Page 4

4

KORAN MADURA

Nasional

RABU 22 JANUARI 2014 | No. 0285 | TAHUN III

TKI

Walfrida Berpeluang Bebas

ant/andika betha

PENYIKSAAN TKI. Korban Erwiana Sulistyaningsih dan keluarganya di Rumah Sakit Amal Sehat, Sragen, Jateng, Jumat (17/1). Erwiana yang diduga dianiaya majikannya ketika bekerja sebagai buruh migran di Hongkong menjalani pemeriksaan oleh tim investigasi dari Kepolisian Hong Kong, kementerian perburuhan Hongkong, Konsulat Jenderal RI, dan BNP2TKI di Sragen pada Selasa (21/1) pagi.

Erwiana Mengalami Pembengkakan Otak Polisi Hongkong ke Sragen Kumpulkan Barang Bukti SRAGEN- Erwiana Sulistyaningsih (22) tenaga kerja Indonesia (TKI) yang menjadi korban kekerasan di Hongkong, yang terparah mengalami pembengkakan di otaknya, kata Iman Fadli, dokter spesialis bedah menangani korban. “Pasien itu, sudah ada perbaikan dan butuh waktu sekitar dua hingga tiga minggu untuk pemeriksaan intensif,” kata Iman Fadli usai dimintai keterangan sebagai saksi oleh polisi Hongkong di Polres Sragen, Selasa. Menurut Iman Fadli selaku ketua tim dokter yang menangani pasien Erwiana, bahwa dia mengalami trauma yang lama dan butuh waktu untuk memulihkan kesehatannya.

Ia menjelaskan, dirinya dimintai keterangan dari polisi Hong Kong, untuk menceritakan penemuan hasil pemeriksaan medis terhadap Erwiana. “Saya saat dimintai keterangan, banyak pertanyaan yang disampaikan oleh polisi Hongkong. Saya menceritakan penemuanpenemuan hasil pemeriksaan pasien,” paparnya. Menurut dia, hasil penemuan terhadap pasiennya tersebut yang terparah penemuan adanya pembengkakan di otak. Hal itu, bisa jadi diakibatkan karena pemukulan atau lainnya. Direktur Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Guntur Witjaksono mengatakan, pemeriksaan korban, dan saksi lain seperti hasil visum dokter diharapkan dapat menjadikan bukti kuat proses hukum pelaku. Menurut dia, Erwiana di-

mintai keterangan di rumah sakit, sedangkan ketua tim dokter yang menangani yakni Iman Fadli dan keluarga korban Polres Sragen. “Erwiana dapat memberikan keterangan soal penyiksaan yang dialami motifnya berawal dari masalah kesalahan kecil, dia dipukul dengan penggaris. Namun, dia lama-lama dipukul yang lebih keras, misalnya yang bersangkutan terlambat bangun,” ungkap Guntur. Menurut dia, pemerintah sangat serius menangani masalah kasus kekerasan yang menimpa Erwiana ini, agar tidak terulang lagi. Selain itu, pihaknya juga sudah memanggil Pengusaha Jasa Tenaga Kerja Indoensia yang memberangkatkan, Erwiana yang bekerja sebagai penata laksana rumah tangga (PLRT) di Hongkong.

“PJTKI sudah siap bertanggung Jawab mengurus Erwiana, terkait kasus itu. Pelaku juga sudah berhasil ditangkap saat hendak melarikan diri. Artinya, pelaku ada tanda-tanda dia bersalah,” tuturnya. Kendati demikian, pihaknya berharap pelaku penyiksaan seorang TKI tersebut segera diadili dan dijatuhi hukuman seberatberatnya sesuai hukum yang berlaku di Hongkong. Erwiana Sulistyaningsih adalah warga Desa Pucangan, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur tersebut telah diperiksa oleh polisi Hongkong, karena dia menjadi korban penyaniayaan oleh majikannya. Polisi Hongkong tersebut ke Sragen untuk mengumpulkan barang bukti untuk menjerat hukum, pelaku sebagai pengguna jasa TKI bernama Law Wan Tung. =ANT/ BAMBANG

KUPANG- Walfrida Soik, tenaga kerja wanita asal Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, yang dituduh membunuh majikannya, berpeluang bebas dari hukuman mati yang mengancamnya di Mahkamah Tinggi Johor Bahru, Kota Bahru, Kelantan, Malaysia. “Kemungkinan itu ada setelah penggantian pasal yang digunakan untuk menjerat Walfrida, yakni dengan pasal baru yang ancamannya adalah hukuman seumur hidup,” kata anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Nusa Tenggara Timur Sarah Lerry Mboeik, di Kupang, Selasa. Dia menjelaskan, pasal 302 Penal Code (Kanun Keseksaan) Malaysia yang sebelumnya dituduhkan kepada Wilfrida yang ancaman tertingginya adalah hukuman mati, sudah diganti dengan pasal 304 yang ancaman hukuman maksimalnya adalah hukuman seumur hidup. “Ancaman hukuman maksimal sesuai pasal 304 adalah seumur hidup. Kami terus berjuang agar Walfrida juga bebas dari hukuman seumur hidup,” kata Sarah. Menurut Sarah, pasal tuduhan hukuman mati diubah setelah jaksa mendengar sejumlah saksi pada persidangan beberapa waktu lalu. Menurut Sarah, para saksi mengatakan usia Walfrida masih anak-anak saat diberangkatkan ke Malaysia, dan merupakan korban perdagangan manusia dengan pola perekrutan saat moratorium pengiriman TKI oleh Pemerintah Indonesia. Dalam konstitusi Malaysia, lanjutnya, anak-anak tidak boleh dijatuhi hukuman mati. Dengan demikian, bisa dimungkinkan TKI asal Desa Faturika itu akan bebas dari hukuman mati. Dia mengatakan sidang akan dilanjutkan pada 26 Januari hingga 27 Januari mendatang, dengan memeriksa lima saksi termasuk Direktur RS Jiwa Tampoy, Johor Bharu, Malaysia dr Abdulkadir bin Abubakar, yang pernah melakukan kunjungan ke kampung halaman Walfrida, untuk pendataan rekam jejak tenaga kerja bawah umur itu secara sosiopsikologis dan sosio-ekonomi. Saksi lainnya yang diharapkan meringankan Walfrida ialah dokter ahli gigi dan dokter ahli tulang. =ANT/ YOHANES ADRIANUS

e Paper Koran Madura 22 Januari 2014  

Satu Hati untuk Bangsa

Advertisement