Page 16

16

BEDAH TELKO

Selasa 23 JUNI 2009

KORAN JAKARTA

®

Teknologi Pita Lebar l Tingkat Penetrasi pada 2012 Mencapai 20 Persen

SPEKTRUM XL Tekan Angka Pindah Layanan JAKARTA – PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) mulai menekan angka pindah layanan (churn rate) dari pelanggan prabayar meskipun besarannya masih di bawah rata-rata industri. Tercatat, XL memiliki tingkat churn sebesar 10 persen, sementara industri seluler mencapai 30 persen. “Memang angka churn kami di bawah industri. Tetapi kita tetap ingin meningkatkan kualitas pelanggan agar pendapatan bisa terus positif,” ujar Direktur Commerce XL Joy Wahyudi di Jakarta, Senin (22/6). Dijelaskannya, cara untuk menekan angka pindah layanan adalah menekan penyebaran kartu perdana dan menawarkan program retensi yang bisa menahan pelanggan menggunakan jasa XL lebih lama. Penyebaran kartu perdana ditekan dengan menurunkan penjualan dari enam juta menjadi empat juta kartu baru. “Biasanya dari enam juta kartu baru yang dilepas ke pasar, hanya satu juta yang menjadi pelanggan. Lamanya pelanggan menggunakan jasa hanya dua sampai tiga bulan, tetapi ini cukup menambah keuntungan 23 persen dari revenue generating subscriber,” tuturnya. Untuk program retensi terbaru, XL meluncurkan program isi ulang kartu selama tiga kali dengan pulsa minimal 10 ribu rupiah sekali isi. Dengan program itu, pelanggan akan mendapat bonus pulsa panggil dan SMS ke sesama XL beserta akses Internet dengan total bonus setara 66.500 rupiah. “Program ini diharapkan akan memperpanjang masa pelanggan menggunakan jasa XL,” katanya. XL saat ini memiliki 24,9 juta pelanggan, 98 persen di antaranya menggunakan layanan seluler prabayar yang rata-rata menghabiskan pulsa (average revenue per user/ ARPU) 40 ribu rupiah per bulan.  dni/E-2

Tender BWA Gunakan Jaringan Internet Publik JAKARTA – Pemerintah akan menggunakan sistem e-Auction menggunakan jaringan Internet publik dalam tender Broadband Wireless Access (BWA) pada Juli nanti. Tahapan e-Auction rencananya dilangsungkan selama dua jam setiap harinya pada tanggal 14, 15, dan 16 Juli 2009 mendatang. “Pola seperti ini bukan pertama kalinya diterapkan pemerintah. Ini untuk memberikan transparansi dalam lelang,” kata Sekretaris Jenderal Departemen Komunikasi dan Informatika Ashwin Sasongko di Jakarta, Senin (22/6). Ashwin menjamin, meskipun menggunakan Internet publik, sistemnya tidak akan bisa dibobol tangan-tangan nakal untuk mengetahui harga yang ditawarkan. “Jika tercium ada keanehan harga, lelang akan disetop di tengah jalan. Secara TI forensik, hal ini bisa ditelusuri,” jelasnya. Sementara itu, Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya N Bakrie mengatakan pihaknya akan menawar satu blok di setiap zona. “Kami menawar satu blok. Masalah zona mana yang akan dibidik, belum bisa dibuka karena nanti diintip pesaing,” katanya. Juru bicara Konsorsium Wimax Indonesia (KWI) Heru Nugroho mengaku khawatir akan terjadinya penawaran harga gila-gilaan oleh dua pemain besar, yakni Indosat dan Telkom. “Saya dengar isu dua operator itu mau menawar 10 kali lipat dari harga dasar yang sebesar 52,35 miliar rupiah. Kalau benar terjadi, bisa mundur semuanya,” katanya. Menanggapi hal itu, Staf Khusus Menkominfo Suhono Harso Supangkat menegaskan, tidak mungkin terjadi penawaran hingga 10 kali lipat karena akan ada tender berikutnya untuk BWA mobile.  dni/E-2

Meretas Bisnis Masa Depan Jasa Internet berbasis teknologi pita lebar diperkirakan akan menjadi bisnis andalan operator di masa depan. Apalagi melihat kontribusi jasa suara dan pesan singkat yang mulai menurun.

Perkembangan Broadband di Asia China 71.034.820 83.366.000 88.088.000 5,66% 24,01%

14.970.775 15.474.931 15.709.771 6,23% 4,94 %

2.148.954 2.242.654 2.262.654 0,89% 5,29%

28.836.100 30.325.900 30.631.900 1,01% 6,23 %

Taiwan 4.659.000 4.666.000 4.659.000 -0,15% 0,00%

India 3.626.166 5.387.338 6.109.091 13,40% 68,47%

T

eknologi pita lebar (broadband) Internet di dunia mengalami pertumbuhan pelanggan yang signifikan. Broadband Forum mencatat, selama kuartal pertama tahun ini, teknologi untuk koneksi Internet dengan kemampuan di atas 10-20 kali lipat dibandingkan modem dial-up itu telah memiliki 16,6 juta pelanggan baru. Secara keseluruhan teknologi pita lebar digunakan 429,2 juta pelanggan di seluruh dunia. Pertumbuhan di atas 10 persen pada kuartal pertama terjadi di 20 negara, dan umumnya didominasi negara dari kawasan Asia. Negara Asia yang mencatat pertumbuhan pelanggan fantastis pada kuartal pertama adalah India, Sri Lanka, Filipina, Vietnam, dan Singapura. Sedangkan Indonesia, ditilik dari data tahun ke tahun, terjadi pertumbuhan fantastis, yakni 140 persen atau dari 298.500 pelanggan di kuartal pertama 2008, menjadi 722.500 pelanggan di kuartal pertama 2009. Namun, jika dilihat angka per kuartal, pelanggan broadband di Tanah Air justru mengalami penurunan, yakni dari 756.500 pelanggan di kuartal terakhir 2008 menjadi 722.500 pelanggan di kuartal pertama 2009. Penurunan yang terjadi mencapai 4,49 persen. Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono memperkirakan terjadinya penurunan bisa saja dipicu penurunan kualitas layanan operator sehingga terjadi perpindahan layanan. “Secara umum, pengguna Internet di Indonesia itu meningkat. Kita harus tahu dulu, Broadband Forum melihat data mobile atau fix. Ini harus jelas,” katanya, Senin (22/6). Sebelumnya, berdasarkan riset Sharing Vision, ditemukan bahwa masalah kualitas layanan, terutama konsistensi akses kecepatan, menjadi

Jepang

Korea Utara

Hong Kong

Vietnam

Malaysia 1.400.000 1.603.000 1.650.000 2,93% 17,86%

Keterangan: Asia Selatan dan Timur Asia Pasifik

Philipina

Australia

Pengguna Kuartal I 2008 Pengguna Kuartal IV 2008 Pengguna Kuartal I 2009 Pertumbuhan Per Kuartal Pertumbuhan Per Tahun

706.053 1.045.716 1.136.288 8,66% 60,94%

Singapura 918.100 965.100 1.007.550 4,40% 9,74 %

1.492.000 2.077.000 2.219.900 6,88% 48,79%

Selandia Baru 784.500 858.000 888.500 3,55% 13,26 %

5.737.500 6.603.000 7.014.500 6,23% 22,26 %

Sumber: Broadband Forum KORAN JAKARTA/REPIANTO

pemicu utama tingginya pindah layanan akses Internet di Indonesia. Lembaga tersebut mencatat sepanjang periode April 2007-2009, menunjukkan angka perpindahan pelanggan sekaligus nomor hangus (churn) terus naik, dari 14 persen menjadi 37 persen. Berdasarkan data yang dihimpun saat ini, pelanggan broadband dengan menggunakan ADSL (fix) memiliki satu juta pelanggan, sementara HSDPA (mobile) sekitar 10 juta pelanggan. Diperkirakan pada 2012 nanti, tingkat penetrasi dari broadband bisa mencapai 20 persen dari total populasi. Operator sendiri mengakui broadband merupakan masa depan dari bisnis telekomunikasi. Hal itu bisa dilihat dari keberhasilan salah satu pemain besar di Asia, NTT DoComo (Jepang), yang diperkirakan memiliki pertumbuhan pendapatan jasa data sekitar 17 persen pada tahun ini atau sebesar 2,560 yen. ”Di Indonesia mungkin belum sebesar itu. Pemain lokal masih meretas jalan untuk menjadikan broadband sebagai bisnis masa depan. Tetapi kenyataan itu tak dapat dielakkan mengingat jasa suara dan SMS sebagai mesin uang akan cenderung menunjukkan penurunan,” kata Manager

Mobile Broadband Services Telkomsel Arief Pradetya. Telkomsel, misalnya, telah menetapkan roadmap yang akan dilaluinya untuk membuat broadband sebagai bisnis masa depan, yakni dengan menjalankan Long Term Evolution (LTE) di perkotaan dan Orthogonal frequencydivision multiplexing (OFDM) di perdesaan. Untuk mengatasi kendala infrastruktur, Telkomsel me-

» Pemain lokal masih meretas jalan untuk menjadikan broadband sebagai bisnis masa depan.

»

Arief Pradetya MANAGER MOBILE BROADBAND SERVICES TELKOMSEL

nambah frekuensi 3G sebesar 5 MHZ. Selain itu, penambahan kapasitas dilakukan dengan menggunakan Metro Ethernet milik induk usaha, Telkom, dan menambah kapasitas link internasional menjadi 3 Gbps. Langkah lain yang dilakukan adalah menyiapkan masyarakat untuk menyambut datangnya era ekonomi berbasis broadband. Untuk itu, menurut dia, harus didukung bantuan dari

semua pihak, tidak bisa hanya diserahkan kepada operator. “Harus diingat operator itu penyedia jaringan. Tetapi sebagai tanggung jawab sosial, kami mendorong pelanggan menggunakannya untuk sesuatu yang berguna,” katanya. Hal yang dirintis Telkomsel adalah menciptakan komunitas untuk menggunakan jasa data, mengedukasi pengguna awal seperti anak-anak sekolah untuk akrab dengan Internet. Serta membuat link and match untuk pengembang program dengan prinsipal perangkat. Untuk program link and match, Telkomsel bekerja sama langsung dengan Apple (iPhone) dan Google (Android). “Kedua prinsipal itu terbuka sekali jika ada aplikasi lokal ingin berjualan di perangkatnya. Ini adalah peluang besar bagi devoloper lokal. Nah, kami berperan sebagai jembatan antara kreativitas lokal dengan pemain luar negeri,” katanya. Bisnis Penyelamat Teknologi broadband dianggap bisa menjadi penyelamat bagi bisnis tradisional operator (suara dan SMS). Namun, menurut praktisi telematika Suryatin Setiawan, hal itu bisa terwujud jika dari awal operator mulai menghitung besaran biaya operasional, pe-

nyediaan belanja modal, serta peningkatan SDM internal. “Jangan sampai kesalahan model persaingan di suara dan SMS terulang di broadband. Jika ujung-ujungnya bermain tarif, maka broadband itu akan digunakan untuk hal yang tidak produktif, seperti keranjingan mengakses situs sosial,” kata pengamat telematika Miftadi Sudjai. Dia mengatakan mengakses situs sosial, apalagi dengan link internasional, hanya memboroskan kapasitas bandwitdh dan membuat devisa lari ke luar negeri. Jika operator serius ingin menjadikan broadband sebagai bisnis masa depan, menurut dia, mulai dari sekarang harus rajin membuat inkubasi bisnis berbasis teknologi tersebut. Misalnya, para perajin cendera mata diajarkan untuk membuat situs dan berpromosi di e-bay. Seandainya terealisasi, pertumbuhan setiap 10 persen dari broadband akan mampu memberikan dampak bagi pertumbuhan domestik bruto (PDB) negara sebesar 6,25 persen. “Di Indonesia, saat ini untuk industri teknologi informasi baru menyumbang 1,8 persen bagi PDB. Ini karena banyak sumber daya digunakan untuk hal konsumtif,” tandasnya.  dni/E-2

100 Hari Kerja Tanpa Sensasi

L DOK. KJ

KOMITMEN PEMERINTAH I Teknisi memperbaiki menara BTS (Base Transciever Station) di Jakarta, beberapa waktu lalu. Pembangunan infrastruktur telekomunikasi di daerah terpencil diharapkan mendapat perhatian pemerintah yang akan datang.

Kadin Minta Infrastruktur Teknologi Informasi Diperhatikan JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) meminta pemerintah lebih memperhatikan pembangunan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) agar keberlangsungan ekonomi bisa lebih terjaga. “Kami mengharapkan siapa pun yang akan memerintah nantinya lebih memperhatikan infrastruktur TIK. Sektor ini telah terbukti mampu bertahan di tengah krisis dan mendorong ekonomi rakyat,” ungkap Wakil Ketua Umum Bidang Telematika Kadin Anindya N Bakrie di Jakarta, Senin (22/6). Diharapkannya, bentuk konkret dukungan pemerintah itu adalah dengan membentuk ICT Fund yang bisa membantu pembangunan infrastruktur di wilayah yang belum terjamah TIK. “Ide itu sudah digulirkan oleh pejabat Postel. Kita harapkan anggota DPR dan pemerintah di masa mendatang bisa memuluskan,” katanya. Anindya mengatakan dana ICT Fund tidak haram digunakan untuk mengembangkan infrastruktur karena sumber dananya adalah sumbangan operator sebesar 1,25 persen dari pendapatan kotor untuk program Universal Service Obligation (USO). Sumbangan dana yang paling dibutuhkan oleh industri saat ini adalah untuk membangun serat optik di kawasan timur Indonesia yang dikenal dengan proyek Palapa Ring. “Anggota konsorsiumnya menyusut terus. Jika mengharapkan anggota tersisa untuk menyumbang lebih, kondisi tidak memungkinkan. Wajar rasanya pemerintah ikut menyuntikkan dana karena ini program untuk rakyat juga,” katanya.  dni/E-2

ima anggota Komite Regulasi Telekomunikasi (KRT) yang menjadi perwakilan masyarakat telah melewati masa 100 hari berbakti di Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI). Kelima anggota itu ialah Danrivanto Budhyanto, Heru Sutadi, Iwan Krisnadi, Nonot Harsono, dan Ridwan Effendi. Sedangkan wakil pemerintah di lembaga tersebut adalah sang ketua, Basuki Yusuf Iskandar (Dirjen Postel), dan Abdullah Alkaf (Staf Khusus Menkominfo). Mengingat kelima anggota KRT ditasbihkan pemerintah sebagai perwakilan masyarakat di lembaga tersebut, tentunya wajar jika mulai bermunculan suara-suara mempertanyakan kebijakan atau tindakan konkret anggota komite itu. “Selama 100 hari para KRT berbakti, bisa dikatakan semuanya masih di awang-awang. Tidak ada satu sensasi pun yang dihasilkan. Jika begini, kehadiran mereka tak lebih sebagai stempel memperkuat legitimasi pemerintah terhadap kebijakan yang dikeluarkan bagi industri dan masyarakat telekomunikasi,” ungkap Direktur Kebijakan dan Perlindungan Konsumen Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala, Senin (22/6). Sejak dilantik pada awal Maret lalu, menurut Kamilov, terdapat beberapa fenomena di industri telekomunikasi

yang gagal dimanfaatkan oleh para anggota KRT untuk menunjukkan independensinya. Beberapa fenomena itu ialah penetapan harga dasar frekuensi akses nirkabel pita lebar (Broadband Wireless Access/BWA), evaluasi kualitas layanan, pemblokiran Personal Identification Number (PIN) BlackBerry oleh Research in Motion (RIM), dan implementasi Sistem Kliring Trafik Telekomunikasi (SKTT). “BRTI tidak memberikan sikap yang tegas terhadap evaluasi kualitas layanan dari para operator pada kuartal pertama. Padahal masalah kualitas layanan yang memburuk banyak dikeluhkan masyarakat. Parahnya lagi, banyak operator yang memberikan data basi didiamkan saja,” tuturnya. Dalam penetapan harga frekuensi BWA, para anggota KRT dianggap tidak mendengar suara publik sehingga yang terjadi nilainya melambung tinggi. Untuk kasus RIM, BRTI dinilai bisa bersikap lebih tegas ketika melakukan pertemuan dengan perusahaan itu. “Tidak cukup hanya dengan meminta pembukaan layanan purnajual. Kalau begini, terkesan para KRT melindungi RIM,” katanya. Untuk kasus SKTT, lanjut Kamilov, para anggota KRT seharusnya bisa melanjutkan hasil kerja keras dari para pendahulunya dan memaksa operator untuk menjalankannya. Pengamat telematika Gunawan Wibisono menilai tidak

KORAN JAKARTA/JULIARDI

TIDAK TEGAS I Papan reklame operator terpasang di atas jembatan penyeberangan di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, belum lama ini. BRTI dinilai masih tidak tegas dalam mengawasi operator, khususnya menyangkut kualitas layanan. adanya sensasi selama 100 hari tak bisa dilepaskan dari posisi KRT yang masih menginduk pada Menkominfo. “Kesannya para KRT jadi ban serep. Apalagi sekarang dalam suasana pemilu. Menkominfo sibuk pemilu, para KRT tidak tahu mau mengerjakan apa,” katanya.

Melempemnya kinerja para anggota KRT tak bisa dilepaskan dari tidak jelasnya skala prioritas dari program kerja yang dibuat. Dari banyak kasus yang terjadi, para anggota KRT malah mengambil posisi sebagai ahli teknis ketimbang kebijakan.

Kurang Komunikasi Sementara itu, praktisi telematika Suryatin Setiawan menyarankan, idealnya para anggota KRT terpilih adalah orang-orang senior di industri dengan rekam jejak yang jelas. Hal ini karena regulator memiliki fungsi gabungan dari hukum, bisnis, dan mengikuti perkembangan teknologi. Kelemahan BRTI sejak pertama hadir adalah kurangnya komunikasi terhadap publik untuk setiap kebijakan yang diambil. “Seharusnya setiap dokumen regulasi ditebar untuk menjaring tanggapan masyarakat,” katanya. Suryatin mengingatkan fungsi dari BRTI sangat penting. Karena itu, negara harus memberikan modal yang cukup bagi lembaga tersebut. “Ketika dibentuk, BRTI dulu tidak punya kantor. Padahal untuk menciptakan industri yang berkualitas itu memerlukan modal yang banyak,” katanya. Anggota BRTI sendiri, menurut Heru Sutadi, telah bekerja sesuai dengan program yang dipegang. “Jika yang disorot masalah evaluasi kualitas layanan, sekarang tengah menunggu KepDirjen. Sementara untuk kasus RIM, saya telah bersuara keras,” kilahnya. Sementara itu, Ridwan mengatakan SKTT tetap dijalankan dan diusahakan data yang didapat oleh regulator adalah data mentah. “Rapat memang baru dimulai dan molor. Tetapi lihat saja nanti hasil akhirnya,” katanya.  dni/E-2

EDISI 373 - 23 JUNI 2009  

Edisi 373 - 23 Juni 2009

EDISI 373 - 23 JUNI 2009  

Edisi 373 - 23 Juni 2009

Advertisement