Page 16

16

BEDAH PROPERTI

Jumat 19 JUNI 2009

KORAN JAKARTA

®

Potensi Bisnis l Pengembang Mulai Merambah Surabaya

SERAMBI

Geliat Hunian Bertema Golf

Perumnas Terapkan Pola Pengembangan Aktif JAKARTA – Perum Perumnas Regional I menerapkan pola pengembangan proaktif dengan menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah dan perbankan. Ini dilakukan di tengah krisis guna memenuhi kebutuhan perumahan yang besar di wilayah tugasnya yang meliputi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, dan Kepulauan Riau. “Layanan ke konsumen lebih kita utamakan. Selain proaktif jemput bola, juga membangun sinergi dengan mitra usaha termasuk kerja sama dengan pemerintah daerah,” ungkap General Manager Perum Perumnas Regional I, Adil Manurung, baru-baru ini. Tahun ini, Perumnas Regional I menargetkan pembangunan sebanyak 1.720 unit rumah dari berbagai tipe, dan sebanyak 888 unit berlokasi di Sumatra Utara. Di daerah tersebut kini sedang dikembangkan ribuan unit rumah sederhana sehat (RSh) maupun komersial di Martubung dan Namorambe, Deli Serdang. Berbagai tipe disediakan antara lain tipe 45,36 dan 31. Diakuinya, pengembangan perumahan di Sumatra Utara hingga kini masih menghadapi hambatan antara lain soal pengadaan lahan, perizinan, pengadaan infrastruktur jalan, dan pasokan listrik. Saat ini, di wilayah kerja Perumnas Regional I, terdapat sekitar 2.579 unit rumah yang sudah selesai dibangun, namun belum dialiri listrik. Sebagian besar di antaranya berada di Sumut yang memang mengalami defisit daya listrik dan keterbatasan meteran. “Kita berharap masalah listrik bisa teratasi dan ada penyederhanaan birokrasi di daerah dalam pengurusan IMB, sehingga Perumnas mampu menyediakan rumah yang berkualitas namun harganya murah,” kata Adil.  mri/E-2

Intiland Rambah Bisnis Perhotelan

» Hunian Vertikal

S

alah satu yang ngetren dan menjadi gaya hidup baru bagi konsumen menengah atas adalah hunian eksklusif dengan akses langsung ke lapangan golf. Pasar hunian bersuasana lapangan golf memang sangat terbatas. Di samping faktor harganya yang di atas hunian menengah kebanyakan, peminatnya berasal dari kalangan mapan. Tak heran kalau peminat hunian dan kapling tanah di sekitar lapangan golf adalah para konglomerat, pebisnis, dan artis ternama. Inilah yang menjadi keyakinan pengembang bahwa peminat hunian golf akan tetap ada. “Kalangan pesohor yang mendambakan citra sosial dan gengsi hidup dalam kemapanan tetap ada. Regenerasi kan selalu terjadi. Dan inilah peluang yang coba dimanfaatkan pengembang,” ungkap Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, Johanes Marzuki, Kamis (18/6). Akhir tahun lalu, Summarecon Agung telah meluncurkan satu hunian eksklusif di proyek Pondok Hijau Golf, Serpong. Klaster The Crown berada persis di sekitar lapangan golf Pondok Hijau dengan pemandangan menghadap padang rumput atau danau buatan yang asri. Johanes mengungkapkan klaster yang menerapkan sistem pengamanan terpadu (one gate system) tersebut berdiri di atas lahan seluas 13 hektare dengan 130 unit rumah. Harga jualnya dibanderol sekitar 5 juta–7 juta rupiah per meter persegi. Targetnya, semua unit yang ditawarkan bisa habis terjual pada akhir 2009 mendatang. “Pasar belum begitu bagus sehingga penjualan klaster ini juga tidak begitu cepat,” paparnya. Selain pola klaster tertutup, The Crown menyediakan jaringan “Panic Button” di setiap rumah. Jaringan ini akan memberikan respons cepat dalam pengamanan dan bantuan yang diperlukan penghuni. “Peminat hunian golf biasanya sangat menuntut keamanan lingkungan se-

DOK. WORDPRESS.COM

PASOKAN TERBATAS I Perumahan di pinggir lapangan golf baru selesai dibangun di Serpong, Banten, beberapa waktu. Potensi perumahan bernuasa lapangan golf cukup besar, meski pertumbuhan pasokannya relatif terbatas. hingga privasi dan kenyamanan paling penting diberikan pengembang,” katanya. Dalam pandangan Presiden Direktur PT Modernland Realty Tbk, Edwyn Lim, hunian bertema lapangan golf cukup efektif menarik minat kalangan berpunya. Pasalnya, masyarakat menengah atas biasanya selalu berkeinginan mendapatkan sesuatu yang baru dan berbeda dari orang lain. Meski memiliki niat membangun lebih dari satu proyek hunian berkonsep lapangan golf, Modernland saat ini memilih fokus menggarap satu proyek dulu. “Kita punya rencana ke depan membangun satu lagi klaster dengan view lapangan golf di proyek Modernhill di Pondok Cabe, Jakarta Selatan. Tapi mungkin tahun depan baru bisa direalisasikan,” katanya, Kamis. Saat ini, Modernland Realty sedang memasarkan Klaster The Moderngolf Terrace yang berlokasi di pinggir lapangan golf Kota Modern, Cipondoh, Tangerang. Di lahan seluas 9.000 m2 akan dibangun 32 unit town house khusus dengan view menghadap padang hijau. Hunian golf, menurut Edwyn, kini paling digemari kalangan menengah ke atas karena seluruh syarat permukiman ideal sudah dipenuhi, yakni keamanan, fasilitas lengkap, udara bersih, dan nuansa hijau. “Dengan semua kelebihan yang ada, perumahan dalam area golf memiliki gengsi tersendiri bagi penghuninya,” jelasnya. Dipasarkan sejak awal 2009, kini pihak Modernland mengklaim sudah menjual sekitar

Perumahan Berfasilitas Lapangan Golf Pengembang

Rp

JAKARTA – Setelah Bakrieland Development dan Summarecon Agung, kini giliran PT Intiland Development Tbk mengumumkan minatnya masuk ke bisnis hotel menengah. Dalam lima tahun ke depan, perusahaan ini menargetkan pembangunan 60 unit hotel berbintang dua plus atau budget hotel di bawah jaringan bisnis barunya dengan nama Whiz Hotel. Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Intiland Development, Lennard Ho, mengungkapkan proyek pertama sudah mulai digarap di Yogyakarta dengan kapasitas 103 kamar, menyusul di Semarang sebanyak 150 kamar. Proyek pertama di Yogyakarta direncanakan mulai beroperasi Juni 2010, dengan menggarap pasar di kelas bintang dua dan tiga. ”Kami melihat peluangnya (hotel bintang dua dan tiga) sangat menarik. Karena memberikan potensi keuntungan yang tinggi dengan risiko yang relatif rendah. Jaringan hotel ini akan membidik segmen pasar domestik, khususnya eksekutif muda yang suka bepergian,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/6). Dia menambahkan ceruk pasar perhotelan yang digarap merupakan yang paling prospektif sehingga berpotensi memberikan tingkat keuntungan yang tinggi bagi perseroan di masa mendatang. Lennard optimistis potensi bisnis jaringan hotel sangat besar karena kondisi sosial ekonomi masyarakat yang kian membaik. Hal itu, bisa dilihat dari pertumbuhan jumlah penumpang untuk penerbangan domestik maupun jumlah pemilik kendaraan pribadi di Indonesia. Saat ini, Whiz Hotel juga tengah menjajaki potensi pengembangan jaringan di berbagai kota besar di Indonesia, antara lain Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Malang, Manado, Balikpapan, dan Bali. Peluang pengembangan hotel tersebut, kata dia, dapat dilakukan melalui skema kerja sama strategis dengan pemilik tanah, build-operate-transfer (BOT), maupun sebagai manajemen operator. mri/E-2

Pasar hunian di tengah lapangan golf relatif terbatas. Investasi yang besar membuat hanya segelintir pengembang yang mau menggarap meskipun potensi pasarnya terbuka lebar.

Proyek

Total Unit

Luas (Ha)

Harga (Rupiah)

Tarif IPL

Summarecon Agung

The Crown, Serpong

130

13

5-7 juta per m2

Mulai dari 400 ribu per unit

Modernland Realty

The Moderngolf Terrace, Tangerang

32

1

900 juta – 1,3 miliar per unit

10.000 per m2

Lippo Karawaci

Emerald Green, Tangerang

23

2

Mulai dari 3,5 miliar per unit

550-950 per meter persegi

Intiland Development

The Platinum, Surabaya

28

1,4

Mulai dari 3 miliar

2.500 per m2

DARI BERBAGAI SUMBER

KORAN JAKARTA/REPIANTO

»

Dengan semua kelebihan yang ada, perumahan dalam area golf memiliki gengsi tersendiri bagi penghuninya.

»

Edwyn Lim PRESIDEN DIREKTUR PT MODERNLAND REALTY TBK

70 persen dari total unit yang akan dibangun. Diakui Edwyn, memang tidak banyak pengembang yang melirik segmen ini karena investasinya yang besar dan bermain di segmen menengah atas seharga ratusan hingga miliaran rupiah. Modernland, misalnya, menyiapkan investasi sebesar 25 miliar rupiah untuk mengerjakan proyek tersebut. Sementara harga jual rumah mulai dari 900 juta rupiah hingga 1,3 miliar rupiah. “Sebagian besar pembeli memang memiliki hobi bermain golf sehingga nantinya pada saat hari libur mereka tinggal jalan beberapa langkah sudah langsung main golf,” jelas Edwyn. Grup Lippo Karawaci juga tak mau ketinggalan menggarap potensi pasar hunian golf

dengan memasarkan klaster Emerald Green yang berada di kawasan eksklusif Golf Estates Lippo Village (Lippo Karawaci). Menurut Head of Corporated Communication Lippo Karawaci Tbk, Danang Kemayan Jati, permintaan properti di perumahan tersebut tetap tinggi karena menawarkan lokasi yang strategis dan mutu lingkungan hidup yang lebih baik dengan tingkat polusi udara yang sangat rendah. “Proyek ini bisa dimiliki dalam bentuk kapling tanah atau bangunan, total seluruhnya sekitar 23 kapling,” jelasnya, Kamis. Emerald Green ditawarkan dengan luas 590–1.600 meter persegi di atas lahan seluas dua hektare. Harga yang ditawarkan mulai dari 3,5 miliar rupiah. Merambah Daerah Selain di Jakarta, sejumlah pengembang melirik potensi pasar hunian golf di daerah. PT Intiland Development Tbk, misalnya, kini sedang mengembangkan Klaster The Platinum di proyek Graha Famili Surabaya. Manajer Pemasaran Graha Famili, Harto Laksono, mengatakan seperti halnya di

Jakarta, minat kalangan the haves di Surabaya untuk tinggal di hunian eksklusif bersuasana lapangan golf sudah cukup tinggi. Ini dibuktikan dengan penjualan 28 unit hunian di klaster tersebut yang tinggal 10 unit. “Seluruh bangunan sudah rampung dikerjakan. Kami targetkan sebelum akhir tahun ini, semua unit sudah terjual,” ujarnya, Kamis. Klaster The Platinum berdiri di atas lahan seluas 1,4 hektare, persis di jantung kawasan perumahan elite Graha Famili dan menghadap lapangan golf. Bahkan beberapa di antaranya berada di bibir lapangan golf. Luas bangunan mulai dari 300 meter persegi hingga 1.000 m2 dengan harga jual mulai 3 miliar rupiah. Sebagian besar unit The Platinum dibeli pebisnis yang memang gemar bermain golf. Pengamat properti, Wilson Ho, menyebutkan nilai lebih tinggal di hunian golf juga banyak. “Dari beberapa proyek hunian golf yang saya ikuti, imbas hasil investasinya juga cukup bagus. Minimal bisa sekitar 8-10 persen per tahun, tapi tergantung dari citra dan lokasi proyek masing-masing,” ujarnya.  mri/E-2

Harga Selangit Sebuah Kenyamanan KORAN JAKARTA/JULIARDI

» Sebuah proyek apartemen tengah dikerjakan di Jakarta, beberapa waktu lalu. Hunian vertikal terus dikembangkan seiring keterbatasan dan makin mahalnya harga lahan di perkotaan.

Pengembang Berharap Bunga Kredit Turun Signifikan JAKARTA – Kalangan pengembang berharap keputusan sejumlah bank menurunkan bunga kredit pemilikan rumah (KPR) akan mendongkrak sektor properti yang sempat terpuruk akibat krisis ekonomi global. Bank Mandiri sejak 15 Juni telah menurunkan kisaran suku bunga KPR-nya menjadi 11 – 15 persen dari sebelumnya 11,5 – 16 persen. Begitu pula dengan Bank Central Asia (BCA) turun menjadi 9,9 persen. Namun, menurut Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Sumatra Utara, penurunan bunga kredit KPR sekitar satu persen tersebut masih belum sesuai dengan besaran penurunan bunga acuan Bank Indonesia (BI) sekitar 2,5 persen yang kini bertengger di level 7 persen. “Seharusnya bisa turun lebih banyak lagi, karena kalau melihat penurunan BI Rate, idealnya bunga kredit bank sekitar 10 – 11 persen,” ungkapnya, Kamis (18/6). Begitupun, Rusmin menilai aksi penurunan bunga KPR tersebut sebagai langkah positif, sekaligus memperlihatkan penguatan likuiditas perbankan. Ditambahkan, mayoritas konsumen properti saat ini masih menggunakan fasilitas KPR, sehingga dengan penurunan bunga kredit, persaingan ke depan akan menjadi lebih kompetitif. “Ini akan menguntungkan konsumen,“ tandasnya. Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk Jonanes Marzuki juga menilai di paro pertama 2009 ini sebagian besar calon konsumen masih menunda pembelian karena terganjal suku bunga KPR yang masih sangat tinggi, yakni di atas 14 persen.  mri/E-2

D

alam bisnis, ada pemeo: ada harga ada kualitas. Mutu pelayanan yang diberikan sangat bergantung pada harga yang diberikan pelanggan. Begitu pula di lingkungan hunian eksklusif, termasuk klaster di sekitar lapangan golf, tarif iuran perawatan lingkungan (IPL) yang dikenakan selangit. Inilah kompensasi yang harus dibayar para penghuni, mengingat pengelolaan lingkungan biasanya ditangani perusahaan manajemen realestat. Klaster The Moderngolf Terrace, misalnya, saat ini tarif perawatannya dipatok sebesar 10.000 rupiah per meter persegi (m2). Jauh lebih mahal dibanding tarif IPL hunian sekelas yang hanya 5.000 rupiah per m2. Kalau bangunan terkecil saja luasnya 150 m2, paling tidak penghuni harus merogoh kocek sebesar 1 juta–1,5 juta rupiah per bulan. “Ya memang lebih mahal karena pengelolaan lingkungan dilakukan manajemen pengelola properti profesional yang juga merawat lapangan golf,” ungkap Presiden Direktur PT Modernland Realty Tbk, Edwyn Lim. Dia menambahkan, The Moderngolf Terrace dilengkapi dengan fasilitas yang khusus diberikan kepada penghuni

DOK. KJ

IURAN PERAWATAN I Perumahan hijau di Alam Sutera, Tanggerang, Banten. Kelengkapan fasilitas perumahan dikompensasikan dengan iuran perawatan lingkungan yang besar. seperti kolam renang dan club house. Semua fasilitas tersebut membutuhkan perawatan rutin untuk kenyamanan seluruh penghuni, termasuk penataan taman. Penghuni klaster The Crown, Pondok Hijau Golf, Serpong, juga tak jauh beda. Pihak pengembang, menurut Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk Johanes Marzuki, terpaksa mengutip IPL lebih mahal karena sejumlah fasilitas penunjang klaster membutuhkan biaya perawatan rutin yang tidak sedikit.

Klaster ini sendiri memiliki beberapa fasilitas, antara lain kolom renang di ruang tertutup, whirpool, club house, serta taman bermain anak. Menurutnya, tarif IPL di klaster The Crown mulai 400 ribu rupiah per bulan. “Kita memakai perusahaan pengelola sehingga perawatan benar-benar yang terbaik. Demi lingkungan yang terawat, saya kira penghuni tidak keberatan. Toh, mereka memilih hunian eksklusif juga karena berharap mendapat kenyamanan,” jelasnya.

Sementara itu, PT Lippo Karawaci Tbk mematok tarif IPL sebesar 950 rupiah per m2 untuk kapling tanah dan bangunan 550 rupiah per m2. Dengan luas kapling tanah terkecil seluas 590 m2, penghuni harus membayar IPL sekitar 500 ribu–600 ribu per bulannya. Fasilitas Khusus Tarif yang lebih tinggi dari kompleks hunian biasa juga diberlakukan manajemen Perumahan Graha Famili, anak usaha PT Intiland Development Tbk. Manajer Graha

Famili, Harto Laksono, menyebutkan pihaknya mematok tarif sebesar 2.500 rupiah per m2 bagi penghuni Klaster The Platinum yang berlokasi persis di bibir lapangan golf, sedangkan di klaster lain hanya sekitar 900 rupiah per m2. Jika bangunan terkecil di klaster tersebut 300 m2, tarif IPL per bulannya berkisar 700 ribu–800 ribu per bulan. “Ini setimpal dengan fasilitas yang kami berikan, termasuk private parking di basement yang terhubung langsung ke masing-masing rumah,” katanya. Namun, tinggal selangkah dari lapangan golf tidak otomatis menjadikan penghuni sebagai club members. Penghuni diharuskan tetap mendaftar meski dengan banyak kemudahan yang diberikan termasuk diskon. Pengembang juga kerap mengajak penghuni mengikuti kompetisi yang digelar pengelola lapangan golf jika ada even tertentu. “Kan tidak semua penghuni klaster lapangan golf itu penggemar olah raga golf. Sebagian ada yang hanya ingin mendapatkan view yang bagus. Jadi, kalau memang mau bergabung di klub golf kita, ya kami lebih senang, aksesnya pun lebih mudah,” ungkap Edwyn Lim.  mri/E-2

EDISI 369 - 19 JUNI 2009  

EDISI 369 - 19 JUNI 2009

EDISI 369 - 19 JUNI 2009  

EDISI 369 - 19 JUNI 2009

Advertisement