Page 4

4

GAGASAN

Selasa 23 JUNI 2009

PERSPEKTIF

Melanjutkan Reformasi Birokrasi

D

ebat calon presiden (capres) pertama yang digelar Kamis (18/6) di kompleks studio Trans TV bertema tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih serta penegakan hukum, masih menyisakan masalah mendasar yang sampai saat ini belum juga tuntas yakni reformasi birokrasi. Sebab tata kelola pemerintahan terkiat erat dengan reformasi birokrasi. Banyak kalangan berpendapat, reformasi birokrasi untuk membuat tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih, menuntut perubahan struktur serta penerapan penghargaan dan hukuman. Untuk itu dibutuhkan keberanian presiden mendatang untuk menempatkan birokrasi sungguh-sungguh sebagai pelayan publik. Mendesaknya reformasi birokrasi tersebut karena peranan strategis dari birokrasi itu sendiri dalam mewujudkan visi dan misi bangsa. Oleh karena itu, ketika reformasi politik bergulir dan rezim pemerintahan Orde Baru tumbang, masalah utama yang menjadi perhatian adalah pemberantasan KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) yang merupakan bagian dari agenda utama gerakan reformasi yang kemudian dituangkan dalam Ketetapan MPR dan dijabarkan dalam sejumlah UU. Pentingnya pemberantasan KKN ini mengingat kerusakan yang sangat dahsyat dan panjang dari praktik KKN. Dan sumber utama KKN terdapat dalam praktik birokrasi yang korup. Jadi, reformasi birokrasi itu pun sangat strategis, di samping Sikap mental, itu, masih tingginya peringkat Inkualitas sumber deks Persepsi Korupsi (IPK) Indaya manusia, donesia di dunia, serta masih midan kemauan po- nimnya birokrasi dalam berperan litik untuk secara untuk meningkatkan investasi. Untuk melakukan reformasi serius mereforbirokrasi diperlukan dukungan pemasi birokrasi nyelenggaraan birokrasi yang bersih, efisien, transparan, melayani, menjadi kendala yang sampai saat dan terdesentralisasi. Di sinilah perlunya melakukan reformasi ini justru menjadi mind-set dan sistem tata kelola perintang. (manajemen) pemerintahan. Keseriusan mereformasi birokrasi, paling tidak menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, telah berhasil. Ini terbukti dari indeks persepsi korupsi yang dirilis Transparansi International mengalami perbaikan cukup signifikan. Membaiknya indeks persepsi itu hasil dari reformasi birokrasi di Direktorat Pajak dan Bea Cukai, bukan dari penegakan hukum yang dilakukan Kejaksaan Agung maupun Mabes Polri. Melihat progress reformasi birokrasi, Sekretariat Negara (Setneg) dan Sekretariat Kabinet (Sekab) pada rapat Tim Reformasi Birokrasi di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (4/2) mengusulkan sebanyak 17 instansi pemerintah ditingkatkan gaji pegawainya hingga 80 persen. Kenaikan gaji bertujuan agar reformasi pada instansi yang bersangkutan segera tercapai. Instansi tersebut adalah Kejaksaan, Polri, TNI, Kementerian Perekonomian, Kementerian Kesra, dan Kementerian Polhukham. Birokrasi yang telah lama menjadi sarang korupsi memang tidak mudah direformasi, buktinya, seperti pengakuan Menpan Taufik Effendi, banyak kendala dalam melakukan reformasi birokrasi.Sebab tidak kurang dari empat dekade, praktik korupsi dibiarkan terjadi di lingkup birokrasi. Selain itu, birokrasi terbiasa mempraktikkan prinsip pemerintah yang bersih. Sikap mental, kualitas sumber daya manusia, dan kemauan politik untuk secara serius mereformasi birokrasi menjadi kendala yang sampai saat ini justru menjadi perintang.Jika saja semua benalu reformasi birokrasi bisa dipangkas, maka pemerintahan yang bersih dan efektif dengan sendirinya akan tercipta dan kepercayaan publik meningkat seiring pelayanan yang baik dan efektif sehingga derajat partisipasi masyarakat pada setiap denyut pembangunan. 

«

»

RUANG PEMBACA Angkot “Ngetem” di Depan Pasar Tanah Abang IKLAN Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang sudah berubah tersebar di beberapa lokasi, mulai dari iklan radio, televisi, bahkan baliho mudah ditemui di beberapa pojok Kota Jakarta. Termakan dengan iklan tersebut, saya tetarik untuk belanja di Pasar Tanah Abang yang diiklankan tidak kumuh dan ber-AC. Pertama, saya datang ke Pasar Tanah Abang dengan naik angkutan umum. Tiba di Blok A Pasar Tanah Abang, ternyata memang Pasar Blok A sejuk dan tidak perlu berpanas-panasan untuk memilih-milih baju dan perlengkapan lainnya. Apalagi harganya juga tergolong murah. Akhirnya membuat saya ketagihan untuk berbelanja ke Pasar Tanah Abang. Kali kedua saya datang ke Pasar Tanah Abang bersama keluarga dengan kendaraan sendiri. Kali ini, bukan kenyaman yang saya dapat, tapi kemacetan. Kemacetan sudah terasa sejak di depan Kantor Kecamatan Pasar Tanah Abang, Jalan Mas Mansyur. Mobil berjalan lambat dan kemacetan sudah tampak di beberapa sudut menuju Pasar Tanah Abang. Ketika mobil tiba di depan Blok A, kemacetan makin parah. Bahkan, untuk masuk ke areal parkir di Blok A, hingga sampai satu jam baru bisa lolos dari jebakan kemacetan. Penyebab kemacetan adalah karena banyak angkutan umum yang ngetem di sana. Sehingga hampir dua jalur dipenuhi dengan antrean angkutan umum untuk menaikkan penumpang. Yang membuat kesal, petugas keamanan seperti tidak mampu berbuat apa-apa. Membiarkan saja kendaraan berhenti hingga waktu yang lama. Nita Jalan Sinabung VIII Kebayoran Baru

Setiap tulisan Gagasan/Perada yang dikirim ke Koran Jakarta merupakan karya sendiri dan ditandatangani. Panjang tulisan maksimal enam ribu karakter dengan spasi ganda dilampiri foto, nomor telepon, fotokopi identitas, dan nomor rekening bank. Penulis berhak mengirim tulisan ke media lain jika dua minggu tidak dimuat. Untuk tulisan Ruang Pembaca maksimal seribu karakter, ditandatangani, dan dikirim melalui email atau faksimile redaksi. Semua naskah yang masuk menjadi milik Koran Jakarta dan tidak dikembalikan. Redaksi tidak bertanggung jawab terhadap semua isi tulisan.

KORAN JAKARTA

®

Jakarta yang Saling Mengasihi Oleh: Yahya Andi Saputra

J

akarta dapat diibaratkan sebagai Emak yang mengasihi anak (penduduk) dengan pelbagai latar belakang etnik dan kepercayaan. Sudah sepatutnya penduduk menyayangi Emaknya. Emak yang menyediakan fasilitas pelayanan kota. Hubungan antara Emak dan penduduk adalah pada disiplin. Penduduk hendaknya menaati peraturan dan memegang kuat disiplin. Tradisi antre sebagai peninggalan kolonial kini nyaris hilang kecuali barangkali di bank. Bahkan di mal orang sering menyelak, tak mau antre. Fasilitas kota banyak yang dirusak mulai dari halte bus sampai telepon umum. Sampah dibuang sekehendak hati. Miris menyaksikan pengendara mobil mewah membuang sampah kulit buah-buahan, botol minuman air kemasan, dan sebagainya ke jalan raya. Sungai atau kali diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah. Kesopanan berlalu lintas pun makin diabaikan. Hak-hak pejalan kaki dirampas di jalan raya, bahkan banyak pengendara kendaraan bermotor menganggap seolah pejalan kaki merupakan gangguan. Jalan sebagai fasilitas kota banyak yang diambil sebagian untuk keperluan lain seperti berjualan dan terminal bayangan. Sehingga lalu lintas kendaraan menjadi sangat terganggu. Disiplin sosial sangat lemah, padahal ini merupakan kunci ke arah keberhasilan pembangunan. Gunnar Myrdal dalam bukunya yang terkenal, Asian Drama, mengatakan banyak negara di Asia yang tidak berhasil dalam pembangunan karena gagal menegakkan disiplin sosial masyarakatnya. Hubungan kota dan penduduknya adalah hubungan ibu dengan anak. Jika “anak” tak disiplin, maka apa pun cara dan bentuk pelayanan “Emak” menjadi tak bermanfaat. Megapolitan Secara historis, Nusa Kalapa, nama awal kota Jakarta sebagaimana tertera dalam Peta Ciela (peta ini kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta) yang dibuat Pangeran Panembong pada abad XVI, berbatas di sebelah barat adalah Kali Cisadane, sebelah timur Kali Citarum, dan sebelah selatan Cibinong, Citeureup, dan Cileungsi. Pemerintah pendudukan Jepang menarik perbatasan Jakarta mirip perbatasan yang dibuat Pangeran Panembong. Cikarang adalah

batas sebelah timur, dan Rangkasbitung batas sebelah barat. Konsep Jakarta Megapolitan tidak dengan sendirinya berarti perluasan wilayah administratif Jakarta yang meliputi Kota dan Kabupaten Bekasi, Kota dan Kabupaten Tangerang, Kota Depok, dan sejumlah kecamatan di Kabupaten Bogor. Seakan-akan notabene “wilayah” Jakarta Megapolitan ini sejalan dengan Peta Ciela. Tentu saja persoalan perwujudan konsep Jakarta Megapolitan dapat menjadi masalah politis jika dijuruskan ke arah itu karena dapat diperkirakan muncul persoalan peraturan perundangan yang tak sejalan. Wilayah kota di lingkungan pemerintah Provinsi DKI Jakarta berbeda dalam proses pengangkatan kepala daerahnya dibanding dengan wilayah kota kabupaten sekitar. Di daerah sekitar, pengangkatan kepala daerah melalui pilkada sedangkan kepala daerah di wilayah Kota Jakata tidak. Di wilayah sekitar terdapat perwakilan daerah yang dipilih melalui pemilu, sedangkan di Jakarta tak ada melainkan pada tingkat provinsi. Barangkali persoalan Jakarta Megapolitan harus ditempatkan dalam perspektif pembangunan, bukan hukum dan politik. Perlu dicari jalan keluar mengatasi masalah kesenjangan pembangunan antara Jakarta dan wilayah perbatasan. Jika tak dicari jalan keluarnya, niscaya menyulitkan perkembangan Jakarta dan wilayah perbatasan. Karena dalam praktik Jakarta dan wilayah perbatasan berkembang menjadi suatu kesatuan ekonomi dan perdagangan sementara secara administratif berbeda. Perbedaan ini pada gilirannya tak membantu pembangunan infrastruktur yang simultan dan setara antara Jakarta dan wilayah perbatasan yang dapat berakibat menghambat pembangunan industri dan perdagangan Jakarta dan wilayah perbatasan. Penanganan masalah keamanan dan ketertiban masyarakat niscaya menjadi makin lancar jika Jakarta dan wilayah perbatasan menjadi Jakarta Megapolitan. Tak jarang masalah tingkat-tingkat pelayanan administrasi di Jakarta dan wilayah perbatasan memperlambat

dan kesenian. Saya berpengharapan Jakarta sebagai sebuah kota budaya yang penduduknya menjunjung nilai-nilai agama, moral, dan etika. Fasilitas kebudayaan sudah banyak dibangun dan dipugar pemerintah Provinsi DKI Jakarta, seperti Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta, Gedung Wayang Orang, Gedung Miss Cicih, begitu pula fasilitas olah raga. Tapi sebuah kota tidak dengan sendirinya dapat disebut kota budaya karena adanya fasilitas itu. Kota budaya harus juga Membangun Jakarta mengacu pada perilaku penduduk yang sebagai kota budaya berarti berbudaya dalam arti menjunjung tinggi menegakkan hukum secara nilai-nilai agama, moral, dan etika. tegas dan konsekuen. Jakarta Angka-angka kriminalitas yang kian meningkat menjadi indikasi lemahnya bagian tak terpisahkan komitmen terhadap nilai-nilai agama, dari nation state Indonesia. moral, dan etika. Kejahatan dengan Jakarta harus menjadi contoh kekerasan masih terjadi tiap hari yang penegakan hukum. mengambil korban jiwa. Penggunaan obat-obat terlarang masih berlangsung dan kian masif. Perjudian gelap terjadi di sejumlah tempat. Praktik-praktik prostitusi, pelecehan seks terhadap anak-anak di bawah umur, perilaku seks menyimpang, menjadi berita yang dihidangkan tiap jam oleh pemancar televisi. Membangun Jakarta sebagai kota budaya berarti menegakkan hukum secara tegas dan konsekuen. Jakarta bagian tak terpisahkan dari nation state Indonesia. Jakarta harus menjadi contoh penegakan hukum. Harus ditumbuhkan kesadaran bahwa Indonesia sebagai nation state itu berarti bahwa kita semua hidup dalam aturan. Aturan harus ditaati oleh seluruh warga tanpa kecuali. Tak boleh ada sekelompok warga, atas nama apa pun, yang hidup di luar aturan yang telah ditetapkan dan diberlakukan di persada Indonesia. Kita wajib optimis dan berpengharapan sebuah KORAN JAKARTA/ONES Jakarta seperti Emak yang menyayangi penduduknya, dan penduduk dung kerumitan, tapi harus dibahas se- sebagai anak-anak yang menyayangi cara bersungguh-sungguh di kalangan Emak-nya. Kita wajib optimis dan bermasyarakat yang perduli hari depan pengharapan Jakarta sebagai sebuah kota yang penduduknya menjunjung kotanya. nilai-nilai agama, moral, dan etika.  Kota Budaya Penulis adalah Wakil Ketua dan pePengertian Jakarta sebagai kota bunanggung jawab Lembaga daya tak dapat dipersempit, artinya seKebudayaan Betawi. bagai kota dengan fasilitas kebudyaan penanganan masalah keamanan dan pembasmian penyakit masyarakat karena adanya perbedaan lokasi tempat kejadian perkara (TKP) dan lokasi persembunyian pelaku. Konsep Jakarta Megapolitan tak dapat dielakkan mengandung aspek administrasi. Dan itu menyangkut masalah pengaturan dan peraturan yang ditaati semua pihak. Meski pembentukan Jakarta Megapolitan mengan-

«

»

PERADA

INFO BUKU

Mengurai Sisi Kemanusiaan Che

C

Pilihan kisah yang he Guevara diangkat penulis cumerupakan kup menggambarkan salah satu tokoh sosok manusiawi Che. revolusioner abad ke-20 Di antaranya adalah yang paling terkenal. kisah-kisah unik dan Kita mudah menmenggelitik tentang jumpai sketsa wajahnya Che yang seorang terpampang di kaus dokter spesialis alergi oblong yang dijual di yang kecanduan tememperan kaki lima Blok bakau. Pernah suatu M, Jakarta Selatan, ketika, saat menjadi maupun toko-toko menteri di kabinet mewah di mal-mal di Castro, Che menderita Jakarta. Sketsanya juga sakit dan dokter haterpampang di ikat nya membolehkannya kepala demonstran dan menghisap satu cetato di lengan pesepak rutu dalam satu hari. bola terkenal MaraJudul: Che Vive, Sisi Lain Che menuruti nasihat dona dan perut Mike Kehidupan Ernesto Che sang dokter, dan dia Tyson. Guevara membuat cerutu Sudah banyak buku Penulis: TW Utomo yang ditulis orang Penerbit: Selasar, Surabaya yang sangat panjang dan menghisapnya tentang Ernesto “Che” Tahun: I, April, 2009 hampir seharian. Guevara, namun seHarga: Rp22.000 Che bahkan sering pertinya kisah tentang melinting daun-daun dia masih menjadi kering bak cerutu dan menghisapnya daya tarik bagi banyak orang. Buku ketika suplai tembakaunya habis saat tipis yang ditulis oleh TW Utomo, bergerilya di hutan-hutan Amerika seorang mantan wartawan, ini adalah Selatan. salah satunya. Kecintaan Che pada anak-anaknya Terdiri dari sebelas bab, buku ini juga dikisahkan dalam buku ini. Damemuat berbagai kisah tentang Che lam rentang hidupnya yang singkat, Guevara yang cukup lengkap. Dari tulisan mengenai silsilah nenek moyang sangat sedikit waktu yang dihabiskan Che untuk keluarganya. Dalam buku Che yang masih berdarah Irlandia ini diungkap bagaimana pengaruh sampai kisah tentang saat-saat dia dan prinsip-prinsip ideologis yang dieksekusi di hutan Bolivia. Penulis buku ini berupaya menyaji- diajarkannya cukup tertanam dalam benak anak-anaknya. Komunikasi kan sisi-sisi manusiawi dari Che yang memang tidak banyak diangkat dalam lewat surat di antara mereka meninggalkan kesan yang sangat mendalam buku-buku lain tentang tokoh revolubagi anak-anaknya. sioner ini. Upaya ini cukup berhasil.

Sepuluh kisah menarik dalam buku ini dinarasikan dengan gaya yang mudah, sederhana, dan enak dibaca. Walaupun penulis buku ini menjelaskan bahwa riset buku ini hanya dilakukan lewat Internet, upaya penulis patut diacungi jempol karena ragam informasi yang dimuat dalam buku ini cukup kaya. Pribadi yang penuh kejutan. Begitulah Che. Waktu membuktikan bahwa Che bukan hanya pribadi yang mengejutkan. Che adalah pribadi yang memesona. Pribadi sederhana yang memilih jalan sepi melawan

« Kecintaan Che pada anakanaknya juga dikisahkan dalam buku ini. Dalam rentang hidupnya yang singkat, sangat sedikit waktu yang dihabiskan Che untuk keluarganya.

»

ketidakadilan dan penindasan. Figur revolusioner yang riwayatnya terbingkai bak prosa yang puitis dalam narasi sejarah perjuangan melawan kekuasaan yang lalim. Anda tidak perlu menjadi seorang komunis untuk mengagumi sosok Che Guevara. Anda juga tidak perlu menjadi seorang lawan dari kapitalisme untuk menampilkan diri sebagai pengagum Che.  Peresensi adalah Fahmi Sutan Alatas, aktif pada Komunitas Saung Buku.

Judul: Harmoko, Quo Vadis Golkar – Mencari Presiden Pilihan Rakyat Penulis: Nirwanto Ki S. Hendrowinoto, MA, dkk Penerbit: PT Kintamani, Jakarta Tahun: I, Juni 2009 Tebal: 224 halaman Harga: Rp57.000 SOSOK Harmoko seakanakan lenyap ditelan bumi setelah reformasi 1998 terjadi. Dia di era Orde Baru, tidak bisa dipisahkan dengan Menteri Penerangan dan Ketua Partai Golkar. Buku berjudul Harmoko, Quo Vadis Golkar – Mencari Presiden Pilihan Rakyat yang ditulis Nirwanto Ki S Hendrowinoto dkk ini bercerita mengenai Golongan Karya dan Harmoko. Judul yang cukup merangsang itu dibeber dalam Bab VI yang, sayangnya, cuma dalam 27 halaman. Semula diharapkan segmen ini mendalam dan luas, tentang bagaimana pandangan Harmoko mengenai kondisi dan arah perjalanan Partai Golkar yang pendapatan suaranya kian merosot, dan kader-kader kuatnya kabur. 

Pemimpin Redaksi: M Selamet Susanto Redaktur Pelaksana: Tri Juli Sukaryana Asisten Redaktur Pelaksana: Adi Murtoyo, Nurcholish MA Basyari, Rusdi Mathari, Suradi SS. Redaktur: Adiyanto, Alfian, Alfred Ginting, Antonius Supriyanto, Arief Suharto, Bernard Chaniago, Dhany R Bagja, Diapari Sibatang Kayu, Hasbunal M Arief, Khairil Huda, Lili Hermawan, M Husen Hamidy, Sriyono Faqoth, Suli H Murwani, Yoyok B Pracahyo. Asisten Redaktur: Ade Rachmawati Devi, Ahmad Puriyono, Dudi Sabil Iskandar, Mas Edwin Fajar, Nala Dipa Alamsyah, Nessy Febrinastri, Ricky Dastu Anderson, Sidik Sukandar, Susiyanti, Syarif Fadilah, Tri Subhki R. Reporter: Agung Wredho, Agus Salim, Agus Supriyatna, Agus Triyono, Amailia Putri Hasniwati, Anzar Rasyid, Benedictus Irdiya Setiawan, Bram Selo, Citra Larasati, Dini Daniswari, Didik Kristanto, Doni Ismanto, Eko Nugroho, Ezra Natalyn, Hansen HT Sinaga, Haryo Brono, Haryo Sudrajat, Hendra Jamal, Henry Agrahadi, Hidayat Setiaji, Houtmand P Saragih, Hyacintha Bonafacia, Im Suryani, Irianto Indah Susilo, Kristian Ginting, Marlisa Endah Nur Habsari, Merta Anduri, Muhammad Fachri, M Kamaludin, Muhammad Rinaldi, Nanik Ismawati, Novia T. Tijaja, Rahman Indra, Ramdani, Rangga Prakoso, Rizky Amelia, Rudy Kurniawan, Teguh Nugroho, Tya Atiyah Marenka, Vicky Rachman, Vience Mutiara Siahaan, Vivi Firantini, Wachyu AP, Widyamukti A. W, Xaveria Yunita Melindasari, Yusti Nurul Agustin Kepala Sekretariat Redaksi: Debora Awuy Bahasa: Yanuarita Puji Hastuti Kepala Produksi: Agus Sudrajat Desain Grafis: Yadi Dahlan. Penerbit: PT Berita Nusantara Direktur Utama: M Selamet Susanto Direktur: Tri Juli Sukaryana, Adi Murtoyo. Managing Director: Fiter Bagus Cahyono Associate Director: Woeryadi Kentoyo Manajer SDM/Umum: Agung Kurniawan Manajer Akuntansi & Keuangan: Djono Manajer Iklan: Diapari Sibatangkayu Manajer IT: Dionisius A Wibisono Asisten Manajer Sirkulasi: Turino Sakti Asisten Manajer Distribusi: Firman Istiadi Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi: Jalan Wahid Hasyim 125 Jakarta Pusat 10240 Telepon:

(021) 3152550 (hunting) Faksimile: (021) 3155106. Website: www.koran-jakarta.com E-mail: redaksi@koran-jakarta.com Tarif Iklan: Display BW Rp 28.000/mmk FC Rp 38.000/mmk, Advertorial BW Rp 32.000/mmk FC Rp 40.000/mmk, Laporan Keuangan BW Rp 17.000/mmk FC Rp 32.000/mmk, Pengumuman/Lelang BW Rp

7.500/mmk, Eksposure BW Rp 2.000.000/kavling FC Rp 3.000.000/kavling, Banner Halaman 1 FC Rp 52.000/mmk, Center Spread BW Rp 35.000/mmk FC Rp 40.000/mmk, Kuping (Cover Ekonomi & Cover Rona) FC Rp 9.000.000/Kav/Ins Island Ad BW Rp 34.000/mmk FC Rp 52.000 Obituari BW Rp 10.000/mmk FC Rp 15.000/mmk, Baris BW Rp 21.000/baris, Kolom BW Rp 25.000/mmk, Baris Foto (Khusus Properti & Otomotif) BW Rp 100.000/kavling

Wartawan Koran Jakarta tidak menerima uang atau imbalan apapun dari narasumber dalam menjalankan tugas jurnalistik

EDISI 373 - 23 JUNI 2009  

Edisi 373 - 23 Juni 2009

EDISI 373 - 23 JUNI 2009  

Edisi 373 - 23 Juni 2009

Advertisement