Issuu on Google+

Obrolan : Penulis Ter-

Sinema : Film Lokal Berskala Global, hal. 6

muda di iTunes, hal. 2

Rabu, 27 Juni 2012

Harga Rp 2.000,-

2013, UN UNTUK PTN ANGELA WINDA MARISKA VERGINA

JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan tahun depan hasil ujian nasional (UN) akan dijadikan sebagai salah satu syarat bagi siswa untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. Hal ini ditegaskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh pada Selasa (5/6), “Syaratnya, soal UN harus mencerminkan kemampuan potensi anak-anak SMA. Untuk membuatnya, kami akan melibatkan kalangan Perguruan Tinggi,” tuturnya. Kabar dari pemerintah ini menjadi tantangan bagi para siswa-siswi SMA untuk meningkatkan prestasi akademik mereka. Menurut Mohammad Nuh, ada dua skenario yang mungkin akan dilakukan untuk meningkatkan kualitas UN. “Meningkatkan derajat kesulitan soal atau dengan menaikkan standar kelulusan UN,” katanya. Rencananya, derajat kesulitan soal akan lebih ditingkatkan pada UN mendatang, begitu juga dengan jenis paket soal yang akan diterima. “Selama ini, komposisi soal UN terdiri atas 10 persen soal mudah, 80 persen soal sedang dan 10 persen soal dengan tingkat sulit. Namun, ke depannya, persentase soal kategori sulit akan ditingkatkan,” tuturnya. Tak hanya itu saja, pemerintah juga berharap agar sekolah-sekolah turut memberikan dukungan yang maksimal kepada anak muridnya, serta melakukan peningkatan terhadap sekolah, antara lain lewat akreditasi. Kuota siswa yang diterima dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri

(SNMPTN) melalui jalur undangan pun akan diperbesar mulai tahun depan. Jika saat ini siswa yang akan diterima melalui jalur undangan dan tertulis berada pada komposisi 60%, maka tahun depan jalur tertulis akan ditiadakan dan jalur masuk nasional akan berdasarkan nilai UN dan rapor. Sedangkan 40% sisanya akan tetap melalui jalur mandiri. Siswa berprestasi akan ada penggratisan biaya pendaftaran melalui jalur undangan. Meskipun begitu, siswa yang memiliki nilai UN kecil tidak perlu khawatir, karena sekolah dapat tetap merekomendasikan siswa tersebut ke PTN yang diinginkan. Dengan adanya aturan baru ini, berarti SNMPTN menggunakan nilai UN dan rapor akan memiliki peran yang lebih dominan dari jalur mandiri. Maka itu, dibutuhkan kredibilitas UN yang lebih tinggi.

Perkembangan UN Dari Tahun ke Tahun

Berikut adalah perjalanan Ujian Nasional • Periode 1980 – 2001 SMA yang kami rangkum : Istilah Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) mulai terden• Periode 1950 – 1960an gar pada periode ini. Ada 2 bentuk Pada jaman ini, ujian kelulusan disebut kelulusan, yaitu Ebtanas serta Ebta. sebagai ujian penghabisan dan dilakukan • Periode 2002 – 2004 secara nasional. Soal-soal berasal langNama UAN (Ujian Akhir Nasional) sung dari Departemen Pendidikan, Penpun mulai digunakan secara nasigajaran, dan Kebudayaan. onal, dengan standar kelulusan tiap • Periode 1965 – 1971 tahun yang berbeda-beda. Semua mata pelajaran diujikan dan mulai • Periode 2005 – sekarang penyebutan UN sebagai Ujian Negara. Nama UN, Ujian Negara baru mulai terdengar pada periode ini, dimana • Periode 1972 – 1979 setiap tahunnya, UN selalu dikaji dan Pembuatan soal pun diserahkan langmengalami perubahan secara terus sung kepada sekolah yang bersangkutan. menerus. Pemerintah hanya membuat pedoman dan panduan yang sifatnya umum.


2

Rabu, 27 Juni 2012

OBROLAN

Keily Setiawan, Penulis Termuda di iTunes DEIRDRE TENAWIN

Jumat, 18 Mei 2012 Indonesia patut berbangga. Sebuah rekor internasional kembali dipecahkan. Keily Setiawan, bocah 9 tahun, siswi kelas 4 SD di Sinarmas World Academy (SWA) berhasil menjadi salah satu penulis termuda yang menerbitkan buku cerita bergambarnya di 32 toko iTunes di seluruh dunia. Buku elektronik yang diberi judul “Chen Chen Goes to Space” ini dibuat dengan aplikasi “Book Creator” yang terdapat pada teknologi Ipad miliknya. Keily mengaku awalnya “Chen Chen Goes to Space” dibuat untuk dihadiahkan bagi adik laki-lakinya Kenzo yang berulang tahun. Karakter kelinci pada buku cerita tersebut mewakili shio Kenzo yang adalah kelinci. Baru kemudian dengan bantuan pihak sekolah dan Jane Ross, salah satu Apple Distinguished Educators dari tim SWA, karya Keily didaftarkan ke Apple. Kini, buku “Chen Chen Goes to Space” dapat diakses di iTunes store dan disajikan dalam dua bahasa, yakni bahasa Mandarin dan Inggris. Selain itu, saat ini “Chen Chen Goes to Space” berada di ranking “200 Top Rated” untuk kategori buku gratis di Amerika Serikat dan Australia. “Ini merupakan sebuah contoh yang sangat bagus tentang nilai dari teknologi yang memperkaya lingkungan belajar siswa siswi dunia sekarang ini. Penerbitan buku di iTunes tidak mudah karena harus melalui dewan redaksi yang ketat. Dewan tersebut menyeleksi apakah isi sebuah buku menarik dan asli,” ungkap John Mc Bryde, kepala sekolah SWA. Ketika diwawancarai oleh reporter OPTIMIS di sekolahnya, Keily sendiri merasa senang karena buku cerita bua-

Indonesia Raih Kemenangan di European Girl Mathematical Olympiad DEIRDRE TENAWIN Dua siswi asal Indonesia berhasil meraih medali perak dan perunggu dalam European Girl Mathematical Olympiad (EGMO) pertama yang diselenggarakan pada 10-16 April 2012 di Cambridge, Inggris. Mereka adalah Christa Lorenzia Soesanto dari SMA St Laurensia Serpong dan Natasha Sutedja dari SMA Kharisma Bangsa Jakarta. Kedua siswa ini berhasil mengungguli 70 peserta lainnya dari 19 negara, termasuk Amerika Serikat, Belanda, dan Inggris. Anton Wardaja, selaku pembina Tim Matematika dari Surya Institute, mengaku cukup bangga dengan pencapaian Tim Indonesia. “Prestasi dua pelajar Indonesia menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia mampu

bersaing dengan siswa negara manapun di dunia ini,” tuturnya. Anton yang juga pemimpin Tim Indonesia ini menvvvgungkapkan terdapat 7 medali emas, 14 medali perak, dan 21 medali perunggu dalam ajang olimpiade matematika khusus anak perempuan ini. EGMO sendiri merupakan ajang yang diadakan dengan tujuan memberi kesempatan kepada lebih banyak anak perempuan untuk tampil di panggung internasional, dengan pertimbangan bahwa jumlah laki-laki pada Olimpiade ini tahun lalu adalah 11:1 dengan perempuan. Penyelenggaraannya baru pertama kali diadakan oleh Cambridge University di Inggris.

“Lewat Djam Malam” Dirilis Ulang MARISKA VERGINA

dok. Pribadi

tannya diminati oleh banyak orang. “Aku senang karena buku ini mendapat banyak komentar bagus. Salah satunya seorang ibu di Amerika yang mengatakan bahwa dia mengunduh Chen Chen Goes to Space untuk dibacakan kepada anaknya. Ibu tersebut juga merekomendasikan buku ini,” tutur Keily. Pada awalnya, tulisan Keily ini menggunakan bahasa Mandarin, namun atas saran dari gurunya di sekolah, Keily, dibantu dengan kedua orang tuanya, kemudian mencoba menuliskannya dalam versi bahasa Inggris. Dan ternyata, sungguh sangat tidak disangka jika ternyata kemudian buku ini sangat laku di App Store. “Aku harap semoga setelah ini aku masih bisa membuat tulisan yang lain lagi,” ujar Keily menutup wawancara siang itu.

Setelah melalui proses restorasi selama 1,5 tahun di Italia, film Lewat Djam Malam karya sineas Usmar Ismail akhirnya bisa dinikmati publik di negeri sendiri. Film yang diproduksi pada 1954 itu akan diputar di jaringan bioskop 21 Cineplex dan Blitzmegaplex di sejumlah kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya mulai 21 Juni 2012. Restorasi film Lewat Djam Malam ini dibiayai National Museum of Singapura (NMS) dan World Cinema Foundation yang didirikan sineas dunia Martin Scorsese. Prosesnya dimulai sejak 2010 dan digarap oleh L’Immagine Ritrovata yang fokus pada restorasi film di Bologna, Italia. Untuk membiayai proses restorasi tersebut, NMS mengeluarkan biaya mencapai 200.000 dollar Singapura atau sekitar Rp 1,4 miliar. Belakangan, World

dok. Google

Cinema Foundation, lembaga yang juga fokus pada pelestarian film dunia, juga menyumbang sekitar 50.000 euro atau sekitar Rp 700 juta. Restorasi film ini melibatkan Kineforum, Konfiden, dan Sinematek Indonesia. Alex Sihar, Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, bercerita bahwa, “Film ini bekerja sama dengan Singapura, karena Usmar Ismail memiliki hubungan yang sangat baik dengan Singapura. Sempat beberapa kali di tahun 50an, beliau melakukan

Ecouture: Sebuah Aksi untuk Lingkungan VILLYANDA RAFFLEYN Setelah melakukan pembagian sekitar 2000 tanaman Sanseviera sp. pada pre-event yang dilaksanakan pada 25 Maret 2012 lalu di area Car Free Day Thamrin, YOT Green dan KOPHI (Koalisi Pemuda Hijau Indonesia), sukses menyelenggarakan main event Ecouture (singkatan dari “Eco Ways for Future”) 2012 di Epiwalk, Kuningan, Jakarta pada Minggu, 13 Mei 2012. Sejak beberapa hari sebelumnya, kalimat “Let’s bring your tumbler and dance!” gencar dipublikasikan melalui Facebook, Twitter, dan jejaring sosial lainnya. Tumbler alias botol minum menjadi kunci Ecouture 2012 ini karena dalam event tersebut terdapat kampanye ‘one man one tumbler’. Maksud dari ‘one man one tumbler’ antara lain mengajak para pemuda dan masyarakat untuk bersama-sama membawa botol minum dari rumah. “Tujuannya memang untuk mengajak masyarakat

menggunakan tumbler ketimbang membeli botol plastik yang berdampak buruk bagi lingkungan,” kata Ghofar Ismail, Koordinator Perlengkapan Ecouture. Tarian massal alias flashmob menjadi simbol gerakan tersebut. Dalam aksi itu, sekitar 180 pemuda menari sambil membawa botol minum yang sudah mereka bawa dari rumah. Salah satu pengisi acara, Starbucks, juga menyediakan kopi gratis bagi pengunjung yang membawa tumbler-nya sendiri. Selain aksi flashmob tersebut, Ecouture 2012 juga menyajikan talkshow “Ecolifestyle for Everyday Life” dengan pembicara Ridwan Kamil (pendiri Indonesia Berkebun), Nadine Zamira (Miss Indonesia Earth 2009), Suzy Hutomo (CEO The Body Shop Indonesia) dan dimoderatori oleh Saskia Moestadjab, divisi HRD KOPHI Jakarta. Selain itu masih ada penampilan musik akustik, serta berbagai acara hiburan lainnya.

Villyanda Raffleyn / OPTIMIS

SUSUNAN REDAKSI Pemimpin Redaksi : Angela Winda Andini Redaktur : Mariska Vergina Desain dan Tata Letak : Villyanda R Angela Winda Andini Illustrator : Villyanda R Mariska Vergina Angela Winda

Koordinator Liputan : Angela Winda Andini Mariska Vergina Reporter dan Fotografer: Deirdre Tenawin Mariska Vergina Villyanda R Angela Winda Andini


3

PROFIL

Rabu, 27 Juni 2012

Berbuat Banyak dalam Keterbatasan DEIRDRE TENAWIN

Seorang Optimis sejati tak akan membiarkan lentera jiwanya padam hanya oleh karena keterbatasan. Andy Noya telah membuktikan hal itu. Lahir dari keluarga yang tidak terlalu mapan, pria yang identik dengan rambut kribo ini nyaris tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Orangtuanya lalu menyekolahkan Andy di jurusan Mesin STM 6 Jakarta, dengan harapan ia bisa langsung bekerja setelah lulus sekolah. Andy tidak protes sekalipun teknik bukan merupakan bidang kegemarannya. Ia berusaha mengerti keadaan orangtuanya. Padahal, sejak kecil ia sudah jatuh cinta pada dunia tulis menulis dan bercita-cita menjadi wartawan. Bakat itu justru semakin berkembang ketika Andy menempuh pendidikan di STM 6 Jakarta. Berbagai penghargaan dari perlombaan mengarang dan menulis berhasil ia raih. Di sekolah, Andy memang termasuk siswa yang berprestasi dan cerdas. Buktinya, ia lulus sebagai lulusan terbaik di STM 6 dan mendapatkan tawaran beasiswa ke IKIP Padang, meski beasiswa itu akhirnya tidak pernah diambilnya. Kesadaran akan bakat dan minat yang besar di bidang tulis menulis membawa Andy memilih masuk Sekolah Tinggi Publisistik (sekarang Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP)). Terus mendaftar masuk IISIP biarpun berkali-kali ditolak Belakangan Andy tahu bahwa Sekolah Tinggi Publisistik (STP) tidak menerima lulusan STM. Namun ia terus memperjuangkan passion-nya. Andy ditemani ibunya terus berusaha mendaftar sekalipun berkali-kali ditolak. “Akhirnya pihak STP kasihan atau mungkin juga jengkel sehingga mereka menerima saya dengan syarat kalau semester pertama nilai saya jelek, saya harus keluar,” aku Andy. Berbekal surat rekomendasi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang disyaratkan rektor STP saat itu, Ali Mochtar Hoeta Soehoet, Andy akhirnya diijinkan mendulang ilmu di STP. Pria yang juga mahir menggambar kartun dan karikatur ini ternyata bukan hanya membuktikan nilainilainya tidak jelek, tetapi ia juga mampu bersaing dengan teman-teman seangkatannya. Bahkan tawaran menjadi asisten dosen menghampirinya di tahun kedua perkuliahan. Selama kuliah, Andy juga harus merasakan perjuangan yang jarang dirasakan semua mahasiswa seusianya. Tinggal bersama kakaknya yang sudah menikah, setiap pagi Andy harus membantu memandikan keponakan dan mengantarkan ke sekolah, mencucikan piring, serta membersihkan rumah. Setelah semua beres, barulah pemuda keturunan Ambon, Jawa, dan Belanda ini bisa berangkat kuliah. Pada siang hari pun, Andy harus kembali menjemput keponakannya yang pulang sekolah. Bagaimanapun juga, menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Publisistik memang menjadi titik awal bagi seorang Andy Noya menapaki jalan kehidupannya sebagai seorang jurnalis. Pada 1985, untuk pertama kalinya Andy terjun sebagai reporter. Ia membantu majalah Tempo dalam penerbitan buku Apa dan Siapa Orang Indonesia. Padi tahun itu juga ia didaulat sebagai wartawan harian ekonomi Bisnis Indonesia. Saat itu ia masih duduk di bangku kuliah.

Pengalaman jurnalisme: dari wartawan sampai jadi pemimpin redaksi Setelahnya, Andy Noya makin melanglang dari satu perusahaan media ke perusahaan lainnya. Dua tahun berkarir sebagai wartawan majalah Tempo, Andy dipanggil Fikri Jufri untuk bergabung dengan majalah Matra. Tawaran wartawan senior majalah Tempo tersebut tak ditolaknya. Tahun 1992, salah satu pengusaha media, Surya Paloh, mengajak Andy untuk menjadi bagian dari suratkabar Media Indonesia. Kemudian pada 1994-1999, Andy sempat jadi host dalam program Jakarta Round Up dan Jakarta First Channel di radio Trijaya. Tak lama, PT Sindo yang menaungi program televisi Seputar Indonesia menjadi anak perusahaan RCTI di tahun 1999. Di sanalah Andy mendapat pengalaman memimpin program yang kini menjadi kebanggaan RCTI tersebut. Karier Andy Noya di Metro TV milik Surya Paloh pun diam-diam menyimpan kisah tersendiri. Surya Paloh ternyata secara khusus membuat stasiun televisi tersebut untuk pria yang punya hobi membaca ini. “Karena ingin terus berkembang, saya waktu itu tidak puas hanya menjadi jurnalis media cetak. Saya ingin menguji kemampuan saya di dunia broadcast, yakni menjadi wartawan televisi. Saya kemudian pamit pada Surya Paloh, tapi tidak diijinkan. Dia berusaha menahan saya agar tetap di Media Group. Dia lalu berjanji akan membuat televisi sendiri agar saya bisa terus berkarya bersama Media Group. Janji itu dia wujudkan tak lama kemudian,” ungkap pria asal Surabaya ini. Di akhir tahun 1999, Andy dipercaya menjabat sebagai pemimpin redaksi di Metro TV. Andy Noya sempat kembali ke dunia jurnalistik cetak tiga tahun setelahnya sebagai pemimpin redaksi di harian Media Indonesia. Ia memegang jabatan rangkap sebagai wakil pemimpin umum Media Indonesia sekaligus pemimpin redaksi Metro TV hingga tahun 2006. Di tahun yang sama pula, Andy Noya didaulat menjadi host acara Kick Andy. Sebuah program talkshow yang sangat identik dengan dirinya, hingga hari ini.

Deirdre Tenawin / OPTIMIS

Kritis tanpa agenda terselubung di Kick Andy Penonton setia mengenalnya sebagai sosok host yang selalu melemparkan pertanyaan tajam tanpa tedeng aling-aling kepada setiap narasumber yang diundang ke studio Metro TV. Bisa dibilang program ini ibarat sebuah usaha mengorek kebenaran tanpa pandang bulu. Dari AA Gym, Harmoko, sampai Sri Sultan Hamengkubuwono X pernah merasakan pedasnya pertanyaan yang mengalir dari Andy Noya. Akan tetapi, Andy mengaku tidak sedikit pun takut dimusuhi oleh tokoh-tokoh besar tersebut. “Selama hati kita bersih dan tidak ada agenda terselubung, pertanyaan yang tajam tidak akan menyakiti hati orang yang kita wawancarai,” tuturnya penuh keyakinan. Sikapnya yang selalu mempertahankan kredibilitas dan independensi membuat Andy bisa dengan rileks melontarkan pertanyaan-pertanyaan tajam kepada narasumber. Semuanya itu ia lakukan semata-mata demi mewakili kepentingan masyarakat. Hal itu juga yang menyebabkan hubungannya dengan para narasumber tetap baik pasca wawancara, sekalipun pertanyaan-pertanyaan keras kerap kali dilontarkannya. Sosok kritis namun humoris di layar kaca, ternyata juga cerminan Andy dalam keseharian kehidupannya sebagai suami dan ayah tiga anak. ”Sejak awal saya katakan kepada temanteman di tim Kick Andy bahwa saya ingin menjadi diri saya sendiri. Baik di televisi maupun di dalam kehidupan sehari-hari. Saya ingin seperti apa adanya,” kata pengagum Nelson Mandela ini.

di organisasi pers, saya juga sudah mulai merasa nyaman. Karena itu saya harus mencari tantangan baru.” pada akhirnya pria penyuka tantangan ini tidak jadi keluar setelah dibujuk Surya Paloh. Yang mengejutkan, rupanya Andy sempat kembali merasakan keinginan keluar. Niat ini kembali beberapa tahun lalu justru dalam program yang paling melambungkan namanya, Kick Andy. Namun niat itu urung setelah menimbang-nimbang efek program yang telah membantu banyak orang tersebut.

Sempat ingin keluar dari Kick Andy? Semasa menjabat sebagai pemimpin redaksi di Metro TV sekaligus harian Media Indonesia, Andy sempat ingin keluar dari Media Group. Niat itu terlintas setelah Andy membaca sebuah buku berjudul Who Moved My Cheese. ”Kisah di buku itu seakan menyadarkan saya bahwa berbahaya sekali jika seseorang sudah berada di zona nyaman. Dia tidak akan tergerak untuk terus berkembang. Nah, karena (saat itu) saya sudah mencapai jabatan tertinggi

Riwayat Pekerjaan : 1985 - Membantu majalah TEMPO untuk penerbi-v tan buku Apa dan Siapa Orang Indonesia 1992 - Wartawan Media Indonesia 1994 - Host program Jakarta Round Up dan Jakarta First Channel di Radio Trijaya 1999 - Memimpin Seputar Indonesia 2000 - Pemimpin Redaksi Metro TV 2003 - Pemimpin Redaksi Media Indonesia 2006 - Wakil pemimpin umum Media Indonesia 2006 - sekarang - Host Kick Andy 2008 - sekarang - Ketua Kick Andy Foundation 2011 - sekarang - Board of Advisors Majalah Kick Andy, Dewan redaksi Media Group

“Selama hati kita bersih dan tidak ada agenda terselubung, pertanyaan yang tajam tidak akan menyakiti hati orang yang kita wawancarai.”

Punya mimpi berjangka Saat ini, selain memandu program Kick Andy dan KAF, Andy juga menerbitkan majalah Kick Andy dan Rolling Stone. Selain itu, program baru berjudul Kick Andy HOPE juga dipercayakan Metro TV kepadanya. Selebihnya ia aktif di berbagai kegiatan sebagai wujud bakti sosialnya kepada masyarakat. Bersama Upie, sang istri, Andy mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kampung Dadap, Serpong. Kini hanya satu prioritas Andy, yakni membahagiakan keluarga serta berusaha membantu orang-orang yang berkesusahan. Andy pun masih punya mimpi lain: dalam 5 sampai 10 tahun ke depan ia ingin bisa memiliki organisasi sosial dengan dukungan pendanaan yang kuat, sehingga bisa berbuat lebih banyak untuk membantu orang-orang miskin dan mereka yang sudah berbuat banyak dalam keterbatasan.

Nama lahir : Andy Flores Noya Lahir : 6 November 1960 Nama Istri : Retno Palupi Nama Anak: Mario Randy Lamas Noya Marco Randy Parama Noya Marlo Randy Ernesto Noya


4

Teknologi

Rabu, 27 Juni 2012

Ditolak Penerbit Lokal, Akhirnya Pilih Self-Publishing Luar MARISKA VERGINA ANGELA WINDA Chronicles of the Fallen: Rebellion memang terdengar seperti judul buku asing, namun buku ini adalah karangan seorang wanita asal Jakarta. Adalah Aya Lancaster (23) yang mengarang buku setebal 448 halaman tersebut. Semula tak menyangka jika bukunya akan bisa terbit, kini novel yang bercerita soal pertarungan iblis dan malaikat ini telah terbit di mancanegara via selfpublishing, alias penerbitan indie. Ide awal novel bergenre fantasi ini didapatkan Aya sejak sepuluh tahun lalu. Berbekal kemampuan bahasa Inggris yang diperolehnya melalui hobinya membaca, mendengar lagu, dan menonton film, anak bungsu dari tiga bersaudara ini pun isengiseng mencoba menulisnya dalam bahasa Inggris. Keisengan Aya tersebut awalnya tidak pernah dimaksudkan untuk terbit. “Awalnya tidak pernah ada niatan diterbitkan, karena belum percaya diri dan merasa genre itu tidak populer di sini. (Lagipula) Kakak tidak yakin bisa diterima karena kakak menulis dengan bahasa Inggris slang Amerika lengkap dengan sarkasme dimana-mana, bukan Inggris formal,” aku pemilik nama lengkap Tasya Agustina Thalib ini. Suatu hari, Aya kelepasan mengungkapkan proyeknya tersebut di hadapan teman-

temannya. “Mereka lalu menyemangati kakak supaya menerbitkan buku itu,” Aya lalu menawarkan bukunya ke penerbit lokal. Ternyata respon dari satu penerbit ke penerbit yang lain kurang baik. Akhirnya ia menemukan sebuah perusahaan self-publishing dari luar, AuthorHouse UK, bagian dari sebuah perusahaan penerbitan buku global, Author Solutions, yang berbasis di Indiana, AS. “Sempat ragu tentang self-publishing, namun ternyata mereka antusias sejak kuhubungi. Hubungan via e-mail dan telepon pun berjalan lancar,” aku Aya. Dari situlah mahasiswa Institut Teknologi Harapan Bangsa, Bandung ini mencari tahu soal self-publishing. Ternyata konsep itu sedang digemari saat ini, bahkan banyak penulis luar yang berhubungan dengan Aya via Twitter juga menyarankan self-publishing sebagai pilihan pertama. Akhirnya, pada Oktober 2011 lalu novelnya pun terbit. Aya sendiri mengaku cukup puas meskipun proses berhubungan dengan perusahaan self-publishing luar berlangsung cukup lama. Lewat jalur self-publishing, novelnya kini telah diterbitkan di Inggris dan diedarkan di kawasan Eropa, seperti Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Jepang, dan negara tetangga Singapura, bahkan Amerika Serikat. Novelnya antara lain dijual di situs amazon.com, ebay.com serta toko buku tertua di Inggris “Barnes and Noble”.

Wujudkan.com: MARISKA VERGINA Punya ide kreatif, tapi sulit mencari dana untuk merealisasikannya? Bagaimana kalau mencoba mewujudkannya lewat pendanaan kolaboratif atau crowdfunding? Situs wujudkan.com merupakan situs yang didirikan sejak 21 Februari 2012 ini dibentuk oleh empat orang dengan latar belakang berbeda-beda: Mandy Marahimin, seorang pekerja film selama 11 tahun; Dondi Hananto, pengusaha di bidang finansial dan mantan pengurus Sahabat Foundation; Zaki Jaihutan, seorang praktisi legal; dan Wicak Soegijoko, seorang pengembang teknologi. “Wujudkan.com memfokuskan diri kepada industri kreatif karena industri kreatiflah yang tidak menggantungkan diri kepada eksploitasi sumber daya alam yang sudah menipis, dan kami percaya jika karya kreatif Indonesia berkembang dengan baik, kita sebagai bangsa juga akan lebih bangga menjadi warga negara Indonesia,” demikian kata Mandy Marahimin, seorang founder wujudkan.com. Konsep situs crowdfounding sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru, melainkan telah berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir, Salah satunya adalah kickstarter.com yang dibuat pada tahun 2009. Melalui crowdfunding, baik pihak yang menggalang dana (pemilik proyek) maupun pihak yang mendukung dengan memberikan dana (donatur), bisa menjadi setara. Di satu sisi pemilik proyek jadi dapat mengenal siapa publik karyanya dan sekalian mengukur ketajaman ide kreatifnya. Di sisi lain, donatur menjadi terlibat secara aktif

Angela Winda / OPTIMIS

Aya Lancaster dan novel karyanya, Chronicles of the Fallen: Rebellion, dimuat dalam salah satu media massa Bandung.

Bantu Realisasikan Ide Kreatif Anak Bangsa

dalam proses mewujudkan sebuah karya, karena secara aktif memilih proyek yang menurutnya layak diwujudkan. “Jadi, kalau selama ini banyak yang mengeluh karya kreatif kita itu-itu saja, ini saatnya ikut aktif dengan memilih yang mana yang mau diwujudkan,” ujar Mandy. Salah satu proyek yang baru-baru ini bergulir di wujudkan.com adalah film drama layar lebar Mira Lesmana dan Riri Riza. Berjudul Atambua 39° Celsius, film ini menggunakan aktor lokal dan hampir sepenuhnya berbahasa asli orang Timor. “Ini bukan film yang mudah saya presentasikan ke para investor bisnis, tapi kami merasa perlu memotret sepenggal kehidupan di Timur Indonesia yang kerap terlupakan,” ujar Mira Lesmana mengenai alasannya menggunakan wujudkan.com sebagai sarana penggalangan dana. Hingga

berita ini diturunkan (30 Mei 2012) tercatat bahwa penggalangan dana sudah melampaui target awal, Rp300.000.000. Lewat wujudkan.com, Mira dan Riri berhasil mengumpulkan Rp311.337.000 dari 102 donatur. Di sudut gambar proyek pun terteralah tulisan “SUKSES”. Meskipun demikian, masih ada tantangan yang harus dihadapi wujudkan.com. “Salah satu tantangan yg kami hadapi adalah mencari sistem pembayaran yg lebih nyaman bagi anggota komunitas kami. Saat ini kami masih bergantung kepada sistem transfer bank untuk penerimaan donasi, sama seperti kebanyakan situs e-commerce di Indonesia. Akan sangat memudahkan bagi anggota komunitas kami jika ada opsi pembayaran yang lebih simpel dan terintegrasi,” pungkas Dondi Hananto, salah satu pendiri wujudkan.com.

Didik Purwanto / Kompas.com

Dondi Hananto (kiri) dan Mandy Marahimin (kanan), founder Wujudkan.com

Robot Indonesia Beraksi di Amerika Serikat ANGELA WINDA Indonesia ternyata tidak ketinggalan dari teknologi robot di dunia internasional. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan mahasiswa Universitas Gajah Mada, Jogjakarta, yang meraih 2 medali emas dan 1 perak di ajang Robogames 2012 yang diselenggarakan di San Mateo, Amerika Serikat. Indonesia berhasil menyabet 3 buah kemenangan dari total 7 kompetisi yang dilombakan dalam kompetisi yang berlangsung pada 20-22 April lalu. Kompetisi skala internasional ini diikuti oleh 16 negara dan ratusan peserta ini melombakan 682 robot. Atas kemenangan yang diperoleh oleh Farid Inawan, Noer Azis Ismail, dan Luiz Rizki Ramelan, Indonesia berada di peringkat 6 dari 16 negara tersebut. “Kita meraih emas dari kategori fire fighting, dan balancer, serta medali perak dari world tour challenge,” ujar Luiz saat diwawancarai tim OPTIMIS. Tidak ada perasaan tidak percaya diri dari mereka, aku Luiz, karena hal ini adalah kali kedua tim UGM berada di Amerika, setelah ahun lalu mereka sempat mengikuti perlombaan yang serupa di New York. Kontes Robogames ini merupakan kontes robot terbesar di dunia. Dengan hasil yang diperoleh ini kita dapat membuktikan bahwa anak-anak bangsa bisa membuktikan diri di kancah internasional.


5

Rabu, 27 Juni 2012

SPIRIT

Kartini Berbaju Renang

DEIRDRE TENAWIN

Umurnya masih muda, namun Sherly Yunita memiliki semangat Kartini yang berani mennomorduakan kenyamanan demi mengejar prestasi di bidang kegemarannya, renang. Pukul 03.40 pagi, di saat mayoritas dari kita baru bangun tidur, gadis kelahiran 6 Juni 1990 ini sudah bangun dan bersiap menuju Senayan untuk berlatih renang, yang berlangsung dari SeninSabtu pukul 04.30 WIB selama dua jam. Belum hilang rasa kantuk dan lelah akibat menantang air kolam di pagi-pagi buta, setelahnya Sherly harus menembus kemacetan Jakarta untuk mengejar kuliah pagi pukul 08.00 WIB di kampusnya di daerah Serpong, Tangerang. Seusai kuliah pada Selasa, Rabu, dan Jumat Sherly masih belum bisa bersantai. Perenang dengan gaya andalan bebas dan kupu-kupu ini masih harus kembali berlatih renang di Senayan pada pukul 16.00 sore. Senin, Kamis, dan Sabtu sore pun masih belum masuk dalam kamus santai Sherly, sebab wanita berkulit sawo matang ini mengisinya dengan latihan fisik secara mandiri demi menjaga kebugaran tubuh. Jadwal latihan renangnya begitu padat,

sementara tuntutan tugas mahasiswi semester VI jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Multimedia Nusantara ini pun juga tidak main-main, apalagi jika diburu-buru deadline. ”Kalau capek ya capek, kadang ngantuk. Tapi udah biasa jadi dijalani aja,” tutur Sherly. Begitu punya waktu luang, anak tunggal ini akan memakainya untuk jalan-jalan dan nonton film. Sherly sebenarnya tidak pernah berencana menjadi perenang. Di keluarganya, hanya Sherly yang menjadi atlet renang. Karirnya berawal dari hobinya berenang di usia 5 tahun. Kedua orangtua Sherly pun mengikutkannya les renang di dekat rumah. Di kompetisi renang pertamanya, Sherly langsung memboyong juara pertama. Melihat minat dan potensi yang besar terhadap olahraga renang, sang pelatih akhirnya menyarankan Sherly untuk bergabung dengan klub renang di Senayan di usia 6 tahun. ”Semuanya berjalan mengikuti arus, gak pernah ada tujuan mau jadi atlet,” aku gadis penyuka warna pink ini. Menurutnya renang sangat bermanfaat bagi kesehatan badan karena menggerakkan seluruh anggota tubuh. Selain itu lewat olahraga renang, ia juga mendapat

kesempatan untuk berkunjung ke berbagai tempat di dunia tanpa harus mengeluarkan biaya. Karena terlalu banyak kejuaraan yang pernah diikutinya, Sherly sampai tidak sanggup menyebutkan secara rinci berapa medali yang didapatkannya. Tapi bagi penggemar Michael Phelps ini, berenang masih dilakoninya hanya sebagai hobi. ”Saya berenang selagi masih bisa ber-

Ganda Timnas Futsal Campuran Raih Perunggu di AFF Sudahi Paceklik Juara VILLYANDA RAFFLEYN

VILLYANDA RAFFLEYN ANGELA WINDA Asa Indonesia menyambut gelar juara di All England pun terwujud. Pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/ Lilyana Natsir berhasil mengibarkan Merah Putih di National Indoor Arena, Birmingham, setelah mengalahkan pasangan Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl. Ini merupakan gelar pertama yang berhasil diraih Indonesia setelah selama sembilan tahun mengalami paceklik juara di All England. Terakhir kali Indonesia meraih juara All England adalah pada tahun 2003, ketika itu Candra Wijaya/Sigit Budiarto sebagai perwakilan dari ganda putra dan Christian Hadinata/Imelda Wiguna sebagai perwakilan dari ganda campuran di tahun 1979. Sejak set pertama, sudah terjadi perebutan angka. Indonesia sempat tertinggal beberapa poin sebelum akhirnya berhasil membalikkan keadaan. Pasangan peringkat empat dunia tersebut membutuhkan waktu 43 menit untuk menundukkan pasangan Denmark yang menjadi unggulan delapan tersebut. “Pada set kedua kami tertinggal terlalu cukup sehingga sulit untuk kembali ke pola permainan kami. Kondisi kami di set kedua juga tidak seprima set pertama,” kata Butet, panggilan akrab Lilyana seperti dikutip dari laman resmi PBSI, pb-pbsi.org.

Berbanding terbalik dengan prestasi Timnas Sepakbola, Timnas Futsal Indonesia berhasil mengalahkan seteru abadinya Malaysia dengan skor 4-2 pada perebutan tempat ketiga dan keempat di Stadion Thonburi Bangkok pada AFF Futsal Championship 2012. Pertandingan tersebut berlangsung keras, dua kartu merah didapat Malaysia dari Mohd Firdaus Razali dan Randhyas. Selain insiden dua kartu merah, laga tersebut juga ditandai dengan digunakannya a-board elektronik untuk pertama kalinya dalam kejuaraan AFF. Indonesia yang merupakan juara bertahan butuh waktu untuk membongkar pertahanan Malaysia dan menciptakan gol. Upaya para pemain Indonesia tersebut akhirnya berbuah saat tendangan Karami Baltas tak mampu ditahan kiper Mohammad Firdaus Razali.

Namun selang dua menit kemudian, Malaysia berhasil menyamakan skor melalui Ahmad Fawzi Mohammed untuk menutup babak pertama dengan skor imbang 1-1. Indonesia langsung menggebrak pada babak kedua, Ismail membuat Indonesia unggul pada awal babak kedua sebelum Randhyas Bahri menambahkan dua gol untuk membuat Indonesia unggul 4-1. Tidak lama setelah gol tersebut, Malaysia harus rela kehilangan kiper Mohd Firdaus karena melanggar dengan keras Randhyas. Pelatih Timnas Futsal, Justinus Lhaksana mengungkapkan walau pertandingan sangat keras tapi anak asuhnya berhasil menguasai jalannya pertandingan dan bermain lebih baik dari Timnas Futsal Malaysia.

dok. Google

Timnas Indonesia usai mengalahkan Malaysia di final AFF Futsal 2012

Dok. Pribadi

prestasi. (Tapi) nanti ke depannya mau fokus ke kuliah, lulus, lalu kerja.” tuturnya. Saat ini Sherly sedang mempersiapkan dirinya untuk mengikuti Kejuaraan Renang Nasional (Kejurnas) di Surabaya pada tanggal 18-20 Mei 2012. Ia juga siap menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan diadakan September nanti di Riau.

Rio Haryanto Berjaya di Kualifikasi GP2 Valencia VILLYANDA RAFFLEYN Rio Haryanto, Pembalap GP2 asal Indonesia berhasil menyelesaikan sesi kualifikasi GP2 Valencia pada Jumat 22 Juni 2012. Hasil dari sesi kualifikasi tersebut membuat Rio berhak untuk memulai feature race dari posisi ke-10. Rangkaian GP2 musim ini pun sudah memasuki seri ke-6, dimana untuk seri kali ini akan digelar di sirkuit Valencia, Spanyol. Selain feature race, Rio juga akan berpartisipasi di sprint race pada hari Sabtu 23 Juni 2012. Di sesi pertama kualifikasi pagi harinya, Rio sempat tampil buruk dan hanya menempati urutan ke-14. Tapi ia berhasil memperbaiki catatan waktunya di kualifikasi sore hari dan berhasil menaikkan posisinya ke urutan ke-10. Selisih waktu Rio dengan James Calado yang menempati pole position adalah 0.654. Saat ini Rio yang memperkuat Marusia Carlin GP2 berada di posisi ke-15 klasemen dengan raihan 16 poin dari lima seri sebelumnya. Race 1 (feature race) sendiri akan digelar pada malam hari di sirkuit jalan raya Valencia dengan panjang lintasan 5.419 km dan akan menghabiskan total sebanyak 30 lap.


6

Rabu, 27 Juni 2012

SINEMa

Film Lokal, Berskala Global

Premis film yang awalnya berjudul Serbuan Maut ini sederhana. Sekelompok pasukan yang berani mati dalam menghadapi tantangan apapun yang ada di depan mereka, karena itulah tuntutan pekerjaan mereka. Mereka terjebak di daerah yang tidak mereka kenal sama sekali, dan harus bertahan dari serangan kriminal bengis, Tama (Ray Sahetapy). Di dalam pasukan itu ada Rama (Iko Uwais), Bowo (Tegar Satriya) dan belasan orang lagi yang dipimpin oleh Jaka (Joe Taslim), seorang komandan yang penuh tanggung jawab. Target mereka, menyerang “kerajaan” Tama. Mereka pun menyerang sebuah gedung dan akhirnya harus terjebak disana dan benar-benar harus berjuang sampai titik darah terakhir. Dan ternyata, mereka sedang menghadapi seorang gembong narkoba yang sudah sangat terkenal. Ray Sahetapy selaku aktor lawas yang menjadi kriminal bengis di film ini berhasil memainkan perannya dengan sangat baik. Ia sukses menjadi penjahat yang bertangan dingin dan dapat dilihat melalui sikapnya dalam menghadapi

para pasukan siap mati yang menyerang kerajaannya. Sebagai pendatang baru, Iko Uwais, yang juga pemeran utama di film ini juga bertarung dengan cantik melalui kemampuannya dalam bermain silat. Film karya keempat Gareth Evans ini mendapat sambutan yang baik saat world premiere-nya di Toronto International Film Festival (TIFF) 2011. Hasilnya, penghargaan The Cadillac People’s Choice Midnight Madness Award berhasil disabet The Raid. Sejak publikasi di TIFF, semakin banyak review positif dari kritikus dan penonton yang memuji film tersebut sebagai salah satu film aksi terbaik setelah bertahuntahun. Film kolaborasi kedua Gareth Evans dan Iko Uwais ini juga diputar dalam sesi “A Window of Asian Cinema” di Busan International Film Festival 2011, serta menjadi salah satu dari 11 film yang menjadi Spotlight di Sundance Film Festival 2012. Yang paling menggembirakan, film yang telah dirilis di Indonesia pada akhir Maret 2012 ini telah dibeli hak remakenya oleh anak perusahaan Sony, Screen Gems, pada November 2011 lalu.

Belakangan ini semakin banyak film dalam negeri yang diapresiasi di luar negeri. Semoga prestasi film-film berikut semakin memompa semangat berkarya sineas Indonesia, dan juga mengingatkan penonton dalam negeri untuk semakin menghargai produksi dalam negeri sendiri.

Postcards from The Zoo

Pirate Brothers

Film ini merupakan film panjang kedua karya sutradara muda Indonesia, Edwin. Di tahun 2008 ia telah masuk Official Selection Pusan International Film Festival dan Official Selection Tiger Award Competition 2009 lewat film Blind Pig Who Wants to Fly (2008). Film ini, terpilih mewakili Indonesia di ajang bergengsi Berlin International Film Festival 2012 lalu. Film ini berkompetisi untuk Golden Bear (film terbaik) dan Silver Bear (aktor, aktris, sutradara, skenario dan outstanding artistic achievement). Ia harus bersaing dengan 17 film lainnya dari seluruh dunia, termasuk Jayne’s Mansfield Car karya aktor Billy Bob Thorthon, dan Childish Games karya Antonio Chavarrias. Kendati gagal meraih penghargaan tertinggi Golden Bear, film ini berhasil menjadi pengobat rindu Indonesia karena menjadi film kedua yang berhasil masuk seleksi kompetisi Golden Bear Berlinale, setelah Badai Selatan (1962) karya Sofia WD. Film ini juga telah dibeli hak peredaran internasionalnya oleh distributor dari sejumlah negara, antara lain Jerman, Korea, dan Austria.

Film laga karya sutradara Asun Mawardi ini berhasil meraih Platinum Remi Award untuk kategori Independent Theatrical Features Film and Video dalam ajang The 45th WorldFestHouston International Film Festival di Houston, Texas, Amerika Serikat yang digelar pada 21 April 2012 silam. Prestasi yang diraih Pirate Brothers terbilang sangat membanggakan karena film yang diproduksi oleh Creative Motion Pictures itu harus bersaing dengan 700 judul film (500 film komersial dan 200 film dokumenter) dari 30 negara. Film yang juga dibintangi oleh mantan bintang ‘Mortal Kombat’ Robin Shou ini adalah film kedua yang diarahkan oleh Asun Mawardi. Sebelumnya Asun pernah mengarahkan film Untukmu (2003). Asun sendiri tidak pernah berpikir untuk mengikutkan Pirate Brothers dalam festival. “Tapi, teman-teman bilang, film ini harus go international lewat festival. Dari situ saya mulai pertimbangkan,” cerita Asun. Pirate Brothers sudah tayang di tanah air pada 26 Mei 2011 yang lalu.

Ada Apa dengan Perfilman Indonesia? VILLYANDA RAFFLEYN ANGELA WINDA

Berapa kali kamu menonton Film Indonesia dalam 6 bulan terakhir? 37.5 %

20 %

2 - 6 kali 1 - 2 kali 0 kali

42.5 %

Tim OPTIMIS melakukan survey kepada 60 responden untuk melihat seberapa besar minat menonton film buatan dalam negeri. Ternyata hasil survey menunjukkan animo remaja untuk menonton film Indonesia cukup rendah, yaitu 0 kali selama enam bulan terakhir (42,5%), dan sebanyak 1-2 kali selama 6 bulan terakhir (37,5%). Sementara itu sisanya (20%) menjawab menonton 2-6 kali selama 6 bulan terakhir. Ini pertanda bahwa kesadaran menonton film lokal masih cukup rendah. Padahal, belakangan semakin banyak film-film berkualitas dan berprestasi di ajang internasional (baca artikel Film

Lokal, Berskala Global) diproduksi, tidak hanya yang berbau Horror-Violence-Sex saja. Kebangkitan film Indonesia agaknya sedang terjadi di tahun ini. Banyak sineas-sineas muda Indonesia yang berlomba untuk menghasilkan karya yang terbaik setiap tahunnya. Sudah seharusnya juga kita lebih menghargai karya anak bangsa, karena sebagian besar dari film-film bioskop Indonesia saat ini memulai karier secara internasional terlebih dahulu. Setelah sukses di kancah internasional, film-film lokal tersebut barulah ditayangkan di Indonesia. Ajakan untuk menonton gambar bergerak hasil karya anak bangsa ini terus menerus disuarakan oleh para tokoh muda. Mari lebih apresiatif terhadap hasil karya anak negeri, salah satunya lewat menonton film Indonesia mulai sekarang.

Apa pendapat kamu tentang Film Indonesia saat ini? Chininta Rizka, 20 tahun Suka, karena menurut saya perkembangan film kita sudah mulai membaik, hanya saja film-film yang bertema horror dan seks harus tetap dikurangi.

Ivansius, 21 tahun Ga suka, karena menurut saya film Indonesia itu isinya masih kebanyakan soal horror dan seks dan saya juga uda memiliki streotype kalau film indonesia itu kualitasnya buruk. dan menurut saya juga masih belum ada perkembangan yang signifikan dari film indonesia itu sendiri.


7

Rabu, 27 Juni 2012

Intermezzo

SIRKULASI DAN IKLAN JL. GENTENG E5 NO. 10, BINTAROX (021) 737 2558


8

SANUBARI

Rabu, 27 Juni 2012

Pisang-pisang Kong Nisan Pisang tanduk, pisang susu, pisang ijo semua ada di gerobak yang ditarik Kong Nisan setiap hari, mengelilingi kompleks perumahan PJMI (Perumahan Jurang Mangu Indah) di kawasan Pondok Aren. Meski seminggu yang lalu ia terbaring sakit, kini ayah delapan anak ini sudah menjajakan pisangnya kembali. Terlihat bahwa semangatnya dalam mencari nafkah tak dikalahkan oleh usianya yang sudah renta. Langkahnya tertatih-tatih tapi pasti. Postur badannya bungkuk, tapi tetap berhati-hati. Hanya satu pertanyaan yang masih menjadi misteri: “Sebenarnya berapakah umur Kong Nisan?” Penulis artikel ini pun tidak tahu pasti, karena setiap kali si engkong ditanyai pertanyaan itu, beliau hanya menjawab dengan nada suara yang tidak yakin, “Delapan puluh,” sambil tersenyum-senyum sendiri. NAMA DAN TEKS : MARISKA VERGINA

Kong Nisan dan Istri selalu berusaha memberikan pisang yang terbaik bagi pembelinya.

Engkong dan gerobak kesayangannya.

Engkong selalu menyambut hari dengan senyuman di wajahnya.

Bersantai setelah bekerja

Engkong mempersiapkan diri sebelum berkeliling dengan pisangnya


Koran Optimis