Issuu on Google+

16

Edisi 01 / 2011

FIGUR

Anas Urbaningrum (akrab disapa Bung Anas), lahir di Blitar 15 Juli 1969. Setelah selesai mengikuti studi Sarjana Ilmu Politik Universitas Airlangga, 1992, Bung Anas melanjutkan studi Magister Sains Ilmu Politik UI, 2000. Saat ini, Bung Anas telah memasuki tahap akhir Program Doktor Ilmu Politik di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

K

etua Umum DPP Partai Demokrat (PD) Anas Urba ningrum menyatakan pemberian penghargaan Man of The Year 2010 Kategori The Guard of Integrity dari Website Rakyat Merdeka On Line (RMOL) kepadanya merupakan wujud dari budaya membangun apresiasi pada prestasi. Penghargaan kepada Anas diberikan dalam acara yang berlangsung di Jakarta Media Center, Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis 27 Januari 2010 malam. “Membangun budaya apresiasi merupakan hal penting. Saya tidak yakin budaya apresiasi bisa tumbuh dengan sendirinya tanpa dibangun. Budaya apresiasi harus secara sistematik dan sadar dibangun. Dalam konteks ini, saya memberikan apresiasi karena RMOL telah membangun budaya apresiasi dengan memberikan penghargaan Man of The Year 2010 kepada beberapa individu,” kata Anas Urbaningrum saat memberikan orasi budaya pada acara pemberian penghargaan tersebut. Anas Urbaningrum menyatakan, penghargaan yang diberikan RMOL merupakan apresiasi untuk membangun budaya bangsa. Apresiasi dalam konteks kebudayaan dan peradaban adalah hal penting karena berbasis pada rasa hormat, menghargai prestasi. Kebu-

dayaan yang penting bagi sebuah bangsa. Anas Urbaningrum mengingatkan, budaya apreasiasi di kalangan banga Indonesia masih sangat kurang. Padahal apresiasi bisa membangun energi kultural bagi sebuah bangsa hingga menumbuhkembangkan prestasi di berbagai bidang kehidupan. Tumbuhnya prestasi di berbagai bidang adalah harkat martabat sebuah bangsa. Anas menegaskan, budaya apresiasi (penghargaan) hanya bisa berdiri dengan berdasar pada trust (rasa percaya). Tidak mungkin ada penghargaan terhadap orang tertentu tanpa rasa percaya. “Kita kekurangan tradisi trust. Kekurangan tradisi saling percaya. Akibatnya, hal-hal kecil menjadi besar. Tidak ada persoalan dianggap ada persoalan. Energi terkuras untuk halhal tidak perlu,” kata Anas. Anas memaparkan, sebuah bangsa membutuhkan rasa saling percaya jika ingin membangun. Trust merupakan ika-

Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum termasuk politisi gaul. Peluang membangun jaringan, hubungan pertemanan, dan berdiskusi melalui dunia maya, seperti twitter, dimanfaatkan Anas secara optimal. “Twitter saya asli seratus persen, tak pakai asisten,” katanya. Anas mulai mengaktifkan twitternya sejak Mei 2010, menjelang Kongres Partai Demokrat di Bandung. Di luar dugaan, twitter Anas langsung ramai direspon. Gara-gara itu, Anas

ketagihan sampai sekarang. Tapi, dia mengaku masih di level normal alias belum menjadi pecandu berat. “Tidak tentu sehari berapa kali nge-twit. Kalau agak senggang, bisa beberapa kali. Kalau pas padat jadwal, bisa sama sekali tidak nge-twit,” ujar mantan Ketua Umum PB HMI, itu. Bagi Anas twitter adalah sarana komunikasi untuk relaksasi. Temanya tidak berat-berat, mulai kuliner, kalimat bijak, olahraga, keluarga, budaya lokal, dan sesekali isu politik aktual. Terkadang juga bisa menjadi sarana komunikasi dengan kader. “Yang penting buat saya bisa menghibur, sekaligus saluran pandangan -pandangan ringan dan sederhana,” kata Anas, lantas tersenyum. Sejauh ini Anas merasa enjoy ikut berinteraksi melalui twitter. Sekalipun kritik keras dan serangan tajam terhadap dirinya terkadang diterimanya juga tanpa filter sama sekali. “Pokoknya twitter lumayan membantu relaksasi dalam kepadatan tugas. So, twitter is one of my best friend,” tandasnya. (*)

Sibuk, tetap sayang keluarga.

tan mentalitas dalam sebuah bangsa. Tidak pernah ada sebuah sistem yang membangun peradaban tanpa trust. Bahkan ikatan persaudaraan dan kekeluargaan yang penting bagi sebuah bangsa pasti berantakan tanpa adanya trust.(* kris)

· · · · · · · · ·

Ketua Umum Partai Demokrat Periode 2010-2015 Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Periode 2009-2014 Pimpinan Kolektif Nasional KAHMI, 2009 Ketua Yayasan Wakaf Paramadina, 2006-sekarang Ketua DPP Partai Demokrat, 2005-sekarang Anggota KPU Periode 2001-2005 Anggota Tim Seleksi Parpol Peserta pemilu 1999 (tim 11), 1999 Anggota Tim Revisi UU Politik (tim 7), 1998 Ketua Umum PB HMI Periode 1997-1999 Keluarga: Athiyyah Laila (istri), Akmal Naseery (anak), Aqeela Nawal Fathina (anak), Aqeel Najih Enayat (anak), Aisara Najma Waleefa (anak)

· · · · · · · · · ·

BUKU DAN KARYAILMIAH: Revolusi Sunyi, 2010 Bukan Sekadar Presiden, 2009 Takdir Demokrasi, 2009 Menjemput Pemilu 2009, Jakarta : Yayasan Politika, 2008 Melamar Demokrasi, Jakarta : Republika, 2004 Islamo-demokrasi : Pemikiran Nurcholish Madjid, Jakarta : Republika, 2004 Pemilu Orang Biasa, Jakarta : Republika, 2004 Ranjau-Ranjau Reformasi : Potret Konflik Politik Pasca Jatuhnya Soeharto, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999. Jangan Mati Reformasi, Jakarta : Yayasan Cita Mandiri Indonesia, 1999. Menuju Masyarakat Madani : Pilar dan Agenda Pembaruan, Jakarta : Yarsif Watampone, 1997. PENGHARGAAN : Bintang Jasa Utama dari Presiden RI, tahun 1999.


16