Saya rasa juga perlu adanya „pengarahan‟ wilayah kerja suatu kendaraan umum. Angkot yang berukuran kecil hanya dapat merambah jalanan yang juga berukuran kecil, dan kopaja yang dapat melalui jalan protokol namun tidak boleh melalui jalan yang kecil. Sayangnya, tindakan tersebut hanya dapat dilakukan apabila sudah terjadi akuisisi kendaraan umum tadi oleh Pemerintah Jakarta.

CATATAN: 1

Dihitung dari total kendaraan bermotor di Jakarta pada tahun 2015 (18.273.646 buah per

Agustus 2015) dikurangi total kendaraan bermotor di Jakarta pada tahun 2014 (17.523.967 buah)

DAFTAR PUSTAKA Maharani, Ardini. “Buat Warga Jepang cuma Orang Kampung yang Ingin Punya Mobil.” Bintang, 5 Maret 2016, diakses pada 1 November 2016, http://www.bintang.com/lifestyle/read/2451615/buat-warga-jepang-cumaorang-kampung-yang-ingin-punya-mobil Sa‟diyah, Halimatus. “Penyebab kemacetan di Jakarta.” Republika. 19 Desember 2013. diakses

pada

25

oktober

2016,

http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabeknasional/13/12/19/my13jf-ini-9-penyebab-kemacetan-di-jakarta. Suhaimi, Syech , dkk. 2016. Statistik Transportasi DKI Jakarta 2015/2016. Jakarta: BPS Provinsi DKI Jakarta, 2016. Widodo, Nyoto, dkk. 2015. Statistik Transportasi DKI Jakarta 2014/2015. Jakarta: BPS Provinsi DKI Jakarta.

83


Zakiah Rahmayanti Farmasi, 2015 Departemen Penulisan

“Life (just) needs some modifications.”

Zakiah Rahmayanti merupakan penulis esai dengan judul “Pendidikan Kewirausahaan Sejak Dini sebagao Solusi Pengurangan Jumlah Pengangguran di Indonesia.” Selain aktif di KSM Eka Praetya UI 2016 sebagai anggota departemen penulisan, Zakiah juga aktif di Ikatan Mahasiswa Riau (IMR) dan menjabat sebagai ketua Biro Wira Usaha. Sejalan dengan program studi yang ia ambil, Zakiah bercitacita ingin menjadi apoteker.

84


PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN SEJAK DINI SEBAGAI SOLUSI PENGURANGAN JUMLAH PENGANGGURAN DI INDONESIA

I

ndonesia merupakan negara yang saat ini memiliki jumlah penduduk mencapai lebih dari 250 juta jiwa dan merupakan negara berpenduduk terbesar keempat

setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Selain itu, Indonesia juga memiliki populasi penduduk yang muda karena sekitar setengah dari total penduduk Indonesia berumur dibawah 30 tahun. Jika dilihat, Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk menjadi negara maju. Namun, banyaknya jumlah penduduk di Indonesia kurang diikuti oleh potensi sumber daya manusia didalamnya. Hal ini dilihat dari jumlah pengangguran di Indonesia yang cukup banyak. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), ditemukan bahwa tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2016 mencapai 7,02 juta jiwa atau 5,5 persen dari total jumlah penduduk. Hal ini juga berkaitan dengan jumlah pengusaha di Indonesia yang sangat sedikit dibandingkan dengan negara lain. Indonesia baru memiliki 1,5 persen pengusaha sedangkan persentase jumlah pengusaha di negara lain seperti Singapura sudah mencapai angka 7 persen, Malaysia 5 persen, Thailand 4,5 persen, dan Vietnam 3,3 persen. Selain itu, tingkat penganggguran tertinggi adalah lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan persentase 9,84 persen. Hal ini berarti bahwa angka pengangguran yang tinggi bukan disebabkan tingkat pendidikan yang rendah. Tulisan ini merupakan bentuk esai mengenai permasalahan pengangguran di Indonesia. Fokus dari esai ini adalah pendidikan kewirausahaan. Pendapat utama penulis adalah adanya inovasi di bidang pendidikan dengan menerapkan kewirausahaan sejak dini dapat menumbuhkan minat masyarakat untuk berwirausaha sehingga menciptakan lapangan kerja yang baru dan mengurangi tingkat pengangguran. Secara keseluruhan, esai ini terbagi menjadi empat bagian. Bagian

85


pertama, penulis akan menjelaskan definisi pendidikan kewirausahaan serta hakikat kewirausahaan; bagian kedua merupakan pemaparan dari sedikitnya jumlah pengusaha di Indonesia dan penyebabnya; bagian ketiga berisi solusi yang ditawarkan oleh penulis esai ini; dan bagian terakhir berisi kesimpulan.

Pendidikan Kewirausahaan dan Hakikat Kewirausahaan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Raymond Kao dalam Wardhana (2013: 13) menjelaskan konsep dasar kewirausahaan adalah suatu proses penciptaan sesuatu yang baru (kreasi) dan membuat sesuatu yang berbeda dari yag lain (inovasi), yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan individu dan nilai tambah bagi masyarakat. Kasmir (2006: 21) mendefinisikan kewirausahaan sebagai kemampuan dalam menciptakan memerlukan adanya kreativitas dan inovasi yang terus menerus untuk menemukan sesuatu yang berbeda. Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk menciptakan sesuatu hal baru yang dapat memberikan manfaat bagi individu dan masyarakat. Berdasarkan beberapa definisi di atas maka disimpulkan bahwa pendidikan kewirausahaan adalah proses pengajaran dan pelatihan yang bertujuan untuk mengembangkan sikap, jiwa dan kemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi individu maupun masyarakat. Geffrey G. Meredith dalam Suharyadi dkk (2007: 9) mengemukakan tentang ciriciri wirausahawan, yaitu sebagai berikut. 1. Percaya diri Seorang pengusaha harus memiliki kepercayaan yang tinggi. Percaya diri merupakan

sikap

dan

keyakinan

86

untuk

memulai,

melakukan,

dan


menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang dihadapi, sepanjang tidak melanggar hukum dan norma yang berlaku. 2. Berorientasi Tugas dan Hasil Seorang wirausahawan harus fokus pada tugas dan hasil. Apa yang dilakukan oleh wirausahawan merupakan usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Keberhasilan pencapaian tugas tersebut ditentukan oleh faktor motivasi berprestasi, beroirentasi keuntungan, kerja keras, serta berinisiatif. 3. Berani mengambil risiko Setiap proses bisnis memiliki risiko masing-masing, baik untung maupun rugi. Untuk memperkecil kegagalan usaha maka wirausahawan harus mengetahui peluang kegagalan, dengan begitu, dapat diusahakan untuk memperkecil risiko tersebut. 4. Kepemimpinan Wirausahawan yang berhasil ditentukan pula oleh kemampuan dalam memimpin atau yang kita sebut dengan kepemimpinan. Kepemimpinan ini bukan hanya memberikan pengaruh pada orang lain atau karyawannya, melainkan juga sigap dalam mengantasipasi setiap perubahan. 5. Keorisinilan Kewirausahaan harus mampu menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Keorisinilan dan keunikan dari suatu barang dan jasa menjadi daya tarik tersendiri dalam suatu usaha. 6. Berorientasi Masa Depan Wirausahawan yang memiliki pandangan jauh kedepan menjadikan seorang tersebut akan terus berupaya untuk berkarya dengan menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang sudah ada saat ini. Pandangan ini menjadikan wirausahawan tidak cepat merasa puas dengan hasil yang diperoleh saat ini

87


hingga terus mencari peluang. Kepekaan memahami lingkungan sekitar juga diperlukan untuk menciptakan suatu produk yang beroirentasi masa depan.

Dampak positif kewirausahaan bagi individu yaitu menumbuhkan sikap kreatif, inovatif, mandiri, kepemimpinan, pandai mengelola uang, dan memiliki jiwa pantang menyerah merupakan beberapa sikap yang perlu ditanamkan sejak dini. Kemudian, menjadi wirausahawan juga memiliki kebebasan mencapai tujuannya sendiri, menunjukkan potensi secara penuh, mendapatkan untung besar, kebebasan melakukan perubahan dan mendapat pengakuan dari masyarakat. Selain itu, kewirausahaan juga berdampak positif bagi masyarakat. Barringer dan Ireland dalam Wijatno (2009: 8) mengemukakan tiga alasan mengapa kewirausahaan memiliki efek positif terhadap kekuatan dan stabilitas ekonomi. Pertama, kewirausahaan memberikan dampak pada penyediaan lapangan pekerjaan. Kewirausahaan telah terbukti mampu mengatasi tingkat pengangguran melalui penciptaan lapangan pekerjaan. Kedua, inovasi memberikan dampak positif bagi kekuatan ekonomi dan masyarakat. Inovasi membantu individu dan bisnis untuk bekerja secara lebih efektif dan efisien. Ketiga, alasan globalisasi, karena fenomena ini berperan penting dalam menyediakan outlet untuk memasarkan produk ke luar negeri.

Rendahnya Persentase Jumlah Pengusaha di Indonesia dan Penyebabnya Jumlah pengusaha sangat minim yaitu 1,5 persen pengusaha dari total penduduk yang lebih dari 250 juta jiwa. Penyebab utama hal ini adalah pendidikan sejak dini, baik dalam institusi pendidikan maupun di masyarakat yang berdasarkan pandangan umum (stereotipe). Beberapa pendidikan di Indonesia saat ini sebenarnya secara tak langsung menanamkan pandangan kita mengenai kewirausahaan. Contohnya saat belajar membaca, kalimat yang diajarkan adalah “Ibu membeli ikan di pasar,�. Kalimat ini

88


secara tak langsung menanamkan sifat konsumtif pada anak di alam bawah sadar mereka. Padahal pendidikan dapat menerapkan kewirausahaan dengan mengajarkan cara membaca dengan kalimat “Ibu menjual ikan di pasar,”. Bukan hanya pelajaran bahasa Indonesia, namun pelajaran-pelajaran seperti matematika lebih sering menggunakan kata “membeli” bahkan “berhutang” yang dapat diganti dengan kata lain seperti “menjual”, “membuat”, atau “menabung”. Perilaku masyarakat Indonesia cenderung tidak mau mengambil risiko. Meski tindakan berhati-hati dan tidak mau mengambil risiko adalah sebuah tindakan yang wajar dalam kehidupan, namun dalam berbisnis hal itu menjadi tidak wajar. Masyarakat Indonesia hanya mau hasil akhir yang besar saja, kurang mau berusaha dan jatuh-bangun atau merasakan lika-likunya wirausaha. Padahal untuk menjadi pengusaha sukses, tak ada cara lain selain terjun langsung sebagai pengusaha dan mengalami sendiri berbagai tantangan yang harus dihadapi. Justru dengan berwirausaha, kita dapat menumbuhkan sikap mandiri dan pantang menyerah. Sebagian masyarakat berpandangan bahwa seorang pengusaha memiliki sumber penghasilan tidak stabil, kurang terhormat, pekerjaan rendah, dan sebagainya sehingga mereka tidak tertarik. Masyarakat seperti ini lebih memilih untuk menjadi pegawai negeri. Apalagi jika berpendidikan tinggi, mereka akan berpikir untuk apa bersusah payah menempuh pendidikan jika akhirnya hanya berjualan. Landasan filosofis inilah yang menyebabkan banyak orang tidak termotivasi terjun ke dunia kewirausahaan. Sebagian masyarakat yang lain memandang bahwa menjadi pengusaha cukup menjanjikan di masa depan. Hal ini didorong oleh kondisi persaingan di antara pencari kerja yang semakin ketat dan lapangan pekerjaan makin sedikit. Hal ini mendorong masyarakat tersebut untuk berwirausaha. Hal-hal di atas merupakan beberapa penyebab masyarakat Indonesia tidak berminat dalam kewirausahaan dan jumlah masyarakat yang tidak berminat lebih

89


banyak dibandingkan yang berminat untuk berwirausaha sehingga sedikitnya jumlah pengusaha di Indonesia dibandingkan negara-negara lain dan total penduduk.

Pendidikan Kewirausahaan Sejak Dini Sebagai Solusi yang Ditawarkan Kewirausahaan sebagai salah satu alternatif solusi dalam mengembangkan segala potensi bangsa kini dapat diajarkan melalui pembelajaran di sekolah. Hal ini ini diperkuat oleh pendapat Ir. Ciputra dalam Yasar (2010: 79), bahwa jumlah

entrepreneur minimal dua persen dari populasi suatu bangsa, mampu mendobrak dan mendorong kemajuan ekonomi. Pendidikan kewirausahaan ini alangkah baiknya baiknya dimulai dari lingkup pendidikan dasar, khususnya di sekolah dasar. Kewirausahaan untuk anak bukan bermaksud untuk mempekerjakan anak, namun menanamkan nilai-nilai kewirausahaan sejak dini. Nilai- nilai kewirausahaan mengandung karakter-karakter baik dalam kehidupan anak. Jiwa kewirausahaan memberikan kontribusi positif

bagi kehidupan anak.

Menurut Sandiaga Uno dalam Wardhana (2013:141) kewirausahaan bertujuan untuk menjadikan seseorang menjadi lebih baik, bukan semata-mata membuat seseorang menjadi kaya. Kewirausahaan adalah tentang kerjasama dengan orang lain, karena kewirausahaan juga berbicara tentang bagaimana memberikan manfaat bagi orang lain. Melalui pendidikan kewirausahaan ini diharapkan kelak anak dapat mandiri dan memberikan kesempatan bekerja bagi orang lain. Jiwa kewirausahaan ini dapat melatih anak untuk mampu bertindak dan bersikap cerdas dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Karakter wirausaha yang dapat ditanamkan kepada siswa sekolah dasar dapat dimulai dari kreatif, mandiri, kepemimpinan, mampu memecahkann masalah, tidak mudah putus asa, mampu mengelola uang, dan dapat berinteraksi dengan orang lain. Jiwa kreatif dalam pendidikan kewirausahaan ini meliputi kreatif dalam menemukan dan mengaplikasikan ide penambahan nilai guna dari suatu barang dan jasa. Guru dapat mengapresiasi dengan memberikan saran agar siswa bangga

90


dengan hasil kreativitas mereka. Anak juga diajarkan keterampilan mengelola uang agar anak memiliki kecerdasan financial yang baik. Sikap mandiri perlu dimiliki anak agar tidak bergantung dengan orang lain. Kelak anak diharapkan siap untuk mampu menciptakan dan mengelola usaha mandiri, yang bahkan akan memberikan lapangan kerja bagi orang lain. Dengan memiliki jiwa mandiri, anak tidak akan mudah putus asa ketika mengalami sebuah kegagalan serta pandai mengambil hikmah dari kegagalan tersebut. Anak yang mandiri biasanya dengan mudah memiliki solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Akar dari berbagai bentuk kepemimpinan diawali dari kemampuan anak untuk memimpin diri sendiri terlebih dahulu. Kepemimpinan penting dimiliki oleh para wirausahawan karena pemimpin yang baik bukan hanya pandai mengatur dan mengelola usaha, namun juga bijak dalam mendengarkan saran dan kritik dari karyawan demi kemajuan usaha dan pengembangan diri. Dari

aspek

bahasa

yang

berkomunikasi dengan santun,

diucapkan,

jelas,

anak

diajarkan

untuk

mampu

dan tidak berkata kotor ketika berbicara

dengan orang lain. Menghargai orang lain ketika berbicara, tidak menyela, dan selalu menjaga perasaan orang lain juga wajib dipahami oleh anak. Dalam mengajarkan seni komunikasi yang efektif kepada anak, dapat dilakukan dengan kegiatan apapaun asalkan kegiatan tersebut mendorong anak untuk berbicara dan mendengarkan. Kegiatan yang dapat diaplikasikan dalam pendidikan kewirausaahan sejak dini yaitu melalui pengajaran yang cenderung mendorong siswa untuk berwirausaha, bukan hanya membeli. Selain itu, orang tua dapat bercerita kepada anak mengenai kesuksesan seorang pengusaha dan guru dapat mendatangkan nasarasumber pengusaha sukses ke sekolah. Anak juga diajak untuk melakukan pengamatan ke berbagai tempat usaha atau pusat perbelanjaan. Kegiatan lain yang dapat dilakukan yaitu sekolah melakukan bazar di mana siswa dapat menjual barang-barang atau hasil karya yang dibuatnya.

91


Pendidikan kewirausahaan diharapkan mampu menciptakan generasi yang kreatif, mandiri, tidak mudah putus asa, mampu menyelesaikan masalah, dapat berkomunikasi dengan baik dan memiliki jiwa kepemimpinan. Selain itu, pendidikan kewirausahaan diharapkan dapat mengembangkan potensi dan minak anak, khususnya di bidang kewirausahaan.

Kesimpulan Indonesia memiliki angka pengangguran yang tinggi dan jumlah pengusaha yang sedikit dibandingkan dengan negara lain. Hal ini disebabkan pendidikan sejak dini, baik dalam institusi pendidikan maupun di masyarakat yang berdasarkan pandangan umum

mengenai

berwirausaha

dan

kewirausahaan menganggur.

sehingga Masalah

masyarakat ini

harus

cenderung

segera

diatasi

enggan untuk

perekenomian Indonesia yang lebih baik. Oleh karena itu, perlu diterapkannya pendidikan kewirausahaan sejak dini. Pendidikan kewirausahaan adalah proses pengajaran dan pelatihan yang bertujuan untuk mengembangkan sikap, jiwa dan kemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi individu maupun masyarakat, seperti kreatif, mandiri, kepemimpinan, mampu memecahkann masalah, tidak mudah putus asa, mampu mengelola uang, dan dapat berinteraksi dengan orang lain. Pendidikan Kewirausahaan diharapkan dapat menumbukan karakterkarakter tersebut dan dapat mengembangkan potensi dan minat anak di bidang kewirausahaan.

DAFTAR PUSTAKA “BPS: Pengangguran Terbuka di Indonesia Capai 7,02 Juta Orang.� Tempo, 4 Mei 2016.

Diakses

pada

tanggal

29

Oktober

2016.

https://m.tempo.co/read/news/2016/05/04/173768481/bps-pengangguranterbuka-di-indonesia-capai-7-02-juta-orang “Jumlah Pengusaha di Indonesia Baru 1,5 Persen dari Total Penduduk.� Suara, 9 Mei 2016.

Diakses

pada

tanggal

92

29

Oktober

2016.


http://www.suara.com/bisnis/2016/05/09/133306/jumlah-pengusaha-diindonesia-baru-15-persen-dari-total-penduduk Budiyarti, Sri. 2014. Problematika Pembelajaran di Sekolah Dasar. Yogyakarta: Deepublish. Ciputra. 2009. Ciputra Quantum Leap (Entrepreneurship Mengubah Masa Depan

Bangsa dan Masa Depan Anda). Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Kasmir. 2006. Kewirausahaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Mulyadi, Seto dan Lutfi T. Rizki. 2012. Financial Parenting (Menjadikan Anak Cerdas

dan Cermat Mengelola Uang). Jakarta: Mizan. Saiman, Leonardus. 2009. Kewirausahaan Teori, Praktik, dan Kasus-kasus. Penerbit: Salemba Empat. Suharyadi, dkk. 2007. Kewirausahaan Membangun usaha Sukses Sejak usia Muda. Jakarta: Salemba Empat. Wijatno, Serian. 2009. Pengantar Entrepreneurship. Jakarta: Grasindo. Wardhana, Dony S. 2013. 100% Anti Nganggur (Cara Cerdas Menjadi Karyawan atau

Wirausahawan). Bandung: Ruang Kata.

93


Pahruroji Ilmu Kesejahteraan Sosial, 2016 Member

“Selama prinsipnya adalah berbagi, setiap masalah akan dipermudah jalannya.” Pahruroji merupakan salah seorang member KSM Eka Prasetya UI 2016. Laki-laki kelahiran Serang, 9 September 1997 ini, menulis esai dengan judul “Traing Motivation sebagai Wujud Gerakan Pemuda melalui Pos Ramah Anak.” Salah satu impian terbesar dari Pahruroji adalah menjadi CEO di Organisasi Non-Pemerintah Internasional. Di waktu sengganggnya, Pahruroji sering menghabiskannya dengan menulis.

94


TRAINING MOTIVATION SEBAGAI WUJUD GERAKAN PEMUDA MELALUI POS RAMAH ANAK

I

ndonesia dalam berbagai hal dianggap sebagai kisah sukses di wilayah Asia dan Pasifik. Indonesia telah mengalami perubahan besar di bidang politik, sosial, dan

ekonomi dalam 15 tahun terakhir, yang kemudian muncul sebagai sebuah kekuatan demokrasi yang hidup dan stabil dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Pengentasan kemiskinan di kalangan 237,6 juta penduduk Indonesia juga cukup mengesankan. Proporsi penduduk yang hidup kurang dari US$1 per hari turun dari 20,6% di tahun 1990 menjadi 5,9% di tahun 2008 (UNICEF, 2012). Hal ini berarti telah terjadi pencapaian yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi indonesia. Namun, apakah fakta ini dirasakan menyeluruh oleh rakyat Indonesia? Apakah anakanak juga dapat merasakannya? Kondisi ekonomi rendah yang dialami di berbagai daerah di Indonesia, nyatanya memiliki dampak yang krusial bagi sejumlah anak. Memang, data menunjukan harapan manis terhadap optimisme bangsa menuju pertumbuhan di berbagai sektor. Namun, bagaimana dengan fakta lain yang menunjukkan bahwa tidak setiap orang bisa memperoleh manfaat dari transformasi yang terjadi di Indonesia? dan anak-anak adalah pihak yang paling banyak terkena dampaknya. Hingga saat ini, berbagai kasus mengenai pelanggaran dalam pemenuhan hak anak cukup menuai perhatian. Mulai dari kasus gizi buruk, penelantaran, trafficking, hingga masalah eksploitasi anak. Pilihan yang sulit bagi para orang tua ketika menghadapi kenyataan bahwa mereka harus bertahan hidup di tengah tuntutan ekonomi yang semakin kejam. Hingga akhirnya pilihan itu mengerucut dan terpaksa mengorbankan anak untuk menunjang perekonomian agar sedikit memberi ruang segar bagi kelangsungan

95


hidup mereka. Pekerja anak pada akhirnya kerap ditemukan di berbagai daerah baik di pedesaan maupun di perkotaan. Siapa yang tidak tergetar hatinya ketika menyaksikan anak yang seharusnya pada waktunya menikmati haknya untuk memperoleh pendidikan yang layak, harus bertahan dan berjibaku dengan teriknya matahari membawa asongan atau sekadar menjajakan tisu?

Antara Hak dan Tuntutan Hidup Dalam konteks Indonesia, berbagai hal yang berkaitan dengan hak dan kewajiban sebenarnya telah diatur dalam undang-undang. Namun, apakah aktualisasinya sesuai dengan kenyataan? Pada kenyataanya, sering kali kita melihat berbagai persoalan terutama yang berkaitan dengan hak selalu tidak diacuhkan. Hingga bertubi-tubi kasus pelanggaran yang berkaitan dengan hak selalu datang setiap harinya. Pemahaman terhadap hak sejatinya telah tertanam dalam jiwa manusia. Namun, kembali lagi kepada konteks Indonesia yang memiliki problematika yang kompleks terhadap kebutuhan finansial terkadang harus mengesampingkan hak dalam setiap aktivitasnya. Anak merupakan bakal generasi bangsa yang akan menggantikan sekaligus menentukan masa depan keluarganya. Dalam lingkup yang lebih luas bahkan anaklah yang akan meneruskan sistem pemerintahan dan menentukan nasib suatu negara. Untuk mewujudkan hal itu tentunya anak harus dipersiapkan sedini mungkin agar kelak menjadi manusia yang dapat diandalkan. Salah satu caranya adalah melalui pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan terhadap anak hingga hampir setiap negara menerapkan kebijakan mengenai wajib belajar, tak terkecuali Indonesia. Namun, peraturan mengenai wajib belajar itu tidak mutlak berlaku bagi beberapa kalangan. Kalangan yang dimaksud adalah masyarakat dengan tingkat rata-rata ekonomi rendah. Hak mengenai pendidikan bagi anak sebenarnya telah tercantum dalam UU Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 Pasal 9 ayat (1) yang berbunyi “Setiap

96


Anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat.� Walaupun untuk sebagian masyarakat, undang-undang tersebut hanyalah sebagai aturan tertulis yang bisa saja tidak sepenuhnya harus dilaksanakan. Hal ini disebabkan tidak semua masyarakat mampu secara finansial untuk membiayai pendidikan anaknya. Tuntutan ekonomi yang semakin sulit membuat sebagian orang tua terpaksa memanfaatkan tenaga anaknya untuk menjadi bagian dari tulang punggung keluarga. Miris memang, namun inilah kenyataan di negeri ini. Hampir di setiap daerah kita dengan mudah menemui pekerja anak yang berlalu lalang di alun-alun kota, jalan raya, bahkan yang lebih lucu adalah di lingkungan institusi pendidikan. Dengan kenyataan itu, apakah kita dapat berpikir ini mutlak kesalahan orang tuanya? Padahal yang sudah kita ketahui bahwa di sini terdapat sebuah tuntutan hidup yang harus dijalani dan suka atau tidak suka tetap saja ini menjadi semacam skenario yang patut dimaklumi.

Pelanggaran Hak adalah Perhatian Bersama Meskipun tuntutan hiduplah yang mendasari anak harus berkerja, namun tetap saja perlindungan terhadap pelanggaran hak menjadi bagian dari perhatian setiap warga negara. Dari beberapa kasus pekerja anak, seringkali terdengar hal yang tidak mengenakan yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Beberapa anak dipaksa untuk bekerja, bahkan tak jarang orangtua mematok penghasilan tertentu dalam sehari kerja. Tentu saja hal ini dapat berpengaruh terhadap kondisi perkembangan, mental, sosial, hingga mengganggu waktu sekolah anak. Melakukan pemaksaan kepada anak sama saja telah melakukan perampasan hak terhadap anak. Walaupun di dalam undang-undang ketenagakerjaan telah diperbolehkan untuk sebuah perusahaan mempekerjakan anak, namun terdapat aturan tertentu yang harus dipatuhi oleh perusahaan tersebut. Seperti dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 pada Pasal 71 disebutkan bahwa:

97


1) Anak dapat melakukan pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minatnya. 2) Pengusaha yang mempekerjakan anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib memenuhi syarat: a. di bawah pengawasan langsung dari orang tua atau wali; b. waktu kerja paling lama 3 (tiga) jam sehari; dan c. kondisi dan lingkungan kerja tidak mengganggu perkembangan fisik, mental, sosial, dan waktu sekolah. Pada eksekusinya, tidak ada pengawasan orangtua, anak diperlakukan sebagai mesin pencetak uang hingga harus banting tulang seperti halnya buruh orang dewasa. Kemudian, coba kita lihat data hasil survei yang dilakukan International Labor

Organization (ILO) bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS). Dari jumlah keseluruhan anak berusia 5-17 tahun, sekitar 58,8 juta, 4,05 juta atau 6,9 persen di antaranya termasuk dalam kategori anak yang bekerja. Dari jumlah keseluruhan anak yang bekerja, 1,76 juta atau 43,3 persen merupakan pekerja anak. Selain itu, dari jumlah keseluruhan pekerja anak berusia 5-17, 48,1 juta atau 81,8 persen bersekolah, 24,3 juta atau 41,2 persen terlibat dalam pekerjaan rumah, dan 6,7 juta atau 11,4 persen tergolong sebagai „idleâ€&#x;, yaitu tidak bersekolah, tidak membantu di rumah dan tidak bekerja. Bagaimana selanjutnya kita melihat data tersebut dengan perasaan tenang? Padahal di luar sana anak sangat membutuhkan perhatian kita .

Sebuah Harapan dari Gerakan Pemuda Ketika harapan itu muncul, kesempatan itu pasti ada. Perampasan hak anak sejatinya adalah tanggung jawab bersama. Meskipun dalam suatu negara tertulis peraturan bahwa pemerintahlah yang paling berperan dalam pemenuhan hak anak. Lantas, sampai kapan kita harus menunggu pemerintah hingga semua anak dapat merasakan haknya? Solusinya adalah ada pada diri kita, yang memiliki rasa

98


kepedulian

besar

terhadap

mereka.

Mengesampingkan

ego

pribadi

untuk

menciptakan suatu perubahan. Untuk melakukan sebuah perubahan, tidak harus sesuatu yang besar bukan? Dari hal terkecil, kita dapat melakukan perubahan. Seperti yang telah diketahui bersama bahwa pendidikan menjadi sebuah instrumen penting untuk melakukan perubahan. Jika kita lihat data yang ada di bidang pendidikan, Indonesia telah mencapai kemajuan luar biasa untuk pencapaian MDG di bidang pendidikan dasar universal dan kesetaraan gender. Namun demikian, masih ada sekitar 2,3 juta anak usia 7-15 tahun yang tidak bersekolah. Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, dimana terdapat sebagian besar penduduk Indonesia, ada 42% anak putus sekolah (UNICEF, 2012). Data yang cukup mencengangkan, bukan? Banyaknya anak yang harus putus sekolah dan sebagian besar diakibatkan oleh tuntutan ekonomi, sehingga terpaksa orang tua memilih mempekerjakan anak daripada harus menyekolahkannya, menyadarkan kita akan sebuah kepedulian. Jika saja, seluruh pemuda dari kalangan akademisi seperti mahasiswa mau bersama-sama berbagi ilmunya kepada mereka; Jika saja, di setiap daerah di Indonesia memiliki gerakan pemuda yang mau menjadi motor penggerak perubahan bagi perampasan hak anak, sudah tentu, perubahan itu dapat terwujud. Dengan adanya peluang tadi, mahasiswa dapat memanfaatkan beberapa program pemerintah seperti kabupaten/kota layak anak, dengan mendirikan beberapa “Pos Ramah Anak� di setiap titik berkumpulnya pekerja anak. Di sela waktu luang, anak dapat merasakan pendampingan sekaligus mendapatkan pendidikan informal dari para pemuda sehingga hasil yang diharapkan adalah dapat menumbuhkan rasa kepedulian anak terhadap pentingnya dunia pendidikan. Selain itu, pos ini juga dapat digunakan sebagai tempat beristirahat yang aman bagi pekerja anak setelah seharian bekerja, baik anak yang bekerja disebuah perusahaan buruh kasar, pengemis, pengamen, maupun anak yang penjual dagangan tertentu untuk membantu perekonomian keluarga.

99


Namun, masalahnya adalah tidak semua anak merasa nyaman dengan pembelajaran formal seperti pelajaran yang umum yang sering dijumpai disekolah formal.

Solusinya

adalah

dengan pembekalan

“Training

Motivation� untuk

menanamkan kembali kepercayaan diri kepada anak sekaligus menanamkan harapan masa depan yang lebih baik dan tidak berpikiran bahwa anak-anak tersebut memiliki nasib yang buruk dan tidak dapat diubah. Selain itu, anak juga dapat diberikan pendidikan soft skill oleh pemuda dari kalangan akademisi seperti public speaking yang baik, cara menulis, dan kemampuan bernegosiasi. Setidaknya hal ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh pekerja anak, sehingga di masa depan anak akan terbiasa berhadapan dengan orang lain, dan akan lebih mudah bersaing dalam dunia kerja atau tidak menutup kemungkinan ada peluang bagi pekerja anak yang putus sekolah untuk mengisi roda pemerintahan di masa depan. Perhatian terhadap pekerja anak dan anak putus sekolah merupakan hal yang tidak dapat dinafikan dalam konteks Indonesia. Kesenjangan ekonomi membuat beberapa aktivitas harus mengesampingkan hak tak terkecuali anak. Di sisi lain, anak merupakan generasi penerus bangsa yang harus diperhatikan haknya. Termasuk hak memperoleh pendidikan yang merupakan komponen penting dalam pembentukan jiwa seorang anak. Ketika pemerintah telah berusaha menunaikan kewajibannya memenuhi hak anak, nyatanya hak itu tidak dirasakan oleh sebagian anak. Di sinilah peran pemuda baik di kalangan akademisi maupun non akademisi bergerak melakukan perubahan. Memanfaatkan waktu luang mendampingi pekerja anak yang putus sekolah di setiap daerahnya masing-masing. Bergerak bersama untuk masa depan anak dan dengan ruang lingkup yang lebih luas yaitu masa depan negara yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA ILO and BPS. 2009. Working Children In Indonesia 2009. Indonesia: PT. Sigma Sarana Nusantara, Widya. 2013. � Transformatif Learningpada Kegiatan Pendampingan Anak�. Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, Vol 1, Nomor 4, Desember 2013

100


UNICEF. 2012. INDONESIA Laporan Tahunan 2012. Indonesia: UNICEF Indonesia.

Undang-Undang Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

101


Randy Raharja Ilmu Kesejahteraan Sosial, 2013 Departemen Penelitian

“Carilah Kebijaksanaan dan Kebahagiaan”

Randy Raharja merupakan Kepala Departemen Penelitian KSM Eka Prasetya UI. Penulis dengan esai yang berjudul “Mengenali Kekuatan Bangsa melalui Pemahaman Soft Power bagi Pelajar dalam Sistem Pendidikan di Indonesia,” ini lahir di Jakarta, 12 November 1994. Di waktu senggangnya, Randy biasa menghabiskannya dengan jalanjalan.

102


MENGENALI KEKUATAN BANGSA MELALUI PEMAHAMAN SOFT POWER BAGI PELAJAR DALAM SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA

P

ada tahun 1990, Joseph S. Nye, Jr. dalam bukunya Bound to Lead: The Changing

Nature of American Power mencetuskan istilah soft power atau kuasa lunak atau

kekuatan lunak sebagai sebuah konsep yang dikenal di dunia politik maupun budaya yang terus dikembangkan hingga saat ini. Berbeda dengan hard power, berupa kekuatan militer dan ekonomi, Nye menyatakan bahwa soft power merupakan realita penting yang terjadi saat ini dan merupakan alat yang menjamin kesuksesan dalam memperoleh kekuatan atau wewenang melalui pengaruh budaya yang meliputi norma, nilai, dan gagasan. Oleh karena itu, penulis mencoba menggambarkan betapa pentingnya upaya peningkatan mutu pendidikan melalui penanaman pemahaman soft power bagi pelajar dalam menjaga perdamaian dunia, kerja sama antar negara, dan peningkatan kualitas bangsa. Sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, kekuatan dan pengaruh negara Indonesia di ajang internasional mulai dilihat dan diakui dunia dengan terdaftarnya Indonesia di dalam kekuatan G-20 yang merupakan kumpulan negara yang menguasai 75 persen perdagangan global. Pada saat pemerintahannya, Presiden Ke-6 ini menyatakan pentingnya kekuatan soft power agar dapat digunakan sebagai bentuk diplomasi perdamaian antar bangsa. Dengan menengok India yang telah lama memiliki pengaruh soft power di kawasan Asia Timur yang merupakan asal keberadaan agama Hindu dan Buddha, maka sudah saatnya India dapat memetik hasil dari benih yang ditanam. Dengan demikian, pengaruh India melalui budaya perfilman atau Bollywood menjadi bentuk tren di kawasan ini ditambah dengan cara berpakaian maupun cita rasa makanan yang merupakan kekuatan sebenarnya telah menjaga hubungan harmonis antar bangsa dan menyokong

103


perdamaian regional. Mengingat sejarah masa lalu, Kerajaan Majapahit sebagai Kerajaan Maritim terbesar abad ke-13, merupakan masa kekuatan militer terkuat bagi sejarah bangsa Indonesia yang mewadahi tiga agama, yakni Hindu, Buddha, dan Islam sebagai agama minoritas yang cepat berkembang. Hingga saat ini, pengaruh Majapahit di bidang budaya masih kita rasakan melalui peninggalan bangunan dan gagasan akan Sumpah Palapa untuk mempersatukan bangsa. Di sisi lain, Indonesia memiliki masyarakat multikultural dengan kekayaan intelektual melalui budaya yang merupakan potensi bangsa. Melalui norma, nilai, ide, dan gagasan, maka Indonesia memiliki soft power yang besar, sehingga dapat ditingkatkan melalui pendidikan dan pendidikan sebagai soft power. Anies R. Baswedan menyatakan bahwa kondisi pendidikan Indonesia sudah gawat darura. Ia mengungkapkan permasalahan pendidikan di Indonesia sudah dianggap sebuah kelaziman dan potret buruk yang disebabkan birokrasi di dunia pendidikan. Rendahnya sumber daya manusia juga disebabkan oleh mutu pendidikan yang kurang baik. Agar mencapai peningkatan mutu, sudah sewajarnya pembenahan dan inovasi kreatif di bidang pendidikan Indonesia dilakukan agar turut berkompetensi dan berkolaborasi oleh pelajar Indonesia di ajang regional maupun global.

Soft power sebagai pengetahuan merupakan hal penting demi meningkatkan pemahaman antar bangsa yang dapat juga digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Telah diketahui bahwa pengetahuan soft power digunakan sebagai bentuk diplomasi. Hal ini merupakan kekuatan yang sangat dekat dengan lingkungan kita, khususnya di lingkungan pelajar. Selang waktu lalu, dunia hiburan Indonesia marak dengan musik K-Pop asal negeri Ginseng, Korea Selatan, yang merupakan penyebaran kultural terhadap masyarakat Indonesia. Dengan adanya pemberian pemahaman akan soft power, diharapkan muncul kesadaran dan upaya untuk mengenali potensi yang dimiliki bangsa dan negara dalam menggali gagasan

104


sebagai sebuah kekuatan. Schneider dan Ollins dalam Jan Mellissen (2005), mengungkapkan bentuk peningkatan praktis sebagai upaya peningkatan diplomasi dengan menggunakan

soft power dalam hubungan internasional, yaitu perlu adanya penggunaan komunikasi budaya dan menciptakan brand nasional dalam pemanfaatan soft power sebagai kekuatan. Dari paparan ini, dapat menjadi landasan dalam peningkatan pemahaman penanaman pengetahuan melalui kurikulum pendidikan berbasis pengetahuan global dengan menggunakan pemahaman mengenai soft power yang merupakan fenomena yang telah, sedang dan terus terjadi, serta sebagai upaya penggalian potensi bangsa. Tujuan dari penanaman pemahaman akan soft power turut membantu dan telah sejalan dengan beberapa impian yang terangkum dalam Nawacita atau sembilan agenda pemerintahan baru, Presiden Joko Widodo, yaitu meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, melakukan revolusi karakter bangsa, serta memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Peningkatan mutu pendidikan akan diperkuat dan ditingkatkan melalui pemenuhan pemahaman pengetahuan pelajar dengan pengenalan soft power demi potensi bangsa dan kolaborasi di kancah regional maupun global. Implementasi pendidikan di Indonesia harus disadari dengan peningkatan kesadaran atas kekuatan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia sendiri. Kaum pemuda merupakan potensi yang dapat digunakan sebagai kekuatan bangsa. Kreativitas dan inovasi merupakan inti dari pemahaman atas soft power ini. Dengan sumber daya yang dimiliki tentu saja dapat dikatakan soft power di Indonesia sangat berlimpah. Kekayaan budaya dan seni harus mampu dikenali oleh Bangsa Indonesia. Berbagai fenomena yang terjadi, saat ini, sudah banyak warga negara asing yang melihat Indonesia sebagai negara yang „super kayaâ€&#x; atas budaya, tradisi, dan seni. Hal ini dapat terlihat dari fenomena kecintaan warga Norwegia terhadap makanan khas dari Indonesia, Nasi Padang, atau fenomena dari media sosial lain

105


yang menyatakan bahwa bangsa dan negara Indonesia merupakan negara yang patut dicintai. Hal ini merupakan satu dari sekian banyak upaya diplomasi negara Indonesia yang menjadi kekuatan tak terlihat, tetapi memiliki potensi yang besar. Dengan dibekali pengetahuan mengenai soft power, pelajar Indonesia akan memperoleh manfaat dalam memahami dunia global dan eksistensi pengaruh politik budaya dari luar yang menjadi sumber kekuatan negara lain, sehingga dapat meningkatkan pemahaman serta kesadaran pelajar Indonesia dan muncul upaya dalam menggali potensi bangsa sebagai soft power. Akan tetapi, dalam menerapkan pengetahuan yang relatif baru bagi pelajar tentu terdapat kendala yang mungkin dapat terjadi, seperti perlu adanya penyesuaian kurikulum dan arah pendidikan Indonesia. Di masa depan nanti, harapan dari upaya peningkatan penanaman pengetahuan soft power kepada pelajar Indonesia adalah dapat terciptanya masyarakat Indonesia yang memiliki kesadaran dan toleransi terhadap keragaman budaya masyarakat global. Selain itu, dapat dipastikan bahwa masyarakat Indonesia nanti akan berusaha menggali potensi melalui ide dan gagasan sebagai soft power yang dimiliki bangsa dan negara Indonesia. Selanjutnya, akan terjadi kolaborasi dan kerja sama regional dan global oleh masyarakat Indonesia yang bersifat diplomatis hasil dari rasa saling memahami dan memiliki melalui pentingnya pengetahuan ini dalam penerapannya di dunia pendidikan. Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa soft power merupakan alat untuk meningkatkan hubungan kerja sama dan diplomasi antar negara melalui pengaruh politik budaya berdasarkan komunikasi budaya melalui penyebaran nilai, norma, dan gagasan. Di lain sisi, pendidikan telah menjadi alat untuk melakukan transfer ilmu pengetahuan dan upaya peningkatan kualitas hidup manusia. Pengetahuan mengenai soft power penting ditanamkan kepada pelajar Indonesia melalui sistem pendidikan. Dengan adanya kesadaran pentingnya soft power bagi pelajar diharapkan muncul upaya untuk saling mengenal hubungan kerja sama antar

106


negara dan resolusi peningkatan potensi bangsa.

DAFTAR PUSTAKA “Jalan Perubahan Untuk Indonesia Indonesia Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian:

Visi, Misi, dan Program Aksi Jokowi-JK " 2014. Jakarta, Mei 2014. hlm: 6-12. _________ .2004. Soft Power: The Means to Success in World Politics. New York: PublicAffairs, hlm. 11-13. Baswedan, Anies R. 2014. Gawat Darurat Pendidikan di Indonesia, disampaikan dalam Silahturahmi Kementerian dan Kepala Dinas. Jakarta, 1 Desember 2014. Mellissen, Jan. 2005. The New Public Diplomacy: Soft Power in International

Relations. New York: Palgrave Macmillan, hlm: 147 dan 169. Moniaga, Renita J. 2015. Indonesiaâ€&#x;s Past, Present and Future Power, Image and

Foreign Policy, disampaikan dalam ISA Global South Caucus Conference. Singapura, 10 Januari 2015, hlm. 9-16. Nye, Joseph S. Jr. 1991. Bound to Lead: The Changing Nature of American Power. New York: Basic Boks, hlm. 330. Pramono, Siswo. 2010. Resources of Indonesian Soft Power Diplomacy, dalam The Jakarta Post Ed. 28 Juni 2010. Tabloid Diplomasi. 2010. Presiden RI: Indonesia Semakin Diperhitungkan. Diakses melalui:

http://www.tabloiddiplo

masi.org/pdf/2010/DIPLOMASI%20Pebruari%202010.pdf

107


Arini Shafia Afkari Fisika, 2016 Member

“Min husni islaamil mari tarkuhu maa laa ya'niihi”

Arini Shafia Afkari merupakan member KSM Eka Prasetya UI 2016. Perempuan kelahiran Tangerang, 15 April 1998 ini, menulis esai dengan judul “Membangun Negeri bersama Anak Jalanan.” Ke depannya, Arini bekeinginan untuk menjadi seorang dosen dan juga penulis. Tidak heran bila hobi dari Arini adalah menulis.

108


MEMBANGUN NEGERI BERSAMA ANAK JALANAN

A

khir-akhir ini, pembicaraan mengenai generasi emas Indonesia tahun 2045 banyak dibicarakan. Prediksi ini didasarkan pada sorotan angka usia produktif

di Indonesia yang cukup tinggi. Sebagai pemuda, prediksi baik itu tentu harus disambut dengan rasa optimisme. Namun, apakah prediksi itu akan terjadi dengan begitu mudah? Pertanyaan sederhana ini kiranya bukan sekadar kerisauan pribadi penulis semata, tetapi juga menjadi pertanyaan bagi banyak orang dari semua kalangan, baik itu pemerintah, akademisi, pelajar, mahasiswa, ataupun para pengemis makanan di jalan. Dalam esai kritis ini, prediksi yang telah mendapatkan perhatian publik itu akan berusaha dibahas dan dikritisi dari realita yang terjadi kini. Hal ini menjadi penting karena akan membantu menjawab pertanyaan skeptis di atas. Untuk itu, permasalahan yang diangkat dalam esai ini adalah masalah konkret yang dihadapi bangsa ini terkait kepemudaan, yaitu penanggulangan terhadap masalah anak jalanan. Agar makin terfokus, spasial yang diangkat adalah Tangerang Selatan, kota yang menjadi tempat tinggal penulis. Menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), anak jalanan merupakan salah satu dari Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Kementerian Sosial mencatat bahwa ada anak jalanan sebanyak 39.861 di 12 kota besar di Indonesia. Hidup menjadi anak jalanan memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan, karena mereka dalam kondisi yang tidak semestinya, tidak memiliki masa depan yang jelas dan keberadaaan mereka tidak jarang menjadi masalah. Pada keluarga, anak tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang seharusnya. Pada masyarakat, kurangnya perhatian dari lingkungan sekitar tempat tinggal mereka terkadang membuat beban hidup mereka semakin berat. Dari segi usia, menurut

109


United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF), anak jalanan adalah pemuda dari usia 16 tahun hingga ke atas yang hidup seperti digambarkan di atas. Bila melihat ukuran usia, angka yang tinggi dari anak jalanan sejatinya benarbenar suatu ironi besar bagi negeri yang ingin mencita-citakan suatu generasi emas. Dalam mewujudkan suatu generasi emas Indonesia 2045, sangat penting kiranya membahas permasalahan anak jalanan ini untuk ditanggulangi bersama. Mengapa? Karena mereka merupakan bagian dari suatu proyeksi generasi emas yang tidak dapat dilepaskan dari anak-anak dan pemuda. Masalah ini seharusnya menjadi salah satu sorotan utama bagi para pemimpin di daerah dalam mewujudkan suatu cita-cita bangsa. Sebelum memberikan solusi konkret atas permasalahan anak jalanan di Indonesia, kiranya di awal, kita perlu memahami karakteristik negara. Dalam website resmi milik pemerintah Tangerang Selatan, kota yang berada di selatan Jakarta ini berkomitmen untuk menjadi suatu kota pendidikan, sehingga akan terus menerus berupaya memajukan mutu pendidikannya ke depan. Sejak awal pembentukannya, Tangerang Selatan memang telah menggaungkan karakteristiknya sebagai kota pendidikan. Untuk itu, komitmen ini sejatinya harus dirasakan oleh segala lapisan elemen, termasuk anak jalanan. Bila tidak, kiranya komitmen ini hanya menjadi pepesan kosong belaka, tidak memiliki makna sama sekali. Komitmen ini sejatinya perlu selalu dikritisi keberadaannya demi mewujudkan Tangerang Selatan sebagai kota pendidikan yang sesungguhnya. Keberadaan karakteristik Tangerang Selatan ini dapat diwujudkan dari intensitas dalam menyuarakan kepada khalayak luas. Karena dengan menyuarakan masyarakat dapat lebih meyakini dan mengkritisi keberadaan Tangerang Selatan sebagai kota pendidikan. Menyuarakan, meyakini, dan mengkritisi adalah hal yang dimaksud dengan memanfaatkan jargon pemerintah Tangerang Selatan sebagai kota pendidikan.

Solusi di Antara Bidang Pendidikan dan Ekonomi

110


Untuk memberikan solusi terhadap para anak jalanan di Tangerang Selatan, seorang pemimpin sejatinya dapat menemukan sebuah jalan keluar di antara banyaknya masalah di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya. Keempat hal itu kiranya menjadi sebuah ancaman terhadap „terlestarinyaâ€&#x; anak jalanan di Tangerang Selatan.

Program Pengabdian Mengajar Bagi Siswa Kelas Akhir Sekolah Menengah Awal Dari segi pendidikan, anak jalanan dapat dikatakan sebagai korban. Alasan dari ini adalah karena terlahirnya anak jalanan berasal dari suatu kenihilan pendidikan, baik dari orangtua yang melahirkan dan membesarkannya, maupun lingkungan di wilayah tempat tinggalnya, sehingga memberikan warna seorang pemuda sebagai anak jalanan (anak yang tidak terdidik). Selain itu, yang menjadi masalah hingga sekarang adalah banyaknya keengganan dari masyarakat untuk memberikan pencerahan pendidikan kepada mereka. Berdasarkan alasan itulah, ada suatu pengandaian bila penulis menjadi seorang pemimpin daerah dalam menanggulangi permasalahan anak jalanan ini, yaitu dengan program pengabdian mengajar bagi siswa kelas akhir Sekolah Menengah Awal (SMA). Konsep ini sejatinya merupakan suatu inovasi yang terinspirasi dari program yang biasa dilakukan oleh banyak pesantren di Indonesia. Di pesantren, santri kelas akhir wajib mengikuti suatu program untuk mengabdi (menjadi guru) ke wilayah yang telah dipilihkan oleh pesantren untuk beberapa waktu (biasanya 1-2 tahun). Untuk itu, pesantren di Indonesia selalu tumbuh dan berkembang. Dalam menanggulangi masalah anak jalanan di Tangerang Selatan, program sejenis di pesantren itu kiranya dapat diterapkan kepada siswa akhir SMA. Bahkan program ini harus menjadi suatu kebijakan pemerintah terhadap siswa/i kelas akhir SMA. Tentu dengan segala perubahan untuk menyesuaikan dengan siswa/i kelas akhir SMA. Dengan begitu, para anak jalanan dapat menjadi tercerahkan karena dibantu dengan pemberian jasa mengajar orang-orang yang mencerahkan (siswa/i

111


kelas akhir SMA yang mengabdi). Bila konsisten, penulis meyakini dengan perlahan jumlah anak jalanan, khususnya di Tangerang Selatan, dapat berkurang drastis, karena masalah akar mereka (pendidikan) dapat diatasi dengan baik.

Program Pengabdian Meningkatkan Dapur Industri Kreatif Anak Jalanan Serupa dengan solusi pertama, program ini dititikberatkan kepada para siswa/i kelas akhir SMA, namun bukan dalam bidang pendidikan. Program ini merupakan upaya dalam hal meningkatkan dan memprofesionalkan bakat-bakat yang dimiliki para anak jalanan. Setiap orang sejatinya memiliki bakat masingmasing, namun ada bakat yang tersembunyi (tidak diperlihatkan, dengan berbagai alasan) dari mereka. Untuk itu pemerintah berkewajiban untuk turun tangan, dalam hal ini, mendorong industri kreatif para anak jalanan. Dalam mewujudkan itu, pemerintah sejatinya dapat menggerakkan para siswa/i kelas akhir SMA melalui dinas pendidikan untuk mengajarkan para anak jalanan mengelola suatu industri kreatif. Maka dari itu, para siswa/i kelas akhir SMA juga harus tahu mengenai pengelolaan suatu industri kreatif. Hal itu dapat dilakukan pemerintah dengan memasukkan suatu pembelajaran (bisa mata pelajaran atau tugas kreatif mengenai industri kreatif masyarakat kepada para siswa/i kelas akhir SMA. Dua program di atas secara konsep memang tampak sederhana, namun sejatinya sangat dapat dirasakan manfaatnya, baik bagi siswa/i SMA maupun para anak jalanan.

DAFTAR PUSKATA Purwoko, Tjujup. 2013. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Keberadaan Anak Jalanan Di Kota Balikpapan. EJournal Sosiologi Volume 1 No. 4. http://storage.jakstik.ac.id/ProdukHukum/Sosial/Kepmensos_NO.15.pdf. diakses pada tanggal 15 Agustus 2015. http://tangsel.ppdb.kemdikbud.go.id/, diakses pada tanggal 15 Agustus 2015. 112


https://rehsos.kemsos.go.id/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid= 5, diakses pada tanggal 15 Agustus 2015.

113


Lisani Syukriani Farmasi, 2016. Member

“Belajar dari hari kemarin, hidup untuk hari ini, dan berharap untuk hari besok.”

Lisani Syukriani merupakan salah seorang member KSM Eka Prasetya UI 2016. Perempuan kelahiran Jakarta, 23 Mei 1998 ini, menulis esai dengan judul “Inovasi Camilan Sehat: Dodol Sayuran.” Di waktu senggangnya, Lisani sering menghabiskan waktunya dengan menonton drama dan mendengarkan musik. Sealan dengan program studi yang ia ambil, Lisani bercita-cita ingin menjadi apoteker.

114


INOVASI CAMILAN SEHAT: DODOL SAYURAN

I

ndonesia adalah negeri yang kaya, salah satunya dalam hal makanan khasnya. Makanan khas ini biasanya diturunkan secara turun-temurun dan bersifat

tradisional, termasuk dalam proses pengolahannya. Salah satu makanan khas yang sering kita jumpai adalah dodol. Dodol terbuat dari campuran tepung ketan, gula merah, dan santan kelapa yang dimasak sampai mengental. Makanan ini memiliki ciri-ciri bertekstur lunak seperti lilin, berwarna kecoklatan, dan memiliki rasa yang manis. Makanan ini sering dijadikan oleh-oleh saat berkunjung ke beberapa wilayah di Pulau Jawa. Sayuran adalah jenis makanan yang memiliki kandungan zat yang bermanfaat, seperti vitamin, serat, dan mineral. Saat kalian kecil, masih ingatkah kalian dengan pedagang sayur yang setiap pagi berkeliling menjual sayuran di sekitar kompleks? Atau masih ingatkah kalian saat ibu kalian berbelanja dari pedagang sayuran tersebut? Atau apakah saat ini kalian yang justru menjadi pembeli dari pedagang sayuran tersebut? Semua itu membuktikan bahwa sayuran sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup semua orang. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa ada yang tidak menyukainya. Banyak yang tidak menyukai sayuran karena rasanya yang tidak enak, tidak memiliki rasa, dan lain-lain. Ditambah lagi, banyak orang yang tidak mau berinovasi dengan jenis makanan ini, sehingga menyebabkan sayuran sampai saat ini menjadi momok bagi hampir sebagian besar orang. Padahal, sayuran memiliki banyak sekali manfaat, seperti sebagai sumber antioksidan, kesehatan organ tubuh, dan bahkan mencegah kanker. Sangat disayangkan apabila masyararakat tidak memiliki kesempatan untuk dapat merasakan manfaat dari sayuran ini dalam bentuk lain. Oleh karena itu, saya menciptakan inovasi pada jenis makanan ini dalam bentuk camilan yang sehat dan bergizi tinggi.

115


Pemilihan jenis olahan dari sayuran tersebut berbentuk dodol karena olahan makanan ini merupakan salah satu makanan khas dari Indonesia. Jenis olahan ini sudah menjadi bentuk makanan yang sangat digemari masyarakat. Beberapa faktor yang menyebabkan dodol sangat disukai oleh masyarakat adalah karena rasanya yang manis. Berbagai macam olahan yang manis sangat disukai oleh berbagai kalangan, baik itu anak-anak, remaja, dan dewasa (Info Peluang Usaha, 2015). Saat ini, banyak jajanan atau makanan yang cenderung memiliki rasa yang manis. Salah satunya olahan berbentuk dodol. Dahulu, bahan dasar dodol hanyalah gula merah dan santan yang dimasak selama beberapa jam hingga mengental. Akan tetapi, sekarang dodol bisa dimodifikasi bahannya dengan menambahkan sayuran yang

bergizi tinggi. Tapi tidak menutup kemungkinan inovasi dodol ini

menghilangkan ciri khasnya menggunakan gula merah dan santan. Selain itu, hal yang perlu diingat adalah, bahwa saat ini banyak oknum-oknum yang menggunakan bahan kimia berupa pemanis buatan, pewarna buatan, pengawet, dan sebagainya dalam setiap olahannya. Sebagai pembeli, sudah sepatutnya kita jeli terhadap produk-produk olahan tersebut, karena produk tersebut akan sangat berbahaya bagi tubuh kita. Faktor lainnya yang menyebabkan dodol disukai masyarakat adalah karena bentuknya

yang

simpel

dan

mudah

dibawa.

Dodol

biasanya

dibungkus

menggunakan kertas minyak dengan bentuk silinder kecil. Namun sekarang, banyak juga yang menggunakan plastik atau bahan lainnya (daun pisang kering, janur) untuk membungkus dodol. Hal itu membuat ukuran dodol yang kecil dan mudah dibawa menjadi sangat digemari bagi masyarakat yang cenderung sibuk dan tidak memiliki waktu banyak untuk makan di kantin. Apalagi, dodol sayuran tentunya akan sangat berguna dan mengandung berbagai kandungan zat yang baik bagi tubuh dan bersifat menyehatkan. Tidak perlu repot-repot ke kantin dan membeli makanan berat, dodol sayuran ini selain menyehatkan dan bergizi tinggi, juga cocok untuk orangorang yang sibuk dan tidak memiliki banyak waktu untuk sekedar makan di kantin.

116


Faktor terakhir yang membuat dodol disukai oleh masyarakat adalah karena jenis olahan ini cenderung lebih awet dan tahan lama. Proses pemasakan yang memakan waktu yang lama (kurang lebih lima jam) membuat makanan ini menjadi lebih awet dan tahan lama karena dari segi kekeringannya. Oleh karena itu, dari segi tahan lamanya, orang-orang akan cenderung memilih makanan ini sebagai camilan mereka. Salah satu contoh jenis sayuran yang dapat dijadikan dodol adalah kentang. Kentang memiliki tekstur yang lunak jika direbus. Hal ini akan mempermudah proses pengolahannya. Sayuran yang dijadikan bahan dalam dodol ini lebih baik jika dimasak dan dihaluskan terlebih dahulu sebelum dimasak bersama-sama bahan lainnya. Berikut adalah langkah-langkah cara pembuatan dodol kentang (Novalinda dan Yanti): 1. Kentang direbus / dikukus lalu dihaluskan. 2. Kelapa di parut lalu di gongseng. 3. Adonan 1 dan 2 dicampur, lalu masukkan kentang, gula, terigu, vanili, dan garam. 4. Kemudian masak dengan api kecil, aduk-aduk terus jangan sampai gosong. 5. Tanda dodol sudah masak, adonan berminyak dan tidak lengket. 6. Setelah masak ratakan dalam cetakan yang telah disiapkan dengan tinggi Âą 1 cm, setelah dingin potong-potong lalu di jemur/oven, setelah kering dodol siap untuk dibungkus.

Dodol Sayuran Ditinjau dari Aspek Kesehatan Makanan, terutama sayuran, memiliki kandungan serat yang berguna dalam proses metabolisme tubuh, terutama dalam hal ini adalah proses pencernaan, proses ekskresi dan imunitas tubuh. Dari segi kesehatan, sayuran merupakan komponen gizi yang dibutuhkan tubuh selain karbohidrat dalam nasi, protein dalam daging atau

117


kacang-kacangan, dan mineral dalam air. Di sini sayuran berfungsi sebagai sumber vitamin dan serat yang memiliki fungsi yang sama dengan buah-buahan. Jika perlu, sebaiknya konsumsi sayuran dilakukan setiap harinya dalam rangka memenuhi kebutuhan gizi yang sehat dan seimbang. Dalam hal ini, produk olahan dodol merupakan salah satu jenis makanan yang sehat jika dikombinasikan dengan sayuran itu sendiri. Seperti yang dijelaskan diatas, bahwa kandungan vitamin A dalam wortel sangat bermanfaat bagi kesehatan mata, yaitu untuk mempertajam penglihatan dan mencegah gangguan atau penyakit pada mata, seperti: rabun senja, katarak, dan sebagainya. Kandungan beta karoten pada wortel juga bermanfaat sebagai sumber antioksidan dalam proteksi tubuh dan juga menjaga kekebalan tubuh dari serangan penyakit. Selain itu, terdapat juga berbagai kandungan dalam sayuran lain seperti bayam, yaitu zat besi yang berfungsi dalam pembentukan sel darah merah dan sebagai pengatur suhu tubuh agar tetap stabil. Kandungan lainnya dalam bayam yaitu

flavonoid yang berguna dalam menetralisir radikal bebas sehingga

meminimalkan efek kerusakan jaringan tubuh. Terakhir, kandungan dalam brokoli seperti serat sangat bermanfaat dalam menurunkan risiko penyakit jantung dan kadar kolesterol dalam darah. Kandungan serat dalam brokoli juga sering dimanfaatkan untuk menjadi sumber makanan utama bagi orang-orang yang sedang melakukan diet dalam rangka menurunkan berat badan. Kandungan glukoraphanin dalam brokoli juga sangat bermanfaat dalam mencegah kanker. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dodol sayuran ini memiliki banyak manfaat bagi tubuh, karena olahan makanan ini dibuat dalam bentuk camilan yang simpel dan mudah dibawa, serta tahan lama. Sedangkan dari aspek-aspek sosial, dodol sayuran ini tentunya akan menarik minat konsumen terutama dari segi inovasinya. Ditambah lagi, jenis makanan ini merupakan camilan yang khas dan memiliki gizi yang tinggi sehingga dapat menciptakan kesejahteraan dalam hal pemenuhan gizi masyarakat. Ditinjau dari aspek saintek dan kesehatan, berbagai

118


kandungan gizi dari sayuran sangat bermanfaat bagi kesehatan masyarakat. Sehingga, dengan adanya inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam hal pemenuhan gizi yang baik dan seimbang.

DAFTAR PUSTAKA “Cemilan Unik dan Murah, Inspirasi untuk Usaha.” Info Peluang Usaha, 21 Februari 2015, diakses pada 14 Oktober 2016. https://infopeluangusaha.org/cemilanunik-dan-murah-inspirasi-untuk-usaha/. Novalinda, Dewi dan Linda Yanti. “Potensi Pengembangan Teknologi Pengolahan Sayuran Ramah Lingkungan melalui Pemberdayaan Petani di Kabupaten Merangin.”

Bada

Pengkajian

Teknologi

Pertanian

http://jambi.litbang.pertanian.go.id/ind/images/PDF/Dewi3.pdf.

119

Jambi,


Mela Milani Farmasi, 2014 Departemen Bisnis dan Proyek

“Live while we’re young.”

Mela Milani merupakan deputi Departemen Bisnis dan Protek, KSM Eka Prasetya UI 2016. Perempuan yang suka jalan-jalan ini, bercita-cita ingin menjadi CEO perusahaan kosmetik. Dalam berbagai kesempatan, Mela memang tertarik dengan dunia farmasi, hal ini ditunjukkan dengan esainya yang berjudul “Osteoporosis Sekunder: Silent Killer bagi Pasien Geriatri.”

120


OSTEOPOROSIS SEKUNDER: SILENT KILLER BAGI PASIAN GERIATRI

P

erkembangan penduduk lanjut usia (geriatri) di Indonesia dari tahun ke tahun jumlahnya cenderung meningkat (Departemen Sosial Republik Indonesia, 2007)

. Dengan peningkatan populasi lansia di Indonesia , berbagai masalah kesehatan yang khas pada lansia akan meningkat. Dilihat dari angka kesakitan penduduk lansia tahun 2012 sebesar 26,93% artinya bahwa dari setiap 100 orang lansia terdapat 27 orang di antaranya mengalami sakit (RI, 2013). Penyakit yang dialami oleh pasien geriatri biasanya merupakan multipatologi, yaitu adanya lebih dari satu penyakit kronis degenerative karena pasien geriatri mengalami penurunan fungsi organ . Salah satu penyakit yang sering dialami oleh pasien geriatri adalah osteoporosis. Saat ini osteoporosis menjadi permasalahan di berbagai negara, dan menjadi isu global dalam bidang kesehatan . Di negara berkembang penyakit osteoporosis terus meningkat sejalan dengan meningkatnya usia harapan hidup (Permana, 2009). Di Indonesia, prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun pada wanita sebanyak 18-36% sedangkan pria 20-27%, untuk umur diatas 70 tahun pada wanita 53,6%, pria 38%. Jumlah penderita osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar dari target yang ditetapkan Depkes RI yang mematok angka sebesar 19,7% dari seluruh penduduk (Tamsuri & Hareni, 2010). Osteoporosis menyebabkan hilangnya massa tulang yang terjadi secara berkelanjutan dan dalam jangka panjang. Sering kali tanpa menimbulkan gejala. Sehingga osteoporosis biasa dikatakan pembunuh tersembunyi (silent killer). Masalah osteoporosis pada lansia dapat menyebakan fraktur tulang .

121


Osteoporosis merupakan satu penyakit metabolik tulang yang ditandai oleh menurunnya massa tulang, oleh karena berkurangnya matriks dan mineral tulang disertai dengan kerusakan mikroarsitektur dari jaringan tulang,akibat menurunnya kekuatan tulang. Sehingga terjadi kecenderungan tulang mudah patah. Berikut merupakan

mekanisme

pembentuka

tulang

(bone

forming)

pada

pasien

osteoporosis.

Pada osteoporosis akan terjadi abnormalitas bone turnover, yaitu terjadinya proses penyerapan tulang (bone resorption) lebih banyak dari pada proses pembentukan tulang (bone formation). Sel yang bertanggung jawab untuk

122


pembentukan

tulang

disebut

osteoblas

(osteoblast),

sedangkan

osteoklas

(osteoclast) bertanggung jawab untuk penyerapan tulang (Kawiyana, 2009). Pembentukan tulang terutama terjadi pada masa pertumbuhan. Pembentukan dan penyerapan tulang berada dalam keseimbangan pada individu berusia sekitar 30– 40tahun. Keseimbangan ini mulai terganggu dan lebih berat ke arah penyerapan tulang ketika wanita mencapai menopause dan pria mencapai usia 60 tahun. Hal ini dikarenakan terdapat hubungan antara proses penyerapan tulang dengan defisiensi hormon estrogen. Sehingga wanita lebih cenderung memiliki osteoporosis setelah menopause (AHRQ, 2008).

Pemeriksaan Laboratorium Osteoporosis dapat dideteksi dengan cara pemeriksaan secara laboratorium. Pemeriksaan yang dilakukan adalah densitas massa tulang. osteoporosis diukur densitas massa tulang dengan ditemukan nilai t-score yang kurang dari â&#x20AC;&#x201C; 2,5. Sedangkan dikatakan normal nilai t-score > -1 dan Osteopenic apabila t-score antara -1 hingga - 2,5 dan dikatakan osteoporosis apabila nilai z-score < 2 (Permata, 2009).

Jenis Osteoporosis Osteoporosis terbagi dalam dua kelompok, yaitu osteoporosis primer dan osteoporosis sekunder. Osteoporosis primer adalah osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan osteoporosis sekunder adalah osteoporosis yang dapat terjadi pada umur berapapun dan berhubungan dengan gangguan hormon seperti hormon gondok, tiroid, dan paratiroid, insulin pada penderita diabetes melitus dan glucocorticoid (Ramadani, 2010). Ternyata pada usia geriatri terdapat hubungan antara diabetes mellitus dan osteoporosis. Sampai saat ini diabetes mellitus sendiri di duga sebagai penyebab osteoporosis

sekunder.

Oleh

karena

itu

osteoporosis sekunder .

123

kami

akan

membahas

mengenai


Diabetes mellitus (DM) dan gangguan metabolisme glukosa memiliki efek yang merugikan pada metabolisme tulang. Risiko patah tulang lebih tinggi dengan DM tipe 1 dibandingkan dengan DM tipe 2 (1,2). Risiko patah tulang dapat meningkat sejalan dengan peningkatan penggunaan insulin (Nicodemus & Folsom,2001).

Patofisiologi Osteoporosis

Obesitas dan protein glikasi adalah dua faktor yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap patah tulang pada pasien DM tipe 2. Berat badan yang rendah,

hypoinsulinemia dan kadar serum yang rendah dari IGF-I. Ini merupakan gejala umum dan fitur biokimia yang terjadi pada pasien DM tipe 1 yang tidak terjadi pada pasien DM tipe 2. Ada data yang menunjukkan tingkat kehilangan tulang lebih tinggi pada pasien hiperglikemik. Padahal, hiperglikemia tidak jelas terkait dengan massa tulang yang rendah dalam kasus DM tipe 2 (Paula & Rosen, 2010). Studi klinis yang baru oleh Yamamoto dan Cols mengatakan bahwa pasien diabetes memiliki tingkat serum pentosidine yang lebih tinggi dari nondiabetes. Pasien yang memiliki tingkat serum pentosidine positif dan signifikan saling terkait dengan kejadian patah tulang belakang pada wanita postmenopause yang menderita diabetes melitus dan bahwa hubungan itu tidak tergantung dari bone

mineral density (BMD) (Yamamoto, Yamaguchi, Yamauchi, Yano, & Sugimoto, 2008).

124


Pengobatan Osteoporosis yang Disebabkan oleh DM Jenis

obat

yang

telah

digunakan

untuk

pengobatan

DM,

seperti

thiazolidinediones (Lecka-Czernik, 2010). TZDs memberi efek antidiabetes dengan mengaktifkan

peroxisome

proliferator-activated

receptor-Îł

(PPAR-Îł)

nuclear

receptor, yang mengontrol glukosa dan metabolism asam lemak. Aktivasi PPAR-Îł dengan TZDs menyebabkan remodeling tulang tidak seimbang seperti resorpsi tulang meningkat dan pembentukan tulang menurun ( Lazarenko et al , 2007). Sehingga melindungi tulang dari efek merugikan dari TZDs (pioglitazone dan rosiglitazone)

dengan

menggunakan

terapi

kombinasional

dengan

obat

antiosteoporotik. TZDs diberikan dalam kombinasi dengan obat antiosteoporotic (misalnya, bifosfonat) dapat melindungi tulang (Lecka-Czernik, 2010).

Thiazolidinediones (TZDs) Thiazolidinediones

(TZDs)

diperkenalkan

sebagai

agen

yang

dapat

menurunkan glukosa yang bisa mengurangi komplikasi pada DMT2 (Paula & Rosen, 2010).Terdapat dua jenis TZDs yaitu rosiglitazone dan pioglitazone yang memiliki efek untuk mengobati DMT2 dan berpotensi membantu dalam gangguan resisten insulin (Stout & Fugate, 2005). Efisiensi rosiglitazone untuk mempertahankan DM di bawah kontrol metabolik lebih besar dari glyburide dan metformin (Kahn et al. (2006). Namun, mungkin ada peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pada pasien diobati dengan rosiglitazone. Walaupun BMD menurun pada manusia dapat diamati pada awal 14 minggu setelah pengobatan dengan rosiglitazone. Setelah empat minggu pengobatan dengan rosiglitazone dapat menurunkan BMD (Paula & Rosen, 2010). Jika menggunakan pioglitazone memiliki efek samping seperti penambahan berat badan , retensi cairan, risiko tinggi untuk edema kronis atau gagal jantung , peningkatan risiko kanker kandung kemih serta peningkatan risiko patah tulang (3,4). Mengonsumsi obat golongan TZDs dapat mengakibatkan risiko retensi cairan dan gagal jantung tinggi (B, Nelson, Oderda, & Steinvoort, 2013). Jadi, pasien

125


osteoporosis sekunder disarankan untuk mengonsumi obat metformin karena metformin dapat mengobati pasien Diabetes mellitus tipe 2.

Bisfosfonat Bisfosfonat merupakan obat yang digunakan untuk pengobatan osteoporosis. Bisfosfonat dapat mengurangi resorpsi tulang oleh sel osteoklas dengan cara berikatan dengan permukaan tulang dan menghambat kerja osteoklas dengan cara mengurangi produksi proton dan enzim lisosomal di bawah osteoklas (Setiyohadi, 2006). Setelah berikatan dengan tulang dan beraksi terhadap osteoklas, bisfosfonat akan tetap berada di dalam tulang selama berbulan-bulan bahkan bertahuntahun, tetapi tidak aktif lagi. Bisfosfonat yang tidak melekat pada tulang, tidak akan mengalami metabolisme di dalam tubuh dan akan diekresikan dalam bentuk utuh melalui ginjal, sehingga harus hati-hati pemberiannya pada penderita gagal ginjal (Kawiyana, 2009).

Konsumsi Kalsium dan Vitamin D Selain obat-obatan yang dikonsumsi pasien osteoporosis yang disebabkan oleh diabetes,tetapi harus sering juga mengonsumsi kalsium dan vitamin D, serta kontrol glikemik harus dioptimalkan untuk meminimalkan komplikasi mikrovaskuler, retinopati dan neuropati, yang mungkin menyebabkan peningkatan risiko jatuh dan patah tulang (Mirza & Canalis, 2015). Mengonsumsi kalsium dan vitamin D. Kalsium digunakan untuk memperkuat tulang. Vitamin D membantu tulang untuk menggunakan kalsium. Mereka bekerja sama untuk membangun tulang.Minum 2 gelas susu dan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumya tidak mendapatkan cukup kalsium. Sebaiknya konsumsi kalsium setiap hari. Dosis yang dianjurkan untuk usia produktif adalah 1000 mg kalsium per hari, sedangkan untuk lansia 1200 mg per hari (Cosman, 2009).

126


Selain mengonsumsi kalsium, vitamin D kita juga diwajibkan untuk Olahraga. Latihan ini baik untuk kesehatan tulang, kekuatan otot, dan keseimbangan. Olahraga dapat membantu menurunkan kemungkinan terjatuh. Bagi pasien osteoporosis, jatuh dapat menyebabkan patah tulang. Oleh sebab itu diperlukan asupan vitamin D dari makanan, seperti susu dan olahraganya, ikan samon, minyak ikan, sarden, telur, dll (5,6). Jadi pasien osteoporosis yang disebabkan oleh diabetes mellitus dapat dikatakan osteoporosis sekunder. Untuk pengobatan dipilih yang dapat menurunkan glukosa darah dan menghambat osteoporosis yaitu dengan mengonsumsi obat

Thiazolidinediones (TZDs) terutama rosiglitazone yang lebih efektif dari jenis lainnya tetapi disebabkan efek samping yang disebabkan adalah gagal jantung. Sehingga direkomendasikan

untuk

mengonsumsi

TZDs

dengan

menggunakan

terapi

kombinasional dengan obat antiosteoporotik. TZDs diberikan dalam kombinasi dengan obat antiosteoporotic (misalnya, bifosfonat) dapat melindungi tulang. Untuk hasil yang optimal ,dianjurkan untuk mengonsumsi kalsium dan vitamin D serta berolahraga.

DAFTAR PUSTAKA AHRQ. (2008). Osteoporosis Treatments That Help Prevent Broken Bones. Effective Health Care. Almatsier, S. (2010). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. B, J. L., Nelson, S., Oderda, G. M., & Steinvoort, C. S. (2013). Thiazolidinediones. Utah: Utah Government. Cosman Felicia, 2009. Osteoporosis: Panduan Lengkap agar Tulang Anda Tetap Sehat. Solo: Bintang Pustaka. Departemen Sosial Republik Indonesia. (2007). Menteri Sosial Republik Indonesia :

Keputusan Mentri Sosial RI nomor 4/PRS-3/KPTS/2007 tentang Pedoman Pelayanan Sosial Lanjut Usia dalam panti. Jakarta: Direktorat Bina Pelayanan Sosial.

127


Garber AJ, Abrahamson MJ, Barzilay JI, et al.(2013). American association of clinical endocrinologists' comprehensive diabetes management algorithm 2013 consensus statement - executive summary. Endocr Pract, 19(3), 536-557. Holick, MF. (2007). Vitamin D deficiency. N Engl Jmed, 357: 266–81. Inzucchi SE, Bergenstal RM, Buse JB, et al. (2012). Management of hyperglycemia in type 2 diabetes: a patient-centered approach: position statement of the American Diabetes Association (ADA) and the European Association for the Study of Diabetes (EASD). Diabetes Care, 35(6), 1364- 1379. Janghorbani M, Feskanich D, Willett WC & Hu F.(2006). Prospective study of diabetes and risk of hip fracture: the Nurses‟ Health Study. Diabetes Care , 29 ,1573– 1578. (doi:10.2337/dc06-0440) Jeyabalan, J., Viollet, B., Smitham, P., Ellis, S., Zaman, G., & Bardin, C. et al. (2013). The anti-diabetic drug metformin does not affect bone mass in vivo or fracture

Osteoporosis

healing.

International,

24(10),

2659-2670.

http://dx.doi.org/10.1007/s00198-013-2371-0 Kawiyana,

I.

K.

(2009).

OSTEOPOROSIS

PATOGENESIS

DIAGNOSIS

DAN

PENANGANAN. J Peny Dalam, 11. Kahn SE, Haffner SM, Heise MA, Herman VH, Holman RR, Jones NP, et al. (2006).Glycemic

durability

of

rosiglitazone,

metformin

or

glyburide

monotherapy. N Engl J Med, 355(23), 2427-43. Lazarenko OP, Rzonca SO, Hogue WR, et al.(2007). Rosiglitazone induces decreases in bone mass and strength that are reminiscent of aged bone. Endocrinology. 148:2669–2680. doi: 10.1210/en.2006-1587. Lecka-Czernik,

B.

(2010).

Bone

Loss

in

Diabetes:

Use

of

Antidiabetic

Thiazolidinediones and Secondary Osteoporosis. Current Osteoporosis

Reports, 8(4), 178-184. http://dx.doi.org/10.1007/s11914-010-0027-y

128


Mirza, F. & Canalis, E. (2015). MANAGEMENT OF ENDOCRINE DISEASE: Secondary osteoporosis: pathophysiology and management. Eur J Endocrinol, 173(3), R131-R151. http://dx.doi.org/10.1530/eje-15-0118 Nicodemus KK, Folsom AR & Iowa Women‟s Health S .(2001). Type 1 and type 2 diabetes and incident hip fractures in postmenopausal women. Diabetes

Care, 24, 1192–1197. (doi:10.2337/diacare.24.7.1192) Paula, F. J., & Rosen, C. J. (2010). Obesity, diabetes mellitus and last but not least, osteoporosis. Arq Bras Endocrinol Metab, 154-155. Permana, H. (2009). Principles of the management of diabetic osteoporosis. Permata, H. (2009). Principles of the management of diabetic osteoporosis.

Universitas Padjajaran, 3. Rahayu, R. A., & Karjono, B. J. (2011). Symposium "Geriatrics Syndromes : Revisited". Semarang: Badan Penerbit Universitas Dipenegoro. Ramadani, M. (2010). FAKTOR-FAKTORRISIKOOSTEOPOROSISDANUPAYA. Jurnal

Kesehatan Masyarakat, 112-113. RI, K. K. (2013). Gambaran Kesehatan Lanjut Usia di Indonesia. Buletin Jendela Data

dan Informasi Kesehatan, 14. Setiyohadi, Bambang. (2006). Perkembangan terbaru dalam penatalaksanaan osteoporosis. Osteoporosis. Edisi 1. Jakarta: Perhimpunan Osteoporosis Indonesia – CV Infomedika. p.61-73. Stout DL, Fugate SE. (2005) . Thiazolidenediones for treatment of polycystic ovary syndrome. Pharmacotherapy, 25(2), 244-52. Tamsuri, A., & Hareni, R. (2010). Hubungan Pengetahuan Tentang Osteoporosis dengan Pencegahan Osteoporosis pada Lanjut Usia di Dusun Puhrejo Desa Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri . Jurnal AKP, 1. Yamamoto, M., Yamaguchi, T., Yamauchi, M., Yano, S., & Sugimoto, T. (2008). Serum pentosidine levels are positively associated with the presence of vertebral

129


fractures in postmenopausal women with type 2 Diabetes Mellitus. J Clin

Endocrinol Metab., 1013-1019.

130


REFLEKSI

Muhammad Syaroful Umam Ilmu Politik, 2014. Departemen Kajian

“Amore dultis exitus.” “Aqil” merupakan sebuah refleksi mengenai inovasi untuk negeri yang ditulis oleh M. Syaroful Umam. Di tahun 2016 ini, Umam menjabat sebagai Kepala Departemen Kajian, KSM Eka Prasetya UI. Mahasiswa semester 5 Ilmu Politik ini merupakan putra kelahiran Mojokerto, 1 Oktober 1995. Di waktu senggangnya, Umam suka bermain musik. Impian terbesarnya adalah menjadi pengangguran sejahtera.

131


Refleksi

AQIL

S

aya punya teman. Namanya Aqil. Dia sedang duduk di bangku perkuliahan di salah satu Universitas Negeri di Malang. Aqil merupakan satu dari sekian ratus

ribu mahasiswa yang ada di Indonesia, namun ada kisah menarik tentang dirinya. Aqil sebelum duduk di bangku kuliah mengenyam pendidikan di pesantren. Iya, dia salah satu teman saya selama enam tahun. Hari-hari yang kami lalui begitu indah, sampai persahabatan kami terasa sangat kuat. Tentunya, ikatan emosional antara kami begitu kuat. Setelah lulus, saya pergi ke Jakarta untuk menuntut ilmu dan khirnya kami berpisah. Jarak tidak menghilangkan ikatan batin kami. Saya dan Aqil tetap menjadi sahabat, layaknya masa-masa di pesantren dahulu. Sering saat Aqil membutuhkan bantuan, saya hadir, begitu pula sebaliknya. Pada tahun pertama setelah lulus dari pesantren, Aqil diterima di salah satu universitas swasta di malang. Saat-saat itu begitu berat bagi dia, karena dia kurang cocok dengan jurusan yang dimasukinya. Setelah setahun berlalu, dia memutuskan untuk keluar dari universitasnya, pindah ke universitas negeri di Malang. Di universitas tersebut, Aqil menemukan banyak kendala. Pada masa-masa tersebut, Aqil sering sakit-sakitan. Selain itu, dalam permasalahan akademik, Aqil juga merosot prestasinya. Pada satu kesempatan, Aqil bercerita bahwa dia mempunyai permasalahan dengan orang tuanya. Saki Aqil tiap harinya semakin parah. Semakin hari semakin parah. Sakit yang berkepanjangan tersebut membuatnya mendapatkan nilai yang hancur saat liburan semester. Risiko memang, bagaimana bisa kita kuliah kalau kesehatan pun tidak ada? Orang tuanya yang tidak peduli dengan dirinya membuat Aqil dalam posisi terjepit. Dalam relung hatinya, dia bingung, â&#x20AC;&#x17E;Aku harus bagaimana?â&#x20AC;? begitu ujarnya. 132


Saat dia bercerita tentang hal tersebut kepada saya, hati ini merasa bimbang. Apa yang bisa saya lakukan untuknya? Memang saya tidak bisa melakukan apa-apa. Mungkin hanya dapat memberikan bantuan finansial. Itupun tidak sering. Lama-lama, saya memikirkan bagaimana negara menjamin kesehatan penduduknya. Kebetulan saat saya menulis cerita ini, ada tuntutan menulis antologi yang bertema â&#x20AC;&#x153;Inovasi untuk Negeriâ&#x20AC;?. Yah, bagi saya kenapa harus berinovasi kalau negara ini mempunyai banyak hal yang belum terselesaikan di depan mata? Contoh mudahnya masalah kesehatan. Berapa banyak Aqil lain yang ada di Indonesia? Iya,

kalau

dipikir-pikir,

dengan

bentuk

apa

negara

menyelesaikan

permasalahan tersebut? BPJS? Saya rasa kurang efektif. Harus ada gebrakan lain untuk menjamin kesehatan warganya. Saya sering mendengar rumor bahwa pasien BPJS diperlakukan dengan kurang layak. Dokter yang menangani tidak memberikan pelayanan yang optimal dibanding dengan pasien di kamar kelas I atau VIP. Selain itu, pendapatan dari BPJS tidak sanggup untuk menutupi pengeluarannya. Memang tidak semudah itu mengatakan kalau BPJS gagal atau kurang maksimal, tetapi apa memang tidak ada alternatif lain? Atau jika tidak ada, apakah ada cara untuk memaksimalkan BPJS? Agar lebih efektif dan tepat guna. Kira-kira begitulah saya melihat fenomena Aqil dan tema tulisan kali ini. Jaminan kesehatan. Siapa yang tak mau warga negaranya sehat? Tulisan kali ini hanya ingin mengingatkan, masih banyak lho permasalahan yang dihadapi negara kita. Kita butuh inovasi yang sifatnya menyelesaikan permasalahan negara. Permasalahan yang dihadapi antara lain: pendidikan, kesehatan, kesenjangan ekonomi, korupsi, penegakan hukum yang lemah, pengelolaan sumber daya alam yang buruk, kasus-kasus rasial, kerusakan lingkungan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, mudah untuk menyalahkan siapa yang menjadi pokok permasalahan di atas, yaitu negara. Tinggal bagaimana kita menganalisis aktor-aktor di baliknya. Mudah memang menyalahkan negara. Kebijakan A kurang jelas, salahkan DPR; pertumbuhan ekonomi tidak sesuai target, salahkan eksekutif, dan lain

133


sebagainya. Hanya saja, bukan berarti itu yang menyebabkan negara ini mempunyai permasalahan-permasalahan seperti di atas. Penyelesaian harus diaplikasikan secara radikal, yang memang merusak tatanan inti yang paling dalam, yaitu masyarakat sendiri. Tulisan ini memang ngalor-ngidul yak. Sebenarnya penulis sendiri bingung ingin menulis apa. Dengan tema inovasi untuk negeri, penulis tidak dapat memikirkan inovasi apa yang dimaksud. Kebetulan saja, penulis ingatnya Aqil. Yawis, penulis tulis saja tentang Aqil. Eh, malah melebar ke mana-mana. Intinya begini, banyak lho permasalahan yang ada di negara kita. Boro-boro negara, di sekitar kita juga banyak permasalahan yang belum terselesaikan. Cukup sering kita melihat bagaimana masyarakat dengan mudahnya membuang sampah plastik bekas bungkusan es teh manis seharga tiga ribu rupiaj. Itu masalah. Kalau

disuruh

untuk

menulis

tentang

inovasi,

penulis

hanya

bisa

menyarakankan inovasi hati lagi saja. Bagaimana cara kita agar menyelesaikan masalah sekitar kita, baik dari kesehatan, pendidikan, dan berbagai masalah lain yang sudah dipaparkan sebelumnya. Kembali lagi ke Aqil. Aqil sekarang memutuskan untuk pindah kampus (lagi). Merasa gagal, Aqil baru saja memutuskannya dengan setengah hati. Semoga lancar hidupmu nanti, Aqil. Maafkan aku sebagai temanmu tidak dapat meringankan beban dirimu, atau bahkan meminjami uang untuk membeli harddisk baru. Membantu manusia saja masih kesusahan, bagaimana bisa saya menulis tentang inovasi? Duh. Ya sudahlah. Intinya saya ingin mengingatkan pembaca, inovasi untuk negeri itu dilakukan dengan langkah paling kecil terlebih dahulu, yaitu memantapkan hati untuk menyelesaikan permasalahan. Iya, sudah itu saja. Semoga semakin berkurang yang memiliki nasib seperti Aqil.

134


135

Antologi ksm 2016  

Merupakan kumpulan tulisan anggota KSM 2016 yang berisi inovasi-inovasi untuk Indonesia yang lebih baik.

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you