Issuu on Google+

Gratis, seperti daun yang jatuh ke bumi

Edisi Januari 2010

Langkah Buletin


Pemimpin Redaksi

Fredy Wansyah Keuangan

Tirena Oktaviani Koordinator Langkah

Nelly Sukma Ismara Layout Ucok Para Pekerja Buletin Langkah Para Pekerja Lainnya

Dara Umi Dicky Kreebo Zulfikar Lutfi Mardiansyah dan Manusia Langkah lainnya. Hal. 2, 3, 4

Kesadaran Feminisme Wanita Bau Bawang EsaiSudah banyak karya yang memotret kehidupan perempuan

Puisi-Puisi Zulfikar Tnuk Ryan Ibayana

baik karya yang dibuat oleh laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi, pastilah lebih terasa kehidupan perempuan yang ditulis oleh perempuan penulis. Mengapa? Tentu saja karena sebagai perempuan penulis, dia lebih dekat bahkan menyelami kehidupan perempuan itu sendiri.

Hal. 9, 10 Membicarakan Sejarah Tanpa Fakta

Ruang Pembaca Hal. 8

Daftar Isi Esai

Catatan Lorong

Sejarah memang berpihak pada penguasa, tetapi sejarah tidak selalu dikuasai penguasa. Penguasa melalui kemudahan akses dan ketersediaan media yang dimilikinya seringkali melakukan regulasi dan normalisasi kearah pembenaran sebagai rangkaian sejarah di masa mendatang.

(Ucok Pengembara)

Hal. 13

Konstruksi Bahasa Siaran Televisi

Bahkan tendensi bahasa Inggris pun telah merasuki kebahasaan iklan-iklan di televisi. Tidak jauh berbeda apa yang dilakukan oleh penyedia sinetron (sinema elektronik) di televisi. Bahasa sinetron dengan gaya hidup mewahnya menggambarkan dan mencerminkan budaya borjuasi, misalnya saja dengan menyajikan barang-barang mewah.

Hal. 11, 12

(Noel Saga)

(Fredy Wansyah)

Topeng India

Cerpen

Sudah beberapa kali lampu merah, uang yang bertambah sebesar Rp. 4.500. Harjo merasa cukup untuk dibawa pulang. Ia berencana untuk membeli telur dan minyak goreng atau sekedar mie instant di warung dekat rumah. (Noel Saga) Hal. 5, 6, 7


2

Buletin Langkah, Januari 2011

Bulan di Balik Mesjid masih ada wajah-wajah cerah wajahku penuh kegembiraan nikmati subuh tak mengapa aku melayang saat sujud dan ruku meninggalkan engkau padahal aku tak berkuasa bulan kulihat kembali masih bundar sebundar cintaku pada wanitamu masih ada cahaya di hatiku walau terkadang terhalang kubah nafsu saat aku berjalan tapi aku ingin berbagi terang dengan wanitamu walau terkadang kurasakan terang bulan ada di balik mesjid cantikmu Pandeglang, September 2010

Puisi-Puisi Zulfikar Tnuk

Surat dari Kota engkau ingin bermain air mata bercampur rasanya dengan senyuman tak asin hari ini engkau melempar keluhan selepas pulang bersama bis kota hujan pula menggenangkan kesedihan, di kotaku saat kolam surut ikannya dalam surat cinta aku mengajakmu bermain ikan ikan kecil tertinggal tiga sebelum punah, tinggal cerita untuk isi surat kita aku ingin baca suratmu untukku saja seperti kalimat bergaris bawah, ini laki-laki yang kuhadiahkan tapi bukan itu air mata cinta menetes di tiap huruf-huruf yang tersenyum

Foto oleh Anggi

Pandeglang, September 2010

Zulfikar Tnuk Lahir di Pandeglang, 24 September 1988. Kini studi di Fakultas Sastra Unpad, Program Studi Sastra Arab.


Buletin Langkah, Januari 2011

TJIBUNI JAVA Kurasa ini terlalu dini untuk memakamkan lembar demi lembar kenangan serta seribu ingatan tentang hamparan hijau.

Puisi-Puisi Ryan Ibayana

Di sebuah kampung tua yang diselimuti berlapis-lapis tirai dingin. Tjibuni yang hening. Di ujung Desember yang lindap serta berbalut gerimis sempat kupahat jejak, tanda kehadiran di atas tanah merahmu yang lembab dan basah. Aroma teh hitam menyerbak dari cerobong pelayuan mengudara bersama sepenggal kisah kuntum rindu yang baru rekah.

DI KOTA INI Hujan menggerus usia cerita dan peristiwa seperti tersesat di gorong-gorong pengap penuh sampah. Sementara bayanganmu tampak kuyup di banjir cileuncang namun buyar digilas roda yang melintas. Kekasih, aku kesepian di kota ini , berjalan jinjit menelusuri trotoar basah meratapi umur yang luruh dimamah musim. Lampu-lampu rindu di pinggir jalan

Pohon cemara berbaris di pinggir danau biru nampak menaungi berkas sejarah yang terukir di atas batu berlumut, sepotong romansa di antara deru pabrik yang menggaung gelisah. Kurasa ini terlalu dini untuk memadamkan obor cerita di tjibuni yang hening kampung tua berkabut. 2009

seakan pucat mengiringi tahun-tahun yang berlalu cepat. Sebenarnya masih kusimpan kenangan kita meramu sendu saling mengungkap kegelisahan sambil menyimak bercucurannya peluh tukang rokok serta ketabahan penjual koran. Masih kutata apik kisah kita dekat tiang listrik serta di sebuah parkiran lama. Kekasih, aku kesepian di kota ini , berjalan jinjit menelusuri trotoar basah meratapi umur yang luruh dimamah musim, meratapi tubuh yang renta, disapa resah cuaca. OKTOBER 2011

3


4

Buletin Langkah, Januari 2011

SAJAK KEKALAHAN Aku mengenalmu dalam kehampaan. Sebelum keramaian mencapai titik peraduannya. Sederhana sekali. Namun tiada yang lebih pedih, selain tenggelamnya purnama, oleh gonggongan kehampaan itu sendiri. Oh, hadirmu, adalah corong sunyi yang memaksa dunia pada kelapangan sepi, sungguh, kehampaan benih kekalahan. Aku mengenalmu dalam kesunyian, sebelum hingar bingar merajalela. Sederhana sekali. Bahkan mawarpun tiada mampu, merayu dengan bibir merahnya. Ya, langit begitu teduh kala itu, bahkan terlalu teduh, untuk menaungi resah-resah yang berkibar di sekitar kita. Namun, teriakanku memintamu. Hanya pentungan tanpa suara. Rumit sekali, hanya mampu mengisi kekosongan dengan lencana kekalahan. Ya, api yang membara ini, adalah dinginnya ubin hati, menunggu engkau berpijak. -21 JULY 2008

SENJA TELAH SELESAI - Mengenang Almarhum Wan Anwar Senja telah selesai kelebat waktu telah mengantarkanmu pada Nopember yang dingin dan lebih asing dari geladak kapal yang ditinggal nelayan. Sampai pula pada malam-malam yang lebih pucat dari malam gugur gemintang. Senja telah selesai gelombang waktu telah melayarkanmu ke Jauh melewati pulau demi pulau, ketabahan karang serta palung-palung dingin.

Ryan Ibayana Penggiat Sastra. Kini bermukim di Ciwidey. Silakan hubungi melalui facebook Ryan Ibayana.

Senja telah selesai perjalanan, petualangan, serta pencarianmu telah sampai di Utara ya, di Utara. 2009


Buletin Langkah, Januari 2011

Topeng India

5

Oleh Noel Saga Sebuah kaca mobil perlahan Harjo mulai mendendangkan lagu turun. Tangan yang memegang uang Perahu Layar. Spontan Kardi lembaran seribu rupiah menjulur. menggoyang-goyangkan tangan Dengan cepat Harjo menerima uang itu. dan pinggul, sedangkan kakinya Kaca mobil pun kembali tertutup dengan diangkat bergantian kiri-kanan perlahan. Lampu hijau menyala, dengan menekuknya. Kain-kain perlahan-lahan mobil tersebut mulai pada kostumnya terlihat bergerak. Sigap Harjo mematikan radio bergoyang-goyang. Kardi tapenya dan mengajak Kardi menepi. mengenakan kostum dari kain-kain Harjo menaruh radio tape di berwarna pink dan kuning yang samping Kardi yang berjongkok. Sambil tampak bertumpuk-tumpuk karena menunggu lampu merah menyala lagi. hanya dijahit pada bagian Harjo membeli dua gelas air mineral di pangkalnya sedang ujungnya kios terdekat. Diberinya Kardi satu, dibiarkan menjuntai. Wajahnya Photoghrapy by Laura Bank (Devian Art) kemudian membuka dan meminum yang tertutup topeng dengan mimik yang lainnya. Pikirannya tertuju pada bapak yang sudah orang India terkadang melihat kiri dan kanan. seminggu tidak bisa mengayuh becak demi menyambung Terkadang mengangguk-angguk mengikuti irama. hidup keluarganya. Tergeletak tak berdaya diselingi batuk- Bagaikan seorang penari di atas panggung. batuk yang tampak membuatnya kehabisan tenaga. Setiap Pria di dalam mobil itu terlihat melambaikan kali terbatuk dadanya terasa mengerut dan tertusuk-tusuk. tangan. Mereka pun menghampiri mobil lain. Mobil Gejala penyakit yang sama dengan ibu. Tak tega Harjo demi mobil dihampiri. Beberapa keping uang dibuatnya. Uang makan sehari-hari saja tidak cukup apalagi ratusan mereka dapatkan. Tapi lampu sudah membeli obat yang dijual di pasaran. kembali hijau. Uang hasil membecak sudah tak bisa dijadikan untuk Hari menjelang malam. Mereka tampak kebutuhan sehari-hari. Semua dibayarkan pada pemilik lelah. Terdengar adzan Maghrib berkumandang. becak untuk membayar pinjaman biaya perawatan ibu di “Mas, udah dapat berapa?” Kardi membuka rumah sakit. Itupun belum lunas juga. Biaya yang begitu topeng Indianya. Tampak wajahnya berkeringat. Ya besar namun tetap pihak rumah sakit tak bisa meski gelap rasanya cuaca saat itu tampak panas. menghindarkan ibu dari kematian yang menjemputnya. Mungkin hujan akan turun malam itu. Semenjak presiden mengumumkan kenaikan harga Harjo merogoh sakunya. Saat ia BBM, hidup keluarganya semakin tak menentu. Belum lagi mengeluarkan tangannya beberapa uang logam kontrakan yang sudah 6 bulan belum dibayar. Beberapa hari berjatuhan dan menggelinding di trotoar. Karuan terakhir hanya makan bubur dan bubur. Itu semua demi saja Kardi langsung memburunya. mengirit beras yang dibelinya. “Satu..Dua..Tiga..Empat.. Wah ada tujuh “Ayo Mas, lampunya sudah merah lagi tuh!” Kardi mas!” Kardi memungut sambil menghitung. langsung mengenakan kembali topengnya. “Berarti kita baru dapet 12 ribu 7 ratus.” Harjo Harjo bangkit dan menyelempangkan radio tapenya. memikirkan uang Rp 7.500 untuk sewa tape yang Kardi menghampiri mobil sedan mewah berwarna abu-abu harus dibayarnya dan sisa yang akan ia bawa metalik di depannya. Harjo yang menyusul dibelakangnya, pulang untuk membeli lauk-pauk untuk makan nanti menyalakan tapenya. Terdengar irama khas mengalun, malam.


Buletin Langkah, Januari 2011

“Abis berangkatnya terlalu siang sih..” Kardi mengeluh. “Ya kan musti ngurusin bapak dulu. Kamu liat sendiri kan Di, bapak sekarang susah makan, apalagi kalo batuknya keluar darah.” *** Harjo sedikit menyesali keputusan bapak yang mengajak Ibu dan dirinya yang masih mungil pindah ke kota. Saat itu mendapatkan uang tidak begitu sulit. Dari pekerjaannya membecak bapak bisa menyewa sebuah kamar berukuran 2 x 4 m yang hingga kini masih mereka tempati. Ibu bekerja sebagai tukang cuci dan setrika baju para tetangga. Bekerja dari pagi butamencucihingga malam harimenyetrika. Dari hasil kerja mereka berdua cukup untuk membeli segala keperluan sehari-hari, dan menyekolahkan dirinya hingga tamat SD serta membeli becak yang sebelumnya disewa bapak. Harjo merasa sedih, adiknya Kardi yang masih membutuhkan pelajaran sudah tidak bersekolah lagi. Sedangkan dirinya sudah merelakan untuk tidak mengenyam pendidikan SMP dan SMA. Mungkin kalau Kardi bersekolah sudah kelas 5. Sudah 2 tahun Kardi tidak bersekolah. Bapak sudah tak sanggup lagi membiayainya. Berawal sejak ibu membutuhkan perawatan di RS dan bapak tidak bisa membayar semua biaya perawatan. Hingga menjual becaknya dan juga meminjam uang pada pembelinyayang dulu sebelumnya bapak sewa dan belikarena uang hasil menjual becak masih belum cukup. Kemudian bapak harus mencicilnya dengan menyetor seluruh hasil menarik becak. Ya.. tentu saja becaknya diberi pinjam oleh juragan Kosim si pemilik becak itu. Dengan kata lain bapak menarik becak tanpa ada hasil untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak tercukupinya kebutuhan sehari-hari, sewa kontrakan yang belum terbayar, hutang pada pemilik becak, itu semua membuat bapak menjadi kelimpungan. Untung saja pemilik rumah cukup baik, ia memberikan waktu hingga bapak sudah dapat membayarnya. Meski demikian, bapak tetap merasa tidak enak. Entah harus mendapatkan uang dari mana lagi. Belum lagi kondisinya yang kian hari kian parah. Semakin menambah kerinduan bapak pada ibu.

6

Harjo yang biasa membantu pekerjaan ibu, sempat meneruskannya. Tapi sejak bapak sakit, para tetangga tak ada lagi yang mau memberikan pakaian kotornya untuk dicuci atau disetrikakan. Sepertinya mereka semua takut pakaian yang dicuci atau disetrika terkena kuman-kuman penyakit. Takut tertular penyakit yang diderita bapak. Sudah enam bulan ia bekerja di jalanan seperti ini, itupun karena ia tak tega membiarkan Kardi menarinari sendirian di jalanan padat kendaraan demi mendapatkan beberapa keping uang ratusan. Paling tidak itu yang bisa diperbuatnya, menjaga Kardi. Menjaga bapak yang kini tergolek lemah di kasur kumal. Meski Harjo masih berumur 15 tahun badannya yang bongsor membuat keluarganya merasa aman dengan keberadaannya. *** Sudah beberapa kali lampu merah, uang yang bertambah sebesar Rp. 4.500. Harjo merasa cukup untuk dibawa pulang. Ia berencana untuk membeli telur dan minyak goreng atau sekedar mie instant di warung dekat rumah. Adzan Isya sudah lewat satu setengah jam yang lalu. Harjo tak ingin bapak khawatir. Bahkan ia merasa lebih khawatir meninggalkan bapak sendirian. “Ayo Di, kita pulang!” Harjo mengajak adiknya. “Tapi mas sudah cukup belum?” “Yah untuk sekarang cukup. Lagi pula kita harus ingat keadaan bapak,” Harjo merangkul adiknya yang berbadan mungil itu. Mereka berdua menyusuri jalan-jalan besar. Kendaraan-kendaraan bermotor berseliweran kencang tanpa peduli dengan sekelilingnya. Terkadang mereka harus menyeberangi jalan. Bising suara-suara klakson yang bersahutan karena tak sabar menunggu mobil di depannya maju, padahal lampu hijau belum juga nyala. Jauh sekali mereka berjalan, hingga akhirnya memasuki sebuah gang yang sesak dengan rumahrumah. Mampir di sebuah warung sebentar, membeli yang sudah direncanakan Harjo. Beda dua rumah dari warung itu adalah rumah si pemilik radio tape yang mereka sewa. Kemudian mengembalikan radio tape itu seraya membayar uang sewanya.


7

Buletin Langkah, Januari 2011

Dari rumah yang menyewakan radio tape tadi, mereka berbelok dan memasuki area rumah bedeng yang terdiri dari 8 kamar berukuran 2x4 m. Lampu beberapa rumah tampak padam rupanya penghuninya masih belum pulang. Maklum rata-rata yang mengontrak di situ adalah pegawai pabrik. Rumah di bagian pojok tempat mereka tinggal juga masih padam. Perasaan aneh menggelayut di hati Harjo. “Mas, bapak nggak nyalain lampunya. Pergi kemana ya bapak?” tanya Kardi yang masih dengan kostum pinkkuningnya. Harjo setengah berlari menghampiri pintu rumahnya. Kantong belanjaan disimpannya di kursi plastik berwarna putih dekil yang ada di situ. Membuka kaca nako.. Lengan kirinya dimasukan ke bagian dalam, mencoba membuka selot pintu. Klek... Tangan kanannya mendorong pintu hingga terbuka lebar. Hawa pengap, lembab dan bau apek terasa. Gelap menyelimuti ruangan. Kardi menghambur ke dalam. Tiba-tiba terbentur dengan sesuatu di tengah ruangan. “Aduh...” Kardi terkejut. Sesuatu yang ditabraknya berayun-ayun hingga mengenai tubuhnya lagi. “Apa ini?” tubuhnya terjerembab dan sepertinya mengenai sebuah kursi plastik didekatnya. Topeng India terlepas dari genggamannya.

Kiet... kiet... Terdengar bunyi berderit di kayu kaso. “Kenapa D i ? ” H a r j o t a n g a n n y a menggapai saklar di samping pintu yang terbuka. Ctek.. Saklar yang sudah berkarat itu dipaksa berubah posisinya. Dalam sekejap ruangan berwarna jingga. Di l u a r terdengar p e t i r menyamb a r , gerimis menyertainya. Harjo melihat Kardi terduduk dekat kursi plastik kecil yang terjungkal. Tak jauh dari situ topeng wajah orang India mencium lantai. Ia melihat tubuh kurus kering yang ia kenal dengan leher terlilit tali, menggelantung pada kayu kaso di tengah ruangan. Kiet... kiet... tubuh itu berayun-ayun pelan. Kiet... kiet... Gerlong, 10 Desember 2005

Noel Saga, nama pena dari R. Tina Dwiyanti Setyawati, lahir di Bandung, 29 Mei 1978, alumnus Administrasi Negara FISIP UNPAD 1997. Bergiat di Komunitas Titik Luang, Majelis Sastra Bandung dan FLP Bandung. Puisi dan cerpennya pernah dimuat di beberapa buletin dan harian lokal. Beberapa puisi sudah termuat dalam Antologi puisi Kapak Ibrahim: Catatan dari yang Ketakutan (Pustaka Latifah, 2007 Cetakan-2), dan cerpennya dalam Angin dan Bunga Rumput, kumpulan cerpen FLP Bandung akan terbit Januari 2011. Tinggal di daerah KPAD Gegerkalong, Bandung. Alamat surat elektronik dapat dilayangkan ke: noel_saga@yahoo.com , atau noelsaga@gmail.com


Apa kata Bang Odo?

8 Assalamualaikum Wr. Wb. Salam semangat selalu untuk rekanrekan Komsas Langkah dan semoga selalu eksis dalam berkarya, Amin‌ Cuma mau sedikit saran, gimana kalau dalam buletin yang duterbitkan tiap bulannya diadakan kolom tanya-jawab untuk para pembaca. Karena mungkin saja di antara mereka ada yang memiliki talent tapi belum tahu bagaiman caranya menuangkan hal tersebut ke dalam sebuah karya sastra. Harapannya gak banyak, biar lebih interaktif aja menyapa para penikmat sastra. Itu aja deh‌ Doanya, semoga Komsas Langkah jaya selalu untuk sastra. Amin‌ -Airi SavieroMahasiswa Sastra Arab Unpad. (Melalui Fesbuk Airi Saviero ke Fesbuk Komsas Langkah)

-Saya ini orang Partai Gulung Tikar. Saya bangga ada di partai ini karena kamilah sepak bola negeri ini maju.

-Dibilang bohong salah. Dibilang gagal salah. Dibilang gak peduli salah. Maunya dielu-elukan ya kayak raja?

-Andai Gayus seorang sastrawan...

Ruang

Pembaca Ruang P embaca

Gw khawatir di masa depan Buletin Langkah tidak terbit lagi. Ada Buletin Langkah dinamika sastra di internet jadi seru. Pokoknya harus tetap ada! -Penyair Gila-

Ruang Pembaca adalah ruang apresiasi dan komunikasi para pembaca Buletin Langkah. Silakan kirim kritik/saran/kata-kata berupa komikasi maupun komentar ke email komsas_langkah@yahoo.com atau melalui message facebook Komsas Langkah.


Buletin Langkah, Januari 2011

Kesadaran Feminisme Wanita Bau Bawang Kesadaran Feminisme Wanita Bau Bawang Noel Saga Sudah banyak karya yang memotret kehidupan perempuan baik karya yang dibuat oleh laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi, pastilah lebih terasa kehidupan perempuan yang ditulis oleh perempuan penulis. Mengapa? Tentu saja karena sebagai perempuan penulis, dia lebih dekat bahkan menyelami kehidupan perempuan itu sendiri. Dari sekian banyaknya perempuan penulis Indonesia yang juga banyak melahirkan karya perihal perempuan, pilihan karya Nenden Lilis tampak menarik perhatian saya. Berbeda dengan perempuan penulis lainnya yang tampak sangat radikal pandangannya, seperti Djenar Maesa, Nenden menyajikan pandangannya dalam cerita yang sangat halus namun merasuk ke benak pembaca, ia memberikan penyadaran pada pembaca. Perempuan Berbaju Bunga-bunga (PBB) dapat diambil sebagai contoh dari kumpulan cerpen “Ruang Belakang” karya Nenden Lilis. Dengan halus pengarang mengungkapkan bagaimana si tokoh perempuan memperhatikan dan mencurigai PBB yang masuk ke dalam rumahnya dan melakukan semua pekerjaan rumahnya sekaligus melayani suami dan anak-anaknya, juga berbagai keanehan yang menyertainya. Sebagai contoh, seperti ketika ia hendak memergoki suaminya yang membopong PBB ke dalam kamar (halaman 41) ternyata malah ditemuinya sang suami di dapur tengah mencari ikan bakar yang belum ia masak, karena rencananya untuk memasak buyar seketika saat ia menemukan PBB tengah memasakkan ikan bakar untuk suaminya. Atau pada halaman 42: “Ia ingin bertanya pada perempuan itu mengapa ia rela melakukan semua itu, bukaknkah ini rumahnya? Apakah ia istri muda suaminya?” Idealisme atau pandangan pengarang tampak rapi terbungkus dan dirasakan sedikit-sedikit, hingga ke akhir cerita. Seperti tersuguhkan dengan jelas pada paragraf akhir. “Mengapa perempuan itu terus berkutat di rumah dengan pekerjaan yang tak pernah berubah, pikirnya. Sedangkan di luar itu banyak perubahan yang tak sempat diketahuinya. … Begitu lama waktu yang di lewatinya, hanya dihabiskan di depan tungku”. Sungguh berbeda dengan cerpen-cerpen Djenar Maesa yang dari awal sudah terasa kerasnya. Hal ini tentu saja ini akibat karakter yang berbeda juga latar belakang yang berbeda yang menyebabkan pengalaman-pengalaman yang berbeda bagi mereka. Dalam “Ruang Belakang”, ada pula cerpen Nenden perihal perempuan yang tampak sedikit keras dari yang lainya dan kental sekali dengan pandangan feminisme yaitu Oresteia, yang dimuat 1996 satu tahun lebih awal dari pada PBB. Meskipun demikian, Oresteia masih tetap dengan kehalusan bertutur khas Nenden. Kemungkinan besar, gaya bertutur khas Nenden ini terlahir dari kehidupan sosialnya yang tinggal di ranah Jawa yang mengenal dunia anggah-ungguh. Pula dengan kehidupannya yang bernuansa agamis tempat ia dilahirkan, Malangbong, Garut. Taksedikit mempengaruhinya

Tema-tema Nenden memang lebih mengacu pada aspek humanis, pula dengan cerpen-cerpen bertemakan perempuan. PBB mengemas tema yang begitu sederhana namun jua mendalam serta disajikan dengan kesederhanaan cerita. (Mungkin inilah uniknya Nenden). PBB menghadirkan cermin waktu yang bertindak seperti tayang ulang televisi kehidupan PBB yang dilihat olehnya seorang sehingga menghasilkan kesadaran yang bisa dikatakan terlambat atau mungkin juga tidak bagi si tokoh. Namun kesadaran inilah yang kemudian memunculkan eksistensi seorang perempuan berumah tangga yang termarjinalkan, yang melupakan keinginankeinginan pribadinya demi mengurus keluarga dan segala pekerjaan rutin domestiknya. Yang meskipun dengan rela melakukannya, pekerjaan tersebut sebetulnya begitu berat bagi perempuan, sehingga terkadang membuat mereka kelelahan bahkan sedikit tertekan. “Kadang-kadang ia merasa sedih melihat perempuan yang seperti kelelahan dan tertekan dengan segala rutinitas itu. Perlahanlahan ia menjadi tua dan melakukan segalanya untuk suaminya, untuk anggota keluarga, dan melupakan keinginan-keinginannya sendiri”. Kejenuhan bisa saja menghinggapi perempuan dengan pekerjaan rutin domestiknya itu, karena dengan melakukan pekerjaan yang terus menerus dan yang itu-itu saja, perempuan seolah berada di pabrik atau mungkin seolah mesin atau robot yang bertindak mekanistik. Bahkan sampai-sampai tak sempat untuk mengurus dirinya sendiripun, karena kepentingannya dan kebutuhannya jadi terabaikan. “Esok harinya begitu lagi. Perempuan itu berputar-putar dari ruang tengah ke dapur, dari dapur ke ruang makan, dari ruang makan ke kamar mandi, ke dapur lagi … mukanya yang semula cerah perlahan mengeriput dipanggang api dan panas minyak wajan”. Fenomena ini mungkin sering kita tangkap dimana perempuan yang telah berkeluarga terkadang hanya berdaster dan diam di rumah dengan tampilan yang kurang enak dipandang sang suami pun, apalagi semakin ia bertambah usia. “Sementara matanya dari ke hari kian memburam, kulitnya semakin menua”.

9


10

Buletin Langkah, Januari 2011

Kerja perempuan adalah kerja berat, namun tak jarang pekerjaan ini dihinakan. Takjarang terdengar ocehan anak muda (sekarang) yang menghinakan pekerjaan perempuan (rumah tangga) yang kerjanya hanya di dapur dengan sebutan “wanita bau bawang�. Nenden mencoba menghadirkan kesadaran perempuan yang selain melakukan pekerjaan domestiknya, perempuan juga dapat dan perlu untuk memenuhi keinginan-keinginannya sebagai pemenuhan hak dan kebutuhannya dengan berbagai macam potensi yang dimilikinya. Perempuan berhak untuk mengembangkan potensinya itu serta perlu untuk mengenal dunia luar. Dengan begitu, perempuan juga memiliki eksistensi sebagai manusia, yang tak jauh berbeda dengan lelaki yang juga tercipta dari unsur yang sama. Dan bukankah perempuan juga memiliki tugas yang sama di dunia ini sebagai manusia? Menjadi khalifah di muka bumi. Sudah sepantasnyalah perempuan dan laki-laki itu sebagai partner dalam menjalankan tugas ini.

Noel Saga, nama pena dari R. Tina Dwiyanti Setyawati, lahir di Bandung, 29 Mei 1978, alumnus Administrasi Negara FISIP UNPAD 1997. Bergiat di Komunitas Titik Luang, Majelis Sastra Bandung dan FLP Bandung. Puisi dan cerpennya pernah dimuat di beberapa buletin dan harian lokal. Beberapa puisi sudah termuat dalam Antologi puisi Kapak Ibrahim: Catatan dari yang Ketakutan (Pustaka Latifah, 2007 Cetakan-2), dan cerpennya dalam Angin dan Bunga Rumput, kumpulan cerpen FLP Bandung akan terbit Januari 2011. Tinggal di daerah KPAD Gegerkalong, Bandung. Alamat surat elektronik dapat dilayangkan ke: noel_saga@yahoo.com , atau noelsaga@gmail.com

Foto

Foto Semangat

Kami Bisa Foto Dok. Lenting Pictures


11

Buletin Langkah, Januari 2011

Konstruksi Siaran Televisi Konstruksi BahasaBahasa Siaran Televisi

Televisi telah menjadi salah satu gaya hidup dalam keluarga. Di dalam sebuah keluarga tidak susah kita menemukan televisi, yang menjadi media hiburan terbesar. Inilah cara-cara homogenisasi gaya hidup hingga gaya keintiman-pasangan bagi masyarakat saat ini. Sajian-sajian televisi (siaran lokal maupun nasional) terkadang kita abaikan pola-pola kontruksi bahasanya. Kita merasa yakin bahwa bahasa di televisi adalah benar. Akibatnya, televisi yang belum tentu benar berbahasanya menurut khaidah bahasa terkadang menjadi referensi kita (masyarakat) untuk bertutur bahasa dalam berkomunikasi. Dari berbagai kalangan, baik muda maupun orang tua sering mengonsumsi kesalahan berbahasa yang disajikan media elektronik tersebut. Komunikasi 'ala televisi' pun muncul dalam pergaulan sehari-hari. Salah satu bagian sajian televisi adalah iklan. Selain iklan, beberapa bagian sajian televisi yang kebahasaannya sangat mempengaruhi konsumen (baca: penonton) adalah sinetron dan reality show. Iklan merupakan sajian yang bermotif targetanpasar, sehingga segi kebahasaan akan lebih mengutamakan bahasa targetan konsumen. Akibatnya, tidak sedikit pula kita temui iklan-iklan untuk para remaja yang menggunakan bahasabahasa gaul. Hal ini dilakukan penyedia iklan demi tersampainya komoditas ke pasar atau konsumen. Bahasa-bahasa gaul tersebut biasanya di eksplore dari suatu daerah kota, sehingga berimbas pada pergaulan remaja di desa. Dampaknya, tidak heran bila kita temui remaja di pedesaan yang menggunakan bahasa gaul ala kota, atau cara tutur yang berorientasi kekotaan (padahal kota bukanlah suatu fakta yang baik, lebih baik adalah desa dengan etnis yang natural dan kebaikan serta keindahan manusianya yang natural pula).

Bahkan tendensi bahasa Inggris pun telah merasuki kebahasaan iklan-iklan di televisi. Tidak jauh berbeda apa yang dilakukan oleh penyedia sinetron (sinema elektronik) di televisi. Bahasa sinetron dengan gaya hidup mewahnya menggambarkan dan mencerminkan budaya borjuasi, misalnya saja dengan menyajikan barangbarang mewah. Akibatnya, penyajian bahasa pun bertendensi pada pola-pola kehidupan masyarakat borjuasi. Bahasa tersebutlah yang menjadi kesamaan terhadap bahasa gaul oleh penyedia iklan. Padahal, barang-barang mewah Gambar: Google adalah produk yang cenderung menggunakan bahasa asing (bahasa Inggris). Bila dilihat secara pemaknaan, semboyan-semboyan yang menjadi identitas siaran, baik lokal maupun nasional belum mencerminkan bahasa tepat makna. Sebut saja siaran X memiliki semboyan “Makin Indonesia Makin Asik Aja�. Makna yang timbul dari semboyan ini adalah kecintaan terhadap Indonesia. Sepintas kita akan bangga dengan sajian semboyan ini, karena seolah-olah kita menjunjung tinggi rasa nasionalisme (padahal kita harus pahami nasionalisme secara histori ala Soekarno, ala DN. Aidit, ala Hos Cokroaminoto, ala Tan Malaka, atau bahkan nasionalisme ala Pramoedya Ananta Toer. Sebab nasionalisme bukanlah sekadar 'aku cinta wilayah Indonesia', atau sekadar 'aku bangga Tim Nasional besutan Nurdin'). Dengan semboyan tersebut, sajian-sajian dalam batasan-batasan ke-Indonesiaan akan menjadi bahan konsumsi utama. Faktanya, sajian-sajian itu mempertanyakan di mana letak ke-


12

Buletin Langkah, Januari 2011

Indonesiaan? Selain semboyan tadi, berbagai semboyan identitas lainnya pun masih patut dipertanyakan ketepatan maknanya, orang Jawa bilang: seudele dewe. Pada masa pemerintahan Jepang dahulu, sektor kebahasaan dikontrol oleh pemerintah. Hal ini dilakukan demi tercapainya kepentingan penguasa dalam kependudukan Jepang di Indonesia. Bahwa produksi film dan sajian sejenisnya (dahulu masyarakat menerima informasi hanya melalui radio) diwajibkan berorientasi ke-Asiaan, atau lebih bertendensi pada keIndonesiaan daripada berorientasi pada ke-Belandaan. Penggunaan bahasa yang tepat dan sesuai tatanan bahasa Indonesia menjadi landasan pengontrolan oleh pemerintah. Nah, berbeda tujuannya pemerintah dahulu dengan konteks pascamerdeka (merdeka dalam arti kebebasan fisik. Karena hakikatnya, saat ini kita belumlah bebas dalam hidup bernegara) sekarang ini. Pada masa itu, Jepang mengadakan pengontrolan yang bertujuan sebagai alat kekuasaan. Saat ini pemerintah kita seakan-akan tak berdaya melakukan perbaikan bahasa.

Kebebasahan bahasa siaran televisi akan merekonstruksi masyarakat. Maka dari hal tersebut, perlu diadakan kontroling pemerintah atas penggunaan bahasa di siaran televisi. Sebab, kebebasan bahasa siaran televisi tersebut akan mempertegas pernyataan para ahli bahasa di Eropa, yang menyatakan bahwa kemungkinan mono-lingual akan terjadi di dunia ini. Kemonolingualan itu maksudnya begini, cucunya cucu kita nanti kemungkinan besar tidak lagi berbahasa Indonesia, melainkan bahasa Inggris. (2009-2010)

Fredy Wansyah Pecinta Bahasa Indonesia, dan bakal calon alumni Sastra Indonesia Unpad. Fredywp.blogspot.com fredywp@gmail.com

Foto

Foto

The Killer

Foto Dok. Lenting Pictures


Buletin Langkah, Januari 2011

13

Membicarakan Sejarah Tanpa Fakta Inilah catatan yang beranjak dari keseharian, yang pertama kalinya bagi saya untuk kolom Buletin Langkah, yang saya angkat dari pengalaman. Bukan semacam tandingan atas hegemoni catatan parodi Samuel Mulya di sebuah media massa nasional. Bukan pula maksud saya mendampingi catatan pinggirnya Gunawan Muhamad (GM) yang hidupnya bertahta dalam kuasa wacana dan kesastraan itu. Langsung saja, tanpa pembuka paradoksal atau pernyataan apology. Di sini saya akan mengungkap sedikit kerancuan memandang sejarah. spesifikasinya adalah sejarah politik 1965 yang memengaruhi kehidupan ranah budaya. Saya coba beranjak dari pengalaman kuliah. Suatu kali (tepatnya belum lama saya tulis catatan ini, sekitar seminggu yang lalu), di kelas terjadi pembahasan wacana politik 1965 dan dampaknya terhadap ranah-ranah kesnian kita. Dosen sebagai penghegemoni kelas dan mempunyai kekuatan struktural hingga mahasiswa kadang tak mampu berdebat/berdiskusi formal- di kelas membincangkan, bahwa kesenian yang sifatnya partisipan politik praktis (baca: pemerintah) jadinya seni seperti kasus-kasus di tahun 1965 itu, yang salah satunya atas dampak keberadaan dan sikap-sikap Lekra. Bahkan, dikatakan dosen tersebut, mengapa Lekra yang menggunakan pemahaman komunis sering menghasilkan karya-karya yang berunsur mitos, misalnya legenda, bukankah Lekra seharusnya berpikir secara materialistis? Begitulah yang diuraikan di kelas tanpa mmbicarakan lebih lanjut histori dan makna komunis secara terarah (maksudnya terarah di sini sesuai masanya: Marx-Lenin-Gramsci. Sejarah memang berpihak pada penguasa, tetapi sejarah tidak selalu dikuasai penguasa. Penguasa melalui kemudahan akses dan ketersediaan media yang dimilikinya seringkali melakukan regulasi Gambar: Andy Warhol dan normalisasi kearah pembenaran sebagai rangkaian sejarah di masa mendatang. Kemudian, akan berdampaklah pada fakta-fakta sejarah di masa mendatang itu yang menjadi suatu ranah yang disebut fakta sejarah. tetapi, di luar penguasa masih banyak manusia, kelompok, tenis, organisasi, atau instrumen-instrumen sosial lainnya. mereka-mereka ini, yang berada pada opisisi biner, bukanlah semacam “mikroorganisme” yang tidak melakukan apa-apa. Toh mereka, meskipun diam, masih mengeluarkan keringat, kotoran, dan jejak-jejak kehidupan yang dapat ditelusuri di kemudian hari sesuai tujuan sejarah dan tujuan penelusurannya. Bagi saya, orang-orang yang sangat percaya terhadap pernyataan “sejarah milik penguasa” atau “sejarah berpihak pada penguasa” hanyalah suatu bentuk keberpihakan semata. Aneh memang bila orang-orang pendidikan, yang seharusnya dijadikan ruang akumulasi diskursus, malah menjadi (seolah-olah) “kemalasan diskursus” dan penjelajahan sejarah pun seakan-akan tanpa fakta (dalam konteks sejarah ini, bukankah sejarah yang berkaitan dengan PKI masih banyak keganjilan fakta dan perlu dipertanyakan atas fakta-fakta yang selama ini ada karena ulah-ulah penguasa otoriter serta pemberangusan di berbagai sektor terhadap penentang penguasa pada masa itu). Toh Lekra dahulu memiliki cita-cita dan maksud-sosial yang mulia. Lekra bertujuan menyatukan kebudayaan rakyat tradisional yang memiliki kesadaran kolektif (bukan kesadaran semu) di wilayah Indonesia sebagai faktor pendukung kekuatan basis massa secara nasional melalui ranah budaya seperti itu.

Oleh Ucok Pengembara


@Jatinangor Sumedang, Jabar. (Januari 2011)

Kami menerima tulisan berupa esai, cerpen, dan puisi maupun foto untuk dimuat di Buletin Langkah. Silakan kirim ke email komsas_langkah@yahoo.com

Silakan unduh Buletin Langkah melalui grup fesbuk Komunitas Sastra Langkah atau akun fesbuk Komsas Langkah.


Buletin Langkah, Januari 2011