Page 18

18

Selasa

KORAN JAKARTA

23 JUNI 2009

®

FOTO-FOTO: WWW.FILMKETIKACINTABERTASBIH.COM

Peran Tangan Dingin sang Sutradara ada yang agamanya bagus, tapi belum pernah muncul di sinetronsinetron, misalnya. Kita ingin memberikan kesempatan kepada mereka,” urainya. Selain lima pemain utama tadi yang berhasil lolos rangkaian panjang proses seleksi, beberapa pemain kawakan ikut serta di KCB. Di antara mereka ada Didi Petet dan Dedi Mizwar. Sang penulis, Habiburrahman, pun ikut main. Alur serta kisah dalam cerita dalam novel pun sebisa mungkin dituangkan sama dalam filmnya. “Ya, novelnya itu sendiri kan sudah islami. Jadi, kisah cinta tetap. Kisah cinta yang dihubungkan dengan kecintaan kepada Allah. Bukan sekadar kisah cinta antara sesama manusia, tapi harus dengan keridhaan Allah. Bedanya dengan kisah-kisah cinta yang lain, ini melibatkan Allah,” ungkap Umam.

Cerita yang bagus belum tentu akan menjadi sebuah film yang menarik. Dibutuhkan pendalaman serta kerja sama tim demi kesuksesan sebuah film. Salah satunya peran sutradara yang andal.

C

haerul Umam, sutradara yang pernah sukses menggarap film Titian Rambut Dibelah 7 serta Ramadhan dan Ramona yang berhasil menyabet Piala Citra itu, tidak khawatir dengan keberhasilan film Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Sebagai orang nomor satu di balik layar, pria yang akrab disapa Umam itu mencoba menggambarkan novel KCB sesuai dengan ekspektasi pembaca. Hal itu mengingat novel religi ini sudah memiliki pembaca tersendiri dan telah mencatat angka penjualan lebih dari 350 ribu dalam waktu kurang dari dua tahun. Pria kelahiran 4 April 1943 itu merasa satu visi dengan cerita yang diadaptasi dari novel karya Habiburrahman El Shirazy itu. “Banyak mengajarkan kebaikan,” ungkap Umam. Beberapa tahun terakhir, dirinya memang sudah menentukan sikap untuk membuat karya, khususnya film yang bernapaskan Islam. Hal itu dilakukan sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. “Mengingat usia yang tidak lagi muda, sudah saatnya membuat yang bermanfaat,” ujarnya. Sejak membuat keputusan tersebut, Umam rajin mencari cerita islami yang bagus untuk difilmkan. Target utama adalah novel Di Atas Sajadah Cinta dan Ayat-Ayat Cinta (AAC). Tapi, keduanya berlalu begitu saja, digarap sutradara lain. Akhirnya, Umam bisa mengucap syukur setelah rumah produksi SinemArt memercayakan penggarapan KCB untuk dirinya. “Alhamdulillah, ini sebuah penghargaan. Pucuk dicinta, ulam pun tiba,” urainya. Bagi Umam, KCB sangat me-

ARAHAN I Sutradara film Ketika Cinta Bertasbih, Chaerul Umam (tengah) saat memberi pengarahan pada kru film untuk pengambilan gambar. Film ini memilih lokasi syuting di Indonesia dan Mesir.

narik untuk difilmkan. Selain karena ceritanya menarik, konflik di antara tokoh pun tidak vulgar. “Sangat halus. Inner conflict. Saya yang punya latar belakang aktor sangat senang dengan konflik seperti ini. Konflik tidak dirupakan dalam bentuk perkelahian atau marah-marah,” urainya. Kalau Hanung Bramantyo sejak awal mengatakan film AAC yang dibuatnya tidak sama persis dengan cerita novel, Umam sebaliknya. “Filmnya akan sama persis dengan novel. Nanti ketika nonton film, orang seperti sedang membaca novel. Tapi, tokoh-tokohnya bergerak,” lanjutnya. Beban Penyutradaraan Mengingat AAC ditonton lebih dari 2,5 juta orang, Umam merasa tidak terlalu memiliki beban untuk mencatat sukses serupa. “Soal jumlah penonton, saya tidak bisa memperkirakan. Banyak hal yang membuat sebuah film ditonton banyak orang. Bukan hanya kua-

panggilan akrab Habiburrahlitas,” jawabnya. Meski begitu, Umam yakin telah memberikan man, dalam pengembangan cerita karya terbaik. “Saya telah berdalam visual, ia kagum dengan usaha membuat film ini indah dan kinerja orang-orang Mesir yang komunikatif. Saya optimistis telah dilibatkan dalam proses produksi. melakukan,” ujarnya. “Selain mereka cepat dan tepat Menerjemahkan waktu, mereka juga barisan kalimat kuat. Ia memdalam novel menMenerjemahkan bayangkan jika di jadi sebuah tontonan Indonesia butuh barisan kalimat da- dua sampai tiga yang menarik dan lam novel menjadi orang untuk mengsempurna merupakan tugas yang angkat dan meminsebuah tontonan cukup berat bagi yang menarik dan dahkan peralatan, seorang sutradara, sedangkan di Mesir sempurna meruyang andal sekalicukup satu orang pakan tugas yang pun. “Tapi justru di saja karena mereka situlah tantangannya. berbadan besar,” cukup berat bagi Apalagi jika novel seorang sutradara, ungkap Umam. yang diterjemahkan Ia juga menguyang andal sekali- raikan film berbeda menjadi sebuah film pun. itu merupakan novel dengan pembuatan yang cukup laris,” sinetron. Mereka jelasnya. disodorkan dialog di lapangan. Bagi Chaerul Umam, film ini Mereka harus hafal di lapangan. sangat berbeda dari semua film Belum lagi harus hafal dengan yang pernah ditanganinya. Selain karakternya. Penguasaan materi kedekatanya dengan Kang Abik, tahap awal dilakukan selama se-

»

»

puluh hari. “Ini untuk dasar saja, untuk hafal dan mengerti. Tapi, menguasai belum,” urainya. Audisi yang memakan waktu panjang, yakni kurang lebih tiga bulan, banyak menguras tenaga. Audisi dimulai sejak 23 Mei 2008, berlangsung di kantor Sinemart di Kedoya, Jakarta. Kemudian di Surabaya, Semarang, Yogya, Bandung, Banjarmasin, Medan, Makassar, dan Padang. Audisi ini dilakukan untuk sebuah kesempurnaan. “Meskipun kesempurnaan mutlak juga nggak bisa karena mereka sangat baru, nol sekali mereka. Mereka dilihat dari bakat, bisa disutradarai. Kriteria pun disesuaikan dengan karakter yang ada di dalam novel,” tambahnya. Banyak sutradara yang tidak mau mengambil risiko berhadapan dengan para pemain baru. Namun, tidak demikian dengan Chaerul Umam. “Kita kepinginnya yang masih segar. Selain itu, agamanya juga bagus. Mungkin

Masyarakat Menilai Menurutnya, tema-tema islami sudah ada sejak lama. Sejak di zaman Asrul Sani tahun lima puluhan pun sudah ada film Tauhid serta Di Bawah Lindungan Ka’bah. ”Saya sudah buat film Islam sejak tahun tujuh puluhan. Di antaranya, Al-Kautsar. Saya kira masyarakat kita mencari sesuatu yang bernilai. Misalnya, setelah melihat Ayat-ayat Cinta laku keras. Jadi, orang juga melihat nilai dan mutu film. Masyarakat ingin melihat kualitas yang baguslah. Di samping pesannya bagus, kualitas juga harus bagus. Dan, masyarakat tidak bisa dibodohi. Meskipun judulnya sama, tapi mutunya beda,” urainya. Nilai serta peran moral yang disampaikan oleh KCB, diungkapkannya, adalah mengenai etos kerja dalam film ini yang sangat islami dan percintaan secara islami, seperti hubungan antara perempuan dan laki-laki atas ridha Ilahi alias tidak berpacaran, bagaimana mencari jodoh secara islami, serta meminta pasangan kepada orangorang tua atau orang-orang yang layak merekomendasi. “Begitulah. Jadi, tidak cari sendiri. Berkenalan, berpacaran, berdua-duaan, dan seterusnya. Itu sebuah ide cerita percintaan yang saya kira lain dengan yang selama ini ada di film-film atau sinetron. Dan ini yang mesti dibudayakan,” tuturnya.  mer/L-1

Ketika Novel Berwujud Film

M

embuat naskah sebuah film layar lebar tentunya membutuhkan pendalaman yang total. Apalagi sebuah film yang berasal dari sebuah novel. Ratusan halaman sebuah novel harus bertransformasi menjadi sebuah naskah film. Ditambah lagi novel tersebut sudah dikenal luas oleh masyarakat. Tantangan tersebut menjadi dua kali lipat. Pada film Ketika Cinta Bertasbih (KCB), penulisan naskah atau skenario diserahkan kepada Imam Tantowi. Tekad sedari awal untuk membuat skenario yang mendekati novelnya telah membayanginya. “Selama proses pembuatan skenario, saya memang menginginkan agar skenario tersebut sama persis dengan novelnya,” ucap Imam. Ia juga menguraikan ada beberapa hal yang tidak bisa dituangkan selama proses pembuatan KCB versi filmnya, seperti kondisi di lapangan yang menyulitkan jika benar-benar

disamakan dengan versi novelnya. Pembuatan KCB versi novel telah berlangsung bertahun-tahun silam. Karena terjadi beberapa perubahan tempat, penyesuaian pun harus dilakukan. “Tidak semua tempat yang ada di dalam buku dapat diangkat ke layar lebar. Untuk menyiasati hal tersebut, beberapa perubahan setting dilakukan tanpa mengubah alur cerita yang telah ada sebelumnya,” paparnya. Sambutan penonton pun berbeda-beda. Salah satunya diungkapkan mahasiswi Universitas Indonesia, Intan Pertiwi. Menurutnya, penceritaan dalam film tersebut sesuai dengan yang dibayangkannya. Namun, ia sedikit menyayangkan alurnya yang terlalu lama. “Pada saat membaca novelnya, otomatis imajinasi turut memengaruhi dalam penggambaran novel itu dalam benak kita. Sedangkan apa yang sudah dibayangkan sebelumnya

MEGAFILMKCB.BLOGDETIK.COM

ARTIS BARU I Artis pendukung film Ketika Cinta Bertasbih, dari kiri Andi Arsyil, Oki Setiana Dewi, Meyda Sefira dan Alice Sofie Norin saat peluncuran Film “Ketika Cinta Bertasbih” di Jakarta, beberapa waktu lalu.

menjadi kontras tatkala dibuat dalam versi filmnya,” urai Intan. Meskipun demikian, secara keseluruhan ia dapat menikmati film yang berdurasi kurang lebih dua jam itu. Hal senada diungkapkan oleh Mardiana, ibu dua putri yang merupakan penggemar berat karya Habbiburahman El Shirazy. Setiap novel yang diluncurkan Habbiburahman tak pernah luput ia baca. “Karena sudah baca novelnya, otomatis sudah tahu jalan ceritanya. Mungkin akibat itu juga rasanya jadi kurang gereget. Padahal semenjak tahu bahwa Ketika Cinta Bertasbih akan difilmkan, rasanya senang sekali. Tapi ya sejauh ini filmnya cukup bagus,” urai Ana. Selama menonton, menurutnya, ada beberapa hal menjadi perhatian utamanya, seperti pemain film utama yang hampir semuanya baru pertama kali terjun dalam dunia perfilman. “Peran yang dimainkan oleh

tokoh Anna, Furqon, serta Azzam cukup memiliki chemistry yang dalam meskipun mereka pemain baru. Tetapi di beberapa scene ada yang terkesan dipaksakan. Satu hal yang yang cukup mengganggu adalah adanya beberapa iklan merek tertentu yang seakan mendominasi pemandangan di dalam film tersebut. Tapi secara keseluruhan tidak kecewalah,” ujar Ana. Bertolak belakang dengan pernyataan Intan dan Ana, salah satu pegawai bank di bilangan Kebayoran itu menuturkan film tersebut tidak jauh berbeda dengan sinetron kebanyakan yang beredar di televisi. “Adegan dramanya terlalu ditonjolkan. Alur ceritanya juga terlalu lambat. Salah satu yang saya nikmati adalah pengambilan gambar di Mesir. Hasilnya jadi tidak terlalu sinetron banget. Ya mudah-mudahan sekuelnya dapat mengobati sedikit kekecewaan,” harapnya.  mer/L-1

EDISI 373 - 23 JUNI 2009  

Edisi 373 - 23 Juni 2009

EDISI 373 - 23 JUNI 2009  

Edisi 373 - 23 Juni 2009

Advertisement