Page 17

KORAN JAKARTA

RONA ®

Jumat 19 JUNI 2009

17

Dwi Lestari Pramesti A

Unjuk Gigi Melalui IPK

D

ANTARA/ANDIKA BETHA

Menembus PTN Lewat Jalur Mandiri

ana sebesar 300 juta rupiah yang ia gelontorkan untuk kuliah di Fakultas Kedokteran UI tidaklah sedikit. Maklumlah, ketika tahun 2007, Dwi Lestari Pramesti Ariotedjo masuk ke UI tidak melalui jalur biasa, tapi lewat Program Pengembangan Dokter Daerah. Menurut perempuan yang akrab disapa Mesty itu, dana sebesar itu digunakan untuk membiayai aktivitas perkuliahannya dari awal masuk sampai semester 10. Jalur khusus yang ditempuhnya justru membuat Mesty dipandang sebelah mata oleh rekan-rekannya. Pasalnya, Mesty dianggap hanya mengandalkan kemampuan finansial tanpa disertai kemampuan akademik. “Namun, saya tidak terlalu ambil pusing, saya tidak mau banyak ngomong, yang penting nilai saya tidak jeblok,” tandasnya. Anggapan itu ia jadikan pendorong untuk meraih prestasi. Pada semester pertama, Mesty membuktikannya dengan meraih nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,0. Pada semester-semester berikutnya, IPK Mesty mencapai 3,8 dan 3,6. Di samping berprestasi pada bidang akademik, Mesty pun berprestasi pada bidang seni. Kemampuannya memetik dawai harpa, misalnya, membuat dara kelahiran 25 April 1989 itu kerap mendapat tawaran pentas di berbagai acara termasuk di layar kaca. Walau kegiatannya setumpuk, anak kedua dari ketiga bersaudara itu tetap mengutamakan studinya. 

Jalur seleksi mandiri masuk perguruan tinggi negeri semakin diminati calon mahasiswa. Padahal, biaya seleksi jalur itu tidak murah, bisa mencapai ratusan juta rupiah. DOK.PRIBADI

M

asa penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2009-2010 tiba. Bertepatan dengan itu pula, sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) mulai menggelar ujian mandiri. Meski di beberapa PTN sistem itu pertama kali diberlakukan, peminatnya sudah membeludak. Bahkan, disinyalir ujian mandiri berpengaruh signifikan terhadap penurunan jumlah peserta ujian masuk bersama (UMB) yang diselenggarakan Perhimpunan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Nusantara (PSPMBN) pada 6-7 Juni 2009. Berdasarkan data PSPMBN, jumlah peserta UMB tahun ini sekitar 74 ribu orang, turun 30 persen dari tahun lalu yang pesertanya mencapai 98 ribu orang. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya, salah satunya adalah pelaksanaan ujian mandiri. Hal itu ditegaskan Sutjipto, Ketua Koordinator UMB Perguruan Tinggi Negeri. Ia mengatakan penurunan peserta UMB disebabkan pula oleh penyelenggaraan ujian mandiri oleh anggota PSPMBN. Menurut pakar pendidikan, Arief Rahman, ujian mandiri adalah seleksi masuk PTN yang diselenggarakan oleh PTN. Sebagai panitia seleksi, PTN berkewajiban menyediakan soal dan lokasi ujian. Calon mahasiswa yang berminat mengikuti ujian, berkewajiban membayar biaya pendaftaran yang besarnya bervariasi, antara 100 ribu sampai 800 ribu rupiah. Dalam pelaksanaannya, beberapa universitas ada yang menyelenggarakan ujian di daerah. Universitas Indonesia (UI), misalnya, menggelar Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI) pada awal Maret 2009 di 40 kota, mulai dari Banda Aceh sampai Jayapura. Begitupun halnya dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menghelat Ujian Saringan Masuk ITB Terpadu (USM-ITB Terpadu) di Jakarta, Balikpapan, Pekanbaru, Makassar pada bulan yang sama.

ANTARA/ANDIKA BETHA

PENDAFTARAN SNMPTN I Jalur masuk perguruan tinggi negeri melalui SNMPTN menyisakan kuota yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan jalur ujian mandiri yang berbiaya mahal. Peminat ujian mandiri tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Untuk jalur khusus tersebut, daya tampung yang disediakan kampus berlambang patung Ganesha itu mencapai 55 persen dari lima ribu kursi yang ada. Tidak berbeda jauh dengan ITB, di UI sekitar 56 persen kursi yang tersedia akan diisi oleh mahasiswa-mahasiswa yang masuk melalui jalur SIMAK UI. Sisanya, melalui UMB, SNMPTN, kerja sama antara daerah dan industri, serta jalur prestasi dan akademik. Jalur khusus penerimaan mahasiswa baru juga diberlakukan Institut Pertanian Bogor (IPB). Jalur yang disebut Ujian Talenta Mandiri (UTM) itu dimulai pada tahun ajaran 2009 dengan tujuan untuk menjaring calon mahasiswa yang tidak hanya memiliki ke-

mampuan akademik baik, tapi juga memiliki talenta kewirausahaan dan kepemimpinan. Melalui jalur itu, calon mahasiswa yang memiliki jiwa kewirausahaan dan kepemimpinan bisa menumbuhkembangkan bakatnya di IPB serta diimplementasikan setelah selesai masa studi. Tes yang harus dilalui para peserta UTM itu sama dengan tes yang diberikan kepada calon mahasiswa melalui SNMPTN kelompok IPA. Hanya saja, untuk peserta UTM ada dua tambahan tes yang harus diikuti, yaitu psikotes serta tes skolastik. Lantaran baru pertama kali di-selenggarakan, IPB hanya menerima 300 mahasiswa baru dari total 3.200 mahasiswa untuk program sarjana reguler.

Tidak dimungkiri, peminat ujian mandiri memang sangat banyak. Di UI, misalnya, meski sistem itu baru pertama kali digelar, pesertanya telah mencapai 78.965 orang yang akan mengikuti program doktor, magister, sarjana, dan diploma III. “Khusus untuk sarjana reguler, pesertanya sekitar 60 ribu orang,” kata Wakil Kepala Humas UI, Devie Rahmawati. Fakultas Ekonomi dengan Program Studi Ekonomi merupakan pilihan yang paling diminati. Calon mahasiswa yang ingin masuk ke fakultas itu mencapai 6.703 orang, sementara kursi yang tersedia hanya untuk 112 orang. Tidak hanya di Pulau Jawa, ujian mandiri juga banyak diminati para calon mahasiswa di luar Pulau Jawa. Lihat saja peserta ujian mandiri yang mendaftar ke Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, jumlahnya meningkat 50 persen dari tahun sebelumnya. Idrus Paturusi, Rektor Unhas, mengatakan ujian mandiri di kampusnya yang disebut Penerimaan Mahasiswa Jalur Non Subsidi (PM-JNS) itu diselenggarakan untuk memperebutkan kursi di 14 fakultas. Para peserta wajib mengikuti tes akademik yang digelar 10 Juni 2009. Seandainya lolos, para peserta kemudian diharuskan membayar uang pangkal yang jumlahnya berkisar 10 juta sampai 100 juta rupiah. Fakultas Kedokteran merupakan fakultas favorit para peserta meski uang pangkalnya menembus 100 juta rupiah. Tahun lalu, kata Idrus, sekitar 700 orang mendaftarkan diri ke jalur PM-JNS untuk memperebutkan 50 kursi. “Sedangkan tahun ini jumlah pesertanya meningkat, mencapai 900 orang,” imbuhnya. Tidak hanya di Unhas, di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, fakultas kedokteran juga menjadi favorit para calon mahasiswa. Jumlah peserta yang mengikuti SMUP (Seleksi Masuk Universitas Padjajaran) mencapai 1.000 orang. Mereka akan memperebutkan 40 kursi.

Biaya Selangit Mencermati tingginya minat para calon mahasiswa mengikuti ujian mandiri, Arief mengatakan hal itu merupakan realitas yang tidak bisa dimungkiri. Pengelola kampus membutuhkan pemasukan untuk membiayai kegiatan operasional kampus, mulai dari perawatan gedung sampai penelitian, yang salah satu sumber pendanaannya berasal dari uang pangkal ujian mandiri. Oleh karena itu, tidak heran jika calon mahasiswa yang mengikuti ujian mandiri, selain dituntut mampu secara akademik, juga secara finansial. Pasalnya, besarnya uang pangkal yang harus dibayar calon mahasiswa jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah. Fakultas Kedokteran Unpad, misalnya, mematok biaya sekitar 175 juta rupiah kepada mahasiswanya yang harus dibayar sekaligus ketika masuk. Begitu pula halnya dengan Fakultas Kedokteran Unhas. Idrus mengatakan uang pangkal sebesar 100 juta rupiah harus dibayar sekaligus. Dengan biaya sebesar itu, pihaknya menjamin mahasiswa tidak akan dibebankan biaya apa pun selama menempuh studi. Apabila melihat besarnya biaya kuliah, ujian mandiri tampaknya tidak disasarkan kepada calon mahasiswa dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Alhasil, bagi mahasiswa berprestasi namun lemah finansialnya, peluang untuk menempuh studi di PTN pun sangatlah kecil. Namun, hal itu dibantah Devie. Menurutnya, di UI mahasiswa yang lolos jalur mandiri bisa tidak membayar sepeser pun, dengan catatan tertentu. “Tidak ada perbedaan biaya antara mahasiswa yang masuk lewat jalur SIMAK-UI dengan jalur lainnya untuk program sarjana reguler. Ujian mandiri tidak ada implikasinya dengan biaya,” tandasnya. Ia menambahkan sebagai bukti di tempatnya ada 56 mahasiswa yang tidak dipungut uang pangkal pada tahun lalu.  vic/L-2

Putriani Mulyadi

Uang Kuliah Masih Terjangkau

J

umlah peserta yang tiap tahunnya mencapai ribuan orang itu mendorong manajemen ITB menyelenggarakan ujian khusus, yang disebut Penelusuran Minat, Bakat, dan Potensi (PMBP). Dari sekian banyak peminat Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Putriani Mulyadi, 22 tahun, adalah salah seorang yang beruntung lolos seleksi melalui PMBP. Mahasiswa angkatan 2004 itu mengatakan sebelum ikut ujian, Putriani membeli formulir pendaftaran seharga 150 ribu rupiah. Namun, pada masa penerimaan mahasiswa baru tahun ini, harga formulir naik menjadi 700 ribu rupiah. Menurut Uci, demikian sapaannya, sebelum dinyatakan lulus, ia harus mengikuti tes menggambar, skolastik, dan psikotes. Setelah lolos seleksi, Uci diwajibkan membayar uang sumbangan dana pengembangan akademik (SDPA) sebesar 5 juta rupiah yang saat ini jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah. Selain SDPA, mahasiswi program studi Seni Rupa jurusan Studio Seni Patung itu juga harus membayar SPP sebesar 1,7 juta rupiah per semester. Menurut Uci, biaya itu cukup terjangkau bagi para mahasiswa. Biaya lain yang harus dibayarkannya adalah sumbangan biaya pendidikan per semester (SBPT) yang nilainya bervariasi antara 0 sampai 650 ribu rupiah, bergantung pada kemampuan ekonomi orang tua.  vic/L-2

DOK.PRIBADI

EDISI 369 - 19 JUNI 2009  

EDISI 369 - 19 JUNI 2009

EDISI 369 - 19 JUNI 2009  

EDISI 369 - 19 JUNI 2009

Advertisement