Page 6

6

KORAN MADURA

Ekonomi

RABU 22 JANUARI 2014 | No. 0285 | TAHUN III

UTANG LUAR NEGERI

Pertumbuhan ULN Masih Melambat JAKARTA-Tren perlambatan pertumbuhan utang luar negeri (ULN) Indonesia masih berlanjut pada November 2013. Data Bank Indonesia (BI) ULN tumbuh sebesar 3,7% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 5,9% (yoy). Posisi ULN Indonesia pada November 2013 tercatat sebesar USD260,3 miliar atau mencapai 29,2% dari PDB.

ant/lucky.r

PRODUKSI HIO TERKENDALA CUACA. Pekerja menjemur Hio di rumah produksi hio di daerah Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (21/01). Musim hujan saat ini menjadi kendala dalam memproduksi Hio untuk memenuhi permintaan Imlek 2565, biasanya mampu membuat 5000 Hio, namun saat ini hanya berkisar 2000-3000 Hio dalam sehari.

Rupiah Kian Terkulai Pengusaha Lebih Suka Simpan Dolar di Luar Negeri JAKARTA-Pengusaha Indonesia ternyata masih lebih suka menyimpan dollar AS di luar negeri. Ini terutama dolar AS yang diterima sebagai devisa hasil ekspor (DHE). Padahal apabila devisa ini disimpan di dalam negeri, nilai tukar Rupiah akan menguat, tidak seperti sekarang yang pelemahannya dianggap sudah berlebihan. Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) telah merilis PBI nomor 14/25/PBI/2012 tentang penerimaan DHE dan penarikan devisa utang luar negeri. PBI menyebutkan agar semua DHE disimpan diperbankan domestik. Namun hingga kini kepatuhan eksporter terhadap beleid PBI nomor 14/25/ PBI/2012 ini masih minim. Padahal, tidak ada kewajiban kepada eksporter untuk menahan dananya di Indonesia. Prosedur DHE tersebut, hanya upaya memonitor perbandingan aliran ekspor dan impor agar otoritas lebih tepat

mengambil kebijakan. “Tak ada kewajiban DHE dikonversi ke rupiah. Besoknya harus lari ke luar negeri lagi tidak apa-apa. Dana itu harus masuk ke Indonesia dulu untuk menghormati Indonesia. tapi banyak yang tidak melakukan itu,” ungkap Agus di Jakarta akhir pekan lalu. Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, mengaku telah membujuk para eksportir agar mau menyimpan dolarnya di perbankan domestik. “Dalam pertemuan tertutup dengan pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) saya katakan, ‘eksportir, negara memerlukan Anda.’ Ekspor kita setidaknya US$15 miliar setiap bulan. Kalau itu disimpan di dalam negeri, tidak usah dibelanjakan, disimpan saja, itu sudah sangat membantu. BI tidak perlu repot. Rupiah kita akan kinclong,” kata Hatta Rajasa, ketika berbicara pada acara Indonesia Investor Forum 3, di JCC, Jakarta, Selasa (21/1). Menurut dia, hingga saat ini devisa hasil ekspor yang disimpan di dalam negeri baru sekitar 20 persen dari total ekspor. Hal ini turut membuat pasok dolar AS di dalam negeri relatif terbatas yang menyebabkan nilai tukar Rupiah

melemah. Dia menambahkan, Pemerintah sangat mengharapkan dana tersebut disimpan di dalam negeri. “Inilah saatnya uang kita yang diparkir di perbankan luar negeri dimasukkan ke perbankan kita. Maka yakinlah, Rupiah akan kinclong,” tutur dia. Sementara itu, analis Trust Securities Reza Priyambada dalam riset hariannya menyebutkan bahwa, nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa(21/1) kembali tertekan. Hal ini disebabkan positifnya rilis data AS berupa kenaikan New York empire state manufacturing index dan MBA mortgage application serta laporan Beige book The Fed menambah sentimen positif bagi USD. “Rupiah kita kembali terkapar,” kata Reza, Selasa (21/1). Laju mata uang Yen pun masih melemah. Begitu pula dengan Poundsterling dan Euro yang sedikit melemah dengan adanya rilis kenaikan inflasi Jerman dan penurunan balance of trade Italia sehingga membuat laju mata uang USD semakin menguat. “Laju Rupiah berada di bawah support Rp 12.095, Rp 12.128-12.095 (kurs tengah BI),” tutup Reza. =GAM

Pertumbuhan ULN yang melambat terutama dipengaruhi oleh turunnya posisi ULN sektor publik yang pada November 2013 tercatat turun menjadi USD123,3 miliar atau tumbuh negatif sebesar 2,7% (yoy). “Sementara itu, posisi ULN sektor swasta mencapai USD137,1 miliar, tumbuh melambat sebesar 10,2% (yoy) dibanding bulan sebelumnya sebesar 11,5% yoy,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Difi Johansyah di Jakarta, Selasa (21/1). Berdasarkan jangka waktu, katanya perlambatan pertumbuhan ULN terjadi baik pada ULN jangka panjang maupun ULN jangka pendek. ULN berjangka panjang pada November 2013 tumbuh 3,2% (yoy), lebih lambat dari pertumbuhan bulan sebelumnya 5,5% (yoy). Sementara itu, ULN berjangka pendek tumbuh 6,0% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada Oktober 2013 sebesar 8,3% yoy. Pada November 2013, ULN berjangka panjang yang mencapai USD214,4 miliar, atau mencapai 82,4% dari total ULN. Dari jumlah tersebut, jelasnya ULN berjangka panjang sektor publik mencapai USD116,6 miliar atau 94,6% dari total ULN sektor publik, sementara ULN berjangka panjang sektor swasta sebesar

USD97,8 miliar atau sebesar 71,4% dari total ULN swasta. “Untuk ULN swasta, perlambatan pertumbuhan terjadi pada hampir semua sektor ekonomi. ULN Indonesia terutama terarah pada tiga sektor ekonomi, yaitu sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, sektor industri pengolahan, serta sektor pertambangan dan penggalian dengan pangsa masing-masing sebesar 26,1%, 20,5%, dan 18,2% dari total ULN swasta,” imbuhnya. Dia menjelaskan, ULN sektor keuangan dan sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 9,4% (yoy) dan 9,1% (yoy), lebih lambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 12,5% (yoy) dan 11,7% (yoy). Namun demikian, ULN sektor pertambangan terakselerasi menjadi 20,2% (yoy) dari 16,0% (yoy) di bulan Oktober 2013. BI memandang moderasi pertumbuhan ULN Indonesia sejalan dengan perlambatan kegiatan ekonomi domestik. Perekonomian Indonesia tahun 2013 diprakirakan tumbuh sebesar 5,7%, melambat bila dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2012 sebesar 6,2%. Hal tersebut berdampak pada melambatnya aktivitas ekonomi, sehingga pada gilirannya menurunkan kebutuhan pembiayaan, termasuk melalui utang luar negeri. =GAM

ant/rudi mulya

BARONGSAI MINI. Warga melihat Barongsai mini yang di jual di J Kota Kediri, Jawa Timur, Selasa (21/1). Barongsai mini buatan China tersebut dijual seharga Rp. 50 ribu sampai Rp. 85 ribu sesuai ukurannya. Barongsai Mini biasanya digunakan untuk aksesoris atau pajangan rumah saat memperingati Imlek.

e Paper Koran Madura 22 Januari 2014  
e Paper Koran Madura 22 Januari 2014  

Satu Hati untuk Bangsa

Advertisement