Issuu on Google+

Media Generasi Baru Koperasi

28.10

EDISI 28|10|13 | VOLUME III

Tujuh Tahun Kopkun ke satu titik dan berayun balik ke titk lainnya. Dalam tegangan kreatif itulah, Pengurus, Pengawas, Manajemen dan para kader adu ide dan adu argumen. Kopkun tak lahir dari mantra sim salabim. Kopkun lahir dari praktik nyata dalam ruang-waktu. Praktik

T

satu berkait dengan yang ujuh tahun lalu, di hari ini, Kopkun lahir. Sebagai generasi perdana koperasi kampus di Indonesia, Kopkun terus mencari pola. Pola itu dimulai dari

kepengurusan perdana. Target besarnya adalah bagaimana Kopkun dikenal dan diterima khalayak ramai. Pekerjaan yang menguras tenaga tentunya. Pengurus saat itu meninggalkan legacy yang selalu tertanam kuat, “Karena koperasi adalah kumpulan orang, maka pengkaderan adalah wajib�. Mereka selalu tekankan soal pembangunan organisasi dan kader. Tongkat kepemimpinan berpindah. Pada RAT kelima, Maret 2012, pengurus baru terbentuk. Target besarnya adalah mengembangkan Kopkun. Bukan pekerjaan mudah pastinya. Sepertinya hukum right man on the right place in the right time, bekerja. Pengurus pertama mewariskan fondasi tentang perlunya organisasi yang kuat. Dan pengurus berikutnya, meneruskan dengan membangun karya di atasnya. Tujuh tahun lalu Kopkun lahir membawa mimpi. Mimpi tentang koperasi yang benar, besar dan mengakar. Koperasi benar: yang hidup dan menghidupi jati diri, nilai dan prinsip koperasi. Koperasi besar: yang karya usahanya bertambah dan meluas. Dan koperasi mengakar: yang anggotanya terus bertambah dari jumlah dan kualitas. Di tiap tahap dan tiap tahun Kopkun selalu bangun strategi untuk mencapai mimpi itu. Satu soal tentang bagaimana membangun kader. Soal yang lain tentang bagaimana membangun unit usaha. Ya, itulah koperasi. Bukan sekedar mengkader seperti layaknya ormas. Juga bukan sekedar berbisnis laiknya badan usaha. Tapi paduan di antara keduanya. Pada tegangan kreatif di antara dua kutub itulah,

lain. Mulai dari praktik seorang kasir, sampai praktik manajer. Praktik Pengurus, sampai praktik Pengawas. Dan banyak orang lupa, bahwa koperasi tak akan maju tanpa partisipasi aktif anggota. Anggotaanggota dengan loyalitas dan disiplin tinggi juga dibutuhkan. Maka, pada RAT keenam, Kopkun rasionalisasi 118 anggota yang tak loyal. Tujuh tahun lalu, saat Kopkun bak bayi belajar merangkak, tak sedikit orang skeptis bahkan sinis. Dikiranya Kopkun adalah koperasi partikelir, koperasi yang dimiliki kelompok atau orang tertentu. Sangkaan itu terbukti keliru. Sejak tujuh tahun lalu, hingga hari ini, sifat keanggotaan masih saja sama: sukarela dan terbuka. Alhasil, 700an orang dari beragam latar belakang tercatat sebagai anggota. Tujuh tahun lalu, di hari ini, Kopkun tak semanis saat ini. Karenanya hari ini, 18 Oktober 2013, kita semua patut bersyukur. []

DAFTAR ISI Tujuh Tahun Kopkun

1

Antusiasme di Seminar Kiprah Generasi 2.0

2

Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

3

TTS Berhadiah

4

Basic Training, Mengubah Aku

5

APEC, WTO dan Kapitalisme

6

Kartel Ekonomi 7 Perusak Demokrasi Indonesia Makna yang Bergeser

8


Page 2

Kopkun Corner Edisi 28|10|13

Antusiasme di Seminar Kiprah Generasi 2.0

A

ntusiasme itu terpancar dari sorot mata peserta. Paling tidak ada 200 orang ikuti

Seminar “Kiprah Generasi 2.0 Apa dan

“Saya percaya bahwa kita harus punya mimpi. Dulu saya punya daftar mimpi”, ujar Agnes Harvelian.

Bagaimana?”. Seminar tahunan ini Kopkun selenggarakan pada 21 September 2013 lalu. Di awal pembukaan, Anis Saadah, Sedikitnya 200 peserta ikuti Seminar Kiprah Generasi 2.0. Pada saat bersamaan juga dilaksanakan Donor Darah Triwulanan.

Ketua Komite Mahasiswa, jelaskan apa yang dimaksud dengan Generasi 2.0. Sambutan Anis pagi itu tak seperti kebanyakan sambutan Ketua Panitia. Tak ada nada klise, sebaliknya ia menyeru, “Generasi 2.0 adalah generasi dimana kita memakai facebook, twitter dan seterusnya. Generasi yang terbuka pada perubahan”. Disusul pembakar berikutnya, Herliana, SE., Ketua Kopkun, “Jadi mahasiswa jangan hanya sibuk kuliah saja. Masih banyak pengalaman di luar sana. Ikutilah banyak organisasi!”, katanya. Sedikitnya tiga pembicara dihadirkan oleh Panitia. Firman Hidayat, Kader Utama Kopkun, pegiat gerakan Muda Nabung. Agnes Harvelian, Kader Utama Kopkun, yang senantiasa mengharumkan nama Unsoed di banyak kompetisi debat hukum. Dan terakhir, Firdaus Putra, Manajer Organisasi Kopkun, yang rekam jejaknya selalu membuat kagum mahasiswa Unsoed. “Dulu kali pertama gerakan ini dirilis, banyak orang mencibir”, ujar Firman. Firman menerangkan bagaimana awal mula merintis Muda Nabung, yang lahirkan ribuan celengan dari botol bekas. Firman menyampaikan pentingnya konsistensi dan daya tahan. “Banyak orang yang mencibir”, lanjutnya, “Tapi kami tidak goyah. Dan sampai akhirnya itu terbukti. Sekarang banyak mahasiswa KKN menyontoh celengan ini sebagai program KKN di desa”. Disusul kemudian Agnes, “Saya

tipikal pembelajar. Setiap momen selalu saya ambil hikmah apa-apa yang bisa saya pelajari”. Agnes membuka sesi itu dengan mengajak peserta menjadi seorang pembelajar. “Di sisi lain, saya percaya bahwa

Pilot Project Kopkun kan ini-itu. Ikuti ini-itu. Dan sebaDampingi gainya”. Daftar mimpi itulah yang Usaha memandu Agnes sampai temukan Anggota capaian seperti saat ini. kita harus punya mimpi. Dulu saya

punya daftar mimpi. Saya melaku-

“Apa yang sulit dicari dari generasi saat ini adalah orang yang bisa tabah, sabar”, kata Firdaus di tengah sesi. “Ketabahan yang saya maksud adalah bagaimana kita bisa konsisten dalam proses yang kita jalani. Terutama saat kita alami kegagalan”. Dengan suara bergetar, “Dan ketabahan bukanlah teori. Ia harus dialam”, pungkasnya, yang membuat hening Aula FISIP Unsoed siang itu. Pada sesi tanya-jawab, peserta begitu antuasis. Sedikitnya 10 orang mengacungkan jari ketika moderator mempersilahkan. “Saya merasa salah jurusan kuliah di sini, lalu bagaimana saya harus bersikap?”, tanya seorang peserta. Pembicara bergiliran memberikan jawaban dari rentetan pertanyaan lainnya. Di penghujung acara, Ibnu Abdul Latif, Kader Madya Kopkun, kembali melantunkan “Koperasi merupakan kumpulan orang. Orangorang yang bersatu menentukan prinsip”, bagian dari lirik Jingle Kopkun. Disambut teman-teman lainnya, “Prinsip yang sejatinya adalah kerjasama”. []

“Mengucapkan Selamat Hari Jadi Kopkun yang ke-7. Semoga selalu menjadi pionir koperasi moderen di Indonesia! Semangat berkoperasi dan jayalah Kopkun!” - Agus Santoso, Wakil Ketua PPATK, Jakarta


Kopkun Corner Edisi 28|10|13

Page 3

Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

S

abtu, 21 September 2013 Kopkun selenggarakan Diskusi Rutin dengan tema “Membaca Pe-

luang bagi Koperasi dan UKM dalam

“Membangun koperasi harus dimulai dari proses pemberdayaan bukan seperti perusahaan swasta”.

Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015”. Hadir sebagai pembicara: Agus Santoso (Wakil Ketua PPATK, Pengusaha), Arsyad Dalimunte (Wakil Ketua KADIN Kab. Banyumas). Moderator diskusi, Firdaus Putra (Manajer Organisasi KOPKUN), malam itu membuka dengan pertanyaan besar, bagaimana kita pelaku koperasi dan UKM akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 mendatang? Dan sebelumnya negara ini pernah gagap saat memasuki pasar bebas CAFTA 2011. Pantikan itu disambut Agus Santoso dengan menguraikan pengalamannya saat bertugas di Thailand, Filipina, Kamboja dan beberapa negara ASEAN lainnya. Dia mengatakan dari segi potensi, Indonesia tidak kalah dengan mereka, misalnya produk pertanian. Yang belum dilakukan adalah membangun pertanian itu dengan strategi tertentu agar cepat panen. Di Filipina, Agus Santoso mengembangkan sustainable farmer, membangun demplot-demplot dengan menanami buncis, bayam dan sebagainya. Hanya saja sayuran itu bisa dipanen 11 hari sekali, sehingga yang mereka jual adalah buncis muda, bayam muda, dll. Produk itulah yang kemudian untuk memenuhi kebutuhan lokal dan akhirnya tidak mengandalkan impor. Selain menyampaikan potensi, Agus Santoso juga mengungkapkan hambatan yakni secara geopolitik Indonesia memang lemah bagi negara ASEAN. Sebagai contoh, saat Cina mengalami gagal panen 5% saja,

semua surplus beras di Thailand, Vietnam dan lainnya akan diserap Cina. Hal ini yang membuat beberapa negara ASEAN melihat Cina adalah mitra strategis. Kemudian Arsyad Dalimunte

Agus Santoso dan M. Arsyad Dalimunte sedang menyampaikan pokokpokok pikirannya pada 21 September 2013 lalu.

membaca Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 dengan optimisme. Hal ini katanya agar secara psikologis kita tidak memposisikan diri sebagai obyek penderita, melainkan subyek aktif. Optimisme yang ditawarkan adalah dengan membangun sentimen nasionalisme masyarakat terhadap koperasi dan UKM. Sentimen nasionalisme ini bisa menjadi strategi bertahan jika banyak produk asing memasuki pasar Indonesia. Dalam konteks koperasi, Arsyad Dalimunte mengatakan bahwa membangun koperasi harus dimulai dari proses pemberdayaan bukan seperti perusahaan swasta. Koperasi tidak mengejar pertumbuhan laba, melainkan manfaat bagi anggotanya. Melalui proses pemberdayaan ini, anggota bisa ikut sejahtera. Dan melalui proses itulah, virus sentimen nasionalisme bisa disuntikkan melalui pendidikan koperasi. Hanya saja sedikit koperasi yang menyelenggarakan pendidikan. Maka pendidikan koperasi harus digalakkan sebagai upaya pemberdayaan tersebut. Setelah dua pembicara selesai menyampaikan poin-poin pemikirannya. Diskusi di Rumah Makan Kemangi ditutup dengan sesi tanya-jawab . []

Masyarakat Ekonomi ASEAN akan dibuka pada 2015.

“Koperasi bukan untuk “kuperasi”, memeras manusia. Tapi menyadarkan orang untuk tetap beradvokasi tanpa memandang ras, agama dan suku, karena kebesaran koperasi bukan pada fisik gedung saja, melainkan semangat jiwa dan cara kerja yang disiplin”. - Ashoka Siahaan, pendiri dan guru padepokan filsafat Yasnaya Polyana, Purwokerto


Page 4

Kopkun Corner Edisi 28|10|13

Teka Teki Silang Berhadiah Pertanyaan Mendatar: 1. Prisip pertama koperasi 6. Cek, giro, kartu kredit 7. Dewa Matahari Mesir Kuno 9. Mengikuti ajaran secara tidak kritis 10. Pasukan per tahanan benteng 12. Bachelor of Art Menurun: 2. Obat anti depresi 3. Kasta tertinggi agama Hindu 4. Nopol kendaraan Kaltim 5. Nevermind (Jepang) 8. Jabatan di Kedubes 10. General Manager 11. Ribidium Ketentuan: 1. TTS Berhadiah ini terbuka untuk semua orang di wilayah Purwokerto. 2. Jawaban dikirim ke Kopkun dengan menyertakan Nama, No. HP dan struk belanja miminal Rp. 10.000 di Kopkun Swalayan. Atau email ke: kopkun.pwt@gmail.com dengan menyertakan scanan/ foto struk belanja. 3. Jawaban paling lambat tanggal 29 Oktober 2013 pukul 17.00 WIB. 4. Tiap bulan akan dipilih satu pemenang yang menjawab dengan benar. 5. Pemenang berhak atas langganan koran selama satu bulan dan merchandise menarik. 6. Pemenang akan dihubungi via telepon.

“Dirgahayu Kopkun, bangkit koperasi, bangkit demokrasi ekonomi Indonesia”. - Jarot Setyoko, Direktur INSPERA, Purwokerto “Dirgahayu Kopkun, semoga lebih maju dan bermanfaat bagi masyarakat”. - Haiban Hajid, Ketua Ikatan Alumni Unsoed, Purwokerto “Karena koperasi adalah kumpulan orang, maka anggota-anggotanya harus dididik tentang perkoperasian. Agar makin loyal dan ikut membesarkan koperasi. Usia tujuh tahun adalah belia. Namun Kopkun sudah membuktikan diri sebagai koperasi yang maju. Dirgahayu, semoga makin jaya!” - Haryadi, Dosen Fakultas Ekonomi Unsoed, Purwokerto

“Congratulation on your success of being a successfull cooperative. Two thumb up for you ganbatte kudasai. Happy birth day!” - Sugeng, Staf Disperindagkop Kab. Banyumas


Kopkun Corner Edisi 28|10|13

Page 5

Basic Training, Mengubah Aku Jadi Kita

I

krar kader Kopkun! Saya berikrar: Satu, bersedia mengambil tanggung jawab sebagai pelopor

dalam transformasi sosialisme-

“Pelopor dalam transformasi sosialisme-demokratik tatanan sosio-ekonomi di Indonesia”.

demokratik tatanan sosio-ekonomi di Indonesia. Dua, bersedia mengambil tanggung jawab untuk membangun Kopkun sebagai koperasi yang benar di Indonesia!” seru peserta Basic Training. Ikrar itu sekaligus menutup kegiatan dari rangkaian acara selama dua hari, 5-6 Oktober 2013. Sebelumnya 56 peserta digembleng dengan berbagai materi dan kegiatan seperti outbond. Materi pertama, tentang koperasi kampus yang dibawakan oleh Herliana, SE., Ketua Kopkun. “Jadi Kopkun merupakan generasi koperasi kampus pertama di Indonesia. Dan ini bentuk metamorfosa lanjutan dari koperasi mahasiswa”, ujarnya menerangkan. Pada sesi berikutnya, Firdaus Putra, S.Sos., Manajer Organisasi, memberikan materi Berfikir Kritis. “Menjadi skeptis bukanlah hal yang negatif, hal itulah awal kita berfikir kritis” terangnya. Ia melanjutkan, “Berfikir kritis bukan sekedar meragukan segala hal. Melainkan menggunakan perspektif tertentu dalam menganalisis masalah”. Firdaus juga merangsang peserta agar berani mengambil sikap dengan tidak membebek pada yang lain. Dodi Faedulloh, S.Sos., Kabid. Organisasi, membawakan materi Kapitalisme Global pada sesi sorenya. Ia menjelaskan seperti apa kapitalisme dan efeknya di dunia ini. Dengan data ia menjelaskan “Harta kekayaan tiga orang terkaya di dunia setelah diakumulasikan ternyata setara dengan

kekayaan 58 negara termisksin di dunia”. Ia melanjutkan “Itulah efek nyata dari adanya sistem kapitalisme”. Banyak fakta-fakta tentang kapitalisme yang disuguhkan Dodi mengejutkan para peserta. Disambung materi berikutnya,

Sesi outbond Basic Training Kopkun diisi dengan berbagai permainan guna menempa mental, kekompakan tim, kerjasama dan seterusnya.

Firdaus kembali menjadi pembicara dengan membawakan materi Sejarah dan Ideologi Koperasi. Pada sesi itu, ia membedah ideologi yang memayungi koperasi yakni sosialisme -demokratis.”Bagi seorang demokrat sosial, perjuangan ini dilakukan dengan cara bertahap bukan melalui cara revolusi. Ini tentu berbeda dengan sosialisme-komunisnya Marx”, tuturnya. “Kita bangun organisasi-organisasi sosio-ekonomi, membangun kedisiplinan dan menjadi lawan tanding kapitalisme”, lanjutnya. Selain materi-materi yang bersifat makro ideologi, kegiatan itu juga dimeriahkan dengan malam inagurasi dan api unggun. Tak lupa dilaksanakan refleksi bersama untuk memperkuat ikatan emosional antar kader. Sebelum ditutup, peserta diterangkan Rencana Tindak Lanjut (RTL) pasca pelatihan ini. Dan mereka satu persatu menandatangani ikrar sebagai Kader Muda Kopkun. Mari kita tunggu kiprah para Kader Muda itu. Jaya Koperasi! Jaya Sosialisme! []

“Selamat Kopkun semoga di usianya yang ke 7 ini mampu terus meningkatkan prestasi kerjanya dan siap bersaing di pasar bebas sebagai pilar ekonomi kerakyatan yang bisa ikut menyejahterakan rakyat”. - Prof. Rubiyanto Misman, Pembina Kopkun, Purwokerto “Kopkun dalam memasuki usianya yang ke 7 telah mampu memperlihatkan bahwa koperasi ini tidak hanya efektif, tapi mampu dijadikan tempat belajar dan bekerjasama. Praktik kesetaraannya begitu terasa. Setiap orang punyak hak yang sama! Satu tantangan yang harus Kopkun hadapi di masa mendatang adalah, bagaimana membuktikan bahwa kendali orang banyak terhadap aktivitas ekonomi, sosial dan budaya itu masih tetap dapat bekerja. Hukumnya masih akan sama, tapi mungin manusianya bisa saja pikirannya berubah-ubah”. - Suroto, Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Indonesia, Jakarta


Kopkun Corner Edisi 28|10|13

Page 6

APEC, WTO dan Kapitalisme | Oleh: Elisa Sugito

S

etelah KTT APEC selesai pada 8 Oktober 2013 di Bali kemarin, Desember mendatang Indonesia

akan menjadi tuan rumah dalam Konferensi Tingkat Tinggi World Trade Organization (KTT WTO). Dua kegiatan tersebut merupakan sinyal bahwa pemerintah Indonesia sangat terbuka Elisa Sugito, mahasiswi Fakultas Hukum Unsoed. Selain kuliah, Elisa juga aktif di ALSA dan SMB Purwokerto.

bagi kepentingan perdagangan bebas. Perdagangan bebas seperti kita ketahui merupakan perdagangan barang dan jasa yang terjadi antar negara. Dalam perdagangan ini, berbagai aturan yang menghambat akan dipangkas. Aturan-aturan yang dimaksud seperti tarif, bea masuk dan lain sebagainya yang bisa dipangkas sampai nol persen. Artinya barang dan jasa dapat keluar-masuk dengan bebas dan bersaing dengan barang dan jasa di tanah air. Bagi negara-negara maju perdagangan bebas akan mendatangkan keuntungan besar karena struktur ekonominya sudah mapan. Berbeda dengan Indonesia yang tergolong sebagai negara berkembang. Indonesia akan dibanjiri dengan berbagai barang dan jasa bahkan modal dari luar. Contoh nyatanya adalah bagaimana perdagangan bebas CAFTA antara China dan negara ASEAN cenderung menguntungkan China. Di sisi lain, Indonesia lebih banyak mengimpor barang dari China. Yang pada tahun 2010, ketika CAFTA dimulai, banyak pelaku UKM kita terkena dampaknya. Misalnya barang-barang mereka akhirnya harus bersaing den-

Organisasi ini berdiri pada 1 Januari 1995. Saat ini anggotanya mencapai 155 negara.

gan barang China yang seperti kita ketahui harganya lebih murah. Alhasil, perdagangan bebas bisa mengakitbatkan gulung tikarnya pelaku usaha dalam negeri.

“Dan parahnya, Menteri Ekonomi Chatib Basri justru mendorong budaya itu dengan mengatakan, “Saat ini bukan hemat pangkal kaya, melainkan belanja pangkal kaya”. Negara-negara maju mengetahui persis bahwa Indonesia adalah pasar strategis dengan 250-an juta penduduk. Sebagai pasar, maka pola hidup masyarakat kita akan semakin konsumtif. Dan parahnya,

Pilot Project Kopkun mengatakan, “Saat ini bukan hemat Dampingi pangkal kaya, melainkan belanja Usaha pangkal kaya”. Benar-benar sinyal Anggota dalam rangka menyiapkan Indonesia Menteri Ekonomi Chatib Basri justru mendorong budaya itu dengan

sebagai pasar dalam perdagangan bebas itu. Berbagai hal itu merupakan konsekuensi dari sistem kapitalisme. Sistem ini bekerja seperti vampir yang menghisap darah korbannya sampai mati. Mekanisme perdagangan bebas melalui APEC, CAFTA, MEA, WTO dan kesepakatan-kesepatan lainnya akan menempatkan Indonesia sebagai korban yang dihisap habis kekayaan, sumber daya alamnya. Selain itu, pasar yang agresif akan menyisakan sampah, polusi, kerusakan alam yang lagi-lagi harus ditanggung kita. Sistem kapitalisme melalui berbagai aparaturnya bekerja sangat efektif untuk mengurangi peran/ kontrol negara. Kapitalisme liberal beranggapan bahwa semakin kecil peran negara dalam pasar adalah semakin baik. Ironisnya, saat terjadi krisis, para kapitalis rakus itu ramairamai meminta bantuan negara melalui bail-out atau kebijakan lainnya. Jahat dan egois, bukan?[]

“Sepanjang pengamatan saya, perkembangan Kopkun cukup menjanjikan baik kelembagaan maupun pelayanannya kepada anggota. Saya mengharapkan kepada Pengurus, Pengawas dan Manajemen untuk tetap tegak pada jati diri koperasi yang berorientasi pada peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan kepada anggota dan masyarakat sekitar. Jangan lupa kaderisasi untuk menjamin kesinambungan eksistensi Kopkun. Met ultah, semoga panjang umur”. - Djabarudin Djohan, peneliti dan penulis buku Wajah Koperasi Indonesia, Jakarta


Kopkun Corner Edisi 28|10|13

Page 7

Kartel Ekonomi Perusak Demokrasi Indonesia

A

ula FISIP Unsoed pagi itu ramai. Antrian panjang terlihat di depan pintu masuk untuk

mengikuti “Kartel Ekonomi Perusak

“Daya rusak kartel menjadi lebih besar saat berkongkalikong dengan rezim tertentu”.

Demokrasi”. Kerjasama dengan Komahi FISIP, Kopkun gelar seminar itu pada 3 Oktober 2013 lalu. Seminar yang dibuka oleh Dekan FISIP Unsoed, Ali Rochman Ph.D. Pembicara pertama, Ted Meinhover pengamat ekonomi politik asal AS. Yang kedua ada Budiman Sudjatmiko anggota DPR RI. Dan terakhir. Muhammad Yamin dosen Hubungan Internasional FISIP Unsoed. Mengawali pembicaraan, Ted menyampaikan kondisi Indonesia dan kartel ekonomi, “Keadaan ini bisa membuat yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin”. Ia juga mengatakan, “Kapitalisme juga membuat orang miskin sulit untuk berkuasa karena demokrasi dihargai mahal di negeri ini”. Budiman Sudjatmiko yang telat tak ketinggalan dengan panasnya diskusi siang itu. Ia sampaikan bahwa tema ini pantas dikaji. Ia serukan “Rakyat jangan mau diiming-imingi uang dari para calon agar tidak menyesal di akhir”. Apa pasal? Katanya, “Banyak calon didukung oleh para kartel”. Pembicara terakhir, Yamin, setuju dengan Ted dan Budiman. Kartel ini muncul di banyak hal. Misalnya saja pada banyak produk impor dan naikturun harga pasar yang dikendalikan mereka. Yamin bilang, “Persoalan kesejahteraan rakyat berawal dari tingginya harga kebutuhan pokok

yang membuat demokrasi sulit ditegakkan“. Seminar yang dihadiri 250 peserta menyimpulkan bahwa kartel ekonomi, dimanapun berada, akan merusak tatanan demokrasi. Pada

Dari kiri: Muhammad Yamin, Budiman Sujatmiko, Ted Meinhover dan Moderator dalam Seminar “Kartel Ekonomi Perusak Demokrasi Indonesia”

ekonomi dunia, kartel mewujud pada monopoli perdagangan oleh perusahaan multi dan transnasional. Sedang pada level nasional, kartel seringkali muncul pada proses impor barang/ produk tertentu. Di level lokal, kartel seringkali dijumpai pada praktik tengkulak. Daya rusak kartel menjadi lebih besar saat berkongkalikong dengan rezim tertentu. Misalnya mereka akan sponsori pencalonan seseorang sebagai anggota legislatif atau eksekutif. Setelah terpilih, mereka akan mendesakkan kepentingan melalui berbagai kebijakan, undangundang atau peraturan lainnya. Diskusi ini makin seru saat sesi pertanyaan disambut antusias oleh peserta. Beberapa mengacungkan tangan dan melontarkan pertanyaannya. Seorang peserta bertanya, “Apakah kartel ekonomi merupakan bentuk menyimpang sistem kapitalisme atau kartel adalah konsekuensi logis kapitalisme itu sendiri?”. Pada pertanyaan itu dan pertanyaan lainnya, ketiga pembicara bergiliran menjawab. []

“Kepada sobat kami para anggota, pemilik dan pelanggan Kopkun, kami ucapkan selamat ulang tahun yang ke-7. Disertai doa, semoga ke depan Kopkun makin jaya yang diwarnai kohesivitas anggota yang tinggi dan dukungan tim manajemen yang solid dan handal. Kondisi lingkungan usaha boleh gonjang ganjing atau boleh kondusif, kesemuanya itu dapat dimanfaatkan sebagai peluang, asalkan kita tahu kiat-kiatnya yang dijiwai oleh semangat kewirausahaan para pengelola Kopkun. Tetaplah semangat, perjuangan mewujudkan demokrasi ekonomi masing panjang”. - Dr. Ir. Pariaman Sinaga, MM., Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM, Jakarta


K

ita akan sebut “peyorasi” pada kata yang nilai rasanya berubah jadi lebih rendah. Sebaliknya, “ameliorasi” untuk kata yang nilai rasanya jadi

lebih tinggi.

Makna yang Bergeser Oleh: Firdaus Putra - M. Organisasi Kopkun

Kata-kata berubah nilai rasanya mengikuti zaman. Dan di sanalah peyorasi dan ameliorasi bekerja. Semisal, “sontoloyo” sekarang bermakna “konyol, bodoh, tidak becus”. Padahal sontoloyo dulunya sebutan untuk peng-angon bebek. Jadilah saat ini sontoloyo bermakna peyoratif. Sebenarnya selain kata, beberapa hal lain juga alami pergeseran makna. Sebutlah pergeseran nilai rasa itu juga terjadi pada musik jazz. Di negeri asalnya, jazz sekedar musik rakyat. Namun jazz diterima berbeda di Indonesia sebagai musik kalangan elit. Bolehlah kita sebut jazz mengalami proses “ameliorasi” saat masuk ke Indonesia. Banyak contoh lainnya, misalnya bagaimana sandwich, burger menjadi pilihan menu bergengsi di Indonesia. Berbeda di negeri asalnya, makanan keseharian pekerja kerah biru. Karena jam makan yang singkat, makanan siap saji itu jadi menu andalan. Di negeri asalnya, mereka masuk kategori fast food. Dan tentu saja nasi rames kita lebih sehat daripada fast/ junk food itu. Proses “ameliorasi” ternyata bisa bekerja pada halhal yang kita impor. Maksudnya, produk budaya imporan itu lebih bernilai rasa tinggi saat masuk ke tanah kita. Bahkan bukan sekedar produk, turis asing yang bertandang akan nampak artis seperti artis. Tengoklah berapa

REDAKSI Penanggungjawab: Herliana, SE. Pimpinan Redaksi: Firdaus Putra, S.Sos. Redaksi Pelaksana: Katiti Nursetya Kontributor: Elisa Sugito

banyak orang kita gemar foto dengan bule. Padahal, sangat mungkin di negara asalnya, Si Bule hanyalah orang biasa laiknya kita. Yang tak kalah menarik bagaimana produk budaya kita justru alami proses “peyorasi”. Ambillah contoh musik dangdut. Bilamana Anda penyuka dangdut, Anda akan dinilai kampungan. Sedang penyuka pop, akan dinilai moderen. Proses itu juga berlaku pada singkong, ubi, jengkol, petai yang cenderung peyoratif. Rupa-rupa makanan itu tergantikan dengan kue, roti, pastel dan sejenisnya. Ada kesan ingin menyangkal asal-usul budaya asali.

Bisa jadi karena sindrom minder alias rendah diri. Dan bilamana benar, Dahler, seorang psikolog mencatat hal itu sebagai wujud pribadi yang tak sehat. Proses peyorasi dan ameliorasi pada hal-ihwal tersebut lebih mudah dikenali dibanding peyorasiameliorasi pada kata. Contoh lain, “bajingan”, sekarang kata ini sepadan dengan “rampok, kriminal, penjahat”. Padahal di masa lalu, bajingan itu sebutan bagi sais keledai yang membawa gerobak. Makna kata atau lainnya bisa bergeser demikian jomplang. Boleh jadi pada masa depan makna “kapitalisme” akan lebih indah dibanding “sosialisme”. Dan makna itu sendiri adalah medan pertarungan tafsir. Karenanya, tafsir atas makna harus diperjuangkan: seperti sosialisme itu lebih humanis-berkeadilan dibanding kapitalisme. []

B

anyak yang bertanya bagaimana menjadi anggota Kopkun? Edisi kali ini akan kami beberkan mudahnya menjadi anggota: 1. Mengisi formulir pendaftaran 2. Mengikuti Pengenalan Dasar (wajib) 3. Menyelesaikan administrasi termasuk membayar Simpanan Pokok Rp. 1.000 dan Simpanan Wajib Rp. 10.000. Kelengkapan yang perlu disiapkan: foto kopi KTP/ KTM dan pas foto 4x6/ 3x4 dua lembar. Keuntungan jadi anggota Kopkun: 1. Diskon untuk produk tertentu di Kopkun Swalayan 2. Diskon 20% untuk Sekolah Menulis Storia & Entrepreneur Creativa. 3. Belajar berwirausaha, kepemimpinan dan manajerial. 4. Berpeluang menjadi parttimer dan atau fasilitator 5. Kemanfaatan dalam bentuk sosial-budaya lainnya. Lebih lengkapnya datang langsung ke Kopkun Lt.2. Kami tunggu ya!

Pemasangan Iklan: 08996600388 (Katiti)


Kopkun Corner Edisi 28