Issuu on Google+

Media Generasi Baru Koperasi

29.11

EDISI 29|11|13 | VOLUME III

Upah Murah, Buruh Mogok Dan tentu saja tak ada orang yang memilih miskin, bukan? Buruh menuntut upah naik itu wajar. Apalagi bagi yang punya keluarga. Mereka bermimpi anakanaknya kuliah. Ya, biar nasibnya tak seperti orang tuanya. Dan soal upah naik, selalu saja harus dituntut.

N

amaku Katiti. Sebelum jadi mahasiswa, aku pernah bekerja di pabrik. Saat itu umurku baru 18 tahun. Dengan bekal ijasah STM aku merantau ke Serang, Banten, bekerja di pabrik permen. Aku kerja di bagian Quality Control. Aku bertanggungjawab pada kualitas produk. Walau kerjaku tak seberat bagian operator, kami sama-sama berangkat pukul tujuh pagi. Pulangnya pun sama, saat senja pukul enam sore. Waktu kerjaku tujuh jam sehari. Ditambah wajib lembur empat jam, jadi total kerjaku 11 jam. Di sana aku ngekos, sebulannya 300 ribu. Ukuran kamarnya 3x4 meter. Biaya makan dengan lauk tempetahu dan sesekali daging, sekitar 25 ribu per hari. Kebutuhan sehari-hari lainnya 200 ribu sebulan. Sebagai gadis muda, aku juga butuh main dan belanja. Untuk main dan belanja aku anggarkan 250 ribu. Terus aku alokasikan 200 ribu untuk hal-hal tak terduga lainnya. Jadi jumlah semua biaya sebulan 1,9 juta. Gaji yang kuterima hanya 2 juta perbulan. Tentu masih ada sisa, meski cuma 300 ribu. Saat orang tuaku perlu uang, aku kirim sebagian tabunganku. Praktis aku hanya punya sedikit tabungan. Aku bingung bagaimana masa depanku kelak. Misalnya bagaimana kelak biaya nikahku. Sekarang bukan lagi zamannya orang tua yang membiayai, tapi kita sendiri. Akhir Oktober lalu teman-teman buruh mogok nasional. Tuntutannya naik upah 50% atau setara 3,7 juta sebulan. Ada yang pro, tak sedikit yang kontra. Yang mendukung, tentu mereka tahu betul tak enaknya jadi buruh murah. Yang kontra, mereka bilang pantas upah 2,2 juta sampai 2,4 juta, pasalnya buruh cuma lulusan SD/ SMP/ SMA. Kalau boleh jujur, dulu aku juga tak ingin hanya lulus SMA. Dan teman-teman pabrikku juga tak menginginkannya. Karena keluarga tak mampu, akhirnya kami harus merasa cukup lulus SMA dan bekerja. Padahal seperti lainnya, jika mampu, kami juga ingin kuliah.

Sepertinya kesejahteraan buruh bukan jadi agenda para pemilik pabrik. Bila kita lihat statistik Indonesia tahun 2010-2012, dari 100% komponen industri, upah buruh hanya pada kisaran 4,09%. Data tahun yang sama menyebut keuntungan bersih mencapai 33.05%. Jadi bila upah buruh naik 50%, komponen biaya gaji naik menjadi 6,09%. Hitung-hitungan kasarnya, angka itu tak bakal membuat pabrik rugi. Di sisi lain, aku tahu tuntutan naik upah ini karena naiknya kebutuhan hidup. Sebutlah mulai dari makanan, tempat tinggal, bensin, jaminan kesehatan, jaminan hari tua dan seterusnya. Tentu akan berbeda ceritanya dengan negara di Amerika Latin yang pemerintahnya menjamin kebutuhan dasar warganya. Sedang di Indonesia, semua harus diusahakan sendiri, seolah pemerintah tak bekerja. Itulah sebab kenapa buruh mogok. Dan kenapa aku mendukungnya. []

DAFTAR ISI Upah Murah, Buruh Mogok

1

Outbond Kopkun, Lupa Status dan Usia

2

Seperti Apa Geliat 3 Komite Mahasiswa? TTS Berhadiah

4

Tingkatan dalam Manajemen

5

Cerpen: Bakau Banggai

6

Si Kelas Menengah

8


Page 2

Kopkun Corner Edisi 29|11|13

Outbond Kopkun, Lupa Status dan Usia

B

uka sitik joss!” seru personil Kopkun bersamaan. Gelak tawa dan lantunan tembang Buka

Sitik Joss yang asik itu mengiringi laju

“Dan memang itulah tujuannya. Saat kita terlupa pada status dan usia, kita akan temukan kembali makna diri yang lebih segar”.

bus menuju Kebumen. Perjalanan itu diisi Panitia dengan aneka permainan. Permainannya berisi hukuman seperti joget, menyanyi atau menggombal. Jajang bersama anggota kelompoknya sedang memperagakan yel-yel. Peserta lain menonton dan bersorak.

Yang dapat kertas undian kosong girang bukan main. Sedang yang dapat hukuman, siap-siap pasang muka tembok. Seperti Firman, Indah, Asad dan Sulis, mereka kena hukum. Mereka harus mengikuti instruksi undian seperti nyanyi, joget, dan stand up comedy. Satu per satu mereka show up. Tentu saja kadang aksinya garing dan bikin yang lain ketawa. “Krik krik krik”, seru peserta lainnya. Agenda out bond seperti ini rutin Kopkun selenggarakan setahun sekali. “Tujuannya ya untuk menyegarkan pikiran dan mental. Rutinitas kerja tentu membuat kita beku. Nah out bond juga membantu menjalin kekompakan tim”, terang Firdaus Putra, Manajer Personalia. Ada dua destinasi out bond tahun ini. Yang pertami kami susuri Gua Jatijajar. Personil menyebar menikmati tempat wisata itu. Jatijajar dipilih sebagai nama karena dulu saat gua itu ditemukan pada 1802, ada dua pohon jati di tepi mulut guanya. Namun versi lain menyebut nama itu terkait dengan legenda Kamandaka. Saat dikejar masuk ke gua, Kamandaka menyebutkan jati dirinya, putra mahkota Pajajaran. Destinasi berikutnya di Pantai Jetis, Nusawungu, Cilacap. Pantai ini berbatasan langsung dengan Pantai Ayah, Kebumen. Di pantai Jetis ini Panitia menggelar out bond. Awalnya peserta dibagi jadi lima kelompok. Syaratnya

Patung Kamandaka, Lutung Kasarung di Gua Jatijajar Kebumen.

satu kelompok tersusun dari unsur: karyawan, parttimer dan Kader Madya Kopkun. “Ini memang disengaja agar mereka mengenal satu sama lain.

Khususnya para kader agar mengenal personil Kopkun lainnya”, terang Nanang, Panitia. Sedikitnya lima permainan Panitia siapkan. Tiap permainan disediakan hadiah hiburan. Permainan

Pilot Project Kopkun karena peserta harus berjalan munDampingi dur. Ada juga permainan yang Usaha menyaratkan kekompakan dan Anggota kepercayaan. Satu orang akan itu seperti: mengisi penuh ember

dengan air laut. Menjadi menantang

menjatuhkan diri ke teman kelompoknya. Yang lain memanggul setinggi bahu dan sisanya menerima hempasan tubuhnya. “Awalnya mereka takut, lalu kami yakinkan bahwa game ini aman. Makanya harus percaya dan kompak”, ujar Katiti, Panitia. Permainan puncaknya adalah perang air. Tiap kelompok diberi plastik untuk diisi air laut. Mereka harus mempertahankan slayer kertas dari serangan air. Sebaliknya, mereka menyerang kelompok lain. Kelompok dengan slayer kertas yang bertahan hingga akhir, itulah pemenangnya. Menariknya, semua peserta menikmati perang air itu dan melupakan status juga usianya. “Lihat Mbak Endah, Mbak Tini dan Mbak Isti, ikut-ikutan jadi seperti anak kecil perang-perangan”, ujar Nurrohmat, Panitia. “Dan memang itulah tujuannya. Saat kita terlupa pada status dan usia, kita akan temukan kembali makna diri yang lebih segar”, sambungnya. Selesai perang air, seluruh peserta membersihkan pantai dari sampah dan plastik yang dipakai untuk bermain. Sayonara, kami pulang ke Purwokerto. []


Kopkun Corner Edisi 29|11|13

Page 3

Seperti Apa Geliat Komite Mahasiswa?

P

asca Basic Training Angkatan ke-2, 50an Kader Muda Kopkun mulai beraktivitas. Sedikitnya

ada dua kegiatan besar yang akan

“Sehingga secara umum pola kaderisasi Kopkun memperhatikan tiga dimensi utama: kognitif, psikomotorik dan afeksi”

mereka helat sejak November 2013 sampai Januari 2014. Kader-kader Muda itu tergabung dalam Komite Mahasiswa sebagai wadah kaderisasi Kopkun. Anis Saadah, Ketua Komite mengatakan, “Senang melihat teman-teman Kader Muda bisa langsung aktif di Kopkun. Sekarang mereka sedang mempersiapkan Educamp 2013 dan Promalis 2014”. Educamp Angkatan ke-2 merupakan ajang pendidikan menengah perkoperasian. Rencananya akan diadakan di Curug Ceheng, Purwokerto pada 6-8 Desember mendatang. Educamp akan diikuti 50 peserta dari Koperasi Mahasiswa (Kopma) se-Jawa. Terkait detail kegiatan, Yasrul Khoirudin, Ketua Panitia, menjelaskan, “Konsepnya seperti tahun lalu, berkemah alam bebas. Untuk makan, mereka akan disediakan bahan mentah. Jadi kekompakan tim sudah dibangun sejak awal”, ujarnya. Peserta paling tidak akan menerima tujuh materi dasar. Ada juga satu sesi khusus melakukan eksposur langsung turun ke masyarakat. Tidak ketinggalan sesi sharing kelompok sebanyak 14 kali. Tujuan dari Educamp yang sebagian besar pesertanya adalah kader-kader Kopma, untuk merangsang peserta berfikir ulang tentang koperasinya. “Kemapanan berfikir itu berbahaya. Nah di Educamp ini, kader dirangsang untuk meragukan semua hal yang sudah mapan. Harapannya setelah pelatihan tiga hari, mereka kembali ke Kopma dengan perspektif yang baru”, terang Anis. Selain Educamp yang akan menyita banyak energi, kegiatan Program Magang Liburan Semester (Promalis)

akan diselenggarakan pada Januari 2014 mendatang. Promalis merupakan kegiatan tahunan Kopkun yang bertujuan memfasilitasi mahasiswa magang di instansi tertentu. Dhani Riyanto, Ketua Panitia Promalis mengungkapkan, “Tahun ini kami menargetkan 100 peserta bisa difasilitasi di 20an instansi mitra. Seperti Promalis tahun sebelumnya, peserta harus melalui seleksi dan wawancara”, terangnya. Sejak tahun kemarin, Promalis Kopkun bisa menerima peserta dari luar Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). “Jadi ke depan peserta bisa berasal dari UMP, STAIN, UNWIKU, LP3EI dan perguruan tinggi lain di Purwokerto”, tambah Dhani. Di samping mempersiapkan dua kegiatan besar itu, Komite Mahasiswa juga intensif membekali Kaderkader Muda melalui serangkaian diskusi. “Tujuannya agar mereka bisa mengenal seluk-beluk koperasi, organisasi, manajemen dan sebagainya”, ujar Anis. Pola multistasking digunakan Kopkun agar semua kader bisa terlibat aktif. Secara umum kader harus menyerap empat materi utama: Makro Ideologi, Mikro Organisasi, Pendekatan Sosial Ekonomi dan Pendekatan Ekonomi Politik Selain materi di atas, kader juga dilatih mempraktikkannya. “Sehingga secara umum pola kaderisasi Kopkun memperhatikan tiga dimensi utama: kognitif, psikomotorik dan afeksi. Tiga hal itu harus berimbang. Ujungnya kader Kopkun itu kritis, militan, disiplin dan seterusnya”, terang Dodi Faedulloh, Kabid Organisasi. []

Suasana rapat panitia Educamp dan Promalis di Ruang Kader Kopkun 2 Lt. 2, Karangwangkal.


Page 4

Kopkun Corner Edisi 29|11|13

Teka Teki Silang Berhadiah Pertanyaan Mendatar: 1. Jenis koperasi 6. Kode maskapai Zimbabwe 7. Ibnu Rushd 9. Pemutusan Hubungan Kerja 10. Tiruan 12. Tidak 14. Daerah/ wilayah (Jawa) 17. Cum Suis atau dkk. 18. Nama dewa Menurun: 2. Kegemukan 3. Benda terbang 4. Restoran Jepang, menyajikan Sushi 5. Organisasi persaudaran Islam, Mesir 8. Mata pelajaran sekolah 11. Hutan 13. Kakak laki-laki (Korea) 15. Surat janji pembayaran 16. Hubungan Internasional

Ketentuan: 1. TTS Berhadiah ini terbuka untuk semua orang di wilayah Purwokerto. 2. Jawaban dikirim ke Kopkun dengan menyertakan Nama, No. HP dan struk belanja miminal Rp. 10.000 di Kopkun Swalayan. Atau email ke: kopkun.pwt@gmail.com dengan menyertakan scanan/ foto struk belanja. 3. Jawaban paling lambat tanggal 28 November 2013 pukul 17.00 WIB. 4. Tiap bulan akan dipilih satu pemenang yang menjawab dengan benar. 5. Pemenang berhak atas langganan koran selama satu bulan dan merchandise menarik. 6. Pemenang akan dihubungi via telepon.


Kopkun Corner Edisi 29|11|13

Page 5

Tingkatan dalam Manajemen | Oleh: Herliana, SE.

S

ering sekali kita mendengar istilah manajemen disampaikan oleh banyak orang, mulai dari

akademisi sampai supir taksi, mulai dari

“Tidak berjalannya salah satu tingkatan manajemen akan berakibat terhadap disharmoni organisasi�.

pejabat sampai penjahit semua latah dengan istilah manajemen. Namun jarang sekali diantara mereka yang memahami maksud dari istilah manajemen. Bahkan lebih banyak lagi yang tidak mengetahui bahwa ada tingkatana dalam manajemen. Bagi orang awam manajemen adalah karyawan berdasi. Secara definisi, Manajemen adalah pemanfaatan manusia dan sumber-sumber lain dengan cara yang terbaik untuk mencapai tujuan perusahaan. Selain itu manajemen dapat juga disebut pendayagunaan sumber daya manusia dengan cara yang paling efektif, agar dapat mencapai rencana dan sasaran perusahaan. Dalam pelaksanaan manajemen dibagi kedalam beberapa tingkatan yang dibedakan berdasarkan tanggungjawab dan pengaruh yang di timbulkannya. Adapun tingkatan manajemen secara umum dapat dibagi sebagai berikut; Manajemen Puncak. Manajemen puncak bertaggungjawab atas pengaruh yang ditimbulkan dari keputusan-keputusan yang diambil atas keseluruhan organisasi. Keahlian yang dimiliki manajemen tingkat puncak adalah konseptual, artinya keahlian untuk membuat dan mmerumuskan konsep untuk dilaksanakan oleh tingkatan manajemen dibawahnya. Misal: Direktur, wakil direktur, direktur utama serta General Manajer. Manajemen Menengah. Manajemen menengah bertanggungjawab melaksanakan rencana dan memasti-

kan tercapainya suatu tujuan. Manajemen menengah harus memiliki keahlian interpersonal/ manusiawi, artinya keahlian untuk berkomunikasi, bekerjasama dan memotivasi orang lain. Misal: manajer wilayah, kepala divisi, direktur

Sesi outbond Basic Training Kopkun diisi dengan berbagai permainan guna menempa mental, kekompakan tim, kerjasama dan seterusnya.

produk. Manajemen Bawah. Manajemen bawah bertanggung jawab menyelesaikan rencana-rencana yang telah ditetapkan oleh manajemen yang lebih tinggi. Pada tingkatan ini juga memiliki keahlian yaitu keahlian teknis, artinya keahlian yahng mencakup prosedur, teknik, pengetahuan dan keahlian dalam bidang khusus. Misal: supervisor/ pengawas produksi, mandor. Tingkatan manajemen bertujuan agar terjadi distribusi tugas secara efektif dalam organisasi/perusahaan sehingga tujuan yang telah ditetapkan bisa tercapai. Efektivitas fungsi masing-masing tingkatan manajemen dimulai dari pemahaman atas fungsi masing-masing manajemen serta ketepatan penempatan sumberdaya manusia dalam setiap tingkatan manajemen. Tidak berjalannya salah satu tingkatan manajemen akan berakibat terhadap disharmoni organisasi. Oleh karena itulah maka salah satu penentu keberhasilan organisasi adalah efektivitas tingkatan manajemen. Sehingga hubungan satu lini dengan yang lain vital. []

PROGRAM MAGANG LIBURAN SEMESTER (PROMALIS) Pendaftaran Peserta: 1-30 Desember Pelaksanaan: 19 Januari (awal libur semester) Peserta: terbatas untuk 100 mahasiswa

Penulis adalah Ketua Kopkun Periode 20122015. Aktif berkoperasi sejak mahasiswa.

SIAPIN DIRIMU BUAT MAGANG! Intansi: Kopkun, BK, KPRI Margono, CU Cikalmas, RRI, Dinas Peternakan, Matahari, Sri Ratu, Suara Merdeka, SatelitPost, BMS TV, Dian Suara, Paduka FM, dll. Biaya: Rp. 45.000 CP: 08387857609 (Dhani) | 089670501780 (Friska)


Kopkun Corner Edisi 29|11|13

Page 6

Bakau Banggai

R

ona jingga mulai memudar. Gugusan pulau nun jauh disana tak lagi nampak, tersingkap

oleh hitam pekat sang malam. Air laut memantulkan pancaran temaram sang rembulan, juga manusiamanusia yang bersimpuh diatas perahu kayu. Malam ini kami hendak

“Lama aku berjalan menyusururi pantai, tak ada yang tersisa, hanya satu-satu pohon bakau yang telah rusak diterjang gelombang�. Semua terjadi begitu cepat saat semua orang terlelap. ***

mencari ikan ditengah dinginnya malam. Namun perahu yang kami tumpangi serasa enggan untuk beranjak. Mesinnya rusak dan tak bisa bergerak. Kami pun terpaksa batal untuk pergi melaut hari ini. Sesungguhnya cuaca malam ini terasa kikuk. Tak ada angin yang menerpa rambut ikalku hingga berserakan tak beraturan. Aneh, padahal aku sedang berdiri hanya beberapa jengkal dari bibir pantai. Belum lama aku tertegun, tiba- tiba saja tanah yang ku injak seperti digebrak, disertai suara dentuman yang amat kencang yang entah darimana asal muasalnya. Sungguh seumur hidup baru sekali ku dengar suara dentum sekeras itu. Aku terjungkal karena tak seimbang. Seketika suasana sunyi kembali. Samudera dihadapanku seperti terhisap menjauh, jauh ketengah, dan surut dengan cepatnya. Ini sungguh tidak benar, batinku. Aku segera berlari dan berteriakteriak bahwa akan terjadi tsunami. Bapak, dan para kumpulan nelayan yang masih dipinggir pantai segera pontang- panting berlarian. Kami berlari sekuat tenaga menuju gunung dekat dusun. Dijalan aku sempat menoleh kebelakang, melihat beberapa nelayan yang berlari kembali ke gubuknya untuk membawa segelintir harta benda yang mereka anggap berharga. “Lari Bidin!! Kalau kau kembali nanti kau bisa mati!� teriak Bapak. Aku dan Bapak baru mendaki lima belas meter Dina Serepina, mahasiswi Biologi Unsoed. Dia adalah Anggota Kopkun, hobinya menulis dan blogging.

Bapak termenung disepetak tanah yang dulu kami sebut rumah.

Pilot Project Kopkun dari pelupuk matanya, mungkin Dampingi Bapak teringat Ibu. Tsunami telah Usaha membuat desa kami yang terletak di Anggota Banggai menjadi rata dengan Siang hari ini cuaca begitu terik dan

kering, hanya saja hujan turun deras

tanah. Aku terus berpikir bagaimana jadinya bila gelombang tinggi itu mampir lagi di desa kami? Lama aku berjalan menyusururi pantai, tak ada yang tersisa, hanya satu-satu pohon bakau yang telah rusak diterjang gelombang. Akar pohon-pohon itu begitu kokoh meskipun bagian atasnya sudah hancur berantakan. Pastilah jika pesisir pantai ini dilindungi oleh hutan bakau disekelilingnya, gelombang besar takkan sampai membuat 96 rumah didusun ku luluh lantah. Sejak saat itu tekadku bulat untuk menghijaukan kembali hutan bakau disepanjang pantai Banggai. Aku tak mau jika nanti gelombang itu datang lagi, ia akan merenggut Bapak dan orang- orang dusun yang sudah ku anggap keluarga sendiri. Beberapa pekan berlalu, saat warga mulai membangun kembali pondokpondok untuk ditinggali, aku pergi ke hutan bakau yang tersisa untuk mengambil anakan- anakan yang kemudian kutanam di pesisir pantai Banggai. Setiap pagi aku masuk kehutan bakau dengan lumpur sepinggang untuk mengambil bibit,

ketika terlihat gelombang setinggi pohon kelapa menyapu dusun kami.

Lanjut ke laman 7


Kopkun Corner Edisi 29|11|13

Lanjutan laman 6 menanamnya, dan begitu seterusnya kulakukan tanpa lelah. Minggu berganti minggu, bibit bakau itu mulai tumbuh. Hatiku senang

“Hutan bakau ini mungkin memang terlihat seperti suatu tempat dimana bumi nampak tidak ‘membumi’�.

sekali, aku semakin giat menanam bakau. Bapak yang sedari beberapa pekan lalu hanya mengamati kini mulai membantu. Kami membuat lubang, memasukan anakan bakau kedalamnya, dan menimbunnya lagi dengan tanah dan pengharapan. Empat tahun telah berlalu setelah bencana tsunami itu. Hasil usaha kami menanam bakau makin terasa, bahkan banyak tetangga yang mulai ikut serta. Kini pesisir pantai Banggai telah dilindungi hutan bakau yang tumbuh besar. Akarnya kokoh menahan landai pasir pantai. Hutan bakau pun mampu menahan air pasang. Hutan bakau ini mungkin memang terlihat seperti suatu tempat dimana bumi nampak tidak ‘membumi’. Di sinilah jejak manusia tidak dapat bertahan sebagai bentuk yang abadi. Pandangan ku menerawang, diatas pucuk bakau nampak burung

bertengger di kanopi, kerang menempel pada akar, dan kepiting keluar dari lubang- lubang di lumpur. Sejak hutan bakau tumbuh lebat dipesisir pantai banyak manfaat yang bisa dirasakan. Makluk kecil yang mereka sebut plankton rupanya membuat ikan- ikan datang ke hutan bakau, sehingga sangat terasa peningkatan ekonomi karna kemajuan usaha perikanan warga sekitar. Abrasi juga tak separah yang dulu, kini semua lebih terkendali. Hutan bakau tak hanya melindungi kami dari ancaman gelombang tinggi, tapi juga menyediakan semua tempat untuk ikan memijah, sumber makanan banyak fauna yang bergantung didalamnya. Termasuk sumber nektar untuk kelelawar dan lebah madu. Semenjak hutan bakau itu tumbuh rindang, desaku makin maju. []

Page 7


Si Kelas Menengah

R

ambut kepala boleh sama hitamnya. Isi kepala beda soal. Pepatah lama itu banyak benarnya. Ambillah contoh bagaimana pandangan orang

pada mogok buruh nasional akhir Oktober awal November lalu. Tak sedikit orang mendukung. Banyak juga

Oleh: Firdaus Putra HC - M. Organisasi Kopkun

yang tak setuju. Tengoklah laman komentar di beberapa situs berita online. Sebagian beri komentar kritis, sebagian lain, sinis. Yang kritis, tentu bisa pahami upaya buruh meningkatkan kesejahteraannya. Yang sinis bilang cara mereka membuat macet jalan. Juga ada yang bilang buat ekonomi Indonesia terganggu. Kronisnya, ada yang bilang buruh tak tahu diri: tuntut upah tinggi tak sebanding dengan tingkat pendidikannya. Saya curiga komentator sejatinya bukan bagian dari buruh. Kebiasaan baca dan komentar di situs berita online lebih mungkin dari kelas menengah kita. Saya asumsikan seperti itu dengan mengingat riset Kompas, Juni 2012 lalu. Riset itu menggambarkan profil kelas menengah Indonesia dengan detail. Katanya, kelas menengah berisi orang-orang yang konsumsi per harinya mencapai 4-10$, versi Bank Dunia. Di Indonesia mereka muncul sebagai para manajer, profesional muda, pengusaha kecilmenengah dan sejenisnya. Sebagiannya jarang menonton teve, membaca koran, tapi lebih banyak menelusuri informasi dari internet. Riset itu juga menemukan kebiasaan kelas menen-

REDAKSI

gah kita yang apolitis. Mereka sekedar mengikuti perkembangan politik-ekonomi, tanpa mau mengorganisir diri untuk merubahnya.

Penanggungjawab: Herliana, SE. Pimpinan Redaksi: Firdaus Putra, S.Sos. Redaksi Pelaksana: Katiti Nursetya Kontributor: Dina Serepina

Lalu apa yang mereka lalukan? Yang paling kentara adalah hobi belanja alias konsumtif. Pada masalah politik, mereka cenderung menggantungkannya pada negara. Itulah yang bisa menjelaskan mengapa sebagian komentator sinis pada upaya buruh. Karl Marx, filosof kritis itu, mengungkapkan, “Keadaan yang menentukan kesadaran, bukan sebaliknya�. Keadaan atau status sosialekonomi yang mapan, melahirkan kesadaran statua quo.

Dalam pandangan Marx, kelas menengah bukanlah kelas tersendiri. Kategori kelas menengah saat ini adalah kategori sosiologis. Berbeda dengan itu, Marx membagi kelas berdasar pemilikan pabrik/ perusahaan. Yang memiliki pabrik: kelas borjuis. Dan yang tak memiliki, sekedar menjual tenaganya: kelas proletar. Kelas menengah yang ada saat ini bukanlah kelas pemilik pabrik/ perusahaan. Mereka adalah kaki tangan kelas pemilik. Bolehlah kita sebut sebagai komprador. Di sisi lain, karena bergantung pada kelas pemilik, nasib mereka sebenarnya rapuh. Lihatlah krisis 1998 banyak juga kaum profesional & manajer di-PHK. Alhasil, harusnya kelas menengah membangun solidaritas bersama buruh. Bukan apatis apalagi sinis, karena sejatinya mereka kelas yang sama. []

B

anyak yang bertanya bagaimana menjadi anggota Kopkun? Edisi kali ini akan kami beberkan mudahnya menjadi anggota: 1. Mengisi formulir pendaftaran 2. Mengikuti Pengenalan Dasar (wajib) 3. Menyelesaikan administrasi termasuk membayar Simpanan Pokok Rp. 1.000 dan Simpanan Wajib Rp. 10.000. Kelengkapan yang perlu disiapkan: foto kopi KTP/ KTM dan pas foto 4x6/ 3x4 dua lembar. Keuntungan jadi anggota Kopkun: 1. Diskon untuk produk tertentu di Kopkun Swalayan 2. Diskon 20% untuk Sekolah Menulis Storia & Entrepreneur Creativa. 3. Belajar berwirausaha, kepemimpinan dan manajerial. 4. Berpeluang menjadi parttimer dan atau fasilitator 5. Kemanfaatan dalam bentuk sosial-budaya lainnya. Lebih lengkapnya datang langsung ke Kopkun Lt.2. Kami tunggu ya!

Pemasangan Iklan: 08996600388 (Katiti)


Kopkun Corner Edisi 29